Search This Blog

Showing posts with label Kesehatan - Health. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan - Health. Show all posts

Friday, December 7, 2012

Friday, August 3, 2012

Jin Lampu

 
Jin Lampu ...

Suatu pagi pada saat menambang, seorang pemuda menemukan sebuah lampu tua.
Dia mencoba menggosok lampu tsb. Siapa tahu akan ada jin yang keluar untuk memberinya sesuatu. Ternyata....... Benar... Muncullah jin itu.

Friday, February 17, 2012

Pola Hidup Religius

MAU SEHAT? JADILAH ORANG RELIGIUS

Melakukan olahraga teratur dibarengi konsumsi makanan bergizi seimbang selama ini selalu didengung-dengungkan oleh para pakar kesehatan sebagai resep jitu dalam menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Tetapi alangkah baiknya jika Anda tidak melupakan unsur religius dalam menunjang kesehatan seperti berdoa atau pun bermeditasi.

Berbagai studi ilmiah mengklaim, melakukan doa dan meditasi secara teratur dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan memperpanjang usia hidup seseorang.

Di Amerika Serikat misalnya, praktik-praktik religius kini menjadi salah satu terapi alternatif yang paling banyak dilakukan. Studi di University of Rochester misalnya menemukan, lebih dari 85 persen orang yang menderita sakit memilih untuk berdoa. Prosentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang memilih menjalani pengobatan herbal atau pengobatan medis lainnya. Hal ini semakin membuktikan bahwa doa sungguh-sungguh efektif dalam membantu penyembuhan.

Banyak orang percaya bahwa berdoa dapat membantu meringankan stres, yang merupakan salah satu faktor risiko utama untuk penyakit. Disamping juga ampuh untuk membuat pikiran tetap positif dan menjadi orang kuat dalam menjalani setiap permasalahan hidup.

Dr Herbert Benson, seorang spesialis jantung dari Harvard Medical School dan seorang pionir dalam bidang pengobatan pikiran/ tubuh mengatakan bahwa respon relaksasi akan terjadi ketika seseorang berdoa atau meditasi. Pada saat itu, metabolisme tubuh akan menurun, denyut jantung melambat, tekanan darah turun, dan napas menjadi lebih tenang dan lebih teratur.

Dalam risetnya Herbert Benson menemukan bahwa melakukan praktik spiritual dalam jangka panjang dan setiap hari membantu menonaktifkan gen yang memicu percepatan kematian sel dan peradangan. Menurut Benson, pikiran dapat mempengaruhi ekspresi gen seseorang. Dan ini adalah bukti menarik bagaimana doa dapat mempengaruhi fungsi tubuh pada tingkat yang paling dasar.

Sementara itu, Dr Andrew Newberg, direktur Center for Spirituality and Mind University of Pennsylvania telah melakukan penelitian terhadap para Buddha Tibet saat melakukan meditasi dan Biarawati Fransiskan ketika berdoa. Hasil memperlihatkan bahwa terjadi penurunan aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan kesadaran dan orientasi spasial. Peneliti juga menemukan bahwa doa dan meditasi dapat meningkatkan kadar dopamin, yang berhubungan dengan peningkatan rasa sukacita.

Sebuah riset National Institutes of Health menemukan bahwa orang yang berdoa setiap hari terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena hipertensi (40 persen) ketimbang mereka yang berdoa secara tidak teratur. Bahkan, penelitian di Dartmouth Medical School menemukan bahwa pasien dengan keyakinan agama yang kuat di mana harus menjalani operasi jantung, tiga kali lebih mungkin untuk cepat pulih ketimbang mereka yang kurang religius.

Studi lain juga menunjukkan bahwa doa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu untuk mengurangi keparahan dan frekuensi dari berbagai penyakit. []

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 29, 2009

Naturally Healthy

HIDUP SEHAT ALAMI
Dr. Tan Tjiauw Liat
Oleh: Emma Madjid (Majalah Nirmala, April-2007)

KITA boleh iri melihat sosok Dr Tan Tjiauw Liat. Bukan hanya fisiknya yang segar, sehat, dan lincah (tinggi 167 cm/berat 59 kg) tapi daya ingatnya juga luar biasa. Selama wawancara dua setengah jam, ia membuka lebih dari 10 buku, di antaranya How To Use Glutamine to Strengthen the Immune System, Improve Muscle Mass & Heal the Digestive Tract, The Anti-aging Zone, dan Water Cures: Drugs Kill untuk menunjukkan latar belakang pendapatnya. Buku-buku tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi buku yang berjajar rapi di dalam lemari bukunya. Saya benar-benar kagum pada dokter berusia 76 tahun itu. la bukan hanya ingat warna cover buku, judul, atau tempat buku itu disimpan, melainkan hafal di luar kepala isi buku-buku itu. Mulai dari alinea, kalimat, yang sudah diberi dua garis dengan tinta merah, sampai kata per kata! Luar biasa....

Buku-buku, jurnal-jurnal kesehatan, newsletter, baginya merupakan harta yang tak ternilai. Ketika banjir melanda Jakarta tahun 2002, rumahnya di bilangan Pluit tak luput dari bencana. Anak-anaknya khusus menyewa truk dan jukung untuk mengevakuasinya, namun Dr Tan tetap bertahan hanya mengungsi ke rumah tetangganya. la enggan beranjak dari rumahnya. "Lantaran buku-buku saya masih di dalam," katanya. la hanya minta dibawakan sayuran mentah sebagai menu makannya. Senjatanya: tomat dan mentimun.

Pukul 15.00 saat mewawancarai Dr Tan di tempat praktiknya di Pluit, tampak beberapa pasien yang mengalami stroke mulai berdatangan. Beberapa pasien harus dipapah atau didorong di kursi roda, untuk sampai ke ruang praktik.

Pria berkacamata yang sore itu mengenakan kemeja putih lengan pendek itu langsung berdiri dan membuka pintu kamar praktiknya. Dengan suara yang nyaring yang merupakan ciri khasnya, ia menyapa para pasien dan memperkenalkan mereka kepada saya. "Ini pasien saya yang sudah berumur 100 tahun. Nah, bapak yang itu tadinya stroke berat, sekarang sudah bisa jalan. Pasien yang duduk di kursi roda itu otaknya sudah dibedah di rumah sakit. Waktu datang tidak berdaya sama sekali, tetapi setelah saya anjurkan makan tomat dan mentimun, kondisinya jauh lebih baik," ujarnya sambil menunjuk ke arah pasien-pasien yang dimaksud. Mereka tampak ceria, dan mengatakan bahwa gairah hidupnya kembali setelah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dr Tan.

Dulu 'kapal keruk'
Dokter Tan mengaku kesadaran akan pentingnya hidup sehat, tumbuh sejak lima tahun terakhir ini. "Sedari kecil saya doyan makan. Kalau sedang ada perayaan Cap Go Meh, Nenek menyediakan berbagai macam makanan enak. Tentu saja saya 'sikat' sampai perut saya keras kekenyangan," tuturnya.

Kebiasaan makan enak itu terus berlanjut sampai ia bersekolah di Jakarta.
"Waktu itu saya indekos di Jalan Raden Saleh. Dalam waktu 3 bulan, berat badan saya bertambah 13 kg," katanya. Sampai ia berkeluarga, ia belum bisa mengerem kebiasaannya itu. "Saya sering makan di hotel berbintang lima yang memberi diskon 50% untuk paket makan sepuasnya (all you can eat) Saya pikir, kapan lagi bisa makan enak dengan harga murah? Di sana saya bisa ngopi dan makan sepuasnya," tutur Dr Tan mengenang kebiasaannya ketika ia berusia 60 tahun.

Bukan Dr Tan namanya jika berbicara tanpa data. Dari lacinya, ia mengeluarkan selembar foto diri saat bobotnya 80 kg. Penampilannya sama sekali berbeda dengan sosok yang berada di depan saya! Namun setelah itu badannya mulai terasa tidak nyaman. Pada waktu berjalan, misalnya, dadanya terasa sesak. "Padahal saya rajin mengukur tekanan darah, dan hasilnya normal, 120/80," katanya. Pada satu kesempatan berkunjung ke Australia menengok seorang anaknya yang bersekolah di sana, ia mendatangi seorang dokter. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu, diketahui tekanan darahnya melesat sampai 180.

"Dokter menyuruh saya minum obat. Tetapi saya bilang, NO!. Saya katakan kepadanya, saya akan kembali tiga bulan lagi, dan saya pasti sudah sembuh," ujarnya. Pulang dari dokter, ia langsung ngeloyor ke toko buku mencari buku kesehatan. "Saya tidak mau sakit, saya ingin panjang umur. Nah, sejak itu saya gandrung membaca buku-buku mengenai kesehatan," katanya.

Sekolah di Internet
Latar belakang pendidikannya sebagai dokter lulusan FKUI tahun 1958 dan spesialis radiologi sangat mendukung keinginannya untuk menemukan kunci hidup sehat. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin secara aktif memudahkannya membaca dan menyerap ilmu kesehatan dari berbagai sumber. "Sampai sekarang saya masih belajar dan terus belajar. Sekolah saya Internet. Media cybernet atau penjelajahan situs-situs Internet yang dapat dipertanggungjawabkan, semakin memperluas wasasan saya," ujarnya sambil menyebut situs favoritnya: www.mercola.com.

Hampir setiap hari ia duduk di depan laptop-nya dari pukul 23.30 sampai pukul 05.00, mencari berita kesehatan yang aktual. Dengan demikian, ia tidak pernah ketinggalan informasi. Sebelum duduk di depan laptop, ia selalu melakukan meditasi terlebih dahulu dengan bantuan CD yang berisi suara gemercik air hujan. "CD tersebut dipakai untuk meningkatkan kemampuan fokus. Sudah setahun lebih saya menggunakan CD untuk meditasi," ujarnya. Gadget IT milik orang kantoran masa kini adalah mainannya di usia kepala tujuh. la mahir mengoperasikan komputer dengan segala programnya, merekam dengan USB, sms dijawab melalui PDA-nya dengan kecepatan anak muda, mengirim faksimili pun dilakukannya sendiri.

Ada apa dengan tomat dan mentimun?
Hasil bacaan dan penelusuran di alam maya itulah yang menelurkan gaya hidup dan pola makan yang diterapkannya sekarang. "Unsur genetika spesies manusia yang dibawa DNA-nya pada kenyataannya tidak pernah berubah sejak zaman purba hingga kini; bahkan di masa mendatang," katanya. Yang berbeda adalah yang ada di sekeliling kita, sebagai hasil dari kecerdasan manusia dan olah teknologi. Ini yang mempengaruhi cara hidup manusia dan cara mengelola hidup termasuk makanannya, serta bagaimana tubuh bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi. Gen (pembawa sifat keturunan yang terdapat pada inti sel) adalah rangkaian gugusan DNA yang tidak mungkin mengalami perubahan dalam waktu singkat.

Perubahan pada struktur gen membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya akibat paparan (ter-expose) oleh lingkungan yang juga telah berubah dalam kurun waktu sekian lama. Banyak bukti antropologis (bukan hanya dari sisi medis) yang menjelaskan bahwa penyakit yang muncul saat ini adalah sebagai akibat pola makan, gaya hidup, dan paparan lingkungan. Yaitu karena manusia sudah jauh melenceng ke luar dari rel sebagaimana alam.

Hidup di zaman sekarang tidak bisa terlepas dari polusi, dan kepungan penyakit yang membuat kita mudah sakit. Bagaimana mengantisipasinya? "Pertama insulin harus dikontrol, dan yang kedua pola makan kita harus mengikuti pola makan manusia purba. Manusia purba tidak mengenal api, apalagi kompor dan microwave. Segala sesuatu dikonsumsi secara mentah (raw) dan segar (fresh). Dengan asupan serupa ini tidak heran tubuh akan jauh lebih tahan terhadap segala sesuatu," tuturnya. Lalu, untuk apa ada restoran? "Restoran itu suatu kebudayaan (civilitation). Itu bukan untuk kesehatan kita. Jika untuk kesehatan, kita harus balik ke DNA kita. Kita hanya makan dedaunan atau sayuran mentah. Tidak ada cara lain. Kalau tidak demikian, pasien saya pasti gagal semua....," katanya dengan lantang.

Sayur mentah satu baskom
Dokter Tan, tidak hanya cuap-cuap memberi nasihat kepada pasien-pasiennya agar mengkonsumsi sayuran mentah untuk mengobati stroke yang mereka derita, tetapi dalam keseharian ia benar-benar mempraktikannya dengan disiplin.

"Pukul 6 pagi saya makan buah. Buah yang ada dalam simpanan saya. Kalau ada apel ya itu saja yang dimakan, tapi bukan buah manis tinggi fruktosa seperti pepaya, pisang atau mangga ranum," katanya. Menurutnya, dari tengah malam sampai jam 12.00 terjadi siklus pembuangan, sebaiknya perut tidak diisi dengan makanan berat.

"Siang hari saya makan sayur mentah. Banyaknya satu baskom (mangkuk besar) yang ditambah jahe, kunyit, masing-masing ukuran satu jari, dan satu siung bawang putih. Semua bahan itu dimasukkan ke dalam juice-extractor- bukan blender atau juicer biasa. juice extractor ini mempunyai putaran mesin hanya 30 rpm sehingga tidak menimbulkan panas di atas 30 derajat Celsius, dan ekstraksi mineral terjamin sempurna.

Selain itu saya juga makan satu kuning telur mentah organik yang jelas bebas bakteri," katanya. Siang itu sayur yang memenuhi baskomnya terdiri dari brokoli, selada, paprika kuning, tomat, dan mentimun yang dipotong-potong. la adalah pelaku raw-food yang setia dan mengerti betul dasar latar belakang mengapa makanan yang disantap harus raw alias mentah. Bahan makanan dari tanaman yang memungkinkan dimakan mentah dan enzim (katepsin) yang terkandung dalam sayuran mentah itulah yang menghancurkan diri sendiri (self destruct) agar komponennya dapat diserap pencernaan kita sebagai sumber gizi. Sedangkan sayuran lain yang biasanya perlu dimasak (misalkan kangkung, bayam, kailan, caisim, diambil ekstraknya melalui juice extractor.

Makan sayur mentah saja, apakah tidak lapar? "Tentu saja tidak, karena komposisi sayuran saya bermacam-macam, kondisi ini menjamin" plant-based food" tetap prima sebagai sumber kalori dan energi. Masih ditambah bawang bombai, aneka sprouts (sejenis taoge). Kalau masih lapar saya menggado tomat dan mentimun," katanya.

Masih makan kedondong
Dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya kini Dr Tan sangat hati-hati mengkonsumsi makanan maupun minuman. la tidak lagi minum kopi kendati dulu disukainya. "Kalau orang setua saya minum kopi sekali, berarti terbentuk kortisol dalam waktu 24 jam. Kortisol akan bertumpuk jika kita terus mengkonsumsi kopi. Jika sudah demikian, segala macam penyakit akan datang. Misalnya, kita jadi pikun," katanya.

Air putih adalah minuman terbaik, karena dapat menggelontor lemak-lemak tubuh. Seberapa banyak kita minum air putih per hari? "Ukurannya yaitu sampai urine kita tidak berwarna. Urine yang sehat adalah yang bening seperti air ledeng, tidak boleh berwarna," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap bahaya gula. "Batasi makanan yang mengandung gula seperti beras, terigu, kentang, umbi-umbian, serta wortel (yang dimasak sebagai sup atau dijus). Wortel yang dijus akan menjadi air gula. Artinya kalau kita minum jus wortel sama dengan kita minum air gula. Segala buah yang manis juga mengandung gula. Pemanis dalam bentuk artifisial, seperti aspartam, sakarin, lebih berbahaya daripada gula," katanya.

Jika demikian, buah apa yang baik? Ditanya demikian ia tersenyum.
"Buah yang baik adalah alpukat dan kedondong. Gigi saya sudah habis. Agar saya bisa makan sayur mentah, kedondong, mangga muda, dan pepaya muda, semua gigi sudah diganti dengan teknologi implant. Bukan karena keropos, tapi kebanyakan karena kecelakaan di masa lalu, zaman masih menunggang scooter. Oh ya, mangga muda, pepaya muda (bukan yang sudah ranum dengan tinggi kadar fruktosanya) baik dimakan," sambungnya.

Menularkan pola hidup sehat
Dengan mengubah pola makannya, Dr Tan merasa badannya nyaman dan lebih energik. Bobot tubuhnya pun proporsional dengan tingginya. la berhasil menurunkan berat badannya 21 kg dari berat semula 80 kg. Bukan hanya itu, daya ingatnya pun semakin tajam. "Waktu kuliah dulu, kalau ada teman yang menyebut suatu masalah, saya langsung ingat masalah itu dibahas di buku apa, halaman berapa. Nah, di usia saya sekarang ini, daya ingat saya kembali seperti itu. Temuan-temuan ini ditularkan kepada pasien-pasiennya.

"Mereka saya anjurkan makan tomat dan mentimun. Saya perhatikan, hanya dalam waktu tiga hari atau seminggu, kondisi kesehatan mereka mengalami kemajuan. Mengapa? Karena sayuran mentah adalah makanan yang sesuai dengan DNA kita," katanya.
Kepada pasien-pasiennya, Dr Tan tidak pernah memberi obat-obatan kimia. Bilamana perlu ia hanya memberikan satu suntikan untuk memperlebar pembuluh darah. "Pembuluh darah pasien stroke sering bermasalah," demikian alasannya. Di samping itu, ia juga mengaplikasikan teknik meridian melalui titik-titik akupuntur. Ilmu tersebut dipelajarinya antara lain dari sebuah buku keluaran Bayer dan banyak buku asli tentang meridian dan akupuntur dari bahasa dan sumber aslinya yaitu bahasa Mandarin. Bahasa itu justru baru dikenalnya sebagai orang Tionghoa ketika Jepang masuk dan bahasa Belanda dilarang.

Tidak merepotkan orang lain
Sekarang ini Dr Tan masih sering ke hotel bintang lima untuk makan, tapi ia lebih cerdik. "Saya pilih light lunch, ya murah, ya sehat. Saya bisa makan salad sesuka saya," katanya.

Ia sangat yakin, apabila setiap orang mau menjaga diri dan merawat diri, ia akan mendapatkan kesehatan yang prima, yang memperpanjang usia hidup aktif.
"Dampaknya tentu sangat positif, yang jelas kita tidak merepotkan diri sendiri di usia lanjut dan tidak tergantung pada pasangan, anak-anak, atau orang-orang di sekitar kita. Saya mempunyai tujuan mempertahankan hidup yang berkualitas demi kemanusiaan dengan mempraktikkan kejujuran serta kebenaran untuk tujuan tersebut," tuturnya. "Sekarang saya punya konklusi yang jelas sekali, yaitu dengan mengikuti DNA
- hanya makan sayur, selanjutnya dikombinasi dengan quantum touch- pasti akan sehat seumur hidup."

Bagaimana dengan bermacam-macam diet yang digembar-gemborkan sekarang ini? "Omong kosong! Tidak bisa itu! Pokoknya paling baik hanya mengkonsumsi sayuran mentah. Yang lain dilupain aja, deh," ujarnya. Ekstrim? Tentu begitu kesan pertamanya. Tapi bagaimanapun, komitmen dan disiplinnya untuk sehat sangat mengagumkan. Email dari pttwr dan Gunawan Sadono.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, June 26, 2009

Who Knew Preventing Kidney Stones Was This Easy?

Who Knew Preventing Kidney Stones Was this Easy?
By Dr. Mercola

Kidney stones (renal lithiasis) can be one of the most excruciatingly painful conditions you can experience. In the United States, about 10-15 percent of adults will be diagnosed with a kidney stone in their lifetime.

Roughly 1 million Americans develop kidney stones each year. Once you have had one kidney stone attack, your chance of recurrence is about 70 to 80 percent.

Family genetics can increase your risk. And the younger you are when you have your first attack, the greater your risk of recurrence.

Records of kidney stones can be found since the beginning of civilization. Lithotomy, a surgical procedure for removing stones, is one of the earliest known surgical procedures. In fact, a caution about the dangers of surgically removing stones is even found in the text of the Hippocratic Oath.

If you are a man, your risk for kidney stones is four times greater than if you are a woman. And if you live in the southeastern part of the U.S., also referred to as the “Kidney Stone Belt,” your risk is even greater due to higher rates of dehydration.

In the Middle East, kidney stone rates are nearly double what they are in the U.S., due to the warmer climate.

Kidney stones can range in size from a grain of sand to larger than a golf ball. If a stone fails to pass, permanent damage to your urinary tract can result.

This is not something to ignore -- not that you could easily ignore such a painful episode.

The number of cases of adult kidney stones appears to be on the rise, most likely as a result of modern diets. And now, kidney stones are being seen in children in unprecedented numbers ... just one more sad result of our modern dietary habits.

Fortunately, 90 to 95 percent of kidney stones pass within a number of days or weeks, without any intervention at all. And, even better news -- the best remedy is also the best prevention, and also happens to be the least expensive: simply drink more water.

Recognizing a Kidney Stone Attack
Your kidneys are responsible for removing excess fluid from your body and filtering out unneeded electrolytes and wastes from your blood, resulting in the production of urine.

Kidney stones form when the minerals and acid salts in your urine crystallize, stick together, and solidify into a mass. This happens when your urine contains more crystal-forming substances, such as calcium and uric acid, than the available fluid can dilute. This can happen when urine is highly acid or highly alkaline.

The conditions allowing kidney stones to form are created by problems in the way your body absorbs and eliminates calcium and other substances. Sometimes the underlying cause is a metabolic disorder or kidney disease.

Certain drugs can also promote kidney stones, such as Lasix (furosemide), Topomax (topiramate), and Xenical, among others. Many times, it is a combination of factors that create an environment favorable to stone formation.

You won’t know you have a stone until it moves into the ureter—the tube connecting your kidney and your bladder. Common symptoms include:

•Pain in your side and back, below your ribs
•Episodes of pain lasting 20 to 60 minutes, of varying intensity
•Pain “waves” radiating from your side and back, to your lower abdomen and groin
•Bloody, cloudy or foul-smelling urine
•Pain with urination
•Nausea and vomiting
•“Urgency” (persistent urge to urinate)
•Fever and chills (indicates an infection is also present)

The pain is a result of distention of the tissues above the stone, since it is blocking the passage of urine, rather than from the pressure of the stone itself.

Four Types of Kidney Stones
Most kidney stones contain crystals of multiple types. However, usually one type predominates, and determining the type helps you identify the underlying cause3:

1. Calcium stones. The most common type (four out of five cases)is usually in the form of calcium oxalate. Oxalate is found in some fruits and vegetables, but your liver produces most of your oxalate. If you are found to have oxalate stones, your doctor may recommend avoiding foods rich in oxalates, such as dark green vegetables, nuts and chocolate.

2. Struvite stones: Found more often in women, these are almost always the result of urinary tract infections.

3. Uric acid stones. These are a byproduct of protein metabolism.They’re commonly seen with gout,and may result from certain genetic factors and disorders of your blood-producing tissues.

4. Cystine stones. Represent a very small percentage of kidney stones.These are the result of a hereditary disorder that causes your kidneys to excrete massive amounts of certain amino acids (cystinuria).

Many Risk Factors are Under YOUR Control
The number one risk factor for kidney stones is not drinking enough water. If you aren’t drinking enough, your urine will simply have higher concentrations of substances that can form stones.

How do you know if you are drinking enough water?
You want your urine to be a light yellow. Every person’s water requirement is different, depending on your particular system and activity level, but simply keeping your urine light yellow will go a long way toward preventing kidney stones. Remember to increase your water intake whenever you increase your activity, and when you’re in a warmer climate.

If you happen to be taking any multivitamins or B supplements that contain vitamin B2 (riboflavin), the color of your urine will be a very bright nearly fluorescent yellow and this will not allow you to use the color of your urine as a guide to how well you are hydrated.

Waiting until you feel thirsty is often too late. Thirst usually signifies dehydration.

Healthy Lifestyle is KEY to Avoiding Kidney Stones
Another risk factor is being sedentary. You’re more prone to kidney stones if you’re bedridden or very sedentary for a long period of time, partly because limited activity can cause your bones to release more calcium.

High blood pressure doubles your risk for kidney stones.

Digestive problems also increase your risk, since changes in the digestive process affect your absorption of calcium and other minerals.

A diet high in sugar can set you up for stones, since sugar upsets the mineral relationships in your body by interfering with calcium and magnesium absorption. Not only does sugar and high fructose corn syrup lead to obesity and diabetes, but also the current over-the-top consumption of these unhealthy sugars by children is a large factor in why children as young as age 5 or 6 are now turning up with kidney stones.

A 1999 South African study found that drinking soda exacerbates conditions in the urine that lead to formation of calcium oxalate kidney stone problems.

Diets high in processed salt are also bad news. Salt increases the amount of calcium and oxalate in your urine. And processed foods are extremely high in salt.

Dr. Bruce L. Slaughenhoupt, co-director of pediatric urology at the University of Wisconsin, reports a huge increase in the salt load of children’s diets -- from salty chips, French fries, sandwich meats, canned soups, and sports drinks like Gatorade, which are now sold in child-friendly juice boxes. He believes the overconsumption of processed foods by children today is the cause of increased kidney stones in children2.

Not surprisingly, there also appears to be a connection between childhood obesity and kidney stones. Children are notorious for not drinking enough water, adding to the problem.

Consumption of soy can predispose you to developing kidney stones due to high levels of oxalate present in many varieties of soybeans. One more nail in the coffin for non-fermented soy!

And finally, caffeine has been linked to kidney stones. In one study, caffeine was given to people with a history of kidney stones, after which their urine was examined. The subjects showed elevated urine calcium, putting them at higher risk for kidney stones.

What About Your Calcium Intake?
In the past, kidney stone sufferers have been warned to avoid foods rich in calcium. However, there is now evidence that avoiding calcium may do more harm than good. The Harvard School of Public Health conducted a study of more than 45,000 men. The men who had diets rich in calcium had a one-third lower risk of kidney stones than those with lower calcium diets.

Why would this be? It seems counterintuitive. After all, calcium is the largest component in the stones.

The answer is that high dietary calcium actually blocks a chemical action that causes the formation of the stones. It binds with oxalates (from foods) in your intestine, which then prevents both from being absorbed into your blood and later transferred to your kidneys.

So, urinary oxalates may be more important to formation of calcium-oxalate kidney stone crystals than is urinary calcium.

It is important to note that it is the calcium from foods that is beneficial -- not calcium supplements, which have actually been found to increase your risk of kidney stones by 20 percent[6].

Busting the Myth That High Protein Diets Lead to Kidney Stones
In the 1990s when the Atkins diet reached huge popularity, critics claimed that high protein intake leads to kidney stones. This turned out to be a complete myth, but the misinformation is still being circulated.

Although protein restricted diets are helpful for people who already have kidney disease, eating meat does not cause kidney problems[7]. Furthermore, the fat-soluble vitamins and saturated fat found in animal foods are pivotal for the proper functioning of your kidneys.

“Don’t Do Something -- Just Sit There!”

As with most things, the best approach is the safest and simplest--letting the stone pass on its own. This might take days, or weeks in some cases, but the key is to drink enough water -- NOT soda -- to decrease the concentration of solids in your urine to the point that the stone will be dissolved.

Avoid drinking tea since it is high in oxalates.

There are several medical procedures and surgical techniques that can be used to treat kidney stones, but the risks are high enough that physicians typically shy away from them, unless there's no other choice. This is actually a good thing, considering the multitude of problems American patients face due to medical errors.

Pain medications will usually be offered, if your pain level is intolerable.

Some medicinal herbs have been identified to be helpful for acute episodes, including:

•nettle leaf
•bearberry
•cleavers
•corn silk
•crampbark
•gravel root
•kava kava
•khella
•hydrangea
•stone root
You should always consult the advice of an expert herbalist, since herbs can be every bit as potent as pharmaceuticals and may cause harm if used improperly.

Of course, even better than letting a kidney stone pass naturally would be if you never had to deal with this very painful problem in the first place.

Lifestyle Modifications for Healthy Kidneys
In summary, a few lifestyle modifications will go a long way toward preventing a painful kidney stone attack:

•As discussed previously, stay well hydrated;

•Eat a diet based on your body’s unique nutritional type;

•Avoid taking prescription drugs that harm more than they heal;

•Avoid sugar, soy, caffeine, excess salt, and processed foods;

•Get plenty of exercise to keep your body’s fluids moving;

•Make sure you’re getting adequate magnesium and vitamin B6 in your diet, which have both been suggested to help prevent kidney stone formation.

Lifestyle changes always take some effort and might seem inconvenient at first. But compared to the painful process of passing a kidney stone, a few lifestyle changes are a cinch!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 24, 2009

When To Eat

When it comes to shedding body fat, when you eat is just as important as what you eat. This is true for two reasons. First, allowing too much time to lapse between meals is a sure-fire way to lower your metabolism – the less often you eat, the less calories your body is willing to burn. Second, eating more frequent meals stabilizes blood sugar and insulin. When insulin spikes, it sends the body a “store-fat” signal – bad news when you’re trying to get rid of the stuff.

The trick to getting around both these problems is eating small meals that contain an equal portion of protein and carbohydrate (your clinched fist is a great way to determine the portion size that’s right for you) and space meals out about every 2 – 1/2 to 3 hours.

Here’s what a perfect day of eating might look like:

7:30am – Egg whites and oatmeal
10:00am – Protein shake and strawberries
12:30pm – Turkey sandwich on whole wheat with lettuce, tomato and mustard
3:00pm – Baked sweet potato sprinkled with Splenda® and cinnamon, topped with low fat cottage cheese (hey, don’t knock this one until you try it!)
5:30pm – Lean steak, brown rice with salsa, steamed broccoli
8:00pm – Cottage cheese, low fat vanilla yogurt with fresh blueberries

Remember, portions are small. Depending on your size, use your open palm to gauge the proper portion of protein and a clinched fist to determine your carbohydrate size.

As you acclimate to eating small meals more often, you will gradually learn if your portions are either too big or too small based on how long it takes to feel hungry again. If you’re starving one hour after you’ve eaten a meal, it was too small. If you’ve gone three hours and are still not hungry, your portions need to be cut back a bit.

Try It This Week! – Here are a few simple rules to help you get started. Why not try it out for one week and see if it doesn’t make a difference in both your energy and the reading on your scale:

Rule #1 – Eat every 2-1/2 to 3 hours from the time you open your eyes in the morning until your head hits the pillow.

Rule #2 – For each meal choose a small portion of protein (palm size) and a small portion of carbohydrate (fist size) from the two lists below.

Rule #3 – Drink at least 8 ounces of water for every meal you consume. If you are eating every three hours you will need to drink between 4 and 6 pints of water (70 to 100 oz total) per day. (With the exception of perhaps a glass of wine or one short cocktail with your evening meal, avoid alcohol.)

Rule #4 – Have a small portion of any raw or steamed, non-starchy vegetable with at least one of your meals but, if you wish, you may have a portion of vegetable with up to 3 of your daily meals.

Short Protein List: (palm size portion) Egg whites, egg substitute, cottage cheese, tuna, lean steak, chicken breast, turkey breast, steamed or baked fish, whey protein, lean pork tenderloin, lean ham, steamed shrimp, steamed crab or steamed lobster

Short Carbohydrate List: (fist size portion) Oatmeal, baked potato, sweet potato, brown rice, 100% whole wheat bread, pasta, fat-free yogurt, beans, peas, corn, apple, berries, orange, low-fat graham crackers

Keep in mind that the most important part of this first week trial is TIMING! Small portions of cleanly prepared protein and carbohydrates, eaten every 2-1/2 to 3 hours will not only keep your energy even all day long, it will stoke your metabolism and prevent the body from shifting into low gear.

Just for this week, try to consume foods that are fresh and prepared without a lot of extra saturated fat, sauces or cheese. Use small amounts of olive or canola oil when cooking. Especially at the beginning, keep things super simple - simple food, simply prepared.

Once you have tried this way of eating for one week, I hope you will email me and tell me how things went. I would love to hear from you!

Good luck, good heath, good timing and good eating!

Dianne Orwig CPT, CFC, CYFI is founder and creator of Living Fit Online. For more information about her 12-week transformation program, please visit www.LoveLivingFit.com.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, March 24, 2009

Lee Kuan Yew Advice on Ageing

If you want to stay to 80, 90 or 100 yrs old ... a must read Article.

This is Minister Mentor Lee Kuan Yew's advice on ageing the best way one can. Here is the transcript of his remarks. Very interesting insight from the Old Man. If you have read it before, or don't have the time to read the whole story, just read the last few paragraphs. Good Advice!

Lee Kuan Yew on aging 'Stay interested in the world, take on a challenge': Singapore Minister Mentor Lee Kuan Yew This story was first published on Jan 12, 2008.

MY CONCERN today is, what is it I can tell you which can add to your knowledge about ageing and what ageing societies can do.

You know more about this subject than I do. A lot of it is out in the media, Internet and books. So I thought the best way would be to take a personal standpoint and tell you how I approach this question of ageing..

If I cast my mind back, I can see turning points in my physical and mental health. You know, when you're young, I didn't bother, I assumed good health was God-given and would always be there. When I was about - '57 that was - I was about 34, we were competing in elections, and I was really fond of drinking beer and smoking. And after the election campaign, in Victoria Memorial Hall - we had won the election, the City Council election - I couldn't thank the voters because I had lost my voice. I'd been smoking furiously.

I'd take a packet of 10 to deceive myself, but I'd run through the packet just sitting on the stage, watching the crowd, getting the feeling, the mood before I speak. In other words, there were three speeches a night. Three speeches a night, 30 cigarettes, a lot of beer after that, and the voice was gone.

I remember I had a case in Kuching, Sarawak . So I took the flight and I felt awful. I had to make up my mind whether I was going to be an effective campaigner and a lawyer, in which case I cannot destroy my voice, and I can't go on. So I stopped smoking.

It was a tremendous deprivation because I was addicted to it. And I used to wake up dreaming...the nightmare was I resumed smoking. But I made a choice and said, if I continue this, I will not be able to do my job. I didn't know anything about cancer of the throat or oesophagus or the lungs, etc. But it turned out it had many other deleterious effects.

Strangely enough after that, I became very allergic, hyper-allergic to smoking, so much so that I would plead with my Cabinet ministers not to smoke in the Cabinet room. You want to smoke, please go out, because I am allergic.

Then one day I was at the home of my colleague, Mr Rajaratnam, meeting foreign correspondents including some from the London Times and they took a picture of me and I had a big belly like that (puts his hands in front of his belly), a beer belly. I felt no, no, this will not do.

So I started playing more golf, hit hundreds of balls on the practice tee. But this didn't go down. There was only one way it could go down: consume less, burn up more.

Another turning point came when -this was 1976, after the general election - I was feeling tired. I was breathing deeply at the Istana, on the lawns. My daughter, who at that time just graduating as a doctor, said: 'What are you trying to do?' I said: 'I feel an effort to breathe in more oxygen.' She said: 'Don't play golf. Run. Aerobics.'

So she gave me a book, quite a famous book and, then, very current in America on how you score aerobic points swimming, running, whatever it is, cycling. I looked at it sceptically. I wasn't very keen on running. I was keen on golf. So I said, 'Let's try'. So in-between golf shots while playing on my own, sometimes nine holes at the Istana, I would try and walk fast between shots. Then I began to run between shots. And I felt better. After a while, I said: 'Okay, after my golf, I run.' And after a few years, I said: 'Golf takes so long. The running takes 15 minutes. Let's cut out the golf and let's run.'

I think the most important thing in ageing is you got to understand yourself. And the knowledge now is all there. When I was growing up, the knowledge wasn't there. I had to get the knowledge from friends, from doctors.

But perhaps the most important bit of knowledge that the doctor gave me was one day, when I said: 'Look, I'm feeling slower and sluggish.' So he gave me a medical encyclopaedia and he turned the pages to ageing. I read it up and it was illuminating. A lot of it was difficult jargon but I just skimmed through to get the gist of it. As you grow, you reach 20, 21, 22, 23, 24, 25 and then, thereafter, you are on a gradual slope down physically. Mentally, you carry on and on and on until I don't know what age, but mathematicians will tell you that they know their best output is when they're in their 20s and 30s when your mental energy is powerful and you haven't lost many neurons.

That's what they tell me. So, as you acquire more knowledge, you then craft a programme for yourself to maximise what you have. It's just common sense. I never planned to live till 85 or 84. I just didn't think about it. I said: 'Well, my mother died when she was 74, she had a stroke. My father died when he was 94.' But I saw him, and he lived a long life, well, maybe it was his DNA. But more than that, he swam every day and he kept himself busy. He was working for the Shell company. He was in charge, he was a superintendent of an oil depot. When he retired, he started becoming a salesman. So people used to tell me: 'Your father is selling watches at BP de Silva.' My father was then living with me. But it kept him busy. He had that routine: He meets people, he sells watches, he buys and sells all kinds of semi-precious stones, he circulates coins. And he keeps going. But at 87, 88, he fell, going down the steps from his room to the dining room, broke his arm, three months incapacitated. Thereafter, he couldn't go back to swimming.

Then he became wheelchair-bound. Then it became a problem because my house was constructed that way. So my brother - who's a doctor and had a flat (one-level) house - took him in. And he lived on till 94. But towards the end, he had gradual loss of mental powers.

So my calculations, I'm somewhere between 74 and 94. And I've reached the halfway point now. But have I? Well, 1996 when I was 73, I was cycling and I felt tightening on the neck. Oh, I must retire today. So I stopped. Next day, I returned to the bicycle. After five minutes it became worse. So I said, no, no, this is something serious, it's got to do with the blood vessels. Rung up my doctor, who said, 'Come tomorrow'. Went tomorrow, he checked me, and said: 'Come back tomorrow for an angiogram.' I said: 'What's that?' He said: 'We'll pump something in and we'll see whether the coronary arteries are cleared or blocked.'

I was going to go home. But an MP who was a cardiologist happened to be around, so he came in and said: 'What are you doing here?' I said: 'I've got this.' He said: 'Don't go home. You stay here tonight. I've sent patients home and they never came back. Just stay here. They'll put you on the monitor. They'll watch your heart. And if anything, an emergency arises, they will take you straight to the theatre. You go home. You've got no such monitor. You may never come back.'

So I stayed there. Pumped in the dye, yes it was blocked, the left circumflex, not the critical, lead one. So that's lucky for me. Two weeks later, I was walking around,I felt it's coming back. Yes it has come back, it had occluded. So this time they said: 'We'll put in a stent.' I'm one of the first few in Singapore to have the stent, so it was a brand new operation. Fortunately, the man who invented the stent was out here selling his stent. He was from San Jose , La Jolla something or the other. So my doctor got hold of him and he supervised the operation. He said put the stent in. My doctor did the operation, he just watched it all and then that's that. That was before all this problem about lining the stent to make sure that it doesn't occlude and create a disturbance.

So at each stage, I learnt something more about myself and I stored that. I said: 'Oh, this is now a danger point.'

So all right, cut out fats, change diet, went to see a specialist in Boston , Massachusetts General Hospital . He said: 'Take statins.' I said: 'What's that?' He said: '(They) help to reduce your cholesterol.' My doctors were concerned. They said: 'You don't need it. Your cholesterol levels are okay.' Two years later, more medical evidence came out. So the doctors said: 'Take statins.' Had there been no angioplasty, had I not known that something was up and I cycled on, I might have gone at 74 like my mother. So I missed that deadline.

So next deadline: my father's fall at 87.

I'm very careful now because sometimes when I turn around too fast, I feel as if I'm going to get off balance. So my daughter, a neurologist, she took me to the NNI, there's this nerve conduction test, put electrodes here and there. The transmission of the messages between the feet and the brain has slowed down.

So all the exercise, everything, effort put in, I'm fit, I swim, I cycle. But I can't prevent this losing of conductivity of the nerves and this transmission.

So just go slow. So when I climb up the steps, I have no problem. When I go down the steps, I need to be sure that I've got something I can hang on to, just in case. So it's a constant process of adjustment.

But I think the most important single lesson I learnt in life was that if you isolate yourself, you're done for. The human being is a social animal - he needs stimuli, he needs to meet people, to catch up with the world.

I don't much like travel but I travel very frequently despite the jet lag, because I get to meet people of great interest to me, who will help me in my work as chairman of our GIC. So I know, I'm on several boards of banks, international advisory boards of banks, of oil companies and so on. And I meet them and I get to understand what's happening in the world, what has changed since I was here one month ago, one year ago. I go to India , I go to China .

And that stimuli brings me to the world of today. I'm not living in the world, when I was active, more active 20, 30 years ago. So I tell my wife. She woke up late today. I said: 'Never mind, you come along by 12 o'clock. I go first.'

If you sit back - because part of the ending part of the encyclopaedia which I read was very depressing - as you get old, you withdraw from everything and then all you will have is your bedroom and the photographs and the furniture that you know, and that's your world. So if you've got to go to hospital, the doctor advises you to bring some photographs so that you'll know you're not lost in a different world, that this is like your bedroom.

I'm determined that I will not, as long as I can, to be reduced, to have my horizons closed on me like that. It is the stimuli, it is the constant interaction with people across the world that keeps me aware and alive to what's going on and what we can do to adjust to this different world ...

In other words, you must have an interest in life. If you believe that at 55, you're retiring, you're going to read books, play golf and drink wine, then I think you're done for. So statistically they will show you that all the people who retire and lead sedentary lives, the pensioners die off very quickly.

So we now have a social problem with medical sciences, new procedures, new drugs, many more people are going to live long lives. If the mindset is that when I reach retirement age 62, I'm old, I can't work anymore, I don't have to work, I just sit back, now is the time I'll enjoy life, I think you're making the biggest mistake of your life. After one month, or after two months, even if you go travelling with nothing to do, with no purpose in life, you will just degrade, you'll go to seed.

The human being needs a challenge, and my advice to every person in Singapore and elsewhere: Keep yourself interested, have a challenge. If you're not interested in the world and the world is not interested in you, the biggest punishment a man can receive is total isolation in a dungeon, black and complete withdrawal of all stimuli, that's real torture.

So when I read that people believe, Singaporeans say: 'Oh, 62 I'm retiring.' I say to them: 'You really want to die quickly?' If you want to see sunrise tomorrow or sunset, you must have a reason, you must have the stimuli to keep going.'

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 15, 2008

The Result of Natural Detox

Beberapa waktu yang lalu saya menulis posting di bawah ini dan saya sekarang ingin melaporkan hasil detox saya. Perlu diketahui bahwa detox ini bukan dilakukan karena saya pernah kecanduan narkoba, bukan. Detox yang ini dilakukan karena di dalam tubuh kita sebenarnya banyak mengandung racun karena makanan atau minuman:

Pada suatu hari Kamis siang dua minggu lalu isteri saya menghadiri seminar tentang pola hidup sehat. Dalam seminar itu pembicaranya adalah Ibu Liong Pit Lin, yang pernah mengalami sakit kanker stadium lanjut. Selama tiga tahun ibu ini menderita kanker ganas yang bermula dari payudaranya hingga sel kanker menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Ketika para dokter sudah tidak sanggup lagi mengobati ibu ini, ia mempelajari pola hidup dan pola makan dan minum yang sehat. Tadinya ia sudah terbaring saja di ranjang, tanpa daya. Setelah satu bulan mengubah pola hidup dan pola makanan, yang dimulai dengan detoksifikasi menggunakan makanan (buah-buahan, biji-bijian dan sayur-sayuran), ia mulai bisa bangun dari tempat tidur. Akhirnya dalam 3 tahun, setelah menjalani pola hidup dan pola makan yang sesuai Alkitab, ia dipulihkan sepenuhnya dan sekarang ia membagikan pengetahuannya kemana-mana, termasuk siaran di radio Heartline FM.

Saya telah mencoba resep detox yang dapat dikerjakan sendiri dan dengan membeli bahan makanan sendiri (buah-buahan, biji-bijian, sayur-sayuran) selama 11 hari dan pada hari Minggu, 14 Desember 2008, saya ditest kadar gula dan kolesterol total, ternyata hasilnya menakjubkan. Kadar gula darah saya sebelum makan 112, dan kadar kolesterol total saya hanya 145! Padahal sebelumnya kadar kolesterol total saya berkisar di angka 190 - 210. Selain itu berat badan saya turun beberapa kilogram. Ternyata detox itu ada hasilnya. Nanti saya akan bagikan resep detox-nya seperti apa.

Gunakan makanan sebagai obat, dan jangan gunakan obat sebagai makanan! God bless you!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 28, 2008

Use Food as Medicine, and Don't Use Medicine as your Food!

Kamis siang kemarin isteri saya menghadiri seminar tentang pola hidup sehat. Dalam seminar itu pembicaranya adalah Ibu Liong Pit Lin, yang pernah mengalami sakit kanker stadium lanjut. Selama tiga tahun ibu ini menderita kanker ganas yang bermula dari payudaranya hingga sel kanker menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Ketika para dokter sudah tidak sanggup lagi mengobati ibu ini, ia mempelajari pola hidup dan pola makan dan minum yang sehat. Tadinya ia sudah terbaring saja di ranjang, tanpa daya. Setelah satu bulan mengubah pola hidup dan pola makanan, yang dimulai dengan detoksifikasi menggunakan makanan (buah-buahan, biji-bijian dan sayur-sayuran), ia mulai bisa bangun dari tempat tidur. Akhirnya dalam 3 tahun, setelah menjalani pola hidup dan pola makan yang sesuai Alkitab, ia dipulihkan sepenuhnya dan sekarang ia membagikan pengetahuannya kemana-mana, termasuk siaran di radio Heartline FM.

Saya sendiri akan mencoba resep detox yang dapat dikerjakan sendiri dan dengan membeli bahan makanan sendiri (buah-buahan, biji-bijian, sayur-sayuran) selama 21 hari ke depan. Kenapa kita perlu detox? Nanti saya ceritakan deh. Yang pasti, gunakan makanan sebagai obat, dan jangan gunakan obat sebagai makanan! God bless you!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 24, 2008

Free of Vertigo

Ada email menarik yang saya terima dari seorang teman:

Ini sekilas tentang penyakit Vertigo. Bagi orang yang belum pernah merasakannya sebaiknya DICEGAH, jangan sampai anda masuk dalam VERTIGO CLUB.

Ini pengalaman saya sendiri, mungkin saja tidak sama dengan penderita lainnya, tapi saya hanya ingin sharing kepada beberapa teman-teman saya yang juga terkena vertigo. Hanya orang yang pernah terkena vertigo bisa merasakan betapa tersiksanya kalau penyakit itu sedang kumat. Saya seperti berada di dalam sebuah round table lalu diputar berkeliling atau terkadang terasa seperti diayun ke segala arah yang tidak jelas, diangkat tinggi dan berputar semuanya!!!!! Saat diletakkan ke bantal, kepala sangat tidak nyaman, terus ingin berputar dan saya seakan mencari pegangan kemana-mana. Apalagi melihat atau menunduk ke bawah jelas tidak mungkin. Rasanya lebih baik tidur duduk saja. Confidence level saya turun karena saya tidak tahu kapan sang vertigo akan muncul. Dia akan muncul begitu saja. Biasanya dengan obat Merislon bisa hilang tapi tidak tuntas sembuhnya. Setiap tahun sekali penyakit itu kumat. Namun serangan vertigo yang terakhir menyebabkan saya tidak bisa tidur pada posisi kanan. Setiap mau balik ke kanan maka vertigonya kumat. Saya merasakan ada sesuatu yang salah namun tidak tahu apakah itu.

Akhirnya ketika Reuni Lebaran di Bali seorang teman memberikan reference untuk berobat ke seorang Profesor di Mt Elizabeth, Singapore, dimana dokter ini seorang neurolog dan ahli penyakit Stoke, baginya penyakit vertigo enteng . Maka untuk mencari kesembuhan aku menemuinya Jumat kemarin.

Mula-mula dokter melakukan Blood Circulation Scan, di mana segera diketahui apakah ada bagian pembuluh darah yang mampet atau alirannya kurang lancar. Sesudahnya dilakukan therapy di kursi sofa oleh seorang suster sebagai berikut:

Saya tidur telentang dengan kepala sebagian nongol keluar kursi tanpa bantal dan dipegang oleh suster. Kemudian saya disuruh menoleh ke kiri, adduuuuh langsung vertigo-nya kumat, dunia berputarrrrrr, sampai tangan saya menggapai-gapai mencari pegangan. Kemudian saya disuruh relaks. Sesudah vertigo hilang, maka saya harus menoleh ke kanan, kumat lagi, walau tidak separah yang kiri. Saya relaks lagi, lalu balik badan dan kepala melihat ke lantai, lalu saya bangun perlahan-lahan dengan mata melihat ke bahu, kemudian duduk kembali.

Hanya itu therapynya, tapi manjur! Lalu saya diharuskan tidur bolak balik, kanan - kiri – kanan - kiri dst ...dst. Total waktu therapy sekitar +/- 15 menit. Sesudah saya tanya kenapa bisa vertigo ternyata sangat sederhana. Apa itu? Vertigo terjadi karena kita salah posisi tidur, mungkin tanpa kita sadari kita selalu tidur pada satu posisi, misalnya kebanyakan kiri terus dan jarang kanan/kiri, sehingga ini akan memperparah vertigo, yang mengakibatkan adanya "chrystal" istilah mereka yang lepas dari telinga kita sehingga menyebabkan keseimbangan kita terganggu. Nah therapy itu untuk mengembalikan posisi "Chrystal" itu, that'all ... So Simple ya, ternyata tidak ada hubungannya dengan kolesterol atau lain sebagainya. Saya hanya diberikan 1 jenis obat yang hanya diminum 1 kali saja pada malam sesudah therapy, itupun kalau masih merasa berputar. Pada malam hari itu saya tidur dengan nyenyak dan mengikuti nasihatnya agar tidur dengan posisi kepala di kanan-kiri-kanan-kiri, dan memakai bantal 2 buah ditumpuk agar tinggi serta harus mengubah pola tidur saya yang salah. Itu saja cara pengobatannya.

Saya adalah penggemar pijat, maka saya sempat tanya ke dokter itu apakah masih boleh pijat kepala. Disarankan sebaiknya tidak pijat kepala, karena kuatir tukang pijatnya ‘kan tidak tahu jelas pembuluh mana yang kena pencet. Saya kini stop pijat dulu deh, karena ketika kena serangan yang baru lalu itu saya pas sedang dipijat bagian kepala, mungkin saja saat itu ada yang kurang pas.

Sayangnya selama ini saya belum pernah di-advise therapy begitu oleh para dokter yang pernah saya datangi. Kalau sedang vertigo maka akan dihubungkan dengan kolesterol/lipitor, istirahat, minum obat pengencer darah, dan lain sebagainya, sedangkan minum obat Merislon itu membuat kita lemas.

Sabtu pagi saya therapy sekali lagi sebelum kembali ke Jakarta. Sekarang saya merasa fit dan tidak vertigo lagi. Moga-moga ini akan selamanya dan saya tidak minum obat apapun. Nah moga-moga sharing saya di atas dapat bermanfaat bagi para teman yang kebetulan sudah masuk dalam Vertigo Club, ataupun mungkin bisa di sharing kepada keluarga yang terkena vertigo ataupun kepada yang belum pernah terkena vertigo.

Note:
Tidurlah dengan sikap yang baik, yaitu dengan posisi kepala bolak balik kiri kanan !!! Segeralah perhatikan dan ubah pola tidur anda bilamana anda mempunyai kecenderungan tidur pada satu posisi saja! Lakukan pola tidur ini mulai sekarang walaupun anda belum pernah terkena vertigo. Ingat, pencegahan itu lebih baik .

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 5, 2008

Cataplexy

London - Semua pasti iba melihat wanita muda ini. Dia akan terjatuh tiap kali merasa lelah, marah, takut, terkejut, tertawa bahkan malu.

Kondisi itu dialami Kay Underwood, seorang wanita Inggris. Wanita berusia 20 tahun itu mengidap penyakit yang disebut cataplexy. Kondisi medis yang langka itu menyebabkan hampir semua jenis emosi kuat akan memicu pelemahan dramatis otot-ototnya.

Akibatnya, Kay bisa mendadak ambruk di lokasi. Demikian seperti diberitakan harian Inggris, Daily Telegraph, Selasa (5/8/2008).

Para penderita penyakit ini kerap menjadi lumpuh selama beberapa menit. Kay yang tinggal di Kota Leicestershire, didiagnosa menderita penyakit itu lima tahun silam. Sekali waktu dia pernah jatuh lebih dari 40 kali dalam sehari.

"Orang-orang menganggap ini sangat aneh ketika terjadi. Dan tidak selalu mudah menghadapi reaksi orang-orang," kata Kay.

"Pernah ketika saya jatuh di tangga, seorang wanita berjalan buru-buru dan menabrak kepala saya. Dia bilang saya harusnya jatuh di tempat yang lebih nyaman," cerita Kay.

"Tapi saya telah belajar untuk menerimanya. Saya bisa tahu kapan akan terjadi dan sudah belajar untuk jatuh dalam posisi yang nyaman atau menemukan sesuatu untuk bersandar," papar wanita itu.

Seperti halnya penderita cataplexy, Kay juga mengidap penyakit narcolepsy, kondisi yang membuatnya bisa tiba-tiba tertidur pulas. Narcolepsy dialami sekitar 30 ribu orang di Inggris dan 70 persen dari mereka juga mengidap cataplexy.

Dr Andrew Hall mengatakan, saat ini belum diketahui penyebab pasti kedua kondisi itu. Hall adalah spesialis yang menangani sekitar 200 penderita narcolepsy di Inggris.

Biarlah kita selalu mensyukuri kesehatan tubuh kita. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:4-5)Sumber: detik.com (ita/iy)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 21, 2007

Before Sickness Changes Your Life Priority

Pada tahun 1971 di Plano, Texas, USA, seorang wanita bernama Linda melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Lance. Wanita ini melakukan apa yang banyak dilakukan ibu-ibu terhadap anak laki-lakinya. Ia membentuk temperamen anak itu dengan melibatkannya dalam berbagai jenis olah raga. Lance segera menunjukkan kemahirannya sebagai seorang atlit dan pada usia 13 tahun keahlian anak itu makin nyata ketika ia memenangi Lomba Triatlon Iron Kids, sebuah perlombaan yang merupakan kombinasi dari berenang, bersepeda dan berlari. Tiga tahun kemudian pada usia belia 16 tahun ia telah menjadi atlit triatlon yang profesional. Ketika semua anak-anak lain sedang berjuang di SMU dan mengikuti kompetisi olahraga amatir, Lance mendapat banyak uang sebagai seorang atlit.

Lance bekerja keras dan kadang-kadang latihannya membawanya ke ujung negara bagian, di perbatasan Oklahoma. Pada saat seperti itu ia akan menelpon ibunya, minta dijemput karena hari sudah sore. Ibunya akan mengemudikan mobil di bawah langit Texas yang lembayung untuk menjemput anak kesayangannya. Kini sudah jelas bahwa Lance tidak akan lagi menjadi atlit triatlon karena dalam salah satu cabang dari tiga cabang olahraga triatlon itu ia sangat menguasai, jauh lebih hebat dari atlit yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Pada usia 18 tahun Lance bahkan diikutsertakan dalam latihan bersama team Olimpiade USA di Colorado Springs. Kesibukan olah raganya hampir mengorbankan sekolahnya. Untunglah sekolah pribadi diatur sehingga ia dapat lulus SMU. Ia terus gilang gemilang dalam olah raga pilihannya sehingga membuat ia terkenal ke seluruh dunia.

Pada tahun 1996 di tengah suatu perlombaan, Lance mengalami nyeri yang luar biasa sekali sehingga ia meninggalkan gelanggang perlombaan. Pemeriksaan kesehatan selanjutnya menemukan kanker stadium lanjut yang sudah bekembang ke paru-paru dan otaknya. Anak muda yang bertubuh atletis dan ceria itu harus melewati tiga kali operasi dan pengobatan lanjutan yang intensif dengan kemoterapi. Karier olah raganya tidak dipusingkan lagi. Para dokter mengatakan kemungkinan hidupnya hanya 50/50 dan kanker itu membuatnya ketakutan secara jasmani dan emosi. Lance mengaku bahwa sakit penyakitnya sangat mengubah kehidupan dan prioritas-prioritasnya.

Beberapa bulan lalu saya kaget bertemu dengan kenalan lama yang pernah saya kenal di Abbalove. Ketika bertemu kembali ia sudah terkena stroke, padahal usianya saat ini baru 40 tahunan. Walaupun ia sudah bisa berjalan dengan tertatih-tatih, namun aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Kemana-mana ia harus ditemani isterinya. Gerakan dan vitalitas kehidupannya sangat jauh berkurang, padahal dulu dia adalah seorang profesional dan pengusaha muda yang sangat bersemangat.

Mari kita menata kehidupan yang penuh arti, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itu adalah investasi kehidupan yang pasti tidak mengecewakan. Mari kita tinggalkan ’legacy’ atau warisan yang tidak hanya berbentuk harta benda bagi anak cucu, namun yang lebih bernilai adalah membagikan hidup pada banyak orang.

Contoh dari kisah Perjanjian Lama membuktikan betapa pentingnya kita membagikan kehidupan yang menghasilkan generasi penerus yang handal. Elisa memiliki urapan dua kali lipat Elia. Namun Elisa gagal memuridkan Gehazi yang rakus dan mata duitan. Elia berhasil mendidik dan memuridkan Elisa. Elia membangun penerus yang lebih hebat daripada dirinya. Elisa, meskipun nabi yang urapannya lebih hebat dari gurunya, gagal membangun kader yang lebih hebat dari pada dirinya.

Apakah prioritas kehidupan anda saat ini? Sakit penyakit yang serius mengubah kehidupan banyak orang. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda. Ubahlah kehidupan dan prioritas kehidupan kita tanpa dipaksa sakit penyakit.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI