Search This Blog

Showing posts with label Perlindungan Tuhan - God's Protection. Show all posts
Showing posts with label Perlindungan Tuhan - God's Protection. Show all posts

Tuesday, June 2, 2009

Protection of God

Ini kisah tentang Ibu Lydia Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono lagi, yang terambil dari buku "Tuhan Itu Nyata":

Suatu hari saya naik Ferry dari Surabaya ke Banjarmasin berempat, bersama ipar, sepupu, dan anak saya yang perempuan. Setelah naik kapal dan duduk, saya mencari tas saya tetapi tidak ada. Di dalam tas saya ada dompet, uang, KTP, dan surat-surat berharga lainnya. Tas itu lumayan besar. Saya pikir tas itu masih di luar.

Lalu saya berkata kepada pramugari kapal Ferry, "Mbak, bolehkah saya turun sebentar, mau cari tas saya."

Pramugarinya berkata, "Ibu duduk saja. Ferry ini sudah mau berjalan. Kalau tas itu ketinggalan di luar, mungkin tas itu sudah tidak ada karena sudah lebih dari setengah jam Ibu di sini. Lagian banyak copet dan penipu di luar sana. Tidak usah dicari lagi, Bu. Sudah pasti hilang."

Dengan yakin dan percaya saya berkata kepada pramugari itu. "Mbak tahu tidak? Tuhan itu melindungi saya 24 jam. Di dalam tas itu banyak surat-surat penting. Ketika saya lengah dan tidak melindungi tas itu, saya percaya Tuhan akan melindunginya. Saya sungguh percaya ketika saya keluar dari Ferry ini saya pasti akan menemukannya."

Ketika saya katakan hal itu, semua penumpang yang ada di dalam Ferry tertawa.

"Silakan saja kalau Ibu mau cari. Satu hal yang Ibu harus tahu, mungkin tas Ibu masih ada, tetapi dompet dan isinya pasti sudah hilang karena tas itu disilet orang. Kalau Ibu mau coba, silakan."

Saya dan anak saya, Widi keluar dari Ferry. Pertama saya ke ruang dalam pelabuhan, tempat mengambil nomor bangku saya. Saya tanya kepada petugas di situ apakah dia melihat tas saya. Semua orang yang saya tanya tidak melihat tas saya. Lalu saya keluar lagi menuju ruang timbangan bagasi dimana banyak sekali kuli atau portir. Ruang itu adalah ruang terbuka.

"Mam, kalau di situ mana mungkin ada?" tanya anak saya.

"Mami percaya Tuhan pasti melindungi karena di dalam tas itu ada paspor mami. Semua yang penting ada di situ."

Di luar ada meja yang sangat panjang dimana orang duduk-duduk untuk mengantri timbangan bagasi. Di situ juga banyak kuli yang mengangkut barang.

Saya berkata kepada anak saya, "Lihat tidak di atas meja itu ada tas mami di sampingnya?"

Banyak orang berdiri di tengah-tengah meja itu. Saya permisi kepada mereka untuk mengambil tas saya. Di situ ada puluhan orang. Ternyata mereka semua tidak ada yang melihat tas itu. Mereka bilang bahwa dari tadi tidak melihat ada tas. Itu suatu pertanda bahwa ketika saya lengah, ketika saya tidak menjaga tas itu dengan baik, kalau kita memercayakan keberadaan kita kepada Tuhan, maka Tuhan melindungi. Tuhan membuat semua mata yang ada di situ buta dan tak melihat tas itu. Itu merupakan suatu pertanda betapa hebatnya penyertaan dan perlindungan-Nya. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com oleh Hadi Kristadi pada tanggal 2 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog Anda. Terima kasih banyak


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, May 8, 2009

Almost Cheated

Tadi malam ketika saya melayani Firman Tuhan di sebuah Kebaktian Tengah Minggu, salah seorang pemimpin jemaat setempat bersaksi tentang apa yang dialami pada hari Rabu 7 Mei 2009. Sekitar sepuluh hari sebelumnya, dia diminta oleh pemilik sebuah ruko yang dia tidak perpanjang lagi kontraknya untuk mencari penyewa lain. Setelah diiklankan di sebuah surat kabar, beberapa telpon masuk menanyakan ruko itu. Semuanya ternyata cuma tanya doang, tak ada yang serius. Pada hari kedelapan, yaitu Rabu 7 Mei 2009 itu ada telpon masuk.

"Pak, saya sudah melihat ruko yang bapak tawarkan. Saya berminat menyewanya selama setahun. Berapa harga sewanya, pak?" tanya seorang pria dengan sopan.

"Sembilan puluh juta, pak!"

"Wah, koq mahal ya?"

Kemudian mereka berdua saling tawar menawar dan akhirnya disepakati harga sewa itu sebesar Rp. 80 juta per tahun. Dari transaksi itu, sang pemimpin berharap akan mendapat komisi yang lumayan.

Rabu malam itu sebenarnya sang pemimpin harus berkhotbah di sebuah komsel. Di tengah acara komsel, tiba-tiba telpon masuk lagi.
"Pak, saya sudah transfer tanda jadi sebesar Rp. 10 juta. Tetapi ketika transaksi sudah selesai, listrik mati di sini. Saya belum sempat mendapatkan slip bukti transfer. Coba cek deh, di rekening Bapak, apakah sudah masuk."

Sang pemimpin yang sedang melayani acara komsel itu hanya berkata, "Pak, saya sedang memimpin acara ibadah, nanti saya cek deh,"

Kemudian sang pemimpin itu mengirim sms untuk mengecek saldo rekening BCA-nya. Ternyata saldonya tidak berubah, transfer Rp. 10 juta itu tidak masuk.

Setelah komsel, dia mengirim SMS.
"Transfer belum masuk, pak!"
"Coba sekarang cek lagi ke ATM, pak!" kata calon penyewa ruko itu.

Karena penasaran, sang pemimpin ini mendatangi ATM. Dia mengecek saldonya sekali lagi. Tak ada transfer masuk. Setelah keluar dari ATM dan ada di jalan, dia mengirim SMS, "Sudah saya cek di ATM, tetapi transfer tidak masuk, pak!"

"Wah, gimana ya? Apakah bapak bisa menghubungi call center BCA sekarang juga? Karena rekening saya sudah didebit sebesar Rp. 10 juta, tetapi koq tidak masuk ke rekening bapak? Ini nomor telpon call center-nya, pak. Coba hubungi sekarang dan bapak siap-siap di ATM sekali lagi, supaya jelas." kata calon penyewa mendesak sekali.

Sang pemimpin ini mulai curiga. Koq harus berhubungan dengan Call Center BCA segala? Apa urusannya? "Pak, itu urusan bapak dengan Call Center, saya tidak mau tahu. Pokoknya, bukti transfer harus ada dulu, baru transaksi kita jadi," kata sang pemimpin itu dengan tegas.

Setelah dipikir-pikir, sang pemimpin itu mulai menyadari bahwa dia hampir tertipu orang yang mengaku-ngaku telah mentransfer, lalu mengajak calon korbannya berbicara dengan "Call Center BCA". Pada waktu berbicara dengan Call Center palsu itu sang korban akan dihipnotis dan selama berada di ATM akan diperintahkan untuk mentransfer uangnya ke rekening penjahat. Untung dia tidak masuk jerat penipuan yang sedang marak ini.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, January 7, 2009

God's Protection

Saya pernah menonton film dokumenter yang ditayangkan oleh Discovery Channel. Di dalam film itu dikisahkan tentang perang antara Israel dan negara-negara Arab di sekitarnya. Pada suatu ketika sekitar lima orang tentara Israel telah terkepung di suatu bukit. Tentara musuh sudah mengelilingi mereka dengan senjata siap ditembakkan untuk membinasakan mereka. Namun tiba-tiba tentara musuh tersebut lari kocar-kacir. Ketika tim pencari fakta menyelidiki hal itu dan mewawancarai tentara Arab yang terlibat dalam pengepungan itu, salah seorang bercerita:

"Pada waktu kami mengepung tentara Israel yang telah terpojok di suatu dinding bukit itu, tiba-tiba kami melihat seorang orang tua. Anehnya kami tahu bahwa itu adalah Bapa Ibrahim yang berdiri dan melindungi mereka. Kami ketakutan dan lari dari tempat itu."

Itulah perlindungan Tuhan kepada bangsa pilihannya.

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku. (Kejadian 22:15-18)


******

Note:
Terima kasih atas pesanan 2 buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Iwan dari Bukit Tinggi. Buku sudah dikirim tadi siang via Pos Kilat Khusus. God bless you!

******

Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Yopie dari Batam. Buku sudah dikirim hari ini via Pos Kilat Khusus. God bless you!

******

Kiriman buku untuk Ibu Anastasia di Kupang telah dikirim via pos. God bless you!

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 1, 2008

You Are Not Alone

Saya pernah membaca kisah ini dulu, dan hari ini Ibu Suharti Ali mengirimkan lagi naskah dalam bahasa Inggerisnya, yang saya terjemahkan berikut ini.

Seorang gadis pergi ke rumah temannya dan ia tinggal lebih lama dibandingkan yang ia rencanakan sampai kemalaman, dan harus pulang berjalan kaki sendirian. Ia tidak takut karena itu adalah komunitas kecil dan ia tinggal hanya beberapa blok saja jauhnya. Ketika ia berjalan sepanjang jalur sepeda, Diane, nama gadis itu, berdoa kepada Bapa untuk menjaganya dari gangguan dan bahaya.

Ketika ia sampai di sebuah gang, yang merupakan jalan pintas ke rumahnya, ia memutuskan untuk menelusurinya. Namun, baru tiba di tengah gang itu, ia melihat seorang pria berdiri di ujung gang seolah-olah ia sedang menunggunya. Ia merasa tidak nyaman dan mulai berdoa, memohon perlindungan Bapa. Dengan segera perasaan tenang dan aman yang memberi penghiburan melingkupi sekeliling dirinya. Ia merasa seseorang sedang berjalan bersamanya. Ketika ia mencapai ujung gang itu, ia berjalan terus melewati pria itu dan tiba di rumah dengan selamat.

Keesokan harinya, ia membaca di sebuah surat kabar bahwa seorang gadis muda telah diperkosa di gang yang sama dua puluh menit setelah ia ada di sana. Karena merasa sedih oleh tragedi itu, dan ia merasa seharusnya ia tertimpa musibah itu, ia mulai menangis. Ia berterima kasih kepada Bapa karena ia selamat dan untuk menolong gadis muda itu, ia memutuskan untuk pergi ke kantor polisi. Ia merasa ia dapat mengenali pria itu, maka ia menceritakan kisahnya kepada polisi. Polisi memintanya untuk mengidentifikasikan pria yang dimaksud dari deretan pria yang telah dijadikan tersangka. Ia memperhatikan deretan pria itu dan matanya tertuju pada seorang pria yang ia temui di gang itu pada malam sebelumnya.

Ketika pria itu diberitahu bahwa ia telah dikenali sebagai pelaku pemerkosaan itu, ia segera mengaku. Perwira polisi berterima kasih kepada Diane atas keberaniannya dan bertanya apakah ada yang dapat dibantu baginya. Ia bertanya apakah polisi mau menanyakan satu pertanyaan kepada pria itu. Diane ingin tahu mengapa pria itu tidak mengganggunya pada malam itu. Ketika polisi bertanya kepadanya, pria itu menjawab, “Karena dia tidak sendirian. Ia ditemani dua orang tinggi besar di kiri kanannya.” Luar biasa, apakah anda percaya atau tidak, anda tidak sendirian.

*****

A girl went to her friend's house and she ended up staying longer than planned, and had to walk home alone. She wasn't afraid because it was a small COMMUNITY and she lived only a few blocks away. As she walked along under the bike trail Diane asked God to keep her safe from harm and danger. When she reached the alley, which was a shortcut to her house, she decided to take it. However, halfway down the alley she noticed a man standing at the end as though he were waiting for her.

She became uneasy and began to pray, asking for God's protection. Instantly a comforting feeling of quietness and security wrapped round her, she felt as though someone was walking with her. When she reached the end of the alley, she walked right past the man and arrived home safely.

The following day, she read in the newspaper that a young girl had been raped in the same alley just twenty minutes after she had been there. Feeling overwhelmed by this tragedy and the fact that it could have been her, she began to weep. Thanking the Lord for her safety and to help this young woman, she decided to go to the police station.

She felt she could recognize the man, so she told them her story. The police asked her if she would be willing to look at a lineup to see if she could identify him. She agreed and immediately pointed out the man she had seen in the alley the night before. When the man was told he had been identified, he immediately broke down and confessed. The officer thanked Diane for her bravery and asked if there was anything they could do for her. She asked if they would ask the man one question. Diane was curious as to why he had not attacked her. When the policeman asked him, he answered, 'Because she wasn't alone. She had two tall men walking on either side of her.'

Amazingly, whether you believe or not, you're not alone. ( people ) will not stand up for God........

Send this and make the subject the name of (your city)if you truly believe in God.....

PS: God is always there in your heart and loves you no matter what

'If you deny me in front of your friends, I shall deny you in front of my Father'

STAND UP FOR HIM

93% of people wont pass this on.... Will you be one of them???


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 13, 2008

The Power of Prayer

The Power of Prayer-- Author Unknown

Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…

Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.

Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.

Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.

Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”

Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)


****
The Power of Prayer

A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...

"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.

This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.

Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.

Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.

We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.

BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.

****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.

Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)

Monday, August 11, 2008

Don't Worry !

JANGAN KHAWATIR!
Bertahun-tahun yang lain, saya terpesona ketika saya mendengarkan khotbah seorang Pendeta yang selama bertahun-tahun telah setia melayani di gereja. Tugas dan tanggung jawabnya telah membawa dia bepergian ke seluruh negeri. Pada saat ia mengakhiri khotbahnya, ia menceritakan pengalaman-pengalaman kehidupannya yang paling menakutkan dan paling mengganggu pikiran.

Pada suatu saat ia berada dalam penerbangan panjang dari suatu tempat ke tempat lain. Peringatan pertama yang berasal dari masalah-masalah yang mendekat datang ketika tanda di pesawat itu menyala: “Kencangkan sabuk pengaman anda!”. Sejenak kemudian terdengar suara: “Kami tidak akan menyajikan minuman pada saat ini karena kita menghadapi sedikit badai. Pastikan sabuk pengaman anda terpasang.”

Ketika ia memandang ke sekeliling, jelaslah bahwa kebanyakan penumpang pesawat menjadi tegang. Kemudian suara pengumuman terdengar lagi, “Kami menyesal karena kami belum dapat menyajikan makanan sekarang. Badai ini masih ada di depan kita.”

Kemudian badai itu dimulai. Suara halilintar yang keras terdengar mengatasi deru suara mesin. Cahaya petir menyala di kegelapan langit, dan dalam beberapa saat pesawat besar itu seperti gabus yang diombang-ambingkan di lautan luas. Pada suatu saat pesawat itu melambung, pada kali lain pesawat itu merosot seperti hampir jatuh.

Pendeta itu mengaku bahwa ia merasakan ketidak-nyamanan dan ketakutan di antara mereka yang ada di sekelilingnya. Ia berkata, “Pada waktu saya memandang berkeliling, saya dapat melihat bahwa hampir semua penumpang gelisah dan ketakutan. Beberapa orang berdoa. Masa depan nampak tidak jelas dan banyak orang meragukan apakah mereka dapat melewati badai itu. Kemudian, tiba-tiba saya melihat seorang gadis kecil. Nampaknya badai itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia duduk melipat kakinya; ia sedang membaca sebuah buku dan segala hal di dalam dunianya yang kecil begitu tenang dan tenteram. Kadang-kadang ia memejamkan matanya, kemudian ia akan membaca lagi; kemudian ia meluruskan kakinya, namun tak ada kekhawatiran dan ketakutan sedikitpun di dalam dirinya. Ketika pesawat itu diombang-ambingkan oleh badai yang mengerikan, ketika pesawat itu bergoyang ke sana kemari, ketika pesawat itu naik dan turun dengan hebat, ketika semua orang dewasa hampir mati ketakutan, gadis kecil yang luar biasa itu sungguh tenang dan tanpa ketakutan.” Pendeta ini hampir tidak memercayai penglihatannya.

Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika pesawat itu akhirnya mencapai tujuan dan semua penumpang bergegas keluar pesawat, pendeta kita ini sangat ingin berbicara dengan gadis yang ia telah amati sepanjang perjalanan. Setelah mengomentari badai dan gerakan pesawat, ia bertanya mengapa gadis itu tidak takut. Anak kecil itu menjawab, “Karena papa saya adalah pilotnya, dan dia pasti membawa saya pulang dengan selamat.”

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Our Daddy God is in charge, don’t worry!
(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon jangan dihapus/didelete ketika anda memforward naskah ini).


***

Don't Worry!
-- Author Unknown

Years ago, I was enthralled as I listened to a pastor who for several years had faithfully served the church. His executive responsibilities had taken him all over this country. As he concluded his message, he told of one of the most frightening, yet thought-provoking, experiences of his life.

He had been on a long flight from one place to another. The first warning of the approaching problems came when the sign on the airplane flashed on: Fasten your seat belts. Then, after a while, a calm voice said, "We shall not be serving the beverages at this time as we are expecting a little turbulence. Please be sure your seat belt is fastened."

As he looked around the aircraft, it became obvious that many of the passengers were becoming apprehensive. Later, the voice of the announcer said, "We are so sorry that we are unable to serve the meal at this time. The turbulence is still ahead of us."

Then the storm broke. The ominous cracks of thunder could be heard even above the roar of the engines. Lightening lit up the darkening skies, and within moments that great plane was like a cork tossed around on a celestial ocean. One moment the airplane was lifted on terrific currents of air; the next, it dropped as if it were about to crash.

The pastor confessed that he shared the discomfort and fear of those around him. He said, "As I looked around the plane, I could see that nearly all the passengers were upset and alarmed. Some were praying. The future seemed ominous and many were wondering if they would make it through the storm.

Then, I suddenly saw a little girl. Apparently the storm meant nothing to her. She had tucked her feet beneath her as she sat on her seat; she was reading a book and every thing within her small world was calm and orderly. Sometimes she closed her eyes, then she would read again; then she would straighten her legs, but worry and fear were not in her world. When the plane was being buffeted by the terrible storm when it lurched this way and that, as it rose and fell with frightening severity,when all the adults were scared half to death, that marvelous child was completely composed and unafraid." The minister could hardly believe his eyes.

It was not surprising therefore, that when the plane finally reached its destination and all the passengers were hurrying to disembark,our pastor lingered to speak to the girl whom he had watched for such a long time. Having commented about the storm and behavior of the plane, he asked why she had not been afraid.

The child replied, "'Cause my Daddy's the pilot, and he's taking me home."

"Leave all your worries with him, because Your Daddy God cares for you."
(1 Petrus 5:7) (Author Unknown - Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, March 28, 2008

Your Heavenly Father Knows

Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia... Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih... Tuhan sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja... Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon. Tuhan selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 27, 2007

A Changed Life: A Story of Theological Student

Ini kisah yang saya dengar ketika saya mengajar pelajaran Alkitab di sebuah gereja GPdI di bilangan Tanjung Priok yang disubsidi oleh sebuah GBI yang sangat diberkati. Gembala GPdI itu, Yopi, ternyata saudaranya Oom Rorong, gembala GPdI tempat saya ikut Sekolah Minggu waktu kecil dulu. Sang gembala di Priok ini adalah orang Manado, berani menghadapi dan melayani para preman di lingkungannya. Ketika kerusuhan Tanjung Priok dulu meletus, ia berkeliling daerah konflik dengan aman.

Ketika ia mengikuti Sekolah Alkitab di Beji, di asrama itu ia satu kamar dengan seorang mantan preman, Frans (nama samaran) yang hidupnya berantakan sekali. Pada bulan-bulan pertama Frans masih didatangi teman-temannya yang bandar narkoba, tukang pukul dll. Namun pimpinan Sekolah Alkitab dengan tegas melarang Frans berhubungan dengan para teman-teman lamanya lagi. Kepada Frans Yopi ini sesumbar bahwa dirinya berasal dari desa di Minahasa yang paling gila ilmu santetnya. "Kalau gua mau ambil usus, tinggal cabut aja. Gampang!" kata Yopi agar Frans gentar kepadanya.

Suatu saat Pdt. J.E Awondatu yang mengajar di Sekolah Alkitab di Beji itu menegur kelakuan Frans. Karena pada waktu itu temperamen Frans masih liar, ia tidak terima ditegur seniornya. Ia tidak menunjukkan gelagat melawan atau marah pada saat ditegor itu. Ia rupanya merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Pdt. Awondatu tersebut.

Sore itu di ruang kelas itu Yopi sedang duduk siap-siap akan keluar setelah kuliah selesai. Di belakangnya duduk Frans. Dari sudut matanya ia merasa Frans mengangkat batang besi. Saat itu Pdt. Awondatu melintas di pintu kelas. Frans siap mengayunkan batang besi, seperti linggis besar. Secepat kilat Rudy mendorong Pdt. Awondatu dan ayunan batang besi Frans menghujam ke tanah. Pdt. Awondatu diluputkan dari serangan maut itu. Frans kemudian diamankan oleh Rudy. Di hadapan Rudy Frans tidak berkutik karena takut. Lalu teman-teman kuliah yang lainpun mengamankan Frans.

Pimpinan Sekolah Teologi itu memberi pilihan kepada Frans: ia harus keluar dari Sekolah apabila tidak mau mengikuti Tata Tertib atau tetap tinggal dengan syarat ia harus sungguh-sungguh bertobat. Frans bilang, "Kalau saya keluar, hidup saya akan makin bejat. Saya memilih tinggal dan belajar di Sekolah Alkitab saja." Pimpinan bilang dengan tegas, "Boleh, tapi kamu harus bersujud selama tujuh jam di sini!" Hukuman itu memang berat, namun ampuh untuk menguji kesungguhan seseorang.

Frans yang tadinya masih hidup setengah-setengah, setengah taat, setengah liar, rupanya menyadari, dengan sungguh-sungguh bertobat, ia akan mengalami perubahan kehidupan. Hari itu juga ia menguatkan tekadnya, ia bertelut di ruang kelas itu selama tujuh jam. Dengan susah payah ia harus menunjukkan bahwa ia ingin berubah, ia mau bertobat. Sejak saat itu hidup Frans berubah. Dengan pertolongan Tuhan Yesus ia mengalami kelahiran kembali. Ia menjadi ciptaan baru, kehidupan yang lama sudah berlalu dan kehidupan yang baru sudah datang. Menurut kabar dari Yopi, sekarang Frans melayani di sebuah GPdI di Bekasi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Puji Tuhan! Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 6, 2007

Lost in the Jungle of Kalimantan

Kesaksian yang saya sampaikan ini benar-benar telah melatih roh saya untuk berperang. Pada suatu hari saya diminta oleh seorang pengusaha di Kalimantan Timur untuk menyelesaikan masalah perusahaannya dengan masyarakat suku Punan yang tinggal di tengah hutan rimba Kalimantan. Saya diminta bantuan untuk mendatangi suku itu agar alat-alat berat yang dijarah dapat dikembalikan dan agar orang-orang yang berusaha menghalangi kegiatan operasional perusahaan dapat didamaikan dengan pihak perusahaan, sehingga kegiatan perusahaan dapat berjalan kembali.

Setelah saya berdoa, saya berangkat dengan pesawat dari Samarinda dan tiba di daerah perbatasan Kalimantan Timur. Saya langsung menuju ke lokasi dengan mencarter mobil milik warga setempat. Sesampai di pertengahan jalan mendadak anak sungai di depan kami diterpa banjir besar, sehingga kendaraan yang saya tumpangi tidak dapat menyeberanginya. Sang sopir tidak berani jalan terus melewati anak sungai itu dan malah memaksa pulang kembali ke tempat kami berangkat. Saya ditinggalkan sendiri di pinggir sungai yang kebanjiran tadi, dikelilingi hutan rimba, jauh dari perkampungan.

Kemudian saya berjalan menyeberangi sungai tadi dan berhasil sampai ke seberang. Saya baru sadar bahwa hari mulai sore, di sekeliling saya hutan belantara dipenuhi bunyi-bunyian bermacam-macam serangga dan binatang hutan. Saya berdoa, "Tuhan Yesus, tolong saya yang berada di hutan sendirian dan hari akan menjadi malam! Dalam nama Tuhan Yesus saya berdoa. Amin!"

Kira-kira lima menit setelah saya berdoa, saya mendengar ada suara perahu mesin ketinting yang mengarungi anak sungai itu. Saya berbalik ke arah sungai lagi dan mengejar perahu yang dikendarai oleh dua orang anak kecil dari suku Punan. Mereka datang ke situ tanpa tujuan apa-apa dan saya membayar mereka untuk mengantar saya ke desa suku Punan yang akan saya datangi.

Ternyata desa yang akan saya datangi masih jauh sekali dan saya tiba di desa itu jam 9 malam. Saya bisa membayangkan, kalau saya berjalan kaki pasti memakan waktu lama dan sangat berbahaya berjalan kaki seorang diri di tengah kegelapan hutan rimba Kalimantan. Tetapi karena pertolongan Tuhan, Ia mengirimkan dua orang anak kecil untuk mengantar saya selamat sampai tujuan.

Keesokan harinya saya mengumpulkan orang-orang suku Punan dan mengajak mereka mengadakan kebaktian hari Minggu. Seusai kebaktian kami mengadakan acara Perjamuan Kasih atau makan bersama yang dibiayai oleh perusahaan. Selesai perjamuan kasih saya mulai berdiskusi mengenai masalah-masalah yang ada kepada Kepala Adat suku Punan. Dari pembicaraan kami akhirnya masalah antara perusahaan dan suku Punan dapat diselesaikan dengan memberi bantuan untuk kegiatan Natal, pembangunan gereja, pemasangan alat komunikasi, pembangunan balai adat dan Alkitab.

Pihak perusahaan juga tidak keberatan untuk membantu masyarakat suku Punan. Sampai kini kegiatan operasional perusahaan di wilayah suku Punan berjalan lancar. Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena campur tangan-Nya yang ajaib, sehingga permasalahan antara suku Punan dengan perusahaan dapat diselesaikan.

Demikianlah kesaksian Drs. Octavianus Daud, Wakil Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur yang ditulis dalam buletin VOICE dari Full Gospel Businessmen's Fellowship.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 4, 2007

Ketika Nama Baik Dilecehkan

Amsal 22:1 menyatakan bahwa “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar,” Nama baik itu penting. Namun ada orang-orang yang begitu memberhalakan nama baik, sehingga mereka gampang tersinggung jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan atau mengritik dia. Bahkan ada orang yang marah besar dan menuntut orang lain yang mengatakan sesuatu hal yang tidak benar.

Adakalanya Tuhan melatih orang-orang tertentu untuk menjadi rendah hati dan menyerahkan pembelaan nama baik itu kepada Tuhan, sehingga malahan Tuhan bukan hanya membelanya, namun Tuhan memberkati orang yang merelakan dirinya dihina dan difitnah.

Seorang hamba Tuhan tenang-tenang saja ketika beredar gosip yang menyatakan bahwa dirinya adalah pendeta yang suka mencuri seprei dan sarung bantal jika menginap di hotel. Fitnahan itu beredar luas sehingga banyak orang ingin melihat seperti apa sih pendeta yang suka mencuri itu? Ketika mereka berbondong-bondong datang menghadiri kebaktian yang dilayaninya, orang-orang pada kecele, malah diberkati pesan Tuhan melalui hamba-Nya yang rendah hati ini. Ia tahu tentang gosip dan fitnah mengenai dirinya, namun ia diam saja. Ia menyerahkan pembelaan itu kepada Tuhan, dan ia diberkati.

Beberapa waktu yang lalu dan sampai saat ini ada hamba Tuhan yang sangat terkenal dari Semarang yang mengalami fitnahan dan gosip yang miring. Gosip itu bahkan disebarluaskan oleh orang-orang yang mengaku hamba Tuhan. Beliau tidak marah atau menuntut orang-orang yang mengata-ngatainya, beliau diam saja. Sekarang ini jemaat yang digembalakan beliau di Semarang menikmati kebangunan rohani yang luar biasa. Dalam satu ibadah raya pada hari Minggu, hadir lebih dari 25.000 orang memadati stadion yang penuh kekudusan Tuhan, dan jumlah ini meningkat terus.

Pembalasan itu adalah hak Tuhan, jangan kita merebut hak itu dari Tuhan. Ketika kita berdiam diri dan dengan rendah hati menerima cercaan, hinaan, fitnahan, ejekan, gosip, kita akan mendapatkan pembelaan dari Tuhan. Ia akan membela orang-orang yang merelakan dirinya dihina, dilecehkan, dikata-katai, digosipi, difitnah. “Enak aja?” begitu mungkin kata orang. Kita lebih sering bereaksi untuk membela diri. Ketika kita membela diri, Tuhan akan membiarkan kita. Namun ketika kita berdiam diri dan mengharapkan pembelaan dari Tuhan, Ia akan turun tangan membela kita.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, July 3, 2007

Disiksa Ibu Kandung (3)

“Ayah, Ibu telah menusuk dadaku dengan pisau…” kataku sambil menahan sakit akibat banyaknya darah yang keluar. Aku telah berjalan bersusah payah dari ruang dapur menuju Ayah, pahlawanku. Di kursi panjang di ruangan itu duduklah Ayah sambil membaca koran. Aku berharap Ayah akan menegur Ibu, lalu membawaku ke Rumah Sakit. Aku berdiri di depan Ayah, menunggunya menurunkan koran dan melihatku. Ayah bahkan tidak mengangkat alis matanya, apalagi menoleh. “Kenapa?” tanyanya. “Dia bilang, kalau aku tidak menyelesaikan tugas mencuci perkakas dapur tepat 20 menit, dia…dia akan membunuhku.”

Waktu seakan berhenti. Dari balik koran aku bisa mendengar nafas Ayah yang jadi berat. Ia menelan ludah, lalu bekata, “Yah, kau ah,…. Kau lebih baik kembali ke dapur dan menyelesaikan tugasmu mencuci piring.” Kujulurkan kepalaku ke depan, seolah-olah ingin lebih jelas mendengar ucapannya. Aku tak percaya akan apa yang baru saja kudengar.

Aku kecewa berat. Ayah bahkan tidak melihat ke arahku. Menurutku, paling tidak ia bisa menurunkan korannya untuk melihat sorot mataku, maka ia pasti tahu. Ia pasti akan bisa merasakan sakitku, merasakan betapa aku membutuhkan pertolongannya. Tetapi seperti biasanya, aku tahu Ibu mengendalikan Ayah dan mengendalikan semua persoalan di keluarga ini.

Aku meninggalkan ruangan itu. Rasa hormatku terhadap Ayah hancur sudah. Gambaran Ayah sebagai penyelamat ternyata palsu. Rasa marahku terhadap Ayah lebih besar daripada terhadap Ibu. Aku ingin bisa terbang, tetapi rasa sakit yang kurasakan mengembalikan aku pada kenyataan.

Selama aku disiksa, aku pernah dicekoki amonia. Aku dipaksa menelan sabun cair pencuci piring dan clorox (cairan penghancur kotoran manusia). Aku dipaksa makan kotoran adikku dan ketika aku menolak, Ibu melumuri wajahku dengan popok adikku yang penuh kotoran yang sangat bau, sehingga wajahku belepotan kotoran menjijikkan itu. Aku juga harus mengais-ngais makanan dari tempat sampah, kalau beruntung. Aku harus makan sisa makanan anjing. Karena kelaparan aku harus mencuri makanan dari sana sini. Aku mencuri makanan dari bekal teman-temanku. Dan ketika aku dilaporkan kepada Ibuku, aku akan menerima hukuman lebih berat. Suatu saat aku mencuri sosis dari toko karena kelaparan. Ketika pulang Ibu memaksaku memuntahkan isi perutku. Ia menemukan sosis itu dan menunjukkannya kepada Ayah. Di depan Ayah, aku dipaksa memakan muntahan sosis yang anjingpun tidak suka lagi karena muntahan itu bau sekali. Aku dipaksa memakannya di depan Ayah yang diam saja.

Pada saat-saat seperti ini aku seringkali berpikir bahwa Tuhan yang adil itu tidak ada. Mengapa Ia membiarkanku seperti ini? Apakah Tuhan itu ada?

Akhirnya Pak Polisi membuat berita acara tentang penyiksaan yang dialamiku. Ia menelpon Ibu, “Mrs. Pelzer, saya Opsir Smith dari Kantor Polisi Daly Smith. Anak anda, David, tidak akan pulang ke rumah hari ini. Ia berada dalam perlindungan San Mateo Juvenille Department. Kalau ada yang ingin Anda tanyakan, silakan hubungi departemen tersebut.” Beberapa waktu kemudian Pak Polisi mengatakan kepadaku, “Kamu bebas sekarang. Bebas dari siksaan Ibumu. Ia tidak akan pernah dapat menyakitimu lagi.”

Sejak itu David menghirup kebebasan. Ia akhirnya menyadari bahwa Tuhan yang baik selalu melindungi. Diam-diam Tuhan memberinya kekuatan dan keberanian pada saat ia paling membutuhkan. David kemudian mendaftarkan diri ke US Air Force. Ia pernah ambil bagian dalam Operasi Desert Storm. Ia mendapatkan penghargaan dari dua Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan dan George Bush atas jasa-jasanya. Ia mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari Ten Outstanding Young Americans. Ia banyak membela para anak dan remaja yang mengalami “Child Abuse”.
Kisah selengkapnya dapat anda baca dari buku “A Child Called It”, “The Lost Boy” dan “A Man Named Dave” terbitan PT. Gramedia.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, July 2, 2007

Disiksa Ibu Kandung (2)

Mulanya sikap Ibu sangat baik kepada kami semua, aku, Ron, dan Stan. Ia pernah menjadi Ibu ideal bagi kami. Kami masih ingat saat-saat manis berpiknik bersama ayah dan ibu, dan saudara-saudaraku. Namun pada suatu saat hubunganku dengan Ibu berubah drastis ketika Ibu banyak menghabiskan waktunya seharian tiduran di kursi menonton televisi sambil menikmati minuman kerasnya.

Aku mulanya dihukum di pojok kamar, tidak boleh menonton tv, tidak boleh bermain, tidak boleh kemana-mana sampai diizinkan ibu. Kemudian Ibu memutuskan bahwa hukuman pojok kamar tidak mempan, lalu ia memperkenalkan “hukuman cermin”. Wajahku ditempelkan dan ditekan pada kaca cermin. Lalu wajahku yang basah oleh airmata digesek-gesekannya pada permukaan cermin yang licin dan memantulkan wajahku. Kemudian Ibu memaksaku untuk berkata, “Aku anak nakal! Aku anak nakal!” Demikian berulang-ulang. Kemudian aku dipaksa berdiri, disuruh melihat ke cermin, sementara Ibu menonton tv.

Ketika acara tv menayangkan iklan, Ibu akan bergegas menuju kamar untuk memeriksa apakah aku masih memandang ke arah cermin, lalu ia akan berkata kepadaku betapa aku adalah anak yang memuakkan. Sekali-sekali saudara-saudaraku masuk ke kamar saat aku mendapat “hukuman cermin”, lalu mereka memandang ke arahku, sambil mengangkat bahu sedikit, lalu meneruskan permainan mereka, seolah-olah aku tidak ada di situ. Mulanya sikap mereka itu membuat aku tersinggung, namun aku segera paham bahwa itu mereka lakukan semata-mata demi menyelamatkan diri mereka sendiri.

Suatu saat Ibu mendatangiku dengan kedua tangannya terentang dan terangkat. Mata Ibu berkilat dan merah, nafasnya bau alkohol. Aku menutup mataku begitu pukulan Ibu bertubi-tubi menghantamku dari kiri dan kanan. Kucoba menggunakan tangan untuk melindungi wajahku, tapi Ibu dengan mudah menyingkirkannya. Pukulannya kurasakan seakan tak akan pernah berhenti. Akhirnya kulingkarkan lengan kiriku untuk menutupi wajahku. Saat Ibu berusaha menarik lenganku, ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang, sementara tangannya masih mencengkeram lengan kiriku. Ibu berusaha agar tidak jatuh sehingga lengan kiriku tertarik keras. Saat itulah kudengar suara gemeretak, lalu aku merasa sangat kesakitan pada bahu dan lenganku. Ibu tampak tertegun, dan begitu saja melepaskan cengkeramannya dari lengan kiriku. Ia pergi begitu saja. Perlahan-lahan kucoba menggerakkan lengan kiriku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Lengan kiriku tak dapat bergerak sama sekali. Ketika keadaanku semakin parah Ibu membawaku ke Rumah Sakit sambil membual bahwa aku terjatuh dari tempat tidur. Dokter yang merawatku sama sekali tidak percaya bahwa cedera pada lenganku diakibatkan karena terjatuh.

Ada saja gara-gara yang Ibu timpakan kepadaku. Ia menuduhku bermain-main di rumput di sekolah. Menurut imajinasinya, aku telah bersalah melanggar peraturan yang dibuatnya. Kemudian Ibu menyalakan api di kompor dan akan memanggangku di atasnya. “Kau membuat hidupku seperti di neraka!” katanya penuh cemooh. “Kini saatnya kutunjukkan padamu apa itu neraka.” Dengan mencengkeram kuat lenganku, Ibu meletakkannya di atas api yang berwarna biru jingga. Akibat panasnya api, aku merasa lenganku matang. Tercium olehku bau bulu-bulu lenganku yang terbakar, kulitku yang terbakar. Aku menjerit-jerit kesakitan. Sehebat apapun perlawanan yang kuberikan, aku tak mampu melepaskan lenganku dari cengkeraman Ibu.

Akhirnya aku jatuh ke lantai, sambil meniupkan udara dingin ke lenganku yang terbakar. “Sayang sekali, ayahmu yang pemabuk itu tidak di rumah sehingga ia tidak bisa menyelamatkanmu!” desisnya. Kemudian Ibu menyuruhku naik ke atas kompor dan berbaring di atas api, sehingga ia bisa menyaksikan tubuhku terbakar. Aku menolak, sambil menangis mengiba-iba. Aku begitu ketakutan sampai-sampai kuhentak-hentakkan kakiku ke lantai sebagai tanda protes. Tetapi Ibu tetap memaksaku. Kutatap api kompor, sambil berdoa agar api itu padam karena kehabisan gas. Aku tahu bahwa aku harus mengulur-ulur waktu sampai seseorang datang ke rumah, sampai kakakku Ron pulang. Ibu tak akan gila ketika ada orang lain datang ke rumah. Aku mulai bermanis-manis, bertanya ini itu kepada Ibu. Kelakuanku membuat Ibu bertambah ganas, ia mulai menghujani pukulan ke kepala dan dadaku. Semakin membabi buta Ibu memukuliku, semakin aku sadar bahwa aku menang. Apapun boleh Ibu lakukan terhadapku, asal aku jangan dibakar di atas kompor. Akhirnya kudengar pintu depan dibuka seseorang. Ibu terperangah. Kesempatan itu aku gunakan untuk lari ke basement yang lembab dan gelap. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, July 1, 2007

Disiksa Ibu Kandung (1)

Ini kisah tentang Dave Pelzer. 5 Maret 1973, Daly City, California. Aku terlambat. Aku harus menyelesaikan pekerjaan mencuci peralatan makan secepatnya, kalau tidak, aku tidak dapat jatah sarapan, dan karena semalam aku tidak makan, jadi sekarang aku harus makan sesuatu. Ibu mondar-mandir sambil berteriak-teriak kepada saudara-saudara lelakiku. Aku bisa mendengar langkah-langkahnya yang berat menuju dapur. Cepat-cepat aku membilas lagi. Tapi terlambat.

Ibu menarikku dengan kasar. Plaaakk! Ibu memukul mukaku, dan aku terjatuh. Aku tahu, lebih baik aku jatuh daripada tetap berdiri dan dipukul lagi. Kalau aku tetap berdiri, Ibu akan menganggap itu sebagai sikap membantah, dan itu artinya beberapa pukulan lagi akan mendarat di tubuhku, atau, yang paling kutakutkan, aku tidak diberi sisa makanan bekas dari piring saudara-saudaraku.

Aku menunjukkan sikap ketakutan, sambil terus-menerus mengangguk, seakan memahami arti ancaman-ancaman yang keluar dari mulutnya. Satu pukulan lagi menyentakkan kepalaku hingga membentur pinggiran dinding. Aku meneteskan air mata sebagai tanda tak tahan menerima siksaan Ibu. Lalu ia ke luar dari dapur, tampaknya ia puas akan perlakuannya terhadapku. Aku menghitung langkah-langkahnya untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah menjauh, dan akupun menarik nafas lega. Ibu boleh memukuliku sesuka hatinya, tapi aku tak membiarkannya mengalahkan tekadku untuk bertahan hidup.

Karena terlambat datang di sekolah, aku harus melapor ke ruang tata usaha. Ibu sekretaris di ruang itu menyambutku dengan senyuman. Tak lama kemudian Pembimbing Sekolah muncul dan mengajakku ke ruang kerjanya, lalu kami melakukan hal-hal yang sudah biasa kami lakukan. Pertama, ia memeriksa muka dan lenganku.
“Bagian atas matamu kenapa?”
“Oh, itu terbentur pintu, tak sengaja.” kataku, menirukan kata-kata yang diajarkan ibuku.

Pembimbing Sekolah hanya tersenyum. Ia mengambil catatannya. Ia membalik-balik catatannya, lalu menujukkan padaku tulisan di catatan itu, “Coba lihat ini,” katanya, “kamu mengatakan hal yang sama hari Senin kemarin. Kau ingat?” Cepat-cepat aku ganti dalihku. “Oh, aku sedang main bisbol, lalu pemukulnya mengenai aku. Tidak sengaja koq.” Tetapi Pembimbing Sekolah lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah tidak mempan dibohongi dalih-dalihku yang selalu ingin melindungi Ibu. Dengan caranya, ia selalu berhasil membuatku mengatakan kejadian yang sebenarnya. Pada akhirnya aku selalu mengaku sambil terisak.

Prosedur itu diteruskan seperti biasanya. Pembimbing Sekolah meminta aku membuka baju. Ini sudah kami lakukan sejak dua tahun lalu, jadi sekarang aku menurut saja. Kemejaku penuh lubang, lebih banyak lubangnya dari lubang di keju Swiss. Selama dua tahun ini itulah satu-satunya baju yang dapat kupakai. Ibu menyuruhku memakai baju itu setiap hari. Begitulah caranya ia menghinaku. Celana yang kupakai juga sama jeleknya. Sepatuku berlubang di bagian ujung depan, sampai-sampai aku dapat mengeluarkan dan menggerak-gerakkan ujung jempolku keluar melalui salah satu lubang-lubang itu.

Lalu aku berdiri hanya mengenakan celana dalam, sementara Pembimbing Sekolah mencatat luka dan memar di sekujur tubuhku pada buku catatannya. Ia teliti betul. Selanjutnya, ia membuka mulutku untuk memeriksa gigi-gigiku, yang patah atau copot akibat dibenturkan Ibu ke pinggiran bak pencuci piring. Kemudian ia memeriksa sekali lagi seluruh tubuhku, lalu berhenti di luka sobek yang sudah lama di bagian perutku. “Yang itu,” katanya dengan nada suara yang agak tertahan, “luka akibat tusukan ibumu, ‘kan?” “Ya, bu.” jawabku.

Pembimbing itu menangkap kekhawatiran dan ketakutan di mataku akibat pengakuanku. Ia segera meletakkan buku catatannya, lalu memelukku. “Aduh, enaknya,” kataku dalam hati, “Ibu Pembimbing ini begitu hangat.” Aku tak mau melepaskannya. Aku mau selamanya dipeluk begini. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Rasanya begitu aman, tak terjadi apa-apa. Ia mengusap kepalaku. Aku tersentak oleh rasa sakit pada luka bengkak akibat pukulan ibuku tadi pagi. Pembimbing itu melepaskan pelukannya dan keluar ruangan. Cepat-cepat aku mengenakan kembali pakaianku.

Begitu masuk kelas, semua murid menutup hidung dan serentak mengeluarkan suara seperti mendesah. Guru pengganti yang mengajar pagi itu mengibaskan tangan di depan wajahnya. Ia belum terbiasa dengan bau badanku. Belum lagi aku duduk di tempat dudukku, aku dipanggil kembali ke ruang kepala sekolah. Semua murid di kelas itu berseru, “Huuuuuuuu.” ke arahku, tanda penolakan oleh sesama murid kelas lima SD.

Begitu sampai ke ruang kepala sekolah, sejenak aku heran apa yang kulihat. Di ruangan itu duduk di sekeliling sebuah meja, beberapa orang guru, Mr. Hansen sang kepala sekolah dan seorang polisi. Rasanya kakiku tak mau digerakkan. Aku bingung, karena aku tak mencuri bekal makanan siapapun hari ini. Semua orang di ruangan itu tampak tersenyum menyambutku. Sama sekali aku tak tahu bahwa mereka akan mempertaruhkan pekerjaan mereka demi menyelamatkan diriku dari kegilaan Ibuku.

Pak Polisi di ruangan itu memberitahuku mengapa Mr. Hansen memanggilnya. Rasanya badanku mengerut di kursi yang kududuki. Pak Polisi meminta aku menceritakan tentang Ibu. Aku menggeleng, tak mau. Sudah terlalu banyak orang tahu rahasia tentang Ibu. Ada suara lembut yang membuatku nyaman. Rasanya itu suara Miss Moss, guru matematika. Ia menghiburku. “Tak apa-apa,” katanya. Aku menarik nafas panjang. Sambil meremas-remas jari tanganku sendiri, dengan agak segan kuceritakan apa saja yang pernah terjadi antara aku dan Ibu. Pembimbing Sekolah menyuruhku berdiri, lalu memperlihatkan luka-luka di sekujur tubuhku. Cepat-cepat kutambahkan bahwa itu tak disengaja. Ibu tak sengaja menusukku. Aku menangis. Kukeluarkan apa yang selama ini kupendam, bahwa Ibu menghukumku karena aku nakal. Setelah bertahun-tahun tersiksa begini, aku tahu tak seorangpun bisa melakukan sesuatu yang dapat mengubah keadaanku. Tapi ternyata aku keliru kali ini. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 5, 2007

Survive from Car Crash

Mertua Albert adalah seorang pengemudi metromini. Pada Jumat malam itu mertuanya pulang dari pool metromini jam 11 malam, naik motor sendirian. Di jalan Perintis Kemerdekaan motornya dipepet sebuah taksi yang ugal-ugalan, sehingga mertuanya membuang stir ke kanan. Namun motor membentur separator busway sehingga mertuanya jatuh, kepala duluan membentur aspal, dan tertimpa motor pula.

Mertuanya segera dibawa ke sebuah Rumah Sakit Swasta di bilangan Cempaka Putih. Dalam keadaan tidak sadar mertuanya dibiarkan saja di ruang Unit Gawat Darurat. Jam 3.30 pagi mertuanya siuman dan ditanya perawat yang berdinas, "Berapa nomor telpon keluarga yang bisa dihubungi?" Setelah diberi tahu, pihak RS menelpon ke rumahnya. Seisi rumah kaget dan segera bergegas ke RS.

Di sana tergeletak ayah mertua Albert. Dalam keadaan kepala berdarah, sang korban tidak ditangani apapun karena pihak RS menunggu adanya pihak keluarga yang bertanggung jawab atas pembayaran biaya RS. Darah mengalir dari kepala, membasahi baju dan tempat tidur pasien. Lalu perawatnya tanya, "Apa lukanya mau dijahit?" Hah? Bukankah seharusnya pihak RS yang lebih tahu apa yang harus dilakukan terhadap pasien di ruang gawat darurat? Rupanya pihak RS bertanya begitu untuk memastikan apakah keluarga pasien punya dana untuk menjahit luka itu.

Setelah luka dijahit, maka dilakukan pemeriksaan kepala dan telinga. Dari telinga juga mengalir darah segar. Setelah kepala di-scanning, ternyata tidak ada bagian otak yang rusak atau gegar otak. Hanya darah kering memenuhi bagian dalam telinga mertuanya. Setelah dibersihkan dengan cairan khusus dan diperiksa di RS THT, ternyata telinga mertuanya juga baik. Selain itu tulang bahu ada yang patah atau retak, namun setelah dirawat di tukang pijat khusus, bagian inipun sembuh.

Dalam kejadian ini Albert tetap bersyukur kepada Tuhan. Dialah perlindungan kita. Ayah mertuanya sekarang telah dipulihkan sempurna.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI