Search This Blog

Showing posts with label Syukur - Thankful. Show all posts
Showing posts with label Syukur - Thankful. Show all posts

Monday, May 7, 2012

Bersyukur Atas Keberuntungan

 

Bersyukur Atas Keberuntungan


Intisari-Online.com –

Sebagai seorang ayah, kampiun Mohammad Ali memberikan pendidikan moral kepada anaknya dengan berbagai cara. Salah satunya melalui dongeng kisah-kisah menarik. Sudah banyak dongeng yang meluncur dari mulut Ali, namun ada satu kisah yang senantiasa diulang-ulang sehingga membuat putrinya, Hana Ali, selalu teringat sampai dewasa. Inilah ceritanya.

Di sebuah negeri, Baginda Raja merasakan bahwa salah seorang budak istana yang bernama Dulah adalah manusia yang baik. Dulah kemudian diangkat menjadi pelayan istana dan diberi baju-baju bagus.
Mengetahui hal itu, seorang pegawai istana iri hati. Ia menyelidiki semua tingkah laku Dulah, sampai akhirnya mendapat petunjuk bahwa pembantu baru tersebut melakukan tindak kriminal. Buktinya, setiap hari Dulah membawa sebuah kantung dan masuk ke gudang harta. Beberapa saat kemudian ia keluar membawa kantung yang sama. Demikian dilakukan Dulah setiap hari. Sang pegawai istana lantas melaporkan bahwa Dulah mencuri.

Hari berikutnya, diam-diam raja bersembunyi di dalam gudang untuk membuktikan sendiri laporan pegawainya. Benarlah! Seperti biasanya pagi itu Dulah masuk gudang. Ia membuka bungkusan dan mengeluarkan pakaian kumalnya semasa menjadi budak, lalu memakainya. Sambil berdiri di depan cermin, ia berkata kepada “budak” di cermin, “Hai, Dulah, ingatlah kamu pernah menjadi budak. Jangan sekali-kali melupakan hal itu. Bersyukurlah atas keberuntunganmu.”

Dengan menahan haru, Sang Raja mendekati Dulah, “Sudah sejak lama saya menyadari, kamu adalah manusia berbudi luhur. Saya adalah raja, namun justru kamu yang memiliki hati raja.” (Intisari, author : K. Tatik Wardayati, 04 October 2011 - 09:34 am , )

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 16, 2011

Remember Me This Way

"REMEMBER ME THIS WAY" (Ochie Manik)

14 Januari 2011 saya memposting artikel berjudul "Remember Me This Way". Benar-benar tidak terpikir kalau 10 bulan kemudian saya akan menulis artikel dengan judul yang sama. Kalau artikel di bulan Januari hanyalah sebuah perenungan, maka judul yang sama di bulan Oktober ini adalah sebuah true story.

Q: How would you like to be remembered?

A: You choose.

Pilihan bukan di tangan orang yang akan mengingat kita.
Sebaliknya, bagaimana kita ingin diingat orang lain?
Seperti apa kita ingin dikenang oleh orang-orang yang dekat dengan kita, sahabat-sahabat kita, atau orang yang pernah berinteraksi dengan kita ?
Pilihan ada di tangan kita.. Pilihan ada di tangan Anda.

WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE

Terlahir 31 Maret 1997 dengan nama Yosephine Priskila Taruli Manik, dan memiliki panggilan sayang Ochie, sebagai putri pertama dari dua bersaudara. Membaca nama keluarga Manik di belakang namanya, mungkin teman-teman berpikir apakah memiliki hubungan keluarga dengan saya. Ya....benar sekali, Ochie adalah keponakan kandung saya.Putri sulung dari abang saya. Semua mengenalnya sebagai anak yang cantik, baik hati, sopan, suka tersenyum, suka menolong teman dan sangat suka belajar.
Saya ingat semasa balita, orang-orang senang mencubit pipinya karena sangat cantik dan menggemaskan.

Desember 2010, saya mendapat kabar kalau Ochie demam tinggi, dan ketika dibawa ke RS, hasil pemeriksaan menyatakan mengidap penyakit LEUKEMIA. KANKER DARAH. Seperti petir di siang bolong. Begitu tiba-tiba. Ochie menjalani perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit khusus kanker di Subang, Malaysia. Dan dipastikan, ya... memang Ochie menderita penyakit Leukemia. Perkiraan dokter waktu itu hanya butuh beberapa bulan saja untuk menangani penyakit tsb.

Bulan demi bulan dilalui, ternyata penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. tidak seperti perkiraaan dokter semula. Leukemia yang diderita Ochie sangat agresif sekali.

Meskipun begitu, anak yang suka tersenyum ini, benar-benar menunjukkan perjuangannya melawan penyakit yang sangat ganas ini. Berkali-kali menjalani kemoterapi, hingga semua rambut rontok, dan berbagai tindakan medis lainnya, yang sangat menyakiti tubuh anak belasan tahun ini, tidak mampu melumpuhkan semangat hidupnya.
Ada 1 jenis obat yang bila diminum akan membuat Ochie kesakitan dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak pernah ia menolak atau enggan untuk mengkonsumsi obat tsb. Semangat hidupnya tergambar jelas dalam salah satu status di twitternya, Ochie menulis :

"I HAVE CANCER, I HATE CANCER, AND I'M KILLING CANCER"

Semua keluarga yang menyaksikan perjuangannya setuju bahwa Ochie tidak mau diintimidasi oleh penyakitnya. Tidak sekalipun kelihatan anak kecil ini mengeluh. Setiap orang yang membesuknya selalu melihat senyuman menghiasi wajah Ochie.
Padahal semua orang tahu bagaimana rasa sakit yang dideritanya.

Banyak pasien lain yang mengalami derita seperti Ochie, mulai patah semangat, murung, dan tidak mau makan. Ochie sebaliknya, selalu tersenyum.

Apapun yang disediakan dia makan dengan lahap (kita bisa terkecoh, dan menyangka makanan yang dimakannya sangat lezat). Tidak heran, badannya bukan semakin kurus, malah lebih gemuk dan segar daripada sebelum didiagnosa Leukemia.
Suatu ketika, melihat Ochie yang makan dengan sangat lahap, mamanya ingin mencicipi makanannya tersebut, dan akhirnya menyadari ternyata makanan itu sangat plain, tidak seperti yang dibayangkan. Sang mama menangis dalam hati menyadari betapa putrinya ini sangat berjuang melawan Leukemia.

"MAMA, RUMAH BARUKU SUDAH SELESAI...."

Setelah 10 bulan berjuang, akhirnya Ochie menghembuskan nafas terakhir, 4 Oktober 2011 di tengah keluarga yang mengasihinya. Ia sempat berpesan kepada adiknya Catherine supaya menjaga kesehatannya, Ochie sempat memeluk erat papanya, dan ia juga mengucapkan terima kasih kepada mama yang tidak pernah lelah menemani dan merawatnya selama sakit.

Banyak orang yang mengenalnya menangis dan bertanya "WHY GOD?"

Selama 10 bulan semua keluarga tahu bagaimana Ochie dan seluruh keluarga berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan. Papanya meninggalkan pekerjaannya selama 10 bulan untuk bisa mendampingi Ochie, sang mama juga selalu ada di sampingnya, merawat Ochie sambil tekun berdoa memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhan anak terkasih. Setiap pagi dan malam di RS mereka membaca firman Tuhan, memuji, menyembah dan berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan. Keluarga ini masuk dalam keintiman yang sangat dalam kepada Tuhan, yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Mulai dari dokter, suster, bahkan janitor di RS negeri tetangga ini pun mengasihi anak kecil yang tabah, dan suka tersenyum ini.

Ochie menjadi pasien favorit di RS. Ada keluarga pasien lain yang sama-sama menderita Leukemia, berwarganegara Malaysia, juga sangat mengasihi Ochie. Sering membeli keperluan-keperluan Ochie, membawakan makanan untuk Ochie.
Semua orang yang mengenalnya di sana mengasihinya..

Muncul pertanyaan: kalau manusia saja sangat mengasihi Ochie, masakan Tuhan tidak menunjukkan belas kasihnya dengan menyembuhkan Ochie?
Mengapa Tuhan? Bukankah Ochie anak yang baik? Bukankah ia meminta dengan sangat supaya Engkau menyembuhkannya? Ohhh Tuhan, .... bagaimana mungkin anak yang Kau beri otak yang pintar (angka-angka yang menghiasi raportnya rata-rata angka 9) tidak Engkau beri kesempatan berkarya bagi Tuhan lebih lagi? Ohhh Tuhan,,,,,,, Air mata membanjiri hati keluarga, dan teman-teman yang mengasihi Ochie.

Saya sebagai tantenya juga sangat berduka. Semalam sebelum kepergiannya, saya menangis berdoa di hadapan Tuhan, dengan berpegang kepada satu ayat firman Tuhan saya berdoa "Tuhan, jangan ambil Ochie di pertengahan umurnya. Ijinkan dia menggenapi seluruh rencana-Mu dalam hidupnya."

Ditengah-tengah galaunya pikiran yang dipenuhi pertanyaan "kenapa ?", satu kesaksian yang membuat hati saya bisa berkata "God makes sense" (sekalipun belum mengerti) adalah ketika kemudian mendengar bahwa dua hari sebelum pulang ke rumah Bapa, Ochie berkata kepada mamanya,

"Mama, .... rumah baruku sudah selesai."

Yesus sudah menyediakan rumah baru untuk Ochie, sehingga Ochie harus pulang. Pertandingannya sudah selesai. Ochie sudah sampai garis FINISH.

"REMEMBER ME THIS WAY"

Selama berada di rumah duka, saya melihat banyak sekali orang-orang yang mengasihi Ochie. Berbagai kalangan berusaha menunjukkan simpati. Teman-teman sekolah yang sudah 10 bulan tidak ditemuinya, menyempatkan diri datang ke rumah duka mengucapkan perpisahan terakhir kali. Bahkan mereka menulis lagu perpisahan dan menyanyikannya untuk Ochie. Mereka juga minta ijin kepada pihak sekolah agar diberi kesempatan mengantarkan Ochie ke tempat peristirahatan terakhir. Tidak hanya berseragam putih-biru selayaknya siswa SMP, bahkan banyak yang berseragam putih-abu-abu, siswa SMA. Panas terik cuaca saat itu tidak mengurungkan niat mereka untuk ikut sampai ke tempat Ochie akan dikebumikan.

Guru yang pernah mengajarnya ketika masih TK juga datang ke rumah duka. Kalau bukan karena Ochie anak yang menyenangkan, tidak mungkin guru yang mengajarnya 10 tahun yang lalu masih ingat kepadanya. Orangtua teman-temannya juga menyempatkan diri untuk menyampaikan kesaksian mereka tentang Ochie. Melihat banyaknya teman dan saudara yang mengasihinya, kita mungkin cenderung akan mengingat Ochie sebagai anak yang baik, supel, pintar bergaul, sehingga dikasihi semua.

Apakah seperti itu Ochie ingin diingat?

Sebagai seseorang yang baik dan menyenangkan ?

SHE LEFT HER FOOTPRINTS : HER DIARY

Sampai saya melihat sebuah diary, yang selama Ochie sakit dipenuhi dengan tulisan-tulisan tangannya. Sebelum membuka halaman demi halaman yang ada di dalam diary itu, apa yang ada dalam benak Anda?

Pastilah isi dari diary itu kira-kira seperti ini:
Dear Diary..... hari ini aku merasakan sakit yang luar biasa, .... aku sudah nggak kuat lagi ... Dear Diary ......kenapa ya Tuhan mengijinkan aku mengalami sakit ini?
Dear Diary... kok aku nggak sembuh-sembuh ? Tuhan kenapa nggak tolong Ochie? Apa Tuhan nggak sayang sama Ochie?

TERNYATA ...............

Yang saya temukan dalam halaman demi halaman, adalah tulisan tangan yang sangat rapi. Semua diberi garis tepi. Dan semua tulisan itu adalah alamat ayat Alkitab berikut isinya, yang selama 10 bulan Ochie berjuang telah memberi kekuatan, pengharapan, dan pengucapan syukur.

Kapan Ochie menuliskan ayat-ayat di dalam Diary ini ?
Apakah ketika ia sedang dalam kondisi agak fit? Yang sangat jarang terjadi?
Papanya bersaksi, bukan hanya ketika kondisinya baik, bahkan ketika merasa sakit pun Ochie tetap menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan imannya.

Di antara ayat-ayat tersebut ada yang diberi kotak merah :

"Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada."

Saat membalik lembar demi lembar diary ini, saya bisa merasakan pergumulannya, pengharapannya, bisa merasakan kasihnya, bisa merasakan kebergantungan Ochie kepada Tuhan.

Karena Ochie tetap menulis bahkan ketika ia sedang di tengah rasa sakit yang hebat, saya bisa merasakan sukacitanya sekalipun doanya belum dijawab. Saya bisa merasakan pengucapan syukurnya, sekalipun Ochie tidak melihat adanya fakta untuk mengucap syukur.

Rasa penasaran saya membuat saya terus membuka halaman demi halaman sampai tulisan tangannya yang terakhir. Saya menghitung.

Semuanya ada 101 halaman yang berisi tulisan tangannya.
Total ada 599 ayat dari Alkitab yang ditulisnya ulang di diary ini.

WHAT WOULD YOU DO WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE ?

Kebanyakan orang akan complain. Mengeluh. Bersungut-sungut. Atau marah kepada Tuhan. Itu yang dilakukan jutaan bangsa Israel ketika berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

FOOTPRINTS mereka adalah COMPLAINING.

Banyak kejadian dimana kelihatannya tindakan Tuhan tidak masuk akal.
Kenapa harus berputar kembali dan terpojok di tepi Laut Teberau menghadapi serbuan tentara Mesir? Kenapa hanya ada manna?
Kenapa harus menghadapi kehausan dan kekurangan air di padang gurun?
Kenapa Musa yang diangkat menjadi pemimpin?

Saya menemukan kata 'COMPLAIN' di perjalanan bangsa Israel tersebut lebih banyak dari pada kata 'PRAISE' atau ucapan syukur.

Apa yang dialami Ochie, bagi kami keluarganya, bagi teman-teman yang mengasihinya, sepertinya tidak masuk akal.
Tapi kalau teman-teman membaca diary Ochie, teman-teman akan melihat sosok seorang anak yang berusaha tetap mengucap syukur sekalipun dia tidak mengerti kenapa semuanya Tuhan ijinkan terjadi.

599 ayat Alkitab yang ditulisnya menggambarkan isi hati Ochie yang mungkin tidak pernah diungkapkannya kepada orang lain. Tapi diungkapkannya di hadapan Tuhan, Penciptanya.

STOP COMPLAINING. START PRAISING.

Beberapa hari setelah Ochie dikebumikan, papanya menemukan di Ipod Ochie, chatting Ochie dengan seorang temannya di Direct Message twitter.
Percakapan dengan adik kelas yang menderita kanker otak dan sama seperti Ochie harus menjalani kemoterapi dan mengalami rasa sakit yang mungkin hampir mirip dengan Ochie.
Sang adik kelas mengeluhkan tentang rasa sakit tersebut, merasa putus asa atas siksaan yang tak kunjung reda.
Apa yang Ochie tuliskan di situ?

Ochie menghibur adik kelasnya, mengatakan: "Jangan percaya perkataan vonis dokter .... Tuhan Yesus lebih berkuasa. Tuhan Yesus itu baik....."
Dan ketika papa Ochie melihat tanggal postingan chatting-chatting tersebut, air mata menetes. Itu adalah tanggal-tanggal dimana puterinya sedang merasa kesakitan,
itu adalah hari-hari dimana Ochie belum melihat tangan Tuhan menolong....
tapi Ochie menghibur temannya seolah-olah dia sudah mengalami jawaban, Ochie menguatkan sahabatnya seolah-olah dia sendiri sudah mengalami kesembuhan.

Ketika dokter di Singapore berkata 'bone marrow' (sumsum tulang) Ochie sudah rusak, Ochie menyatakan imannya di status twitternya:

"Kata dokter, bone marrowku rusak, tapi kata Tuhan Yesus 'Tidak'."

Bahkan ketika ujung dari perjuangannya, ... akhir dari imannya bukanlah kesembuhan, Ochie tidak complain, tapi mengucap syukur dalam segala keadaan. Dia percayakan hidupnya kepada Pencipta-Nya.

Apa yang akan kita lakukan saat apa yang Tuhan ijinkan tidak masuk akal?

Stop complaining. Start praising.

GOD HAS REASONS WE CANNOT SEE.

Karena Tuhan berjanji bagi semua umat-Nya, Dia tidak pernah merancangkan kecelakaan meskipun apa yang kita lihat sepertinya kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera yang membawa kita kepada hari depan yang penuh harapan.

KEEP REJOICING. KEEP PRAYING. KEEP THANKING GOD.

Ochie hanya 14 tahun hadir di dunia ini. Kehadirannya yang singkat mengajarkan saya banyak hal. Untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu baik, ... apapun kenyataan di hadapan kita.

Apa yang saya baca dari diary tersebut membuat saya mengerti seperti apa Ochie ingin dikenang. Bukan semata sebagai anak dan kakak yang penurut dan baik, bukan hanya sebagai teman yang setia, bukan hanya sebagai murid yang pintar dan rajin, tetapi lebih dari pada itu semua, .......

Remember me this way....

As a little girl who always rejoicing,
always pray without ceasing,
and always give thanks to God in everything...

(Ochie Manik)

P.S. Tulisan ini didedikasikan untuk:
Andrika G.Manik, Ellys Silalahi, dan Catherine Manik.

Air mata belum lagi kering, tapi berbahagialah karena kalian adalah orangtua yang diberkati memiliki puteri seperti Ochie, dan adik yang harus bangga memiliki kakak yang teguh imannya seperti kak Ochie. Apa yang diperbuat Ochie dalam waktu yang singkat, telah memberkati banyak orang untuk tidak menyerah dan tetap menaruh percaya dan harap kepada Tuhan Yesus yang baik. Sambil tetap menugucap syukur kepada-Nya dalam segala keadaan.

All blessings,

Julita Manik

Sumber: http://julitamanik.blogspot.com/2011/10/remember-me-this-way-ochie-manik.html?m=1

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIANhttp://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, November 7, 2009

In Everything

TODAY'S SCRIPTURE
"Give thanks in all circumstances, for this is God's will for you in Christ Jesus"
(Thessalonians 5:18, NIV)

TODAY'S WORD from Joel and Victoria

Are you giving thanks in every circumstance? This might seem like a stretch at first, especially when you are going through a season of difficulty. But notice today's verse doesn't say to give thanks "for" everything, it says give thanks "in" everything. In other words, no matter what's going on, find something to be thankful for. Don't just focus on what's wrong in your life; focus on what God will do in your life!

When you are thankful, it opens the door for God to move on your behalf. That's why it says "this is God's will for you." He wants you to be close to Him and receive His strength and power by giving thanks.

Today, have the attitude that says, "God, in spite of what's happened, I choose to be grateful. I may be sick, but Father, thank You for being my healer. Thank you for giving me great friends and family." Or, "I may be struggling in my marriage, but God, thank You for being my restorer. Thank You for giving me another sunrise." As you give thanks in everything, you will see God's hand move mightily on your behalf. Before long, you'll come out of that difficulty better, stronger, and wiser than before!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 1, 2009

Stop Complaining

Dalam sebuah khotbahnya pada bulan Juli 2006, Pdt. Will Bowen dari Gereja One Community Spiritual Center, Kansas City, Amerika, menyerukan gerakan berhenti mengeluh. Ia lantas membagikan gelang karet berwarna ungu kepada setiap anggota jemaatnya. Aturan mainnya sederhana, gelang itu harus dipakai terus-menerus selama 21 hari di salah satu pergelangan tangan, bisa kanan atau kiri. Dan selama itu tidak boleh mengeluh. Jika hal tersebut dilanggar, maka gelang itu harus dipindahkan ke pergelangan tangan yang lain dan jumlah hari dihitung kembali lagi dari awal. Saat ini, gelang karet itu telah tersebar sebanyak enam juta buah di seluruh dunia. Banyak orang telah merasakan perubahan positif karena menjalankan program berhenti mengeluh ini, khususnya dalam berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Rupanya manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur; lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap umat Israel. Kasih dan pemeliharaan Tuhan kepada mereka selama berada di padang gurun begitu jelas—mulai dari mengirimkan tiang awan dan tiang api untuk menuntun mereka, sampai mengirimkan burung puyuh dan manna untuk makanan mereka—tetapi tetap saja mereka suka mengeluh.

Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Dan Tuhan juga tidak senang. Karenanya harus dilawan; jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan.. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berkata positif. MENGELUH DAN BERSYUKUR ITU SOAL PILIHAN. PILIHLAH UNTUK SELALU BERSYUKUR. Penulis: Ayub Yahya, Sumber: http://www.renunganharian.net/, diterima dari Bpk. Tefa/Terangdunia Mailist.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 23, 2009

Thankful

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah. Dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

"Korannya, bu!" seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar uang dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang itu.

"Mau koran yang mana, bu?" tanya Umar dengan riang.

"Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca," jawab si ibu. Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, "Terima kasih bu, saya menjual koran. Kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya," Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu, "Udah miskin, sombong!". Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau, meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya: "Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku," gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba di depannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah. Ia berkata, "Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk," dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. "Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan?" pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Seharusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

"Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau."

"Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya. Boleh khan pak?" tanya Umar sekali lagi.

"Bbbbbooolehh," jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya. Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan.

Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar. "Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?" Dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.

"Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya. Meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya," jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. "Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya?"

Si anak kecil tersenyum dengan manis, "Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus."

"Tapi bukankah kamu menyia-nyiakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya," ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berpikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh, "Bapak, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya." Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, "Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini? Bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari."

Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali, "Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya."

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi. "Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, seharusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini." (Sumber: Email dari seorang teman)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN pada tanggal 23 Maret 2009 di
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Personal Note:Terima kasih banyak atas pesanan 3 buku Mukjizat Kehidupan oleh Ibu Sianne dari Jawa Timur. Buku segera dikirim pagi ini dengan Pos Kilat Khusus. Tuhan memberkati!

Tuesday, February 24, 2009

Race of Life

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tanpa terkecuali sedang berada di gelanggang pertandingan. Di dalam segala segi kehidupan, kita sedang bertanding untuk dapat menang atas tantangan dan masalah.

Adik kami, JJ, adalah teladan ketika ia tidak menyerah dan putus asa di dalam perlombaan hidup yang diwajibkan ini. Dalam usianya yang ke-30 tahun, empat bulan yang lalu ia didiagnosa dokter dengan suatu penyakit komplikasi yang parah dan berbahaya.

Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Ia mengalami pendarahan, sehingga ia harus bernafas melalui mulutnya karena kedua lubang hidungnya terus menerus mengeluarkan darah. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun ia tak pernah menyerah. Ia percaya akan janji Tuhan dan rindu agar kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan mendengar dan mengerti kerinduannya.

Pada bulan Desember 2008 JJ bisa keluar dari rumah sakit dan bersaksi akan kebaikan Tuhan, khususnya lewat ibadah Natal. Ia bersukacita dan sangat menikmati pelayanan yang Tuhan berikan.

Pada tanggal 6 Januari 2009 JJ kembali harus menghadapi tantangan dalam pertandingan kehidupannya. Paru-parunya membengkak dan penuh cairan. Ia menjadi sangat sulit bernafas, tidak dapat tidur atau tiduran. Hari itu ia kembali dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang sangat lemah. Namun ia tidak pernah mengeluh walaupun selama 24 jam harus mengenakan masker oksigen dan duduk di tempat tidurnya terus menerus.

Setelah enam hari dirawat, tanpa makanan masuk dalam tubuhnya, tanpa dapat berbaring, tanpa tidur karena ia tak dapat tidur dalam posisi duduk, JJ memanggil isterinya tercinta. Dengan terbata-bata karena sulit sekali berbicara, ia berbisik, “I love you.” kepada isteri dan anaknya.

Setelah itu kondisi JJ terus menerus turun hingga beberapa jam kemudian ia meninggal dengan tenang dan damai didampingi kedua kakaknya, isteri, anak, serta ibundanya yang tercinta.

JJ telah menang dalam pertandingan imannya. Selama penyakit menggerogoti tubuh dan kesehatannya, ia tidak pernah mengeluh dan marah kepada Tuhan. Ia selalu mengucap syukur dan senantiasa percaya bahwa dalam kelemahanlah justru kuasa Allah menjadi sempurna. Ia telah sampai di garis finish dan memenangkan pertandingan iman.

Hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita yang masih bernafas untuk terus berlari di gelanggang pertandingan kehidupan kita. Teruslah bertanding dan jangan menyerah. Meskipun tantangan dan masalah yang kita hadapi cukup berat, kita masih memiliki Bapa yang jauh jauh jauh lebih besar dari masalah dan tantangan kita. Apalagi pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya. Oleh: Pdt. Edward Supit, seperti dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi no. 43/2009.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, January 15, 2009

How Lucky You Are

Lots of people I meet complain that they don't have the luck to achieve the success and wealth that they want. "If only I was luckier, life would be a lot easier and I would be a lot happier", they would say. Many people pray of the day they could draw that lucky ticket and win that million dollar lottery that would change their life.

What many people do not realize is that the fact that they are comfortably reading this email means that they have been lucky enough to be one of the few winners of the biggest lottery of all... the lottery of life! They were lucky enough to draw the 'right ticket' and be born where they are.

Imagine that 24 hours before you were born, God gave you a bowl of 100 tickets. You had to draw one ticket that would determine your sex, country of birth, wealth, intelligence etc.. What would have been your chance to end up where you are now?

Let's look at the odds. If you were to take the entire earth's population and shrink it to 100 people (represented by 100 tickets), with all existing human ratios the same, it would be made up of the following:

49 would be female, 51 would be male

80 would live in substandard housing.
20 in acceptable housing.

67 would be unable to read.
33 would be literate.

1 would have a university education.
99 would not be able to attend university.

50 would be malnourished and
1 dying of starvation.
33 would be without access to a safe water supply.
16 would have access to the Internet.

17 would live in a developed country.
83 live in underdeveloped/developing countries.

If you were given the chance to turn back time and go back to 24 hours before you were born, would you choose to return your current ticket and re-draw a new ticket from the 100 again? If not, then consider how lucky you are! (By Adam Khoo)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 26, 2008

Give Thanks to God

Cerita klasik sederhana tentang kebijakan dan kesuksesan yang luar biasa. Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja memiliki kegemaran berburu. Suatu hari, ditemani penasehat dan pengawalnya, sang raja pergi berburu ke hutan. Karena kurang hati-hati, terjadilah kecelakaan, jari kelingking raja terpotong oleh pisau yang sangat tajam. Raja bersedih dan meminta pendapat dari seorang penasihatnya. Sang penasehat mencoba menghibur dengan kata-kata manis, tapi raja tetap sedih.

Karena tidak tahu lagi apa yang mesti diucapkan untuk menghibur raja, akhirnya penasehat itu berkata: "Baginda, FAN SHI GAN JI. Apa pun yang terjadi patut disyukuri". Mendengar ucapan penasehatnya itu sang raja langsung marah besar. "Kurang ajar! Aku kena musibah, bukan dihibur, tapi malah disuruh bersyukur... !" Lalu raja memerintahkan pengawalnya untuk menghukum penasehat tadi dengan hukuman tiga tahun penjara.

Hari terus berganti. Hilangnya jari kelingking ternyata tidak membuat raja menghentikannya berburu. Suatu hari, raja bersama penasehatnya yang baru dan rombongan, berburu ke hutan yang jauh dari istana. Tidak terduga, saat berada di tengah hutan, raja dan penasehatnya tersesat dan terpisah dari rombongan. Tiba-tiba, mereka dihadang oleh orang-orang suku primitif. Keduanya lalu ditangkap dan diarak untuk dijadikan korban persembahan kepada para dewa.

Sebelum dijadikan persembahan kepada para dewa, raja dan penasehatnya dimandikan. Saat giliran raja yang dimandikan, ketahuan kalau salah satu jari kelingkingnya terpotong, yang diartikan sebagai tubuh yang cacat sehingga dianggap tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada para dewa. Akhirnya, raja ditendang dan dibebaskan begitu saja oleh orang-orang primitif itu. Dan penasehat barulah yang dijadikan persembahan kepada para dewa.

Dengan susah payah akhirnya raja berhasil keluar dari hutan dan kembali keistana. Setibanya diistana, raja langsung memerintahkan supaya penasehat yang dulu dijatuhinya hukuman penjara segera dibebaskan. "Penasehat ku, aku berterimakasih kepada mu. Nasehatmu ternyata benar, apa pun yang terjadi kita patut bersyukur. Karena jari kelingkingku yang terpotong waktu itu, hari ini aku bisa pulang dengan selamat. . . . " Kemudian raja menceritakan kisah perburuannya waktu itu secara lengkap.

Setelah mendengar cerita sang raja, buru-buru si penasehat berlutut sambil berkata: "Terima kasih, Baginda. Saya juga bersyukur baginda telah memenjarakan saya waktu itu. Karena jika tidak, mungkin sekarang ini, sayalah yang menjadi korban dipersembahkan kepada dewa oleh orang-orang primitif."

Cerita di atas mengajarkan suatu nilai yang sangat mendasar, yaitu FAN SHI GAN JI apa pun yang terjadi, selalu bersyukur, saat kita dalam kondisi maju dan sukses, kita patut bersyukur, saat musibah datang pun kita tetap bersyukur. Dalam proses kehidupan ini, memang tidak selalu bisa berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Kadang kita di hadapkan pada kenyataan hidup berupa kekhilafan, kegagalan, penipuan, fitnahan, penyakit, musibah, kebakaran, bencana alam, dan lain sebagainya.

Manusia dengan segala kemajuan berpikir, teknologi, dan kemampuan antisipasinya, senantiasa berusaha mengantisipasi adanya potensi-potensi kegagalan, bahaya, atau musibah. Namun kenyataannya, tidak semua aspek bisa kita kuasai. Ada wilayah 'X' yang keberadaan dan keberlangsungannya sama sekali di luar kendali manusia. Inilah wilayah Tuhan Yang Maha kuasa dengan segala misterinya. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu! Maka saya sangat setuju sekali dengan kata bijak yang mengatakan: KEBAHAGIAAN DAN KEKAYAAN SEJATI ADA DI RASA BERSYUKUR. . . . (Karya: ANDRIE WONGSO - telah diedit seperlunya dan diposting di http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tidak dihilangkan ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda pedulikan - xie xie)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Notes: Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Lily di Mid Plaza, buku sudah dikirim dengan Pos Kilat Khusus hari ini, Rabu 26 Desember 2008. Tuhan memberkati!

Thursday, November 6, 2008

I'm Grateful

Kisah Sebuah Karpet (Kisah Nyata)

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapian rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih, dan teratur. Suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan hal itu menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan." Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan: "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi."

Seketika muka wanita itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu."

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya.

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda," ujar wanita itu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang:


Saya bersyukur:
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan.
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yang membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.
10. Untuk kenaikan gaji yang sedikit, tapi bersyukur karena perusahaan masih memperhatikan para staf-nya.
11. Untuk semua hal yang saya temui hari ini ...


Sumber: Email dari seorang teman.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 5, 2008

Cataplexy

London - Semua pasti iba melihat wanita muda ini. Dia akan terjatuh tiap kali merasa lelah, marah, takut, terkejut, tertawa bahkan malu.

Kondisi itu dialami Kay Underwood, seorang wanita Inggris. Wanita berusia 20 tahun itu mengidap penyakit yang disebut cataplexy. Kondisi medis yang langka itu menyebabkan hampir semua jenis emosi kuat akan memicu pelemahan dramatis otot-ototnya.

Akibatnya, Kay bisa mendadak ambruk di lokasi. Demikian seperti diberitakan harian Inggris, Daily Telegraph, Selasa (5/8/2008).

Para penderita penyakit ini kerap menjadi lumpuh selama beberapa menit. Kay yang tinggal di Kota Leicestershire, didiagnosa menderita penyakit itu lima tahun silam. Sekali waktu dia pernah jatuh lebih dari 40 kali dalam sehari.

"Orang-orang menganggap ini sangat aneh ketika terjadi. Dan tidak selalu mudah menghadapi reaksi orang-orang," kata Kay.

"Pernah ketika saya jatuh di tangga, seorang wanita berjalan buru-buru dan menabrak kepala saya. Dia bilang saya harusnya jatuh di tempat yang lebih nyaman," cerita Kay.

"Tapi saya telah belajar untuk menerimanya. Saya bisa tahu kapan akan terjadi dan sudah belajar untuk jatuh dalam posisi yang nyaman atau menemukan sesuatu untuk bersandar," papar wanita itu.

Seperti halnya penderita cataplexy, Kay juga mengidap penyakit narcolepsy, kondisi yang membuatnya bisa tiba-tiba tertidur pulas. Narcolepsy dialami sekitar 30 ribu orang di Inggris dan 70 persen dari mereka juga mengidap cataplexy.

Dr Andrew Hall mengatakan, saat ini belum diketahui penyebab pasti kedua kondisi itu. Hall adalah spesialis yang menangani sekitar 200 penderita narcolepsy di Inggris.

Biarlah kita selalu mensyukuri kesehatan tubuh kita. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:4-5)Sumber: detik.com (ita/iy)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, April 23, 2008

What Happens In Heaven

WHAT HAPPENS IN HEAVEN
This is one of the nicest e-mails I have seen and is so true:

I dreamt that I went to Heaven and an angel was showing me around. We walked side-by-side inside a large workroom filled with angels.

My angel guide stopped in front of the first section and said, 'This is the Receiving Section. Here, all petitions to God said in prayer are Received.'

I looked around in this area, and it was terribly busy with so many angels sorting out petitions written on voluminous paper sheets and scraps from people all over the world.

Then we moved on down a long corridor until we reached the second section.

The angel then said to me, 'This is the Packaging and Delivery Section. Here, the graces and blessings the people asked for are processed and delivered to the living persons who asked for them.'

I noticed again how busy it was there. There were many angels working hard at that station, since so many blessings had been requested and were being packaged for delivery to Earth.

Finally at the farthest end of the long corridor we stopped at the Door of a very small station To my great surprise, only one angel was Seated there, idly doing nothing. 'This is the Acknowledgment Section,' My angel friend quietly admitted to me. He seemed embarrassed. 'How Is it that there is no work going on here?' I asked.

'So sad,' the angel sighed. 'After people receive the blessings that they asked For, very few send back acknowledgments.'

'How does one acknowledge God's blessings?' I asked.

'Simple,' the angel answered. Just say, 'Thank you, Lord.'

'What blessings should they acknowledge?' I asked.

'If you have food in the refrigerator, clothes on your back, a roof overhead and a place to sleep you are richer than 75% of this world. If you have money in the bank, in your wallet, and spare change in a dish, you are among the top 8% of the world's wealthy.'

'And if you get this on your own computer, you are part of the 1% in the world who has that opportunity.'

Also...

'If you woke up this morning with more health than illness ... You are more blessed than the many who will not even survive this day.'

'If you have never experienced the fear in battle, the loneliness of imprisonment, the agony of torture, or the pangs of starvation .. You are ahead of 700 million people in the world.'

'If you can attend a church without the fear of harassment, arrest, torture or death you are envied by, and more blessed than, three billion people In the world.'

'If your parents are still alive and still married ...you are very rare.'

'If you can hold your head up and smile, you are not the norm, you're unique to all those in doubt and despair.'

OK, what now? How can I start?

If you can read this message, you just received a double blessing in that someone was thinking of you as very special and you are more blessed than over two billion people in the world who cannot read at all.

Have a good day, count your blessings, and if you want, pass this along to remind everyone else how blessed we all are.

ATTENTION:
Acknowledge Dept.: 'Thank you Lord, for giving me the ability to share this message and for giving me so many wonderful people to share it with.'

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, April 9, 2008

Life is Beautiful

Seorang anak laki-laki buta duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terbalik di kakinya untuk menampung sumbangan dari orang-orang lewat. Ia menaruh sebuah karton putih dengan tulisan: "Saya buta, tolonglah saya."

Di topi itu terlihat sedikit koin. Seseorang berjalan mendekat. Ia mengambil beberapa koin dari kantungnya dan menjatuhkannya di topi itu. Ia kemudian mengambil karton putih itu, membaliknya dan menuliskan beberapa kata. Ia menaruh kembali karton putih itu sehingga setiap orang yang berjalan melewati anak buta itu dapat membaca kata-kata barunya.

Dengan segera topi itu mulai dipenuhi koin. Banyak orang mau memberi uang kepada anak buta itu. Sore harinya lelaki yang telah mengganti perkataan di karton putih itu datang lagi untuk melihat bagaimana hasilnya. Anak laki-laki buta itu mengenali lelaki itu dari langkah-langkah kakinya, sehingga ia bertanya, "Apakah bapak adalah orang yang mengganti tulisan di karton putih tadi pagi? Apa sih yang bapak tulis?"

"Saya hanya menuliskan kebenaran. Saya menuliskan apa yang engkau tulis tapi dengan cara berbeda." Apa yang ia tulis adalah: "Hari ini hari yang indah, namun saya tak dapat melihatnya."

Apakah karton dengan tulisan pertama dan kedua sama? Tentu saja kedua tulisan itu mengatakan kepada orang-orang lewat bahwa anak itu buta. Karton dengan tulisan kedua mengatakan bahwa mereka sangat beruntung dapat melihat hari yang indah karena mereka tidak buta. Janganlah heran kalau karton kedua lebih efektif mengajak orang bersyukur dan mendorong orang-orang untuk memberi uang kepada anak buta itu.

Bersyukurlah atas setiap yang ada pada kita ataupun yang tidak ada pada kita.

Ayo, kita kreatif.

Ayo, kita inovatif.

Berpikirlah dengan cara lain dan dengan positif.

Ajaklah orang-orang untuk berbuat baik dengan cara bijaksana.

Jalanilah kehidupan tanpa berdalih dan kasihilah orang lain tanpa penyesalan. Andaikan kehidupan memberikan anda 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah dalam kehidupan bahwa anda memiliki 100 alasan untuk tersenyum.

Hadapilah masa lalu tanpa penyesalan.

Siapkan masa depan tanpa ketakutan.

Pertahankan iman dan buanglah ketakutan.

Jangan percayai keraguan anda dan jangan ragukan keyakinan anda.

Hidup ini indah seandainya anda tahu bagaimana menjalani kehidupan. Setiap hari itu istimewa sesuai dengan keinginan anda.... dan buatlah hari ini luar biasa!


***

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said: "I am blind, please help."

There were only a few coins in the hat. A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, "Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?"

The man said, "I only wrote the truth. I said what you said but in a different way."

What he had written was: "Today is a beautiful day & I cannot see it."

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing? Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?

Be thankful for what you have and what you do not have.

Be creative.

Be innovative.

Think differently and positively.

Invite the people towards good with wisdom.

Live life with no excuse and love with no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile.

Face your past without regret.

Handle your present with confidence.

Prepare for the future without fear.

Keep the faith and drop the fear.

Don't believe your doubts and doubt your beliefs.

Life is wonderful if you know how to live. Each day is as special as you want it to be………MAKE IT GREAT

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 31, 2008

Blessings in Small Things

Seringkali kita lupa mengucap syukur atas hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari, padahal hal itu sangat bermanfaat. Ibu Indri Pardede bersaksi bahwa ia pernah mengalami kesulitan buang gas (kentut - maaf) beberapa hari. Akibatnya ia kembung. Perutnya tambah membesar bersamaan dengan kesulitan membuang gas itu. Hal yang sering dianggap sepele ini akhirnya membuat ia harus dirawat di Rumah Sakit.

Kalau mengingat kejadian itu Ibu Indri bersyukur sekali atas kasih karunia Tuhan sehingga ia bisa membuang gas lagi. Itulah berkat Tuhan yang sering luput dari pengucapan syukur kita.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, January 13, 2007

A Valuable Treasure

Suatu ketika Dutch Sheets, seorang pendoa syafaat, melihat seorang wanita di San Pedro, Guatemala, sedang mencari sebuah jam tangan. Jam tangan itu adalah milik suaminya yang tewas karena gempa bumi tahun 1976. Ketiga anak wanita inipun turut mencari-cari jam tangan itu. Harta yang mereka miliki hanyalah pakaian yang melekat di tubuh mereka. Rumah mereka yang sempit telah tertimbun tumpukan tanah kotor.

Ketika penerjemah yang menyertai Dutch Sheets bertanya kepadanya apa yang ia cari dengan menggali-gali tanah, wanita itu menjawab, "Saya lagi mencari sekantung kacang buncis dan jam tangan suami saya. Ia terbaring di sini ketika ia meninggal." katanya sambil menunjuk sebidang tanah seluas tiga meter persegi. "Jam tangan itu sangat berarti bagi saya jika saya dapat menemukannya."

Maka kamipun mulai menggali tanah bersama-sama dengan dia. Meskipun pekerjaan ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, kami berdoa kepada Tuhan dan terus menggali sampai kedalaman sekitar satu meter. Akhirnya, kami menemukan jam tangan itu dua jam kemudian.

"Muchas gracias! (Terima kasih banyak!)" katanya berulang-ulang sambil menangis. Ia menggenggam jam tangan itu erat-erat di dadanya.

Alangkah indahnya jika dunia melihat kejadian ini, seseorang yang menemukan "harta karun". Dengan menyaksikan kejadian ini, mungkin orang akan dapat bersyukur atas keadaannya sekarang ini atau mungkin akan mengubah prioritas kehidupannya.

Lihatlah betapa anda jauh lebih beruntung daripada wanita ini. Kita dapat mengucap syukur senantiasa, dalam segala keadaan, karena Tuhan itu sangat baik. Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kehidupan.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI