Obat Duka
Ada sebuah dongeng kuno dari negeri Cina tentang seorang wanita yang anak tunggalnya meninggal. Dalam kesedihannya, ia pergi mengunjungi seorang pria bijak dan berkata, “Doa apa atau resep ajaib apa yang dapat Bapak berikan untuk membangkitkan anak saya yang telah mati?”
Ketimbang menyuruhnya pulang atau berdebat dengan wanita ini, sang pria bijak berkata kepadanya, “Ambilkan aku satu biji sesawi dari dalam rumah orang yang tidak pernah mengenal kesedihan.” Wanita itu segera pergi untuk mencari biji sesawi ajaib itu.
Mula-mula ia mendatangi sebuah rumah mewah, mengetuk pintunya, dan berkata, “Saya sedang mencari rumah yang tidak pernah mengenal kesedihan. Apakah di sini tempatnya? Hal ini sangat penting bagi saya.”
Mereka memberitahu perempuan itu, “Engkau mendatangi rumah yang keliru,” dan mereka mulai bercerita tentang segala hal tragis yang belakangan menimpa penghuni rumah tersebut.
Wanita itu mengatakan kepada dirinya sendiri, “Siapakah yang lebih sanggup menolong orang-orang malang dan kurang beruntung ini selain saya yang telah mengalami ketidak-beruntungan saya sendiri?” Akhirnya wanita itu tinggal bersama mereka untuk menghibur mereka, kemudian setelah itu pergi lagi untuk mencari sebuah rumah yang tidak pernah mengenal kesedihan. Namun kemanapun ia pergi, di rumah gubuk, rumah mewah, atau tempat lain, ia menemukan kisah sedih dan kekurang-beruntungan. Ia begitu terlibat dalam pelayanan kepada orang-orang yang sedang bersedih sehingga akhirnya ia melupakan pencariannya terhadap biji sesawi ajaib itu, tanpa menyadari bahwa hal itu telah mengusir kesedihan keluar dari kehidupannya.
"Terpujilah Bapa yang penuh belas kasihan dan Bapa sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Bapa. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga."
(Naskah asli dalam bahasa Inggeris ditulis oleh Brian Cavanaugh, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tak dihilangkan ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda ingin berkati - terima kasih)
*****
Cure for Sorrow
There is an old Chinese tale about a woman whose only son died. In her grief, she went to the holy man and said, "What prayers, what magical incantations do you have to bring my son back to life?"
Instead of sending her away or reasoning with her, he said to her, "Fetch me a mustard seed from a home that has never known sorrow. We will use it to drive the sorrow out of your life." The woman went off at once in search of that magical mustard seed.
She came first to a splendid mansion, knocked at the door, and said, "I am looking for a home that has never known sorrow. Is this such a place? It is very important to me."
They told her, "You've certainly come to the wrong place," and began to describe all the tragic things that recently had befallen them.
The woman said to herself, "Who is better able to help these poor, unfortunate people that I, who have had misfortune of my my own?" She stayed to comfort them, then went on in search of a home that had never known sorrow. But wherever she turned, in hovels and in other places, she found one tale after another of sadness and misfortune. She became so involved in ministering to other people's grief that ultimately she forgot about her quest for the magical mustard seed, never realizing that it had, in fact, driven the sorrow out of her life. (Brian Cavanaugh, T.O.R., The Sower's Seeds)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Note: Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Tjong di Lippo Cikarang, dan juga kepada Ibu Mila di Jakarta yang telah memesan lima eksemplar buku tersebut. Buku segera dikirim hari Rabu pagi (26/11/08). Kiranya Tuhan memberkati Bapak & Ibu sekalian!
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Showing posts with label Penghiburan - Comfort. Show all posts
Showing posts with label Penghiburan - Comfort. Show all posts
Wednesday, November 26, 2008
Monday, September 1, 2008
God, Where Were You? (3)
Dimanakah Engkau, Tuhan? (3)Saya menerangkan kepadanya bahwa pembagian kepribadiannya adalah apa yang telah menjaganya dari kegilaan, karena tidak mungkin bagi seorang anak perempuan untuk menyimpan gambar yang sama dari seorang ayah yang dicintainya secara naluriah dan binatang buas yang telah memperkosanya. Kepribadian yang terpecah itu telah membuatnya mematikan dan melindungi beberapa bagian dari kenangan mengenai tindakan kekerasan itu. Saya meyakinkannya bahwa Bapa Sorgawi sanggup dan akan menyembuhkannya.
Saya telah melihat hal yang sama sebelumnya dan mengetahui fakta bahwa Allah dapat menyembuhkan kondisi seperti itu. Isteri saya, Ruth, dan saya telah melayani konseling seorang mahasiswi di Moody Bible Institute yang datang kepada kami dengan masalah yang berat. Mahasiswi ini berada di ujung daya tahan emosionalnya. Ia telah mengikuti setiap bentuk konseling yang dapat dilakukan untuk mengatasi sebelas bagian dari kepribadiannya yang terpecah. Sementara ia berbicara, saya bertanya kepada Bapa apa yang seharusnya saya lakukan, dan saya dengan jelas merasakan bahwa Bapa berkata, “Yakinkan dia bahwa Aku akan menyembuhkannya. Kemudian, berdoalah dengan iman!” Ruth dan saya melakukan tepat seperti apa yang telah dikatakan Bapa, dan hari berikutnya perempuan muda ini telah mengalami transformasi kepribadian secara total.
Mahasiswi ini mengatakan kepada kami bahwa setiap malam ia mengalami sakit yang parah pada jiwanya, seolah-olah tulang-tulangnya yang tidak beraturan dipatahkan dan disusun kembali. Kemudian ia bangun dan merasa utuh untuk pertama kali dalam hidupnya. Kami memeriksa keadaannya tiga bulan kemudian, dan keadaannya bahkan menjadi lebih baik lagi. Kami mengetahui bahwa Bapa Sorgawi dapat menyembuhkan kondisi kejiwaan yang mengerikan ini.
Perempuan di konferesi ini kemudian bertanya tentang rasa marah yang tak terkendali. Ia bercerita bagaimana ia merasa menyesal bahwa ayahnya telah meninggal terlebih dahulu sebelum ia dapat membunuhnya. Kemarahannya begitu dalam sehingga ia meyakinkan saya bahwa jika ayahnya berada di ruangan ini, ia akan membunuhnya tanpa penyesalan. “Bagaimana dengan kemarahan saya?” tangisnya.
“Saudariku,” saya berkata, “kemarahan itu adalah sesuatu yang telah membuat anda tidak jatuh dalam keputus-asaan karena ia memberikan suatu harapan – yang memang tidak sempurna dan jahat, tetapi meskipun demikan itu adalah tetap harapan. Namun, hal itu telah gagal menolong anda. Ini seperti memberikan senjata untuk ditembakkan pada seekor badak yang mengamuk. Anda memerlukan sebuah senjata yang lebih besar. Saya ingin memberikan anda sebuah bazooka yang terisi penuh untuk ditembakkan dalam jarak dekat.”
Akhirnya saya mendapatkan perhatiannya. Ia bertanya, “Apakah itu?”
Saya menjelaskan kepadanya bahwa ia telah menerima kemuliaan Bapa dengan sia-sia, sesuatu yang telah disediakan Bapa, anugerah pengampunan, tidak diterimanya karena ia menunggu agar ayahnya memohon ampun kepadanya. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mencurahkan darah-Nya bagi dosa manusia, dan setiap orang diampuni. Tetapi berapa banyak orang yang menerima pengampunan-Nya? Pengampunan selalu menjadi pilihan bagi pihak yang hatinya dilukai. Setan mengetahui hal ini dan ia bekerja keras untuk meyakinkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan sampai orang yang berdosa kepada kita itu bertobat dan meminta ampun kepada kita. Apabila orang Kristen mempercayai kebohongan ini, maka ia menerima anugerah dengan sia-sia. Menerima anugerah sih iya, tetapi hatinya tetap dibelenggu dengan sakit hati, dendam, amarah, dan kepahitan. Itu anugerah yang sia-sia!
Apa yang saya bagikan kepada perempuan itu tentang anugerah pengampunan mengubah hidup wanita ini. Dalam waktu kurang dari 30 menit, penderitaan selama setengah abad berubah menjadi piala yang berkilau karena anugerah Bapa Sorgawi. Puji Tuhan!
Sumber: Ed Silvoso, “Wanita – Senjata Rahasia Tuhan”, Metanoia, 2005.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya telah melihat hal yang sama sebelumnya dan mengetahui fakta bahwa Allah dapat menyembuhkan kondisi seperti itu. Isteri saya, Ruth, dan saya telah melayani konseling seorang mahasiswi di Moody Bible Institute yang datang kepada kami dengan masalah yang berat. Mahasiswi ini berada di ujung daya tahan emosionalnya. Ia telah mengikuti setiap bentuk konseling yang dapat dilakukan untuk mengatasi sebelas bagian dari kepribadiannya yang terpecah. Sementara ia berbicara, saya bertanya kepada Bapa apa yang seharusnya saya lakukan, dan saya dengan jelas merasakan bahwa Bapa berkata, “Yakinkan dia bahwa Aku akan menyembuhkannya. Kemudian, berdoalah dengan iman!” Ruth dan saya melakukan tepat seperti apa yang telah dikatakan Bapa, dan hari berikutnya perempuan muda ini telah mengalami transformasi kepribadian secara total.
Mahasiswi ini mengatakan kepada kami bahwa setiap malam ia mengalami sakit yang parah pada jiwanya, seolah-olah tulang-tulangnya yang tidak beraturan dipatahkan dan disusun kembali. Kemudian ia bangun dan merasa utuh untuk pertama kali dalam hidupnya. Kami memeriksa keadaannya tiga bulan kemudian, dan keadaannya bahkan menjadi lebih baik lagi. Kami mengetahui bahwa Bapa Sorgawi dapat menyembuhkan kondisi kejiwaan yang mengerikan ini.
Perempuan di konferesi ini kemudian bertanya tentang rasa marah yang tak terkendali. Ia bercerita bagaimana ia merasa menyesal bahwa ayahnya telah meninggal terlebih dahulu sebelum ia dapat membunuhnya. Kemarahannya begitu dalam sehingga ia meyakinkan saya bahwa jika ayahnya berada di ruangan ini, ia akan membunuhnya tanpa penyesalan. “Bagaimana dengan kemarahan saya?” tangisnya.
“Saudariku,” saya berkata, “kemarahan itu adalah sesuatu yang telah membuat anda tidak jatuh dalam keputus-asaan karena ia memberikan suatu harapan – yang memang tidak sempurna dan jahat, tetapi meskipun demikan itu adalah tetap harapan. Namun, hal itu telah gagal menolong anda. Ini seperti memberikan senjata untuk ditembakkan pada seekor badak yang mengamuk. Anda memerlukan sebuah senjata yang lebih besar. Saya ingin memberikan anda sebuah bazooka yang terisi penuh untuk ditembakkan dalam jarak dekat.”
Akhirnya saya mendapatkan perhatiannya. Ia bertanya, “Apakah itu?”
Saya menjelaskan kepadanya bahwa ia telah menerima kemuliaan Bapa dengan sia-sia, sesuatu yang telah disediakan Bapa, anugerah pengampunan, tidak diterimanya karena ia menunggu agar ayahnya memohon ampun kepadanya. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mencurahkan darah-Nya bagi dosa manusia, dan setiap orang diampuni. Tetapi berapa banyak orang yang menerima pengampunan-Nya? Pengampunan selalu menjadi pilihan bagi pihak yang hatinya dilukai. Setan mengetahui hal ini dan ia bekerja keras untuk meyakinkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan sampai orang yang berdosa kepada kita itu bertobat dan meminta ampun kepada kita. Apabila orang Kristen mempercayai kebohongan ini, maka ia menerima anugerah dengan sia-sia. Menerima anugerah sih iya, tetapi hatinya tetap dibelenggu dengan sakit hati, dendam, amarah, dan kepahitan. Itu anugerah yang sia-sia!
Apa yang saya bagikan kepada perempuan itu tentang anugerah pengampunan mengubah hidup wanita ini. Dalam waktu kurang dari 30 menit, penderitaan selama setengah abad berubah menjadi piala yang berkilau karena anugerah Bapa Sorgawi. Puji Tuhan!
Sumber: Ed Silvoso, “Wanita – Senjata Rahasia Tuhan”, Metanoia, 2005.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 27, 2008
God, Where Were You? (2)
Dimanakah Engkau, Tuhan? (2)
Saya merasa bahwa perempuan ini telah menyampaikan pertanyaan itu sebelumnya dan bahwa ia telah berkali-kali merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sekarang ia duduk menunggu, mengharapkan saya untuk menyampaikan sesuatu yang menjelaskan kasusnya dan menolong untuk memulihkan kehidupannya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa pertanyaan “Mengapa?” adalah pertanyaan favorit dari setan. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya kecuali Bapa Sorgawi. Oleh karena itu saya menyarankan pertanyaan lain: “Untuk apa?”
Dengan bertanya “Untuk apa?”, ia akan mencari kehendak Bapa agar dipenuhi dalam kehidupannya di masa mendatang, bukan bertanya apa kesalahannya sehingga ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Seorang perempuan yang menderita sakit gigi yang hebat pada jam 2 dini hari tidaklah sama dengan seorang perempuan yang akan melahirkan pada dini hari yang sama. Meskipun perempuan yang akan melahirkan itu mengalami rasa sakit yang hebat, namun ia menantikan rasa sakit itu bertambah hebat agar ia segera melahirkan bayinya.
Perempuan pada konferensi itu yang berbicara dengan saya bertanya, "Bagaimana mungkin ada berkat dalam penderitaan semacam itu?" Saya menjelaskan kepadanya bahwa 4 dari 10 perempuan menderita beberapa bentuk kekerasan seksual atau penganiayaan di dalam rumah tangga. Jika ia ingin mencari solusi, maka ia dapat membantu mereka. Ketika para korban lain ditolongnya, mereka akan melihat dua hal: bahwa ia mengetahui dan sudah mengalami apa yang mereka alami sehingga ia dapat diterima, dan bahwa ia telah mendapatkan jalan keluar sehingga dapat memberi harapan kepada para korban lain.
“Di mana Allah berada ketika saya dianiaya?” desaknya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak tahu jawabannya, tetapi karena itu adalah pertanyaan yang wajar, maka kita harus mencoba menemukannya. Kemudian saya membimbingnya untuk mengunjungi kenangannya yang paling awal.
Kami mengunjungi kembali saat dimana ibunya tidak mempercayai ceritanya dan ia berlari ke arah sungai yang deras. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak menerjunkan diri ke sungai?”
“Tidak tahu!”
Saya mendesaknya untuk berpikir.
“Saya tidak bisa!”
Saya terus mendesak dan ia menangis.
“Saya tidak ingin melakukannya!”
Dengan lembut tetapi tegas, saya terus mendorongnya untuk melanjutkan. Ketika ia mencobanya, wajahnya mulai mengejang, tubuhnya bergetar hebat dan air matanya membanjir keluar. Saya dapat melihat bahwa ia mencoba untuk menerobos tembok emosinya yang tertindas bersama dengan rasa sakit dan kepahitan. Ini berlangsung selama beberapa waktu. Kemudian ketika saya mulai memperhatikan apa yang mungkin tidak dapat ia tahan lagi, ia mulai tersenyum dengan cerah.
Ia membuka matanya yang penuh cahaya kegembiraan saat ia mengatakan, “Saya melihat Dia! Saya melihat Dia!”
Saya menanyakan siapa yang ia lihat. Ia berkata, “Tuhan Yesus! Ia berada di sana, di pinggir sungai. Ia memeluk saya dan menghibur saya. Itulah sebabnya saya tidak jadi melompat ke dalam sungai!”
Kami maju ke memori berikutnya menuju saat dimana ia hendak mengiris nadinya. Pengalaman yang sama terjadi lagi. Rasa sakit pada awalnya dan akhirnya digantikan dengan sukacita yang besar. “Saya melihat-Nya! Saya melihat-Nya. Seorang malaikat datang dan melingkupi saya dengan sayapnya.”
Saya mengatakan kepadanya, “Karena Allah telah begitu dekat dengan anda, ada sebuah alasan untuk mempercayai bahwa hasil akhirnya akan menjadi positif.”
“Apakah anda yakin?” tanyanya, “Bagaimana dengan kepribadian ganda saya? Anda tidak mengetahui betapa mengerikannya hidup saya. Saya tidak pernah merasa menjadi manusia seutuhnya, dan saya tidak mengetahui kapan kepribadian saya yang jahat akan mengambil alih diri saya.” (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya merasa bahwa perempuan ini telah menyampaikan pertanyaan itu sebelumnya dan bahwa ia telah berkali-kali merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sekarang ia duduk menunggu, mengharapkan saya untuk menyampaikan sesuatu yang menjelaskan kasusnya dan menolong untuk memulihkan kehidupannya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa pertanyaan “Mengapa?” adalah pertanyaan favorit dari setan. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya kecuali Bapa Sorgawi. Oleh karena itu saya menyarankan pertanyaan lain: “Untuk apa?”
Dengan bertanya “Untuk apa?”, ia akan mencari kehendak Bapa agar dipenuhi dalam kehidupannya di masa mendatang, bukan bertanya apa kesalahannya sehingga ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Seorang perempuan yang menderita sakit gigi yang hebat pada jam 2 dini hari tidaklah sama dengan seorang perempuan yang akan melahirkan pada dini hari yang sama. Meskipun perempuan yang akan melahirkan itu mengalami rasa sakit yang hebat, namun ia menantikan rasa sakit itu bertambah hebat agar ia segera melahirkan bayinya.
Perempuan pada konferensi itu yang berbicara dengan saya bertanya, "Bagaimana mungkin ada berkat dalam penderitaan semacam itu?" Saya menjelaskan kepadanya bahwa 4 dari 10 perempuan menderita beberapa bentuk kekerasan seksual atau penganiayaan di dalam rumah tangga. Jika ia ingin mencari solusi, maka ia dapat membantu mereka. Ketika para korban lain ditolongnya, mereka akan melihat dua hal: bahwa ia mengetahui dan sudah mengalami apa yang mereka alami sehingga ia dapat diterima, dan bahwa ia telah mendapatkan jalan keluar sehingga dapat memberi harapan kepada para korban lain.
“Di mana Allah berada ketika saya dianiaya?” desaknya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak tahu jawabannya, tetapi karena itu adalah pertanyaan yang wajar, maka kita harus mencoba menemukannya. Kemudian saya membimbingnya untuk mengunjungi kenangannya yang paling awal.
Kami mengunjungi kembali saat dimana ibunya tidak mempercayai ceritanya dan ia berlari ke arah sungai yang deras. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak menerjunkan diri ke sungai?”
“Tidak tahu!”
Saya mendesaknya untuk berpikir.
“Saya tidak bisa!”
Saya terus mendesak dan ia menangis.
“Saya tidak ingin melakukannya!”
Dengan lembut tetapi tegas, saya terus mendorongnya untuk melanjutkan. Ketika ia mencobanya, wajahnya mulai mengejang, tubuhnya bergetar hebat dan air matanya membanjir keluar. Saya dapat melihat bahwa ia mencoba untuk menerobos tembok emosinya yang tertindas bersama dengan rasa sakit dan kepahitan. Ini berlangsung selama beberapa waktu. Kemudian ketika saya mulai memperhatikan apa yang mungkin tidak dapat ia tahan lagi, ia mulai tersenyum dengan cerah.
Ia membuka matanya yang penuh cahaya kegembiraan saat ia mengatakan, “Saya melihat Dia! Saya melihat Dia!”
Saya menanyakan siapa yang ia lihat. Ia berkata, “Tuhan Yesus! Ia berada di sana, di pinggir sungai. Ia memeluk saya dan menghibur saya. Itulah sebabnya saya tidak jadi melompat ke dalam sungai!”
Kami maju ke memori berikutnya menuju saat dimana ia hendak mengiris nadinya. Pengalaman yang sama terjadi lagi. Rasa sakit pada awalnya dan akhirnya digantikan dengan sukacita yang besar. “Saya melihat-Nya! Saya melihat-Nya. Seorang malaikat datang dan melingkupi saya dengan sayapnya.”
Saya mengatakan kepadanya, “Karena Allah telah begitu dekat dengan anda, ada sebuah alasan untuk mempercayai bahwa hasil akhirnya akan menjadi positif.”
“Apakah anda yakin?” tanyanya, “Bagaimana dengan kepribadian ganda saya? Anda tidak mengetahui betapa mengerikannya hidup saya. Saya tidak pernah merasa menjadi manusia seutuhnya, dan saya tidak mengetahui kapan kepribadian saya yang jahat akan mengambil alih diri saya.” (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 26, 2008
God, Where Were You? (1)
Dimana Engkau, Tuhan? (1)
Malam itu adalah malam yang pertama dari konferensi tiga hari dimana saya menjadi pembicara utama. Saya sudah mempersiapkan diri dengan berdoa. Ketika pendeta tuan rumah memperkenalkan diri saya, saya telah siap untuk melayani pemberitaan firman Tuhan. Ketika saya berjalan mendekati mimbar, Bapa Sorgawi mempercayakan kepada saya dengan cara paling tidak biasa tentang fakta yang sangat rahasia tentang seseorang dalam konferensi ini.
Mata saya tertuju kepada seorang perempuan yang duduk di deretan depan, seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Usianya sekitar lima puluhan tahun, tubuhnya mungil dan berambut pendek warna cokelat. Yang menjadi perhatian saya bukanlah penampilannya, melainkan informasi yang saya dapatkan dari Bapa Sorgawi dalam hati saya mengenai dirinya. Tuhan mengungkapkan kepada saya bahwa perempuan itu adalah korban inses, dan yang lebih buruk lagi, ayahnyalah yang memperkosa dia. Bapa Sorgawi juga menunjukkan kepada saya bahwa ia memiliki kepribadian yang terbagi-bagi, da ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang di dekatnya, bukan hanya sekali, melainkan dua kali.
Informasi seperti itu bukanlah untuk disebarluaskan kepada seluruh jemaat dalam konferensi itu. Oleh karena itu saya bertanya kepada Bapa, apa yang harus saya lakukan, dan saya merasakan bahwa Ia meminta saya untuk menunggu. Dua hari berikutnya saya tetap berkhotbah seperti yang dijadwalkan. Pada hari yang terakhir, sementara pendeta tuan rumah dan saya sedang makan siang di ruang belajarnya, ia berkata, “Pak Ed, bisakan anda membantu kami dalam sebuah kasus yang paling sulit?”
Tanpa menunggu lagi saya menjawab, “Apakah ini tentang seorang perempuan yang berusia lima puluh tahunan, mungkil, dan berambut cokelat pendek?” Ia mengangguk dan saya melanjutkan, “Bukankah ia telah menjadi korban inses, dan yang menjadi pelakunya adalah ayahnya sendiri?” Mulut pendeta itu ternganga dengan heran ketika saya menyimpulkan, “Apakah ia memiliki kepribadian terbagi-bagi, dan bukankah ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang sebanyak dua kali?”
Dengan heran pendeta tuan rumah itu bertanya, “Bagaimana anda tahu? Siapa yang telah mengatakannya kepada anda?”
Saya menjawab, “Bapa Sorgawi!” Pendeta itu bangkit dari kursinya dan pergi mencari perempuan itu. Ketika ia memasuki ruangan bersama dengan pendeta itu, ia menceritakan kisah yang paling memilukan yang pernah saya dengar.
Ayahnya telah memperkosanya sejak ia mulai belajar berjalan. Tidak ada satu minggu berlalu tanpa perkosaan terhadap putrinya sendiri. Perempuan itu menceritakan kepada saya bagaimana ia mengumpulkan semua keberaniannya ketika ia berusia tujuh tahun untuk menceritakan kebiadaban ayahnya kepada ibunya. Bukannya membela dan melindunginya, ibunya malah menuduhnya mengarang cerita itu. Ibunya dengan kejam memukulinya dan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi dengan melarangnya untuk mengunjungi neneknya. Hal ini bahkan lebih terasa menyiksa daripada pemukulan fisik, karena mengunjunjungi neneknya merupakan satu-satunya cara untuk beristirahat dari pelecehan seksual ayahnya. Hari itu ia memutuskan untuk bunuh diri dan berlari menuju sungai yang alirannya deras untuk melompat ke dalamnya. Untunglah ia dapat diselamatkan pada saat-saat terakhir, tetapi pelecehan seksual itu terus berlanjut.
Ketika berada di sekolah menengah, perempuan ini mencoba untuk mengiris urat nadi di pergelangan tangannya, tetapi dapat diselamatkan. Ketika ia berusia remaja, setelah ayahnya memperkosa dia, perempuan ini menendang ayahnya dan meninggalkan kamar dengan rasa marah. Ia bersumpah, bahwa segera sesudah ia memiliki cukup uang untuk membeli sebuah senjata api, ia akan membunuh ayahnya. Meskipun ia gagal menggenapi sumpahnya, hidup di bawah penyiksaan seperti ini membuat hidupnya sangat menderita.
Saya dapat merasakan kepedihan hatinya. Gelombang rasa sakit mengalir dari dalam dirinya dan memenuhi ruangan dimana kami mendengarkan kisahnya bersama pendeta tuan rumah. Ia melanjutkan dan berkata bahwa sebeluam ia menjadi orang Kristen, ia memiliki lima kepribadian. Ketika ia mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dua dari lima kepribadian itu pergi, tetapi satu dari tiga yang tertinggal sangatlah berbahaya, membuatnya kehilangan kontrol. Dua kali sudah ia hampir membunuh keluarga dekatnya. Pertama kali ia mencoba menabrak suaminya dengan mobil. Yang kedua, ketika ia sedang memasak, ia hampir saja membunuh salah seorang anaknya dengan pisau dapur karena anak itu merengek terus.
Ia memandang saya dengan pandangan yang terluka dan bertanya, “Mengapa? Mengapa hal ini terjadi pada saya?” Tatapan matanya menggambarkan sebuah sumur yang gelap dan penuh penderitaan. Ia telah jatuh sampai ke dasarnya, dan sekarang ia remuk dan tak berdaya di atas lumpur penderitaan. Kekerasan seksual seperti yang dialami oleh perempuan ini terjadi dalam konteks kekerasan yang sangat kejam. Tak dapat diragukan lagi bahwa iblis membawa kekerasan seperti itu dan itu dapat terjadi kapanpun dan dialami oleh siapapun. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Malam itu adalah malam yang pertama dari konferensi tiga hari dimana saya menjadi pembicara utama. Saya sudah mempersiapkan diri dengan berdoa. Ketika pendeta tuan rumah memperkenalkan diri saya, saya telah siap untuk melayani pemberitaan firman Tuhan. Ketika saya berjalan mendekati mimbar, Bapa Sorgawi mempercayakan kepada saya dengan cara paling tidak biasa tentang fakta yang sangat rahasia tentang seseorang dalam konferensi ini.
Mata saya tertuju kepada seorang perempuan yang duduk di deretan depan, seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Usianya sekitar lima puluhan tahun, tubuhnya mungil dan berambut pendek warna cokelat. Yang menjadi perhatian saya bukanlah penampilannya, melainkan informasi yang saya dapatkan dari Bapa Sorgawi dalam hati saya mengenai dirinya. Tuhan mengungkapkan kepada saya bahwa perempuan itu adalah korban inses, dan yang lebih buruk lagi, ayahnyalah yang memperkosa dia. Bapa Sorgawi juga menunjukkan kepada saya bahwa ia memiliki kepribadian yang terbagi-bagi, da ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang di dekatnya, bukan hanya sekali, melainkan dua kali.
Informasi seperti itu bukanlah untuk disebarluaskan kepada seluruh jemaat dalam konferensi itu. Oleh karena itu saya bertanya kepada Bapa, apa yang harus saya lakukan, dan saya merasakan bahwa Ia meminta saya untuk menunggu. Dua hari berikutnya saya tetap berkhotbah seperti yang dijadwalkan. Pada hari yang terakhir, sementara pendeta tuan rumah dan saya sedang makan siang di ruang belajarnya, ia berkata, “Pak Ed, bisakan anda membantu kami dalam sebuah kasus yang paling sulit?”
Tanpa menunggu lagi saya menjawab, “Apakah ini tentang seorang perempuan yang berusia lima puluh tahunan, mungkil, dan berambut cokelat pendek?” Ia mengangguk dan saya melanjutkan, “Bukankah ia telah menjadi korban inses, dan yang menjadi pelakunya adalah ayahnya sendiri?” Mulut pendeta itu ternganga dengan heran ketika saya menyimpulkan, “Apakah ia memiliki kepribadian terbagi-bagi, dan bukankah ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang sebanyak dua kali?”
Dengan heran pendeta tuan rumah itu bertanya, “Bagaimana anda tahu? Siapa yang telah mengatakannya kepada anda?”
Saya menjawab, “Bapa Sorgawi!” Pendeta itu bangkit dari kursinya dan pergi mencari perempuan itu. Ketika ia memasuki ruangan bersama dengan pendeta itu, ia menceritakan kisah yang paling memilukan yang pernah saya dengar.
Ayahnya telah memperkosanya sejak ia mulai belajar berjalan. Tidak ada satu minggu berlalu tanpa perkosaan terhadap putrinya sendiri. Perempuan itu menceritakan kepada saya bagaimana ia mengumpulkan semua keberaniannya ketika ia berusia tujuh tahun untuk menceritakan kebiadaban ayahnya kepada ibunya. Bukannya membela dan melindunginya, ibunya malah menuduhnya mengarang cerita itu. Ibunya dengan kejam memukulinya dan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi dengan melarangnya untuk mengunjungi neneknya. Hal ini bahkan lebih terasa menyiksa daripada pemukulan fisik, karena mengunjunjungi neneknya merupakan satu-satunya cara untuk beristirahat dari pelecehan seksual ayahnya. Hari itu ia memutuskan untuk bunuh diri dan berlari menuju sungai yang alirannya deras untuk melompat ke dalamnya. Untunglah ia dapat diselamatkan pada saat-saat terakhir, tetapi pelecehan seksual itu terus berlanjut.
Ketika berada di sekolah menengah, perempuan ini mencoba untuk mengiris urat nadi di pergelangan tangannya, tetapi dapat diselamatkan. Ketika ia berusia remaja, setelah ayahnya memperkosa dia, perempuan ini menendang ayahnya dan meninggalkan kamar dengan rasa marah. Ia bersumpah, bahwa segera sesudah ia memiliki cukup uang untuk membeli sebuah senjata api, ia akan membunuh ayahnya. Meskipun ia gagal menggenapi sumpahnya, hidup di bawah penyiksaan seperti ini membuat hidupnya sangat menderita.
Saya dapat merasakan kepedihan hatinya. Gelombang rasa sakit mengalir dari dalam dirinya dan memenuhi ruangan dimana kami mendengarkan kisahnya bersama pendeta tuan rumah. Ia melanjutkan dan berkata bahwa sebeluam ia menjadi orang Kristen, ia memiliki lima kepribadian. Ketika ia mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dua dari lima kepribadian itu pergi, tetapi satu dari tiga yang tertinggal sangatlah berbahaya, membuatnya kehilangan kontrol. Dua kali sudah ia hampir membunuh keluarga dekatnya. Pertama kali ia mencoba menabrak suaminya dengan mobil. Yang kedua, ketika ia sedang memasak, ia hampir saja membunuh salah seorang anaknya dengan pisau dapur karena anak itu merengek terus.
Ia memandang saya dengan pandangan yang terluka dan bertanya, “Mengapa? Mengapa hal ini terjadi pada saya?” Tatapan matanya menggambarkan sebuah sumur yang gelap dan penuh penderitaan. Ia telah jatuh sampai ke dasarnya, dan sekarang ia remuk dan tak berdaya di atas lumpur penderitaan. Kekerasan seksual seperti yang dialami oleh perempuan ini terjadi dalam konteks kekerasan yang sangat kejam. Tak dapat diragukan lagi bahwa iblis membawa kekerasan seperti itu dan itu dapat terjadi kapanpun dan dialami oleh siapapun. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 27, 2008
It's more Wonderful to Be with the Lord (2)
Bersama Tuhan Lebih Enak (2)
Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa.
Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."
Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami.
Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa: "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama: "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."
Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: "Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela." Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.
Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata!
Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, "Waktu-Ku tidak lama." Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.
Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya.
Setelah itu aku berkata, "Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!" Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang.
Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.
Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak.
Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.
Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga edisi 20/2008.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa.
Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."
Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami.
Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa: "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama: "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."
Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: "Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela." Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.
Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata!
Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, "Waktu-Ku tidak lama." Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.
Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya.
Setelah itu aku berkata, "Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!" Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang.
Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.
Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak.
Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.
Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga edisi 20/2008.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, May 22, 2008
It's more Wonderful to Be with the Lord (1)
Bersama Tuhan Lebih Enak (1)
Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.
Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.
Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.
Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.
Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.
Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.
Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa.
Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.
Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.
Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.
Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.
Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.
Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.
Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.
Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa.
Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.
Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, March 28, 2008
Your Heavenly Father Knows
Beberapa Hal Yang Dapat Mendorongmu Untuk Tetap Bertahan !
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia... Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih... Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja... Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon. Tuhan selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia... Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih... Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja... Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon. Tuhan selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur..
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI