Dalam sebuah karikatur, tampak seseorang sedang duduk di tepi sebuah sungai dengan aliran air yang deras. Tiba-tiba ia mendengar suara, “Help, help, help!” Ia tidak tahu arti kata-kata tersebut, karena tidak pernah belajar bahasa Inggris. Syukurlah ia membawa kamus, sehingga segera mencari arti kata tersebut. Begitu mengetahui artinya, ia segera terjun untuk menolong. Namun terlambat, orang itu telah meninggal.
Apa yang akan kita lakukan saat melihat seseorang memerlukan pertolongan kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuknya? Pastinya kita tidak ingin seseorang terlambat menerima pertolongan kita, bukan? Tulisan Petrus Kwik/Email dari Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Showing posts with label Waktu - Time. Show all posts
Showing posts with label Waktu - Time. Show all posts
Wednesday, November 18, 2009
Saturday, October 10, 2009
The Value of Time
To realize the value of one year:
Ask a student who has failed a final exam.
To realize the value of one month:
Ask a mother who has given birth to a premature baby.
To realize the value of one week:
Ask an editor of a weekly newspaper.
To realize the value of one hour:
Ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of one minute:
Ask the person who has missed the train, bus or plane.
To realize the value of one second:
Ask a person who has survived an accident.
To realize the value of one millisecond:
Ask the person who has won a silver medal in the Olympics.
Time waits for no one. Treasure every moment you have.
You will treasure it even more when you can share it with someone special.
Author unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ask a student who has failed a final exam.
To realize the value of one month:
Ask a mother who has given birth to a premature baby.
To realize the value of one week:
Ask an editor of a weekly newspaper.
To realize the value of one hour:
Ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of one minute:
Ask the person who has missed the train, bus or plane.
To realize the value of one second:
Ask a person who has survived an accident.
To realize the value of one millisecond:
Ask the person who has won a silver medal in the Olympics.
Time waits for no one. Treasure every moment you have.
You will treasure it even more when you can share it with someone special.
Author unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, July 29, 2009
Value Your Time
Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.
Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah.
Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah,ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.
Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, "Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi."
Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser. "Halo?" suara ibunya membangunkannya. "Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu," kata Jack"tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku."
"Oh tidak, Jack," kata ibunya, "Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari- hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal."
"Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau,aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini." kata Jack.
Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.
Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser.Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey... Jack terdiam sejenak. "Kotak emas di ujung meja itu hilang!" seru Jack.
Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. "Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab 'Pokoknya berharga deh'." Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.
Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca.
Jack membuka paket itu... Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu, "Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki." Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu.
Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya, "Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser."
"Yang ia hargai dariku adalah... waktuku." serunya perlahan.
Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. "Mengapa?" tanya Janet, sekertarisnya. "Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku," kata Jack, "dan Janet, terima kasih untuk waktumu..."
Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.
Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka? (Email dari Ibu Suharti)
*****
Personal Note:
Terima kasih atas pesanan 2 buku Mukjizat Kehidupan oleh Bpk. Hengky di Surabaya. Buku telah dikirim dengan pos kilat khusus pada Rabu pagi. God bless you. Jika Bapak diberkati buku tersebut, mohon referensikan kepada kolega-kolega Bapak.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah.
Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah,ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.
Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, "Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi."
Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser. "Halo?" suara ibunya membangunkannya. "Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu," kata Jack"tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku."
"Oh tidak, Jack," kata ibunya, "Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari- hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal."
"Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau,aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini." kata Jack.
Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.
Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser.Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey... Jack terdiam sejenak. "Kotak emas di ujung meja itu hilang!" seru Jack.
Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. "Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab 'Pokoknya berharga deh'." Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.
Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca.
Jack membuka paket itu... Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu, "Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki." Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu.
Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya, "Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser."
"Yang ia hargai dariku adalah... waktuku." serunya perlahan.
Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. "Mengapa?" tanya Janet, sekertarisnya. "Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku," kata Jack, "dan Janet, terima kasih untuk waktumu..."
Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.
Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka? (Email dari Ibu Suharti)
*****
Personal Note:
Terima kasih atas pesanan 2 buku Mukjizat Kehidupan oleh Bpk. Hengky di Surabaya. Buku telah dikirim dengan pos kilat khusus pada Rabu pagi. God bless you. Jika Bapak diberkati buku tersebut, mohon referensikan kepada kolega-kolega Bapak.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, January 26, 2009
A hundred Years from Now
Seratus tahun dari sekarang tak seorangpun akan ingat
berapa banyak uang yang saya miliki di bank,
mobil jenis apa yang saya kendarai,
atau pekerjaan apa yang saya miliki.
Namun saya akan diingat
sebagai seorang yang istimewa
karena saya telah membuat perbedaan
dalam kehidupan seorang anak kecil.
Penulis Tak Dikenal
*****
A hundred years from now no one will remember
How much money I had in the bank
what kind of car I drove
or what kind of job I had.
But I will be remembered
as someone special
because I made a difference
in the life of a child.
Author unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
berapa banyak uang yang saya miliki di bank,
mobil jenis apa yang saya kendarai,
atau pekerjaan apa yang saya miliki.
Namun saya akan diingat
sebagai seorang yang istimewa
karena saya telah membuat perbedaan
dalam kehidupan seorang anak kecil.
Penulis Tak Dikenal
*****
A hundred years from now no one will remember
How much money I had in the bank
what kind of car I drove
or what kind of job I had.
But I will be remembered
as someone special
because I made a difference
in the life of a child.
Author unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, October 28, 2008
One thousand Saturdays
Kisah 1000 Hari Sabtu
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini.
Begini kisahnya:
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara “Bincang-Bincang Sabtu Pagi”. Aku mendengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi 'kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang mau bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat."
Ia melanjutkan, "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku."
Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Bukankah umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun? Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya 'kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting."
"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini," sambungnya, "dan pada saat itu aku 'kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati."
"Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu mengambil sebutir kelereng dan membuangnya."
"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu."
"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah memberiku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi."
"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan akan bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan,” kataku, "Lho, ada apa ini...?" tanyanya tersenyum. "Ah, tak ada apa-apa, tidak ada yang spesial," jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."
Pesan dari cerita ini :
SPEND YOUR WEEKEND WISELY AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.
(Shared by Fr. Rick of Kingston, NY - taken from milist Ida and Friends)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini.
Begini kisahnya:
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara “Bincang-Bincang Sabtu Pagi”. Aku mendengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi 'kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang mau bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat."
Ia melanjutkan, "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku."
Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Bukankah umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun? Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya 'kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting."
"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini," sambungnya, "dan pada saat itu aku 'kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati."
"Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu mengambil sebutir kelereng dan membuangnya."
"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu."
"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah memberiku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi."
"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan akan bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan,” kataku, "Lho, ada apa ini...?" tanyanya tersenyum. "Ah, tak ada apa-apa, tidak ada yang spesial," jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."
Pesan dari cerita ini :
SPEND YOUR WEEKEND WISELY AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.
(Shared by Fr. Rick of Kingston, NY - taken from milist Ida and Friends)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, October 14, 2008
What Is Your Life For?
Ini adalah kisah yang layak kita renungkan. Saya terima kisah ini dari seorang teman gereja hari ini:
Pagi tadi, pukul 10.00, tanggal 17 Juli 2008, saya dan beberapa rekan kantor melayat salah seorang sahabat kami yang bekerja sebagai seorang Marketing di bahan bantu produk kami, namanya Pak Andre. Saya sebenarnya baru beberapa bulan ini mengenal dirinya. Tapi perkenalan kami cukup mendalam. Rasanya saya sudah mengenal dirinya bertahun-tahun. Kami sudah bisa langsung akrab dan berkelakar bak sahabat lama.
Di rumah beliau yang cukup mewah di kawasan elit Cimahi, Jabar, kami bertemu dengan istri beliau - masih sangat muda, belum sampai 40 tahun - dan 2 anak mereka. Yang sulung baru juga kelas 1 SMA. Pak Andre sendiri baru berusia 42 tahun.
Dari cerita istrinya, kami baru mengetahui bahwa Pak Andre meninggal kemarin sore, pukul 16.00. Saat itu dia melihat tali sepatunya lepas. Dia membungkuk untuk memperbaikinya. Tiba-tiba pandangannya kabur, dan terjatuh. Tidak lama, ketika ditolong teman-temannya, dia sudah meninggal. Sebegitu mudahnya dia meninggal.
Menengok masa lalunya - yang dituturkan oleh kakak beliau - Pak Andre adalah pekerja yang sangat gigih dan giat. Lokasi kerjanya yang jauh dari rumah (di daerah Soreang, sekitar 1.5 jam dari rumahnya, kalau tidak macet), mengharuskan dia berangkat sangat awal ke kantor. Walau jam kantornya pukul 09.00, dia sudah harus berangkat dari rumah pukul 06.00 untuk menghindari kemacetan. Usai jam kerja pukul 17.00, dia masih rajin menyambangi kantor-kantor koleganya yg ada di arah pulang, menanyakan order. Sampai rumah, biasanya sudah pukul 21.00.
Beliau pun jarang olah raga, jarang bermain dengan keluarga, dan jarang beristirahat. Yang dia pikirkan adalah kerja dan kerja, dan bagaimana membesarkan omzet. Bahkan di hari libur pun, beliau sering mampir ke pabrik, memeriksa dan follow up order.
Makan tidak teratur dan jarang minum, membuat beliau mengalami gangguan ginjal, diabetes, dan jantung. Tekanan darah pun tidak stabil karena beliau sering stres dan kurang istirahat. Seminggu sebelum beliau meninggal, tubuhnya sudah sangat kelelahan. Istrinya meminta dia mengambil cuti 1 minggu. Tapi dia tidak mau. Yang dia pikirkan adalah omzet, omzet, dan omzet. Kerja, kerja, dan kerja. Pokoknya totalitas hidupnya untuk kerja dan omzet.
Puncaknya adalah kemarin, tanggal 16 Juli, ketika tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan beban berat, dia tersungkur saat akan membetulkan tali sepatu di depan kantornya.
Dia punya rumah mewah. Harta yang besar. Keluarga yang baik. Tapi semuanya tidak bisa ia nikmati karena dia telah menetapkan tujuan hidupnya: hidup adalah untuk bekerja dan mencari omzet. Lalu setelah semuanya didapat, buat apa? Kini dia tertidur kaku di liang lahat, meninggalkan kepedihan mendalam bagi keluarganya, sahabatnya, dan rekan-rekan sekerjanya. Tidak ada lagi yang bisa dia berikan selain kenangan. Apa prioritas hidupmu hari ini? Kerja dan omzet? Jika itu sudah kau dapat, lalu? Bagaimana jika di satu hari Tuhan dengan mudahnya mencabut hidupmu. Apa tidak jadi sia-sia apa yang sudah kau raih?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pagi tadi, pukul 10.00, tanggal 17 Juli 2008, saya dan beberapa rekan kantor melayat salah seorang sahabat kami yang bekerja sebagai seorang Marketing di bahan bantu produk kami, namanya Pak Andre. Saya sebenarnya baru beberapa bulan ini mengenal dirinya. Tapi perkenalan kami cukup mendalam. Rasanya saya sudah mengenal dirinya bertahun-tahun. Kami sudah bisa langsung akrab dan berkelakar bak sahabat lama.
Di rumah beliau yang cukup mewah di kawasan elit Cimahi, Jabar, kami bertemu dengan istri beliau - masih sangat muda, belum sampai 40 tahun - dan 2 anak mereka. Yang sulung baru juga kelas 1 SMA. Pak Andre sendiri baru berusia 42 tahun.
Dari cerita istrinya, kami baru mengetahui bahwa Pak Andre meninggal kemarin sore, pukul 16.00. Saat itu dia melihat tali sepatunya lepas. Dia membungkuk untuk memperbaikinya. Tiba-tiba pandangannya kabur, dan terjatuh. Tidak lama, ketika ditolong teman-temannya, dia sudah meninggal. Sebegitu mudahnya dia meninggal.
Menengok masa lalunya - yang dituturkan oleh kakak beliau - Pak Andre adalah pekerja yang sangat gigih dan giat. Lokasi kerjanya yang jauh dari rumah (di daerah Soreang, sekitar 1.5 jam dari rumahnya, kalau tidak macet), mengharuskan dia berangkat sangat awal ke kantor. Walau jam kantornya pukul 09.00, dia sudah harus berangkat dari rumah pukul 06.00 untuk menghindari kemacetan. Usai jam kerja pukul 17.00, dia masih rajin menyambangi kantor-kantor koleganya yg ada di arah pulang, menanyakan order. Sampai rumah, biasanya sudah pukul 21.00.
Beliau pun jarang olah raga, jarang bermain dengan keluarga, dan jarang beristirahat. Yang dia pikirkan adalah kerja dan kerja, dan bagaimana membesarkan omzet. Bahkan di hari libur pun, beliau sering mampir ke pabrik, memeriksa dan follow up order.
Makan tidak teratur dan jarang minum, membuat beliau mengalami gangguan ginjal, diabetes, dan jantung. Tekanan darah pun tidak stabil karena beliau sering stres dan kurang istirahat. Seminggu sebelum beliau meninggal, tubuhnya sudah sangat kelelahan. Istrinya meminta dia mengambil cuti 1 minggu. Tapi dia tidak mau. Yang dia pikirkan adalah omzet, omzet, dan omzet. Kerja, kerja, dan kerja. Pokoknya totalitas hidupnya untuk kerja dan omzet.
Puncaknya adalah kemarin, tanggal 16 Juli, ketika tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan beban berat, dia tersungkur saat akan membetulkan tali sepatu di depan kantornya.
Dia punya rumah mewah. Harta yang besar. Keluarga yang baik. Tapi semuanya tidak bisa ia nikmati karena dia telah menetapkan tujuan hidupnya: hidup adalah untuk bekerja dan mencari omzet. Lalu setelah semuanya didapat, buat apa? Kini dia tertidur kaku di liang lahat, meninggalkan kepedihan mendalam bagi keluarganya, sahabatnya, dan rekan-rekan sekerjanya. Tidak ada lagi yang bisa dia berikan selain kenangan. Apa prioritas hidupmu hari ini? Kerja dan omzet? Jika itu sudah kau dapat, lalu? Bagaimana jika di satu hari Tuhan dengan mudahnya mencabut hidupmu. Apa tidak jadi sia-sia apa yang sudah kau raih?
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 14, 2008
A Vibrant Life After 40
Hidup yang Lebih Hidup Setelah 40
Ada seorang wanita yang ingin sekali menjadi penari balet, tetapi oleh orangtuanya tidak diizinkan, bahkan dipaksa menjadi seorang akuntan. Dia memang kuliah akuntansi dan lulus dengan baik.
Pada usia 40 tahun, belum menikah, dia bertemu dengan seseorang yang berkata, ”Temukan impianmu, temukan panggilanmu, temukan di mana hatimu berada. Kalau kamu tidak menemukan hatimu, kamu tidak akan pernah dapat mencapai yang terbaik, hanya orang biasa-biasa saja. Tetapi kalau kamu menemukan panggilanmu, hatimu, impianmu, kamu akan menjadi orang yang luar biasa.” Wanita itu menjawab, ”Impian saya adalah menjadi penari balet. Tetapi di usia saya yang sudah 40 tahun ini, apakah saya harus belajar menari balet? Bukankah sudah terlambat?” Tetapi orang bijak itu berkata, ”Mengapa tidak?”
Wanita itu sudah rutin ke kantor untuk bekerja, bahkan tidak pernah pacaran, sehingga sampai saat itu belum menikah. Ia masih lajang, bukan karena kurang cantik, tetapi karena hatinya sudah beku. Sejak orangtuanya berkata, ”Lakukan ini, jadilah akuntan!” Dia hanya dapat berkata, ”Baik, akan saya lakukan.” Ia melakukan semuanya tanpa hati, tanpa perasaan, tanpa gairah, tanpa semangat. Tanpa sadar hatinya telah menjadi beku.
Hidupnya telah begitu monoton, walaupun semuanya kelihatan baik-baik saja. Wanita itu berkata kepada dirinya, ”Kamu sekarang sudah mempunyai rumah sendiri dan penghasilan sendiri. Mengapa kamu tidak pernah berani mengambil suatu langkah yang berani dalam hidupmu? Coba, kamu berhenti bekerja setahun, les balet dan lakukan apa saja yang kamu suka. Setidaknya kamu keluar dari kebekuan yang ada dalam hidupmu. Kamu hidup sendiri, orangtuamu sudah tidak membiayaimu lagi, mereka ada di luar kota dan kamu mempunyai apartemen sendiri.”
Sebenarnya ia takut kepada orangtuanya, walaupun wanita itu sudah mandiri. Tetapi akhirnya ia bilang, Okelah, saya les balet, daripada saya tidak mempunyai kehidupan.” Dia memanggil guru balet ke apartemennya. Wanita itu dengan terus terang berkata, ”Saya mau les balet, tetapi usia saya sudah 40 tahun.” Guru lesnya berkata,”Tidak masalah, mari kita mulai saja.” Dalam waktu enam bulan ia belajar balet. Semua kehidupannya jadi hidup. Tiba-tiba ia mempunyai banyak ide, salah satunya ia tidak mau impian orang-orang miskin yang ingin belajar menari tenggelam karena kemiskinan. Jadi ia segera memulai sekolah balet, khusus bagi orang miskin, gratis.
Apapun yang ia pelajari ia ajarkan kepada anak-anak tersebut. Dalam waktu satu tahun ia sudah membuka empat sekolah balet bagi anak-anak tidak mampu. Dalam waktu satu tahun kemudian sembari ia masih les balet, ia mengadakan pertunjukan dan anak-anak itu yang main. Hasil dari pertunjukan itu dipergunakan bagi uang saku mereka.
Banyak lagi hal-hal yang ia lakukan. Sejak saat itu ia tidak pernah kembali menjadi akuntan. Semua sisi kehidupannya benar-benar hidup. Semua kreativitasnya muncul. Ia belajar menjahit, membuat kostum. Akhirnya ia memiliki 30 sekolah tari. Penghasilannya sekarang bahkan dua kali lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai akuntan. Dan yang lebih aneh, setelah ia berusia 40 tahun itu ia jatuh cinta dan menikah. Hidupnya sangat bahagia sejak itu, karena ia kini mencintai kehidupan sepenuhnya. Sumber: Iin Tjipto dalam buku "Ilmu Hati Raja-Raja"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ada seorang wanita yang ingin sekali menjadi penari balet, tetapi oleh orangtuanya tidak diizinkan, bahkan dipaksa menjadi seorang akuntan. Dia memang kuliah akuntansi dan lulus dengan baik.
Pada usia 40 tahun, belum menikah, dia bertemu dengan seseorang yang berkata, ”Temukan impianmu, temukan panggilanmu, temukan di mana hatimu berada. Kalau kamu tidak menemukan hatimu, kamu tidak akan pernah dapat mencapai yang terbaik, hanya orang biasa-biasa saja. Tetapi kalau kamu menemukan panggilanmu, hatimu, impianmu, kamu akan menjadi orang yang luar biasa.” Wanita itu menjawab, ”Impian saya adalah menjadi penari balet. Tetapi di usia saya yang sudah 40 tahun ini, apakah saya harus belajar menari balet? Bukankah sudah terlambat?” Tetapi orang bijak itu berkata, ”Mengapa tidak?”
Wanita itu sudah rutin ke kantor untuk bekerja, bahkan tidak pernah pacaran, sehingga sampai saat itu belum menikah. Ia masih lajang, bukan karena kurang cantik, tetapi karena hatinya sudah beku. Sejak orangtuanya berkata, ”Lakukan ini, jadilah akuntan!” Dia hanya dapat berkata, ”Baik, akan saya lakukan.” Ia melakukan semuanya tanpa hati, tanpa perasaan, tanpa gairah, tanpa semangat. Tanpa sadar hatinya telah menjadi beku.
Hidupnya telah begitu monoton, walaupun semuanya kelihatan baik-baik saja. Wanita itu berkata kepada dirinya, ”Kamu sekarang sudah mempunyai rumah sendiri dan penghasilan sendiri. Mengapa kamu tidak pernah berani mengambil suatu langkah yang berani dalam hidupmu? Coba, kamu berhenti bekerja setahun, les balet dan lakukan apa saja yang kamu suka. Setidaknya kamu keluar dari kebekuan yang ada dalam hidupmu. Kamu hidup sendiri, orangtuamu sudah tidak membiayaimu lagi, mereka ada di luar kota dan kamu mempunyai apartemen sendiri.”
Sebenarnya ia takut kepada orangtuanya, walaupun wanita itu sudah mandiri. Tetapi akhirnya ia bilang, Okelah, saya les balet, daripada saya tidak mempunyai kehidupan.” Dia memanggil guru balet ke apartemennya. Wanita itu dengan terus terang berkata, ”Saya mau les balet, tetapi usia saya sudah 40 tahun.” Guru lesnya berkata,”Tidak masalah, mari kita mulai saja.” Dalam waktu enam bulan ia belajar balet. Semua kehidupannya jadi hidup. Tiba-tiba ia mempunyai banyak ide, salah satunya ia tidak mau impian orang-orang miskin yang ingin belajar menari tenggelam karena kemiskinan. Jadi ia segera memulai sekolah balet, khusus bagi orang miskin, gratis.
Apapun yang ia pelajari ia ajarkan kepada anak-anak tersebut. Dalam waktu satu tahun ia sudah membuka empat sekolah balet bagi anak-anak tidak mampu. Dalam waktu satu tahun kemudian sembari ia masih les balet, ia mengadakan pertunjukan dan anak-anak itu yang main. Hasil dari pertunjukan itu dipergunakan bagi uang saku mereka.
Banyak lagi hal-hal yang ia lakukan. Sejak saat itu ia tidak pernah kembali menjadi akuntan. Semua sisi kehidupannya benar-benar hidup. Semua kreativitasnya muncul. Ia belajar menjahit, membuat kostum. Akhirnya ia memiliki 30 sekolah tari. Penghasilannya sekarang bahkan dua kali lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai akuntan. Dan yang lebih aneh, setelah ia berusia 40 tahun itu ia jatuh cinta dan menikah. Hidupnya sangat bahagia sejak itu, karena ia kini mencintai kehidupan sepenuhnya. Sumber: Iin Tjipto dalam buku "Ilmu Hati Raja-Raja"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, April 9, 2008
Online Chatting with the Almighty (Imaginary)
TUHAN : Kamu memanggil-Ku ?
aku : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
aku : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
aku : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
aku : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
aku : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
aku : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidak-pastian.
TUHAN : Ketidak-pastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
aku : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidak-pastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
aku : Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
aku : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
aku : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
aku : Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
aku : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
aku : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
aku : Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?" Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"
aku : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
aku : Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
aku : Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
aku : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah kepada-Ku. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
aku : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
aku : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
aku : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
aku : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
aku : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
aku : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidak-pastian.
TUHAN : Ketidak-pastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
aku : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidak-pastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
aku : Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
aku : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
aku : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
aku : Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
aku : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
aku : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
aku : Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?" Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"
aku : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
aku : Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
aku : Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
aku : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah kepada-Ku. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 21, 2007
Before Sickness Changes Your Life Priority
Pada tahun 1971 di Plano, Texas, USA, seorang wanita bernama Linda melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Lance. Wanita ini melakukan apa yang banyak dilakukan ibu-ibu terhadap anak laki-lakinya. Ia membentuk temperamen anak itu dengan melibatkannya dalam berbagai jenis olah raga. Lance segera menunjukkan kemahirannya sebagai seorang atlit dan pada usia 13 tahun keahlian anak itu makin nyata ketika ia memenangi Lomba Triatlon Iron Kids, sebuah perlombaan yang merupakan kombinasi dari berenang, bersepeda dan berlari. Tiga tahun kemudian pada usia belia 16 tahun ia telah menjadi atlit triatlon yang profesional. Ketika semua anak-anak lain sedang berjuang di SMU dan mengikuti kompetisi olahraga amatir, Lance mendapat banyak uang sebagai seorang atlit.
Lance bekerja keras dan kadang-kadang latihannya membawanya ke ujung negara bagian, di perbatasan Oklahoma. Pada saat seperti itu ia akan menelpon ibunya, minta dijemput karena hari sudah sore. Ibunya akan mengemudikan mobil di bawah langit Texas yang lembayung untuk menjemput anak kesayangannya. Kini sudah jelas bahwa Lance tidak akan lagi menjadi atlit triatlon karena dalam salah satu cabang dari tiga cabang olahraga triatlon itu ia sangat menguasai, jauh lebih hebat dari atlit yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Pada usia 18 tahun Lance bahkan diikutsertakan dalam latihan bersama team Olimpiade USA di Colorado Springs. Kesibukan olah raganya hampir mengorbankan sekolahnya. Untunglah sekolah pribadi diatur sehingga ia dapat lulus SMU. Ia terus gilang gemilang dalam olah raga pilihannya sehingga membuat ia terkenal ke seluruh dunia.
Pada tahun 1996 di tengah suatu perlombaan, Lance mengalami nyeri yang luar biasa sekali sehingga ia meninggalkan gelanggang perlombaan. Pemeriksaan kesehatan selanjutnya menemukan kanker stadium lanjut yang sudah bekembang ke paru-paru dan otaknya. Anak muda yang bertubuh atletis dan ceria itu harus melewati tiga kali operasi dan pengobatan lanjutan yang intensif dengan kemoterapi. Karier olah raganya tidak dipusingkan lagi. Para dokter mengatakan kemungkinan hidupnya hanya 50/50 dan kanker itu membuatnya ketakutan secara jasmani dan emosi. Lance mengaku bahwa sakit penyakitnya sangat mengubah kehidupan dan prioritas-prioritasnya.
Beberapa bulan lalu saya kaget bertemu dengan kenalan lama yang pernah saya kenal di Abbalove. Ketika bertemu kembali ia sudah terkena stroke, padahal usianya saat ini baru 40 tahunan. Walaupun ia sudah bisa berjalan dengan tertatih-tatih, namun aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Kemana-mana ia harus ditemani isterinya. Gerakan dan vitalitas kehidupannya sangat jauh berkurang, padahal dulu dia adalah seorang profesional dan pengusaha muda yang sangat bersemangat.
Mari kita menata kehidupan yang penuh arti, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itu adalah investasi kehidupan yang pasti tidak mengecewakan. Mari kita tinggalkan ’legacy’ atau warisan yang tidak hanya berbentuk harta benda bagi anak cucu, namun yang lebih bernilai adalah membagikan hidup pada banyak orang.
Contoh dari kisah Perjanjian Lama membuktikan betapa pentingnya kita membagikan kehidupan yang menghasilkan generasi penerus yang handal. Elisa memiliki urapan dua kali lipat Elia. Namun Elisa gagal memuridkan Gehazi yang rakus dan mata duitan. Elia berhasil mendidik dan memuridkan Elisa. Elia membangun penerus yang lebih hebat daripada dirinya. Elisa, meskipun nabi yang urapannya lebih hebat dari gurunya, gagal membangun kader yang lebih hebat dari pada dirinya.
Apakah prioritas kehidupan anda saat ini? Sakit penyakit yang serius mengubah kehidupan banyak orang. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda. Ubahlah kehidupan dan prioritas kehidupan kita tanpa dipaksa sakit penyakit.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Lance bekerja keras dan kadang-kadang latihannya membawanya ke ujung negara bagian, di perbatasan Oklahoma. Pada saat seperti itu ia akan menelpon ibunya, minta dijemput karena hari sudah sore. Ibunya akan mengemudikan mobil di bawah langit Texas yang lembayung untuk menjemput anak kesayangannya. Kini sudah jelas bahwa Lance tidak akan lagi menjadi atlit triatlon karena dalam salah satu cabang dari tiga cabang olahraga triatlon itu ia sangat menguasai, jauh lebih hebat dari atlit yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Pada usia 18 tahun Lance bahkan diikutsertakan dalam latihan bersama team Olimpiade USA di Colorado Springs. Kesibukan olah raganya hampir mengorbankan sekolahnya. Untunglah sekolah pribadi diatur sehingga ia dapat lulus SMU. Ia terus gilang gemilang dalam olah raga pilihannya sehingga membuat ia terkenal ke seluruh dunia.
Pada tahun 1996 di tengah suatu perlombaan, Lance mengalami nyeri yang luar biasa sekali sehingga ia meninggalkan gelanggang perlombaan. Pemeriksaan kesehatan selanjutnya menemukan kanker stadium lanjut yang sudah bekembang ke paru-paru dan otaknya. Anak muda yang bertubuh atletis dan ceria itu harus melewati tiga kali operasi dan pengobatan lanjutan yang intensif dengan kemoterapi. Karier olah raganya tidak dipusingkan lagi. Para dokter mengatakan kemungkinan hidupnya hanya 50/50 dan kanker itu membuatnya ketakutan secara jasmani dan emosi. Lance mengaku bahwa sakit penyakitnya sangat mengubah kehidupan dan prioritas-prioritasnya.
Beberapa bulan lalu saya kaget bertemu dengan kenalan lama yang pernah saya kenal di Abbalove. Ketika bertemu kembali ia sudah terkena stroke, padahal usianya saat ini baru 40 tahunan. Walaupun ia sudah bisa berjalan dengan tertatih-tatih, namun aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Kemana-mana ia harus ditemani isterinya. Gerakan dan vitalitas kehidupannya sangat jauh berkurang, padahal dulu dia adalah seorang profesional dan pengusaha muda yang sangat bersemangat.
Mari kita menata kehidupan yang penuh arti, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itu adalah investasi kehidupan yang pasti tidak mengecewakan. Mari kita tinggalkan ’legacy’ atau warisan yang tidak hanya berbentuk harta benda bagi anak cucu, namun yang lebih bernilai adalah membagikan hidup pada banyak orang.
Contoh dari kisah Perjanjian Lama membuktikan betapa pentingnya kita membagikan kehidupan yang menghasilkan generasi penerus yang handal. Elisa memiliki urapan dua kali lipat Elia. Namun Elisa gagal memuridkan Gehazi yang rakus dan mata duitan. Elia berhasil mendidik dan memuridkan Elisa. Elia membangun penerus yang lebih hebat daripada dirinya. Elisa, meskipun nabi yang urapannya lebih hebat dari gurunya, gagal membangun kader yang lebih hebat dari pada dirinya.
Apakah prioritas kehidupan anda saat ini? Sakit penyakit yang serius mengubah kehidupan banyak orang. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda. Ubahlah kehidupan dan prioritas kehidupan kita tanpa dipaksa sakit penyakit.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, July 5, 2007
Meninggal Dalam Usia Muda
Dalam dua minggu terakhir ini saya melayani ibadah penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan orang-orang muda. Minggu lalu saya melayani di hadapan jenazah pria muda usia 30-tahunan, belum menikah, meninggal karena hepatitis C. Yang luar biasa, meskipun dia menderita sekali karena penyakitnya, dia tidak pernah mengeluh ataupun mengaduh. Dia tidak kecewa dan marah karena doanya untuk kesembuhan sakitnya di dunia ini tidak dijawab Tuhan. Ketika beberapa hari akan meninggal, dia mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang untuk menjemputnya. Ketika dia meninggal, dia meninggal dengan tenang penuh kerelaan. Dia menyerahkan nyawanya menurut kerelaan hatinya, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Hari ini, Kamis 5 Juli 2007, siang hari, saya juga melayani ibadah penghiburan seorang pria muda, usia 34 tahun, seorang insinyur dan aktivis pelayanan yang mempunyai visi untuk membangun “Trans-Business School”. Jenazahnya malam ini juga dikirim ke Siantar di Sumetera Utara. Dia meninggal karena kanker lambung.
Dari kejadian seperti ini, timbul pertanyaan, mengapa Tuhan memanggil pulang ke rumah Bapa orang-orang muda, orang-orang yang masih dapat melakukan banyak hal dalam kehidupannya? Banyak perkara yang tidak selalu kita mengerti. Kita tidak selalu memiliki jawaban atas setiap keputusan Allah. Namun dalam semuanya itu kita percaya bahwa rencana Allah pastilah rencana yang terbaik bagi setiap orang. Setelah kita masuk dalam kekekalan, baru kita mengerti jalan-jalan Allah yang luar biasa.
Seorang pembantu nabi mengikuti nabi itu kemanapun ia pergi. Suatu saat nabi itu bersama pembantunya menginap di rumah keluarga yang sederhana yang memiliki seorang anak kecil yang lucu dan baik hati. Keesokan harinya terjadilah kegemparan, ketika anak laki-laki dari keluarga dimana nabi itu tinggal meninggal secara mendadak. Ketika pembantu nabi itu bertanya, “Mengapa anak itu meninggal, padahal ada nabi yang tinggal di situ?” Setelah merenung sejenak, nabi itu berkata terus terang, “Sebetulnya, anak itu kalau menjadi besar akan jatuh dalam dosa, akan menjadi jahat. Tuhan tahu yang terbaik bagi anak itu. Lebih baik ia meninggal sekarang, daripada ia menyusahkan orang-tuanya dengan kelakuan di masa mendatang.”
Apakah orang-orang muda meninggal saat ini karena kalau dia terus hidup mungkin akan jatuh dalam dosa atau mungkin ia tidak setia kepada imannya? Tidak selalu demikian alasan Tuhan. Tidak sesederhana itu. Meninggalnya orang-orang muda, paling tidak, menyadarkan kita bahwa kita tidak dapat bermegah karena kita masih muda, seolah-olah kematian masih lama menjemput. Setiap saat kita harus siap menghadap Bapa di sorga, mempertanggung-jawabkan kehidupan kita. Setiap saat kita harus kedapatan setia dalam iman, kudus, dan taat kepada-Nya.
Ulangan 29:29 menyatakan, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya,” Ada hal-hal yang Tuhan rahasiakan, ada hal-hal yang dinyatakan. Mengapa orang muda meninggal, itu Lebih baik kita berkonsentrasi menikmati dan mengalami hal-hal yang dinyatakan bagi kita, ketimbang pusing memikirkan rahasia Allah.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Hari ini, Kamis 5 Juli 2007, siang hari, saya juga melayani ibadah penghiburan seorang pria muda, usia 34 tahun, seorang insinyur dan aktivis pelayanan yang mempunyai visi untuk membangun “Trans-Business School”. Jenazahnya malam ini juga dikirim ke Siantar di Sumetera Utara. Dia meninggal karena kanker lambung.
Dari kejadian seperti ini, timbul pertanyaan, mengapa Tuhan memanggil pulang ke rumah Bapa orang-orang muda, orang-orang yang masih dapat melakukan banyak hal dalam kehidupannya? Banyak perkara yang tidak selalu kita mengerti. Kita tidak selalu memiliki jawaban atas setiap keputusan Allah. Namun dalam semuanya itu kita percaya bahwa rencana Allah pastilah rencana yang terbaik bagi setiap orang. Setelah kita masuk dalam kekekalan, baru kita mengerti jalan-jalan Allah yang luar biasa.
Seorang pembantu nabi mengikuti nabi itu kemanapun ia pergi. Suatu saat nabi itu bersama pembantunya menginap di rumah keluarga yang sederhana yang memiliki seorang anak kecil yang lucu dan baik hati. Keesokan harinya terjadilah kegemparan, ketika anak laki-laki dari keluarga dimana nabi itu tinggal meninggal secara mendadak. Ketika pembantu nabi itu bertanya, “Mengapa anak itu meninggal, padahal ada nabi yang tinggal di situ?” Setelah merenung sejenak, nabi itu berkata terus terang, “Sebetulnya, anak itu kalau menjadi besar akan jatuh dalam dosa, akan menjadi jahat. Tuhan tahu yang terbaik bagi anak itu. Lebih baik ia meninggal sekarang, daripada ia menyusahkan orang-tuanya dengan kelakuan di masa mendatang.”
Apakah orang-orang muda meninggal saat ini karena kalau dia terus hidup mungkin akan jatuh dalam dosa atau mungkin ia tidak setia kepada imannya? Tidak selalu demikian alasan Tuhan. Tidak sesederhana itu. Meninggalnya orang-orang muda, paling tidak, menyadarkan kita bahwa kita tidak dapat bermegah karena kita masih muda, seolah-olah kematian masih lama menjemput. Setiap saat kita harus siap menghadap Bapa di sorga, mempertanggung-jawabkan kehidupan kita. Setiap saat kita harus kedapatan setia dalam iman, kudus, dan taat kepada-Nya.
Ulangan 29:29 menyatakan, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya,” Ada hal-hal yang Tuhan rahasiakan, ada hal-hal yang dinyatakan. Mengapa orang muda meninggal, itu Lebih baik kita berkonsentrasi menikmati dan mengalami hal-hal yang dinyatakan bagi kita, ketimbang pusing memikirkan rahasia Allah.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI