Search This Blog

Showing posts with label Doa - Prayer. Show all posts
Showing posts with label Doa - Prayer. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Mukjizat di Pintu Kematian

Ini adalah kisah seorang bayi di pintu kematian, kisah mukjizat tentang Ethan Stacy. Pada waktu kedua orangtua Ethan melangkah sepanjang jalan di pekuburan untuk melihat tempat untuk mengubur bayi mereka, Ethan Stacy, yang tinggal menunggu kematian dalam hitungan hari. Ethan sudah dirawat oleh perawat spesialis bagi pasien-pasien yang akan meninggal (hospice nurse). Kondisi kesehatan tubuhnya menurun dengan cepat.

Menurut penjelasan Dr.  Melissa Rhodes, Ethan menderita sakit kanker darah jenis Acute Myeloid Leukemia (AML). Ia bertugas di bagian Onkologi di RS Anak Vanderbilt di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, dan menjadi salah satu dokter yang merawat Ethan. “Anak-anak yang terlahir dengan penyakit leukemia biasanya tidak akan bertahan hidup lama,” kata Dr. Rhodes. “Pengobatan terbaik yang dapat kami lakukan adalah mengobati Ethan dengan kemoterapi yang berat dan itupun tidak menjamin apakah ia dapat disembuhkan.” Sesungguhnya, kemoterapi itu ibarat racun bagi bayi-bayi yang baru dilahirkan sehingga para dokter memberi pilihan kepada orangtua Ethan untuk menolak kemoterapi bagi anak mereka.

Setelah dua minggu di RS, Chad dan Mandy, orangtua Ethan, mengambil keputusan yang berat untuk membawa bayi mereka pulang ke rumah. “Kemo itu dapat membunuh bayi kita,” kata Chad. “Banyak risikonya.”

“Kami pulang ke rumah dan saya ingat sedang berbaring di ranjang sambil berdoa,” kata Mandy, “Saya katakan, ‘Tuhan, berilah kami jawaban,’ Kami berdua bangun tidur pada keesokan hari dan kami sepakat, ‘Tidak, kami tidak akan membiarkan Ethan dikemo.’”  Kebanyakan dokter di RS Vanderbilt mendukung keputusan mereka. “Kami bayangkan jika Ethan memang terkena jenis leukemia yang kami duga, bahkan dengan pengobatan melalui kemoterapi dengan dosis penuhpun mungkin tidak akan menolong Ethan,” kata Dr. Rhodes. “Karena alasan itulah kami menghormati keputusan keluarga itu.”

Setelah beberapa hari di rumah, bayi Ethan mengeluarkan bintik-bintik, yang sangat umum bagi para bayi yang terkena infeksi. Oleh karena itu mereka membawa kembali Ethan ke RS. Itulah saatnya ketika tumor mulai menampakkan diri. “Kami mendapati ada tonjolan di betisnya,” kata Mandy. “Kami memanggil dokter, dan mereka memberitahu bahwa itu mungkin gumpalan darah atau tumpukan sel leukemia, yang disebut ‘chloroma’.” Tumor-tumor lain mulai muncul di bagian tubuh Ethan yang lain, seperti kaki, tangan, dan lengannya.

“Leukemia itu sendiri artinya kanker darah, suatu penyakit darah,” jelas Dr. Rhodes. “Tetapi  jenis leukemia AML ini dapat menyebar ke dalam jaringan kulit. Itulah yang kami percaya sedang dialami oleh Ethan. Ia sesungguhnya terkena leukemia di dalam kulitnya, di tangan dan kakinya, selain di dalam liver dan limfanya. Jadi, tubuh Ethan menunjukkan bahwa penyakitnya sudah mencapai stadium lanjut.”

Saat itu Ethan sudah berumur tiga minggu, dan kondisi kesehatannya sangat menurun. Ia tidak mau makan dan mulai mengalami gangguan tidur. “Sang perawat memberitahu saya bahwa Ethan mungkin akan mengalami apa yang disebut ‘sepsis’, yaitu infeksi di seluruh tubuh, yang bisa berakibat kematian dalam damai atau pendarahan hebat,” demikian kenang Mandy. “Saya mungkin akan melihat darah di dalam popoknya atau mungkin keluar darah dari telinganya. Bahkan saya begitu takut membuka popok untuk menggantikannya.

Setiap perawat datang, Chad dan Mandy merasa mereka sudah ada di titik akhir dan para sahabat terus berdoa, sambil memercayai Allah untuk melakukan hal-hal yang mustahil. Saya ingat pada suatu saat saya menimangnya sambil bernyanyi, ‘Open the eyes of my heart, Lord. I want to see You’,” kata Mandy. “Saya tahu bahwa sekiranya saja saya memfokuskan pikiran saya kepada Kristus, maka itulah satu-satunya cara untuk melewati semua ini.”

Pada malam ketika Ethan menghadapi krisis kesehatannya, terjadilah sesuatu. “Larut malam itu Mandy mulai memberi Ethan makan, dan Ethan mulai menyedot botol minumannya sedikit demi sedikit,” tutur Chad. Keesokan harinya, Ethan sedikit lebih kuat... Tetapi apakah ini hanya merupakan pemulihan sebelum kematian?

Mandy berkata, “Saya ingat saya sedang duduk di meja dapur dan berkata, ‘Saya percaya Allah sedang menyembuhkan Ethan. Saya dapat melihat Allah sedang bekerja.’ Kemudian Ethan mulai menjadi semakin baik secara bertahap. Dan selama minggu berikutnya, kami memberi minum susu enam ons setiap tiga jam.” Selama dua minggu berikutnya, Ethan semakin pulih! Dan ketika Mandy membawa Ethan kembali ke RS Vanderbilt untuk memeriksakan darah Ethan, kadar trombositnya sudah mencapai 415,000, yaitu ada dalam batas normal, padahal sebelumnya pernah mencapai titik terendah 39,000.”

Hal ini membingungkan Dr. Rhodes dan para dokter sejawatnya. “Semula Ethan sangat parah sakitnya dan kemudian dengan tiba-tiba ia menjadi semakin sehat. Jadi, kami ingin memeriksa lebih lanjut. Kami melakukan test sumsum tulang, yang menunjukkan tiadanya bekas leukemia. Tumor-tumor itu secara bertahap menghilang dalam hitungan seminggu atau lebih. Hal ini sungguh sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan.”

Chad dan Mandy tahu bahwa mereka telah menyaksikan suatu mukjizat ketika mereka melakukan biopsi ulang terhadap sumsum tulang di bulan Juli dengan hasil sama yang memuaskan. Hari ini Ethan Stacy sudah berusia dua tahun, yang suka bermain-main dengan ayah dan kakak perempuannya, Kaylee. Tak diragukan lagi bahwa keluarga Stacy sangat bersyukur kepada Tuhan. “Doa-doa dari para sahabat dan anggota jemaat itu sangat berarti bagi kami,” tutur Chad. Mandy turut mengiakan. “Sungguh mengagumkan punya Allah yang dahsyat seperti itu...Saya tak habis mengerti akan mukjizat demi mukjizat itu. Saya tak sabar melihat apa yang  Allah sediakan bagi Ethan selanjutnya karena saya tahu bahwa ada sesuatu yang hebat telah disediakan baginya.”
           


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

------

Notes:
Terima kasih banyak atas pemesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Enny di Jakarta dan Ibu Renata di Cimahi. God bless you...

Wednesday, July 18, 2012

Doa

Pdt. Rubin Ong mengisahkan kesaksian berikut ini. Seorang pria yang sedang makan siang tiba-tiba mengalami lawatan Roh Kudus, sehingga dia meninggalkan makan siangnya.

Thursday, February 18, 2010

Answered Prayer

Doa Sudah Dijawab
James Rutz, penulis buku “Mega Shift” menceritakan kisah menakjubkan tentang campur tangan Tuhan dalam menjawab doa.

“Saya memiliki seorang teman bernama Barclay Tait yang menjual vila di Niceville, Florida. Pada tahun 1977, ia adalah seorang pelatih bola basket berusia 36 tahun. Pada musim panas itu, ia memutuskan untuk menghadiri sebuah konferensi kristiani di Front Royal, Virginia. Datang empat hari lebih awal, ia pergi ke hutan terdekat dan mendirikan tenda dekat sebuah aliran sungai. Pada hari terakhir, datanglah seorang pendaki gunung yang bertubuh tinggi kurus dengan sebuah buku catatan di ketiaknya, yang heran melihat Barclay sedang membaca Alkitabnya. Barclay menjelaskan bahwa ia sedang ada di situ untuk berpuasa dan merenung.

Dave, sang pendaki, menjawab, “Nah, saya adalah seorang pendoa syafaat. Apa yang ingin saya doakan bagi anda?”

Merasa agak bingung, Barclay berkata, “Oh, terus terang saja, saya ingin mendapatkan seorang istri.” Sang pendoa mencatat permohonan doa itu di dalam buku catatannya dan berlalu.

Pada tahun 1988 Barclay, yang sekarang sudah menikah dengan Sherry, secara ilahi dituntun untuk pindah ke Asheville, North Carolina. Pertemuan secara kebetulan dengan seseorang di halaman parkir Holiday Inn mendorongnya untuk memenuhi undangan pada sebuah pertemuan kelompok kristiani di luar kota. Ketika mereka sampai di pertemuan jam 7 malam itu, sang tuan rumah berjalan keluar dari dapur dan berhenti tegak mematung. “Saya kenal anda!” teriaknya, sambil menunjuk ke arahnya. “Anda adalah Barclay Tait!” Barclay terkejut sekali.

“Tunggu sebentar. Saya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu,” kata sang tuan rumah. Dia bergegas naik ke loteng, membuat Taits berdiri di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Beberapa saat kemudian sang tuan rumah muncul lagi dengan buku catatan yang sudah usang. “Lihat di sini? Ini adalah saat saya menuliskan permohonan doa anda di kolom satu ketika saya bertemu anda di Front Royal pada tahun 1977: ‘Barclay Tait: Istri pilihan Tuhan.’” Barclay melihat tulisan di buku usang itu. Itu adalah buku harian doa yang paling terinci dan mempunyai metode yang baik yang pernah dilihatnya.

“Saya berdoa bagi anda selama tujuh tahun,” kata Dave. “Kemudian di tengah malam 30 Desember, 1984, Tuhan membangunkan saya dari tidur lelap dan berkata, “Tuliskan di dalam buku harian doamu: “Doa sudah dijawab”. Saya menuliskan begitu di buku ini. Lihat? Di kolom dua ini saya menulis, “Doa sudah dijawab.”

Barclay dan Sherry saling pandang satu sama lain dengan mulut menganga. Mereka duduk, dan menangis terharu. Dengan perlahan Barclay memberitahu Dave, “Itu adalah hari pernikahan kami.” (Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, pada tanggal 18 Februari 2010.

******

Answered Prayer
James Rutz, author of MegaShift, tells a wonderful story of God's supernatural hand in answering prayer.

"I have a good friend named Barclay Tait who sells vacation real estate in Niceville, Florida. Back in 1977, he was a 36-year-old Florida basketball coach. That summer, he decided to hitch-hike to a Christian conference in Front Royal, Virginia. Arriving four days early, he went to a nearby forest and pitched his tent by a stream. On the last day, a tall, thin hiker with a notebook under his arm suddenly appeared, startling him as he read his Bible. Barclay explained that he came out there to fast and meditate.
Dave, the hiker, replied, "Well, I'm an intercessor. What would you like me to pray for?"

Feeling somewhat overwhelmed, Barclay said, "Uh, frankly, I'd like prayer for a wife." The man wrote the request in his notebook and walked on.
By 1988, Barclay, now married to Sherry, has been divinely guided to move to Asheville, North Carolina. A chance encounter in the Holiday Inn parking lot led to an invitation to join a gathering of a Christian group outside of town. Arriving just before the 7:00 P.M. meeting, the host walks in from the kitchen and stops dead in his tracks. "I know you!" he exclaims, pointing his finger. "You're Barclay Tait!" Barclay draws a blank.

"Just a minute. I have something I want to show you," the host announces. He scampers upstairs, leaving the puzzled Taits standing in the middle of the suddenly hushed room. In a moment the host reappeared with a well-worn ledger book. "See here? This is where I wrote your prayer request in column one when I met you in Front Royal in 1977: 'Barclay Tait: God's choice for a wife.'" Barclay looked down at the journal entry. It was the most detailed, methodical prayer journal he'd ever seen.

"I prayed for you for seven years," proclaims Dave. "Then in the middle of the night on December 30, 1984, God woke me up out of a sound sleep and said, 'Write in your journal, "Prayer answered." So I did. See? Here in column two, "Prayer answered.'"
Barclay and Sherry look at each other with their mouths open. They sat down, and their eyes fill with tears. Quietly, Barclay tells Dave, "That was the day we were married." (Os Hillman)



Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 30, 2009

The Answer to Prayer

Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa.

Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut. Doa pertama mereka panjatkan, mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki yang pertama merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki pertama itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki kedua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya,seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, lelaki pertama ini mendengar suara dari langit menggema, "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

"Berkatku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki pertama ini. "Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka,ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

"Kau salah!" suara itu membentak membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

"Katakan kepadaku," tanya lelaki ke satu itu. "doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berutang atas semua ini kepadanya?"

"Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"

Teman-teman hari ini kita belajar satu hal: apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Sadarilah betapa banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai seseorang atau sesuatu hanya dari "yang terlihat" saja.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” Amsal 17:17. Sumber: Email kiriman Yuni Lam/Milis Terang Dunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*******
Personal Note:
Terima kasih atas pesanan 5 buku "Mukjizat Kehidupan" dari seorang Ibu di Jakarta Barat. Pesanan akan dikirim hari ini dengan pos kilat khusus.

Monday, August 24, 2009

The Handkerchief

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. ( 1 Korintus 1:25)

Frank adalah seorang pengusaha yang sedang terbang ke luar negeri beberapa tahun yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan duduk di kursi pesawat dengan harapan akan bisa beristirahat dengan tenang ketika seorang pria yang duduk di sampingnya mulai mengajaknya berbicara. Frank dengan sopan meladeni pembicaraan itu dengan harapan bahwa pembicaraannya akan berlangsung singkat sehingga ia dapat beristirahat segera. Namun, ketika waktu terus berlalu, pria itu mulai bertanya dan bertanya terus. Anehnya, pria itu nampak sedang mencari “sesuatu” dari caranya dia bertanya. Akhirnya, pembicaraan itu beralih ke masalah keluarga dan topik tentang bayi segera muncul. Frank mengaku kepada pria itu bahwa puterinya sudah berusaha hamil selama bertahun-tahun tanpa hasil.

Pria itu memandang wajah Frank dan berkata, “Nah, itulah! Saya tahu bahwa ada sesuatu yang Tuhan inginkan saya mendesak kepadamu, namun sampai Anda mengatakan hal tentang kesulitan hamil itu, saya tadi terus mencari-cari apakah itu.” Frank bahkan tidak menyadari bahwa pria itu adalah seorang beriman sampai saat itu. “Hal ini mungkin kedengaran aneh bagimu namun Tuhan telah memberi saya karunia yang aneh untuk menolong wanita-wanita yang mandul agar hamil. Kapanpun saya berdoa bagi para wanita-wanita itu, mereka akan menjadi hamil. Bolehkah saya meminta sesuatu yang agak tak biasa?” Frank terus mendengarkan sebelum dia menyatakan sesuatu.

“Saya ingin kita berdoa atas saputangan ini. Ketika Anda bertemu dengan puterimu saya minta Anda meletakkan saputangan ini di atas perut puterimu dan berdoa atasnya.” Frank merasa aneh dengan pemikiran itu, tetapi dia telah melihat banyak hal-hal tak biasa daripada hal ini dalam perjalanan internasionalnya.

Frank kembali ke Amerika Serikat dan beberapa waktu kemudian dia mengatur waktu untuk bertemu dengan puterinya dan menantu laki-lakinya. Frank merasa aneh, mungkin menantu laki-lakinya menganggap bahwa hal itu adalah suatu kebodohan. Meskipun demikian, Frank kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dan mereka meletakkan saputangan itu di atas perut puterinya dan berdoa.

Beberapa minggu berlalu dan Frank menerima telpon dari puterinya. “Ayah, tentu Ayah tidak pernah menduga apa yang telah terjadi. Saya hamil!” teriak puterinya.
(Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 22 Agustus 2009)

*****

The Handkerchief
"For the foolishness of God is wiser than man's wisdom, and the weakness of God is stronger than man's strength" (1 Cor. 1:25).

Frank is a businessman who was flying overseas a few years ago. He had just completed a long trip and settled into his seat for a quiet return trip when the man next to him began to start up a conversation. Frank politely conversed with the man hoping it would be a brief conversation so he could rest. However, as time went on, the man began to ask more and more questions. Strangely, he seemed to be "looking for something" by the nature of his questions. Finally, the conversation turned to family and the subject of babies came up. Frank confided in the man that his daughter had been seeking to become pregnant for years without success.

The man turned to Frank and said, "That's it! I knew there was something the Lord wanted me to press in on with you, but until you said that, I was searching and searching." Frank did not even realize the man was a believer until that moment. "This may sound strange to you but God has given me a strange kind of gift to help barren women become pregnant. Whenever I pray for women, they get pregnant. May I ask you to do something rather unusual?" Frank continued to listen before committing to anything.

"I would like us to pray over this handkerchief. When you get back to your daughter I would like you to lay this handkerchief on your daughters belly and pray over it." Frank was a bit taken back by the thought, but he had seen more unusual things than this in his international travels.

Frank returned to the states and a short time later arranged a time for his daughter and her husband to come by the house. Frank felt very awkward, as he knew his son-in-law would think this was foolishness. Nevertheless, Frank proceeded to explain what had happened and they laid the handkerchief on his daughter's belly and prayed.

A few weeks passed and Frank received a phone call from his daughter. "Dad, you will never guess what has happened. I am pregnant!" she exclaimed. Os Hillman

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, July 30, 2009

An Empty Chair

Seorang gadis mengundang pastor Paroki untuk datang ke rumahnya mendoakan ayahnya yang sedang sakit.

Pada waktu pastor datang, ia mendapati seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi kosong di depannya.

“Tentu anda telah menanti saya,” kata si Pastor.

“Tidak, siapakah anda?” tanya bapak itu.

Pastorpun memperkenalkan diri dan berkata, “Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang.”

“Oo, kursi itu,” kata si Bapak, “Maukah anda menutup pintu kamar itu?”

Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar.

“Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu,” kata si Bapak. “Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya.”

“Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal,” lanjut si Bapak, “Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus.”

“Dia mengajari saya begini : duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantu-Nya lho, karena Ia telah berjanji “akan senantiasa besertamu”, kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini.”

“Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong.

”Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang.

Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.

“Apakah ia meninggal dengan damai?” tanya si Pastor.“Ya, waktu saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal.”

“Tapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk di atas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur.

Bagaimana pendapat Pastor?

”Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, “Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu.” (Sumber: Milis Rohani/Evyla Yulia/Simon Rivian.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, April 16, 2009

An Important Message from Dutch Sheets

Hi, my name is Dutch Sheets, and I have a short but very important message to share with you.

President Obama has said twice now—in his inaugural address and on a recent trip to Europe—that America is no longer a Christian nation. In fact he implied in his inaugural address that we never have been a Christian nation, that it was many faiths that shaped and defined who we are asAmerica. In a recent Newsweek magazine they basically agreed with our president. The headline read, “The End of Christian America.”

What are they and others really saying about America when they say we are not a Christian nation? In essence, they are saying we lost the culture war for America. They’re either saying that we never were a Christian nation, that we’ve always been a mix, or they’re saying maybe were at one point, but are no longer—this culture war is over and we are announcing Christianity has lost. What is the truth about our roots as a nation?

The following are a few quotes that demonstrate clearly what we were in the founding of this nation, and what our founding fathers and early leaders really wanted us to be. The first one is from, of all places, the United States Supreme Court in 1892. “From the discovery of this continent to the present hour, there is a single voice making this affirmation…that this is a Christian nation.” I guess the Supreme Court of that point in time did not agree with our current President. John Jay, the first chief justice of the Supreme Court, said, “Unto Him who is the author and giver of all good, I render sincere and humble thanks for His manifold and unmerited blessings, and especially for our redemption and salvation by His beloved Son.” Is that a Christian statement? I believe it is.

Fisher Ames is the author of the first Amendment. (By the way, remember that the first Amendment is what the revisionists try to use saying our forefathers didn’t want Christianity influencing our government or anything in the public square.) Here is what the author of that first Amendment said: “Should not the Bible regain the place it once held as a school book?” I don’t think he agreed with today’s version of separation.

John Adams, one of the signers of the Declaration of Independence and our 2nd President, said this: “The general principles of which the fathers achieved independence were…the general principles of Christianity.” Our second president and signer of the Declaration of Independence certainly thought we were a Christian nation, founded upon Christian principles. Here’s something that will really surprise many of you.

This is a statement in the Handbook of Harvard University in 1642 called “The Rules and Precepts:” “Let every student be plainly instructed, and earnestly pressed to consider well, the main end of his life and studies is to know God and Jesus Christ which is eternal life (John 17:3)…and therefore to lay Christ in the bottom, as the only foundation of all sound knowledge and learning.” Our educators today do not agree with it, but that was in the handbook of Harvard University.

Here is one final quote and I want to read a portion of it to you: “We have been the recipients of the choicest bounties of heaven. We have been preserved these many years in peace and prosperity. We have grown in numbers, wealth, power, as no other nation has ever grown. But, we have forgotten God. We have forgotten the gracious hand which preserved us in peace, and multiplied, enriched, and strengthened us. And we have vainly imagined in the deceitfulness of our hearts that all these blessings were produced by some superior wisdom and virtue of our own. Intoxicated with unbroken success, we have become too self-sufficient to feel the necessity of redeeming and preserving grace, too proud to pray to the God that made us. It behooves us then, to humble ourselves before the offended power, to confess our national sins, and to pray for clemency and forgiveness.” Who made that powerful statement--some great preacher? A spiritual leader in our nation, perhaps? A statement made even recently? No, that statement was made in 1863 by none other than President Abraham Lincoln. It was made during the Civil War when he called our nation to prayer and fasting, asking God for His help in that troubled time.

What our founding fathers and early leaders believed about God and this nation, and the connection there, is indisputable. Why does our history matter? Why do our roots in this nation really matter? Why is it important to revisionists and secular humanists that they re-write and distort our history? You know, if it really didn’t matter what our history was, they wouldn’t bother to re-write it and distort it. I’m here to say to you that it matters much whether or not we were a Christian nation in our roots. Why--first of all, because God honors covenant. The Bible says he keeps covenant and mercy to a thousand generations. You’ll find leaders all throughout scripture, when calling upon God for his help and His mercy, basing it on covenant – promises made in the past between God and people. And when we call upon God, we have to call upon Him, at times (of course always based on scripture), based on the fact that we are honoring the covenant that we made with Him as a nation. Our history is also important because it demonstrates that God had a purpose in the founding of this nation. God was involved. Our forefathers knew that God was involved, and it demonstrates our Godly heritage that our founding fathers believed in—that purpose and destiny--and dedicated this nation to it.

The liberals, humanists, and those who want to re-write our history, they don’t want you to know that God had a purpose in the founding of this nation and that our forefathers intended to honor that purpose. Our history also demonstrates that our founding fathers were influenced by God’s word and His ways when writing the Constitution and forming our government. Those who don’t like this and want to twist the meaning of our founding fathers and founding documents try to negate God’s influence by re-writing our history. Is it important to know that in our roots we are a Christian nation and do have a God-given purpose and destiny? You better believe it is!

We know that we were a Christian nation in our early days. We know what our founding fathers and early leaders wanted, but have the humanists, secularists, atheists, and revisionists really won this culture war? Are we, as Newsweek said, at the end of Christian America? No, they have not won the war! It is true that they have made great gains and, in many areas of our culture, they do currently rule: education, media, government, and so on. And many in government—the President, Congress, Judges—are pulling out all the stops to remove anything and everything that would make us a Christian and godly nation. They are attacking biblical values and life.

President Obama, who voted for the right to finish taking the life of a baby born alive after a botched abortion and many in Congress, are trying to reverse every restriction ever placed on abortion through the Freedom of Choice Act. They are trying to pass legislation making it illegal, even for churches, to refuse to hire an individual who violates their moral beliefs. They are trying to make doctors violate their consciences by forcing them to perform abortions. They want to remove tax deductions for you if you donate money to your church. They want to make it illegal for ministers to preach and quote scriptures calling various behaviors a sin. They are requiring you and me to fund abortions. Whether you know it or not, or like it or not, they are requiring you and me to fund abortions, even in other nations. The current administration and Congress have the most radical anti-Christian, anti-Bible agenda in the history of our nation. They are serious and they have pulled out all the stops. In essence they are saying, “We have won the culture war—now we are going to shove it down your throats.”

But they have not won the culture war! The war is not over! I believe, as do many Americans, that God is about to send a great revival to our nation and that as we work and plan, He is going to give us strategy to produce a great reformation that shifts our culture back again to what God intended it to be from the start. This brings me to the very simple plan that I want to share with you right now. The anniversary of that powerful proclamation by Abraham Lincoln in 1863, of which I shared a portion of it just a few moments ago, is coming up on April 30th. It is a powerful proclamation. I only shared a small portion of it to you. It talks about reformation. It talks about a nation being blessed whose God is the Lord. I tell you, we could not improve on this statement.

Go to our website, www.dutchsheets.org, and download the entire proclamation sending it to everyone you know: family members, friends, educators, government officials, congressmen and women, judges. Send it to everyone you know and ask them to do the same. Let’s make a statement on that day and leading up to that day that we agree with Abraham Lincoln who certainly believed we were a Christian nation. Then, on that day, April 30th, let’s begin to pray it. Let’s pray that prayer as individuals. Literally, let’s read it out loud and say, “Lord, I want to come to you and say that I agree with President Abraham Lincoln, that we are a Christian nation and that we are dependent on you. We need your help; we repent for our sins; we cry out to you just as they did in the Civil War…” If during the Civil War, at that desperate time, they called on God and He saved a nation, we can do that now. Let’s take this and pray it individually. Some of you may want to have prayer meetings Thursday night, April 30th, and together read and pray portions of this prayer. Let’s do it every day for a week—7 days leading up to the National Day of Prayer—even on May 3rd, the Sunday between April 30th and May 7th, the National Day of Prayer. Let’s do it as congregations. Pastors, read this to your congregations and pray it. Put it on your Power Point, somewhere where you can read it together. Pass it out when congregants come in. Let’s have this read and said millions and millions of times from April 30th to May 7th. Then on that day, May 7th, the National Day of Prayer, let’s do it again! Let’s do it individually, in prayer meetings; let’s do it on State Capitol steps; let’s do it in Washington DC; let’s come into agreement with what President Lincoln said and let’s make a statement to this nation, to the spiritual powers that are trying to steal from us our Christian heritage, and let’s say, “The war isn’t over! We are not going to give this nation away and the culture war isn’t over!” God is going to help us reform this nation. We are going to get it done. Let’s do this millions of times between April 30th and May 7th. I believe it will make a huge difference! God bless you, and God bless America!~Dutch Sheets


Diiposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, March 27, 2009

Thinking Big

Berpikir Besar
"Karena tak ada yang mustahil bagi Allah." (Lukas 1:36-37)

Saat itu jam 4 pagi di Cape Town, Afrika Selatan, di bulan Juli 2000 ketika seorang pengusaha bernama Graham Power dibangunkan oleh sebuah penglihatan dari Bapa yang datang dalam tiga bagian berbeda. Dalam penglihatan bagian pertama, Bapa memerintahkan Graham untuk menyewa stadion rugby Newlands yang berkapasitas 45.000 tempat duduk di Cape Town untuk dipakai dalam sebuah hari pertobatan dan doa bagi kota itu.

Dalam penglihatan bagian kedua, ia melihat gerakan doa menyebar ke seluruh Afrika Selatan sehingga diadakan hari doa nasional. Dalam penglihatan bagian terakhir, ia melihat aktivitas doa itu menyebar ke seluruh benua Afrika.

Tiga puluh hari sebelumnya seorang hamba Tuhan bernama Gunnar Olson berdiri di mimbar pada akhir sebuah konferensi para pengusaha di Johannesburg, Afrika Selatan dan memproklamasikan Yesaya 60 yang berbunyi: “Bangkitlah dan menjadi teranglah!” pada seluruh benua Afrika, dan dia menyatakan bahwa Bapa akan menggunakan orang-orang Afrika untuk memberkati bangsa-bangsa lain.

Graham taat pada penglihatan itu, dan pada tanggal 21 Maret 2001, banyak orang datang berkumpul di stadion rugby Newlands untuk berdoa dan bertobat. Segera sesudah itu, seorang penjahat yang terkenal kejam di kota itu diselamatkan Tuhan. Kabar-kabar tentang pertemuan itu menyebar dengan cepat, dan pada tahun 2002, delapan kota besar di Afrika Selatan mengadakan hari doa bersama. Menyusul peristiwa itu, anak-anak muda dari segala penjuru Afrika Selatan mengambil bagian dalam acara “jalan pengharapan”, yaitu mereka berjalan kaki dari Bloemfontein menuju delapan stadion dimana pertemuan-pertemuan doa akan diadakan. Peristiwa-peristiwa itu disiarkan melalui televisi.

Pada bulan Juni 2006, apa yang dimulai sebagai “Transformasi Afrika” berubah menjadi Hari Doa Sedunia yang diikuti oleh perwakilan dari 200 negara dari tujuh benua di seluruh dunia. Dan gerakan doa ini masih terus berkembang.

Semuanya itu berawal dari ketaatan seorang pengusaha. Apa yang mungkin Bapa ingin lakukan melalui kehidupan anda? Hal itu harus dimulai dengan ketaatan pada hal-hal kecil dan menggunakan iman anda untuk mempercayai bahwa Bapa sanggup melakukannya. Bagian kita adalah taat. Bagian Tuhan adalah perwujudan hasilnya.
(Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian pada 27 Maret 2009 di http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

****

Thinking Big
"For nothing is impossible with God" (Luke 1:36-37).
It was 4:00 A.M. in Cape Town, South Africa, in July 2000 when businessman Graham Power was awakened by a vision from God that came in three distinct parts. In the first part of the vision, God instructed Graham to rent the 45,000-seat Newlands rugby stadium in Cape Town for a day of repentance and prayer for that city. In the second part of the vision, he saw the prayer movement spreading to the rest of South Africa for a national day of prayer. In the final part of the vision, he saw the prayer effort spread to cover the rest of the continent.

It was only thirty days earlier that a man named Gunnar Olson stood in front of a podium at the conclusion of a marketplace conference in Johannesburg, South Africa and proclaimed Isaiah 60 which said to "Arise and shine" over the continent of Africa and that God was going to use Africa to bless the nations.

Graham was obedient to the vision, and on March 21, 2001, a capacity crowd gathered in the Newlands rugby stadium for prayer and repentance. Soon after, a notorious gangster in the city was saved. News of the first gathering spread quickly, and in 2002, eight cities in South Africa hosted a day of prayer. Leading up to the event, young people from all over the country took part in a "walk of hope" from Bloemfontein to the eight stadiums where the prayer meetings were to be held. The events were broadcast on television.

By June 2006, what began as Transformation Africa became the Global Day of Prayer with participation from 200 nations from seven continents around the world. And this prayer movement is still growing.

It all started from the obedience of one businessman. What might God want to do through your life? It begins with being obedient to the small things and exercising your faith to believe God can do it. Our part is obedience. His part is outcome.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, February 5, 2009

My Help Comes from the Lord

Setiap saya menemukan kue lupis dimana saja, saya selalu teringat kesaksian seorang ibu penjual lupis yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya masih remaja. Ibu yang telah lelah berkeliling itu beristirahat sejenak di rumah kami. Sebagai pedagang keliling dengan berjalan kaki, wajarlah bila ia lelah dan butuh istirahat barang sejenak.

Tidak disangka bahwa dalam perbincangan dengan keluarga saya di teras rumah, ibu penjual lupis keturunan India ini didalam istirahatnya, masih menyempatkan diri menyaksikan kepada keluarga kami akan pertolongan Tuhan yang dia alami.

Suatu waktu, seperti biasa, ibu ini melangkahkan kakinya dari rumah dengan menjunjung tampi lupis diatas kepalanya. Langkah yang penuh harapan bahwa lupis jualannya akan laku dan ia akan membawa pulang uang untuk kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Tetapi hari itu merupakan kejadian yang aneh. Suatu kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak pagi ia berangkat dari rumah hingga menjelang siang, tidak satu orang pun yang membeli kue lupisnya. Menyadari keadaan itu, si ibu inipun mulai kuatir. Ia kuatir tidak dapat membawa uang pulang ke rumah untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk keperluan keluarga besok hari. Sedangkan suaminya yang biasanya kerja serabutan dengan penghasilan yang tidak dapat diharapkan, sedang tidak bekerja sejak beberapa minggu.

Siang pun berlalu, ibu ini terus berkeliling sambil meneriakkan nama dagangannya yaitu "Lupis! Lupis! Lupis." Sementara itu peluh sudah membasahi tubuhnya yang kurus yang diselimuti baju yang warnanya mulai pudar. Semakin sore, semakin sering pula dia meneriakkan lupisnya, mungkin karena perasaan kesal bercampur dengan kwatir yang semakin menjadi-jadi. Tetapi sungguh aneh, sampai jam 5 sore, semua usahanya sepertinya sia-sia. Tidak satu orangpun yang membeli lupis dagangannya. Ini sungguh belum pernah terjadi.

Dalam kelelahan dan putus asa, iapun duduk di pinggir jalan sambil merenungkan nasibnya hari itu. Air matanya mulai menetes. Ibu ini menangis bukan karena menyesali segala usaha dan jerih payahnya yang seakan sia-sia, karena ia sadar bahwa itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukannya. Tetapi ia menangis karena memikirkan apa yang akan dimakan oleh anak-anaknya besok.

Di tengah isak-tangis dan kegalauannya, tiba-tiba ia teringat kepada Tuhan. Di atas rerumputan di pinggir jalan itu ia duduk dan berdoa di dalam hati, ”Tuhan, hari ini aku tidak mendapat apa-apa. Aku sudah berusaha, tapi tidak seorangpun membeli daganganku. Aku tidak menyesal atas jerih payahku yang sia-sia. Tetapi Engkau tahu Tuhan, anak-anak yang Engkau berikan kepadaku butuh makan besok hari. Terserah Engkaulah, Tuhan.”

Setelah berdoa, iapun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk membuang ke tong sampah semua kue lupisnya. Tapi kemudian tiba-tiba ia berpikir untuk membuang dagangannya itu ke sebuah sangai kecil yang terdapat di pinggiran komplek perumahan kami. Iapun berjalan menuju kesana sambil tetap menjunjung tampi dagangannya, tapi tidak lagi meneriakkannya.

Saat menuju ke sungai itulah, tiba-tiba seorang anak kecil memanggilnya. Iapun menoleh dan mendatangi anak kecil yang berdiri di teras rumahnya itu. “Beli lupis, bu” kata anak itu. Ia sempat tertegun, tapi ia terus mendekati anak kecil itu. Rupanya di teras itu ada beberapa orang dewasa dan anak-anak sedang berkumpul dan bercanda ria. Dan sesampai di teras itu, bukan anak kecil ini saja yang membeli kue lupisnya, tapi seorang ibu, yang mungkin ibu anak itu malah memborong semua kue lupisnya. Sungguh kejadian yang luar biasa. Tuhan menjawab doanya. Sumber: Elia Stories Care.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

He Gave Me Strengths Day by Day

Seorang hamba Tuhan menceritakan tentang seorang anak gadis empat tahun yang terkena kanker hati dengan stadium 4B. Para dokter di Indonesia sudah angkat tangan, tidak sanggup mengobati anak ini. Karena keluarga ini cukup berada dan mereka masih mempunyai pengharapan akan kesembuhan anaknya, maka mereka membawa anak ini untuk berobat di sebuah Rumah Sakit di Singapura.

Para dokter spesialis kanker di Singapura juga pada mulanya kaget melihat kondisi anak itu dan sebenarnya mereka angkat tangan. Penyebaran virus kanker sudah kemana-mana. Menurut analisis kedokteran, tak ada harapan bagi anak itu. Namun kedua orangtua anak itu terus mendesak mereka agar mereka mau mencoba mengobati anak itu. Sementara itu kedua orangtua berdoa terus kepada Tuhan untuk kesembuhan anak ini. Teman-teman mereka di Indonesia juga diminta berdoa bagi anak mereka.

Ketika seorang hamba Tuhan datang mendoakan anak ini di Singapura, sang hamba Tuhan tidak tahan melihat penderitaan anak kecil ini. Karena sakit yang luar biasa, anak itu sering berteriak-teriak kesakitan. Yang mendengar teriakan anak ini pasti sedih dan pilu. Sebagai orangtua, pastilah orangtuanya tidak tega mendengar penderitaan anaknya. Kalau mungkin, orangtua bersedia menggantikan posisi anak mereka. Banyak orang yang membezuk anak itu tidak tahan dan menangis melihat penderitaan hebat anak itu. Namun yang menarik perhatian sang hamba Tuhan, ibu si anak dengan penuh kasih sayang menggendong anaknya, dan tidak terlihat menangis. Apakah ibu ini tidak mempunyai perasaan sama sekali?

Kejadian di atas terjadi sebelas tahun yang lalu. Ketika hamba Tuhan itu bertemu kembali dengan keluarga tadi dan mendengar bahwa anak itu akhirnya sembuh total dari penyakit kankernya, hal yang mengganjal di hati hamba Tuhan itu akhirnya ditanyakan juga kepada keluarga ini.

"Bu, saya tidak heran dengan mukjizat kesembuhan yang anak ibu alami. Saya sampai saat ini masih heran, mengapa pada waktu itu Ibu tidak nampak menangis di depan kami dan di depan anak ibu, meskipun penderitaan anak ibu demikian hebat?"

"Pak, selama empat bulan saya menunggui anak saya di Singapura. Setiap hari saya berat sekali menghadapi penderitaan anak saya. Setiap malam saya selalu datang kepada Tuhan dan memohon, 'Tuhan saya tidak kuat lagi menghadapi penderitaan anak saya. Tolong saya, berikan kekuatan supaya saya tetap tabah.' Setiap pagi hari saya datang kepada Tuhan dan berdoa, 'Tuhan, saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi hari ini, tetapi saya mohon Tuhan berikan kekuatan kepada saya hari ini.' Setelah doa itu, saya selalu mendapat kekuatan baru dari Tuhan. Saya jadi tabah melihat penderitaan anak saya. Kalau saya menangis, saya pikir saya tidak dapat memberi kekuatan dan pengharapan kepada anak saya. Demikianlah hari-hari berlalu. Kadang-kadang ketika kondisi anak saya parah sekali saya pernah berkata kepada Tuhan, 'Kalau Engkau mau memanggil anak saya pulang, saya sudah rela dan pasrah. Jadilah kehendak-Mu yang terbaik. Namun, jika belum waktunya anak saya dipanggil Tuhan, berikan kekuatan kepada saya untuk menghadapi semua ini.' Anehnya, Tuhan terus memberikan kekuatan kepada saya, sampai anak saya akhirnya sembuh total."

Oh, pantas, ibu ini sangat tabah dan kuat, karena semuanya dari Dia, melalui Dia, dan untuk Dia! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 4, 2009

The Gentle Whisper

Anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu kemana ia harus berpaling meminta pertolongan. Oleh karena itu ia menemui seorang pendeta tua. Setelah memasuki ruang kerja pendeta itu, sang anak muda langsung memberondongkan masalahnya. Akhirnya dia mengepalkan tangannya dan berteriak, “Aku telah memohon kepada Tuhan agar Ia mengatakan sesuatu untuk menolongku. Katakan kepadaku, Pendeta, kenapa Tuhan tidak menjawab?”

Pendeta tua itu, yang duduk di bagian lain di ruangan itu, mengatakan sesuatu sebagai jawabannya, sesuatu yang lembut dan tenang sehingga tak terdengar jelas. Anak muda itu maju mendekatinya. “Apa yang Bapak katakan?” tanyanya.

Pendeta itu mengulanginya lagi, namun kembali dengan nada yang lembut seperti bisikan. Oleh karena itu sang anak muda makin mendekat sampai dia menempel di kursi pendeta.

“Sorry,” katanya. “Aku masih tidak dapat mendengar Bapak.”

Dengan kepala mereka bersentuhan, pendeta tua itu berkata sekali lagi, “Tuhan kadang-kadang berbisik,” katanya, “sehingga kita akan bergerak mendekati untuk mendengarkan Dia.”

Kali ini sang anak muda mendengar dan mengerti.

Seringkali kita ingin suara Tuhan terdengar bagai halilintar di udara dengan jawaban atas semua masalah kita. Namun Tuhan datang dengan suara lembut dan bisikan (the still small voice, seperti yang dialami Elia ketika di gunung Horeb). Bisikan Tuhan berarti kita harus berhenti memberondongnya dengan masalah kita dan bergerak mendekati Dia, sampai kepala kita bersentuhan dengan kepala-Nya. Dan kemudian, kita akan mendengar Dia dan menemukan jawaban kita. Untuk mendengar bisikan-Nya, tenanglah dan mendekatlah kepada-Nya. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com.

*****

The young man had lost his job and didn't know which way to turn. So he went to see the old preacher. Pacing about the preacher's study, the young man ranted about his problem. Finally he clenched his fist and shouted, "I've begged God to say something to help me. Tell me, Preacher, why doesn't God answer?"

The old preacher, who sat across the room, spoke something in reply -- something so hushed it was indistinguishable. The young man stepped across the room. "What did you say?" he asked.

The preacher repeated himself, but again in a tone as soft as a whisper. So the young man moved closer until he was leaning on the preacher's chair.

"Sorry," he said. "I still didn't hear you."

With their heads bent together, the old preacher spoke once more. "God sometimes whispers," he said, "so we will move closer to hear Him."

This time the young man heard and he understood.

We all want God's voice to thunder through the air with the answer to our problem. But God's is the still, small voice . . . the gentle whisper. Perhaps there's a reason. Nothing draws human focus quite like a whisper. God's whisper means I must stop my ranting and move close to Him, until my head is bent together with His. And then, as I listen, I will find my answer. Better still, I find myself closer to God.

Author Unknown

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, February 1, 2009

The Weight of a Prayer

Bobot Sebuah Doa
Louise Redden, seorang wanita yang berpakaian kumuh dengan wajah memelas, berjalan menuju sebuah toko barang makanan. Ia mendekati pemilik toko dengan sangat sopan dan memohon agar pria itu mengijinkan dia membeli beberapa bahan makanan dengan utang. Dengan pelan ia menerangkan bahwa suaminya sedang sakit parah dan tak mampu bekerja. Mereka memiliki tujuh orang anak dan sangat butuh makanan. John Longhouse, pemilik toko itu, mengejeknya dan mengusirnya keluar.

Sambil menggambarkan kebutuhan keluarganya, wanita itu berkata, “Tolonglah, pak! Saya akan membayarnya setelah saya mempunyai uang.”

John mengatakan kepadanya bahwa ia tak dapat memberikan kredit, karena wanita itu tidak memiliki fasilitas kredit di tokonya karena ia tidak mempunyai jaminan yang cukup.

Di dekat counter pembayaran itu berdiri seorang pelanggan yang mendengar pembicaraan keduanya. Pelanggan itu mendekati mereka dan mengatakan bahwa ia akan membayar apapun yang diperlukan wanita itu bagi keluarganya.

Pemilik toko itu berkata dengan enggan, “Apakah anda mempunyai daftar belanja?”
Louise menjawab, “Ya, pak!”

“Baiklah!” kata pemilik toko, “Taruhlah daftar belanja itu di atas timbangan dan saya akan memberikan sejumlah barang sesuai dengan berat daftar belanja itu.”

Louise agak ragu sejenak, dengan kepala tertunduk kemudian ia mengeluarkan dari dompetnya selembar kertas dan menulis sesuatu di atasnya. Ia kemudian meletakkan kertas itu di atas timbangan dengan hati-hati dengan kepala masih tertunduk. Mata pemilik toko dan pelanggan itu terlihat heran ketika bagian timbangan yang memuat kertas daftar belanja itu turun ke bawah dan tetap ada di bawah. Pemilik toko itu berkata kepada pelanggan yang lain dengan menggerutu, sambil memperhatikan timbangan, “Saya tak dapat mempercayai hal ini.” Pelanggan itu tersenyum, dan pemilik toko itu mulai mengisi bagian timbangan yang lain dengan bafang-barang yang dibutuhkan wanita itu.

Timbangan itu tidak juga seimbang, sehingga pemilik toko itu terus menaruh bahan-bahan makanan yang diperlukan sehingga timbangan itu tidak dapat memuatnya. John Longhouse berdiri di sana dengan sangat jengkel. Akhirnya, ia mengambil kertas daftar belanja itu dari timbangan dan membaca isinya dengan sangat terkejut.

Kertas itu bukan daftar belanja, namun sebuah doa yang berbunyi:
“Tuhan, Engkau mengetahui kebutuhanku, dan aku menyerahkan semua ini dalam tangan-Mu.”

Pemilik toko menyerahkan barang-barang itu kepada Louise dan berdiri terpaku. Louise mengucapkan terima kasih kepadanya dan meninggalkan toko itu. Pelanggan yang baik hati itu menyerahkan kepada John, sang pemilik toko, selembar uang senilai US$ 50 dan berkata, “Uang ini cukup untuk membayar semua barang yang diambil wanita tadi.”

John Longhouse setelah itu baru tahu bahwa timbangannya rusak. Hanya Tuhan yang tahu berapa besar bobot sebuah doa. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

The Weight of a Prayer
Louise Redden, a poorly dressed lady with a look of defeat on her face, walked into a grocery store. She approached the owner of the store in a most humble manner and asked if he would let her charge a few groceries. She softly explained that her husband was very ill and unable to work, they had seven children and they needed food. John Longhouse, the grocer, scoffed at her and requested that she leave his store.

Visualizing the family needs, she said: "Please, sir! I will bring you the money just as soon as I can."

John told her he could not give her credit, as she did not have a charge account at his store. Standing beside the counter was a customer who overheard the conversation between the two. The customer walked forward and told the grocer that he would stand good for whatever she needed for her family.

The grocer said in a very reluctant voice, "Do you have a grocery list?"
Louise replied "Yes, sir."

"OK!" he said, "Put your grocery list on the scales and whatever your grocery list weighs, I will give you that amount in groceries."

Louise hesitated a moment with a bowed head, then she reached into her purse and took out a piece of paper and scribbled something on it. She then laid the piece of paper on the scale carefully with her head still bowed. The eyes of the grocer
and the customer showed amazement when the scales went down and stayed down. The grocer, staring at the scales, turned slowly to the customer and said begrudgingly, "I can't believe it." The customer smiled, and the grocer started putting the groceries on the other side of the scales.

The scale did not balance, so he continued to put more and more groceries on them until the scales would hold no more. The grocer stood there in utter disgust. Finally, he grabbed the piece of paper from the scales and looked at it with greater
amazement.

It was not a grocery list; it was a prayer which said:
"Dear Lord, you know my needs, and I am leaving this in your hands."

The grocer gave her the groceries that he had gathered and placed on the scales and stood in stunned silence. Louise thanked him and left the store. The customer handed a fifty-dollar bill to John as he said, "It was worth every penny of it."

It was sometime later that John Longhouse discovered the scales were broken; therefore, only G~d knows how much a prayer weighs.

When you receive this, say a prayer. That's all you have to do. Just stop right now, and say a prayer for the one(s) who need it. There is nothing attached. Prayer is one of the best free gifts we receive. There is no cost but a lot of rewards.
Let's continue praying for one another. Source: http://www.jr.co.il/articles/prayer2.txt

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi

Friday, January 23, 2009

Pray for Our Leaders!

Berita dari Detik.com:
Gianyar - PDIP meminta Partai Demokrat menghentikan iklan penurunan BBM yang kini marak di media massa. Namun partai pendukung SBY itu sepertinya tidak peduli.

"Yang penting realistis. Terbukti ada penurunan BBM 3 kali kan," kata fungsionaris Partai Demokrat, Andi Malarangeng.

Hal itu disampaikan Andi saat mendampingi SBY berkunjung ke Pura Tirta Empul, Tampak Siring, Kabupaten, Gianyar, Bali, Jumat (23/1/2009). Laporan detik.com

=====

Hal yang menarik dari berita di atas adalah kunjungan Presiden SBY ke Tampak Siring. Kira-kira ada apa Presiden datang ke sana? Piknik? Banyak tempat lain di Bali yang jauh lebih indah.

Saya pernah mendengar cerita bahwa di Tampak Siring tinggal seorang dukun sakti yang biasa dimintai konsultasi oleh para pejabat tentang nasib dan peruntungan mereka. Memang tidak ada konfirmasi atau berita resmi bahwa Presiden SBY beraudiensi dengan dukun yang bersangkutan. Saya tidak dapat memastikan beliau ketemu dukun itu. Hanya Tuhan yang tahu, dan orang-orang di sekitar ring satu saja yang tahu.

Di negeri yang pengaruh paranormalnya kuat seperti Indonesia ini, kita harus meningkatkan doa kita agar para pejabat di negeri ini dilindungi Tuhan. Sayangi bangsa ini, doakan bangsa ini, doakan para pemimpin bangsa ini, supaya kita tidak diintimidasi roh kekerasan yang sedang berhembus kuat di dekat kita.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, January 20, 2009

Medical Care

Baru-baru ini seorang ibu menyesali keputusannya untuk merawat ayah tercintanya di sebuah Rumah Sakit terkenal di bilangan Jakarta Barat. Ayahnya masih dalam keadaan segar bugar ketika masuk rumah sakit, namun didiagnosa awal terkena Demam Berdarah. Saudara-saudaranya menyarankan dia memasukkan ayahnya di RS itu karena ada dokter terkenal di RS itu yang juga menjadi gembala di beberapa gereja. Namun apa yang terjadi?

Setelah dirawat di RS itu, kondisi ayahnya semakin memburuk, sehingga perlu dirawat di ICU selama berhari-hari. Karena tidak jelas kemungkinan kesembuhannya, ketika ayahnya agak baikan, ibu ini memaksa untuk mengeluarkan ayahnya dari RS itu dan dipindahkan ke RS Husada. Namun karena kondisi kesehatannya sudah parah, dokter di RS Husada juga tak dapat menolong banyak. Minggu lalu ayahnya meninggal.

Ia sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah dengan merawat ayahnya di RS Jakarta Barat itu.
"Masa gara-gara DB saja ayah saya meninggal?"

Dia juga kecewa atas pelayanan dokter terkenal itu karena sulit ditemui, sehingga tidak jelas apa penyakitnya. Katanya, jantung ayahnya membengkak. Ketika masuk RS ayahnya masih bisa berjalan, keluar dari rumah sakit itu malah harus memakai ambulans.

Hal lain terjadi sebaliknya. Ibu Lydia yang kesaksiannya saya muat di dalam buku "Mukjizat Kehidupan" harus membawa ibunya yang berusia 75 tahun ke Singapura. Selama dirawat di Jakarta dokter tidak menemukan penyakit mamanya. Ketika diperiksa di RS Singapura, dokter dengan kaget menemukan bahwa usus buntu mamanya telah pecah dan terkena infeksi. Dokter harus mengoperasi dua kali luka akibat pecahnya appendix atau usus buntu ini.

Beberapa minggu ibu Lydia harus menunggui ibunya yang kondisi kesehatannya cukup kritis. Bahkan hari Minggu malam, tanggal 11 Januari 2009 yang lalu, mama ibu Lydia sangat kritis, paru-parunya dipenuhi cairan, dan sudah dirawat di ICU. Yang luar biasa, para dokter seperti dibimbing Tuhan untuk melakukan tindakan medis yang diperlukan untuk mengatasi kondisi kritis akibat infeksi yang telah menyebar itu. Akhirnya pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2009 lalu, mama ibu Lydia secara ajaib dapat dipulihkan, dan hari Sabtu 17 Januari 2009 lalu mamanya dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Puji Tuhan!

Mama ibu Lydia adalah seorang pendoa syafaat. Meskipun sudah berusia lanjut, ia masih aktif melayani Tuhan. Ia senang sekali mengurus wisma retreat milik anaknya yang terletak di daerah Ciputat. Di wisma yang dijadikan rumah doa itu seringkali dipakai untuk kegiatan-kegiatan gereja, di antaranya oleh Abbalove Ministry.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, January 14, 2009

The Power of Prayer

KEKUATAN DOA DALAM PENYEMBUHAN
Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen, kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di California.

Suamiku, David, tergores jarinya ketika ia menutup kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya akan dilangsungkan segera sesudah hari Natal.

Pada Malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan simpati bersama-sama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada acara pemakaman.

Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk. Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak bisa menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelepon dokter kami di Utah.

Menurut dokter, David mungkin terserang influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman Nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.

Acara pemakaman itu bisa menjadi sarana reuni yang hangat dengan saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia mempunyai hidup yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang memperingatkannya, "Anda memerlukan ambulans sekarang." Setelah mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar 911.

Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.

Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu sisi badannya. "Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah seseorang menendangnya?" mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi.

"Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin 'necrotizing fasciitis', atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging. Apakah Anda pernah mendengarnya?"

"Tidak," jawabku.

"Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi. Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?"

"Jarinya luka terkena retsleting ketika ia menutup kopor, hanya itu."

"Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu. Ia mempunyai kesempatan hidup 5 -- 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai membedahnya."

Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. "Menurutku, kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya," jawabku.

Semua anak kami masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka.

Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena suatu penyakit yang sangat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu kepadanya, "Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup."

Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan, ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama.

Aku berkata, "Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi." Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.

Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku memohon agar mereka menelepon orang-orang yang kami kenal dan meminta orang-orang tersebut agar berdoa untuk David: "Dua jam setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia! Aku percaya akan mukjizat dan kuasa doa." Hari itu, ratusan teman kami sedang berdoa untuk David.

Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa seakan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian.

Saat itu, ada sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka memunyai spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi.

David ditempatkan di dalam ruang "hyperbaric" selama beberapa jam setiap hari. Ruang ini bertekanan dan mempunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam. Tekanannya dinaikkan agar zat asam langsung masuk ke dalam sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.

Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama berbicara kepadaku secara jujur. "Aku memunyai perasaan tak enak mengenai hal ini," katanya memperingatkan. "Menurutku, bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya."

Aku pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu, aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk keluar dari kegelapan yang menyelimutiku.

Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.

Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia akan mendatangkan seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan sebagian besar kulit dan ototnya. "Tetapi, David seorang pemain piano," aku memprotes. "Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat bahwa David adalah seorang pemain piano."

Di rumah, kami memutuskan untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama seminggu, para ahli bedah datang dan mereka siap untuk mengamputasi lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena lengan itu masih memunyai sejumlah jaringan yang sehat. Meskipun demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.

Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya. "Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakkannya, tetapi bermain piano masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis," ahli bedah mengatakan kepadanya. "Lagipula, andaikata Anda tiba di lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua." David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia segera menantang ahli bedah itu untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.

David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai tertutup oleh kulit yang baru.

Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain piano di rumah. Menurutku, bila ia dapat bermain beberapa nada, aku akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan.

Dengan kekhawatiran, David meletakkan kedua tangannya di atas deretan tuts piano. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja? Apakah keterampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan napas. David mulai bermain. Secara luar biasa, ia masih dapat memainkan piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.

Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya.

Ketika Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kami dapat berlibur tanpa seorang pun yang sakit atau masuk rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelepon ahli bedahnya dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tenis. Si ahli bedah senang mendengarkan tantangannya.

Pada malam Natal, David dan dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.

Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjizat melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David hidup, ia tetap memunyai kedua lengannya, serta ia dapat bermain tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.

Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah menjadi doa ucapan syukur. (Kiriman email dari Ibu Suharti Ali)

Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku : The Magic of Christmas Miracles
Judul artikel: Kekuatan Doa dalam Penyembuhan
Penulis : Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman : 104 – 111

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 24, 2008

Blessed Corporately and Personally

Inilah kesaksian dari Bapak Pdt. Hanny Andries, Gembala GBI Batam, tentang perkembangan jemaat di sana, yang bersumber dari majalah HM3, edisi Oktober 2008. Dia melayani gereja itu sejak tahun 1996, menggantikan Pdt. Jimmy Mulya yang melayani di GBI Singapura. Pada waktu tahun 1996 itu jumlah jemaat masih terbilang dua ratus orang, lalu menjadi 2500 orang pada tahun 2000, dan pada tahun 2008 ini lebih dari 7500 orang, hanya di Batam saja, belum termasuk gereja-gereja lain yang dirintis di luar Batam, lebih dari 35 lokasi dengan 45 kali ibadah raya.

Pada tahun 1998, Bapak Pdt. Niko Njotorahardjo, sebagai gembala pembina, memberikan visi dan motivasi kepada jemaat Batam untuk membangun menara doa untuk mengawal kota Batam dalam doa, pujian, dan penyembahan kepada Tuhan selama 24 jam. Maka pada tahun 1998 itu juga Pdt. Hanny Andries memulai menara doa itu hanya berempat, dirinya dan isterinya dan dua pendoa syafaat lain. Kini setiap bulan tidak kurang dari 2000 jemaat ambil bagian dalam menara doa sepanjang 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, secara bergantian.

Pada tahun 1998 beberapa pendoa syafaat dengan tuntunan Roh Kudus berdoa mengurapi tanah kosong yang masih berupa semak belukar di kawasan Batam Center. Pada bulan Agustus 1999, seorang pengembang properti dari Singapura menghibahkan tanah seluas 4.500 m2 tepat di lokasi yang pernah didoakan tersebut. Bagi mereka tanah itu sudah cukup luas, tetapi bagi Tuhan itu tidak cukup. Dua bulan kemudian Tuhan menggerakkan hati orang asing itu untuk mengubahnya menjadi 8.320 m2. Puji Tuhan!

Dalam mendapatkan IMB bagi bangunan gereja, ternyata campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Setelah menunggu berbulan-bulan melewati berbagai kesukaran, pada tanggal 6 Desember 2000 pihak gereja mendapat berita bahwa berkas-berkas permohonan IMB yang sudah mereka ajukan ternyata dinyatakan hilang dan mereka harus mengajukan ulang. Para pendoa syafaat kembali mengadakan peperangan rohani. Pada tanggal 20 Desember 2000 mereka kembali mengajukan berkas permohonan IMB gereja. Ajaib! Belum pernah terjadi dimanapun, dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 Desember 2000, IMB mereka peroleh, ditambah bonus: Surat Balik Nama Tanah. Allah kita memang luar biasa!

Dua hari setelah IMB didapatkan, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2000, di tengah ibadah raya Natal, jemaat mendapatkan 3 buah bom meledak, dua bom meledak di tengah-tengah jemaat. Puji Tuhan, ledakan bom yang menghancurkan dinding gedung, kursi, bahkan pakaian jemaat, namun tidak sanggup melukai seorangpun.

Tuhan mengubah rancangan iblis itu menjadi kemuliaan bagi Dia. Sejak peristiwa ledakan bom di malam Natal tersebut, pertumbuhan jemaat justru meningkat secara drastis, baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Cara hidup jemaat berubah, mereka jadi semakin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Ini terjadi karena Roh Allah yang bekerja.

Selain kasih karunia Tuhan dalam perkara-perkara di atas, Pdt. Hanny Andries juga mengakui betapa hanya Tuhan saja yang mencukupkan kebutuhan dana untuk pembangunan gedung gereja Tabgha yang megah itu. Dana milyaran rupiah yang diperlukan untuk pembangunan tidak pernah terpikirkan dapat terkumpul di jemaat Batam yang kebanyakan adalah para karyawan. Namun apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar telinga, itulah yang disediakan Tuhan.

Yang menarik, beberapa minggu lalu saya mendengar kesaksian Pdt. Hanny Andries tentang berkat-berkat dalam kehidupan pribadinya. Selama ini dia telah mencurahkan segala daya dan upayanya untuk bekerja sama dengan Tuhan membangun jemaat GBI Batam yang kini memiliki gedung gereja Tabgha yang bentuknya diilhami Roh Kudus untuk meniru bentuk Bait Salomo, dan juga merintis gereja-gereja lain di luar Batam.

Selama itu dia tidak memikirkan untuk hidup "mewah" bagi hamba Tuhan yang sederhana dan rendah hati itu. Salah satu contoh, dia merasa oke saja memakai kendaraan sejenis Kijang atau Panther sebagai kendaraan pribadinya, yang sering dipakai juga untuk menjemput hamba-hamba Tuhan internasional yang sudah terkenal namanya. Dia merasa "rohani" ketika bisa hidup sederhana seperti itu. Namun pada suatu saat ada seorang hamba Tuhan yang "menegur" pola hidupnya. "Tahu tidak, dengan cara itu, anda menghina Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja! Dia ingin anda mencerminkan kemuliaan dan kehormatan sebagai anak Raja!"

Sejak saat itu Pdt. Hanny mencari kehendak Tuhan, mencari konfirmasi, apakah dia layak mengingini mobil yang lebih baik dari sekedar Kijang lama atau Panther. Dia akhirnya memberanikan diri meminta mobil yang lebih baik. Dan ternyata Tuhan memberkati dia dengan mobil baru, sebuah Toyota Fortuner!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Personal Note:
Buku "Mukjizat Kehidupan" pesanan Bpk. Sugi dari Jakarta Barat sudah dikirim dengan pos express pada hari Jumat ini. Terima kasih atas pesanannya. Gbu.

Thursday, October 16, 2008

Faith and Work

Ini adalah kisah yang saya dengar dari almarhum Pendeta Derek Prince. Pada suatu hari dia diminta mendoakan seseorang yang kaki kirinya lebih pendek 1,5 inch dari kaki kanannya akibat serangan sakit polio.

Pada waktu didoakan, di depan mata orang banyak, kaki kiri itu memanjang hingga sama dengan kaki kanan. Itulah mukjizat Tuhan! Namun yang mengherankan Derek Prince adalah ketika orang ini mengeluarkan dari dalam tasnya sepasang sepatu yang tinggi haknya sama. Selama ini ia memakai sepatu yang haknya tidak sama untuk mengganjal perbedaan tinggi kakinya. Rupanya sejak awal orang ini percaya bahwa suatu hari kakinya akan dipulihkan Tuhan dan akan sama tinggi, sehingga pada waktu itu ia mempersiapkan sepatu dengan hak yang sama tinggi. Ia bukan hanya berdoa untuk kesembuhan kakinya saja, tetapi ia juga bertindak mempersiapkan sepatu, apabila suatu saat kakinya dipulihkan tentu ia memerlukan sepatu normal. Itu adalah iman yang disertai dengan perbuatan.

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, October 5, 2008

The Blessing of Corporate Lives

Seorang ibu mengaku menderita myom sampai sebesar 9 cm di kandungannya. Karena di gereja itu gembalanya memaparkan ada berkat karena kebersamaan jemaat sebagai suatu tubuh Kristus, maka ketika ia selesai mendoakan pokok-pokok doa untuk jemaat, kota dan bangsa, ia memohon didoakan untuk sakit myom-nya. Kemudian pada waktu ibadah raya di gereja juga ia berdoa lagi dan ia merasa ada suatu tangan yang menyentuh dahinya, bukan tangan siapa-siapa, karena di depannya tidak ada siapa-siapa.

Ketika ibu ini diperiksa oleh dokter kandungannya untuk diadakan tindakan (bedah), sang dokter kaget karena myom itu "clear" atau hilang. Si ibu ini juga merasa kaget karena tidak menyangka telah menerima mukjizat kesembuhan. Sekarang ia percaya bahwa ketika ia berdoa di gereja, itulah tangan Tuhan Yesus yang berlubang paku yang menyentuh dahinya. Ketika ia diperiksa dalam kaitan untuk proses asuransi kesehatan, test USG juga tidak menunjukkan adanya myom di tubuhnya lagi. Ketika kita bersama-sama sebagai anggota tubuh Kristus, ada berkat-berkat yang dapat diperoleh karena kebersatuan Tubuh Kristus. Puji Tuhan!

"Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 13, 2008

The Power of Prayer

The Power of Prayer-- Author Unknown

Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…

Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.

Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.

Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.

Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”

Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)


****
The Power of Prayer

A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...

"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.

This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.

Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.

Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.

We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.

BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.

****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.

Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)

Tuesday, August 12, 2008

Prayer Warriors to Vietnam

Teman saya, Penatua Sumarno Kosasih dari Abbalove Ministry, bersama team mengadakan perjalanan doa syafaat ke Vietnam. Berikut ini adalah laporan yang mereka buat.

Sejak tahun lalu team doa kami telah melakukan perjalanan doa keliling di beberapa kota di Indonesia. Tahun ini Tuhan memberikan pernyataan bahwa kami diberi kehormatan untuk melanjutkan perjalanan doa keliling itu ke negara-negara di Asia Tenggara. Fokus doa kami kemudian diarahkan ke tiga negara, yaitu Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.

Pada tanggal 15-17 Februari 2008 yang lalu dimulailah perjalanan doa ke Vietnam. Team doa kami terdiri dari 14 orang. Sebelum perjalanan doa keliling ini kami telah mengirim "contact person" kami yang melakukan survai dan mengatur perjalanan menuju sebuah Pagoda yang terletak di sebuah gunung di utara kota Hanoi.

Pada tanggal 15 Februari 2008 team kami memberikan training tentang peperangan rohani kepada sekitar 40 orang anggota jemaat dari gereja lokal di Hanoi. Selama tiga sesi team kami memberikan pengajaran serta menjelaskan mengapa kami datang berdoa syafaat. Kami juga menyampaikan pesan-pesan Tuhan untuk Vietnam yang didapat ketika team berdoa di Speed Plaza, Jakarta. Selesai training, ada 15 orang Vietnam yang bersedia ikut berdoa syafaat bersama kami ke Pagoda.

Cuaca di Hanoi saat itu sedang musim dingin, dengan suhu udara sekitar 10 derajat Celsius. Hari itu hujan turun terus menerus, disertai angin kencang dan kabut. Semua perlengkapan telah disiapkan dengan matang untuk pergi ke lokasi doa yang terletak di sebuah puncak gunung dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut.

Menuju lokasi tersebut team kami harus menginap semalam di kota Halong City yang dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Hanoi. Keesokan harinya jam 8 pagi semua anggota team telah bersiap-siap untuk naik bis menuju lokasi doa. Pada hari kami tiba adalah hari raya ziarah umat agama lain di Vietnam. Kami mendaki gunung bersama-sama dengan ribuan orang yang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah di atas gunung itu.

Pendakian dimulai dengan berjalan kaki dan menggunakan dua kali Cable Car. Sampai di lokasi Cable Car yang kedua, team kami bersama team Vietnam sempat beristirahat sejenak karena kami masih harus menempuh pendakian terakhir menuju puncak dengan berjalan kaki. Pendakian ini cukup berat karena medan yang terjal dan banyak bebatuan.

Akhirnya pada jam 6 malam, seluruh anggota team tiba di puncak gunung. Pagoda itu sangat besar, dengan banyak patung-patung, lonceng, api pedupaan dan api pembakaran korban penyembahan yang dibawa para peziarah. Hujan rintik-rintik dan angin kencang menyambut kedatangan team kami. Oleh karena itu kami harus mencari tempat perlindungan. Untunglah ada sebuah bangunan yang kosong, sehingga kami memasukinya dan berteduh di sana sambil menahan kedinginan karena suhu udara pada malam itu di puncak gunung sekitar 0 derajat Celsius.

Waktu doa yang Tuhan perintahkan kepada team kami adalah jam 12 malam. Sementara menunggu, salah salah seorang anggota team terdorong untuk melayani team Vietnam yang ikut bersama kami. Anggota team Vietnam itu didoakan dan kami menyampaikan nubuatan-nubuatan yang kami terima dari Tuhan kepada setiap anggota team Vietnam. Sementara itu anggota team kami yang lain sempat berkenalan dengan pemimpin Pagoda itu dan sempat dijamu dengan teh hangat yang memang sangat dibutuhkan.

Pada jam 11 malam, ketika para peziarah lokal sudah meninggalkan Pagoda, kami mulai menyanyikan pujian-pujian kepada Tuhan dan melakukan peperangan rohani. Sangat terasa atmosfir konfrontasi berlangsung di gunung itu. Tepat jam 12 malam team doa kami melangkah keluar dari tempat perteduhan dan menuju ke depan Pagoda tersebut. Pada saat menghadap ke arah wilayah Vietnam kami mendeklarasikan dan bernubuat bagi Vietnam agar dilawat Tuhan, agar keselamatan yang dari Tuhan sampai kepada orang-orang Vietnam. Kami berdoa menangisi jiwa-jiwa yang masih terikat dosa dan terikat kuasa kegelapan. Kami berdoa memohon belas kasihan Bapa dicurahkan di Vietnam. Kami berdoa agar Vietnam dipenuhi dengan pengenalan akan kasih Kristus.

Malam itu juga kami kembali turun gunung, tanpa Cable Car yang sudah berhenti beroperasi. Meskipun berat dan dililit kedinginan, hati kami bersukacita karena kami tahu Tuhan pasti telah menjawab doa-doa kami dan kami akan melihat banyak orang Vietnam menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Puji Tuhan! Sumber: AbbaNews.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI