Search This Blog

Showing posts with label Iman - Faith. Show all posts
Showing posts with label Iman - Faith. Show all posts

Thursday, February 13, 2014

Kisah Pembentukan Tuhan : Nadira Story

Ini adalah kisah kesaksian tentang Nadira  (nama samaran) yang mengalami proses pembentukan dari Tuhan. Ketika ia dan suaminya memutuskan untuk menerima dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka, ia dan suaminya ditodong pistol oleh pamannya, seorang tokoh terkemuka di negeri ini, agar kembali ke agama mereka yang lama.

Wednesday, August 15, 2012

Tuhan itu Baik


Jika anda merasa diri menjadi orang paling berat menanggung pencobaan, coba hitung berkat Tuhan yang sudah anda terima dan dengarkan kisah orang lain yang bahkan lebih berat menanggung pencobaan.

Kisah ini adalah salah satu kesaksian betapa kasih karunia Tuhan tetap ada pada orang yang percaya di tengah badai. Seorang ibu, single parent, bersiap-siap merayakan ulang tahun puterinya yang ke-17. Sang puteri sebenarnya berharap ayahnya akan turut hadir di pesta ulang tahun itu dan kedua orangtuanya mendampingi saat dia meniup lilin dan memotong kue ulang tahun.

Monday, June 11, 2012

Amazing Fact

Hari Sabtu yang lalu saya mendapat informasi bahwa ketika Tuhan Yesus disalib dan ketika seorang prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dengan segera mengalir keluar darah dan air, darah itu mengalir ke kaki-Nya, turun terus ke kayu salib bagian bawah dan dibawah kayu salib itu ada lubang tempat memancangkan tiang salib. Ketika terjadi gempa dan gempa ini bukan kebetulan, gempa itu membelah batu di bawah tiang salib itu, darah terus mengalir ke bawah batu yang terbelah, terus turun lagi ke dalam celah batu yang terbelah dan ke bawah lagi adalah Tabut Perjanjian.

Dari hasil searching di internet, telah ditemukan oleh Ron Wyatt, bahwa Tabut Perjanjian disembunyikan para imam pada zaman nabi Yeremia bukan di Bait Allah, tetapi di luar itu, antara tembok Bait Allah dan tembok pengepungan tentara Nebukadnezar yang kelak akan menghancurkan Bait Allah. Jadi, 35 tahun sebelum Bait Allah dihancurkan pada th 586 Sebelum Masehi (di dalam Alkitab lokasi Tabut Perjanjian itu masih disebutkan dengan jelas sampai tahun 621 SM), maka para imam menyembunyikan Tabut Perjanjian dan perkakas kudus penting lainnya di suatu tempat yang dianggap aman, dan tentunya bukan di lingkungan Bait Allah.

Penelitian Ron Wyatt pada tahun 1982 menemukan Tabut Pernjanjian itu di lokasi dekat Kalvari dan di suatu goa yang disebut Goa Zedekia dan dekat Kubur Yeremia. Di dalam tanah itu terlihat bebatuan di atas Tabut itu pernah terbelah dan ada bekas darah telah mengental. Jika darah manusia umumnya berisi 46 kromosom, 23 kromosom dari Ibu dan 23 kromosom dari Ayah, maka darah yang mengental ini hanya mempunyai kromosom 24, yaitu 23 dari Maria dan 1 kromosom dari Roh Kudus.

Jadi, upacara penyucian dosa pada zaman imam Harun, yang setahun sekali Imam Besar, mengadakan pendamaian atas dosa orang Israel dengan memercikkan darah domba ke tanduk-tanduk di Tabut Perjanjian, telah digenapi dengan percikan darah Tuhan Yesus di kayu salib, yang menetes ke bawah dan terus ke bawah dengan "bantuan" gempa bumi, mengalir ke Tabut Perjanjian yang disembunyikan para imam enam ratus lima puluh tahun sebelumnya! Walaupun penemuan itu masih kontroversial, silakan pertimbangkan dari sumbernya: http://www.wyattmuseum.com/arkofthecovenant.htm

God bless you.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, May 22, 2012

Kesaksian Kezia Angeline


Kesaksian Kezia Angeline
Desember 2011 Tuhan membawa Jeffry S. Tjandra melayani di Singapura. Salah satu gereja di sana mengundangnya, dan secara khusus saat itu Jeffry diminta untuk menyanyikan lagu ”Ku Takkan Menyerah” berdua dengan seorang gadis kecil usia 10 tahun, bernama Kezia. Namun Kezia bukan seperti gadis kecil lainnya, sejak kecil sampai saat ini dia sangat bergantung pada kursi roda, yang membawa kemanapun dia pergi.

Pada waktu papa mama Kezia menikah semuanya berjalan dengan sempurna. Sampai suatu kali didapati ada kista yang menempel di dinding kandungan mama Kezia. Saat itu dokter kandungan berkata bahwa kista itu harus segera diangkat bersama dengan kandungannya, karena akan membahayakan dia. Mereka sadar betul bahwa akibat dari pengangkatan kista itu bahwa mereka akan kesulitan mendapatkan keturunan, padahal mereka baru saja menikah. Mereka minta waktu satu minggu sebelum memberi keputusan. Dalam waktu satu minggu itu mereka masuk dalam doa puasa. Dan setelah waktu satu minggu itu mereka bertemu kembali dengan dokter kandungan  yang adalah seorang anak Tuhan. Pada waktu kandungannya dicheck kembali, didapati bahwa kista itu telah lenyap secara ajaib.

Agustus 1988 lahirlah Jeremy, kakak kandung Kezia, dengan normal tanpa ada gangguan apapun. Setelah beberapa tahun mereka bermaksud punya anak lagi. Kali ini mereka sangat hati-hati, mereka mengecek kondisi kesehatan mama Kezia dengan teliti. Dan seluruh dokter ahli yang diminta pendapatnya menyatakan bahwa kandungannya ada dalam kondisi aman.

Awal 2001 mama Kezia positif hamil. Pada awal bulan kehamilan semuanya berjalan  lancar. Namun pada usia kandungan 6 bulan dokter kandungan mendapati adanya masalah serius dengan janin itu. Dokter kandungan berusaha menenangkan mereka dan berkata bahwa mukjizat masih ada.

Berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya, mereka kembali masuk dalam doa puasa. Namun pada waktu ini Tuhan berkehendak lain. Keadaan tidak berubah menjadi baik, bahkan menjadi lebih buruk. Pada usia kandungan sembilan bulan, dokter menyatakan bahwa bayi yang ada di dalam kandungannya mengalami kelainan yang disebut sebagai spina bifida, atau yang umum disebut sebagai sumbing tulang belakang. Itu terjadi karena vertebra tulang belakangnya tidak berkembang dengan sempurna. Kelainan itu terjadi diantara 1 berbanding 100.000 kelahiran. Dokter menyatakan lebih lanjut lagi bahwa bayi yang ada di kandungannya mengalami hidrosephalus, pembengkakan cairan di kepala yang menekan pertumbuhan otaknya. Dokter menasihatkan agar janin itu dibuang saja. Bayangkan, bayi itu sudah berusia sembilan bulan dan siap untuk dilahirkan. Para dokter berusaha meyakinkan kedua orang tua Kezia bahwa janin itu tidak ada gunanya dipertahankan, akan menimbulkan banyak masalah jika  dilahirkan, disarankan agar bayi itu digugurkan saja. Dengan hati yang hancur, kedua orang tua Kezia berkeras berkata: ”Tidak”.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit di dalam kendaraan, mereka terdiam satu sama lain. Namun sekalipun mereka tidak berbicara satu sama lain, sama-sama pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan yang sama: ”Mengapa Tuhan? Mengapa Tuhan tidak melakukan mukjizat-Nya? Sama seperti yang dilakukan terhadap Jeremy? Mengapa ada spina libida? Mengapa kena hidrocephalus?” Pertanyaan ”mengapa” dan sejuta pertanyaan lain memenuhi pikiran mereka. Namun tak ada satupun pertanyaan itu terjawab. Seakan-akan Tuhan berdiam diri dan memalingkan wajah-Nya dari mereka.

Sesampai di rumah pada malam harinya, sang mama mendapati suaminya sedang termenung di sudut kamar tidur. Dia tidak tahu apa yang sedang diperbuat suaminya. Beberapa saat kemudian suaminya bangkit menghampiri dan memeluk istrinya. Sambil menangis suaminya berkata, ”Aku bisa menerima kelahiran anak ini walaupun aku belum bisa mengerti. Baru saja aku bercakap-cakap dengan seorang Pribadi di dalam ruangan ini. Dan Pribadi itu mengajarkan kepadaku apa arti berkorban karena kasih. Sama seperti apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Dia telah berkorban di kayu salib karena kasih-Nya bagi kita.”

3 September 2001 Kezia lahir. Di hari pertama kelahirannya Kezia harus berhadapan dengan meja operasi. Seluruh dokter yang menangani operasi mengatakan bahwa Kezia tidak akan dapat berumur panjang. Akhir Desember tahun 2011 setelah sepuluh tahun, Jeffry masih bisa berkesempatan makan malam bersama Kezia. Sejak kelahirannya sampai saat ini entah sudah berapa ratus kali Kezia menjalani operasi. Pada waktu makan malam itu betapa Kezia bercerita dengan penuh semangat. Pada setiap kali Kezia pergi ke rumah sakit untuk menjalani terapi, setiap kali dia pergi ke rumah sakit untuk menjalani operasi, dengan kursi rodanya, Kezia keliling rumah sakit itu, dia kuatkan orang-orang yang dijumpainya, para pasien yang sakit ringan ataupun berat. Dia masuki kamar demi kamar perawatan. Dia datangi pasien demi pasien. Dia doakan mereka satu demi satu.

Kezia tidak pernah mau menyerah. Dia tidak pernah mau menyerah sedikitpun atas keadaannya. Apakah diantara anda ada yang mau menyerah?

”Di saat hidupku seakan tak berdaya,
Namun kutetap kuatkan hatiku,
Karna kutahu hidupku dalam tangan-Mu
Pengharapanku hanya kepada-Mu

Tetap kupercaya, tetap kumelihat
Kau bekerja menurut cara-Mu
Tetap kupercaya, tetap kuberharap
Kau berkuasa di dalam hidupku.”

Album: "Tiada Kata Terlambat" – Jeffry S. Tjandra

Ini bukan dosa Kezia, juga bukan dosa orang tuanya, tetapi pekerjaan Tuhan harus dinyatakan lewat hidup Kezia. Oleh karena itu kemanapun Jeffry melayani, dia selalu ingin agar jemaat mendoakan Kezia. Lewat Kezia, Tuhan akan melakukan sesuatu. Dalam penderitaannya Kezia selalu mendoakan orang lain dan suka bernyanyi bagi Tuhan.

Tepat minggu lalu, tgl 22 April 2012, selesai Jeffry melayani ibadah di Surabaya, Jeffry didatangi seseorang. ”Saya adalah oomnya Kezia!” Ternyata dia kakaknya papa Kezia. ”Seharusnya dia terang ke Ujung Pandang, tapi saya tidak dapat tiket.” Tetapi temannya kirim SMS bahwa Jeffry Tjandra melayani di Surabaya, dan dia dituntun Tuhan beribadah di gereja itu. Selama ibadah dia dilawat Tuhan dengan luar biasa.

Sebenarnya Jeffry menerima foto-foto tentang Kezia, ketika dioperasi dan ketika diterapi. Namun karena Jeffry melihat foto-foto itu mengenaskan, membuat miris, dan khawatir ada jemaat yang tidak kuat melihat foto-foto Kezia, dia menyimpan saja foto-foto Kezia.

”Pada waktu kamu cerita tentang Kezia, saya terkejut. Sayalah orang pertama yang menentang kelahiran Kezia di muka bumi ini.” Sejak saat itu dia putus hubungan. Selama 10 tahun tidak kontak. ”Saya akan menelpon keluarga Kezia,” kata oomnya pada malam itu. Mengapa oomnya menentang kelahiran Kezia? Karena urusan Kezia telah menghabiskan banyak harta keluarga besar papa Kezia. Mobil dan rumah keluarga besar telah dijual demi pengobatan Kezia. Keuangan papa Kezia di Singapura juga menjadi sangat sulit karena besarnya biaya operasi yang sering dilakukan.

Saat Jeffry kirim BBM kepada mama Kezia, dia terkejut sekali. Selama ini oom Kezia tidak pernah ke gereja. Mengapa hari Minggu 22 April itu, oom Kezia bisa ke gereja? Tuhanlah yang menuntun agar keluarga besar ini menjadi harmonis kembali.

Dua minggu yang lalu, penopang tulang punggung dari dada sampai perutnya harus dilepas karena sangat menyakitkan. Proses ini harus dilakukan paling lambat 3 bulan sejak akhir April lalu. Kezia perlu dana SGD 25 ribu, dan yang urgent sebesar SGD 12 ribu. Sebuah panitia dipimpin pendeta dari Surabaya sedang mengumpulkan dana sebesar SGD 12 ribu. Jeffry juga akan menyerahkan keuntungan dari penjualan DVD/CD album rohani ”Tiada Kata Terlambat” untuk pengobatan Kezia.  

Ada banyak orang selalu menuntut bukti untuk bisa mempercayai Tuhan. Kita tidak perlu menjadi seperti Thomas: ”Jika aku sudah melihat bekas paku di tangan-Nya, baru aku percaya.” Tuhan Yesus berkata, ”Engkau sendiri telah melihat, maka engkau percaya. Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya.” Kezia belum melihat kesembuhan total, namun ia percaya tak ada yang mustahil, mukjizat masih ada. Doakan Kezia....

Jika anda ingin melihat  Kezia di YouTube, silakan buka: http://www.youtube.com/watch?v=i0Js2kYXb-8

Kesaksian ini saya dengar dari Jeffry S. Tjandra. Ketika saya menuliskan kisah ini, hati saya sangat terharu melihat ketegaran Kezia....
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Note:
Terima kasih banyak atas pesanan 10 buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Andy dari Jakarta Utara. Tuhan Yesus memberkati berlimpah-limpah bisnis bapak.

Wednesday, March 21, 2012

My Lovely Josephine

 




MY LITTLE ANGEL


Josephine Katherine adalah anak perempuan kami satu-satunya dari 3 bersaudara, dia terlahir tanggal 21 Pebruari 1997  kokonya yang pertama bernama Jonathan dan yang kedua bernama Joshua.


Nama Josephine  dalam bahasa Ibrani berarti “Ia Akan Bertambah”  sedangkan nama Katherine dalam bahasa Yunani artinya  “Murni”, jadi arti nama dari Josephine Katherine adalah: “Ia Akan Bertambah Murni.” Kehadiran Josephine di tengah keluarga membawa keceriaan  dan warna yang sangat berbeda karena Josephine adalah seorang pribadi yang heboh dan hal-hal kelucuan yang dia buat meninggalkan kenangan dan arti yang luar biasa buat kami keluarganya,  seorang anak yang selalu membuat kami  orang tuanya bangga dengan  segala prestasinya dan juga dalam hal imannya.

Di mata sahabat-sahabatnya dia juga meninggalkan banyak kenangan yang indah, seperti :
  • Kimberly, Josephine adalah sahabat yang paling punya banyak kenangan indah, cerita, fofo-foto bareng yang banyak sekali jumlahnya serta sms Josephine kepadanya selama sakit 3 bulan ada 366 sms dan  sms itu di print dan disimpan sebagai kenang-kenangan berharga persahabatan mereka.

  • Sherine,  Josephine adalah  sahabat yang sabar dan selalu ceria.

  • Selyana, Josephine  adalah sahabat yang meninggalkan banyak banget pelajaran dan kenangan  indah.

  • Elvina, Josephine adalah sahabat yang selalu ceria, moodbooster, kenangan yang baik dari mulai tugas sekolah sampai seru-seruan ke Dufan, pasti dia yang bikin kita happy.

  • Julian,  Josephine  adalah sahabat yang baik, lucu banget, pintar, seru kalau di ajak ngobrol, suka bantuin aku kalau ada pr/tugas/ masalah yang aku tidak bisa, moodbooster banget deh, perhatian banget sama aku dan yang lainnya. Josephine itu bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan buat aku  dan kita semua.

  • Michelle,  Josephine sahabat yang kocak dan lucu, selalu bikin orang ketawa.

  • Jeannette,  Josephine adalah sahabat  yang sangat baik, suka ngajarin saya pelajaran Matematika ketika saya tidak mengerti.

  • Marsela,  Josephine adalah sahabat yang baik banget, ngertiin orang lain, enak di ajak kerja sama, 
    pinter, kocak, suka becanda, suka banget sama yang serba korea dan selalu ceria.

  • Dea M, Josephine adalah sahabat yang baik banget, ceria, sering senyum, selalu positif dan menginspirasi.

  • Steffany,  Josephine adalah sahabat yang suka melucu/ngelawak.

  • Sarah,  Josephine adalah sahabat yang lucu, suka becanda, selalu ceria, ngangenin orangnya, pantang menyerah, murah senyum dan baik.

  • Nadia,  Josephine adalah sahabat yang selalu bersyukur kepada Tuhan dan pantang menyerah.

  • Aldrich,  Josephine adalah sahabat yang baik banget, tidak pernah marah, pintar, selalu ceria, mudah bergaul, berbakat menyanyi dan imannya sama Tuhan luar biasa.

  • Yohanes,  Josephine adalah sahabat yang polos apa adanya, baik sekali, sangat pintar tempat untuk belajar (suka ngajarin sampai bisa), dan merupakan berkat Tuhan.

  • Gerald,  Josephine adalah sahabat yang baik banget, asyik, easy going, low profile, kocak, seru, cantik, pinter, walau kadang-kadang dia gila kalau sudah ketawa.

  • Michael,  Josephine adalah sahabat yang baik hati, pintar, murah senyum, sabar, ceria, selalu bisa membuat semua orang senang, mudah bergaul, jujur, baik, tidak mudah menyerah dan rajin. Menurut saya Josephine adalah sosok pribadi yang Tuhan utus untuk menjadi teladan buat kita teman-temannya.

  • Kevin,  Josephine adalah sahabat yang baik banget, setia kawan,  pintar, friendly, pribadi yang sangat percaya Tuhan Yesus, sosok yang bahagia banget.  Menurut  saya dia adalah sosok sahabat yang tidak tergantikan di dunia.

  • Patrick,  Josephine adalah sahabat yang baik dan cantik.
Itulah arti Josephine di mata sahabat-sahabatnya.

Kami sebagai orangtua  dari Josephine ingin berbagi cerita tentang perjuangan Josephine dalam mempertahankan imannya kepada Tuhan,  agar apa yang berhasil diperjuangkan Josephine dengan pertolongan Roh Kudus, menjadi berkat bagi banyak orang.

Gejala penyakit leukemia Josephine mulai terasa pada bulan Mei 2011. Bermula dari gejala timbul bintik-bintik di kaki seperti gejala DB (demam berdarah) tapi tidak dia hiraukan karena pada bulan  itu Josephine sibuk sekali mengikuti kegiatan pelatihan olympiade IPS tingkat SMP sehingga tidak sempat memperhatikan bintik-bintik merah yang timbul di kakinya. Kemudian timbul gejala baru di kaki dan tangannya seperti memar-memar merah ke ungu-unguan warnanya, diameternya besar-besar  seperti orang yang habis kepukul/kebentur dan dia juga mulai merasakan  lelah kecapean, mukanya pun agak pucat.


Jumat,  20 Mei 2011 adalah hari selesainya semua tanggung jawab Josephine dalam mengikuti perlombaan olympiade IPS. Esok harinya, pagi-pagi kami membawa Josephine ke laboratorium atas rekomendasi seorang dokter teman suami saya  untuk  melakukan pemeriksaan tes darah dan sore harinya ketika kami menerima hasil pemeriksaan darah, kami seluruh keluarga kaget sekali, tidak percaya bahwa anak kami diduga menderita penyakit leukemia (karena jumlah trombosit rendah sedangkan leukositnya tinggi).

Tetapi kami tidak percaya begitu saja, langsung saat itu juga kami bawa Josephine ke salah satu rumah sakit pertama untuk memastikan benar atau tidaknya anak kami menderita leukemia.  Josephine menjalani pemeriksaan tes darah lagi karena pihak rumah sakit tidak percaya dengan hasil lab yang kami bawa sebelumnya. Ternyata setelah hasilnya keluar, memang benar dari hasil lab pemeriksaan darah yang saya bawa dengan  hasil pemeriksaan lab dari rumah sakit hasilnya tidak beda jauh. Pihak rumah sakit tidak memperbolehkan Josephine pulang karena harus segera mendapat penanganan yang serius karena takut terjadi pendarahan di otak secara tiba-tiba akibat jumlah leukosit yang tinggi.  Tetapi teman suami saya tidak merekomendasikan  Josephine dirawat di rumah sakit tersebut karena kata beliau tidak ada dokter ahli darahnya.

Jadi saat itu juga kami memutuskan untuk membawa Josephine keluar dari rumah sakit tersebut  untuk dipindahkan ke rumah sakit kedua yang direkomendasikan  oleh teman suami saya (yang ada dokter ahli darahnya).  Di  rumah sakit tersebut Josephine sempat dirawat selama 3 hari.

Josephine tetap harus  menjalani test darah ulang dan pemeriksaan lainnya. Ketika kami  sekeluarga mendengar keterangan dokter yang menyatakan bahwa Josephine positif menderita penyakit leukemia dengan asumsi tipe AML. Kami sekeluarga seperti di sambar petir di siang bolong, kaget,  sedih sekali tidak percaya dengan apa yang menimpa Josephine.  Tetapi semua itu harus kami hadapi walaupun dengan hati yang hancur 
dan air mata.  Saat itu kami sekeluarga sungguh bingung, tidak tahu langkah/tindakan yang harus diambil untuk pengobatan Josephine selanjutnya.  Selama di rawat di rumah sakit tersebut, Josephine tidak mendapat pengobatan serta penanganan yang tepat dan baik.

Lalu kami sekeluarga memutuskan untuk memindahkan Josephine dari rumah sakit kedua (24 Mei 2011) ke rumah sakit 3 yang lokasinya berada dekat bandara.  Berkat pergumulan doa dan juga dukungan doa dari saudara-saudara, sabahat, pendeta, teman sepelayanan dan juga  rekomendasi seorang teman yang ternyata pernah mengalami gejala penyakit leukemia.

Kami harus melakukan upaya apa pun juga yang paling baik dan tepat  untuk pengobatan dan kesembuhan Josephine. Di rumah sakit ketiga, kembali dilakukan pengecekan ulang test darah dan lain-lainya dan setelah dilakukan evaluasi secara detail ternyata anak kami benar terkena penyakit leukemia dengan type ALL. Puji Tuhan,  ternyata tipe penyakit leukemianya tipe yang ringan tidak berat seperti dugaan dokter yang memeriksa Josephine pada waktu pertama kali. Kami sekeluarga menyerahkan seluruh pergumulan yang kami hadapi  dan segala usaha yang harus dilakukan untuk proses pengobatan  kesembuhan Josephine hanya kepada Tuhan, Allah yang sanggup melakukan dan memberikan  Mukjizat.

Selama kurang lebih 3 bulan, kami mendampingi Josephine dengan segala pergumulan sakitnya, kami melihat perubahan yang  luar biasa terjadi pada Josephine.


Ii (tante): ”Selamat pagi, cantik, bagaimana masih sakit nggak?”
Josephine : ”Selamat pagi, Puji Tuhan ii, sudah ngak sakit. Ii, semalam lihat ada orang masuk nggak ke kamar Evine?”
Ii : ”Enggak, sayang, nggak ada yang masuk kamar ini.”
Josephine : "Ada ii, orangnya baik banget."
Dia pegang tangan  Evine,  terus Evine enggak sakit lagi.”
Ii : ” Orangnya seperti apa, Vin?”
Josephine : ”Orangnya pakai jubah putih bercahaya, tubuhnya dari kristal, tapi mukanya Evine nggak bisa lihat karena bercahaya.”

Itulah mimpi anak saya ketika  pertama kali menjalani kemoterapi untuk pengobatan leukemianya. Kami sekeluarga sangat menyakini bahwa Tuhan pasti akan menyembuhkannya, karena Tuhan telah datang dalam mimpi Josephine. Terus terang,  selama mendampingi Josephine hanya mukjizat kesembuhanlah yang selalu kami pikirkan.

Hari-hari selanjutnya yang Josephine dan kami sekeluarga jalani, kami menjalani dengan Iman kepada Tuhan karena kami percaya tidak ada yang mustahil di dalam Tuhan. Perubahan sikap yang terjadi pada Josephine luar biasa. Saat Josephine menjalani semua proses pengobatan untuk kesembuhannya, kami melihat tidak seperti pada umumnya.  Seseorang yang sedang menderita sakit pastilah marah-marah, bete, berkeluh kesah, terkadang maaf ada yang sampai menyalahkan Tuhan atas penyakitnya. Tidak pernah sekalipun kami mendengar sepatah katapun yang keluar dari mulutnya kemarahan/keluh kesah atas penyakitnya tetapi justru setiap hari yang dia perkatakan hanyalah kebaikan Tuhan. 

"Mama, Tuhan Yesus itu baik sekali sama Evine. Anugerah Mukjizat-Nya sudah Evine rasakan setiap hari, Tuhan juga tidak pernah meninggalkan Evine sendiri,  DIA selalu memberi Evine Kekuatan sehingga Evine kuat  melewati semua proses pengobatan yang Evine harus hadapi dan jalani,"  dia bilang seperti itu kepada saya sambil menangis.

Kami semua sebenarnya bingung,  Josephine ini terlihat berbeda dengan anak-anak seusianya (14 tahun). Ketika sakit memiliki pemikiran, sikap, dan iman yang dewasa di dalam Tuhan.  Saya bersyukur  kepada Tuhan dengan Kuasa Roh Kudus-Nya memampukan  Josephine melihat dan merasakan Anugerah-Nya yang sungguh luar biasa.  Dalam keadaan sakitnya  Roh Kudus memampukan Josephine untuk selalu mengucap syukur. Banyak hal yang Josephine alami di rumah sakit yang membuat saya dan keluarga  takut, cemas kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Josephine tetapi justru malah dia yang menasehati saya dan keluarga agar tidak perlu takut karena ada Tuhan Yesus yang akan selalu menolong dan memberinya kekuatan. Suatu hari ketika Josephine mengalami kondisi yang kurang baik, dia muntah berkali kali (17 kali).

Ketika saya sedang membuang muntahnya ke kamar mandi, ii/tantenya yang mendampingi, berdoa dan ii nya bilang sama Tuhan dalam doanya “cukup Tuhan” ketika dia dengar kata-kata dalam doa ii nya itu, langsung dia bilang sama ii nya :

Josephine: “Ii, (sambil memperlihatkan muka yang marah),
kenapa  ii   berdoa  seperti itu sama Tuhan?”
Ii Josephine :  ” Iya lah Vin, kamu kan sudah muntah 17 kali cukup sudah, biar Tuhan hentikan muntah-muntahnya.”
Josephine: ” Ii, apa yg tidak baik dalam tubuh Evine, Tuhan   keluarkan melalui muntah.”
Ii nya benar-benar kaget mendengar penjelasan dari Josephine.
——————————-

Beberapa minggu kemudian, Josephine mengalami kondisi kesehatan yang kurang baik  (maaf ada cacing di pup-nya), saya laporkan ke suster. Saya bertanya kenapa kok bisa di pup anak saya ada cacing, langsung suster bawa sample pupnya ke lab untuk diteliti.  Pada malam harinya ketika visit dokter, saya dipanggil oleh dokter yang menanggani anak saya. Pada waktu itu saya dimarahi oleh dokter. Dokter mengatakan bahwa saya adalah seorang ibu yang tidak bisa diajak bekerja sama untuk kesembuhan anaknya. Dokter  bilang bahwa saya pasti telah memberikan anaknya makanan dari luar (makanan dari luar  sama sekali tidak boleh diberikan ) karena makanan selama dirawat harus dari rumah sakit karena diolahnya secara steril dan air minum yang diberikan saja harus dimasak terlebih dahulu tidak boleh langsung diminum seperti air mineral. Air mineral yang diberikan kepada anak saya juga tetap harus dimasak terlebih dahulu. Saya katakan kepada dokter bahwa saya sangat sayang sekali sama anak saya,  saya tidak akan berani  memberikan makanan dari luar kepada anak saya karena saya ingin anak saya sembuh dari penyakitnya. Melihat anak saya seperti ini saja saya sedih sekali, hati saya hancur kasihan masih kecil harus mengalami sakit seperti ini. Tapi singkat cerita dokter kurang percaya dengan penjelasan saya. Di akhir pembicaraan dengan dokter, saya meyakinkan dokter lagi bahwa saya tidak memberikan makanan dari luar, jangankan memberikan, mencicipi saja tidak sama sekali,  tetapi apa mau dikata, dokter sepertinya tetap tidak percaya dengan penjelasan saya. Dokter bilang, Ibu dan saya harus ada kerja sama agar proses pengobatan anak ibu berjalan baik.” Lalu saya bilang, “Iya Dok” (saya tahu tujuan dan maksud dokter baik).  

Ketika saya kembali ke kamar, saya menceritakan semua percakapan saya dengan dokter kepada Josephine.  Reaksi Josephine  sangat mengagetkan saya.  Saya pikir, pasti Josephine  akan membela saya mamanya. Josephine bilang kepada saya, “Mama, Mama itu tidak boleh marah, justru Mama harus bersyukur sama Tuhan,  coba Mama pikir biasanya kalau Evine pup (di pispot), Mama pasti langsung membuang pup itu ke kamar mandi, tetapi kenapa waktu itu Mama melihat pup Evine yang ternyata ada cacingnya sehingga mama memanggil suster dan suster membawa sample pupnya ke lab sehingga akhirnya Evine dikasih obat cacing untuk mengeluarkan barangkali masih ada cacing-cacing lain yang masih tertinggal di dalam tubuh Evine. Jadi apapun yang tidak baik dalam tubuh Evine Tuhan keluarkan.  Jadi mama nggak usah marah-marah walaupun dokter tidak percaya apa yang mama katakan kepadanya, yang penting Tuhan tahu mama selalu melakukan yang terbaik buat Evine.” 
Josephine juga pernah mengalami panas badan yang sangat tinggi sampai mencapai panas badan 40,5 derajat celcius di sertai menggigil seluruh badannya selama kurang lebih satu minggu.  Kejadian ini membuat saya takut sekali apalagi kalau disertai dengan pusing kepala, karena bisa menyebabkan pecah pembuluh darah/pendarahan di otak akibatnya bisa koma. Di tengah kondisi seperti ini, Josephine tetap menguatkan saya, bahwa saya tidak perlu takut karena Tuhan pasti akan menyembuhkan panas badan Josephine. Terus terang,  saya sedih dan takut sekali ketika Josephine mengalami panas badan yang tinggi, saya terus berkali-kali menanyakan :

Mama: “Vine, kepalamu pusing nggak, sayang?”
Josephine : “Tidak, Ma, kepala Evine nggak pusing.”
Mama: "Puji Tuhan!”

Tidak terasa air mata menetes, saya tidak berhasil menahan kesedihan  saya  depan Josephine karena saya nggak tahan melihat kondisinya apalagi kalau Josephine menggigil, menggigilnya itu bisa 1 jam dirasakan Josephine.  Ketika dia melihat saya menangis, Josephine berkata,
Josephine :  “Mama, kenapa Mama kok nangis?”
Mama: “Tidak apa-apa, sayang.”
Josephine: “Mama, Mama jangan nangis, Evine tidak  apa-apa kok, Ma.”
Mama: “Ok, sayang.”
Josephine : “Mama harus janji jangan nangis lagi ya Ma, karena  Evine pasti akan sedih  kalau lihat mama menangis. Evine nggak tega liat mama sedih.”
Mama: “Ok, sayang.”
Josephine : ”Mama harus percaya bahwa Evine sudah merasakan Mukjizat Tuhan setiap hari, jadi mama tidak usah sedih dan takut. Tuhan pasti akan sembuhkan Evine. Kalau mama nangis lagi Mama tunggu di luar aja, karena Evine nggak kuat kalau lihat mama nangis!”
Mama : “Ok, sayang.” (sambil menangis memeluk Josephine )

Ketika Josephine mengalami panas tinggi, saya benar-benar melihat Iman Josephine  sangat luar biasa kepada Tuhan.  Panas badan yang dialami Josephine sangat mengkhawatirkan  sampai mencapai 40,5 derajat celcius,  suster menyarankan  obat Panadol diminum interval 4 jam sekali. Jika panas badannya  tidak terlalu tinggi, minum Panadolnya interval jam 5/6 jam.  Setiap kali saya mau memberikan Panadol yang ke 2 (interval 4 jam sesuai anjuran suster), Josephine selalu bilang:

Josephine : “ Mama ini belum interval 6 jam, Mama.  Baru 4 jam.”
Mama : “Iya, Vine, panas badanmu tinggi sekali, jadi minum obatnya harus interval 4 jam supaya panas badannya cepat turun.”
Josephine : “Evine nggak mau, Ma!”
Mama: “Kenapa, Vine?”
Josephine: “Mama, yang menyembuhkan itu bukan obat, tapi Tuhan Yesus!”
Mama : “Ok, sayang, Mama tahu, tapi obat ini harus tetap diminum.”
Josephine : “Evine gak mau, Ma!”
Mama: “Jadi maksud Evine gimana?”
Josephine: “ Evine tetap minum obatnya interval 6 jam!”
 
Waktu itu saya tidak mau berdebat dengan Josephine karena saya kasihan melihat keadaannya. Saya hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan agar panas badan Josephine segera turun dan saya diberikan kekuatan Iman seperti Josephine. Satu jam kemudian saya menawarkan kembali kepada Josephine untuk minum panadol karena sudah interval 5 jam. Panas badan Josephine hanya turun sedikit  menjadi 38,5 derajat celcius. Ternyata jawaban yang Josephine berikan tetap sama.  Sampai akhirnya interval 6 jam Josephine baru mau minum obatnya.  Di sini saya melihat kuasa Tuhan bekerja sangat luar biasa dalam diri Josephine. Penyerahan diri total dengan segala keadaannya kepada Tuhan  itulah yang membuatnya kuat menghadapi apapun yang terjadi. Justru saya yang tidak kuat dan tidak siap kalau terjadi sesuatu terhadap Josephine.

Banyak hal yang dialami Josephine di rumah sakit, semuanya justru menguatkan saya dan keluarga.  Seharusnya secara logika, orang yang sehat harus menjadi berkat, memberikan kekuatan kepada yang sakit.  Tetapi ini malah sebaliknya, justru saya dan keluarga belajar Iman dan Penyerahan Diri total dengan segala keberadaannya dari seorang anak umur 14 tahun. Josephine  tidak pernah menunjukan sikap ketakutan akan terjadi hal-hal yang fatal terhadap penyakitnya tetapi justru Josephine tenang . Josephine tahu bersama Tuhan Josephine  sanggup melewati  dan menjalani semua proses pengobatan untuk kesembuhannya walaupun kesakitan harus dia hadapi.  SMS yang dikirim ke sahabatnya yang bernama Kimberly pun isinya hanyalah ucapan syukur kepada Tuhan yang selalu memberinya pertolongan dan kekuatan.

———————————
Saya dan papanya meminta maaf  kepada Josephine  karena ternyata dari hasil akhir pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit ketiga, dalam tubuh Josephine ditemukan kelainan kromosom. Josephine dinyatakan menderita penyakit leukemia dengan kelainan Philadelfia kromosom. Josephine bilang “Mama dan Papa tidak perlu minta maaf karena mama dan papa tidak bersalah.” Saya dan keluarga sangat bersyukur kepada Tuhan dipercayakan anak seperti Josephine yang mempunyai hati seperti hati Tuhan.
Josephine juga setiap hari selalu mendoakan teman-temannya yang dirawat dan menderita penyakit yang sama. Ketika Josephine mendengar cerita Velwin kesakitan  saat menerima transfusi darah, Josephine meminta saya segera ke kamar Velwin untuk memberi minyak urapan dan mendoakannya. Lalu saya pergi ke kamar Velwin dengan membawa  minyak  urapan.  Josephine mengatakan kepada ii-nya kalau dia ingin berdoa untuk Velwin. Ii-nya mencoba mendengarkan apa yang didoakan Josephine untuk Velwin. Doa Evine untuk Velwin: ”Tuhan Yesus yang baik, Tuhan lawatlah Velwin sekarang juga karena apa yang dirasakan Velwin, Evine pernah merasakannya. Tolong dia Tuhan Yesus, Amin.”
——————————————

Dari awal Josephine  masuk rumah sakit sampai menjalani semua proses pengobatan untuk kesembuhannya, kami sekeluarga bahkan Josephine pun selalu melekat, bersandar, mengandalkan, melibatkan dan mohon campur tangan Tuhan dalam segala sesuatunya. Mulai dari minum obat,  makanan, minuman, kemoterapi dan semua bentuk pengobatan yang Josephine terima, kami selalu mendoakan semuanya terlebih dahulu, mengurapinya dengan minyak urapan dan membuat tanda salib memohon agar Tuhan memberkati, menyucikan, menguduskan semua yang akan di terima oleh tubuh jasmani Josephine. Memohon perkenanan Tuhan, agar segala usaha dan upaya yang di lakukan untuk kesembuhan Josephine tidak sia-sia. Tanda salib yang saya buat,  kami sekeluarga meyakini dengan iman bahwa Tuhan Yesus telah mati di atas kayu salib dan oleh bilur-bilur-Nya Josephine menjadi sembuh.

Dukungan doa untuk kesembuhan Josephine  sangat luar biasa. Sehingga Josephine selalu kuat menghadapi semuanya dengan senyum dan ucapan syukur.  Setiap teman yang datang menengok Josephine hampir semuanya berkata  Josephine itu tidak seperti orang sakit, apalagi senyumnya membuat teman-temannya maupun dokter/suster di rumah sakit punya kesan dan kenangan sendiri tentang  Josephine.
Ketika Josephine dirawat di kamar ICU, beberapa jam sebelum dipanggil pulang ke Rumah Bapa, Josephine bilang kepada saya:

Josephine :  “Mama, itu apa? Evine silau”.  
Mama: “Silau, Vine?”
Josephine : “Iya Mama, Evine nya silau”
Mama: “Tidak ada apa-apa, sayang" (sambil  saya melihat ke seluruh ruang kamar ICU yg memang saya tidak melihat apa-apa).
Josephine : “Tapi Evine nya silau sekali, Ma”
Mama : “ Silau sekali, Vine?”
Josephine : “ Iya Ma, Evine nya silau sekali.”

Itulah yang Josephine ceritakan kepada saya sebelum Josephine pulang ke rumah Allah Bapa.  Di kamar ICU, saya meminta Josephine mengikuti doa saya “Tuhan Yesus, minta Mujizat Tuhan“.  Setelah Josephine mengikuti doa saya (walaupun agak susah untuk Josephine lakukan, tetapi Puji Tuhan, Josephine mampu melakukannya sambil bersuara) tidak lama setelah Josephine selesai mengucapkan kalimat Doa tersebut, saya melihat Josephine seperti orang mau tidur. Tidak lama kemudian justru Josephine pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya.  Kami sekeluarga kaget sekali, benar-benar tidak menyangka kalau Josephine  akan pergi meninggalkan kami semua secepat itu, karena dokter yang menangani Josephine  mengatakan bahwa 95% Josephine pasti sembuh.  Tetapi rencana dan kehendak Tuhan tidak ada yang tahu, hidup dan mati seseorang merupakan rahasia Tuhan dan tidak ada seorangpun yang mampu untuk menghindarinya karena semua orang pada akhirnya akan diperhadapkan kepada yang namanya kematian. Tuhan punya kehendak dan otoritas.

Josephine akhirnya pulang ke rumah Allah Bapa di Sorga pada tanggal 19 Agustus 2011 pk. 23. 10 WIB dengan wajah tersenyum. Sungguh sangat berat untuk kami dapat menerima kenyataan ini. Kami sekeluarga tidak menyangka kalau Josephine akan pergi secepat itu meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya.  Hanya senyum bahagia yang Josephine tinggalkan untuk kami, senyum Kemenangan Iman.  Kami sekeluarga meyakini dengan Iman bahwa Josephine telah melihat Sinar Kemuliaan Tuhan.  Di kamar ICU pun masih terdengar lagu Mukjizat Itu Nyata melalui Ipod yang memang  selalu saya putar lagu-lagu rohani nonstop tidak pernah berhenti  sejak Josephine di rawat di kamar perawatan biasa sampai Josephine masuk kamar ICU (kurang lebih 26 jam di ICU).  Kami sekeluarga dan Josephine  menyakini  dengan Iman bahwa di dalam lagu rohani yang selalu di dengarnya setiap hari ada Kuasa Allah di dalamnya yang  mampu membuat hati Josephine tersentuh dan menangis. Lagu Mukjizat Itu Nyata adalah lagu yang mengantarkan Josephine pulang ke rumah Bapa di Surga.  Bagi kami, memenangkan Iman di dalam penderitaan adalah Mukjizat.

Mukjizat kesembuhan  tidak Josephine terima, justru sebaliknya apa yang tidak pernah terlintas dipikiran, apalagi dipikirkan oleh kami keluarga dan juga Josephine itulah yang akan Tuhan  Anugerahkan, yaitu Mahkota Kemuliaan.  Air mata yang selalu membasahi pipi Josephine dalam memperjuangkan imannya kepada Tuhan  melalui  penyakit  leukemia yang harus di hadapinya tidak sia-sia karena air mata perjuangan Iman telah Tuhan ubah menjadi Tinta emas yang  dipergunakan untuk menulis namanya  “JOSEPHINE KATHERINE”  di Buku Kehidupan kekal-Nya, karena Josephine dapat mempertahankan Iman Percayanya kepada Tuhan sampai garis akhir yaitu dia tetap Percaya, Taat dan Setia kepada-Nya.

Itulah kisah pergumulan kehidupan Josephine bersama Tuhan dalam melawan penyakitnya. Waktu 3 bulan (21 Mei-19 Agustus 2011) adalah waktu yang sangat ajaib, Tuhan memproses dan membentuk Josephine melalui penyakit leukemia dengan kelainan Philadelfia kromosom yang memang Tuhan ijinkan Josephine mengalaminya. Josephine berhasil menjadi pemenang dan menjadi pribadi yang berkenan kepada-Nya.
Kami  sekeluarga mengucap syukur kepada Tuhan walaupun kami harus kehilangan malaikat kecil kami, tetapi kami bersyukur dan bangga karena Roh Kudus telah memenangkan iman yang ada di dalam hidup Josephine.

Hidup adalah belajar. Belajar tegar dari kehilangan, belajar selalu bersyukur meski keadaan tidak seperti yang di harapkan, belajar menerima dan menikmati semua yang terjadi di dalam kehidupan ini dengan hikmat dan kesabaran  dari Tuhan. Belajar bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi karena semua rancanganNya indah bagi kami sekeluarga khususnya bagi Josephine. Tuhan Maha Tahu, segala sesuatu yang sudah, sedang dan belum terjadi, Dia tahu apa yang  paling terbaik buat kehidupan Josephine. Josephine pun tahu bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang paling terbaik karena KASIH-NYA yang sangat luar biasa.  Seperti lagu Favorite Josephine yang berjudul “Tetap Setia” yang selalu dia nyanyikan selama dirawat di rumah sakit sampai Josephine dipanggil pulang.  Setiap Josephine menyanyikan lagu ini, air mata selalu membasahi pipinya. Lagu ini benar-benar mempunyai arti yang dalam sekali buat Josephine.  Josephine ingin menjadi pribadi yang Tetap Setia sampai akhir dengan keadaan yang dialami sekarang. Josephine ingin Tuhan sendiri yang melihat dan menyelidiki hatinya apakah dia sudah sungguh-sungguh mengasihi Yesus dengan seluruh hidupnya karena di mata Tuhan tidak ada yang tersembunyi.  Karena ketika Josephine harus berjuang sampai akhir, Josephine mau didapati oleh Tuhan menjadi pribadi yang Berkenan dan Tetap Percaya, Taat dan Setia kepada-Nya.

Hari ini tanggal 21 Pebruari 2012 adalah hari ulang tahun Malaikat kecil kami yang ke 15. Kami sambut pagi ini dengan air mata ucapan syukur kepada Tuhan yang KASIH-NYA sungguh luar biasa buat Josephine, walaupun Josephine sudah tidak bersama kami lagi.

Sayangku, Josephine,
Mama, Papa, Koko dan Ii sangat-sangat kehilanganmu.
“Selamat Ulang Tahun Sayangku,
LOVE YOU …….LOVE YOU"


Semua tinggal kenangan manis yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Kenangan indah bersama Josephine selama 14 tahun adalah hadiah Anugerah yang terindah dari Tuhan. Walaupun Kami harus menghadapinya dengan air mata tetapi kami tetap bersyukur karena air mata yang setiap kali keluar bukan lagi air mata kehilangan/kedukaan melainkan air mata ucapan syukur dan kemenangan karena ketika Tuhan memanggil Josephine untuk pulang kembali  ke rumah Allah Bapa di Sorga. Roh Kudus  telah memampukan suami dan saya menjadi orangtua yang dapat menghantarkan kembali Josephine ke pangkuan Allah Bapa dan menjadi pewaris Kerajaan Sorga dengan bertanggung jawab.
Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, atas semua yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam kehidupan kami dan kami  sekeluarga harus menerima, mengalami dan menjalaninya.  Tetapi kami bersyukur Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sendiri.  Sampai sekarang Tuhan senantiasa menata hati setiap kami, sehingga sekarang kami  melihat kematian bukan suatu kehilangan tetapi suatu kemenangan dan Mukjizat  yang mendatangkan kemuliaan bagi Nama Tuhan. Roh Kudus memampukan kami melihat Mukjizat dari cara pandang yang berbeda, selama ini kebanyakan orang melihat bahwa Mukjizat itu adalah Kesembuhan. Kami sangat bersyukur kepada semua pribadi yang mengalami Mukjizat Kesembuhan, jangan sia-siakan hidupmu karena Tuhan telah memberikan kesempatan kedua dalam kehidupmu, pakailah seluruh hidupmu untuk Kemuliaan nama-Nya.

Josephine sudah jadi pemenang, itu Mukjizat buat kami. Dia sudah menjadi tunangan dan mempelai Allah. Kematian di dalam Kristus adalah kelahiran baru di kekekalan bersama Bapa di Sorga,  karena di balik Kematian ada Anugerah dan Berkat Tuhan yang luar biasa yang sudah Tuhan sediakan bagi anak-anak-Nya yang menang dalam mempertahankan IMAN kepada-Nya.

Josephine,  kita semua sangat bangga dengan Imanmu, kau tetap percaya, taat dan setia sampai garis akhir. Roh yang ada di dalam hidupmu dimampukan oleh Roh Allah untuk memenangkan anugerah dan imanmu kepada Tuhan, sehingga kau dapat memperoleh mahkota kemuliaan-Nya.  Josephine adalah Anugerah Tuhan yang paling berharga dan sangat berarti. Kami mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memproses dan membentuk iman Josephine dengan perjuangan dan air mata melalui penyakit leukemia yang dideritanya selama 3 bulan. Belajar  hidup untuk selalu melekat, bersandar dan mengandalkan Tuhan di dalam setiap kehidupan kita. Tuhan akan memberikan yang paling terbaik menurut  rencana dan kehendak-Nya.

Terima kasih Tuhan, Engkau tidak mengharapkan kami  untuk mengetahui semua jawaban yang benar/mengerti semua hal yang terjadi dan yang kami alami. Engkau hanya menginginkan kami untuk percaya penuh kepada-Mu.   Saat kami berpegang pada tangan-Mu yang kokoh, kami merasa tenang. Tuhan tidak pernah berubah, selalu berjalan di depan kami dan meluruskan jalan bagi kami. Lekatkan hati kami untuk selalu melekat dengan hatiMu dan ajar kami Tuhan untuk selalu menyukakan hati-Mu.
Kebahagiaan memang menawan, tetapi hanya memberi sedikit pelajaran. Kesedihan memang menakutkan tetapi banyak manusia yang bercahaya hidupnya karena berhasil melewati gunung kesedihan dalam memperjuangkan  Imannya kepada Tuhan

Kami sekeluarga berharap agar apa yang kami alami dan rasakan menjadi berkat bagi setiap pribadi yang membacanya, sehingga pengalaman kebenaran hidup yang kami alami ini mendatangkan kemuliaan bagi nama TUHAN.
 
Mukjizat  bukan  melulu  kesembuhan.
Mukjizat  adalah  apa  yang  terbaik  menurut  Rencana  dan  Kehendak  Bapa
Mukjizat  adalah   Kerja sama  kedua  belah  pihak  (Roh  yang  ada  di  dalam  diri  kita  dengan Roh  Allah).
Pengalaman  Kebenaran  adalah  pelajaran  hidup  yang  paling  berharga  dan tidak  dapat  di nilai  oleh  apapun  karena  ada  harga   mahal  yang  harus  di  bayar  dan  itu  tidaklah  mudah  untuk  menerima  dan  melewatinya.
Jangan  sia – siakan  pengalaman  Kebenaran  yang  dari  Tuhan.  Jadikan  itu  berkat  buat  setiap  pribadi  yang  mau  mendengar  dan  belajar dari  apa  yang  kami  alami  dan  rasakan.
Percaya, Taat  dan  Setia  kepada  Tuhan,  belajar  hidup  untuk  selalu  melekat,  bersandar  dan  mengandalkan  Tuhan  di  dalam  setiap  kehidupan  kita, Dia  akan  memberikan  yang  terbaik  menurut  Kehendak  dan  Rencana-Nya.
Apa  yang  tidak  pernak  terlintas  di pikiran  kita, apalagi  kita  pikirkan  justru itulah  yang  akan  Tuhan  anugrahkan  kepada  kita.
Pengalaman  hidup  adalah  kebenaran  yang  terukir  di  loh  hati  dan  tak  akan  pernah  hilang  di  dalam  kehidupan  kami.
Aku telah lama berjuang dengan gigih bagi Tuhan dan sepanjang perjuangan itu aku tetap setia  Kepada-Nya,  Sekarang tiba waktunya bagiku untuk berhenti berjuang dan beristirahat,  di Sorga telah disediakan Mahkota Kebenaran yang akan diberikan kepadaku oleh Tuhan."                                                                                 2 Timotius 4:7-8
“…….. Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran, Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya."                                                                                                                                                                                        Pengkotbah 7:1, 8a
Jesus  Bless You.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com dari sumber : http://2jkl.wordpress.com/

Note:
Terima kasih untuk pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Nico di Sidoardjo yang dikirimkan untuk kerabatnya di Sragen. Semoga hari ini, Rabu 21 Maret 2012, buku sudah diterima dengan baik.

Tuesday, February 28, 2012

Dihibur untuk Memberi Penghiburan

Pada tahun 2009 yang lalu keluarga Pdt. Hengky So mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Anaknya dioperasi usus buntu. Operasi yang dipandang operasi kecil itu ternyata tidak selesai dalam dua hari, tetapi selepas operasi diketahui ada nanah pada bekas luka operasi. Disedot, nanah itu berhasil dikumpulkan sebanyak secangkir kecil. Wah, ada apa ini? Kemudian esok harinya disedot lagi, dokter mendapat satu cangkir kecil lagi. Oleh karena penyelidikan lebih lanjut mendapati peradangan pada bekas operasi, maka dokter memutuskan untuk melakukan pembedahan lagi, sehingga sang anak diopname selama sekitar 10 hari.

Beberapa waktu setelah itu isteri pendeta juga harus dirawat di RS, dan menyusul kemudian pak Pendeta juga dirawat di RS yang berbeda. Ini adalah pengalaman berat bagi mereka. Namun pak Pendeta Hengky So tahu bahwa jika mereka dikuatkan Tuhan melewati masa yang tidak enak tersebut, maka mereka dapat memberikan penghiburan pada orang lain.

Benar saja. Beberapa waktu kemudian, ada satu keluarga jemaat yang mengalami tiga orang anggota keluarga: suami, istri, dan anaknya harus dirawat di RS pada waktu yang bersamaan. Anggota jemaat ini bertanya kepada Tuhan: "Mengapa, Tuhan? Apakah Engkau tidak mengasihi kami?" Iman anggota jemaat ini hampir kandas, karena seolah-olah Tuhan tidak peduli. Namun ketika pak Pdt. Hengky So menceritakan apa yang dialami keluarganya: pada waktu hampir yang bersamaan keluarga pendeta juga dirawat di RS, maka keluarga anggota jemaat juga dapat dihiburkan. Tuhan tidak tinggal diam. Apa yang kita alami adalah untuk meningkatkan iman kita agar kita bergantung lebih lagi kepada Tuhan, juga agar penghiburan yang kita terima dari Tuhan dapat digunakan untuk memberikan penghiburan kepada orang lain yang mengalami hal yang sama.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 16, 2011

Remember Me This Way

"REMEMBER ME THIS WAY" (Ochie Manik)

14 Januari 2011 saya memposting artikel berjudul "Remember Me This Way". Benar-benar tidak terpikir kalau 10 bulan kemudian saya akan menulis artikel dengan judul yang sama. Kalau artikel di bulan Januari hanyalah sebuah perenungan, maka judul yang sama di bulan Oktober ini adalah sebuah true story.

Q: How would you like to be remembered?

A: You choose.

Pilihan bukan di tangan orang yang akan mengingat kita.
Sebaliknya, bagaimana kita ingin diingat orang lain?
Seperti apa kita ingin dikenang oleh orang-orang yang dekat dengan kita, sahabat-sahabat kita, atau orang yang pernah berinteraksi dengan kita ?
Pilihan ada di tangan kita.. Pilihan ada di tangan Anda.

WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE

Terlahir 31 Maret 1997 dengan nama Yosephine Priskila Taruli Manik, dan memiliki panggilan sayang Ochie, sebagai putri pertama dari dua bersaudara. Membaca nama keluarga Manik di belakang namanya, mungkin teman-teman berpikir apakah memiliki hubungan keluarga dengan saya. Ya....benar sekali, Ochie adalah keponakan kandung saya.Putri sulung dari abang saya. Semua mengenalnya sebagai anak yang cantik, baik hati, sopan, suka tersenyum, suka menolong teman dan sangat suka belajar.
Saya ingat semasa balita, orang-orang senang mencubit pipinya karena sangat cantik dan menggemaskan.

Desember 2010, saya mendapat kabar kalau Ochie demam tinggi, dan ketika dibawa ke RS, hasil pemeriksaan menyatakan mengidap penyakit LEUKEMIA. KANKER DARAH. Seperti petir di siang bolong. Begitu tiba-tiba. Ochie menjalani perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit khusus kanker di Subang, Malaysia. Dan dipastikan, ya... memang Ochie menderita penyakit Leukemia. Perkiraan dokter waktu itu hanya butuh beberapa bulan saja untuk menangani penyakit tsb.

Bulan demi bulan dilalui, ternyata penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. tidak seperti perkiraaan dokter semula. Leukemia yang diderita Ochie sangat agresif sekali.

Meskipun begitu, anak yang suka tersenyum ini, benar-benar menunjukkan perjuangannya melawan penyakit yang sangat ganas ini. Berkali-kali menjalani kemoterapi, hingga semua rambut rontok, dan berbagai tindakan medis lainnya, yang sangat menyakiti tubuh anak belasan tahun ini, tidak mampu melumpuhkan semangat hidupnya.
Ada 1 jenis obat yang bila diminum akan membuat Ochie kesakitan dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak pernah ia menolak atau enggan untuk mengkonsumsi obat tsb. Semangat hidupnya tergambar jelas dalam salah satu status di twitternya, Ochie menulis :

"I HAVE CANCER, I HATE CANCER, AND I'M KILLING CANCER"

Semua keluarga yang menyaksikan perjuangannya setuju bahwa Ochie tidak mau diintimidasi oleh penyakitnya. Tidak sekalipun kelihatan anak kecil ini mengeluh. Setiap orang yang membesuknya selalu melihat senyuman menghiasi wajah Ochie.
Padahal semua orang tahu bagaimana rasa sakit yang dideritanya.

Banyak pasien lain yang mengalami derita seperti Ochie, mulai patah semangat, murung, dan tidak mau makan. Ochie sebaliknya, selalu tersenyum.

Apapun yang disediakan dia makan dengan lahap (kita bisa terkecoh, dan menyangka makanan yang dimakannya sangat lezat). Tidak heran, badannya bukan semakin kurus, malah lebih gemuk dan segar daripada sebelum didiagnosa Leukemia.
Suatu ketika, melihat Ochie yang makan dengan sangat lahap, mamanya ingin mencicipi makanannya tersebut, dan akhirnya menyadari ternyata makanan itu sangat plain, tidak seperti yang dibayangkan. Sang mama menangis dalam hati menyadari betapa putrinya ini sangat berjuang melawan Leukemia.

"MAMA, RUMAH BARUKU SUDAH SELESAI...."

Setelah 10 bulan berjuang, akhirnya Ochie menghembuskan nafas terakhir, 4 Oktober 2011 di tengah keluarga yang mengasihinya. Ia sempat berpesan kepada adiknya Catherine supaya menjaga kesehatannya, Ochie sempat memeluk erat papanya, dan ia juga mengucapkan terima kasih kepada mama yang tidak pernah lelah menemani dan merawatnya selama sakit.

Banyak orang yang mengenalnya menangis dan bertanya "WHY GOD?"

Selama 10 bulan semua keluarga tahu bagaimana Ochie dan seluruh keluarga berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan. Papanya meninggalkan pekerjaannya selama 10 bulan untuk bisa mendampingi Ochie, sang mama juga selalu ada di sampingnya, merawat Ochie sambil tekun berdoa memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhan anak terkasih. Setiap pagi dan malam di RS mereka membaca firman Tuhan, memuji, menyembah dan berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan. Keluarga ini masuk dalam keintiman yang sangat dalam kepada Tuhan, yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Mulai dari dokter, suster, bahkan janitor di RS negeri tetangga ini pun mengasihi anak kecil yang tabah, dan suka tersenyum ini.

Ochie menjadi pasien favorit di RS. Ada keluarga pasien lain yang sama-sama menderita Leukemia, berwarganegara Malaysia, juga sangat mengasihi Ochie. Sering membeli keperluan-keperluan Ochie, membawakan makanan untuk Ochie.
Semua orang yang mengenalnya di sana mengasihinya..

Muncul pertanyaan: kalau manusia saja sangat mengasihi Ochie, masakan Tuhan tidak menunjukkan belas kasihnya dengan menyembuhkan Ochie?
Mengapa Tuhan? Bukankah Ochie anak yang baik? Bukankah ia meminta dengan sangat supaya Engkau menyembuhkannya? Ohhh Tuhan, .... bagaimana mungkin anak yang Kau beri otak yang pintar (angka-angka yang menghiasi raportnya rata-rata angka 9) tidak Engkau beri kesempatan berkarya bagi Tuhan lebih lagi? Ohhh Tuhan,,,,,,, Air mata membanjiri hati keluarga, dan teman-teman yang mengasihi Ochie.

Saya sebagai tantenya juga sangat berduka. Semalam sebelum kepergiannya, saya menangis berdoa di hadapan Tuhan, dengan berpegang kepada satu ayat firman Tuhan saya berdoa "Tuhan, jangan ambil Ochie di pertengahan umurnya. Ijinkan dia menggenapi seluruh rencana-Mu dalam hidupnya."

Ditengah-tengah galaunya pikiran yang dipenuhi pertanyaan "kenapa ?", satu kesaksian yang membuat hati saya bisa berkata "God makes sense" (sekalipun belum mengerti) adalah ketika kemudian mendengar bahwa dua hari sebelum pulang ke rumah Bapa, Ochie berkata kepada mamanya,

"Mama, .... rumah baruku sudah selesai."

Yesus sudah menyediakan rumah baru untuk Ochie, sehingga Ochie harus pulang. Pertandingannya sudah selesai. Ochie sudah sampai garis FINISH.

"REMEMBER ME THIS WAY"

Selama berada di rumah duka, saya melihat banyak sekali orang-orang yang mengasihi Ochie. Berbagai kalangan berusaha menunjukkan simpati. Teman-teman sekolah yang sudah 10 bulan tidak ditemuinya, menyempatkan diri datang ke rumah duka mengucapkan perpisahan terakhir kali. Bahkan mereka menulis lagu perpisahan dan menyanyikannya untuk Ochie. Mereka juga minta ijin kepada pihak sekolah agar diberi kesempatan mengantarkan Ochie ke tempat peristirahatan terakhir. Tidak hanya berseragam putih-biru selayaknya siswa SMP, bahkan banyak yang berseragam putih-abu-abu, siswa SMA. Panas terik cuaca saat itu tidak mengurungkan niat mereka untuk ikut sampai ke tempat Ochie akan dikebumikan.

Guru yang pernah mengajarnya ketika masih TK juga datang ke rumah duka. Kalau bukan karena Ochie anak yang menyenangkan, tidak mungkin guru yang mengajarnya 10 tahun yang lalu masih ingat kepadanya. Orangtua teman-temannya juga menyempatkan diri untuk menyampaikan kesaksian mereka tentang Ochie. Melihat banyaknya teman dan saudara yang mengasihinya, kita mungkin cenderung akan mengingat Ochie sebagai anak yang baik, supel, pintar bergaul, sehingga dikasihi semua.

Apakah seperti itu Ochie ingin diingat?

Sebagai seseorang yang baik dan menyenangkan ?

SHE LEFT HER FOOTPRINTS : HER DIARY

Sampai saya melihat sebuah diary, yang selama Ochie sakit dipenuhi dengan tulisan-tulisan tangannya. Sebelum membuka halaman demi halaman yang ada di dalam diary itu, apa yang ada dalam benak Anda?

Pastilah isi dari diary itu kira-kira seperti ini:
Dear Diary..... hari ini aku merasakan sakit yang luar biasa, .... aku sudah nggak kuat lagi ... Dear Diary ......kenapa ya Tuhan mengijinkan aku mengalami sakit ini?
Dear Diary... kok aku nggak sembuh-sembuh ? Tuhan kenapa nggak tolong Ochie? Apa Tuhan nggak sayang sama Ochie?

TERNYATA ...............

Yang saya temukan dalam halaman demi halaman, adalah tulisan tangan yang sangat rapi. Semua diberi garis tepi. Dan semua tulisan itu adalah alamat ayat Alkitab berikut isinya, yang selama 10 bulan Ochie berjuang telah memberi kekuatan, pengharapan, dan pengucapan syukur.

Kapan Ochie menuliskan ayat-ayat di dalam Diary ini ?
Apakah ketika ia sedang dalam kondisi agak fit? Yang sangat jarang terjadi?
Papanya bersaksi, bukan hanya ketika kondisinya baik, bahkan ketika merasa sakit pun Ochie tetap menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan imannya.

Di antara ayat-ayat tersebut ada yang diberi kotak merah :

"Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada."

Saat membalik lembar demi lembar diary ini, saya bisa merasakan pergumulannya, pengharapannya, bisa merasakan kasihnya, bisa merasakan kebergantungan Ochie kepada Tuhan.

Karena Ochie tetap menulis bahkan ketika ia sedang di tengah rasa sakit yang hebat, saya bisa merasakan sukacitanya sekalipun doanya belum dijawab. Saya bisa merasakan pengucapan syukurnya, sekalipun Ochie tidak melihat adanya fakta untuk mengucap syukur.

Rasa penasaran saya membuat saya terus membuka halaman demi halaman sampai tulisan tangannya yang terakhir. Saya menghitung.

Semuanya ada 101 halaman yang berisi tulisan tangannya.
Total ada 599 ayat dari Alkitab yang ditulisnya ulang di diary ini.

WHAT WOULD YOU DO WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE ?

Kebanyakan orang akan complain. Mengeluh. Bersungut-sungut. Atau marah kepada Tuhan. Itu yang dilakukan jutaan bangsa Israel ketika berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

FOOTPRINTS mereka adalah COMPLAINING.

Banyak kejadian dimana kelihatannya tindakan Tuhan tidak masuk akal.
Kenapa harus berputar kembali dan terpojok di tepi Laut Teberau menghadapi serbuan tentara Mesir? Kenapa hanya ada manna?
Kenapa harus menghadapi kehausan dan kekurangan air di padang gurun?
Kenapa Musa yang diangkat menjadi pemimpin?

Saya menemukan kata 'COMPLAIN' di perjalanan bangsa Israel tersebut lebih banyak dari pada kata 'PRAISE' atau ucapan syukur.

Apa yang dialami Ochie, bagi kami keluarganya, bagi teman-teman yang mengasihinya, sepertinya tidak masuk akal.
Tapi kalau teman-teman membaca diary Ochie, teman-teman akan melihat sosok seorang anak yang berusaha tetap mengucap syukur sekalipun dia tidak mengerti kenapa semuanya Tuhan ijinkan terjadi.

599 ayat Alkitab yang ditulisnya menggambarkan isi hati Ochie yang mungkin tidak pernah diungkapkannya kepada orang lain. Tapi diungkapkannya di hadapan Tuhan, Penciptanya.

STOP COMPLAINING. START PRAISING.

Beberapa hari setelah Ochie dikebumikan, papanya menemukan di Ipod Ochie, chatting Ochie dengan seorang temannya di Direct Message twitter.
Percakapan dengan adik kelas yang menderita kanker otak dan sama seperti Ochie harus menjalani kemoterapi dan mengalami rasa sakit yang mungkin hampir mirip dengan Ochie.
Sang adik kelas mengeluhkan tentang rasa sakit tersebut, merasa putus asa atas siksaan yang tak kunjung reda.
Apa yang Ochie tuliskan di situ?

Ochie menghibur adik kelasnya, mengatakan: "Jangan percaya perkataan vonis dokter .... Tuhan Yesus lebih berkuasa. Tuhan Yesus itu baik....."
Dan ketika papa Ochie melihat tanggal postingan chatting-chatting tersebut, air mata menetes. Itu adalah tanggal-tanggal dimana puterinya sedang merasa kesakitan,
itu adalah hari-hari dimana Ochie belum melihat tangan Tuhan menolong....
tapi Ochie menghibur temannya seolah-olah dia sudah mengalami jawaban, Ochie menguatkan sahabatnya seolah-olah dia sendiri sudah mengalami kesembuhan.

Ketika dokter di Singapore berkata 'bone marrow' (sumsum tulang) Ochie sudah rusak, Ochie menyatakan imannya di status twitternya:

"Kata dokter, bone marrowku rusak, tapi kata Tuhan Yesus 'Tidak'."

Bahkan ketika ujung dari perjuangannya, ... akhir dari imannya bukanlah kesembuhan, Ochie tidak complain, tapi mengucap syukur dalam segala keadaan. Dia percayakan hidupnya kepada Pencipta-Nya.

Apa yang akan kita lakukan saat apa yang Tuhan ijinkan tidak masuk akal?

Stop complaining. Start praising.

GOD HAS REASONS WE CANNOT SEE.

Karena Tuhan berjanji bagi semua umat-Nya, Dia tidak pernah merancangkan kecelakaan meskipun apa yang kita lihat sepertinya kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera yang membawa kita kepada hari depan yang penuh harapan.

KEEP REJOICING. KEEP PRAYING. KEEP THANKING GOD.

Ochie hanya 14 tahun hadir di dunia ini. Kehadirannya yang singkat mengajarkan saya banyak hal. Untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu baik, ... apapun kenyataan di hadapan kita.

Apa yang saya baca dari diary tersebut membuat saya mengerti seperti apa Ochie ingin dikenang. Bukan semata sebagai anak dan kakak yang penurut dan baik, bukan hanya sebagai teman yang setia, bukan hanya sebagai murid yang pintar dan rajin, tetapi lebih dari pada itu semua, .......

Remember me this way....

As a little girl who always rejoicing,
always pray without ceasing,
and always give thanks to God in everything...

(Ochie Manik)

P.S. Tulisan ini didedikasikan untuk:
Andrika G.Manik, Ellys Silalahi, dan Catherine Manik.

Air mata belum lagi kering, tapi berbahagialah karena kalian adalah orangtua yang diberkati memiliki puteri seperti Ochie, dan adik yang harus bangga memiliki kakak yang teguh imannya seperti kak Ochie. Apa yang diperbuat Ochie dalam waktu yang singkat, telah memberkati banyak orang untuk tidak menyerah dan tetap menaruh percaya dan harap kepada Tuhan Yesus yang baik. Sambil tetap menugucap syukur kepada-Nya dalam segala keadaan.

All blessings,

Julita Manik

Sumber: http://julitamanik.blogspot.com/2011/10/remember-me-this-way-ochie-manik.html?m=1

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 16, 2009

Difference

Seorang kenalan mulai malas beribadah ke gereja. Dia pikir, "Apa sih bedanya ke gereja? Saya sekarang sudah hidup enak, tidak kekurangan apa-apa, tidak ada masalah yang perlu dibantu para pendeta." Yah, ibadah ke gereja memang tidak kelihatan dampaknya sekarang. Orang yang rajin ke gereja dan yang tidak rajin ke gereja nampaknya sama, nampaknya... Namun akan kelihatan berbeda jika orang-orang menghadapi badai kehidupan. Orang yang kehidupan imannya dibangun di atas batu karang akan mampu bertahan, dan imannya tetap kokoh meskipun ia dilanda badai. Orang yang kehidupan imannya dibangun di atas pasir, sangat dangkal, akan roboh, terpuruk, menghadapi badai kehidupan.

Janganlah kita meninggalkan pertemuan ibadah, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang yang tidak menyadari betapa mereka sedang membangun imannya di atas pasir.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, May 13, 2009

Powerful and Powerless

Ada pesan bagus yang masuk ke HP saya hari ini, bunyinya:
"Waktu kita berpikir kita lemah, pada saat itulah kita sebenarnya sangat kuat dan bisa melangkah dengan iman kita. Waktu kita merasa kita kuat, pada waktu itulah kita sangat lemah karena kita sedah membuka celah kesombongan di hati kita sehingga kita melangkah dengan pikiran kita yang terbatas."

Firman Tuhan menegaskan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Kor. 12:9)

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, April 20, 2009

Confidence in Christ

Seorang pastor mengisahkan seorang ibu yang tegar menghadapi penyakit kanker payudara yang melandanya. Pastor ini bertanya, "Bagaimana bu, kondisi kesehatan Ibu?" "Baik-baik saja, Pak!" "Ada yang perlu kami bantu?" "Tidak usah, Pak. Penyakit ini pasti akan segera dibereskan Tuhan dan saya segera sembuh!" Sang pastor sangat bangga melihat jemaat yang mempunyai iman seperti itu. Ibu ini tidak kelihatan seperti orang yang menderita, tertekan oleh sakitnya, atau bahkan putus asa menghadapi masa depannya. Tidak. Ia tegar, ia penuh keyakinan bahwa kesembuhannya hanyalah masalah waktu.

Memang, di dalam Kristus, kita memiliki pengharapan dan keyakinan bahwa Ia turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Dalam kisah di atas yang tidak diketahui sang pastor adalah bahwa ibu itu menggali imannya dari berbagai sumber. Salah satunya ia belajar sekolah iman dari Rhema Bible Centre Indonesia. Pelajaran iman yang dipelopori Kenneth Hagin ini sangat membantu sang ibu untuk mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan anak-anak-Nya menderita dan menanggung sakit penyakit. Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan, Haleluyah!

*****

Note:
Jika penulisan blog ini agak terganggu pada minggu ini, mohon dimaklumi, karena dua orang anak-anak saya sedang terkena Demam Berdarah atau istilah kerennya DHF = Dengue High Fever. Mengurus dua orang anak yang sakit DBD dalam waktu yang bersamaan, sungguh merepotkan. Apalagi mereka sebenarnya sedang musim ujian/ulangan umum.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 2, 2009

Touching His Heart

Tadi malam sekitar jam 10 saya mendatangi apotik 24 jam untuk membeli salep anti nyeri "Feldene". Ketika berada di depan kasir, terdengar tangisan seorang perempuan, cukup keras suaranya. Pembeli lain bertanya, "Ada apa?" Seorang pelayan apotik berkata, "Teman saya kehilangan motor yang tadi diparkir di depan apotik." Pembeli lain itu berkata, "Ketika kita kehilangan motor, lapor polisi tidak ada gunanya. Laporan cuma diterima tanpa ditindak-lanjuti. Mendingan doa saja minta ganti motor yang baru."

Ya, tangisan tidak akan mengembalikan motor yang hilang. Tangisan tidak akan membuat pencuri motor itu iba dan mengembalikan motornya. Tangisan juga tidak membuat iba Tuhan. Namun tangisan dan doa akan menyentuh hati Tuhan.

Minggu pagi saya juga mendengar tentang orang-orang yang menyentuh hati Tuhan, luar biasa akibatnya. Yairus, seorang kepala rumah ibadat, menyentuh hati Tuhan ketika ia menanggalkan rasa jaim-nya dan menyembah Tuhan. Alkitab mencatat: Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." (Markus 5:22-23). Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat yang terpandang. Namun ia merendahkan diri di depan kaki Tuhan. Banyak orang berbondong-bondong mengikuti Tuhan Yesus pada waktu Ia ada di bumi, namun hanya beberapa orang seperti Yairus yang berhasil memikat hati Tuhan.

Ada lagi seorang wanita tanpa nama yang memikat hati Tuhan. Wanita ini sudah dua belas tahun mengalami pendarahan. Wanita yang menderita pendarahan pada zaman itu biasanya dipisahkan, tidak boleh membuat orang lain najis. Wanita ini sudah habis-habisan: habis uang dan habis badannya digerogoti pendarahan. Namun ia tidak kehabisan pengharapan. "Kalau dapat kujamah saja jubah-Nya, maka aku pasti sembuh." Meskipun Tuhan Yesus dikerubuti begitu banyak orang, wanita ini tanpa peduli hinaan dan cemoohon (karena wanita najis tak boleh berdekatan dengan orang-orang lain), dengan susah payah ia berusaha mendekati Tuhan Yesus. Meskipun ia harus merangkak dan merayap di bawah kaki orang banyak, tekadnya satu: menjamah jubah-Nya, maka aku akan sembuh. Iman dan upaya wanita pendarahan ini bekerja dengan baik dan mengeluarkan kuasa dari tubuh Tuhan Yesus, sehingga wanita ini disembuhkan.

Membuat Tuhan terpikat dan tersentuh oleh sikap kita, itu akan memicu terjadinya mukjizat. Coba deh!

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 10, 2008

The Faith of A Child

Awal November yang lalu anak kami, Gaby, melihat pada kakinya yang tampak seperti gigitan nyamuk. Besoknya bekas gigitan itu menjadi seperti bisul, sehingga ia mulai kesakitan, bahkan tidak bisa ke kamar mandi karena sakit. Pada hari Senin, Gaby ke sekolah seperti biasa, tapi karena tidak kuat menahan sakit, Gaby diijinkan gurunya untuk pulang lebih awal. Setelah di rumah, sakit Gaby semakin serius karena benjolan di sekitarnya mulai berwarna hitam. Saya mengajak Gaby untuk berdoa dan mulai memperkatakan Firman Tuhan. Saya dan Gaby menumpangkan tangan di atas benjolan berwarna hitam itu.

Berkali-kali saya mendengar Gaby berkata, "Aku cabut semua yang bukan dari Tuhan, dalam nama Yesus! Dan oleh bilur-bilur Tuhan Yesus Gaby sudah sembuh." Sore harinya Gaby meraung-raung kesakitan, tetapi ia tetap memperkatakan firman: "Oleh bilur-bilur Tuhan Yesus Gaby sudah sembuh!" Saya dan suami berencana membawanya ke dokter, tetapi Gaby justru menegur kami, karena kami meragukan kuasa Tuhan.

Malamnya ada pertemuan doa di rumah kami dan pada saat penyembahan, Gaby menahan sakit. Saat saya akan mengolesi dengan minyak urapan, saya melihat bekas gigitan serangga itu sudah seperti bisul yang mulai pecah. Saya menekan di bagian sekitar bisul, sehingga darah bercampur nanah yang mengental keluar. Saya menangis melihat kedahsyatan kuasa Tuhan, dan saya terharu karena anak kami memiliki iman yang luar biasa untuk memperkatakan iman menjadi mukjizat kesembuhan. (Indry - Guru seperti yang dimuat dalam AbbaNews 29-30 November 2008.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 24, 2008

The Faith of A Child

Beberapa tahun yang lalu, di antara banyak e-mails yang saya terima melalui sebuah milis kristiani di Indonesia, saya membaca sebuah ceritera fiksi yang sangat menggelitik hati mengenai iman seorang anak kecil bernama Rio. Saya tidak bisa melupakan isi ceriteranya yang dengan jitu sekali mengilustrasikan pernyataan Yesus kepada murid-murid-Nya di ketiga Injil itu mengenai iman seorang anak kecil, tetapi … dalam bentuk humor.

Kisah tersebut dimulai dengan hasrat Rio yang amat besar untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Tetapi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai keinginannya. Selain itu ibunya yang sedang sakit membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya.

Setelah mempertimbangkan cukup lama, dengan iman Rio memutuskan diri untuk menulis surat kepada Tuhan:

Kepada Yang Terhormat
Tuhan di Sorga

Tuhan, namaku Rio. Aku ingin meneruskan sekolahku, tetapi orang tuaku tidak mempunyai uang. Ibuku juga sakit, sehingga biaya keperluan rumah tangga kami menjadi semakin meningkat.

Tuhan, aku membutuhkan uang Rp 200.000 untuk membeli obat ibuku, Rp 200.000 untuk membayar uang sekolahku, Rp 100.000 untuk membayar seragamku, sedangkan Rp 100.000 untuk membayar harga buku-bukuku. Jadi jumlah uang yang aku butuhkan dari-Mu saat ini hanya Rp 600.000 saja.

Terima kasih, Tuhan. Aku akan menantikan uang kiriman-Mu dengan sabar.
Dari Rio


Rio segera pergi ke kantor pos untuk mengirimkan suratnya. Membaca alamat yang tertulis di sampulnya, petugas kantor pos merasa iba sekali, sehingga ia tidak tega untuk mengembalikan surat itu kepada Rio. Bingung menentukan apa yang harus ia lakukan, akhirnya petugas kantor pos tersebut menyerahkan suratnya ke kantor polisi di seberang jalan.

Membuka dan membaca isi surat tulisan Rio, komandan polisi pun menjadi terharu sekali. Ia menceritakannya kepada seluruh anak buahnya. Lalu bersama-sama mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan uang bagi Rio. Setelah dihitung, ternyata dana yang berhasil mereka kumpulkan hanya berjumlah Rp 540.000 saja.

Sang Komandan menyelipkan uang itu ke dalam sebuah amplop, dan menulis di sampulnya: “Untuk Rio, dari Tuhan di sorga”. Lalu ia memerintahkan bawahannya untuk mengantar dan menyerahkan bingkisan kecil tersebut secara pribadi kepada Rio.

Ketika menerima dan menghitung jumlah uang yang diterima olehnya, di samping merasa senang karena permintaannya telah dikabulkan oleh Tuhan, Rio merasa sangat tidak puas. Ia mengambil secarik kertas, lalu menulis surat lagi kepada Tuhan:

“Tuhan, lain kali kalau Engkau mengirimkan uang kepadaku, jangan lewat polisi dong. Karena uang kiriman-Mu sudah dipotong 10 persen oleh mereka. Rio”

RIO REALLY ROCKS! (Ditulis oleh John Adisubrata, November 2008, diterima dari Milis Sahabat Kristen.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, October 19, 2008

My Eyes Were Healed

Sejak berumur sekitar 7 tahun saya sudah menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan saya karena menurut pemeriksaan dokter ahli syaraf, ada sedikit kerusakan pada syaraf saya yang mempengaruhi penglihatan saya. Meskipun ukuran minus dan sylindris-nya tidak besar, tetapi saya sangat tergantung pada kacamata, terutama di sekolah saat menerima pelajaran dan ketika kuiliah.

Saya menggunakan kacamata hingga usia 30 tahun. Setelah itu dengan alasan pangkal hidung yang 'lelah' dan terkadang membuat saya sakit kepala, saya memutuskan untuk tidak memakai kacamata dan tidak menggunakanya lagi. Saya berdoa agar Tuhan sembuhkan penglihatan saya agar normal kembali sambil memegang janji firman TUHAN, "Oleh bilur-bilur-Nya saya disembuhkan". Satu tahun setelah saya melepas kacamata, penglihatan saya rasanya masih belum 100% sempurna, tapi saya tetap percaya bahwa kuasa kesembuhan-Nya akan saya alami.

Di tahun ketiga setelah dengan konsisten saya tidak menggunakan kacamata, Tuhan membuktikan kuasa-Nya yang ajaib. Pada suatu hari kepala saya sangat sakit sampai saya tidak kuat untuk pergi bekerja. Siang hari itu juga saya pergi berobat ke dokter ahli syaraf. Dan ia katakan untuk saya konsultasi ke dokter mata juga. Di sinilah Tuhan membuktikan lewat hasil pemeriksaan dokter mata lengkap dengan peralatannya. Dokter mata tersebut mengatakan bahwa mata saya baik sekali. Normal!

Saat itu juga saya sadar bahwa itu adalah salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa iman saya kepada kebenaran firman-Nya tidak pernah salah. (Adry, karyawati - dari Abbanews 30-31 Agustus 2008)

"Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka." (Amsal 4:20-22)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, October 16, 2008

Faith and Work

Ini adalah kisah yang saya dengar dari almarhum Pendeta Derek Prince. Pada suatu hari dia diminta mendoakan seseorang yang kaki kirinya lebih pendek 1,5 inch dari kaki kanannya akibat serangan sakit polio.

Pada waktu didoakan, di depan mata orang banyak, kaki kiri itu memanjang hingga sama dengan kaki kanan. Itulah mukjizat Tuhan! Namun yang mengherankan Derek Prince adalah ketika orang ini mengeluarkan dari dalam tasnya sepasang sepatu yang tinggi haknya sama. Selama ini ia memakai sepatu yang haknya tidak sama untuk mengganjal perbedaan tinggi kakinya. Rupanya sejak awal orang ini percaya bahwa suatu hari kakinya akan dipulihkan Tuhan dan akan sama tinggi, sehingga pada waktu itu ia mempersiapkan sepatu dengan hak yang sama tinggi. Ia bukan hanya berdoa untuk kesembuhan kakinya saja, tetapi ia juga bertindak mempersiapkan sepatu, apabila suatu saat kakinya dipulihkan tentu ia memerlukan sepatu normal. Itu adalah iman yang disertai dengan perbuatan.

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 14, 2008

Miracles Still Happen

Tiga bulan yang lalu, mama saya terkena kanker tulang stadium 4 B. Yang artinya sudah stadium akhir dengan pemeriksaan melalui bone scan (nuklir) dan pemeriksaan darah menunjukkan adanya sel-sel ganas di luar ambang batas. Scan berhasil menunjukkan lima tempat hitam yang menunjukkan bahwa sudah terkena kanker yaitu di: pinggul, lutut kanan, tulang punggung, bahu-lengan kanan, dan tulang tengkorak, serta beberapa bagian lain yang mulai tampak abu-abu kehitam-hitaman. Sedangkan bagian lain yang belum terkena, berwarna putih bersih.

Keluarga kami sudah membawa mama ke beberapa dokter ahli tulang, ahli patologi dan terutama khusus kanker tulang. Semua jawaban tetap sama: mengingat umurnya yang sudah hampir 75, dan karena tak ada gunanya juga di chemotherapy, karena akan terlalu menyakitkan untuk dia, maka keluarga disarankan untuk merawat dia di rumah saja. Percuma di rumah sakit, begitu mereka bilang. Perkiraan mereka: 1-3 bulan saja usianya, kalau dia bisa makan dengan normal. Setelah itu, tinggal menunggu koma.

Beberapa hari setelah vonis dokter itu, mama mulai menjerit-jerit kesakitan di tempat-tempat yang memang tampak hitam dalam scan. Dan sudah sulit sekali untuk makan! Bahkan minum juga. Karena kadang ia tidak mampu lagi menelan. Ini tidak mengherankan, kata dokter, mengingat penyebarannya sudah sampai tulang punggung dan tengkorak. Dokter-dokter hanya memberi morfin, karena memang kata mereka sakitnya tidak tertahankan.

Seorang teman kakak yang lebih muda, ternyata baru saja meninggal karena kanker tulang dan itu pun hanya terdapat di lutut kirinya. Ia berobat di Singapore, tanpa hasil, malah semakin parah. Teman yang lain pun menyatakan bahwa orangtuanya setelah dibawa ke Amerika pun hanya diberikan morfin sebagai "pain killer". Keluarga semakin bingung, sedangkan melihat penderitaanya pun rekan-rekan yang menengok pasti menangis. Apalagi kami, anak-anaknya?

Suatu kali, mama dalam jeritan kesakitannya minta dibaptis. Ia minta ijin pada satu kakak saya yang beragama Kong Hu Chu, sama dengan mama. Yang lain sudah menjadi Kristen atau Katolik. Mama minta cepat-cepat dibaptis karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya dan beliau juga bilang, takut waktunya sudah tidak ada lagi.

Koko saya menangis. Dan akhirnya menyetujui. Memang, beberapa waktu sebelumnya, mama pernah bilang ingin dibaptis secara Katholik. Diakon datang, untuk menanyakan, apakah ini keinginan sendiri atau terpaksa. Mama sudah menjawab, bukan. Ia memang ingin dibaptis sendiri.

Akhirnya besok paginya ia dibaptis. Pastor sekaligus memberikan sakramen perminyakan. Pada saat ia dibaptis pun sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak. Yang anehnya, 3 jam setelah dibaptis, ia bisa tiba-tiba bangun sendiri dan berteriak memanggil anak-anaknya. Namun setelah itu, ia kembali terkulai dan kondisinya semakin memburuk. Bergeser atau bergerak sedikit saja ia sudah tidak mampu karena sakitnya!

Keanehan lain, dua hari berturut-turut setelah dibaptis, ia minta komuni. Padahal mama tidak pernah mengerti apa itu komuni! Setiap satu minggu sekali ada Diakon yang datang untuk memberikan komuni. Setelah 3-4 kali komuni, kondisi kesehatannya membaik. Ditandai dengan kemampuannya untuk bergerak dan makan. Beliau juga sudah tidak lagi menjerit-jerit kesakitan. Kami merasa heran, bahkan dokter yang memeriksanyapun berdecak kagum.

Karena dengan demikian, mama sama sekali tanpa pengobatan. Segala selang infus untuk makanan yang tadinya ia pakai, sekarang tidak terpakai. Bahkan, sebelumnya kami sudah menyiapkan oksigen, karena mama sebelumnya sudah mulai sulit bernafas. Kami heran, dan semua tak percaya. Dokter mengatakan, tak ada penjelasan logis atas semua ini.

Kami sudah tak sabar untuk melihat hasil bone scan lagi mid-November Ini, karena hanya boleh dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, untuk mengetahui apa yang terjadi. Dua minggu yang lalu, seorang kerabat yang melihat kondisi mama membaik, dia menyatakan ketidak-percayaannya.

Ia minta maaf karena dengan mengatakan ini ia sudah menyinggung kami yang Kristen/Katholik, tapi ia berkata, tak percaya dengan yang namanya mukjizat! Mukjizat itu tidak ada, yang ada hanyalah.... mungkin, kesalahan diagnosa.

Koko saya yang beragama Kong Hu Chu pun malah mendukung kami, bahwa tidak mungkin ada salah diagnosa. Ada bukti ilmiah tentang sakitnya dari bone scan dan test darah! Bahkan dia pun berpikir, ini keajaiban.

Sampai mid November kemarin, kami tidak bisa berkata apa-apa. Karena sejak semula, anak-anaknya pun hanya berdoa dengan pasrah pada kehendak Tuhan dan mohon dengan kemurahan hatiNya, mama tidak menjerit2 kesakitan lagi, itu pun sudah cukup. Tapi melihat beliau mulai berjalan lagi...bahkan mulai mau ke dapur memasak lagi....amazing!!

Hasil bone scan keluar. Dokter yang memeriksanya pun terperangah dan bertanya, obat apa yang kami berikan kepada mama. Karena seandainya di chemo pun, kondisi mama tidak mungkin sebaik dan secepat ini, mengingat usianya.

Tuhan Yesus yang luar biasa, menunujukkan kemuliaan-Nya. Saat kami bilang mama tidak diobati. Dokter tersebut, yang beragama Muslim, berkata bahwa ini mustahil. Ini keajaiban. Karena scan menunujukkan, hitam di lima tempat sebelumnya sekarang hanya tinggal 1, yaitu tinggal yang di tulang panggul! Koko saya bertanya, selanjutnya pengobatan apa yang harus kami lakukan untuk mama?

Dokter cuma menjawab, ”Ya, tidak ada! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan selama ini. Yang kalian lakukan hanya berdoa kan? Jangan berhenti berdoa kalau begitu. Karena ini keajaiban!”

Tidak puas dengan pernyataan dokter ini, koko memeriksa hasil test kepada dokter patologi lain. Dia pun menyatakan ketidak percayaannya dengan kagum. ”Ini mujizat!”, katanya. Rupanya dokter ini orang Katholik. Baru koko saya pun percaya.

This is miracle! Buat saya sendiri, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena tadinya, cukup buat saya tidak melihat beliau menjerit-jerit kesakitan, ternyata Yesus memberi lebih dari yang kami semua, anak-anaknya harapkan. Sebab sebelumnya kami semua sudah rela, menerima bahwa ia dipanggil Tuhan, daripada ia menahan kesakitan yang luar biasa. Kami pun mengerti, bahwa kami tidak berharap pada sesuatu yang muluk-muluk... tapi seandainya suatu saat mama dipanggil nanti, mama sudah digunakan Tuhan sebagai alat untuk menunjukkan, bahwa apa yang mustahil bagi manusia, tak ada yang mustahil bagi Dia. Tak ada obat yang lebih kuasa dari pada Yesus, Anak Domba Allah itu sendiri.

Saya merasa tidak baik untuk menyimpan kesaksian kemuliaan Tuhan ini untuk keluarga sendiri saja. Saya berharap, dengan Kemuliaan Tuhan ini, dapat menjadi inspirasi iman dan pengarapan buat semua orang yang saya kenal.

Ada ucapan Romo Yohanes di bukunya yang amat saya sukai: ”Kesembuhan fisik hanyalah sarana.... untuk menuju Tuhan, karena pada dasarnya setiap orang harus meninggal...” (Ina BCA)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 13, 2008

Perished by the Crash of Shares Index

Saya mendapat kabar bahwa ada seorang pengerja gereja di kawasan Dadap/Tangerang yang bunuh diri setelah menghabisi nyawa isteri dan anaknya. Ia melakukan tindakan nekad itu gara-gara rugi besar di dalam spekulasi sahamnya. Sayang sekali, ia mengukur kehidupan ini dari nilai saham. Apabila nilai saham jeblok, maka kehidupannya tidak berarti lagi.

Mengapa kehidupan pelayanannya tidak berakar pada kedalaman hubungan dengan Tuhan? Kalau ia mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa spekulasi yang terlalu berani di bidang saham itu sangat berbahaya. Kalau ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa membunuh isteri dan anaknya lalu bunuh diri bukanlah menyelesaikan masalah dengan baik. Kalau ia mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, tentu kehidupannya tidak diukur dengan indeks harga saham. Kalau indeks hancur, maka kehidupannya juga hancur?

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, October 5, 2008

The Blessing of Corporate Lives

Seorang ibu mengaku menderita myom sampai sebesar 9 cm di kandungannya. Karena di gereja itu gembalanya memaparkan ada berkat karena kebersamaan jemaat sebagai suatu tubuh Kristus, maka ketika ia selesai mendoakan pokok-pokok doa untuk jemaat, kota dan bangsa, ia memohon didoakan untuk sakit myom-nya. Kemudian pada waktu ibadah raya di gereja juga ia berdoa lagi dan ia merasa ada suatu tangan yang menyentuh dahinya, bukan tangan siapa-siapa, karena di depannya tidak ada siapa-siapa.

Ketika ibu ini diperiksa oleh dokter kandungannya untuk diadakan tindakan (bedah), sang dokter kaget karena myom itu "clear" atau hilang. Si ibu ini juga merasa kaget karena tidak menyangka telah menerima mukjizat kesembuhan. Sekarang ia percaya bahwa ketika ia berdoa di gereja, itulah tangan Tuhan Yesus yang berlubang paku yang menyentuh dahinya. Ketika ia diperiksa dalam kaitan untuk proses asuransi kesehatan, test USG juga tidak menunjukkan adanya myom di tubuhnya lagi. Ketika kita bersama-sama sebagai anggota tubuh Kristus, ada berkat-berkat yang dapat diperoleh karena kebersatuan Tubuh Kristus. Puji Tuhan!

"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI