Search This Blog

Showing posts with label Mukjizat Kehidupan - Miracle. Show all posts
Showing posts with label Mukjizat Kehidupan - Miracle. Show all posts

Thursday, December 3, 2009

God's Help

Kisah ini ditulis oleh seorang dokter dari rumah sakit Metro Denver:

Saya dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah pertemuan sore ini sekitar pukul 5, terjebak dalam kemacetan di jalan di Colorado Blvd., dan tiba-tiba mobil saya mulai tersendat-sendat dan akhirnya mati. Dengan susah payah saya bisa mendekati sebuah pompa bensin, lega karena saya tidak menghalangi jalan dan mencari tempat hangat untuk menunggu mobil derek. Tapi tidak ada yang mau berhenti.

Sebelum saya mulai menilpon, saya melihat seorang wanita berjalan keluar dari sebuah minimart, dan ia terpeleset di jalan es dan jatuh di dekat pompa bensin, saya bergegas ke ibu ini untuk melihat apakah ia baik-baik saja.

Ketika saya tiba di sana, terlihat bahwa ia sedang tersedu-sedu, lebih karena sedih bukannya karena jatuh; ia adalah seorang gadis muda yang kelihatan begitu awut-awutan dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia menjatuhkan sesuatu ketika saya membantu ia bangun, dan saya ambil untuk diberikan kepadanya. Ternyata uang logam satu nikel.

Saat itu, saya jadi menyimpulkan: wanita menangis, Suburban tua yang dipenuhi dengan barang-barang dan 3 anak di belakang (1 di tempat duduk depan), dan meteran pompa menunjukkan $4.95.

Saya bertanya apakah semuanya baik-baik saja dan apakah ia membutuhkan bantuan, dan ia lalu berkata, "Saya tidak ingin anak saya melihat saya menangis,". Jadi kami berdiri menjauh dari mobilnya ke balik pompa.

Ia bercerita bahwa ia sedang menuju ke California dan situasinya sangat sulit buat dia saat ini. Saya bertanya, "Apakah anda berdoa?" Ia mundur sedikit, tapi saya meyakinkan bahwa saya bukan orang gila dan berkata, "Tuhan mendengar kamu, dan Ia mengirim saya."

Saya mengambil kartu kredit saya dan menggesek di card reader dari pompa tersebut sehingga mobil wanita itu bisa terisi penuh, sementara bensinnya diisi, saya berjalan ke McDonald di sebelah dan membeli dua kantung besar makanan, beberapa voucher untuk dipakai nanti, dan segelas besar kopi.

Ia memberikan makanan itu kepada anak-anaknya, yang langsung menyambar seperti serigala kelaparan, dan kami berdiri di sebelah pompa sambil memakan kentang dan berbicara sedikit.

Ia memberitahu namanya, menceritakan bahwa ia tinggal di kota Kansas. Teman laki-lakinya meninggalkannya dua bulan yang lalu sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan bisa membayar sewa rumah bulan January nanti. Dan dalam keadan putus asa ia menilpon orang tuanya yang tidak pernah dihubunginya selama lima tahun.

Mereka tinggal di California dan akhirnya setuju untuk dia tinggal dengan mereka sampai ia bisa mencari uang disana. Jadi ia mengemas semua barangnya ke dalam mobil milik satu-satunya. Ia memberitahu anak-anaknya bahwa mereka akan ke California untuk merayakan Natal, tetapi tidak memberitahu bahwa mereka akan tinggal disana.

Saya berikan sarung tangan saya, memberikan pelukan kecil dan membacakan sebuah doa cepat bersama dia agar ia selamat dalam perjalanannya. Ketika saya berjalan menuju mobil saya, ia bertanya, "Apakah, anda malaikat atau apa?"

Ini yang membuat saya terharu. Saya berkata, "Ibu, saat ini malaikat sangat sibuk, sehingga kadang-kadang TUHAN memakai orang biasa."

Adalah sangat mengharukan untuk menjadi bagian dari keajaiban seseorang. Dan ternyata, anda sudah bisa menebak, ketika saya menuju ke mobil saya, mobil saya bisa langsung distarter dan pulang ke rumah tanpa masalah. Saya akan ke bengkel besok untuk memeriksakan, tapi saya kira teknisi tidak akan mendapatkan sesuatu yang salah.

Kadang-kadang malaikat terbang sangat dekat dengan anda sehingga anda bisa mendengar getaran sayapnya. Mazmur 55:23: "Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka IA akan memelihara engkau. Tidak akan selama-lamanya dibiarkannya orang benar itu goyah." Email dari Pak Ivan K.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, September 8, 2009

The Story of Unwanted Child

Haleluyah, puji TUHAN! Saya bersyukur kalau saat ini saya diperkenankan untuk menceritakan betapa luar biasa kasih dan karya TUHAN Yesus dalam hidup saya. Nama saya Hari Sugito, panggilan saya Joshua Victorio. Saya lahir di Jakarta 21 November 1980. Saya dilahirkan sebagai anak yang tertolak. Selama kurang lebih 3 bulan saya terbaring dalam keadaan kronis di RS ATMA JAYA Pluit, sampai suatu hari TUHAN membawa sepasang suami istri yang ditunjuk-Nya untuk menjadi orangtua saya.

Mereka mengadopsi saya dan membesarkan saya dengan susah payah. Di kala itu saya terkena penyakit marasmus. Badan tinggal tulang dan kulit. Dokter memvonis bahwa umur saya tidak lebih dari 1 minggu. Luar biasa TUHAN! Kedua orangtua saya ini bukanlah orang Kristen tapi sungguh luar biasa kasih dan karya TUHAN dalam hidup saya lewat mereka. Tidak sedikit orang yang mencemooh saya ketika saya dibawa ke rumah. Para tetangga merasa heran dengan apa yang telah diperbuat oleh kedua orangtua saya yang telah mengadopsi saya. Seorang bayi yang katanya tidak layak untuk dijadikan anak. Manusia melihat rupa, tapi TUHAN tidaklah demikian.

Menurut cerita orangtua saya, keajaiban TUHAN sungguh nyata dalam saya seiring dengan berjalannya waktu. Saya yang tadinya tinggal tulang dan kulit menjadi anak yang cakep. Memang sakit penyakit datang silih berganti sampai suatu hari saya mengalami mati suri karena step. Saat itu saya berumur 1 tahun. Kedua orangtua saya membawa saya ke seorang paranormal dan bertanya tentang nasib/takdir saya. Nama Tionghoa saya yang tadinya dipanggil Afui berubah menjadi Apo, yang artinya mustika. Menurut si paranormal nama ini cocok dengan saya dan suatu hari kedua orangtua saya akan tahu siapa saya sebenarnya. Saya diberi gelang dan hu oleh si paranormal.

Nah, saya tidak tahu persis apa sesudah atau sebelum adanya peristiwa seperti ini saya memiliki kelebihan yang tidak semua orang punya. Sebelum saya duduk di bangku sekolah kata orangtua saya, saya sering kali memberi nomor SDSB, dan selalu tepat. Karena hal ini, sering kali para tetangga berkonsultasi pada saya. Saya akui memang perjalanan hidup saya ini penuh misteri. Ini yang saya ingat persis bahwa sejak saya duduk di bangku sekolah saya sering kali melihat dan berbicara tentang masa yang akan datang. Tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. Saya sekolah di SD YASUHI Jakarta Barat. Sejak saya SD kelas 1 sampai kelas 6, saya sering diejek oleh tetangga dan anak-anak mereka "Anak pungut". Ada juga tetangga yang melarang anak mereka berteman dengan saya. Ya, itulah hidup.

Ketika saya SMP, kami pindah dari Rawa Bebek ke perumahan Poris Indah. Kelebihan yang saya miliki ditambah dengan keanehan yang ada pada fisik saya membuat saya sering bertanya pada kedua orangtua. Wajah saya pucat, sering pilek dan berdahak. Dan hal itu sejak kecil tidak pernah hilang. Ketika saya kelas 3 SMP, paman saya datang dari Pontianak memeriksa keadaan saya atas permintaan mama. Menurut paman saya diburu oleh roh-roh jahat. Shoklah kedua orangtua saya mendengar hal itu. Suatu hari setelah itu papa membawa saya ke Vihara. Saya ciutao, sah menjadi pengikut Laumu. Di Vihara saya melihat para Buddha dan Dewa. Bukannya saya sombong, sejak kecil saya memiliki mata langit. Satu minggu setelah kejadian itu, ketika saya di rumah, pulang dari sekolah saya merasa ada suatu kekuatan jahat yang ingin masuk ke badan. Saat itulah saat dimana saya dianiaya oleh kuasa kegelapan dan hal itu terjadi selama 1 tahun. Hari pertama terjadi saat OPEC di Bogor tahun 1994. Hampir 1 bulan saya dianiaya oleh kuasa gelap, kami dianjurkan untuk membuka vihara di rumah sebagai solusi kesembuhan diri saya. Vihara dibuka, tubuh saya dijaga para dewa dan ada beberapa dewa yang masuk ke badan saya. Kata orang saya bisa jadi seorang TANGSIN media roh.

Tidak lama saya punya vihara di rumah. Keadaan semakin kacau. Yang datang memburu saya bukan lagi cecoro kerajaan kegelapan, melainkan para pangeran setan. Suatu malam, sayangnya saya lupa hari itu. Hari dimana saya mengalami kematian. Saya dibawa oleh para pangeran setan ke alam mereka. Di hadapan raja iblis, saya disiksa begitu rupa sampai saya harus tunduk dan menyerah kepada mereka. Raja iblis yang mengaku namanya Lucifer bertanya kepada saya tentang siapa yang saya sembah sebanyak 3 kali. Dan saya jawab dengan jawaban yang sama sebanyak 3 kali pula. Jawabannya adalah saya hanya menyembah TUHAN. Lucifer bertanya kepada saya tentang TUHAN yang mana yang saya sembah, dan saya jawab dengan simpel TUHAN ya TUHAN. Dia begitu murka dan memerintahkan algojonya untuk melemparkan saya kedalam api penyiksaaan. Saat saya diseret menuju api itu saya berteriak berseru kepada TUHAN sebanyak 3 kali. Saya melihat para dewa berdiri jauh di seberang dan merekapun hanya berharap kiranya TUHAN menolong saya.

Detik-detik ketika saya akan dilempar ke dalam api, saya mendengar ada suara yang begitu gaduh dan sinar yag begitu masuk ke ruangan dimana saya berada. Saya melihat sosok yang saya tidak pernah jumpa sebelumnya. Ada yang bersayap, ada yang tidak. Satu diantara mereka yang mengaku namanya Mikhael mendekati saya dan berkata kepada para algojo setan, "Lepaskan anak itu! Dia bukan milikmu! Dia milik TUHANku!" Dengan segera saya dilepaskan oleh para algojo setan. Mikhael dan bala tentaranya membawa saya pergi ke suatu tempat yang disebut kerajaan Allah. Disinilah saya berjumpa dengan sang Maha Pencipta. DIA memanggil namaku dengan lembut dan penuh kasih sayang. DIA berkata bahwa keselamatan hanya ada dalam TUHAN. DIAlah Alfa dan Omega yang Awal dan yang Akhir. Dia YESUS, TUHAN yang menyelamatkan. TUHAN berkata kepada saya bahwa waktuku belum selesai. Dia memberi pesan, "Apa yang telah kau lihat dan dengar, sampaikanlah kepada seluruh umat manusia, AKUlah TUHAN." Sungguh saya bersyukur teramat sangat. Rasa syukur yang tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata. Haleluyah, puji TUHAN!

Ketika saya sadar, ternyata saya sudah 12 jam mati suri. Kalau bukan karena TUHAN tolong saya, saya tidak mungkin mati suri. Saya pasti mati beneran. Saya meninggal di dalam vihara, di hadapan altar para dewa dan Budha, arwah dibawa oleh para pangeran setan. Tapi saya hidup, saya diselamatkan oleh TUHAN Yesus dari maut. Saya hidup sampai hari ini dan masih diberi kesempatan untuk melihat dan merasakan kasih dan karya TUHAN yang luar biasa. Haleluyah, terpujilah nama TUHAN dulu, sekarang dan sampai selamanya. Amin. Inilah kisah pertobatan dan perjumpaan saya dengan Kristus Yesus. Suatu saat saya akan bersaksi tentang perjalanan saya sebagai seorang Kristen. Terimakasih, TUHAN Yesus memberkati. Hari Sugito - Tangerang, email kiriman Ibu Suharti.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, September 1, 2009

Someone Special in the Sight of God

Yang Spesial Di Mata Tuhan
Tinggi badan Louisa Bernadette Indrawati (34) hanya 74 cm. Jauh dari ukuran tinggi rata-rata wanita Indonesia . Namun, dengan fisik yang tak sempurna, ia bisa menikah, bahkan melahirkan anak. Sejak itu namanya menghiasi media massa. Inilah kisah Louisa yang menakjubkan. ..

TUMBUH DENGAN HARAPAN
Louisa merasa dirinya berbeda ketika masuk TK. Ia melihat teman sebayanya tak sekecil dirinya. Bentuk tubuh, tangan, dan kakinya sangat lain dari yang lain. "Papa dan Mama bilang, meski berbeda, aku tidak boleh minder. Pasti Tuhan kasih kelebihan. Pasti Tuhan punya rencana indah untukmu," kisah anak pertama dari tujuh bersaudara pasangan Andreas Sukardji Kusno dan Maria Magdalena Sriyati. Kata-kata positif, motivasi, dan kasih yang penuh dari orangtua membawa Louisa tumbuh dengan harapan. Ia bisa menerima dengan lapang tatkala orang melihatnya dengan tatapan aneh.

Lulus SD, Louisa mempunyai pengertian di hatinya. Ia kerap minta diantar sekolah dengan kendaraan umum meski orangtua telah menyediakan mobil untuk antar jemput. "Biar saya bisa bertemu banyak orang. Naik bis atau angkutan umum memberi banyak pengalaman. Saya tanamkan dalam diri saya, tak boleh minder kalau mau maju". Louisa rajin belajar. Nilai rapornya bagus. Ia selalu juara dan masuk tiga besar di kelasnya. Jalur pendidikan yang dilaluinya pun sekolah umum. "Saya tidak pernah masuk ke pendidikan untuk anak cacat," ungkap wanita kelahiran Kediri, 27 Mei 1974.

Saat kuliah hukum atas anjuran ayahnya yang jaksa, Louisa diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtuanya, mengambil kuliah komputer sampai lulus D3. Ia sangat tertarik dengan tekonologi. Lulus kuliah, Louisa bekerja di perusahaan komputer. "Percaya diri itu memang ada, tapi saya tetap tahu diri dengan keadaan tubuh saya. Saya tak pernah terpikir menikah. Saya mengadopsi bayi berumur 20 hari. Saya memberinya nama Maria Rosa Widya Buana." Louisa mengasuh dan mendidik Rosa penuh kasih. Bak ibu pada anak-nya. "Dia juga selalu tiga besar," kata Louisa tersenyum ke arah Rosa.

BERLIBUR KE BALI
Desember 1999, Louisa ambil cuti tahunan dan berlibur ke Bali bersama Rosa. Ke mana pun pergi, Louisa selalu membawa Alkitab. Ia berusaha dapat membacanya setiap hari. Louisa tahu pasti, kekuatan hidupnya terletak pada kedekatannya dengan Tuhan. Di pesawat, Louisa membaca Alkitab. Namun, tanpa sengaja Alkitab itu terjatuh. Tiba-tiba saja laki-laki yang duduk di sebelahnya mengambilkan Alkitab itu, "Mbak, ini Alkitabnya." Louisa pun mengangguk menerima Alkitab dan berucap singkat, "Thanks." "Saya selalu berusaha menghindari perkenalan yang berkepanjangan dengan pria. Saya takut jatuh cinta. Saya sadar betul akan diri saya," ungkapnya.

Pria tadi beberapa kali mengajaknya mengobrol yang dijawab singkat. Bahkan cenderung cuek. "Mbak, mbak kan orang Kristen, kok sombong sih?" Dug! Louisa benar-benar kaget dengan komentar itu. Sombong? Sesungguhnya di hati yang paling dalam Louisa minder! Selama ini ia sengaja tidak pernah ramah dengan setiap pria yang ditemuinya. Ia sadar ternyata sikapnya itu telah melukai orang lain. Ya, bukankah ia pengikut Kristus yang harus jadi berkat? Perkenalan pun terjadi. Mereka bertukar alamat email dan nomor telepon. Pria tadi bernama Handoyo Suryo. Setelah perkenalan itu, Handoyo menghubunginya. Lalu mereka saling menelepon, kirim email, dan chatting. Persahabatan pun terjalin.

Satu kali, tanpa sengaja mereka bertemu kembali di Jogja saat keduanya tugas kantor. "Saya kaget bukan main. Saya lagi makan bareng teman-teman di restoran. Eh, Handoyo juga di restoran itu. Akhirnya kami ngobrol satu meja." Selesai makan mereka kembali ke hotel masing-masing. Saat berpisah itulah, Louisa merasakan hal aneh di hatinya. Ia berpikir tentang Handoyo. Jatuh cinta? Ah, tidak. Tidak! Louisa mencoba menepis perasaan lain dari sekadar persahabatan. Hati Louisa bergejolak. Entahlah, malam itu Louisa merasakan ketulusan Handoyo. Louisa berdoa, bertanya pada Tuhan tentang perasaan itu. "Tuhan seolah menjawab, Handoyo itu orang baik".

LAMARAN PERTAMA
Tiga tahun bersahabat, tiba-tiba Handoyo datang menemui Louisa sambil membawa cincin, "Will you marry me?" Louisa tersentak. Campur aduk perasaan dalam hatinya. Betulkah? Seriuskah? Ah, tidak mungkin. Lamaran Handoyo saat itu terasa lebih sebagai penghinaan. "Saya tepiskan cincin yang dibawanya. Saya marah. Saya bilang padanya, tidak. Ini nggak mungkin terjadi." Hatinya menangis. Lamaran itu ditolaknya. Handoyo mencoba meyakinkan bahwa lamaran itu betul-betul serius. Louisa tak percaya. Setelah kejadian itu, hubungan mereka memburuk. Louisa tak mau mengangkat telepon dari Handoyo. SMS dan email pun tak dibalasnya.

LAMARAN KEDUA
Handoyo benar-benar serius! Lamaran kedua dilakukan. Ia membawa orangtuanya dari Surabaya datang ke Jakarta . Namun, ketegangan terjadi karena orangtua Handoyo sangat kaget melihat keadaan Louisa. Lamaran kedua pun akhirnya batal.

KEYAKINAN
Handoyo yakin benar Louisa adalah pasangan yang diberikan Tuhan baginya. Itu selalu diucapkan pada Louisa, "Mari kita sama-sama berdoa. Tuhan Maha ajaib. Dia akan buka jalan." Menjawab keyakinan Handoyo, Louisa hanya berkata, "Kalau memang kehendak Tuhan, kamu pasti bisa meyakinkan orangtuamu dan orangtuaku."

PERNIKAHAN KUDUS
Agustus 2004, doa itu terjawab. Handoyo dan keluarga datang melamar Louisa. Keharuan tak dapat dibendung. Orangtua Louisa menerima lamaran untuk anak sulungnya tanpa keraguan. Empat bulan kemudian, 13 Oktober 2004, Louisa dan Handoyo mengikat janji dalam sakramen pernikahan kudus di Gereja St. Vincentius A. Paulo, Kediri . Di hadapan pastor, umat, dan keluarga janji setia diucapkan. Mereka akan bersama dalam susah dan senang, dalam miskin dan kaya, dalam sehat dan sakit sampai maut memisahkan. "Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan, diberikan Tuhan bagi saya. Saya diberi suami yang sangat baik," tutur haru wanita yang kerap bersaksi di berbagai gereja itu.

KELAHIRAN YANG AJAIB
Dua bulan menikah, Louisa terlambat datang bulan. "Saya pikir ya biasalah mungkin karena capek. Tapi suami mendorong periksa ke dokter. Menyampaikan hasil positif hamil, dokter ngeliatin saya. Seperti nggak percaya. Saya dan suami juga nggak kalah kaget."

Berita ini keruan saja menghebohkan keluarga. Senang sekaligus khawatir. Apalagi setelah dokter menjelaskan bahwa kehamilannya sangat berisiko. Dokter pun menyarankan untuk aborsi demi keselamatan ibu dan anak. Handoyo dan Louisa terus berdoa. "Setelah berdoa, saya yakin meneruskan kehamilan saya. Suami juga sepakat. "Setelah hamil enam bulan sepuluh hari, Rabu, 15 Juni 2005 tepat 07.40 Wib, Louisa melahirkan bayi wanita yang diberi nama Maria Gabriella Handoyo di RSAB Harapan Kita.

Sungguh hari yang sangat bersejarah. Bukan hanya bagi Louisa, tapi juga dunia kedokteran. Peristiwa ini diliput hampir semua stasiun TV, radio, dan media cetak.

"Puji Tuhan. Tak habis-habisnya kami bersyukur pada Allah," kata wanita yang Juni 2005 tercatat di MURI sebagai wanita pertama Indonesia dengan ukuran tubuh 74 cm yang berhasil melahirkan. Meski lahir amat prematur, Gaby tumbuh dengan baik karena Louisa memberinya ASI.

Gaby, demikian Louisa dan Handoyo memanggilnya. Bayi normal itu kini telah tumbuh menjadi bocah yang lincah dan pintar. "Tinggi badannya sudah lebih 2 cm dari saya," kata Louisa saat berdiri di sebelah Gaby. Menakjubkan! Apa yang dialami Louisa seperti harapan yang tak mungkin. "Tapi bagi Tuhan apa yang tidak mungkin?" kata Louisa menutup wawancara dengan Bahana di rumahnya, di bilangan Jakarta Barat. Sumber: Milis Terangdunia/Gideon Hwie.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 24, 2009

The Handkerchief

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. ( 1 Korintus 1:25)

Frank adalah seorang pengusaha yang sedang terbang ke luar negeri beberapa tahun yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan duduk di kursi pesawat dengan harapan akan bisa beristirahat dengan tenang ketika seorang pria yang duduk di sampingnya mulai mengajaknya berbicara. Frank dengan sopan meladeni pembicaraan itu dengan harapan bahwa pembicaraannya akan berlangsung singkat sehingga ia dapat beristirahat segera. Namun, ketika waktu terus berlalu, pria itu mulai bertanya dan bertanya terus. Anehnya, pria itu nampak sedang mencari “sesuatu” dari caranya dia bertanya. Akhirnya, pembicaraan itu beralih ke masalah keluarga dan topik tentang bayi segera muncul. Frank mengaku kepada pria itu bahwa puterinya sudah berusaha hamil selama bertahun-tahun tanpa hasil.

Pria itu memandang wajah Frank dan berkata, “Nah, itulah! Saya tahu bahwa ada sesuatu yang Tuhan inginkan saya mendesak kepadamu, namun sampai Anda mengatakan hal tentang kesulitan hamil itu, saya tadi terus mencari-cari apakah itu.” Frank bahkan tidak menyadari bahwa pria itu adalah seorang beriman sampai saat itu. “Hal ini mungkin kedengaran aneh bagimu namun Tuhan telah memberi saya karunia yang aneh untuk menolong wanita-wanita yang mandul agar hamil. Kapanpun saya berdoa bagi para wanita-wanita itu, mereka akan menjadi hamil. Bolehkah saya meminta sesuatu yang agak tak biasa?” Frank terus mendengarkan sebelum dia menyatakan sesuatu.

“Saya ingin kita berdoa atas saputangan ini. Ketika Anda bertemu dengan puterimu saya minta Anda meletakkan saputangan ini di atas perut puterimu dan berdoa atasnya.” Frank merasa aneh dengan pemikiran itu, tetapi dia telah melihat banyak hal-hal tak biasa daripada hal ini dalam perjalanan internasionalnya.

Frank kembali ke Amerika Serikat dan beberapa waktu kemudian dia mengatur waktu untuk bertemu dengan puterinya dan menantu laki-lakinya. Frank merasa aneh, mungkin menantu laki-lakinya menganggap bahwa hal itu adalah suatu kebodohan. Meskipun demikian, Frank kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dan mereka meletakkan saputangan itu di atas perut puterinya dan berdoa.

Beberapa minggu berlalu dan Frank menerima telpon dari puterinya. “Ayah, tentu Ayah tidak pernah menduga apa yang telah terjadi. Saya hamil!” teriak puterinya.
(Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 22 Agustus 2009)

*****

The Handkerchief
"For the foolishness of God is wiser than man's wisdom, and the weakness of God is stronger than man's strength" (1 Cor. 1:25).

Frank is a businessman who was flying overseas a few years ago. He had just completed a long trip and settled into his seat for a quiet return trip when the man next to him began to start up a conversation. Frank politely conversed with the man hoping it would be a brief conversation so he could rest. However, as time went on, the man began to ask more and more questions. Strangely, he seemed to be "looking for something" by the nature of his questions. Finally, the conversation turned to family and the subject of babies came up. Frank confided in the man that his daughter had been seeking to become pregnant for years without success.

The man turned to Frank and said, "That's it! I knew there was something the Lord wanted me to press in on with you, but until you said that, I was searching and searching." Frank did not even realize the man was a believer until that moment. "This may sound strange to you but God has given me a strange kind of gift to help barren women become pregnant. Whenever I pray for women, they get pregnant. May I ask you to do something rather unusual?" Frank continued to listen before committing to anything.

"I would like us to pray over this handkerchief. When you get back to your daughter I would like you to lay this handkerchief on your daughters belly and pray over it." Frank was a bit taken back by the thought, but he had seen more unusual things than this in his international travels.

Frank returned to the states and a short time later arranged a time for his daughter and her husband to come by the house. Frank felt very awkward, as he knew his son-in-law would think this was foolishness. Nevertheless, Frank proceeded to explain what had happened and they laid the handkerchief on his daughter's belly and prayed.

A few weeks passed and Frank received a phone call from his daughter. "Dad, you will never guess what has happened. I am pregnant!" she exclaimed. Os Hillman

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, August 7, 2009

God's Way

Cara Tuhan
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut. Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu.

Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu? Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti- henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.

Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis! Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib. Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Bapak Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Bapak Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Bapak Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar. Email dari: Azret Batseba Lutaporu/Bpk. Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, July 28, 2009

On Time

Hari Minggu yang lalu Pdt. Kong Hee dari Singapura bercerita tentang pengalamannya membangun kantor gereja yang mula-mula. Pada saat itu Kong Hee masih berusia 25 tahun dan sudah menggembalakan jemaat. Seorang pengusaha tergerak untuk membantu pembangunan kantor gereja. "Berapa yang Anda perlukan?" tanya pengusaha itu. Setelah mencari lokasi yang pas dan menghitung biaya renovasi, diperlukan dana sebesar SGD$ 60 ribu dan Kong Hee sudah menunjuk perusahaan kontraktor untuk merenovasi bangunan tersebut. Bagi gereja City Harvest Church sekarang, jumlah itu tidak berarti, tetapi dulu jumlah ini besar sekali. Ketika renovasi selesai dan tagihan dari perusahaan kontraktor datang Kong Hee menyampaikan kebutuhan dana tersebut, sang pengusaha menjawab, "OK, temui CEO perusahaan saya besok!"

Kong Hee mendatangi sebuah kantor yang besar. Dia menunggu di sebuah ruang rapat yang besar dengan meja rapat yang mewah sekali ketika seorang boss datang dan berkata, "Apa yang dapat kami bantu?"

"Sesuai pesan Bapak Lee (nama samaran), saya mengajukan kebutuhan dana untuk pembangunan kantor gereja sebesar $ 60,000.-"

"Anak muda, itu bukan masalah. Kami akan penuhi asalkan saya menjadi Senior Pastor dan Anda menjadi salah seorang anggota majelisnya."

Kong Hee pernah mendengar kisah-kisah tentang perusahaan besar mencaplok perusahaan kecil, tetapi belum pernah mendengar ada perusahaan besar mencaplok gereja kecil.

"Maaf, saya tidak setuju. Berikan saja bantuan Anda kepada gereja lain," kata Kong Hee kepada CEO tersebut dan berlalu.

Ketika sadar apa yang sudah dilakukannya, Kong Hee bingung bagaimana membayar tagihan sebesar $ 60.000,- yang akan jatuh tempo lima hari lagi. Saat itu hari Senin, Jumat depannya harus lunas, kalau tidak akan muncul berita: Gereja City Harvest bangkrut, Kong Hee penipu, dan lain-lain bayangan buruk yang mungkin terjadi.

Apa yang dilakukan Kong Hee? Dia berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja. Dia memperkatakan firman Tuhan: "Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Kristus".

Hari Selasa datang telpon dari seorang Guru Alkitab, tempat Kong Hee dahulu belajar. "Kong Hee, aku digerakkan Tuhan untuk memberi bantuan keuangan bagi gerejamu." Di dunia ini guru Alkitab adalah hamba Tuhan yang hidupnya pas-pasan. Yang kaya adalah para penginjil. Bantuan dari seorang guru Alkitab? Kong Hee tak pernah membayangkannya. Tetapi apa yang tak pernah terlintas di hati Kong Hee, itulah yang disediakan oleh Tuhan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan.

"Saya akan sumbangkan $ 25.000,-" kata Guru Alkitab itu mengagetkan Kong Hee.

Hari Rabu Kong Hee diminta ketemu dengan seseorang yang merupakan teman dari teman dari teman dari teman Kong Hee. Pada waktu Kong Hee mengetuk pintu apartemen orang ini, sang penghuni langsung bertanya, "Apakah Anda Pdt. Kong Hee?"

"Ya, saya."
"Terangkan apa arti mimpi saya. Dua malam yang lalu saya bermimpi berjumpa Anda dan Anda memencet bel pintu apartemen saya dan saya memberikan sebuah cheque tunai kepada Anda."

Kong Hee dengan bersemangat menjelaskan kebutuhan dana pembangunan kantor gereja. "Baiklah, saya menyumbang $ 30.0000.- Dia adalah orang yang tak dikenal langsung oleh Kong Hee, dia adalah teman dari teman dari teman dari teman dari teman Kong Hee, teman jauh sekali, tetapi oleh karena kasih karunia Tuhan dia digerakkan untuk menyumbang gereja.

Hari Jumat pagi, Kong Hee mengecek saldo bank yang dimiliki gereja. Dia mendapati ada saldo sekitar $ 5.000.- Kini jumlah dana gereja ada sebesar $ 60.000, pas untuk membayar tagihan pembangunan kantor gereja. Itulah hebatnya Tuhan kita, tetapi mukjizat dari Tuhan bikin deg-degan.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Healed Immediately

"She was healed immediately." --Luke 8:47

One of the most touching and teaching of the Saviour's miracles is before us tonight. The woman was very ignorant. She imagined that virtue came out of Christ by a law of necessity, without His knowledge or direct will. Moreover, she was a stranger to the generosity of Jesus' character, or she would not have gone behind to steal the cure which He was so ready to bestow. Misery should always place itself right in the face of mercy. Had she known the love of Jesus' heart, she would have said, "I have but to put myself where He can see me--His omniscience will teach Him my case, and His love at once will work my cure." We admire her faith, but we marvel at her ignorance. After she had obtained the cure, she rejoiced with trembling: glad was she that the divine virtue had wrought a marvel in her; but she feared lest Christ should retract the blessing, and put a negative upon the grant of His grace: little did she comprehend the fulness of His love! We have not so clear a view of Him as we could wish; we know not the heights and depths of His love; but we know of a surety that He is too good to withdraw from a trembling soul the gift which it has been able to obtain. But here is the marvel of it: little as was her knowledge, her faith, because it was real faith, saved her, and saved her at once. There was no tedious delay--faith's miracle was instantaneous. If we have faith as a grain of mustard seed, salvation is our present and eternal possession.

If in the list of the Lord's children we are written as the feeblest of the family, yet, being heirs through faith, no power, human or devilish, can eject us from salvation. If we dare not lean our heads upon His bosom with John, yet if we can venture in the press behind Him, and touch the hem of his garment, we are made whole. Courage, timid one! thy faith hath saved thee; go in peace. "Being justified by faith, we have peace with God." CH Spurgeon. Email dari Ibu Suzianti/Bpk. Wawan ST.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, July 25, 2009

Restored Teenager

Ada seseorang datang kepada saya, dan berkata bahwa anaknya yang sedang bersekolah di Malaysia bermasalah. Sebenarnya anak itu tidak suka disuruh orangtuanya bersekolah di sana, tetapi dia tidak berani menentang kehendak orangtuanya. Anak itu belajar mulai dari kelas 1 SMA sampai kelas 3. Ketika di pertengahan kelas 3 anak itu pulang ke Banjarmasin dan tidak mau kembali lagi ke Malaysia. Dia menjadi anak yang pendiam, murung, tidak suka tertawa, sering tinggal di kamar tidur, dan main games saja. Dia jarang berbicara dengan orangtuanya, sering marah dan ngambek. Orangtuanya sudah putus asa menghadapi anak ini. Apa yang ada di hati anak itu, orangtuanya tidak tahu. Dipanggil makan tidak mau. Dipanggil ulang dia marah. Dia tidak mau sekolah lagi.

Orangtuanya datang kepada saya karena mereka merasa mempunyai masalah besar dengan anak itu. Tuhan berkata kepada saya bahwa masalah anak itu kecil, tidak ada artinya. Kalau Tuhan ingini, sebenarnya sebentar saja Dia bisa membuka hati anak itu dan anak itu akan berubah 180 derajat. Saya sampaikan kepada mereka bahwa masalah mereka itu kecil, tetapi Tuhan mereka besar. Dan saya bersyukur suami istri itu percaya.

Tepat pada tahun baru Tuhan menyuruh saya untuk mengajak anak itu bertahun baru di rumah kami. Anak itu mau saya peluk, saya sayangi anak itu. Saya ajak dia ikut acara malam tahun baru bagi anak-anak muda dan menginap di gereja. Saya serahkan anak SMA itu kepada anak saya. Saya berkata kepada anak saya bahwa anak ini tidak bisa tertawa. Sementara acara berlangsung, saya berdoa agar belas kasihan Tuhan turun atas anak itu, agar Tuhan mengembalikan kehidupannya seperti apa yang Tuhan ingini.

Tepat jam 2 dinihari anak itu bisa tertawa bebas, normal, bisa bergaul. Anak ini dijamah Tuhan luar biasa. Setelah anak ini dipulihkan, keesokan harinya dia pulang dan dapat berkomunikasi dengan orangtuanya. Anak ini telah sadar bahwa perilakunya selama ini tidak benar.

Anak ini kembali melanjutkan sekolahnya. Secara logika, sulit sekali dalam waktu empat bulan dia dapat lulus SMA. Tetapi saya percaya bahwa jika Tuhan menyertai anak ini dan dia mau mengikut-sertakan Tuhan dalam hidupnya, maka anak ini dapat lulus SMA. Saya cuma berdoa dan mengijikan apa yang Tuhan mau kerjakan. Dan Tuhan bekerja. Ketika ujian di sekolahnya, dia bisa lulus ujian dengan nilai yang cukup baik. Bahkan dia bisa melanjutkan studinya ke universitas. Anak itu kini menjadi anak yang baik, anak yang takut akan Tuhan, dan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja. Perubahan yang terjadi pada anak ini membuat orangtuanya mengambil bagian dalam pelayanan di gereja.

Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata" oleh Lidya Dewi Yana, terbitan Bethlehem Publisher


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, July 21, 2009

Because of Him

27 Juli 2002 aku mengakhiri masa lajang dengan mempersunting Fenty Inggriani. Seperti kebanyakan pasangan suami-istri yang lain, kami merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga baru kami. Hanya saja, niat itu terganjal oleh kista berdiameter 4,6 cm yang bersarang di indung telur istriku. Gumpalan itu amat mengganggu terjadinya proses kehamilan. Bukan itu saja, beberapa kali Fenty mengalami pendarahan karenanya. Beberapa dokter spesialis obstetry dan ginekologi yang kami sambangi, memiliki suara beragam tentang kista itu. Sebagian memvonisnya harus dioperasi, sebagian lagi menyatakan tidak perlu dilakukan operasi. Kebingungan lantas menggelayuti kami. Penyerahan kepada Tuhanlah yang akhirnya membuat hati kami tenang. Dalam penyerahan itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Ketika suatu saat kami mengunjungi dokter, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa kista itu sudah lenyap. Kami bersyukur Tuhan menjawab doa kami. Secercah harapan muncul dan akhirnya Fenty hamil dalam tahun keempat pernikahan kami.

MUNCUL MASALAH BARU
Minggu demi minggu dan bulan demi bulan kehamilan, kami lewati dengan sukacita. Sebentar lagi harapan menimang seorang bayi akan menjadi kenyataan. Bulan Desember 2006, dalam bulan keenam kehamilan Fenty, masalah baru muncul. Sesaat setelah mandi, Fenty mengalami pendaharan hebat. Waktu itu ia ada di rumah sendirian. Aku segera pulang dan melarikannya ke rumah sakit. Menurut dokter, letak plasenta yang ada di bawah rahimlah yang menyebabkan pendarahan itu. Sejak itu Fenty harus bedrest. Ia juga disarankan untuk banyak makan es krim oleh suster agar berat badan bayi bertambah, berjaga-jaga bila harus terjadi proses persalinan lebih awal. Kekhawatiran lantas datang.

Alih-alih menikmati Natal, bulan itu harus kami lewati dengan rasa was-was.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Fenty pada masa bedrest itu. Ia hanya turun dari tempat tidur untuk keperluan ke kamar mandi atau makan. Suatu kali Fenty keluar dari kamar mandi dan mengalami pecah ketuban.

Ia segera menghubungi dokter untuk meminta saran tentang tindakan apa yang harus diambil. Dokter mendorong untuk langsung ke rumah sakit. Karena air ketuban yang terus mengalir, tidak ada pilihan lain kecuali bedrest total. Fenty sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidurnya. Semua aktivitas berlangsung di situ.

LAHIR PREMATUR
Kondisi itu tak bertahan lama. Karena air ketuban yang tak bisa dihentikan, dokter meminta persetujuan kepada kami untuk mendorong terjadinya persalinan melalui proses induksi. “Silakan dokter melakukan apa pun yang terbaik buat anak kami sebisa yang dokter lakukan. Kami akan mengambil bagian kami dengan berserah kepada Tuhan,” jawabku diikuti anggukan dokter tanda setuju.

Setelah diperiksa, ternyata memang telah terjadi pembukaan setelah proses induksi itu. “Saya usahakan lahir normal, tetapi jika karena induksi ini detak jantung bayi jadi tidak normal, tidak ada pilihan lain kecuali bedah caesar,” papar dokter. Aku mengangguk, meski dalam hati terbersit keraguan. “Bayar dengan apa kalau harus operasi? Aku tidak punya persiapan uang yang cukup,” gumamku dalam hati. Tetapi, sekali lagi, penyerahan kepada Allah memberi kekuatan khusus kepadaku. Setelah melewati proses beberapa jam, akhirnya jabang bayi terlahir normal meski prematur dalam usia 7,5 bulan. Bayi seberat 1,4 kg itu kami beri nama Jeremy Graciano. Karena beratnya di bawah normal, ia harus dihangatkan di inkubator. Selama sebulan ia harus menghuni ‘aquarium’ itu dengan kabel-kabel dan selang di tubuhnya. Kekhawatiran akan biaya rumah sakit mulai membayang. Angkanya hampir menembus Rp 40 juta. Perasaan saya jadi campur aduk.

Melihat Fenty yang terus menangis karena tak bisa menggendong Jery, bayi yang baru dilahirkannya.

Melihat Jery di dalam inkubator yang membuat trenyuh.

Membayangkan bagaimana dan dengan apa saya harus melunasi biaya rumah sakit. Dalam berbagai kesempatan saya menyendiri dan menyerahkan pergumulan berat ini kepada Tuhan.

SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL
Secara ajaib Tuhan mencukupkan kebutuhan dana yang kami perlukan untuk melunasi biaya rumah sakit. Dengan bantuan berbagai pihak, akhirnya kami bisa membawa pulang Jeremy sesudah sebulan dirawat. Tetapi masalah baru muncul ketika jam memberikan susu bagi Jeremy tiba. Beberapa menit sesudah mendapat susu melalui selang yang terhubung dengan lambungnya, ia muntah. Sebagian susu keluar melalui mulut dan hidungnya, sebagian lagi tertelan kembali. Rupanya ada juga susu yang mengaspirasi paru-parunya. Cairan itu membuatnya megap-megap dan kesulitan bernafas. Sekujur tubuhnya lantas membiru. Kepanikan kami rasakan di tengah malam buta itu. Akhirnya, belum genap sehari di rumah, Jeremy kami larikan kembali ke rumah sakit.

Dokter dan perawat segera menanganinya di UGD.

Selain dokter jaga, ada juga dokter anak yang menangani Jeremy. Setelah difoto rontgen, tampak jelas paru-parunya dipenuhi bercak-bercak cairan. Dokter memutuskan untuk merawatnya kembali di rumah sakit.

Setelah administrasi dibereskan dan pertolongan pertama diberikan, Jeremy segera dibawa ke ruang rawat. Sesaat menjelang masuk lift, tubuhnya kembali membiru. Akhirnya ia harus kembali ditolong di ruang UGD. Bantuan oksigen diberikan, tetapi tidak ada respon. “Maaf, tidak tertolong lagi,” kata dokter sambil melepas stetoskop dari kupingnya. Seperti adegan sebuah sinetron, peristiwa itu sangat membuatku syok. Aku tidak siap menerima kenyataan itu. Mertua, Bapak dan Fenty menangis. Aku masih bengong seperti kehilangan pegangan.

MUKJIZAT DINYATAKAN
Aku mencoba menguasai diri. Dalam kondisi lemah, aku berseru lirih,“Tuhan tolong! Tuhan tolong! Nyatakan kuasa-Mu…!” Selang beberapa saat Bapak keluar dari ruang UGD itu lalu memegang pundakku. Satu tangannya terkepal sambil berkata, “Thole (anakmu) nangis… dia hidup lagi… haleluya!” Ada luapan sukacita karena pertolongan Allah yang ajaib itu. Jeremy hidup lagi setelah dinyatakan tak tertolong.

Jeremy kecil telah menjadi berkat tersendiri bagi keluarga kami. Ia telah mengajar kami tentang arti bergantung kepada Allah dan hidup di dalam iman kepada-Nya. Kini, ia tumbuh sehat dan ‘sedang lucu-lucunya’ sebagai seorang anak. Terima kasih telah menjadi ‘dosen’ dalam sekolah kehidupanku. Sumber: Elia Stories.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 3, 2009

God's Providence

Tuhan Menyediakan
Suatu hari anak perempuan kami yang ketiga mau menikah di Surabaya. Karena pernikahannya di Surabaya, maka semua urusan pernikahannya kami serahkan kepada calon besan. Bagian yang harus kami bayar waktunya kurang lebih satu setengah bulan sebelum anak kami menikah. Dia akan menikah tanggal 22 Juli 2001. Ketika itu kami sudah mempunyai uang tabungan untuk biaya pernikahannya. Walaupun belum semuanya lunas, tetapi lebih dari separuh keperluan dana sudah bisa dibayar dan saya berjanji kepada anak kami bahwa minggu berikutnya dana akan ditransfer.

Tetapi ketika saya akan mentransfer dana ke rekening anak kami, Tuhan menyuruh saya memakai uang pernikahan anak untuk memberkati gembala saya sebagai hadiah ulang tahunnya. Saya menguji apakah itu dari Tuhan atau bukan. Saya membicarakan masalah ini suami saya. Ternyata suami saya sehati dan sepikir. Maka uang itu kami pakai untuk membeli kado bagi gembala kami dan hanya tersisa uang Rp. 350.000,- Ketika anak kami tidak menerima transfer dana, dia menelpon saya, “Mami, mana uangnya? Kok tidak ditransfer?” “Sorry, ya nak. Uang itu telah dipakai untuk memberkati gembala kita, untuk hadiah ulang tahunnya. Jadi, mami belum transfer buat kamu.”

Bisa dibayangkan betapa stresnya anak kami, tetapi dia tidak berani marah kepada maminya. Dia mulai bingung.

Dia bertanya kepada saya, “Kalau begitu, kapan mami punya uangnya?”

Saya berkata, “Percaya saja, Tuhan pasti akan menyediakan uangnya sebelum pernikahan itu.”

“Kapan Tuhan pasti kirim uangnya, mi?”

“Mami tidak tahu kapan Tuhan akan kirim uangnya. Tetapi mami percaya, Tuhan pasti kirim. Dia tidak pernah terlalu cepat dan juga tidak terlambat.”

Ketika saya menjawab demikian, anak kami di Surabaya menjadi stres berat. Dia tidak bisa makan, menjadi kurus dan sakit. Dia tidak tahu bagaimana memberitahu calon mertuanya ketika dia ditanya tentang dana untuk melunasi biaya-biaya pernikahannya: mana dana untuk membayar baju pengantin, mana dana untuk membayar uang muka gedung, dan sebagainya. Anak kami, Wirawaty, tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa bilang bahwa uangnya telah dipakai maminya untuk memberkati gembalanya.

Ketika mama saya mengetahui hal ini, dia menyuruh saya datang ke Surabaya. Sampai di Surabaya mama saya marah-marah. Dia berkata, “Kamu ini taruh otak dimana? Bukan di kepala, tetapi di kaki! Masakan uang untuk anak menikah tinggal satu bulan lebih dipakai untuk memberkati gembala? Setelah itu, kamu tidak tahu kapan punya uang untuk membayar.” Dia bilang lagi, “Apakah aku perlu telpon adikku agar dia membayar biaya pernikahan anakmu?”

Saya berkata, “Tidak perlu, ma! Tuhan itu Allah yang tidak pernah berutang. Dia pasti mengganti uang itu dan pasti jumlahnya lebih banyak. Bagaimana caranya, saya tidak tahu.” Ketika saya dimaki-maki mama saya, saya menerima saja. Mama marah karena dia mengasihi cucunya. Cucunya sedang stres karena mau menikah tidak ada uang. Tetapi Tuhan menaruh iman di hati saya bahwa Dia Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu dengan ajaib dan luar biasa. Saya tidak goyah dan tidak pikir-pikir cara yang lain. Saya percaya saja. Saya lakukan bagian saya, dan taat pada apa yang Tuhan suruh. Sekarang giliran Tuhan melakukan bagian-Nya.

Pada tanggal 26 Juni 2001, kira-kira satu bulan kurang beberapa hari dari tanggal pernikahan, tiba-tiba ipar saya menelpon. Saya disuruh mengambil uang hasil penjualan tanah yang dibeli ipar saya dua bulan lalu yang macet di Bank. Ipar saya membeli tanah itu sebesar nilai utang yang harus saya bayar kepada bank tersebut. Pada saat ipar saya setuju membeli tanah itu, pada waktu itu dia belum punya uang tunainya. Dia minta waktu untuk membayarnya karena dia sedang mengurus kredit di bank. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 26 Juni 2001, kreditnya disetujui. Ketika kreditnya keluar, dia menelpon saya untuk membayar ke bank dan menyetorkan uangnya agar sertifikat bisa ditarik kembali.

Saya mengambil dana dari ipar saya, membawa uang itu ke bank untuk melunasi kredit saya. Ketika membayar di bank, dari jumlah nilai yang saya bayarkan, petugas bank mengembalikan dana sebesar Rp.100 juta.

Saya bertanya, “Kenapa Rp. 100 juta ini dikembalikan, pak?”
“Setoran itu kebanyakan untuk melunasi utang ibu,” kata petugas bank.

Saya tidak bertanya lagi, karena kemungkinan saya mendapatkan potongan sebesar Rp.100 juta dari bank. Saya memang pernah mengajukan permohonan untuk mendapatkan keringanan beban bunga yang berbunga. Namun surat itu belum dibalas. Ternyata Tuhan menggerakkan para pemimpin di bank itu untuk mengabulkan permohonan saya. Ketika saya taat memberikan Rp. 40 juta sebagai kado bagi gembala saya, Tuhan ganti dengan Rp. 100 juta. Segera saya transfer dana yang diperlukan anak kami. Kami mengucap syukur atas kebaikan-Nya.

“Dari mana uangnya, mi?”
“Dari Tuhan,” kata saya.

Sumber: Buku "Tuhan Itu Nyata" oleh Ibu Pdt. Lidya Dewi Yana, diterbitkan oleh Penerbit Bethlehem. Diposting pertama kali oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 3 Juli 2009.

Thursday, June 11, 2009

Promotion

Promosi dari Tuhan
Tadi pagi dalam perjalanan ke kantor aku mendengarkan radio Sangkakala di mobil. Ada kesaksian Pdt. Hendra mengenai seorang temannya. Kesaksiannya cukup unik. Pdt. Hendra bercerita soal temannya yang pengangguran, jebolan Salesman di pabrik kompor. Dulu temannya ini selama 18 tahun kerjanya berkeliling menawarkan kompor. Sudah sebulan dia menganggur, dan sudah banyak surat lamaran kerja yang dia buat, tapi belum pernah ada panggilan.

Sampai akhirnya dia nyaris frustrasi, dia membuat satu surat lamaran terakhir. Tidak tanggung-tanggung, ada lowongan sebagai Marketing Manager, Manager Personalia, dan Branch Manager untuk suatu cabang perusahaan asing(Jepang) yang akan dibuka di Bali. Dia melamar untuk posisi Branch Manager! Dia pasrah total kepada Tuhan dan dia minta bantuan doa dari Pdt. Hendra. Sang pendeta sendiri yang mendoakan, sebenarnya merasa tak yakin juga tapi dia tetap ikut mendoakan.

Beberapa hari kemudian, muncul surat undangan wawancara. Si salesman kompor ini sudah begitu bahagia bisa dipanggil. Dia sujud syukur kepada Tuhan. Waktu datang ke tempat test, dia baru sadar bahwa ternyata yang datang hari itu untuk test tiga lowongan tersebut adalah sebanyak 460 orang. Tidak diketahui berapa banyak dari 460 peserta ini yang akan ikut test Branch Manager.

Waktu menunggu, dia mulai bertanya kanan kiri. Ternyata banyak sekali yang ikutan test Branch Manager rata-rata lulusan sarjana. Ada yang pengalaman di Nestle, dll. Terus dia bertanya-tanya lagi. Pengujinya ternyata orang Jepang dan testnya memakai bahasa campuran: Bahasa Indonesia dan Bhs Inggris, sementara dia sendiri, dia cuma jebolan Salesman kompor, dan cuma lulusan SMA! Bahasa Inggrisnya juga sangat terbatas!

Dia begitu gelisah. Dia bilang kepada Pdt. Hendra, mungkin by phone, dia mau pulang saja. Dia merasa tidak mungkin dia lulus test. Dia merasa tidak sanggup bersaing, tidak sanggup menanggung malu. Para pesaingnya kelihatan hebat-hebat semua. Tetapi Pdt. Hendra membesarkan hatinya, menyuruhnya tetap ikut test, dengan tidak lupa terus berserah pada Tuhan, disertai joke untuk menenangkan: "Kalau ditanya bahasa Inggris dan bingung, ya jawab saja pakai bahasa roh."

Pada jam 12 siang, seharusnya dia giliran maju test, tapi pas jam istirahat. Dia diberitahu akan dipanggil nanti jam 1. Di saat peserta-peserta lain pergi beristirahat, dia memutuskan waktu satu jam itu bukan buat pulang, tapi buat doa, menyanyikan puji-pujian, & doa dalam bahasa roh.

Akhirnya, saatnya tiba, dia dipanggil masuk. Dia masuk dengan hati yang sangat gelisah, lalu dia usir roh ketakutan dan kegelisahannya. Saat itu, pas dia baru pegang handle pintu mau menutup pintu ruangan, tiba-tiba dia mendengar suara Tuhan. Tuhan menyuruh dia memberi hormat cara karate! Salesman kompor ini juga guru karate yang mengajar para marinir, dan dia sudah mencapai tingkat sabuk hitam DAN 2.

Dia bingung setengah mati, mau wawancara pekerjaan, kok Tuhan menyuruh dia memberi hormat cara karate? Tapi dia nekat, dia mengikuti saja pesan Tuhan. Dia berdiri lurus menghadap si Jepang, terus membungkukkan badan sambil teriakan bahasa Jepang yang biasa sebagai bahasa penghormatan di karate!

Tak tahunya si Jepang tiba-tiba ikut berdiri dan membungkuk memberi hormat yang sama, cara karate, dengan teriakan yang sama pula! Lalu terjadi tanya jawab. Si Jepang ini bukannya mewawancarai CV-nya, tapi malah bertanya-tanya soal background karate dari si salesman ini. Dan si Jepang mengajak bertanding di situ! Si salesman bisa mengatasi semua serangan si Jepang. Akhirnya, si Jepang menyerah. Ternyata si Jepang ini karateka sabuk hitam, tapi belum mempunyai DAN, sementara si salesman sudah DAN 2!

Lalu si Jepang bertanya: "Anda melamar sebagai apa?" dijawab "Sebagai Branch Manager". Kemudian tanpa basa basi lagi, si Jepang bilang kepada staffnya di luar "Lowongan untuk Branch Manager sudah ditutup, karena saya sudah mendapatkan orangnya yang saya pilih menjadi Branch Manager!"

Pdt Hendra menutup cerita kesaksiannya ini dengan ulasan: Tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Tuhan. Semua masalah yang mustahil bagi manusia, adalah kecil di hadapan Tuhan. Iblis sangat senang menunjukkan pada manusia, hal-hal yang mustahil, yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Iblis senang sekali membuat manusia berpikir menurut logika manusia, bahwa hal ini tidak mungkin terjadi supaya manusia mau menyerah!

Tapi kalau kita mau mengandalkan Tuhan, mau berjalan dalam bimbingan Roh Kudus maka semua hal BISA terjadi! Email kiriman dari Bapak Yonni Iskandar.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Lorenzo's Oil

Film "Lorenzo's Oil" (dengan pemeran utama Nick Nolte dan Susan Sarandon) adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Lorenzo Odone pada tahun 1985. Lorenzo menderita sebuah penyakit keturunan yang parah dan belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yaitu kerusakan sistem syaraf yang berakibat pada kebutaan, bisa, dan tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Augusto, sang ayah, hanya mempunyai satu hasrat, yakni melihat anaknya dapat hidup normal.

Tanpa memiliki latar belakang kedokteran sama sekali, ia berusaha siang dan malam selama bertahun-tahun mempelajari penyakit ini. Hal ini dilakukan karena semua dokter, yang terbaik sekalipun, sudah angkat tangan dan memvonis Lorenzo hanya mampu bertahan dua tahun saja. Ketika sang ayah meminta referensi para dokter untuk buku-buku ilmiah kedokteran, dengan nada sinis mereka menasihatkan Augusto untuk berhenti membuang-buang waktu. Suami istri ini menolak untuk berhenti meskipun kemungkinan besar semua usaha yang mereka lakukan akan sia-sia dan omong kosong belaka, tiada jaminan maupun peluang.

Namun apa yang terjadi adalah keajaiban. Mereka berhasil menemukan obat penyakit itu. Sederhana sekali, penyakit Lorenzo akhirnya dapat disembuhkan oleh minyak zaitun (olive oil). Luar biasa! Hanya karena kegigihan yang berfokus pada setitik harapan saja, akhirnya anak mereka dapat berangsur-angsur sembuh.

Bayangkan, kasih sayang kedua orang tua Lorenzo mampu membuka pintu harapan bagi ribuan anak-anak penderita penyakit seperti yang dialami anak mereka. Tuhan mengizinkan penderitaan dan penyakit yang dialami Lorenzo agar obat penyakit ini ditemukan. Tuhan memakai keluarga Odone sebagai saluran berkat bagi kesembuhan para pasien lain. Yakinkan diri Anda, apapun yang Anda alami pasti ada alasan di balik itu dan dapat memberi berkat bagi diri Anda dan dunia. Penulis: Darmadi Dharmawangsa, bahan diperoleh dari Media Kawasan, Juni 2009. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 Juni 2009 oleh Hadi Kristadi. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda mempostingnya di website/blog Anda atau memforwardnya kepada orang-orang yang Anda kasihi. Terima kasih.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 2, 2009

Protection of God

Ini kisah tentang Ibu Lydia Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono lagi, yang terambil dari buku "Tuhan Itu Nyata":

Suatu hari saya naik Ferry dari Surabaya ke Banjarmasin berempat, bersama ipar, sepupu, dan anak saya yang perempuan. Setelah naik kapal dan duduk, saya mencari tas saya tetapi tidak ada. Di dalam tas saya ada dompet, uang, KTP, dan surat-surat berharga lainnya. Tas itu lumayan besar. Saya pikir tas itu masih di luar.

Lalu saya berkata kepada pramugari kapal Ferry, "Mbak, bolehkah saya turun sebentar, mau cari tas saya."

Pramugarinya berkata, "Ibu duduk saja. Ferry ini sudah mau berjalan. Kalau tas itu ketinggalan di luar, mungkin tas itu sudah tidak ada karena sudah lebih dari setengah jam Ibu di sini. Lagian banyak copet dan penipu di luar sana. Tidak usah dicari lagi, Bu. Sudah pasti hilang."

Dengan yakin dan percaya saya berkata kepada pramugari itu. "Mbak tahu tidak? Tuhan itu melindungi saya 24 jam. Di dalam tas itu banyak surat-surat penting. Ketika saya lengah dan tidak melindungi tas itu, saya percaya Tuhan akan melindunginya. Saya sungguh percaya ketika saya keluar dari Ferry ini saya pasti akan menemukannya."

Ketika saya katakan hal itu, semua penumpang yang ada di dalam Ferry tertawa.

"Silakan saja kalau Ibu mau cari. Satu hal yang Ibu harus tahu, mungkin tas Ibu masih ada, tetapi dompet dan isinya pasti sudah hilang karena tas itu disilet orang. Kalau Ibu mau coba, silakan."

Saya dan anak saya, Widi keluar dari Ferry. Pertama saya ke ruang dalam pelabuhan, tempat mengambil nomor bangku saya. Saya tanya kepada petugas di situ apakah dia melihat tas saya. Semua orang yang saya tanya tidak melihat tas saya. Lalu saya keluar lagi menuju ruang timbangan bagasi dimana banyak sekali kuli atau portir. Ruang itu adalah ruang terbuka.

"Mam, kalau di situ mana mungkin ada?" tanya anak saya.

"Mami percaya Tuhan pasti melindungi karena di dalam tas itu ada paspor mami. Semua yang penting ada di situ."

Di luar ada meja yang sangat panjang dimana orang duduk-duduk untuk mengantri timbangan bagasi. Di situ juga banyak kuli yang mengangkut barang.

Saya berkata kepada anak saya, "Lihat tidak di atas meja itu ada tas mami di sampingnya?"

Banyak orang berdiri di tengah-tengah meja itu. Saya permisi kepada mereka untuk mengambil tas saya. Di situ ada puluhan orang. Ternyata mereka semua tidak ada yang melihat tas itu. Mereka bilang bahwa dari tadi tidak melihat ada tas. Itu suatu pertanda bahwa ketika saya lengah, ketika saya tidak menjaga tas itu dengan baik, kalau kita memercayakan keberadaan kita kepada Tuhan, maka Tuhan melindungi. Tuhan membuat semua mata yang ada di situ buta dan tak melihat tas itu. Itu merupakan suatu pertanda betapa hebatnya penyertaan dan perlindungan-Nya. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com oleh Hadi Kristadi pada tanggal 2 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog Anda. Terima kasih banyak


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 1, 2009

God is Real (2)

Tuhan itu Nyata (2)
Kehidupan seperti ini terjadi tahun demi tahun sampai anak-anak saya dewasa. Suatu saat Tuhan memanggil saya dengan cara-Nya yang ajaib, yang tidak pernah saya bayangkan atau harapkan. Itu berawal dari tahun 1992 ketika saya sedang bertengkar hebat dengan suami saya dan tidak ingin pulang ke rumah. Pada waktu itu saya mengajak sepupu suami saya yang juga adalah kasir saya yang selalu mendampingi saya. Saya ajak dia pergi kemana saja, pokoknya asal tidak pulang. Dalam perjalanan tiba-tiba saya teringat ada seorang teman yang memberikan undangan kepada saya untuk melihat Ade Manuhutu.

Saya pikir, daripada tidak ada tujuan saya mengajak kasir saya ke sana. Kami ambil undangan itu dan coba "menonton" Ade Manuhutu. Saat itu saya belum mengerti apa itu KKR. Saya tidak mengerti cara atau acara KKR. Setelah sampai saya bingung. Kok yang menyanyi tidak seorang saja? Semua penonton yang duduk di kursi juga pada menyanyi, mengikuti tulisan di dinding. Ketika semua orang diajak menyanyi, saya juga ikut menyanyi. Pada waktu itu MC mengajak hadirin bangkit berdiri dan menyanyikan lagu "Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu? . . ." Ketika saya berdiri dan menyanyikan lagu "Kasih Setia-Mu", tiba-tiba airmata saya mengalir, padahal saya adalah orang yang pantang menangis, apalagi di depan begitu banyak orang seperti ini. Saya tidak bisa menahan airmata yang tiba-tiba mengalir. Dan tiba-tiba ada satu pertanyaan di hati ini, "Siapakah aku ini?" Waktu saya bertanya "siapakah aku ini?", di depan saya seolah-olah terpampang sebuah film yang memperlihatkan siapa diri saya yang sebenarnya. Di film itu terlihat karakter saya yang munafik, pendusta, gila uang, cinta diri sendiri, tidak peduli terhadap suami dan anak-anak, merasa diri saya hebat, dan lain-lain.

Saya malu melihat cermin diri saya sendiri. Film itu juga memperlihatkan pertengkaran saya dengan mertua dan suami, dan juga ketika saya berkata dusta, bersikap munafik, serta ketika saya mempunyai niat yang tidak baik. Saya juga melihat hubungan saya dengan anak-anak saya. Saya tidak pernah memeluk, membelai dan memberikan kehangatan sebagai seorang ibu. Saya hanya bisa memberi uang dan uang dan uang. Tidak ada sedikitpun keinginan saya untuk berkorban demi mereka. Akhirnya saya sadar siapa diri saya ini. Saya adalah orang yang tidak baik dan egoistis. Saya adalah orang yang tidak bisa mengasihi orang lain. Saya adalah orang yang hanya mencintai diri sendiri, mau menang sendiri, dan sangat sombong. Itu yang membuat saya menangis.

Ketika saya menyanyikan lagu pujian itu sambil menangis, tiba-tiba saya berdoa dan berkata, "Tuhan, koq aku ini jelek ya, Tuhan? Koq aku ini buruk? Aku mau Tuhan tolong aku. Jangan sampai aku buruk seterusnya. Aku mau Tuhan tolong aku agar aku keluar dari keburukanku. Koq aku tak tahu apa itu kasih? Mengapa aku tak dapat mengasihi orang lain? Jangankan orang lain, mengasihi suami dan anak-anakku saja aku tak bisa? Koq terlalu banyak kepalsuan dan kepura-puraan yang ada dalam kehidupanku?"

Saya mengalirkan airmata karena malu terhadap diri sendiri yang suka membanggakan diri. Setelah pujian itu selesai, saya tak pernah melupakan peristiwa itu seumur hidup saya. Kemudian Ade Manuhutu berkhotbah. Saya tidak pernah mengerti sebelumnya apa itu khotbah. Ade Manuhutu bercerita bagaimana istrinya dengan sabar tetap mengasihi dia ketika dia pulang dengan mabuk sambil membawa perempuan lain. Istrinya menunggu Ade, membukakan pintu, berdoa dengan sabar. Ade bercerita bagaimana dia memukuli istrinya, namun istrinya tidak pernah melawan. Kemudian Ade berkhotbah dari Kolose 3 tentang firman Tuhan agar para istri tunduk kepada suami mereka dan agar suami-suami mengasihi istri mereka. Ketika Ade menceritakan tentang istrinya, saya semakin malu dibuatnya karena saya adalah seorang istri yang tidak berfungsi dengan baik. Saya adalah istri yang tidak pernah menghargai suami; istri yang selalu marah-marah terhadap suami; istri yang membanting pintu di hadapan suami; istri yang suka mencakar suami; istri yang mau menang sendiri; istri yang mau bertindak semaunya. Saya sungguh malu pada saat itu.

Setelah mengalami jamahan Tuhan pada KKR itu, saya terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Saya mulai mengikuti kebaktian di gereja, saya mulai membaca Alkitab yang diberikan oleh salah seorang pengerja gereja. Saya bertobat dari segala dosa-dosa saya, saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Saya dibaptis di gereja. Dan pertubuhan rohani saya terus berjalan sesuai dengan kasih karunia Tuhan. Bukan itu saja, setelah saya berdoa puasa selama SEPULUH tahun, suami saya bertobat. Saya berpuasa setiap hari selama sepuluh tahun. Setiap malam dari jam 11 sampai jam 3 saya berdoa dan memuji serta menyembah Tuhan diiringi lagu dari kaset, yaitu lagu "Kasih Dari Sorga" gubahan Ibu Dora Kansil. Kisah doa puasa ini panjang sekali. Dengan doa puasa ini pada mulanya suami saya bukan makin baik, tetapi makin jahat kepada saya, sampai akhirnya pada suatu saat saya hampir berhenti doa puasa. Namun saya ditegur Tuhan melalui seorang pemuda yang tidak saya kenal. Pemuda ini berkata, "Jika Ibu berani berhenti berdoa puasa, maka murka Tuhan terbit atas Ibu dan Ibu akan melihat bahwa semua keturunan Ibu akan hancur. Kedua, Ibu mempunyai 22 ruko, semuanya akan ludes dihanguskan api sehingga rata dengan tanah." Karena teguran dari pemuda yang sebenarnya semula tidak berani berbicara memperingatkan saya, maka saya taat dan tunduk kepada perintah Tuhan untuk berdoa puasa lagi. Baca saja bukunya karena masih panjang ceritanya.

Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan PT. Bethlehem Publisher, 2009. Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku tersebut. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com oleh Hadi Kristadi pada tanggal 1 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, May 28, 2009

God Is Real (1)

Tuhan itu Nyata
Kesaksian ini tentang Ibu Lidya Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono beserta keluarga besarnya yang diambil dari Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan Bethlehem, 2009. Kesaksiannya bagus, sayang bahasanya agak blepotan, karena buku ini ditulis dari bahasa lisan tanpa diedit dengan baik oleh penerbitnya. Dalam kesaksian ini saya edit seperlunya agar enak dibaca.

Nama saya Lidya Dewi Yana, lahir tahun 1948, mempunyai suami, tiga anak dan menantu, delapan cucu, satu menantu cucu, dan satu cicit. Saya dilahirkan di sebuah keluarga kaya. Keluarga besar ayah saya semuanya adalah eksportir karet. Saya tumbuh sebagai anak manja yang sangat disayang. Saya adalah orang yang mau menang sendiri, tidak pernah mau mengalah, tidak mau mengerti orang lain. Saya selalu ingin mendapatkan apa yang saya inginkan. Di dalam keluarga saya ayah suka menikah. Dia mempunyai beberapa wanita simpanan. Ibu saya suka main kartu mahyong. Saya tumbuh di tengah keluarga yang suka bertengkar.

Ketika saya lulus SMA saya menikah dengan seorang pemuda tampan. Gaya kehidupan mertua saya sangat kuno, sedangkan kehidupan saya modern dan bebas. Karena dua latar belakang yang berbeda ini, timbullah pertengkaran hebat antara saya dengan mertua. Di mata mereka saya adalah menantu yang kurang ajar, sehingga pada puncaknya mertua mengancam suami saya: memilih saya atau memilih orangtua suami. Saya membujuk suami saya agar memilih saya. Saya katakan, jika dia memilih saya, saya akan pergi kemanapun dia ingin pergi. Apapun akan saya lakukan demi suami. Akhirnya suami memilih berpisah dari orangtuanya. Pada saat itu saya memendam kebencian yang mendalam dan menyimpan kemarahan yang besar terhadap mertua saya.

Dalam perjalanan hidup dengan suami, saya bertumbuh menjadi seseorang yang hanya punya satu tujuan, yaitu mencari uang sebanyak-banyaknya. Saya ingin menunjukkan kepada mertua saya bahwa saya adalah menantu yang pandai mencari uang dan mempunyai uang banyak. Bisnis saya memang berhasil. Saya sering bepergian ke Singapura, Hongkong, atau Tokyo. Namun dalam rumah tangga saya, yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran. Anak-anak saya bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang kacau karena saya jarang ada di rumah. Mereka bertumbuh tanpa kasih, kepedulian, dan perhatian orang tua mereka. Sebagai mama, saya bukanlah mama yang baik tetapi mama yang egoistis yang selalu mencari uang. Saya masih ingat, ketika anak-anak datang untuk menceritakan tentang sekolah mereka atau apapun juga, maka saya selalu menolak dan menyuruh mereka langsung datang ke kasir untuk mendapatkan uang. Saya tidak pernah mengantar anak ke sekolah. Saya tidak pernah tahu apa kebutuhan mereka. Lebih parahnya, ketika anak saya sakit, saya tak ada waktu untuk menjaga atau merawat mereka karena waktu itu saya sedang ada di luar negeri. Jangan heran apabila anak-anak lelaki saya menjadi nakal, terjerat narkoba, masuk dalam kehidupan seksual yang bebas. Mereka hancur-hancuran dan berantakan sekali karena kekurangan cinta kasih orang tua mereka.

Terhadap suami saya adalah istri yang mau menang sendiri. Saya merasa lebih pandai dari pada suami saya. Saya merasa suami saya ada di bawah saya. Setiap proyek bisnis, saya dapatkan sendiri tanpa pertolongan suami. Saya merasa menjadi orang yang super dan hebat. Saat itu saya suka memelihara kuku tangan yang panjang, dengan tujuan jika sedang marah dengan suami saya dapat mencakarnya dengan kuku saya. Waktu itu orang melihat saya sebagai figur yang eksklusif, kaya, cantik, pandai, serba bisa, dan berpenampilan elit. Saya tidak mau sembarangan bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan saya. Saya mengukur orang dari kedudukan, pangkat dan kekayaan. Kalau seseorang tidak menguntungkan saya, maka saya menganggap bergaul dengan mereka hanya membuang-buang waktu saja. Saya pandai bergaul dengan para pejabat di pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, bankir dan lain-lain. Jika ada orang mempunyai masalah dan ingin menyelesaikan masalah bisnis atau perkara hukum, mereka biasanya mencari saya. Asal pembayarannya cocok, saya akan bantu mereka melobi kepada para pejabat yang saya kenal baik. Saya biasa mengenakan baju, sepatu, dan tas mahal. Saya memakai perhiasan emas dan berlian, serta mengendarai mobil mewah. Waktu itu saya bangga sekali karena rasanya di Banjarmasin tidak ada orang yang tidak kenal siapa saya. Saya suka hura-hura, pesta dan dansa di nite club. Saya tidak sadar bahwa semua itu merupakan kehidupan yang semu. Suatu kehidupan dimana semua itu tidak ada artinya.

Sementara itu, hobby suami saya adalah berjudi di kasino. Biasanya saya mau menemani dia berjudi asalkan dia mau menemani saya dugem di klub malam. Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang hancur-hancuran di dalam, nampak terlihat hebat di luar, bagaimana Tuhan mengubah kehidupan kami, sehingga saat ini saya dan suami menjadi pendeta, ketiga anak saya semuanya menjadi pendeta, menantu saya juga pendeta, suaminya cucu saya juga pendeta. Ada dua belas orang dalam keluarga besar kami yang menjadi pendeta atau melayani Tuhan di gereja. Luar biasa ya, Tuhan itu? Bagaimana kisah pertobatan kami, nantikan kisah berikutnya. (Bersambung)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, May 16, 2009

Saved Through Jehovah Witness

Diselamatkan Lewat Saksi Yehova
Setelah lulus SMA, saya ikut saudara ke Jakarta. Saat itu saya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Tamat SD - SMP - SMA berlalu begitu saja. Suatu kali saya mengunjungi Monas, naik ke atas menara dan memperhatikan mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu lalang. Saya bertanya pada diri saya sendiri, "Apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup ini?" Saya ingin mencari pengalaman dan pengetahuan, dan inilah yang menjadi visi saya waktu itu.

Saya seorang muslim, dan ketika kuliah saya menjalin hubungan dengan seorang wanita beragama Kristen. Saya sangat mencintainya dan saya menemukan ada 'kasih' yang lain pada dirinya. Namun saya saat itu tidak mengerti kenapa orang Kristen itu bisa menyembah Yesus. Saya ingin tahu lebih banyak dan membaca Alkitabnya.

Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya pada dosen agama Islam di kampus, "Kalau Yesus itu bukan Tuhan, kenapa orang Kristen menyembah-Nya?" Ia hanya memberikan buku-buku miliknya untuk saya baca. Saya berusaha untuk mendalami dan mempelajari tentang kehidupan Yesus lewat Alkitab pacar saya, Al Qur'an saya dan buku-buku yang diberikan oleh dosen saya.

Semakin saya mempelajarinya, semakin kagum saya dengan pribadi-Nya. Kemana-mana saya selalu membicarakan tentang Yesus, hingga teman-teman saya sempat mengkritik saya, bahkan saudara-saudara saya menuduh saya sudah murtad dan sesat. Saya selalu mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang Revolusioner, pejuang HAM, rela mati demi sesama dan tidak munafik seperti ahli-ahli agama pada umumnya.

Saya sempat memimpin ibadah di mesjid kampus dan berbicara tentang Isa Al Masih. Ada salah satu umat yang memprotes saya dan menuduh saya sebagai orang Kristen yang menyusup. Ia memaksa saya untuk memperlihatkan KTP saya dan setelah saya menyerahkan kepadanya barulah ia sadar bahwa saya seorang muslim asli. Ia lalu minta maaf dan bahkan berusaha untuk mencium tangan saya.

Semakin hari saya semakin mencintai Yesus. Saya tetap rajin beribadah dan sering menangis saat sujud berdoa. Teman-teman dan saudara-saudara saya semakin bingung dan saya pun ikut bingung. Saya tetap mencintai pacar saya, namun tidak tahu bagaimana jadinya. Haruskah kami berpisah? Saya sangat berputus asa dan patah hati seperti mau mati rasanya. Saya tidak bisa menjadi seorang Kristen seperti dia, dan dia pun tidak mau meninggalkan Yesus, Tuhannya.

Dalam keadaan seperti itu saya mendapat kunjungan dari dua orang yang mengaku sebagai orang Kristen juga. Namun mereka menjelaskan bahwa Yesus bukan Allah seperti yang disembah oleh agama Kristen mayoritas. Mereka menerangkan bahwa Yesus hanyalah tuan, bukan Tuhan. Nama Allah sendiri adalah Yehuwa. Saya dapat menerima keyakinan mereka dan mau belajar lebih banyak dari mereka.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Kristen aliran mereka dan dibaptis, karena Kristen aliran ini tidak mengganggu iman saya, dan saya dapat menikah dengan pacar saya yang sangat saya cintai secara Kristiani. Iman saya saat itu tetaplah Islam, namun saya dibaptis secara Kristen hanya untuk sebagai syarat supaya saya bisa menikah dengan pacar saya.

Saat perjalanan ke Sulawesi untuk menikah di sana, saya naik kapal dengan segala beban di hati, dengan perasaan galau dan tidak tahu kemana nasib membawa saya dengan seribu macam pertanyaan yang tidak terjawab dalam pikiran saya.

Saya teringat kata-kata bijak dari seorang Norma Edwin, seorang penjelajah, pendaki gunung dan penelusur gua yang mati beku di gunung Everest. Ketika mayatnya ditemukan, ada selembar kertas di tangannya yang bertuliskan, "Hidup ini menuntut keberanian, berani menghadapi tanda tanya tanpa bisa menjawab, berani menghadapi tantangan tanpa bisa melawan, oleh karena itu, hadapilah dengan berani!" Inilah yang saya pegang.

Saya berdoa dalam hati, "Jika Allah yang saya sembah pagi, siang dan malam dan yang disembah oleh nenek moyang saya tidak mau saya dibaptis dan menikah di Sulawesi, biarlah kapal yang saya tumpangi ini tenggelam dan biarlah saya mati kaku di dalam laut!"

Beberapa saat kemudian, di kapal itu saya melihat ada orang asing, saya mengira ia orang Amerika. Saya sekedar menyapa saja,
"Are you Christian?"
"Yes, you?" balasnya.
"I am a Jehova Witness," jawab saya.
Dia agak kaget mendengar jawaban saya, namun sesaat kemudian dia menanyakan apakah saya mau diajak berdoa bersama dengannya.
"Ok!" saya setuju. Lalu, sambil berdiri kami menghadap ke laut, dia kemudian merangkul saya dengan satu tangan dan tangan yang lain ia angkat tinggi ke langit.

Urapan yang luar biasa saya rasakan, beban berat yang menghimpit saya lenyap begitu saja, dan begitu ringan ketika saya mencoba berjalan. Setelah selesai berdoa, saya berkata kepadanya,
"If Jesus is here now, we can see Him walks on the water!"
Dia tertawa, dan entah apa yang dia katakan saat itu, tetapi saya mengetahui dengan pasti bahwa Yesus sedang berjalan dalam lautan hati saya. Saya telah menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.

Saya akhirnya tiba di Sulawesi dengan selamat, dibaptis dan menikah di gereja dengan lancar dan saya menemukan suatu bentuk ibadah yang sempurna, yang sungguh bisa merasakan dekatnya hadirat Allah. Ada lagu pujian yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya:

"Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah Tuhanku,
Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah yang sungguh,
Besarlah rahmatNya, heranlah kuasa-Nya,
Ajaiblah Engkau Tuhan, ajaib, ajaib."

Pada suatu saat saya mengalami sakit, divonis dokter kena TBC dan Typhus. Isteri saya pulang gereja membawa perjamuan kudus dan meminta saya untuk memakan dan meminumnya. Ia mengatakan bahwa ini adalah Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, kalau saya memakan dan meminumnya, maka saya menyatu dengan Tuhan dan segala sakit penyakit yang saya alami akan ditanggung oleh-Nya. Saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan dan menerima perjamuan kudus, dan saya sembuh total secara ajaib. Sebab memang Tuhan sudah menanggung sakit penyakit kita di atas kayu salib.

Yesaya 53:5 berbunyi, " Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Inilah kesaksian saya tentang Yesus yang tadinya asing bagi saya, kemudian menjadi idola saya, lalu barulah saya mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, yang mengampuni dosa-dosa saya dan menyembuhkan segala penyakit saya. Sebenarnya masih banyak lagi kesaksian saya, terutama karena saya sekarang telah berjalan bersama Tuhan Yesus, namun rasanya 30 halamanpun masih kurang untuk menuliskan semuanya.

Demikianlah kesaksian saya. Ditulis oleh Yeremia Ibrahim Harahap, diterima dari Elia Stories.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, May 8, 2009

Arise and Stand Up

Bangkit dan Berjalanlah

Mohammad Ridwan sungguh beruntung. Dia dilawat Tuhan Yesus ketika harapan hidupnya sudah menipis. Sang Tabib Agung itu datang, tersenyum dan berkata, “Bangkit dan berdirilah!” Ridwan yang lumpuh itu pun berjalan, dan hatinya dipenuhi ucapan syukur.

“Lihat nih, bulu kuduk saya sampai merinding setiap kali menceritakan perjumpaan itu,” ungkap Moh. Ridwan kepada Reformata, sambil menunjukkan bulu-bulu di tangan dan kakinya yang menegang seperti ditarik ke atas. Selama wawancara di rumahnya, Kampung Sawah, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Dia menguraikan kesaksiannya dengan jelas dan terinci. Bahkan sesekali dia berdiri memeragakan cara Tuhan Yesus menyuruhnya bangun ketika tubuhnya lumpuh total dan ia hanya bisa berbaring selama setahun.

Perjumpaan dengan Sosok yang dahulu dia kenal sebagai Isa Almasih itu terjadi pada akhir 1986. Ketika itu Ridwan yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, tiba-tiba terserang penyakit misterius. Seketika tubuhnya lumpuh dari leher sampai kaki. Yang “normal” hanya bagian kepalanya saja. Berdasarkan diagnosis dokter, darah Ridwan mengalami pengentalan dan berwarna hitam pekat seperti kecap manis, namun pihak Rumah Sakit tidak sanggup mendeteksi sumber penyakit itu. Ridwan pun dibawa pulang oleh keluarganya karena dianggap telah mendekati ajal.

Di kamar lantai dua di rumahnya, Ridwan dibaringkan sendirian. Istri dan kedua anaknya tinggal di lantai satu. Bermacam obat dan ramuan tradisional telah diberikan, namun tak ada hasilnya. Ridwan pun akhirnya berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Semakin merasa ajalnya sudah dekat, hatinya pilu menyaksikan sikap istri dan kedua anaknya yang mulai acuh tak acuh atas kondisinya. “Mereka sudah masa bodoh. Perhatian mereka sudah berkurang. Mungkin lantaran mereka sudah capek mengurus saya karena sudah lama sakit-sakitan,” tutur pria kelahiran Medan, 24 Maret 1950 ini. Selama setahun dalam kelumpuhan, Ridwan hanya berbaring dan melamun. Dia sudah pasrah dijemput maut.

Suatu malam sekitar pukul 21.00 Ridwan menyaksikan sesuatu yang tak lazim di kamarnya. Matanya yang siap-siap terpejam karena kantuk berat mendadak melotot. Sosok berjubah putih, bersinar terang, dengan kepala ditudungi kain, tiba-tiba berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Ridwan panik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian sosok itu menghilang. “Seharian saya gelisah memikirkan penglihatan itu. Wajah-Nya jelas sekali, tetapi saya belum mau memberitahukan peristiwa itu kepada siapapun,” ungkap pria yang pernah membakar sebuah gereja di Medan itu.

Malam berikutnya sosok itu muncul lagi. Kali ini Dia menyuruh Ridwan berdiri. “Kamu bangkit. Berdirilah!” demikian Sosok misterius itu memerintahkan Ridwan. Awalnya, perintah itu tidak digubris Ridwan karena dianggap mustahil. “Saya hanya bilang kepada-Nya kalau saya tidak bakal bisa bangun,” kisah Ridwan. Pada perintah yang ketiga kali, akhirnya Ridwan memaksa diri untuk berdiri. Ajaib! Seluruh tubuh Ridwan dapat digerakkan. Ridwan kaget bercampur senang. “Saya seperti dalam mimpi karena mendadak bisa berdiri,” kata Ridwan senang. Setelah tubuhnya berdiri tegak, sosok misterius itu mengangkat kedua tangan-Nya ke atas kepala Ridwan.

Beberapa saat kemudian, Sosok itu menghilang. Ridwan bergegas turun ke lantai satu, dan disambut dengan rasa heran luar biasa oleh istri dan anak-anaknya. “Ayah turun, Ayah turun, Ayah turun…!” demikian pekik sorak anak-anaknya sambil melonjak-lonjak kegirangan. Malam itu rumah tangga Ridwan diselimuti keharuan dan kegembiraan. Namun mukjizat kesembuhan itu belum diutarakan Ridwan kepada keluarganya. Esok harinya Ridwan mencoba berjalan-jalan disekitar rumahnya sambil menggunakan tongkat. Tak ayal, warga sekitar pun gempar!

Memasuki hari ketiga, saat Ridwan sedang berjalan-jalan, seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai seorang Pendeta menyapa dan menanyakan keadaannya. Ridwan bingung lantaran Pendeta itu meminta waktu untuk mengobrol di dalam rumahnya. Saat berbincang, Ridwan tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada hamba Tuhan itu, “Pak, ada kawan saya mau masuk Kristen. Bagaimana caranya ya?” Sebetulnya yang mau masuk Kristen itu adalah Ridwan sendiri. Sebab dia berkeyakinan bahwa Sosok ajaib yang menyuruhnya bangkit itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Namun sejauh itu, dia belum berani mengutarakan niatnya untuk mengikuti Juru Selamat, mengingat keluarganya dikenal sebagai pemeluk agama yang taat bahkan fanatik.

Beberapa hari kemudian Ridwan menemui Pendeta itu sambil mengutarakan niatnya untuk menjadi pemeluk agama Kristen, dan meminta dibaptis. Pendeta yang tiba-tiba diliputi rasa heran itu hanya bisa berkata, “Sungguh, pak? Puji Tuhan! Haleluyah!” Kemudian kisah mukjizat yang dialami Ridwan dan perjumpaannya dengan Tuhan Yesus mengantarkan istri dan kedua anaknya untuk turut dibaptis.

Sejak ikut Tuhan Yesus, keluarga Ridwan berlimpah berkat. Tidak saja berkat jasmani, suasana batin mereka pun selalu damai sejahtera dan sukacita. “Kedua anak saya bisa kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan. Itu salah satu berkat dari Tuhan,” tutur pria yang berprofesi sebagai sopir angkutan barang miliknya sendiri itu. Tak lama setelah dibaptis, tiga unit mobil angkutannya hilang. Kejadian itu tak membuat iman Ridwan menjadi lemah. Namun setelah kejadian itu istrinya meninggal, mungkin tidak siap menerima musibah itu. Sumber: Tabloid Reformata edisi 105 April 2009.Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 8 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan jika anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda. Terima kasih.

Monday, April 27, 2009

She Is Your Mother

Yesus Berkata: "Inilah ibumu".

Saya bukan Katolik dari lahir, saya menjadi Katolik karena menikah dengan suami saya. Jadi sangat susah untuk saya kalau saya disuruh berdoa Rosario ataupun Salam Maria. Karena saya tidak mengimaninya, buat saya figur Maria adalah figur Maria, ibu Tuhan Yesus. Dia bukan siapa-siapa, tidak ada artinya dalam kehidupan saya.

Saya menikah di usia yang sangat muda, jadi sering terjadi konflik diantara suami/istri. Tapi Puji Tuhan saya memiliki anak pertama, wanita, yang sangat lembut hatinya. Dia bagaikan malaikat pelindung saya. Dia selalu menjadi penengah diantara kami. Saya dan anak saya sangat erat hubungannya, bahkan kami bersahabat. Dia adalah anak saya dan sahabat saya. Di buku hariannya dia menulis: Ibuku adalah idolaku. Saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada dia secara istimewa tapi dia tidak manja. Karena pada waktu itu saya seorang wanita karir maka pada waktu dia masuk SMA saya masukkan dia ke Asrama Putri Gembala Baik di Bogor, maksud saya supaya dia aman dari pergaulan yang jahat di Jakata.

Pada tanggal 12 Januari 1995 siang, saya di telepon anak saya dari Asrama Bogor bahwa dia sakit. Lalu segera saya jemput anak saya dan saya masukkan ke RS. Karena tidak ada kamar VIP saya masukkan di kamar bangsal, saya berjanji besok pagi akan saya pindahkan ke kamar VIP jadi saya bisa menunggu. Dia tersenyum dan berkata: "Nggak apa-apa, mama pulang aja, 'kan mama capek kerja, nggak usah ditunggu." Dan keadaannya bagus, dokter juga berkata tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tapi ternyata, jam 22:00 saya mendapat telepon dari RS yang mengabarkan bahwa anak saya koma, dan ANAK SAYA MENINGGAL DUNIA subuh jam 4, di usianya yang ke-16 tahun 5 bulan ...... HATI SAYA HANCUR!!!! SAYA KEHILANGAN KEHIDUPAN SAYA!!!

Saya membenci semua orang, juga termasuk Tuhan! Saya tidak terima keadaan ini ... DAN SAYA MENJADI GILA. Secara fisik saya tidak terlihat gila, tapi kalau saya kumat, saya mengamuk, mencoba bunuh diri, memaki-maki dan menangis. Keadaan itu saya alami selama 2 tahun. Saya kehilangan pekerjaan saya, anak saya nomor 2 tidak mau tinggal dengan saya karena malu, untung suami saya tabah. Mula-mula dengan sabar dia mengajak saya ke gereja, walaupun kalau mendengar lagu-lagu gereja dan saya ingat anak saya, maka saya mengamuk dan menangis dengan teriak-teriak, tapi lama-lama suami saya juga malu. Dia menjual rumah dan mobil kemudian mengajak pindah rumah. Setelah pindah rumah keadaan tidak membaik, saya tetap GILA!

Suatu ketika, Paskah tahun 1997, suami saya tergerak untuk mengajak saya ke gereja mengikuti misa Jumat Agung. Suami saya sudah pasrah dan siap menerima keadaan saya jika saya kumat, tapi tiba-tiba pada waktu jalan salib berlangsung dan Yesus jatuh ketiga kalinya, badan saya terasa hangat dan saya merasa Tuhan Yesus berkata: "Inilah ibumu," dan saya waktu itu seolah-olah secara rohani disadarkan bahwa ibu Maria pun sudah terlebih dahulu mengalami hal yang sama dengan saya, yaitu kehilangan Anak yang dikasihinya, tapi ibu Maria menerimanya dengan tabah karena kehendak Bapa. Saya jatuh terduduk dan menangis, suami saya sudah siap-siap mengangkat saya keluar gereja takut saya mengamuk, tapi saya berkata tidak biarkan saya sendiri. Saya menangis sampai selesai jalan salib bahkan sampai pulang ke rumah dan tidak mengamuk.

Pada saat itu juga, depresi saya hilang dan saya sadar dari gila saya. Saya memperoleh kehidupan saya lagi, saya kuat menerima kenyataan. Saya mau berkata seperti Bunda Maria: "Terjadilah menurut kehendak-Mu." Saat itu devosi saya kepada Bunda Maria sangat kuat, saya berdoa Rosario setiap pagi dengan rajin. Saya mengasihi dia. Bunda Maria adalah figur yang bisa mengembalikan kehidupan saya ... Kini saya adalah seorang ibu yang berbahagia, karena Tuhan mengaruniai saya 2 anak, Puji Tuhan. Dan saya berbahagia karena saya memiliki seorang ibu yang selalu mendoakan saya agar saya selalu dekat dengan Sang Terang Yesus Kristus, putranya.... . Sungguh saya mau berkata: "Bunda Maria, aku mengasihimu ...."
TN (Email kiriman dari Ibu Sherly K.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 30, 2009

God's Voice

GOD'S VOICE
Jack E. Olson
I knew the voice was real. It came booming into my ears, over the top of my dream and snapped me awake. "When you say I don't love you, you are mistaken." It boomed,
deep like a great waterfall, rich like a trumpet.

I turned and looked at my wife. She was sleeping soundly, as if nothing had happened. I placed my hand on her shoulder and gave her a shake. "Doreen, did you hear that?" "Huh, hear what?" She turned and peeked at me through mostly shut eyes. "I just heard a voice. It sounded something like a trumpet blast, only deeper. I was in the middle of a dream and it woke me up. It said, 'When you say I don't love you, you are mistaken!' I think it was God."

I had lost my job two years previously. Our situation continued to worsen. Shortly after hearing the voice, we were down to a few dollars and a half tank of gas. The bank was foreclosing on our home. With no money, there was nowhere we could move, no way to store furniture. I was sixty years old, and without a degree, no one would hire me. We would loose the home where we'd raised our five children and lived for 27 years. All would be lost: home, furniture, automobile, and personal things.

We prayed often and trusted God to deliver us. But things only got worse. We had seen others rescued miraculously, but not us. People showed up at their doorsteps with money saying, "The Lord told me to give you this." And it would be precisely what they had prayed for. But that never happened to us.

We were sitting together on the step into a garage that I had converted into a family room. We were talking about all these things and decided that we had been abandoned. "God doesn’t loved us anymore," Doreen said. "I guess your right." We went to bed dejected, hopeless. But God did love us. He told us so, vocally.


The next morning, I had to use most of my precious gas to go to a meeting of a company I'd started two years previously. Not much had happened. Very little had been sold. Karl, a man who had helped us prepare our business plan was there. He was thinking about joining us on a financial basis. They didn't know that after that week they might not see me again. The next day, a Friday, I went to see about a job at a conveyor company. The marketing director took me to lunch and offered me his job. But when he had finished telling me about the company, it was clear that there was no way I could fit in.

Driving away, I was completely discouraged, sort of in a daze, watching the buildings drift by as I proceeded home to give my wife some more bad news. Then I saw a business I recognized. I had been on that street once before many years ago. "I know the man that owns that". I thought. The door was open; lots of desks in a big office; I walked through a doorway and into a very dirty production area. There was one old man there. "Is this owned by a man named Ron," I asked. "Yeah, Ron Baldwin. Here's his number." When I got home, I told Doreen the bad news and called Ron. He recognized my name immediately. "I tried to call you a couple of months ago," he said. "If you're not doing anything why don't you come to my office for about an hour right now and we'll get acquainted again." I got there at about 2:00 PM. We talked till 6:00.

He decided we should get together. Although we couldn't decide what that should be, we agreed to agree. Saturday, we talked from 8:00 AM till 4:00 PM. I would return on Monday and check out the market for a line of fishing tackle products he'd accumulated. Finally, some good news for Doreen. In my haste to tell her, it seemed that all the stop lights were against me and stayed red forever. I hope I didn't offend anyone with my wild driving (an old man driving like a kid). When I saw Ron on Monday, I had to admit that I couldn't afford gas to get back the next day. He gave me two thousand dollars. I got home before noon with literature to study and a lot of library work to do. I love to see my sweetheart smile.

“But,” she asked, "what do we do about the foreclosure? The bank has sent it to their attorney." I had a strong urge to call Karl. Sometimes God speaks to us that way. He offered me eighty five hundred dollars for ten thousand shares of my stock. Sunday night were nearly penniless, but by Monday evening I had deposited ten thousand, five hundred dollars. Tuesday morning, these words popped into my mind. (sometimes He speaks that way too) "Go withdraw six thousand dollars." "But, Lord, you know those checks couldn't possibly have cleared." "Do it." There was some hesitation at the bank, but within an hour I had the cash. "Now, get on your good clothes and get to the bank fast." No argument that time. As it turned out, I was just in time, almost to the minute, to save myself fifteen hundred dollars in legal fees!" And the two years of trials were over.

He really does love us, just as He said. I stand in awe at his timing and orchestration of events. All that time, when I was alone and discouraged, He was leading—preparing me to trust more fully. Sometimes we feel ashamed of our fears. But God knows. After all, Jesus became a man to experience our trials, hunger, and pains so that he could be our advocate before God. He even calls us brothers. He agonized nine hours on the cross to make that possible, to make us good enough to stand confidently before God. He loves you too. You are not reading this by accident, anymore than I passed that business by accident, or did any of the other things. You don't need to be good either. He understands. All you need is to say, "thank you Jesus for sacrificing yourself for my punishment. I accept that. Thank you for wanting me to live forever with you. You really do love me. I love you too." You just heard God in your heart. (Email kiriman Ibu Suharti - Sorry, saya belum sempat menerjemahkannya.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, March 18, 2009

God Knows Where You Are

Bapa Tahu Dimana Anda Berada
Apakah anda percaya bahwa Bapa tidak hanya mengasihi anda, tetapi tahu dimana anda berada dan apa yang anda sedang lakukan setiap menit? Saya sungguh percaya setelah pengalaman yang sangat menakjubkan yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu saya sedang berkendaraan di jalan bebas hambatan 1-75 dekat Dayton, Ohio, bersama dengan isteri dan anak-anak saya. Kami keluar dari jalan bebas hambatan itu di sebuah tempat peristirahatan.

Isteri saya, Barbara, dan anak-anak pergi ke restoran. Saya tiba-tiba merasa butuh meregangkan kaki-kaki saya, sehingga saya menyuruh mereka pergi duluan dan saya katakan akan menyusul mereka kemudian. Saya membeli sekaleng minuman ringan, dan ketika saya sedang berjalan ke toko Dairy Queen, perasaan mengasihani diri sendiri mulai menyelimuti pikiran saya. Saya mengasihi Tuhan, tetapi saya merasa kering dan berbeban berat. Hati saya kosong.

Tiba-tiba deringan tak sabar dari sebuah telpon umum terdekat mengembalikan kesadaran saya. Suara dering telpon itu berasal dari kotak telpon umum di sebuah pompa bensin di sudut jalan. Apakah tidak ada orang yang akan menjawab telpon itu? Suara berisik dari lalu lintas yang ramai ini pastilah menenggelamkan deringan telpon itu karena penjaga pompa bensin terus mengurus para pengendara yang ingin mengisi bahan bakar, tak sadar akan bunyi dering telpon tanpa henti itu.

“Mengapa tidak ada orang yang menjawab telpon itu?” tanya saya. Saya mulai berpikir. "Mungkin telpon itu penting. Bagaimana kalau telpon itu merupakan panggilan darurat?” Rasa ingin tahu mulai mengatasi ketidak-pedulian saya. Saya melangkah masuk ke telpon umum itu dan mengangkat gagang telpon.

“Halo?” kata saya ringan dan menyedot minuman saya. Dari seberang sana terdengar suara operator yang berkata, “Ini telpon interlokal untuk Pak Ken Gaub.” Mata saya terbelalak, dan saya hampir tersedak oleh es batu yang ada di mulut saya. Setelah menelan dengan susah payah, saya katakan, “Anda gila deh!” Kemudian karena saya menyadari bahwa saya seharusnya tak berkata begitu kepada seorang operator telpon, saya menambahkan, “Ini tak mungkin! Saya sedang berjalan-jalan, tak menunggu telpon dari siapapun, dan tadi tiba-tiba telpon umum ini berdering…”

“Apakah Pak Ken Gaub ada di sana?” operator telpon itu menyela. “Ya, ia ada di sini.” Sambil memikirkan penjelasan yang masuk akal, saya was-was apakah ada kamera tersembunyi yang melacak keberadaan saya! Apakah saya sedang dikerjai dalam sebuah acara reality show? Masih kaget dan bingung, saya bertanya, “Bagaimana caranya anda menemukan saya di sini? Saya sedang berjalan-jalan, lalu telpon umum ini berdering, dan saya mengangkat panggilan telpon ini asal-asalan saja. Mungkinkah anda salah panggil?”

“Baiklah,” operator telpon itu bertanya, “apakah Pak Gaub ada di sana atau tidak?” “Ya, saya adalah Ken Gaub,” kata saya, setelah saya akhirnya yakin bahwa panggilan telpon ini sungguhan. Kemudian saya mendengar suara lain berkata, “Ya, itulah dia orangnya, operator. Itulah Ken Gaub.”

Saya mendengarkan seperti orang kebingungan pada suatu suara yang mengenalkan dirinya sendiri, “Saya adalah Millie dari Harrisburg, Pennsylvania. Anda tidak mengenal saya, Pak Gaub, tetapi saya sedang putus asa. Tolonglah saya.”

“Apa yang saya dapat bantu?”

Ia mulai menangis. Akhirnya ia dapat mengendalikan dirinya dan melanjutkan. “Saya hampir saja bunuh diri, dan telah menulis surat terakhir saya, ketika saya mulai berdoa dan berkata kepada Tuhan bahwa saya sebenarnya tidak mau bunuh diri. Kemudian tiba-tiba saya ingat bahwa saya pernah melihat anda di televisi dan saya pikir seandainya saja saya dapat berbicara dengan anda, anda mungkin dapat menolong saya. Saya tahu bahwa hal itu mustahil karena saya tidak tahu bagaimana saya dapat menghubungi anda. Saya juga tidak tahu siapa yang dapat menolong saya untuk menghubungi anda. Kemudian beberapa angka datang ke pikiran saya, dan saya menuliskannya.

Sampai titik ini wanita itu mulai menangis lagi, dan saya berdoa di dalam hati memohon hikmat Tuhan untuk menolongnya. Ia melanjutkan, “Saya melihat deretan angka itu dan berpikir, ‘Mungkinkah saya mendapat mukjizat dari Tuhan, dan Ia memberikan telpon Pak Ken’ Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menelpon anda dengan menggunakan deretan angka itu. Saya tak habis mengerti bahwa sekarang saya sedang berbicara dengan Bapak. Apakah anda mempunyai kantor di Kalifornia?”

Saya menjawab, “Bu, saya tidak punya kantor di Kalifornia. Kantor saya di Yakima, Washington.”

Dengan terkejut dia bertanya, “Oh, ya? Lalu anda sekarang ada dimana?”
“Apakah anda tidak tahu?” jawab saya. “Kan anda yang menelpon saya duluan.” Wanita itu menjelaskan, “Tetapi saya bahkan tidak tahu saya sedang menelpon kemana. Saya hanya meminta operator untuk menekan tombol telpon sesuai dengan deretan angka yang saya tulis di kertas ini.”

“Bu, mungkin anda tidak percaya, tetapi saya sekarang sedang berada di sebuah telpon umum di Dayton, Ohio!”
“Sungguh?” serunya. “Jadi, sedang apa anda sekarang?”
Saya menggodanya, “Yah, sekarang saya sedang menelpon anda. Saya sedang berada di sebuah tempat peristirahatan di jalan bebas hambatan menuju Dayton, Ohio. Telpon ini berdering ketika saya sedang berjalan-jalan, sehingga saya mengangkatnya.”

Karena saya tahu bahwa pertemuan ini mustahil terjadi tanpa pengaturan Tuhan, saya mulai mengonseling wanita itu. Setelah wanita itu menceritakan keputus-asaannya dan frustrasinya, hadirat Roh Kudus membanjiri kotak telpon umum itu dan memberi saya perkataan hikmat di luar kemampuan saya. Dalam waktu beberapa saat, akhirnya wanita itu mau menyerahkan dirinya kepada Tuhan dalam sebuah doa pertobatan dan bertemu dengan Pribadi yang akan menuntunnya keluar dari situasinya yang buruk dan memulai hidup baru.

Saya berjalan keluar dari kotak telpon umum itu dengan perasaan merinding tentang kepedulian Bapa Sorgawi terhadap setiap anak-anak-Nya. Bagaimana mungkin hal ini merupakan suatu peristiwa kebetulan? Dengan semua telpon umum yang berjumlah jutaan dan kombinasi angka yang tak terhitung, hanya Bapa yang Mahatahu yang dapat menyebabkan wanita itu menghubungi kotak telpon umum itu dalam waktu yang tepat. Dengan melupakan minuman ringan saya dan sangat takjub dengan pengalaman ini, saya berjalan kembali menuju keluarga saya, sambil mengira-ngira apakah isteri saya akan mempercayai kisah saya. Mungkin saya sebaiknya tidak menceritakan hal ini, saya pikir, tetapi saya tak dapat menahannya. “Barbara, kamu pasti tidak percaya! Tuhan tahu dimana saya berada lho!”

Yeremia 33:3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”

[Ken Gaub- Yakima, Washington -- email from Keith Todd. Naskah bahasa Inggeris dikirim oleh Ibu Suharti, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di blog atau website anda. Terima kasih ]

****

God Knows Where You Are
Do you believe that God not only loves you, but knows where you are and what you're doing every minute of the day? I certainly do after an amazing experience I had several years ago. At the time I was driving on 1-75 near Dayton, Ohio, with my wife and children. We turned off the highway for a rest and refreshment stop.

My wife Barbara and children went into the restaurant. I suddenly felt the need to stretch my legs, so waved them off ahead saying I'd join them later. I bought a soft drink, and as I walked toward a Dairy Queen, feelings of selfpity enshrouded my mind. I loved the Lord, but I felt drained, burdened. My cup was empty.

Suddenly the impatient ringing of a telephone nearby jarred me out of my doldrums. It was coming from a phone booth at a service station on the corner. Wasn't anyone going to answer the phone? Noise from the traffic flowing through the busy intersection must have drowned out the sound because the service station attendant continued looking after his customers, oblivious to the incessant ringing.

"Why doesn't somebody answer that phone?" I muttered. I began reasoning. "It may be important. What if it's an emergency?" Curiosity overcame my indifference. I stepped inside the booth and picked up the phone.

"Hello," I said casually and took a big sip of my drink. The operator said: "Long distance call for Ken Gaub." My eyes widened, and I almost choked on a chunk of ice.

Swallowing hard, I said, "You're crazy!" Then realizing I shouldn't speak to an operator like that, I added, "This can't be! I was walking down the road, not bothering anyone, and the phone was ringing... "Is Ken Gaub there?" the operator interrupted, "I have a long distance call for him."

It took a moment to gain control of my babbling, but I finally replied, "Yes, he is here." Searching for a possible explanation, I wondered if I could possibly be on Candid Camera! Still shaken, perplexed, I asked, "How in the world did you reach me here? I was walking down the road, the pay phone started ringing, and I just answered it on chance. You can't mean me."

"Well," the operator asked, "is Mr. Gaub there or isn't he?" "Yes, I am Ken Gaub," I said, finally convinced by the tone of her voice that the call was real. Then I heard another voice say, "Yes, that's him, operator. That's Ken Gaub."

I listened dumbfounded to a strange voice identify herself. "I'm Millie from Harrisburg, Pennsylvania. You don't know me, Mr. Gaub, but I'm desperate. Please help me."

"What can I do for you?"

She began weeping. Finally she regained control and continued. "I was about to commit suicide, had just finished writing a note, when I began to pray and tell God I really didn't want to do this. Then I suddenly remembered seeing you on television and thought if I could just talk to you, you could help me. I knew that was impossible because I didn't know how to reach you, I didn't know anyone who could help me find you. Then some numbers came to my mind, and I scribbled them down."

At this point she began weeping again, and I prayed silently for wisdom to help her. She continued, "I looked at the numbers and thought, 'Wouldn't it be wonderful if I had a miracle from God, and He has given me Ken's phone number?' I decided to try calling it. I can't believe I'm talking to you. Are you in your office in California?" I replied, "Lady, I don't have an office in California. My office is in Yakima, Washington."

A little surprised, she asked, "Oh really, then where are you?" "Don't you know?" I responded. "You made the call." She explained, "But I don't even know what area I'm calling. I just dialed the number that I had on this paper."

"Ma'am, you won't believe this, but I'm in a phone booth in Dayton, Ohio!"
"Really?" she exclaimed.
"Well, what are you doing there?"
I kidded her gently, "Well, I'm answering the phone. It was ringing as I walked by, so I answered it."

Knowing this encounter could only have been arranged by God, I began to counsel the woman. As she told me of her despair and frustration, the presence of the Holy Spirit flooded the phone booth giving me words of wisdom beyond my ability. In a matter of moments, she prayed the sinner's prayer and met the One who would lead her out of her situation into a new life.

I walked away from that telephone booth with an electrifying sense of our heavenly Father's concern for each of His children. What were the astronomical odds of this happening? With all the millions of phones and innumerable combinations of numbers, only an allknowing God could have caused that woman to call that number in that phone booth at that moment in time. Forgetting my drink and nearly bursting with exhilaration, I headed back to my family, wondering if they would believe my story. Maybe I better not tell this, I thought, but I couldn't contain it. "Barb, you won't believe this! God knows where I am!"

Addendum -- "Call unto me, and I will answer thee, and show thee great and mighty things, which thou knowest not." Jer 33:3
[ Ken Gaub (Yakima, Washington) -- from Keith Todd ]

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI