Search This Blog

Showing posts with label Kekristenan - Christianity. Show all posts
Showing posts with label Kekristenan - Christianity. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

Dr. Pat Francis

Tadi malam saya mendengar kesaksian dari DR. Pat Francis tentang "new season, new revelation, new vision, new level, new power" yang harus dialami setiap orang percaya. Dia bersaksi tentang apa yang dialami dalam pelayanannya. Sudah beberapa tahun gereja yang dilayaninya memiliki sebidang tanah seluas 20 acre di Toronto, Canada. Tanah itu diperuntukkan bagi pembangunan gereja sebagai bagian dari Charity dan juga pembangunan sebuah Teater sebagai bagian dari kegiatan "Enterprise" yang akan membiayai pelayanan (Charity).

Penggalangan dana selama beberapa tahun hanya menghasilkan sekitar USD 1 juta, padahal dana yang diperlukan jauh lebih besar dari itu. Doa dan puasa sudah dilakukan. Namun dana pembangunan tetap tidak  memadai. Sebagai seorang gembala, hal ini sangat membuat Dr. Pat kehilangan semangat. Nilai tanah pada waktu itu ditaksir sekitar USD 4 juta. Doa dan puasa dilakukan lagi, permohonan diajukan ke sorga. Namun hasilnya belum ada.

Sekitar 3 bulan lalu Tuhan membukakan visi Dr. Pat dengan melihat sekitar tanah itu yang dibangun banyak bangunan komersial. Dia menghubungi seorang developer temannya. Temannya ini memperkenalkan lagi kepada seorang developer keturunan Italia. Sang developer Italia ini kemudian membagikan apa yang dilihat para ahli property atas tanah itu. Tanah itu bernilai USD 11 juta pada bulan lalu. Tiga hari lalu sudah bernilai USD 27 juta, karena di atas tanah itu bisa dibangun 3 menara kondominium, lapangan golf, teater, dan gedung gereja. Penantian Dr Pat atas penggalangan dana pada waktu lampau memang harus dilalui, karena Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik. Inilah waktunya new season, new value, new level.

Dr. Pat hari ini jam 10.00 pagi dan besok jam 10.00 pagi akan memberikan khotbah di Kingdom of Glory Ministry di Jl. Ampera Raya, Jakarta.

***

Pat Francis - Biography

Dynamic, Powerful, Spiritual, Visionary, Humanitarian, Caring and Understanding are just a few words to describe Pat Francis D-C.P.C., M.Div., D.Min., Ph.D.

Pat Francis was born the second of two children to hardworking Jamaican parents from humble beginnings, yet they owned a grocery store that was used to help feed the poor in the community. Because of her parent�s selfless compassion, she respectfully credits them for passing down the genetic gift of charity and enterprise.
 
She graduated from the University of West Indies in 1975 in the medical field of Radiography after which her calling and destiny guided her towards her life�s purpose of Holistic Health & Wellness emphasizing spiritual and emotional health from the inside out. Her strong belief that �Only God can heal the soul and release life into the Human Spirit, and that disease of the soul creates disease of the body,� led her, in 1999 to become the Founding Pastor of Kingdom Covenant Ministries [KCM], formerly Deeper Life Christian Ministries, a multi-cultural Christian organization with over 3000 weekly attendees headquartered in Mississauga, Ontario, Canada.

Among her many noteworthy titles and positions, Dr. Pat is president of Pat Francis Ministries, a missions and humanitarian organization with international influence for teaching, empowering and helping people to move from sickness or survival to success. She is president ofAcorn to Oak Youth Services which helps "at risk" youth and young adults in need of academic, social, and judicial help. Dr. Pat believes that knowledge is power and with a team of gifted educators has developed the Kingdom Covenant Academy (Preschool to Junior School); Kingdom Covenant Collegiate (High School) and Kingdom Covenant Leadership Institute (Leadership and Bible school) with specialized programs that foster a "0-failure Culture"!
In the spirit of "charity and enterprise," Dr. Pat is the CEO of the Elomax Group of for-profit companies with a vision to create wealth and provide solutions for the poor. Her passion to create solutions and her ability to forge trusted relationships, have connected her with senior businesspersons, investors, entrepreneurs and government leaders. In November 2010, Dr. Pat led a Trade Delegation, with a combined US$1 billion in capital, to Accra, Ghana. This group included Global Business Leaders from many sectors such as mining, technology, financial, agriculture, energy, infrastructural development and professional services.
Compassion for the Poor [CFP], the humanitarian arm of Pat Francis Ministries, assists communities in missions-relief help to the poor, orphanages, and medical centres. CFP also provides conferences for teaching and training people with a compassionate vision to eradicate systemic poverty and create solutions for systemic prosperity. She is a member of the Women�s Presidents� Organization, a membership organization of High Profile women and top CEOs with multimillion dollar companies across North America. And she is also a member of the Canadian Council of Christian Churches.

In addition to being a purposeful academic with a doctorate in Divinity and Psychotherapy Counseling, Dr. Pat has been honored with several awards both in Canada and the US for her many initiatives and programs that provide solutions for youth and the community. In 2004, she was a awarded a Certificate of Recognition from the US Senate of New Orleans and in 2005 she received a Civic Award from the City of Mississauga. In 2008, Dr. Pat was appointed to the United Nations through a Non-Government Organization [NGO] with influence as a Transformational Activist to deal with humanitarian issues, systemic poverty and, in partnership with world leaders, help children and families at risk. She currently works with developing nations with initiatives for economic and industrial development.

Above and beyond these impressive accolades, Dr. Pat's vision is simple: "To serve God and humanity and to make my world a better place". Dr. Pat travels the globe sharing the life-transforming message of hope and power as an international conference speaker. Her message of Empowerment, Self-Enterprise, and Kingdom Dominion has impacted millions of lives across the world.
She is the author of several inspiring transformational books, and has published over 125 motivational CD and DVD titles, including: The Ultimate Secret, Achieving New Levels of Financial Prosperity, and Set Free to Soar, to name a few. She is also host of the weekly Television Program, "Good News with Dr. Pat Francis" which airs across Canada and other nations impacting millions.

Dr. Pat possesses a unique ability and gift to engage with all people regardless of their status or station in life. With great humility she draws them to believe in the transforming power of God. Together they become empowered to work alongside her to Change Lives and Impact Generations.
Dr. Pat Francis resides in Toronto, Canada.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 16, 2009

Difference

Seorang kenalan mulai malas beribadah ke gereja. Dia pikir, "Apa sih bedanya ke gereja? Saya sekarang sudah hidup enak, tidak kekurangan apa-apa, tidak ada masalah yang perlu dibantu para pendeta." Yah, ibadah ke gereja memang tidak kelihatan dampaknya sekarang. Orang yang rajin ke gereja dan yang tidak rajin ke gereja nampaknya sama, nampaknya... Namun akan kelihatan berbeda jika orang-orang menghadapi badai kehidupan. Orang yang kehidupan imannya dibangun di atas batu karang akan mampu bertahan, dan imannya tetap kokoh meskipun ia dilanda badai. Orang yang kehidupan imannya dibangun di atas pasir, sangat dangkal, akan roboh, terpuruk, menghadapi badai kehidupan.

Janganlah kita meninggalkan pertemuan ibadah, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang yang tidak menyadari betapa mereka sedang membangun imannya di atas pasir.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 27, 2009

Placebo

Apakah Obat Bius di Gereja?
Kamus Webster mengartikan "Placebo" sebagai "obat yang diberikan lebih ditujukan untuk memberikan kelegaan mental kepada seorang pasien dibandingkan dengan untuk penyakit aslinya. Placebo itu obat palsu, yang isinya hanya tepung, namun bersalut gula, dan tidak mengandung unsur penyembuhan yang nyata.

Para dokter memberitahu kita bahwa jika kita tahu bahwa kita sedang memakan placebo maka tidak akan ada hasilnya. Dalam pikiran kita, kita harus menganggap bahwa placebo adalah obat mujarab dan mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Jika pasien itu percaya demikian, maka pengobatan itu akan mendatangkan keajaiban dalam banyak kasus. Pengobatan dengan placebo sesungguhnya tidak ada apa-apanya, tetapi di pikiran sang pasien placebo itu berkasiat. Agar pengobatan ini berhasil, dokter harus meyakinkan pasiennya tentang khasiat "obat" placebo itu.

Sahabatku, itulah pengobatan yang sekarang sedang dijalani oleh kebanyakan orang yang mengaku Kristen. Dokter yang memberikan resep ini adalah Dokter Setan sendiri. Ia memberi obat dengan berselaput gula keagamaan yang manis, pengalaman yang dangkal, dan setengah kebenaran kepada para pendengarnya.

Dokter Setan mengizinkan para pasiennya untuk terus datang ke gereja dan membolehkan mereka untuk ambil bagian dalam kegiatan menyanyi, berdoa, mengajar sekolah minggu dan bahkan berkhotbah. Pengobatan placebo di gereja adalah agama permukaan yang mengandung semua unsur-unsur yang benar dari gereja sejati, tetapi unsur-unsur itu tiruan dan berasal dari bidang intelektual. Gereja yang keliru dan yang sejati dewasa ini pada umumnya memiliki unsur-unsur yang sama. Perbedaannya, gereja yang keliru hanya mengajar kebenaran (atau setengah kebenaran), gereja yang sejati menghidupi kebenaran sepenuhnya. Anda berada di gereja mana? Apakah Anda selama ini hanya dicekoki placebo, obat boong-boongan? Howard Pittman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi.


*******


“What is the Church’s Dope”?

Webster’s Dictionary defines “placebo” as “a medication prescribed more for the mental relief of a patient than for the actual effect on his disorder. The doctors tell us that if we know we are being treated with a placebo, it does not work. In our minds we must think that it is a real medication and has the strength or power to heal. If the patient believes this, then the treatment has been known to work wonders in many cases that otherwise could not have been treated. Placebo treatment is in fact nothing of substance, but in the mind of the patient it is real. In order for this treatment to work, the doctor must convince the patient of the work of the medication.

My friend, I declare to you that this is the exact “treatment” that most “mouth-professing” Christians are using today. The doctor administering this “medication” is Satan himself. He gives the patient a sugar-coated religion, a shallow experience, and whispers half truths into his ears.

Doctor Satan will allow his “patient” to continue to go to church and will allow him to take part in any church that is singing, leading in prayer, teaching in Sunday School, and even preaching……The Placebo treatment in the church today is a surface religion which contains all the elements of true Christian religion with the exception that these elements are superficial and intellectual. The true and false religions in our Christian denominations today contain nearly all the same elements. The big difference is that the false religion is only taught; the true one must be lived. Howard Pittman.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, October 21, 2009

Blindness

Helen Keller, demikian berani dan memberi inspirasi kepada kita dalam keadaannya yang tuli dan buta, pernah menulis artikel dalam sebuah majalah yang berjudul: "Tiga Hari Untuk Melihat". Dalam artikel itu dia menyusun hal-hal apa yang ia akan lihat jika ia diberi waktu tiga hari untuk melihat. Artikel itu sangat berpengaruh dan sangat menantang pikiran kita. Jika tidak buta, pada hari pertama ia ingin melihat wajah teman-temannya. Hari kedua ia ingin menghabiskan waktu dengan melihat pemandangan alam. Hari ketiga ia ingin menghabiskan harinya dengan melihat kota tempat tinggalnya New York City, memandangi kesibukan kota dan kesibukan orang bekerja. Ia menyimpulkan dengan perkataan ini: "Saya saja yang buta dapat memberi saran kepada orang yang melek: Gunakanlah matamu seakan-akan besok engkau akan buta."

Sayangnya banyak di antara kita buta, bukan buta secara fisik, tetapi buta secara batin. Jika anda menyadari "kebutaan" anda, datanglah kepada Tuhan Yesus karena Dia telah diurapi untuk mencelikkan mata jasmaniah dan mata batiniah yang buta.

******

Helen Keller, so brave and inspiring to us in her deafness and blindness, once wrote a magazine article entitled: "Three days to see." In that article she outlined what things she would like to see if she were granted just three days of sight. It was a powerful, thought provoking article. On the first day she said she wanted to see friends. Day two she would spend seeing nature. The third day she would spend in her home city of New York watching the busy city and the workday of the present. She concluded it with these words: "I who am blind can give one hint to those who see: Use your eyes as if tomorrow you were stricken blind.”

As bad as blindness is in the 20th century, however, it was so much worse in Jesus' day. Today a blind person at least has the hope of living a useful life with proper training. Some of the most skilled and creative people in our society are blind. But in first century Palestine blindness meant that you would be subjected to abject poverty. You would be reduced to begging for a living. You lived at the mercy and the generosity of others. Unless your particular kind of blindness was self-correcting, there was no hope whatsoever for a cure. The skills that were necessary were still centuries beyond the medical knowledge of the day.

Little wonder then that one of the signs of the coming of the Messiah was that the blind should receive their sight. When Jesus he announced his messiahship, he said: "The spirit of the Lord is upon me. He has sent me to recover sight to the blind."

The story this morning of the healing of blind Bartimaeus would suggest to us that there are three kinds of blindness.

1. The first kind of blindness is the blindness of Bartimaeus.
2. The second kind of blindness is the blindness of the disciples.
3. The third kind of blindness is the blindness of you and me.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 20, 2009

Willingness

Beberapa tahun lalu, sementara sedang makan siang dengan teman-teman lama, kami mulai berbicara tentang betapa pentingnya bagi kita untuk bersedia menyangkal diri kita sendiri, menyerahkan segala sesuatu di kaki Tuhan dan mengikuti-Nya. Salah seorang teman saya berkata, “Nancy, saya tidak sependapat dengan kamu. Saya kira beberapa orang tidak memiliki kekuatan dan kesanggupan untuk menyerahkan segala sesuatu dan melakukan dengan cara Tuhan.” Kemudian ia memberikan berbagai alasan mengapa dia begitu yakin bahwa mereka tidak akan dapat melakukan hal ini: keluarga yang berantakan, saling ketergantungan, pernikahan yang malang, pelecehan fisik, masalah emosi dan pengaruh lingkungan.

Saya berpikir sejenak dan kemudian menjawab, “Suzy, kalau orang-orang ini orang Kristen, maka Allah ada di dalam mereka. Betul?”

“Betul,” katanya.

“Nah, kalau begitu, Allah adalah Pribadi yang akan membuat mereka sanggup dan memberikan mereka kemampuan untuk menyangkal diri mereka sendiri. Saya pikir semua orang Kristen akan sanggup menyingkirkan ego mereka karena Allah ada di dalam mereka, namun tidak semua orang Kristen bersedia melakukannya. Itulah, menurut saya, akar masalahnya.”

Orang-orang yang Suzy bicarakan sebenarnya tidak sudi menyangkal diri mereka. Dalih mereka mulai dari “keluarga berantakan” sampai “suami saya tidak mau mencoba”. Namun, saya tidak percaya akan hal-hal itu sebagai alasan yang sesungguhnya, karena Allah memiliki kasih, hikmat dan kuasa yang mereka butuhkan; mereka cuma tidak bersedia menyisihkan diri mereka sehingga Allah dapat melakukan banyak hal melalui mereka. Oleh Nancy Missler, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian pada tanggal 20 Oktober 2009.

******

The Result of Unwillingness
Several years ago, while having lunch with some dear old friends, we began to talk about how important it is for us to be willing to deny ourselves, lay everything down to Jesus and follow Him. One friend of mine said, “Nancy, I don’t agree with you. I think some people don’t have the ability or the capability to lay everything down and do it God’s way.” She then gave various reasons why she was convinced they couldn’t do this: dysfunctional families, co-dependency, poor marriages, physical abuse, emotional problems, and other environmental circumstances.

I thought for a moment and then replied, “Suzy, if these people are Christians, then God is in them. Right?”

“Right,” she said.

“Well, then, He is the One who will make them capable and give them the ability to deny themselves. I think all Christians are capable of laying themselves aside because God is in them, but not all Christians are willing to do so! That, to me, is the bottom line!”

The people Suzy was talking about simply weren’t willing to lay themselves aside. Their excuses ranged from “dysfunctional families,” to “my husband is not trying.” But, I don’t believe these things were the real problem, because God has all the Love, Wisdom and Power they need; they just weren’t willing to set themselves aside so that God could do these things through them.

Perhaps this example will help us to understand Matthew 24:12 a little more clearly. This Scripture says that in the end times “...because iniquity shall abound, the Agape of many will grow cold.” This is simply saying that in the end times, many Christians will not be willing to deny themselves, but rather want to hold on to their “justified” hurts, unforgiveness, etc. Therefore, the Agape Love of God in their hearts will grow cold. It will be covered over, blocked and unable to flow forth

Thus, the bottom line is that all Christians have God’s Love in them, but not all Christians are willing to set themselves aside to let it flow.

God promises us in Luke 18:30, as well as in many other Scriptures, that the more we are willing to deny ourselves, the more He will return a hundredfold, not only “in this present time” but “in the world to come” as well. I know this has been true in my own life. My first book Why Should I Be the First to Change? shares how God has restored a hundredfold my marriage, my family, my kids, etc. because I finally learned how to surrender myself to God.

I’m certainly not any more capable than anybody else, but one thing is for certain: I’m willing. And that seems to be all that’s necessary! The question is: Are you?

As Matthew 16:24 says, “If any man [is willing to] come after Me, let him deny himself, and take up his cross, and follow Me.” By Nancy Missler.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, September 14, 2009

Values

"And the LORD God formed man of the dust of the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living soul."

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kejadian 2:7)

Atau dengan perkataan lain:
"Dahulu TUHAN Allah membentuk manusia itu dari sesuatu yang tak bernilai dan memasukkan nilai-nilai-Nya ke dalam hidup manusia, sehingga manusia menjadi makhluk yang bernilai."

Atau bisa dikatakan:
"Dahulu TUHAN Allah membentuk manusia itu dari sesuatu yang tak mulai dan menaruh kemuliaan Allah ke dalam hidup manusia, sehingga manusia menjadi makhluk yang mulia."

Jika kita menyadari keberadaan kita sebagai makhluk yang bernilai, makhluk yang mulia, makhluk yang berkemenangan, niscaya sikap (attitude) kita akan bernilai, mulia, dan berkemenangan, sehingga kita akan menempati posisi kehidupan (altitude) yang bernilai, mulia dan berkemenangan.

Kemudian iblis datang dalam bentuk ular kepada manusia pertama Hawa dan Adam. Iblis berkata, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Atau dengan perkataan lain iblis mengatakan: "Karena kamu tidak bernilai, berasal dari debu tanah, maka Allah melarang kamu makan buah dari semua pohon dalam taman ini, bukan?"

Dalam setiap persoalan, iblis akan selalu mengingatkan kita pada asal kita: debu tanah, tak bernilai. Sebaliknya Allah selalu mengingatkan kita bahwa kita sangat berharga, sangat bernilai di hadapan-Nya.

Kisah di bawah ini akan membantu kita bahwa dalam setiap pergumulan, jika kita menyadari nilai kita, kita dapat mengampuni orang lain, dapat bangkit dari keterpurukan, dan bangkit dari kepahitan. Kita adalah makhluk hidup yang bernilai, mulia dan berkemenangan. Puji Tuhan!

Awal pertemuan dengan suamiku
Aku pertama kali mengenal suamiku pada tahun 1959 dalam suatu pelayaran karena ia adalah seorang pelaut. Saat itu aku dibantu olehnya untuk mencari tempat di kapal tersebut. Dia juga sering menemaniku selama perjalanan. Dari situlah cinta dimulai. Walaupun lautan terbentang luas dan harus menjalani hubungan jarak jauh, kami tetap rutin melakukan surat-menyurat sampai akhirnya ia melamarku.

Tahun 1962 kami memasuki bahtera pernikahan. Karena selama ini kami jarang sekali bertemu, ketika kami tinggal satu atap baru aku ketahui kalau ternyata karakternya sangat jauh bertentangan denganku sehingga kami sering ribut. Aku juga baru tahu kalau ia pernah menikah sebelumnya, tapi sudah bercerai.

Suamiku selingkuh
Tahun 1957 karena ada pengurangan tenaga kerja di perusahaanya, suamiku pindah ke Balikpapan untuk bekerja. Kebetulan aku orang kelahiran Balikpapan jadi keluargaku tinggal di sana tapi aku tetap tinggal di Jakarta. Ternyata aku harus mendapat kabar terburuk sepanjang sejarah hidupku. Adikku mengatakan bahwa suamiku selingkuh, bahkan menikah lagi disana dengan seorang gadis keturunan Banjar.

Aku mengamuk ketika mengetahui hal itu sehingga akhirnya terjadilah pertengkaran dahsyat dalam rumah tangga kami. Aku mengancamnya habis-habisan dan sejak saat itu suamiku tidak pernah lagi mengunjungi perempuan Banjar itu. Sampai suatu saat, perempuan Banjar itu mendatangi rumah kami di Jakarta dan mengatakan padaku bahwa ia sama sekali tidak tahu-menahu mengenai aku. Suamiku berkata padanya bahwa aku sudah diceraikannya. Semenjak saat itu mulai timbul akar pahit terhadap suamiku.

Memutuskan untuk berpisah
Aku benar-benar tidak tahan terhadap kelakuan suamiku. Saat itu aku benar-benar kepahitan, bahkan menyalahkan Tuhan atas kejadian yang menimpaku ini. “Mengapa Kau lakukan ini padaku, Tuhan……” seruku di sela tangisku. Akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Anak - anak kami ikut denganku.

Aku mengajukan perceraian kepada seorang pengacara. Dan selama proses perceraian, suamiku tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Aku tiba-tiba teringat sebuah ayat Alkitab yang berkata, “Apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.” Akhirnya aku membiarkan hubungan kami tetap seperti ini tanpa harus bercerai. Aku membuka salon untuk menghidupi anak-anak kami.

Ternyata suamiku dikhianati oleh perempuan Banjar itu dan akhirnya mereka berpisah. Suamiku menikah lagi dengan Titi, seorang gadis muda seusia anak kami yang pertama. Dan sekali lagi ternyata suamiku mengatakan pada Titi bahwa ia telah bercerai denganku. Akar kepahitan ini semakin bertumbuh di dalam hatiku, membuahkan kebencian terhadap suamiku. Akibat tekanan ini, aku menjadi penjudi dan menelantarkan anak-anak kami. Akhirnya anak-anak kami terjebak dalam pergaulan yang buruk.

Mulai dijamah oleh kuasa Tuhan
Akhirnya, di titik akhir keputusasaanku, aku dipertemukan dengan Tuhan melalui pertolongan seorang hamba Tuhan. Ia mendoakanku agar terlepas dari dosa perjudian dan dari kepahitan yang terpendam di dalam hatiku selama bertahun-tahun. Aku merasa dijamah begitu luar biasa oleh kuasa Tuhan. Aku terus menangis menyadari betapa tidak bertanggung jawabnya aku sebagai seorang ibu. Ketika aku didoakan agar terlepas dari rasa kepahitan terhadap suamiku, aku menangis sejadi-jadinya. Awalnya sangat berat bagiku untuk mengampuni suamiku, orang yang paling menyakitiku itu. Rasa sakitnya begitu dalam kurasakan. Namun ketika Roh Kudus menjamah hatiku, saat itu juga aku merasakan bahwa kepahitan itu telah dilenyapkan dan sukacita Surga yang luar biasa itu ada di dalam hatiku. Aku tahu bahwa Tuhan begitu mengasihiku sehingga Ia tidak ingin aku menjadi seorang jiwa yang terhilang dan Ia membebaskanku dari ikatan kuasa kegelapan yang selama ini membelenggu hidupku, yang mencemari hatiku. Terima kasih untuk pemulihan ini, Tuhan….

Bisa mengampuni istri dari suamiku
Setelah aku dibebaskan dari kuasa kegelapan yang selama ini bercokol di dalam hatiku, aku mulai aktif ke gereja. Aku mengikuti kelas-kelas pemuridan dan merasakan bahwa aku telah bertumbuh di dalam Tuhan. Ajaibnya, karena kasih dan kuasa-Nya yang luar biasa dalam hidupku, aku juga dapat mengampuni istri dari suamiku. Aku mendatangi rumahnya secara damai dan mengajak rekan pelayananku untuk memberitakan kabar Injil padanya. Hati Titi tersentuh dengan pemberitaan Injil tersebut, bahkan akhirnya ia menerima Yesus dalam hidupnya dan mengembalikan suamiku kepadaku. Aku bingung, “Ada apa ini, Tuhan? Mengapa ia dikembalikan lagi padaku?” Lalu aku mendengar Tuhan berbicara,”Bukankah kau ingin keluargamu dipulihkan? Mulailah dari pemulihan hubunganmu dengan suamimu…” Saat itu baru anak pertama kami yang bertobat dari pergaulannya yang kacau. Aku langsung mengerti rencana yang telah Tuhan sediakan bagiku. Ketika itu kondisi suamiku sudah sakit-sakitan, namun aku bersyukur karena anak-anak kami bersedia merawatnya.

Pemulihan terjadi karena kuasa-Nya
Setelah itu, tahun 1995, merupakan lembaran baru dalam kehidupan keluarga kami. Berkat bantuan seorang hamba Tuhan, keluarga kami dijamah secara luar biasa. Suamiku dan anak-anakku dikonseling dan didoakan. Mereka dijamah dan dipulihkan dari kehidupan mereka yang kacau dan berbalik kembali ke jalan-Nya. Bahkan suamiku yang selama ini memilki ilmu gaib dalam tubuhnya pun dilepaskan. Ia terbebas dari penyembahan berhala yang selama ini ditekuninya. Kami menjadi sebuah keluarga yang utuh di dalam kuasa-Nya.

Tahun 1996 suamiku terkena serangan jantung dan setelah dirawat selama 5 hari, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Di balik kesedihan yang kurasakan, aku bersyukur pada Tuhan karena sebelum Ia mengambil nyawa suamiku, suamiku diberi kesempatan untuk memulihkan hubungannya dengan kami, keluarganya. Bahkan suamiku telah bebas dari kuasa kegelapan yang selama ini membelenggu hidupnya. Aku yakin kini suamiku tenang berada disisi-Nya. (Kisah ini telah ditayangkan 19 Maret 2007 dalam acara Solusi di SCTV). Sumber kesaksian :Yohana Ester Saerang, jawaban.com.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, September 6, 2009

Usefull or Useless?

"Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku." Filemon 1:11

Surat Paulus kepada Filemon mengungkapkan sesuatu mengenai pria bernama Onesimus. Pada suatu ketika, Paulus menganggap Onesimus tak berguna. Namun sementara Paulus ada di penjara ia memperlakukan Onesimus sebagai seorang anak. Sesuatu telah berubah di dalam pria ini yang membuat dia berguna bukannya tak berguna.

Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan Petrus, Dia melihat seorang pria yang berangasan dan tak sabaran yang cepat mengambil kesimpulan dan sangat kepala batu. Saya yakin Tuhan Yesus sempat meragukan bahwa pria ini pantas untuk menjadi seorang pemimpin masa depan. Namun, Tuhan Yesus melihat sesuatu di dalam Petrus yang akan menjadi berguna setelah sisi-sisi kasarnya disingkirkan.

Kedua pria itu dulunya merupakan orang-orang bodoh di dalam Kerajaan Allah. Rujukan pada seseorang sebagai orang bodoh tidaklah selalu berarti negatif. Seorang bodoh adalah orang yang membuat kekeliruan, namun segera mengoreksinya dan pulih dalam persekutuan dengan Allah dan manusia. Raja Daud pernah menjadi orang bodoh, orang yang pernah membuat kekeliruan, namun dia memiliki hati yang selalu bertobat terhadap Allah. Inilah sebabnya Allah tidak berpaling darinya meskipun dia pernah berbuat dosa yang banyak.

Orang bebal yang keras membuat kekeliruan namun tidak pernah belajar dari kekeliruan-kekeliruan tersebut, tidak pernah bertobat dan tidak pernah mau mendengar nasihat orang lain. Orang-orang semacam itu akan terus ditegur dan dimurkai Tuhan dan akan makan buah hasil perbuatan mereka (Lihat Amsal 1:31-32). Orang bebal yang bandel selalu kembali ke muntahnya. Raja Saul adalah orang bebal yang bandel, yang pernah berbuat kekeliruan di hadapan Allah, dan terus melakukan hal itu bahkan setelah dia menyadari apa yang telah dilakukan itu salah.

Kita bisa saja melakukan kesalahan dalam cara hidup kita. Pertanyaannya adalah, setelah kita menyadari bahwa kita telah berbuat kekeliruan di hadapan Allah, apakah kita membuat penyesuaian yang diperlukan agar Tuhan dapat turun tangan bagi kita? Dan apakah kita akan menghindarkan diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari? Tuhan katakan bahwa jika kita berlaku demikian, Dia akan mencurahkan Roh-Nya atas kita (lihat Amsal 1:23).

Ketika Anda bekerjasama dengan orang-orang yang mempunyai kepribadian kuat namun mereka masih belum dewasa dalam iman, Anda harus dapat membedakan apakah mereka orang bodoh atau orang bebal. Hal ini akan memberi tahu Anda apakah Anda perlu menginvestasikan waktu dan daya bagi mereka. Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 7 September 2009.

*****


"Formerly he was useless to you, but now he has become useful both to you and to me"
(Philem 11).
Paul's letter to Philemon reveals something about a man named Onesimus. At one time, Paul viewed Onesimus as useless. But while Paul was in chains he treated Onesimus as a son. Something changed in this man that made him useful instead of useless.

When Jesus met Peter, he saw an impetuous man who drew quick conclusions and was very opinionated. I'm sure Jesus had his doubts about him for future leadership. However, Jesus saw something in Peter that was going to be useful once the rough edges were removed.

Both of these men were simple fools in the Kingdom of God. The reference to someone being a fool was not necessarily a negative term. A simple fool, or peti, was a person who made mistakes, but quickly righted them and was restored to fellowship with God and with others. King David was a simple fool, one who made mistakes, but kept a repentant heart toward God. This is why God did not turn away from him for his many sins.

The hardened fool, kesil and ewil, makes mistakes but never learns from them, is not repentant and will not listen to others. Such people can expect God's reproof to continue and they will eat the fruit of their own way (see Prov. 1:31-32). The hardened fool "returns to his own vomit." King Saul was a hardened fool, one who made mistakes and continued to do so even after realizing he was wrong.

We are going to err in our ways. The question is, once we know we have made a mistake before God, do we make the necessary adjustments that will allow Him to intervene on our behalf? And will we avoid the same course of action in the future? God says that if we do, He will pour out His Spirit on us (see Prov. 1:23).

When you work with people who have strong personalities but may be immature in their faith, you must discern if they are simple fools or hardened fools. This will tell you whether to invest time and resources into them. Os Hillman.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 4, 2009

Judas' Mindset

Pikiran Di Balik Tindakan Yudas Iskariot
Tak ayal lagi, Yudas Iskariot selalu digambarkan sebagai tokoh yang menjijikkan karena tindakan pengkhianatannya. Yudas adalah satu-satunya murid Yesus yang bukan orang Galilea. Sebutan Iskariot bisa jadi menunjukkan daerah asalnya Kerijot (Yudea Selatan). “Iskariot” dapat pula berarti Sikarius, golongan militan dari partai Zelot. Asal dan juga karakter yang berbeda membuat pribadi ini unik di antara kumpulan ke-12 murid Yesus. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membela tindakan Yudas, melainkan hanya mencoba melihat dan menelisik pikiran yang mungkin mendasari tindakan Yudas dari perspektif yang lain.

Yudas dididik untuk menjadi pahlawan yang peduli dengan kebebasan bangsanya. Ayahnya adalah pejuang yang melawan kelaliman penguasa Roma. Sebagaimana lumrahnya pemuda yang berasal dari keluarga pejuang, Yudas memiliki semangat yang menggelora dan memimpikan kemerdekaan bagi bangsa Israel yang telah lama menderita karena penjajahan bangsa Romawi. Selama 500 tahun, setiap demonstrasi yang dilakukan selalu diganjar dengan pembantaian. Ayahnya adalah salah satu di antara ratusan pejuang yang dihukum dengan penyaliban. Hal itu disaksikan sendiri oleh Yudas kecil. Bisa dibayangkan, betapa besar kebencian yang tertanam dan betapa tinggi semangat untuk membebaskan bangsanya dari cengkeraman penjajah. Di tengah semangat bergelora, Yudas mendengar tentang seorang pembaptis di sungai Yordan yang terpanggil untuk menyiapkan kedatangan Mesias, Sang Pembebas Israel.

Mendengar kotbah Yohanes, Yudas semakin yakin bahwa kedatangan Mesias sudah amat dekat. Sambil mencari Mesias yang dikotbahkan Yohanes, Yudas mendengar kabar burung tentang Yesus yang melakukan aneka mukjizat di Galilea. Setelah melihat dengan mata sendiri, Yudas yang awalnya tidak percaya, menjadi percaya. Namun kepercayaan Yudas disertai dengan suatu harapan akan kemerdekaan bangsa Israel tatkala Mesias ini datang untuk mendirikan kembali kerajaan Israel seraya menggulingkan penguasa Roma.

Yudas, seorang yang bersedia meninggalkan keluarga untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, rasanya tidak mungkin menjual seorang tokoh yang dilihatnya punya potensi besar untuk mewujudkan cita-citanya dengan 30 keping perak. Ia telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus menyembuhkan orang kusta, menghidupkan orang mati, menyembuhkan si buta, dan berbagai karya besar yang luar biasa. Di matanya, Yesus pastilah Mesias yang dijanjikan untuk memerdekakan bangsanya. Namun di tengah kekaguman terhadap kuasa dan potensi yang dimiliki Yesus, dari Kotbah di Bukit, Yudas melihat sepertinya misi yang dipikirkan Yesus tidak seperti yang dibayangkannya. Yudas membayangkan Mesias yang kuat kuasa dan revolusioner untuk menggulingkan penjajah. Sementara dalam Kotbah di Bukit, Yesus mengajarkan keindahan dari mencintai musuh, penderitaan, dan kerendahaan hati. Lebih jauh, Yudas melihat sendiri bagaimana Yesus berbelas kasih dengan menyembuhkan anak perwira Romawi. Bahkan Yesus mengagungkan perwira tersebut sebagai pribadi hebat yang belum ada di antara orang Israel. Bagi Yudas, hal ini cukup mencemaskan. Musuh ditolong. Bagaimana Dia dapat diharapkan untuk melibatkan diri dalam pergolakan kemerdekaan yg menuntut pertumpahan darah? Dalam bayangannya tentang Mesias yang membebaskan bangsa terjajah, cinta kasih yang diproklamasikan Yesus merupakan kelemahan. Tatanan kerajaan baru yang dipikirkan Yesus berbeda dengan tatanan kerajaan duniawi dan jasmani yang dipikirkan Yudas.

Konflik Yudas menciptakan frustrasi dalam dirinya. Setelah lama berkelana untuk menemukan Mesias yang akan memerdekakan bangsanya, kini, Yesus yang dianggapnya berpotensi untuk menggapai cita-cita malah terkesan tidak sedikit pun menaruh minat pada apa yang diidamkannya. Dalam kesemrawutan pikiran, Yudas menemukan ide “cemerlang”. Ia yakin, jika Yesus ditangkap, akan ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, pengikut Yesus yang telah mencapai ribuan orang akan melawan sehingga terjadilah pemberontakan yg dapat menggulingkan penguasa Romawi. Kedua, tekanan pada keselamatan diri dan para pengikut-Nya akan “memaksa” Yesus untuk mengeluarkan kuasa terhebat yang dimiliki-Nya. Kuasa yang tak dapat diragukan lagi setelah sekian banyak mukjizat yang dilakukan-Nya. Yudas yakin sekali, jika dua kemungkinan ini terjadi, maka penguasa Romawi akan berhasil digulingkan.

Muskil rasanya jika Yudas mau menukar pribadi yang diagungkannya itu dengan 30 keping perak. Menjual Yesus sama dengan menggadaikan perjuangan dan pengorbanan Yudas sendiri dan ayahnya yang terbunuh secara kejam di kayu salib. Lagipula tidak satu pun petunjuk yang memperlihatkan adanya kesepakatan transaksi 30 keping perak untuk membayar “pengkhianatan” Yudas. Pembayaran yang dilakukan oleh Imam Kepala kepada Yudas setelah penyerahan Yesus merupakan tips yang wajib dan lumrah pada zaman itu jika seseorang dianggap telah memberikan layanan jasa yang dibutuhkan. Di zaman sekarang, hal itu mirip dengan tips yang harus diberikan aparat kepolisian untuk informasi yang diterima untuk mengungkap kasus kejahatan.

Setelah penyerahan, Yudas dilanda frustrasi yang lebih berat lagi. Yesus ternyata tidak melawan. Para pengikut-Nya pun lari terbirit-birit. Apa yang dapat diharapkan dari orang-orang bernyali kerdil seperti ini? Petrus, si “mulut besar” bahkan dengan pengecut menyangkal-Nya hingga tiga kali. Khalayak ramai lebih menginginkan pembebasan Barabas. Sepertinya ribuan orang yang mengikuti-Nya hanya menginginkan kuasa penyembuhan dan roti yang dapat Ia “gandakan” untuk memuaskan kelaparan perut mereka. Sungguh hal yang amat sangat mengecewakan. Di hari-hari itu, Yudas melihat betapa lemahnya Yesus: ditangkap, dihina, ditendang, disiksa, dan terpaku lunglai di kayu salib, sama seperti ayahnya dan ratusan orang yang selama ini telah menumpahkan darah demi pembebasan bangsanya. Bayaran 30 keping perak dihamburkannya ke hadapan Imam Agung karena memang bukan itu yang diinginkannya. Frustrasi dan kekecewaan yang mendalam ini menggiring Yudas hingga pada satu titik di mana dia tidak mampu lagi bertindak lain, kecuali membunuh diri. Yudas menggantungkan nyawanya bersama cita-cita besar yang diidamkannya sekian lama untuk perjuangan kemerdekaan.

Perspektif alternatif untuk menilai tindakan Yudas memungkinkan kita untuk lebih memahami mengapa ia menyerahkan junjungannya. Sekiranya kita berada dalam situasi, konteks, latar belakang pemikiran seperti Yudas, barangkali kita juga akan melakukan hal yang sama. Bukan tidak mungkin, Yudas, yang menurut pendapat umum merupakan tokoh hitam ini, ada di sekitar kita, bahkan dalam diri kita. (L. Lianto - email kiriman pak Djaya)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, September 2, 2009

God Smiles When We Use Our Abilities

"He has shaped each person in turn; now he watches everything we do" (Psalm 33:15 MSG).

After the flood, God gave Noah these simple instructions: "Be fruitful and increase in number and fill the earth. Everything that lives and moves will be food for you. Just as I gave you the green plants, I now give you everything" Genesis 9:1,3

God said, "It's time to get on with your life! Do the things I designed humans to do. Make love to your spouse. Have babies. Raise families. Plant crops and eat meals. This is what I made you to be!"

You may feel that the only time God is pleased with you is when you're doing "spiritual" activities like reading the Bible, attending church, praying, or sharing your faith, and that he is unconcerned about the other parts of your life. Actually, God enjoys watching everything you do, whether you are working, playing, resting, or eating. The Bible tells us, "The steps of the godly are directed by the LORD. He delights in every detail of their lives" (Psalm 37:23, NLT)

God especially enjoys watching you use the talents and abilities he has given you. God intentionally gifted each of us differently for his enjoyment. You may be gifted at mechanics or mathematics or music or a thousand other skills. All of these activities can bring a smile to God's face.

You don't bring glory or pleasure to God by hiding your abilities or by trying to be someone else. You only bring him enjoyment by being you. Anytime you reject any part of yourself, you are rejecting God's wisdom and sovereignty in creating you. God says, "You have no right to argue with your Creator. You are merely a clay pot shaped by a potter. The clay doesn't ask, 'Why did you make me this way?'" (Isaiah 45:9, CEV)

In the film Chariots of Fire, Olympic runner Eric Liddell says, "I believe God made me for a purpose, but he also made me fast, and when I run, I feel God's pleasure." Later he says, "To give up running would be to hold him in contempt." There are no unspiritual abilities, just misused ones. Start using yours for God's pleasure. By: Rick Warren, http://more-in-christ.blogspot.com/2009/04/god-smiles-when-we-use-our-abilities.html

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, August 28, 2009

Father Judge

Seorang pria hendak mengunjungi pacarnya. Ketika akan memasuki rumah itu dia mendengar dengan jelas di hatinya suara yang berkata, "Aku ingin engkau menjadi seorang pendeta." Pria ini kaget sekali. Apa tidak salah? Tidak pernah di hatinya ada keinginan menjadi pendeta. Dia menjadi sedih. Koq, Tuhan mau dia menjadi pendeta? Apa kata orang nanti? Apa kata pacarnya nanti? Apa kata teman-temannya nanti? Dia bukanlah seseorang yang terlalu banyak memikirkan Tuhan dan memikirkan perkara-perkara rohani. Koq, tega-teganya Tuhan meminta dia jadi seorang pendeta, padahal itu bukan "profesi" yang dia kehendaki?

Banyak orang menganggap Tuhan sebagai seorang hakim, sewenanq-wenang, diktator, bikin takut. Apakah pujian dan penyembahan saya bagus? Dapat nilai berapa di hadapan Tuhan? Apakah perilaku saya hari ini baik, tidak bakal ditegur Tuhan? Apakah perkataan saya semuanya oke? Apakah tidak ada perkataan yang mendapatkan nilai minus? Apakah pembacaan Kitab Suci setiap hari saya mendapat pujian atau teguran karena sering bolong-bolong?

Semua pertanyaan dan pernyataan itu timbul karena kita menganggap Tuhan sebagai seorang Hakim, seorang Wasit, seorang Jaksa yang segera menindak, menghukum, menilai, menghakimi semua perbuatan kita. Padahal, lebih dari itu Tuhan adalah seorang Bapa. Ketika Adam dan Hawa masih ada di Taman Eden sebagai manusia baru, mereka mengenal Tuhan sebagai Bapa. Ketika manusia jatuh dalam dosa, dosa mereka memaksa Tuhan bertindak sebagai Hakim. Namun kemudian Tuhan menunjukkan bahwa belas kasihan akan menang atas penghakiman. Belas kasih Tuhan Yesus Kristus menunjukkan kemenangannya atas penghukuman.

Ketika di kayu Salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", itu berarti penghakiman Allah telah dikalahkan oleh belas kasihan dan pengampunan. Ketika di kayu salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", di sorgapun Bapa berkata yang sama: "Sudah selesai Aku bertindak sebagai Hakim. Sekarang Aku sepenuhnya menjadi Bapa atas semua anak-anak-Ku yang percaya dan mengandalkan sepenuhnya kepada Diri-Ku."

Jika Tuhan bertindak sebagai Bapa, itu tidak berarti kita boleh menyepelekan kasih karunia-Nya dengan bertindak dan berbuat dosa seenaknya, dengan pikiran: "Toh nanti juga diampuni Tuhan?" Tidak selalu kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk diampuni. Bagaimana kalau kita meninggal, sebelum sempat minta ampun atas dosa tertentu? Kita tidak bisa bermegah bahwa kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi kita semaunya. Ada hal-hal yang di luar kendali kita. Itulah kuasa Tuhan.

Sebagai penutup, kisah di bagian awal tulisan ini dikisahkan oleh seorang pendeta dari Melbourne, Ps. Allan Meyer, tentang bagaimana awalnya dia dipanggil ke dalam pelayanan. Sepanjang hidupnya ia melihat kebaikan dan kasih karunia Tuhan dalam peyananannya. Pilihan Tuhan atas dirinya sekarang tak pernah disesali. Tuhan itu tahu apa yang terbaik bagi setiap orang yang berserah kepada Tuhan.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 20, 2009

Three Days and Three Nights

3 HARI 3 MALAM
Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul satu-satunya penumpang -- seorang hamba Tuhan yang diundang ke daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari sorga. Orang ini agak terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri, dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai berbincang-bincang.

"Berapa jumlah penduduk desa Bapak?" tanyanya berbasa-basi kepada ketua rombongan. "Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta," jawab lelaki setengah usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.

Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini. Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu yang lalu.

"Mari, Pak," kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. "Baik," katanya.

Terbersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh.

Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu, dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan lumpur yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan setapak itu.

Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap suara orang ramai.

Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus ... tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat barisan panjang menuju sebuah "rumah adat".

"Mereka ... ?" tanyanya heran pada pengantarnya.

"Ya," jawab yang ditanya, "mereka tahu Bapak akan datang. Mereka datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti bersama-sama."

3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.

Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya "orang banyak datang berbondong-bondong". Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan, kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat mereka itu menjadi "indah". Diambil dan disunting seperlunya dari buku: Untaian Mutiara, Penulis: Betsy T., Penerbit: Penerbit Gandum Mas, Malang, halaman: 116 -- 118/Email kiriman dari Bapak Wawan S.T

*****

Personal Note:
Seorang bapak di Batam mengaku diberkati oleh buku "Mukjizat Kehidupan". "Kesaksian yang luar biasa!" katanya sembari bertanya apakah buku "Mukjizat Kehidupan" volume kedua sudah terbit. Namun beliau memesan buku tersebut lagi untuk dibagikan kepada teman-temannya. God bless you.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 22, 2009

Why They Hate Us?

Sebuah puisi di sarapanpagi.org sangat menempelak saya...
Inilah penyebab bangsa ini memusuhi kita.
Penyebab bangsa ini merasa asing dengan kita.
Penyebab bangsa ini mencap kita sombong dan ekslusif.
Penyebab kita tidak bisa jadi terang bagi rakyat sekitar.
Penyebab gereja saya didesak ditutup oleh RT/RW sekitar....

besok rapat RT!
tidak bisa
besok ada doa malam!

besok kerja bakti!
tidak bisa
besok ada kebaktian pagi!

besok acara tahlilan di lingkungan RT!
tidak bisa
besok ada doa puasa!

besok giliran ronda malam!
tidak bisa
besok ada doa semalam suntuk pengerja!

besok rapat RW!
tidak bisa
besok ada rapat pengerja gereja!

Sumber: Email dari Mamusung/Milis Terangdunia

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 17, 2009

Churches in Sakhalin Island

Teman saya, seorang pengusaha, yang saya kenal ketika saya melayani di Melbourne, bercerita tentang pelayanannya bersama Pastor Jin (asal Korea) ke Pulau Sakhalin di daerah Siberia - Rusia beberapa minggu yang lalu. Di pulau itu banyak tinggal orang Korea dan Rusia. Ketika mereka bertemu dengan salah satu gembala di sana, gembala yang bersangkutan menceritakan sekitar 200 gereja yang sudah ia bangun dengan kasih karunia Tuhan.

Ketika pengusaha itu bertanya, "Pak Gembala, kalau bapak meninggal, bagaimana dengan gereja-gereja yang sudah dibangun itu?" Dengan mengejutkan gembala tadi menjawab, "Ah, saya tidak pernah ambil pusing. Gereja-gereja itu sudah memiliki gembala lokal masing-masing. Saya tidak akan mewariskan gereja-gereja itu kepada anak-anak saya. Saya bahkan tidak pernah memikirkan hal itu karena saya selalu sibuk membuka dan membangun gereja-gereja baru."

Memang, gereja-gereja yang dibangun oleh gembala tersebut selalu didukung banyak orang Kristen di pulau Sakhalin karena gereja-gereja itu tidak bermerek, tidak mencantumkan denominasi, tidak dikuasai sang gembala pelopor. Anak-anaknya tidak diprogram untuk menggembalakan atau "mewarisi" gereja-gereja yang sudah dibangun ayah mereka.

Bandingkan dengan beberapa gereja di Indonesia. Banyak pendeta berlomba-lomba membangun gereja untuk diwariskan kepada anak, menantu dan keluarganya, seolah-olah gereja adalah perusahaan keluarga yang tidak boleh lepas dari keturunan sampai keturunan berikutnya. Banyak gembala di sini bukan menjadi pengelola atau penatalayan gereja, tetapi menjadi pemilik gereja.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, July 4, 2009

Maturity

Kedewasaan
Film "Lars and the Real Girl" menyoroti perbedaan antara sikap kekanak-kanakan dan kedewasaan. Lars suatu saat menanyai Gus, kakaknya, apa artinya menjadi laki-laki dewasa. Gus terbata-bata dan tertegun sejenak, tetapi akhirnya mendapatkan jawaban yang bagus: Menjadi laki-laki dewasa berarti melakukan perkara yang benar, meskipun untuk itu ia harus menderita; tidak berlaku curang terhadap istri; dan mau dengan jujur mengakui kesalahan.

Kedewasaan tidak otomatis bertumbuh seiring dengan pertumbuhan fisik atau penambahan umur. Kedewasaan ditentukan oleh perubahan sikap dan kesediaan untuk memikul tanggung jawab. Orang-orang percaya Ibrani ditegur karena tidak mengalami pertumbuhan yang semestinya di dalam iman mereka. Seharusnya mereka sudah cakap untuk mengajarkan prinsip-prinsip iman kepada orang lain, tetapi mereka bahkan belum menerapkannya di dalam hidup mereka sendiri. Akibatnya, iman mereka mandek, tidak bertumbuh apalagi berbuah. Sulit bagi mereka makan “makanan keras”, memahami aspek-aspek iman yang lebih mendalam.

Penulis kitab Ibrani menyodorkan resep untuk mengatasi keadaan itu. Pertumbuhan rohani menuntut ketekunan dan kerja keras. Agar menjadi dewasa dalam iman, kita perlu melatih hati nurani, pikiran, dan tubuh kita untuk belajar memisahkan yang baik dari yang jahat. Apakah Anda cukup waspada untuk mengenali pencobaan sebelum hal itu telanjur menjerat Anda? Apakah Anda cukup terampil untuk menerapkan prinsip firman Tuhan dalam menyikapi tantangan hidup? Apakah Anda cukup kritis untuk membedakan penggunaan Alkitab yang tepat dan yang keliru? Kedewasaan menuntut kita keluar dari selimut kenyamanan sikap kekanak-kanakan. Penulis: Arie Saptaji, sumber: http://www.renunganharian.net/, email kiriman Bpk. Tefa/terangdunia mailist.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 30, 2009

Do Good Anyway

Tadi malam saya bertemu teman semasa kecil. Dia adalah pengusaha. Dia dipercayakan menjadi Ketua Panitia Pembangunan Gereja Katholik. Selama menjadi Ketua Panitia ternyata banyak suka dukanya. Selama menjadi Ketua dia telah banyak keluar uang untuk menjamu konsumsi dan akomodasi para tamu dari Jakarta yang datang ke kotanya. Begitu juga dia seringkali merogoh uangnya untuk perjalanan ke Jakarta menemui para calon donatur. Hal ini dia ceritakan bukan untuk menyombongkan diri, tetapi dia selalu berprinsip bahwa melayani pekerjaan Tuhan memang memerlukan pengorbanan dan dia rela melakukannya. Sayangnya, masih saja ada orang-orang yang malahan mencurigai dia menyalah-gunakan dana pembangunan. Tidak selalu perbuatan baik mendapatkan tanggapan positif dari lingkungan sekitar. Ada banyak kepentingan yang sering bertabrakan dengan kepentingan gereja, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang yang diincar jabatannya.

Dia bercerita, ketika dana pembangunan baru terkumpul Rp. 1 milyar, banyak orang acuh tak acuh terhadap rencana pembangunan gereja. Tetapi sekarang ketika semua kebutuhan dana sebesar Rp. 12 milyar sudah tersedia, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan Gereja. Teman saya sedih melihat orang-orang yang masih ingin mencari keuntungan dari pembangunan gereja Tuhan. Supaya tidak dicurigai pihak lain, sebagai ketua panitia pembangunan dia menyerahkan kepada para donatur di Jakarta untuk menunjuk perusahaan kontraktor yang akan membangun gereja.

Jangan kira, jika Anda berbuat baik, orang-orang akan memberi tanggapan positif. Tetapi seperti apa yang dikatakan Bunda Teresa, "Meskipun demikian, teruslah berbuat baik."

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, June 28, 2009

Are You a Lover or a Prostitute?

(Note: Indonesian Version is attached below - Versi Indonesia ada di bagian bawah)

A number of years ago, I had the privilege of teaching at a school of ministry. My students were hungry for God, and I was constantly searching for ways to challenge them to fall more in love with Jesus and to become voices for revival in the Church. I came across a quote attributed most often to Rev. Sam Pascoe. It is a short version of the history of Christianity, and it goes like this: Christianity started in Palestine as a fellowship; it moved to Greece and became a philosophy; it moved to Italy and became an institution; it moved to Europe and became a culture; it came to America and became an enterprise. Some of the students were only 18 or 19 years old--barely out of diapers--and I wanted them to understand and appreciate the import of the last line, so I clarified it by adding, “An enterprise. That’s a business.”

After a few moments Martha, the youngest student in the class, raised her hand. I could not imagine what her question might be. I thought the little vignette was self-explanatory, and that I had performed it brilliantly. Nevertheless, I acknowledged Martha’s raised hand, “Yes, Martha.” She asked such a simple question, “A business? But isn’t it supposed to be a body?” I could not envision where this line of questioning was going, and the only response I could think of was, “Yes.” She continued, “But when a body becomes a business, isn’t that a prostitute?”

The room went dead silent. For several seconds no one moved or spoke. We were stunned, afraid to make a sound because the presence of God had flooded into the room, and we knew we were on holy ground. All I could think in those sacred moments was, “Wow, I wish I’d thought of that.” I didn’t dare express that thought aloud. God had taken over the class. Martha’s question changed my life. For six months, I thought about her quesion at least once every day. “When a body becomes a business, isn’t that a prostitute?” There is only one answer to her question. The answer is “Yes.” The American Church, tragically, is heavily populated by people who do not love God. How can we love Him? We don’t even know Him; and I mean really know Him.

What do I mean when I say “really know Him?” Our understanding of knowing and knowledge stems from our western culture (which is based in ancient Greek philosophical thought). We believe we have knowledge (and, by extension, wisdom) when we have collected information. A collection of information is not the same thing as knowledge, especially in the culture of the Bible (which is an eastern, non-Greek, culture). In the eastern culture, all knowledge is experiential. In western/Greek culture, we argue from premise to conclusion without regard for experience--or so we think. An example might be helpful here. Let us suppose a question based upon the following two premises: First, that wheat does not grow in a cold climate and second, that England has a cold climate. The question: Does wheat grow in England? The vast majority of people from the western/Greek culture would answer, “No. If wheat does not grow in a cold climate and if England has a cold climate, then it follows that wheat does not grow in England.” In the eastern culture, the answer to the same question, based on the same premises, most likely would be, “I don’t know. I’ve never been to England.” We laugh at this thinking, but when I posed the same question to my friends from England, their answer was, “Yes, of course wheat grows in England. We’re from there, and we know wheat grows there.” They overcame their cultural way of thinking because of their life experience. Experience trumps information when it comes to knowledge.

A similar problem exists with our concept of belief. We say we believe something (or someone) apart from personal experience. This definition of belief is not extended to our stockbroker, however. Again, allow me to explain. Suppose my stockbroker phones me and says, “I have a hot tip on a stock that is going to triple in price within the next week. I want your permission to transfer $10,000 from your cash account and buy this stock.” That’s a lot of money for me, so I ask, “Do you really believe this stock will triple in price, and so quickly?” He/she answers, I sure do.” I say, “That sounds great! How exciting! So how much of your own money have you invested in this stock?” He/she answers, “None.” Does my stockbroker believe? Truly believe? I don’t think so, and suddenly I don’t believe, either. How can we be so discerning in the things of this world, especially when they involve money, and so indiscriminate when it comes to spiritual things? The fact is, we do not know or believe apart from experience. The Bible was written to people who would not understand the concepts of knowledge, belief, and faith apart from experience. I suspect God thinks this way also.

So I stand by my statement that most American Christians do not know God--much less love Him. The root of this condition originates in how we came to God. Most of us came to Him because of what we were told He would do for us. We were promised that He would bless us in life and take us to heaven after death. We married Him for His money, and we don’t care if He lives or dies as long as we can get His stuff. We have made the Kingdom of God into a business, merchandising His anointing. This should not be. We are commanded to love God, and are called to be the Bride of Christ--that’s pretty intimate stuff. We are supposed to be His lovers. How can we love someone we don’t even know? And even if we do know someone, is that a guarantee that we truly love them? Are we lovers or prostitutes?

I was pondering Martha’s question again one day, and considered the question, “What’s the difference between a lover and a prostitute?” I realized that both do many of the same things, but a lover does what she does because she loves. A prostitute pretends to love, but only as long as you pay. Then I asked the question, “What would happen if God stopped paying me?”

For the next several months, I allowed God to search me to uncover my motives for loving and serving Him. Was I really a true lover of God? What would happen if He stopped blessing me? What if He never did another thing for me? Would I still love Him? Please understand, I believe in the promises and blessings of God. The issue here is not whether God blesses His children; the issue is the condition of my heart. Why do I serve Him? Are His blessings in my life the gifts of a loving Father, or are they a wage that I have earned or a bribe/payment to love Him? Do I love God without any conditions? It took several months to work through these questions. Even now I wonder if my desire to love God is always matched by my attitude and behavior. I still catch myself being disappointed with God and angry that He has not met some perceived need in my life. I suspect this is something which is never fully resolved, but I want more than anything else to be a true lover of God.

So what is it going to be? Which are we, lover or prostitute? There are no prostitutes in heaven, or in the Kingdom of God for that matter, but there are plenty of former prostitutes in both places. Take it from a recovering prostitute when I say there is no substitute for unconditional, intimate relationship with God. And I mean there is no palatable substitute available to us (take another look at Matthew 7:21-23 sometime). We must choose. By: David Ryser/WLC Team (worldlastchance.com), email sent by pttwr.


****
INDONESIAN VERSION brought to you by Hadi Kristadi:


Apakah Anda Kekasih Allah atau Pelacur?
Beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengajar di sebuah sekolah pelayanan. Para mahasiswa saya sangat lapar akan Tuhan, dan saya selalu mencari cara-cara untuk menantang mereka agar jatuh cinta kepada Tuhan Yesus lebih lagi dan menjadi suara kebangkitan dalam gereja. Saya menemukan suatu pernyataan yang berasal dari Pdt. Sam Pascoe. Pernyataan itu merupakan sejarah singkat kekristenan: “Kekristenan bermula di Palestina sebagai persekutuan, berpindah ke Yunani sebagai sebuah filsafat, berpindah ke Itali dan menjadi sebuah lembaga gereja, berpindah ke Eropa dadn menjadi sebuah kebudayaan Kristen, berpindah ke Amerika Serikat dan menjadi sebuah badan usaha." Beberapa mahasiswa baru berusia 18 atau 19 tahun, sudah cukup besar, dan saya ingin mereka mengerti dan menghargai bagian kalimat terakhir itu, sehingga untuk menegaskannya saya tambahkan, “Badan usaha. Itulah bisnis.”

Setelah beberapa saat Martha, mahasiswa paling muda di kelas itu, mengangkat tangannya. Saya tak dapat membayangkan apa yang akan ditanyakannya. Saya pikir gambaran yang saya berikan sudah cukup jelas, dan saya pikir saya telah berhasil membuat mereka jelas. Namun demikian, saya menanggapi keinginan Martha untuk bertanya, sehingga saya berkata, “Ya, Martha.” Dia bertanya sebuah pertanyaan yang sederhana, “Bisnis? Bukankah kekristenan seharusnya menjadi sebuah tubuh?” Saya tak dapat membayangkan kemana arah pertanyaan ini, dan jawaban yang dapat saya hanya pikirkan adalah, “Ya, benar.” Kemudian dia melanjutkan, “Tetapi ketika sebuah tubuh menjadi bisnis, bukankah hal itu merupakan pelacuran?”

Ruangan kelas itu menjadi sunyi senyap. Selama beberapa detik tak ada seorangpun yang bergerak atau berkata-kata. Kami semua terperangah, takut mengeluarkan suara karena kehadiran Allah telah melanda ruangan kelas, dan kami tahu bahwa kami sedang berdiri di tempat kudus. Segala yang dapat saya pikirkan dalam saat-saat kudus itu adalah, “Wow, andaikan saja saya berpikir demikian.” Saya tak berani mengungkapkan pemikiran itu terang-terangan. Allah telah mengambil alih ruangan kelas itu. Pertanyaan Martha telah mengubah kehidupan saya. Selama enam bulan, saya memikirkan pertanyaan Martha paling tidak sekali setiap hari. “Ketika sebuah tubuh menjadi bisnis, bukankah itu pelacuran?” Hanya ada satu jawaban bagi pertanyaannya. Jawabannya adalah “Ya.” Gereja-gereja di Amerika Serikat kebanyakan, yang sangat menyedihkan, telah dipenuhi jemaat yang tidak mengasihi Allah. Bagaimana kita mengasihi Dia? Kita bahkan tidak mengenal-Nya; dan yang saya maksud adalah sungguh-sungguh mengenal Dia.

Apa yang saya maksud ketika saya katakan “sungguh-sungguh mengenal Dia?” Pengertian kita tentang mengenal dan mengetahui berasal dari kebudayaan Barat (yang berasal dari pemikiran filsafat Yunani kuno). Kita menganggap kita telah memperoleh pengetahuan (dan selanjutnya memperoleh hikmat) ketika kita telah berhasil mengumpulkan banyak informasi. Sekumpulan informasi bukanlah pengetahuan, khususnya menurut kebudayaan Alkitab (yang merupakan kebudayaan Timur, bukan Yunani). Dalam budaya Timur, semua pengetahuan diperoleh dari pengalaman, bukan dari pengumpulan informasi. Dalam budaya Yunani atau Barat, kita mendapatkan kesimpulan bukan hanya dari pengalaman, begitulah pola pemikiran kita. Sebuah contoh mungkin dapat menolong kita memahami hal ini. Marilah kita mengajukan sebuah pertanyaan berdasarkan dua pernyataan berikut: Pertama, gandum tidak tumbuh di daerah yang beriklim dingin dan kedua, Inggris mempunyai iklim dingin. Pertanyaannya adalah: Apakah gandum tumbuh di Inggris? Kebanyakan orang dari kebudayaan Barat/Yunani akan menjawab, “Tidak. Jika gandum tidak tumbuh di daerah beriklim dingin dan Inggris memiliki iklim dingin, maka kesimpulannya gandum tidak tumbuh di Inggris. Di dalam budaya Timur, jawaban bagi pertanyaan yang sama, berdasarkan dua pernyataan yang sama, jawabannya mungkin akan seperti ini: “Tidak tahu. Saya belum pernah ke Inggris.” Kita mungkin akan menertawakan jawaban seperti itu, tetapi ketika saya mengajukan pertanyaan itu kepada teman-teman saya yang tinggal di Inggris, jawaban mereka adalah: “Ya, gandum tumbuh di Inggris. Kami berasal dari Inggris, dan kami tahu bahwa gandum tumbuh di sana.” Mereka mengabaikan cara berpikir Barat karena mereka telah mengalami apa yang mereka tahu. Pengalaman menghasilkan informasi ketika pengalaman menjadi pengetahuan.

Persoalan yang mirip timbul dalam konsep keyakinan kita. Kita katakan kita percaya sesuatu (atau seseorang) terlepas dari pengalaman pribadi kita. Pengertian percaya ini tidak kita berikan kepada pialang saham kita. Sekali lagi, izinkan saya menjelaskan. Anggaplah bahwa pialang saham saya menelpon saya dan berkata, “Saya punya nasihat paling hebat tentang suatu saham yang harganya akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu. Saya harap Anda mau mentransfer $ 10.000 untuk membeli saham ini.” Bagi saya itu adalah jumlah uang yang besar, sehingga saya bertanya, “Apakah Anda benar-benar percaya bahwa harga saham ini akan naik tiga kali lipat, dan dalam waktu cepat?” Dia menjawab, “Saya yakin sekali.” Saya tanya lagi, “Wah, bagus sekali. Betapa menarik. Jadi, berapa banyak uang Anda sendiri yang sudah Anda investasikan pada saham yang akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu ini?” Dia menjawab, “Tak ada.” Apakah pialang saya benar-benar percaya tentang saham yang akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu itu? Apakah dia sungguh-sungguh percaya? Saya pikir tidak, dan tiba-tiba saya tidak percaya juga. Bagaimana mungkin kita begitu teliti mengenai perkara-perkara di dunia ini, khususnya ketika berurusan dengan uang, dan kita begitu tidak peduli ketika berurusan dengan perkara-perkara rohani? Kenyataannya, kita tidak tahu atau tidak percaya tanpa kita mengalami. Alkitab ditulis bagi orang-orang yang tidak mungkin mengerti konsep pengetahuan, keyakinan, dan iman tanpa mengalaminya terlebih dahulu. Saya pikir Allah berpikir dengan cara demikian juga.

Jadi, saya tetap pada pendirian saya bahwa kebanyakan orang-orang Kristen di Amerika Serikat tidak mengenal Allah, dan kurang mengasihi Dia. Segala penyebab dari keadaan ini berasal dari cara kita datang kepada Allah. Kebanyakan di antara kita datang kepada Dia karena apa yang orang-orang katakan kepada kita apa yang akan Dia lakukan kepada kita. Kita dijanjikan bahwa Dia akan memberkati kita dalam kehidupan dan membawa kita ke sorga setelah kematian. Kita memilih Dia karena uang dan berkat yang dapat kita raih, tak peduli apakah Dia senang atau tidak, asalkan kita mendapatkan sesuatu dari Dia. Kita telah menyulap kerajaan Allah menjadi badan usaha, memperjual-belikan urapan-Nya. Sekali-kali janganlah hal ini terjadi! Kita telah diperintahkian untuk mengasihi Allah, dan kita dipanggil untuk menjadi Mempelai Kristus – itu adalah hubungan yang paling intim. Seharusnya kita menjadi kekasih-kekasih-Nya. Bagaimana kita mengasihi seseorang yang bahkan kita tidak kenal? Dan meskipun kita mengenal seseorang, apakah ada jaminan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihinya? Apakah kita ini kekasih-kekasih Allah atau para pelacur?

Saya terus merenungkan pertanyaan Martha di atas, dan mulai merenungkan apa perbedaan antara kekasih dan pelacur? Saya menyadari bahwa keduanya memiliki banyak persamaan, tetapi seorang kekasih melakukan apa yang dia lakukan karena dia mengasihi. Seorang pelacur berpura-pura mengasihi, selama Anda mau membayarnya. Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang akan terjadi kalau Tuhan berhenti memberikan sesuatu kepada kita?”

Selama beberapa bulan berikutnya, saya mengizinkan Allah untuk menyelidiki diri saya agar mengungkapkan motif-motif saya dalam mengasihi dan melayani Dia. Apakah saya sungguh-sungguh seorang yang mengasihi Dia? Apa yang akan terjadi seandainya Dia berhenti memberkati saya? Bagaimana kalau Dia tidak melakukan sesuatu bagi saya? Apakah saya masih mengasihi Dia? Pahamilah, saya percaya akan janji-janji dan berkat-berkat dari Allah. Persoalannya di sini bukanlah apakah Allah memberkati anak-anak-Nya atau tidak; masalahnya di sini bagaimana kondisi hati kita. Apa alasan saya melayani Dia? Apakah berkat-berkat-Nya yang saya terima dalam kehidupan ini merupakan kasih karunia dari seorang Bapa yang penuh kasih, atau merupakan pembayaran yang harus saya terima terima atau uang suap agar saya mengasihi Dia? Apakah saya mengasihi Allah tanpa syarat? Hal ini memerlukan waktu beberapa bulan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan sekarangpun saya masih menyelidiki apakah keinginan saya untuk mengasihi Allah selalu berpadanan dengan sikap dan tingkah laku saya. Saya sering mendapati diri saya kecewa terhadap Allah dan bahkan marah terhadap-Nya manakala Dia tidak memenuhi apa yang saya anggap saya butuhkan. Saya curiga hal ini adalah sesuatu yang belum saya selesaikan sungguh-sungguh, tetapi saya benar-benar ingin menjadi kekasih Allah yang sejati lebih dari apapun yang lain.

Jadi, kita ini akan menjadi apa? Apakah kita akan menjadi kekasih Allah atau pelacur? Tak ada pelacur di sorga, atau di kerajaan Allah, meskipun ada banyak bekas pelacur di kedua tempat itu. Meskipun kita "bekas pelacur", kita harus menyadari bahwa tak ada pengganti bagi hubungan yang sangat intim dan tanpa syarat dengan Allah. Dan saya juga mengartikan tak ada pilihan bagi kita, selain menjadi kekasih Allah yang sejati. Kita harus memilih. Naskah dalam bahasa Inggris ditulis oleh David Ryser (WLC Team, worldlastchance.com), email kiriman: pttwr, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 28 Juni 2009.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 18, 2009

A.R Bernard

Berikut ini adalah kisah tentang A.R Bernard yang belum saya sempat terjemahkan. Di bagian akhir tulisan ini ada link ke Youtube yang menayangkan khotbah dua menit A.R Bernard yang padat dan berisi. A.R Bernard akan diundang oleh Gereja JPPC Jakarta untuk memberikan seminar dalam suatu acara Dinner dengan harga tiket Rp. 500.000,-/orang pada tanggal 3 Juli 2009. Inilah latar belakang A.R Bernard:

Born in Panama in 1953, Bernard came to New York at the age of four with his mother and they settled in the Bedford-Stuyvesant section of Brooklyn. He was part of the 1960s desegregation movement in the public school system being bussed to school in Ridgewood, Queens and then attended Grover Cleveland High School. In order to help his mother in their single parent household, Bernard worked after school in the garment district pushing garment racks for $2.00 per hour. In his senior year, he left the garment district for a job at Bankers Trust Company. Beginning as a clerk in the Consumer Lending Division he earned a number of promotions leading to Operations Specialist in the Consumer Lending Division.

Establishment of Church
Prior to becoming a Christian, Bernard was a Black Muslim. Bernard left the banking world to answer his calling to full time ministry in 1979. Starting with a Bible Study group in a kitchen, he and his wife Karen took their savings and rented a small storefront in the Greenpoint section of Brooklyn. As his ministry grew, so did the need for a larger facility. In 1979, Household of Faith Ministries was incorporated with Bernard as its president and CEO. In 1988 the ministry purchased an abandoned supermarket in Brownsville and renovated it into a 1000 seat sanctuary complete with ministry offices and a bookstore. Christian Life Center became its new name and the ministry moved into its new property in June 1989 with 625 members.

Further Growth
The ministry was quickly outgrowing its home on Linden Blvd. With four services at capacity, and overflow rooms full, the need for a larger facility was evident. In 1995 a vacant lot adjacent to Starrett City was purchased and soon after, construction began. On December 31, 2000, under the leadership of Bernard, Christian Cultural Center took its new name and moved into its new home. The 6.5-acre (26,000 m2) sanctuary and conference center also includes a café, bookstore and restaurant. A new paradigm in houses of worship, Christian Cultural Center is one of the largest independent churches in the tri-state area. A.R. Bernard remains a highly sought after speaker, teacher and community leader. He has traveled extensively throughout the United States, the Caribbean Islands and to the continents of Asia, Africa, Australia and Europe addressing religious organizations, businessmen and political dignitaries.

Future expansion and development is anticipated on a 4.5-acre (18,000 m2) of land adjacent to the current facility, which was recently purchased by the ministry.

Outreach Programs
Outreach programs under his leadership include a food pantry serving the homeless and those in need, Prison Ministry, Literacy and Sonrise, an aid to substance abusers–assisting with counseling and an extensive referral system. A partnership was formed with JHS 275, the neighborhood middle school. As part of that partnership the ministry provided computers, sponsored trips to Washington DC, provided the use of church facilities for their graduations and initiated an annual scholarship to their valedictorian. Today, the ministry continues to support organizations such as Anchor House and Teen Challenge.

Christian Men's Network/International Christian Brotherhood
In 1990 while the ministry continued to grow, Bernard was asked to serve on the Board of Directors for the Christian Men’s Network (CMN) to help restructure the organization. During his six years on the board, CMN grew to an organization with 74 international offices and with a presence in approximately 150 nations. In addition to serving as Treasurer for the board, Bernard was one of their most requested speakers. With the passing of Dr. Edwin Louis Cole in 2002 he became the President of CMN. Under his leadership, CMN has been reborn as ICB, International Christian Brotherhood.

Involvement in Education
Bernard is also the founder of Brooklyn Preparatory School (BPS) in New York City. Formed in 1993, BPS is a premiere early education institution dedicated to serving young children, ages 3–6. Their June 1999 first grade graduates ranked 91st in the national percentile in reading and 96th in the national percentile in mathematics.

Christian Renaissance Corporation
Along with a number of ministers and not-for-profit representatives, Bernard formed the Christian Renaissance Corporation, established to foster urban revitalization through an alliance of church and para-church organizations. They have already sponsored a forum on Faith-Based Initiatives featuring Dr. John DiIulio and "United We Rise", a Memorial Service in the aftermath of the World Trade Center attacks which was broadcast live via satellite to over 25 sites throughout the tri-state area, churches around the country and 1,700 stations throughout parts of North and Latin America. It has since been rebroadcast throughout the nation and internationally via television and radio. CRC currently represents a constituency of over 100,000 people.

Leadership, Achievements and Politics
A. R. Bernard is the President of the Council of Churches of the City of New York representing 1.5 million Protestants, Anglicans and Orthodox Christians.

Presidents, Senators, and a host of other influential figures have honored Bernard for his outstanding leadership and achievements. New York Magazine named Bernard as one of their "Most Influential New Yorkers". In February 2007, Bernard was named by a consortium of organizations in the New York Daily News as the number one religious leader in New York.

On February 27, 2007, he was honored with a lifetime achievement award by the Consulate General of Israel in New York, the Jewish Community Relations Council and the Jewish National Fund.

Bernard has been personally cited in the Congressional record at least twice. He sits on several different boards including Anchor House, and Teen Challenge – a teen substance abuse program with a 70% success rate. In addition, under Commissioner Howard Safir, he sat on the NYC Police Department Advisory Board for Courtesy, Professionalism and Respect. Bernard presently serves as Chaplain to the Division of Law Enforcement of the NYS Department of Environmental Conservation Police. He is also a board member of the New York City Economic Development Corporation ("EDC") appointed by Mayor Michael Bloomberg and a member of the Board of Directors of the Brooklyn Public Library.

Prompted by Bernard's influence as a life coach to many high profile individuals, People Magazine recently highlighted his bi-coastal study group, which remains well attended by celebrities, sports figures and entertainers.

Media Coverage
Bernard has been featured in New York Magazine, The New York Times, The New York Post, The New York Daily News, Black Enterprise, Essence, Class Magazine, Charisma and a host of other newspapers and magazines.

He has also appeared on Fox News Channel, NBC's Today, MSNBC, CBS News, BET, The 700 Club, TBN's Praise the Lord, Tony Brown's Journal as well as various national and local news programs.

A.R. Bernard Broadcasts
Bernard is the host of two weekly television broadcasts. Faith In Practice and A.R. Bernard - airing nationally on TBN, TV One, and FamilyNet Television. The programs also air in New York on WWOR and WRNN. Bernard's radio broadcasts can be heard nationwide on Salem Communication stations, on FamilyNet Radio SIRIUS Channel 161, and locally within New York’s tri-state area on WMCA, WLIB and WBLS. Sumber: Wikipedia

Contoh khotbah Pdt. A.R Bernard (dua menit, tapi berbobot):
http://www.youtube.com/watch?v=L6DONvDKuYs

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 17, 2009

Gospel for Sale

Seorang kenalan, orang kaya, merasa tidak damai sejahtera setelah menghadiri sebuah Dinner Meeting yang diadakan pada hari Sabtu yang lalu dengan pembicara terkenal dari Amerika Serikat. Para undangan yang sudah membeli tiket untuk hadir dalam acara itu disodori lagi amplop kosong dengan formulir persembahan. Jumlah persembahannya sudah ditentukan pula, sekian juta rupiah.

Bagi orang kaya kenalan saya itu, jumlah sekian juta bukanlah jumlah besar, namun yang sangat mengecewakan adalah sikap panitia dan hamba Tuhan itu yang memaksa orang untuk memberi persembahan, sangat nyata sekali upaya untuk mengkomersialkan Berita Injil. Untuk dapat berkat, mereka harus membayar sekian juta. Praktek itu mirip penjualan surat keselamatan yang dilakukan oleh Gereja Roma purba yang diprotes Martin Luther.

Ketika sang kenalan berdoa kepada Tuhan, dia mendapatkan ayat ini:

"Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu." (Yeremia 6:13)

Karena sudah memasuki akhir zaman, banyak hamba Tuhan mengejar untung dengan melakukan tipu, menjual firman Tuhan dan janji-janji berkat Tuhan, asalkan jemaat bisa membayar sekian juta rupiah. Jika Tuhan Yesus ada di acara Dinner itu, mungkin Dia akan mengamuk lagi seperti Dia pernah lakukan di Bait Allah, dan berkata, "Kalian menjadikan gereja sebagai sarang penyamun!"

Hamba Tuhan yang rakus akan memaksa-maksa jemaat untuk memberi persembahan, tetapi hamba Tuhan yang sejati akan mengandalkan kemurahan Tuhan untuk menggerakkan jemaat memberi dengan sukarela dan sukacita. Hamba Tuhan yang rakus akan mencari uang, bukan mencari jiwa-jiwa.

Di pihak lain, ada gereja yang tidak pernah mengedarkan kantong kolekte selama ibadah berlangsung, tetapi gereja ini diberkati luar biasa. Gedung gerejanya megah, tata suaranya top banget, dan pada tanggal 5 Juli 2009 ini akan mengadakan acara syukuran ulang tahun gereja yang kesepuluh di Grand Ballroom Ritz Carlton, Pacific Place, dengan dua kali ibadah yaitu jam 10.00 pagi dan jam 13.30 WIB. Untuk datang ke acara ini, Anda harus memiliki undangan.

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. (Roma 16:17-18)

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, May 1, 2009

Miss California and Gay

Ketika Miss California Memilih Mengikuti Alkitab

Miss North Carolina Kristen Dalton sudah dinobatkan sebagai Miss USA 2009 dan akan mewakili AS dalam perhelatan ajang Miss Universe 2009. Namun, pertanyaan yang diajukan juri Perez Hilton terhadap Miss California Carrie Prejean menjadi berita utama.

Pada malam final 19 April 2009 lalu, juri Perez Hilton yang gay bertanya kepada Carrie, "Negara Bagian Vermont baru-baru ini melegalisasi perkawinan sesama jenis. Apakah Anda pikir setiap negara bagian harus mengikuti keputusan itu? Jika ya, mengapa, dan jika tidak mengapa?"

"Kita tinggal di negeri yang membolehkan Anda memilih perkawinan sejenis atau tidak," jawab Carrie dalam acara tersebut. "Tapi keyakinan saya adalah pernikahan haruslah antara lelaki dan perempuan," lanjut dia. "Saya tidak bermaksud menyerang siapapun, tapi saya dibesarkan dengan keyakinan itu."

Pernyataan itu menghasilkan tepuk tangan meriah sekaligus cercaan dari penonton (sebagian undangan acara ini adalah dari kalangan selebriti yang pro gay). Usai pertunjukan, Carrie Prejean mengatakan, "Saya tak mungkin berkata lain. Saya mengatakan apa yang saya rasakan. Saya memberikan pendapat yang menurut saya benar. Dan itulah yang saya lakukan."

Perez Hilton mengatakan bahwa dia sangat terkejut dengan jawaban Carrie yang menurutnya tidak mengindahkan jutaan warga gay dan lesbian Amerika, keluarga mereka dan pendukung mereka. "Dia kalah karena jawabannya itu. Sebelum pernyataan itu, dia adalah kandidat juara," kata Perez kepada ABC News. "Seharusnya dia tidak membawa-bawa politik dan agamanya karena Miss USA mewakili seluruh Amerika."

Keith Lewis, Co-Executive Director dari Miss California USA dan Miss California Teen USA dalam sebuah pernyataan tertulis mengkritik komentar Carrie Prejean. "Sebagai penyelenggara Miss California USA, secara pribadi saya sedih dan terkejut mendengar pendapat Miss California tersebut," katanya seperti dikutip BBC.

Isu pernikahan sesama jenis hingga kini masih menjadi kontroversi di kancah politik Amerika. Empat negara bagian Amerika saat ini sudah mengizinkan pernikahan sejenis. Namun banyak negara bagian lain mengeluarkan undang-undang yang menentang pernikahan sejenis.

Carrie Prejean (yang menjadi juara kedua) mengatakan dia tetap pada pendapatnya bahwa pernikahan sesama jenis adalah salah, walaupun pernyataannya itu menyebabkannya kehilangan mahkota Miss USA 2009. "Saya tidak akan menarik pernyataan saya," kata Carrie, sambil menambahkan, "Saya berbicara dari hati saya, keyakinan saya dan untuk Tuhan saya. Bagi saya, yang penting bukanlah bagaimana benar secara politis, tetapi bagaimana benar menurut Alkitab." Sumber: Email dari Bpk. Apelles Sinaulan

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, April 17, 2009

Extremist of Love

Ketika Dr. Martin Luther King Jr. berada di garis depan dalam perjuangan hak-hak sipil untuk menghapuskan diskriminasi ras di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, teman-temannya sesama pendeta menuduh Dr. King sebagai orang yang tidak bijaksana, terlalu pagi memperjuangkannya, dan yang lebih menyakitkan mereka menuduh Dr. King sebagai seorang ekstrimis.

Akhirnya Dr. King mengaku bahwa dia adalah seorang ekstrimis karena kasih (extremist of love), bukan extremist of hate (ekstrimis karena kebencian seperti yang terdapat di dalam diri para teroris). Dr. King terbakar oleh api cinta akan sesamanya. Hal itu sama seperti Tuhan Yesus terbakar oleh api cinta-Nya ketika Tuhan Yesus melihat Bait Allah dijadikan tempat jual beli yang memeras jemaat ketika mereka akan memberikan korban di Bait Suci. Pada waktu itu Tuhan Yesus mengamuk oleh karena "cinta-Ku akan rumah-Mu menghanguskan Aku". Mungkin jika ada pendeta yang melihat kemarahan Tuhan Yesus akan berkata, "Wah, itu tidak bijaksana, terlalu ekstrim, tidak taktis, dan tidak diplomatis." Mereka yang hatinya tidak pernah dihanguskan oleh api cinta kasih Tuhan memang tidak akan mengerti mengapa Tuhan Yesus mengusir para pedagang di Bait Allah itu dan menjungkir-balikkan meja-meja dagangan mereka.

Saat ini Tuhan sedang mencari orang-orang yang terbakar oleh api cinta Tuhan, orang-orang ekstrimis karena cinta akan Tuhan dan sesama. Coba deh rasakan ketika "cintaku akan rumah-Mu menghanguskan aku". Tidaklah enak ketika hati kita dihanguskan oleh cinta akan rumah Tuhan. Kita tidak akan tinggal diam melihat penderitaan orang lain, gelisah melihat ketidak-adilan, marah ketika gereja Tuhan dimanipulasi orang-orang tertentu untuk mencapai agenda pribadinya. Risikonya kita dibenci orang-orang yang terganggu oleh api cinta kita yang menyala-nyala akan Tuhan dan sesama. Meskipun demikian, kata Bunda Teresa, tetaplah berbuatlah baik dan cintailah Tuhan dan sesama segila-gilanya dan seekstrim-ekstrimnya.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI