Search This Blog

Showing posts with label Intim dengan Tuhan - Relationship with God. Show all posts
Showing posts with label Intim dengan Tuhan - Relationship with God. Show all posts

Wednesday, November 11, 2009

Picking Fruit

Saya hidup di padang golf. Golf telah menjadi sebagian hidup saya sejak saya berusia sebelas tahun. Permainan itu telah mengajar saya banyak pelajaran kehidupan. Saya masuk kuliah dengan beasiswa dari permainan golf dan kemudian saya menjadi pemain golf profesional tiga tahun kemudian.

Saya sering berjalan-jalan di padang golf pada sore hari untuk latihan dan menggunakan waktu ini untuk berdoa juga. Tempat itu tenang sekali dan indah untuk jalan-jalan. Ketika berjalan di sana, saya biasanya menemukan satu atau dua bola golf di sepanjang jalan. Tetapi pada suatu kali ada yang berbeda.

Pada kesempatan jalan-jalan yang satu ini saya mulai menemukan bola golf di manapun saya memandang. Ketika saya sudah mengumpulkan lima bola, saya mulai memperhatikan betapa anehnya hal ini. Kemudian saya mengumpulkan delapan, kemudian sepuluh dan akhirnya saku celana saya dipenuhi tiga belas bola.

Ketika sesuatu yang aneh terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, itulah waktu yang tepat untuk beralih ke antena rohani. Seringkali Tuhan berbicara sesuatu. Saya bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apakah yang Engkau ingin katakan melalui hal ini?" Jawaban dari Tuhan datang segera, "Aku telah memanggil engkau di jalan tertentu. Aku akan mendatangkan buahnya bagimu. Yang engkau harus lakukan hanyalah petik dan kumpulkan buah-buah itu dan setialah di jalan-Ku yang kusediakan bagimu. Itulah yang dimaksud dengan tinggal di dalam-Ku." Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com


Personal Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu M. Lingga di Riau. Buku akan segera dikirim besok pagi dengan pos kilat khusus. Buku "Sorga Terbuka" akan dikirim via email karena materinya dalam bentuk file komputer. Mohon alamat emailnya.
Terima kasih dan Tuhan memberkati.

*******

I live on a golf course. Golf has been a part of my life since I was eleven years old. It has taught me many life lessons. I went to college on a golf scholarship and later turned professional for three years.

I often walk at sundown for exercise and use this time to pray. It is a quiet and beautiful place to walk. When I walk, I usually find one or two golf balls along the way. But one time was different.

On this particular walk, I began to find golf balls everywhere I looked. When I had collected 5, I began to notice how strange this was. Then, it became 8, then 10 and finally my pockets were literally stuffed with 13 golf balls!

When something unusual happens in our daily life experience it is a time to tune in to your spiritual antennae. God is often at work. So, I prayed, "Lord, what are you saying through this?" The answer came quickly: "I have called you to walk a specific path. I will bring the fruit to you. All you will have to do is pick it up and stay on my path for you. That is what it means to abide in Me." Written by Os Hillman.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 10, 2009

Waiting on God

Waiting on God
"Yet the Lord longs to be gracious to you; He rises to show you compassion. For the Lord is a God of justice. Blessed are all who wait for Him!" Isaiah 30:18

Have you ever noticed that God is not in a hurry? It took 40 years for Moses to receive his commission to lead the people out of Egypt. It took 17 years of preparation before Joseph was delivered from slavery and imprisonment. It took 20 years before Jacob was released from Laban's control. Abraham and Sarah were in their old age when they finally received the son of promise, Isaac. So why isn't God in a hurry?

God called each of these servants to accomplish a certain task in His Kingdom, yet He was in no hurry to bring their mission into fulfillment. First, He accomplished what He wanted in them. We are often more focused on outcome than the process that He is accomplishing in our lives each day. When we experience His presence daily, one day we wake up and realize that God has done something special in and through our lives. However, the accomplishment is no longer what excites us. Instead, what excites us is knowing Him. Through those times, we become more acquainted with His love, grace, and power in our lives. When this happens, we are no longer focused on the outcome because the outcome is a result of our walk with Him. It is not the goal of our walk, but the by-product. Hence, when Joseph came to power in Egypt, he probably couldn't have cared less. He had come to a place of complete surrender so that he was not anxious about tomorrow or his circumstances.

This is the lesson for us. We must wait for God's timing and embrace wherever we are in the process. When we find contentment in that place, we begin to experience God in ways we never thought possible. TGIF Today God Is First Volume 1 by Os Hillman

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 2, 2009

Touching His Heart

Tadi malam sekitar jam 10 saya mendatangi apotik 24 jam untuk membeli salep anti nyeri "Feldene". Ketika berada di depan kasir, terdengar tangisan seorang perempuan, cukup keras suaranya. Pembeli lain bertanya, "Ada apa?" Seorang pelayan apotik berkata, "Teman saya kehilangan motor yang tadi diparkir di depan apotik." Pembeli lain itu berkata, "Ketika kita kehilangan motor, lapor polisi tidak ada gunanya. Laporan cuma diterima tanpa ditindak-lanjuti. Mendingan doa saja minta ganti motor yang baru."

Ya, tangisan tidak akan mengembalikan motor yang hilang. Tangisan tidak akan membuat pencuri motor itu iba dan mengembalikan motornya. Tangisan juga tidak membuat iba Tuhan. Namun tangisan dan doa akan menyentuh hati Tuhan.

Minggu pagi saya juga mendengar tentang orang-orang yang menyentuh hati Tuhan, luar biasa akibatnya. Yairus, seorang kepala rumah ibadat, menyentuh hati Tuhan ketika ia menanggalkan rasa jaim-nya dan menyembah Tuhan. Alkitab mencatat: Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." (Markus 5:22-23). Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat yang terpandang. Namun ia merendahkan diri di depan kaki Tuhan. Banyak orang berbondong-bondong mengikuti Tuhan Yesus pada waktu Ia ada di bumi, namun hanya beberapa orang seperti Yairus yang berhasil memikat hati Tuhan.

Ada lagi seorang wanita tanpa nama yang memikat hati Tuhan. Wanita ini sudah dua belas tahun mengalami pendarahan. Wanita yang menderita pendarahan pada zaman itu biasanya dipisahkan, tidak boleh membuat orang lain najis. Wanita ini sudah habis-habisan: habis uang dan habis badannya digerogoti pendarahan. Namun ia tidak kehabisan pengharapan. "Kalau dapat kujamah saja jubah-Nya, maka aku pasti sembuh." Meskipun Tuhan Yesus dikerubuti begitu banyak orang, wanita ini tanpa peduli hinaan dan cemoohon (karena wanita najis tak boleh berdekatan dengan orang-orang lain), dengan susah payah ia berusaha mendekati Tuhan Yesus. Meskipun ia harus merangkak dan merayap di bawah kaki orang banyak, tekadnya satu: menjamah jubah-Nya, maka aku akan sembuh. Iman dan upaya wanita pendarahan ini bekerja dengan baik dan mengeluarkan kuasa dari tubuh Tuhan Yesus, sehingga wanita ini disembuhkan.

Membuat Tuhan terpikat dan tersentuh oleh sikap kita, itu akan memicu terjadinya mukjizat. Coba deh!

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 4, 2009

The Gentle Whisper

Anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu kemana ia harus berpaling meminta pertolongan. Oleh karena itu ia menemui seorang pendeta tua. Setelah memasuki ruang kerja pendeta itu, sang anak muda langsung memberondongkan masalahnya. Akhirnya dia mengepalkan tangannya dan berteriak, “Aku telah memohon kepada Tuhan agar Ia mengatakan sesuatu untuk menolongku. Katakan kepadaku, Pendeta, kenapa Tuhan tidak menjawab?”

Pendeta tua itu, yang duduk di bagian lain di ruangan itu, mengatakan sesuatu sebagai jawabannya, sesuatu yang lembut dan tenang sehingga tak terdengar jelas. Anak muda itu maju mendekatinya. “Apa yang Bapak katakan?” tanyanya.

Pendeta itu mengulanginya lagi, namun kembali dengan nada yang lembut seperti bisikan. Oleh karena itu sang anak muda makin mendekat sampai dia menempel di kursi pendeta.

“Sorry,” katanya. “Aku masih tidak dapat mendengar Bapak.”

Dengan kepala mereka bersentuhan, pendeta tua itu berkata sekali lagi, “Tuhan kadang-kadang berbisik,” katanya, “sehingga kita akan bergerak mendekati untuk mendengarkan Dia.”

Kali ini sang anak muda mendengar dan mengerti.

Seringkali kita ingin suara Tuhan terdengar bagai halilintar di udara dengan jawaban atas semua masalah kita. Namun Tuhan datang dengan suara lembut dan bisikan (the still small voice, seperti yang dialami Elia ketika di gunung Horeb). Bisikan Tuhan berarti kita harus berhenti memberondongnya dengan masalah kita dan bergerak mendekati Dia, sampai kepala kita bersentuhan dengan kepala-Nya. Dan kemudian, kita akan mendengar Dia dan menemukan jawaban kita. Untuk mendengar bisikan-Nya, tenanglah dan mendekatlah kepada-Nya. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com.

*****

The young man had lost his job and didn't know which way to turn. So he went to see the old preacher. Pacing about the preacher's study, the young man ranted about his problem. Finally he clenched his fist and shouted, "I've begged God to say something to help me. Tell me, Preacher, why doesn't God answer?"

The old preacher, who sat across the room, spoke something in reply -- something so hushed it was indistinguishable. The young man stepped across the room. "What did you say?" he asked.

The preacher repeated himself, but again in a tone as soft as a whisper. So the young man moved closer until he was leaning on the preacher's chair.

"Sorry," he said. "I still didn't hear you."

With their heads bent together, the old preacher spoke once more. "God sometimes whispers," he said, "so we will move closer to hear Him."

This time the young man heard and he understood.

We all want God's voice to thunder through the air with the answer to our problem. But God's is the still, small voice . . . the gentle whisper. Perhaps there's a reason. Nothing draws human focus quite like a whisper. God's whisper means I must stop my ranting and move close to Him, until my head is bent together with His. And then, as I listen, I will find my answer. Better still, I find myself closer to God.

Author Unknown

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, January 16, 2009

Fire in the Darkness

Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika setiap orang Kristen hidup sesuai dengan ajaran Kristus, maka tidak akan ada orang yang tidak mengikut Yesus di India. Pernyataan ini merupakan satu tantangan bagi setiap pengikut Yesus apakah di India ataupun di belahan dunia yang lain. Bagi kita yang mengetahui apa yang terjadi di dalam gereja, di antara orang-orang Kristen, seringkali kita hanya dapat menangis saat melihat kualitas kehidupan orang-orang yang menyebut diri mereka Kristen tetapi tidak ditemukan ciri-ciri Kristus di dalam diri mereka. Tetapi syukurlah, walaupun jarang tetapi terkadang masih dapat kita menemukan bintang-bintang cerah yang bagaikan menara api di tengah-tengah kegelapan lautan dunia ini.

Pada tanggal 23 Januari 1999, seluruh dunia, bukan saja umat Kristen, dikagetkan ketika koran-koran utama memberitakan tentang seorang misionari, Graham Staines bersama kedua putranya, mati di dalam mobil mereka yang hangus dibakar massa. Peristiwa ini terjadi di Orissa, India tempat di mana Graham sudah melayani selama 35 tahun di Rumah Sakit Kusta Mayurbhanj. Pada malam itu mereka baru saja selesai mengadakan kebaktian bersama umat Kristen di sebuah desa dan saat mereka sedang tidur nyenyak di dalam mobil, massa yang tidak menyukai kegiatan mereka mengepung dan membakar mereka hidup-hidup.

Peristiwa ini sudah tentu sangat mengguncang India. Tetapi hal yang terjadi setelah itulah yang benar-benar membuat masyarakat umum mulai bertanya siapa mereka ini dan apa yang memotivasi keluarga Staines meninggalkan kenyamanan hidup di Australia dan mengabdikan diri mereka untuk membantu orang sakit kusta di tempat terpencil di utara India itu.

Saat berdiri di hadapan tiga peti mati berisi mayat suami dan kedua putranya yang tercinta, istri Graham, Glades dengan tenang dan penuh kasih mengumumkan pengampunan kepada orang-orang yang sudah membunuh keluarganya. Di hadapan krew televisi dan kerumunan orang banyak yang menghadiri pemakaman itu, Glades bersama putrinya, Esther, menyanyikan lagu "Because He Lives" [Karena Dia Hidup]. Kristus diproklamirkan dari halaman utama koran-koran di India.

Tidak lama setelah peristiwa ini seorang pekerja sedang membagi traktat tentang Kristus di sebuah kota di India, dan orang yang menerima traktat itu bertanya, "Apakah ini Yesus yang dipercayai oleh Glades Staines itu? Jika ya, saya juga mau mengenal-Nya."

Hanya apabila Yesus itu nyata bagi kita barulah dapat kita menyatakan-Nya kepada orang lain. Glades mempunyai hubungan yang nyata dan hidup dengan Tuhan yang dilayaninya. Inilah yang dikisahkan oleh Glades saat ia ditanya bagaimana ia dapat dengan tenang melewati pencobaan yang berat itu, "Saya percaya Tuhan secara khusus berbicara kepada saya pada tanggal 14 Januari, [6 Hari sebelum pembunuhan sadis keluarganya], saat saya sedang melakukan renungan pagi. Saya menggunakan buku renungan harian. Kisah pada Hari itu adalah: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di rumah sakit yang sedang kehilangan penglihatannya. Pendetanya mengunjungi dia dan gadis itu memberitahu pendetanya, 'Pak Pendeta, Tuhan sedang mengambil penglihatan saya.' Untuk waktu yang lama, pendeta itu tidak berkata apa-apa, kemudian ia menjawab, 'Jessie, jangan mengijinkan- Nya.' Jessie bingung Dan pendeta yang bijaksana itu berkata, 'Berikan kepada-Nya.'

Saat merenungkan kisah ini, suara hati saya bertanya apakah saya juga rela untuk memberikan semua yang saya kasihi - suami saya, anak-anak dan segala harta milik saya kepada-Nya. Saya meluangkan waktu yang lama merenungkan hal ini. Dengan air mata berlinangan di pipi, saya berkata kepada Tuhan, "Yesus, ya saya sanggup. Ambil semua yang kumiliki bagi Engkau - suamiku, anak-anak dan semua yang kumiliki. Aku menyerahkan semuanya kepada Engkau…"

Tanpa hubungan yang hidup dan akar yang mendalam di dalam Kristus, tidaklah mungkin bagi Glades untuk bertahan melewati peristiwa yang begitu menyedihkan. Siapakah kita sebenarnya, apakah kita berakar atau tidak terlihat bukan saat segalanya mulus, saat kita tersenyum manis ketika bertemu dengan teman-teman sekali seminggu di gereja. Seperti buah jeruk, apakah manis atau asam hanya diketahui saat jeruk itu diperas. Begitu jugalah dengan kita, siapa kita sebenarnya, apakah kita menebarkan bau harum kehidupan atau bau busuk kematian, hanyalah terlihat saat penindasan dan penganiayaan datang.

Setelah tragedi yang terjadi ke atas keluarganya, banyak orang yang menduga Glades dan putrinya akan meninggalkan India dan kembali ke Australia. Namun hal itu tidak terjadi. Sampai ke saat ini Glades masih dengan tekun dan penuh kasih melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai oleh suaminya. Satu menara api yang masih dengan terang menerangi dunia yang gelap ini. Sumber: Milis Terang Dunia, kiriman Fransiska Dian.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, January 2, 2009

Intimate with the Lord

(Foto Ilustrasi: Icha dan Priscilla Natasha Kristadi)

Intim Bersama Tuhan
Isteri saya mengenal Tuhan Yesus di dunia kerja ketika boss-nya membimbing dia dalam doa pengakuan dosa untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Pada waktu itu ia berumur 29 dan tidak tahu apa-apa tentang Bapa. Pada saat itu ia seorang profesional yang masih lajang dan selalu mempunyai banyak teman pria. Ketika Kristus datang ke dalam kehidupannya, Tuhan pelan-pelan mulai mengubah kehidupannya dengan cara-cara yang sangat penting, khususnya dalam persekutuan dan hubungan pribadi. Ketika ia mulai mempelajari Alkitab, ia membaca dalam Matius 7 bahwa apabila ia meminta, maka ia akan menerima (Matius 7:7). Ia berdoa meminta seorang suami dan Tuhan berbicara kepadanya melalui firman-Nya. Ayat berikutnya yang ia pelajari adalah: “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” (Mazmur 46:11)

Beberapa waktu kemudian, Tuhan mulai memperlihatkan kepadanya bahwa Ia ingin menjadi suami-Nya. Setelah dua setengah tahun tanpa seorang pacar, ia mulai berdoa kepada Tuhan agar Ia memperlihatkan kepadanya bagaimana ia dapat mencintai-Nya. Beberapa hari kemudian ia menerima telpon dari seseorang yang menanyakan kepadanya apakah ia mau ikut retret tiga hari. Ia segera mengetahui bahwa Bapa sedang menjawab doanya. Tuhan memperlihatkan kepadanya bagaimana ia dapat memperoleh keintiman bersama Dia seperti yang ia dapatkan dari seorang suami. Ia pikir hal ini aneh. Namun, Bapa mulai menunjukkan kepadanya suatu tingkat keintiman yang ia pikir tidak mungkin.

Pada waktu itu adalah Hari Valentine, dan ia biasanya menganggap bahwa hanya pasangan suami isteri yang mungkin merayakan hari itu. Namun, pada kesempatan ini, gerejanya mengadakan perayaan makan malam Hari Valentine. Ia merasa ingin datang ke perayaan itu sendirian. Sebenarnya, ia mengetahui bahwa Tuhanlah pendampingnya. Karena ia sudah memutuskan untuk tidak berkencan dengan pria manapun agar ia dapat mengembangkan keintiman dengan Tuhan, maka ia tidak menerima kado parfum dari teman prianya. “Tuhan, aku tahu Engkau tidak akan mengundangku ke pesta Hari Valentine ini tanpa memberiku hadiah,” katanya dalam hati. Malam itu diadakan undian, dan Angie, isteri saya sekarang, memenangkan hadiah sebuah keranjang penuh parfum.

Pada kesempatan lain, ia pergi ke pesta perusahaan sendirian. Ia sudah tidak canggung lagi dengan komitmennya untuk tidak berkencan pada saat itu. Ia sering berkelakar, “Kalau bukan karena perlu seseorang untuk memijat punggungku, aku tidak akan pernah memerlukan seorang pria sebagai suami.” Malam itu ia memenangkan sebuah voucher gratis untuk dipijat. Teman-temannya memandang keheranan dan bertanya, “Gimana bisa ya?”

Keintiman dengan Tuhan bukanlah dongeng yang cuma ada di Alkitab. Ia sungguh-sungguh ingin memiliki keintiman dengan anda dan saya. Berdoalah kepada Tuhan untuk menampakkan diri-Nya kepada anda secara pribadi dan dengan cara yang intim. Ia sangat ingin melakukannya. Sumber: Today God Is First. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - apabila anda tidak menghapus keterangan ini ketika anda memforwardnya/mempostingnya di website/blog anda, sangat dihargai)



*******


My wife came to know Jesus in the workplace when her boss led her in the sinner's prayer to receive Christ. She was 29 and had no idea who God was. She was a professional single woman who had always had a boyfriend. When Christ came into her life, He gradually began to change her life in very significant ways-especially in the area of relationships. As she began her first Bible study, she read in Matthew 7 that if she asked, she would receive (see Mt. 7:7). She prayed for a husband and the Lord spoke to her through His Word. The next verse in her study was "Be still, and know that I am God" (Ps. 46:10a).

Over time, the Lord began to show her that He wanted to become her Husband. After two and one-half years without a boyfriend, she asked the Lord to show her how to fall in love with Him. Days later, she received a phone call from someone asking her if she could go on a three-day retreat. She instantly knew God was answering her prayer. He showed her that she could have the same kind of intimacy with Him that she could have with a human husband. She thought this to be strange for the obvious reasons most would think it strange. However, God began to demonstrate to her a level of intimacy that she never thought possible.

It was Valentine's Day, and she would normally leave such occasions to the married couples to celebrate. However, on this occasion, her church was having a Valentine's Day dinner. She felt impressed to go as a single. Actually, she knew the Lord was her escort. Because she had made a decision not to date in order to develop her intimacy with the Lord, she no longer received perfume as gifts. Lord, I know You would not take me to a Valentine's Day banquet without giving me a gift, she thought to herself. That evening, there was a drawing, and Angie won a beautiful gift basket full of fragrances.

On another occasion, she went to a company banquet alone. She was considered by this time rather weird for her commitment not to date. She often joked, "If it weren't for back rubs, I would never have need of a man." (You have to know Angie to appreciate that statement.) That evening, she won a gift certificate for a massage. Her friends looked at her and said, "How do you do that?"

Intimacy with God is not a fairy tale God teases us with in the Bible. He really desires to have intimacy with you and me. Ask God to reveal Himself to you in personal and intimate ways. He desires to do this.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 2, 2008

Do You Have an Up-to-date Relationship with God?

Dua hari yang lalu komputer saya terkena virus karena anak saya, yang sering memakai Friendster atau Facebook di komputer yang sama, menerima virus dari temannya. Ternyata virus ini merepotkan karena Symantec Antivirus saya dilumpuhkan dan tidak dapat mendeteksi virus-virus baru. Juga Windows Automatic Updates saya juga tidak berfungsi karena virus. Dengan Symantec antivirus, hanya dideteksi adanya virus W32.IRCBot.Gen dan Trojan Wimad, namun virus-virus itu tidak dapat dibersihkan sepenuhnya.

Setelah saya mendownload antivirus Malwarebyte's Anti-malware, diketahui adanya virus-virus lain, yaitu Trojan Vundo H dan Backdoor.Bot dan berhasil diatasi. Namun saya tidak puas, lalu saya download lagi program Ad-Ware Personal 2008, ternyata diketahui adanya spyware lain yang jumlahnya sampai 95 item.

Yang saya ingin bagikan di sini adalah, ketika kita menggunakan suatu standard atau alat yang tidak up-to-date, maka alat ini tidak dapat mendeteksi kelainan. Symantec Antivirus yang sudah dilumpuhkan tidak bisa mendeteksi virus-virus terbaru. Begitu kita pakai alat lain yang lebih up-to-date, maka kita akan temukan masalah-masalah yang semula tak dikenali. Ketika saya memakai program Ad-ware yang paling up-to-date diketahui lebih banyak lagi virus baru.

Saya jadi teringat cerita Bapak Pdt. Drs. Budi Sastradiputra beberapa waktu yang lalu tentang timbangan. Di dunia ini ada berbagai macam timbangan: ada timbangan truk, ada timbangan barang untuk beras dan karungan lainnya, ada timbangan kue, dan ada timbangan emas. Timbangan truk hanya mencatat berat dalam kelipatan sampai ratusan kilogram, misal: 5400 kg. Kalau berat truk itu sebenarnya 5430 kg atau 5449 kg, maka angka timbangan hanya menyebut 5400 kg. Timbangan beras bisa mendeteksi sampai dengan satuan kilogram, tetapi tidak sampai satuan ons. Timbangan kue bisa menghitung sampai kelipatan ons, tetapi tidak sampai tepat menghitung sampai satuan gram. Sedangkan timbangan emas sangat teliti menghitung sampai kelipatan gram. Apa perbedaan timbangan ini? Makin peka timbangan, maka makin mampu ia mendeteksi berat sampai satuan terkecil.

Apa sih pentingnya kita bicara tentang timbangan ini? Ada relevansinya dengan kehidupan kita juga sebenarnya. Ketika kita merasa sudah hidup kudus, kita bisa saja suatu saat "ditimbang" dengan timbangan firman Tuhan yang lebih akurat dan mendetail, maka ketahuanlah dosa atau virus dalam hidup kita. Semakin kita hidup dekat dengan Tuhan, maka timbangan atas kehidupan kita semakin sensitif mengenali dosa-dosa dalam hidup kita. Semakin jauh dari Tuhan, kita tidak merasa berdosa berzina dalam pikiran kita, misalnya. Semakin jauh dari Tuhan, kita tidak merasa berdosa menahan uang persepuluhan, misalnya. Semakin dekat dengan Tuhan dan semakin peka kita mendengar suara-Nya, maka timbangan itu semakin sensitif mengenali dosa-dosa atau virus-virus dalam hidup kita. Timbangan itu bukanlah untuk mempermalukan kita, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa ada "black atau grey area" yang perlu dibereskan di hadapan Tuhan. Semakin up-to-date dan tajam (ada dalam "cutting edge") hubungan kita dengan Tuhan, semakin peka sensor-sensor yang akan memberitahu kita adanya virus-virus atau dosa-dosa yang harus segera dibereskan. Begitulah.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 13, 2008

Perished by the Crash of Shares Index

Saya mendapat kabar bahwa ada seorang pengerja gereja di kawasan Dadap/Tangerang yang bunuh diri setelah menghabisi nyawa isteri dan anaknya. Ia melakukan tindakan nekad itu gara-gara rugi besar di dalam spekulasi sahamnya. Sayang sekali, ia mengukur kehidupan ini dari nilai saham. Apabila nilai saham jeblok, maka kehidupannya tidak berarti lagi.

Mengapa kehidupan pelayanannya tidak berakar pada kedalaman hubungan dengan Tuhan? Kalau ia mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa spekulasi yang terlalu berani di bidang saham itu sangat berbahaya. Kalau ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa membunuh isteri dan anaknya lalu bunuh diri bukanlah menyelesaikan masalah dengan baik. Kalau ia mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, tentu kehidupannya tidak diukur dengan indeks harga saham. Kalau indeks hancur, maka kehidupannya juga hancur?

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 7, 2008

Light in the Darkness

Salah satu tim pelayanan Mel Tari berjalan kaki dari kota SoE ke kampung Bena untuk memberitakan Injil. Matahari telah tenggelam di ufuk timur dan hari menjadi gelap sebelum mereka tiba di tempat yang akan dituju. Karena tak ada penerangan atau lampu senter atau obor, maka mereka berdoa kepada Tuhan, apakah mereka harus melanjutkan perjalanan atau tidur di dalam hutan menunggu hari terang keesokan harinya. Lalu Tuhan menyatakan bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan itu dan tidak boleh berhenti.

Yang menakjubkan, kemudian tampaklah sinar di depan mereka seperti obor yang menerangi jalan mereka. Sinar itu menuntun perjalanan mereka. Ketika sinar itu berbelok ke kiri, mereka ikut belok kiri. Ketika sinar itu mengarah ke kanan, mereka mengikuti ke kanan. Akhirnya merekapun tiba di tempat yang dituju dan dapat memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus Juruselamat umat manusia.

Itu adalah pengalaman bagaimana tuntunan Tuhan nyata atas hidup kita, apabila kita mau mencari kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan taat melakukan perintah-Nya. Haleluya! (Sumber: Buku "Like A Mighty Wind" karya Mel Tari- dikutip dari Abba News 30-31 Agustus 2008)

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. (Yesaya 30:18-21)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, September 22, 2008

Behind the Scene

Tadi malam saya berkesempatan makan malam bersama, hanya kami berempat, dengan salah seorang pemilik bank. Baru-baru ini beliau, pemilik bank tersebut, selesai menjalankan tugas pelayanan sebagai ketua panitia KKR Healing Movement di Istora Senayan.

Ketika KKR pada hari Jumat, 19 September 2008, yang lalu, acara itu bersamaan dengan KKR Pdt. Stephen Tong di Gelora Bung Karno dan satu acara lain di kompleks Senayan itu. Yang dia khawatirkan adalah soal kemacetan lalu lintas di lingkungan itu sehingga akan menghalangi jemaat yang akan datang ke KKR. Jam 18.30 tempat duduk di Istora itu baru terisi sekitar 20%. Anggota panitia lain mulai menunjukkan kegelisahan.
"Bagaimana ini, pak?"
"Tenang saja. Sabar."
"Di luaran macet ya?"
"Ya,"

Beliau kembali berdoa secara pribadi. "Tuhan, ini adalah acara-Mu. Saya mohon agar Engkau memakai acara ini untuk menyembuhkan orang-orang yang memerlukan kesembuhan. Engkau sajalah yang dipermuliakan dalam acara ini."

Dalam waktu sekitar 20 menit, jemaat datang berbondong-bondong memasuki Istora dan memenuhi hampir semua kursi-kursi yang tersedia. Yang mengharukan, banyak mukjizat kesembuhan terjadi.

Baru selesai tugas itu, datang lagi penugasan baru dari Gembala Sidang, "Pak, nanti jadi ketua panitia konser saya lagi ya?" Demikianlah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo memilih beliau kembali untuk mengkoordinir konser pujian penyembahan album nyanyian rohani ke-7 pada tanggal 15 November 2008 nanti di Istora juga. Memang, apabila beliau memimpin acara-acara semacam ini, segalanya menjadi beres bersama Tuhan. Banyak dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelayanan demi kemuliaan nama Tuhan Yesus!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, September 17, 2008

Under the Direction of Holy Spirit

DI BAWAH TUNTUNAN ROH KUDUS
Ini adalah kesaksian yang diberikan oleh Bapak Pdt. Daniel Ulaan pada hari Minggu yang lalu. Pada suatu hari dia mendapatkan undangan pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada, dan Perancis. Untuk itu permohonan visa sudah diurus dan tanpa banyak kesulitan, karena ada pihak yang menjadi sponsor, maka urusan visa akhirnya beres. Sementara menunggu kepergian ke luar negeri, ada seorang muda dengan santai berkata, "Daniel, ayo dong pelayanan ke Pulau Nias!" "Anak muda ini seenaknya saja memanggil nama "Daniel" dan mengajak ke Pulau Nias," demikian di pikiran Pendeta yang sudah agak berumur ini. Namun sebagai basa-basi ia berkata, "Begini saja, kamu berdoa dulu, dan saya juga akan berdoa. Kalau Tuhan mau saya ke Nias, Ia akan memberi konfirmasi kepada anda dan kepada saya."

Ketika Pdt. Daniel berdoa, ternyata jawaban dari Tuhan, "Kamu harus pergi ke Nias!" Lha? Bagaimana dengan biaya-biaya untuk pelayanan ini? Padahal pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada dan Perancis sudah terjamin, ada pihak yang mensponsori kepergiannya.

Meskipun dengan berat hati ia harus membatalkan kepergiannya ke luar negeri, karena jadwalnya pada hari-hari yang sama, Pdt. Daniel Ulaan mau taat kepada perintah Roh Kudus, dan memutuskan untuk pelayanan ke Nias saja. Sebenarnya untuk mencapai Nias dapat dijalani melalui Padang yang lebih dekat dan lebih murah atau melalui Medan yang lebih jauh dan lebih mahal.
"Pergi ke Nias dari mana Tuhan?"
"Dari Medan saja!"
"Dari mana biayanya, Tuhan?"
"Nanti Aku yang sediakan. Temui seseorang yang tinggi kurus di Medan."

Dengan uang yang seadanya Pdt. Daniel berangkat ke Medan bersama seorang teman. Ia tidak ada kenalan di kota ini. Ketika berjalan-jalan di Jl. Gatot Subroto, Roh Kudus mendorong Pdt. Daniel untuk menuju rumah dengan nomor tertentu. Ketika sudah sampai di rumah yang dimaksud ternyata di ruko itu ada tulisan "Immanuel".
"Wah, puji Tuhan, ternyata rumah yang dimaksud adalah milik anak Tuhan!" pikir Pdt. Daniel senang. Ia mengetuk ruko itu karena sudah agak malam.
Tok tok tok.

Seorang Tapanuli yang kekar membuka pintu. "Mau ketemu siapa?"
Pendeta Daniel bingung. Siapa ya yang harus ia temui? Ia tidak tahu siapa namanya.
"Tidak tahu...."
"Kalau tidak tahu, jangan ganggu dong!"
Pintu ruko ditutup. Baru beberapa langkah Pdt. Daniel berlalu, Roh Kudus memerintahkannya agar kembali ke ruko itu dan mengetuk pintu. Tok tok tok!

Pintu dibuka lagi, orang Batak yang sama membuka pintu lagi, sekarang dengan muka tidak senang karena Pdt. Daniel lagi yang ada di muka ruko.
"Mau ketemu siapa?" Dengan wajah yang mulai angker ia bertanya.
"Eh, gimana ya? Saya tidak tahu..."
"Gimana sih kamu ini, tidak tahu siapa yang mau ditemui, kenapa ketuk pintu ruko ini?" Tanpa menunggu lebih lama lagi, pintu langsung ditutup kembali.

Pdt. Daniel bersama temannya kali ini berjalan menyeberang jalan. Sesampai di seberang, ia mendengar dengan jelas bisikan Roh Kudus, "Kembali lagi ke ruko itu dan ketuklah pintunya." Gimana sih, Tuhan?
"Pak Pendeta," kata temannya, "Saya menunggu di sini saja ya? Bapak sendirian saja mengetuk pintu ruko itu."

Dengan ragu Pdt. Daniel kembali ke ruko yang tadi, ia mengetuk pintu lagi. Tok tok tok!

"Mau apa lagi?" tanya orang Batak itu dengan emosi.
"Saya mau ketemu seseorang di ruko ini. Saya adalah hamba Tuhan dari Jakarta."
"Pendeta?"
"Ya."
"Tunggu sebentar, Pak Pendeta." Orang itu langsung pergi menuju ke dalam. Sikapnya berubah mendengar kata "Pendeta" dari tamu yang tak dikenalnya.

Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan seseorang yang agak berumur, tinggi kurus!

"Bapak dari Jakarta?" tanya orang tinggi kurus itu.
"Ya, Pak! Saya disuruh Tuhan ketemu Bapak."

Dengan kaget orang tinggi kurus itu menyambut Pdt. Daniel Ulaan. Setelah dipersilakan masuk dan duduk di dalam, tuan rumah yang tinggi kurus itu menjelaskan. "Begini, Pak Pendeta. Saya ini ada masalah di bisnis dan pelayanan. Nampaknya saya ada di persimpangan jalan. Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk-Nya. Saya katakan kepada Tuhan, 'Kalau Tuhan menjawab, kirimkanlah hamba-Mu yang tidak aku kenal dan dia juga tidak kenal aku.' Dan Tuhan ternyata mengirim Bapak ke sini."

Setelah mereka berbicara, Pdt. Daniel akhirnya melayani orang kaya ini selama hampir dua minggu dan dengan sponsor keuangan dari orang Medan ini akhirnya Pdt. Daniel dapat melayani beberapa hari di Pulau Nias.

Tuntunan Roh Kudus memang sering tidak dapat dimengerti kita, namun ujungnya pasti mendatangkan kebaikan, asalkan kita taat mengikuti suara-Nya. Puji Tuhan! (Apabila anda memforward kisah ini, jangan lupa menyebutkan http://pentas-kesaksian.blogspot.com sebagai sumbernya - terima kasih.)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 30, 2008

An End Time General

Kisah Mike W. Richmond Menjadi Jenderal Akhir Zaman
Sebuah peristiwa yang supraalami terjadi pada saat jarum jam menunjukkan pukul 11.45 pagi waktu belahan Timur Amerika Serikat pada tanggal 14 Agustus 1999. Sorga terbuka. Salah satu orang pilihan Tuhan masuk ke dalamnya.

Setelah sakit yang berkepanjangan, teman saya Pastor Michael Wayne Richmond (Mike) dari Cocoa, Florida, usia 60 tahun, dipindahkan dari bumi ke Firdaus untuk bersama dengan Tuhan Yesus, Tuhannya yang sangat ia kasihi dan layani demikian lama. Mike mengetahui bahwa di kayu salib itu Tuhan Yesus telah membayar harga untuk menebus dosa-dosanya.

Biasanya, seseorang yang berpindah dari dunia ini ke alam berikutnya tidak layak diberitakan. Namun, peristiwa ini tidak lazim karena sebelum Mike pergi ke rumah Bapa, Bapa memberikan pewahyuan-pewahyuan yang supraalami dan menakjubkan kepadanya, kepada Barbara isterinya, dan kepada orang-orang lain. Umat percaya di seluruh dunia mengenal Barbara Richmond dari pelayanannya bagi For Your Glory Inc., sebuah pelayanan internasional yang dilakukan belakangan ini di Israel, Eropa, New Zealand, Afrika dan Brazil. Ia bersama Mike mendirikan pelayanan ini.

Mike telah melayani Tuhan selama 30 tahunan. Ia adalah seorang pengajar firman Allah yang menonjol, dengan wawasan yang luar biasa baik dan memiliki karunia untuk mengomunikasikan pelajaran itu dengan cara yang mudah dimengerti dan menarik. Sebuah kaset pelajaran tentang Roh Kudus dengan judul “Janji Bapa” tersedia di Website Barbara.

Mengapa Mike disebut sebagai seorang jenderal Allah di akhir zaman ini?

Mimpi Barbara
Di awal bulan Juni 1999 Barbara bermimpi tentang Mike. Suaminya itu berpakaian dalam seragam militer, dengan bintang lima di pundaknya, suatu pangkat tertinggi di kemiliteran. Mike sedang duduk di belakang meja, dan memberikan perintah-perintah kepada para malaikat yang datang dan pergi. Barbara menceritakan mimpinya kepada Mike, tetapi ia tidak mengerti apa artinya. Barbara pikir itu ada hubungannya dengan pelayanan Mike di bidang doa syafaat dalam jangka panjang. Namun penafsiran mimpi itu segera berubah secara radikal.

Selama beberapa waktu Mike sakit, tetapi ia tetap bekerja dan memenuhi kewajibannya di dua gereja. Namun pada tanggal 17 Juni 1999, Mike yang sedang berbaring, memanggil Barbara yang ada di dapur. Barbara menemukan suaminya sedang menangis, namun wajah suaminya demikian cemerlang. Suaminya mulai berkata, “Tuhan baru saja mengunjungi saya, Barbara. Ia telah memanggil saya pulang.” Selama beberapa menit berikutnya Mike menceritakan semua yang Tuhan katakan kepadanya, yang beberapa di antaranya diceritakan kepada saya kemudian.

Wawancara Terakhir dengan Mike
Tepat dua minggu sebelum Mike meninggalkan bumi ini, saya mendapat kesempatan istimewa untuk mewawancarainya di rumahnya. Ia meminta saya datang, sambil memberitahukan kepada Barbara, “Jim mungkin menjadi pelayanan mimbar saya yang terakhir.”

Dengan berlinangan airmata Mike mengakui bahwa Bapa telah memberi kepadanya kehormatan dan berkat yang luar biasa besar, karena sebelum ia meninggal, “Bapa memberikan dia kesempatan untuk menjadi seperti para bapa leluhur, untuk memberkati anak-anaknya dan orang-orang yang dia kasihi.” Mike menerangkan bahwa Bapa telah memberi kesempatan kepadanya untuk menulis surat-surat kepada masing-masing anaknya dan memberkati mereka semua sebelum dia meninggal, seperti para bapa leluhur di dalam Alkitab. Ia telah menghabiskan beberapa minggu terakhir ini melakukan hal itu, merapikan rumahnya, dan bersiap-siap.

Mike menceritakan tentang perjumpaan dengan Tuhan yang tidak biasa pada tanggal 17 Juni 1999, segera setelah Barbara bermimpi. Ia menjelaskan, “Tuhan memberitahu saya bahwa saya telah mengakhiri pertandingan iman dan telah mencapai tujuan saya, dan Tuhan telah disenangkan.” Mike tahu bahwa ia akan segera pulang ke rumah Bapa. Banyak orang yang sudah bersama-sama dengan dia mendoakan bagi kesembuhannya, namun Mike berkata bahwa Tuhan mengatakan, “Ini tidak ada kaitannya dengan kesembuhan – semua hal ini berkaitan dengan tujuan dan panggilan-Ku yang kekal.”

Tentang mimpi Barbara, Mike berkata, “Tuhan menceritakan mimpi itu kepada saya dengan sangat jelas.” Mike mengatakan bahwa Bapa menyebutnya “Jenderal Akhir Zaman”. Mike menjelaskan, “Bertahun-tahun yang lalu, dinubuatkan kepada saya bahwa saya adalah jenderal akhir zaman, tetapi hal itu tidak saya mengerti. Banyak hal yang tidak kita mengerti, dan banyak hal hanya bisa dimengerti secara samar-samar. Sikap saya yang mula-mula terhadap nubuatan itu adalah bahwa nubuatan itu sangat aneh, karena saya mengenal diri saya! Saya katakan kepada Barbara bahwa kalau saya memang jenderal akhir zaman, saya merasa menyesal terhadap para laskar Allah. Saya katakan, ‘Wow, pasti jenderal ini lebih buruk daripada yang saya duga.’” Mike memang orang yang sangat rendah hati dan suka humor. “Saya sungguh tidak mengerti nubuatan itu,” kata Mike. Namun di dalam lawatan Tuhan pada bulan Juni 1999 itu, Tuhan menyatakan, “Bapa memberikan penugasaan kepadamu.”

Mike melanjutkan, “Tuhan berkata bahwa saya adalah jenderal akhir zaman… dan bahwa Ia memerlukan saya di sorga.” Ia menerangkan kembali bahwa Tuhan membicarakan tentang mimpi yang diberikan kepada Barbara. Mike tidak tahu berapa banyak malaikat yang terlibat di dalam mimpi itu, namun itu adalah pasukan malaikat. Ia mengatakan bahwa Bapa mengatakan kepadanya, “sorga itu bukan tempat pengangguran; itu adalah tempat pelayanan tingkat tertinggi.” Mike menambahkan, ”Sorga itu diadministrasi oleh para orang kudus, yang merupakan golongan yang paling aktif melakukan apa yang sedang terjadi.” (Bersambung - aslinya ditulis oleh Jim Bramlett)

Kisah ini dikirim oleh seorang sahabat Pentas Kesaksian (Suharti Ali)

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, April 25, 2008

Deep Worship

Anak saya diminta mengiringi 'deep worship' seorang gembala beserta isterinya, dengan memainkan keyboard. Penyembahan itu diberi judul: "Worship The King" dan direkam dalam sebuah CD yang dibagikan gratis.

Beberapa orang yang telah mendengarkan CD itu ada yang mengalami kesembuhan ilahi, ada yang melihat sorga, sehingga seorang keluarga pengusaha hotel meminta izin agar CD itu dapat diputar di hotelnya. Juga ada permintaan dari sebuah hotel di bilangan Thamrin yang meminta izin agar CD itu diputar di lobby hotelnya.

Dari antara orang-orang yang telah diberkati CD itu, ada seorang pengusaha yang memberi hadiah sebuah mobil baru, Toyota Rush, kepada gembala itu.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, September 13, 2007

The Holy of Holiest (2)

Ibrani 9:24 menyatakan, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.” Ruang Mahasuci berbicara tentang Sorga, tempat kediaman Allah. Bergerak masuk ke Ruang Mahasuci artinya masuk ke sorga terbuka, alam Roh, alam supranatural yang penuh kekudusan dan keajaiban, alam yang dipenuhi atmosfir kemuliaan, dan alam dengan dimensi Allah tanpa batas. Betapa menggetarkan dan mengagumkan ketika orang memasuki Ruang Mahasuci Allah dimana segala sesuatu itu penuh atmosfir sorgawi dan setiap orang akan berseru, “Glory! Holy! Mulia! Kudus!”

Setelah orang-orang percaya memasuki tahap awal, di Pelataran Bait Allah, mereka harus memasuki tahap kedua, yang dilambangkan dengan Ruang Suci. Tuhan Yesus itu penuh kasih karunia dan kebenaran. Orang-orang percaya harus mengalami Tuhan Yesus sebagai Kebenaran. Di sini orang percaya masuk lebih dalam ke arah “Jiwa”: pikiran-perasaan-kehendak ilahi”, masuk lebih jauh ke dalam pewahyuan tentang Roh Kudus, berbuah 60 kali lipat, mengetahui kehendak Allah yang berkenan, masuk sungai Yordan (mengalami kematian terhadap kedagingan), mengalami kemuliaan bulan, mengalami Roma 7, mengalami kehidupan yang lebih baik (better life).

Ruang Suci ini berbicara tentang pengalaman sebagian atau di pertengahan, belum lengkap. Kita harus bergerak ke Ruang Mahakudus untuk mengalami kepenuhi pengalaman rohani dimana Tuhan Yesus sebagai Hidup (Zoe) akan kita alami. Di Ruang Mahasuci ini orang percaya memasuki dimensi roh, mengalami pewahyuan tentang Bapa, berbuah seratus kali lipat atau seribu kali lipat atau pelipat-gandaan tanpa batas, mengetahui kehendak Allah yang sempurna, masuk ke dalam tanah perjanjian atau Sion, mengalami kemuliaan matahari, mengalami kehidupan yang diatur oleh hukum roh kehidupan (Roma 8), mengalami kehidupan yang terbaik (best life).

Penjelasan tentang hal ini masih sangat panjang, harus disampaikan dalam seminar tersendiri. (Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, September 11, 2007

The Holy of Holiest (1)

Baru-baru ini saya mendapatkan pengertian baru tentang Ruang Mahasuci. Seperti kita ketahui di dalam Bait Allah Salomo, ada Pelataran, Ruang Suci, dan Ruang Maha Suci. Ruang Mahasuci adalah tempat hadirat Allah di bumi di antara bangsa Israel. Bait Allah Salomo menggambarkan pola dan perkara-perkara rohani.

Pelataran berbicara tentang : Tubuh, Tuhan Yesus Sebagai Jalan, Pewahyuan Tuhan Yesus, Mengetahui Kehendak yang Baik, Berbuah 30 kali lipat, Roma 6, Hidup Baik (Good Life), Padang Gurun, dan Kemuliaan Bintang-Bintang.

Ruang Suci berbicara tentang: Jiwa, Tuhan Yesus Sebagai Kebenaran, Pewahyuan Roh Kudus, Mengetahui Kehendak yang Berkenan, Berbuah 60 kali lipat, Roma 7, Hidup Lebih Baik (Better Life), Sungai Yordan, dan Kemuliaan Bulan.

Ruang Mahasuci berbicara tentang : Roh, Tuhan Yesus Sebagai Hidup, Pewahyuan Bapa, Mengetahui Kehendak yang sempurna, Berbuah 100 kali lipat/1000 kali lipat/pelipat-gandaan, Roma 8, Hidup Terbaik (Best Life), Tanah Perjanjian/Sion, dan Kemuliaan Matahari.


Pelataran berbicara tentang orang-orang Kristen yang mengenal Tuhan Yesus sebagai Jalan. Mereka sudah mendapatkan akses pada Keselamatan. Mereka mengalami penebusan dan pembasuhan dosa, seperti yang terdapat di Pelataran Bait Allah dimana ada mezbah korban bakaran dan bejana pembasuhan. Mereka yang di Pelataran merupakan orang-orang Kristen yang hidup dalam Roma 6 (baca selengkapnya di Roma 6). Mereka yang di Pelataran merupakan orang-orang yang mengerti kehendak Allah yang baik (Roma 12:2), mereka mengalami hidup yang baik, mereka bisa berbuah sampai 30 kali lipat. Namun orang-orang Kristen di Pelataran sangat rentan terhadap godaan dosa dan tipu daya iblis, karena tempatnya berbatasan dengan dunia. Mereka yang tinggal di Pelataran telah mengalami pewahyuan tentang Tuhan Yesus.

Pada akhir zaman bagaimana nasib orang-orang yang ada di Pelataran? Kitab Wahyu 11:2 mengatakan, "Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya." Orang-orang Kristen yang puas tinggal di Pelataran akan diinjak-injak musuh selama masa aniaya besar 3,5 tahun. Ayo, jangan tinggal tetap di Pelataran, maju terus bertumbuh lebih dalam ke arah Ruang Suci dan kemudian ke Ruang Mahasuci. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 29, 2007

Walking with God: A Story of A Top Executive (1)

Saya selalu mengucap syukur kepada Tuhan, karena Tuhan membuka jalan untuk saya bertemu dengan orang-orang yang kesaksiannya dapat dimuat di dalam blog ini. Tadi malam saya bertemu dengan mantan Presiden Direktur PT. Compaq Indonesia yang sekarang telah berwiraswasta. Tiba-tiba ia bercerita kepada saya tentang kisah kehidupan yang dialaminya.

Dahulu ia adalah seorang eksekutif puncak yang berhasil di bidangnya dan sekarang menjadi seorang pengusaha yang melayani di Market Place. Pada pertengahan tahun 1980-an ia dinobatkan sebagai "CEO of The Year" dan diberi kesempatan berbicara dalam sebuah forum ASEAN Business Meeting, dimana pembicaranya adalah : PM Singapura Lee Kuan Yew, PM Malaysia DR. Mahathir Mohamad, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, PM Thailand, dan satu-satunya pembicara dari kalangan bisnis adalah dirinya sebagai CEO of The Year. Keesokan harinya berbagai ucapan selamat muncul melalui telpon dan email dari rekan-rekan sejawat dan dari kalangan bisnis yang kagum atas terpilihnya sebagai CEO of The Year dan atas kesempatan sebagai pembicara utama dalam pertemuan bisnis tingkat ASEAN tersebut. "Bangga!" itulah yang saya rasakan pada waktu itu katanya mengaku. Saya merasa menjadi orang "super".

Ketika ia membalas telpon dan email dari rekan-rekan yang memberi selamat itu, dengan perasaan yang sangat "excited" tiba-tiba terdengar bisikan di hatinya, "Jangan merasa bangga begitu. Kalau bukan karena Aku, kamu ini tidak ada artinya apa-apa! Apa yang ada padamu, itu semua dari-Ku. Apa sih yang ada padamu yang tidak berasal dari-Ku?" Mendapat tegoran keras di hatinya, ia sangat kaget dan tersadar. "Betul, ya? Saya ini tidak ada apa-apanya. Semua karena anugerah-Nya!" Ia menangis tersedu-sedu di muka komputer itu. Padahal sebagai seorang Presdir, pantang bagi seorang lelaki menangis. Ketika itulah jamahan kasih Tuhan sangat kuat menguasai hatinya.

Sejak saat itu ia tidak mengeraskan hatinya apabila diajak isterinya ke Gereja. Telah bertahun-tahun isterinya berdoa baginya agar mau percaya kepada Tuhan. Namun karena ia memiliki otak yang cemerlang, dan selalu mengandalkan logika, maka semua hal tentang kekristenan yang diceritakan isterinya bagaikan bualan dongeng dan tahayul saja. Apa yang tidak bisa dicerna oleh daya analisisnya yang tajam, takkan diterima begitu saja atas dasar : percaya atau iman. Namun sejak hatinya dijamah Tuhan, ia mulai menyelidiki perkara-perkara rohani.

Pada suatu hari isterinya mengajaknya ke Doa Malam. Pada waktu itu ia masih merokok dan bergaya bak pria metroseksual: Ia datangi rumah doa dengan sepatu boot yang keren dan masih merokok! Ia lepaskan sepatu boot itu karena acara doa malam diadakan sambil duduk di lantai. Ia tak melihat sepatu "sekeren" sepatunya diantara deretan sepatu yang terkumpul di muka pintu gedung itu.

Ketika pujian dan penyembahan mulai dinaikkan, hatinya mulai menangkap sesuatu getaran rohani yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya ada damai dan sejahtera serta sukacita yang menyelimuti hatinya yang selama ini selalu dingin terhadap perkara-perkara rohani. Namun ia mulai diganggu dengan suara-suara asing yang menjadi 'distraction' dan ingin mengajaknya kembali pada kehidupan yang lama. Selama kurang lebih tiga bulan ia diganggu suara-suara itu, sehingga isterinya mengajak dirinya untuk dilayani "pelepasan" oleh Pdt. John Ng. Isterinya memaksa ia datang ke tempat John Ng melayani pada jam 11 malam. Meskipun tadinya ia segan, ia kemudian ingin tahu apa sih yang dapat dilakukan oleh pendeta ini. Mereka mulai memuji dan menyembah Tuhan, ia kembali merasa damai sejahtera yang melampaui segala akal. Kemudian John Ng menumpangkan tangannya dan mendoakan dirinya.
"Tidak ada kelainan apa-apa!" kata John Ng "Kalau bapak mau belajar kepada saya, bapak akan menjadi seperti saya atau bahkan lebih hebat. Mau?"
"Tidak, ah!" katanya tidak mengerti tentang ajakan John Ng ini.

Sejak kasih dan hadirat Tuhan menjamah kehidupannya, ia mulai bersemangat memberikan kesaksian kepada para direktur, teman-teman di PT. Compaq Indonesia (kini telah merger dengan Hewlett Packard). Pada waktu itu para anak buahnya selalu bertanya, "Apakah ceritanya sudah selesai, pak?" sambil menguap ngantuk. Tetapi ia sungguh bersyukur sekarang, dari semua kolega para Direktur yang Kristen, semuanya aktif melayani sekarang. Bahkan salah seorang rekan Direkturnya, seorang Ibu, kini sangat giat dan berapi-api melayani di ladang Tuhan.

Suatu saat ia bertugas ke Singapura dan menginap di suatu hotel. Ketika ia mulai membuka pintu hotel itu, ia yang sangat peka atas kehadiran para makhluk halus, mulai waspada. Ia masuk, namun tidak menaruh kartu kunci kamar hotel di tempatnya agar aliran listrik tetap tidak menyala. Ia masuk dan merasakan pekatnya kehadiran roh jahat di ruang itu. Apa yang harus ia lakukan? Minta ganti kamar? Kalau ganti kamar, berarti ia dikalahkan para roh-roh jahat itu. Mengadakan peperangan rohani? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 16, 2007

Intimate Relationship with the Heavenly Father

Sebuah pengalaman dari Ari, seorang Managing Director sebuah perusahaan konsultan manajemen yang sering memberi training kepada karyawan perbankan dan perusahaan lain, cukup memberi inspirasi tentang hubungan kita dengan Bapa Sorgawi. Pada suatu ketika Ari Kiswanto beserta ketiga anak-anak perempuannya berlibur ke Singapura. Sebagaimana biasanya anak-anak ABG ini diajak berdoa dulu, mengucap syukur karena mereka telah tiba di Singapura dengan selamat dan berdoa dengan pokok-pokok doa pribadi yang lain. Meskipun anak-anak ini mulanya ogah-ogahan berdoa, namun mereka akhirnya taat juga.

Setelah berdoa, Ari membagikan tiga amplop. Ketiga ABG itu semangat dan senang sekali ketika melihat di dalamnya ada beberapa lembaran uang dollar Singapura. "That's for you, guys!" kata Ari yang terbiasa berbicara bahasa Inggris dengan mereka. "It's time for shopping now! Who's gonna go with me?" Anak yang pertama diajak pergi shopping dengan ayahnya ogah, "Wah, boring deh jalan-jalan ama Daddy!" Begitu juga ABG yang kedua. Lalu ABG yang ketiga mau ikut dengan Ari.

Kedua ABG pertama dan kedua selama tiga hari piknik dan berbelanja itu memisahkan diri dari Ari. Mereka lebih asyik jalan sendiri-sendiri. Anak yang ketiga, mungkin karena masih kecil, lebih suka bepergian dan berbelanja dengan ayahnya. Ketika Ari melihat sepatu dipajang di toko tertentu dan nampaknya cocok, ia akan berkata kepada anak ketiganya, "Let's try the shoes for you!" Anaknya mencoba.
"Do you like these shoes, darling?"
"Well, it's OK for me!"
"Who's gonna pay for that?"
"It's you, Daddy!"

Begitu juga kalau ada gaun, kalau ada T-Shirt, atau boneka, Ari akan mengajak anak ketiganya mencoba barang-barang yang mungkin disukai anaknya ini.
"Do you like it, darling?"
"Sure!"
"Who's gonna pay for it?"
"Of course, it's you, Daddy!"

Berkali-kali anaknya belanja bagi keperluan dirinya dan berkali-kali anaknya selalu bilang, "You pay for that, Daddy!" Ari senang sekali membelikan barang ini dan itu yang disukai anak ketiga yang menyertainya ini. Alih-alih uangnya habis, uang yang diberikan Ari kepada anak ketiganya ini masih utuh.

Pada hari terakhir ketika mereka sudah berada di Airport Changi, ketiga ABG ini kerepotan membawa barang-barang belanjaan mereka. Ketiga anak itu hampir sama banyaknya membawa tentengan barang-barang kesukaan yang mereka beli. Bedanya, anak pertama dan kedua telah kehabisan uang sakunya untuk belanja. Anak ketiga sekarang baru belanja di "Mall" Changi Airport, sementara kedua kakaknya melongo. Anak ketiganya puas berbelanja sendirian. Karena ia dekat dengan daddy-nya, ia selalu dibayari daddy dalam berbelanja, sekarang dia bisa memuaskan diri setelah selama ini menyenangkan hati daddy-nya.

Demikian juga anak-anak Tuhan yang selalu intim dengan Tuhan, yang selalu ingin menyenangkan hati Bapa Sorgawi, maka jangan heran kalau Bapa Sorgawi akan mencurahkan kasih karunia-Nya yang berlimpah-limpah. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mencari hati-Nya, bukan tangan-Nya untuk mencari berkat. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mengasihi diri-Nya, bukan mengasihi berkat-berkat-Nya saja. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mau melekat kepada-Nya seperti Daud.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 15, 2007

Kasih Karunia

Di Yayasan Mahanaim (Bekasi) mantan pemulung dan penodong diberi makan dan uang beberapa ribu rupiah per hari. Pada suatu hari seorang mantan penodong berkata kepada Iin Tjipto Wenas sebagai pembimbing rohaninya: "Bu, jika saya diberi uang sebanyak itu, tidak cukup. Dulu waktu masih jadi penodong biasanya saya mendapat Rp. 100.000,00 per hari.

"Saya tidak dapat memberi kamu uang sejumlah itu," kata Iin.
"Kalau begitu, saya minta ijin satu kali ini saja untuk menodong."
"Coba saja, tetapi kamu bertanya dulu kepada Roh Kudus. Boleh tidak?"

Dia lalu berdoa, dan katanya lagi kepada Iin, "Oleh Tuhan dibolehkan pergi." "Ya, pergilah," jawab Iin. Kemudian dia pergi ke tempat pertemuan gangnya.

Temannya bertanya, "Sudah tiga bulan kamu tidak kelihatan, ke mana saja?" "Aku sudah bertobat tiga bulan ini, tetapi sekarang ini aku tidak kuat, ingin menodong lagi." Lalu temannya berkata, "Kamu ini sudah bertobat ingin kembali lagi, sedangkan aku ingin bertobat, tidak bisa. Sudah, jangan menodong lagi, ini aku beri kamu uang. Kamu butuh berapa? Kamu bertobat saja." Temannya ini dipakai Tuhan supaya dia tidak melakukan dosa lagi, karena sebelumnya dia sudah berdoa.

Dengan hati terbuka kita perhatikan dengan seksama bahwa, cara Tuhan itu bukan cara kita. Yang dapat mengubah adalah Tuhan Yesus dengan pertolongan Roh Kudus. Itulah sebabnya, selalu berkomunikasi dengan Roh Kudus, menjadi pelajaran penting. Kita mungkin juga seperti penodong itu dalam hal dosa-dosa.

Ini pengalaman Drg. Yusak Tjipto sendiri. Pada suatu hari dosa mata keranjangnya kambuh lagi dan ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mata keranjang saya kambuh lagi." Lalu Tuhan berkata, "Aku tidak suka!" Ia berkata, "Yang tidak suka itu Engkau, tetapi aku suka. Jika kambuh begini, bagaimana? Tolong saya, Tuhan!" Tuhan tidak menjawab, dan ia anggap Tuhan setuju. Lalu ia berencana untuk datang ke rumah perempuan yang ditaksirnya itu, padahal Yusak Tjipto sudah beristri. Saat siap-siap untuk berangkat, ketika ia masih di dalam kamar, entah mengapa, seperti ada yang menariknya untuk menengok ke tembok. Dan di situ, ia melihat mata Tuhan.

Yusak Tjipto terkejut lalu berkata kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa mata-Mu ada di tembok?" Tuhan berkata, "Kamu diberitahu tidak taat, dicegah tidak bisa, jadi caranya Aku langsung lihat saja." Ia berkata, "Tuhan, aku akan berbuat dosa kenapa Engkau lihat?" Akibatnya ia tidak jadi berbuat dosa, karena mata Tuhan terus memandanginya.

Itulah cara Tuhan. Belajarlah jujur di hadapan-Nya, bersikap apa adanya, maka Tuhan pasti akan menolong dan mengarahkan kita. Namun kita jangan menantang seperti kedua orang di atas. Tidak selalu Tuhan mencurahkan kasih karunia-Nya kepada setiap orang sehingga pada saat-saat akhir sebelum berbuat dosa kita ditolong-Nya. Kalau kita dibiarkan berbuat dosa karena kita tetap membandel, bagaimana? Rugi sendiri.
(Dari buku "Garis Akhir", ditulis oleh Drg. Yusak Tjipto, diedit seperlunya supaya enak dibaca)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 6, 2007

Amazing Story of Samuel Doctorian (2)

Malaikat di depan saya tak berbicara sepatah katapun. Dia membawa sebuah gulungan kertas di tangannya. Dia membuka gulungan itu dan saya bisa membaca dengan jelas pesan Tuhan yang tertera di gulungan itu: "Ibu muda itu bukan pembunuhnya. Dia tidak membunuh anak perempuan itu. Suaminyalah yang membunuh anak itu. Tetapi dia mengancam isterinya dan memberi tahu supaya isterinya yang mengaku membunuh anak itu. Suaminya berkata bahwa pemerintah tidak akan menghukum wanita seberat menghukum laki-laki. Jadi, setelah dipenjara selama beberapa tahun dia akan dibebaskan dari penjara. Tetapi jika dia tidak mau mengaku, suaminya mengancam akan membunuh dia dan ketiga anaknya. Di dalam ketakutannya, itu muda itu terpaksa berbohong dan mengaku bahwa dialah pembunuhnya."

Ketika saya membaca pesan itu, saya merasa terguncang hingga ke jiwa saya yang paling dalam. Saya segera menuju ke telpon untuk menghubungi sang kolonel.
"Kolonel, cepat datang ke sini, saya harus berbicara dengan anda."
"Ada apa?"
"Saya tidak dapat membicarakannya lewat telpon karena hal ini adalah hal yang sangat penting sekali."

Walaupun dia adalah seorang komandan yang membawahi beberapa perwira dan mempunyai kuasa yang besar, tetapi kolonel yang terkasih ini adalah anak rohani saya. Dia sangat mengasihi dan menghormati saya. Dia berkata, "Saya akan segera datang."

Dia tiba bersama dengan para pengawal dan tentaranya dan langsung ke kamar saya.
"Kolonel, silakan duduk dulu. Biarkan saya memberi tahu anda apa yang telah terjadi." Saya memberitahukan kepadanya bagaimana malaikat Tuhan telah datang, dimana malaikat itu berdiri dan pesan apa yang telah disampaikannya kepada saya.

Kolonel itu merasa kaget, terguncang dan bingung.
"Maksud anda, benar-benar malaikat? Malaikat sorgawi telah datang ke tempat ini?"

"Ya, dia berdiri di situ, dan yang lebih penting lagi dari pada itu adalah pesan yang disampaikan malaikat itu kepada saya."

"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena hal itu berada di luar jangakauan saya. Kasus pengadilannya telah ditutup dan pengakuan telah didengar. Setiap saat bila ada perintah yang datang dari pengadilan di Kairo, saya harus menggantung wanita itu."

"Sebaiknya anda tidak melakukannya, kolonel! Bukan dia pembunuhnya! Suaminyalah yang membunuh. Malaikat yang memberitahukannya kepada saya."

"Apa yang anda ingin saya lakukan?"

"Kembalilah ke penjara sekarang. Wanita itu akan mengakui kejadian yang sebenarnya di hadapan anda, dan ketika wanita itu memberitahukannya kepada anda, kata demi kata seperti apa yang telah disampaikan oleh malaikat tadi, peneguhan seperti apa lagi yang anda inginkan?"

"Selama hidup saya, saya belum pernah mengalami hal seperti ini. Saya akan segera pergi!"

Saat kolonel itu sampai di penjara dan memasuki gerbangnya, sebelum dia memasuki kamar kerjanya, para perwiranya memberi tahu bahwa salah seorang tahanan wanita itu ingin berbicara dengan dia.

"Siapa?"
"Wanita yang lebih muda."
"Bawa dia kemari!"

Dengan diam-diam dia mempersiapkan sebuah alat rekaman di kamar kerjanya. Wanita itu dibawa menghadap kepadanya. Ibu muda yang berumur 23 tahun itu terlihat gemetar ketakutan dan sedikit malu-malu. Selagi dia berjalan masuk ke dalam, dia bertanya apakah dia diperbolehkan untuk berbicara berdua saja dengan kolonel. Kolonel itu menyetujuinya dan para penjaga meninggalkan mereka dengan alat rekaman yang dihidupkan.

Dengan diiringi air mata ibu muda itu mengakui semuanya, kata demi kata, tepat seperti apa yang telah disampaikan malaikat Tuhan kepada saya. Rekaman pembicaraan itu dikirim sampai ke Kairo dimana para hakim di sana mendengarkan seluruh isi ceritanya. Akhirnya pembunuh yang sesungguhnya ditangkap, diadili, dan dinyatakan bersalah, kemudian dia digantung. Ibu muda tadi bersama dengan ketiga anaknya dipindahkan ke tempat lain secara rahasia sehingga kerabat suaminya tidak tahu dimana mereka berada. Puji syukur kepada Tuhan, sampai dengan saat ini mereka semua masih hidup dan tidak kurang sesuatu apapun. Keseluruhan cerita ini diberitakan dalam semua surat kabar resmi di Mesir. Tuhan kita adalah Tuhan yang hebat! Terpujilah namanya. (Tamat)
Kesaksian ini diambil dari buku "...Dan Kemudian Aku Melihat-Nya" oleh Samuel Doctorian, terbitan Adonai, 2000.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Amazing Story of Samuel Doctorian (1)

Saya sedang melayani di sebuah kota besar yang bernama Assyut, yang terletak di Mesir Utara. Salah satu gerakan Roh Kudus yang paling dahsyat yang pernah saya lihat di sepanjang pelayanan saya terjadi di kota Assyut ini. Roh Tuhan menggoncangkan seluruh kota. Ribuan orang datang untuk mendengarkan Injil. Tentunya Setan merasa sangat marah. Kami memang mengalami beberapa kesulitan yang cukup berarti. Saya sendiri mendapat ancaman akan ditembak dan dibunuh. Saya diperintahkan oleh Gubernur Assyut, yang bukan orang percaya agar saya menghentikan kebaktian tersebut, namun saya tidak mau menuruti perintahnya. Saya lebih senang mendengarkan Gubernur Besar, Sang Penguasa Langit dan Bumi sendiri. Gubernur Assyut tadi benar-benar mengirimkan pengawalnya untuk menembak saya, tetapi Tuhan membebaskan saya dengan cara-Nya yang dahsyat. Ribuan orang menerima Tuhan dan akhirnya kami mampu membeli sebidang tanah dimana kami dapat mengadakan ibadah-ibadah yang besar tadi. Pada hari ini di kota Assyut telah berdiri sebuah gedung ibadah yang besar dan firman Tuhan diberitakan minggu demi minggu. Hanya kepada-Nyalah saya memberi kemuliaan!

Salah satu jiwa berharga yang diselamatkan dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) itu adalah seorang kolonel. Dia menduduki posisi tinggi di dalam pemerintahan Mesir. Dia menjadi kepala penjara di penjara Sohag. Baru-baru ini dia mendapat kenaikan pangkat sebagai kolonel kepala untuk penjara besar di Assyut, penjara terbesar kedua di Mesir. Penjara itu menampung seribu enam ratus tahanan. Kolonel itu datang setiap malam untuk menghadiri KKR . Dia adalah orang percaya yang baik. Pada malam-malam tertentu dia akan membawa para tahanan bersama dengan pengawal mereka ke kebaktian itu. Mereka mendengar Injil diberitakan dan setelah itu mereka akan kembali lagi ke penjara.

Pada suatu hari dia mengundang saya datang ke rumahnya untuk bersantai selama beberapa jam. Saya bermain tenis di lapangan tenis penjara dan kemudian makan malam serta bersekutu bersama-sama di rumahnya. Setelah bermain tenis, kami masuk ke kantornya untuk berbicara mengenai para tahanan.

Dia bertanya kepada saya apakah saya mau melihat tiang gantungan tempat mereka menggantung para penjahat dan pembunuh. Saya belum pernah melihat tiang gantungan sebelumnya, dan walaupun tiang itu tidak enak dilihat, saya merasa sangat tertarik untuk melihatnya. “Ya,” kata saya, “ijinkan saya melihatnya.”

Setelah kami minum kopi, kami pergi melihat tiang gantungan tersebut. Ruangan tempat hukuman gantung itu sangat mengerikan dan apa yang saya lihat di dalamnya sangat menakutkan. Saya melihat tali yang biasa dipakai untuk menggantung orang. Saya melihat tempat lantai gantungan dimana sepotong kayu penopang akan diangkat dan orang yang digantung itu akan tergantung di udara. Sungguh suatu pemandangan yang memilukan walau hanya dengan melihat peralatannya saja.

Saya mengajukan pertanyaan kepada sang kolonel, “Bagaimana anda menghukum mereka? Apa yang anda lakukan sebelum anda menggantung orang?” Lalu dia membawa saya keluar dari ruangan itu dan memperlihatkan kepada saya. Ada suatu sudut tempat dia sebagai kepala penjara akan berdiri. Di hadapannya akan dibawa penjahat yang dituduh. Dia akan menyatakan bahwa kasus pengadilan telah ditutup dan telah ada perintah yang mengatakan bahwa penjahat ini dinyatakan bersalah dan harus dihukum gantung. Kolonel itu berkata, “Saya yang mengumumkan hukumannya, kemudian kami akan membungkus kepalanya dengan kantong hitam agar matanya tertutup. Kami membawanya ke tiang gantungan, membelitkan tali ke lehernya dan kemudian menggantungnya.”

Saya berdiri di tempat penjahat itu biasa berdiri. Titik dimana si pembunuh, orang yang divonis hukuman gantung itu berdiri. Kemudian saya berkata kepada komandan yang hebat ini. “Oh, kolonel yang hebat, maukah anda mengumumkan penghukuman atas diri saya?” Dia menyahut, “Tidak, tidak. Anda pasti bergurau.” Saya berkata, “Saya hanya ingin mendengarkannya, tolong. Katakanlah. Ulangi kata-kata yang biasa anda ucapkan ketika seseorang mau digantung.” Sang kolonel terlihat agak kaget dan kemudian berkata, “Mengapa anda menginginkan hal itu?” Saya berkata, “Tolong lakukan saja!” Saat saya berdiri di tempat itu, sang komandan mulai menjatuhkan penghakiman atas diri saya. Ketika dia selesai berbicara, saya berkata, “Tidak ada penghukuman yang dijatuhkan kepada orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus! Haleluya!”

Kita semua seharusnya dihukum mati. Tetapi sang Pembebas yang perkasa, Juruselamat yang hebat, sang Penebus yang luar biasa telah tiba. Dia tergantung di kayu salib menggantikan tempat kita. Dia disalibkan bagi kita dan sekarang oleh karena kita adalah orang-orang percaya di dalam Kristus, kita telah dilepaskan dari hukuman. Kita tidak akan binasa, tetapi akan hidup selama-lamanya karena Tuhan Yesus telah mati satu kali dan untuk selama-lamanya. Haleluya!

Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan untuk kolonel itu adalah, “Apakah dalam waktu dekat ini ada orang yang akan dihukum gantung?” Dia menjawab, “Ya, ada tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Saya sedang menunggu perintah dari pengadilan di Kairo.” Saya berkata, “Apakah anda menggantung wanita juga?” Dia berkata, “Tentu saja, walaupun sudah lama kami tidak melakukannya.” Kemudian saya bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh penjahat-penjahat itu?” Saya mendengar berbagai cerita kejahatan yang mengerikan. “Bolehkah saya melihat wanita-wanita itu dalam sel mereka?” tanya saya. Kemudian dia membawa saya ke bagian penjara khusus untuk wanita.

Saya mendekati salah satu pintu kemudian mereka membuka jendela kecilnya. Saya memperhatikan ke dalam dan melihat wanita yang pertama. Para penjaga mengatakan bahwa wanita itu telah berumur 54 tahun. Dia kelihatan seperti seorang nenek sihir yang mengerikan. Dia telah membunuh suaminya dengan kapak saat suaminya sedang tidur di padang, hanya karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Wanita tua ini menjadi sangat marah sehingga dia membunuh suaminya. Setiap saat jika perintah datang, wanita itu akan dihukum gantung.”


Saya melihat ke kamar yang lain dan di dalam kamar itu ada seorang wanita yang berumur 23 tahun. Pada saat dia melihat saya melalui jendela kecil itu, dia mulai menangis dan berteriak, “Tolong saya, tolong saya!” Tiba-tiba saya tidak bisa melihatnya lagi. Rasanya saya ingin menangis.

“Apa yang telah dilakukannya?”
“Dia telah membunuh seorang anak perempuan kecil berusia 12 tahun, kemudian mencuri anting-anting anak perempuan itu untuk membeli opium (hashish) bagi suaminya.”
“Kalau begitu dia sudah menikah!”
“Oh, ya! Dan dia sudah mempunyai 3 orang anak.”

Kisah itu adalah kisah yang sangat menyedihkan. Saya tidak bisa mendengarkannya lebih lanjut lagi.

Ketika saya kembali ke rumah kolonel saya tidak dapat memikirkan hal lain. Semua yang saya lihat di hadapan saya adalah wajah ibu muda berusia 23 tahun yang sedang menangis, “Tolong saya, tolong saya!” Apa yang dapat saya lakukan?

Para penjaga penjara mengantar saya kembali ke rumah dimana saya tingal di kota Assyut. Saya sudah bersiap-siap untuk tidur sore agar saya siap mengadakan kebaktian nanti malam. Saya berlutut untuk berdoa, tetapi saya masih tetap melihat wajah wanita muda tadi dan saya mendengar teriakannya, “Tolong saya, tolong saya!” Kemudian saya mulai berdoa, “Tuhan, adakah yang dapat saya lakukan?” Hanya itu saja yang bisa saya katakan dan tiba-tiba kamar saya dipenuhi dengan hadirat Tuhan. Dengan mata saya sendiri, saya dapat melihat dengan jelas seorang malaikat Tuhan berdiri di hadapan saya. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI