Search This Blog

Showing posts with label Anak - Children. Show all posts
Showing posts with label Anak - Children. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Mukjizat di Pintu Kematian

Ini adalah kisah seorang bayi di pintu kematian, kisah mukjizat tentang Ethan Stacy. Pada waktu kedua orangtua Ethan melangkah sepanjang jalan di pekuburan untuk melihat tempat untuk mengubur bayi mereka, Ethan Stacy, yang tinggal menunggu kematian dalam hitungan hari. Ethan sudah dirawat oleh perawat spesialis bagi pasien-pasien yang akan meninggal (hospice nurse). Kondisi kesehatan tubuhnya menurun dengan cepat.

Menurut penjelasan Dr.  Melissa Rhodes, Ethan menderita sakit kanker darah jenis Acute Myeloid Leukemia (AML). Ia bertugas di bagian Onkologi di RS Anak Vanderbilt di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, dan menjadi salah satu dokter yang merawat Ethan. “Anak-anak yang terlahir dengan penyakit leukemia biasanya tidak akan bertahan hidup lama,” kata Dr. Rhodes. “Pengobatan terbaik yang dapat kami lakukan adalah mengobati Ethan dengan kemoterapi yang berat dan itupun tidak menjamin apakah ia dapat disembuhkan.” Sesungguhnya, kemoterapi itu ibarat racun bagi bayi-bayi yang baru dilahirkan sehingga para dokter memberi pilihan kepada orangtua Ethan untuk menolak kemoterapi bagi anak mereka.

Setelah dua minggu di RS, Chad dan Mandy, orangtua Ethan, mengambil keputusan yang berat untuk membawa bayi mereka pulang ke rumah. “Kemo itu dapat membunuh bayi kita,” kata Chad. “Banyak risikonya.”

“Kami pulang ke rumah dan saya ingat sedang berbaring di ranjang sambil berdoa,” kata Mandy, “Saya katakan, ‘Tuhan, berilah kami jawaban,’ Kami berdua bangun tidur pada keesokan hari dan kami sepakat, ‘Tidak, kami tidak akan membiarkan Ethan dikemo.’”  Kebanyakan dokter di RS Vanderbilt mendukung keputusan mereka. “Kami bayangkan jika Ethan memang terkena jenis leukemia yang kami duga, bahkan dengan pengobatan melalui kemoterapi dengan dosis penuhpun mungkin tidak akan menolong Ethan,” kata Dr. Rhodes. “Karena alasan itulah kami menghormati keputusan keluarga itu.”

Setelah beberapa hari di rumah, bayi Ethan mengeluarkan bintik-bintik, yang sangat umum bagi para bayi yang terkena infeksi. Oleh karena itu mereka membawa kembali Ethan ke RS. Itulah saatnya ketika tumor mulai menampakkan diri. “Kami mendapati ada tonjolan di betisnya,” kata Mandy. “Kami memanggil dokter, dan mereka memberitahu bahwa itu mungkin gumpalan darah atau tumpukan sel leukemia, yang disebut ‘chloroma’.” Tumor-tumor lain mulai muncul di bagian tubuh Ethan yang lain, seperti kaki, tangan, dan lengannya.

“Leukemia itu sendiri artinya kanker darah, suatu penyakit darah,” jelas Dr. Rhodes. “Tetapi  jenis leukemia AML ini dapat menyebar ke dalam jaringan kulit. Itulah yang kami percaya sedang dialami oleh Ethan. Ia sesungguhnya terkena leukemia di dalam kulitnya, di tangan dan kakinya, selain di dalam liver dan limfanya. Jadi, tubuh Ethan menunjukkan bahwa penyakitnya sudah mencapai stadium lanjut.”

Saat itu Ethan sudah berumur tiga minggu, dan kondisi kesehatannya sangat menurun. Ia tidak mau makan dan mulai mengalami gangguan tidur. “Sang perawat memberitahu saya bahwa Ethan mungkin akan mengalami apa yang disebut ‘sepsis’, yaitu infeksi di seluruh tubuh, yang bisa berakibat kematian dalam damai atau pendarahan hebat,” demikian kenang Mandy. “Saya mungkin akan melihat darah di dalam popoknya atau mungkin keluar darah dari telinganya. Bahkan saya begitu takut membuka popok untuk menggantikannya.

Setiap perawat datang, Chad dan Mandy merasa mereka sudah ada di titik akhir dan para sahabat terus berdoa, sambil memercayai Allah untuk melakukan hal-hal yang mustahil. Saya ingat pada suatu saat saya menimangnya sambil bernyanyi, ‘Open the eyes of my heart, Lord. I want to see You’,” kata Mandy. “Saya tahu bahwa sekiranya saja saya memfokuskan pikiran saya kepada Kristus, maka itulah satu-satunya cara untuk melewati semua ini.”

Pada malam ketika Ethan menghadapi krisis kesehatannya, terjadilah sesuatu. “Larut malam itu Mandy mulai memberi Ethan makan, dan Ethan mulai menyedot botol minumannya sedikit demi sedikit,” tutur Chad. Keesokan harinya, Ethan sedikit lebih kuat... Tetapi apakah ini hanya merupakan pemulihan sebelum kematian?

Mandy berkata, “Saya ingat saya sedang duduk di meja dapur dan berkata, ‘Saya percaya Allah sedang menyembuhkan Ethan. Saya dapat melihat Allah sedang bekerja.’ Kemudian Ethan mulai menjadi semakin baik secara bertahap. Dan selama minggu berikutnya, kami memberi minum susu enam ons setiap tiga jam.” Selama dua minggu berikutnya, Ethan semakin pulih! Dan ketika Mandy membawa Ethan kembali ke RS Vanderbilt untuk memeriksakan darah Ethan, kadar trombositnya sudah mencapai 415,000, yaitu ada dalam batas normal, padahal sebelumnya pernah mencapai titik terendah 39,000.”

Hal ini membingungkan Dr. Rhodes dan para dokter sejawatnya. “Semula Ethan sangat parah sakitnya dan kemudian dengan tiba-tiba ia menjadi semakin sehat. Jadi, kami ingin memeriksa lebih lanjut. Kami melakukan test sumsum tulang, yang menunjukkan tiadanya bekas leukemia. Tumor-tumor itu secara bertahap menghilang dalam hitungan seminggu atau lebih. Hal ini sungguh sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan.”

Chad dan Mandy tahu bahwa mereka telah menyaksikan suatu mukjizat ketika mereka melakukan biopsi ulang terhadap sumsum tulang di bulan Juli dengan hasil sama yang memuaskan. Hari ini Ethan Stacy sudah berusia dua tahun, yang suka bermain-main dengan ayah dan kakak perempuannya, Kaylee. Tak diragukan lagi bahwa keluarga Stacy sangat bersyukur kepada Tuhan. “Doa-doa dari para sahabat dan anggota jemaat itu sangat berarti bagi kami,” tutur Chad. Mandy turut mengiakan. “Sungguh mengagumkan punya Allah yang dahsyat seperti itu...Saya tak habis mengerti akan mukjizat demi mukjizat itu. Saya tak sabar melihat apa yang  Allah sediakan bagi Ethan selanjutnya karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang hebat telah disediakan baginya.”
           


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

------

Notes:
Terima kasih banyak atas pemesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Enny di Jakarta dan Ibu Renata di Cimahi. God bless you...

Friday, October 5, 2012

Mahasiswa Indonesia Termuda

Biografi March Boedihardjo - Mahasiswa Jenius Termuda di Hongkong berumur 9 Tahun dari Indonesia








March Boedihardjo, satu dari banyak anak berprestasi Indonesia keturunan Tionghoa lahir pada tahun 1998 di Hongkong. March Boedihardjo dan keluarganya adalah orang Indonesia yang bermukim di Hongkong. Dan pada tahun 2005, March dan keluarganya hijrah ke United Kingdom, ketika kakak laki-lakinya, Horatio Boediharjo yang saat itu berusia 14 tahun mendapat beasiswa di Oxford University, dalam program PhD, dan membuat ia menjadi salah satu siswa termuda di universitas itu.

Saturday, August 4, 2012

Permintaan Anak

Ada 13 permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan:

1. Cintailah aku sepenuh hatimu. 

2. Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku. 

3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku. 

4. Jangan marahi aku di depan orang banyak. 

5. Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adikku atau anak orang lain.

6. Papa mama jangan lupa, aku adalah fotocopymu. 

7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil. 

8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah. 

9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah kepadaku. 

10. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku. 

11. Aku adalah anak panah di tanganmu. Mau dilepaskan ke arah mana, itu bergantung hikmat Papa Mama.

12. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu adalah doa bagiku?

13. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu. 

"SEMOGA BERMANFAAT.... BAGI PARA ORANG TUA."

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 7, 2012

Tae Ho Story

Tae Ho Story
Tae Ho adalah bocah Korea umur 13 tahun (pada tahun 2012) yang tidak mempunyai kedua lengan, hanya mempunyai empat jari di kedua kakinya. Ia ditinggalkan orang tuanya begitu saja sejak bayi dan sangat mengharukan melihat perjuangannya untuk mandiri. Dia tetap bisa berpikir positif, mempunyai kemauan kuat untuk tidak meminta pertolongan orang lain untuk memakai dan melepaskan baju, menyikat gigi, makan, menyisir rambut, semuanya dilakukan dengan kedua kakinya. Mirip dengan Nick Vujicic.
Seharusnya kita banyak mengucap syukur kepada Tuhan atas kehidupan kita.


Lihat videonya di: 
http://www.youtube.com/watch_popup?v=BfL2U0BJ48g&vq=medium#t=81

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Vivi di Jakarta Pusat. Buku sudah dikirim via Pos Express hari ini, besok mungkin sudah sampai. Gbu.


Friday, May 25, 2012

Punya Anak Setelah Sembilan Tahun


Punya Anak Setelah Sembilan Tahun

Ini kesaksian dari Pdt. Samuel Lie dari Malaysia. Setelah menikah satu dua tahun tanpa tanda-tanda akan punya anak, semuanya masih OK. Orang-orang mulai tanya, ”Mengapa belum punya anak juga?”
”Yah, belum waktu-Nya Tuhan.” begitu mereka menjawab.

Tahun ketiga lewat tanpa kehadiran anak, tahun keempat kosong, tahun kelima kosong. Tahun keenam isterinya mulai gelisah. Mengapa Tuhan? Keinginan punya anak terus menggumpal di hati mereka namun tidak ada tanda kehamilan.

Pada suatu hari dalam sebuah ibadah di bulan Desember, Pdt. Samuel Lie bernubuat kepada seorang wanita yang sudah delapan tahun tidak bisa punya anak, ”Tahun depan kamu akan punya anak.” Ternyata bulan Januari tahun berikutnya wanita ini dinyatakan positif hamil. Hal ini membuat istrinya makin uring-uringan. ”Orang lain, papa doakan dan bisa hamil. Kenapa papa tidak nubuatkan kehamilan buat saya?”
”Wah, saya belum dapat pesan dari Tuhan tentang kehamilanmu.”  

Pada tahun kedelapan, bulan Desember, pas hari-hari Natal, keinginan isterinya semakin menggumpal. Dia sudah ”desperate” ingin punya anak. Isterinya mulai melakukan tindakan iman. Ia membeli perlengkapan bayi dan memakai baju hamil kemana-mana. Ketika para tetangga menanyakan apakah dia sedang hamil, dia menjawab dengan semangat, ”Haleluya!”

Pada suatu malam ketika Pdt. Samuel Lie sedang tidur nyenyak, mendadak perutnya seperti ada yang menekan dengan tangan yang besar. Perutnya langsung bergetar hebat dan bangunlah dia dan keluarlah bahasa Roh. Pdt. Lie mendengar pesan Tuhan: ”A son!”

Dia langsung mendekati istrinya dan memegang perut istrinya sambil berkata: ”A son!” Istrinya kaget dan berkata, ”Apa?”
”Tuhan sudah mengatakan kepadaku bahwa kamu akan melahirkan anak laki-laki.”

Esok harinya ketika Pdt. Lie dalam perjalanan dengan mobil, tiba-tiba ada suara di hatinya, ”Belok ke dalam Pom Bensin!”
”Lho, kan bensin di mobil ini masih penuh?”
”Masuk ke dalam pom bensin!” perintah itu tegas.

Karena tidak ada keperluan membeli bensin, Pdt. Lie masuk ke minimarket yang ada di kompleks pom bensin itu. Dia melihat-lihat rak makanan dan minuman. Ketika dia melihat lemari pendingin berisi berbagai minuman kaleng dan botol, suara itu berkata, ”Ambil kaleng minuman itu!”
”Tongkat Ali?”
Tongkat Ali adalah akar tumbuh-tumbuhan semacam ginseng atau pasak bumi yang dipercaya meningkatkan vitalitas pria. Seumur-umur, Pdt. Lie tidak pernah meminum minuman kesehatan seperti itu. Namun ia taat saja dan ia akan minum di depan istrinya.

Di rumah ia menunjukkan minuman Tongkat Ali. Istrinya heran. ”A son!” katanya dan glek glek glek.

Pada bulan Januari tahun berikutnya, setelah sembilan tahun menikah, istri Pdt. Samuel Lie hamil, dan beberapa bulan kemudian diketahui bahwa ia mengandung anak laki-laki. ”A son!” sesuai dengan pesan Tuhan.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, April 27, 2012

Surat Kepada Papa

Surat Kepada Papa
Sore ini aku pulang lebih awal karena kantor tidak ada orderan. Yah, semenjak ditinggal suamiku aku menjalani peran ganda sebagai papa dan juga mama bagi anak perempuanku yg masih berumur 5 tahun.

Ketika aku pulang, kudapati anakku sudah tidur. Aku cium keningnya dan kudapati banyak sekali surat-surat.

Kuambil acak dan kubaca surat yang pertama. "Pa, tadi aku dipukul Mama keras sekali. Mama marah karena aku hamburkan biskuit dikamar, padahal tadi aku makan biskuit karena lapar, mau makan mama belom pulang..." Hatiku langsung terasa berat.
 
Kulanjutkan dengan surat kedua:
"Pa..hari ini Mama pukul tanganku dengan keras sampai sakit kalö digerakkan. Mama marah karena.aku ambil kertas-kertas Mama. Aku kangen Papa makanya aku ingin kirim surat ke Papa....."
Tak terasa air mataku keluar, melihat tulisan anak kecil yang polos...

Kubuka surat ketiga: "Pa, hari ini Mama marah dan memukulku keras sekali dan mengurungku di kamar mandi. Mama marah karena foto Papa yg ada di kamar Mama mau aku pindahin ke kamar aku. Mau aku pasang di dinding tÃ¥pÄ­ aku kurang tinggi. Jadi, fotonya jatuh, padahal aku mau taruh foto papa supaya aku  besar nanti aku selalu ingat wajah Papa yang membuat aku...."

Begitu kubaca surat terakhir air mataku semakin tumpah dan kupeluk erat anakku yang lagi tidur.

Untuk para istri yg dianugerahi suami dan anak yang baik, jangan sia siakan mereka. Mereka tidak ternilai. Sediakan waktu untuk mereka, karena ada saatnya mereka tidak ada lagi. 
 
Note:
Terima kasih atas pesanan 2 buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Elisabeth di Kelapa Gading - Jakarta. Buku sudah dikirimkan dengan pos kilat khusus, semoga buku tersebut menjadi berkat. Gbu.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, February 24, 2012

Jangan Berpikir Negatif

Jangan Berpikir Negatif

Dalam artikel ini saya ingin membagikan KISAH NYATA yang dimuat di harian Xia Wen Pao-Cina tahun 2007 mengenai kematian gadis kecil bernama Lie Mei akibat pikiran negatif sang ibu bernama Siu Lan. Kiranya artikel ini dapat menjadi bahan perenungan bagi kita semua, sehingga kita dapat mengerti bahwa pikiran negatif dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup.

Mari kita simak kisah di bawah ini:

Seorang janda miskin, Siu Lan, mempunyai anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue di pasar dan tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk tidak keluar rumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei di rumah dan Siu Lan sangat marah, karena merasa putrinya tersebut benar-benar tidak tahu diri sambil berkata, "Dasar anak tidak tahu diri! Udah hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah!"

Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan pintu rumahnya dikunci dari luar sebagai hukuman agar Lie Mei tidak dapat masuk. "Putriku mesti diberi pelajaran!" pikir Siu Lan geram.

Sepulang dari jualan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa dan jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung-raung, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah, lalu mengguncang-guncang tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama, "Lie Mei, Lie Mei, Lie Mei...."

Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya yang ternyata sebuah biskuit kecil yang dibungkus kertas usang dengan tulisan kecil, yang berantakan tapi dapat dibaca. Di kertas Lie Mei menulis, "Mama pasti lupa, ini hari istimewa buat mama! Aku membelikan biskuit kecil ini sebagai hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar. Mama, selamat ulang tahun ya!"

Tangis Siu Lan tambah meraung-raung demi melihat kebaikan gadis kecilnya.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, February 5, 2012

Shout - Berteriak

BERTERIAK

Salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk di sekitar Kepulauan Solomon, di Pasifik Selatan yakni meneriaki pohon.

Kebiasaan ini mereka lakukan pada pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit dipotong dengan kapak. Tujuannya supaya pohon itu mati.

Caranya, beberapa penduduk yang kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu: "Mati!!! Mati!!! Mati!!! Hai, pohon, matilah kau!!!" Mereka melakukan teriakan itu berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh sangat menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering, ini fakta! Setelah itu dahan-dahannya mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan2 yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya makhluk hidup itu akan mati.

Pernahkah Anda berteriak kepada anak Anda? Orang di sekeliling anda atau siapapun?

Berteriak seperti: Ayo cepat! Dasar lelet! Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan? Jangan main-main disini! Berisik! Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati. Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri ! Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa! Aduh, kamu kampungan banget sih!? Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya : Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa! Kapan kamu jadi pinter?

Setiap kali Anda berteriak kepada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka, ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk Kepulauan Solomon ini.

Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai.

Mari kita penuhi hidup ini dengan buah Roh dari Tuhan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, murah hati, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri.



Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com


Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" atas nama Ibu Rosita, semoga buku sudah diterima dengan baik. Terima kasih juga pesanan buku yang sama oleh Bapak Reinald, besok hari Senin 6 Februari 2012 buku akan diposkan via Kilat Khusus. Blessings to you all...

Monday, June 20, 2011

Amazing Boy

Zhang Da, Kisah Seorang Anak Teladan dari Negeri China

Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “Perbuatan Luar Biasa”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya anak kecil yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China.

Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.

Sejak ia berusia 10 tahun (tahun 2001) anak ini ditinggal pergi oleh ibunya yang sudah tidak tahan lagi hidup bersama suaminya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan Papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da merawat Papanya yang sakit sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi / suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik papanya sendiri. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, pembawa acara (MC) bertanya kepadanya,

"Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah?

Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!"

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu."

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab,

"Aku mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama kembalilah!"

Semua yang hadir pun spontan menitikkan air mata karena terharu. Tidak ada yang menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya?

Mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit? Mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, pasti semua akan membantunya.

Mungkin apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku mau Mama kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Zhang Da boleh dibilang langka karena sangat berbeda dengan anak-anak modern. Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.

Sumber :
jujunjunaedi.multiply.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com

PS: Terima kasih banyak atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" dari Bapak Toha di Surabaya. Buku sudah dikirim sore ini dengan Pos Express. Gbu

Thursday, October 1, 2009

My Letter to Mama


Surat untuk mama...


Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya. Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mamamarah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis. Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.

Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget, kan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja. Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya? Nanti mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, ma?

Mbak ngga diganti ngga apa-apa tapi mama bilangin dong jangan galak sama aku. Ma, bisa ngga hari Kamis sore mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, ma. Ntar yang dandanin aku siapa?
Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, ma.

Temen-temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan mereka jadinya udah lupa tampangnya mama. Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh.

Uangnya mama tabung aja. Kalo uang mama udah banyak, kan mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama mama kali ya? Uduah dulu ya, ma. Udah ngantuk.
I love you Mom

Email dari Bpk Wawan S.T/Hendra Lim
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, July 25, 2009

Restored Teenager

Ada seseorang datang kepada saya, dan berkata bahwa anaknya yang sedang bersekolah di Malaysia bermasalah. Sebenarnya anak itu tidak suka disuruh orangtuanya bersekolah di sana, tetapi dia tidak berani menentang kehendak orangtuanya. Anak itu belajar mulai dari kelas 1 SMA sampai kelas 3. Ketika di pertengahan kelas 3 anak itu pulang ke Banjarmasin dan tidak mau kembali lagi ke Malaysia. Dia menjadi anak yang pendiam, murung, tidak suka tertawa, sering tinggal di kamar tidur, dan main games saja. Dia jarang berbicara dengan orangtuanya, sering marah dan ngambek. Orangtuanya sudah putus asa menghadapi anak ini. Apa yang ada di hati anak itu, orangtuanya tidak tahu. Dipanggil makan tidak mau. Dipanggil ulang dia marah. Dia tidak mau sekolah lagi.

Orangtuanya datang kepada saya karena mereka merasa mempunyai masalah besar dengan anak itu. Tuhan berkata kepada saya bahwa masalah anak itu kecil, tidak ada artinya. Kalau Tuhan ingini, sebenarnya sebentar saja Dia bisa membuka hati anak itu dan anak itu akan berubah 180 derajat. Saya sampaikan kepada mereka bahwa masalah mereka itu kecil, tetapi Tuhan mereka besar. Dan saya bersyukur suami istri itu percaya.

Tepat pada tahun baru Tuhan menyuruh saya untuk mengajak anak itu bertahun baru di rumah kami. Anak itu mau saya peluk, saya sayangi anak itu. Saya ajak dia ikut acara malam tahun baru bagi anak-anak muda dan menginap di gereja. Saya serahkan anak SMA itu kepada anak saya. Saya berkata kepada anak saya bahwa anak ini tidak bisa tertawa. Sementara acara berlangsung, saya berdoa agar belas kasihan Tuhan turun atas anak itu, agar Tuhan mengembalikan kehidupannya seperti apa yang Tuhan ingini.

Tepat jam 2 dinihari anak itu bisa tertawa bebas, normal, bisa bergaul. Anak ini dijamah Tuhan luar biasa. Setelah anak ini dipulihkan, keesokan harinya dia pulang dan dapat berkomunikasi dengan orangtuanya. Anak ini telah sadar bahwa perilakunya selama ini tidak benar.

Anak ini kembali melanjutkan sekolahnya. Secara logika, sulit sekali dalam waktu empat bulan dia dapat lulus SMA. Tetapi saya percaya bahwa jika Tuhan menyertai anak ini dan dia mau mengikut-sertakan Tuhan dalam hidupnya, maka anak ini dapat lulus SMA. Saya cuma berdoa dan mengijikan apa yang Tuhan mau kerjakan. Dan Tuhan bekerja. Ketika ujian di sekolahnya, dia bisa lulus ujian dengan nilai yang cukup baik. Bahkan dia bisa melanjutkan studinya ke universitas. Anak itu kini menjadi anak yang baik, anak yang takut akan Tuhan, dan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja. Perubahan yang terjadi pada anak ini membuat orangtuanya mengambil bagian dalam pelayanan di gereja.

Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata" oleh Lidya Dewi Yana, terbitan Bethlehem Publisher


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 24, 2009

Safe and Secured

Corush Muzuni masih berusia tiga belas tahun ketika ia turut mendaftar sebagai calon presiden Iran tahun ini. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan alasannya mendaftar sebagai calon presiden. “Aku ingin mengukir sejarah, karena aku akan menandatangani kesepakatan dengan Barack Obama untuk menyewa beberapa pulau di Hawaii, sehingga anak-anak Gaza beserta anak-anak di seluruh dunia dapat merasa aman dan nyaman.”

Kepulauan Hawaii terkenal sebagai surga para wisatawan karena tempatnya yang tenang dan indah. Tepat jika anak-anak mendambakan tempat seperti ini. Anak-anak akan memiliki lingkungan yang tenang, aman, dan nyaman bagi pertumbuhannya, baik pertumbuhan jasmani maupun rohani.

Tuhan, di dalam Yesaya 44, memberikan pengharapan bagi anak cucu dan keturunan Yakub yang masih dalam pembuangan. Secara jasmani, mereka akan mengalami pemeliharan Tuhan seperti rumput yang tumbuh di tengah-tengah air dan seperti pohon gandarusa di tepi sungai (ayat 4); cukup mendapat asupan makanan yang berguna bagi pertumbuhannya. Secara rohani, mereka pun bertumbuh, sehingga mereka mengaku bahwa mereka kepunyaan Tuhan (ayat 5). Dan, janji tersebut juga berlaku bagi anak-anak kita, anak cucu dan keturunan rohani Yakub.

Jika “beberapa pulau di Hawaii” itu bergantung pada kita, kita dapat memulainya dengan memberikan lingkungan bermain yang mendukung bagi anak-anak; membuka kesempatan agar mereka belajar berbagai hal positif yang mereka sukai; mendampingi menonton televisi; atau mengajak jalan-jalan sore sembari kita menyampaikan pesan-pesan mengenai kebaikan dalam setiap perbincangan. Lingkungan yang aman dan nyaman pantas diberikan kepada anak-anak—tumpuan masa depan. Penulis: Sunandar Sirait. Email dari Bpk. Tefa/Terangdunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 13, 2008

The Other Side of The Bed

Saya kehilangan putera saya, Ryan, karena sakit kanker ketika ia baru berusia 8 tahun. Sebelum meninggal ia ada dalam kondisi setengah sadar di Rumah Sakit, dimana saya menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Pada suatu larut malam, ketika semua keluarga saya pulang ke rumah, saya mematikan lampu-lampu di ruang perawatan Ryan agar menjadi redup. Saya menina-bobokan Ryan pada waktu ia tergeletak di sana. Saya berada dekat tempat tidurnya dan mendadak saya menyadari bahwa inilah mungkin saat terakhir saya melihatnya dalam keadaan hidup. Pikiran ini menggoncangkan saya, dan saya membiarkan mata saya puas memandangi putera tercinta saya, seolah-olah tidak ada kesempatan lagi pada esok hari.

Ryan telah menderita kanker selama 18 bulan, namun tidak pernah mengeluh. Ia bersikap terhadap penderitaan ini lebih baik dari pada siapapun yang saya pernah kenal. Ketika menjadi jelas bahwa ia pasti meninggal, saya memandang Ryan dengan cara yang berbeda. Orang-orang lain juga bertindak yang sama. Orang-orang mengatakan, “Di dalam diri anak itu bukanlah anak kecil. Ia lebih mirip dengan orang tua yang bijak.” Bahkan ketika kami belum tahu bahwa ia mengidap sakit kanker, Ryan akan selalu mengatakan sesuatu yang dalam dan filosofis serta berbobot, dan perhatiannya terhadap kemanusiaan sangat luar biasa. Saya ingat berkali-kali saya memandang putera saya ketika ia berkata sesuatu yang penuh dengan pemikiran yang mendalam dan filosofis, dan pada waktu itu saya akan berkata pada diri saya, “Siapakah yang saya hadapi di dalam diri anak ini?”

Saya telah mengalami perjalanan kerohanian saya sepanjang kehidupan ini dan telah mencari Bapa di berbagai banyak tempat dan kesempatan. Saya selalu menginginkan lebih dari sekedar agama tradisional, yang tidak pernah terasa cocok bagi saya. Saya tidak pernah sungguh-sungguh dapat menghidupi keagamaan seperti itu. Saya selalu memiliki pemahaman tentang berbagai hal di dalam hati sanubari saya yang akan memberi tahu saya ketika saya mendengar sesuatu dari Bapa dan apabila sesuatu tidak benar secara rohani. Hal itu seperti bunyi alarm di dalam diri saya, dan saya selalu ingin berjalan di jalan yang lebih benar.

Selama menunggu Ryan menunggu ajalnya, saya tahu bahwa saya akan belajar sesuatu atau akan dibawa pada sesuatu pemahaman yang lebih luar biasa. Sepertinya ada cahaya terang di kepala saya atau di roh saya yang meneguhkan hal itu, sehingga saya menjadi waspada dan siap.

Pada malam hari itu, ketika saya berdiri di samping tempat tidurnya, mata Ryan terpejam, dan ia ada dalam kondisi setengah sadar. Namun kemudian ia mulai berbicara dengan saya. Meskipun mulutnya tidak bergerak membentuk kata-kata, saya mendengar suaranya dengan sangat jelas yang berkata, “Bu, apakah engkau ingat tentang cerita yang engkau ceritakan kepada saya ketika saya masih kecil? Tentang suatu saat ketika saya masih di sorga sebelum saya dilahirkan, dan saya sedang mencari-cari di antara dinding-dinding sorga, mencari dan mencari sampai saya menemukan seorang wanita yang berambut merah, dan saya katakan, “Inikah wanita yang ingin saya panggil ‘Ibu’?” Saya segera mengerti apa yang Ryan maksudkan, namun saya tak berkata apa-apa.

“Nah, Bu, engkau telah hampir tepat mengisahkannya. Sekarang, pindahlah ke sisi tempat tidur yang lain.” Saya ragu, tidak tahu dengan tepat apa yang harus saya lakukan. “Ayo,” katanya. “Pindahlah ke sisi tempat tidur yang lain.” Saya pikir saya kehilangan akal saya. Apakah saya mendengar hal-hal yang aneh? Suara itu persis seperti suara Ryan, namun terdengar lembut dan tegas serta mungkin lebih dewasa. Sekali lagi ia berkata, “Bu, tolong pergi ke sisi pembaringan yang lain,” Saya berkata, “Baiklah, Ryan, saya akan pergi ke sisi pembaringan yang lain sekarang.” Saya berjalan mengelilingi tempat tidurnya agar sampai di sisi yang lain, dan Ryan melanjutkan.

“Bu, ketika engkau menceritakan kisah itu, engkau hampir tepat melakukannya. Inilah kisah yang sebenarnya. Dulu, dulu sekali, di tempat yang jauh, engkau dan saya mengadakan pembicaraan. Engkau memandang ke atas pada saya dan bertanya bagaimana engkau dapat sampai di tempat di mana saya berada, tempat kedudukan rohani saya, dan saya berkata pada waktu itu bahwa hal itu dapat dilakukan, namun hal itu akan sangat menyakitkan. Saya katakan kepada Ibu bahwa hal itu akan dicapai melalui kematian seorang putera. Saya mengatakan kepada Ibu bahwa saya akan datang dan menjadi putera Ibu seandainya Ibu mau merawat saya melewati masa sakit saya. Pada waktu itu, Bu, kita membuat perjanjian bersama, meskipun kita tidak ingat pembicaraan atau perjanjian kita. Kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama tanpa ingat hal itu, dan entah kita akan bertumbuh dan belajar sesuatu dari pengalaman ini atau kita menjalankan kehidupan ini dengan cara yang berbeda.”

Di depan mata saya muncullah gambaran roh Ryan. Penampilan roh Ryan bagi saya seperti seorang tokoh yang telah berusia lanjut. Kemudian ia mengatakan hal yang sangat dalam. Ia berkata kepada saya, “Sekarang, inilah yang saya inginkan agar Ibu mengingatnya sementara Ibu masih ada di muka bumi ini. Setiap kali engkau akan membuat pilihan atau penilaian yang sangat penting dan akan mengubah kehidupan, engkau harus selalu pindah ke sisi tempat tidur yang lain agar engkau mendapatkan perspektif yang berbeda. Terutama sekali ketika hal itu menyangkut penilaian terhadap sesama manusia.” Ia melanjutkan bahwa hal yang paling penting adalah mengasih dan membiarkan diri saya untuk dikasihi, agar saya membuka hati saya terhadap sukacita kehidupan, karena hal ini merupakan makanan yang segar bagi jiwa dan hidup serta roh saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa pemahaman ini akan memerlukan waktu lama. Saya akan sampai pada pemahaman itu pada saat saya membuka diri saya terhadap proses kesedihan.

Ryan meninggal segera sesudah itu, dan saya baru saja sampai di tempat kesedihan saya karena ditinggal dia dan saya akan merelakan dia pergi. Saya sangat kehilangan putera saya. Saya sangat sukar merelakan dia pergi, tetapi karena saya ingin mendapatkan pemahaman penuh tentang kesedihan ini, saya merelakan kepergiannya meskipun saya harus berusaha keras untuk bertahan dari kejadian yang paling menyakitkan dalam hidup saya: kematian anak saya yang masih kecil, Ryan.

Pada waktu saya memandang ke belakang sekarang ini pada malam itu dan pada semua masa kehidupan Ryan, saya kini dapat memandang dia dengan sebenarnya: Ryan adalah guru terbaik saya. Saya ingin menghormati dengan segala upaya saya pengalaman bersama Ryan, kemudian menolong orang-orang lain dengan hal itu. Kehidupan Ryan tidaklah sia-sia. Ia memiliki tujuan dan misi di bumi ini agar saya bertumbuh.

Dan saya ingin membagikan misinya dan menolong orang-orang lain untuk bertumbuh. Mungkin kisah saya akan membantu orang tua yang bersedih yang tak dapat mengungkapkan perasaan mereka ke dalam kata-kata, atau yang hanya perlu mendengar seseorang menyatakan kepada mereka apa yang akan mereka lalui. Kepada mereka saya berkata, “Saya mengerti bagaimana perasaan anda, dan yakinlah bahwa anda tidak sendirian. Memang anda sendirian bersedih, tetapi tidak sendirian mengalami hal itu.”

Saya percaya pengalaman orang tua yang kehilangan anaknya dapat membawa pertumbuhan dan hikmat bagi jiwa yang hanya didapat karena kehilangan seorang anak. Hal itu menyangkut pertumbuhan yang mendalam dan kudus, yang dirancang dan dibawa dari masa sebelum anda ada di bumi. Agar anda memahami semua hal ini, berjalanlah mengitari agar anda sampai di sisi pembaringan yang lain, sehingga anda dapat mempertimbangkannya dengan pemahaman yang baru. (Naskah bahasa Inggris ditulis Liz Weyhknecht, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda kasihi – Gbu)

*****

The Other Side of the Bed
I lost my son, Ryan, due to cancer when he was only 8 years old. Near the end, he was semi-comatose in a hospital, where I spent many hours with him. Late one night, when all the family had gone home for the evening, I turned the lights in Ryan's room down low. I had on nature sounds to sooth Ryan as he lay there. I went over to his bed and suddenly realized that I was possibly looking at him for one of the last times. The thought shook me to my shoes, and I let my eyes drink him up, as if there was no tomorrow.

Ryan had suffered for 18 months with cancer but never complained. He handled it better than anyone I have ever seen. When it became evident he was going to die, I found myself looking at him in a different way. Others did too. People would tell me things like, “That's not a little boy in there. He is more like a wise old man." Even before we found out he had cancer, Ryan would always say very profound things, and his caring for humanity as remarkable. I remember many times just looking at him when he said something profound and wondering to myself, "What am I dealing with here in this child?"

I have been on a spiritual journey my whole life and have looked for God in so many places. I always wanted more than traditional religion, which never felt right for me. I never could buy into it fully. I always had an understanding of things deep down inside of me that let me know when something I was hearing about God and spirituality wasn't right. It would be like an alarm went off inside me, and I steered clear, always looking for the truer path.

During the course of Ryan's dying, I knew that I was to learn something or be lifted to greater understanding of some sort. It was as if a light had turned on in my head or in my spirit, and I became watchful and ready.

That night, as I stood next to his bed, Ryan's eyes were closed, and he was in his semi-comatose condition. But then he began to talk to me. Though his mouth was not forming the words, I heard his voice very cleary say to me, "Mom, do you remember the story you told me when I was little? About the time I was in heaven before I was born, and I was looking over heaven's walls, searching and searching until I saw this red-headed lady, and I said 'That's the one I want to call mom'?" I knew immediately what he meant, but I said nothing.


"Well, Mom, you almost had it right. Now go to the other side of the bed." I hesitated, not knowing what exactly to do. "Go ahead," he said. "Go to the other side of the bed." I thought I was losing my mind. Was I hearing things? The voice was so much like Ryan's, but sounded gentle and resonant and perhaps more mature. Again he spoke. "Go to the other side of the bed, Mom, please." I said, "Okay, Ryan, I am going to the other side of the bed now." I walked around to the other side, and Ryan continued.


"Mom, when you told me that story, you almost had it right. This is how it truly was. A long, long time ago, in a far away place, you and I had a conversation. You were looking up to me and asking how you could get to where I was—to my spiritual level— and I told you it could be done, but that it would be very painful. I told you it would be through the death of a child. I told you I would come and be your child if you would take care of me through my illness. At that time, Mom, we made a pact together, though we would not remember our conversation or our pact. We would start our lives together without remembering, and we would either grow and learn from this experience or be destined to live it in another way."


To my mind's eye came the image of Ryan's spirit. His appearance to me was like an old sage. Then he told me the most profound thing. He told me, "Now this is what I want you to remember while you are here on earth. Whenever you are going to make an important life-changing choice or judgment, you should always go to the other of the bed to get a different perspective. Especially when it has to do with a judgment on a fellow human." He went on to tell me the most important thing is to love and to let myself be loved. To open up my heart to the joy of living, for this was nourishment for my soul and life and my spirit. He told me that this understanding would take time. I would come to that understanding as I opened myself to the process of grieving.

Ryan died soon after, and I am only just now coming to that place in my grieving for him where I can begin to let him go. I miss my little boy so much. It is hard to let him go, but I want that full understanding, I truly do, and I have tried with everything inside me to survive this most painful event in my life: the death of my little boy, Ryan.

As I look back now to that night and to all the days and nights of Ryan's life, I see him for what he truly is: my greatest teacher. I want with everything inside me to honor my experience with Ryan, then to help others with it. Ryan's life was not in vain. He had a purpose and a mission here on earth to help me to grow.

And I want to share in his mission and help others to grow. Maybe my story will help a grieving parent who can't put their feelings to words, or who just needs to hear someone validate what they are going through. To them I say, "I understand how you feel, and be assured you are not alone. Alone in your grief, yes, but not alone in your experience." I believe the experience of a parent's loss can bring growth and wisdom to the soul which only losing a child can bring. It is deep and sacred growth, planned for and carried out from a time before coming here. All it takes to grasp this is to walk around to other side of the bed and consider it with new understanding. Liz Weyhknecht

****

Terima kasih banyak kepada Ibu Suharti yang telah memforward naskah asli dalam bahasa Inggeris. Gbu

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 12, 2008

Do You Want Me To Pray For You?

Di bawah ini merupakan kesaksian dari pendeta yang kemarin berkotbah di tempat saya. Nama pendetanya Bp Wisnu. Berikut penuturan beliau:

Beberapa waktu yang lalu saya ada pelayanan untuk Youth di daerah Tangerang. Saya naik bis jurusan Tangerang pada siang harinya untuk menuju rumah kakak saya terlebih dulu karena pelayanan tersebut akan berlangsung sore hari. Di dalam bis yang penuh sesak tersebut, masuk pula seorang pengamen cilik usia sekitar 7-8 tahun dengan berbekal kecrekan sederhana (mungkin dari tutup botol) Berbekal alat musik sederhana tersebut, dia nyanyikan lagu "Yesus ajaib, Tuhanku ajaib...." (salah satu lagu Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo) Dan kata-kata tersebut diulang terus menerus. Hampir seluruh penumpang bis memarahi anak tersebut, "Diam kamu! Jangan nyanyi lagu itu lagi. Kalau kamu nggak diam, nanti saya pukul kamu!" Tapi ternyata anak tersebut tidak menanggapi kemarahan mereka dan dengan berani terus menyanyikan lagu tersebut. Saya dalam hati berkata, "Tuhan, anak ini luar biasa. Kalau saya, belum tentu saya bisa dan berani melakukan hal tersebut."

Karena bis akan melanjutkan perjalanan menuju tol berikutnya, di pintu tol menuju Serpong (kalau tidak salah), hampir 3/4 penumpang turun dari bis tersebut. Termasuk saya dan pengamen cilik tersebut. Anak kecil itu didorong hingga akhirnya jatuh. Kemudian dia bangkit lagi. Tapi dia didorong oleh massa hingga terjatuh lagi. Semua penumpang bis mengerumuni anak itu. Saya masih ada di situ dengan tujuan jika kemudian anak tersebut akan ditempeleng atau dihajar, saya akan berusaha untuk menariknya lari menjauhi mereka.

Seluruh kerumunan itu baik pria maupun wanita menjadi marah, "Sudah dibilang jangan nyanyi masih nyanyi terus! Kamu mau saya pukul?" dst, dst. Anak kecil itu hanya terdiam. Setelah amarah mereka mulai mereda, anak kecil itu baru berbicara, "Bapak-bapak, Ibu-Ibu jika mau pukul saya, pukul saja. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Tapi yang Bapak dan Ibu perlu tahu, walaupun saya dipukul atau dibunuh saya tetap akan menyanyikan lagu tersebut." Seluruh kerumunan menjadi terdiam sepertinya mulut mereka terkunci. Kemudian dia melanjutkan, "Sudahlah... . Bapak, Ibu tidak perlu marah-marah lagi. Sini.. saya doakan saja Bapak-Ibu."

Dan apa yang terjadi, seluruh kerumunan itu didoakan satu per satu oleh anak ini. Banyak yang tiba-tiba menangis dan akhirnya mau menerima Tuhan. Saya yang sedari tadi menyaksikan hal tersebut, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tsb. Saya melanjutkan naik mikrolet. Jalanan macet krn kejadian tersebut hingga mikrolet melaju dengan sangat lambat.. Sopir mikroletnya bertanya, " Ada apa sih Pak? Koq banyak kerumunan?" Saya jawab "O.... Itu ada banyak orang didoakan oleh anak kecil."

Di saat mikrolet melaju dengan sangat pelan, tiba-tiba anak kecil pengamen itu naik mikrolet yang sama dengan saya. Saya kemudian bertanya, "Dik, kamu nggak takut dengan orang-orang itu?"

Jawabnya, "Buat apa saya takut? Roh yang ada dalam diri saya lebih besar dari roh apapun di dunia ini", tuturnya mengutip ayat F irman Tuhan. Lanjutnya, "Bapak mau saya doakan?"

Saya terperanjat, "Kamu mau doakan saya?"

Jawabnya, "Ya kalau Bapak mau."

Saya menjawab, "Baiklah. Kamu boleh doakan saya."

Doanya, "Tuhan berkati Bapak ini. Berkati dan urapi Bapak ini jika sore nanti dia akan ada pelayanan Youth."

Sampai di situ, saya tidak bisa menahan air mata yang deras mengalir. Saya tidak peduli lagi dengan penumpang lain yang mungkin menonton kejadian tersebut. Yang saya tahu bahwa Tuhan sendiri yang berbicara pada anak ini, dari mana dia tahu saya akan ada pelayanan Youth sore ini.

Kesaksian ditutup sampai di situ dan dengan satu kesimpulan, jika kita mau, Tuhan bisa pakai kita lebih lagi. Bukan kemampuan tapi kemauan yang Tuhan kehendaki.
~ Kesaksian oleh Pdt. Wisnu, email dikirim oleh Anna. (Diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 5, 2008

The Miracle of a Brother's Song

The Miracle of a Brother's Song
Like any good mother, when Karen found out that another baby was on the way, she did what she could to help her 3-year-old son, Michael prepare for a new sibling. They found out that the new baby was going to be a girl, and day after day, night after night, Michael sang to his sister in Mommy's tummy. He was building a bond of love with his little sister before he even met her.

The pregnancy progressed normally for Karen, an active member of the Panther Creek United Methodist Church in Morristown, Tennessee. In time, the labor pains came. Soon it was every five minutes ... every three....every minute. But serious complications arose during delivery and Karen found herself in hours of labor. Would a C-section be required? Finally, after a long struggle, Michael's little sister was born. But she was in very serious condition. With a siren howling in the night, the ambulance rushed the infant to the neonatal intensive care unit at St. Mary's Hospital, Knoxville, Tennessee.

The days inched by. The little girl got worse. The pediatric specialist regretfully had to tell the parents, "There is very little hope. Be prepared for the worst." Karen and her husband contacted a local cemetery about a burial plot. They had fixed up a special room in their home for the new baby-but now they found themselves having to plan for a funeral. Michael, however, kept begging his parents to let him see his sister. "I want to sing to her," he kept saying.

Week two in intensive care looked as if a funeral would come before the week was over. Michael kept nagging about singing to his sister, but kids are never allowed in Intensive Care. Karen made up her mind, though. She would take Michael whether they liked it or not! If he didn't see his sister right then, he may never see her alive. She dressed him in an oversized scrub suit and marched him into ICU. He looked like a walking laundry basket. But the head nurse recognized him as a child and bellowed, "Get that kid out of here now! None are allowed."

The mother rose up strong in Karen, and the usually mild-mannered lady glared steel-eyed right into the head nurse's face, her lips a firm line. "He is not leaving until he sings to his sister!" Karen towed Michael to his sister's bedside. He gazed at the tiny infant losing the battle, a moment, then began to sing.

In the pure-hearted voice of a 3-year-old, Michael sang: "You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are gray ---" Instantly the baby girl seemed to respond. The pulse rate began to calm down and become steady. "Keep on singing, Michael," encouraged Karen with tears in her eyes. "You never know, dear, how much I love you, Please don't take my sunshine away-..."

As Michael sang to his sister, the baby's ragged, strained breathing became as smooth as a kitten's purr. "Keep on singing, sweetheart!!!" "The other night, dear, as I lay sleeping, I dreamed I held you in my arms...," Michael's little sister began to relax as rest, healing rest, seemed to sweep over her.

"Keep on singing, Michael." Tears had now conquered the face of the bossy head nurse. Karen glowed. "You are my sunshine, my only sunshine. Please don't, take my sunshine away..." The next, day...the very next day...the little girl was well enough to go home!

Woman's Day Magazine called it "The Miracle of a Brother's Song." The medical staff just called it a miracle. The Bible defines a miracle not in terms of what natural healing and time can accomplish but in the "spontaneous and instantaneous touch of God's hand"

NEVER GIVE UP ON THE PEOPLE YOU LOVE. LOVE IS SO INCREDIBLY POWERFUL "When you were born, you cried and the world rejoiced. Live your life so that when you die, the orld cries and you rejoice."
Submitted by Tom Stryker, http://bibleprobe.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 11, 2008

The Storm

Badai
Setelah beberapa nyanyian pujian sebagaimana biasanya di Ibadah Minggu, gembala gereja itu pelan-pelan bangkit berdiri, berjalan ke arah mimbar, dan sebelum ia menyampaikan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang pendeta tamu yang datang pada ibadah sore itu. Dalam kata-kata perkenalannya, gembala itu menceritakan kepada jemaat bahwa pendeta tamu itu adalah teman masa kanak-kanaknya, dan ia ingin agar pendeta tamu itu dapat membagikan apa yang ia rasakan perlu untuk disampaikan pada kebaktian itu. Dengan perkataan itu, seorang pria berumur melangkah ke arah mimbar dan mulai berbicara.

“Seorang ayah, dan puteranya, dan seorang teman puteranya berlayar di pantai Pasifik,” ia memulai, “ketika badai yang sangat cepat menghalangi setiap upaya mereka untuk mendekati pantai. Ombaknya begitu tinggi, sehingga meskipun ayahnya seorang nelayan yang sudah berpengalaman, ia tidak dapat mempertahankan perahu itu dan mereka bertiga dihempaskan ke dalam samudera ketika perahu itu terbalik.”

Pengkhotbah tua itu ragu-ragu sejenak, mulai bertatapan dengan dua remaja yang, untuk pertama kalinya sejak ibadah itu dimulai, nampak agak tertarik dengan kisahnya. Pendeta tua itu melanjutkan kisahnya…

“Dengan menggenggam tali penolong, sang ayah harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam kehidupannya: ke arah anak laki-laki yang mana ia harus melontarkan ujung tali itu? Ia hanya memiliki beberapa detik untuk mengambil keputusan itu. Sang ayah mengetahui bahwa puteranya adalah seorang Kristen dan ia juga mengetahua bahwa teman puteranya bukanlah orang percaya. Kegalauannya dalam mengambil keputusan tak dapat diimbangi dengan arus gelombang itu. Ketika sang ayah berteriak, “Ayah sayang kepadamu, Nak!”, ia melemparkan tali kehidupan itu ke arah teman puteranya. Sementara ayahnya menarik teman puteranya ke arah perahu yang telah terbalik, puteranya telah lenyap ditelan gelombang yang dahsyat dalam gelap gulitanya malam. Jenazah puteranya tak pernah dapat ditemukan lagi,” kata pengkhotbah tua itu dengan sedih.

Pada saat itu juga, kedua remaja yang sedang duduk di bangku gereja, dengan gelisah menunggu kata-kata berikut yang keluar dari mulut pendeta tua itu.

“Sang ayah,” ia melanjutkan, “mengetahui bahwa puteranya akan melangkah ke dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus dan ia tak dapat membayangkan teman puteranya memasuki kekekalan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu, ia mengorbankan puteranya untuk menyelamatkan teman puteranya. Betapa besar kasih Allah sehingga Ia harus melakukan hal yang sama bagi kita! Papa Sorgawi kita mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Saya mendesak kalian untuk menerima tawaran-Nya untuk menyelamatkan kalian dan menerima tali penyelamat yang Ia lemparkan kepada kalian di dalam kebaktian ini.”

Dengan perkataan terakhir itu sang Pendeta tua berbalik dan duduk kembali di kursinya sementara keheningan memenuhi ruangan ibadah itu. Gembala gereja itu kembali berjalan pelan-pelan ke arah mimbar dan menyampaikan khotbah yang sangat singkat dengan undangan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi pada akhir khotbahnya. Meskipun demikian, tak ada tanggapan atas tawarannya. Tetapi, dalam beberapa saat setelah kebaktian usai, kedua anak remaja itu sudah ada di sebelah Pendeta tua itu.

“Kisah yang Bapak sampaikan tadi benar-benar menarik,” kata salah seorang anak laki-laki itu dengan sopan, “tetapi bagi saya tak masuk akal seorang ayah harus menyerahkan puteranya yang tunggal dengan harapan bahwa orang lain akan menjadi orang Kristen.”

“Nah, kamu mengerti suatu hal,” jawab orang tua itu, melirik Alkitabnya yang usang. Pada saat senyum lebar menghiasi wajahnya yang kecil, ia memandang kembali ke arah dua anak remaja itu dan berkata, “Memang hal itu tidak masuk akal, bukan? Tetapi, saya di sini hari ini menceritakan kisah ini kepada kalian mengibaratkan bagaimana rasanya Bapa menyerahkan Putera-Nya yang tunggal bagi saya. Ketahuilah, … akulah sang ayah dalam kisah itu, dan gembalamu itu adalah teman puteraku.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - Mohon agar bagian ini tidak dihapus/di-delete ketika anda memforwardnya.)

****

THE STORM
After a few of the usual Sunday evening hymns, the church's Pastor slowly stood up, walked over to the pulpit and, before he gave his sermon for the evening, briefly introduced a guest Minister who was in the service that evening. In the introduction, the Pastor told the congregation that the guest Minister was one of his dearest childhood friends and that he wanted him to have a few moments to greet the church and share whatever he felt would be appropriate for the service. With that, the elderly gentleman stepped up to the pulpit and began to speak.

"A father, and his son, and a friend of his son were sailing off the Pacific coast," he began... "when a fast storm blocked any attempt to get back to the shore. The waves were so high, even though the father was an experienced sailor, he could not keep the boat upright and the three were swept into the ocean as the boat capsized."

The old man hesitated for a moment, making eye contact with two teenagers who were, for the first time since the service began, looking somewhat interested in his story. The aged minister continued with his story...

"Grabbing a rescue line, the father had to make the most excruciating decision of his life: to which boy would he throw the end of the life line? He had only seconds to make the decision. The father knew that his son was a Christian and he also knew that his son's friend was not. The agony of his decision could not be matched by the torrent of waves.

As the father yelled out 'I Love You, Son!' he threw out the life line to his son's friend. By the time the father had pulled the friend back to the capsized boat his son had disappeared beneath the raging swells into the black night. His body was never recovered," the old man said sadly.

By this time, the two teenagers were sitting up straight in the pew, anxiously waiting for the next words to come out of the old Minister's mouth.

"The father," he continued, "knew his son would step into eternity with Jesus and he could not bear the thought of his son's friend stepping into an eternity without Jesus. Therefore, he sacrificed is son to save the son's friend. How great is the love of God that he should do the same for us? Our Heavenly Father sacrificed His only begotten Son so that we could be saved. I urge you to accept His offer to rescue you and take hold of the life line He is throwing out to you in this service."

With that, the old man turned and sat back down in his chair as silence filled the room. The Pastor again walked slowly to the pulpit and delivered a brief sermon with an invitation at the end. However, no one responded to the appeal. But, within moments after the service ended, the two boys were at the old man's side.

"That was a nice story," politely stated one of the boys, "but, I don't think it was very realistic for a father to give up his only son's life in hopes that the other would become a Christian."

"Well, you've got a point there," the old man replied, glancing down at his worn Bible. As a big smile broadened his narrow face, he looked up again at the boys and said, "It sure isn't very realistic, is it? But, I'm here today to tell you this story gives me a glimpse of what it must have been like for God to give up His only Son for me. You see... I was that father, and your Pastor is my son's friend."

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Don't Worry !

JANGAN KHAWATIR!
Bertahun-tahun yang lain, saya terpesona ketika saya mendengarkan khotbah seorang Pendeta yang selama bertahun-tahun telah setia melayani di gereja. Tugas dan tanggung jawabnya telah membawa dia bepergian ke seluruh negeri. Pada saat ia mengakhiri khotbahnya, ia menceritakan pengalaman-pengalaman kehidupannya yang paling menakutkan dan paling mengganggu pikiran.

Pada suatu saat ia berada dalam penerbangan panjang dari suatu tempat ke tempat lain. Peringatan pertama yang berasal dari masalah-masalah yang mendekat datang ketika tanda di pesawat itu menyala: “Kencangkan sabuk pengaman anda!”. Sejenak kemudian terdengar suara: “Kami tidak akan menyajikan minuman pada saat ini karena kita menghadapi sedikit badai. Pastikan sabuk pengaman anda terpasang.”

Ketika ia memandang ke sekeliling, jelaslah bahwa kebanyakan penumpang pesawat menjadi tegang. Kemudian suara pengumuman terdengar lagi, “Kami menyesal karena kami belum dapat menyajikan makanan sekarang. Badai ini masih ada di depan kita.”

Kemudian badai itu dimulai. Suara halilintar yang keras terdengar mengatasi deru suara mesin. Cahaya petir menyala di kegelapan langit, dan dalam beberapa saat pesawat besar itu seperti gabus yang diombang-ambingkan di lautan luas. Pada suatu saat pesawat itu melambung, pada kali lain pesawat itu merosot seperti hampir jatuh.

Pendeta itu mengaku bahwa ia merasakan ketidak-nyamanan dan ketakutan di antara mereka yang ada di sekelilingnya. Ia berkata, “Pada waktu saya memandang berkeliling, saya dapat melihat bahwa hampir semua penumpang gelisah dan ketakutan. Beberapa orang berdoa. Masa depan nampak tidak jelas dan banyak orang meragukan apakah mereka dapat melewati badai itu. Kemudian, tiba-tiba saya melihat seorang gadis kecil. Nampaknya badai itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia duduk melipat kakinya; ia sedang membaca sebuah buku dan segala hal di dalam dunianya yang kecil begitu tenang dan tenteram. Kadang-kadang ia memejamkan matanya, kemudian ia akan membaca lagi; kemudian ia meluruskan kakinya, namun tak ada kekhawatiran dan ketakutan sedikitpun di dalam dirinya. Ketika pesawat itu diombang-ambingkan oleh badai yang mengerikan, ketika pesawat itu bergoyang ke sana kemari, ketika pesawat itu naik dan turun dengan hebat, ketika semua orang dewasa hampir mati ketakutan, gadis kecil yang luar biasa itu sungguh tenang dan tanpa ketakutan.” Pendeta ini hampir tidak memercayai penglihatannya.

Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika pesawat itu akhirnya mencapai tujuan dan semua penumpang bergegas keluar pesawat, pendeta kita ini sangat ingin berbicara dengan gadis yang ia telah amati sepanjang perjalanan. Setelah mengomentari badai dan gerakan pesawat, ia bertanya mengapa gadis itu tidak takut. Anak kecil itu menjawab, “Karena papa saya adalah pilotnya, dan dia pasti membawa saya pulang dengan selamat.”

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Our Daddy God is in charge, don’t worry!
(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon jangan dihapus/didelete ketika anda memforward naskah ini).


***

Don't Worry!
-- Author Unknown

Years ago, I was enthralled as I listened to a pastor who for several years had faithfully served the church. His executive responsibilities had taken him all over this country. As he concluded his message, he told of one of the most frightening, yet thought-provoking, experiences of his life.

He had been on a long flight from one place to another. The first warning of the approaching problems came when the sign on the airplane flashed on: Fasten your seat belts. Then, after a while, a calm voice said, "We shall not be serving the beverages at this time as we are expecting a little turbulence. Please be sure your seat belt is fastened."

As he looked around the aircraft, it became obvious that many of the passengers were becoming apprehensive. Later, the voice of the announcer said, "We are so sorry that we are unable to serve the meal at this time. The turbulence is still ahead of us."

Then the storm broke. The ominous cracks of thunder could be heard even above the roar of the engines. Lightening lit up the darkening skies, and within moments that great plane was like a cork tossed around on a celestial ocean. One moment the airplane was lifted on terrific currents of air; the next, it dropped as if it were about to crash.

The pastor confessed that he shared the discomfort and fear of those around him. He said, "As I looked around the plane, I could see that nearly all the passengers were upset and alarmed. Some were praying. The future seemed ominous and many were wondering if they would make it through the storm.

Then, I suddenly saw a little girl. Apparently the storm meant nothing to her. She had tucked her feet beneath her as she sat on her seat; she was reading a book and every thing within her small world was calm and orderly. Sometimes she closed her eyes, then she would read again; then she would straighten her legs, but worry and fear were not in her world. When the plane was being buffeted by the terrible storm when it lurched this way and that, as it rose and fell with frightening severity,when all the adults were scared half to death, that marvelous child was completely composed and unafraid." The minister could hardly believe his eyes.

It was not surprising therefore, that when the plane finally reached its destination and all the passengers were hurrying to disembark,our pastor lingered to speak to the girl whom he had watched for such a long time. Having commented about the storm and behavior of the plane, he asked why she had not been afraid.

The child replied, "'Cause my Daddy's the pilot, and he's taking me home."

"Leave all your worries with him, because Your Daddy God cares for you."
(1 Petrus 5:7) (Author Unknown - Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 23, 2008

A Junction Boy

Proyek Alkitab Oleh Seorang Anak Enam Tahun dari Kota Junction

Terinspirasi oleh mimpi ilahi, seorang anak dari kota Junction mengirimkan Alkitab-Alkitab kepada para korban Topan Katrina – Oleh Herb Brock – Penulis di kota Junction.

Para pengungsi akibat kunjungan topan Katrina yang melanda Gulf Coast telah menerima berton-ton makanan dan bergalon-galon air minum dari pemerintah dan organisasi-organisasi sosial. Namun beberapa ratus dari antara mereka telah menerima kiriman makanan rohani juga. Dan makanan rohani itu datangnya dari sumber yang unik: seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari kota Junction yang bertindak berdasarkan ilham dari mimpi ilahi. “Tuhan mengatakan kepada saya dalam suatu mimpi untuk menolong (para pengungsi),” kata Tyler Mattingly.

Ibunya, Jody Mattingly, menjelaskan lebih lanjut. “Tyler bangun pada suatu pagi hari dan menceritakan bahwa Tuhan telah berkata kepadanya dalam suatu mimpi,” katanya. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa topan itu seperti seorang kaya yang telah mengambil semua harta benda orang miskin. Tuhan berkata bahwa Tyler perlu menjadi seperti seekor anjing dan menjilati luka-luka orang miskin itu. Tetapi Tuhan memiliki misi di dalam pikiran-Nya bagi Tyler yang melampaui sekedar menjilati luka-luka, atau bahkan membagi-bagikan makanan dan minuman bagi para pengungsi,” kata Nyonya Mattingly. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa Tyler harus menyediakan sesuatu yang lebih dari pada makanan dan minuman. Ia ingin agar Tyler menyediakan Firman-Nya kepada para pengungsi itu,” kata Nyonya Mattingly lebih lanjut.

Dengan nasihat dari ibunya dan ayahnya, Robbie Mattingly, Tyler dengan segera mulai bekerja untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan, mengubah perintah Tuhan dalam mimpinya menjadi tindakan nyata. “Tyler bertanya kepada Opanya, Jim Cutter, dari kota Junction, apakah gerejanya, Pleasant Run Baptist, dapat menyumbang Alkitab-Alkitab,” kata Jody Mattingly. “Ia kemudian mengontak pendeta kami (Pendeta David Fralix dari New Hop Baptist Church), apakah ia mau menyumbang hal yang sama.”

Alkitab-Alkitab mulai berdatangan begitu perkataan misi Tyler mendatangi gereja demi gereja, komunitas demi komunitas dan dari tetangga ke tetangga. Alkitab-Alkitab datang sebanyak 800 buah dalam tempo beberapa minggu saja. Dan Alkitab-Alkitab itu bukan saja datang dari gembala gereja atau anggota gereja saja, namun juga dari individu-individu yang bukan anggota gereja.

“Pada suatu hari seorang pria dengan sepeda motor datang ke rumah kami dan bertanya, ‘Apakah di sini tempat tinggal Tyler?’” kata Jody. “Ia membawa dua kotak penuh berisi Alkitab. Dan seorang tetangga yang tidak suka pergi ke gereja membeli lima Alkitab baru dan membawanya kepada Tyler,” katanya lagi. Selain itu, para guru dan murid-murid di sekolah Tyler, Danville Christian Academy, juga telah menyumbangkan banyak Alkitab. Suatu kotak khusus telah disediakan di gang menuju aula sekolah itu tempat menyimpan Alkitab yang disumbangkan. “Alkitab-Alkitab itu masih datang, dan kami telah membagikannya pada beberapa minggu terakhir ini,” kata Mattingly. Alkitab-Alkitab itu telah dikirim ke dua tempat, sebuah gereja di daerah Gulf Coast di selatan Alabama dan sebuah sekolah di Houston, Texas, dimana banyak tinggal pengungsi dari daerah Gulf Coast di Lousiana. “Untuk memberikan gambaran kepada anda tentang besarnya proyek ini, dalam salah satu pengiriman, Pendeta David Fralix dan Robbie membawa 327 Alkitab ke gereja di Alabama itu.” kata Jody.

Tuhan telah memberi mereka karunia-karunia yang unik. Jody berkata bahwa ia dan suaminya percaya bahwa Tyler dan dua puteranya yang lain, Jesse (12 tahun) dan Jake (6 bulan), masing-masing memiliki karunia-karunia yang istimewa yang diberikan kepada mereka dari Tuhan. Ia berkata bahwa karunia yang dimiliki Tyler nampaknya “kepekaan” dan “kerohanian” yang merupakan karunia yang tak lumrah bagi seorang anak seusianya, karunia-karunia yang telah diperlihatkan melalui proyek Alkitab ini.

Tyler itu seperti anak-anak laki-laki seumurnya. Ia suka main “flag football” (semacam permainan rugby bagi anak-anak) dan T-Ball (semacam permainan baseball) dan ia suka main video games, dan seperti kebanyakan anak-anak laki-laki, ia juga bisa nakal,” kata Jody. “Tetapi ia juga merupakan seorang anak yang sensitif, selalu,” katanya. “Ia banyak memikirkan tentang setiap orang dan setiap hal. Ketika kami melewati daerah bencana, ia mengkhawatirkan orang-orang yang terkena bencana dan berdoa bagi mereka,” katanya. “Memang, topan Katrina telah menyebabkan kerusakan yang besar, dan anak saya, Tyler, telah berdoa bagi orang-orang di daerah Gulf Coast itu. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari hanya berdoa saja. Ia memutuskan, oh bukan, Tuhan memutuskan baginya untuk membagikan firman Tuhan kepada para korban topan Katrina itu. Proyek ini telah menggerakkan seluruh keluarga kami. Sangat mengagumkan melihat bagaimana Tuhan telah bekerja melalui Tyler.”

Tetapi proyek Alkitab ini bukanlah pertama kalinya Tyler memperlihatkan kepekaan dan kerohaniannya serta menggerakkan seluruh keluarga. “Alasan mengapa kami pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu juga karena Tyler,” kata Jody. “Dulu ia mulai bertanya soal-soal kerohanian, tentang Tuhan dan malaikat dan kehidupan dan hal-hal semacam itu. Robbie dan saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu kami memutuskan bahwa gereja adalah tempat yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tyler. Tetapi dalam proyek Alkitab ini, Tyler menjadi orang yang membawa jawaban – jawaban terhadap sebuah impian, suatu tanggapan terhadap misi khusus yang ia dan ibunya percaya datangnya langsung dari Tuhan. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Sumber asli dalam Bahasa Inggeris: Kiriman Email dari Ibu Suharti Ali)

****

Inspired by divine dream, a Junction boy sends Bibles to Katrina victims
By HERB BROCK Staff Writer JUNCTION CITY –

Evacuees from last month’s devastating visit to the Gulf Coast by hurricane Katrina have received tons of food and gallons of water from government and charitable organizations. But several hundred of them also have received some spiritual nourishment as well. And that spiritual nourishment has come from unique source - a 6-year-old Junction City boy acting on a divinely-inspired dream. “God told me in a dream to help (the evacuees),” said Tyler Mattingly.

His mother, Jody Mattingly, elaborates. “Tyler woke up one morning and said God had talked to him in a dream,” she said. “Tyler said God told him that the hurricane was like a rich person who had taken away all the poor man’s things. God said that Tyler needed to be like a dog and lick the poor man’s wounds. But God had a mission in mind for Tyler that would transcend licking wounds, or even providing food and water to the evacuees,” Mattingly said. “Tyler said God told him that Tyler should provide something more than food and water. He wanted Tyler to provide His word to the evacuees,” she said. With advice from his mother and father, Robbie Mattingly, Tyler immediately began to work on turning his dream into reality, transforming the words he said God had told him into action. “Tyler asked his Paw (grandfather, Jim Cutter of Junction City) if his church, Pleasant Run Baptist, could donate Bibles,” said Jody Mattingly. “He then contacted our minister (the Rev. David Fralix of New Hope Baptist Church, if he could do the same.” Bibles started pouring in as word of Tyler’s mission spread from church to church, community to community and neighbor to neighbor. The Bibles started pouring in - more than 800 in a matter of just a few weeks. And they have come not just from church pastors and parishioners but also from individuals, including some people who aren’t churchgoers.

“One day a man on a motorcycle pulled up to our house and asked, ‘Is this where Tyler lives?’” said Mattingly. “He had brought two cases of Bibles.” “And a neighbor who doesn’t go to church bought five brand new Bibles and brought them to Tyler,” she said. In addition, the teachers and students at Tyler’s school, Danville Christian Academy, also have contributed scores of Bibles. A special bin has been set up in a hallway where the Bibles are deposited. “The Bibles are still coming in, and we’ve been distributing them the last couple of weeks,” said Mattingly. The Bibles have been going to two places - a church in the Gulf Coast region of south Alabama and a school in Houston, Texas, where many evacuees from the Gulf Coast region of Louisiana have located.

“To give you an idea of the size of this project, in one of our shipments, Brother David (Fralix) and Robbie took 327 Bibles to the church in Alabama,” Mattingly said. God has given them unique gifts. Mattingly said she and her husband believe Tyler and their other two sons - Jesse, 12, and Jake, 6 months - each are special and have unique gifts given to them by God. She said Tyler’s gifts seem to be “sensitivity” and a “spirituality” unusual for someone his age,” gifts that have been on full display through his Bible project.


“Tyler’s like most boys his age. He loves to play flag football and T-ball and he loves to play video games, and, like most boys, he can be bad,” Mattingly said. “But he also is a very sensitive boy, always has been,” she said. “He worries about everyone and everything. “When we drive by a wreck scene, he worries about the people in the wreck and prays for them,” she said. “In a way, Katrina caused a massive wreck, and he’s been praying for those people on the Gulf. But he decided to do more than pray for them. He decided - no, God decided for him - to give them the word of God.

“This project has taken over the whole family. It’s amazing to see how God has been working through Tyler.” But the Bible project isn’t the first time Tyler’s sensitivity and spirituality have shown themselves and taken over the whole family. “The reason we started going to church a couple of years ago was because of Tyler,” said Mattingly. “He started asking questions of a spiritual nature, about God and angels and life and things like that. Robbie and I didn’t feel like we could answer those questions. We decided church was where we could all find the answers to Tyler’s questions.” But in the Bible project, Tyler has been the one providing the answer - an answer to a dream, a response to a special mission he and his mother believe came directly from God.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI