Search This Blog

Showing posts with label Semangat - Encouragement. Show all posts
Showing posts with label Semangat - Encouragement. Show all posts

Friday, June 5, 2009

Free of Stress

Sebuah artikel dalam majalah Psychology Today terbitan tahun 1988 melaporkan sebuah eksperimen yang melibatkan 1700 wanita yang sedang stres. Para wanita itu mengikuti berbagai proyek yang mengharuskan mereka menolong orang-orang lain. Dalam waktu 30 hari, 85 persen dari antara wanita-wanita itu dilaporkan bebas dari gejala-gejala stres, seperti sakit kepala, kehilangan suara, dan bahkan penderitaan karena sakit lupus atau sakit lever.

Ketika kita memfokuskan kembali perhatian kita terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain sementara kita sendiri ada dalam keadaan pergumulan berat, hal itu membuat beban dari lingkungan sekitar kita diangkat Tuhan. Semakin kita berfokus pada masalah kita, semakin kita menjadi depresi. Jika Anda sedang depresi karena lingkungan yang menekan kehidupanmu, mulailah pandang Tuhan dan pujilah Dia. Sebentar lagi Anda akan mulai melihat roh tekanan itu diangkat. Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada 5 Juni 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, May 7, 2009

Unstoppable

Ketika berumur lima tahun, Glenn Cunningham mengalami luka bakar yang parah di tungkainya. Para dokter yang merawat terpaksa angkat tangan. Menurut mereka, Glenn akan tetap cacat dan terpaksa menggunakan kursi roda seumur hidupnya. "Ia takkan bisa berjalan lagi," kata mereka.

Para dokter memang telah memeriksa keadaan tungkainya dengan seksama, namun mereka tidak memeriksa ke dalam lubuk hatinya. Glenn tidak memedulikan kata-kata mereka. Ia bertekad, pasti ia akan bisa berjalan lagi. Sementara masih terkapar di tempat tidur, dengan kakinya yang kurus kemerah-merahan akibat luka bakar ia berikrar, "Minggu depan aku akan bangun dari tempat tidur. Aku akan berjalan." Dan itu benar-benar dilakukannya.

Ibunya bercerita betapa ia sering menyingkapkan gordin dan memandang ke luar, memperhatikan Glenn menggapaikan tangan ke atas untuk menggenggam gagang alat membajak tanah yang sudah tak terpakai lagi. Di pekarangan, dengan kedua tangannya Glenn menggenggam gagang bajak. Ia mulai melatih juga kakinya yang cacat. Dan dengan setiap langkah yang menyakitkan, semakin dekat pula ia ke tujuan yang telah diikrarkannya, yaitu bisa berjalan lagi. Tak lama kemudian ia sudah mulai berlari-lari dengan lambat, makin lama makin cepat dengan gerak semakin pasti.

"Aku sejak awal sudah yakin akan bisa berjalan lagi, dan ternyata memang bisa. Sekarang aku akan berlari lebih cepat dari siapapun juga." Dan itu pun berhasil ia lakukan.

Ia menjadi pelari yang tangguh untuk jarak satu mil. Pada tahun 1936 ia mencatat prestasi 4.06 menit yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Ia menerima penghormatan sebagai atlet luar biasa abad 20 di Madison Square Garden, New York City. Ditulis oleh Jeff Yalden untuk Chicken Soup for the Soul.

Kau mungkin saja kecewa jika percobaanmu gagal, namun kau pasti takkan berhasil jika tidak mencobanya. (Beverly Sills)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, April 7, 2009

God Will Never Give Up on You

Tuhan Tidak Pernah Menyerah Atas Anda
Pada suatu hari saya memutuskan untuk menyerah, meninggalkan pekerjaan saya, meninggalkan hubungan saya, meninggalkan kerohanian saya, dan saya ingin meninggalkan kehidupan saya. Saya pergi ke hutan untuk berbicara dengan Tuhan untuk terakhir kalinya. "Tuhan," kata saya. "Dapatkah Engkau memberi satu alasan yang baik mengapa saya tidak perlu menyerah?" Jawaban-Nya benar-benar mengagetkan saya.

"Lihatlah ke sekelilingmu," kata-Nya. "Apakah engkau melihat pohon pakis dan bambu itu?"
"Ya," jawab saya.

"Ketika Aku menanam benih pakis dan bambu itu, Aku sangat hati-hati merawatnya. Aku memberikan cahaya matahari. Aku memberikan air. Pakis itu tumbuh dengan cepat. Daun-daunnya yang hijau berkilauan memenuhi tanah. Namun belum ada apa-apa yang muncul dari benih bambu itu. Meskipun demikian, Aku tak putus asa dengan benih bambu itu. Pada tahun kedua pohon-pohon pakis semakin tumbuh subur dan semakin banyak. Dan lagi-lagi, tak ada yang muncul dari benih bambu. Namun Aku tak putus asa dan menyerah dengan benih bambu itu. Pada tahun ketiga masih tak ada apa-apa yang keluar dari benih bambu itu. Namun demikian Aku tak menyerah dengan benih bambu itu. Pada tahun keempat, hal yang sama terjadi. Aku tak menyerah dengan benih bambu itu." kata-Nya. "Pada tahun kelima, suatu tunas kecil mulai muncul ke permukaan. Dibandingkan dengan pohon pakis, tunas bambu itu demikian kecil dan tak berarti. Namun dalam waktu enam bulan sesudahnya tunas itu bertumbuh sangat tinggi mencapai 100 kaki. Benih bambu itu menghabiskan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akar. Akar-akar itu membuat pokok bambu demikian kuat dan memberikan segala hal yang dapat membuat bambu itu bertahan. Aku tak akan memberikan tantangan kepada ciptaan-Ku yang tak dapat diatasinya." kata-Nya kepada saya.

"Tahukah, anak-Ku, ketika engkau banyak bergumul, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku takkan menyerah dengan bambu itu. Aku tak menyerah denganmu. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu itu mempunyai tujuan yang berbeda dengan pohon pakis itu. Keduanya membuat hutan ini menjadi indah. Waktunya akan tiba ketika engkau akan naik menjulang tinggi." kata-Nya kepada saya.

"Berapa tinggi saya dapat menjulang?"
"Berapa tinggi pokok bambu itu menjulang?" Ia bertanya balik.
"Setinggi yang ia dapat?" tanya saya.
"Ya, tepat sekali! kata-Nya, "berikanlah kemuliaan bagiku dengan menjulang setinggi yang engkau dapat."
Saya kembali dari hutan itu dan membawa kembali kisah ini. Saya berharap kisah ini dapat meyakinkan anda bahwa Tuhan tidak pernah menyerah dengan anda. Dia tak pernah menyerah dengan anda. Email kiriman: pttwr@indosat.net.id

******

God Will Never Give Up on You

One day I decided to quit...I quit my job, my relationship, my spirituality.... I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God. "God", I said. "Can you give me one good reason not to quit?" His answer surprised me...

"Look around", He said. "Do you see the fern and the bamboo?"
"Yes", I replied.

"When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water. The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful. And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo." He said. "In year three there was still nothing from the bamboo seed. But I would not quit. In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit." He said. "Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant...But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive. I would not give any of my creations a challenge it could not handle." He said to me.

"Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots?"

"I would not quit on the bamboo. I will never quit on you."
"Don't compare yourself to others." He said. "The bamboo had a different purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful."
"Your time will come", God said to me. "You will rise high"

"How high should I rise?" I asked.
"How high will the bamboo rise?" He asked in return.
"As high as it can?" I questioned
"Yes." He said, "Give me glory by rising as high as you can."
I left the forest and bring back this story. I hope these words can help you see that God will never give up on you. He will never give up on you.

Author Unknown
Kiriman Jeanne Kaligis via: pttwr@indosat.net.id


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, March 26, 2009

TODAY'S WORD from Joel and Victoria Osteen

"Sebab kasih karunia dan panggilan-Nya tak pernah dapat ditarik kembali." (Roma 11:29 - terjemahan dari New Living Translation Bible)

Apakah visi yang anda miliki bagi masa depanmu? Mungkin pada suatu saat anda demikian bergairah tentang hidupmu-anda memiliki tujuan-tujuan yang besar, mimpi-mimpi besar, namun kemudian anda melewati kehidupan yang mengecewakan atau kehidupan anda ternyata tidak seperti apa yang anda telah rencanakan dan sekarang anda terdampar pada keadaan yang sekarang ini.

Namun pahamilah, rencana Bapa bagi hidupmu tidak habis begitu saja hanya karena anda mengalami kekecewaan-kekecewaan, kemunduran-kemunduran, atau karena seseorang memperlakukan anda dengan tidak adil. Bapa tidak menolak anda hanya karena anda telah mengambil keputusan-keputusan yang buruk, dan Ia tetap memanggil anda. Ia masih merancang rencana yang sempurna bagi hidupmu. Tak peduli apakah yang telah terjadi padamu di masa lalu, rencana Bapa bagi kebaikanmu masih tetap berlaku. Ia masih memiliki masa depan yang cemerlang tersimpan bagimu. Jika anda mau mengembalikan harapan anda lagi dan membuat visimu selaras dengan firman Tuhan, maka sisa hidupmu akan menjadi kehidupan yang terbaik! Tetaplah berdiri teguh, tetaplah percaya, dan dapatkan visi untuk masa depanmu karena Tuhan memiliki masa depan yang luar biasa bagimu! (Joel & Victoria Osteen, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian pada 26 Maret 2009 di http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

*****

“For God’s gifts and His call can never be withdrawn” (Romans 11:29, NLT).
What is the vision that you have for your future? Maybe at one time you were excited about your life—you had big goals, big dreams, but you went through some disappointments or life didn’t turn out the way you planned and now you’ve just settled where you are.

But understand, God’s plan for your life didn’t go away just because you had some disappointments, setbacks, or because somebody treated you unfairly. God didn’t write you off just because you made some poor decisions. No, He knew every mistake you’d ever make; He knew every person who would wrong you, and He still called you. He still designed a perfect plan for your life. No matter what’s happened in your past, God’s plan for your good remains. He still has a bright future in store for you. If you will get your hopes back and get your vision in line with God’s Word, then the rest of your life will be the best of your life! Keep standing, keep believing, and get a vision for your future because the Lord has an amazing future in store for you!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 17, 2009

Bend, But Not Break

Salah satu kenangan indah sebagai seorang anak kecil adalah pergi ke sungai dan duduk bersantai di tepiannya. Di sana saya akan menikmati kedamaian dan ketenangan, memperhatikan air yang mengalir ke hilir, dan mendengar kicauan burung-burung dan gemerisik dedaunan. Aku juga memperhatikan pohon-pohon bambu yang melengkung di bawah tekanan angin dan memperhatikan bahwa pepohonan itu kembali tegak dengan anggun setelah angin menjadi tenang.

Ketika aku memikirkan tentang kemampuan pohon bambu untuk kembali tegak atau kembali ke posisinya semula, kata "kelenturan" muncul di pikiran. Ketika dipakai bagi seseorang, kata ini berarti kemampuan untuk segera pulih dari goncangan, depresi atau situasi lain yang menarik emosi seseorang sampai batas tertinggi.

Apakah anda pernah merasa akan patah? Apakah anda pernah merasa tak dapat bertahan lagi? Bersyukurlah, karena anda ternyata tidak patah walaupun anda telah melengkung.

Selama anda mengalaminya anda mungkin merasa campur aduk yang akan membahayakan kesehatan anda. Anda merasa emosi anda sangat terkuras, secara mental menjadi sangat lelah, dan anda kebanyakan dapat bertahan menahan gejala-gejala fisik.

Hidup ini campuran waktu-waktu baik dan waktu-waktu buruk, saat bahagia dan saat tak menyenangkan. Lain kali ketika anda mengalami waktu buruk atau saat tak menyenangkan, yang membawa anda pada keadaan hampir patah, melengkunglah tapi jangan patah. Berusahalah sebaik-baiknya agar situasi tidak menelan apa yang terbaik yang ada di dalam anda.

Segenggam pengharapan akan membawa anda melewati pencobaan itu. Dengan pengharapan akan hari esok yang lebih baik atau situasi yang lebih menyenangkan, hal-hal itu tidak seburuk yang kelihatan. Pencobaan yang tak menyenangkan itu lebih mudah diatasi jika kita tahu bahwa hasil akhirnya layak didapat.

Jika perjalanan hidup anda bertambah berat, tunjukkanlah kelenturan anda. Ibarat pohon bambu, melengkunglah namun jangan sampai patah.


*****

One of my fondest memories as a child is going by the river and sitting
idly on the bank. There I would enjoy the peace and quiet, watch the
water rush downstream, and listen to the chirps of birds and the
rustling of leaves in the trees. I would also watch the bamboo trees
bend under pressure from the wind and watch them return gracefully to
their upright or original position after the wind had died down.

When I think about the bamboo tree's ability to bounce back or return to
it's original position, the word resilience comes to mind. When used in
reference to a person this word means the ability to readily recover
from shock, depression or any other situation that stretches the limits
of a person's emotions.

Have you ever felt like you are about to snap? Have you ever felt like
you are at your breaking point? Thankfully, you have survived the
experience to live to talk about it.

During the experience you probably felt a mix of emotions that
threatened your health. You felt emotionally drained, mentally exhausted
and you most likely endured unpleasant physical symptoms.

Life is a mixture of good times and bad times, happy moments and unhappy
moments. The next time you are experiencing one of those bad times or
unhappy moments that take you close to your breaking point, bend but
don't break. Try your best not to let the situation get the best of you.

A measure of hope will take you through the unpleasant ordeal. With hope
for a better tomorrow or a better situation, things may not be as bad as
they seem to be. The unpleasant ordeal may be easier to deal with if the
end result is worth having.

If the going gets tough and you are at your breaking point, show
resilience. Like the bamboo tree, bend, but don't break!

Author Unknown



Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, February 9, 2009

Are You Going to Finish Strong

Saya pernah menonton video-video tentang Nick Vujicik, pemuda tanpa lengan dan kaki, namun saya tersentuh kembali ketika menonton video ini pada saat Nick berbicara di depan murid-murid sekolah tentang apa yang dia lakukan ketika dia jatuh. Dengan menunjukkan cara yang mengharukan, Nick selalu bangkit apabila dia jatuh.

Saksikan video yang sangat memberi inspirasi ini di:
http://www.maniacworld.com/are-you-going-to-finish-strong.html

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, February 8, 2009

He Is Blind but Blessing Others

Pengabdian Ing Han Sebagai Seorang Tunanetra

Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.

Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.

Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala.

Bercakap-cakap dengan dia atau melihatnya beraksi mengajar anak-anak dari sekolah Pelita Harapan, Kanisius, St Ursula, BPK Penabur, atau Bina Bangsa, orang acap kali lupa ia seorang tunanetra. Selalu ada sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang lain. Ia bahkan menolak memakai kacamata untuk menutupi matanya yang kisut.

”Saya memang buta, lalu kenapa? Buat saya, ini sama dengan kalau orang lain yang kena sakit jantung atau ginjal, ya, saya kebagian buta,” katanya bersemangat.

Kehilangan Orientasi Waktu
Awal Oktober 1987 Ing Han yang ketika itu bekerja pada perusahaan Frisian Flag hendak mengambil koran di depan rumah. Pria yang sebelumnya tak pernah berkacamata ini terkejut karena ia tak bisa membaca koran. Mata kirinya tidak bisa melihat sama sekali, sedangkan mata kanan kabur berat. Ia sempat dirawat sebulan lebih di RS Mata Aini, Jakarta, sebelum dokter di Singapura menjatuhkan vonis. Saraf mata Ing Han rusak total.

Sampai di sini, dia tiba pada pertanyaan yang sering diteriakkan anak manusia kepada Tuhan dengan kepedihan dan ketidakmengertian. Dua tahun Ing Han hanya duduk di kursi tamu rumahnya, mencari jawaban terhadap pertanyaan: ”Tuhan, mengapa? Kenapa saya? Hidup saya lurus, apa salah saya? Saya tidak main perempuan, tidak pemabuk, kerja pun lurus-lurus saja,” ujarnya.

Tak sedikit orang yang berkunjung dan memberinya nasihat. Kalimat seperti ”Tuhan mencoba tak lebih dari kekuatan kita” berulang kali didengar Ing Han. Begitu seringnya kalimat itu ia dengar, sampai menjadi ungkapan kosong yang saat itu dia tanggapi dengan apatis. ”Ngomong, sih, gampang. Coba mereka yang merasakan...,” katanya.

Hal paling menyedihkan bagi Ing Han sebagai tunanetra adalah kehilangan orientasi waktu. Semua hal yang saat dia bisa melihat terasa sederhana, seperti matahari terbit dan tenggelam, tiada lagi. Padahal, ia ingin tahu waktu supaya bisa mendengarkan siaran radio yang menjadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar.

Setiap hari ia dihadapkan pada pertanyaan: setelah sarapan, lalu apa? Ia tak bisa lagi bekerja di kantor, membaca buku, atau jalan-jalan. Setiap hari ia hanya duduk dan merasa marah, mengapa ia jadi tunanetra?

Namun, realita tidak bisa menunggu. Benturan pada kenyataan membuat Ing Han harus bangkit. Gugatannya kepada Tuhan menjadi tak penting lagi. Ia harus menerima keadaan.

”Saya harus terima. Itu saja. Percuma saya ngeributin Tuhan ada atau enggak. Terima saja. Yang jelas, besok saya dan istri harus makan,” kata suami dari Sri Handayani Soeganda, seorang ibu rumah tangga, ini.

Setelah itu, beberapa titik cerah mulai tampak. Tahun 1989, lewat rentetan kebetulan, ia berhasil mendapatkan jam tangan khusus untuk tunanetra sehingga menyelesaikan masalahnya tentang orientasi waktu. Saat itulah ia menangis dan berdoa, ia percaya Tuhan itu ada.

Pantang menyerah
Semangatnya yang pantang menyerah membuat dia malah merasa bersyukur. Ing Han menyadari ia sebenarnya telah dipersiapkan menghadapi keadaannya kini. Dulu, ketika bersekolah di Salatiga, juara sekolah selalu di tangannya.

Profesi sang ayah sebagai guru membuat ia terbiasa hidup berkekurangan. Kondisi ini membuat Ing Han harus menopang hidup dengan memberi les privat selama ia berkuliah di Institut Teknologi Bandung.

”Saya teringat masa itu. Biarpun menjadi tunanetra, saya bisa memberikan les privat. Saya masih ingat semua rumus-rumus pelajaran (Matematika dan Fisika) itu,” katanya.

Ia mulai dari sekitar kompleks. Dengan sepeda, istrinya mengedarkan selebaran berisi jasa les privat di sekeliling kompleks perumahan mereka. Tiga murid pertama berhasil mereka dapatkan. Saat itu Ing Han belum berani mengakui kalau buta. Ia meminta murid membacakan soal, dengan alasan matanya rabun.

Hingga kini cara itu tetap dipakai walau Ing Han tidak lagi menutupi keadaan sebenarnya. Sehari-hari, kalau menemui masalah, ia langsung membongkar buku-buku lama dari masa dia SMP dan SMA, lalu meminta istrinya membacakan.

Untuk membantu pengajaran, dibuat tabel seperti Bilangan Berpangkat, bagan seperti Proyeksi serta Jarak dan Gradien, yang digantung di ruang tamu rumahnya, tempat dia mengajar.

Dari teman-temannya yang guru, ia memiliki koleksi soal-soal ujian terbaru. Cerita Ing Han, dalam menangani murid yang penting adalah kesan pertama. Pada pertemuan awal ia langsung ”menjatuhkan” mental murid agar mereka percaya kepadanya dan tak berpikir ”orang buta itu tahu apa-apa.”

Ing Han menyemangati diri dengan semboyan dari Napoleon Bonaparte, ”Tak ada kata "tidak bisa" dalam kamus hidup.”

Menjadi tunanetra tak berarti kecemerlangan pikiran terbengkalai. Kemampuan itu justru membuat dia dapat mandiri. Ia juga bisa membantu orang lain, seperti guru-guru yang meneleponnya saat mereka kesulitan memecahkan soal hingga anak loper koran yang ia beri les privat dengan tarif diskon.

Untuk mereka yang mengalami masalah kebutaan, beberapa kali Ing Han ikut acara berbagi untuk memberi semangat, baik lewat radio maupun pertemuan, di Lembaga Daya Dharma yang berkantor di Gereja Katedral, Jakarta.

Meski tunanetra, Ing Han tetap sibuk. Ia memberi les privat kepada 17 siswa.. Bahkan, hari Minggu ia bekerja mulai dari pukul 08.00 sampai 18.00. Dia pun kini tengah berusaha memecahkan problem matematika klasik, yakni membagi sudut apa pun menjadi tiga sama besar. Untuk itu, selain bertemu dengan seorang profesor di Tunghai Unversity, Taiwan, ia juga mengontak dua jurnal matematika internasional guna mengusulkan pemecahannya. Sumber: Milis Rohani, kiriman Wiliangto.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, January 9, 2009

Always Go for Your Dreams

“Dapatkan gagasan yang baik dan pegang erat-erat. Kejar dan kerjakan hal itu sampai selesai dan diselesaikan dengan benar.” Walt Disney

Apakah anda pernah memperhatikan seekor anjing dengan sepotong tulang? Tak peduli betapa kerasnya anda mencoba merebut tulang itu dari moncongnya, anjing itu tak akan melepaskannya. Pada kenyataannya, semakin keras usaha anda merebut tulang itu, makin keras gigitan anjing terhadap tulang itu. Itulah yang disebut keteguhan seekor anjing, suatu kualitas yang sangat dibutuhkan apabila anda ingin mencapai sasaran apapun, tak peduli besar atau kecil – artinya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya tulang.

Almarhum Maurice Richard ibarat "anjing yang sedang menggigit tulang" ketika ia mengejar impiannya untuk bermain hoki. Sangat jelas apa yang ia ingin lakukan dengan kehidupannya sejak dini, meskipun ia mengalami banyak kecelakaan pada usia remajanya. Ketika ia pada akhirnya diterima untuk bermain di Montreal Canadiens, masih dalam kariernya yang dini ia sudah dicap sebagai seorang pemain “lembek”. Ia juga ditantang oleh kurangnya dukungan dari mereka yang ada di sekelilingnya, kecuali isterinya sendiri. Meskipun demikian, semangat Maurice untuk berhasil di bidang olahraga membawa dia melewati semua rintangan-rintangan itu, dan membawanya menuju karier yang memecahkan rekor selama lebih dari 20 tahun. Ia menggigit "tulangnya" erat-erat dan tidak membiarkan tulang itu lepas!

Ketika anda mengetahui apa yang anda inginkan, dan anda tidak bimbang bahwa anda menginginkannya, anda perlu menjadi persis seperti Maurice Richard. Katupkan gigimu kuat-kuat pada "tulangmu" dan jangan biarkan "tulang" itu lepas. Bertekadlah untuk tidak membiarkan siapapun atau apapun mengambilnya dari anda.

Banyak keadaan dapat membuat anda sulit mempertahankan tulang itu, seperti tantangan kesehatan atau kebimbangan dan ketakutan anda sendiri. Orang-orang lain, meskipun orang-orang yang mengasihi anda, mungkin mencoba mengambil tulang itu dari anda. Ketika anda menghadapi rintangan-rintangan itu, anda perlu meningkatkan tekad anda dan merasakan semangat dan keinginan anda yang membara, itulah kekuatan yang akan melontarkan anda ke arah sasaran anda.

Walaupun tekad bulat itu penting, namun hal yang penting juga adalah agar anda terbuka terhadap gagasan-gagasan baru dan perluaslah pemikiran anda. Anda harus siap untuk melepaskan pemikiran-pemikiran yang membatasi anda dengan perkataan-perkataan seperti: "Aku harus realistis dan jangan membuat sasaran yang terlalu hebat buat diriku sendiri," atau "Aku harus melakukan apapun yang orang-orang suka aku lakukan, bukannya mengejar impianku sendiri." Kejarlah apa yang anda sungguh-sungguh inginkan!

Tantanglah diri anda untuk mereka jalan baru dan kejarlah impian anda, namun berhati-hatilah terhadap rute yang anda pilih. Bersedialah untuk menggali jalan-jalan baru; meskipun demikian, jika anda terus menjalani rute yang sama selama ini, anda akan mencapai tujuan yang sama. Apakah hal itu yang anda inginkan? Oleh Peggy McColl – diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.

******

"Get a good idea and stay with it. Dog it, and work it until it's done and done right." - Walt Disney

Have you ever witnessed a dog with a bone? No matter how hard you try to wrench it out of that pooch's mouth, she won't let go. As a matter of fact, the more you attempt to take the bone away, the deeper the dog will sink her teeth in. That is sheer, dogged determination, a quality that is absolutely required if you want to achieve any goal, no matter how large or small -- that is, regardless of the size of the bone.

The late Maurice Richard was a dog with a bone when it came to pursuing his dream of playing hockey. It was very clear what he wanted to do with his life early on, even though he incurred a large number of injuries at a young age. While he was ultimately accepted to play with the Montreal Canadiens, very early in his career he was labeled a "frail" player. He was also challenged by a lack of support from those around him, except for his devoted wife. Maurice's passion for the sport took him past these obstacles, however, and led him to a record-breaking career of more than 20 years. He had a bone and would not let go!

When you know what you want, and you have no doubt that you want it, you need to become just like Maurice Richard. Clench your teeth firmly on your bone and don't let it go. Be determined not to allow anyone or anything to take it from you.

Many circumstances can make it difficult to hold on, such as health challenges or your own doubts and fears. Other people, even well-meaning loved ones, may also try to yank that bone away from you. When you face these obstacles, you just need to turn up the volume on your determination and feel the passion of your desire, the force that will propel you toward your goals.

While being determined is crucial, it's also important to open yourself up to receive new ideas and expand your thinking. You must be ready to let go of those limiting thoughts that feature the words should and ought, such as, I should be realistic and not make such a lofty goal for myself, or I ought to do what the people I love want me to do instead of pursuing my own passion. Go for what you really want!

Challenge yourself to scratch out a new path and chase your dream, but be careful of the route you take. Be willing to explore new paths; after all, if you travel the same route that you've been taking thus far, you'll end up at the same destination. Is that where you long to go? - By Peggy McColl

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, January 7, 2009

Attitude is Everything

Sikap itu Segalanya
Jerry adalah jenis pria yang anda senang menertawakannya. Ia selalu ada dalam suasana hati yang baik dan selalu mempunyai sesuatu hal positif untuk dikatakan. Ketika seseorang bertanya bagaimana keadaannya, ia akan menjawab, “Kalau saya lebih baik dari sekarang, pastilah saya punya kembaran!”

Ia adalah seorang manajer yang unik karena ia memiliki beberapa waiter yang mengikutinya dari satu restoran ke restoran lainnya. Alasan mengapa para waiter itu mengikuti Jerry kemana dia bekerja karena sikap Jerry yang luar biasa. Ia adalah seorang motivator alami. Jika seorang pegawai mengalami hari yang buruk, Jerry ada di sana untuk memberi tahu pegawai itu bagaimana melihat sisi positif dari situasi tak menyenangkan itu.

Karena melihat gayanya yang luar biasa itu, saya jadi penasaran, sehingga pada suatu hari saya bertemu Jerry dan bertanya, “Aku tak mengerti! Engkau pasti tidak bisa menjadi orang positif sepanjang hari. Bagaimana engkau melakukannya?”

Jerry menjawab, “Setiap pagi saya bangun dan berkata kepada diri saya sendiri, ‘Jerry, kamu punya dua pilihan hari ini. Kamu bisa memilih berada dalam suasana hati yang baik atau kamu boleh memilih berada dalam mood yang jelek.’ Saya memilih berada dalam mood yang baik. Setiap kali ada perkara buruk terjadi, saya dapat memilih menjadi korbannya atau saya dapat memilih untuk belajar sesuatu dari hal itu. Setiap kali seseorang datang kepada saya dengan keluhan, saya dapat memilih untuk menerima komplain mereka atau saya dapat menunjukkan sisi positif dalam kehidupan ini. Saya selalu memilih segi positif dalam kehidupan.”

“Yah, benar juga, tetapi itu tidaklah mudah,” kata saya membantah.

“Memang tidak mudah,” kata Jerry. “Hidup ini mengenai pilihan. Pada intinya, setiap situasi merupakan suatu pilihan. Engkau memilih bagaimana menanggapi suatu situasi. Engkau memilih bagaimana orang-orang lain akan memengaruhi perasaanmu. Engkau memilih berada dalam suasana hati yang baik atau buruk. Singkatnya: itulah pilihanmu bagaimana menjalani kehidupan ini.”

Aku merenungkan apa yang dikatakan Jerry. Segera setelah itu, aku meninggalkan industri restoran untuk memulai usahaku sendiri. Kami kehilangan kontak satu sama lain dengan Jerry, namun aku seringkali memikirkan dia ketika aku membuat suatu pilihan dalam kehidupan ini, bukannya bereaksi terhadapnya.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa Jerry melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan akan dilakukan orang di bidang usaha restoran: Jerry membiarkan pintu belakang restoran terbuka pada suatu pagi dan dimasuki oleh tiga perampok bersenjata. Ketika mencoba membuka brandkas di bawah todongan pistol, tangan Jerry gemetar ketakutan, sehingga meleset dari kunci kombinasi brandkas itu. Karena para perampok itu panik, maka salah seorang menembak Jerry. Dan mereka segera kabur dari tempat itu. Untunglah Jerry ditemukan cukup cepat dan dilarikan ke ruang UGD di sebuah rumah sakit.

Setelah dioperasi selama 18 jam dan dirawat di ruang perawatan intensif, Jerry akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit itu dengan beberapa pecahan peluru masih ada di dalam tubuhnya.

Aku bertemu sekitar enam bulan setelah peristiwa itu. Ketika aku bertanya bagaimana keadaannya, Jerry menjawab, “Seandainya saya lebih baik dari sekarang, saya pasti punya kembaran. Mau melihat bekas luka saya?”

Aku menolak untuk melihat bekas luka-lukanya, namun aku menanyakan apa yang terlintas di pikirannya ketika perampokan itu terjadi. “Hal pertama yang melintas di pikiran saya adalah seharusnya saya telah mengunci pintu belakang itu,” jawab Jerry. “Kemudian ketika saya terbaring di lantai, saya ingat bahwa saya mempunyai dua pilihan: saya dapat memilih untuk hidup, atau saya dapat memilih untuk mati. Saya telah memilih untuk hidup terus.”

“Apakah engkau tidak takut? Apakah engkau kehilangan kesadaranmu?” aku bertanya.

Jerry melanjutkan, “Petugas paramedisnya hebat. Mereka terus menerus memberitahu saya bahwa saya akan sembuh. Tetapi ketika mereka membawa saya ke ruang UGD dan saya melihat ekspresi wajah-wajah para dokter dan perawat, saya menjadi sangat takut. Di mata mereka, saya membaca, ‘Orang ini sudah mati.’ Saya tahu saya perlu melakukan suatu tindakan.”

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Well, di sana ada seorang perawat gemuk dan kekar yang bertanya dengan suara keras kepada saya,” kata Jerry. “Perawat itu bertanya apakah saya ada alergi terhadap sesuatu. ‘Ya,’ jawab saya. Para dokter dan perawat berhenti melakukan sesuatu sementara mereka menunggu jawaban saya. Saya mengambil nafas panjang dan berseru, ‘Peluru. Saya alergi terhadap peluru,’ kata saya membuat mereka tertawa. Saya kemudian mengatakan kepada mereka, ‘Saya memilih untuk terus hidup. Bedahlah saya seolah-olah saya akan terus hidup, bukan sebagai orang mati.”

Jerry akhirnya dapat diselamatkan berkat keahlian para dokter itu, namun hal itu juga berkat sikapnya yang luar biasa. Saya belajar daripadanya bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk hidup sepenuhnya. Sikap, bagaimanapun juga, adalah segalanya.

(Ditulis oleh Francie Baltazar-Schwartz – diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini tidak dihapus apabila anda memforward naskah ini atau mempostingnya di website/blog anda – terima kasih banyak)


*****

Jerry was the kind of guy you love to laugh at. He was always in a good mood and always had something positive to say. When someone would ask him how he was doing, he would reply, "If I were any better, I would be twins!"

He was a unique manager because he had several waiters who had followed him around from restaurant to restaurant. The reason the waiters followed Jerry was because of his attitude. He was a natural motivator. If an employee was having a bad day, Jerry was there telling the employee how to look on the positive side of the situation.

Seeing this style really made me curious, so one day I went up to Jerry and asked him, "I don't get it! You can't be a positive person all of the time. How do you do it?"

Jerry replied, "Each morning I wake up and say to myself, 'Jerry, you have two choices today. You can choose to be in a good mood or you can choose to be in a bad mood.' I choose to be in a good mood. Each time something bad happens, I can choose to be a victim or I can choose to learn from it. I choose to learn from it. Every time someone comes to me complaining, I can choose to accept their complaining or I can point out the positive side of life. I choose the positive side of life."

"Yeah, right, it's not that easy," I protested.

"Yes, it is," Jerry said. "Life is all about choices. When you cut way all the junk, every situation is a choice. You choose how you react to situations. You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood or bad mood. The bottom line: It's your choice how you live life."

I reflected on what Jerry said. Soon thereafter, I left the restaurant industry to start my own business. We lost touch, but I often thought about him when I made a choice about life instead of reacting to it.

Several years later, I heard that Jerry did something you are never supposed to do in a restaurant business: he left the back door open one morning and was held up at gunpoint by three armed robbers. While trying to open the safe, his hand, shaking from nervousness, slipped off the combination. The robbers panicked and shot him. Luckily, Jerry was found relatively quickly and rushed to the local trauma center.

After 18 hours of surgery and weeks of intensive care, Jerry was released from the hospital with fragments of the bullets still in his body.

I saw Jerry about six months after the accident. When I asked him how he was, he replied, "If I were any better, I'd be twins. Wanna see my scars?"

I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind as the robbery took place. "The first thing that went through my mind was that I should have locked the back door," Jerry replied. "Then, as I lay on the floor, I remembered that I had two choices: I could choose to live, or I could choose to die. I chose to live."

"Weren't you scared? Did you lose consciousness?" I asked.

Jerry continued, "The paramedics were great. They kept telling me I was going to be fine. But when they wheeled me into the emergency room and I saw the expressions on the faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I read, 'He's a dead man.'

"I knew I needed to take action."

"What did you do?" I asked.

"Well, there was a big, burly nurse shouting questions at me," said Jerry. "She asked if I was allergic to anything. 'Yes,' I replied. The doctors and nurses stopped working as they waited for my reply. I took a deep breathe and yelled, 'Bullets!' Over their laughter, I told them. 'I am choosing to live. Operate on me as if I am alive, not dead."

Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his amazing attitude. I learned from him that every day we have the choice to live fully. Attitude, after all, is everything. By Francie Baltazar-Schwartz

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, January 1, 2009

New Day

Inilah beberapa kutipan penuh inspirasi dari Og Mandino – Pikiran-pikiran untuk dihidupi pada tahun baru – hari baru, kehidupan baru, permulaan baru…


”Aku akan hidup hari ini seolah-olah inilah hari terakhirku.
Pertama-tama aku akan membungkus kehidupanku
agar tak ada bagian kehidupan yang tercecer…
Aku tidak akan menyia-nyiakan sesaatpun untuk berduka
atas kemalangan di hari kemarin, atas kekalahan yang lalu,
atas sakit hati di masa lalu,
Karena buat apa aku mengabaikan hikmah dari hal-hal buruk?

Dapatkah aku menarik kembali perkataan jahat yang kuucapkan,
menarik kembali pukulan yang aku telah layangkan,
menarik kembali luka hati yang aku timbulkan?
Masa lalu biarlah terkubur selamanya dan
aku tak memikirkannya lagi untuk selamanya.

Dan andai hari ini adalah hari terakhirku,
hari ini akan menjadi monumenku yang terbesar.

Hari ini aku akan menjadikan hari terbaik dalam hidupku.
Hari ini aku akan meminum setiap menit sampai puas,
Aku akan menikmati rasanya dan mengucap syukur.
Aku akan membuat setiap jam berarti dan
Setiap menit aku pergunakan untuk sesuatu yang berharga.
Aku akan bekerja lebih keras dari sebelumnya
Dan mengerahkan segala dayaku
sampai otot-ototku berteriak meminta keringanan
dan kemudian aku akan meneruskan lagi…
Setiap menit dalam setiap hariku akan berbuah lebih lebat
Dibandingkan jam-jam hari kemarin.
Saatku yang terakhir harus menjadi saatku yang terbaik.

Aku akan hidup hari ini seolah-olah inilah hari terakhirku.
Dan seandainya ini bukan hari terakhirku,
Aku akan sujud bertelut dan bersyukur kepada Tuhan.

“Hari ini aku memulai kehidupan baruku.
Hari ini aku melepaskan kehidupan lamaku,
Yang mengandung banyak luka dan penderitaan
akibat kegagalan dan luka karena hidup biasa-biasa saja.

Hari ini aku dilahirkan baru dan tempat kelahiranku adalah
di kebun anggur dimana terdapat buah bagi semua orang.
Hari ini aku akan memetik anggur hikmat dari pokok anggur yang dewasa,
karena pokok anggur ini telah ditanam
oleh generasi terdahulu saya yang penuh hikmat.

Hari ini aku akan menikmati rasa anggur dari setiap pokok anggur
dan sungguh aku menelan setiap benih keberhasilan
yang terdapat di dalam setiap kehidupan yang keluar dari dalamku.

“Aku akan menyapa hari ini dengan kasih di dalam hatiku.
Karena inilah rahasia keberhasilan yang terbesar dalam segala kegiatan.
Kekerasan dapat merobek sebuah benteng dan
bahkan menghancurkan kehidupan,
namun hanya kekuatan kasih yang
dapat membuka hati setiap orang.
Sampai aku akan menguasai seni kehidupan ini,
aku tidak mau hanya menjadi pedagang di dunia usaha.
Aku akan membuat kasih sebagai senjata paling luar biasa dan
Tak ada seorangpun yang dapat bertahan melawannya.

Alasan-alasanku mungkin dapat mereka tangkis,
Perkataanku mungkin tak mereka percayai,
Penampilanku mungkin tak mereka terima,
Wajahku mungkin mereka tolak,
Dan setiap tawaran mungkin mereka curigai,
Namun kasihku akan meluluhkan hati mereka.

Aku akan menyapa hari ini dengan kasih dan aku dilahirkan kembali.”


*******

Here are some inspirational snippets from the timeless Og Mandino- Thoughts to live by for the new year- a new day, a new life, a new beginning…


"I will live this day as if it is my last.
First I will seal up its container of life so that not one drop spills itself …. I will waste not a moment mourning yesterday's misfortunes, yesterday's defeats, yesterday's aches of the heart, for why should I thro good after bad?

Can I take back the evil that was spoken, the blows that were struck, the pain that was caused? My yesterday is buried forever and I will think of it no more…"

And if it is my last, it will be my greatest monument.

This day I will make the best day of my life. This day I will drink every minute to its full, I will savor its taste and give thanks. I will make every hour count and each minute I will treat only for something of value. I will labor harder than ever before and push my muscles till they cry for relief and then I will continue….Each minute of today will be more fruitful than hours of yesterday. My last will be my best.

I will live this day as if it is my last.
And if it is not, I shall fall to my knees and give thanks."

"Today I begin a new life. Today I shed my old skin, which hath, too long, suffered the bruises of failure and the wounds of mediocrity.

Today I am born anew and my birthplace is a vineyard where there is fruit for all.
Today I will pluck grapes of wisdom from the tallest and fullest vines in the vineyard, for these were plated by the wisest of my profession who have come before me, generation upon generation.

Today I will savor the taste of grapes from these vines and verily I will swallow the seed of success buried in each and new life will sprout within me."

"I will greet this day with love in my heart.
For this is the greatest secret of success in all ventures.
Muscle can split a shield and even destroy life
but the only unseen power of love can open the hearts of men.
Until I master this art, I will remain no more than a peddler in the market place.
I will make love my greatest weapon and none on which I call can defend against its force.

My reason they may counter, my speech they may distrust; my apparel they may disapprove; my face they may reject; and even my bargains may cause them suspicion; yet my love will melt all hearts.

I will greet this day with love and I will be born again."
Source: http://www.successinspired.com/inspiration/inspirational-thoughts-for-the-new-year/

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 31, 2008

An Amazing Story of Jessica Cox: The First Woman Without Arms To Earn a Pilot License


WANITA PERTAMA TANPA LENGAN MERAIH LISENSI PILOT PESAWAT

Jessica Cox, 25 tahun, mendapatkan izin menerbangkan pesawat pada tanggal 10 Oktober 2008 yang lalu. Jessica juga memiliki dua sabuk hitam di bidang seni beladiri Tae Kwon Do, mendapat gelar S1 di bidang Psikologi, dan menapaki karier sebagai seorang pembicara motivasi. Apa yang tak dimiliki Jessica Cox? Kedua lengan.

Cacat tanpa kedua lengan tidak menghentikan Nona Cox untuk mencapai dan melampaui tujuan-tujuan hidupnya. Sejak lahir, kedua kakinya berfungsi juga sebagai lengannya. Ia dapat mengemudikan mobil, mengetik dengan kecepatan 25 kata per menit, dan menerbangkan pesawat udara sungguhan dengan menggunakan kedua kakinya tanpa kesulitan. Ia merupakan wanita tanpa lengan pertama yang mendapatkan izin menerbangkan pesawat.

"Aku sangat mendorong orang-orang cacat untuk berlatih menerbangkan pesawat," ujar Cox. "Hal itu menolong untuk menjungkir-balikkan pendapat banyak orang bahwa orang-orang cacat itu tak berdaya, sehingga mereka yakin bahwa orang-orang yang cacat juga memiliki daya dan kemampuan untuk menetapkan sasaran-sasaran yang tinggi dan mencapainya.

Jessica meraih izin Sport Pilot-nya dari "Able Flight", sebuah perusahaan pelatihan terbang di North Carolina yang membantu orang-orang cacat untuk belajar menerbangkan pesawat. Selain itu Nona Cox juga mendapatkan bea siswa dari "Able Flight"

Video wawancara antara Jessica Cox dengan Fox TV dapat dilihat di: http://www.foxnews.com/video-search/m/21713338/inspirational_story.htm?pageid=23000

Sumber: http://www.disaboom.com/Blogs/saydrah/archive/2008/11/10/jessica-cox-has-one-pilot-s-license-two-black-belts-and-zero-arms.aspx

Naskah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda - terima kasih.

*****

Jessica Cox, 25, earned a license to fly airplanes on October 10, 2008. Jessica also has two black belts in Tae Kwan-Do, a college degree in Psychology, and a thriving career as a motivational speaker. What doesn't Jessica Cox have? Arms.

A bilateral congenital limb deficiency doesn't stop Ms. Cox from achieving and surpassing her goals. From birth on, her feet became her hands. She can drive a car, type 25 words per minute, and fly an airplane using her feet, without any special adaptations. She is the first woman without arms to earn a license to fly.

"I highly encourage people with disabilities to consider flying," Cox said. "It helps reverse the stereotype that people with disabilities are powerless into the belief that they are powerful and capable of setting high goals and achieving them."

Jessica earned her Sport Pilot certificate after training with Able Flight, a North Carolina flight training company that specializes in helping people with disabilities learn to fly. Ms. Cox won an Able Flight scholarship.

Sumber:
http://www.disaboom.com/Blogs/saydrah/archive/2008/11/10/jessica-cox-has-one-pilot-s-license-two-black-belts-and-zero-arms.aspx
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 30, 2008

Farther than the Eyes Can See: An Amazing Story of Erik Weihenmayer

LEBIH JAUH DARI PADA YANG DAPAT DILIHAT MATA
Meskipun orang-orang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain, Erik Weihenmayer tidak memercayai vonis itu dan menolak hidup dengan keterbatasan-keterbatasan. Setelah bertarung dengan kebutaannya selama bertahun-tahun, Erik belajar untuk menerima hal itu dan membuatnya sebagai bagian dari kehidupannya. Ia berjuang untuk mengubah masalah menjadi berkat.

Pertama-tama ia bergabung dengan regu gulat di SMU, pernah menjadi kapten dan juara gulat kedua di negara bagiannya. Berikutnya Weihenmayer mengambil tantangan mendaki gunung, sebuah hobi yang cukup sulit bagi orang-orang yang penglihatannya sempurna.

Pada tanggal 25 Mei 2001, Erik Weihenmayer menjadi satu-satunya orang tunanetra dalam sejarah yang dapat mencapai puncak gunung tertinggi di dunia – Puncak Everest. Pada tanggal 20 Agustus 2008, ketika ia berdiri di puncak gunung Carstenz Pyramid di Papua, puncak gunung tertinggi di belahan Austral-Asia, Weihenmayer menyelesaikan perjuangannya mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua. Erik hanya diikuti oleh kurang dari 100 orang pendaki yang berhasil mencapai prestasi hebat ini. Tambahan pula, ia telah mendaki El Capitan, gunung batu monolit granit yang curam setinggi 3300 kaki di Yosemite, dan juga Lhosar, tebing air terjun dengan bekuan es setinggi 3000 kaki di daerah Himalaya, dan tebing batu curam yang paling sulit dan jarang didaki setinggi 17.000 kaki di Kenya.

Dalam bulan September 2003, Erik bergabung dengan 320 bintang atlit dari 17 negara untuk berlomba di Primal Quest, petualangan dalam berbagai jenis olahraga yang paling keras: 457 mil melalui Sierra Nevada, sembilan hari, 60.000 kaki di antaranya melewati daerah pegunungan, dan tidak ada waktu jeda. Dengan tidur hanya rata-rata dua jam perhari, Erik dan timnya menerobos masuk garis finis di Danau Tahoe, yang menjadi salah satu dari 42 tim yang mencapai garis finish dari 80 tim yang mengikuti start.

Setelah mencapai puncak Everest, sekolah "Braille Without Borders" bagi para tunanetra di Tibet mengundangnya untuk mengajar para murid untuk mendaki gunung dan tebing. Pengalamannya dalam banyak pendakian mendorong semangat para murid tunanetra itu untuk mencapai keunggulan di bidang yang jarang dimanfaatkan oleh para tunanetra. Erik dan enam orang anggota tim Everest-nya pergi ke Tibet di bulan Mei 2004 untuk melatih para murid di sekolah itu, kemudian di bulan Oktober di tahun yang sama mengajak dan memimpin mereka untuk mendaki Rombuk Glacier di bagian utara Puncak Everest. Meskipun mereka tadinya termasuk orang Paria, para remaja tunanetra itu akhirnya berdiri bersama di ketinggian 21.500 kaki, lebih tinggi dari tim tunanetra manapun dalam sejarah. Steven Haft, produser film Dead Poet’s Society dan film berkelas lainnya, mengabadikan pendakian para tunanetra itu dalam film dokumenter dan mengundang tepuk tangan kehormatan (standing ovation) dalam berbagai festival film di Toronto, LA dan London. Film itu telah diputar di bioskop pada tahun 2007 yang lalu.

Sebagai mantan guru SMU dan pelatih gulat, Erik merupakan salah satu atlet paling menakjubkan dan terkenal di dunia. Meskipun ia kehilangan penglihatannya di usia 13, Erik telah menjadi pendaki gunung, pemain paraglider, dan pemain ski, yang tidak pernah membiarkan kebutaannya menghalangi semangatnya untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dan memuaskan. Prestasi pendakian gunung Erik telah menganugerahinya dengan penghargaan ESPY, penghargaan dari Majalah Time bagi seorang atlit terbaik di tahun 2001. Selain itu ia mendapatkan kehormatan ketika namanya diabadikan di "National Wrestling Hall of Fame", dan mendapatkan penghargaan ARETE untuk prestasi atlit luar biasa di tahun itu, juga meraih penghargaan "Helen Keller Lifetime Achievement", dan penghargaan Casey Martin dari Nike, dan penghargaan "Freedom Foundation’s Free Spirit". Ia juga diberi kehormatan untuk membawa obor Olimpiade musim panas dan musim dingin.

Selain menjadi atlit kelas dunia, Erik juga menjadi penulis buku “Touch the Top of the World”, yang diedarkan di sepuluh negara dalam enam bahasa. Menurut Publisher’s Weekly, buku kenangan Erik itu sangat menyentuh hati dan penuh petualangan yang luar biasa dan Erik mengisahkan kisah luar biasa itu dengan penuh humor, kejujuran dan rincian yang hidup, sehingga buku itu sangat memberi inspirasi dan dorongan semangat dan kekuatan. Buku itu difilmkan dan ditayangkan di bulan Juni 2006.

Buku Erik yang kedua, “The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles Into Everyday Greatness” yang ditulis bersama penulis laris dan guru di bidang bisnis, Dr. Paul Stoltz, telah diedarkan di bulan Januari 2007 dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia. Melalui keahlian Paul di bidang ilmu Pengetahuan dan pengalaman Erik, buku itu membagikan tujuh “puncak” bagi peningkatan daya tahan menghadapi kesulitan dan membalikkan kesulitan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis untuk bertumbuh dan mencapai inovasi. Steven Covey, penulis buku terkenal, menulis Kata Pengantar di buku tersebut. Kisah Erik juga ditulis dalam majalah Time, Forbes, dan Reader’s Digest.

Film Erik yang mendapatkan penghargaan, “Farther Than the Eyes Can See”, diberi peringkat “Duapuluh Paling Top”/Top Twenty dalam jajaran film petualangan sepanjang masa oleh Men’s Journal. Dengan meraih hadiah pertama di antara 19 film dan dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Emmy, film itu dengan indah menangkap perasaan, humor, dan drama dalam kisah pendakian Erik yang bersejarah, selain meraih tiga gelar serba pertama oleh timnya: tim pertama yang terdiri dari ayah anak yang sampai di puncak tertinggi, orang paling tua pertama yang sampai di puncak tertinggi, dan tim pertama dengan anggota paling banyak yang sampai di puncak tertinggi. Melalui film ini telah terkumpul dan dibagikan dana sebanyak $ 600.000,- bagi organisasi-organisasi sosial.

Prestasi Erik yang sangat luar biasa telah membuatnya diundang dalam acara-acara TV NBC Today’s Show dan Nightly News, Oprah, Good Morning America, Nightline, dan Tonight Show, untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Wajahnya juga telah menghiasi halaman sampul depan di majalah Time, Outside, dan Climbing Magazine.

Pada tahun 1999 Erik bergabung dengan Mark Wellman – orang lumpuh pertama yang mendaki gunung El Capitan setinggi 3000 kaki, dan bersama Hugh Herr, seorang cacat yang kedua kakinya diamputasi dan merupakan seorang ilmuwan di Harvard Prosthetics Laboratory, mendaki tebing setinggi 800 kaki di Moab, Utah. Sebagai akibat keberhasilan mereka bersama, ketiganya membentuk organisasi nirlaba “No Barrier” yang bertujuan mempromosikan gagasan-gagasan dan pendekatan inovatif, serta teknologi yang membantu orang-orang cacat untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dengan menyingkirkan segala penghalang dan batas dari kehidupan mereka. Erik juga melayani di National Braille Literacy Champion atas nama American Foundation for the Blind.

Karier Erik sebagai pembicara motivasi telah membawanya keliling dunia, mulai dari Hongkong ke Swiss, dari Thailand sampai pertemuan puncak APEC di Chille, selain di seluruh Amerika Serikat. Ia berbicara kepada banyak orang tentang bagaimana meningkatkan daya juang melawan kesulitan (Adversity Quotient), pentingnya tim yang saling terjalin erat, dan bagaimana menghadapi kesulitan sehari-hari untuk mengejar impian anda. Semua pencapaian dan prestasi Erik membuktikan kepada kita semua bahwa orang tidak perlu punya penglihatan yang sempurna untuk mendapatkan visi yang luar biasa.

“Kebutaan tidak akan mencegah saya untuk bersenang-senang,” kata Erik penuh keyakinan. Ia menghadapi “kemalangannya”, yakni kebutaannya, dan mengubahnya untuk menjadi kekuatan dengan memanfaatkan panca indera yang lain untuk menjadi lebih peka. Ia telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang saja. (Sumber: Website Erik Weihenmayer dan Tabloid Keluarga edisi 40/Desember 2008, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforward/memposting di website/blog anda - terima kasih banyak)

*******


On May 25, 2001, Erik Weihenmayer became the onlyblind man in history to reach the summit of the world's highest peak - Mount Everest. On August 20, 2008, when he stood on top of Carstenz Pyramid, the tallest peak in Austral-Asia, Weihenmayer completed his quest to climb the Seven Summits- the highest mountains on each of the seven continents. Erik is joined by fewer than 100mountaineers who have accomplished this feat. Additionally, he has scaled El Capitan, a 3300-foot overhanging granite monolith in Yosemite; Lhosar, a 3000-foot ice waterfalling the Himalayas; and a difficult and rarely climbed rock face on 17,000-foot Mt. Kenya.

In September, 2003, Erik joined 320 stellar athletes from 17 countries to compete in the Primal Quest, the richest and toughest multi-sport adventure race in the world: 457 miles through the Sierra Nevada's, nine days, sixty thousand feet of elevation gain, and no time-outs. Averaging only two hours of sleep a night, Erik and his team surged past the finish line on Lake Tahoe, becoming one of the 42 teams to cross the finish line out of the 80 teams that began.

After Erik's Mt. Everest ascent, Braille Without Borders, a school for the blind in Tibet, invited him to teach its students mountaineering and rock climbing. His many climbs gave the teenagers the courage to excel in a culture which affords few opportunities for the blind. Erik and six Everest team members went to Tibet in May 2004 to train the students, then in October led them on a climb to the Rombuk Glacier on the north side of Mt. Everest. Once seen as pariahs, the teenagers ultimately stood together at 21,500-feet., higher than any team of blind people in history. Steven Haft, producer of such blockbusters as Dead Poets' Society, made a documentary on the ascent which opened to standing ovations at the Toronto, L.A., and London Film Festivals. The film will be released theatrically in spring of 2007.

A former middle school teacher and wrestling coach, Erik is one of the most exciting and well-known athletes in the world. Despite losing his vision at the age of 13, Erik has become an accomplished mountain climber, paraglider, and skier, who has never let his blindness interfere with his passion for an exhilarating and fulfilling life. Erik's feats have earned him an ESPY award, recognition by Time Magazine for one of the greatest sporting achievements of 2001, induction into the National Wrestling Hall of Fame, an ARETE Award for the superlative athletic performance of the year, the Helen Keller Lifetime Achievement award, Nike's Casey Martin Award, and the Freedom Foundation's Free Spirit Award. He has also carried the Olympic Torch for both the Summer and Winter Games.

In addition to being a world-class athlete, Erik is also the author of the book, Touch the Top of the World, published in ten countries and six languages. According to Publisher's Weekly, Erik's memoir is "moving and adventure packed, Weihenmayer tells his extraordinary story with humor, honesty and vivid detail, and his fortitude and enthusiasm are deeply inspiring." The book was made into a feature film which aired on A&E in June, 2006.
Erik's second book, The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles Into Everyday Greatness, co-authored with business guru and best selling author, Dr. Paul Stoltz, was released by Simon and Schuster in January, 2007. Through Paul's science and Erik's experience, The book shares seven "summits" for harnessing the power of adversity and turning it into the never-ending fuel to growth and innovation. Steven Covey, author of the best selling business book of all time, wrote the Foreword. Erik has also been published in Time, Forbes, and Reader's Digest.

Erik's award winning film, Farther Than the Eye Can See, shot in the same stunning quality HDTV format as the 'Star Wars' prequels, was ranked in the top twenty adventure films of all time by Men's Journal. Bringing home first prize at 19 film festivals and nominated for two Emmy's, the film beautifully captures the emotion, humor and drama of Erik's historic ascent as well as his team's three other remarkable 'firsts': the first American father/son team to summit, the oldest man to summit, and the most people from one team to reach the top of Everest in a single day. Through screenings, the film has raised over $600,000 for charitable organizations.

Erik's extraordinary accomplishments have gained him abundant press coverage including repeated visits to NBC's Today Show and Nightly News, Oprah, Good Morning America, Nightline, and the Tonight Show to name a few. He has also been featured on the cover of Time, Outside, and Climbing Magazine.

In 1999, Erik joined Mark Wellman - the first paraplegic to climb the 3000-foot face of El Capitan, and Hugh Herr - a double-leg-amputee and scientist at Harvard's prestigious prosthetics Laboratory, to climb an 800-foot rock tower in Moab, Utah. As a result of their successful climb together, the three formed No Barriers, a non-profit organization with a goal of promoting innovative ideas, approaches, and assistive technologies which help people with disabilities push through their own personal barriers to live full and active lives. Erik also serves as a National Braille Literacy Champion on behalf of the American Foundation for the Blind.

Erik's speaking career has taken him around the world, from Hong Kong to Switzerland, from Thailand to the 2005 APEC Summit in Chile. He speaks to audiences on harnessing the power of adversity, the importance of a "rope team," and the daily struggle to pursue your dreams. Clearly, Erik's accomplishments show that one does not have to have perfect eyesight to have extraordinary vision.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 12, 2008

Impossible is Nothing : A True Story of Tony Christiansen

Ketika Tony berusia 9 tahun, pada suatu saat ia membantu ayah temannya untuk mengumpulkan batubara di sebuah desa di Selandia Baru, untuk dinaikkan dan diangkut kereta api. Pada hari yang cerah, dengan hati yang gembira, mereka bertiga bekerja menaikkan batubara itu. Keranjang demi keranjang sudah dinaikkan ke atas gerbong kereta. Entah bagaimana kaki Tony kecil berdiri di atas rel kereta dekat roda-rodanya sembari mengangkat keranjang batubara. Tiba-tiba kereta api bergerak dan kaki Tony tergilas roda besi yang sangat berat itu.

Tony segera dibawa ke Rumah Sakit dan sesampainya di sana kakinya harus diamputasi. "Itupun sudah merupakan suatu keajaiban," kata dokter, karena seharusnya Tony sudah meninggal akibat pendarahan yang hebat dari kaki-kakinya yang hancur terlindas roda besi. Namun entah kenapa ia tetap hidup. Mungkin karena ia masih mempunyai tugas penting dalam hidupnya yang belum tercapai. Atau karena ia akan menjadi orang terkenal yang menginspirasi banyak orang.

Sepulang dari perawatan di Rumah Sakit Tony melanjutkan sekolahnya, tanpa kaki lagi. Dengan uang tunjangan ganti rugi yang diberikan oleh pemerintah karena kecelakaan itu, ayah Tony membuatkan sebuah kolam renang di belakang rumahnya. Tony menyukainya.

Dalam waktu singkat Tony belajar berenang dan mampu melintasi 52 kali bolak balik sepanjang kolam renang itu. Ia berkata, "I was the only 10 year old kid at school who could swim a mile, and I had no legs!" Lalu ia mendaftarkan diri sebagai penyelamat pantai di kotanya. Dan dalam waktu satu tahun ia mendapatkan penghargaan dari Walikota karena menyelamatkan 52 jiwa. Lihat, seorang perenang tanpa kaki menyelamatkan 52 jiwa!

Kemudian Tony belajar olah raga yang lain. Dengan kesuksesan-kesuksesan kecil yang diraihnya, Tony menjadi semakin percaya bahwa ia dapat melakukan apapun yang bisa dilakukan oleh orang lainnya, bahkan orang normal sekalipun.

Selama kariernya di bidang olahraga ia mewakili Selandia Baru dalam perlombaan di seluruh dunia dan mengumpulkan 32 medali emas. Bayangkan pemenang medali emas tanpa kaki di kejuaraan orang-orang normal, bukan olimpiade orang-orang cacat! "Before I had the accident I could have done 10,000 things. I could have been All Black, played Soccer at the World Cup, been a world class cyclist or a downhill skier, but after the accident I could only do 8,000 things of those things." kata Tony masih dengan sikap optimistis.

Tony juga belajar Tae Kwon Do dan mencapai gelar Dan II sabuk hitam. Bagaimana ia menendang tanpa kaki? Dengan kepalanya! Yang jelas ia dapat bermain Tae Kwon Do dan bergelar Dan II pula. "I had that "no fear" attitude and the blind faith in myself that I could do anything. Ten feet tall and bulletproof! Ha ha ha..." katanya dengan yakin.

Ia juga mengikuti kejuaraan balap mobil, dan selain itu ia mampu menerbangkan pesawat secara solo, tanpa pendamping. Dia akhirnya berhasil mendapatkan lisensi sebagai orang tanpa kaki pertama yang terbang sendirian di Selandia Baru dan mendapat lisensi sebagai pilot pribadi. Ia pernah berkata, "Life is like flying an aeroplane. If you don't steer it, you will end up going somewhere you don't want to be."

Tony menikah dengan wanita normal, memiliki tiga orang anak-anak normal, dan hidup bahagia. Bahkan baru-baru ini Tony berhasil mendaki gunung Kilimanjaro sampai di puncak tertingginya. Gunung itu belum tentu dapat didaki oleh kebanyakan orang normal yang kakinya lengkap sekalipun. Namun Tony mampu menaklukkan gunung itu. "Why should the world label me disabled when I have done more in my life than most people will dream of?" kata Tony bangga.

Tony pernah bekerja di suatu perusahaan sebagai painting desainer, yaitu mengecat gedung-gedung dan membuat papan reklame. Ia pernah bercita-cita untuk memiliki perusahaan sendiri pada usia 30 tahun, dan akhirnya ia membeli perusahaan tempat ia bekerja pada usia 27 tahun! Perusahaan itu kini menghasilkan penjualan jutaan dollar. "We all have a capacity for greatness within us. We just have to take all the opportunities and sometimes the risks to reach the next step of the journey towards being the very best we can be." kata Tony menjelaskan bagaimana ia mencapai satu kesuksesan pada kesuksesan lainnya.

Tony tidak berhenti sampai di situ saja. Ia adalah seorang pemenang, yang selalu ingin melakukan segalanya dengan sebaik-baiknya di bidang apapun yang ia tekuni. Pada tahun 1997 Tony menjual perusahaan reklamenya dan memulai jalur karier baru sebagai seorang pembicara motivasi. Tony bercerita keliling dunia tentang masalah, tantangan yang pernah ia hadapi dan bagaimana ia mencapai begitu banyak hal dalam hidupnya. Tony menjadi pembicara inspirasional tingkat dunia. Pada tahun pertama di bisnis ini ia dibooking 50 kali dan selanjutnya secara teratur berbicara di Australia dan Amerika Serikat. Tony telah berbicara kepada banyak pelaku bisnis kelas dunia, termasuk National Speakers Association USA, Million Dollar Round Table, IBM, Telecom New Zealand, Vodaphone, Lotteries Commission, Caltex New Zealand dll. "The world will only give you what you ask for, nothing more, nothing less. Be very sure about what you ask."

Kunci dari keberhasilannya adalah positive attitude-nya. Tidak ada yang mustahil baginya. Baginya, jika kita sudah memiliki sikap yang positif, maka kesuksesan akan lebih mudah untuk diraih. Sebaliknya sikap yang pesimistis akan menghalangi kita mencapai apapun. "If you set goals and try your hardest to succeed, then you will... You should take every opportunity that comes your way." kata Tony meyakinkan.

Tony telah menulis dua buku best seller, yang berjudul "Race You To The Top" dan "Attitude Plus". (Sumber: Tabloid Keluarga edisi no. 37/2008 - diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tidak dihapus ketika anda memforwardnya untuk orang-orang yang anda kasihi.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Andy di Solo. Buku segera dikirim hari Rabu pagi dengan Pos Express. Gbu.

*****

Terima kasih juga kepada Ibu Sisca di Senen Raya - Jakarta, yang telah memesan 2 buku "Mukjizat Kehidupan" untuk dibagikan kepada orang-orang yang dikasihi. Gbu.

Wednesday, October 8, 2008

The Voice

Ada sebuah kisah yang sangat menarik yang terjadi pada Olympiade tahun 2004 yang lalu di Australia. Pada saat itu atlet angkat besi putri Indonesia, Lisa Rumbewas gagal mengangkat barbel untuk yang kedua kalinya. Karena itu wajah Lisa tampak tegang dan gelisah serta ingin menyerah untuk tidak mengangkat barbel untuk yang ketiga kalinya.

Tiba-tiba terdengar suara dari tengah-tengah penonton. "Lisa... Lisa... mama ada di sini." Suara tersebut adalah suara ibu kandung Lisa Rumbewas yang datang secara khusus untuk menemani anaknya. Suara itu seakan-akan menyuntik energi ke dalam diri Lisa dan ia maju untuk mengangkat barbel yang gagal diangkat pada angkatan kedua tadi. Lisa maju dan mengangkat barbel tersebut seakan-akan barbel itu hanya sebuah benda ringan. Hasil angkatan tersebut menobatkan Lisa sebagai peraih mendali perak di Olympiade Australia 2004.

Dalam Mazmur 29, ketika Tuhan memperdengarkan suaranya yang penuh kekuatan, maka hal itu dapat memberikan kekuatan pada umat-Nya. Sudahkah anda mendengar suara-Nya hari ini? (Sumber: AbbaNews)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 12, 2008

Do You Want Me To Pray For You?

Di bawah ini merupakan kesaksian dari pendeta yang kemarin berkotbah di tempat saya. Nama pendetanya Bp Wisnu. Berikut penuturan beliau:

Beberapa waktu yang lalu saya ada pelayanan untuk Youth di daerah Tangerang. Saya naik bis jurusan Tangerang pada siang harinya untuk menuju rumah kakak saya terlebih dulu karena pelayanan tersebut akan berlangsung sore hari. Di dalam bis yang penuh sesak tersebut, masuk pula seorang pengamen cilik usia sekitar 7-8 tahun dengan berbekal kecrekan sederhana (mungkin dari tutup botol) Berbekal alat musik sederhana tersebut, dia nyanyikan lagu "Yesus ajaib, Tuhanku ajaib...." (salah satu lagu Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo) Dan kata-kata tersebut diulang terus menerus. Hampir seluruh penumpang bis memarahi anak tersebut, "Diam kamu! Jangan nyanyi lagu itu lagi. Kalau kamu nggak diam, nanti saya pukul kamu!" Tapi ternyata anak tersebut tidak menanggapi kemarahan mereka dan dengan berani terus menyanyikan lagu tersebut. Saya dalam hati berkata, "Tuhan, anak ini luar biasa. Kalau saya, belum tentu saya bisa dan berani melakukan hal tersebut."

Karena bis akan melanjutkan perjalanan menuju tol berikutnya, di pintu tol menuju Serpong (kalau tidak salah), hampir 3/4 penumpang turun dari bis tersebut. Termasuk saya dan pengamen cilik tersebut. Anak kecil itu didorong hingga akhirnya jatuh. Kemudian dia bangkit lagi. Tapi dia didorong oleh massa hingga terjatuh lagi. Semua penumpang bis mengerumuni anak itu. Saya masih ada di situ dengan tujuan jika kemudian anak tersebut akan ditempeleng atau dihajar, saya akan berusaha untuk menariknya lari menjauhi mereka.

Seluruh kerumunan itu baik pria maupun wanita menjadi marah, "Sudah dibilang jangan nyanyi masih nyanyi terus! Kamu mau saya pukul?" dst, dst. Anak kecil itu hanya terdiam. Setelah amarah mereka mulai mereda, anak kecil itu baru berbicara, "Bapak-bapak, Ibu-Ibu jika mau pukul saya, pukul saja. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Tapi yang Bapak dan Ibu perlu tahu, walaupun saya dipukul atau dibunuh saya tetap akan menyanyikan lagu tersebut." Seluruh kerumunan menjadi terdiam sepertinya mulut mereka terkunci. Kemudian dia melanjutkan, "Sudahlah... . Bapak, Ibu tidak perlu marah-marah lagi. Sini.. saya doakan saja Bapak-Ibu."

Dan apa yang terjadi, seluruh kerumunan itu didoakan satu per satu oleh anak ini. Banyak yang tiba-tiba menangis dan akhirnya mau menerima Tuhan. Saya yang sedari tadi menyaksikan hal tersebut, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tsb. Saya melanjutkan naik mikrolet. Jalanan macet krn kejadian tersebut hingga mikrolet melaju dengan sangat lambat.. Sopir mikroletnya bertanya, " Ada apa sih Pak? Koq banyak kerumunan?" Saya jawab "O.... Itu ada banyak orang didoakan oleh anak kecil."

Di saat mikrolet melaju dengan sangat pelan, tiba-tiba anak kecil pengamen itu naik mikrolet yang sama dengan saya. Saya kemudian bertanya, "Dik, kamu nggak takut dengan orang-orang itu?"

Jawabnya, "Buat apa saya takut? Roh yang ada dalam diri saya lebih besar dari roh apapun di dunia ini", tuturnya mengutip ayat F irman Tuhan. Lanjutnya, "Bapak mau saya doakan?"

Saya terperanjat, "Kamu mau doakan saya?"

Jawabnya, "Ya kalau Bapak mau."

Saya menjawab, "Baiklah. Kamu boleh doakan saya."

Doanya, "Tuhan berkati Bapak ini. Berkati dan urapi Bapak ini jika sore nanti dia akan ada pelayanan Youth."

Sampai di situ, saya tidak bisa menahan air mata yang deras mengalir. Saya tidak peduli lagi dengan penumpang lain yang mungkin menonton kejadian tersebut. Yang saya tahu bahwa Tuhan sendiri yang berbicara pada anak ini, dari mana dia tahu saya akan ada pelayanan Youth sore ini.

Kesaksian ditutup sampai di situ dan dengan satu kesimpulan, jika kita mau, Tuhan bisa pakai kita lebih lagi. Bukan kemampuan tapi kemauan yang Tuhan kehendaki.
~ Kesaksian oleh Pdt. Wisnu, email dikirim oleh Anna. (Diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, September 4, 2008

I Am Here To Finish the Race

Sebuah peristiwa di Mexico City pada tahun 1968 menjadi menarik karena setelah kejuaraan maraton di Olimpiade yang diselenggarakan di kota ini telah berakhir, dan pemenangnya telah diumumkan satu jam sebelumnya, namun ada kehebohan karena John Stephen Akhwari.

Akhwari memasuki stadion dengan beberapa orang penonton tersisa. Mereka bersorak-sorak padahal ia adalah pelari terakhir yang mencapai garis finish. John Stephen Akhwari, pelari asal Tanzania, mengakhiri kompetisi maraton dengan urutan terakhir, dan bahkan jauh tertinggal dari peserta lainnya.

Dalam pertandingan maraton tersebut ia terjatuh di jalan dan lututnya mengalami cedera parah. Sambil tertatih-tatih dan dengan perjuangan berat melawan kesakitannya, ia tetap melanjutkan perlombaan itu sampai garis finish.

Setelah melewati garis finish, beberapa penonton bertepuk tangan dan memberikan apresiasi untuk John Stephen Akhwari. Salah seorang wartawan bertanya, "Mengapa anda tidak meninggalkan pertandingan itu karena alasan cedera?"

Walaupun ia sempat bingung dengan pertanyaan itu, ia menjawab, "Negaraku tidak mengirim aku ke Mexico City ini untuk memulai pertandingan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikan pertandingan." (Fendy)

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis finish dan aku telah memelihara iman." (Paulus)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, September 3, 2008

From the Street To the Stage

Ajeng Astiani: Dari Pengamen Jalanan Menuju Ajang Mamamia Show

Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Begitu pula perjalanan hidup Ajeng Astiani. Jika dulunya ia biasa mentas di atas bis kota dengan mengamen, kini jutaan pemirsa layar kaca menjadi saksi bahwa Ajeng memiliki bakat menyanyi yang lumayan.

Kehadiran Ajeng, seorang pengamen jalanan dalam ajang pencarian bakat tingkat nasional "Mamamia Show" memang memberikan warna tersendiri. Ajeng menjadi pendobrak keberanian di kalangan pengamen untuk tampil berkompetisi di depan publik.

Ajeng telah membuktikan bahwa pengamen jalananpun memiliki bakat yang tak kalah bagus dibandingkan dengan mereka yang hidup berkecukupan. Dan lewat ajang pencarian bakat itulah kini dara kelahiran tahun 1994 ini berhasil mengangkat status ekonomi keluarga. Ajeng, yang dulunya naik turun bis kota untuk mengais rejeki, kini sudah memiliki mobil sendiri. Bahkan ia juga memiliki rumah singgah untuk anak-anak jalanan.

Sayang Orang Tua
Di mata orangtuanya, Ajeng merupakan anak yang menyenangkan dan membanggakan. Ia dikenal sebagai anak yang riang, tak pernah mengeluh. Apalagi sejak kecil ia sudah mengalami pahit getirnya kehidupan. Herry, papanya, tak bisa bekerja karena sakit keras. Terpaksa mama Cindy berjualan dengan modal seadanya. Sayang sekali usaha itu bangkrut.

Ketika duduk di kelas 3 SD orangtuanya diusir dari rumah kontrakan lantaran tak mampu membayar. Dan hampir setiap hari ada saja penagih utang yang dengan kasar meneror orangtuanya.

Beratnya beban ekonomi keluarga inilah yang membuat Ajeng bertekad untuk mencari uang sendiri dengan cara mengamen.

Setiap pagi Ajeng keluar rumah untuk “ngamen” bersama mamanya. Ngamennya di dalam bis kota. Sehari ia bisa mengamen di dalam 40 bis, lumayan hasilnya, bisa untuk makan sekeluarga. Dalam sehari Ajeng bisa mendapatkan uang sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 100.000,-.

Seiring dengan rutinitas ngamennya ini, bangku sekolah mulai ditinggalkan Ajeng. Selama empat tahun dirinya berhenti bersekolah dan praktis hari-harinya diisi dengan kegiatan mencari nafkah. Karena sering pulang malam, sebagai seorang ibu, Cindy tidak tega membiarkan Ajeng. Apalagi putrinya mulai beranjak remaja. Takut kalau-kalau ada hal buruk yang akan menimpa Ajeng, maka Cindy pun memutuskan untuk menemani Ajeng mengamen.

“Mama sudah tidak tahu lagi mau usaha apa, karena itu mama mengijinkan Ajeng mengamen. Kalau mama yang mengamen, adik-adik Ajeng tidak ada yang jaga,” tutur Cindy.

Rutinitas tersebut dijalani Ajeng dengan senang hati. Ia tidak berkeluh kesah, hingga pada suatu hari Tuhan membuka jalan yang tak pernah mereka pikirkan.

“Pada suatu hari ketika Ajeng mengamen, ada seorang ibu, penumpang bis jurusan Grogol Kampung Rambutan, memberikan formulir pendaftaran Mamamia Show di Stasiun TV Indosiar. Semula Ajeng enggan, karena ia merasa minder bersaing dengan orang-orang yang hidupnya berkecukupan. Namun ibu yang baik hati itu terus mendesaknya, sehingga Ajeng mengisi formulir itu.

Memulihkan Keluarga
Penampilan Ajeng dalam kompetisi Mamamia memberikan keberuntungan tersendiri bagi keluarga. Banyak pihak mulai menawarkan kerjasama, terutama menjadi sponsor. “Beberapa orang yang tak dikenal kini mulai menawarkan bantuan. Ada orang yang datang membawa uang, ada yang langsung membawa barang, dan dan ada pula yang membawa uang sambil menjanjikan akan membawa uang lagi kalau masih diperlukan.” demikian pengakuan Cindy.

Selain mendapatkan perlakuan istimewa, keluarga Ajeng juga mendapatkan keberuntungan yang lain. Icha, kakak sulung Ajeng yang selama ini meninggalkan mereka, kini kembali ke dalam keluarga.

"Icha, anak sulung kami datang bersama dengan seorang cucu. Hati saya yang semula keras dan penuh dendam, dalam sekejap mencair. Masalah lama seperti terlupakan,” ungkap Cindy yang kini menjadi manajer Ajeng. Ternyata Ajeng tidak hanya memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi ia juga berhasil memulihkan keluarganya. Bersatunya kembali sebuah keluarga yang sudah lama terpisah merupakan berkat Tuhan.

“Saya merasakan bahwa doa saya selama ini sudah terkabul. Anak sulung kami yang menghilang selama tiga tahun, akhirnya kembali. Dan Tuhan melalui Ajeng telah membuka jalan ke arah kehidupan yang lebih baik, tidak seperti kedua orangtuanya,” papar Cindy.

Selain Icha dan Ajeng, Herry dan Cindy masih memiliki empat orang anak lagi: Julio 8 tahun, Bagus 5 tahun, Aji 2,5 tahun, dan Cantika 1 tahun. Cantika kini diasuh oleh ibu angkatnya.

Peduli Anak Jalanan
Ajeng, sang biduanita jalanan, kini sudah menjadi artis ibukota. Dara kelahiran November 1994 ini mengatakan bahwa meskipun ia kini sudah menjadi artis penyanyi, ia tidak akan melupakan komunitas pengamen jalanan. Sebagai bukti, ia menggelar acara jumpa fans yang mengundang anak-anak jalanan pada pertengahan bulan Juni lalu. Ia memberikan suatu motivasi kepada para pengamen itu untuk mengikuti jejaknya, berprestasi di ajang musik Indonesia.

“Saya melakukan semua ini demi tanda cinta kasih sayangku kepada teman-teman pengamen. Mereka masih bergumul sebagai pengamen dengan kerasnya kehidupan ibukota,” tegas Ajeng.

Dengan didampingi papa dan mamanya, Ajeng mendirikan “Tenda Ajeng Mamamia” di perempatan Cempaka Putih, di seberang ITC Cempaka Mas. “Setiap Kamis siang dan Jumat sore aku dan keluargaku melakukan pelayanan kepada 168 teman-teman pengamen,” ucap Ajeng.

Penggemar “3 Diva” dan Beyonce ini menambahkan bahwa saat ini ia dan manajemennya sedang membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan, sedangkan dana untuk pembangunan rumah itu berasal dari hasil menyanyi.

“Yang jelas, aku mau menjadi berkat bagi para pengamen yang adalah saudara-saudaraku. Aku bersyukur bahwa Tuhan Yesus sudah menjawab doa-doaku,” ujar dara berwajah hitam manis ini.

Untuk ke depan, Ajeng ingin mengasah bakat nyanyinya. Ia ingin menjadi penyanyi profesional, dan ia telah meluncurkan album rohani pertama, yang berjudul "My Story".

Ajeng juga ingin melanjutkan sekolahnya. “Aku sekarang berumur 14 tahun dan seharusnya sudah duduk di bangku SMA. Tetapi karena aku dulu sempat berhenti sekolah, jadi sekarang aku baru lulus SD. Bagi Ajeng tidak ada kata “terlambat” untuk sekolah,” tuturnya dengan senyum tersungging. Puji Tuhan!
(Pertama kali naskah ini diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 3 September 2008, dengan sumber dari Tabloid Keluarga edisi 33 tahun 2008 - mohon agar keterangan ini tidak dihapus ketika anda memforwardnya.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 27, 2008

God Can Use You

The next time you feel like GOD can't use you, just remember...

Noah was a drunk

Abraham was too old

Isaac was a daydreamer

Jacob was a liar

Leah was ugly

Joseph was abused

Moses had a stuttering problem

Gideon was afraid

Samson had long hair and was a womanizer

Rahab was a prostitute

Jeremiah and Timothy were too young

David had an affair and was a murderer

Elijah was suicidal

Isaiah preached naked

Jonah ran from God

Naomi was a widow

Job went bankrupt

Peter denied Christ

The Disciples fell asleep while praying

Martha worried about everything

The Samaritan woman was divorced, more than once

Zaccheus was too small

Paul was too religious

Timothy had an ulcer..AND

Lazarus was dead!


Now! No more excuses!

God can use you to your full potential.

Besides you aren't the message, you are just the messenger.


1. God wants spiritual fruit, not religious nuts.

2. Dear God, I have a problem, it's Me.

3. Growing old is inevitable .. growing UP is optional.

4. There is no key to happiness. The door is always open.

5. Silence is often misinterpreted but never misquoted.

6. Do the math .. count your blessings.

7. Faith is the ability not to panic.

8. Laugh every day, it's like inner jogging.

9. If you worry, you didn't pray . If you pray, don't worry!

10. As a child of God, prayer is kind of like calling home everyday.

11. Blessed are the flexible for they shall not be bent out of shape.

12. The most important things in your house are the people.

13. When we get tangled up in our problems, be still!
God wants us to be still so He can untangle the knot.

14. A grudge is a heavy thing to carry.

15. He who dies with the most toys is still dead.

Have a blessed day!!! The SON is shining and He can certainly use you!


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 21, 2008

Stuart Hamblin: The Story Behind the Song: "Tak Tersembunyi Kuasa Allah"

Stuart Hamblin
Dahulu di tahun 1950-an ada seorang penyiar radio, pelawak, dan penulis lagu di Hollywood, yang bernama Stuart Hamblin. Ia dikenal karena peminum, suka gonta-ganti wanita, suka pesta pora, dan lain-lain. Salah satu lagu hits-nya pada waktu itu adalah "Aku Tidak Mau Pergi Berburu Denganmu Jake, Tapi Aku Pergi Berburu Cewek".

Pada suatu hari seorang pengkhotbah muda mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di tenda. Hamblin mengajaknya ikut siaran di acara radionya untuk mengolok-olok dia. Untuk mengumpulkan informasi lebih banyak untuk acaranya, Hamblin menghadiri salah satu acara KKR itu.

Pada awal acara ibadah itu sang pengkhotbah mengumumkan, “Di sini ada seorang pria yang hidupnya penuh kepalsuan.” Mungkin saja ada orang-orang lain yang merasa hal yang sama, namun Hamblin merasa yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud pengkhotbah itu (beberapa orang menganggapnya ia tertempelak), namun ia tak bertobat.

Perkataan itu terus menghantuinya sampai beberapa malam kemudian, sehingga ia muncul di depan pintu kamar hotel pengkhotbah itu dalam keadaan mabuk pada sekitar jam 2 pagi, meminta agar pengkhotbah itu berdoa baginya. Namun pengkhotbah itu menolak, sambil berkata, “Ini adalah urusan anda dengan Tuhan dan saya tidak ingin mencampuri.” Meskipun demikian pengkhotbah ini mempersilakan Hamblin masuk ke kamar hotelnya dan mereka berbicara sampai jam 5 pagi, hingga Stuart bertekuk lutut di hadapan Tuhan dan menangis, berseru kepada Allah.

Itu bukanlah akhir kisahnya. Sejak saat itu Stuart berhenti meminum minuman keras, berhenti mengejar-ngejar wanita, berhenti melakukan segala hal yang “fun”. Segera ia mulai tidak disukai oleh lingkungan Hollywood.

Akhirnya ia dipecat dari stasiun radio itu ketika ia menolak perusahaan bir menjadi sponsor. Ia mengalami masa yang sukar. Ia mencoba menulis beberapa lagu “Kristen”, namun yang meraih sukses hanya lagu “This Old House”, yang digubah untuk temannya, Rosemary Clooney.

Sementara ia terus bergumul, seorang sahabat lamanya, John, menemuinya dan berkata kepadanya, “Semua kesulitan ini dimulai ketika engkau menemukan “agama”. Apakah hal itu layak untuk ditukarkan dengan semuanya?” Stuart berkata sejujurnya, “Ya.”

Kemudian sahabatnya ini bertanya, ”Dahulu engkau sangat menyukai minuman keras, apakah tidak pernah kepingin lagi?” Dan jawaban Stuart, “Tidak!” Lalu John berkata lagi, “Aku tidak mengerti bagaimana engkau bisa berhenti minum dengan mudah.”

Dan jawaban Stuart adalah, “Itu bukan rahasia besar. Segalanya mungkin bersama Allah.” Atas jawaban ini John berkata, “Nah, itu adalah perkataan yang menarik. Engkau harus menulis sebuah lagu tentang hal itu.”

Dan seperti orang bilang, “Selebihnya kemudian menjadi sebuah sejarah.” Lagu yang digubah Stuart adalah “It Is No Secret” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Tak Tersembunyi Kuasa Allah.” Lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang.

"Tak tersembunyi, kuasa Allah
Yang lain ditolong, saya juga
Tangan-Nya terbuka, menunggulah
Tak tersembunyi, kuasa Allah."

Ngomong-ngomong, sahabat Stuart itu adalah John Wayne. Dan pengkhotbah muda yang menolak mendoakan Stuart Hamblin? Dialah …Billy Graham! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya)

*****

STUART HAMBLIN
Back in the 1950's there was a well known radio host/comedian/song writer in Hollywood named Stuart Hamblin who was noted for his drinking, womanizing, partying, etc. One of his bigger hits at the time was "I won't go hunting with you Jake, but I'll go chasing women."

One day, along came a young preacher holding a tent revival. Hamblin had him on his radio show presumably to poke fun at him. In order to gather more material for his show, Hamblin showed up at one of the revival meetings.

Early in the service the preacher announced, "There is one man in this audience who is a big fake." There were probably others who thought the same thing, but Hamblin was convinced that he was the one the preacher was talking about (some would call that conviction) but he was having none of that.

Still the words continued to haunt him until a couple of nights later he showed up drunk at the preacher's hotel door around 2AM demanding that the preacher pray for him!

But the preacher refused, saying, "This is between you and God and I'm not going to get in the middle of it." But he did invite Stuart in and they talked until about 5 AM at which point Stuart dropped to his knees and with tears, cried out to God.

But that is not the end of the story. Stuart quit drinking, quit chasing women, quit everything that was 'fun.' Soon he began to lose favor with the Hollywood crowd. He was ultimately fired by the radio station when he refused to accept a beer company as a sponsor. Hard times were upon him. He tried writing a couple of "Christian" songs but the only one that had much success was "This Old House", written for his friend Rosemary Clooney.

As he continued to struggle, a long time friend named John took him aside and told him, "All your troubles started when you 'got religion,' Was it worth it all?" Stuart answered simply, "Yes." Then his friend asked, "You liked your booze so much, don't you ever miss it?" And his answer was, "No." John then said, "I don't understand how you could give it up so easily." And Stuart's response was, "It's no big secret. All things are possible with God." To this John said, "That's a catchy phrase. You should write a song about it."

And as they say, "The rest is history." The song Stuart wrote was "It Is No Secret." The song has blessed many people since then.

"It is no secret what God can do.
What He's done for others, He'll do for you.

With arms wide open, He'll welcome you.
It is no secret, what God can do ..."

By the way ... the friend was John Wayne. And the young preacher who refused to pray for Stuart Hamblin? ... That was Billy Graham.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 7, 2008

A Life Full of Impact: A Success Story of Dean Kamen

Ketika Dean Kamen berusia lima tahun, ia suka membangunkan ayahnya, seorang ilustrator profesional, di tengah malam untuk menggambar ide-ide yang diperolehnya. Kamen tidak pernah kekurangan ide. Di usia 15 ia memutuskan untuk menjadikan salah satu konsepnya untuk diwujudkan dalam bentuk konkrit. Dengan menggunakan beberapa ratus dollar untuk membeli beberapa komponen elektronik, ia membuat sebuah "Control Board" atau Papan Kendali yang dipakai untuk mengatur lampu dan suara dalam setiap pertunjukan.

"Itulah papan otomatis pertama yang menggantikan kerja selusin pekerja yang mengatur tombol dan tuas di dalam auditorium," kata Kamen. Ia menjual produk itu beberapa ribu dollar kepada Hayden Planetarium di New York City. Di tahun berikutnya Kamen berhenti bekerja dari pekerjaan sambilan di musim panas untuk membuat papan kendali temuannya, dan berhasil menjual lusinan. Itu memberinya banyak uang, padahal ia masih di SMA. Ia menggunakan sebagian besar uang itu untuk memperbesar bengkel kerjanya untuk mendukung penemuan-penemuannya.

Sekarang ini di usia awal lima puluhan, Kamen sudah menjadi seorang multi jutawan. Dan berkat penemuannya baru-baru ini, yaitu Segway, sarana transportasi pribadi beroda dua yang bisa seimbang sendiri, bebas dari polusi, ia menjadi semakin terkenal. Kamen disebut "penemu terbesar yang masih hidup di Amerika Serikat" dan disebut "Pied Piper of Technology". Ia memegang lebih dari 150 hak paten, telah menerima berbagai gelar doktor kehormatan, dan telah dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk "National Medal of Technology" dari Presiden Amerika Serikat. Tidak banyak orang yang dapat mengklaim sukses lebih besar dari Kamen.

Bukan sukses yang dikejar Kamen, tetapi kehidupan bermakna yang penuh dampak bagi banyak orang. Itulah sebabnya ia juga menemukan alat-alat bantuan medis, seperti AutoSyringe, suatu alat yang dapat menginjeksikan obat dalam dosis yang tepat, dalam waktu tertentu secara teratur dan dapat dibawa kemana-mana. Hal ini membebaskan banyak orang agar tidak terikat di rumah atau ke RS ketika harus teratur diinjeksi insulin bagi penderita diabetes, misalnya. Ia juga menemukan mesin cuci darah yang dapat dibawa kemana-mana, sangat portabel. Juga ia menemukan kursi roda yang dapat naik dan turun melewati tangga serta membuat penggunanya dapat berada pada posisi sama tinggi dengan lawan bicaranya.

Temuan-temuan Kamen terus memberi dampak positif yang sangat besar bagi sesamanya. Itulah yang Tuhan mau dalam kehidupan kita. A life full of impact to others...
Sumber: John C. Maxwell, "The Journey From Success To Significance", 2004, Terbitan Dalam Bahasa Indonesia oleh Interaksara.
****

Baru Terbit!!!
Buku "5 Pilar Kepemimpinan"
Penulis: Paul J. Meyer dan Randy Slechta
Penerjemah: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel / Adonai
Edisi: Juli 2008
Isi: 222 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga Rp. 55.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.

Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.

Komentar Dr. John C. Maxwell:
"Pada usia 25 tahun, Paul J. Meyer dan SMI (Success Motivation Institute) telah memberikan suatu dampak penting bagi perkembangan kepemimpinan yang saya miliki. Buku ini akan menjembatani kesenjangan kepemimpinan bagi anda."

Komentar Kenneth H. Cooper:
"Buku ini wajib dibaca setiap orang yang ada dalam posisi kepemimpinan, tanpa memandang tingkatan tanggung jawabnya. Bila anda ingin mencapai kesuksesan dan pencapaian yang maksimum dalam hidup, buku ini bisa menolong."

Komentar Paul R. Brown (Presiden dan CEO Leadership Dynamics Inc.):
"Paul J. Meyer memiliki kejeniusan untuk menyederhanakan teori-teori yang rumit menjadi langkah-langkah tindakan yang jelas dan mudah dimengerti serta praktis. Buku ini menyediakan jalan bagi kepemimpinan, kesuksesan, dan pencapaian yang lebih besar dalam kehidupan ini."

Buku ini akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan anda secara mendasar dan menghasilkan kehidupan yang seimbang dalam Keluarga, Keuangan, Mental, Fisik, Sosial dan Spiritual.

TENTANG PAUL J. MEYER:
Ia telah menulis 24 program besar di bidang penjualan, motivasi, penyusunan sasaran, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan, dengan total penjualan gabungan di 60 negara dan dalam 20 bahasa sebesar lebih dari US$ 2 milyar, lebih banyak dibandingkan dengan penulis-penulis lain di sepanjang sejarah. Ia mendirikan Success Motivation Institute (SMI) pada tahun 1960 dan dipandang oleh banyak orang sebagai pelopor industri pengembangan diri.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI