Search This Blog

Showing posts with label Kematian - Death. Show all posts
Showing posts with label Kematian - Death. Show all posts

Thursday, March 1, 2012

Kata Penghormatan di Pemakaman Ayahku - The Eulogy I Gave For My Dad

Kata Penghormatan di Pemakaman Ayahku
Hari ini adalah ulang tahun kelima atas wafatnya ayahku. Pada waktu itu ayah sedang duduk di taman di rumahnya, dengan seekor anak kucing agak baru di dekatnya dan sekantung makanan anjing. Ia tinggal di dekat salah satu Finger Lakes di barat New York. Pada saat itu, saudara-saudariku tinggal berjarak 30 menit dari rumah ayah.

Pada hari itu aku sedang berada di Kota New York, menghadiri pertemuan group fokus bagi pekerjaanku – ketika aku menerima panggilan handphone panik dari kakakku. Kakak sedang menuju ke rumah ayah untuk mengajaknya makan malam. Kak Matt menemukan ayah jatuh pingsan keluar dari kursinya. Kak Matt mulai memberikan pernafasan buatan bagi ayah, sementara istrinya menelpon 911 – panggilan emergensi.

Setelah menerima telpon dari kakak, aku segera meninggalkan acara group fokus untuk mengejar pesawat paling awal. Ketika aku memasuki airport dan siap-siap menaiki pesawat, Matt menelponku lagi untuk mengabarkan bahwa ayah telah meninggal.

Saat itu sungguh terasa seperti mimpi, setelah hubungan telpon selesai, dan mendengar suara dan kesibukan orang-orang yang melanjutkan kehidupan mereka, sementara kehidupanku terasa berhenti mendadak pada ketika itu. Ketika aku tiba di Rochester, keempat saudara-saudariku dan aku mulai menyiapkan proses pemakaman dan acara kedukaan – hal-hal seperti pengurusan jenazah, acara pemakaman, dan penulisan kabar kematian dan biografi ayah.

Ada daftar kegiatan yang perlu diperiksa satu persatu. Salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah menulis kata sambutan bagi pemakaman ayah. Telah disetujui bahwa aku akan membacakan kata sambutan tersebut untuk mengenang jasa dan menghormati ayahku.

Di bawah ini aku tuliskan eulogi atau kata-kata penghormatan yang aku bagikan di acara pemakaman ayah – aku bagikan ini dengan harapan dapat menolong seseorang yang mungkin melewati pengalaman yang sama.

=======================================================================

Rasanya seperti bermimpi dan tidak nyata ketika kami harus kehilangan kedua orang tua dalam rentang waktu yang cukup pendek – dua tahun lebih sedikit.

Aku pergi ke gereja dan duduk bersebelahan dengan ayah pada hari Minggu lalu dan tidak pernah menduga akan ditelpon pada hari berikutnya yang mengabarkan bahwa ayah telah wafat.

Aku tidak menduga kalau kedua orangtua kami tidak akan hidup terus untuk melihat pernikahan 12 cucu mereka. Aku tidak menduga kalau mereka tidak akan melihat kelahiran cicit-cicit mereka. Dan tentu saja aku tidak menduga kalau mereka tidak akan mencapai usia 65 tahun.

Sampai hari Senin lalu ketika ayah meninggal, aku masih menduga dapat hidup bersama ayah selama 15 atau 25 tahun yang menyenangkan lagi.

Namun paling tidak aku punya dugaan yang membuat damai di pikiran dan hati terdalam bahwa aku tahu bahwa ayah dan ibu sudah dipersatukan bersama.

Sejak ibu meninggal pada tahun 2004, ayah mulai tidak bahagia. Saudara-saudariku dan aku sendiri telah berusaha memberikan lebih banyak waktu bersama ayah. Saudara-saudari kami juga sering mengajak ayah untuk makan, minum kopi, memperbaiki rumah ayah, mengajak ayah jalan-jalan atau bepergian mengelilingi danau untuk membangkitkan semangatnya – namun tidak terlalu berhasil.

Pada suatu titik, aku begitu frustrasi atas kemurungan ayah sehingga aku secara egoistis dan marah menegur ayah agar keluar dari kemurungannya dan bangkit melanjutkan kehidupannya. Aku juga bertanya kepada ayah, apakah keluarga besar yang masih hidup tidak cukup baginya?

Dengan pelan ayah menjawab bahwa ia sangat mengisihi setiap orang di antara kami semua. Namun ayah juga menceritakan bahwa semua perhatian dan upaya yang ekstra dari kami semua terhadap ayah, menjadi sesuatu yang pahit-pahit manis karena Gwen (ibuku) tidak ada lagi di sana untuk berbagi bersama ayah.

Dengan pelan ayah menceritakan lebih lanjut bahwa tidak peduli betapa dalam kami mengasihi ayah dan menghabiskan waktu bersama ayah – setiap kami akhirnya harus meninggalkan ayah setiap hari untuk kembali pada keluarga dan rumah kami masing-masing. Nampaknya dengan ditinggalkannya ayah setiap hari, hal itu tanpa sadar menambah kepedihan hati ditinggal ibu.

Itulah pendalaman yang tak terduga dan mendukakan bagiku. Tanpa memperkecil hal itu, kehilangan ibu bagi ayah dapat diibaratkan dengan seorang pelukis yang kehilangan penglihatannya, seperti seorang musisi yang kehilangan pendengarannya atau seperti seorang koki yang kehilangan daya kecapnya.

Setiap hal yang suka dikerjakan dan dialami setiap orang dalam kehidupan ini dipengaruhi dan berubah, karena titik kontak yang menolong memberi arti pada setiap waktu sudah tidak ada bersama mereka lagi. Ibuku adalah titik kontak bagi ayah.

Ayahku mengasihi kami kelima orang anaknya dan sangat mengasihi cucu-cucunya – tetapi sekarang aku tahu bahwa ia sedih karena tidak lagi dapat membagikan saat-saat indah itu bersama ibuku.

Percayalah pada apa yang kukatakan, aku kehilangan kedua orang tuaku – tetapi seperti aku katakan, aku tak menduga bahwa sekarang aku punya damai sejahtera walaupun kehilangan mereka, yaitu mereka kini dapat bersatu di alam kekekalan.

Beberapa anak mendapatkan dari ayah mereka kesukaan akan main baseball dan mereka dapat mengingat angka-angka statistik kemenangan setiap pemain setiap hari. Beberapa anak mengembangkan kesukaan untuk berburu dan memancing yang akan bertahan seumur hidup. Beberapa yang lain punya hobby terhadap mobil dan bekerja bersama ayah mereka untuk memperbaiki mesin mobil klasik.

Walaupun ayahku tidak punya kesukaan akan baseball, berburu atau terhadap mobil – namun ia memiliki gairah menyala-nyala yang ia teruskan padaku, yaitu kegairahan akan Firman Tuhan dan akan iman yang kekal dalam Kristus.

Setiap hari aku bersyukur atas karunia iman yang ayah turunkan bagiku, khususnya untuk hari seperti hari ini.

Pada awal minggu ini, istriku menemukan email dari seorang wanita yang datang beribadah di gereja kami, dan pada akhir email tersebut ada kata-kata kutipan yang aku ingin bagikan, bunyinya:

”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan di dalam kekekalan.”

Kutipan tadi terngiang-ngiang di pikiranku, karena itulah standard yang dapat diukurkan kepada ayahku. Setiap orang yang sungguh-sungguh mengenal ayahku akan setuju atas standard kekekalan itu – ia adalah salah seorang terkaya yang aku kenal, dan itu dibuktikan dengan jumlah orang pada hari ini yang datang menghormati kenangan indah bersama ayah.

Ayahku selalu siap mendengarkan, selalu mendoakan dan menyampaikan kata-kata hikmat dari Alkitab kepada siapa saja yang mencari pertolongannya.

Selama masa penghiburan tadi malam, aku tak dapat memberi tahu berapa banyak orang – beberapa diantaranya adalah teman-teman keluarga kami, banyak lainnya yang belum kami kenal – yang datang melayat dan memberitahuku bahwa ayah adalah ”figur bapak” bagi mereka ketika mereka tidak mempunyai ayah lagi; atau ayah memainkan peranan penting dan memberikan dampak bagi kehidupan mereka; atau betapa iman ayah dan keluarga kami telah menjadi inspirasi bagi mereka.

”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan di dalam kekekalan.”

Setelah mengatakan semuanya itu – setelah kehilangan kedua orang tuaku begitu berdekatan waktunya padahal mereka seharusnya bisa hidup berpuluh-puluh tahun lagi – sangatlah mudah bagiku untuk memprotes ke sorga dan menganggap kepergian kedua orang tua kami sebagai sesuatu yang tidak adil atau bahkan suatu lelucon alam semesta yang kejam.

Reaksi yang spontan adalah menuntut jawaban kepada Tuhan atas pertanyaan - ”Mengapa?”:
• Mengapa kedua orangtuaku pergi?
• Mengapa aku harus meneruskan kehidupan tanpa mereka?
• Mengapa pasangan saling mengasihi yang sudah mendemonstrasikan iman harus meninggal pada usia begitu muda?
• Mengapa orang tua kami yang meninggal?

Semua pertanyaan ”mengapa” dan banyak pertanyaan lain datang memenuhi pikiranku ketika aku mendengar kabar kematian ayahku – karena aku mengasihi ayah sebesar aku mengasihi ibu.

Yang menariknya, pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” itu terjadi, mengingatkan aku pada sebuah bacaan yang aku temukan pada buku berjudul ”Penelaahan atas Kedukaan”.

Setelah ibu meninggal, aku memberikan buku itu kepada ayah. Buku itu ditulis oleh C.S Lewis – orang yang semula sangat atheis yang kemudian menjadi salah seorang penulis Kristen dan ahli teologi terbesar di abad ke-20.

Lewis menulis buku itu segera setelah kematian istrinya, Joy Davidson, karena kanker. Sejujurnya, aku tidak mengetahui pasti apakah ayah membaca buku yang kuberikan itu – namun aku ingin membacakan sedikit dari buku itu bagi anda tentang pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” yang kami alami ketika kami kehilangan orang-orang yang kami kasihi:

Ketika aku menyodorkan pertanyaan-pertanyaan [mengapa] di hadapan Tuhan, aku tidak mendapatkan jawabannya. Malahan sepertinya aku mendapatkan jawaban ”Tidak”. Aku tidak berhadapan dengan pintu yang tertutup. Tetapi agaknya aku mendapati tatapan yang diam seribu basa, bukannya tanpa belas kasih. Sepertinya Tuhan menggelengkan kepalanya – bukan menolak menjawab namun mengabaikan pertanyaan itu. Jawabannya seperti: ”Tenanglah, anak-Ku, engkau tidak mengerti.”

Bolehkah makhluk fana mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap Tuhan tidak perlu dijawab? Ya, boleh saja karena semua pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal merupakan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Pertanyaan-pertanyaan seperti: ”apakah kuning itu kotak atau bundar? Atau, ”ada berapa jam dalam satu mil?” tidak bisa dijawab. Mungkin saja setengah dari pertanyaan-pertanyaan kita – setengah dari masalah-masalah yang berkaitan dengan teologi dan metafisika – merupakan pertanyaan-pertanyaan tanpa makna. ”


Apa yang dijelaskan bagian buku di atas adalah bahwa semua pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” tentang suatu tragedi merupakan jenis pertanyaan yang keliru.

Setelah acara ibadah penghiburan tadi malam – mengingat ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang dijamah hidupnya oleh dampak positif kehadiran ayah – aku jadi berpikir tentang pertanyaan yang tepat atau benar yang harus aku tanyakan. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk akal bagi Tuhan dan sehingga Ia ingin menjawab pertanyaan itu bagiku mengenai kematian orang tua kami.

Setelah antrian panjang orang-orang yang datang tadi malam pada acara ibadah penghiburan dengan membawa kisah demi kisah tentang bagaimana ayah memberi dampak positif bagi kehidupan orang-orang itu – maka muncullah pertanyaan di hatiku, ”Bagaimana aku bisa lebih menjadi seperti ayahku?”

Dan jawaban dari Tuhan datang ke dalam hatiku secepat pertanyaannya, yaitu: ”Ukuran paling tepat untuk menilai kekayaan seseorang adalah apa yang ia investasikan dalam kekekalan.”

Terlepas dari kepedihan, kehilangan, kedukaan – aku mendapatkan jawaban dari sorga yang memberikanku damai sejahtera sejati di dalam hati terdalam. Aku memiliki jawaban dan tuntunan, bahwa aku perlu melanjutkan kehidupan ini dan imanku sampai aku mencapai garis akhir dan menyelesaikan kehidupanku dengan baik – tepat seperti yang telah dilakukan ayahku.

Aku akan terus mengejar warisan kekal yang sejati yang diberikan ayah dan berusaha memberi pengaruh positif terhadap kehidupan yang aku jumpai – tepat seperti yang dilakukan ayah dan terus dilakukan ayah hingga akhir hayatnya.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan ”mengapa” dan ada pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan ketika kita berhadapan dengan tragedi, aku bertanya apakah anda kaya dalam kebenaran, berlimpah dalam iman dan memiliki investasi yang banyak dalam kekekalan? Di seberang tirai kematian, apakah anda tahu bahwa anda telah menyelesaikan kehidupan dengan baik?

Jika anda mengarahkan kehidupan anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anda akan mendapati kehidupan yang layak dan penuh arti.

Ditulis oleh Tor Constantino, ex journalist of CBS and ABC, best selling author, bloger, speaker. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Lihat artikel menarik lainnya di Pentas Kesaksian.
Sumber: http://thedailyretort.com/today-marks-5-years-since-my-dad-died/

********

The Eulogy I Gave For My Dad…

Today is the fifth anniversary of my dad’s death. He was sitting in his garden, with his newish puppy nearby and a pocketful of dog snacks near one of the Finger Lakes in western New York where he lived. At the time, my siblings and I all lived within 30 minutes of him.

That day, I was in New York City attending some focus group sessions for work – when I received a frantic cell phone call from my brother. He was driving to dad’s house to take him out to dinner. Matt found my dad keeled over out of his chair. He started administering CPR to dad while his wife dialed 911.

After the call, I immediately left the focus groups to catch an earlier flight. When I got to the airport and was getting ready to board the plane, Matt called again to say that dad had died.

It was incredibly surreal to hang up the phone and listen to the ongoing hustle and bustle of everyone else’s lives continuing, while mine had come to a screeching halt at that moment. When I arrived back in Rochester, my four siblings and I began the process of mourning and planning – things like internment, funeral arrangements and obituary writing.

They were necessary boxes that needed to be checked. One of the tasks that had to be done was his eulogy. It was agreed that I would deliver the eulogy to honor and memorialize my dad.

Below are the words that I shared at his funeral – I share them here to possibly help someone who may be going through a similar experience.

====================================================================

It feels surreal and unnatural to lose both parents within such a brief span of time – little more than two years.

I went to church and sat next to my father this past Sunday and did not expect a phone call the next day saying he was gone.

I did not expect that my parents would not live to see any of their 12 grandchildren get married. I did not expect that they would not live to see their great-grand babies. And I certainly did not expect that they would not live to see the age of 65.

Up until this past Monday when he passed, I did not expect anything less than another 15 or 25 good years to share with him.

But the thing I expected least of all was the deep peace of mind and spirit that I have knowing that he’s reunited with my mother.

Ever since she passed away in 2004, he had not been happy. My sisters, brother and I tried to spend a lot more time with him. Our respective families took him out to meals, coffees, worked around his house, took him on walks and drives around the lake to improve his spirits – to little avail.

At one point, I was so frustrated with his listlessness that I selfishly and angrily confronted him to “snap out of it” and get on with his life. Questioning him whether or not his surviving family members and extended family were enough?
He quietly replied that he deeply loved each and every one of us. But he shared that all the extra attention and effort we applied to him, was bitter sweet because Gwen (my mother) wasn’t there to share it with him.

He quietly shared further that no matter how much we loved on him and spent time with him – each of us ultimately had to leave him to return to our own families and homes each day. It seems that our daily departures from him unintentionally sharpened the painful void of my mother’s memory.

That was an unexpected insight into grief for me. Without minimizing it, such a loss is somewhat akin to a painter losing their sight; a musician losing their hearing or a chef their sense of taste.

Everything they love to do and experience in life is affected and changed, because their point of contact that helped define each moment was no longer there. My mother was that point of contact for my father.

My dad loved us five kids and deeply loved his grandkids – but I now know that he was sad that he could no longer share those moments with my mom.
Trust me as I tell you, I miss them both – but as I said, I did not expect the peace I now have in their absence knowing they’re together.

Some kids get from their dads a love for baseball and can quote player statistics all day long. Some develop a love for hunting and fishing that lasts a lifetime. Still others develop a passion for cars and working along side their father restoring a classic engine.

While my dad never had a passion for baseball, hunting or cars – there is a passion that he had that transferred to me and that was a passion for the word of God and an eternal faith in Christ.

Everyday I’m grateful for that gift of faith my father imparted to me, especially on a day like today.

Earlier this week, my wife came across an email from a woman who attends our church and at the end of the email there was a quote that I’d like to share, it reads:

“The true measure of a man’s wealth is what he has invested in eternity.”


That quote has lingered with me, because it was a standard that my dad could measure up to. Anybody who truly knew my dad would agree that by that eternal standard – he was one of the wealthiest men they knew, and that’s evidenced by the overwhelming number of us here today to honor his memory.

My dad was always ready to listen, pray and offer words of wisdom through the scriptures to anyone who sought him out.

During calling hours last evening, I can’t tell you how many people – some were family friends, others were complete strangers – who came through the receiving line telling me, that my dad was a “father-figure” to them when they did not have one; or the incredible role and impact that he had on their lives; or how his faith and family had been an inspiration to them.

“The true measure of a man’s wealth is what he has invested in eternity.”

Having said all that – after losing both parents so close together with decades of life still ahead of them both – it’s easy to point an accusing finger to heaven and claim that such a loss is unfair and is a cruel cosmic joke.

The knee jerk reaction is to demand an answer from God to the question – Why????
• Why are they both gone?
• Why should I go on without them?
• Why did this loving couple of such demonstrated faith have to die so young?
• Why our parents?

All of those “why” questions and many others came flooding into my mind when I heard that my dad died – because I loved him as much as I loved my mother.

Interestingly, those questions about “why” it happened, reminded me of a passage I read in a book titled A Grief Observed.

After my mom passed, I shared the book with my dad. It’s written by C.S. Lewis – an avowed atheist who became one of the greatest Christian writers and theologians of the 20th Century.

Lewis wrote the book shortly after the death of his wife, Joy Davidson, to cancer. To be honest, I don’t know if my dad ever read the book I gave him – but I’d like to read a bit of it to you about the “why” questions we all experience when we lose a loved one:

When I lay these [why] questions before God I get no answer. But a rather special sort of ‘No answer.’ It is not the locked door. It is more like a silent, certainly not uncompassionate, gaze. As though He (God) shook His head – not in refusal but waiving the question. Like, ‘Peace, child; you don’t understand.’

Can a mortal ask questions which Gods finds unanswerable? Yes, because all nonsense questions are unanswerable. Questions such as, ‘Is yellow square or round? Or ‘How many hours are in a mile?’ – have no answers. Probably half the questions we ask – half of our great theological and metaphysical problems – are nonsensical questions.


What that passage suggests is that all of our “why” questions about tragedy are the wrong types of questions to ask.

After last night’s calling hours - considering the hundreds, possibly thousands of lives my parents positively touched – I was thinking about what are the correct or right-type of questions I should ask. Questions that are not nonsensical to God and that He wants to answer for me regarding the death of my parents.

After the long line of people from last night’s calling hours who shared story-after-story about my dad’s positive impact on their lives – there was one question that came to my heart, “HOW can I be more like my father?”

And the answer from God came to my heart as quick as the question, “The true measure of a person’s wealth is what they invest in eternity.”

Despite the pain, the loss, the grief – I had an answer from heaven that brought me true inner peace. I had an answer and direction, that I’m to continue in this life and my faith until I’ve reached its end and finished well – just as my father did.

I will continue to purse the true eternal inheritance of dad and seek to have a positive impact on those lives I happen to touch – just as my father did and continues to, even in his death.

Having answered the question of “why” and why there’s a better question to ask when faced with tragedy, I ask if you’re rich in the truth, wealthy in faith and fully invested in eternity? On the other side of death’s veil, will you know that you finished well?

Allowing your life to become the answers to those questions, is worthy of life and ensures a life of worth.

Written by Tor Constantino, ex journalist of CBS and ABC, best selling author, bloger, speaker.
Source: http://thedailyretort.com/today-marks-5-years-since-my-dad-died/

Translated and posted by Hadi Kristadi for PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, July 23, 2009

Dead People and the Billing

A lady died this past January, and Citibank billed her for February and March for their annual service charges on her credit card, and added late fees and interest on the monthly charge. The balance had been $0.00 when she died, but now somewhere around $60.00. A family member placed a call to Citibank.

Here is the exchange :

Family Member: 'I am calling to tell you she died back in January.'
Citibank: 'The account was never closed and the late fees and charges still apply.'

Family Member: 'Maybe, you should turn it over to collections. '
Citibank: 'Since it is two months past due, it already has been.'

Family Member: So, what will they do when they find out she is dead?'
Citibank: 'Either report her account to f! rauds di vision or report her to the credit bureau, maybe both!'

Family Member: 'Do you think God will be mad at her?'
Citibank: 'Excuse me?'

Family Member: 'Did you just get what I was telling you - the part about her being dead?'
Citibank: 'Sir, you'll have to speak to my supervisor.'

Supervisor gets on the phone:
Family Member: 'I'm calling to tell you, she died back in January with a $0 balance.'
Citibank: 'The account was never closed and late fees and charges still apply.'

Family Member: 'You mean you want to collect from her estate?'
Citibank: (Stammer) 'Are you her lawyer?'

Family Member: 'No, I'm her great nephew.' (Lawyer info was given)
Citibank: 'Could you fax us a certificate of death?'

Family Member: 'Sure.'! (Fax nu mber was given )
After they get the fax :
Citibank: 'Our system just isn't setup for death. I don't know what more I can do to help.'

Family Member: 'Well, if you figure it out, great! If not, you could just keep billing her. She won't care.'
Citibank: 'Well, the late fees and charges will still apply.' (What is wrong with these people?!?)

Family Member: 'Would you like her new billing address?'
Citibank: 'That might help...'

Family Member: 'Odessa Memorial Cemetery, Highway 129, Plot Number 69.'
Citibank: 'Sir, that's a cemetery!'

Family Member: 'And what do you do with dead people on your planet???' Priceless!! Have you wondered why Citi is going broke and needs the feds to bail them out!!
Source: Email from Mr. Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, June 12, 2009

The Last Posting of a Blogger

Blog Almarhum Penderita Kanker 'Guncang' Dunia Maya
Santi Dwi Jayanti - detikinet

Jakarta - Terry Harper (45), eksekutif direktur dari Society of Proffesional Journalist (SPJ) yang berdiam di Indianapolis divonis kena kanker otak pada tahun 2007. Sejak itulah Harper memutuskan untuk mulai menulis.

Blogpun menjadi media curahan hatinya akan apa yang ia rasakan selama menderita penyakit mematikan tersebut. Air mata, canda tawa semua ia tulis di blog yang ia beri nama "Thumbing My Melon". Lewat blog tersebutlah semua orang bisa mengetahui perjuangan bapak 2 anak tersebut melawan kanker.

Akhirnya setelah dua tahun berperang melawan kanker, 2 Juni lalu ia harus menghadapi ajalnya. Nah, yang istimewa di sini, ternyata almarhum Terry sebelumnya sudah menyiapkan peninggalan untuk para kerabatnya dan lebih luas lagi untuk para peselancar dunia maya lewat blog yang ia miliki, yaitu berupa tulisan terakhirnya.

Dikutip detikINET dari Geek, Jumat (12/6/2009), tulisan yang ia buat pada Oktober 2008 itu akhirnya diposting sang istri, Lee Ann tepat di hari kematiannya. Di sana Terry mengungkapkan isi hati yang dialaminya dengan tutur bahasa yang menyentuh.

"The Final Thump", judul tulisan terakhir Terry ternyata menyedot perhatian di dunia maya. Ratusan komentar bertaburan di blog Terry hingga beberapa surat kabar memuatnya. Salah satu situs berita juga turut menampilkannya di kanal feature.

Tulisan Terry tak disangka telah berhasil menjadi inspirasi bagi siapapun yang masih hidup, terutama bagi para penderita kanker, seperti Terry Harper. Sumber: detik.com

*****
TULISAN TERAKHIR SEORANG PENDERITA KANKER: TERRY HARPER

Catatan dari Lee Ann, istri Terry Harper:
Terry meninggal hari ini, 2 Juni 2009, pada pukul 1.21 siang. Tulisan terakhir yang ditulis untuk blog-nya adalah sebagai berikut:

Jadi, inilah akhirnya. Aku bergulir ke dunia kekal. Jiwaku telah didorong ke dalam kekosongan yang dahsyat. Aku beristirahat. Aku telah membeli ladang baru. Aku meninggalkan yang lama. Aku telah check out. Aku telah melintasi Sungai Styx. Aku telah memperoleh sebuah kondo pohon pinus. Aku berhenti ada di dunia ini. Aku berkelana di ladang Elysian. Terbanglah aku. Check out. Tidur bersama ikan. Menari tarian terakhir. Menurunkan layar pertunjukan. Aku bergabung dengan paduan suara tak nampak. Aku telah membayar tiket ke dalam keabadian. Aku tertelan kegelapan. Aku punya sayap untuk terbang. Aku menjadi bagian sejarah. Aku sudah mati.

Aku mulai menyusun tulisan terakhir ini pada awal Oktober 2008. Penyakit kanker gliomaku sudah berkembang dari Stadium Tiga menjadi Stadium Empat selama 13 bulan terakhir ini sejak pertama kali diagnosa kanker itu diketahui. Mengenai sakit kanker yang aku derita ini, perkembangan sel-sel kanker merupakan istilah yang menakutkan.

Ketika penyakit kanker itu ditemukan di tubuhku sekitar bulan Agustus atau September, masalahnya bukan apakah hal itu akan membawa kematian, tetapi kapan aku mati dan bagaimana memanfaatkan sisa hidupku dengan sebaik-baiknya, entah itu akan terjadi dalam dua bulan atau dua tahun.

Aku tak pernah menganggap penyakit ini sebagai "karunia" atau menganggap bahwa aku sedang ada dalam suatu perjalanan khusus. Penyakit itu ya penyakit. Aku tidak tahu bagaimana penyakit ini datang ke otakku, sehingga aku tak mau membuang-buang waktu atau tenagaku mencari tahu seharusnya apa yang harus aku lakukan untuk menghindarinya. Upaya seperti itu hanya membuang waktu. Aku ingat salah seorang dokterku berkata pada awal penyakit ini ditemukan bahwa tak dapat ditentukan penyebab sakit ini terhadap 98% penderita tumor otak. Mungkin aku termasuk kelompok 2% yang tidak meneruskan pesan email berantai kepada delapan orang teman terdekatku.

Aku tak menyangkal bahwa ada masanya ketika aku merasa sangat down terhadap seluruh keadaanku. Duh, siapa sih yang mau mati di umur pertengahan 40-an? Aku tidak berharap. Dengan mempertimbangkan segala hal, aku lebih suka hidup bersama Lee Ann di sampingku seterusnya, melihat anak-anakku, Dale dan Jace tumbuh menjadi besar dan menjalani kehidupan mereka masing-masing… dan mudah-mudahan mereka dapat mengganti genteng yang bocor di rumahku pada suatu hari.

Aku tak tahu apa yang ada di seberang sana.

Aku tahu bahwa jika kasih dapat melintasi batas kehidupan, ruang dan waktu, aku yakin hal itu dapat membawaku dengan aman ke tujuanku berikutnya. Dan aku berharap bahwa aku telah berbuat cukup banyak untuk menolongku melewati jalan kematian ini sehingga pada suatu saat kita akan bertemu lagi.

Dan teristimewa untuk Lee Ann, Dale, dan Jace… kemanapun kalian pergi dan apapun yang kalian lakukan, berbahagialah dan ketahuilah bahwa kasih sayangku kepada kalian selalu menyertai kalian. Selamanya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku jadinya tanpa kalian bertiga. Hidupku benar-benar luar biasa bersama kalian.

Selamat jalan . . .
(Sumber: Blog Terry Harper, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 12 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog anda. Terima kasih.

******

Terry Harper's Thumping My Melon:

Note from Lee Ann Harper:
Terry died today, June 2, 2009, at 1:21 p.m. His final blog post follows…

So this is it. I have shuffled loose the mortal coil. My soul has been hurled into the great void. I am taking the proverbial dirt nap. I bought the farm. I kicked the bucket. I have checked out. Crossed the River Styx. Bought a pine condo. Ceased to be. I am wandering the Elysian Fields. Gone belly up. Checked out. Cashed in. Sleeping with the fishes. Danced the last dance. Run down the curtain. I am pushing daisies. I have joined the choir invisible. I have paid Charon’s fare. I have succumbed. I have sprouted wings. I am history. I am dead.

I started composing this final message in early October 2008. My once-Grade III Anaplastic Astrocytoma with features of a Grade IV Glioblastoma Multiforme had morphed into a recurrent malignant glioma within 13 months of my initial diagnosis. Where brain tumors are concerned, the word “progression” is the most unkind word of all.

When that became clear in late August and early September, I knew that it was not really a matter of if I was going to die, but when and how to make the absolute best use of the time remaining, whether that was two months or two years.

I never viewed this disease as a “gift” or that I was on some kind of “journey.” It just was. There was no way of knowing how this thing appeared in my brain so I tried not to waste any time or energy wondering what I should have or could have done differently. That would have been an exercise in futility. I think I recall one of my doctors telling me early on that there was no way to determine the cause of 98 percent of primary brain tumors. I was probably in the other two percent that didn’t forward one of those damn chain E-mails to my eight closest friends.

I can’t deny there were times when I felt down about the whole situation. Hell, who wants to die in their mid-40s? Not me. All things considered, I would rather just be going about my life with Lee Ann at my side, watching Dale and Jace grow up and live their lives…and hopefully getting our tile roof replaced one day.

I have no idea what lies beyond.

I do know that if love transcends the boundaries of life and space and time, I have amassed more than enough to carry me safely to my next destination. And I hope that I have left enough behind to help light a path so that we may one day meet again.

And especially to Lee Ann, Dale and Jace…wherever you go and whatever you do, be happy and know that my love will always be with you. Forever. I cannot imagine what my life would have been like without the three of you in it. It was a great ride.

So long for now…
Love,
Terry

Assistant Editor's Note:
Mrs. Melonthump would like you all to participate in events planned to remember and celebrate Terry. Thank you.

Terry's Remembrance:
Saturday, June 6, 8 pm
At the Country House of Sara and John Trittipo
Near Eminence, IN (45 minutes from Indpls)
Map to location (link here)
Please bring chairs for lakeside event and bonfire
Casual attire. Light refreshments.

Terry's Party:
Sunday, June 7, 7 pm
Woodruff Place Town Hall
East Drive, Woodruff Place
(between E. 10th and Michigan Streets)
Casual attire; black clothing discouraged.
Terry's favorite things: including munchies, karaoke and Maker's Mark.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, May 25, 2009

My Last Email

Pada tanggal 15 Mei yang lampau di televisi NBC ditayangkan film "Farrah's Story". Satu film kisah nyata yang sangat mengharukan mengenai perjuangan bintang film Charlie's Angel, Farrah Fawcett (62) dalam melawan kanker anal. Farrah didiagnosa mengidap kanker sejak 2,5 tahun yang lampau. Berat badannya sekarang ini hanya 39 kg. Mantan suaminya Ryan O'Neal menyatakan, bahwa keadaan Farrah sudah benar-benar sekarat, sehingga hanya tinggal menunggu hari kematiannya saja.

O'Neal berbicara sambil berlinang air mata mengenai hari-hari yang harus ia lewati tanpa Fawcett. "Setelah menjalani kemoterapi rambutnya yang terkenal indah dan panjang itu sudah rontok habis semua. Saya masih menyimpannya sebagian di rumah, walaupun ia sudah tak mempedulikannya lagi," pungkas O'Neal

Ini kali O'Neal merasa tidak mampu untuk dapat memainkan peran "Love Story" di dalam kehidupan nyata sekarang ini. Beda ketika ia memerankan kisah yang serupa dalam film "Love Story" (1970) dimana dikisahkan istrinya meninggal dalam pelukan tangannya, karena di gerogoti kanker darah leukami. Dan anehnya pula, di dalam kehidupannya sendiri pada tahun 2001; O'Neal juga dinyatakan menderita penyakit leukaemia.

Aktor Patrick Swayze, yang membintangi film laris Dirty Dancing dan Ghost, juga menderita kanker pankreas. Perlu diketahui bahwa kanker pankreas adalah salah satu yang paling mematikan di antara semua jenis tumor.

Entah Farrah Fawcett maupun Patrich Swayze, mereka mengharapkan agar bisa terjadi mukjizat yang dapat menyembuhkan mereka. Hanya sayangnya, walaupun mukjizat apapun yang terjadi; mereka tidak akan bisa lolos dari cengkeraman maut, sebab ini sudah merupakan takdir yang tidak bisa ditawar maupun dihindari lagi bagi setiap orang. Mukjizat hanya bisa memperpanjang usia seseorang untuk sejenak waktu saja.

Percayalah, bagi mereka berdua, walaupun sudah memiliki uang berjibun, dan nama sudah beken selangit, anugerah yang paling indah dan yang paling berharga adalah kehidupan. Mereka setiap hari akan sangat berterima kasih dan bersyukur, apabila di hari esok, mereka masih bisa menikmati terbitnya matahari di waktu pagi. Hal ini akan terjadi bagi setiap orang, kenapa tidak dari sekarang kita mensyukuri untuk anugerah ini?

Kematian bisa saja datang menjemput saya entah itu esok ataupun 10 tahun lagi. Hal inilah yang menggerakan saya untuk menulis surat kematian, sebab setelah saya mati kemungkinan ini tidak akan ada lagi. Jadi apa salahnya selama saya masih hidup untuk menyiapkan surat kematian tersebut.

Email surat kematian kita bisa dikirimkan entah dalam kurun waktu 25 tahun mendatang ataupun 10 tahun lagi. Kita bisa mengirimkan email surat kematian ke milis atau entah kepada siapapun juga di tahun 2035 yang akan datang secara otomatis melalui: www.futureme.org Disamping itu kita pun dapat mengatur prosedur acara perkabungan kematian kita secara maya (virtual) melalui www.mylastemail.com Disitu kita bisa menentukan teks dari iklan kematian ataupun memberikan saran teks apa saja yang sebaiknya ditulis diatas batu nisan kita.

Pernahkan terenungkan oleh Anda, hal-hal apa saja yang ingin Anda tulis atau beritahu kepada orang-orang yang Anda kasihi pada saat menjelang ajal tiba ataupun setelah Anda meninggal dunia? Atau kepada siapa saja Anda ingin mengirim email setelah Anda meninggal dunia? (Ditulis oleh Mang Ucup)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, March 17, 2009

A Touching Story of Olivia

Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.

Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. "Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi," demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan
Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. "Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya," berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.

Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata 'BAPTIS'. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan: "baptis berarti kamu mesti bertobat!". Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.

Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.

Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was mesti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikianlah sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.

Membawa Jiwa-Jiwa Kepada Kristus
Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung kepada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar: "Smile". Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya: "Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile." Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.

Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.

Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama "Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati". Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

"Terimakasih Tuhan Yesus"
Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, "Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…". Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, "Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv," tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman, "Terima kasih, Tuhan, atas kasih karunia-Mu. Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv. Terima kasih, Tuhan, Haleluya, Amin..." Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.

Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya, "Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…" kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap: "Trima kasih Tuhan Yesus" . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya: "Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di sorga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan, Oliv, kami semua merelakan Oliv." Dalam kondisi yang sudah 'koma' Olivia meneteskan airmata.

Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, "Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan koma' itu ia benar-benar menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai pada tanggal 12 Januari 2009, pukul 15.45.


Tugasnya Sudah Selesai
Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa "Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita".

Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke sorga.

Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan: "Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini," detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, "Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan."

Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Kita bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.

Selamat jalan, Olivia! Doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)- Email kiriman dari Ibu Lenny di Makassar.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 10, 2009

Beyond This Life (2)

Sampai sekarang, meskipun sudah tidak seperti dahulu lagi, saya gemar menonton film-film yang membahas tema-tema alam roh. Salah satu di antaranya adalah film The Sixth Sense, karya M. Night Shyamalan. Movie yang menurut pendapat saya jalan ceriteranya disajikan olehnya dengan ketrampilan artistik yang sangat mengagumkan, mengisahkan tentang kemampuan supranatural seorang anak kecil yang bisa melihat alam roh di tengah-tengah kesibukannya sehari-hari, bahkan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah mati.

Mirip dengan sebuah film lain yang bertema sama: Ghost. Keduanya menceriterakan kisah orang-orang mati yang masih tetap berkeliaran di dunia. Sebagian oleh karena mereka masih harus menyelesaikan beberapa tugas sebelum meninggalkan alam yang fana ini secara permanen, sedangkan yang lain menduduki daerah-daerah tertentu di mana mereka mengalami kematian mendadak secara tidak wajar. Kendatipun keduanya dikisahkan dengan menarik sekali untuk memikat perhatian para penontonnya, jika ditelusuri secara teliti, jalan ceriteranya sangat tidak alkitabiah, karena disajikan berdasarkan dongeng-dongeng nenek moyang!

Sebuah film DVD/VCD yang dapat dibeli di toko-toko buku Kristen di Indonesia berjudul: Escape from Hell, menjiplak dengan persis sekali ide dari sebuah movie sekuler yang terkenal awal tahun 1990, Flatliners, yang dibintangi oleh Kiefer Sutherland dan Julia Roberts.

Kedua film tersebut mengisahkan tentang eksperimen-eksperimen terlarang yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa fakultas kedokteran menggunakan obat-obatan untuk menghentikan detak-detak jantung mereka selama beberapa menit secara bergantian, sebelum ‘dirangsang’ kembali memakai alat medis ‘Defibrilator’. Mereka berharap, agar melaluinya misteri-misteri belum juga terpecahkan yang terjadi pada awal kematian manusia bisa diketahui oleh mereka.

Flatliners jelas membahas ceriteranya menurut selera dunia sekuler. Tetapi Escape from Hell, meskipun tidak 100% alkitabiah, mengisahkannya dari sudut pandangan orang-orang kristiani. Film yang diproduksi dengan ‘budget’ yang sangat terbatas ini menyajikan kisah yang diilhami oleh orang-orang yang pernah mengalami mati suri. Baik orang-orang yang sudah percaya, maupun mereka yang setelah melaluinya bersedia untuk bertobat.

Salah satu dari kesaksian-kesaksian yang mengilhami film tersebut adalah kesaksian dahsyat dan sangat mengharukan dari seorang hamba Tuhan asal New Zealand yang bernama Ian McCormack. Mengaku diri sebagai seorang ‘atheist’ yang pernah menolak kasih karunia Tuhan, ia mengalami kematian sejenak pada tahun 1982 di pulau Mauritius oleh karena sengatan fatal lima ekor ‘Box Jellyfish’ di dasar Samudera India.

Bertentangan dengan kesaksian Kerry Packer, ia menceriterakan, bahwa pada awal kematiannya ia ‘terjaga’ di suatu tempat yang amat gelap dan dingin sekali. Dalam waktu singkat ia dikerumuni oleh roh-roh jahat menakutkan yang mengatakan, bahwa ia berada di neraka! Tetapi suatu keajaiban yang luar biasa terjadi! Sebuah sinar yang jauh lebih terang dari pada ketajaman sinar-sinar laser datang menghampiri serta mengangkatnya ke luar dari sana. Terlindung di dalam lingkaran sinar cemerlang tersebut ia melayang ‘terbang’ melalui sebuah terowongan cahaya berkilau-kilauan yang amat panjang. Di seberangnya, di suatu tempat yang amat terang dan hangat sekali, ia berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus. Bahkan ia diberi kesempatan oleh-Nya untuk menyaksikan keindahan panorama sebuah bumi dan langit yang baru. Kisah luar biasa yang diceriterakan olehnya secara detil sekali, diakhiri dengan kebangkitannya, pertobatannya dan keputusannya yang tetap untuk menjadi pengikut Kristus yang setia.

Seorang hamba Tuhan yang lain, Daniel Ekechukwu dari Nigeria, juga mengalami hal yang serupa pada tahun 2001. Setelah mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan seluruh organ-organ di dalam tubuhnya rusak, ia dinyatakan ‘clinically dead’ oleh para dokter yang menanganinya. Beberapa hari kemudian, pada suatu hari Minggu, ketika jenazahnya dibawa ke dalam ruangan di bawah ‘auditorium’ sebuah gereja, di mana Ev Reinhard Bonnke sedang memimpin kebaktian di sana, tiba-tiba di luar dugaan isteri dan keluarganya ia bangkit kembali.

Menurut kesaksiannya ia dijemput oleh dua malaikat yang membawanya pergi ke sorga. Di sana ia menyaksikan tak terhitung banyaknya orang-orang yang mengenakan jubah-jubah putih sedang menyanyi, memuji dan menyembah Tuhan. Setelah itu ia dibawa ke neraka, di mana ia melihat banyak sekali orang-orang yang dikenal olehnya, termasuk hamba-hamba Tuhan yang termasyhur, yang sudah menyalah-gunakan kedudukan-kedudukan mereka di dunia, sedang disiksa di dalam lautan api neraka yang amat mengerikan.

Malaikat-malaikat itu mengatakan, bahwa ia mendapatkan kesempatan yang kedua untuk pulang kembali ke dunia, karena “permintaan orang kaya agar Lazarus kembali ke dunia untuk memperingati keluarganya (orang-orang yang masih hidup) mengenai keberadaan neraka, sudah dikabulkan oleh Tuhan bagi generasi ini”. (Lukas 16:27-28)

Daniel Ekechukwu menambahkan, bahwa ia diutus kembali ke dunia oleh Tuhan untuk memberikan peringatan yang terakhir kepada kita semua! Kisahnya, meskipun disertai dengan bukti-bukti yang sangat kuat, sampai sekarang masih tetap diragukan kebenarannya oleh banyak sekali orang-orang Kristen yang lain.

Di samping kesaksian-kesaksian Ps. Ian McCormack dan Ps. Daniel Ekechukwu, ada banyak sekali terbitan buku-buku tulisan orang-orang Kristen lainnya yang mengaku, bahwa mereka juga pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu melalui penglihatan atau mimpi. Baru-baru ini Choo Thomas meluncurkan buku karyanya: Surga itu Nyata!, yang mengisahkan perjalanan-perjalanannya di alam roh, di mana ia dibawa oleh Tuhan pergi mengunjungi sorga dan neraka. Katanya, semua itu dialami di dalam penglihatannya. Begitu juga buku kesaksian penglihatan Ev. Sadhu Sundar Singh, seorang hamba Tuhan yang diakui sebagai orang pertama yang memperkenalkan Kristus kepada bangsa India di akhir abad yang ke-19.

Sadhu Sundar Singh tidak pernah mengalami mati suri. Tetapi ia mengaku menerima suatu penglihatan di alam roh ketika ia sedang berdoa. Di sana ia dikunjungi oleh empat orang-orang suci yang menerangkan proses-proses kematian manusia kepadanya. Mereka berkata, orang-orang berdosa yang belum menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat akan dijemput dari ranjang kematian mereka oleh roh-roh jahat yang menakutkan. Sedangkan orang-orang yang sudah percaya akan dijemput oleh para malaikat, orang-orang suci, atau anggota-anggota keluarga serta sahabat-sahabat mereka yang sudah mati. Bahkan menurut kesaksian Sadhu Sundar Singh, bagi orang-orang yang sudah berhasil mencapai suatu tingkat kedewasaan rohani tertentu, Tuhan Yesus sendiri yang akan datang menjemput untuk menuntun roh mereka masuk ke sorga!

Alkitabiah atau tidak, itu adalah kesaksian-kesaksian mereka. Kita berhak untuk menerima atau menolaknya! Yang terpenting, kita harus meluangkan waktu kita untuk menyelidiki kesaksian-kesaksian tersebut dengan membandingkannya secara kritis dengan isi firman Tuhan. Jika kesaksian mereka bisa membangun iman kita, biarlah hal itu menjadi berkat. Jika tidak, lupakan saja!

Saya teringat akan hari-hari terakhir kehidupan seorang saudara seiman yang oleh karena terserang penyakit ginjal yang sangat fatal telah meninggal dunia pada tahun 2002. Dua hari sebelum kematiannya di rumah sakit dalam keadaan sekarat ia berkata, bahwa ia melihat ‘orang-orang’ yang sedang berdiri tidak jauh di sisi kiri dan kanan tempat tidurnya. Padahal di dalam kamar sekecil itu, tidak ada orang-orang lain selain kami berempat. Pernyataannya membuat saya mempertimbangkan lagi kesaksian Ev Sadhu Sundar Singh mengenai penglihatannya!

Alam roh adalah suatu kenyataan yang tidak bisa disangkal. Firman Tuhan sering mengulasnya, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan keadaan alam roh kepada orang lain, kecuali jika ia mengalaminya sendiri pada hari kematian yang sebenarnya. Yang pasti, cepat atau lambat, setiap orang akan menjalani fenomena itu, karena pada akhirnya kita semua harus pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Jika saatnya tiba, … there’s no turning back!

Apakah Anda sudah siap? Tahukah Anda, ke ‘seberang’ yang mana Anda akan pergi? Yesus menegaskan berkali-kali di dalam firman-Nya, bahwa ada dua tempat di mana kita akan berakhir. Dan selain itu kita juga diberi kebebasan oleh-Nya untuk memilih tempat tujuan kita tersebut!

Sekarang saya bisa memahami, mengapa sedari kecil saya percaya, bahwa ada ‘PRIBADI’ yang tidak kelihatan secara kasat mata, yang jauh lebih tinggi dari pada pribadi-pribadi yang ada di dunia! Padahal pada waktu itu kami sekeluarga masih belum mengenal Kristus. Tanpa saya sadari sendiri, ternyata Tuhan sudah mengaruniakan serta menanam sebutir bibit iman di dalam hati saya, ketika saya masih belum bisa memahami maknanya (Mazmur 22:11). Sesuai penjelasan firman Tuhan, iman adalah dasar dari segala sesuatu! (Ibrani 11:1)

Dengan iman kita percaya, bahwa hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus saja ada harapan, kepastian dan kebangkitan kembali! Dengan penuh keberanian di depan pengadilan rasul Petrus meneguhkannya: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12) Haleluya!

Saya yakin, Kerry Packer sekarang sudah berada di salah satu dari kedua tempat tersebut, karena saya percaya akan kebenaran firman Tuhan yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat oleh siapa pun juga, bahkan oleh orang-orang yang terkaya di dunia. Terpujilah nama Tuhan, karena besar kasih karunia dan kesabaran-Nya! Amin!
Penulis: John Adisubrata, http://johnadisubrata.blogspot.com/

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Beyond This Life (1)

Seorang sahabat saya di kantor, Bill Michael, meninggal dunia empat tahun yang lalu akibat serangan penyakit tumor otak yang amat ganas. Pada saat-saat kritis sebelum kematiannya, ia berkata kepada saya, bahwa ia tidak mempercayai adanya sorga dan neraka. Mengetahui bahwa saya adalah seorang pengikut Kristus semenjak saya lahir baru tahun 1997, ia bergurau dengan sinis: “John, jika aku sudah sampai di ‘sana’, dan aku mempunyai fasilitas untuk menelponmu, aku akan menggambarkan keadaan tempat itu kepadamu.”

Tidak lama setelah itu ia meninggal dunia! Saya hadir di acara pemakamannya. Upacara yang tidak bersifat Kristen tersebut membuka wawasan saya untuk pertama kalinya mengenai cara-cara pemakaman ‘sekuler’ di Australia. Di sana, berdasarkan permintaannya sendiri, lagu kesayangannya, Imagine, karya almarhum John Lennon, dikumandangkan sebagai salah satu acara pengheningan cipta dan penghormatan yang terakhir untuknya.

Sungguh menyedihkan, karena ironis sekali, ... syair lagu kesayangannya tersebut diawali dengan kata-kata: “Imagine there’s no heaven”. (“Bayangkan seandainya sorga itu tidak ada”) Kalimat pertama itu sebenarnya menunjukkan, apabila kita mengikuti makna lagunya secara keseluruhan, bahwa pada saat ia menulisnya, John Lennon percaya akan adanya sorga!

Beberapa buku karangan atau kesaksian-kesaksian orang-orang yang pernah mati lalu bangkit kembali, mengisahkan pengalaman-pengalaman di ‘seberang sana’ yang berbeda-beda, kendatipun kadang kala di dalamnya ada detil-detil yang serupa. Baik itu kesaksian orang-orang yang sudah percaya atau yang bertobat setelah mengalaminya, maupun mereka yang menolak Kristus. Tanpa ingin mempermasalahkan kebenaran kisah-kisah mereka, saya selalu berusaha menerima kesaksian-kesaksian itu seperti apa adanya.

Awal tahun 1990, Kerry Packer, salah seorang pengusahawan paling berhasil di dunia, dan juga orang terkaya di Australia, terkena serangan jantung pada saat berolah raga polo di tengah-tengah lapangan. Ia dinyatakan ‘clinically dead’ di rumah sakit, setelah jantungnya berhenti berdetak lebih dari lima menit lamanya. Tetapi ... di luar dugaan para dokter dan perawat-perawat rumah sakit, kurang-lebih 10 menit kemudian, secara tiba-tiba ia menjadi sadar kembali.

Karena ketenaran namanya peristiwa tersebut menjadi buah bibir media negara itu. Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para jurnalis yang ingin mengetahui apa yang terjadi pada saat kematiannya, ia berkata: “Aku tidak mengalami sesuatu apapun, karena ternyata … di ‘seberang sana’ tidak terdapat apa-apa!”

Itulah kesaksian Kerry Packer saat kematiannya selama 15 menit yang tetap dipertahankan olehnya sampai hari kematian yang sesungguhnya 15 tahun kemudian. Tepatnya, ... pada tanggal 27 Desember 2005, ketika ia berusia 68 tahun.

Belum lama ini di sebuah milis Kristen Indonesia seorang bapak yang mengaku pernah sekolah Alkitab berulang-ulang kali mengutarakan pandangan pribadinya, bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan neraka untuk menghukum umat manusia. Argumentasi yang diandalkan olehnya adalah: "Jika Tuhan bersedia menghukum dan menyiksa orang-orang berdosa di dalam lautan api yang abadi, maka firman-Nya yang mengatakan: Allah adalah Kasih (1 Yohanes 4:16) tidak benar!"

Selaras dengan pandangan kelompok sekte internasional yang biasanya mengunjungi rumah orang-orang untuk membagikan kepercayaan mereka, ia menolak keberadaan neraka. Karena menurut mereka, sesudah kematian seseorang yang tidak memeluk kepercayaan mereka, jiwa dan roh orang itu akan musnah, lenyap tak berbekas!

Padahal di dalam firman Tuhan neraka diperbincangkan di mana-mana. Bahkan Tuhan Yesus sendiri mereferensikan tempat jahanam itu di dalam keempat Injil-Nya secara berulang-ulang kali. Salah satunya, di dalam Injil Matius, Ia berkata: “Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam NERAKA. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Lukas 12:5)

Saya sempat mengambil bagian di dalam ‘diskusi’ tersebut dengan mengutipkan reaksi seorang hamba Tuhan yang dikenal melalui acara-acara televisi Kristen dunia, ketika ia harus menghadapi seorang laki-laki yang mempunyai pendapat serupa dengan bapak tersebut di dalam salah satu acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang diadakan olehnya di Amerika.

Ketika ia sedang membahas ‘keseriusan’ neraka berdasarkan ayat-ayat Alkitab, laki-laki tersebut memotong dan menantangnya. Di tengah-tengah para jemaat yang hadir di sana ia berteriak keras: “I don’t believe it, there is no such a thing called hell!” (“Aku tidak percaya, tidak ada tempat yang disebut neraka!”)

Hamba Tuhan tersebut menjawab dengan tegas: “You will believe it, when you get there!” (“Engkau akan mempercayainya, jika engkau sudah tiba di sana!”)
Teguran yang terdengar amat keras, tetapi berhasil menempelak orang itu dengan jitu sekali!

“Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam NERAKA dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; ...” (2 Petrus 2:4) - (BERSAMBUNG) Penulis John Adisubrata, http://johnadisubrata.blogspot.com/

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, January 16, 2009

Fire in the Darkness

Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika setiap orang Kristen hidup sesuai dengan ajaran Kristus, maka tidak akan ada orang yang tidak mengikut Yesus di India. Pernyataan ini merupakan satu tantangan bagi setiap pengikut Yesus apakah di India ataupun di belahan dunia yang lain. Bagi kita yang mengetahui apa yang terjadi di dalam gereja, di antara orang-orang Kristen, seringkali kita hanya dapat menangis saat melihat kualitas kehidupan orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen tetapi tidak ditemukan ciri-ciri Kristus di dalam diri mereka. Tetapi syukurlah, walaupun jarang tetapi terkadang masih dapat kita menemukan bintang-bintang cerah yang bagaikan menara api di tengah-tengah kegelapan lautan dunia ini.

Pada tanggal 23 Januari 1999, seluruh dunia, bukan saja umat Kristen, dikagetkan ketika koran-koran utama memberitakan tentang seorang misionari, Graham Staines bersama kedua putranya, mati di dalam mobil mereka yang hangus dibakar massa. Peristiwa ini terjadi di Orissa, India tempat di mana Graham sudah melayani selama 35 tahun di Rumah Sakit Kusta Mayurbhanj. Pada malam itu mereka baru saja selesai mengadakan kebaktian bersama umat Kristen di sebuah desa dan saat mereka sedang tidur nyenyak di dalam mobil, massa yang tidak menyukai kegiatan mereka mengepung dan membakar mereka hidup-hidup.

Peristiwa ini sudah tentu sangat mengguncang India. Tetapi hal yang terjadi setelah itulah yang benar-benar membuat masyarakat umum mulai bertanya siapa mereka ini dan apa yang memotivasi keluarga Staines meninggalkan kenyamanan hidup di Australia dan mengabdikan diri mereka untuk membantu orang sakit kusta di tempat terpencil di utara India itu.

Saat berdiri di hadapan tiga peti mati berisi mayat suami dan kedua putranya yang tercinta, istri Graham, Glades dengan tenang dan penuh kasih mengumumkan pengampunan kepada orang-orang yang sudah membunuh keluarganya. Di hadapan krew televisi dan kerumunan orang banyak yang menghadiri pemakaman itu, Glades bersama putrinya, Esther, menyanyikan lagu "Because He Lives" [Karena Dia Hidup]. Kristus diproklamirkan dari halaman utama koran-koran di India.

Tidak lama setelah peristiwa ini seorang pekerja sedang membagi traktat tentang Kristus di sebuah kota di India, dan orang yang menerima traktat itu bertanya, "Apakah ini Yesus yang dipercayai oleh Glades Staines itu? Jika ya, saya juga mau mengenal-Nya."

Hanya apabila Yesus itu nyata bagi kita barulah dapat kita menyatakan-Nya kepada orang lain. Glades mempunyai hubungan yang nyata dan hidup dengan Tuhan yang dilayaninya. Inilah yang dikisahkan oleh Glades saat ia ditanya bagaimana ia dapat dengan tenang melewati pencobaan yang berat itu, "Saya percaya Tuhan secara khusus berbicara kepada saya pada tanggal 14 Januari, [6 Hari sebelum pembunuhan sadis keluarganya], saat saya sedang melakukan renungan pagi. Saya menggunakan buku renungan harian. Kisah pada Hari itu adalah: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di rumah sakit yang sedang kehilangan penglihatannya. Pendetanya mengunjungi dia dan gadis itu memberitahu pendetanya, 'Pak Pendeta, Tuhan sedang mengambil penglihatan saya.' Untuk waktu yang lama, pendeta itu tidak berkata apa-apa, kemudian ia menjawab, 'Jessie, jangan mengijinkan- Nya.' Jessie bingung Dan pendeta yang bijaksana itu berkata, 'Berikan kepada-Nya.'

Saat merenungkan kisah ini, suara hati saya bertanya apakah saya juga rela untuk memberikan semua yang saya kasihi - suami saya, anak-anak dan segala harta milik saya kepada-Nya. Saya meluangkan waktu yang lama merenungkan hal ini. Dengan air mata berlinangan di pipi, saya berkata kepada Tuhan, "Yesus, ya saya sanggup. Ambil semua yang kumiliki bagi Engkau - suamiku, anak-anak dan semua yang kumiliki. Aku menyerahkan semuanya kepada Engkau…"

Tanpa hubungan yang hidup dan akar yang mendalam di dalam Kristus, tidaklah mungkin bagi Glades untuk bertahan melewati peristiwa yang begitu menyedihkan. Siapakah kita sebenarnya, apakah kita berakar atau tidak terlihat bukan saat segalanya mulus, saat kita tersenyum manis ketika bertemu dengan teman-teman sekali seminggu di gereja. Seperti buah jeruk, apakah manis atau asam hanya diketahui saat jeruk itu diperas. Begitu jugalah dengan kita, siapa kita sebenarnya, apakah kita menebarkan bau harum kehidupan atau bau busuk kematian, hanyalah terlihat saat penindasan dan penganiayaan datang.

Setelah tragedi yang terjadi ke atas keluarganya, banyak orang yang menduga Glades dan putrinya akan meninggalkan India dan kembali ke Australia. Namun hal itu tidak terjadi. Sampai ke saat ini Glades masih dengan tekun dan penuh kasih melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai oleh suaminya. Satu menara api yang masih dengan terang menerangi dunia yang gelap ini. Sumber: Milis Terang Dunia, kiriman Fransiska Dian.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, January 6, 2009

A Cry of the Cat Syndrome

A Letter from a Sister to her Brother

Patrick yang kukasihi,
Pada waktu itu aku hanyalah seorang kanak-kanak yang memiliki segala hal yang selalu aku inginkan. Namun biarpun anak itu anak orang kaya yang cantik dan manja, dapat saja ia kesepian pada waktu tertentu, sehingga ketika Ibu memberitahuku bahwa ia sedang hamil, aku begitu senang. Aku membayangkan bagaimana hebatnya kamu dan bagaimana kita akan selalu bersama dan bagaimana kamu akan nampak serupa denganku. Oleh karena itu, ketika kamu dilahirkan, aku melihat tangan dan kakimu yang kecil dan mengagumi betapa indahnya kamu.

Kami membawa kamu pulang dan aku memperlihatkan kamu terhadap teman-temanku dengan bangga. Ketika kamu berumur lima tahun, ada sesuatu yang mengganggu Ibu. Kamu begitu diam dan tak bergerak, dan tangismu begitu aneh terdengar – hampir seperti tangisan anak kucing. Oleh karena itu kami membawamu ke banyak dokter.

Dokter yang ketiga belas yang memandang kepadamu diam-diam, sambil mengatakan bahwa kamu menderita sindrom tangisan kucing (A cry of the cat syndrome).

Ketika aku menanyakan apakah arti penyakit itu, sang dokter memandangku dengan penuh belas kasihan dan dengan pelan ia berkata, “Adikmu tidak akan pernah dapat berjalan atau berbicara.” Dokter itu mengatakan kepada kami bahwa itu adalah penyakit yang menyerang satu di antara 50.000 bayi, yang membuat korbannya sangat terkebelakang. Ibu menjadi sangat terpukul dan aku marah sekali. Kupikir hal itu tidaklah adil.

Ketika kita kembali ke rumah, Ibu menggendongmu dan menangis. Aku memandang kepadamu dan menyadari bahwa akan tersiar kabar bahwa kamu bukan anak normal. Oleh karena itu demi mempertahankan popularitasku, aku melakukan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya… aku menolak kamu sebagai adikku. Ayah dan Ibu tidak tahu, namun aku mengeraskan diriku untuk tidak mengasihimu begitu kamu semakin besar. Ayah dan Ibu mencurahkan kasih dan perhatian mereka kepadamu, dan hal itu membuatku sakit hati. Dan bersama berlalunya tahun demi tahun, kepahitan itu berubah menjadi amarah, dan kemudian menjadi kebencian.

Ibu tidak pernah menyerah terhadapmu. Ia tahu ia harus melakukan hal itu demi kepentinganmu.

Setiap kali Ibu menaruh mainan-mainanmu di lantai, kamu akan berguling, bukannya merangkak mengambilnya. Aku memperhatikan bahwa hati Ibu kecewa setiap kali menjauhkan mainanmu dan memoles perutmu dengan sabun cair supaya kamu tidak dapat berguling. Kamu bergumul dan kamu menangis dengan suara yang memilukan, seperti tangisan anak kucing. Namun ia masih tidak menyerah.

Dan kemudian pada suatu hari, kamu melawan apa yang dikatakan para dokter – kamu merangkak.

Ketika Ibu melihat hal ini, ia tahu bahwa kamu lambat laun akan berjalan. Makanya ketika kamu masih merangkak di usia empat tahun, Ibu menaruh kamu di rerumputan dengan hanya memakai popok. Ibu tahu bahwa kamu pasti tidak suka merasakan rerumputan di badanmu.

Kemudian Ibu meninggalkan kamu di sana. Kadang-kadang aku memperhatikan dari jendela rumah dan tersenyum melihat kamu merasa gelisah di rerumputan itu. Kamu akan merangkak ke arah jalan dan Ibu akan mengembalikan kamu lagi ke rerumputan. Berulang-ulang, Ibu mengulangi lagi hal ini di halaman berumput itu, sampai suatu hari Ibu melihat kamu mengangkat dirimu dan berjalan sempoyongan di atas rumput itu secepat kaki-kaki kecilmu bisa membawamu.

Antara tertawa dan menangis, Ibu berteriak memanggil Ayah dan aku agar datang. Ayah memeluk kamu sambil menangis.

Aku melihat pemandangan mengharukan ini dari jendela kamar tidurku.

Selama bertahun-tahun Ibu mengajarmu untuk berbicara, membaca, dan menulis. Sejak saat itu aku kadang-kadang melihat kamu berjalan-jalan di luar, menciumi harumnya bunga, terkagum-kagum terhadap burung-burung, atau tersenyum sendirian. Aku mulai melihat keindahan dunia ini melalui penglihatanmu. Baru pada saat itu aku menyadari bahwa kamu adalah adikku dan betapapun besarnya aku berusaha untuk membencimu, aku tak mampu, karena kasihku telah bertumbuh terhadapmu.

Selama beberapa hari kemudian, kita kembali berbaikan. Aku akan membelikan kamu mainan-mainan dan memberikan segala kasih yang dapat diberikan oleh seorang kakak perempuan kepada adik laki-lakinya. Dan kamu akan membalas kasihku dengan senyuman dan pelukan kepadaku.

Namun aku kira, kamu tidak pernah sungguh-sungguh diberikan bagi kami. Pada ulang tahunmu yang kesepuluh, kamu merasa sakit kepala yang hebat. Menurut diagnosa dokter – leukemia. Ibu terkejut sekali dan ayah menopangnya, sementara aku berusaha keras agar tidak menangis. Pada saat itu aku makin mengasihimu. Aku bahkan tidak tega meninggalkanmu. Kemudian para dokter memberi tahu kami bahwa satu-satunya harapan bagimu untuk sembuh adalah dengan cangkok sumsum tulang. Kamu membuat seluruh negara ini mencari donor yang tepat bagimu. Ketika akhirnya mereka menemukan donor yang cocok, kamu terlalu sakit, dan dokter tidak berani mengambil risiko mengoperasi kamu. Sejak itu kamu mendapatkan kemoterapi dan radiasi.

Bahkan pada akhirnya, kamu terus berjuang untuk tetap hidup. Tepat sebulan sebelum kamu meninggal, kamu membuatku menuliskan sebuah daftar hal-hal yang ingin kamu lakukan ketika kamu keluar dari Rumah Sakit. Dua hari setelah daftar itu selesai dibuat, kamu meminta dokter agar kamu diizinkan pulang ke rumah. Di sana kita makan es krim dan kue, berlarian di rerumputan, menerbangkan layang-layang, pergi memancing, berfoto satu sama lain, dan menerbangkan balon-balon. Aku ingat percakapan terakhir kita. Kamu katakan bahwa kalau kamu meninggal, dan jika aku perlu pertolongan, aku dapat mengirimkan catatan ke Sorga dengan mengikat catatan itu pada balon dan menerbangkan balon itu. Ketika kamu mengatakan hal ini, aku mulai menangis. Kemudian kamu memelukku. Kemudian, kamu kembali jatuh sakit, untuk terakhir kalinya.

Pada malam hari itu kamu meminta air minum, garukan di punggungmu, dan pelukan. Akhirnya kamu kejang dengan airmata mengalir di wajahmu. Kemudian di Rumah Sakit, kamu berjuang untuk berkata-kata namun tak ada kata yang keluar. Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. “Aku mendengar,” kataku berbisik kepadamu. Dan untuk terakhir kalinya, aku katakan, “Aku akan selalu mengasihimu dan aku tidak akan pernah melupakanmu. Janganlah takut. Kamu akan segera bersama Tuhan di Sorga.” Kemudian, dengan airmata mengalir deras, aku memandang adik lelaki yang paling berani akhirnya berhenti bernafas. Ayah, Ibu, dan aku menangis sampai aku merasa tidak ada airmata lagi yang tersisa. Patrick, kamu akhirnya pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kami semua.

Sejak saat itu, kamu menjadi sumber inspirasiku. Kamu memperlihatkan kepadaku bagaimana mencintai kehidupan ini dan hidup dalam kepenuhannya. Dengan kesederhanaan dan kejujuranmu, kamu memperlihatkan kepadaku suatu dunia yang penuh dengan kasih dan kepedulian. Dan kamu membuatku menyadari bahwa hal yang paling penting dalam kehidupan ini adalah terus mengasihi tanpa bertanya mengapa atau bagaimana dan tanpa menetapkan suatu batasnya. Terima kasih, adik kecilku, untuk semua itu.


(Sumber: http://jmm.aaa.net.au/articles/3454.htm, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon agar keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforward naskah terjemahan ini atau mempostingnya dalam website/blog anda - terima kasih)

****

NOTE:
Terima kasih banyak atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Anastasia dari Kupang. Buku telah dikirim via pos. God bless you!

****


Dear Patrick,
I was then an only child who had everything I could ever want. But even a pretty, spoiled and rich kid could get lonely once in a while so when Mom told me that she was pregnant, I was ecstatic. I imagined how wonderful you would be and how we'd always be together and how much you would look like me. So, when you were born, I looked at your tiny hands and feet and marveled at how beautiful you were.

We took you home and I showed you proudly to my friends. They would touch you and sometimes pinch you, but you never reacted. When you were five months old, some things began to bother Mom. You seemed so unmoving and numb, and your cry sounded odd --- almost like a kitten's. So we brought you to many doctors.

The thirteenth doctor who looked at you quietly said you have the "cry du chat" (pronounced Kree-do-sha) syndrome, "cry of the cat" in French.

When I asked what that meant, he looked at me with pity and softly said, "Your brother will never walk nor talk." The doctor told us that it is a condition that afflicts one in 50,000 babies, rendering victims severely retarded. Mom was shocked and I was furious. I thought it was unfair.

When we went home, Mom took you in her arms and cried. I looked at you and realized that word will get around that you're not normal. So to hold on to my popularity, I did the unthinkable ... I disowned you. Mom and Dad didn't know but I steeled myself not to love you as you grew. Mom and Dad showered you love and attention and that made me bitter. And as the years passed, that bitterness turned to anger, and then hate.

Mom never gave up on you. She knew she had to do it for your sake.

Everytime she put your toys down, you'd roll instead of crawl. I watched her heart break every time she took away your toys and strapped your tummy with foam so you couldn't roll. You struggle and you're cry in that pitiful way, the cry of the kitten. But she still didn't give up.

And then one day, you defied what all your doctors said -- you crawled.

When mom saw this, she knew you would eventually walk. So when you were still crawling at age four, she'd put you on the grass with only your diapers on knowing that you hate the feel of the grass on your skin.

Then she'd leave you there. I would sometimes watch from the windows and smile at your discomfort. You would crawl to the sidewalk and Mom would put you back. Again and again, Mom repeated this on the lawn. Until one day, Mom saw you pull yourself up and toddle off the grass as fast as your little legs could carry you.

Laughing and crying, she shouted for Dad and I to come. Dad hugged you crying openly.

I watched from my bedroom window this heartbreaking scene.

Over the years, Mom taught you to speak, read and write. From then on, I would sometime see you walk outside, smell the flowers, marvel at the birds, or just smile at no one. I began to see the beauty of the world through your eyes. It was then that I realized that you were my brother and no matter how much I tried to hate you, I couldn't, because I had grown to love you.

During the next few days, we again became acquainted with each other. I would buy you toys and give you all the love that a sister could ever give to her brother. And you would reward me by smiling and hugging me.

But I guess, you were never really meant for us. On your tenth birthday, you felt severe headaches. The doctor's diagnosis --leukemia. Mom gasped and Dad held her, while I fought hard to keep my tears from falling. At that moment, I loved you all the more. I couldn't even bear to leave your side. Then the doctors told us that your only hope is to have a bonemarrow transplant. You became the subject of a nationwide donor search. When at last we found the right match, you were too sick, and the doctor reluctantly ruled out the operations. Since then, you underwent chemotherapy and radiation.

Even at the end, you continued to pursue life. Just a month before you died, you made me draw up a list of things you wanted to do when you got out of the hospital. Two days after the list was completed, you asked the doctors to send you home. There, we ate ice cream and cake, run across the grass, flew kites, went fishing, took pictures of one another and let the balloons fly. I remember the last conversation that we had. You said that if you die, and if I need of help, I could send you a note to heaven by tying it on the string of any balloon and letting it fly. When you said this, I started crying. Then you hugged me. Then again, for the last time, you got sick.

That last night, you asked for water, a back rub, a cuddle. Finally, you went into seizure with tears streaming down your face. Later, at the hospital, you struggled to talk but the words wouldn't come. I know what you wanted to say. "Hear you," I whispered. And for the last time, I said, "I'll always love and I will never forget you. Don't be afraid. You'll soon be with God in heaven." Then, with my tears flowing freely, I watched the bravest boy I had ever known finally stop breathing. Dad, Mom and I cried until I felt as if there were no more tears left. Patrick was finally gone, leaving us behind.

From then on, you were my source of inspiration. You showed me how to love life and live to the fullest. With your simplicity and honesty, you showed me a world full of love and caring. And you made me realize that the most important thing in this life is to continue loving without asking why or how and without setting any limit.

Thank you, my little brother, for all these.


Source: http://jmm.aaa.net.au/articles/3454.htm

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 13, 2008

The Other Side of The Bed

Saya kehilangan putera saya, Ryan, karena sakit kanker ketika ia baru berusia 8 tahun. Sebelum meninggal ia ada dalam kondisi setengah sadar di Rumah Sakit, dimana saya menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Pada suatu larut malam, ketika semua keluarga saya pulang ke rumah, saya mematikan lampu-lampu di ruang perawatan Ryan agar menjadi redup. Saya menina-bobokan Ryan pada waktu ia tergeletak di sana. Saya berada dekat tempat tidurnya dan mendadak saya menyadari bahwa inilah mungkin saat terakhir saya melihatnya dalam keadaan hidup. Pikiran ini menggoncangkan saya, dan saya membiarkan mata saya puas memandangi putera tercinta saya, seolah-olah tidak ada kesempatan lagi pada esok hari.

Ryan telah menderita kanker selama 18 bulan, namun tidak pernah mengeluh. Ia bersikap terhadap penderitaan ini lebih baik dari pada siapapun yang saya pernah kenal. Ketika menjadi jelas bahwa ia pasti meninggal, saya memandang Ryan dengan cara yang berbeda. Orang-orang lain juga bertindak yang sama. Orang-orang mengatakan, “Di dalam diri anak itu bukanlah anak kecil. Ia lebih mirip dengan orang tua yang bijak.” Bahkan ketika kami belum tahu bahwa ia mengidap sakit kanker, Ryan akan selalu mengatakan sesuatu yang dalam dan filosofis serta berbobot, dan perhatiannya terhadap kemanusiaan sangat luar biasa. Saya ingat berkali-kali saya memandang putera saya ketika ia berkata sesuatu yang penuh dengan pemikiran yang mendalam dan filosofis, dan pada waktu itu saya akan berkata pada diri saya, “Siapakah yang saya hadapi di dalam diri anak ini?”

Saya telah mengalami perjalanan kerohanian saya sepanjang kehidupan ini dan telah mencari Bapa di berbagai banyak tempat dan kesempatan. Saya selalu menginginkan lebih dari sekedar agama tradisional, yang tidak pernah terasa cocok bagi saya. Saya tidak pernah sungguh-sungguh dapat menghidupi keagamaan seperti itu. Saya selalu memiliki pemahaman tentang berbagai hal di dalam hati sanubari saya yang akan memberi tahu saya ketika saya mendengar sesuatu dari Bapa dan apabila sesuatu tidak benar secara rohani. Hal itu seperti bunyi alarm di dalam diri saya, dan saya selalu ingin berjalan di jalan yang lebih benar.

Selama menunggu Ryan menunggu ajalnya, saya tahu bahwa saya akan belajar sesuatu atau akan dibawa pada sesuatu pemahaman yang lebih luar biasa. Sepertinya ada cahaya terang di kepala saya atau di roh saya yang meneguhkan hal itu, sehingga saya menjadi waspada dan siap.

Pada malam hari itu, ketika saya berdiri di samping tempat tidurnya, mata Ryan terpejam, dan ia ada dalam kondisi setengah sadar. Namun kemudian ia mulai berbicara dengan saya. Meskipun mulutnya tidak bergerak membentuk kata-kata, saya mendengar suaranya dengan sangat jelas yang berkata, “Bu, apakah engkau ingat tentang cerita yang engkau ceritakan kepada saya ketika saya masih kecil? Tentang suatu saat ketika saya masih di sorga sebelum saya dilahirkan, dan saya sedang mencari-cari di antara dinding-dinding sorga, mencari dan mencari sampai saya menemukan seorang wanita yang berambut merah, dan saya katakan, “Inikah wanita yang ingin saya panggil ‘Ibu’?” Saya segera mengerti apa yang Ryan maksudkan, namun saya tak berkata apa-apa.

“Nah, Bu, engkau telah hampir tepat mengisahkannya. Sekarang, pindahlah ke sisi tempat tidur yang lain.” Saya ragu, tidak tahu dengan tepat apa yang harus saya lakukan. “Ayo,” katanya. “Pindahlah ke sisi tempat tidur yang lain.” Saya pikir saya kehilangan akal saya. Apakah saya mendengar hal-hal yang aneh? Suara itu persis seperti suara Ryan, namun terdengar lembut dan tegas serta mungkin lebih dewasa. Sekali lagi ia berkata, “Bu, tolong pergi ke sisi pembaringan yang lain,” Saya berkata, “Baiklah, Ryan, saya akan pergi ke sisi pembaringan yang lain sekarang.” Saya berjalan mengelilingi tempat tidurnya agar sampai di sisi yang lain, dan Ryan melanjutkan.

“Bu, ketika engkau menceritakan kisah itu, engkau hampir tepat melakukannya. Inilah kisah yang sebenarnya. Dulu, dulu sekali, di tempat yang jauh, engkau dan saya mengadakan pembicaraan. Engkau memandang ke atas pada saya dan bertanya bagaimana engkau dapat sampai di tempat di mana saya berada, tempat kedudukan rohani saya, dan saya berkata pada waktu itu bahwa hal itu dapat dilakukan, namun hal itu akan sangat menyakitkan. Saya katakan kepada Ibu bahwa hal itu akan dicapai melalui kematian seorang putera. Saya mengatakan kepada Ibu bahwa saya akan datang dan menjadi putera Ibu seandainya Ibu mau merawat saya melewati masa sakit saya. Pada waktu itu, Bu, kita membuat perjanjian bersama, meskipun kita tidak ingat pembicaraan atau perjanjian kita. Kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama tanpa ingat hal itu, dan entah kita akan bertumbuh dan belajar sesuatu dari pengalaman ini atau kita menjalankan kehidupan ini dengan cara yang berbeda.”

Di depan mata saya muncullah gambaran roh Ryan. Penampilan roh Ryan bagi saya seperti seorang tokoh yang telah berusia lanjut. Kemudian ia mengatakan hal yang sangat dalam. Ia berkata kepada saya, “Sekarang, inilah yang saya inginkan agar Ibu mengingatnya sementara Ibu masih ada di muka bumi ini. Setiap kali engkau akan membuat pilihan atau penilaian yang sangat penting dan akan mengubah kehidupan, engkau harus selalu pindah ke sisi tempat tidur yang lain agar engkau mendapatkan perspektif yang berbeda. Terutama sekali ketika hal itu menyangkut penilaian terhadap sesama manusia.” Ia melanjutkan bahwa hal yang paling penting adalah mengasih dan membiarkan diri saya untuk dikasihi, agar saya membuka hati saya terhadap sukacita kehidupan, karena hal ini merupakan makanan yang segar bagi jiwa dan hidup serta roh saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa pemahaman ini akan memerlukan waktu lama. Saya akan sampai pada pemahaman itu pada saat saya membuka diri saya terhadap proses kesedihan.

Ryan meninggal segera sesudah itu, dan saya baru saja sampai di tempat kesedihan saya karena ditinggal dia dan saya akan merelakan dia pergi. Saya sangat kehilangan putera saya. Saya sangat sukar merelakan dia pergi, tetapi karena saya ingin mendapatkan pemahaman penuh tentang kesedihan ini, saya merelakan kepergiannya meskipun saya harus berusaha keras untuk bertahan dari kejadian yang paling menyakitkan dalam hidup saya: kematian anak saya yang masih kecil, Ryan.

Pada waktu saya memandang ke belakang sekarang ini pada malam itu dan pada semua masa kehidupan Ryan, saya kini dapat memandang dia dengan sebenarnya: Ryan adalah guru terbaik saya. Saya ingin menghormati dengan segala upaya saya pengalaman bersama Ryan, kemudian menolong orang-orang lain dengan hal itu. Kehidupan Ryan tidaklah sia-sia. Ia memiliki tujuan dan misi di bumi ini agar saya bertumbuh.

Dan saya ingin membagikan misinya dan menolong orang-orang lain untuk bertumbuh. Mungkin kisah saya akan membantu orang tua yang bersedih yang tak dapat mengungkapkan perasaan mereka ke dalam kata-kata, atau yang hanya perlu mendengar seseorang menyatakan kepada mereka apa yang akan mereka lalui. Kepada mereka saya berkata, “Saya mengerti bagaimana perasaan anda, dan yakinlah bahwa anda tidak sendirian. Memang anda sendirian bersedih, tetapi tidak sendirian mengalami hal itu.”

Saya percaya pengalaman orang tua yang kehilangan anaknya dapat membawa pertumbuhan dan hikmat bagi jiwa yang hanya didapat karena kehilangan seorang anak. Hal itu menyangkut pertumbuhan yang mendalam dan kudus, yang dirancang dan dibawa dari masa sebelum anda ada di bumi. Agar anda memahami semua hal ini, berjalanlah mengitari agar anda sampai di sisi pembaringan yang lain, sehingga anda dapat mempertimbangkannya dengan pemahaman yang baru. (Naskah bahasa Inggris ditulis Liz Weyhknecht, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda kasihi – Gbu)

*****

The Other Side of the Bed
I lost my son, Ryan, due to cancer when he was only 8 years old. Near the end, he was semi-comatose in a hospital, where I spent many hours with him. Late one night, when all the family had gone home for the evening, I turned the lights in Ryan's room down low. I had on nature sounds to sooth Ryan as he lay there. I went over to his bed and suddenly realized that I was possibly looking at him for one of the last times. The thought shook me to my shoes, and I let my eyes drink him up, as if there was no tomorrow.

Ryan had suffered for 18 months with cancer but never complained. He handled it better than anyone I have ever seen. When it became evident he was going to die, I found myself looking at him in a different way. Others did too. People would tell me things like, “That's not a little boy in there. He is more like a wise old man." Even before we found out he had cancer, Ryan would always say very profound things, and his caring for humanity as remarkable. I remember many times just looking at him when he said something profound and wondering to myself, "What am I dealing with here in this child?"

I have been on a spiritual journey my whole life and have looked for God in so many places. I always wanted more than traditional religion, which never felt right for me. I never could buy into it fully. I always had an understanding of things deep down inside of me that let me know when something I was hearing about God and spirituality wasn't right. It would be like an alarm went off inside me, and I steered clear, always looking for the truer path.

During the course of Ryan's dying, I knew that I was to learn something or be lifted to greater understanding of some sort. It was as if a light had turned on in my head or in my spirit, and I became watchful and ready.

That night, as I stood next to his bed, Ryan's eyes were closed, and he was in his semi-comatose condition. But then he began to talk to me. Though his mouth was not forming the words, I heard his voice very cleary say to me, "Mom, do you remember the story you told me when I was little? About the time I was in heaven before I was born, and I was looking over heaven's walls, searching and searching until I saw this red-headed lady, and I said 'That's the one I want to call mom'?" I knew immediately what he meant, but I said nothing.


"Well, Mom, you almost had it right. Now go to the other side of the bed." I hesitated, not knowing what exactly to do. "Go ahead," he said. "Go to the other side of the bed." I thought I was losing my mind. Was I hearing things? The voice was so much like Ryan's, but sounded gentle and resonant and perhaps more mature. Again he spoke. "Go to the other side of the bed, Mom, please." I said, "Okay, Ryan, I am going to the other side of the bed now." I walked around to the other side, and Ryan continued.


"Mom, when you told me that story, you almost had it right. This is how it truly was. A long, long time ago, in a far away place, you and I had a conversation. You were looking up to me and asking how you could get to where I was—to my spiritual level— and I told you it could be done, but that it would be very painful. I told you it would be through the death of a child. I told you I would come and be your child if you would take care of me through my illness. At that time, Mom, we made a pact together, though we would not remember our conversation or our pact. We would start our lives together without remembering, and we would either grow and learn from this experience or be destined to live it in another way."


To my mind's eye came the image of Ryan's spirit. His appearance to me was like an old sage. Then he told me the most profound thing. He told me, "Now this is what I want you to remember while you are here on earth. Whenever you are going to make an important life-changing choice or judgment, you should always go to the other of the bed to get a different perspective. Especially when it has to do with a judgment on a fellow human." He went on to tell me the most important thing is to love and to let myself be loved. To open up my heart to the joy of living, for this was nourishment for my soul and life and my spirit. He told me that this understanding would take time. I would come to that understanding as I opened myself to the process of grieving.

Ryan died soon after, and I am only just now coming to that place in my grieving for him where I can begin to let him go. I miss my little boy so much. It is hard to let him go, but I want that full understanding, I truly do, and I have tried with everything inside me to survive this most painful event in my life: the death of my little boy, Ryan.

As I look back now to that night and to all the days and nights of Ryan's life, I see him for what he truly is: my greatest teacher. I want with everything inside me to honor my experience with Ryan, then to help others with it. Ryan's life was not in vain. He had a purpose and a mission here on earth to help me to grow.

And I want to share in his mission and help others to grow. Maybe my story will help a grieving parent who can't put their feelings to words, or who just needs to hear someone validate what they are going through. To them I say, "I understand how you feel, and be assured you are not alone. Alone in your grief, yes, but not alone in your experience." I believe the experience of a parent's loss can bring growth and wisdom to the soul which only losing a child can bring. It is deep and sacred growth, planned for and carried out from a time before coming here. All it takes to grasp this is to walk around to other side of the bed and consider it with new understanding. Liz Weyhknecht

****

Terima kasih banyak kepada Ibu Suharti yang telah memforward naskah asli dalam bahasa Inggeris. Gbu

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 3, 2007

To Be A Blessing at Young Age

Inilah suatu kesaksian indah yang diceritakan seorang hamba Tuhan yang melayani di GBI Lembah Pujian - Denpasar - Bali:

Suatu kali saya diminta mendoakan pemberangkatan jenazah yang akan diterbangkan ke Kupang. Dalam peti tersebut terbaring jenazah seorang anak berumur 7 tahun, bernama Joshua. Sebelumnya saya tidak mengerti apa yang menyebabkan kematian anak itu dan juga latar belakang kedua orangtuanya. Namun pesan yang Tuhan taruh dalam hati saya dan saya sampaikan dalam renungan singkat pagi itu adalah sebagai berikut: "Memang, tidak gampang untuk mengerti rencana Tuhan dengan meninggalnya anak Bapak dan Ibu, tetapi mari kita meminta hikmat-Nya supaya kita mengerti bahwa dari kacamata Tuhan ini waktu yang terbaik bagi anak kita untuk dibawa kembali ke surga. Kita tidak bisa tahu bagaimana kelak ia berumur 17 tahun atau 30 tahun atau 50 tahun. Jika dalam usia antara 17, 30, atau 50 tahun memungkinkan anak ini hidup tidak seturut dengan kehendak Tuhan, maka ia meninggal sekarang adalah keputusan terbaik dari pihak Tuhan."

Satu minggu kemudian, saya mendapat kesaksian dari Ibu Christin Here, yang baru saja kembali dari kota tempat anak tersebut dikuburkan. Dia menyampaikan bahwa di antara para pelayat ternyata ada orang-orang yang tidak terlalu dikenal oleh kedua orangtuanya, namun mereka telah mengenal anak berusia 7 tahun ini sebab anak itu sering mendoakan beberapa orangtua dan menjadi sembuh, dan banyak pekerjaan yang sepantasnya belum bisa dikerjakan anak seumur 7 tahun, bahkan sepeninggal dirinya terjadi Kebangunan Rohani di kalangan anak-anak muda di sekitarnya.

Pada Ibadah Raya pertama di GBI Lembah Pujian di Denpasar, saya dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang dibawakan oleh saudara saya Bundi yang baru saja kembali dari Kupang. Ternyata bingkisan tersebut dari keluarga Heri Purnomo, yang belum lama berselang kami doakan keberangkatan jenazah anaknya, Joshua, berumur 7 tahun, yang telah meninggal di Bali. Namun, yang jauh lebih menarik perhatian saya adalah surat yang berisi pengalaman keluarga tersebut saat menghadapi kenyataan ini. Sebagian isi surat itu sempat saya bacakan kepada jemaat saat saya berkhotbah, dan isi selengkapnya adalah sebagai berikut:

Jalan dan rencana Tuhan terkadang sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia biasa, namun ada satu hal yang selalu melekat dalam pikiran kami, yaitu Tuhan tidak pernah salah karena rancangan dan rencana-Nya sempurna bagi setiap manusia. Berdasarkan keyakinan inilah maka kami sekeluarga dapat menerima semua rencana-Nya bagi kehidupan Joshua, anak kami. Tuhan yang menitipkan dia dalam pernikahan kami, dan Tuhan jualah yang berhak mengambil kembali titipan-Nya dari kami.

Bagi ukuran manusia, 7 tahun adalah usia yang sangat singkat. Tetapi kami percaya, di mata Tuhan itu bukanlah suatu ukuran. Semasa hidupnya bersama kami, Joshua juga menjalani kehidupan yang normal layaknya anak-anak seusianya. Ia bermain, belajar, bersahabat, dan melakukan aktivitas lainnya. Tetapi ada satu hal yang sangat membuat Joshua agak sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya, yaitu ia memiliki hubungan yang sangat intim dengan Sang Penciptanya - hal ini terlihat dari cara ia berbicara dan bertingkah laku. Seringkali ia mengatakan kepada kami, "Papa-Mama, Joshua kagum dengan Tuhan Yesus." Atau, "Papa-Mama, Joshua bangga sama Tuhan Yesus."

Masih segar dalam ingatan kami, seminggu sebelum Joshua kembali ke pangkuan Bapa Surgawi, ia sempat mengikuti retret yang diadakan oleh sekolahnya. Sekembalinya Joshua dari retret tersebut, dengan penuh keyakinan ia berkata kepada kami, "Mulai sekarang Papa-Mama tidak boleh khawatir dengan hidup Kakak, karena roh Kakak sudah diperbarui oleh Tuhan." Mendengar pernyataan yang spontan ini kami sebagai orangtua semakin kagum dengan apa yang sudah Joshua alami bersama Tuhan, dan kami terus berdoa agar rencana Tuhan sajalah yang berlaku atas kehidupannya.

Beberapa saat sebelum Joshua pulang ke surga, ia sempat bertanya kepada kami, "Mama, kalau Joshua sudah di surga, bisakah Joshua bermain kelereng dengan Tuhan Yesus?" Sebuah pertanyaan yang melukiskan kepolosan seorang bocah! Tetapi bila kita renungkan sejenak, kita akan menemukan sebuah arti sangat mendalam yang terkandung di dalamnya, dan ia sangat mengenal siapa dan bagaimana Tuhan yang selama ini ia percayai. Joshua juga menanyakan apa dan bagaimana keadaan di surga, serta apa yang harus kita lakukan bila ia telah berada di surga. Kami sangat kehilangan Joshua, tetapi di pihak lain kami bangga dan bersyukur karena saat ini ia sudah berada di dalam pelukan yang sangat aman, yaitu pelukan Bapa Surgawi, dan ia aman di sana.

Semasa hidupnya, setiap malam sebelum tidur, di samping mendoakan keluarga kami, Joshua juga setia mendoakan lingkungan di mana kami tinggal saat ini. Yang lebih mengagumkan lagi, Tuhan sedang mengerjakan dalam kehidupan lingkungan kami, teristimewa dalam kehidupan pemuda-pemudinya. Joshua sudah pergi ke surga, tetapi benih-benih doa yang pernah ia taburkan telah mulai mengeluarkan hasilnya. Segala pujian hanya bagi Tuhan Yesus!

Kami percaya Tuhan akan terus mengerjakan rencana-Nya dalam kehidupan kami sekeluarga hingga suatu saat nanti seluruh rencana-Nya terselesaikan dalam kehidupan kami dan akhirnya kami juga kembali ke pangkuan Bapa Surgawi, dan bertemu dengan Joshua di Rumah Bapa yang kekal.

Doa kami sekeluarga agar Bapak, Ibu, dan Saudara yang membaca tulisan ini memperoleh berkat dan rahmat-Nya, serta semakin menyadari kedaulatan dan kebesaran Allah dalam kehidupan kita masingmasing. Untuk mengakhiri surat ini, izinkan kami mengutip Firman Allah: "Dan Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat di atas, di langit dan tanda tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap." (Kisah Para Rasul 2:19). Dan juga Firman Tuhan yang dikutip dari Kitab Korintus: "Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah" (I Korintus 2:5). Amin!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI