Kisah hidup Regina ternyata begitu berat & mengharukan, benar-benar sebuah perjuangan hidup sejak dia kecil. Sewaktu kecil dia pernah mengalami kecelakaan. Regina, ibu dan adiknya selamat, sedangkan ayahnya meninggal dunia.
Regina mengalami patah kaki sampai harus operasi dua kali.
Ibunya menikah lagi, tapi kemudian ayah tirinya juga meninggal dunia.
Karena tertipu investasi, ibunya harus menggadaikan rumah,
sampai akhirnya rumahnya dijual dan membeli rumah kecil yang sekarang dia tempati bersama ibu & dua orang adiknya.
Demi mencukupi kebutuhan hidup, Regina sejak kelas 1 SMU menyanyi di kafe.
Kehidupan sehari-harinya juga mengandalkan bantuan dari saudara-saudara ibunya dan setiap bulan mereka mendapat paket sembako dari gereja.
Seperti kita ketahui, Regina gagal mengikuti Indonesian Idol sampai 6 kali. Tapi, dia tidak putus asa, berjuang terus sampai ke-7 kalinya dia berhasil.
"The winner sees an answer for every problem.
The looser sees the problem in every answer".
"Seorang pemenang slalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah,
Sedang seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban."
TUHAN menguji kesabarannya selama 6 tahun, TUHAN menempa mentalnya dan TUHAN membuat indah pada waktu-NYA.
Keberhasilan Regina di Indonesian Idol adalah jawaban TUHAN atas kesabaran dan perjuangannya, terlebih atas doa-doanya.
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
tetapi TUHANlah yg menentukan arah langkahnya.
Regina menjadi Indonesian Idol 2012 yang nantinya akan di ikut-sertakan dalam ajang Asian Idol.
"KEMENANGAN ADALAH MILIK ORANG-ORANG YANG BERDOA DAN BERJUANG!!"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Showing posts with label Perjuangan Hidup - Life Struggle. Show all posts
Showing posts with label Perjuangan Hidup - Life Struggle. Show all posts
Wednesday, July 11, 2012
Thursday, June 7, 2012
Tae Ho Story
Tae Ho Story
Tae Ho adalah bocah Korea umur 13 tahun (pada tahun 2012) yang tidak mempunyai kedua lengan, hanya mempunyai empat jari di kedua kakinya. Ia ditinggalkan orang tuanya begitu saja sejak bayi dan sangat mengharukan melihat perjuangannya untuk mandiri. Dia tetap bisa berpikir positif, mempunyai kemauan kuat untuk tidak meminta pertolongan orang lain untuk memakai dan melepaskan baju, menyikat gigi, makan, menyisir rambut, semuanya dilakukan dengan kedua kakinya. Mirip dengan Nick Vujicic.
Seharusnya kita banyak mengucap syukur kepada Tuhan atas kehidupan kita.
Lihat videonya di:
http://www.youtube.com/watch_popup?v=BfL2U0BJ48g&vq=medium#t=81
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Vivi di Jakarta Pusat. Buku sudah dikirim via Pos Express hari ini, besok mungkin sudah sampai. Gbu.
Tae Ho adalah bocah Korea umur 13 tahun (pada tahun 2012) yang tidak mempunyai kedua lengan, hanya mempunyai empat jari di kedua kakinya. Ia ditinggalkan orang tuanya begitu saja sejak bayi dan sangat mengharukan melihat perjuangannya untuk mandiri. Dia tetap bisa berpikir positif, mempunyai kemauan kuat untuk tidak meminta pertolongan orang lain untuk memakai dan melepaskan baju, menyikat gigi, makan, menyisir rambut, semuanya dilakukan dengan kedua kakinya. Mirip dengan Nick Vujicic.
Seharusnya kita banyak mengucap syukur kepada Tuhan atas kehidupan kita.
Lihat videonya di:
http://www.youtube.com/watch_popup?v=BfL2U0BJ48g&vq=medium#t=81
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Vivi di Jakarta Pusat. Buku sudah dikirim via Pos Express hari ini, besok mungkin sudah sampai. Gbu.
Tuesday, February 15, 2011
Pertolongan Tepat Pada Waktunya - In Time Help of the Lord
Kisah ini saya dengar hari Minggu 13 Februari 2011. Pdt. Yosia Abdisaputra mengisahkan ada satu keluarga yang sedang dirundung malang. Sang suami tidak bekerja lagi, dan dia terjerat utang yang besar karena kesulitan ekonomi. Tidak ada harapan bagi keluarga ini. Sudah berkali-kali dia meminta pertolongan pekerjaan ke sana dan kesini, namun semua orang menjauhi dia, takut diminta pinjaman. Dia mempunyai 2 anak yang masih kecil-kecil, membutuhkan biaya besar untuk membesarkan mereka, namun saat itu ia tidak berdaya, tidak ada uang pemasukan untuk menopang kehidupan keluarganya. Akhirnya dia berunding dengan istrinya...untuk melakukan bunuh diri bersama. Jika ia bunuh diri sendiri, bagaimana dengan anak istrinya?
Mereka sepakat untuk bunuh diri di Puncak. Berempat mereka berangkat menyewa satu villa di Puncak. Perlengkapan bunuh diri, yaitu racun serangga, sudah disiapkan. Sebelum minum racun itu bersama-sama, sang suami teringat pada Tuhan Yesus, sehingga ia mengajak mereka berdoa terlebih dahulu sebelum bunuh diri. Ia memimpin doa dan berkata, "Tuhan Yesus, saya tahu bahwa kami tidak boleh bunuh diri, tetapi kami tidak sanggup melanjutkan kehidupan kami. Jalan kami buntu. Saya tidak punya uang untuk membayar utang-utang saya. Saya tidak punya pekerjaan, tidak punya bisnis, untuk menghidupi keluarga saya. Ampuni kami, Tuhan...." Ketika ia mengangkat gelas berisi racun itu dan akan meminum racun itu, tiba-tiba seperti ada petir menyambar gelas itu sehingga gelas itu pecah berantakan dan cairan racun itu tumpah ke lantai. Keluarga ini kaget bukan kepalang dan mereka menangis sejadi-jadinya. "Tuhan, ampuni kami!" Ternyata Tuhan tidak berkenan atas keputus-asaan mereka. Kasih Tuhan melarang mereka mencari jalan keluar dengan minum racun serangga. Kasih Tuhan terlalu besar membiarkan anak-anaknya berputusa asa. Sejak itu, sang suami tahu bahwa Tuhan pasti buka jalan, pasti akan menolong dengan cara yang ajaib. Benar saja, sejak itu ada seorang teman yang memberi pekerjaan, order untuk dikerjakan orang ini. Dan singkat cerita, akhirnya seluruh utang-utangnya dapat dilunasi dan keluarga ini hidup normal dalam berkat dan kasih karunia Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com
Mereka sepakat untuk bunuh diri di Puncak. Berempat mereka berangkat menyewa satu villa di Puncak. Perlengkapan bunuh diri, yaitu racun serangga, sudah disiapkan. Sebelum minum racun itu bersama-sama, sang suami teringat pada Tuhan Yesus, sehingga ia mengajak mereka berdoa terlebih dahulu sebelum bunuh diri. Ia memimpin doa dan berkata, "Tuhan Yesus, saya tahu bahwa kami tidak boleh bunuh diri, tetapi kami tidak sanggup melanjutkan kehidupan kami. Jalan kami buntu. Saya tidak punya uang untuk membayar utang-utang saya. Saya tidak punya pekerjaan, tidak punya bisnis, untuk menghidupi keluarga saya. Ampuni kami, Tuhan...." Ketika ia mengangkat gelas berisi racun itu dan akan meminum racun itu, tiba-tiba seperti ada petir menyambar gelas itu sehingga gelas itu pecah berantakan dan cairan racun itu tumpah ke lantai. Keluarga ini kaget bukan kepalang dan mereka menangis sejadi-jadinya. "Tuhan, ampuni kami!" Ternyata Tuhan tidak berkenan atas keputus-asaan mereka. Kasih Tuhan melarang mereka mencari jalan keluar dengan minum racun serangga. Kasih Tuhan terlalu besar membiarkan anak-anaknya berputusa asa. Sejak itu, sang suami tahu bahwa Tuhan pasti buka jalan, pasti akan menolong dengan cara yang ajaib. Benar saja, sejak itu ada seorang teman yang memberi pekerjaan, order untuk dikerjakan orang ini. Dan singkat cerita, akhirnya seluruh utang-utangnya dapat dilunasi dan keluarga ini hidup normal dalam berkat dan kasih karunia Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, August 15, 2009
Things I Cannot Understand
Perkara-Perkara Yang Tak Kupahami
“Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” (Ayub 42:3)
Jika ada satu orang di bumi yang paling mempunyai alasan untuk mempertanyakan kasih Allah, dialah Ayub. Dia kehilangan seluruh anak-anaknya, kekayaannya, dan kesehatannya – semua pada saat yang hampir bersamaan. Sahabat-sahabatnya datang ke sisinya hanya untuk menyelidiki kondisi kerohanian Ayub. Allah sudah menjawab pertanyaan tentang integritas Ayub. Ayub disebutkan dalam ayat pembukaan dari kitab itu sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Lihat Ayub 1:1). Malapetaka yang menimpa dia bukan terjadi akibat dosanya. Ayub mengakui hak Allah untuk melakukan apapun dalam kehidupannya sampai suatu hari dia tidak tahan lagi. Ayub mempertanyakan maksud-maksud Allah mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam hidupnya.
Allah menjawab Ayub, namun bukan dengan cara yang ingin didengar Ayub. Allah menjawabnya dengan serangkaian pertanyaan yang menunjukkan rangkaian koreksi yang luar biasa oleh Allah terhadap manusia. Tiga pasal kemudian, Ayub menyadari bahwa dia telah keliru mempertanyakan maksud-maksud sang Maha Pencipta Semesta, Pencipta Kasih. Ayub jatuh tersungkur di kaki sang Pencipta dan menyadari seluruh kekeliruannya. “Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” kata Ayub.
Apakah Anda pernah mempertanyakan perbuatan-perbuatan Allah dalam kehidupanmu? Apakah Anda pernah mempertanyakan kasih-Nya bagi Anda hanya berdasarkan keadaan-keadaan yang menimpa kehidupanmu? Salib di Kalvari menjawab pertanyaan kasih Allah terhadap Anda. Dia mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosamu. Jika seandainya saja Anda adalah satu-satunya orang di muka bumi ini, Dia akan tetap mau mati di kayu salib bagi Anda seorang. Jalan-jalan-Nya tak selalu dapat dipahami atau dicocokkan dengan pikiran kita dalam keterbatasan otak kita. Ada hal-hal yang hanya ada di masa mendatang ketika semuanya dapat kita mengerti. Sementara itu, untuk masa kini, percayakanlah kehidupanmu sepenuhnya kepada Dia. Berpeganganlah kepada-Nya di masa sukar atau dalam keadaan semua baik-baik saja. Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 15 Agustus 2009.
*****
Things I Cannot Understand
"Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know." Job 42:3b
If there was any one man on earth who had reason to question God's love, it was Job. He lost his family, his health, and his wealth - all at the same time. His friends came to his side only to question his spirituality. God had already answered the question of his integrity. Job was described in the opening verses of the book as "blameless and upright" (see Job 1:1). His calamities were not born from sin. Job acknowledged God's right to do anything in his life until one day he could take it no longer. He questioned God's motives.
God answered Job, but not in the way he wanted to hear. God answered him with a series of questions that represents the most incredible discourse of correction by God to any human being. Three chapters later, Job realized that he had questioned the motives of the Author of the universe, the Author of love. He fell flat before his Creator and realized his total depravity. "Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know."
Have you ever questioned God's activity in your life? Have you questioned His love for you based on circumstances that came your way? The cross at Calvary answers the love question. He sent His own Son in replacement for your sin. If you were the only person on earth, He would have done the same. His ways cannot always be understood or reconciled in our finite minds. That must be left for a future time when all will be understood. For now, entrust your life to Him completely. Embrace Him in the hard times and the good. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
“Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” (Ayub 42:3)
Jika ada satu orang di bumi yang paling mempunyai alasan untuk mempertanyakan kasih Allah, dialah Ayub. Dia kehilangan seluruh anak-anaknya, kekayaannya, dan kesehatannya – semua pada saat yang hampir bersamaan. Sahabat-sahabatnya datang ke sisinya hanya untuk menyelidiki kondisi kerohanian Ayub. Allah sudah menjawab pertanyaan tentang integritas Ayub. Ayub disebutkan dalam ayat pembukaan dari kitab itu sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Lihat Ayub 1:1). Malapetaka yang menimpa dia bukan terjadi akibat dosanya. Ayub mengakui hak Allah untuk melakukan apapun dalam kehidupannya sampai suatu hari dia tidak tahan lagi. Ayub mempertanyakan maksud-maksud Allah mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam hidupnya.
Allah menjawab Ayub, namun bukan dengan cara yang ingin didengar Ayub. Allah menjawabnya dengan serangkaian pertanyaan yang menunjukkan rangkaian koreksi yang luar biasa oleh Allah terhadap manusia. Tiga pasal kemudian, Ayub menyadari bahwa dia telah keliru mempertanyakan maksud-maksud sang Maha Pencipta Semesta, Pencipta Kasih. Ayub jatuh tersungkur di kaki sang Pencipta dan menyadari seluruh kekeliruannya. “Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” kata Ayub.
Apakah Anda pernah mempertanyakan perbuatan-perbuatan Allah dalam kehidupanmu? Apakah Anda pernah mempertanyakan kasih-Nya bagi Anda hanya berdasarkan keadaan-keadaan yang menimpa kehidupanmu? Salib di Kalvari menjawab pertanyaan kasih Allah terhadap Anda. Dia mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosamu. Jika seandainya saja Anda adalah satu-satunya orang di muka bumi ini, Dia akan tetap mau mati di kayu salib bagi Anda seorang. Jalan-jalan-Nya tak selalu dapat dipahami atau dicocokkan dengan pikiran kita dalam keterbatasan otak kita. Ada hal-hal yang hanya ada di masa mendatang ketika semuanya dapat kita mengerti. Sementara itu, untuk masa kini, percayakanlah kehidupanmu sepenuhnya kepada Dia. Berpeganganlah kepada-Nya di masa sukar atau dalam keadaan semua baik-baik saja. Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 15 Agustus 2009.
*****
Things I Cannot Understand
"Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know." Job 42:3b
If there was any one man on earth who had reason to question God's love, it was Job. He lost his family, his health, and his wealth - all at the same time. His friends came to his side only to question his spirituality. God had already answered the question of his integrity. Job was described in the opening verses of the book as "blameless and upright" (see Job 1:1). His calamities were not born from sin. Job acknowledged God's right to do anything in his life until one day he could take it no longer. He questioned God's motives.
God answered Job, but not in the way he wanted to hear. God answered him with a series of questions that represents the most incredible discourse of correction by God to any human being. Three chapters later, Job realized that he had questioned the motives of the Author of the universe, the Author of love. He fell flat before his Creator and realized his total depravity. "Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know."
Have you ever questioned God's activity in your life? Have you questioned His love for you based on circumstances that came your way? The cross at Calvary answers the love question. He sent His own Son in replacement for your sin. If you were the only person on earth, He would have done the same. His ways cannot always be understood or reconciled in our finite minds. That must be left for a future time when all will be understood. For now, entrust your life to Him completely. Embrace Him in the hard times and the good. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 14, 2009
Life Is About Decision
Saya lahir di kota Solo, kota kecil yang tenang dan damai, dan dibesarkan dalam keluarga Kristen yang cukup harmonis. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Saya dimanja lebih dari kedua kakak laki-laki saya. Hal itu membuat saya menjadi anak yang manja, keras kepala dan egois.
Singkat cerita, kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku SMP. Papa yang sedang berada di puncak kariernya tiba-tiba berubah drastis. Papa yang tidak pernah kasar dan selalu menyayangi keluarga, tiba-tiba menjadi pemarah dan jarang pulang ke rumah. Maka mama yang menjadi korban. Sampai akhirnya mama berpikir untuk bercerai.
Thank God, it never happened. Tapi keadaan rumah semakin memburuk, ekonomi keluarga semakin menurun dan papa semakin jarang pulang. Setiap malam saya melihat mama berdoa dan itu berlangsung selama tiga tahun.
Cerita berlanjut saat saya masuk kelas 1 SMA. Saya diajak oleh teman untuk bergabung dalam satu gereja yang cukup terkenal di Solo. Saya mulai melayani, namun tidak merasakan pertumbuhan secara rohani maupun mental di gereja tersebut. Yang ada, saya melayani hanya untuk mengisi waktu luang, mengisi kekosongan hati, serta sebagai alasan untuk keluar sesering mungkin dari rumah.
Perlahan keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai kembali menjadi papa yang saya kenal dahulu. Walaupun keadaan ekonomi belum membaik, karena saat itu papa sempat ditipu oleh temannya sendiri. Perubahan yang paling saya rasakan dalam diri saya adalah bagaimana saya yang suka membantah, mencoba untuk menjadi anak yang penurut dan perhatian terhadap mama. Hubungan saya dengan mama membaik.
Kemudian saya memutuskan untuk menghentikan studi di Solo, lalu melanjutkan sekolah fesyen di Jakarta. Beberapa minggu pertama saya tinggal di Jakarta, saya sangat kangen terhadap mama. Setiap hari saya menelpon mama, namun saya tak bernah bisa berbicara dengannya. Kakak saya sering mengatakan bahwa mama sedang tidur karena pengaruh obat.
Suatu hari tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa mama sakit kanker. Saya sangat kaget dan tidak percaya. Mama dibawa berobat ke Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik, dan akhirnya kembali dibawa pulang ke Solo. Saya ikut menemaninya dan mengambil cuti kuliah selama kurang lebih tiga bulan. Singkat cerita, ternyata mama harus meninggalkan kami semua begitu cepat. Sementara saya harus melanjutkan hidup di Jakarta.
Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya juga merasa kehilangan arah setelah mama meninggal.
Satu bulan berlalu, kakak seppu saya mengenalkan saya pada seorang teman yang kemudian mengenalkan saya ke gereja JPCC. Pertama-tama ke JPCC hanya sebatas rutinitas untuk menghargai kakak sepupu saya, tetapi lama kelamaan saya melihat sesuatu yang berbeda di JPCC. Bukan hanya gereja yang mengkhotbahkan omong kosong, tetapi gereja yang mempunyai nilai-nilai (values) dan releevan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya saya pun bergabung di Date (Komsel), dan komunitas baru, yaitu Oxygen, komunitas yang sangat berbeda dari komunitas yang lama. Di sini saya merasa disambut, dihargai, dipedulikan dan diajarkan untuk menjadi orang yang berani, optimis. Saat ini saya memiliki keluarga yang bahkan lebih dekat dan lebih perhatian dari keluarga saya sendiri. Sumber: Buletin "Breaking", Agustus 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Singkat cerita, kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku SMP. Papa yang sedang berada di puncak kariernya tiba-tiba berubah drastis. Papa yang tidak pernah kasar dan selalu menyayangi keluarga, tiba-tiba menjadi pemarah dan jarang pulang ke rumah. Maka mama yang menjadi korban. Sampai akhirnya mama berpikir untuk bercerai.
Thank God, it never happened. Tapi keadaan rumah semakin memburuk, ekonomi keluarga semakin menurun dan papa semakin jarang pulang. Setiap malam saya melihat mama berdoa dan itu berlangsung selama tiga tahun.
Cerita berlanjut saat saya masuk kelas 1 SMA. Saya diajak oleh teman untuk bergabung dalam satu gereja yang cukup terkenal di Solo. Saya mulai melayani, namun tidak merasakan pertumbuhan secara rohani maupun mental di gereja tersebut. Yang ada, saya melayani hanya untuk mengisi waktu luang, mengisi kekosongan hati, serta sebagai alasan untuk keluar sesering mungkin dari rumah.
Perlahan keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai kembali menjadi papa yang saya kenal dahulu. Walaupun keadaan ekonomi belum membaik, karena saat itu papa sempat ditipu oleh temannya sendiri. Perubahan yang paling saya rasakan dalam diri saya adalah bagaimana saya yang suka membantah, mencoba untuk menjadi anak yang penurut dan perhatian terhadap mama. Hubungan saya dengan mama membaik.
Kemudian saya memutuskan untuk menghentikan studi di Solo, lalu melanjutkan sekolah fesyen di Jakarta. Beberapa minggu pertama saya tinggal di Jakarta, saya sangat kangen terhadap mama. Setiap hari saya menelpon mama, namun saya tak bernah bisa berbicara dengannya. Kakak saya sering mengatakan bahwa mama sedang tidur karena pengaruh obat.
Suatu hari tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa mama sakit kanker. Saya sangat kaget dan tidak percaya. Mama dibawa berobat ke Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik, dan akhirnya kembali dibawa pulang ke Solo. Saya ikut menemaninya dan mengambil cuti kuliah selama kurang lebih tiga bulan. Singkat cerita, ternyata mama harus meninggalkan kami semua begitu cepat. Sementara saya harus melanjutkan hidup di Jakarta.
Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya juga merasa kehilangan arah setelah mama meninggal.
Satu bulan berlalu, kakak seppu saya mengenalkan saya pada seorang teman yang kemudian mengenalkan saya ke gereja JPCC. Pertama-tama ke JPCC hanya sebatas rutinitas untuk menghargai kakak sepupu saya, tetapi lama kelamaan saya melihat sesuatu yang berbeda di JPCC. Bukan hanya gereja yang mengkhotbahkan omong kosong, tetapi gereja yang mempunyai nilai-nilai (values) dan releevan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya saya pun bergabung di Date (Komsel), dan komunitas baru, yaitu Oxygen, komunitas yang sangat berbeda dari komunitas yang lama. Di sini saya merasa disambut, dihargai, dipedulikan dan diajarkan untuk menjadi orang yang berani, optimis. Saat ini saya memiliki keluarga yang bahkan lebih dekat dan lebih perhatian dari keluarga saya sendiri. Sumber: Buletin "Breaking", Agustus 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sunday, July 19, 2009
Autism
Stop using the word "AUTISM" on our daily jokes
Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
Di tangan sebelah kiri, ada buku Food Diary anakk yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat, berisi makanan apa saja yang cocok untuk tubuhnya, reaksi alerginya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?
Di usia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, dh, gak lama kemudian ia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi… ULAT BULU… hiii. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant, anakku malah jingkrak-jingkrak, mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.
Ahhh, sudahlah… life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5 ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yang lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini.
Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku ke ruang setrika dan di sana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh Baby Sitternya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih menempel di atas punggung tangan kirinya. Oh… My… God!!! Aku panik.
Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel di hidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya… dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel di balik gosokan panas itu… :(( :(( :((
AAAAAARRRRGGGHHHH…
Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu itu sudah berubah menjadi putih kekuningan… Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang :((
Aku menjerit sekencang-kencangnya. Kupanggil Baby Sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur, lalu dengan kesetanan, kukebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani… tiba-tiba aku kehilangan seluruh tenagaku. AKU PINGSAN!!!
* * *
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.
Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. GEDEBUK!!!…
Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku. Oh Tuhan, lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor. Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya.
Tangannya berlumuran darah. Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat-kuatnya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.
Tapi itupun tak lama karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik, “Mbak, minta handuk… handuk… CEPATTTT!!!”
Dan lagi-lagi kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.
Dia tidak menangis, hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…lagi-lagi aku… PINGSAN.
* * *
Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.
Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini. So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka.
Anakku memang autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa. Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan-tangan mungilnya menari-nari dengan lincah diatas tuts2 piano,… mendengarnya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli… yang nyasar dalam tubuh putriku.
Namun dibalik itu, walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata “Autis”.
Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah di sebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini…
“Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? KAYAK ANAK LOE khan?… Loe marahin deh sil… marahin sil… Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe” Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak… Saya??? hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya…
Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik.
Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan “Stop Using Autism on our daily jokes” ini. Semoga berkenan. Written by A mother of an Authistic Child, SiLLy. Email from: Nadia S/Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
Di tangan sebelah kiri, ada buku Food Diary anakk yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat, berisi makanan apa saja yang cocok untuk tubuhnya, reaksi alerginya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?
Di usia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, dh, gak lama kemudian ia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi… ULAT BULU… hiii. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant, anakku malah jingkrak-jingkrak, mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.
Ahhh, sudahlah… life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5 ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yang lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini.
Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku ke ruang setrika dan di sana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh Baby Sitternya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih menempel di atas punggung tangan kirinya. Oh… My… God!!! Aku panik.
Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel di hidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya… dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel di balik gosokan panas itu… :(( :(( :((
AAAAAARRRRGGGHHHH…
Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu itu sudah berubah menjadi putih kekuningan… Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang :((
Aku menjerit sekencang-kencangnya. Kupanggil Baby Sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur, lalu dengan kesetanan, kukebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani… tiba-tiba aku kehilangan seluruh tenagaku. AKU PINGSAN!!!
* * *
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.
Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. GEDEBUK!!!…
Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku. Oh Tuhan, lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor. Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya.
Tangannya berlumuran darah. Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat-kuatnya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.
Tapi itupun tak lama karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik, “Mbak, minta handuk… handuk… CEPATTTT!!!”
Dan lagi-lagi kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.
Dia tidak menangis, hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…lagi-lagi aku… PINGSAN.
* * *
Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.
Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini. So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka.
Anakku memang autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa. Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan-tangan mungilnya menari-nari dengan lincah diatas tuts2 piano,… mendengarnya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli… yang nyasar dalam tubuh putriku.
Namun dibalik itu, walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata “Autis”.
Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah di sebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini…
“Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? KAYAK ANAK LOE khan?… Loe marahin deh sil… marahin sil… Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe” Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak… Saya??? hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya…
Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik.
Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan “Stop Using Autism on our daily jokes” ini. Semoga berkenan. Written by A mother of an Authistic Child, SiLLy. Email from: Nadia S/Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, June 12, 2009
The Last Posting of a Blogger
Blog Almarhum Penderita Kanker 'Guncang' Dunia Maya
Santi Dwi Jayanti - detikinet
Jakarta - Terry Harper (45), eksekutif direktur dari Society of Proffesional Journalist (SPJ) yang berdiam di Indianapolis divonis kena kanker otak pada tahun 2007. Sejak itulah Harper memutuskan untuk mulai menulis.
Blogpun menjadi media curahan hatinya akan apa yang ia rasakan selama menderita penyakit mematikan tersebut. Air mata, canda tawa semua ia tulis di blog yang ia beri nama "Thumbing My Melon". Lewat blog tersebutlah semua orang bisa mengetahui perjuangan bapak 2 anak tersebut melawan kanker.
Akhirnya setelah dua tahun berperang melawan kanker, 2 Juni lalu ia harus menghadapi ajalnya. Nah, yang istimewa di sini, ternyata almarhum Terry sebelumnya sudah menyiapkan peninggalan untuk para kerabatnya dan lebih luas lagi untuk para peselancar dunia maya lewat blog yang ia miliki, yaitu berupa tulisan terakhirnya.
Dikutip detikINET dari Geek, Jumat (12/6/2009), tulisan yang ia buat pada Oktober 2008 itu akhirnya diposting sang istri, Lee Ann tepat di hari kematiannya. Di sana Terry mengungkapkan isi hati yang dialaminya dengan tutur bahasa yang menyentuh.
"The Final Thump", judul tulisan terakhir Terry ternyata menyedot perhatian di dunia maya. Ratusan komentar bertaburan di blog Terry hingga beberapa surat kabar memuatnya. Salah satu situs berita juga turut menampilkannya di kanal feature.
Tulisan Terry tak disangka telah berhasil menjadi inspirasi bagi siapapun yang masih hidup, terutama bagi para penderita kanker, seperti Terry Harper. Sumber: detik.com
*****
TULISAN TERAKHIR SEORANG PENDERITA KANKER: TERRY HARPER
Catatan dari Lee Ann, istri Terry Harper:
Terry meninggal hari ini, 2 Juni 2009, pada pukul 1.21 siang. Tulisan terakhir yang ditulis untuk blog-nya adalah sebagai berikut:
Jadi, inilah akhirnya. Aku bergulir ke dunia kekal. Jiwaku telah didorong ke dalam kekosongan yang dahsyat. Aku beristirahat. Aku telah membeli ladang baru. Aku meninggalkan yang lama. Aku telah check out. Aku telah melintasi Sungai Styx. Aku telah memperoleh sebuah kondo pohon pinus. Aku berhenti ada di dunia ini. Aku berkelana di ladang Elysian. Terbanglah aku. Check out. Tidur bersama ikan. Menari tarian terakhir. Menurunkan layar pertunjukan. Aku bergabung dengan paduan suara tak nampak. Aku telah membayar tiket ke dalam keabadian. Aku tertelan kegelapan. Aku punya sayap untuk terbang. Aku menjadi bagian sejarah. Aku sudah mati.
Aku mulai menyusun tulisan terakhir ini pada awal Oktober 2008. Penyakit kanker gliomaku sudah berkembang dari Stadium Tiga menjadi Stadium Empat selama 13 bulan terakhir ini sejak pertama kali diagnosa kanker itu diketahui. Mengenai sakit kanker yang aku derita ini, perkembangan sel-sel kanker merupakan istilah yang menakutkan.
Ketika penyakit kanker itu ditemukan di tubuhku sekitar bulan Agustus atau September, masalahnya bukan apakah hal itu akan membawa kematian, tetapi kapan aku mati dan bagaimana memanfaatkan sisa hidupku dengan sebaik-baiknya, entah itu akan terjadi dalam dua bulan atau dua tahun.
Aku tak pernah menganggap penyakit ini sebagai "karunia" atau menganggap bahwa aku sedang ada dalam suatu perjalanan khusus. Penyakit itu ya penyakit. Aku tidak tahu bagaimana penyakit ini datang ke otakku, sehingga aku tak mau membuang-buang waktu atau tenagaku mencari tahu seharusnya apa yang harus aku lakukan untuk menghindarinya. Upaya seperti itu hanya membuang waktu. Aku ingat salah seorang dokterku berkata pada awal penyakit ini ditemukan bahwa tak dapat ditentukan penyebab sakit ini terhadap 98% penderita tumor otak. Mungkin aku termasuk kelompok 2% yang tidak meneruskan pesan email berantai kepada delapan orang teman terdekatku.
Aku tak menyangkal bahwa ada masanya ketika aku merasa sangat down terhadap seluruh keadaanku. Duh, siapa sih yang mau mati di umur pertengahan 40-an? Aku tidak berharap. Dengan mempertimbangkan segala hal, aku lebih suka hidup bersama Lee Ann di sampingku seterusnya, melihat anak-anakku, Dale dan Jace tumbuh menjadi besar dan menjalani kehidupan mereka masing-masing… dan mudah-mudahan mereka dapat mengganti genteng yang bocor di rumahku pada suatu hari.
Aku tak tahu apa yang ada di seberang sana.
Aku tahu bahwa jika kasih dapat melintasi batas kehidupan, ruang dan waktu, aku yakin hal itu dapat membawaku dengan aman ke tujuanku berikutnya. Dan aku berharap bahwa aku telah berbuat cukup banyak untuk menolongku melewati jalan kematian ini sehingga pada suatu saat kita akan bertemu lagi.
Dan teristimewa untuk Lee Ann, Dale, dan Jace… kemanapun kalian pergi dan apapun yang kalian lakukan, berbahagialah dan ketahuilah bahwa kasih sayangku kepada kalian selalu menyertai kalian. Selamanya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku jadinya tanpa kalian bertiga. Hidupku benar-benar luar biasa bersama kalian.
Selamat jalan . . .
(Sumber: Blog Terry Harper, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 12 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog anda. Terima kasih.
******
Terry Harper's Thumping My Melon:
Note from Lee Ann Harper:
Terry died today, June 2, 2009, at 1:21 p.m. His final blog post follows…
So this is it. I have shuffled loose the mortal coil. My soul has been hurled into the great void. I am taking the proverbial dirt nap. I bought the farm. I kicked the bucket. I have checked out. Crossed the River Styx. Bought a pine condo. Ceased to be. I am wandering the Elysian Fields. Gone belly up. Checked out. Cashed in. Sleeping with the fishes. Danced the last dance. Run down the curtain. I am pushing daisies. I have joined the choir invisible. I have paid Charon’s fare. I have succumbed. I have sprouted wings. I am history. I am dead.
I started composing this final message in early October 2008. My once-Grade III Anaplastic Astrocytoma with features of a Grade IV Glioblastoma Multiforme had morphed into a recurrent malignant glioma within 13 months of my initial diagnosis. Where brain tumors are concerned, the word “progression” is the most unkind word of all.
When that became clear in late August and early September, I knew that it was not really a matter of if I was going to die, but when and how to make the absolute best use of the time remaining, whether that was two months or two years.
I never viewed this disease as a “gift” or that I was on some kind of “journey.” It just was. There was no way of knowing how this thing appeared in my brain so I tried not to waste any time or energy wondering what I should have or could have done differently. That would have been an exercise in futility. I think I recall one of my doctors telling me early on that there was no way to determine the cause of 98 percent of primary brain tumors. I was probably in the other two percent that didn’t forward one of those damn chain E-mails to my eight closest friends.
I can’t deny there were times when I felt down about the whole situation. Hell, who wants to die in their mid-40s? Not me. All things considered, I would rather just be going about my life with Lee Ann at my side, watching Dale and Jace grow up and live their lives…and hopefully getting our tile roof replaced one day.
I have no idea what lies beyond.
I do know that if love transcends the boundaries of life and space and time, I have amassed more than enough to carry me safely to my next destination. And I hope that I have left enough behind to help light a path so that we may one day meet again.
And especially to Lee Ann, Dale and Jace…wherever you go and whatever you do, be happy and know that my love will always be with you. Forever. I cannot imagine what my life would have been like without the three of you in it. It was a great ride.
So long for now…
Love,
Terry
Assistant Editor's Note:
Mrs. Melonthump would like you all to participate in events planned to remember and celebrate Terry. Thank you.
Terry's Remembrance:
Saturday, June 6, 8 pm
At the Country House of Sara and John Trittipo
Near Eminence, IN (45 minutes from Indpls)
Map to location (link here)
Please bring chairs for lakeside event and bonfire
Casual attire. Light refreshments.
Terry's Party:
Sunday, June 7, 7 pm
Woodruff Place Town Hall
East Drive, Woodruff Place
(between E. 10th and Michigan Streets)
Casual attire; black clothing discouraged.
Terry's favorite things: including munchies, karaoke and Maker's Mark.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Santi Dwi Jayanti - detikinet
Jakarta - Terry Harper (45), eksekutif direktur dari Society of Proffesional Journalist (SPJ) yang berdiam di Indianapolis divonis kena kanker otak pada tahun 2007. Sejak itulah Harper memutuskan untuk mulai menulis.
Blogpun menjadi media curahan hatinya akan apa yang ia rasakan selama menderita penyakit mematikan tersebut. Air mata, canda tawa semua ia tulis di blog yang ia beri nama "Thumbing My Melon". Lewat blog tersebutlah semua orang bisa mengetahui perjuangan bapak 2 anak tersebut melawan kanker.
Akhirnya setelah dua tahun berperang melawan kanker, 2 Juni lalu ia harus menghadapi ajalnya. Nah, yang istimewa di sini, ternyata almarhum Terry sebelumnya sudah menyiapkan peninggalan untuk para kerabatnya dan lebih luas lagi untuk para peselancar dunia maya lewat blog yang ia miliki, yaitu berupa tulisan terakhirnya.
Dikutip detikINET dari Geek, Jumat (12/6/2009), tulisan yang ia buat pada Oktober 2008 itu akhirnya diposting sang istri, Lee Ann tepat di hari kematiannya. Di sana Terry mengungkapkan isi hati yang dialaminya dengan tutur bahasa yang menyentuh.
"The Final Thump", judul tulisan terakhir Terry ternyata menyedot perhatian di dunia maya. Ratusan komentar bertaburan di blog Terry hingga beberapa surat kabar memuatnya. Salah satu situs berita juga turut menampilkannya di kanal feature.
Tulisan Terry tak disangka telah berhasil menjadi inspirasi bagi siapapun yang masih hidup, terutama bagi para penderita kanker, seperti Terry Harper. Sumber: detik.com
*****
TULISAN TERAKHIR SEORANG PENDERITA KANKER: TERRY HARPER
Catatan dari Lee Ann, istri Terry Harper:
Terry meninggal hari ini, 2 Juni 2009, pada pukul 1.21 siang. Tulisan terakhir yang ditulis untuk blog-nya adalah sebagai berikut:
Jadi, inilah akhirnya. Aku bergulir ke dunia kekal. Jiwaku telah didorong ke dalam kekosongan yang dahsyat. Aku beristirahat. Aku telah membeli ladang baru. Aku meninggalkan yang lama. Aku telah check out. Aku telah melintasi Sungai Styx. Aku telah memperoleh sebuah kondo pohon pinus. Aku berhenti ada di dunia ini. Aku berkelana di ladang Elysian. Terbanglah aku. Check out. Tidur bersama ikan. Menari tarian terakhir. Menurunkan layar pertunjukan. Aku bergabung dengan paduan suara tak nampak. Aku telah membayar tiket ke dalam keabadian. Aku tertelan kegelapan. Aku punya sayap untuk terbang. Aku menjadi bagian sejarah. Aku sudah mati.
Aku mulai menyusun tulisan terakhir ini pada awal Oktober 2008. Penyakit kanker gliomaku sudah berkembang dari Stadium Tiga menjadi Stadium Empat selama 13 bulan terakhir ini sejak pertama kali diagnosa kanker itu diketahui. Mengenai sakit kanker yang aku derita ini, perkembangan sel-sel kanker merupakan istilah yang menakutkan.
Ketika penyakit kanker itu ditemukan di tubuhku sekitar bulan Agustus atau September, masalahnya bukan apakah hal itu akan membawa kematian, tetapi kapan aku mati dan bagaimana memanfaatkan sisa hidupku dengan sebaik-baiknya, entah itu akan terjadi dalam dua bulan atau dua tahun.
Aku tak pernah menganggap penyakit ini sebagai "karunia" atau menganggap bahwa aku sedang ada dalam suatu perjalanan khusus. Penyakit itu ya penyakit. Aku tidak tahu bagaimana penyakit ini datang ke otakku, sehingga aku tak mau membuang-buang waktu atau tenagaku mencari tahu seharusnya apa yang harus aku lakukan untuk menghindarinya. Upaya seperti itu hanya membuang waktu. Aku ingat salah seorang dokterku berkata pada awal penyakit ini ditemukan bahwa tak dapat ditentukan penyebab sakit ini terhadap 98% penderita tumor otak. Mungkin aku termasuk kelompok 2% yang tidak meneruskan pesan email berantai kepada delapan orang teman terdekatku.
Aku tak menyangkal bahwa ada masanya ketika aku merasa sangat down terhadap seluruh keadaanku. Duh, siapa sih yang mau mati di umur pertengahan 40-an? Aku tidak berharap. Dengan mempertimbangkan segala hal, aku lebih suka hidup bersama Lee Ann di sampingku seterusnya, melihat anak-anakku, Dale dan Jace tumbuh menjadi besar dan menjalani kehidupan mereka masing-masing… dan mudah-mudahan mereka dapat mengganti genteng yang bocor di rumahku pada suatu hari.
Aku tak tahu apa yang ada di seberang sana.
Aku tahu bahwa jika kasih dapat melintasi batas kehidupan, ruang dan waktu, aku yakin hal itu dapat membawaku dengan aman ke tujuanku berikutnya. Dan aku berharap bahwa aku telah berbuat cukup banyak untuk menolongku melewati jalan kematian ini sehingga pada suatu saat kita akan bertemu lagi.
Dan teristimewa untuk Lee Ann, Dale, dan Jace… kemanapun kalian pergi dan apapun yang kalian lakukan, berbahagialah dan ketahuilah bahwa kasih sayangku kepada kalian selalu menyertai kalian. Selamanya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku jadinya tanpa kalian bertiga. Hidupku benar-benar luar biasa bersama kalian.
Selamat jalan . . .
(Sumber: Blog Terry Harper, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 12 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog anda. Terima kasih.
******
Terry Harper's Thumping My Melon:
Note from Lee Ann Harper:
Terry died today, June 2, 2009, at 1:21 p.m. His final blog post follows…
So this is it. I have shuffled loose the mortal coil. My soul has been hurled into the great void. I am taking the proverbial dirt nap. I bought the farm. I kicked the bucket. I have checked out. Crossed the River Styx. Bought a pine condo. Ceased to be. I am wandering the Elysian Fields. Gone belly up. Checked out. Cashed in. Sleeping with the fishes. Danced the last dance. Run down the curtain. I am pushing daisies. I have joined the choir invisible. I have paid Charon’s fare. I have succumbed. I have sprouted wings. I am history. I am dead.
I started composing this final message in early October 2008. My once-Grade III Anaplastic Astrocytoma with features of a Grade IV Glioblastoma Multiforme had morphed into a recurrent malignant glioma within 13 months of my initial diagnosis. Where brain tumors are concerned, the word “progression” is the most unkind word of all.
When that became clear in late August and early September, I knew that it was not really a matter of if I was going to die, but when and how to make the absolute best use of the time remaining, whether that was two months or two years.
I never viewed this disease as a “gift” or that I was on some kind of “journey.” It just was. There was no way of knowing how this thing appeared in my brain so I tried not to waste any time or energy wondering what I should have or could have done differently. That would have been an exercise in futility. I think I recall one of my doctors telling me early on that there was no way to determine the cause of 98 percent of primary brain tumors. I was probably in the other two percent that didn’t forward one of those damn chain E-mails to my eight closest friends.
I can’t deny there were times when I felt down about the whole situation. Hell, who wants to die in their mid-40s? Not me. All things considered, I would rather just be going about my life with Lee Ann at my side, watching Dale and Jace grow up and live their lives…and hopefully getting our tile roof replaced one day.
I have no idea what lies beyond.
I do know that if love transcends the boundaries of life and space and time, I have amassed more than enough to carry me safely to my next destination. And I hope that I have left enough behind to help light a path so that we may one day meet again.
And especially to Lee Ann, Dale and Jace…wherever you go and whatever you do, be happy and know that my love will always be with you. Forever. I cannot imagine what my life would have been like without the three of you in it. It was a great ride.
So long for now…
Love,
Terry
Assistant Editor's Note:
Mrs. Melonthump would like you all to participate in events planned to remember and celebrate Terry. Thank you.
Terry's Remembrance:
Saturday, June 6, 8 pm
At the Country House of Sara and John Trittipo
Near Eminence, IN (45 minutes from Indpls)
Map to location (link here)
Please bring chairs for lakeside event and bonfire
Casual attire. Light refreshments.
Terry's Party:
Sunday, June 7, 7 pm
Woodruff Place Town Hall
East Drive, Woodruff Place
(between E. 10th and Michigan Streets)
Casual attire; black clothing discouraged.
Terry's favorite things: including munchies, karaoke and Maker's Mark.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, June 11, 2009
Lorenzo's Oil
Film "Lorenzo's Oil" (dengan pemeran utama Nick Nolte dan Susan Sarandon) adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Lorenzo Odone pada tahun 1985. Lorenzo menderita sebuah penyakit keturunan yang parah dan belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yaitu kerusakan sistem syaraf yang berakibat pada kebutaan, bisa, dan tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Augusto, sang ayah, hanya mempunyai satu hasrat, yakni melihat anaknya dapat hidup normal.
Tanpa memiliki latar belakang kedokteran sama sekali, ia berusaha siang dan malam selama bertahun-tahun mempelajari penyakit ini. Hal ini dilakukan karena semua dokter, yang terbaik sekalipun, sudah angkat tangan dan memvonis Lorenzo hanya mampu bertahan dua tahun saja. Ketika sang ayah meminta referensi para dokter untuk buku-buku ilmiah kedokteran, dengan nada sinis mereka menasihatkan Augusto untuk berhenti membuang-buang waktu. Suami istri ini menolak untuk berhenti meskipun kemungkinan besar semua usaha yang mereka lakukan akan sia-sia dan omong kosong belaka, tiada jaminan maupun peluang.
Namun apa yang terjadi adalah keajaiban. Mereka berhasil menemukan obat penyakit itu. Sederhana sekali, penyakit Lorenzo akhirnya dapat disembuhkan oleh minyak zaitun (olive oil). Luar biasa! Hanya karena kegigihan yang berfokus pada setitik harapan saja, akhirnya anak mereka dapat berangsur-angsur sembuh.
Bayangkan, kasih sayang kedua orang tua Lorenzo mampu membuka pintu harapan bagi ribuan anak-anak penderita penyakit seperti yang dialami anak mereka. Tuhan mengizinkan penderitaan dan penyakit yang dialami Lorenzo agar obat penyakit ini ditemukan. Tuhan memakai keluarga Odone sebagai saluran berkat bagi kesembuhan para pasien lain. Yakinkan diri Anda, apapun yang Anda alami pasti ada alasan di balik itu dan dapat memberi berkat bagi diri Anda dan dunia. Penulis: Darmadi Dharmawangsa, bahan diperoleh dari Media Kawasan, Juni 2009. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 Juni 2009 oleh Hadi Kristadi. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda mempostingnya di website/blog Anda atau memforwardnya kepada orang-orang yang Anda kasihi. Terima kasih.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tanpa memiliki latar belakang kedokteran sama sekali, ia berusaha siang dan malam selama bertahun-tahun mempelajari penyakit ini. Hal ini dilakukan karena semua dokter, yang terbaik sekalipun, sudah angkat tangan dan memvonis Lorenzo hanya mampu bertahan dua tahun saja. Ketika sang ayah meminta referensi para dokter untuk buku-buku ilmiah kedokteran, dengan nada sinis mereka menasihatkan Augusto untuk berhenti membuang-buang waktu. Suami istri ini menolak untuk berhenti meskipun kemungkinan besar semua usaha yang mereka lakukan akan sia-sia dan omong kosong belaka, tiada jaminan maupun peluang.
Namun apa yang terjadi adalah keajaiban. Mereka berhasil menemukan obat penyakit itu. Sederhana sekali, penyakit Lorenzo akhirnya dapat disembuhkan oleh minyak zaitun (olive oil). Luar biasa! Hanya karena kegigihan yang berfokus pada setitik harapan saja, akhirnya anak mereka dapat berangsur-angsur sembuh.
Bayangkan, kasih sayang kedua orang tua Lorenzo mampu membuka pintu harapan bagi ribuan anak-anak penderita penyakit seperti yang dialami anak mereka. Tuhan mengizinkan penderitaan dan penyakit yang dialami Lorenzo agar obat penyakit ini ditemukan. Tuhan memakai keluarga Odone sebagai saluran berkat bagi kesembuhan para pasien lain. Yakinkan diri Anda, apapun yang Anda alami pasti ada alasan di balik itu dan dapat memberi berkat bagi diri Anda dan dunia. Penulis: Darmadi Dharmawangsa, bahan diperoleh dari Media Kawasan, Juni 2009. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 Juni 2009 oleh Hadi Kristadi. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda mempostingnya di website/blog Anda atau memforwardnya kepada orang-orang yang Anda kasihi. Terima kasih.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 12, 2009
Pet's Lover
Seorang Ibu sedang sedih hari ini. Salah seekor kucingnya (dari jumlah total 15 ekor) sedang sakit. Sudah tiga kali dokter hewan dipanggil ke rumahnya di bilangan jalan raya Metro Pondok Indah (sejajar dengan Pondok Indah Mal 2). Ketika Ibu ini menceritakan perihal kucingnya, ia mengaku baru saja menyuapi makanan kepada kucingnya dengan penuh rasa belas kasihan.
"Wah, kasihan deh. Kucing kesayangan saya itu cuma bisa menatap mata saya dengan sayu," katanya. Aneh juga Ibu ini! Dia studi di Amerika Serikat beberapa tahun hanya untuk mengurus kucing. Suaminya memang seorang pengusaha sukses. Sang Ibu tak memiliki kegiatan lain, karena anak-anaknya sedang studi di luar negeri. Ibu ini hanya sibuk mengurus rumah tangga dan lima belas ekor kucing.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Wah, kasihan deh. Kucing kesayangan saya itu cuma bisa menatap mata saya dengan sayu," katanya. Aneh juga Ibu ini! Dia studi di Amerika Serikat beberapa tahun hanya untuk mengurus kucing. Suaminya memang seorang pengusaha sukses. Sang Ibu tak memiliki kegiatan lain, karena anak-anaknya sedang studi di luar negeri. Ibu ini hanya sibuk mengurus rumah tangga dan lima belas ekor kucing.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, May 4, 2009
Mad Man
Orang Gila
Beberapa waktu lamanya saya melihat orang gila ini di sebuah pasar di kota kecil. Dia masih muda dan jalannya ngesot, yaitu dengan menyeret pantatnya dengan kaki dan tangannya. Minggu lalu saya mendengar kabar bahwa orang gila itu sudah dibuang ke perkebunan tebu seluas 20.000 hektar di daerah Subang. Pada suatu tengah malam orang gila itu digelandang oleh enam orang, dibawa dengan mobil box terbuka ke tengah perkebunan tebu. Dia ditinggalkan sendirian di sana, di tengah-tengah rimba tebu.
Dapat dibayangkan betapa menderitanya orang gila itu. Dia akan mengesot di antara batang tebu yang tingginya dua meter lebih karena hampir dipanen. Kemanapun dia mengesot, menyeret tubuhnya, yang ada adalah pohon tebu dan pohon tebu. Bagaimana dia akan makan? Mungkin makan batang tebu atau daun tebu. Sampai kapan dia akan bertahan hidup? Sampai ada orang yang menemukan dan memberinya makan.
Kasihan ya? Cuma bilang "kasihan" tidak akan menyelamatkannya. Seringkali bayangan orang gila ini mengusik hati saya. Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana menemukannya di antara ribuan hektar pohon tebu?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Beberapa waktu lamanya saya melihat orang gila ini di sebuah pasar di kota kecil. Dia masih muda dan jalannya ngesot, yaitu dengan menyeret pantatnya dengan kaki dan tangannya. Minggu lalu saya mendengar kabar bahwa orang gila itu sudah dibuang ke perkebunan tebu seluas 20.000 hektar di daerah Subang. Pada suatu tengah malam orang gila itu digelandang oleh enam orang, dibawa dengan mobil box terbuka ke tengah perkebunan tebu. Dia ditinggalkan sendirian di sana, di tengah-tengah rimba tebu.
Dapat dibayangkan betapa menderitanya orang gila itu. Dia akan mengesot di antara batang tebu yang tingginya dua meter lebih karena hampir dipanen. Kemanapun dia mengesot, menyeret tubuhnya, yang ada adalah pohon tebu dan pohon tebu. Bagaimana dia akan makan? Mungkin makan batang tebu atau daun tebu. Sampai kapan dia akan bertahan hidup? Sampai ada orang yang menemukan dan memberinya makan.
Kasihan ya? Cuma bilang "kasihan" tidak akan menyelamatkannya. Seringkali bayangan orang gila ini mengusik hati saya. Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana menemukannya di antara ribuan hektar pohon tebu?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, April 28, 2009
Devil or Angel?
Setan atau Malaikat?
Makhluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau, dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba- tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
—–
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas- puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
—–
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya. Sumber: Milis Tetangga
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Makhluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau, dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba- tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
—–
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas- puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
—–
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya. Sumber: Milis Tetangga
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, March 30, 2009
God's Voice
GOD'S VOICE
Jack E. Olson
I knew the voice was real. It came booming into my ears, over the top of my dream and snapped me awake. "When you say I don't love you, you are mistaken." It boomed,
deep like a great waterfall, rich like a trumpet.
I turned and looked at my wife. She was sleeping soundly, as if nothing had happened. I placed my hand on her shoulder and gave her a shake. "Doreen, did you hear that?" "Huh, hear what?" She turned and peeked at me through mostly shut eyes. "I just heard a voice. It sounded something like a trumpet blast, only deeper. I was in the middle of a dream and it woke me up. It said, 'When you say I don't love you, you are mistaken!' I think it was God."
I had lost my job two years previously. Our situation continued to worsen. Shortly after hearing the voice, we were down to a few dollars and a half tank of gas. The bank was foreclosing on our home. With no money, there was nowhere we could move, no way to store furniture. I was sixty years old, and without a degree, no one would hire me. We would loose the home where we'd raised our five children and lived for 27 years. All would be lost: home, furniture, automobile, and personal things.
We prayed often and trusted God to deliver us. But things only got worse. We had seen others rescued miraculously, but not us. People showed up at their doorsteps with money saying, "The Lord told me to give you this." And it would be precisely what they had prayed for. But that never happened to us.
We were sitting together on the step into a garage that I had converted into a family room. We were talking about all these things and decided that we had been abandoned. "God doesn’t loved us anymore," Doreen said. "I guess your right." We went to bed dejected, hopeless. But God did love us. He told us so, vocally.
The next morning, I had to use most of my precious gas to go to a meeting of a company I'd started two years previously. Not much had happened. Very little had been sold. Karl, a man who had helped us prepare our business plan was there. He was thinking about joining us on a financial basis. They didn't know that after that week they might not see me again. The next day, a Friday, I went to see about a job at a conveyor company. The marketing director took me to lunch and offered me his job. But when he had finished telling me about the company, it was clear that there was no way I could fit in.
Driving away, I was completely discouraged, sort of in a daze, watching the buildings drift by as I proceeded home to give my wife some more bad news. Then I saw a business I recognized. I had been on that street once before many years ago. "I know the man that owns that". I thought. The door was open; lots of desks in a big office; I walked through a doorway and into a very dirty production area. There was one old man there. "Is this owned by a man named Ron," I asked. "Yeah, Ron Baldwin. Here's his number." When I got home, I told Doreen the bad news and called Ron. He recognized my name immediately. "I tried to call you a couple of months ago," he said. "If you're not doing anything why don't you come to my office for about an hour right now and we'll get acquainted again." I got there at about 2:00 PM. We talked till 6:00.
He decided we should get together. Although we couldn't decide what that should be, we agreed to agree. Saturday, we talked from 8:00 AM till 4:00 PM. I would return on Monday and check out the market for a line of fishing tackle products he'd accumulated. Finally, some good news for Doreen. In my haste to tell her, it seemed that all the stop lights were against me and stayed red forever. I hope I didn't offend anyone with my wild driving (an old man driving like a kid). When I saw Ron on Monday, I had to admit that I couldn't afford gas to get back the next day. He gave me two thousand dollars. I got home before noon with literature to study and a lot of library work to do. I love to see my sweetheart smile.
“But,” she asked, "what do we do about the foreclosure? The bank has sent it to their attorney." I had a strong urge to call Karl. Sometimes God speaks to us that way. He offered me eighty five hundred dollars for ten thousand shares of my stock. Sunday night were nearly penniless, but by Monday evening I had deposited ten thousand, five hundred dollars. Tuesday morning, these words popped into my mind. (sometimes He speaks that way too) "Go withdraw six thousand dollars." "But, Lord, you know those checks couldn't possibly have cleared." "Do it." There was some hesitation at the bank, but within an hour I had the cash. "Now, get on your good clothes and get to the bank fast." No argument that time. As it turned out, I was just in time, almost to the minute, to save myself fifteen hundred dollars in legal fees!" And the two years of trials were over.
He really does love us, just as He said. I stand in awe at his timing and orchestration of events. All that time, when I was alone and discouraged, He was leading—preparing me to trust more fully. Sometimes we feel ashamed of our fears. But God knows. After all, Jesus became a man to experience our trials, hunger, and pains so that he could be our advocate before God. He even calls us brothers. He agonized nine hours on the cross to make that possible, to make us good enough to stand confidently before God. He loves you too. You are not reading this by accident, anymore than I passed that business by accident, or did any of the other things. You don't need to be good either. He understands. All you need is to say, "thank you Jesus for sacrificing yourself for my punishment. I accept that. Thank you for wanting me to live forever with you. You really do love me. I love you too." You just heard God in your heart. (Email kiriman Ibu Suharti - Sorry, saya belum sempat menerjemahkannya.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Jack E. Olson
I knew the voice was real. It came booming into my ears, over the top of my dream and snapped me awake. "When you say I don't love you, you are mistaken." It boomed,
deep like a great waterfall, rich like a trumpet.
I turned and looked at my wife. She was sleeping soundly, as if nothing had happened. I placed my hand on her shoulder and gave her a shake. "Doreen, did you hear that?" "Huh, hear what?" She turned and peeked at me through mostly shut eyes. "I just heard a voice. It sounded something like a trumpet blast, only deeper. I was in the middle of a dream and it woke me up. It said, 'When you say I don't love you, you are mistaken!' I think it was God."
I had lost my job two years previously. Our situation continued to worsen. Shortly after hearing the voice, we were down to a few dollars and a half tank of gas. The bank was foreclosing on our home. With no money, there was nowhere we could move, no way to store furniture. I was sixty years old, and without a degree, no one would hire me. We would loose the home where we'd raised our five children and lived for 27 years. All would be lost: home, furniture, automobile, and personal things.
We prayed often and trusted God to deliver us. But things only got worse. We had seen others rescued miraculously, but not us. People showed up at their doorsteps with money saying, "The Lord told me to give you this." And it would be precisely what they had prayed for. But that never happened to us.
We were sitting together on the step into a garage that I had converted into a family room. We were talking about all these things and decided that we had been abandoned. "God doesn’t loved us anymore," Doreen said. "I guess your right." We went to bed dejected, hopeless. But God did love us. He told us so, vocally.
The next morning, I had to use most of my precious gas to go to a meeting of a company I'd started two years previously. Not much had happened. Very little had been sold. Karl, a man who had helped us prepare our business plan was there. He was thinking about joining us on a financial basis. They didn't know that after that week they might not see me again. The next day, a Friday, I went to see about a job at a conveyor company. The marketing director took me to lunch and offered me his job. But when he had finished telling me about the company, it was clear that there was no way I could fit in.
Driving away, I was completely discouraged, sort of in a daze, watching the buildings drift by as I proceeded home to give my wife some more bad news. Then I saw a business I recognized. I had been on that street once before many years ago. "I know the man that owns that". I thought. The door was open; lots of desks in a big office; I walked through a doorway and into a very dirty production area. There was one old man there. "Is this owned by a man named Ron," I asked. "Yeah, Ron Baldwin. Here's his number." When I got home, I told Doreen the bad news and called Ron. He recognized my name immediately. "I tried to call you a couple of months ago," he said. "If you're not doing anything why don't you come to my office for about an hour right now and we'll get acquainted again." I got there at about 2:00 PM. We talked till 6:00.
He decided we should get together. Although we couldn't decide what that should be, we agreed to agree. Saturday, we talked from 8:00 AM till 4:00 PM. I would return on Monday and check out the market for a line of fishing tackle products he'd accumulated. Finally, some good news for Doreen. In my haste to tell her, it seemed that all the stop lights were against me and stayed red forever. I hope I didn't offend anyone with my wild driving (an old man driving like a kid). When I saw Ron on Monday, I had to admit that I couldn't afford gas to get back the next day. He gave me two thousand dollars. I got home before noon with literature to study and a lot of library work to do. I love to see my sweetheart smile.
“But,” she asked, "what do we do about the foreclosure? The bank has sent it to their attorney." I had a strong urge to call Karl. Sometimes God speaks to us that way. He offered me eighty five hundred dollars for ten thousand shares of my stock. Sunday night were nearly penniless, but by Monday evening I had deposited ten thousand, five hundred dollars. Tuesday morning, these words popped into my mind. (sometimes He speaks that way too) "Go withdraw six thousand dollars." "But, Lord, you know those checks couldn't possibly have cleared." "Do it." There was some hesitation at the bank, but within an hour I had the cash. "Now, get on your good clothes and get to the bank fast." No argument that time. As it turned out, I was just in time, almost to the minute, to save myself fifteen hundred dollars in legal fees!" And the two years of trials were over.
He really does love us, just as He said. I stand in awe at his timing and orchestration of events. All that time, when I was alone and discouraged, He was leading—preparing me to trust more fully. Sometimes we feel ashamed of our fears. But God knows. After all, Jesus became a man to experience our trials, hunger, and pains so that he could be our advocate before God. He even calls us brothers. He agonized nine hours on the cross to make that possible, to make us good enough to stand confidently before God. He loves you too. You are not reading this by accident, anymore than I passed that business by accident, or did any of the other things. You don't need to be good either. He understands. All you need is to say, "thank you Jesus for sacrificing yourself for my punishment. I accept that. Thank you for wanting me to live forever with you. You really do love me. I love you too." You just heard God in your heart. (Email kiriman Ibu Suharti - Sorry, saya belum sempat menerjemahkannya.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, March 26, 2009
The Amazing Story of Tek Tan Nio

”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja.” (Foto kanan: Tek Tan Nio)
Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat.
Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun.
Lembaran Kisah Hidupku
Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat) di sampingnya. Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin.
Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku.
(Foto kanan: Tek Tan Nio harus berjualan ke pasar)Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali.
Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku. Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank. Dari mana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang.
(Foto kanan: Tek Tan Nio-kiri, dan Mamanya)Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah.
Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris.
Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan. Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku. Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku.
Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat, kurang lebih lima kali berganti baju setiap harinya karena basah. Sebenarnya dokter sudah melarang untuk terlalu sering berjalan, tapi kalau aku tidak berjualan siapa yang akan memberi makan mama? Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk berbakti sama mama.
Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari cukup.
Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung.
(Foto kanan: Tek Tan Nio harus berjalan jauh untuk mencari nafkah) Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan "Buddha Tzu Chi". Karena ada "Buddha Tzu Chi" yang mendukung, rasanya saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan. (Foto-foto dan naskah asli ditulis oleh Veronika - email dikirim oleh Santy di Milis Rohani, diposting di Pentas Kesaksian pada 26 Maret 2009)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, March 23, 2009
Don't Quit
Don’t Quit
When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you're trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit-
Rest if you must, but don't you quit.
Life is queer with its twists and turns,
As every one of us sometimes learns,
And many a fellow turns about
When he might have won had he stuck it out.
Don't give up though the pace seems slow -
You may succeed with another blow.
Often the goal is nearer than
It seems to a faint and faltering man;
Often the struggler has given up
Whe he might have captured the victor's cup;
And he learned too late when the night came down,
How close he was to the golden crown.
Success is failure turned inside out -
The silver tint in the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It might be near when it seems afar;
So stick to the fight when you're hardest hit -
It's when things seem worst that you must not quit.
(Author Unknown)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you're trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit-
Rest if you must, but don't you quit.
Life is queer with its twists and turns,
As every one of us sometimes learns,
And many a fellow turns about
When he might have won had he stuck it out.
Don't give up though the pace seems slow -
You may succeed with another blow.
Often the goal is nearer than
It seems to a faint and faltering man;
Often the struggler has given up
Whe he might have captured the victor's cup;
And he learned too late when the night came down,
How close he was to the golden crown.
Success is failure turned inside out -
The silver tint in the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It might be near when it seems afar;
So stick to the fight when you're hardest hit -
It's when things seem worst that you must not quit.
(Author Unknown)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sunday, March 1, 2009
Slumdog Millionaire
"Slumdog Millionaire" merupakan sebuah film Britania Raya bernuansa Bollywood yang dirilis pada tahun 2008. Film yang disutradarai oleh Danny Boyle ini pemainnya antara lain ialah Dev Patel, Freida Pinto, Anil Kapoor, Irrfan Khan, dan masih banyak lagi. Di Inggris film ini pertama kali dirilis pada 12 November 2008, sedangkan di Mumbai pada 22 Januari 2009.
"Slumdog Millionaire" memenangi lima Critics' Choice Awards, empat piala Golden Globes, dan tujuh piala BAFTA Awards, dan memenangi penghargaan Oscar terbanyak Academy Awards 2008 (8 piala), termasuk penghargaan paling bergengsi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.
"Slumdog Millionaire" bercerita tentang Jamal Malik (Dev Patel), yatim piatu berusia 18 tahun dari tempat kumuh di Mumbai, yang hampir memenangkan hadiah 20 juta Rupee dalam acara "Who Wants to be a Millionaire?" versi India. Jamal lantas ditangkap polisi karena kecurigaan bahwa ia curang. Bagaimana mungkin seorang anak jalanan bisa tahu demikian banyak hingga bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam acara kuis yang terkenal tersebut?
Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada kejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton. Happy ending, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika dan juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis. Sumber: Milis Ida Arimurti dan Wikipedia Indonesia.
Apa pelajaran yang dapat diperoleh dari film ini?
Suatu tekad kuat untuk mengejar destiny kehidupan akan menghasilkan berkat-berkat yang luar biasa. Jamal terobsesi menemukan kekasihnya. Dengan mengikuti kuiz itu, ia berharap dapat menemukan destiny kehidupannya. Bukan hanya ia memperoleh kekasihnya, ia juga memperoleh hadiah uang yang lumayan besar. Kejarlah destiny kehidupan anda, pasti anda tidak akan menyesal. Sayangnya, banyak orang tidak tahu apa destiny yang Tuhan telah taruh dalam hidupnya. Tahukah anda?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Slumdog Millionaire" memenangi lima Critics' Choice Awards, empat piala Golden Globes, dan tujuh piala BAFTA Awards, dan memenangi penghargaan Oscar terbanyak Academy Awards 2008 (8 piala), termasuk penghargaan paling bergengsi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.
"Slumdog Millionaire" bercerita tentang Jamal Malik (Dev Patel), yatim piatu berusia 18 tahun dari tempat kumuh di Mumbai, yang hampir memenangkan hadiah 20 juta Rupee dalam acara "Who Wants to be a Millionaire?" versi India. Jamal lantas ditangkap polisi karena kecurigaan bahwa ia curang. Bagaimana mungkin seorang anak jalanan bisa tahu demikian banyak hingga bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam acara kuis yang terkenal tersebut?
Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada kejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton. Happy ending, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika dan juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis. Sumber: Milis Ida Arimurti dan Wikipedia Indonesia.
Apa pelajaran yang dapat diperoleh dari film ini?
Suatu tekad kuat untuk mengejar destiny kehidupan akan menghasilkan berkat-berkat yang luar biasa. Jamal terobsesi menemukan kekasihnya. Dengan mengikuti kuiz itu, ia berharap dapat menemukan destiny kehidupannya. Bukan hanya ia memperoleh kekasihnya, ia juga memperoleh hadiah uang yang lumayan besar. Kejarlah destiny kehidupan anda, pasti anda tidak akan menyesal. Sayangnya, banyak orang tidak tahu apa destiny yang Tuhan telah taruh dalam hidupnya. Tahukah anda?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, February 24, 2009
Race of Life
Setiap manusia yang hidup di dunia ini tanpa terkecuali sedang berada di gelanggang pertandingan. Di dalam segala segi kehidupan, kita sedang bertanding untuk dapat menang atas tantangan dan masalah.
Adik kami, JJ, adalah teladan ketika ia tidak menyerah dan putus asa di dalam perlombaan hidup yang diwajibkan ini. Dalam usianya yang ke-30 tahun, empat bulan yang lalu ia didiagnosa dokter dengan suatu penyakit komplikasi yang parah dan berbahaya.
Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Ia mengalami pendarahan, sehingga ia harus bernafas melalui mulutnya karena kedua lubang hidungnya terus menerus mengeluarkan darah. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun ia tak pernah menyerah. Ia percaya akan janji Tuhan dan rindu agar kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan mendengar dan mengerti kerinduannya.
Pada bulan Desember 2008 JJ bisa keluar dari rumah sakit dan bersaksi akan kebaikan Tuhan, khususnya lewat ibadah Natal. Ia bersukacita dan sangat menikmati pelayanan yang Tuhan berikan.
Pada tanggal 6 Januari 2009 JJ kembali harus menghadapi tantangan dalam pertandingan kehidupannya. Paru-parunya membengkak dan penuh cairan. Ia menjadi sangat sulit bernafas, tidak dapat tidur atau tiduran. Hari itu ia kembali dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang sangat lemah. Namun ia tidak pernah mengeluh walaupun selama 24 jam harus mengenakan masker oksigen dan duduk di tempat tidurnya terus menerus.
Setelah enam hari dirawat, tanpa makanan masuk dalam tubuhnya, tanpa dapat berbaring, tanpa tidur karena ia tak dapat tidur dalam posisi duduk, JJ memanggil isterinya tercinta. Dengan terbata-bata karena sulit sekali berbicara, ia berbisik, “I love you.” kepada isteri dan anaknya.
Setelah itu kondisi JJ terus menerus turun hingga beberapa jam kemudian ia meninggal dengan tenang dan damai didampingi kedua kakaknya, isteri, anak, serta ibundanya yang tercinta.
JJ telah menang dalam pertandingan imannya. Selama penyakit menggerogoti tubuh dan kesehatannya, ia tidak pernah mengeluh dan marah kepada Tuhan. Ia selalu mengucap syukur dan senantiasa percaya bahwa dalam kelemahanlah justru kuasa Allah menjadi sempurna. Ia telah sampai di garis finish dan memenangkan pertandingan iman.
Hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita yang masih bernafas untuk terus berlari di gelanggang pertandingan kehidupan kita. Teruslah bertanding dan jangan menyerah. Meskipun tantangan dan masalah yang kita hadapi cukup berat, kita masih memiliki Bapa yang jauh jauh jauh lebih besar dari masalah dan tantangan kita. Apalagi pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya. Oleh: Pdt. Edward Supit, seperti dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi no. 43/2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Adik kami, JJ, adalah teladan ketika ia tidak menyerah dan putus asa di dalam perlombaan hidup yang diwajibkan ini. Dalam usianya yang ke-30 tahun, empat bulan yang lalu ia didiagnosa dokter dengan suatu penyakit komplikasi yang parah dan berbahaya.
Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Ia mengalami pendarahan, sehingga ia harus bernafas melalui mulutnya karena kedua lubang hidungnya terus menerus mengeluarkan darah. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun ia tak pernah menyerah. Ia percaya akan janji Tuhan dan rindu agar kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan mendengar dan mengerti kerinduannya.
Pada bulan Desember 2008 JJ bisa keluar dari rumah sakit dan bersaksi akan kebaikan Tuhan, khususnya lewat ibadah Natal. Ia bersukacita dan sangat menikmati pelayanan yang Tuhan berikan.
Pada tanggal 6 Januari 2009 JJ kembali harus menghadapi tantangan dalam pertandingan kehidupannya. Paru-parunya membengkak dan penuh cairan. Ia menjadi sangat sulit bernafas, tidak dapat tidur atau tiduran. Hari itu ia kembali dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang sangat lemah. Namun ia tidak pernah mengeluh walaupun selama 24 jam harus mengenakan masker oksigen dan duduk di tempat tidurnya terus menerus.
Setelah enam hari dirawat, tanpa makanan masuk dalam tubuhnya, tanpa dapat berbaring, tanpa tidur karena ia tak dapat tidur dalam posisi duduk, JJ memanggil isterinya tercinta. Dengan terbata-bata karena sulit sekali berbicara, ia berbisik, “I love you.” kepada isteri dan anaknya.
Setelah itu kondisi JJ terus menerus turun hingga beberapa jam kemudian ia meninggal dengan tenang dan damai didampingi kedua kakaknya, isteri, anak, serta ibundanya yang tercinta.
JJ telah menang dalam pertandingan imannya. Selama penyakit menggerogoti tubuh dan kesehatannya, ia tidak pernah mengeluh dan marah kepada Tuhan. Ia selalu mengucap syukur dan senantiasa percaya bahwa dalam kelemahanlah justru kuasa Allah menjadi sempurna. Ia telah sampai di garis finish dan memenangkan pertandingan iman.
Hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita yang masih bernafas untuk terus berlari di gelanggang pertandingan kehidupan kita. Teruslah bertanding dan jangan menyerah. Meskipun tantangan dan masalah yang kita hadapi cukup berat, kita masih memiliki Bapa yang jauh jauh jauh lebih besar dari masalah dan tantangan kita. Apalagi pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya. Oleh: Pdt. Edward Supit, seperti dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi no. 43/2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, February 18, 2009
In the Blink of an Eye

Menulis Buku Dengan Kedipan Mata
Jean Dominique Bauby di masa mudanya adalah seorang yang berbakat dan berjaya. Berangkat dari seorang wartawan, kariernya melesat sampai menjadi redaksi Majalah Elle, majalah kebanggaan orang Perancis yang digandrungi wanita di seluruh dunia.
Pada tanggal 8 Desember 1995, pada usia 43 tahun, Bauby terkena stroke masif dan koma. Ketika ia sadar 20 hari kemudian, ia mendapati seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki lumpuh. Kondisi ini dikenal sebagai Locked-In Syndrome, penyakit kelumpuhan total yang membuat dia sama sekali tidak mampu berbicara maupun bergerak, namun kondisi mentalnya masih sehat. Satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat digerakkannya adalah kelopak mata kirinya. Dengan cara itulah dia bisa berkomunikasi dengan perawat, dokter, keluarga, dan teman-temannya. Bauby kehilangan berat badan sebanyak 60 pon selama 20 minggu setelah terkena stroke.
Sebagai seorang yang terpenjara di tubuh yang tak berguna lagi, Bauby tetap dapat berpikir, berargumentasi, mencium bau, dan mendengar (meskipun kurang baik). Dengan kelopak mata kirinya ia dapat melihat dan kemudian belajar mengekspresikan dirinya.
Terapis bicaranya dan yang kemudian menjadi sahabatnya akan menyebutkan suatu abjad, dan Bauby akan mengedipkan mata kirinya untuk memilih huruf atau tanda baca yang ia inginkan. Ia merangkai kata-kata, kalimat dan paragraf dengan kedipan mata. Ia mengedit kalimat dan buku di kepalanya. Bersama seorang penulis kenamaan, Claude Mendibil, ia menyelesaikan buku memoar yang berjudul "The Diving Bell and the Butterfly" dalam bahasa Perancis, selama dua bulan dan dipublikasikan di Perancis pada tahun 1997. Melalui buku ini Bauby ingin menyatakan bahwa meskipun tubuhnya tenggelam, namun kreativitas dan imajinasinya dapat terbang bebas seperti seekor kupu-kupu. Sepuluh hari setelah menyelesaikan bukunya, Bauby meninggal karena suatu infeksi. Buku memoarnya yang fenomenal diangkat ke dalam layar lebar oleh sutradara Julian Schaubel dan mendapatkan empat nominasi Oscar pada tahun 2008.
Sumber: Tabloid Keluarga Edisi 43/2009 dan sumber internet lainnya.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, February 17, 2009
Bend, But Not Break
Salah satu kenangan indah sebagai seorang anak kecil adalah pergi ke sungai dan duduk bersantai di tepiannya. Di sana saya akan menikmati kedamaian dan ketenangan, memperhatikan air yang mengalir ke hilir, dan mendengar kicauan burung-burung dan gemerisik dedaunan. Aku juga memperhatikan pohon-pohon bambu yang melengkung di bawah tekanan angin dan memperhatikan bahwa pepohonan itu kembali tegak dengan anggun setelah angin menjadi tenang.
Ketika aku memikirkan tentang kemampuan pohon bambu untuk kembali tegak atau kembali ke posisinya semula, kata "kelenturan" muncul di pikiran. Ketika dipakai bagi seseorang, kata ini berarti kemampuan untuk segera pulih dari goncangan, depresi atau situasi lain yang menarik emosi seseorang sampai batas tertinggi.
Apakah anda pernah merasa akan patah? Apakah anda pernah merasa tak dapat bertahan lagi? Bersyukurlah, karena anda ternyata tidak patah walaupun anda telah melengkung.
Selama anda mengalaminya anda mungkin merasa campur aduk yang akan membahayakan kesehatan anda. Anda merasa emosi anda sangat terkuras, secara mental menjadi sangat lelah, dan anda kebanyakan dapat bertahan menahan gejala-gejala fisik.
Hidup ini campuran waktu-waktu baik dan waktu-waktu buruk, saat bahagia dan saat tak menyenangkan. Lain kali ketika anda mengalami waktu buruk atau saat tak menyenangkan, yang membawa anda pada keadaan hampir patah, melengkunglah tapi jangan patah. Berusahalah sebaik-baiknya agar situasi tidak menelan apa yang terbaik yang ada di dalam anda.
Segenggam pengharapan akan membawa anda melewati pencobaan itu. Dengan pengharapan akan hari esok yang lebih baik atau situasi yang lebih menyenangkan, hal-hal itu tidak seburuk yang kelihatan. Pencobaan yang tak menyenangkan itu lebih mudah diatasi jika kita tahu bahwa hasil akhirnya layak didapat.
Jika perjalanan hidup anda bertambah berat, tunjukkanlah kelenturan anda. Ibarat pohon bambu, melengkunglah namun jangan sampai patah.
*****
One of my fondest memories as a child is going by the river and sitting
idly on the bank. There I would enjoy the peace and quiet, watch the
water rush downstream, and listen to the chirps of birds and the
rustling of leaves in the trees. I would also watch the bamboo trees
bend under pressure from the wind and watch them return gracefully to
their upright or original position after the wind had died down.
When I think about the bamboo tree's ability to bounce back or return to
it's original position, the word resilience comes to mind. When used in
reference to a person this word means the ability to readily recover
from shock, depression or any other situation that stretches the limits
of a person's emotions.
Have you ever felt like you are about to snap? Have you ever felt like
you are at your breaking point? Thankfully, you have survived the
experience to live to talk about it.
During the experience you probably felt a mix of emotions that
threatened your health. You felt emotionally drained, mentally exhausted
and you most likely endured unpleasant physical symptoms.
Life is a mixture of good times and bad times, happy moments and unhappy
moments. The next time you are experiencing one of those bad times or
unhappy moments that take you close to your breaking point, bend but
don't break. Try your best not to let the situation get the best of you.
A measure of hope will take you through the unpleasant ordeal. With hope
for a better tomorrow or a better situation, things may not be as bad as
they seem to be. The unpleasant ordeal may be easier to deal with if the
end result is worth having.
If the going gets tough and you are at your breaking point, show
resilience. Like the bamboo tree, bend, but don't break!
Author Unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika aku memikirkan tentang kemampuan pohon bambu untuk kembali tegak atau kembali ke posisinya semula, kata "kelenturan" muncul di pikiran. Ketika dipakai bagi seseorang, kata ini berarti kemampuan untuk segera pulih dari goncangan, depresi atau situasi lain yang menarik emosi seseorang sampai batas tertinggi.
Apakah anda pernah merasa akan patah? Apakah anda pernah merasa tak dapat bertahan lagi? Bersyukurlah, karena anda ternyata tidak patah walaupun anda telah melengkung.
Selama anda mengalaminya anda mungkin merasa campur aduk yang akan membahayakan kesehatan anda. Anda merasa emosi anda sangat terkuras, secara mental menjadi sangat lelah, dan anda kebanyakan dapat bertahan menahan gejala-gejala fisik.
Hidup ini campuran waktu-waktu baik dan waktu-waktu buruk, saat bahagia dan saat tak menyenangkan. Lain kali ketika anda mengalami waktu buruk atau saat tak menyenangkan, yang membawa anda pada keadaan hampir patah, melengkunglah tapi jangan patah. Berusahalah sebaik-baiknya agar situasi tidak menelan apa yang terbaik yang ada di dalam anda.
Segenggam pengharapan akan membawa anda melewati pencobaan itu. Dengan pengharapan akan hari esok yang lebih baik atau situasi yang lebih menyenangkan, hal-hal itu tidak seburuk yang kelihatan. Pencobaan yang tak menyenangkan itu lebih mudah diatasi jika kita tahu bahwa hasil akhirnya layak didapat.
Jika perjalanan hidup anda bertambah berat, tunjukkanlah kelenturan anda. Ibarat pohon bambu, melengkunglah namun jangan sampai patah.
*****
One of my fondest memories as a child is going by the river and sitting
idly on the bank. There I would enjoy the peace and quiet, watch the
water rush downstream, and listen to the chirps of birds and the
rustling of leaves in the trees. I would also watch the bamboo trees
bend under pressure from the wind and watch them return gracefully to
their upright or original position after the wind had died down.
When I think about the bamboo tree's ability to bounce back or return to
it's original position, the word resilience comes to mind. When used in
reference to a person this word means the ability to readily recover
from shock, depression or any other situation that stretches the limits
of a person's emotions.
Have you ever felt like you are about to snap? Have you ever felt like
you are at your breaking point? Thankfully, you have survived the
experience to live to talk about it.
During the experience you probably felt a mix of emotions that
threatened your health. You felt emotionally drained, mentally exhausted
and you most likely endured unpleasant physical symptoms.
Life is a mixture of good times and bad times, happy moments and unhappy
moments. The next time you are experiencing one of those bad times or
unhappy moments that take you close to your breaking point, bend but
don't break. Try your best not to let the situation get the best of you.
A measure of hope will take you through the unpleasant ordeal. With hope
for a better tomorrow or a better situation, things may not be as bad as
they seem to be. The unpleasant ordeal may be easier to deal with if the
end result is worth having.
If the going gets tough and you are at your breaking point, show
resilience. Like the bamboo tree, bend, but don't break!
Author Unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sunday, February 8, 2009
He Is Blind but Blessing Others
Pengabdian Ing Han Sebagai Seorang Tunanetra
Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.
Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.
Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala.
Bercakap-cakap dengan dia atau melihatnya beraksi mengajar anak-anak dari sekolah Pelita Harapan, Kanisius, St Ursula, BPK Penabur, atau Bina Bangsa, orang acap kali lupa ia seorang tunanetra. Selalu ada sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang lain. Ia bahkan menolak memakai kacamata untuk menutupi matanya yang kisut.
”Saya memang buta, lalu kenapa? Buat saya, ini sama dengan kalau orang lain yang kena sakit jantung atau ginjal, ya, saya kebagian buta,” katanya bersemangat.
Kehilangan Orientasi Waktu
Awal Oktober 1987 Ing Han yang ketika itu bekerja pada perusahaan Frisian Flag hendak mengambil koran di depan rumah. Pria yang sebelumnya tak pernah berkacamata ini terkejut karena ia tak bisa membaca koran. Mata kirinya tidak bisa melihat sama sekali, sedangkan mata kanan kabur berat. Ia sempat dirawat sebulan lebih di RS Mata Aini, Jakarta, sebelum dokter di Singapura menjatuhkan vonis. Saraf mata Ing Han rusak total.
Sampai di sini, dia tiba pada pertanyaan yang sering diteriakkan anak manusia kepada Tuhan dengan kepedihan dan ketidakmengertian. Dua tahun Ing Han hanya duduk di kursi tamu rumahnya, mencari jawaban terhadap pertanyaan: ”Tuhan, mengapa? Kenapa saya? Hidup saya lurus, apa salah saya? Saya tidak main perempuan, tidak pemabuk, kerja pun lurus-lurus saja,” ujarnya.
Tak sedikit orang yang berkunjung dan memberinya nasihat. Kalimat seperti ”Tuhan mencoba tak lebih dari kekuatan kita” berulang kali didengar Ing Han. Begitu seringnya kalimat itu ia dengar, sampai menjadi ungkapan kosong yang saat itu dia tanggapi dengan apatis. ”Ngomong, sih, gampang. Coba mereka yang merasakan...,” katanya.
Hal paling menyedihkan bagi Ing Han sebagai tunanetra adalah kehilangan orientasi waktu. Semua hal yang saat dia bisa melihat terasa sederhana, seperti matahari terbit dan tenggelam, tiada lagi. Padahal, ia ingin tahu waktu supaya bisa mendengarkan siaran radio yang menjadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar.
Setiap hari ia dihadapkan pada pertanyaan: setelah sarapan, lalu apa? Ia tak bisa lagi bekerja di kantor, membaca buku, atau jalan-jalan. Setiap hari ia hanya duduk dan merasa marah, mengapa ia jadi tunanetra?
Namun, realita tidak bisa menunggu. Benturan pada kenyataan membuat Ing Han harus bangkit. Gugatannya kepada Tuhan menjadi tak penting lagi. Ia harus menerima keadaan.
”Saya harus terima. Itu saja. Percuma saya ngeributin Tuhan ada atau enggak. Terima saja. Yang jelas, besok saya dan istri harus makan,” kata suami dari Sri Handayani Soeganda, seorang ibu rumah tangga, ini.
Setelah itu, beberapa titik cerah mulai tampak. Tahun 1989, lewat rentetan kebetulan, ia berhasil mendapatkan jam tangan khusus untuk tunanetra sehingga menyelesaikan masalahnya tentang orientasi waktu. Saat itulah ia menangis dan berdoa, ia percaya Tuhan itu ada.
Pantang menyerah
Semangatnya yang pantang menyerah membuat dia malah merasa bersyukur. Ing Han menyadari ia sebenarnya telah dipersiapkan menghadapi keadaannya kini. Dulu, ketika bersekolah di Salatiga, juara sekolah selalu di tangannya.
Profesi sang ayah sebagai guru membuat ia terbiasa hidup berkekurangan. Kondisi ini membuat Ing Han harus menopang hidup dengan memberi les privat selama ia berkuliah di Institut Teknologi Bandung.
”Saya teringat masa itu. Biarpun menjadi tunanetra, saya bisa memberikan les privat. Saya masih ingat semua rumus-rumus pelajaran (Matematika dan Fisika) itu,” katanya.
Ia mulai dari sekitar kompleks. Dengan sepeda, istrinya mengedarkan selebaran berisi jasa les privat di sekeliling kompleks perumahan mereka. Tiga murid pertama berhasil mereka dapatkan. Saat itu Ing Han belum berani mengakui kalau buta. Ia meminta murid membacakan soal, dengan alasan matanya rabun.
Hingga kini cara itu tetap dipakai walau Ing Han tidak lagi menutupi keadaan sebenarnya. Sehari-hari, kalau menemui masalah, ia langsung membongkar buku-buku lama dari masa dia SMP dan SMA, lalu meminta istrinya membacakan.
Untuk membantu pengajaran, dibuat tabel seperti Bilangan Berpangkat, bagan seperti Proyeksi serta Jarak dan Gradien, yang digantung di ruang tamu rumahnya, tempat dia mengajar.
Dari teman-temannya yang guru, ia memiliki koleksi soal-soal ujian terbaru. Cerita Ing Han, dalam menangani murid yang penting adalah kesan pertama. Pada pertemuan awal ia langsung ”menjatuhkan” mental murid agar mereka percaya kepadanya dan tak berpikir ”orang buta itu tahu apa-apa.”
Ing Han menyemangati diri dengan semboyan dari Napoleon Bonaparte, ”Tak ada kata "tidak bisa" dalam kamus hidup.”
Menjadi tunanetra tak berarti kecemerlangan pikiran terbengkalai. Kemampuan itu justru membuat dia dapat mandiri. Ia juga bisa membantu orang lain, seperti guru-guru yang meneleponnya saat mereka kesulitan memecahkan soal hingga anak loper koran yang ia beri les privat dengan tarif diskon.
Untuk mereka yang mengalami masalah kebutaan, beberapa kali Ing Han ikut acara berbagi untuk memberi semangat, baik lewat radio maupun pertemuan, di Lembaga Daya Dharma yang berkantor di Gereja Katedral, Jakarta.
Meski tunanetra, Ing Han tetap sibuk. Ia memberi les privat kepada 17 siswa.. Bahkan, hari Minggu ia bekerja mulai dari pukul 08.00 sampai 18.00. Dia pun kini tengah berusaha memecahkan problem matematika klasik, yakni membagi sudut apa pun menjadi tiga sama besar. Untuk itu, selain bertemu dengan seorang profesor di Tunghai Unversity, Taiwan, ia juga mengontak dua jurnal matematika internasional guna mengusulkan pemecahannya. Sumber: Milis Rohani, kiriman Wiliangto.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.
Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.
Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala.
Bercakap-cakap dengan dia atau melihatnya beraksi mengajar anak-anak dari sekolah Pelita Harapan, Kanisius, St Ursula, BPK Penabur, atau Bina Bangsa, orang acap kali lupa ia seorang tunanetra. Selalu ada sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang lain. Ia bahkan menolak memakai kacamata untuk menutupi matanya yang kisut.
”Saya memang buta, lalu kenapa? Buat saya, ini sama dengan kalau orang lain yang kena sakit jantung atau ginjal, ya, saya kebagian buta,” katanya bersemangat.
Kehilangan Orientasi Waktu
Awal Oktober 1987 Ing Han yang ketika itu bekerja pada perusahaan Frisian Flag hendak mengambil koran di depan rumah. Pria yang sebelumnya tak pernah berkacamata ini terkejut karena ia tak bisa membaca koran. Mata kirinya tidak bisa melihat sama sekali, sedangkan mata kanan kabur berat. Ia sempat dirawat sebulan lebih di RS Mata Aini, Jakarta, sebelum dokter di Singapura menjatuhkan vonis. Saraf mata Ing Han rusak total.
Sampai di sini, dia tiba pada pertanyaan yang sering diteriakkan anak manusia kepada Tuhan dengan kepedihan dan ketidakmengertian. Dua tahun Ing Han hanya duduk di kursi tamu rumahnya, mencari jawaban terhadap pertanyaan: ”Tuhan, mengapa? Kenapa saya? Hidup saya lurus, apa salah saya? Saya tidak main perempuan, tidak pemabuk, kerja pun lurus-lurus saja,” ujarnya.
Tak sedikit orang yang berkunjung dan memberinya nasihat. Kalimat seperti ”Tuhan mencoba tak lebih dari kekuatan kita” berulang kali didengar Ing Han. Begitu seringnya kalimat itu ia dengar, sampai menjadi ungkapan kosong yang saat itu dia tanggapi dengan apatis. ”Ngomong, sih, gampang. Coba mereka yang merasakan...,” katanya.
Hal paling menyedihkan bagi Ing Han sebagai tunanetra adalah kehilangan orientasi waktu. Semua hal yang saat dia bisa melihat terasa sederhana, seperti matahari terbit dan tenggelam, tiada lagi. Padahal, ia ingin tahu waktu supaya bisa mendengarkan siaran radio yang menjadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar.
Setiap hari ia dihadapkan pada pertanyaan: setelah sarapan, lalu apa? Ia tak bisa lagi bekerja di kantor, membaca buku, atau jalan-jalan. Setiap hari ia hanya duduk dan merasa marah, mengapa ia jadi tunanetra?
Namun, realita tidak bisa menunggu. Benturan pada kenyataan membuat Ing Han harus bangkit. Gugatannya kepada Tuhan menjadi tak penting lagi. Ia harus menerima keadaan.
”Saya harus terima. Itu saja. Percuma saya ngeributin Tuhan ada atau enggak. Terima saja. Yang jelas, besok saya dan istri harus makan,” kata suami dari Sri Handayani Soeganda, seorang ibu rumah tangga, ini.
Setelah itu, beberapa titik cerah mulai tampak. Tahun 1989, lewat rentetan kebetulan, ia berhasil mendapatkan jam tangan khusus untuk tunanetra sehingga menyelesaikan masalahnya tentang orientasi waktu. Saat itulah ia menangis dan berdoa, ia percaya Tuhan itu ada.
Pantang menyerah
Semangatnya yang pantang menyerah membuat dia malah merasa bersyukur. Ing Han menyadari ia sebenarnya telah dipersiapkan menghadapi keadaannya kini. Dulu, ketika bersekolah di Salatiga, juara sekolah selalu di tangannya.
Profesi sang ayah sebagai guru membuat ia terbiasa hidup berkekurangan. Kondisi ini membuat Ing Han harus menopang hidup dengan memberi les privat selama ia berkuliah di Institut Teknologi Bandung.
”Saya teringat masa itu. Biarpun menjadi tunanetra, saya bisa memberikan les privat. Saya masih ingat semua rumus-rumus pelajaran (Matematika dan Fisika) itu,” katanya.
Ia mulai dari sekitar kompleks. Dengan sepeda, istrinya mengedarkan selebaran berisi jasa les privat di sekeliling kompleks perumahan mereka. Tiga murid pertama berhasil mereka dapatkan. Saat itu Ing Han belum berani mengakui kalau buta. Ia meminta murid membacakan soal, dengan alasan matanya rabun.
Hingga kini cara itu tetap dipakai walau Ing Han tidak lagi menutupi keadaan sebenarnya. Sehari-hari, kalau menemui masalah, ia langsung membongkar buku-buku lama dari masa dia SMP dan SMA, lalu meminta istrinya membacakan.
Untuk membantu pengajaran, dibuat tabel seperti Bilangan Berpangkat, bagan seperti Proyeksi serta Jarak dan Gradien, yang digantung di ruang tamu rumahnya, tempat dia mengajar.
Dari teman-temannya yang guru, ia memiliki koleksi soal-soal ujian terbaru. Cerita Ing Han, dalam menangani murid yang penting adalah kesan pertama. Pada pertemuan awal ia langsung ”menjatuhkan” mental murid agar mereka percaya kepadanya dan tak berpikir ”orang buta itu tahu apa-apa.”
Ing Han menyemangati diri dengan semboyan dari Napoleon Bonaparte, ”Tak ada kata "tidak bisa" dalam kamus hidup.”
Menjadi tunanetra tak berarti kecemerlangan pikiran terbengkalai. Kemampuan itu justru membuat dia dapat mandiri. Ia juga bisa membantu orang lain, seperti guru-guru yang meneleponnya saat mereka kesulitan memecahkan soal hingga anak loper koran yang ia beri les privat dengan tarif diskon.
Untuk mereka yang mengalami masalah kebutaan, beberapa kali Ing Han ikut acara berbagi untuk memberi semangat, baik lewat radio maupun pertemuan, di Lembaga Daya Dharma yang berkantor di Gereja Katedral, Jakarta.
Meski tunanetra, Ing Han tetap sibuk. Ia memberi les privat kepada 17 siswa.. Bahkan, hari Minggu ia bekerja mulai dari pukul 08.00 sampai 18.00. Dia pun kini tengah berusaha memecahkan problem matematika klasik, yakni membagi sudut apa pun menjadi tiga sama besar. Untuk itu, selain bertemu dengan seorang profesor di Tunghai Unversity, Taiwan, ia juga mengontak dua jurnal matematika internasional guna mengusulkan pemecahannya. Sumber: Milis Rohani, kiriman Wiliangto.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 28, 2009
The Amazing Jessica Cox
Kisah tentang Jessica Cox ini pernah saya tulis di blogspot saya tanggal 31 Desember 2008 yang lalu. Inilah tambahan informasi dan foto-foto:

Jessica Cox, 25, a girl born without arms, stands inside an aircraft. The girl from Tucson, Arizona got the Sport Pilot certificate lately and became the first pilot licensed to fly using only her feet.
*****

Jessica Cox of Tucson was born without arms, but that has only stopped her from doing one thing: using the word "can't."
*****

With one foot manning the controls and the other delicately guiding the steering column, Cox, 25, soared to achieve a Sport Pilot certificate. Her certificate qualifies her to fly a light-sport aircraft to altitudes of 10,000 feet.
****

*****

"When she came up here driving a car," Traweek recalled, "I knew she'd have no problem flying a plane."
*****

*****

Doctors never learned why she was born without arms, but she figured out early on that she didn't want to use prosthetic devices.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Jessica Cox, 25, a girl born without arms, stands inside an aircraft. The girl from Tucson, Arizona got the Sport Pilot certificate lately and became the first pilot licensed to fly using only her feet.
*****

Jessica Cox of Tucson was born without arms, but that has only stopped her from doing one thing: using the word "can't."
*****

With one foot manning the controls and the other delicately guiding the steering column, Cox, 25, soared to achieve a Sport Pilot certificate. Her certificate qualifies her to fly a light-sport aircraft to altitudes of 10,000 feet.
****

*****

"When she came up here driving a car," Traweek recalled, "I knew she'd have no problem flying a plane."
*****

*****

Doctors never learned why she was born without arms, but she figured out early on that she didn't want to use prosthetic devices.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI