Kehidupan saya dahulu bukan hanya seorang yang
sombong tapi saya juga seorang yang suka mempermainkan hati wanita. Berpacaran
dengan dua atau tiga wanita sekaligus pada saat atau waktu bersamaan sudah
biasa bagi saya.
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Showing posts with label Bersama Tuhan - Walking With God. Show all posts
Showing posts with label Bersama Tuhan - Walking With God. Show all posts
Friday, February 14, 2014
Thursday, June 4, 2009
Fabulous Article Written by 8 Year Old Boy
LUAR BIASA!
Artikel ini ditulis oleh seorang bocah berusia delapan tahun, bernama Danny Dutton, yang tinggal di Chula Vista, California. Dia menulis karangan ini sebagai tugas PR kelas tiga SD, untuk menjelaskan siapa Tuhan. Saya ragu apakah ada di antara kita yang dapat menulis sebagus anak ini.
PENJELASAN TENTANG TUHAN
Salah satu tugas utama Tuhan adalah membuat manusia. Dia membuat manusia untuk menggantikan manusia yang mati, sehingga di bumi ini selalu tersedia cukup manusia untuk merawat segala sesuatu di bumi. Dia tidak membuat orang-orang dewasa, hanya membuat bayi-bayi. Aku pikir karena bayi-bayi itu lebih kecil dan lebih mudah dibuat. Dengan begitu Dia tidak perlu menghabiskan waktunya yang sangat berharga untuk mengajar bayi-bayi itu untuk berbicara dan berjalan. Dia tinggal menugaskan hal itu kepada para bapak dan ibu saja.
Tugas Tuhan nomor dua yang penting adalah mendengar doa-doa. Tugas yang mengerikan ini terus berlangsung karena beberapa orang, seperti para pengkhotbah atau yang lain, berdoa bukan hanya pada waktu hendak tidur saja. Oleh karena itu, Tuhan tidak sempat mendengarkan radio atau menonton TV karena kesibukan ini. Karena Dia mendengar segala hal, pasti berisik sekali di telinga-Nya, kecuali Dia menemukan jalan untuk menyetopnya.
Tuhan melihat segala sesuatu dan mendengar segala sesuatu dan ada dimana-mana sehingga hal ini membuat Dia sangat sibuk. Oleh karena itu Anda jangan menghabiskan waktu-Nya dengan meminta sesuatu kepada ayah dan ibumu yang mereka tak bisa penuhi.
Ateis adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Aku pikir tidak ada orang ateis di Chula Vista. Paling tidak, tak ada seorang ateis yang datang ke gereja kami.
Yesus adalah Anak Allah. Ia biasa mengerjakan semua pekerjaan yang sulit, seperti berjalan di atas air dan mengadakan mukjizat-mukjizat dan mencoba mengajar orang-orang yang tidak mau belajar tentang Allah. Akhirnya mereka bosan mendengar Dia berkhotbah kepada mereka dan mereka menyalibkan Dia. Tetapi Dia baik dan penuh kasih, seperti Bapa-Nya, dan Dia mengatakan kepada Bapa-Nya bahwa orang-orang itu tidak tahu apa yang mereka perbuat dan meminta Bapa mengampuni mereka dan Allah berkata : OK!.
Bapa-Nya (Allah) menghargai segala hal yang telah Yesus lakukan dan semua pekerjaan sulit yang telah dikerjakan di bumi sehingga Bapa memberi tahu Yesus agar tidak pergi ke jalan-jalan lagi. Yesus boleh tinggal di sorga. Begitulah Dia sekarang ada di sana. Dan sekarang Yesus menolong Bapa-Nya dengan mendengarkan doa-doa dan memilih perkara-perkara yang penting bagi Allah untuk diurus dan memilih apa yang dapat dikerjakan sendiri tanpa mengganggu Bapa. Yesus itu seperti sekretaris, tetapi lebih penting.
Anda dapat berdoa kapan saja Anda mau dan Mereka pasti menolongmu karena Mereka sudah mengaturnya sehingga salah satu pasti sedang bertugas pada setiap waktu.
Anda harus selalu datang ke gereja setiap hari Minggu karena hal itu membuat Tuhan senang, dan jika ada orang yang perlu Anda buat senang, itulah Tuhan!
Jangan bolos ke gereja untuk melakukan suatu hal yang Anda pikir lebih menyenangkan, seperti pergi ke pantai. Itu keliru. Dan selain itu, matahari tidak akan cukup terang sebelum siang hari.
Jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, selain menjadi seorang ateis, anda akan sangat kesepian, karena orang tuamu tidak dapat pergi kemana-mana bersamamu, seperti pergi kemping, tetapi Tuhan dapat pergi bersamamu. Sangatlah menyenangkan ketika kita tahu bahwa Tuhan ada dekatmu ketika Anda ketakutan, dalam kegelapan atau ketika Anda tidak dapat berenang tetapi dilemparkan oleh anak-anak gede ke kolam yang dalam.
Tapi, Anda jangan hanya selalu memikirkan apa yang dapat Tuhan kerjakan bagimu. Aku kira Tuhan telah menempatkan aku disini dan Dia dapat mengambilku kapan saja Dia mau. Dan, itulah sebabnya aku percaya kepada Tuhan. Email dari Ibu Shirley Kristamuljana, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 4 Juni 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.
****
It was written by an 8-year-old named Danny Dutton, who lives in Chula Vista, CA. He wrote it for his third grade homework assignment, to 'explain God.' I wonder if any of us could have done as well? [ ..... and he had such an assignment, in California , and someone published it, I guess miracles do happen ! ... ]
EXPLANATION OF GOD
'One of God's main jobs is making people. He makes them to replace the ones that die, so there will be enough people to take care of things on earth. He doesn't make grownups, just babies. I think because they are smaller and easier to make. That way he doesn't have to take up his valuable time teaching them to talk and walk. He can just leave that to mothers and fathers.'
'God's second most important job is listening to prayers. An awful lot of this goes on, since some people, like preachers and things, pray at times beside bedtime. God doesn't have time to listen to the radio or TV because of this. Because He
hears everything, there must be a terrible lot of noise in his ears, unless he has thought of a way to turn it off.'
'God sees everything and hears everything and is everywhere which keeps Him pretty busy. So you shouldn't go wasting his time by going over your mom and dad's head asking for something they said you couldn't have.'
'Atheists are people who don't believe in God. I don't think there are any in Chula Vista. At least there aren't any who come to our church.'
'Jesus is God's Son. He used to do all the hard work, like walking on water and performing miracles and trying to teach the people who didn't want to learn about God. They finally got tired of him preaching to them and they crucified him But he was good and kind, like his father, and he told his father that they didn't know what they were doing and to forgive them and God said O.K.'
'His dad (God) appreciated everything that he had done and all his hard work on earth so he told him he didn't have to go out on the road anymore. He could stay in heaven. So he did. And now he helps his dad out by listening to prayers and seeing things which are important for God to take care of and which ones he can take care of himself without having to bother God. Like a secretary, only more important.'
'You can pray anytime you want and they are sure to help you because they got it worked out so one of them is on duty all the time.'
'You should always go to church on Sunday because it makes God happy, and if there's anybody you want to make happy, it's God!
Don't skip church to do something you think will be more fun like going to the beach. This is wrong. And besides the sun doesn't come out at the beach until noon anyway.'
'If you don't believe in God, besides being an atheist, you will be very lonely, because your parents can't go everywhere with you, like to camp, but God can. It is good to know He's around you when you're scared, in the dark or when you can't swim and you get thrown into real deep water by big kids.'
'But...you shouldn't just always think of what God can do for you. I figure God put me here and he can take me back anytime he pleases. And...that's why I believe in God.'
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Artikel ini ditulis oleh seorang bocah berusia delapan tahun, bernama Danny Dutton, yang tinggal di Chula Vista, California. Dia menulis karangan ini sebagai tugas PR kelas tiga SD, untuk menjelaskan siapa Tuhan. Saya ragu apakah ada di antara kita yang dapat menulis sebagus anak ini.
PENJELASAN TENTANG TUHAN
Salah satu tugas utama Tuhan adalah membuat manusia. Dia membuat manusia untuk menggantikan manusia yang mati, sehingga di bumi ini selalu tersedia cukup manusia untuk merawat segala sesuatu di bumi. Dia tidak membuat orang-orang dewasa, hanya membuat bayi-bayi. Aku pikir karena bayi-bayi itu lebih kecil dan lebih mudah dibuat. Dengan begitu Dia tidak perlu menghabiskan waktunya yang sangat berharga untuk mengajar bayi-bayi itu untuk berbicara dan berjalan. Dia tinggal menugaskan hal itu kepada para bapak dan ibu saja.
Tugas Tuhan nomor dua yang penting adalah mendengar doa-doa. Tugas yang mengerikan ini terus berlangsung karena beberapa orang, seperti para pengkhotbah atau yang lain, berdoa bukan hanya pada waktu hendak tidur saja. Oleh karena itu, Tuhan tidak sempat mendengarkan radio atau menonton TV karena kesibukan ini. Karena Dia mendengar segala hal, pasti berisik sekali di telinga-Nya, kecuali Dia menemukan jalan untuk menyetopnya.
Tuhan melihat segala sesuatu dan mendengar segala sesuatu dan ada dimana-mana sehingga hal ini membuat Dia sangat sibuk. Oleh karena itu Anda jangan menghabiskan waktu-Nya dengan meminta sesuatu kepada ayah dan ibumu yang mereka tak bisa penuhi.
Ateis adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Aku pikir tidak ada orang ateis di Chula Vista. Paling tidak, tak ada seorang ateis yang datang ke gereja kami.
Yesus adalah Anak Allah. Ia biasa mengerjakan semua pekerjaan yang sulit, seperti berjalan di atas air dan mengadakan mukjizat-mukjizat dan mencoba mengajar orang-orang yang tidak mau belajar tentang Allah. Akhirnya mereka bosan mendengar Dia berkhotbah kepada mereka dan mereka menyalibkan Dia. Tetapi Dia baik dan penuh kasih, seperti Bapa-Nya, dan Dia mengatakan kepada Bapa-Nya bahwa orang-orang itu tidak tahu apa yang mereka perbuat dan meminta Bapa mengampuni mereka dan Allah berkata : OK!.
Bapa-Nya (Allah) menghargai segala hal yang telah Yesus lakukan dan semua pekerjaan sulit yang telah dikerjakan di bumi sehingga Bapa memberi tahu Yesus agar tidak pergi ke jalan-jalan lagi. Yesus boleh tinggal di sorga. Begitulah Dia sekarang ada di sana. Dan sekarang Yesus menolong Bapa-Nya dengan mendengarkan doa-doa dan memilih perkara-perkara yang penting bagi Allah untuk diurus dan memilih apa yang dapat dikerjakan sendiri tanpa mengganggu Bapa. Yesus itu seperti sekretaris, tetapi lebih penting.
Anda dapat berdoa kapan saja Anda mau dan Mereka pasti menolongmu karena Mereka sudah mengaturnya sehingga salah satu pasti sedang bertugas pada setiap waktu.
Anda harus selalu datang ke gereja setiap hari Minggu karena hal itu membuat Tuhan senang, dan jika ada orang yang perlu Anda buat senang, itulah Tuhan!
Jangan bolos ke gereja untuk melakukan suatu hal yang Anda pikir lebih menyenangkan, seperti pergi ke pantai. Itu keliru. Dan selain itu, matahari tidak akan cukup terang sebelum siang hari.
Jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, selain menjadi seorang ateis, anda akan sangat kesepian, karena orang tuamu tidak dapat pergi kemana-mana bersamamu, seperti pergi kemping, tetapi Tuhan dapat pergi bersamamu. Sangatlah menyenangkan ketika kita tahu bahwa Tuhan ada dekatmu ketika Anda ketakutan, dalam kegelapan atau ketika Anda tidak dapat berenang tetapi dilemparkan oleh anak-anak gede ke kolam yang dalam.
Tapi, Anda jangan hanya selalu memikirkan apa yang dapat Tuhan kerjakan bagimu. Aku kira Tuhan telah menempatkan aku disini dan Dia dapat mengambilku kapan saja Dia mau. Dan, itulah sebabnya aku percaya kepada Tuhan. Email dari Ibu Shirley Kristamuljana, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 4 Juni 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.
****
It was written by an 8-year-old named Danny Dutton, who lives in Chula Vista, CA. He wrote it for his third grade homework assignment, to 'explain God.' I wonder if any of us could have done as well? [ ..... and he had such an assignment, in California , and someone published it, I guess miracles do happen ! ... ]
EXPLANATION OF GOD
'One of God's main jobs is making people. He makes them to replace the ones that die, so there will be enough people to take care of things on earth. He doesn't make grownups, just babies. I think because they are smaller and easier to make. That way he doesn't have to take up his valuable time teaching them to talk and walk. He can just leave that to mothers and fathers.'
'God's second most important job is listening to prayers. An awful lot of this goes on, since some people, like preachers and things, pray at times beside bedtime. God doesn't have time to listen to the radio or TV because of this. Because He
hears everything, there must be a terrible lot of noise in his ears, unless he has thought of a way to turn it off.'
'God sees everything and hears everything and is everywhere which keeps Him pretty busy. So you shouldn't go wasting his time by going over your mom and dad's head asking for something they said you couldn't have.'
'Atheists are people who don't believe in God. I don't think there are any in Chula Vista. At least there aren't any who come to our church.'
'Jesus is God's Son. He used to do all the hard work, like walking on water and performing miracles and trying to teach the people who didn't want to learn about God. They finally got tired of him preaching to them and they crucified him But he was good and kind, like his father, and he told his father that they didn't know what they were doing and to forgive them and God said O.K.'
'His dad (God) appreciated everything that he had done and all his hard work on earth so he told him he didn't have to go out on the road anymore. He could stay in heaven. So he did. And now he helps his dad out by listening to prayers and seeing things which are important for God to take care of and which ones he can take care of himself without having to bother God. Like a secretary, only more important.'
'You can pray anytime you want and they are sure to help you because they got it worked out so one of them is on duty all the time.'
'You should always go to church on Sunday because it makes God happy, and if there's anybody you want to make happy, it's God!
Don't skip church to do something you think will be more fun like going to the beach. This is wrong. And besides the sun doesn't come out at the beach until noon anyway.'
'If you don't believe in God, besides being an atheist, you will be very lonely, because your parents can't go everywhere with you, like to camp, but God can. It is good to know He's around you when you're scared, in the dark or when you can't swim and you get thrown into real deep water by big kids.'
'But...you shouldn't just always think of what God can do for you. I figure God put me here and he can take me back anytime he pleases. And...that's why I believe in God.'
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, December 12, 2008
The Cross
BEBAN BERAT
"Mengapa bebanku berat sekali?" aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersandar. "Tidak adakah istirahat dari hal ini?" Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal. "Ya Tuhan," aku menangis, "biarkan aku tidur. Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!"
Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan. Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku. Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.
"Anakku," Pria itu bertanya, "mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?"
"Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena... aku tidak bisa melanjutkannya. Kau lihat betapa berat hidupku? Lihat salib berat di punggungku! Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi."
"Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu? Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
"Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa salibku begitu berat?"
"Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?"
"Aku bisa melakukan hal itu?"
Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. "Kau bisa mencoba semua ini..."
Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya.
"Itu punya Joan," kataku. Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus. Kadang kala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak. "Umm, aku coba punya Joan." Sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul? pikirku.
Tuhan melepaskan salibku dan meletakkan salib Joan di pundakku. Aku langsung terjatuh seketika. "Lepaskan beban ini!" teriakku. "Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?"
"Lihat ke dalamnya."
Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, "Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu. Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku..."
Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang gagal itu. Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba, telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.
"Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya..."
"Apakah kau ingin mencoba yang lain?" tanya Tuhan dengan pelan.
Aku mencoba beberapa. Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia memelihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami. Salib Debra juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan. Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.
"Beban mereka semua sangat berat, Tuhan" kataku. "Kembalikan bebanku."
Ketika aku mulai memasang salibku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain. "Mari kita lihat ke dalamnya," Tuhan berkata.
Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat. "Itu bukan ide yang baik," jawabku,
"Mengapa?"
"Karena banyak sampah di dalamnya."
"Biar Aku lihat"
Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku.
Ia mengambil satu buah batu bata dari dalam bebanku. "Katakan kepada-Ku mengenai hal ini."
"Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini. Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter gigi.. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian bekas."
"Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu.... dan semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah tidak membuat seorang berharga di mata-Ku."
Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak laki-laki. "Dan yang ini?" tanya Tuhan..
"Andrew..." aku menundukkan kepala, merasa malu untuk menyebut anakku sebagai sebuah beban.
"Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku benar-benar menyakitinya..."
"Anak-Ku," Tuhan berkata. "jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau kesabaran."
Kemudian Ia mengambil beberapa kerikil dari salibku.
"Ya, Tuhan.." aku berkata sambil menarik nafas panjang.
"Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis, dan aku tidak bis membuatnya kelihatan bagus. Aku tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua pakaianku. Aku benci penampilanku!"
"Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu. Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar. Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu, kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan waktu.
Itulah yang berharga di mata-Ku."
Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari sebelumnya. "Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang," kataku.
"Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang terakhir." kata Tuhan.
"Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa mengatasinya."
"Anak-Ku, berikan kepada-Ku." Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat luka-Nya.
"Tetapi Tuhan, bebanku ini kotor dan mengerikan, jadi Tuhan....bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh dengan luka!"
Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat wajah-Nya untuk pertama kalinya. Dan pada dahi-Nya, kulihat luka yang sangat dalam... tampaknya seseorang telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke daging-Nya.
"Tuhan," aku berbisik. "Apa yang terjadi dengan Engkau?"
Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku.
"Anak-Ku, kau tahu itu. Berikan kepadaku bebanmu. Itu adalah milik-Ku. Aku telah membelinya."
"Bagaimana?"
"Dengan darah-Ku"
"Tetapi kenapa Tuhan?"
"Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang tak akan punah dengan waktu. Berikan kepada-Ku."
Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu ke tanganNya yang terluka. Beban itu penuh dengan kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan, egoisme, dan depresi yang terus-menerus menyiksaku. Kemudian Ia mengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu ke kolam yang berisi dengan darah-Nya yang kudus. Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa besarnya.
"Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah, panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang."
"Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu."
Aku mengambil kembali salibku.
"Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau. Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan orang-orang yang telah meninggalkannya di kaki-Ku, yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth... Ketika kau meninggalkan beban-Mu di sini, aku akan menggendongnya bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai menghilang. Namun, masih kudengar suara-Nya berbisik, "Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu."
Saat itu, aku merasakan damai sekali di hatiku. (Sumber: Email dari Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Note:
Terima kasih banyak atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Sihotang di Tebet. Buku akan segera dikirim dengan pos kilat khusus pada hari Senin pagi. God bless you!
"Mengapa bebanku berat sekali?" aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersandar. "Tidak adakah istirahat dari hal ini?" Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal. "Ya Tuhan," aku menangis, "biarkan aku tidur. Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!"
Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan. Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku. Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.
"Anakku," Pria itu bertanya, "mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?"
"Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena... aku tidak bisa melanjutkannya. Kau lihat betapa berat hidupku? Lihat salib berat di punggungku! Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi."
"Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu? Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
"Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa salibku begitu berat?"
"Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?"
"Aku bisa melakukan hal itu?"
Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. "Kau bisa mencoba semua ini..."
Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya.
"Itu punya Joan," kataku. Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus. Kadang kala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak. "Umm, aku coba punya Joan." Sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul? pikirku.
Tuhan melepaskan salibku dan meletakkan salib Joan di pundakku. Aku langsung terjatuh seketika. "Lepaskan beban ini!" teriakku. "Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?"
"Lihat ke dalamnya."
Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, "Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu. Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku..."
Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang gagal itu. Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba, telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.
"Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya..."
"Apakah kau ingin mencoba yang lain?" tanya Tuhan dengan pelan.
Aku mencoba beberapa. Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia memelihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami. Salib Debra juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan. Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.
"Beban mereka semua sangat berat, Tuhan" kataku. "Kembalikan bebanku."
Ketika aku mulai memasang salibku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain. "Mari kita lihat ke dalamnya," Tuhan berkata.
Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat. "Itu bukan ide yang baik," jawabku,
"Mengapa?"
"Karena banyak sampah di dalamnya."
"Biar Aku lihat"
Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku.
Ia mengambil satu buah batu bata dari dalam bebanku. "Katakan kepada-Ku mengenai hal ini."
"Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini. Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter gigi.. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian bekas."
"Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu.... dan semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah tidak membuat seorang berharga di mata-Ku."
Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak laki-laki. "Dan yang ini?" tanya Tuhan..
"Andrew..." aku menundukkan kepala, merasa malu untuk menyebut anakku sebagai sebuah beban.
"Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku benar-benar menyakitinya..."
"Anak-Ku," Tuhan berkata. "jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau kesabaran."
Kemudian Ia mengambil beberapa kerikil dari salibku.
"Ya, Tuhan.." aku berkata sambil menarik nafas panjang.
"Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis, dan aku tidak bis membuatnya kelihatan bagus. Aku tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua pakaianku. Aku benci penampilanku!"
"Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu. Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar. Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu, kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan waktu.
Itulah yang berharga di mata-Ku."
Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari sebelumnya. "Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang," kataku.
"Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang terakhir." kata Tuhan.
"Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa mengatasinya."
"Anak-Ku, berikan kepada-Ku." Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat luka-Nya.
"Tetapi Tuhan, bebanku ini kotor dan mengerikan, jadi Tuhan....bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh dengan luka!"
Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat wajah-Nya untuk pertama kalinya. Dan pada dahi-Nya, kulihat luka yang sangat dalam... tampaknya seseorang telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke daging-Nya.
"Tuhan," aku berbisik. "Apa yang terjadi dengan Engkau?"
Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku.
"Anak-Ku, kau tahu itu. Berikan kepadaku bebanmu. Itu adalah milik-Ku. Aku telah membelinya."
"Bagaimana?"
"Dengan darah-Ku"
"Tetapi kenapa Tuhan?"
"Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang tak akan punah dengan waktu. Berikan kepada-Ku."
Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu ke tanganNya yang terluka. Beban itu penuh dengan kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan, egoisme, dan depresi yang terus-menerus menyiksaku. Kemudian Ia mengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu ke kolam yang berisi dengan darah-Nya yang kudus. Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa besarnya.
"Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah, panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang."
"Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu."
Aku mengambil kembali salibku.
"Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau. Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan orang-orang yang telah meninggalkannya di kaki-Ku, yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth... Ketika kau meninggalkan beban-Mu di sini, aku akan menggendongnya bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."
Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai menghilang. Namun, masih kudengar suara-Nya berbisik, "Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu."
Saat itu, aku merasakan damai sekali di hatiku. (Sumber: Email dari Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Note:
Terima kasih banyak atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Sihotang di Tebet. Buku akan segera dikirim dengan pos kilat khusus pada hari Senin pagi. God bless you!
Friday, November 21, 2008
My Boat of Salvation
Berikut ini ada naskah lama yang masih dapat memberkati kita:
Aku duduk sambil menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Aku melihat Tuhan Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata, "Lepaskanlah tambatan perahumu dan biarkan Aku membawamu ke seberang. Bukanlah rencana-Ku agar engkau tetap berlabuh di sini." Dengan takut, gelisah dan kuatir aku menjawab-Nya, "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap di sini? Di sini aku tak melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau."
Dengan lembut Tuhan Yesus memegang tanganku, menatapku, dan berkata, "Memang di sini engkau tidak akan mengalami topan, badai, dan angin ribut. Tetapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semuanya itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu karena Akulah Tuhan." Di dalam pergumulan berat aku melihat ada rasa kuatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dan banyak kekuatiran lainnya. Di dalam hati aku bertanya, "Tahukah Ia mengenai apa yang aku inginkan?" Tuhan Yesus memelukku dan berbisik lembut, "Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang engkau inginkan dan rindukan. Bahkan mungkin engkau mendapatkan sebaliknya. Tetapi maukah engkau percaya bahwa rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera? Masa depanmu akan menjadi masa depan yang penuh harapan."
Ia memelukku dan menangis bersamaku. Dengan berat hati aku melepaskan tali perahuku. Aku melepaskan semua rasa kuatir tersebut dari hatiku. Aku meletakkan masa depanku di tangan-Nya. Sambil menangis aku menatap-Nya dan berkata, "Jadilah Nakhoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar!" (Sumber: Renungan Populer Sepanjang Masa)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Aku duduk sambil menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Aku melihat Tuhan Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata, "Lepaskanlah tambatan perahumu dan biarkan Aku membawamu ke seberang. Bukanlah rencana-Ku agar engkau tetap berlabuh di sini." Dengan takut, gelisah dan kuatir aku menjawab-Nya, "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap di sini? Di sini aku tak melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau."
Dengan lembut Tuhan Yesus memegang tanganku, menatapku, dan berkata, "Memang di sini engkau tidak akan mengalami topan, badai, dan angin ribut. Tetapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semuanya itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu karena Akulah Tuhan." Di dalam pergumulan berat aku melihat ada rasa kuatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dan banyak kekuatiran lainnya. Di dalam hati aku bertanya, "Tahukah Ia mengenai apa yang aku inginkan?" Tuhan Yesus memelukku dan berbisik lembut, "Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang engkau inginkan dan rindukan. Bahkan mungkin engkau mendapatkan sebaliknya. Tetapi maukah engkau percaya bahwa rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera? Masa depanmu akan menjadi masa depan yang penuh harapan."
Ia memelukku dan menangis bersamaku. Dengan berat hati aku melepaskan tali perahuku. Aku melepaskan semua rasa kuatir tersebut dari hatiku. Aku meletakkan masa depanku di tangan-Nya. Sambil menangis aku menatap-Nya dan berkata, "Jadilah Nakhoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar!" (Sumber: Renungan Populer Sepanjang Masa)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, November 4, 2008
Working Under God's Grace
Saya adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara. Walaupun hidup dalam keadaan serba terbatas, saya tetap antusias melakukan firman Tuhan. Selain itu saya tetap bekerja mencukupi kehidupan saya dengan berjualan es secara berkeliling di sekitar daerah Gunung Sahari IX, Pademangan, Ancol serta Sunter. Setiap hari saya bersepeda di bawah terik matahari untuk berjualan, karena firman Tuhan berkata, "Kalau kita tidak bekerja, jangan kita makan."
Banyak hal yang Tuhan lakukan dalam hidup saya sehingga menjadi pengalaman yang indah selama berjualan. Setiap hari es yang saya jual selalu laku sehingga membuat teman-teman saya yang sama-sama berjualan es merasa iri terhadap saya. Hal ini membuat saya sadar bahwa firman Tuhan yang telah saya baca dan saya lakukan membuat hidup saya diberkati Tuhan. Saya hanya melakukan bagian saya dan Tuhan melakukan bagian-Nya. (Kesaksian Heru, pedagang es keliling, seperti dimuat dalam Abba News 25-26 Oktober 2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Banyak hal yang Tuhan lakukan dalam hidup saya sehingga menjadi pengalaman yang indah selama berjualan. Setiap hari es yang saya jual selalu laku sehingga membuat teman-teman saya yang sama-sama berjualan es merasa iri terhadap saya. Hal ini membuat saya sadar bahwa firman Tuhan yang telah saya baca dan saya lakukan membuat hidup saya diberkati Tuhan. Saya hanya melakukan bagian saya dan Tuhan melakukan bagian-Nya. (Kesaksian Heru, pedagang es keliling, seperti dimuat dalam Abba News 25-26 Oktober 2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, October 24, 2008
Blessed Corporately and Personally
Inilah kesaksian dari Bapak Pdt. Hanny Andries, Gembala GBI Batam, tentang perkembangan jemaat di sana, yang bersumber dari majalah HM3, edisi Oktober 2008. Dia melayani gereja itu sejak tahun 1996, menggantikan Pdt. Jimmy Mulya yang melayani di GBI Singapura. Pada waktu tahun 1996 itu jumlah jemaat masih terbilang dua ratus orang, lalu menjadi 2500 orang pada tahun 2000, dan pada tahun 2008 ini lebih dari 7500 orang, hanya di Batam saja, belum termasuk gereja-gereja lain yang dirintis di luar Batam, lebih dari 35 lokasi dengan 45 kali ibadah raya.
Pada tahun 1998, Bapak Pdt. Niko Njotorahardjo, sebagai gembala pembina, memberikan visi dan motivasi kepada jemaat Batam untuk membangun menara doa untuk mengawal kota Batam dalam doa, pujian, dan penyembahan kepada Tuhan selama 24 jam. Maka pada tahun 1998 itu juga Pdt. Hanny Andries memulai menara doa itu hanya berempat, dirinya dan isterinya dan dua pendoa syafaat lain. Kini setiap bulan tidak kurang dari 2000 jemaat ambil bagian dalam menara doa sepanjang 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, secara bergantian.
Pada tahun 1998 beberapa pendoa syafaat dengan tuntunan Roh Kudus berdoa mengurapi tanah kosong yang masih berupa semak belukar di kawasan Batam Center. Pada bulan Agustus 1999, seorang pengembang properti dari Singapura menghibahkan tanah seluas 4.500 m2 tepat di lokasi yang pernah didoakan tersebut. Bagi mereka tanah itu sudah cukup luas, tetapi bagi Tuhan itu tidak cukup. Dua bulan kemudian Tuhan menggerakkan hati orang asing itu untuk mengubahnya menjadi 8.320 m2. Puji Tuhan!
Dalam mendapatkan IMB bagi bangunan gereja, ternyata campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Setelah menunggu berbulan-bulan melewati berbagai kesukaran, pada tanggal 6 Desember 2000 pihak gereja mendapat berita bahwa berkas-berkas permohonan IMB yang sudah mereka ajukan ternyata dinyatakan hilang dan mereka harus mengajukan ulang. Para pendoa syafaat kembali mengadakan peperangan rohani. Pada tanggal 20 Desember 2000 mereka kembali mengajukan berkas permohonan IMB gereja. Ajaib! Belum pernah terjadi dimanapun, dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 Desember 2000, IMB mereka peroleh, ditambah bonus: Surat Balik Nama Tanah. Allah kita memang luar biasa!
Dua hari setelah IMB didapatkan, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2000, di tengah ibadah raya Natal, jemaat mendapatkan 3 buah bom meledak, dua bom meledak di tengah-tengah jemaat. Puji Tuhan, ledakan bom yang menghancurkan dinding gedung, kursi, bahkan pakaian jemaat, namun tidak sanggup melukai seorangpun.
Tuhan mengubah rancangan iblis itu menjadi kemuliaan bagi Dia. Sejak peristiwa ledakan bom di malam Natal tersebut, pertumbuhan jemaat justru meningkat secara drastis, baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Cara hidup jemaat berubah, mereka jadi semakin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Ini terjadi karena Roh Allah yang bekerja.
Selain kasih karunia Tuhan dalam perkara-perkara di atas, Pdt. Hanny Andries juga mengakui betapa hanya Tuhan saja yang mencukupkan kebutuhan dana untuk pembangunan gedung gereja Tabgha yang megah itu. Dana milyaran rupiah yang diperlukan untuk pembangunan tidak pernah terpikirkan dapat terkumpul di jemaat Batam yang kebanyakan adalah para karyawan. Namun apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar telinga, itulah yang disediakan Tuhan.
Yang menarik, beberapa minggu lalu saya mendengar kesaksian Pdt. Hanny Andries tentang berkat-berkat dalam kehidupan pribadinya. Selama ini dia telah mencurahkan segala daya dan upayanya untuk bekerja sama dengan Tuhan membangun jemaat GBI Batam yang kini memiliki gedung gereja Tabgha yang bentuknya diilhami Roh Kudus untuk meniru bentuk Bait Salomo, dan juga merintis gereja-gereja lain di luar Batam.
Selama itu dia tidak memikirkan untuk hidup "mewah" bagi hamba Tuhan yang sederhana dan rendah hati itu. Salah satu contoh, dia merasa oke saja memakai kendaraan sejenis Kijang atau Panther sebagai kendaraan pribadinya, yang sering dipakai juga untuk menjemput hamba-hamba Tuhan internasional yang sudah terkenal namanya. Dia merasa "rohani" ketika bisa hidup sederhana seperti itu. Namun pada suatu saat ada seorang hamba Tuhan yang "menegur" pola hidupnya. "Tahu tidak, dengan cara itu, anda menghina Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja! Dia ingin anda mencerminkan kemuliaan dan kehormatan sebagai anak Raja!"
Sejak saat itu Pdt. Hanny mencari kehendak Tuhan, mencari konfirmasi, apakah dia layak mengingini mobil yang lebih baik dari sekedar Kijang lama atau Panther. Dia akhirnya memberanikan diri meminta mobil yang lebih baik. Dan ternyata Tuhan memberkati dia dengan mobil baru, sebuah Toyota Fortuner!
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Personal Note:
Buku "Mukjizat Kehidupan" pesanan Bpk. Sugi dari Jakarta Barat sudah dikirim dengan pos express pada hari Jumat ini. Terima kasih atas pesanannya. Gbu.
Pada tahun 1998, Bapak Pdt. Niko Njotorahardjo, sebagai gembala pembina, memberikan visi dan motivasi kepada jemaat Batam untuk membangun menara doa untuk mengawal kota Batam dalam doa, pujian, dan penyembahan kepada Tuhan selama 24 jam. Maka pada tahun 1998 itu juga Pdt. Hanny Andries memulai menara doa itu hanya berempat, dirinya dan isterinya dan dua pendoa syafaat lain. Kini setiap bulan tidak kurang dari 2000 jemaat ambil bagian dalam menara doa sepanjang 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, secara bergantian.
Pada tahun 1998 beberapa pendoa syafaat dengan tuntunan Roh Kudus berdoa mengurapi tanah kosong yang masih berupa semak belukar di kawasan Batam Center. Pada bulan Agustus 1999, seorang pengembang properti dari Singapura menghibahkan tanah seluas 4.500 m2 tepat di lokasi yang pernah didoakan tersebut. Bagi mereka tanah itu sudah cukup luas, tetapi bagi Tuhan itu tidak cukup. Dua bulan kemudian Tuhan menggerakkan hati orang asing itu untuk mengubahnya menjadi 8.320 m2. Puji Tuhan!
Dalam mendapatkan IMB bagi bangunan gereja, ternyata campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Setelah menunggu berbulan-bulan melewati berbagai kesukaran, pada tanggal 6 Desember 2000 pihak gereja mendapat berita bahwa berkas-berkas permohonan IMB yang sudah mereka ajukan ternyata dinyatakan hilang dan mereka harus mengajukan ulang. Para pendoa syafaat kembali mengadakan peperangan rohani. Pada tanggal 20 Desember 2000 mereka kembali mengajukan berkas permohonan IMB gereja. Ajaib! Belum pernah terjadi dimanapun, dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 Desember 2000, IMB mereka peroleh, ditambah bonus: Surat Balik Nama Tanah. Allah kita memang luar biasa!
Dua hari setelah IMB didapatkan, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2000, di tengah ibadah raya Natal, jemaat mendapatkan 3 buah bom meledak, dua bom meledak di tengah-tengah jemaat. Puji Tuhan, ledakan bom yang menghancurkan dinding gedung, kursi, bahkan pakaian jemaat, namun tidak sanggup melukai seorangpun.
Tuhan mengubah rancangan iblis itu menjadi kemuliaan bagi Dia. Sejak peristiwa ledakan bom di malam Natal tersebut, pertumbuhan jemaat justru meningkat secara drastis, baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Cara hidup jemaat berubah, mereka jadi semakin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Ini terjadi karena Roh Allah yang bekerja.
Selain kasih karunia Tuhan dalam perkara-perkara di atas, Pdt. Hanny Andries juga mengakui betapa hanya Tuhan saja yang mencukupkan kebutuhan dana untuk pembangunan gedung gereja Tabgha yang megah itu. Dana milyaran rupiah yang diperlukan untuk pembangunan tidak pernah terpikirkan dapat terkumpul di jemaat Batam yang kebanyakan adalah para karyawan. Namun apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar telinga, itulah yang disediakan Tuhan.
Yang menarik, beberapa minggu lalu saya mendengar kesaksian Pdt. Hanny Andries tentang berkat-berkat dalam kehidupan pribadinya. Selama ini dia telah mencurahkan segala daya dan upayanya untuk bekerja sama dengan Tuhan membangun jemaat GBI Batam yang kini memiliki gedung gereja Tabgha yang bentuknya diilhami Roh Kudus untuk meniru bentuk Bait Salomo, dan juga merintis gereja-gereja lain di luar Batam.
Selama itu dia tidak memikirkan untuk hidup "mewah" bagi hamba Tuhan yang sederhana dan rendah hati itu. Salah satu contoh, dia merasa oke saja memakai kendaraan sejenis Kijang atau Panther sebagai kendaraan pribadinya, yang sering dipakai juga untuk menjemput hamba-hamba Tuhan internasional yang sudah terkenal namanya. Dia merasa "rohani" ketika bisa hidup sederhana seperti itu. Namun pada suatu saat ada seorang hamba Tuhan yang "menegur" pola hidupnya. "Tahu tidak, dengan cara itu, anda menghina Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja! Dia ingin anda mencerminkan kemuliaan dan kehormatan sebagai anak Raja!"
Sejak saat itu Pdt. Hanny mencari kehendak Tuhan, mencari konfirmasi, apakah dia layak mengingini mobil yang lebih baik dari sekedar Kijang lama atau Panther. Dia akhirnya memberanikan diri meminta mobil yang lebih baik. Dan ternyata Tuhan memberkati dia dengan mobil baru, sebuah Toyota Fortuner!
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Personal Note:
Buku "Mukjizat Kehidupan" pesanan Bpk. Sugi dari Jakarta Barat sudah dikirim dengan pos express pada hari Jumat ini. Terima kasih atas pesanannya. Gbu.
Friday, October 17, 2008
A Message From Rick Warren
Rick Warren (REMEMBER HE WROTE 'PURPOSE DRIVEN LIFE')
You will enjoy the new insights that Rick Warren has, with his wife now having cancer and him having 'wealth' from the book sales. This is an absolutely incredible short interview with Rick Warren, 'Purpose Driven Life ' author and pastor of Saddleback Church in California.
In the interview by Paul Bradshaw with Rick Warren, Rick said:
People ask me, "What is the purpose of life?"
And I respond: In a nutshell, life is preparation for eternity. We were made to last forever, and God wants us to be with Him in Heaven. One day my heart is going to stop, and that will be the end of my body-- but not the end of me.
I may live 60 to 100 years on earth, but I am going to spend trillions of years in eternity. This is the warm-up act - the dress rehearsal. God wants us to practice on earth what we will do forever in eternity. We were made by God and for God, and until you figure that out, life isn't going to make sense.
Life is a series of problems: Either you are in one now, you're just coming out of one, or you're getting ready to go into another one. The reason for this is that God is more interested in your character than your comfort. God is more interested in making your life holy than He is in making your life happy. We can be reasonably happy here on earth, but that's not the goal of life. The goal is to grow in character, in Christ likeness.
This past year has been the greatest year of my life but also the toughest, with my wife, Kay, getting cancer. I used to think that life was hills and valleys - you go through a dark time, then you go to the mountaintop, back and forth. I don't believe that anymore. Rather than life being hills and valleys, I believe that it's kind of like two rails on a railroad track, and at all times you have something good and something bad in your life. No matter how good things are in your life, there is always something bad that needs to be worked on. And no matter how bad things are in your life, there is always something good you can thank God for.
You can focus on your purposes, or you can focus on your problems. If you focus on your problems, you're going into self-centeredness, 'which is my problem, my issues, my pain.' But one of the easiest ways to get rid of pain is to get your focus off yourself and onto God and others.
We discovered quickly that in spite of the prayers of hundreds of thousands of people, God was not going to heal Kay or make it easy for her. It has been very difficult for her, and yet God has strengthened her character, given her a ministry of helping other people, given her a testimony, drawn her closer to Him and to people.
You have to learn to deal with both the good and the bad of life. Actually, sometimes learning to deal with the good is harder. For instance, this past year, all of a sudden, when the book sold 15 million copies, it made me instantly very wealthy. It also brought a lot of notoriety that I had never had to deal wit h before. I don't think God gives you money or notoriety for your own ego or for you to live a life of ease.
So I began to ask God what He wanted me to do with this money, notoriety and influence. He gave me two different passages that helped me decide what to do, II Corinthians 9 and Psalm 72.
First, in spite of all the money coming in, we would not change our lifestyle one bit. We made no major purchases.
Second, about midway through last year, I stopped taking a salary from the church.
Third, we set up foundations to fund an initiative we call The Peace Plan to (P)lant churches, (E)quip leaders, (A)ssist the poor, (C)are for the sick, and (E)ducate the next generation.
Fourth, I added up all that the church had paid me in the 24 years since I started the church, and I gave it all back. It was liberating to be able to serve God for free.
We need to ask ourselves: Am I going to live for possessions? Popularity?
Am I going to be driven by pressures? Guilt? Bitterness? Materialism? Or am I going to be driven by God's purposes (for my life)?
When I get up in the morning, I sit on the side of my bed and say, God, if I don't get anything else done today, I want to know You more and love You better. God didn't put me on earth just to fulfill a to-do list. He's more interested in what I am than what I do. That's why we're called human beings, not human doings.
Happy moments, PRAISE GOD.
Difficult moments, SEEK GOD.
Quiet moments, WORSHIP GOD.
Painful moments, TRUST GOD.
Every moment, THANK GOD.
NOW. PLEASE SHARE THIS WITH YOUR FRIENDS
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
You will enjoy the new insights that Rick Warren has, with his wife now having cancer and him having 'wealth' from the book sales. This is an absolutely incredible short interview with Rick Warren, 'Purpose Driven Life ' author and pastor of Saddleback Church in California.
In the interview by Paul Bradshaw with Rick Warren, Rick said:
People ask me, "What is the purpose of life?"
And I respond: In a nutshell, life is preparation for eternity. We were made to last forever, and God wants us to be with Him in Heaven. One day my heart is going to stop, and that will be the end of my body-- but not the end of me.
I may live 60 to 100 years on earth, but I am going to spend trillions of years in eternity. This is the warm-up act - the dress rehearsal. God wants us to practice on earth what we will do forever in eternity. We were made by God and for God, and until you figure that out, life isn't going to make sense.
Life is a series of problems: Either you are in one now, you're just coming out of one, or you're getting ready to go into another one. The reason for this is that God is more interested in your character than your comfort. God is more interested in making your life holy than He is in making your life happy. We can be reasonably happy here on earth, but that's not the goal of life. The goal is to grow in character, in Christ likeness.
This past year has been the greatest year of my life but also the toughest, with my wife, Kay, getting cancer. I used to think that life was hills and valleys - you go through a dark time, then you go to the mountaintop, back and forth. I don't believe that anymore. Rather than life being hills and valleys, I believe that it's kind of like two rails on a railroad track, and at all times you have something good and something bad in your life. No matter how good things are in your life, there is always something bad that needs to be worked on. And no matter how bad things are in your life, there is always something good you can thank God for.
You can focus on your purposes, or you can focus on your problems. If you focus on your problems, you're going into self-centeredness, 'which is my problem, my issues, my pain.' But one of the easiest ways to get rid of pain is to get your focus off yourself and onto God and others.
We discovered quickly that in spite of the prayers of hundreds of thousands of people, God was not going to heal Kay or make it easy for her. It has been very difficult for her, and yet God has strengthened her character, given her a ministry of helping other people, given her a testimony, drawn her closer to Him and to people.
You have to learn to deal with both the good and the bad of life. Actually, sometimes learning to deal with the good is harder. For instance, this past year, all of a sudden, when the book sold 15 million copies, it made me instantly very wealthy. It also brought a lot of notoriety that I had never had to deal wit h before. I don't think God gives you money or notoriety for your own ego or for you to live a life of ease.
So I began to ask God what He wanted me to do with this money, notoriety and influence. He gave me two different passages that helped me decide what to do, II Corinthians 9 and Psalm 72.
First, in spite of all the money coming in, we would not change our lifestyle one bit. We made no major purchases.
Second, about midway through last year, I stopped taking a salary from the church.
Third, we set up foundations to fund an initiative we call The Peace Plan to (P)lant churches, (E)quip leaders, (A)ssist the poor, (C)are for the sick, and (E)ducate the next generation.
Fourth, I added up all that the church had paid me in the 24 years since I started the church, and I gave it all back. It was liberating to be able to serve God for free.
We need to ask ourselves: Am I going to live for possessions? Popularity?
Am I going to be driven by pressures? Guilt? Bitterness? Materialism? Or am I going to be driven by God's purposes (for my life)?
When I get up in the morning, I sit on the side of my bed and say, God, if I don't get anything else done today, I want to know You more and love You better. God didn't put me on earth just to fulfill a to-do list. He's more interested in what I am than what I do. That's why we're called human beings, not human doings.
Happy moments, PRAISE GOD.
Difficult moments, SEEK GOD.
Quiet moments, WORSHIP GOD.
Painful moments, TRUST GOD.
Every moment, THANK GOD.
NOW. PLEASE SHARE THIS WITH YOUR FRIENDS
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, October 7, 2008
Light in the Darkness
Salah satu tim pelayanan Mel Tari berjalan kaki dari kota SoE ke kampung Bena untuk memberitakan Injil. Matahari telah tenggelam di ufuk timur dan hari menjadi gelap sebelum mereka tiba di tempat yang akan dituju. Karena tak ada penerangan atau lampu senter atau obor, maka mereka berdoa kepada Tuhan, apakah mereka harus melanjutkan perjalanan atau tidur di dalam hutan menunggu hari terang keesokan harinya. Lalu Tuhan menyatakan bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan itu dan tidak boleh berhenti.
Yang menakjubkan, kemudian tampaklah sinar di depan mereka seperti obor yang menerangi jalan mereka. Sinar itu menuntun perjalanan mereka. Ketika sinar itu berbelok ke kiri, mereka ikut belok kiri. Ketika sinar itu mengarah ke kanan, mereka mengikuti ke kanan. Akhirnya merekapun tiba di tempat yang dituju dan dapat memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus Juruselamat umat manusia.
Itu adalah pengalaman bagaimana tuntunan Tuhan nyata atas hidup kita, apabila kita mau mencari kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan taat melakukan perintah-Nya. Haleluya! (Sumber: Buku "Like A Mighty Wind" karya Mel Tari- dikutip dari Abba News 30-31 Agustus 2008)
Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. (Yesaya 30:18-21)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Yang menakjubkan, kemudian tampaklah sinar di depan mereka seperti obor yang menerangi jalan mereka. Sinar itu menuntun perjalanan mereka. Ketika sinar itu berbelok ke kiri, mereka ikut belok kiri. Ketika sinar itu mengarah ke kanan, mereka mengikuti ke kanan. Akhirnya merekapun tiba di tempat yang dituju dan dapat memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus Juruselamat umat manusia.
Itu adalah pengalaman bagaimana tuntunan Tuhan nyata atas hidup kita, apabila kita mau mencari kehendak-Nya, mendengar suara-Nya, dan taat melakukan perintah-Nya. Haleluya! (Sumber: Buku "Like A Mighty Wind" karya Mel Tari- dikutip dari Abba News 30-31 Agustus 2008)
Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. (Yesaya 30:18-21)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sunday, September 28, 2008
A Story of A Shoe Salesman
Dwight L. Moody adalah seorang salesman sepatu yang berpendidikan rendah dan tidak pernah ditahbiskan gereja manapun, namun ia merasakan panggilan Bapa untuk mengabarkan Injil. Pada suatu pagi hari ia dan beberapa orang teman-temannya berkumpul di ladang untuk doa, pengakuan, dan pengabdian. Temannya, Henry Varley, berkata, “Dunia ini harus melihat apa yang Bapa dapat lakukan bersama seseorang, bagi seseorang, melalui seseorang, dan dalam diri seseorang, yang sepenuhnya dan seutuhnya dipersembahkan bagi Dia.” Moody sangat tersentuh oleh perkataan itu. Kemudian ia menghadiri sebuah pertemuan dimana Charles Spurgeon berkhotbah. Dalam pertemuan itu Moody mengingat kembali perkataan temannya, “Dunia harus melihat! …bersama seseorang dan bagi seseorang dan melalui seseorang dan di dalam seseorang! Seseorang!” Varley hanya menyebutkan seseorang! Varley tidak mengadakan bahwa orang itu harus berpendidikan tinggi, atau orang yang sangat cerdas, atau apapun. Hanya seseorang! Nah, oleh Roh Kudus yang ada di dalam dirinya, ia akan menjadi salah satu daripada orang-orang itu. Tiba-tiba, dari atas balkon itu, ia melihat sesuatu yang ia tidak pernah sadari sebelumnya. Itu bukan pekerjaan Spurgeon, itu karya Bapa. Dan apabila bapa dapat memakai Spurgeon, mengapa Ia tidak memakai kita juga, dan mengapa kita tidak menyerahkan diri kita saja di kaki Tuhan kita dan berkata kepada-Nya, “Utuslah aku! Pakailah aku!”
D.L Moody adalah orang biasa yang berusaha menyerahkan diri sepenuhnya dan seutuhnya kepada Kristus. Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa melalui orang biasa ini. Moody menjadi salah seorang penginjil terbesar di zaman moderen ini. Ia mendirikan Sekolah Alkitab, Moody Bible Institute di Chicago, yang mengutus para pria dan wanita yang telah dilatih untuk melayani Bapa. Apakah anda orang bisa yang mau melakukan perkara-perkara luar biasa yang dikerjakan Bapa? Bapa menghendaki hal itu dari setiap anak-anak-Nya. Berdoalah agar Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa dalam hidup anda. Berdoalah mulai sekarang agar anda mempercayai-Nya untuk mencapai perkara-perkara luar biasa bagi Kerajaan-Nya melalui anda. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, sumber: TGIF)
*****
Dwight L. Moody was a poorly educated, unordained, shoe salesman who felt God's call to preach the gospel. Early one morning he and some friends gathered in a hay field for a season of prayer, confession, and consecration. His friend Henry Varley said, "The world has yet to see what God can do with and for and through and in a man who is fully and wholly consecrated to Him." Moody was deeply moved by these words. He later went to a meeting where Charles Spurgeon was speaking. In that meeting Moody recalled the words spoken by his friend, "The world had yet to see!...with and for and through and in!...A man!" Varley meant any man! Varley didn't say he had to be educated, or brilliant, or anything else. Just a man! Well, by the Holy Spirit in him, he'd be one of those men. Then suddenly, in that high gallery, he saw something he'd never realized before. It was not Mr. Spurgeon, after all, who was doing that work; it was God. And if God could use Mr. Spurgeon, why should He not use the rest of us, and why should we not all just lay ourselves at the Master's feet and say to Him, "Send me! Use me!"
D.L. Moody was an ordinary man who sought to be fully and wholly committed to Christ. God did extraordinary things through this ordinary man. Moody became one of the great evangelists of modern times. He founded a Bible college, Moody Bible Institute in Chicago, which sends out men and women trained in service for God. Are you an ordinary man or woman in whom God wants to do extraordinary things? God desires that for every child of His. Ask God to do extraordinary things in your life. Begin today to trust Him to accomplish great things for His Kingdom through you.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
D.L Moody adalah orang biasa yang berusaha menyerahkan diri sepenuhnya dan seutuhnya kepada Kristus. Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa melalui orang biasa ini. Moody menjadi salah seorang penginjil terbesar di zaman moderen ini. Ia mendirikan Sekolah Alkitab, Moody Bible Institute di Chicago, yang mengutus para pria dan wanita yang telah dilatih untuk melayani Bapa. Apakah anda orang bisa yang mau melakukan perkara-perkara luar biasa yang dikerjakan Bapa? Bapa menghendaki hal itu dari setiap anak-anak-Nya. Berdoalah agar Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa dalam hidup anda. Berdoalah mulai sekarang agar anda mempercayai-Nya untuk mencapai perkara-perkara luar biasa bagi Kerajaan-Nya melalui anda. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, sumber: TGIF)
*****
Dwight L. Moody was a poorly educated, unordained, shoe salesman who felt God's call to preach the gospel. Early one morning he and some friends gathered in a hay field for a season of prayer, confession, and consecration. His friend Henry Varley said, "The world has yet to see what God can do with and for and through and in a man who is fully and wholly consecrated to Him." Moody was deeply moved by these words. He later went to a meeting where Charles Spurgeon was speaking. In that meeting Moody recalled the words spoken by his friend, "The world had yet to see!...with and for and through and in!...A man!" Varley meant any man! Varley didn't say he had to be educated, or brilliant, or anything else. Just a man! Well, by the Holy Spirit in him, he'd be one of those men. Then suddenly, in that high gallery, he saw something he'd never realized before. It was not Mr. Spurgeon, after all, who was doing that work; it was God. And if God could use Mr. Spurgeon, why should He not use the rest of us, and why should we not all just lay ourselves at the Master's feet and say to Him, "Send me! Use me!"
D.L. Moody was an ordinary man who sought to be fully and wholly committed to Christ. God did extraordinary things through this ordinary man. Moody became one of the great evangelists of modern times. He founded a Bible college, Moody Bible Institute in Chicago, which sends out men and women trained in service for God. Are you an ordinary man or woman in whom God wants to do extraordinary things? God desires that for every child of His. Ask God to do extraordinary things in your life. Begin today to trust Him to accomplish great things for His Kingdom through you.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, September 17, 2008
Under the Direction of Holy Spirit
DI BAWAH TUNTUNAN ROH KUDUS
Ini adalah kesaksian yang diberikan oleh Bapak Pdt. Daniel Ulaan pada hari Minggu yang lalu. Pada suatu hari dia mendapatkan undangan pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada, dan Perancis. Untuk itu permohonan visa sudah diurus dan tanpa banyak kesulitan, karena ada pihak yang menjadi sponsor, maka urusan visa akhirnya beres. Sementara menunggu kepergian ke luar negeri, ada seorang muda dengan santai berkata, "Daniel, ayo dong pelayanan ke Pulau Nias!" "Anak muda ini seenaknya saja memanggil nama "Daniel" dan mengajak ke Pulau Nias," demikian di pikiran Pendeta yang sudah agak berumur ini. Namun sebagai basa-basi ia berkata, "Begini saja, kamu berdoa dulu, dan saya juga akan berdoa. Kalau Tuhan mau saya ke Nias, Ia akan memberi konfirmasi kepada anda dan kepada saya."
Ketika Pdt. Daniel berdoa, ternyata jawaban dari Tuhan, "Kamu harus pergi ke Nias!" Lha? Bagaimana dengan biaya-biaya untuk pelayanan ini? Padahal pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada dan Perancis sudah terjamin, ada pihak yang mensponsori kepergiannya.
Meskipun dengan berat hati ia harus membatalkan kepergiannya ke luar negeri, karena jadwalnya pada hari-hari yang sama, Pdt. Daniel Ulaan mau taat kepada perintah Roh Kudus, dan memutuskan untuk pelayanan ke Nias saja. Sebenarnya untuk mencapai Nias dapat dijalani melalui Padang yang lebih dekat dan lebih murah atau melalui Medan yang lebih jauh dan lebih mahal.
"Pergi ke Nias dari mana Tuhan?"
"Dari Medan saja!"
"Dari mana biayanya, Tuhan?"
"Nanti Aku yang sediakan. Temui seseorang yang tinggi kurus di Medan."
Dengan uang yang seadanya Pdt. Daniel berangkat ke Medan bersama seorang teman. Ia tidak ada kenalan di kota ini. Ketika berjalan-jalan di Jl. Gatot Subroto, Roh Kudus mendorong Pdt. Daniel untuk menuju rumah dengan nomor tertentu. Ketika sudah sampai di rumah yang dimaksud ternyata di ruko itu ada tulisan "Immanuel".
"Wah, puji Tuhan, ternyata rumah yang dimaksud adalah milik anak Tuhan!" pikir Pdt. Daniel senang. Ia mengetuk ruko itu karena sudah agak malam.
Tok tok tok.
Seorang Tapanuli yang kekar membuka pintu. "Mau ketemu siapa?"
Pendeta Daniel bingung. Siapa ya yang harus ia temui? Ia tidak tahu siapa namanya.
"Tidak tahu...."
"Kalau tidak tahu, jangan ganggu dong!"
Pintu ruko ditutup. Baru beberapa langkah Pdt. Daniel berlalu, Roh Kudus memerintahkannya agar kembali ke ruko itu dan mengetuk pintu. Tok tok tok!
Pintu dibuka lagi, orang Batak yang sama membuka pintu lagi, sekarang dengan muka tidak senang karena Pdt. Daniel lagi yang ada di muka ruko.
"Mau ketemu siapa?" Dengan wajah yang mulai angker ia bertanya.
"Eh, gimana ya? Saya tidak tahu..."
"Gimana sih kamu ini, tidak tahu siapa yang mau ditemui, kenapa ketuk pintu ruko ini?" Tanpa menunggu lebih lama lagi, pintu langsung ditutup kembali.
Pdt. Daniel bersama temannya kali ini berjalan menyeberang jalan. Sesampai di seberang, ia mendengar dengan jelas bisikan Roh Kudus, "Kembali lagi ke ruko itu dan ketuklah pintunya." Gimana sih, Tuhan?
"Pak Pendeta," kata temannya, "Saya menunggu di sini saja ya? Bapak sendirian saja mengetuk pintu ruko itu."
Dengan ragu Pdt. Daniel kembali ke ruko yang tadi, ia mengetuk pintu lagi. Tok tok tok!
"Mau apa lagi?" tanya orang Batak itu dengan emosi.
"Saya mau ketemu seseorang di ruko ini. Saya adalah hamba Tuhan dari Jakarta."
"Pendeta?"
"Ya."
"Tunggu sebentar, Pak Pendeta." Orang itu langsung pergi menuju ke dalam. Sikapnya berubah mendengar kata "Pendeta" dari tamu yang tak dikenalnya.
Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan seseorang yang agak berumur, tinggi kurus!
"Bapak dari Jakarta?" tanya orang tinggi kurus itu.
"Ya, Pak! Saya disuruh Tuhan ketemu Bapak."
Dengan kaget orang tinggi kurus itu menyambut Pdt. Daniel Ulaan. Setelah dipersilakan masuk dan duduk di dalam, tuan rumah yang tinggi kurus itu menjelaskan. "Begini, Pak Pendeta. Saya ini ada masalah di bisnis dan pelayanan. Nampaknya saya ada di persimpangan jalan. Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk-Nya. Saya katakan kepada Tuhan, 'Kalau Tuhan menjawab, kirimkanlah hamba-Mu yang tidak aku kenal dan dia juga tidak kenal aku.' Dan Tuhan ternyata mengirim Bapak ke sini."
Setelah mereka berbicara, Pdt. Daniel akhirnya melayani orang kaya ini selama hampir dua minggu dan dengan sponsor keuangan dari orang Medan ini akhirnya Pdt. Daniel dapat melayani beberapa hari di Pulau Nias.
Tuntunan Roh Kudus memang sering tidak dapat dimengerti kita, namun ujungnya pasti mendatangkan kebaikan, asalkan kita taat mengikuti suara-Nya. Puji Tuhan! (Apabila anda memforward kisah ini, jangan lupa menyebutkan http://pentas-kesaksian.blogspot.com sebagai sumbernya - terima kasih.)
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ini adalah kesaksian yang diberikan oleh Bapak Pdt. Daniel Ulaan pada hari Minggu yang lalu. Pada suatu hari dia mendapatkan undangan pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada, dan Perancis. Untuk itu permohonan visa sudah diurus dan tanpa banyak kesulitan, karena ada pihak yang menjadi sponsor, maka urusan visa akhirnya beres. Sementara menunggu kepergian ke luar negeri, ada seorang muda dengan santai berkata, "Daniel, ayo dong pelayanan ke Pulau Nias!" "Anak muda ini seenaknya saja memanggil nama "Daniel" dan mengajak ke Pulau Nias," demikian di pikiran Pendeta yang sudah agak berumur ini. Namun sebagai basa-basi ia berkata, "Begini saja, kamu berdoa dulu, dan saya juga akan berdoa. Kalau Tuhan mau saya ke Nias, Ia akan memberi konfirmasi kepada anda dan kepada saya."
Ketika Pdt. Daniel berdoa, ternyata jawaban dari Tuhan, "Kamu harus pergi ke Nias!" Lha? Bagaimana dengan biaya-biaya untuk pelayanan ini? Padahal pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada dan Perancis sudah terjamin, ada pihak yang mensponsori kepergiannya.
Meskipun dengan berat hati ia harus membatalkan kepergiannya ke luar negeri, karena jadwalnya pada hari-hari yang sama, Pdt. Daniel Ulaan mau taat kepada perintah Roh Kudus, dan memutuskan untuk pelayanan ke Nias saja. Sebenarnya untuk mencapai Nias dapat dijalani melalui Padang yang lebih dekat dan lebih murah atau melalui Medan yang lebih jauh dan lebih mahal.
"Pergi ke Nias dari mana Tuhan?"
"Dari Medan saja!"
"Dari mana biayanya, Tuhan?"
"Nanti Aku yang sediakan. Temui seseorang yang tinggi kurus di Medan."
Dengan uang yang seadanya Pdt. Daniel berangkat ke Medan bersama seorang teman. Ia tidak ada kenalan di kota ini. Ketika berjalan-jalan di Jl. Gatot Subroto, Roh Kudus mendorong Pdt. Daniel untuk menuju rumah dengan nomor tertentu. Ketika sudah sampai di rumah yang dimaksud ternyata di ruko itu ada tulisan "Immanuel".
"Wah, puji Tuhan, ternyata rumah yang dimaksud adalah milik anak Tuhan!" pikir Pdt. Daniel senang. Ia mengetuk ruko itu karena sudah agak malam.
Tok tok tok.
Seorang Tapanuli yang kekar membuka pintu. "Mau ketemu siapa?"
Pendeta Daniel bingung. Siapa ya yang harus ia temui? Ia tidak tahu siapa namanya.
"Tidak tahu...."
"Kalau tidak tahu, jangan ganggu dong!"
Pintu ruko ditutup. Baru beberapa langkah Pdt. Daniel berlalu, Roh Kudus memerintahkannya agar kembali ke ruko itu dan mengetuk pintu. Tok tok tok!
Pintu dibuka lagi, orang Batak yang sama membuka pintu lagi, sekarang dengan muka tidak senang karena Pdt. Daniel lagi yang ada di muka ruko.
"Mau ketemu siapa?" Dengan wajah yang mulai angker ia bertanya.
"Eh, gimana ya? Saya tidak tahu..."
"Gimana sih kamu ini, tidak tahu siapa yang mau ditemui, kenapa ketuk pintu ruko ini?" Tanpa menunggu lebih lama lagi, pintu langsung ditutup kembali.
Pdt. Daniel bersama temannya kali ini berjalan menyeberang jalan. Sesampai di seberang, ia mendengar dengan jelas bisikan Roh Kudus, "Kembali lagi ke ruko itu dan ketuklah pintunya." Gimana sih, Tuhan?
"Pak Pendeta," kata temannya, "Saya menunggu di sini saja ya? Bapak sendirian saja mengetuk pintu ruko itu."
Dengan ragu Pdt. Daniel kembali ke ruko yang tadi, ia mengetuk pintu lagi. Tok tok tok!
"Mau apa lagi?" tanya orang Batak itu dengan emosi.
"Saya mau ketemu seseorang di ruko ini. Saya adalah hamba Tuhan dari Jakarta."
"Pendeta?"
"Ya."
"Tunggu sebentar, Pak Pendeta." Orang itu langsung pergi menuju ke dalam. Sikapnya berubah mendengar kata "Pendeta" dari tamu yang tak dikenalnya.
Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan seseorang yang agak berumur, tinggi kurus!
"Bapak dari Jakarta?" tanya orang tinggi kurus itu.
"Ya, Pak! Saya disuruh Tuhan ketemu Bapak."
Dengan kaget orang tinggi kurus itu menyambut Pdt. Daniel Ulaan. Setelah dipersilakan masuk dan duduk di dalam, tuan rumah yang tinggi kurus itu menjelaskan. "Begini, Pak Pendeta. Saya ini ada masalah di bisnis dan pelayanan. Nampaknya saya ada di persimpangan jalan. Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk-Nya. Saya katakan kepada Tuhan, 'Kalau Tuhan menjawab, kirimkanlah hamba-Mu yang tidak aku kenal dan dia juga tidak kenal aku.' Dan Tuhan ternyata mengirim Bapak ke sini."
Setelah mereka berbicara, Pdt. Daniel akhirnya melayani orang kaya ini selama hampir dua minggu dan dengan sponsor keuangan dari orang Medan ini akhirnya Pdt. Daniel dapat melayani beberapa hari di Pulau Nias.
Tuntunan Roh Kudus memang sering tidak dapat dimengerti kita, namun ujungnya pasti mendatangkan kebaikan, asalkan kita taat mengikuti suara-Nya. Puji Tuhan! (Apabila anda memforward kisah ini, jangan lupa menyebutkan http://pentas-kesaksian.blogspot.com sebagai sumbernya - terima kasih.)
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, September 12, 2008
Elizabeth dan Perlindungan Malaikat
Elizabeth yang berumur tiga tahun menyelesaikan doanya dan merangkak ke ranjang ketika saya menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan seprei. “Bolehkah kita bermain di salju besok, mami?” tanyanya, sambil mengamati butiran salju yang turun di seberang jendela. “Kita lihat nanti,” kata saya. Saya memandang ke luar jendela juga. Pohon-pohon yang tinggi yang mengelilingi rumah kami sedang digoyang oleh angin kencang, cabang-cabangnya melorot karena beban berat salju. Saya menciumnya dan menutup pintu kamarnya. Angin berhembus kencang, dan ketika saya turun tangga saya dapat mendengar bunyi pohon cemara dan oaks berderit-derit dan mengeluh.
Sejak kami membeli rumah ini saya selalu khawatir akan pepohonan. Sore itu tetangga kami telah kehilangan pohon cemaranya yang sudah tua. Saya khawatir angin badai akan menumbangkan lebih banyak pohon lagi. Sebelum suami saya pergi ke luar rumah untuk menonton pertandingan bola basket di rumah seorang teman, saya memintanya untuk berdoa bersama saya tentang pepohonan itu. “Tuhan melindungi kita malam ini.”
Di ruang keluarga saya mulai memunguti boneka-boneka dan mainan-mainan dan tiba-tiba saya mendengar suara dentuman keras di atas saya. Seluruh bangunan rumah bergetar. Bahkan lantai di bawah kaki saya bergetar. Saya menjatuhkan mainan-mainan itu dan bergegas naik ke loteng.
Oh, Tuhan, jangan biarkan salah satu pohon-pohon itu tumbang. Elizabeth! Pohon cemara yang menjulang di seberang jendelanya! Bagaimana kalau oleh karena beban berat salju… Detak jantungku bertalu-talu. Saya membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Sergapan angin dingin menempelak saya. Jendela di dekat ranjangnya telah lenyap. Bagian puncak pohon cemara telah menghajar jendela itu, membuat cabang-cabang dan salju memenuhi kamar itu. Saya merasakan pecahan-pecahan kaca di kaki saya yang memakai sandal. Oh, Tuhanku, Elizabeth pasti ketakutan. Saya menyalakan lampu dan bergegas ke samping tempat tidurnya untuk mengangkatnya dari bahaya. Namun yang sangat mengherankan saya, ia masih tidur dengan lelap. Tak ada pecahan kaca di selimut atau piyamanya.
Kemudian saya melihat sesuatu menyelimuti anak saya. Berlapis-lapis sayap membentuk tudung bulu di atas tubuhnya yang sedang tertidur. Para malaikat yang berkilauan itu menundukkan muka-muka mereka dan melebarkan sayap-sayap mereka, melindunginya dari bahaya. Anak itu meringkuk di tengah kepompong sorgawi, yang membuat perlindungan terhadap Elizabeth sehingga ia tetap hangat dan aman. Pada saat saya berdiri di sana, cahaya berkilauan itu tiba-tiba lenyap. Saya meraih Elizabeth ke dalam tangan saya, mendengarnya menggumamkan sesuatu, dan membawanya keluar dari kamar yang dingin dan berantakan itu.
Keesokan paginya saya dan Elizabeth meninjau lagi ke kamarnya. Sambil menggenggam tangannya, saya dengan hati-hati melangkah ke arah pintu kamarnya. Suami saya memasang kain di jendela yang rusak itu. Dengan berlinangan air mata, suami saya berkata, “Sayang, lihat!” Bersama-sama kami berjalan ke arah ranjang. Ribuan pecahan kaca berserakan di lantai, yang memantulkan kilauan sinar mentari pagi. Pecahan kaca yang tajam memenuhi keempat sisi tempat tidur Elizabeth. Suami saya membuka selimut, seprei dan bantal-bantal. Tak ada sebutir pecahan kaca ada di ranjang Elizabeth.
“Tadi malam ketika mami masuk ke kamar tidurmu,” kata saya kepada Elizabeth, “mami melihat berlapis-lapis sayap membungkus sekeliling kamu, melindungi kamu dan…” “Oh, mami,” anak itu menyela, ”saya tahu tentang malaikat-malaikat itu. Salah satu dari antara mereka mencolek kepala saya sebelum dia pergi.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya)
PS: Email dalam bahasa Inggeris telah diterima dari Ibu Suharti Ali.
*****
Elizabeth's Celestial Canopy (A True Story)
Three year old Elizabeth finished her prayers and crawled into bed as I tucked her smooth sheets and blanket snugly around her. "Can we play in the snow tomorrow, Mommy?" she asked, watching the fat, white flakes fly by the window. "We'll see," I said. I looked out the window too. The tall trees surrounding our house were being buffeted by the storm, their branches sagging under the weight of the snow. I kissed her good night and closed the door. The wind whistled, and as I went downstairs I could hear the pines and oaks creak and groan.
Ever since we bought the house I'd been anxious about the trees. That afternoon our neighbor had lost an ancient pine. I worried the storm would knock more down. Before my husband left to watch a basketball game at a friends house, I asked him to say a prayer with me about the trees. "God keep us safe tonight."
In the family room I started picking up dolls and toys and just then I heard a loud crash above me. The whole house trembled. Even the floorboards beneath my feet shook. I dropped the toys and ran upstairs.
Dear God, don't let it be one of the trees. Elizabeth! that towering pine outside her window! What if under the weight of the heavy snow.... Heart Hammering, I flung her door wide open. A blast of cold air hit me. The window near her bed was gone. The upper part of the pine tree had knocked it out, leaving behind branches and snow. I felt glass crunch beneath my slippered feet. Oh my God, Elizabeth must be scared to death. I turned on the lights and rushed to her bedside to lift her from danger. But to my amazement she was still sleeping peacefully. There wasn't any glass on her coverlet or pajamas.
Then I saw them surrounding her. Layer upon layer of wings forming a feathery canopy above her sleeping form. Luminescent angels bowed their heads, spreading their wings over her, shielding Elizabeth from harm. She was nestled in the center of this celestial cocoon, warm and safe.
As I stood there, the shimmering glow suddenly vanished. I scooped Elizabeth into my arms, hearing her mumble sleepily, and rushed her out of the damaged, cold room. The next morning Elizabeth and I ventured back to her bedroom. Holding her hand, I gingerly stepped over the threshold. My husband was tacking a tarp over the broken window. His eyes filling with tears, he said, "Honey, look." Together we walked over to the bed. Thousands of pieces of broken glass lay on the floor, sparkling in the morning sun. Needle-sharp shards were scattered on all 4 sides of her bed. My husband ran his hands over the blankets, sheets and pillows. Not a single splinter of glass was on Elizabeth's bed.
"Last night when I came into your room," I said to Elizabeth, "I saw layer upon layer of wings wrapped around you, protecting you and ........"
"Oh Mommy," she interrupted, "I know about the angels. One of them patted me on the head before it left!"
Sumber naskah dalam bahasa Inggeris:http://www.jesusone.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sejak kami membeli rumah ini saya selalu khawatir akan pepohonan. Sore itu tetangga kami telah kehilangan pohon cemaranya yang sudah tua. Saya khawatir angin badai akan menumbangkan lebih banyak pohon lagi. Sebelum suami saya pergi ke luar rumah untuk menonton pertandingan bola basket di rumah seorang teman, saya memintanya untuk berdoa bersama saya tentang pepohonan itu. “Tuhan melindungi kita malam ini.”
Di ruang keluarga saya mulai memunguti boneka-boneka dan mainan-mainan dan tiba-tiba saya mendengar suara dentuman keras di atas saya. Seluruh bangunan rumah bergetar. Bahkan lantai di bawah kaki saya bergetar. Saya menjatuhkan mainan-mainan itu dan bergegas naik ke loteng.
Oh, Tuhan, jangan biarkan salah satu pohon-pohon itu tumbang. Elizabeth! Pohon cemara yang menjulang di seberang jendelanya! Bagaimana kalau oleh karena beban berat salju… Detak jantungku bertalu-talu. Saya membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Sergapan angin dingin menempelak saya. Jendela di dekat ranjangnya telah lenyap. Bagian puncak pohon cemara telah menghajar jendela itu, membuat cabang-cabang dan salju memenuhi kamar itu. Saya merasakan pecahan-pecahan kaca di kaki saya yang memakai sandal. Oh, Tuhanku, Elizabeth pasti ketakutan. Saya menyalakan lampu dan bergegas ke samping tempat tidurnya untuk mengangkatnya dari bahaya. Namun yang sangat mengherankan saya, ia masih tidur dengan lelap. Tak ada pecahan kaca di selimut atau piyamanya.
Kemudian saya melihat sesuatu menyelimuti anak saya. Berlapis-lapis sayap membentuk tudung bulu di atas tubuhnya yang sedang tertidur. Para malaikat yang berkilauan itu menundukkan muka-muka mereka dan melebarkan sayap-sayap mereka, melindunginya dari bahaya. Anak itu meringkuk di tengah kepompong sorgawi, yang membuat perlindungan terhadap Elizabeth sehingga ia tetap hangat dan aman. Pada saat saya berdiri di sana, cahaya berkilauan itu tiba-tiba lenyap. Saya meraih Elizabeth ke dalam tangan saya, mendengarnya menggumamkan sesuatu, dan membawanya keluar dari kamar yang dingin dan berantakan itu.
Keesokan paginya saya dan Elizabeth meninjau lagi ke kamarnya. Sambil menggenggam tangannya, saya dengan hati-hati melangkah ke arah pintu kamarnya. Suami saya memasang kain di jendela yang rusak itu. Dengan berlinangan air mata, suami saya berkata, “Sayang, lihat!” Bersama-sama kami berjalan ke arah ranjang. Ribuan pecahan kaca berserakan di lantai, yang memantulkan kilauan sinar mentari pagi. Pecahan kaca yang tajam memenuhi keempat sisi tempat tidur Elizabeth. Suami saya membuka selimut, seprei dan bantal-bantal. Tak ada sebutir pecahan kaca ada di ranjang Elizabeth.
“Tadi malam ketika mami masuk ke kamar tidurmu,” kata saya kepada Elizabeth, “mami melihat berlapis-lapis sayap membungkus sekeliling kamu, melindungi kamu dan…” “Oh, mami,” anak itu menyela, ”saya tahu tentang malaikat-malaikat itu. Salah satu dari antara mereka mencolek kepala saya sebelum dia pergi.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya)
PS: Email dalam bahasa Inggeris telah diterima dari Ibu Suharti Ali.
*****
Elizabeth's Celestial Canopy (A True Story)
Three year old Elizabeth finished her prayers and crawled into bed as I tucked her smooth sheets and blanket snugly around her. "Can we play in the snow tomorrow, Mommy?" she asked, watching the fat, white flakes fly by the window. "We'll see," I said. I looked out the window too. The tall trees surrounding our house were being buffeted by the storm, their branches sagging under the weight of the snow. I kissed her good night and closed the door. The wind whistled, and as I went downstairs I could hear the pines and oaks creak and groan.
Ever since we bought the house I'd been anxious about the trees. That afternoon our neighbor had lost an ancient pine. I worried the storm would knock more down. Before my husband left to watch a basketball game at a friends house, I asked him to say a prayer with me about the trees. "God keep us safe tonight."
In the family room I started picking up dolls and toys and just then I heard a loud crash above me. The whole house trembled. Even the floorboards beneath my feet shook. I dropped the toys and ran upstairs.
Dear God, don't let it be one of the trees. Elizabeth! that towering pine outside her window! What if under the weight of the heavy snow.... Heart Hammering, I flung her door wide open. A blast of cold air hit me. The window near her bed was gone. The upper part of the pine tree had knocked it out, leaving behind branches and snow. I felt glass crunch beneath my slippered feet. Oh my God, Elizabeth must be scared to death. I turned on the lights and rushed to her bedside to lift her from danger. But to my amazement she was still sleeping peacefully. There wasn't any glass on her coverlet or pajamas.
Then I saw them surrounding her. Layer upon layer of wings forming a feathery canopy above her sleeping form. Luminescent angels bowed their heads, spreading their wings over her, shielding Elizabeth from harm. She was nestled in the center of this celestial cocoon, warm and safe.
As I stood there, the shimmering glow suddenly vanished. I scooped Elizabeth into my arms, hearing her mumble sleepily, and rushed her out of the damaged, cold room. The next morning Elizabeth and I ventured back to her bedroom. Holding her hand, I gingerly stepped over the threshold. My husband was tacking a tarp over the broken window. His eyes filling with tears, he said, "Honey, look." Together we walked over to the bed. Thousands of pieces of broken glass lay on the floor, sparkling in the morning sun. Needle-sharp shards were scattered on all 4 sides of her bed. My husband ran his hands over the blankets, sheets and pillows. Not a single splinter of glass was on Elizabeth's bed.
"Last night when I came into your room," I said to Elizabeth, "I saw layer upon layer of wings wrapped around you, protecting you and ........"
"Oh Mommy," she interrupted, "I know about the angels. One of them patted me on the head before it left!"
Sumber naskah dalam bahasa Inggeris:http://www.jesusone.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 27, 2008
God Can Use You
The next time you feel like GOD can't use you, just remember...
Noah was a drunk
Abraham was too old
Isaac was a daydreamer
Jacob was a liar
Leah was ugly
Joseph was abused
Moses had a stuttering problem
Gideon was afraid
Samson had long hair and was a womanizer
Rahab was a prostitute
Jeremiah and Timothy were too young
David had an affair and was a murderer
Elijah was suicidal
Isaiah preached naked
Jonah ran from God
Naomi was a widow
Job went bankrupt
Peter denied Christ
The Disciples fell asleep while praying
Martha worried about everything
The Samaritan woman was divorced, more than once
Zaccheus was too small
Paul was too religious
Timothy had an ulcer..AND
Lazarus was dead!
Now! No more excuses!
God can use you to your full potential.
Besides you aren't the message, you are just the messenger.
1. God wants spiritual fruit, not religious nuts.
2. Dear God, I have a problem, it's Me.
3. Growing old is inevitable .. growing UP is optional.
4. There is no key to happiness. The door is always open.
5. Silence is often misinterpreted but never misquoted.
6. Do the math .. count your blessings.
7. Faith is the ability not to panic.
8. Laugh every day, it's like inner jogging.
9. If you worry, you didn't pray . If you pray, don't worry!
10. As a child of God, prayer is kind of like calling home everyday.
11. Blessed are the flexible for they shall not be bent out of shape.
12. The most important things in your house are the people.
13. When we get tangled up in our problems, be still!
God wants us to be still so He can untangle the knot.
14. A grudge is a heavy thing to carry.
15. He who dies with the most toys is still dead.
Have a blessed day!!! The SON is shining and He can certainly use you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Noah was a drunk
Abraham was too old
Isaac was a daydreamer
Jacob was a liar
Leah was ugly
Joseph was abused
Moses had a stuttering problem
Gideon was afraid
Samson had long hair and was a womanizer
Rahab was a prostitute
Jeremiah and Timothy were too young
David had an affair and was a murderer
Elijah was suicidal
Isaiah preached naked
Jonah ran from God
Naomi was a widow
Job went bankrupt
Peter denied Christ
The Disciples fell asleep while praying
Martha worried about everything
The Samaritan woman was divorced, more than once
Zaccheus was too small
Paul was too religious
Timothy had an ulcer..AND
Lazarus was dead!
Now! No more excuses!
God can use you to your full potential.
Besides you aren't the message, you are just the messenger.
1. God wants spiritual fruit, not religious nuts.
2. Dear God, I have a problem, it's Me.
3. Growing old is inevitable .. growing UP is optional.
4. There is no key to happiness. The door is always open.
5. Silence is often misinterpreted but never misquoted.
6. Do the math .. count your blessings.
7. Faith is the ability not to panic.
8. Laugh every day, it's like inner jogging.
9. If you worry, you didn't pray . If you pray, don't worry!
10. As a child of God, prayer is kind of like calling home everyday.
11. Blessed are the flexible for they shall not be bent out of shape.
12. The most important things in your house are the people.
13. When we get tangled up in our problems, be still!
God wants us to be still so He can untangle the knot.
14. A grudge is a heavy thing to carry.
15. He who dies with the most toys is still dead.
Have a blessed day!!! The SON is shining and He can certainly use you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 22, 2008
Because of His Grace
Sepuluh tahun yang lalu kami datang ke Australia bukan karena kami mau migrasi ke sana, tetapi karena kerusuhan 5 Mei 1998 yang mengakibatkan ruko kami di Harco Mangga Dua terbakar habis. Juga pabrik kami di Bekasi habis dijarah. Yah, begitulah hasil usaha kami selama 35 tahun lenyap dalam sehari.
Waktu itu kami berada di atas ruko yang sedang terbakar. Saya berdoa berserah pada Tuhan. Kalau usaha titipan-Nya akan Tuhan ambil kembali, saya rela melepaskannya. Hanya itu doa saya. Sayapun tak berdoa untuk dilepaskan dari kebakaran itu. Kalau Tuhan mau panggil saya suami istri, sayapun rela. Kami berdua hanya diam membisu tanpa kata-kata dan tanpa air mata menantikan apa yang akan terjadi. Di bawah terdengar teriakan-teriakan tak henti-henti: “Bunuh Cina! Cincang Cina!” dan lain lain.
Tiba-tiba ada teriakan dari seberang bangunan ruko, “Cepat turun! Rukonya sudah terbakar, akan sampai ke atas!” Kamipun secara reflek berlari turun, padahal waktu itu kompleks kami sudah dikepung oleh warga sekitar yang sangat beringas. Pada saat kami sampai di bawah, ada seseorang yang tidak kami kenal membawa kami ke tempatnya untuk menyelamatkan kami. Puji Tuhan! Itulah mukjizat pertama yang kami alami. Kami masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Akibat kerusuhan itu, dalam sehari kami menjadi orang yang tak punya apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Itupun sudah kotor. Sepatu atau sandalpun kami tak punya. Tetapi suka cita dan damai sejahtera itu menyertai kami. Akhirnya kami tinggal di rumah seorang teman.
Waktu bertemu dengan pendeta kami, beliau menganjurkan kami untuk pergi ke Australia karena anaknya ada yang tinggal di sana. Tetapi ketika kami mendatangi kedutaan Australia untuk meminta visa, kedutaan sudah ditutup karena terlalu banyak orang antri minta visa. Setelah itu kamipun berserah menunggu apa kehendak Tuhan.
Karena kami sudah tidak punya beban, tempat usaha sudah diserahkan kembali pada Tuhan, hidup kami menjadi santai. Kami pulang ke Surabaya ditemani saudara karena isteri saya berasal dari sana. Sesampai di Surabaya orang-orang tidak percaya kalau bisnis kami sudah habis, karena kami masih bisa bersuka cita, ngobrol, tertawa dan jalan-jalan. Ke mana mana teman-teman yang membiayai kehidupan kami. Damai sejahtera ada di dalam kami.
Akhirnya kami pergi ke Pulau Bali. Di situlah mukjizat kedua terjadi. Kami diberi tahu di Bali ada kantor konsulat Australia. Waktu kami kesana meminta visa, kami disuruh menunggu. Tidak sampai satu jam kami sudah mendapatkan visa itu. Puji Tuhan!
Sesampainya di Australia kami mendaftarkan diri sebagai refugee (pengungsi). Setelah berjuang selama delapan tahun, di mana saya sempat masuk tahanan Villa Wood, akhirnya permohonan kamipun dikabulkan untuk mendapat PR (Permanent Resident),
walaupun warga Indonesia seharusnya tidak termasuk daftar yang dapat menerima status refugee. Itulah mukjizat ketiga.
Betapa kami mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan! Siapakah kami ini, sehingga Tuhan sayang kepada kami? Dan apakah yang dapat kami buat untuk Tuhan, selain melaksanakan Amanat Agung-Nya?
Pada suatu hari ketika saya membuka internet, saya belum mengetik apa-apa, tetapi tiba-tiba keluar suatu website. Di situ saya disuruh Tuhan meng-copy DVD dan traktat kesaksian. Dan setelah bergumul beberapa hari, akhirnya perintah itu saya laksanakan. Mulailah saya membeli peralatan dan mulai meng-copy dan membagikan DVD dan traktat kesaksian itu ke gereja-gereja di Sydney yang jumlahnya ada 46 gereja secara gratis. Saya memulainya satu tahun yang lalu dan masih saya laksanakan sampai hari ini. Sekarang banyak permintaan datang dari Indonesia atas DVD dan traktat itu dan saya penuhi juga.
Apabila ada di antara anda yang ingin mendapatkan DVD atau traktat kesaksian secara gratis, silakan hubungi: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Waktu itu kami berada di atas ruko yang sedang terbakar. Saya berdoa berserah pada Tuhan. Kalau usaha titipan-Nya akan Tuhan ambil kembali, saya rela melepaskannya. Hanya itu doa saya. Sayapun tak berdoa untuk dilepaskan dari kebakaran itu. Kalau Tuhan mau panggil saya suami istri, sayapun rela. Kami berdua hanya diam membisu tanpa kata-kata dan tanpa air mata menantikan apa yang akan terjadi. Di bawah terdengar teriakan-teriakan tak henti-henti: “Bunuh Cina! Cincang Cina!” dan lain lain.
Tiba-tiba ada teriakan dari seberang bangunan ruko, “Cepat turun! Rukonya sudah terbakar, akan sampai ke atas!” Kamipun secara reflek berlari turun, padahal waktu itu kompleks kami sudah dikepung oleh warga sekitar yang sangat beringas. Pada saat kami sampai di bawah, ada seseorang yang tidak kami kenal membawa kami ke tempatnya untuk menyelamatkan kami. Puji Tuhan! Itulah mukjizat pertama yang kami alami. Kami masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Akibat kerusuhan itu, dalam sehari kami menjadi orang yang tak punya apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Itupun sudah kotor. Sepatu atau sandalpun kami tak punya. Tetapi suka cita dan damai sejahtera itu menyertai kami. Akhirnya kami tinggal di rumah seorang teman.
Waktu bertemu dengan pendeta kami, beliau menganjurkan kami untuk pergi ke Australia karena anaknya ada yang tinggal di sana. Tetapi ketika kami mendatangi kedutaan Australia untuk meminta visa, kedutaan sudah ditutup karena terlalu banyak orang antri minta visa. Setelah itu kamipun berserah menunggu apa kehendak Tuhan.
Karena kami sudah tidak punya beban, tempat usaha sudah diserahkan kembali pada Tuhan, hidup kami menjadi santai. Kami pulang ke Surabaya ditemani saudara karena isteri saya berasal dari sana. Sesampai di Surabaya orang-orang tidak percaya kalau bisnis kami sudah habis, karena kami masih bisa bersuka cita, ngobrol, tertawa dan jalan-jalan. Ke mana mana teman-teman yang membiayai kehidupan kami. Damai sejahtera ada di dalam kami.
Akhirnya kami pergi ke Pulau Bali. Di situlah mukjizat kedua terjadi. Kami diberi tahu di Bali ada kantor konsulat Australia. Waktu kami kesana meminta visa, kami disuruh menunggu. Tidak sampai satu jam kami sudah mendapatkan visa itu. Puji Tuhan!
Sesampainya di Australia kami mendaftarkan diri sebagai refugee (pengungsi). Setelah berjuang selama delapan tahun, di mana saya sempat masuk tahanan Villa Wood, akhirnya permohonan kamipun dikabulkan untuk mendapat PR (Permanent Resident),
walaupun warga Indonesia seharusnya tidak termasuk daftar yang dapat menerima status refugee. Itulah mukjizat ketiga.
Betapa kami mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan! Siapakah kami ini, sehingga Tuhan sayang kepada kami? Dan apakah yang dapat kami buat untuk Tuhan, selain melaksanakan Amanat Agung-Nya?
Pada suatu hari ketika saya membuka internet, saya belum mengetik apa-apa, tetapi tiba-tiba keluar suatu website. Di situ saya disuruh Tuhan meng-copy DVD dan traktat kesaksian. Dan setelah bergumul beberapa hari, akhirnya perintah itu saya laksanakan. Mulailah saya membeli peralatan dan mulai meng-copy dan membagikan DVD dan traktat kesaksian itu ke gereja-gereja di Sydney yang jumlahnya ada 46 gereja secara gratis. Saya memulainya satu tahun yang lalu dan masih saya laksanakan sampai hari ini. Sekarang banyak permintaan datang dari Indonesia atas DVD dan traktat itu dan saya penuhi juga.
Apabila ada di antara anda yang ingin mendapatkan DVD atau traktat kesaksian secara gratis, silakan hubungi: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 20, 2008
My Child
The words you are about to experience are true.
They will change your life if you let them.
For they come from the very heart of God... He loves you...
and He is the Father you have been looking for all your life.
This is His love letter to you...
My Child…
You may not know Me, but I know everything about you…
Psalm 139:1
I know when you sit down and when you rise up
…Psalm 139:2
I am familiar with all your ways …
Psalm 139:3
Even the very hairs on your head are numbered…
Matthew 10:29-31
For you were made in My image …
Genesis 1:27
In Me you live and move and have your being …
Acts 17:28
For you are My offspring
…Acts 17:28
I knew you even before you were conceived …
Jeremiah 1:4-5
I chose you when I planned creation
…Ephesians 1:11-12
You were not a mistake, for all your days are written in My book…
Psalm 139:15-16
I determined the exact time of your birth and where you would live …
Acts 17:26
You are fearfully and wonderfully made …
Psalm 139:14
I knit you together in your mother's womb …
Psalm 139:13
And brought you forth on the day you were born …
Psalm 71:6
I have been misrepresented by those who don't know Me …
John 8:41-44
I am not distant and angry, but am the complete expression of love…
1 John 4:16
And it is My desire to lavish My love on you …
1 John 3:1
Simply because you are My child and I am your Daddy
…1 John 3:1
I offer you more than your earthly father ever could …
Matthew 7:11
For I am the perfect Daddy
…Matthew 5:48
Every good gift that you receive comes from My hand…
James 1:17
For I am your Provider and I meet all your needs …
Matthew 6:31-33
My plan for your future has always been filled with hope …
Jeremiah 29:11
Because I love you with an everlasting love
…Jeremiah 31:3
My thoughts towards you are countless as the sand on the seashore
...Psalms 139:17-18
And I rejoice over you with singing
…Zephaniah 3:17
I will never stop doing good to you …
Jeremiah 32:40
For you are My treasured possession …Exodus 19:5
I desire to establish you with all My heart and all My soul
…Jeremiah 32:41
And I want to show you great and marvelous things …
Jeremiah 33:3
If you seek Me with all your heart, you will find Me
…Deuteronomy 4:29
Delight in Me and I will give you the desires of your heart
…Psalm 37:4
For it is I who gave you those desires
…Philippians 2:13
I am able to do more for you than you could possibly imagine
…Ephesians 3:20
For I am your greatest encourager
…2 Thessalonians 2:16-17
I am also the Father who comforts you in all your troubles
…2 Corinthians 1:3-4
When you are brokenhearted, I am close to you
…Psalm 34:18
As a shepherd carries a lamb, I have carried you close to My heart
…Isaiah 40:11
One day I will wipe away every tear from your eyes …Revelation 21:3-4
And I'll take away all the pain you have suffered on this earth
…Revelation 21:3-4
I am your Daddy, and I love you even as I love My son, Jesus
…John 17:23
For in Jesus, My love for you is revealed
…John 17:26
He is the exact representation of My being
…Hebrews 1:3
He came to demonstrate that I am for you, not against you
…Romans 8:31
And to tell you that I am not counting your sins
…2 Corinthians 5:18-19
Jesus died so that you and I could be reconciled
…2 Corinthians 5:18-19
His death was the ultimate expression of My love for you…
1 John 4:10
I gave up everything I loved that I might gain your love …
Romans 8:31-32
If you receive the gift of my son Jesus, you receive Me …
1 John 2:23
And nothing will ever separate you from My love again
…Romans 8:38-39
Come home and I'll show the biggest party heaven has ever seen
…Luke 15:7
I have always been Daddy, and will always be Daddy
…Ephesians 3:14-15
My question is…Will you be My child?
…John 1:12-13
I am waiting for you …
Luke 15:11-32
Love, Your Dad... Almighty God (Written by Barry Adams - editted by Hadi)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
They will change your life if you let them.
For they come from the very heart of God... He loves you...
and He is the Father you have been looking for all your life.
This is His love letter to you...
My Child…
You may not know Me, but I know everything about you…
Psalm 139:1
I know when you sit down and when you rise up
…Psalm 139:2
I am familiar with all your ways …
Psalm 139:3
Even the very hairs on your head are numbered…
Matthew 10:29-31
For you were made in My image …
Genesis 1:27
In Me you live and move and have your being …
Acts 17:28
For you are My offspring
…Acts 17:28
I knew you even before you were conceived …
Jeremiah 1:4-5
I chose you when I planned creation
…Ephesians 1:11-12
You were not a mistake, for all your days are written in My book…
Psalm 139:15-16
I determined the exact time of your birth and where you would live …
Acts 17:26
You are fearfully and wonderfully made …
Psalm 139:14
I knit you together in your mother's womb …
Psalm 139:13
And brought you forth on the day you were born …
Psalm 71:6
I have been misrepresented by those who don't know Me …
John 8:41-44
I am not distant and angry, but am the complete expression of love…
1 John 4:16
And it is My desire to lavish My love on you …
1 John 3:1
Simply because you are My child and I am your Daddy
…1 John 3:1
I offer you more than your earthly father ever could …
Matthew 7:11
For I am the perfect Daddy
…Matthew 5:48
Every good gift that you receive comes from My hand…
James 1:17
For I am your Provider and I meet all your needs …
Matthew 6:31-33
My plan for your future has always been filled with hope …
Jeremiah 29:11
Because I love you with an everlasting love
…Jeremiah 31:3
My thoughts towards you are countless as the sand on the seashore
...Psalms 139:17-18
And I rejoice over you with singing
…Zephaniah 3:17
I will never stop doing good to you …
Jeremiah 32:40
For you are My treasured possession …Exodus 19:5
I desire to establish you with all My heart and all My soul
…Jeremiah 32:41
And I want to show you great and marvelous things …
Jeremiah 33:3
If you seek Me with all your heart, you will find Me
…Deuteronomy 4:29
Delight in Me and I will give you the desires of your heart
…Psalm 37:4
For it is I who gave you those desires
…Philippians 2:13
I am able to do more for you than you could possibly imagine
…Ephesians 3:20
For I am your greatest encourager
…2 Thessalonians 2:16-17
I am also the Father who comforts you in all your troubles
…2 Corinthians 1:3-4
When you are brokenhearted, I am close to you
…Psalm 34:18
As a shepherd carries a lamb, I have carried you close to My heart
…Isaiah 40:11
One day I will wipe away every tear from your eyes …Revelation 21:3-4
And I'll take away all the pain you have suffered on this earth
…Revelation 21:3-4
I am your Daddy, and I love you even as I love My son, Jesus
…John 17:23
For in Jesus, My love for you is revealed
…John 17:26
He is the exact representation of My being
…Hebrews 1:3
He came to demonstrate that I am for you, not against you
…Romans 8:31
And to tell you that I am not counting your sins
…2 Corinthians 5:18-19
Jesus died so that you and I could be reconciled
…2 Corinthians 5:18-19
His death was the ultimate expression of My love for you…
1 John 4:10
I gave up everything I loved that I might gain your love …
Romans 8:31-32
If you receive the gift of my son Jesus, you receive Me …
1 John 2:23
And nothing will ever separate you from My love again
…Romans 8:38-39
Come home and I'll show the biggest party heaven has ever seen
…Luke 15:7
I have always been Daddy, and will always be Daddy
…Ephesians 3:14-15
My question is…Will you be My child?
…John 1:12-13
I am waiting for you …
Luke 15:11-32
Love, Your Dad... Almighty God (Written by Barry Adams - editted by Hadi)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 13, 2008
The Power of Prayer
The Power of Prayer-- Author Unknown
Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…
Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.
Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.
Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.
Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”
Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)
****
The Power of Prayer
A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...
"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.
This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.
Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.
Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.
We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.
BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.
****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.
Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)
Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…
Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.
Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.
Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.
Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”
Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)
****
The Power of Prayer
A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...
"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.
This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.
Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.
Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.
We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.
BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.
****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.
Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)
Monday, July 28, 2008
The Vision of A Little Girl
Kesaksian Jannet Balderas Canela (8 Tahun)
Saya ingin menceritakan kepada anda pengalaman saya bersama Tuhan Yesus pada tanggal 5 September, 1999. Kami berada di gereja dan kuasa Allah memenuhi kami. Saya terjatuh ke lantai dan merasakan kehadiran Allah di dalam saya. Dan mulailah suatu penglihatan nampak kepada saya.
Dalam penglihatan, saya melihat ada dua jalan. Jalan yang satu sangat lebar, dan banyak orang berjalan di jalan itu, tetapi mereka berjalan menuju pada kehancuran mereka. Jalan yang kedua sangat sempit. Saya melihat banyak orang yang berjalan di jalan itu, memuji dan memuliakan Tuhan.
Sementara saya berada di lantai saya melihat seorang penunggang kuda datang. Tuhan mendekati tempat dimana saya berada. Diulurkan tangan-Nya, dan saya merasakan roh saya keluar dari tubuh saya dan saya didekap-Nya. Kami mulai menunggang kuda, menanjak dan berhenti di tempat yang tidak tinggi ataupun rendah. Dia berkata kepada saya, "Lihat anak-Ku, telah Kukatakan bahwa Aku datang membawamu, dan itulah yang Kulakukan sekarang, sebab apa yang keluar dari mulut-Ku, Aku menggenapinya. Apa yang kukatakan, itu yang Kuperbuat. Itulah sebabnya Aku membawamu ke tempat ini. Pertama-tama akan Kutunjukkan kepadamu luka-luka-Ku, agar engkau dapat menghargainya dan tak pernah melupakan apa yang telah Kuperbuat bagi kamu sekalian."
Kami tiba di Takhta Allah dan Tuhan menunjukkan kepada saya dimana paku-paku itu terletak dan bagian tubuh-Nya yang tertikam. Dia menangis. Kulihat bekas-bekas luka dan bilur-bilur yang telah ditanggung-Nya bagi kita semua. Dia berkata, "Lihat anak-Ku, banyak diantaramu yang tidak menghargai semua yang telah Kuperbuat bagi kalian, banyak diantaramu lupa bahwa Aku telah mati disalibkan bagimu. Kurasakan sakit, anak-Ku. Rasa sakit yang sangat saat Umat-Ku menyangkal-Ku, seperti membuka luka-luka itu kembali, sangat menyakiti-Ku. Seolah-olah mereka menyalibkan-Ku kembali." Saya melihat Tuhan menangis, sakit saat kita mengecewakan-Nya.
Tuhan berkata, "Anak, akan Kutunjukkan saatnya, bagaimana kedatangan-Ku akan terjadi." Saya berkata, "Tuhan telah banyak yang telah saya lihat, mengapa Tuhan menunjukkan kepada saya yang lebih?" Kami tiba di Takhta Allah, saya melihat ribuan malaikat berkumpul. Kami mulai turun, dan berhenti pada awan-awan putih yang indah. Tuhan katakan, "Anak-Ku, perhatikan baik-baik, beginilah saatnya Aku datang kembali, inilah kedatangan-Ku."
Saya melihat orang-orang terangkat di keempat penjuru bumi, memuji dan menyembah nama Tuhan, dipenuhi kuasa Allah, berpakaian putih dan terangkat. Mereka menyanyikan lagu indah, "Kudus,Kudus, Kuduslah, ya Tuhan! Terima kasih, Bapa! Sebab Engkau telah mengangkat kami! Terima kasih, Tuhan, sebab Engkau telah mengangkat kami!"
Saya melihat berbagai jenis orang, tinggi, pendek, hitam, putih. Semua orang, dan semua malaikat terangkat bersama-sama ke arah dimana kami berada. Semuanya penuh ucapan syukur bagi Tuhan, mereka semua berkata, "Kudus! Kudus! Kuduslah Tuhan!" Sangat luar biasa! Saya melihat banyak orang dan berpikir saya mengenal mereka. Mereka semua dipenuhi kemuliaan Allah.
Setelah itu kami tiba pada Takhta Allah, Tuhan berkata, "Anak-Ku, marilah." Kami keluar dari ruangan Takhta dan tiba di suatu tempat berjendela kecil. Tuhan berkata, "Anak-Ku, pandanglah ke bawah." Saya melihat pemandangan yang buruk, pemandangan yang dahsyat; seluruh bumi penuh kesulitan dan penderitaan. Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, inilah yang akan terjadi setelah Kujemput Umat-Ku dari bumi. Kejadian ini setelah kedatangan-Ku, kejadian ini setelah Gereja-Ku berada disini bersama-Ku." Kulihat pemandangan yang sangat dahsyat.
Saya melihat orang merayakan sesuatu sejenak, lalu saya melihat seorang ayah mencari anak lelakinya, seorang ibu mencari anak-anak perempuannya, namun tak menemukan, karena Allah yang Mahakuasa telah membawa mereka. Keluarga mencari keluarganya namun tak menemukannya. Orang-orang mencari tetangganya namun tak menemukannya, sebab Tuhan telah mengangkat mereka bersama-sama dengan Dia.
Sesuatu yang dahsyat telah terjadi di seluruh bumi. Saya melihat pendeta berlari dari satu tempat ke tempat lain. Saya bertanya, "Tuhan, mengapa orang itu berlari kian kemari?" Tuhan menjawab, "Anak-Ku, orang ini seorang pendeta, namun karena dia mengira Aku akan datang berlambat-lambat, maka diapun tertinggal. Dia tak mengira Aku datang sekarang, dia mengira saat kedatangan-Ku masih sangat lama. Itu sebabnya dia tertinggal." Pendeta itu berlari kian kemari dan berkata, "Tuhan, mengapa saya tertinggal di belakang? Jika saya seorang Pendeta, jika saya mempunyai posisi dalam gereja, dan gereja telah pergi, saya tertinggal? Mengapa?" Tuhan menjawab, "Anak, Aku tak dapat berbuat sesuatu sekarang, dia mengira kedatangan-Ku akan diperlambat, sebab itu, dia tertinggal."
Saya melihat orang itu disiksa. Dia berkata, "Saya mau diangkat bersama Yesus! Saya mau ikut Tuhan sebab saya tak mau disini dan menderita dalam kesusahan yang besar ini!" Dia terus berlari kian kemari dan bertanya kepada dirinya, "Mengapa saya tertinggal? Bawalah saya dengan-Mu, Tuhan! Saya tak mau disini dan menderita!" Tuhan berkata, "Anak-Ku, tak ada yang dapat Kuperbuat sekarang, sekian lama Aku telah berbicara dengannya dan berkata bahwa Aku datang segera, namun dia tidak mempercayai-Ku. Nah, sekarang dia tertinggal."
Saya melihat orang-orang berlari kian kemari. Sangat banyak, putus asa, mencoba mencari damai, namun tak menemukan. Mereka berteriak, "Kami inginkan Firman Hidup! Kami haus Firman Allah!" Namun sudah terlambat, sebab Tuhan telah membawa gereja bersama-Nya. Saya melihat anak-anak muda perempuan dan lelaki berlari di hutan, dan gunung-gunung mencoba mencari damai. Namun tidak menemukannya. Tuhan berkata, “Anak-Ku, Aku telah membawa gereja-Ku, sekarang setanlah yang mengontrol.” Setan mengontrol dan kesusahan sedang terjadi dibumi! Orang-orang berlari dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mau memakan sesamanya hidup-hidup, dan tarik menarik rambut, menyalahkan satu sama lain dan saling menyakiti, sebab mereka ingin kedamaian, namun tak menemukannya! Keadaan di bumi sangat sulit sebab Tuhan telah membawa Gereja-Nya.
Masa sukar di bumi, saya melihat banyak hal buruk. Banyak orang menyakiti satu sama lain, mengatakan, "Kami inginkan kasih! Kami inginkan damai!" Namun terlambat! Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, Aku telah berbicara kepada mereka, Aku telah mengetok pada pintu hati orang-orang ini, namun mereka tak mau menemui-Ku. Nah, sekarang mereka tertinggal, dan tak ada yang dapat Kulakukan bagi mereka sekarang. Mengapa? Sebab Aku telah membawa Gereja-Ku bersama-Ku. Sementara umat-Ku berada di sorga dengan-Ku menikmati perjamuan kawin anak Domba, sementara orang-orang ini dalam penderitaan, akan ada tangisan dan kertak gigi. Sebab mereka tidak menuruti Firman-Ku, mereka lebih suka mengejek dan mengkritik Firman-Ku."
(Sumber: Email kiriman dari Sdr. Paul Santoso - Sydney, bahan telah diringkas)
Note: Apabila anda memerlukan traktat kesaksian/CD/DVD Kesaksian, anda akan memperolehnya secara gratis dari Sdr. Paul Santoso, dengan email address: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya ingin menceritakan kepada anda pengalaman saya bersama Tuhan Yesus pada tanggal 5 September, 1999. Kami berada di gereja dan kuasa Allah memenuhi kami. Saya terjatuh ke lantai dan merasakan kehadiran Allah di dalam saya. Dan mulailah suatu penglihatan nampak kepada saya.
Dalam penglihatan, saya melihat ada dua jalan. Jalan yang satu sangat lebar, dan banyak orang berjalan di jalan itu, tetapi mereka berjalan menuju pada kehancuran mereka. Jalan yang kedua sangat sempit. Saya melihat banyak orang yang berjalan di jalan itu, memuji dan memuliakan Tuhan.
Sementara saya berada di lantai saya melihat seorang penunggang kuda datang. Tuhan mendekati tempat dimana saya berada. Diulurkan tangan-Nya, dan saya merasakan roh saya keluar dari tubuh saya dan saya didekap-Nya. Kami mulai menunggang kuda, menanjak dan berhenti di tempat yang tidak tinggi ataupun rendah. Dia berkata kepada saya, "Lihat anak-Ku, telah Kukatakan bahwa Aku datang membawamu, dan itulah yang Kulakukan sekarang, sebab apa yang keluar dari mulut-Ku, Aku menggenapinya. Apa yang kukatakan, itu yang Kuperbuat. Itulah sebabnya Aku membawamu ke tempat ini. Pertama-tama akan Kutunjukkan kepadamu luka-luka-Ku, agar engkau dapat menghargainya dan tak pernah melupakan apa yang telah Kuperbuat bagi kamu sekalian."
Kami tiba di Takhta Allah dan Tuhan menunjukkan kepada saya dimana paku-paku itu terletak dan bagian tubuh-Nya yang tertikam. Dia menangis. Kulihat bekas-bekas luka dan bilur-bilur yang telah ditanggung-Nya bagi kita semua. Dia berkata, "Lihat anak-Ku, banyak diantaramu yang tidak menghargai semua yang telah Kuperbuat bagi kalian, banyak diantaramu lupa bahwa Aku telah mati disalibkan bagimu. Kurasakan sakit, anak-Ku. Rasa sakit yang sangat saat Umat-Ku menyangkal-Ku, seperti membuka luka-luka itu kembali, sangat menyakiti-Ku. Seolah-olah mereka menyalibkan-Ku kembali." Saya melihat Tuhan menangis, sakit saat kita mengecewakan-Nya.
Tuhan berkata, "Anak, akan Kutunjukkan saatnya, bagaimana kedatangan-Ku akan terjadi." Saya berkata, "Tuhan telah banyak yang telah saya lihat, mengapa Tuhan menunjukkan kepada saya yang lebih?" Kami tiba di Takhta Allah, saya melihat ribuan malaikat berkumpul. Kami mulai turun, dan berhenti pada awan-awan putih yang indah. Tuhan katakan, "Anak-Ku, perhatikan baik-baik, beginilah saatnya Aku datang kembali, inilah kedatangan-Ku."
Saya melihat orang-orang terangkat di keempat penjuru bumi, memuji dan menyembah nama Tuhan, dipenuhi kuasa Allah, berpakaian putih dan terangkat. Mereka menyanyikan lagu indah, "Kudus,Kudus, Kuduslah, ya Tuhan! Terima kasih, Bapa! Sebab Engkau telah mengangkat kami! Terima kasih, Tuhan, sebab Engkau telah mengangkat kami!"
Saya melihat berbagai jenis orang, tinggi, pendek, hitam, putih. Semua orang, dan semua malaikat terangkat bersama-sama ke arah dimana kami berada. Semuanya penuh ucapan syukur bagi Tuhan, mereka semua berkata, "Kudus! Kudus! Kuduslah Tuhan!" Sangat luar biasa! Saya melihat banyak orang dan berpikir saya mengenal mereka. Mereka semua dipenuhi kemuliaan Allah.
Setelah itu kami tiba pada Takhta Allah, Tuhan berkata, "Anak-Ku, marilah." Kami keluar dari ruangan Takhta dan tiba di suatu tempat berjendela kecil. Tuhan berkata, "Anak-Ku, pandanglah ke bawah." Saya melihat pemandangan yang buruk, pemandangan yang dahsyat; seluruh bumi penuh kesulitan dan penderitaan. Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, inilah yang akan terjadi setelah Kujemput Umat-Ku dari bumi. Kejadian ini setelah kedatangan-Ku, kejadian ini setelah Gereja-Ku berada disini bersama-Ku." Kulihat pemandangan yang sangat dahsyat.
Saya melihat orang merayakan sesuatu sejenak, lalu saya melihat seorang ayah mencari anak lelakinya, seorang ibu mencari anak-anak perempuannya, namun tak menemukan, karena Allah yang Mahakuasa telah membawa mereka. Keluarga mencari keluarganya namun tak menemukannya. Orang-orang mencari tetangganya namun tak menemukannya, sebab Tuhan telah mengangkat mereka bersama-sama dengan Dia.
Sesuatu yang dahsyat telah terjadi di seluruh bumi. Saya melihat pendeta berlari dari satu tempat ke tempat lain. Saya bertanya, "Tuhan, mengapa orang itu berlari kian kemari?" Tuhan menjawab, "Anak-Ku, orang ini seorang pendeta, namun karena dia mengira Aku akan datang berlambat-lambat, maka diapun tertinggal. Dia tak mengira Aku datang sekarang, dia mengira saat kedatangan-Ku masih sangat lama. Itu sebabnya dia tertinggal." Pendeta itu berlari kian kemari dan berkata, "Tuhan, mengapa saya tertinggal di belakang? Jika saya seorang Pendeta, jika saya mempunyai posisi dalam gereja, dan gereja telah pergi, saya tertinggal? Mengapa?" Tuhan menjawab, "Anak, Aku tak dapat berbuat sesuatu sekarang, dia mengira kedatangan-Ku akan diperlambat, sebab itu, dia tertinggal."
Saya melihat orang itu disiksa. Dia berkata, "Saya mau diangkat bersama Yesus! Saya mau ikut Tuhan sebab saya tak mau disini dan menderita dalam kesusahan yang besar ini!" Dia terus berlari kian kemari dan bertanya kepada dirinya, "Mengapa saya tertinggal? Bawalah saya dengan-Mu, Tuhan! Saya tak mau disini dan menderita!" Tuhan berkata, "Anak-Ku, tak ada yang dapat Kuperbuat sekarang, sekian lama Aku telah berbicara dengannya dan berkata bahwa Aku datang segera, namun dia tidak mempercayai-Ku. Nah, sekarang dia tertinggal."
Saya melihat orang-orang berlari kian kemari. Sangat banyak, putus asa, mencoba mencari damai, namun tak menemukan. Mereka berteriak, "Kami inginkan Firman Hidup! Kami haus Firman Allah!" Namun sudah terlambat, sebab Tuhan telah membawa gereja bersama-Nya. Saya melihat anak-anak muda perempuan dan lelaki berlari di hutan, dan gunung-gunung mencoba mencari damai. Namun tidak menemukannya. Tuhan berkata, “Anak-Ku, Aku telah membawa gereja-Ku, sekarang setanlah yang mengontrol.” Setan mengontrol dan kesusahan sedang terjadi dibumi! Orang-orang berlari dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mau memakan sesamanya hidup-hidup, dan tarik menarik rambut, menyalahkan satu sama lain dan saling menyakiti, sebab mereka ingin kedamaian, namun tak menemukannya! Keadaan di bumi sangat sulit sebab Tuhan telah membawa Gereja-Nya.
Masa sukar di bumi, saya melihat banyak hal buruk. Banyak orang menyakiti satu sama lain, mengatakan, "Kami inginkan kasih! Kami inginkan damai!" Namun terlambat! Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, Aku telah berbicara kepada mereka, Aku telah mengetok pada pintu hati orang-orang ini, namun mereka tak mau menemui-Ku. Nah, sekarang mereka tertinggal, dan tak ada yang dapat Kulakukan bagi mereka sekarang. Mengapa? Sebab Aku telah membawa Gereja-Ku bersama-Ku. Sementara umat-Ku berada di sorga dengan-Ku menikmati perjamuan kawin anak Domba, sementara orang-orang ini dalam penderitaan, akan ada tangisan dan kertak gigi. Sebab mereka tidak menuruti Firman-Ku, mereka lebih suka mengejek dan mengkritik Firman-Ku."
(Sumber: Email kiriman dari Sdr. Paul Santoso - Sydney, bahan telah diringkas)
Note: Apabila anda memerlukan traktat kesaksian/CD/DVD Kesaksian, anda akan memperolehnya secara gratis dari Sdr. Paul Santoso, dengan email address: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, July 7, 2008
A Warning of The Lord Through Sr. Bernada Fernandez
The text you are about to read, is the first part of the testimony of sister Bernarda Fernandez, who was privileged to be taken by Jesus Christ to visit the next world. THIS IS THE TESTIMONY OF MY FIRST JOURNEY
I was not feeling well that morning, my husband refused to leave me on my own and go to work. I told him that I was not alone. After he left, I felt that I was dying. So I decided to phone some of my friends, and my mother-in-law. My mother-in-law answered: "Bernarda, God will bless you today, do not be afraid". The same answer came from another brother in Christ that I phoned, but he added: "Bernarda, get up from your bed and praise the Lord, cry to Him and glorify Him". So, in spite of my lack of strength I cried to the Lord saying: "Lord, You are my strength, come and help me". I tried to stand up, but my strength left me. My voice could no longer be heard but in my soul I was crying to the Lord to help me since I was dying.
Suddenly my room was lit up of a light which looked like a fire. Immediately my fear
vanished and I saw angels descending and walking in my room. I could hear them clearly speaking to each other, and suddenly a marvelous being appeared, more marvelous than angels. He was dressed in White with a golden sash. On His chest was written in gold: "FAITHFUL AND TRUE". His face was showing gentleness and Love. Jesus the CHRIST was in front of me, the King of kings and the Lord of lords. Blessed be His name! Jesus approached me, touched my head and told me: "I am Jesus who died for you. Look at these marks in My hands, they are still there for you. I came down from My throne of glory to speak to you; there are many things in your life to put right. You are lazy and quick-tempered. Moreover, I do not want 25% Christian nor 95%, but 100%. If you want to go to heaven, you have to be holy as I Myself am holy; I came to take you for a journey".
I asked Him: "Lord, is it a missionary journey?" He answered, "No". Then He took me by my hands and lifted me up, and talked to me with simplicity and Love. He brought me as far as my windows, He looked at the city of New-York and I saw sadness on His face. He wept and said: "My Word is well preached, but people do not listen. The sin of this city has reached My Father". The city was full of homosexuals; among them were Politicians. The Lord told me: "It's another Sodom, but I am alive and the judgments of My Father will soon fall on this city". Then I knelt before the Lord while crying and He told me: "Do not be afraid. When judgment falls on this world, my Church will no longer be on earth". He then led me again towards my bed and asked me to phone a brother from my congregation. He gave me the name of the then brother. He then asked me to tell him that my spirit would come out of my body, and that they should not bring my corpse to the hospital or to any funeral ceremony.
Instead, they should tell my husband to trust the one who is the Resurrection and the Life (John 11: 25). The Lord told me again: "I who give life, I take your spirit but you will come back and tell the peoples to trust me fully. The one who believes in Me will never die" (John 11:26). He stretched His hands and I saw that another body came out of me. I was dressed in white and I was shining like the Lord, He told me: "Look! This is the body that Christians who obey My Word will soon have". I realized that I could go through the walls. The Lord who was holding me by my hand said: "Look"! When I turned, I saw my body without spirit. He explained to me that my physical body was worthless, it was nothing but dust, and that at death it will become dust again, as any physical body. He added that the new body I had was a glorious one which is the spirit He gave to man. I thought He would lead me straight to heaven, but it was not the case. We descended through a tunnel below the earth, and when approaching a certain place I could perceive an unbearable smell. I said: "Lord I do not want to go into that place". But we went in; that place was dark and not worth living.
I heard people suffering, weeping and screaming. When we got to the end of the tunnel, we sat on a rock and the Lord told me: "Look"! I saw people suffering. In hell, people spend their time crying, and no one cares about others.
Dear brothers and sisters, I just came to realize that HELL IS REAL. I wept and wept, and when I looked at the Lord, He told me: "Hold on to what you have seen, and do not forget it". I was looking at the hell, and people were screaming! It's forever! it's forever! Pain and hatred for ever and ever." I turned toward the Lord and asked Him: "Is there anyone from my family in this hell?" "Yes", said the Lord and I will allow you to see him. Suddenly I saw a young man coming from the depths of the hell: It was Alexander. I knew this young man at a crusade my husband and I attended in Dominica Republic. During that crusade, I heard a voice saying to me, "Get up, go and meet Alexander who is passing by. Tell him not to reject this message, for I'm giving him a last chance". This voice was the voice of the Lord even though I did not see Him. I told Alexander what the Lord told me. This is how he responded: "You Christians are all fools. You deceive people by telling them that Jesus Christ is coming, I, Alexander, do not believe this to be the truth". I told him: "Alexander, God gives life and takes it away when he wants; Alexander, you will soon die. He answered: "I am too young to die, I still have many good years of festivities on this earth." This chance was truly the last for Alexander. Dear reader, what do you know about yourself? Three weeks later, Alexander died while he was drunk. His destination was this place of torment where I saw him (hell). The Bible states clearly that drunkards will not inherit the kingdom of God (Galatians 5: 21).
When looking at people in hell, I could see Alexander attacked by two big worms. He was screaming!" He was tormented. He recognized me and told me: "I neglected my last chance. I am here today, suffering. Please, when you return to earth, go to my house and tell my family to believe in Jesus Christ and to obey His word, so that they will not come to this place of torment." Then the Lord showed me thousands of people who were suffering in hell, and He told me: "You see, some of these people knew Me when they were on earth. There are still a lot of people on earth who walk on the street without knowing where they go. Know that the way to heaven is very narrow, and it will be narrower again. There will be difficulties on earth, so that you will be as pure as gold, but fear not for I am ahead of you like a mighty warrior". I asked Him: "ARE THERE CHRISTIANS IN THIS HELL?", He answered: "Yes, do you know why? They believed in Me but they did not walk according to my Word. There are many, those Christians who only behave well when they are in the temple, in front of their pastors and their family. But they are greatly deceiving themselves. The eyes of my Father see everything and He understands every word, wherever you are. Tell my people that it's time they lived a holy life before my Father, before the devil and before the world. It's high time to seek holiness and consecration "(1 Peter 1: 14-16)
Then we went where there was a lake of fire. As we were approaching the lake, I perceived a very bad smell and the Lord told me: "What you see there is a lake of fire, which is ready for the devil, the false prophet, and the Antichrist. I did not prepare this place for men, but all those who do not believe in me as their Savior and those who do not live according to my word will go there (Revelation 20:14)"
At that moment I saw Jesus weeping and He told me again: "There are more lost than those who going to heaven". Then Jesus showed me the number of people who were dying in a minute and He told me: "Look! How many are lost! My Church is sleeping despite the fact that She has received my power; She has My word and the Holy Spirit, but She is sleeping. On earth there are people who preach that hell does not exist. Go and tell them that this place is real". I was very far from that place, but I could feel the heat. We left Hades and we went to heaven. We kept on going and went to the second heaven.
In that heaven the Lord showed me the sun and the stars and He told: "Look at these stars, I call each one by its name. Do you see this sun, it's by my power that it shines both on the righteous and the wicked. But there will come a day when the sun will no longer shine, everything will be darkness".
We went further and reached heaven where God lives. There, were beautiful houses. The walls of those houses were very high, of pure gold and of precious stones. There were twelve gates of pearls, with twelve angels at the gates. I thought I could not go in, but the Lord looked at me and said: "Do you want to go in?" "Oh yes Lord! I really want to." "Then get in, for I Myself am the door" (John 10:9).
At that moment I went in through a precious gate and I saw a garden of magnificent flowers. "Do you want to go in the garden? Then go in for I've prepared this for
you and my people". When I stepped in, I started to pick some flowers and to arrange
some bunches. I was running in the garden like a little girl. The flowers I picked had many colors with a very nice smell. After that, the Lord called someone. It was
an angel, strong and so beautiful that I could not describe. The Lord told
me: "Do you see this one, he is the Archangel Michael, he is the one who leads my army. Look again!" I saw a mighty army on horses and the Lord told me: "It's not a human army, but my Father's.
This army is at the disposal of Christians who are REALLY born again; do not fear, for it is more powerful than the one which is in the world". Then He showed me another angel. "This one is the messenger of Christians who obey my word". I was happy to hear that.
Jesus told me: "Be attentive! I am the God of Abraham, the God of Moses, the God of Elijah, the One who caused fire to fall from heaven; I have not changed. I am going to show you the condition in which My people live in these last days they've got left". The Lord told me: "Be very careful about the things I'm going to show you". I saw Christians who were weak and tired.
The Lord asked me this question: "Do you believe that I can take this Church away in its present state?" Then He told me, "Christians that I will take away with me will be glorious, triumphant, spotless, blameless. Among My people there are lies, lack of love, My people are divided. I showed you the condition of Christians in these last days; Now I'm going to show you how the early Church lived. Those brothers and sisters were filled with the glory of God. They constantly fasted and prayed; they preached my word without any fear. Whereas present Christians think that I've changed, they also think that the Holy Spirit has changed.
The big mistake of Christians today is the fact that they live a routine life, planned by human beings. Therefore they've forgotten that the messages are from the Holy Spirit and from above. Tell My servants, the pastors, that time has come to put behind those routine programs. If they do, you will see the power of God in your midst, the Holy Spirit who was manifest in the early Church. He will perform signs, miracles and wonders in great number, causing the dead to rise. The Holy Spirit is still the same, it's you who have changed". Philippians 3:20 says, "For our citizenship is in heaven, from whence we look or the Saviour, the Lord Jesus Christ." (Email ini kiriman Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
I was not feeling well that morning, my husband refused to leave me on my own and go to work. I told him that I was not alone. After he left, I felt that I was dying. So I decided to phone some of my friends, and my mother-in-law. My mother-in-law answered: "Bernarda, God will bless you today, do not be afraid". The same answer came from another brother in Christ that I phoned, but he added: "Bernarda, get up from your bed and praise the Lord, cry to Him and glorify Him". So, in spite of my lack of strength I cried to the Lord saying: "Lord, You are my strength, come and help me". I tried to stand up, but my strength left me. My voice could no longer be heard but in my soul I was crying to the Lord to help me since I was dying.
Suddenly my room was lit up of a light which looked like a fire. Immediately my fear
vanished and I saw angels descending and walking in my room. I could hear them clearly speaking to each other, and suddenly a marvelous being appeared, more marvelous than angels. He was dressed in White with a golden sash. On His chest was written in gold: "FAITHFUL AND TRUE". His face was showing gentleness and Love. Jesus the CHRIST was in front of me, the King of kings and the Lord of lords. Blessed be His name! Jesus approached me, touched my head and told me: "I am Jesus who died for you. Look at these marks in My hands, they are still there for you. I came down from My throne of glory to speak to you; there are many things in your life to put right. You are lazy and quick-tempered. Moreover, I do not want 25% Christian nor 95%, but 100%. If you want to go to heaven, you have to be holy as I Myself am holy; I came to take you for a journey".
I asked Him: "Lord, is it a missionary journey?" He answered, "No". Then He took me by my hands and lifted me up, and talked to me with simplicity and Love. He brought me as far as my windows, He looked at the city of New-York and I saw sadness on His face. He wept and said: "My Word is well preached, but people do not listen. The sin of this city has reached My Father". The city was full of homosexuals; among them were Politicians. The Lord told me: "It's another Sodom, but I am alive and the judgments of My Father will soon fall on this city". Then I knelt before the Lord while crying and He told me: "Do not be afraid. When judgment falls on this world, my Church will no longer be on earth". He then led me again towards my bed and asked me to phone a brother from my congregation. He gave me the name of the then brother. He then asked me to tell him that my spirit would come out of my body, and that they should not bring my corpse to the hospital or to any funeral ceremony.
Instead, they should tell my husband to trust the one who is the Resurrection and the Life (John 11: 25). The Lord told me again: "I who give life, I take your spirit but you will come back and tell the peoples to trust me fully. The one who believes in Me will never die" (John 11:26). He stretched His hands and I saw that another body came out of me. I was dressed in white and I was shining like the Lord, He told me: "Look! This is the body that Christians who obey My Word will soon have". I realized that I could go through the walls. The Lord who was holding me by my hand said: "Look"! When I turned, I saw my body without spirit. He explained to me that my physical body was worthless, it was nothing but dust, and that at death it will become dust again, as any physical body. He added that the new body I had was a glorious one which is the spirit He gave to man. I thought He would lead me straight to heaven, but it was not the case. We descended through a tunnel below the earth, and when approaching a certain place I could perceive an unbearable smell. I said: "Lord I do not want to go into that place". But we went in; that place was dark and not worth living.
I heard people suffering, weeping and screaming. When we got to the end of the tunnel, we sat on a rock and the Lord told me: "Look"! I saw people suffering. In hell, people spend their time crying, and no one cares about others.
Dear brothers and sisters, I just came to realize that HELL IS REAL. I wept and wept, and when I looked at the Lord, He told me: "Hold on to what you have seen, and do not forget it". I was looking at the hell, and people were screaming! It's forever! it's forever! Pain and hatred for ever and ever." I turned toward the Lord and asked Him: "Is there anyone from my family in this hell?" "Yes", said the Lord and I will allow you to see him. Suddenly I saw a young man coming from the depths of the hell: It was Alexander. I knew this young man at a crusade my husband and I attended in Dominica Republic. During that crusade, I heard a voice saying to me, "Get up, go and meet Alexander who is passing by. Tell him not to reject this message, for I'm giving him a last chance". This voice was the voice of the Lord even though I did not see Him. I told Alexander what the Lord told me. This is how he responded: "You Christians are all fools. You deceive people by telling them that Jesus Christ is coming, I, Alexander, do not believe this to be the truth". I told him: "Alexander, God gives life and takes it away when he wants; Alexander, you will soon die. He answered: "I am too young to die, I still have many good years of festivities on this earth." This chance was truly the last for Alexander. Dear reader, what do you know about yourself? Three weeks later, Alexander died while he was drunk. His destination was this place of torment where I saw him (hell). The Bible states clearly that drunkards will not inherit the kingdom of God (Galatians 5: 21).
When looking at people in hell, I could see Alexander attacked by two big worms. He was screaming!" He was tormented. He recognized me and told me: "I neglected my last chance. I am here today, suffering. Please, when you return to earth, go to my house and tell my family to believe in Jesus Christ and to obey His word, so that they will not come to this place of torment." Then the Lord showed me thousands of people who were suffering in hell, and He told me: "You see, some of these people knew Me when they were on earth. There are still a lot of people on earth who walk on the street without knowing where they go. Know that the way to heaven is very narrow, and it will be narrower again. There will be difficulties on earth, so that you will be as pure as gold, but fear not for I am ahead of you like a mighty warrior". I asked Him: "ARE THERE CHRISTIANS IN THIS HELL?", He answered: "Yes, do you know why? They believed in Me but they did not walk according to my Word. There are many, those Christians who only behave well when they are in the temple, in front of their pastors and their family. But they are greatly deceiving themselves. The eyes of my Father see everything and He understands every word, wherever you are. Tell my people that it's time they lived a holy life before my Father, before the devil and before the world. It's high time to seek holiness and consecration "(1 Peter 1: 14-16)
Then we went where there was a lake of fire. As we were approaching the lake, I perceived a very bad smell and the Lord told me: "What you see there is a lake of fire, which is ready for the devil, the false prophet, and the Antichrist. I did not prepare this place for men, but all those who do not believe in me as their Savior and those who do not live according to my word will go there (Revelation 20:14)"
At that moment I saw Jesus weeping and He told me again: "There are more lost than those who going to heaven". Then Jesus showed me the number of people who were dying in a minute and He told me: "Look! How many are lost! My Church is sleeping despite the fact that She has received my power; She has My word and the Holy Spirit, but She is sleeping. On earth there are people who preach that hell does not exist. Go and tell them that this place is real". I was very far from that place, but I could feel the heat. We left Hades and we went to heaven. We kept on going and went to the second heaven.
In that heaven the Lord showed me the sun and the stars and He told: "Look at these stars, I call each one by its name. Do you see this sun, it's by my power that it shines both on the righteous and the wicked. But there will come a day when the sun will no longer shine, everything will be darkness".
We went further and reached heaven where God lives. There, were beautiful houses. The walls of those houses were very high, of pure gold and of precious stones. There were twelve gates of pearls, with twelve angels at the gates. I thought I could not go in, but the Lord looked at me and said: "Do you want to go in?" "Oh yes Lord! I really want to." "Then get in, for I Myself am the door" (John 10:9).
At that moment I went in through a precious gate and I saw a garden of magnificent flowers. "Do you want to go in the garden? Then go in for I've prepared this for
you and my people". When I stepped in, I started to pick some flowers and to arrange
some bunches. I was running in the garden like a little girl. The flowers I picked had many colors with a very nice smell. After that, the Lord called someone. It was
an angel, strong and so beautiful that I could not describe. The Lord told
me: "Do you see this one, he is the Archangel Michael, he is the one who leads my army. Look again!" I saw a mighty army on horses and the Lord told me: "It's not a human army, but my Father's.
This army is at the disposal of Christians who are REALLY born again; do not fear, for it is more powerful than the one which is in the world". Then He showed me another angel. "This one is the messenger of Christians who obey my word". I was happy to hear that.
Jesus told me: "Be attentive! I am the God of Abraham, the God of Moses, the God of Elijah, the One who caused fire to fall from heaven; I have not changed. I am going to show you the condition in which My people live in these last days they've got left". The Lord told me: "Be very careful about the things I'm going to show you". I saw Christians who were weak and tired.
The Lord asked me this question: "Do you believe that I can take this Church away in its present state?" Then He told me, "Christians that I will take away with me will be glorious, triumphant, spotless, blameless. Among My people there are lies, lack of love, My people are divided. I showed you the condition of Christians in these last days; Now I'm going to show you how the early Church lived. Those brothers and sisters were filled with the glory of God. They constantly fasted and prayed; they preached my word without any fear. Whereas present Christians think that I've changed, they also think that the Holy Spirit has changed.
The big mistake of Christians today is the fact that they live a routine life, planned by human beings. Therefore they've forgotten that the messages are from the Holy Spirit and from above. Tell My servants, the pastors, that time has come to put behind those routine programs. If they do, you will see the power of God in your midst, the Holy Spirit who was manifest in the early Church. He will perform signs, miracles and wonders in great number, causing the dead to rise. The Holy Spirit is still the same, it's you who have changed". Philippians 3:20 says, "For our citizenship is in heaven, from whence we look or the Saviour, the Lord Jesus Christ." (Email ini kiriman Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, April 23, 2008
The Story of The Actor of "The Passion of Jesus Christ"
THE PASSION OF JIM CAVIEZEL
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Inilah kesaksiannya. . .
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA SEBELUM "THE PASSION" ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam "The Thin Red Line", Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut pada suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?” tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek Aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah risiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”
Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.
"Baiklah, Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung risikonya, mari kita buat film ini!"
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, "Dapatkah saya melakukannya?" Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini.
Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seseorang yang dalam hubungan intim dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada di puncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting dan membuat saya sangat tertekan.
Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.
Saya berkata pada Mel, "Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini."
Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.
Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, disamping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, “Dia sadar! Dia sadar!”.
“Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mukjizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?” Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat kepada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.
Saya harap mereka yang menonton "The Passion Of Jesus Christ", tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya kepada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul dalam doa selama pembuatan film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin. (Sumber: Internet- kiriman Sdri. Debbie)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Inilah kesaksiannya. . .
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA SEBELUM "THE PASSION" ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam "The Thin Red Line", Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut pada suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?” tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek Aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah risiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”
Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.
"Baiklah, Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung risikonya, mari kita buat film ini!"
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, "Dapatkah saya melakukannya?" Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini.
Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seseorang yang dalam hubungan intim dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada di puncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting dan membuat saya sangat tertekan.
Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.
Saya berkata pada Mel, "Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini."
Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.
Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, disamping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, “Dia sadar! Dia sadar!”.
“Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mukjizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?” Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat kepada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.
Saya harap mereka yang menonton "The Passion Of Jesus Christ", tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya kepada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul dalam doa selama pembuatan film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin. (Sumber: Internet- kiriman Sdri. Debbie)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, April 4, 2008
The Story of Pencils
Kisah Sebuah Pensil
Seorang anak laki-laki sedang memperhatikan neneknya menulis surat. Pada suatu saat, anak itu bertanya, “Apakah nenek sedang menulis kisah tentang apa yang kita telah lakukan? Apakah itu cerita tentang saya?”
Neneknya berhenti menulis surat itu dan berkata kepada cucunya: ”Saya sedang menulis tentang kamu, sebenarnya, tetapi yang lebih penting daripada kata-kata adalah pensil yang saya sedang gunakan. Nenek harap kammu akan menjadi seperti pensil ini ketika kamu tumbuh dewasa.”
Karena penasaran, anak itu melihat sang pensil. Kelihatannya pensil itu tidak istimewa. ”Tetapi sama saja dengan pensil yang pernah saya lihat!”
Itu bergantung pada bagaimana kamu melihat segala sesuatu. Pensil itu mempunyai lima kualitas yang, jika kamu memilikinya, akan membuat kamu menjadi seseorang yang selalu berdamai dengan dunia ini.
Kualitas pertama: kamu sanggup melakukan perkara-perkara hebat, tetapi kamu jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang menuntun langkah-langkahmu. Kita memanggil tangan itu TUHAN, dan Dia selalu menuntun kita menurut kehendak-Nya.
Kualitas kedua: sesekali saya harus berhenti menulis dan menggunakan penajam pensil. Hal itu membuat pensil menderita sejenak, tetapi kemudian, pensil itu menjadi jauh lebih tajam. Makanya kamu juga harus belajar menahan beberapa penderitaan dan dukacita, karena hal itu akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.
Kualitas ketiga: pensil itu selalu memungkinkan kita memakai penghapus untuk menghilangkan setiap kekeliruan. Itu artinya mengoreksi sesuatu yang telah kita lakukan bukanlah hal buruk; hal itu menolong kita tetap ada di jalur kebenaran.
Kualitas keempat: apa yang sangat penting dalam sebuah pensil bukanlah gagang kayu di luarnya, tetapi grafit hitam di dalamnya. Oleh karena itu selalulah memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Akhirnya, kualitas kelima: pensil itu selalu meninggalkan tanda. Dengan cara yang sama segala sesuatu yang kamu lakukan di dalam kehidupan ini akan meninggalkan sebuah tanda, makanya berusahalah untuk menyadari hal itu dalam setiap tindakanmu.”
*****
The Story of Pencils
A boy was watching her grandmother write a letter. At one point, he asked: "Are you writing a story about what we've done? Is it a story about me?"
His grandmother stopped writing her letter and said to her grandson: "I am writing about you, actually, but more important than the words is the pencil I'm using, I hope you will be like this pencil when you grow up."
Intrigued, the boy looked at the pencil. It didn't seem very special. "But it's just like any other pencil I've ever seen!"
"That depends on how you look at things. It has five qualities which, if you manage to hang on to them, will make you a person who is always at peace with the worlds.
-First quality: you are capable of great things, but you must never forget that there is a hand guiding your steps. We call that hand GOD, and He always guides us according to His will.
-Second quality: now and then, I have to stop writing and use a sharpener. That makes the pencil suffer a little, but afterwards, he's much sharper. So you, too, must learn to bear certain pains and sorrow, because they will make you a better person.
-Third quality: the pencil always allows us to use an eraser to rub out any mistakes. This means that correcting something we did is not necessarily a bad
things; it helps to keep us on the road to justice.
-Fourth quality: what really matters in a pencil is not its wooden exterior, but the graphite inside. So always pay attention to what is happening inside you.
-Finally, the pencil's fifth quality: it always leaves a mark. In just the same way, you should know that everything you do in life will leave a mark, so try to be conscious of that in your every action."
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Seorang anak laki-laki sedang memperhatikan neneknya menulis surat. Pada suatu saat, anak itu bertanya, “Apakah nenek sedang menulis kisah tentang apa yang kita telah lakukan? Apakah itu cerita tentang saya?”
Neneknya berhenti menulis surat itu dan berkata kepada cucunya: ”Saya sedang menulis tentang kamu, sebenarnya, tetapi yang lebih penting daripada kata-kata adalah pensil yang saya sedang gunakan. Nenek harap kammu akan menjadi seperti pensil ini ketika kamu tumbuh dewasa.”
Karena penasaran, anak itu melihat sang pensil. Kelihatannya pensil itu tidak istimewa. ”Tetapi sama saja dengan pensil yang pernah saya lihat!”
Itu bergantung pada bagaimana kamu melihat segala sesuatu. Pensil itu mempunyai lima kualitas yang, jika kamu memilikinya, akan membuat kamu menjadi seseorang yang selalu berdamai dengan dunia ini.
Kualitas pertama: kamu sanggup melakukan perkara-perkara hebat, tetapi kamu jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang menuntun langkah-langkahmu. Kita memanggil tangan itu TUHAN, dan Dia selalu menuntun kita menurut kehendak-Nya.
Kualitas kedua: sesekali saya harus berhenti menulis dan menggunakan penajam pensil. Hal itu membuat pensil menderita sejenak, tetapi kemudian, pensil itu menjadi jauh lebih tajam. Makanya kamu juga harus belajar menahan beberapa penderitaan dan dukacita, karena hal itu akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.
Kualitas ketiga: pensil itu selalu memungkinkan kita memakai penghapus untuk menghilangkan setiap kekeliruan. Itu artinya mengoreksi sesuatu yang telah kita lakukan bukanlah hal buruk; hal itu menolong kita tetap ada di jalur kebenaran.
Kualitas keempat: apa yang sangat penting dalam sebuah pensil bukanlah gagang kayu di luarnya, tetapi grafit hitam di dalamnya. Oleh karena itu selalulah memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Akhirnya, kualitas kelima: pensil itu selalu meninggalkan tanda. Dengan cara yang sama segala sesuatu yang kamu lakukan di dalam kehidupan ini akan meninggalkan sebuah tanda, makanya berusahalah untuk menyadari hal itu dalam setiap tindakanmu.”
*****
The Story of Pencils
A boy was watching her grandmother write a letter. At one point, he asked: "Are you writing a story about what we've done? Is it a story about me?"
His grandmother stopped writing her letter and said to her grandson: "I am writing about you, actually, but more important than the words is the pencil I'm using, I hope you will be like this pencil when you grow up."
Intrigued, the boy looked at the pencil. It didn't seem very special. "But it's just like any other pencil I've ever seen!"
"That depends on how you look at things. It has five qualities which, if you manage to hang on to them, will make you a person who is always at peace with the worlds.
-First quality: you are capable of great things, but you must never forget that there is a hand guiding your steps. We call that hand GOD, and He always guides us according to His will.
-Second quality: now and then, I have to stop writing and use a sharpener. That makes the pencil suffer a little, but afterwards, he's much sharper. So you, too, must learn to bear certain pains and sorrow, because they will make you a better person.
-Third quality: the pencil always allows us to use an eraser to rub out any mistakes. This means that correcting something we did is not necessarily a bad
things; it helps to keep us on the road to justice.
-Fourth quality: what really matters in a pencil is not its wooden exterior, but the graphite inside. So always pay attention to what is happening inside you.
-Finally, the pencil's fifth quality: it always leaves a mark. In just the same way, you should know that everything you do in life will leave a mark, so try to be conscious of that in your every action."
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI