Kisah hidup Regina ternyata begitu berat & mengharukan, benar-benar sebuah perjuangan hidup sejak dia kecil. Sewaktu kecil dia pernah mengalami kecelakaan. Regina, ibu dan adiknya selamat, sedangkan ayahnya meninggal dunia.
Regina mengalami patah kaki sampai harus operasi dua kali.
Ibunya menikah lagi, tapi kemudian ayah tirinya juga meninggal dunia.
Karena tertipu investasi, ibunya harus menggadaikan rumah,
sampai akhirnya rumahnya dijual dan membeli rumah kecil yang sekarang dia tempati bersama ibu & dua orang adiknya.
Demi mencukupi kebutuhan hidup, Regina sejak kelas 1 SMU menyanyi di kafe.
Kehidupan sehari-harinya juga mengandalkan bantuan dari saudara-saudara ibunya dan setiap bulan mereka mendapat paket sembako dari gereja.
Seperti kita ketahui, Regina gagal mengikuti Indonesian Idol sampai 6 kali. Tapi, dia tidak putus asa, berjuang terus sampai ke-7 kalinya dia berhasil.
"The winner sees an answer for every problem.
The looser sees the problem in every answer".
"Seorang pemenang slalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah,
Sedang seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban."
TUHAN menguji kesabarannya selama 6 tahun, TUHAN menempa mentalnya dan TUHAN membuat indah pada waktu-NYA.
Keberhasilan Regina di Indonesian Idol adalah jawaban TUHAN atas kesabaran dan perjuangannya, terlebih atas doa-doanya.
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
tetapi TUHANlah yg menentukan arah langkahnya.
Regina menjadi Indonesian Idol 2012 yang nantinya akan di ikut-sertakan dalam ajang Asian Idol.
"KEMENANGAN ADALAH MILIK ORANG-ORANG YANG BERDOA DAN BERJUANG!!"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Showing posts with label Sukses - Success Story. Show all posts
Showing posts with label Sukses - Success Story. Show all posts
Wednesday, July 11, 2012
Saturday, February 25, 2012
Kisah Azie Taylor Morton
Kisah Azie Taylor Morton
Kisah ini sudah lama saya dengar, baru sempat diposting hari ini.
Suatu hari seorang wanita memperkenalkan diri dalam konferensi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di AS dan berkata, "Saya adalah anak haram dan ibu saya adalah seorang bisu tuli yang sangat miskin. Suatu hari ibu saya diperkosa oleh seorang pria, sehingga saya tidak pernah mengetahui siapa ayah saya. Kami hidup sangat miskin, sehingga dalam umur yang masih sangat muda, saya harus bekerja bersama dengan ibu saya sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kapas. Saya membenci keadaan saya dan saya kecewa kepada Tuhan karena Dia tidak adil. Saya tidak dapat memahami mengapa saya harus dilahirkan di dunia ini, sedangkan saya tidak berguna sama sekali."
Kalimat di atas kedengarannya seperti isi hati kita ketika kita kecewa kepada Tuhan, saat kita tidak diterima oleh sekeliling kita dan dicampakkan di dunia ini karena latar belakang yang menyedihkan, sehingga kita bertanya-tanya, "Mengapa saya dilahirkan?"
Tapi dengarkan kelanjutan kisah wanita tersebut:
"Suatu hari ada sesuatu di dalam hati saya berkata-kata, "Azie, kamu dapat memilih. Kamu mau tetap seperti ini atau kamu mau keluar dari perasaan tidak berguna ini. Pilihan ada di tanganmu!"
Akhirnya saya memilih untuk keluar dari rasa tidak berguna ini. Saya mulai bekerja dengan giat untuk mencari uang demi membiayai sekolah saya dan ibu saya."
Wanita tersebut bekerja keras dan akhirnya dia meraih kesuksesan.
Hari itu wanita yang pada mulanya memperkenalkan diri sebagai seorang anak haram tersebut, berdiri di hadapan para mahasiswa sebuah universitas terkenal untuk membuktikan KEKUATAN DARI SEBUAH PILIHAN dan kini dia juga tahu bahwa Tuhan sangat mengasihinya.
Dia adalah Azie Taylor Morton (1936-2003), Menteri Keuangan Amerika Serikat pada zaman Presiden Jimmy Carter, tanda tangannya ada di uang kertas US Dollar selama 3 tahun.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kisah ini sudah lama saya dengar, baru sempat diposting hari ini.
Suatu hari seorang wanita memperkenalkan diri dalam konferensi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di AS dan berkata, "Saya adalah anak haram dan ibu saya adalah seorang bisu tuli yang sangat miskin. Suatu hari ibu saya diperkosa oleh seorang pria, sehingga saya tidak pernah mengetahui siapa ayah saya. Kami hidup sangat miskin, sehingga dalam umur yang masih sangat muda, saya harus bekerja bersama dengan ibu saya sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kapas. Saya membenci keadaan saya dan saya kecewa kepada Tuhan karena Dia tidak adil. Saya tidak dapat memahami mengapa saya harus dilahirkan di dunia ini, sedangkan saya tidak berguna sama sekali."
Kalimat di atas kedengarannya seperti isi hati kita ketika kita kecewa kepada Tuhan, saat kita tidak diterima oleh sekeliling kita dan dicampakkan di dunia ini karena latar belakang yang menyedihkan, sehingga kita bertanya-tanya, "Mengapa saya dilahirkan?"
Tapi dengarkan kelanjutan kisah wanita tersebut:
"Suatu hari ada sesuatu di dalam hati saya berkata-kata, "Azie, kamu dapat memilih. Kamu mau tetap seperti ini atau kamu mau keluar dari perasaan tidak berguna ini. Pilihan ada di tanganmu!"
Akhirnya saya memilih untuk keluar dari rasa tidak berguna ini. Saya mulai bekerja dengan giat untuk mencari uang demi membiayai sekolah saya dan ibu saya."
Wanita tersebut bekerja keras dan akhirnya dia meraih kesuksesan.
Hari itu wanita yang pada mulanya memperkenalkan diri sebagai seorang anak haram tersebut, berdiri di hadapan para mahasiswa sebuah universitas terkenal untuk membuktikan KEKUATAN DARI SEBUAH PILIHAN dan kini dia juga tahu bahwa Tuhan sangat mengasihinya.
Dia adalah Azie Taylor Morton (1936-2003), Menteri Keuangan Amerika Serikat pada zaman Presiden Jimmy Carter, tanda tangannya ada di uang kertas US Dollar selama 3 tahun.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, April 14, 2009
Boyle's Got Talent, 47 years old - Never Been Kissed
Boyle's Got Talent
by Mike Krumboltz
April 13, 2009 12:53:39 PM
"American Idol" isn't the only launching pad for aspiring singers. Across the pond, "Britain's Got Talent" scored a huge boost in the Buzz after an unassuming contestant gave an amazing performance.
Susan Boyle (remember that name) became a Web phenomenon after singing "I Dreamed a Dream" from Les Miserables. The performance brought the audience to its feet and left the judges (including Simon Cowell) either speechless or in tears.
Before going on stage, Ms. Boyle admitted some self-deprecating facts about herself (she's never been kissed and lives alone with her cat, Pebbles). For those reasons and more, audiences were expecting the female William Hung. They were wrong.
Lookups on the sudden star posted huge gains. A no-name just the other day, Ms. Boyle quickly surged into our top 5,000 overall searches. Blogs and gossip rags went wild. The Mirror jumped on the story, reporting that while Ms. Boyle thought she "looked like a garage" on TV, she received a standing ovation when she showed up at her local church.
Other sources write that as a child, Ms. Boyle was the target of bullies because of a disability. But, with her newfound fame, she is getting the last laugh. In fact, she's already meeting with officials from Mr. Cowell's Sony BMG label. This may have been the first you've heard of her, but it certainly won't be the last. You can watch her performance below...
http://buzz.yahoo.com/buzzlog/92464?fp=1
Sumber: Yahoo.com
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
by Mike Krumboltz
April 13, 2009 12:53:39 PM
"American Idol" isn't the only launching pad for aspiring singers. Across the pond, "Britain's Got Talent" scored a huge boost in the Buzz after an unassuming contestant gave an amazing performance.
Susan Boyle (remember that name) became a Web phenomenon after singing "I Dreamed a Dream" from Les Miserables. The performance brought the audience to its feet and left the judges (including Simon Cowell) either speechless or in tears.
Before going on stage, Ms. Boyle admitted some self-deprecating facts about herself (she's never been kissed and lives alone with her cat, Pebbles). For those reasons and more, audiences were expecting the female William Hung. They were wrong.
Lookups on the sudden star posted huge gains. A no-name just the other day, Ms. Boyle quickly surged into our top 5,000 overall searches. Blogs and gossip rags went wild. The Mirror jumped on the story, reporting that while Ms. Boyle thought she "looked like a garage" on TV, she received a standing ovation when she showed up at her local church.
Other sources write that as a child, Ms. Boyle was the target of bullies because of a disability. But, with her newfound fame, she is getting the last laugh. In fact, she's already meeting with officials from Mr. Cowell's Sony BMG label. This may have been the first you've heard of her, but it certainly won't be the last. You can watch her performance below...
http://buzz.yahoo.com/buzzlog/92464?fp=1
Sumber: Yahoo.com
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Rudy
"Rudy" is a 1993 film directed by David Anspaugh. It is an account of the life of Daniel "Rudy" Ruettiger who harbored dreams of playing football at the University of Notre Dame despite significant obstacles. It was the first movie the Notre Dame administration allowed to be shot on campus since Knute Rockne, All American in 1940. In 2005 Rudy was named one of the best 25 sports movies of the previous 25 years in two polls by ESPN (#24 by a panel of sports experts, and #4 by espn.com users).[1] The film was released on October 13, 1993 by TriStar Pictures.
Daniel "Rudy" Ruettiger (Sean Astin) grew up dreaming of playing football at the University of Notre Dame. While achieving some success with his local high school football team, Ruettiger lacks the grades and money to attend Notre Dame, and talent and physical size (the real Ruettiger was only 5'6" and the film suggests that the fictional Rudy was even smaller than that) to play football for the Fighting Irish. Instead, he takes a job at the local steel mill where his father Daniel Ruettiger Sr. (Ned Beatty) (a huge Notre Dame fan) works, and he prepares to settle down.
When his best friend Pete is killed in an explosion at the mill, Rudy decides to follow his dream of attending Notre Dame and playing college football for the Fighting Irish, and leaves for Notre Dame, against his father's warning that "Ruettigers don't belong at college." Ruettiger fails to get admitted to Notre Dame, and instead goes to a small junior college, Holy Cross College, hoping to qualify for a transfer to the university.
During his final semester of eligibility transfer, he is granted admission to Notre Dame. After walking onto football practice tryouts, Ruettiger convinces coach Ara Parseghian (Jason Miller) to give him a spot on the football practice team, where Rudy exhibits more drive and desire than some of his big-name varsity teammates.
Upon Dan Devine's installation as head coach, Ruettiger fears he will lose the chance to dress for a home game, an arrangement he had with Parseghian. Late in the season of 1975, his teammates, led by team captain and All-American Roland Steele, rise to his defense, pressuring Devine to allow Rudy to suit up for the final game of the season in their place by putting their jerseys, one at a time, on top of Devine's desk .
The final game of the season comes, against Georgia Tech. And while Rudy is suited up, his teammates feel this is not enough. One of the varsity players starts a chant that soon goes stadium wide. Coach Devine eventually gives in and lets Rudy play on the final kickoff. Rudy then stays in for the final play of the game and sacks the opposing quarterback. The final scene depicts him being carried off the field by his teammates.
Saksikan cuplikan video Rudy :
Rudy Tribute Video at http://www.youtube.com/watch?v=V5L0ThLloD8
Sumber: Wikipedia
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
******
Notes:
- Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Handojo di Jakarta. Buku segera dikirim dengan pos kilat khusus hari ini. God bless you, pak Handojo.
- Saya mohon maaf jika banyak posting dalam bahasa Inggris, belum sempat diterjemahkan karena kesibukan saya. Gbu.
Daniel "Rudy" Ruettiger (Sean Astin) grew up dreaming of playing football at the University of Notre Dame. While achieving some success with his local high school football team, Ruettiger lacks the grades and money to attend Notre Dame, and talent and physical size (the real Ruettiger was only 5'6" and the film suggests that the fictional Rudy was even smaller than that) to play football for the Fighting Irish. Instead, he takes a job at the local steel mill where his father Daniel Ruettiger Sr. (Ned Beatty) (a huge Notre Dame fan) works, and he prepares to settle down.
When his best friend Pete is killed in an explosion at the mill, Rudy decides to follow his dream of attending Notre Dame and playing college football for the Fighting Irish, and leaves for Notre Dame, against his father's warning that "Ruettigers don't belong at college." Ruettiger fails to get admitted to Notre Dame, and instead goes to a small junior college, Holy Cross College, hoping to qualify for a transfer to the university.
During his final semester of eligibility transfer, he is granted admission to Notre Dame. After walking onto football practice tryouts, Ruettiger convinces coach Ara Parseghian (Jason Miller) to give him a spot on the football practice team, where Rudy exhibits more drive and desire than some of his big-name varsity teammates.
Upon Dan Devine's installation as head coach, Ruettiger fears he will lose the chance to dress for a home game, an arrangement he had with Parseghian. Late in the season of 1975, his teammates, led by team captain and All-American Roland Steele, rise to his defense, pressuring Devine to allow Rudy to suit up for the final game of the season in their place by putting their jerseys, one at a time, on top of Devine's desk .
The final game of the season comes, against Georgia Tech. And while Rudy is suited up, his teammates feel this is not enough. One of the varsity players starts a chant that soon goes stadium wide. Coach Devine eventually gives in and lets Rudy play on the final kickoff. Rudy then stays in for the final play of the game and sacks the opposing quarterback. The final scene depicts him being carried off the field by his teammates.
Saksikan cuplikan video Rudy :
Rudy Tribute Video at http://www.youtube.com/watch?v=V5L0ThLloD8
Sumber: Wikipedia
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
******
Notes:
- Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Handojo di Jakarta. Buku segera dikirim dengan pos kilat khusus hari ini. God bless you, pak Handojo.
- Saya mohon maaf jika banyak posting dalam bahasa Inggris, belum sempat diterjemahkan karena kesibukan saya. Gbu.
Monday, April 13, 2009
Success Secrets of a Three-Time Olympian
Everyone reading this article is six inches away from experiencing huge successes and breakthroughs in their life. Six inches? Sure!That's the distance between your ears.
What I'm saying is we were created with all the resources needed to make our fondest dreams come true. We only need to learn how to program our brain properly. Ninety percent of the input we get in the world is negative. And ninety percent of the things we tell ourselves are negative. So it is critical to learn techniques to replace the negative with positive.
In life you don't get what you want. You get what you are. The best way to improve yourself is to change what goes into your mind. We are a product of what goes into our minds. What you think determines what you do. What you do determines what you accomplish.
Olympic Athletes understand this. We know that what we put in our mind will ultimately determine how well we do in our competition. Think of each thought as a computer 'bit', the smallest unit of information possible. Many thoughts add up to become beliefs. What we believe determines how high we will go. The good news is there are ways to raise your belief level.
Beliefs are extremely important. For example, in April 1954, the belief in the world was that no one could run the mile in less than four minutes. Then along came Roger Bannister. Bannister did what nobody in the history of the world had ever done. He broke the four-minute mile barrier! The phenomenal thing is that later the same month, several other athletes did it too! And since then, over 20,000 people have run the mile in under four minutes. What changed? The BELIEF changed. All of a sudden athletes knew 'If Roger can do it so can I.'
Most people never attempt to do something they don't believe they can do.
Ever since I was in the third grade I wanted to be an Olympic Athlete. I respected the Olympians because they were an example of what I believed in - they are willing to commit to a goal, willing to risk adversity in the pursuit of it, willing to fail and at the same time keep trying until they succeeded. But it was not until I was in college and saw Scott Hamilton compete in the Sarajevo games that I made a decision to train for the Olympics.
How did I raise my self-belief level between third grade and college? Two ways - through what I read and through the people I associated with.
I read countless biographies of great people. Before long, I realized that the common denominator in the success of those great people was the fact they had a dream they were passionate about and they never gave up. Perseverance is the best trait you can have. But how do you keep yourself going when the going gets tough? It comes back to your beliefs.
The other thing I did to raise my self-esteem was to regularly associate with people I respected. When you hang around people that think big, you start to think big. And when people you have respect for believe in you, you start to believe in yourself.
Four years after making a decision to begin training for the Olympics, I had the honor of competing in the 1988 Calgary Winter Olympics in the luge. I went on to compete in the 1992 Albertville Olympics and I just competed in the 2002 Salt Lake City Olympics at the age of 39.
How does someone who did not even take up the sport of luge until he was 22 become a Three-Time Olympian? As I tell thousands of people in my speeches, I'm not a big shot. I'm just a little shot that keeps on shooting. I'm proof that ordinary people can accomplish extraordinary things if they will just put the right things into their minds.
Sumber: Ruben The Luge Man.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
What I'm saying is we were created with all the resources needed to make our fondest dreams come true. We only need to learn how to program our brain properly. Ninety percent of the input we get in the world is negative. And ninety percent of the things we tell ourselves are negative. So it is critical to learn techniques to replace the negative with positive.
In life you don't get what you want. You get what you are. The best way to improve yourself is to change what goes into your mind. We are a product of what goes into our minds. What you think determines what you do. What you do determines what you accomplish.
Olympic Athletes understand this. We know that what we put in our mind will ultimately determine how well we do in our competition. Think of each thought as a computer 'bit', the smallest unit of information possible. Many thoughts add up to become beliefs. What we believe determines how high we will go. The good news is there are ways to raise your belief level.
Beliefs are extremely important. For example, in April 1954, the belief in the world was that no one could run the mile in less than four minutes. Then along came Roger Bannister. Bannister did what nobody in the history of the world had ever done. He broke the four-minute mile barrier! The phenomenal thing is that later the same month, several other athletes did it too! And since then, over 20,000 people have run the mile in under four minutes. What changed? The BELIEF changed. All of a sudden athletes knew 'If Roger can do it so can I.'
Most people never attempt to do something they don't believe they can do.
Ever since I was in the third grade I wanted to be an Olympic Athlete. I respected the Olympians because they were an example of what I believed in - they are willing to commit to a goal, willing to risk adversity in the pursuit of it, willing to fail and at the same time keep trying until they succeeded. But it was not until I was in college and saw Scott Hamilton compete in the Sarajevo games that I made a decision to train for the Olympics.
How did I raise my self-belief level between third grade and college? Two ways - through what I read and through the people I associated with.
I read countless biographies of great people. Before long, I realized that the common denominator in the success of those great people was the fact they had a dream they were passionate about and they never gave up. Perseverance is the best trait you can have. But how do you keep yourself going when the going gets tough? It comes back to your beliefs.
The other thing I did to raise my self-esteem was to regularly associate with people I respected. When you hang around people that think big, you start to think big. And when people you have respect for believe in you, you start to believe in yourself.
Four years after making a decision to begin training for the Olympics, I had the honor of competing in the 1988 Calgary Winter Olympics in the luge. I went on to compete in the 1992 Albertville Olympics and I just competed in the 2002 Salt Lake City Olympics at the age of 39.
How does someone who did not even take up the sport of luge until he was 22 become a Three-Time Olympian? As I tell thousands of people in my speeches, I'm not a big shot. I'm just a little shot that keeps on shooting. I'm proof that ordinary people can accomplish extraordinary things if they will just put the right things into their minds.
Sumber: Ruben The Luge Man.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, April 7, 2009
If
If you can bring a special understanding
To all of those entrusted to your care
And meet their needs, no matter how demanding
With patience and energy to spare;
If you can lend each task your full devotion,
And always try to listen and to cheer,
If you can learn to understand emotion,
And comfort others just by being near;
If you look forward with anticipation
to meeting special challenges each day,
If you keep your faith and dedication
Whenever disappointment comes your way;
If you take pride in giving your profession
The finest skills and talents you possess,
Then all your dreams and goals will find expression
And, as a person, you'll be a great success.
Author Unknown
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
To all of those entrusted to your care
And meet their needs, no matter how demanding
With patience and energy to spare;
If you can lend each task your full devotion,
And always try to listen and to cheer,
If you can learn to understand emotion,
And comfort others just by being near;
If you look forward with anticipation
to meeting special challenges each day,
If you keep your faith and dedication
Whenever disappointment comes your way;
If you take pride in giving your profession
The finest skills and talents you possess,
Then all your dreams and goals will find expression
And, as a person, you'll be a great success.
Author Unknown
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, March 24, 2009
Advices on Health, Personality, Society, and Life
A handbook for each and every year indeed!
Health:
1. Drink plenty of water.
2. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar.
3. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
4. Live with the 3 E's -- Energy, Enthusiasm, and Empathy..
5. Make time to practice meditation and prayer.
6. Play more with your children.
7. Read more books than you did in 2008.
8. Sit in silence for at least 10 minutes each day.
9. Sleep for 7 hours.
10. Take a 10-30 minutes walk every day.. And while you walk, smile.
Personality:
11. Don't compare your life to others'. You have no idea what their journey is all about.
12. Don't have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
13. Don't over do. Keep your limits.
14. Don't take yourself so seriously. No one else does.
15. Don't waste your precious energy on gossip.
16. Dream more while you are awake..
17. Envy is a waste of time. You already have all you need..
18. Forget issues of the past. Don't remind your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.
19. Life is too short to waste time hating anyone. Don't hate others.
20. Make peace with your past so it won't spoil the present.
21. No one is in charge of your happiness except you.
22. Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class but the lessons you learn will last a life time.
23. Smile and laugh more.
24. You don't have to win every argument. Agree to disagree.
Society:
25. Call your family often.
26. Each day give something good to others.
27. Forgive everyone for everything.
28. Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.
29. Try to make at least three people smile each day..
30. What other people think of you is none of your business.
31. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
Life:
32. Do the right thing!
33. Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.
34. GOD heals everything.
35. However good or bad a situation is, it will change.
36. No matter how you feel, get up, dress up and show up..
37. The best is yet to come.
38. When you awake alive in the morning, thank GOD for it.
39. Your inner most is always happy. So, be happy.
Last but not the least:
40. Please Forward this to everyone you care about.
(Sumber: Email kiriman dari Ibu Suharti)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Health:
1. Drink plenty of water.
2. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar.
3. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
4. Live with the 3 E's -- Energy, Enthusiasm, and Empathy..
5. Make time to practice meditation and prayer.
6. Play more with your children.
7. Read more books than you did in 2008.
8. Sit in silence for at least 10 minutes each day.
9. Sleep for 7 hours.
10. Take a 10-30 minutes walk every day.. And while you walk, smile.
Personality:
11. Don't compare your life to others'. You have no idea what their journey is all about.
12. Don't have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
13. Don't over do. Keep your limits.
14. Don't take yourself so seriously. No one else does.
15. Don't waste your precious energy on gossip.
16. Dream more while you are awake..
17. Envy is a waste of time. You already have all you need..
18. Forget issues of the past. Don't remind your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.
19. Life is too short to waste time hating anyone. Don't hate others.
20. Make peace with your past so it won't spoil the present.
21. No one is in charge of your happiness except you.
22. Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class but the lessons you learn will last a life time.
23. Smile and laugh more.
24. You don't have to win every argument. Agree to disagree.
Society:
25. Call your family often.
26. Each day give something good to others.
27. Forgive everyone for everything.
28. Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.
29. Try to make at least three people smile each day..
30. What other people think of you is none of your business.
31. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
Life:
32. Do the right thing!
33. Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.
34. GOD heals everything.
35. However good or bad a situation is, it will change.
36. No matter how you feel, get up, dress up and show up..
37. The best is yet to come.
38. When you awake alive in the morning, thank GOD for it.
39. Your inner most is always happy. So, be happy.
Last but not the least:
40. Please Forward this to everyone you care about.
(Sumber: Email kiriman dari Ibu Suharti)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, March 20, 2009
Balanced View of Success
Ambillah hikmah dari seorang Nelson Mandela, seorang yang berjiwa besar yang mampu mengampuni musuh-musuhnya dan terus berjuang untuk terus menjadi lebih baik. Nelson Mandela mengingatkan kita dengan kata-kata bijaknya bahwa setelah seseorang memanjat bukit yang tinggi, ia akan menyadari bahwa ternyata masih banyak bukit-bukit lain yang harus didaki.
Ia mengambil waktu sejenak untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya dan melihat kembali jalan-jalan yang telah ditempuh yang membawanya sampai di tempat itu. Akan tetapi ia hanya boleh berhenti sejenak, karena di balik keberhasilan yang telah diraihnya terdapat juga beban tanggung jawab yang harus dipikul. Ia juga tidak berani untuk berhenti sampai di situ, karena perjalanannya belum berakhir.
Milikilah cara berpikir yang selalu bersyukur atas pencapaian yang telah anda raih sampai saat ini, namun di balik kesuksesan yang anda raih terdapat pula tanggung jawab yang sama besarnya untuk tidak berhenti namun melanjutkan perjalanan yang lebih menantang lagi. Dengan demikian hidup ini menjadi seimbang. Inilah konsep seorang juara sejati.
Nelson Mandela:
"After climbing a great hill, one finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distance I have come. But I can only rest for a moment, for with the freedom comes responsibilities, and I dare not linger, for my long walk has not yet ended."
Diambil dari tulisan Darmadi Darmawangsa "A Balanced View of Success" yang dimuat di Media Kawasan edisi Maret 2009. Pertama kali diposting oleh Hadi Kristadi di Pentas Kesaksian pada tanggal 20 Maret 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ia mengambil waktu sejenak untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya dan melihat kembali jalan-jalan yang telah ditempuh yang membawanya sampai di tempat itu. Akan tetapi ia hanya boleh berhenti sejenak, karena di balik keberhasilan yang telah diraihnya terdapat juga beban tanggung jawab yang harus dipikul. Ia juga tidak berani untuk berhenti sampai di situ, karena perjalanannya belum berakhir.
Milikilah cara berpikir yang selalu bersyukur atas pencapaian yang telah anda raih sampai saat ini, namun di balik kesuksesan yang anda raih terdapat pula tanggung jawab yang sama besarnya untuk tidak berhenti namun melanjutkan perjalanan yang lebih menantang lagi. Dengan demikian hidup ini menjadi seimbang. Inilah konsep seorang juara sejati.
Nelson Mandela:
"After climbing a great hill, one finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distance I have come. But I can only rest for a moment, for with the freedom comes responsibilities, and I dare not linger, for my long walk has not yet ended."
Diambil dari tulisan Darmadi Darmawangsa "A Balanced View of Success" yang dimuat di Media Kawasan edisi Maret 2009. Pertama kali diposting oleh Hadi Kristadi di Pentas Kesaksian pada tanggal 20 Maret 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, February 26, 2009
William Osler: A Doctor with Compassion
Jika anda bukan dokter, mungkin anda belum pernah mendengar nama William Osler. Ia adalah seorang dokter, professor, dan penulis, yang praktek dokter dan mengajar hingga meninggal di usia tujuh puluh pada tahun 1919. Bukunya "Principles and Practice of Medicine" mempengaruhi persiapan para dokter selama lebih dari empat puluh tahun di seluruh dunia. Namun itu bukanlah sumbangan yang terbesar darinya kepada dunia. Osler berusaha mengembalikan kepercayaan umat manusia pada dunia kedokteran.
Kesenangan Osler terhadap kepemimpinan telah tumbuh sejak kecil. Ia adalah seorang pemimpin alami dan murid paling berpengaruh di sekolahnya. Ia selalu memperlihatkan kemampuan yang luar biasa dalam menjalin hubungan dengan sesama. Segala yang diperbuat Osler menunjukkan pentingnya membangun hubungan dengan sesama. Sementara ia semakin dewasa dan menjadi dokter, ia mendirikan "Association of American Physicians" agar para profesional medis dapat berkumpul, berbagi informasi, dan saling mendukung. Sebagai dosen, ia mengubah cara fakultas kedokteran mengajar. Ia membawa para mahasiswanya ke luar ruang kuliah, ke dalam bangsal-bangsal rumah sakit untuk berinteraksi dengan para pasien. Ia percaya bahwa para mahasiswa paling baik belajar dari para pasien sendiri.
Namun semangat Osler yang terutama adalah mengajarkan agar para dokter memiliki belas kasih. Katanya kepada para mahasiswanya:
"Ada perasaan kuat di kalangan masyarakat - kalian dapat melihatnya di surat kabar - bahwa kita para dokter zaman sekarang lebih mementingkan uang, penyakit, serta aspek-aspek ilmiahnya ketimbang si pasien. Saya ingin mendesak kalian agar dalam praktek, kalian lebih memperhatikan si pasien, menangani manusia malang yang menderita. Kita dapat melihat para pasien dalam wajah aslinya, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, dan kalian harus menjaga kelembutan hati agar tak menghina mereka."
Kemampuan Osler dalam memperlihatkan belas kasih dan membangun hubungan dapat dirangkum dalam perawatannya terhadap seorang pasien ketika terjadi wabah flu pneumonia pada tahun 1918. Biasanya Osler membatasi wilayah kerjanya di rumah sakit. Namun karena wabah tersebut, ia merawat banyak pasien di rumah mereka masing-masing. Ibu seorang gadis kecil mengenang bagaimana Osler mengunjutngi puterinya dua kali sehari, berbicara dengan lembut kepadanya dan bermain-main dengannya untuk menghiburnya, sambil mengumpulkan informasi tentang gejala-gejala yang dideritanya.
Mengetahui bahwa anak tersebut sudah menjelang ajal, pada suatu hari Osler datang dengan membawa setangkai bunga mawar yang indah dari kebunnya sendiri. Ia memberikan bunga indah tersebut kepada gadis kecil itu sambil menjelaskan bahwa bahkan bunga mawarpun tak mungkin bertahan selama yang mereka inginkan di suatu tempat, dan harus pergi ke tempat baru. Anak tersebut nampaknya terhibur oleh kata-kata serta hadiah dari Osler tersebut. Beberapa hari kemudian anak gadis itu meninggal dengan damai.
Osler meninggal pada tahun berikutnya. Salah satu rekannya dari Inggeris mengatakan tentang Osler begini:
"Kini tinggal kenangan indah tentang Osler. Ia pergi sebelum waktunya, meskipun ia telah mencapai usia yang menjadi bagiannya. Dia adalah dokter terbesar dalam sejarah. Dan di atas segalanya, seumur hidupnya ia menjadi sahabat kami. Ia adalah seseorang yang memiliki sifat bersahabat yang lebih besar ketimbang siapapun dalam generasi kami. Perhatiannya kepada kami semualah yang paling menonjol dalam sifatnya." (Sumber: Buku "The 21 Indispensible Qualities of A Leader" oleh John C. Maxwell, terbitan Interaksara)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kesenangan Osler terhadap kepemimpinan telah tumbuh sejak kecil. Ia adalah seorang pemimpin alami dan murid paling berpengaruh di sekolahnya. Ia selalu memperlihatkan kemampuan yang luar biasa dalam menjalin hubungan dengan sesama. Segala yang diperbuat Osler menunjukkan pentingnya membangun hubungan dengan sesama. Sementara ia semakin dewasa dan menjadi dokter, ia mendirikan "Association of American Physicians" agar para profesional medis dapat berkumpul, berbagi informasi, dan saling mendukung. Sebagai dosen, ia mengubah cara fakultas kedokteran mengajar. Ia membawa para mahasiswanya ke luar ruang kuliah, ke dalam bangsal-bangsal rumah sakit untuk berinteraksi dengan para pasien. Ia percaya bahwa para mahasiswa paling baik belajar dari para pasien sendiri.
Namun semangat Osler yang terutama adalah mengajarkan agar para dokter memiliki belas kasih. Katanya kepada para mahasiswanya:
"Ada perasaan kuat di kalangan masyarakat - kalian dapat melihatnya di surat kabar - bahwa kita para dokter zaman sekarang lebih mementingkan uang, penyakit, serta aspek-aspek ilmiahnya ketimbang si pasien. Saya ingin mendesak kalian agar dalam praktek, kalian lebih memperhatikan si pasien, menangani manusia malang yang menderita. Kita dapat melihat para pasien dalam wajah aslinya, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, dan kalian harus menjaga kelembutan hati agar tak menghina mereka."
Kemampuan Osler dalam memperlihatkan belas kasih dan membangun hubungan dapat dirangkum dalam perawatannya terhadap seorang pasien ketika terjadi wabah flu pneumonia pada tahun 1918. Biasanya Osler membatasi wilayah kerjanya di rumah sakit. Namun karena wabah tersebut, ia merawat banyak pasien di rumah mereka masing-masing. Ibu seorang gadis kecil mengenang bagaimana Osler mengunjutngi puterinya dua kali sehari, berbicara dengan lembut kepadanya dan bermain-main dengannya untuk menghiburnya, sambil mengumpulkan informasi tentang gejala-gejala yang dideritanya.
Mengetahui bahwa anak tersebut sudah menjelang ajal, pada suatu hari Osler datang dengan membawa setangkai bunga mawar yang indah dari kebunnya sendiri. Ia memberikan bunga indah tersebut kepada gadis kecil itu sambil menjelaskan bahwa bahkan bunga mawarpun tak mungkin bertahan selama yang mereka inginkan di suatu tempat, dan harus pergi ke tempat baru. Anak tersebut nampaknya terhibur oleh kata-kata serta hadiah dari Osler tersebut. Beberapa hari kemudian anak gadis itu meninggal dengan damai.
Osler meninggal pada tahun berikutnya. Salah satu rekannya dari Inggeris mengatakan tentang Osler begini:
"Kini tinggal kenangan indah tentang Osler. Ia pergi sebelum waktunya, meskipun ia telah mencapai usia yang menjadi bagiannya. Dia adalah dokter terbesar dalam sejarah. Dan di atas segalanya, seumur hidupnya ia menjadi sahabat kami. Ia adalah seseorang yang memiliki sifat bersahabat yang lebih besar ketimbang siapapun dalam generasi kami. Perhatiannya kepada kami semualah yang paling menonjol dalam sifatnya." (Sumber: Buku "The 21 Indispensible Qualities of A Leader" oleh John C. Maxwell, terbitan Interaksara)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, February 19, 2009
Prodigy's Child: Akiane Story
(Akiane dalam acara Oprah Winfrey, dan di depan lukisan dirinya)Istilah "Anak Prodigy" memiliki arti: "anak yang memiliki kemampuan sama dengan orang dewasa yang terlatih pada umur yang masih sangat muda, yaitu di bawah 13 tahun"
Salah satu anak yang diberkati Tuhan dengan talenta luar biasa dalam seni gambar dan puisi ini salah satunya adalah Akiane Kramarik di mana dia belajar menggambar sendiri pada umur 4 tahun, belajar melukis sendiri pada umur 6 tahun dan telah menghasilkan lukisan dengan kualitas luar biasa pada umur 7 tahun. Dan yang lebih luar biasa, dia mengenal Tuhan Yesus tidak dari siapapun tetapi Tuhan yang menemui dia sejak 3 tahun dan mengajarinya menggambar dan melukis hingga mamanya yang ateis pun percaya kepada Tuhan.
Akiane mengakui sebenarnya dia tidak sepenuhnya belajar sendiri tetapi mendapat bantuan dari Tuhan, dia berkata tentang Tuhan: "Seorang pria yang saya tidak pernah tahu sampai saya berumur 4 tahun dan mendapat penglihatan dari Dia saat tidur. Dia menunjukkan semua galaksi yang indah dan tempat-tempat lain. Saya bertanya kepadaNya siapa Dia dan Dia berkata bahwa saya sudah tahu, tetapi jangan memberitahukan orang lain. Saya tidak memberitahukan siapapun sampai 1 minggu kemudian, tetapi setelah itu saya harus memberitahu mama saya!".
Dia mengaku bahwa sebenarnya dia sudah bertemu Tuhan sejak 3 tahun tetapi dia belum mengerti sampai umur 4 tahun. Mama Akiane sebenarnya tidak tahu apa yang dikatakan anaknya, tetapi bagaimana Akiane begitu yakin dia sudah bertemu dengan Tuhan, sedangkan dia adalah atheis?
Tetapi Akiane kemudian berkata tentang "sesuatu yang hangat, kekuatan yang indah, keberadaan yang sangat luar biasa" yang telah dia lihat, sehingga mamanya mulai menganggap serius. Akhirnya, setelah beberapa waktu, mamanya menjadi orang Kristen bersama seluruh keluarganya. Ini merupakan hasil dari kekuatan Akiane dapat gambarkan, melalui karya seni dan puisinya di mana dia dapat memperlihatkan Tuhan melalui gambar-gambarnya dan tulisannya pada tingkat di mana orang akan dapat memulai untuk melihat Tuhan juga di mana dia selalu berdoa pada tiap pagi sebelum memulai melukis dan juga membaca Alkitab tiap hari.
Akiane terus belajar sehingga kemampuan melukisnya meningkat terus dan pada umur 7 dia telah berhasil melukis dengan sempurna dan kemudian Akiane melukis potret wajah Tuhan Yesus pada umur 8 tahun, lukisan itu dia sebut "Prince of Peace".
Alasan Menggambar Lukisan Potret Yesus pada umur 8 tahun:
"Adalah waktu Tuhan, saya sudah mencari model untuk Tuhan Yesus selama 2 tahun dan saya tidak dapat menemukan wajah yang cocok. Hingga satu hari saya meminta keluarga saya untuk berdoa bersama saya setiap hari. Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan model datang ke depan pintu rumah kami. Hari berikutnya seorang tukang kayu yang bertubuh tinggi datang. Dia sangat rendah hati, dan saya terkejut karena dia setuju menjadi model bagi saya. Tetapi seminggu kemudian dia menelpon balik dan berkata bahwa dia tidak layak untuk menjadi wakil dari Tuannya.
Kami berdoa lagi dan beberapa hari kemudian dia menelpon balik dan memberitahukan bahwa Tuhan ingin dia untuk melakukan hal itu, tetapi dia harus memotong rambut dan janggutnya dalam tiga hari. Lalu kami mengambil beberapa foto dan saya mempelajari wajahnya untuk waktu yang lama. Setelah berlusin-lusin sketsa, saya memulai melukis. Karya ini membutuhkan waktu 40 jam untuk menyelesaikan lukisan Yesus - Raja Damai, dan saya ingat pada saat itu saya kehilangan 4 gigi saya."
(dikutip dari situs web Akiane)

Berikut ini adalah fakta-fakta kehidupan Akiane:
* Akiane dilahirkan di dalam air di rumah pada tanggal 9 Juli 1998, di Mount Morris , Illinois dari ibu rumah tangga keturunan Lithuania dan ayah Amerika.
* Anak ini mengikuti program homeshool saat ini.
* Kemampuan menggambar Akiane dimunculkan sejak umur 4, dan umum 6 mulai melukis di mana dia mempelajari kemampuan menggambar dan melukis secara otodidak dan biasanya dengan observasi/pengamatan yang teliti dan belajar, bahkan dia juga menyebutkan bahwa Tuhan lah yang mengajarinya.
* Akiane dapat berbicara dalam 4 bahasa yaitu Lithuania, Rusia, Inggris dan bahasa isyarat.
* Pada umur 4 tahun dia mengalami transformasi spiritual dan membawa keluarganya kepada Tuhan.
* Pada umur 7 tahun dia mulai menulis puisi dan aphorism.
* Puisi-puisinya seringkali datang dari hasil angan-angannya.
* Inspirasi dari karya seni dan literaturnya datang dari penglihatan (vision), mimpi dan pengamatan kepada manusia, alam dan Tuhan.
* Dia melukis dari imajinasi, materi referensi dan model.
* Stylenya: Akianism - gabungan universal dari realism dan imaginism.
* Dia ingin orang lain menemukan harapan pada lukisan-lukisannya.
* Dia memiliki tujuan yang sama untuk lukisannya: menjadi inspirasi untuk orang lain dan untuk menjadi hadiah untuk Tuhan.
* Media favorit: acrylic untuk gambar orang seluruhnya dan cat minyak untuk lukisan potret berukuran besar.
* Dia bangun pada pukul 4 pagi 5-6 hari seminggu untuk bersiap melukis di studio dan menulis, bekerja kurang lebih 4-5 jam tiap hari.
* Seringkali bekerja lebih dari 100-200 jam pada satu lukisan saja, menghasilkan 8 sampai 20 lukisan setahun.
* Biasa melakukan sketsa sebelum melukis.
* Bekerja pada satu lukisan saja dalam satu waktu.
* Subjek favorit: Manusia dan subjek spiritual.
* Aktivitas favorit dan hobi: seni lukis, puisi, piano, membaca dan menolong orang.
* Yang disukai dari dirinya: sensitivitas kepada orang lain.
* Yang tidak disukai dari dirinya: ketidaksabaran.
* Penilaian terhadap karakter diri sendiri: "hati yang berani dan pikiran yang berhati-hati".
* Keinginan terbesar: "semua orang mengasihi Tuhan dan satu sama lain".
* Tujuan hidup: membagikan kasih kepada Tuhan dan pada semua orang di dunia.
(Akiane bersama lukisan "Prince of Peace")Dari kisah Akiane, kita bisa belajar bahwa Tuhan ada, dekat dengan kita, dan Tuhan Yesus telah menyatakan kasih dan kuasa-Nya atas manusia melalui diri seorang anak luar biasa ini yang sangat mengasihi Tuhannya. Tuhan itu nyata!
Tuhan telah menciptakan galaksi, bumi, manusia dan surga yang begitu luar biasa di mana Dia ingin kita hidup dalam kasih-Nya dan bertemu dengan-Nya di surga. Tuhan itu nyata dan Tuhan Yesus bukanlah manusia biasa, dia adalah Tuhan bagi Akiane dan Tuhan bagi setiap manusia. Tuhan Yesus adalah wujud Allah yang mengasihi kita.
Apabila Anda belum mengenal Tuhan Yesus dan belum menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda, segera datang kepada-Nya. Sumber: Email dari Bapak Apelles Sinaulan.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, February 18, 2009
In the Blink of an Eye

Menulis Buku Dengan Kedipan Mata
Jean Dominique Bauby di masa mudanya adalah seorang yang berbakat dan berjaya. Berangkat dari seorang wartawan, kariernya melesat sampai menjadi redaksi Majalah Elle, majalah kebanggaan orang Perancis yang digandrungi wanita di seluruh dunia.
Pada tanggal 8 Desember 1995, pada usia 43 tahun, Bauby terkena stroke masif dan koma. Ketika ia sadar 20 hari kemudian, ia mendapati seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki lumpuh. Kondisi ini dikenal sebagai Locked-In Syndrome, penyakit kelumpuhan total yang membuat dia sama sekali tidak mampu berbicara maupun bergerak, namun kondisi mentalnya masih sehat. Satu-satunya bagian tubuh yang masih dapat digerakkannya adalah kelopak mata kirinya. Dengan cara itulah dia bisa berkomunikasi dengan perawat, dokter, keluarga, dan teman-temannya. Bauby kehilangan berat badan sebanyak 60 pon selama 20 minggu setelah terkena stroke.
Sebagai seorang yang terpenjara di tubuh yang tak berguna lagi, Bauby tetap dapat berpikir, berargumentasi, mencium bau, dan mendengar (meskipun kurang baik). Dengan kelopak mata kirinya ia dapat melihat dan kemudian belajar mengekspresikan dirinya.
Terapis bicaranya dan yang kemudian menjadi sahabatnya akan menyebutkan suatu abjad, dan Bauby akan mengedipkan mata kirinya untuk memilih huruf atau tanda baca yang ia inginkan. Ia merangkai kata-kata, kalimat dan paragraf dengan kedipan mata. Ia mengedit kalimat dan buku di kepalanya. Bersama seorang penulis kenamaan, Claude Mendibil, ia menyelesaikan buku memoar yang berjudul "The Diving Bell and the Butterfly" dalam bahasa Perancis, selama dua bulan dan dipublikasikan di Perancis pada tahun 1997. Melalui buku ini Bauby ingin menyatakan bahwa meskipun tubuhnya tenggelam, namun kreativitas dan imajinasinya dapat terbang bebas seperti seekor kupu-kupu. Sepuluh hari setelah menyelesaikan bukunya, Bauby meninggal karena suatu infeksi. Buku memoarnya yang fenomenal diangkat ke dalam layar lebar oleh sutradara Julian Schaubel dan mendapatkan empat nominasi Oscar pada tahun 2008.
Sumber: Tabloid Keluarga Edisi 43/2009 dan sumber internet lainnya.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, February 13, 2009
Fundamentals of Success
Sukses itu bukan sulap dan juga bukan misteri. Keberhasilan merupakan konsekuensi alamiah atas penerapan hal-hal mendasar yang dilaksanakan secara konsisten.
Tidak ada hal-hal mendasar yang baru. Anda harus curiga apabila ada orang yang berkata, "Aku telah mendapatkan hal-hal fundamental yang baru." Itu sama saja dengan seseorang mengajak anda melakukan tur ke pabrik yang memproduksi barang-barang antik.
Hal-hal mendasar adalah hal-hal yang harus anda lakukan setiap hari. Makan tujuh buah apel sekaligus pada hari Sabtu malam, bukannya makan sebuah apel setiap hari, tidaklah akan membawa kebaikan.
Keberhasilan tidak lebih dari beberapa tindakan disiplin yang sederhana, yang dipraktikkan setiap hari; sedangkan kegagalan merupakan beberapa kekeliruan dalam pertimbangan, yang diulangi setiap hari. Entah anda menuju keberhasilan atau kegagalan, ditentukan oleh sekumpulan disiplin dan pertimbangan yang terbaik.
Salah satu contoh hal mendasar yang membawa keberhasilan adalah membangun pribadi-pribadi berkualitas yang bekerja bersama kita. Itulah yang dilakukan oleh Pat Newbury, pemilik beberapa franchise McDonnald's. Pat begitu peduli pada perkembangan para karyawannya. Kepedulian itu dimulai ketika ia prihatin pada beberapa orang karyawannya yang menggantungkan hidup sepenuhnya sebagai pembuat hamburger saja, dan tidak memenuhi syarat untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya. Beranjak dari fakta ini, Pat Newbury membuat program untuk menolong karyawannya yang masih muda-muda. Ia memberikan kesempatan bagi mereka yang masih duduk di bangku SMU untuk mengerjakan tugas sekolah mereka selama satu jam sebelum dan sesudah giliran jaga mereka. Syaratnya adalah: setiap mereka harus memberitahu terlebih dahulu manajernya bahwa mereka akan belajar atau mengerjakan tugasnya di tempat yang telah disediakan, sambil mengenakan seragam dan tidak boleh merokok. Selain itu Pat juga memberikan penghargaan kepada karyawan yang mendapatkan nilai baik di sekolah. Penghargaan itu dapat ditukar dengan buku-buku, uang kuliah atau tiket menonton teater.
Ternyata perhatian dan kepedulian Pat Newburry membuat karyawannya semakin loyal kepada perusahaan yang dipimpinnya. "Untuk menarik karyawan-karyawan terbaik, saya perlu memberikan penghargaan yang menarik bagi mereka." Orang-orang yang berjiwa besar sangat suka menanam benih-benih kesuksesan di dalam diri orang-orang lain yang dipandangnya dapat meneruskan kebesarannya.
Lakukanlah hal-hal mendasar yang terbaik dengan konsisten, pasti anda berhasil!
(Sumber: Jim Rohn dan Manna Sorgawi Februari 2009)
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tidak ada hal-hal mendasar yang baru. Anda harus curiga apabila ada orang yang berkata, "Aku telah mendapatkan hal-hal fundamental yang baru." Itu sama saja dengan seseorang mengajak anda melakukan tur ke pabrik yang memproduksi barang-barang antik.
Hal-hal mendasar adalah hal-hal yang harus anda lakukan setiap hari. Makan tujuh buah apel sekaligus pada hari Sabtu malam, bukannya makan sebuah apel setiap hari, tidaklah akan membawa kebaikan.
Keberhasilan tidak lebih dari beberapa tindakan disiplin yang sederhana, yang dipraktikkan setiap hari; sedangkan kegagalan merupakan beberapa kekeliruan dalam pertimbangan, yang diulangi setiap hari. Entah anda menuju keberhasilan atau kegagalan, ditentukan oleh sekumpulan disiplin dan pertimbangan yang terbaik.
Salah satu contoh hal mendasar yang membawa keberhasilan adalah membangun pribadi-pribadi berkualitas yang bekerja bersama kita. Itulah yang dilakukan oleh Pat Newbury, pemilik beberapa franchise McDonnald's. Pat begitu peduli pada perkembangan para karyawannya. Kepedulian itu dimulai ketika ia prihatin pada beberapa orang karyawannya yang menggantungkan hidup sepenuhnya sebagai pembuat hamburger saja, dan tidak memenuhi syarat untuk mengerjakan tugas-tugas lainnya. Beranjak dari fakta ini, Pat Newbury membuat program untuk menolong karyawannya yang masih muda-muda. Ia memberikan kesempatan bagi mereka yang masih duduk di bangku SMU untuk mengerjakan tugas sekolah mereka selama satu jam sebelum dan sesudah giliran jaga mereka. Syaratnya adalah: setiap mereka harus memberitahu terlebih dahulu manajernya bahwa mereka akan belajar atau mengerjakan tugasnya di tempat yang telah disediakan, sambil mengenakan seragam dan tidak boleh merokok. Selain itu Pat juga memberikan penghargaan kepada karyawan yang mendapatkan nilai baik di sekolah. Penghargaan itu dapat ditukar dengan buku-buku, uang kuliah atau tiket menonton teater.
Ternyata perhatian dan kepedulian Pat Newburry membuat karyawannya semakin loyal kepada perusahaan yang dipimpinnya. "Untuk menarik karyawan-karyawan terbaik, saya perlu memberikan penghargaan yang menarik bagi mereka." Orang-orang yang berjiwa besar sangat suka menanam benih-benih kesuksesan di dalam diri orang-orang lain yang dipandangnya dapat meneruskan kebesarannya.
Lakukanlah hal-hal mendasar yang terbaik dengan konsisten, pasti anda berhasil!
(Sumber: Jim Rohn dan Manna Sorgawi Februari 2009)
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, February 2, 2009
Creating a Memory
Menciptakan Kenangan Indah
Ken Blanchard, penulis buku terkenal “One Minute Manager”, pada suatu saat membagikan sebuah kisah tentang apa yang dapat terjadi ketika para karyawan di sebuah perusahaan meniru gaya kepemimpinan yang melayani, tak peduli posisi karyawan tersebut di dalam hierarki organisasi.
Seorang konsultan bisnis sedang melatih lebih dari 3.000 karyawan di sebuah grup supermarket di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat, agar mereka bekerja dengan tujuan untuk menciptakan kenangan bagi para pelanggan mereka. Konsultan bisnis itu menegaskan, "Inilah yang akan membuat perbedaan antara perusahaan kalian dengan perusahaan lainnya."
Johnny, 19 tahun, adalah seorang petugas di bagian pembungkusan barang belanja yang memiliki penyakit down syndrome. Tanggapannya yang pertama terhadap nasihat konsultan itu adalah, “Saya ini hanya seorang petugas di bagian pembungkus”. Walaupun demikian, ketika ia pulang ke rumahnya ia membagikan perkataan konsultan itu dengan ibunya. Mereka mulai merenungkan apa yang dikatakan konsultan itu tentang bagaimana menciptakan kenangan indah bagi para pelanggan.
Johnny mempunyai kebiasaan mengumpulkan kisah-kisah penuh inspirasi yang ia sering baca. Ia memutuskan bahwa ia akan mulai mencetak perkataan-perkataan inspirasional itu dan menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan pelanggannya. Ketika para pelanggan datang melewati jalur pembayaran dan Johnny membungkus barang belanjaan mereka, tak lupa Johnny menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan mereka, sambil berkata, “Saya sudah menaruh beberapa kisah inspiratif di dalam kantong ini dengan harapan hal itu dapat menambah semangat anda hari ini. Terima kasih karena anda belanja di sini.”
Setelah berlangsung beberapa minggu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Pada suatu hari manajer toko memperhatikan bahwa semua pelanggan mengantri di satu kasir saja, sedangkan kasir lainnya kosong. Ia mulai panik, mengira bahwa mesin-mesin kasir lain sedang rusak. Setelah diselidiki ternyata bukan itu masalahnya. Sesungguhnya, para pelanggan ingin melewati konter Johnny agar mendapatkan kisah inspiratif untuk hari itu.
Seorang wanita mendatangi manajer toko itu dan berkata, “Biasanya saya belanja ke sini seminggu sekali, tetapi sekarang saya datang setiap hari.”
Teladan Johnny menyebar ke departemen lain di supermarket itu. Bagian penjualan bunga membagikan sekuntum bunga kepada setiap pembeli bunga. Bagian penjualan daging menempelkan stiker Snoopy dengan ucapan tertentu yang menarik pada setiap pembelian daging. Tindakan dari seorang petugas pembungkus belanjaan telah mengubah suasana di supermarket itu.
Apakah anda telah menciptakan kenangan indah kepada orang lain hari ini? Orang yang terbesar di dunia ini adalah orang yang melayani. Sumber: TGIF-2, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 1 Februari 2009 untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforward-nya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.
*****
Creating a Memory
"The greatest among you will be your servant" (Matt 23:11).
Ken Blanchard, the author of the One Minute Manager, once shared a story about what can happen when individuals in a company model servant leadership, no matter where they are on the totem pole.
A business consultant was training more than 3000 employees of a mid-western grocery chain to approach their jobs with a goal of creating a memory for their customers. She stated that "this is what will distinguish your store from all others."
Johnny was a 19-year old bag boy that had down-syndrome. His first response to the consultant's suggestion was "I'm just a 'bag boy.'" Nevertheless, he went home and shared what the consultant said with his mother. They began to ponder the consultant's words about how he could create a memory for his customers. Johnny had a habit of collecting inspirational thoughts that he would often read. He decided he would begin printing these sayings and place one in each of the bags of his customers. When customers came through the line he would place the sayings in their bag and say, "I've included some of my favorite sayings in your bag in hopes it will encourage you today. Thanks for shopping with us."
After just a few weeks, an amazing thing began to happen. One day the store manager noticed that all the customers were lined up at only one cashier station when there were other stations open. He began to panic, thinking the other stations were broken. After further investigation he found this was not the case. Actually, customers wanted to come through Johnny's line in order to get his saying of the day.
One woman came up to the manager and said, "I used to come to the store only once a week, but now I come everyday!" Johnny's example spread to other departments in the store. The florist began giving a flower to each florist customer. The meat department put Snoopy stickers on each meat order with a special greeting. This one act by a bag boy changed the entire climate of the store.*
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ken Blanchard, penulis buku terkenal “One Minute Manager”, pada suatu saat membagikan sebuah kisah tentang apa yang dapat terjadi ketika para karyawan di sebuah perusahaan meniru gaya kepemimpinan yang melayani, tak peduli posisi karyawan tersebut di dalam hierarki organisasi.
Seorang konsultan bisnis sedang melatih lebih dari 3.000 karyawan di sebuah grup supermarket di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat, agar mereka bekerja dengan tujuan untuk menciptakan kenangan bagi para pelanggan mereka. Konsultan bisnis itu menegaskan, "Inilah yang akan membuat perbedaan antara perusahaan kalian dengan perusahaan lainnya."
Johnny, 19 tahun, adalah seorang petugas di bagian pembungkusan barang belanja yang memiliki penyakit down syndrome. Tanggapannya yang pertama terhadap nasihat konsultan itu adalah, “Saya ini hanya seorang petugas di bagian pembungkus”. Walaupun demikian, ketika ia pulang ke rumahnya ia membagikan perkataan konsultan itu dengan ibunya. Mereka mulai merenungkan apa yang dikatakan konsultan itu tentang bagaimana menciptakan kenangan indah bagi para pelanggan.
Johnny mempunyai kebiasaan mengumpulkan kisah-kisah penuh inspirasi yang ia sering baca. Ia memutuskan bahwa ia akan mulai mencetak perkataan-perkataan inspirasional itu dan menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan pelanggannya. Ketika para pelanggan datang melewati jalur pembayaran dan Johnny membungkus barang belanjaan mereka, tak lupa Johnny menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan mereka, sambil berkata, “Saya sudah menaruh beberapa kisah inspiratif di dalam kantong ini dengan harapan hal itu dapat menambah semangat anda hari ini. Terima kasih karena anda belanja di sini.”
Setelah berlangsung beberapa minggu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Pada suatu hari manajer toko memperhatikan bahwa semua pelanggan mengantri di satu kasir saja, sedangkan kasir lainnya kosong. Ia mulai panik, mengira bahwa mesin-mesin kasir lain sedang rusak. Setelah diselidiki ternyata bukan itu masalahnya. Sesungguhnya, para pelanggan ingin melewati konter Johnny agar mendapatkan kisah inspiratif untuk hari itu.
Seorang wanita mendatangi manajer toko itu dan berkata, “Biasanya saya belanja ke sini seminggu sekali, tetapi sekarang saya datang setiap hari.”
Teladan Johnny menyebar ke departemen lain di supermarket itu. Bagian penjualan bunga membagikan sekuntum bunga kepada setiap pembeli bunga. Bagian penjualan daging menempelkan stiker Snoopy dengan ucapan tertentu yang menarik pada setiap pembelian daging. Tindakan dari seorang petugas pembungkus belanjaan telah mengubah suasana di supermarket itu.
Apakah anda telah menciptakan kenangan indah kepada orang lain hari ini? Orang yang terbesar di dunia ini adalah orang yang melayani. Sumber: TGIF-2, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 1 Februari 2009 untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforward-nya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.
*****
Creating a Memory
"The greatest among you will be your servant" (Matt 23:11).
Ken Blanchard, the author of the One Minute Manager, once shared a story about what can happen when individuals in a company model servant leadership, no matter where they are on the totem pole.
A business consultant was training more than 3000 employees of a mid-western grocery chain to approach their jobs with a goal of creating a memory for their customers. She stated that "this is what will distinguish your store from all others."
Johnny was a 19-year old bag boy that had down-syndrome. His first response to the consultant's suggestion was "I'm just a 'bag boy.'" Nevertheless, he went home and shared what the consultant said with his mother. They began to ponder the consultant's words about how he could create a memory for his customers. Johnny had a habit of collecting inspirational thoughts that he would often read. He decided he would begin printing these sayings and place one in each of the bags of his customers. When customers came through the line he would place the sayings in their bag and say, "I've included some of my favorite sayings in your bag in hopes it will encourage you today. Thanks for shopping with us."
After just a few weeks, an amazing thing began to happen. One day the store manager noticed that all the customers were lined up at only one cashier station when there were other stations open. He began to panic, thinking the other stations were broken. After further investigation he found this was not the case. Actually, customers wanted to come through Johnny's line in order to get his saying of the day.
One woman came up to the manager and said, "I used to come to the store only once a week, but now I come everyday!" Johnny's example spread to other departments in the store. The florist began giving a flower to each florist customer. The meat department put Snoopy stickers on each meat order with a special greeting. This one act by a bag boy changed the entire climate of the store.*
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, January 30, 2009
The Girl who Silenced the UN Meeting Room
Pidato Severn Suzuki, 12 tahun, di Ruang Sidang PBB
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Cullis-Suzuki. Severn Cullis-Suzuki adalah salah seorang pemerhati masalah Lingkungan Hidup yang concern dengan isu Pemanasan Global. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup, pembicara, pemandu acara televisi dan pengarang. Severn Suzuki memulai karirnya sejak umur 9 Tahun dengan mendirikan organisasi pemerhati lingkungan untuk Anak-anak. Hingga kini Ia sudah berkeliling dunia untuk berbicara tentang masalah lingkungan hidup yang sudah semakin memprihatinkan.
Severn Cullis-Suzuki atau lebih dikenal dengan nama Severn Suzuki dilahirkan di Vancouver, Canada. Ibunya adalah seorang penulis bernama Tara Elizabeth Cullis dan Ayahnya adalah David Suzuki, seorang aktivis lingkungan hidup. Ketika bersekolah di Lord Tennyson Elementary School, ia mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk belajar dan mengajar anak-anak tentang masalah lingkungan hidup.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Severn yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar dan membungkam beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu? Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber The Collage Foundation)
Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children's Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq, dan saya sendiri.
Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan kepada anda sekalian, orang dewasa, bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang. Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada di sini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak didengar.
Saya merasa takut berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu per satu mengalami kepunahan setiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu agaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari lima milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan pesawat televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”
Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan kepada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan kepada kami untuk tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan kepada anak-anak mereka dengan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan,” dan “Ini bukanlah akhir dari segalanya,”
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.” Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.
Setelah itu Sekjen PBB mengatakan dalam pidatonya:
“Hari ini saya merasa sangat malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato, sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak, kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun.”
Cerita ini benar-benar terjadi dan pidato Severn Cullis-Suzuki itu benar-benar pidato yang dikatakannya, tanpa dilebih-lebihkan.
Artikel ini diterbitkan oleh Pustaka Nilna dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 16 January 2009. Sumber: http://pustakanilna.com/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb.html/ dan Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki
Jika anda ingin melihat video Severn Suzuki sedang berpidato, lihat YouTube di: http://www.youtube.com/watch?v=uZsDliXzyAY
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Cullis-Suzuki. Severn Cullis-Suzuki adalah salah seorang pemerhati masalah Lingkungan Hidup yang concern dengan isu Pemanasan Global. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup, pembicara, pemandu acara televisi dan pengarang. Severn Suzuki memulai karirnya sejak umur 9 Tahun dengan mendirikan organisasi pemerhati lingkungan untuk Anak-anak. Hingga kini Ia sudah berkeliling dunia untuk berbicara tentang masalah lingkungan hidup yang sudah semakin memprihatinkan.
Severn Cullis-Suzuki atau lebih dikenal dengan nama Severn Suzuki dilahirkan di Vancouver, Canada. Ibunya adalah seorang penulis bernama Tara Elizabeth Cullis dan Ayahnya adalah David Suzuki, seorang aktivis lingkungan hidup. Ketika bersekolah di Lord Tennyson Elementary School, ia mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk belajar dan mengajar anak-anak tentang masalah lingkungan hidup.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Severn yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar dan membungkam beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu? Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber The Collage Foundation)
Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children's Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq, dan saya sendiri.
Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan kepada anda sekalian, orang dewasa, bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang. Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada di sini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak didengar.
Saya merasa takut berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu per satu mengalami kepunahan setiap harinya - hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu agaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari lima milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan pesawat televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”
Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan kepada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan kepada kami untuk tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan kepada anak-anak mereka dengan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan,” dan “Ini bukanlah akhir dari segalanya,”
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.” Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.
Setelah itu Sekjen PBB mengatakan dalam pidatonya:
“Hari ini saya merasa sangat malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato, sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak, kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun.”
Cerita ini benar-benar terjadi dan pidato Severn Cullis-Suzuki itu benar-benar pidato yang dikatakannya, tanpa dilebih-lebihkan.
Artikel ini diterbitkan oleh Pustaka Nilna dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 16 January 2009. Sumber: http://pustakanilna.com/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb.html/ dan Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki
Jika anda ingin melihat video Severn Suzuki sedang berpidato, lihat YouTube di: http://www.youtube.com/watch?v=uZsDliXzyAY
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 28, 2009
The Amazing Jessica Cox
Kisah tentang Jessica Cox ini pernah saya tulis di blogspot saya tanggal 31 Desember 2008 yang lalu. Inilah tambahan informasi dan foto-foto:

Jessica Cox, 25, a girl born without arms, stands inside an aircraft. The girl from Tucson, Arizona got the Sport Pilot certificate lately and became the first pilot licensed to fly using only her feet.
*****

Jessica Cox of Tucson was born without arms, but that has only stopped her from doing one thing: using the word "can't."
*****

With one foot manning the controls and the other delicately guiding the steering column, Cox, 25, soared to achieve a Sport Pilot certificate. Her certificate qualifies her to fly a light-sport aircraft to altitudes of 10,000 feet.
****

*****

"When she came up here driving a car," Traweek recalled, "I knew she'd have no problem flying a plane."
*****

*****

Doctors never learned why she was born without arms, but she figured out early on that she didn't want to use prosthetic devices.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Jessica Cox, 25, a girl born without arms, stands inside an aircraft. The girl from Tucson, Arizona got the Sport Pilot certificate lately and became the first pilot licensed to fly using only her feet.
*****

Jessica Cox of Tucson was born without arms, but that has only stopped her from doing one thing: using the word "can't."
*****

With one foot manning the controls and the other delicately guiding the steering column, Cox, 25, soared to achieve a Sport Pilot certificate. Her certificate qualifies her to fly a light-sport aircraft to altitudes of 10,000 feet.
****

*****

"When she came up here driving a car," Traweek recalled, "I knew she'd have no problem flying a plane."
*****

*****

Doctors never learned why she was born without arms, but she figured out early on that she didn't want to use prosthetic devices.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, January 27, 2009
Act of Bravery
Tidak banyak orang tahu mengenai kisah Lawrence Lemieux, seorang pedayung dari Kanada yang bertanding di kelas Finn (dinghy = perahu dayung) pada Olimpiade 1988 di Seoul. Pada hari bersejarah itu Lemieux melakukan tindakan penuh keberanian yang luar biasa. Angin berhembus kencang, dan air menjadi bergelombang keras. Lemieux ada di tempat kedua selama pertandingan mendayung itu ketika dia melihat dua pedayung dari tim Singapura tercebur ke dalam air. Yang luar biasa, tanpa mempedulikan medali emas, Lemieux mendayung ke samping dan menolong para pedayung itu, dan mengangkat mereka ke dalam perahunya.
Meskipun ia tertinggal dalam pertandingan itu, ia menuntaskan perlombaannya setelah perahu panitia mengangkat para pedayung yang naas itu. Namun panitia pertandingan Olimpiade menganugerahinya gelar juara kedua. Ketua IOC pada waktu itu, Juan Antonio Samaranch berkata, "Dengan jiwa sportif anda yang luar biasa, pengorbanan diri dan semangat anda, anda telah menghadirkan semua apa yang benar sesuai jiwa luhur Olimpiade." Lemieux bukanlah sebuah nama besar, namun tindakannya yang berani telah membawa kehormatan bagi Olimpiade. Sumber: http://www.beliefnet.com, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com.
******
Not many know the story of Lawrence Lemieux, a Canadian rower competing in the Finn (dinghy) class in the 1988 games in Seoul. On that fateful day Lemieux performed an incredible act of bravery. The winds had picked up, and the water became exceedingly choppy. Lemieux was in second place during his race when he saw two sailors from the Singaporean team in another race fall into the water. Lemieux rowed over and rescued the sailors, hauling them into his small boat.
Though he was out of contention, he finished his race after an official boat picked up the sailors. But the Olympics committee awarded him an honorary second-place finish. IOC president Juan Antonio Samaranch said, "By your sportsmanship, self-sacrifice and courage, you embody all that is right with the Olympic ideal." Lemieux was not a big name, but his act of bravery brought honor to the Games. --DDA
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Meskipun ia tertinggal dalam pertandingan itu, ia menuntaskan perlombaannya setelah perahu panitia mengangkat para pedayung yang naas itu. Namun panitia pertandingan Olimpiade menganugerahinya gelar juara kedua. Ketua IOC pada waktu itu, Juan Antonio Samaranch berkata, "Dengan jiwa sportif anda yang luar biasa, pengorbanan diri dan semangat anda, anda telah menghadirkan semua apa yang benar sesuai jiwa luhur Olimpiade." Lemieux bukanlah sebuah nama besar, namun tindakannya yang berani telah membawa kehormatan bagi Olimpiade. Sumber: http://www.beliefnet.com, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com.
******
Not many know the story of Lawrence Lemieux, a Canadian rower competing in the Finn (dinghy) class in the 1988 games in Seoul. On that fateful day Lemieux performed an incredible act of bravery. The winds had picked up, and the water became exceedingly choppy. Lemieux was in second place during his race when he saw two sailors from the Singaporean team in another race fall into the water. Lemieux rowed over and rescued the sailors, hauling them into his small boat.
Though he was out of contention, he finished his race after an official boat picked up the sailors. But the Olympics committee awarded him an honorary second-place finish. IOC president Juan Antonio Samaranch said, "By your sportsmanship, self-sacrifice and courage, you embody all that is right with the Olympic ideal." Lemieux was not a big name, but his act of bravery brought honor to the Games. --DDA
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sunday, January 25, 2009
The Youngest IT Professional: Amazing Story of Marko Calasan
Marko Calasan telah membuktikan bahwa tak ada batasan usia untuk menunjukkan bahwa bakat dan prestasi yang luar biasa itu didasarkan pada campuran antara semangat, paparan, dan tekad yang kuat.
Marko Calasan, berusia 8 tahun dari Skopje (tempat kelahiran Bunda Teresa), Makedonia telah disebut sebagai Mozart di bidang komputer oleh para wartawan lokal setelah dia menjadi Profesional di bidang IT ketika lulus ujian Microsoft Certified System Administrator.
Menurut sebuah laporan di majalah Times minggu lalu, Microsoft menghadiahi Marko games dan DVD setelah lulus ujian itu, dan meskipun menganggap hadiah itu sebagai ungkapan yang baik, ia mengaku bahwa hal-hal itu tidak menarik.
Marko yang hobi matematika dan fisika, sudah mampu membaca dan menulis pada usia dua tahun, dan pada usia empat tahun ia mampu berbahasa Inggeris. Dalam sebuah video yang ditayangkan di Youtube (dalam bahasa Makedonia), Marko menjelaskan bahwa penggunaan komputer itu urusan matematik yang sangat mudah dan sekedar mengikuti perintah saja.
Pemahaman yang sederhana ini telah membawanya menjadi seorang selebriti lokal yang telah ditawari Laboratiorium IT oleh Perdana Menteri Makedonia, Nikola Gruevski.
Orang tua Marko berencana untuk menerbitkan sebuah buku tentang komputerisasi bagi anak-anak kecil, berdasarkan pengalaman dan sukses Marko. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Marco Calasan has proven that their is no age limit for demonstating talent and exceptional achievement is based on a mixture of passion, exposure and determination.
Eight year old Marco Calasan from Skopje, Macedonia has been dubbed the Mozart of Computers by local press after becoming the worlds youngest IT Professional when he passed the Microsoft Certified System Administrator exam.
According to a report in the Times last week, Microsoft presented Marko with games and DVDs after he'd passed the exams, and although he considered it a nice gesture, he said he wasn't "really interested in those things."
Marko, who has a bent for mathematics and physics, was reading and writing by the time he was two years old, and by four he was speaking in English. In a video posted on YouTube (Macedonian), Marko explains that computing is a simple matter of mathematics and following instructions.
This simple understanding has made him into something of a local celebrity who has since been offered his own IT lab by the Macedonian Prime Minister, Nikola Gruevski.
Marko's parents plan to publish a book for small children about computing based on Marko's experience and success.
Source: http://www.readwriteweb.com/archives/marko_calasan_mini_mozart_of_c.php
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Marko Calasan, berusia 8 tahun dari Skopje (tempat kelahiran Bunda Teresa), Makedonia telah disebut sebagai Mozart di bidang komputer oleh para wartawan lokal setelah dia menjadi Profesional di bidang IT ketika lulus ujian Microsoft Certified System Administrator.
Menurut sebuah laporan di majalah Times minggu lalu, Microsoft menghadiahi Marko games dan DVD setelah lulus ujian itu, dan meskipun menganggap hadiah itu sebagai ungkapan yang baik, ia mengaku bahwa hal-hal itu tidak menarik.
Marko yang hobi matematika dan fisika, sudah mampu membaca dan menulis pada usia dua tahun, dan pada usia empat tahun ia mampu berbahasa Inggeris. Dalam sebuah video yang ditayangkan di Youtube (dalam bahasa Makedonia), Marko menjelaskan bahwa penggunaan komputer itu urusan matematik yang sangat mudah dan sekedar mengikuti perintah saja.
Pemahaman yang sederhana ini telah membawanya menjadi seorang selebriti lokal yang telah ditawari Laboratiorium IT oleh Perdana Menteri Makedonia, Nikola Gruevski.
Orang tua Marko berencana untuk menerbitkan sebuah buku tentang komputerisasi bagi anak-anak kecil, berdasarkan pengalaman dan sukses Marko. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Marco Calasan has proven that their is no age limit for demonstating talent and exceptional achievement is based on a mixture of passion, exposure and determination.
Eight year old Marco Calasan from Skopje, Macedonia has been dubbed the Mozart of Computers by local press after becoming the worlds youngest IT Professional when he passed the Microsoft Certified System Administrator exam.
According to a report in the Times last week, Microsoft presented Marko with games and DVDs after he'd passed the exams, and although he considered it a nice gesture, he said he wasn't "really interested in those things."
Marko, who has a bent for mathematics and physics, was reading and writing by the time he was two years old, and by four he was speaking in English. In a video posted on YouTube (Macedonian), Marko explains that computing is a simple matter of mathematics and following instructions.
This simple understanding has made him into something of a local celebrity who has since been offered his own IT lab by the Macedonian Prime Minister, Nikola Gruevski.
Marko's parents plan to publish a book for small children about computing based on Marko's experience and success.
Source: http://www.readwriteweb.com/archives/marko_calasan_mini_mozart_of_c.php
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, January 23, 2009
Whose Hands?
WHOSE HANDS?
A basketball in my hands is worth about $19. A basketball in Michael Jordan's hands is worth about $33 million. It depends whose hands it's in.
A baseball in my hands is worth about $6. A baseball in Mark Mcquire's hands is worth $19 million. It depends whose hands it's in.
A tennis racket is useless in my hands. A tennis racket in Pete Sampras' hands is a Wimbledon Championship. It depends whose hands it's in.
A rod in my hands will keep away a wild animal. A rod in Moses' hands will part the mighty sea. It depends whose hands it's in.
A sling shot in my hands is a kid's toy. A sling shot in David's hand is a mighty weapon. It depends whose hands it's in.
Two fish and 5 loaves of bread in my hands is a couple of fish sandwiches. Two fish and 5 loaves of bread in God's hands will feed thousands. It depends whose hands it's in.
Nails in my hands might produce a birdhouse. Nails in Jesus Christ's hands will produce salvation for the entire world. It depends whose hands it's in.
As you see now it depends whose hands it's in. So put your concerns, your worries, your fears, your hopes, your dreams, your families and your relationships in God's hands because - It depends whose hands it's in.
Sumber: http://www.gardenministries.com/whose_hands.htm
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
A basketball in my hands is worth about $19. A basketball in Michael Jordan's hands is worth about $33 million. It depends whose hands it's in.
A baseball in my hands is worth about $6. A baseball in Mark Mcquire's hands is worth $19 million. It depends whose hands it's in.
A tennis racket is useless in my hands. A tennis racket in Pete Sampras' hands is a Wimbledon Championship. It depends whose hands it's in.
A rod in my hands will keep away a wild animal. A rod in Moses' hands will part the mighty sea. It depends whose hands it's in.
A sling shot in my hands is a kid's toy. A sling shot in David's hand is a mighty weapon. It depends whose hands it's in.
Two fish and 5 loaves of bread in my hands is a couple of fish sandwiches. Two fish and 5 loaves of bread in God's hands will feed thousands. It depends whose hands it's in.
Nails in my hands might produce a birdhouse. Nails in Jesus Christ's hands will produce salvation for the entire world. It depends whose hands it's in.
As you see now it depends whose hands it's in. So put your concerns, your worries, your fears, your hopes, your dreams, your families and your relationships in God's hands because - It depends whose hands it's in.
Sumber: http://www.gardenministries.com/whose_hands.htm
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, January 22, 2009
Succeed to Market Your Product
Apakah anda pernah mendengar seseorang berkata, “Ia hidup mendahului zamannya”? Ada banyak contoh orang-orang yang menemukan suatu produk atau jasa di zaman ketika pasarnya belum siap menerima produk itu. Hal-hal lain harus dikembangkan sebelum produk itu dapat berhasil.
George Washington Carver mengalami hal ini. Lahir sekitar tahun 1861 selama Perang Saudara di Amerika Serikat, ia adalah orang yang seharusnya menjadi korban keadaan. Ia selalu diperlakukan secara diskriminatif. Ia kehilangan ibunya yang dijual oleh pedagang budak. Sebagai seorang pemuda ia berseru kepada Bapa di tengah keadaannya yang sulit dan Bapa mendengar doanya. Bapa memberi Carver semangat bertahan yang kuat dan ia sangat termotivasi untuk belajar apapun.
Carver mendapati bahwa di wilayah Selatan Amerika Serikat para petani/pekebun yang menanam kapas selama ratusan tahun perlu menanam jenis tanaman baru karena tanah di sana telah aus dan gersang, dan para petani/pekebun itu akan dililit utang sebagai akibatnya. Untuk memulihkan tanah pertanian Carver menganjurkan penanaman kacang tanah dan ubi, sebagai ganti kapas. Setelah pendekatan yang intensif, para petani lambat laun meningkatkan penanaman kacang tanah dan ubi, sampai kedua jenis tanaman itu menjadi tanaman utama di wilayah Selatan. Namun, pada waktu itu belum ada pasar yang cukup besar untuk menyerap kacang tanah dan ubi. Jika tanaman itu dibiarkan membusuk di ladang pertanian, maka para petani akan mengalami kerugian yang lebih besar dari pada sebelumnya.
Keadaan ini membuat Carver sangat tertekan. Ia membawa masalah ini kepada Bapa dalam doa dan berseru, “Tuhan Pencipta, mengapa Engkau menciptakan kacang tanah?” Beberapa tahun kemudian ia bersaksi bahwa Bapa menuntun dia kembali ke laboratoriumnya dan Bapa bekerja sama dengan dia untuk menemukan 300 macam produk yang dapat dihasilkan dari kacang tanah, termasuk: lemak, mayonaise, keju, shampoo, kopi instan, tepung, bedak, plastik, perekat, gemuk, pengawet, dan lain-lain.
Sama halnya, dari ubi ia dapat mengadakan penemuan lebih dari 100 produk baru, di antaranya: tepung kanji, pasta, cuka, semir sepatu, tinta, sirup gula, dan lain-lain. Karena penemuan produk-produk baru tersebut, permintaan akan kacang tanah dan ubi meningkat dan sungguh-sungguh mentransformasi perekonomian wilayah Selatan Amerika Serikat.
Apakah Bapa membuat anda menjadi seorang penemu? Berdoalah kepada Tuhan untuk menolong anda memasarkan produknya.
Sumber: TGIF-2, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.
*****
Have you ever heard someone say, "He was before his time"? There are many examples of people who invented a product or service in a time when the market was not ready to embrace the product yet. Other things had to develop before the product could be a success.
George Washington Carver experienced this. Born around 1861 during the Civil War, he was a man who should have been a victim to his circumstances. Discriminated against constantly, he lost his mother to slave traders. As a young boy he cried out to God in the midst of his circumstances and God heard him. God gave George an indomitable persevering spirit and he was highly motivated to learn.
Carver discovered that Southern farmers who planted cotton for hundreds of years needed to plant a new crop because the soil had worn out and the farmers were going into interminable debt as a result. To restore the soil Carver advised the planting of peanuts and sweet potatoes instead of cotton. After much persuasion, planters gradually increased their peanut and sweet potato acreage, until these became the number-one crops in the South. However, there was not substantial market for the peanuts and sweet potatoes. Forced to let the product rot in the fields, the farmers ended up losing more money then before.
This situation placed a great deal of pressure on Carver. He took the problem to God in prayer and said, "Mr. Creator, why did You make the peanut?" Many years later, he shared that God led him back to his lab and worked with him to discover some 300 marketable products from the peanut including lard, mayonnaise, cheese, shampoo, instant coffee, flour, sop, face powder, plastics, adhesives, axle grease, and pickles.
Likewise, from the sweet potato he made more than 100 discoveries, among them starch, library paste, vinegar, shoe blacking, ink, and molasses. Because of these new products, the demand for peanuts and sweet potatoes grew and literally transformed the Southern economy.*
Has God made you an inventor? Ask him to help you bring your product to market.
*Adapted from More Than Conquerors, John Woodridge, General Editor, Moody Press, 820 N LaSalle St Chicago, IL 60610-3284 p. 311, 1992.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
George Washington Carver mengalami hal ini. Lahir sekitar tahun 1861 selama Perang Saudara di Amerika Serikat, ia adalah orang yang seharusnya menjadi korban keadaan. Ia selalu diperlakukan secara diskriminatif. Ia kehilangan ibunya yang dijual oleh pedagang budak. Sebagai seorang pemuda ia berseru kepada Bapa di tengah keadaannya yang sulit dan Bapa mendengar doanya. Bapa memberi Carver semangat bertahan yang kuat dan ia sangat termotivasi untuk belajar apapun.
Carver mendapati bahwa di wilayah Selatan Amerika Serikat para petani/pekebun yang menanam kapas selama ratusan tahun perlu menanam jenis tanaman baru karena tanah di sana telah aus dan gersang, dan para petani/pekebun itu akan dililit utang sebagai akibatnya. Untuk memulihkan tanah pertanian Carver menganjurkan penanaman kacang tanah dan ubi, sebagai ganti kapas. Setelah pendekatan yang intensif, para petani lambat laun meningkatkan penanaman kacang tanah dan ubi, sampai kedua jenis tanaman itu menjadi tanaman utama di wilayah Selatan. Namun, pada waktu itu belum ada pasar yang cukup besar untuk menyerap kacang tanah dan ubi. Jika tanaman itu dibiarkan membusuk di ladang pertanian, maka para petani akan mengalami kerugian yang lebih besar dari pada sebelumnya.
Keadaan ini membuat Carver sangat tertekan. Ia membawa masalah ini kepada Bapa dalam doa dan berseru, “Tuhan Pencipta, mengapa Engkau menciptakan kacang tanah?” Beberapa tahun kemudian ia bersaksi bahwa Bapa menuntun dia kembali ke laboratoriumnya dan Bapa bekerja sama dengan dia untuk menemukan 300 macam produk yang dapat dihasilkan dari kacang tanah, termasuk: lemak, mayonaise, keju, shampoo, kopi instan, tepung, bedak, plastik, perekat, gemuk, pengawet, dan lain-lain.
Sama halnya, dari ubi ia dapat mengadakan penemuan lebih dari 100 produk baru, di antaranya: tepung kanji, pasta, cuka, semir sepatu, tinta, sirup gula, dan lain-lain. Karena penemuan produk-produk baru tersebut, permintaan akan kacang tanah dan ubi meningkat dan sungguh-sungguh mentransformasi perekonomian wilayah Selatan Amerika Serikat.
Apakah Bapa membuat anda menjadi seorang penemu? Berdoalah kepada Tuhan untuk menolong anda memasarkan produknya.
Sumber: TGIF-2, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.
*****
Have you ever heard someone say, "He was before his time"? There are many examples of people who invented a product or service in a time when the market was not ready to embrace the product yet. Other things had to develop before the product could be a success.
George Washington Carver experienced this. Born around 1861 during the Civil War, he was a man who should have been a victim to his circumstances. Discriminated against constantly, he lost his mother to slave traders. As a young boy he cried out to God in the midst of his circumstances and God heard him. God gave George an indomitable persevering spirit and he was highly motivated to learn.
Carver discovered that Southern farmers who planted cotton for hundreds of years needed to plant a new crop because the soil had worn out and the farmers were going into interminable debt as a result. To restore the soil Carver advised the planting of peanuts and sweet potatoes instead of cotton. After much persuasion, planters gradually increased their peanut and sweet potato acreage, until these became the number-one crops in the South. However, there was not substantial market for the peanuts and sweet potatoes. Forced to let the product rot in the fields, the farmers ended up losing more money then before.
This situation placed a great deal of pressure on Carver. He took the problem to God in prayer and said, "Mr. Creator, why did You make the peanut?" Many years later, he shared that God led him back to his lab and worked with him to discover some 300 marketable products from the peanut including lard, mayonnaise, cheese, shampoo, instant coffee, flour, sop, face powder, plastics, adhesives, axle grease, and pickles.
Likewise, from the sweet potato he made more than 100 discoveries, among them starch, library paste, vinegar, shoe blacking, ink, and molasses. Because of these new products, the demand for peanuts and sweet potatoes grew and literally transformed the Southern economy.*
Has God made you an inventor? Ask him to help you bring your product to market.
*Adapted from More Than Conquerors, John Woodridge, General Editor, Moody Press, 820 N LaSalle St Chicago, IL 60610-3284 p. 311, 1992.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 21, 2009
I Have a Dream
Pada tanggal 28 Agustus 1963, di Lincoln Memorial, Washington D.C., Dr. Martin Luther King, Jr. membacakan pidato yang sangat terkenal "I Have a Dream". Pada malam ini WIB, 20 Januari 2009, Presiden Barack Obama membuktikan bahwa mimpi Dr. King telah menjadi kenyataan, meskipun hal itu membutuhkan waktu sekitar 45 tahun dan 145 hari. Oleh karena itu, beranilah bermimpi!
I Have a Dream
And so even though we face the difficulties of today and tomorrow, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream.
I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal."
I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.
I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.
I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.
I have a dream today!
I have a dream that one day, down in Alabama, with its vicious racists, with its governor having his lips dripping with the words of "interposition" and "nullification" -- one day right there in Alabama little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls as sisters and brothers.
I have a dream today!
I have a dream that one day every valley shall be exalted, and every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight; "and the glory of the Lord shall be revealed and all flesh shall see it together."
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
I Have a Dream
And so even though we face the difficulties of today and tomorrow, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream.
I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal."
I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.
I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.
I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.
I have a dream today!
I have a dream that one day, down in Alabama, with its vicious racists, with its governor having his lips dripping with the words of "interposition" and "nullification" -- one day right there in Alabama little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls as sisters and brothers.
I have a dream today!
I have a dream that one day every valley shall be exalted, and every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight; "and the glory of the Lord shall be revealed and all flesh shall see it together."
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI
