Search This Blog

Friday, June 29, 2007

A Perfect Match of God

Seorang teman, sebut saja namanya Rudy, bercerita bagaimana ia mendapatkan jodohnya. Sepulang dari studi di Amerika Serikat ia mulai aktif dalam pelayanan di suatu gereja. Mulanya ia ‘ngincer’ adik seorang pendeta terkenal di Jakarta. Pendekatan mulai dijajaki.

Sementara itu ada seorang gadis yang dari semula tidak menarik perhatiannya, sebut saja Nina, lulusan sebuah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Gadis ini sering digodai teman-temannya supaya jadian dengan Asiong yang sering mengadakan pendekatan. Namun bagi gadis ini, Asiong hanyalah teman biasa. Suatu malam Nina bermimpi, ia berdiri berhadapan dengan Rudy, dikelilingi oleh teman-temannya. Sepertinya mereka sedang merayakan perjodohannya dengan Rudy. Rudy? Pria ini tidak termasuk orang yang dekat dengan dirinya. Namun ia menyimpan mimpi itu di hatinya. Tidak diceritakan hal itu kepada orang lain.

Beberapa minggu kemudian gereja mengadakan retreat muda-mudi ke Puncak. Rudy dan Nina berangkat masing-masing. Ketika sampai di Puncak, seorang hamba Tuhan menyampaikan suatu pesan kepada Nina, “Dalam waktu dekat, kamu akan bertemu dengan jodoh kamu, yaitu Rudy.” “Wah, mimpiku sudah di-confirm nih!” kata Nina di dalam hati.

Sementara itu Rudy di dalam retreat itu semakin mendekati adik sang pendeta. Ketika Rudy ngobrol dengan gadis ini, Rudy secara insting merasa ada sepasang mata di belakangnya yang mengawasi. Ia cuek saja. Selama retreat ini sepertinya Rudy tidak semakin dekat dengan adik sang pendeta. Pulang dari retret biasa-biasa saja.

Ketika Rudy ketemu Nina lagi di gereja, mereka saling bertatapan cukup lama dan seketika itu juga ada perasaan khusus di dalam hati Rudy terhadap gadis ini. Ia mulai jatuh cinta kepada Nina, padahal ia telah sering bertemu Nina di gereja tanpa ada perasaan khusus. Sejak itu Rudy mulai mengadakan pendekatan serius terhadap Nina. Dalam waktu tiga bulan setelah hatinya tertambat kepada Nina, ia melamar gadis pujaannya ini. Setahun kemudian mereka menikah. Ternyata mimpi Nina telah menjadi kenyataan.

Kini Rudy dan Nina telah dikaruniai anak-anak, mereka hidup bahagia. Rudy berkarir di sebuah group perusahaan yang berkembang pesat. Nina menekuni perkerjaan yang diminatinya di bidang politik. Ya, ia suka berkiprah di partai politik, sambil menyelesaikan studi S2-nya.

Amos 3:7 : “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” Nina menerima pesan tentang jodonya lewat sebuah mimpi dan diteguhkan oleh seorang hamba Tuhan. Begitulah perjodohan dari Tuhan.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 28, 2007

A Trip To Hell (2)

“Ayo, kita bawa wanita ini ke depan, ke lautan api itu!” Seketika itu juga saya diberi hikmat Tuhan tentang perbedaan antara maut, kerajaan maut, dan lautan api. Orang yang mati dalam dosanya akan mengalami maut, karena upah dosa ialah maut. Mereka terpisah selama-lamanya dari hadirat Allah. Di sanalah setan-setan mendirikan kerajaan maut. Mereka menyiksa manusia-manusia yang berada di kerajaan maut. Lautan api adalah hukuman terakhir bagi iblis dan para pengikutnya.

“Tiiiddddaaaakkkkkkkk! Aku tak mau ke sana. Tidak mauuuuu!” Wanita tersebut memohon belas kasihan iblis-iblis itu. Dengan tangan terikat ke belakang, wajah yang hancur dan bersimbah darah, lidah yang putus, ia berlutut menangis memohon belas kasihan para penyiksanya. Sungguh, itu merupakan pemandangan yang sangat sangat sangat menyedihkan, membuat iba, dan sekaligus mengerikan. Bukan iba, bukan belas kasihan, para roh jahat itu malahan bersorak-sorak kegirangan melihat korban di depannya tak berdaya, penuh kemalangan.

“Aku tidak mau ke sana. Tidak mau. Siksa aku saja di sini. Siksa aku saja semau kalian, jangan bawa aku ke sana!” Wanita itu sudah demikian tersiksa, sedemikian menderita, sedemikian kesakitan, masih memilih disiksa di situ saja, dibandingkan dibawa ke lautan api. Saya bisa memahami ketakutannya. Lautan api itu bukan dongeng. Tempat itu nyata. Tempat itu ada di depan matanya. Benar kata Alkitab, “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam penghukuman Allah yang hidup!”

Tak jauh dari tempat wanita itu disiksa, saya melihat seorang pria yang tinggal kerangka, karena dagingnya telah meleleh, digotong kembali ke dekat pintu gerbang. Sebelumnya ia ditempatkan di dekat lautan api. Saya yakin ia telah lama mati. Ia dibawa ke dekat pintu gerbang itu entah untuk ke berapa kalinya, hanya untuk mempermainkan perasaannya. Sementara itu roh-roh jahat yang mengerumuninya berteriak-teriak memberi semangat, “Ayo, onani! Ayo, masturbasi!”

Rupanya, semasa ia hidup ia sering melakukan masturbasi. Ketika saya mendengar roh-roh jahat itu berteriak-teriak, saya dikagetkan dengan munculnya ribuan ulat yang menjalar keluar dari lubang kemaluannya yang sebenarnya tinggal daging meleleh. Ulat-ulat itu keluar juga dari lubang mata, hidung, dan telinganya. Ulat-ulat itu menjilati dagingnya yang meleleh. Saya tidak pernah menjumpai ulat-ulat seperti itu di bumi. Pria itu sangat kesakitan digerogoti dagingnya oleh ulat-ulat ganas itu.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang pria muda yang sepertinya baru meninggal. Saya tahu kalau ia belum lama meninggal, karena orang-orang yang sudah lama meninggal akan berada di tempat yang sangat jauh dari tempat saya berdiri di dekat gerbang maut itu. Tak berapa lama kemudian beberapa roh jahat datang membawa seorang pria yang lebih tua usianya. Dugaan saya, semasa mereka hidup, mereka adalah ayah dan anak. Roh-roh jahat itu memaksa kedua orang itu ke tengah lingkaran. Mereka memaksa pria yang lebih muda untuk makan bagian belaksan dari kepala pria yang lebih tua. Memakan otak! Mengerikan sekali. Sebelumnya para iblis itu merobek belakang tempurung kepala pria yang lebih tua dengan tangan mereka. Terdengar jerit kesakitan dari pria tua itu. Dan anak muda itu tak punya pilihan lain selain memakan otak dan bagian belakang pria yang adalah ayahnya.

Melihat kejadian yang menjijikkan dan gila itu saya berteriak histeris. Saya marah sekali melihat kejadian itu. Seumur hidup saya tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan kanibalisme seperti itu. Sontak saya menjadi pusing dan tubuh saya gemetar. Sekujur tubuh saya jadi lemas karena ngeri. Kalau bukan karena tangan-Nya yang memberi kekuatan, saya tidak akan kuat berdiri.

“Tuhhhaaaaaannnnn! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu!” kata saya iba. Tuhan tidak menjawab. Saya merasa putus asa karena saya tak dapat menghalangi perbuatan iblis-iblis itu. “Lord, do something, please. Tuhan, Engkau ‘kan penuh kuasa. Lakukan sesuatu.” Tuhan tetap diam. Saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menaati-Nya. Saya memaksakan diri untuk melihat kembali potongan adegan yang sangat sangat mengerikan itu. Anak muda itu masih sedang memakan bagian belakang tempurung kepala ayahnya yang sangat-sangat kesakitan.

“Cukup, Tuhan! Hentikan! Saya tidak tahan!”
“Tidak! Engkau harus tetap di sini! Tetaplah di dekat-Ku dan jangan bergerak,” kata-Nya dengan lembut. “Jangan membenci,” sambung-Nya. Seketika itu juga saya mengerti bahwa mereka berdua, ayah dan anak itu, saling membenci ketika mereka masih ada di dunia. Mereka tidak mau saling memaafkan sampai kematian menjemput mereka.

Ketika saya menoleh kembali ke arah ayah dan anak itu, terdengar suara satu roh jahat, “Sekarang tiba giliranmu!” Pria yang lebih tua dengan kesakitan yang sangat karena bagian kepalanya tinggal seperempat, menuruti kata-kata iblis itu. Ia sekarang berbalik memakan kepala anaknya sendiri. Wajah anak muda itu tampak tegang menanti giliran disiksa. Ia berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang penuh kengerian. Ia menjerit-jerit kesakitan ketika ayahnya sendiri memakan bagian belakang kepalanya. Ya, Tuhan!

“Tuhan, cukup!” Saya tidak tahan lagi melihat semua kengerian itu. Saya menutup mata, tapi pemandangan itu tak dapat pergi. Seketika itu juga saya merasakan Tuhan menarik roh saya, sehingga bisa kembali ke tubuh saya. Saya terbangun dengan nafas terengah-engah. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil!” seru saya setelah pengalaman dibawa Tuhan ke neraka yang sangat sangat sangat mengerikan itu.

Berbulan-bulan setelah itu, trauma saya melihat neraka tidak segera pulih. Ingatan tentang neraka itu tidak dapat saya lupakan sama sekali. Ditambah lagi, sekujur tubuh saya pada sakit. Tulang-tulang saya terasa nyeri, sehingga untuk menggerakkan badan saja terasa sulit. Sekalipun berusaha melupakan perjalanan ke lembah penyiksaan itu, namun saya tak dapat tidur tanpa memikirkannya.

Saya tahu, Tuhan membawa saya ke sana untuk membongkar rahasia pekerjaan iblis yang tak disadari banyak orang. Saya yakin “emergency call” ini datangnya dari Allah, bukan peringatan dari manusia. Tuhan mengembalikan roh saya ke tubuh saya dalam keadaan hidup, karena hanya orang hidup yang dapat berbicara kepada manusia yang hidup. Orang mati, sekalipun telah melihat dan mengalami neraka, tidak dapat berbicara kepada orang hidup.

Keseluruhan pesan ini bukan terletak dan berfokus pada nerakanya. Yang jauh lebih penting, pesan ini mengenai Tuhan Yesus, mengenai keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Karena hanya Tuhan Yesus saja yang sanggup menyelamatkan manusia dari penghukuman kekal di neraka. Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus Kristus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kisah kesaksian Philip Mantofa ini diambil dari buku “A Trip To Hell” ditulis oleh Philip Mantofa bersama Sianne Ribkah.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 27, 2007

A Trip To Hell (1)

1 Januari 2000, pukul 5.00 WIB. Saya terbangun dan terkejut. Sekeliling saya gelap dan saya tidak dapat melihat apapun. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di tempat itu, kecuali suara-suara teriakan kesakitan yang lamat-lamat terdengar dari kejauhan.

“Bangun! Aku ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting kepadamu.” Saya tahu bahwa itu suara Tuhan Yesus. Saya bangun dan mengikuti-Nya. Ia membawa saya ke padang gurun. Sebuah perjalanan yang panjang dengan suasana mencekam. Saya tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali kesunyian yang bercampur kengerian yang tak terkatakan. Sunyi, sangat tandus dan tak ada angin yang berhembus. Tenggorokan saya terasa kering karena panasnya melebihi batas normal. Di sepanjang jalan saya melihat banyak makhluk-makhluk aneh yang tak pernah saya lihat atau jumpai di bumi.

Saya tidak bisa berjalan cepat, tetapi berjalan setapak demi setapak untuk bisa sampai ke sebuah gerbang yang besar sekali sehingga ujungnya tak tampak. Saya tidak tahu pintu itu terbuat dari apa. Pintu gerbang itu tinggi sekali dan menyeramkan. Saya mendongakkan kepala untuk membaca sebuah papan nama. Kalau Tuhan tidak membantu saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa membacanya. Tulisan itu tidak menyerupai tulisan dalam bahasa apapun di bumi, bunyinya : Valley of Torture, Lembah Penyiksaan. Saya baru menyadari dimana saya berada saat itu. Ternyata saya berada di neraka! Masih dalam keadaan shock, saya mendengar suara Tuhan di sebelah saya berkata, “Buka pintu itu!”

Saya menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin? Akhirnya saya menaati perintah-Nya dan dengan urapan kuasa Tuhan saya menyorongkan tangan saya ke pintu gerbang itu. Cuma dengan menyentuhnya pintu gerbang besar itu terbuka dan berbunyi kkkkkkrriiiieeekkkkkkkkk. Deritnya memekakkan telinga.

Masuk ke dalam kegelapan di balik pintu gerbang besar itu, saya mencium bau busuk yang menyengat hidung. Hawa panas menyerbu saya, disusul bau daging terbakar yang membuat saya mual dan ingin muntah. Mendadak kepala saya pusing karena mengetahui bau daging apa yang sedang terbakar disana, bau daging manusia terpanggang.

Apa yang saya lihat di balik pintu itu sulit sekali saya lupakan. Bahkan setelah semuanya kembali berjalan seperti biasa, ingatan akan tempat terkutuk itu sulit dihapus dari benak saya. Di Lembah Penyiksaan itu saya melihat banyak orang-orang yang mati di luar Tuhan Yesus ditempatkan. Sayangnya saya hanya mampu menceritakan sebagian kecil dari semua yang saya lihat di sana.

Saya tahu ada banyak sekali manusia yang tak terhitung jumlahnya di sana. Karena saya mendengar suara jeritan mereka memenuhi udara, berbarengan dengan kertakan gigi. Jeritan mereka itu memekakkan telinga, sehingga rasa ngeri membungkus sekujur tubuh saya. Teriakan kesakitan mereka itu seolah-olah menghilangkan kekuatan saya untuk tetap melihat semuanya sampai selesai.

Jika urapan-Nya tidak melindungi saya, saya takkan bisa bertahan di sana. “Lord, get me out of here, please. . .” pinta saya kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak menanggapi saya.

Belum habis rasa panik saya, tiba-tiba saya melihat kengerian yang lain. Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya melihat seorang wanita yang dikerumuni roh-roh jahat. Mereka berbentuk aneh. Roh-roh jahat itu berjalan-jalan mengelilingi wanita itu, sambil memegang senjata tajam yang tak pernah saya lihat di bumi.

Saya melihat wajah wanita itu diliputi ketakutan yang sangat. Saya tahu bahwa ia belum lama mati karena posisinya saat itu sangat dekat dengan gerbang maut di mana saya berada. Saya tidak tahu apa yang membuat ia mati. Yang saya tahu, ia masih muda dan wajahnya cantik. Ketakutan di wajahnya sangat jelas ketika ia memohon belas kasihan mereka. Sayangnya, roh-roh jahat di sekelilingnya tidak menggubris permintaannya. Malahan mereka tertawa-tawa senang melihat ketakutan wanita itu. Mereka mengikat kedua tangan wanita itu ke sebuah balok kayu dan terus mengancam dan mengintimidasinya.

“Ayo, berdusta! Ayo, berdusta!” Semakin ia berteriak ketakutan, semakin keras iblis-iblis itu menyuruhnya berdusta. Ternyata selama hidup di bumi wanita itu sering mendustai suaminya. Ia tidak setia kepada janji dan ikatan pernikahannya. Wanita itu berselingkuh dengan pria lain. Wanita itu tampak pasrah terhadap perintah mereka.

“Ya, ya, aku akan berdusta! Aku akan berdusta!”

Saya kira wanita itu akan dibebaskan karena telah memenuhi permintaan mereka. Ternyata dugaan saya keliru. Salah satu roh jahat itu menyodok wajah perempuan itu dengan senjata yang bentuknya aneh, kemudian menggaruk wajahnya dengan senjata yang sama dengan kasar dan cepat. Kulit wajah wanita itu terkelupas bersamaan dengan teriakan dan jeritan kesakitan wanita malang itu. Darah segar menyembur dari luka di wajahnya, dari luka yang menganga. Teriakan kesakitan terdengar sangat menyayat hati. Wajahnya tampak mengerikan akibat tindakan brutal dari iblis ini. Di saat yang bersamaan saya melihat roh jahat yang lain muncul dari balik kerumunan, menarik lidah wanita ini hingga putus. Jeritan kesakitan melolong-lolong keluar dari mulut tanpa lidah ini.

Saya terpana. Saya kehabisan kata-kata. Jantung saya seperti berhenti sepersekian detik karena sangat kaget. Saya tak menduga sama sekali bahwa wanita tersebut akan diperlakukan sesadistis itu. Saya tidak tahan lagi! Saya berteriak dengan marah. Saya bermaksud ingin menolongnya. Tetapi teriakan saya tenggelam dalam kegelapan dan kengerian. Karena dikuasai rasa takut, suara saya terdengar bagai rintihan. Tetapi mereka tidak dapat mendengar saya.

Belum pulih dari shock saya, tiba-tiba saya melihat lidahnya kembali ada. Seolah-olah tidak terjadi apapun. Cuma darah yang tersisa di wajahnya menandakan adanya perlakuan sadistis atas wanita itu. Iblis yang sama kembali mengulangi kejadian tadi dengan senjatanya. Kembali wanita itu menjerit-jerit kesakitan. Begitu terus berulang-ulang sehingga kengerian menguasai saya sepenuhnya. Pada akhirnya saya tahu bahwa kekekalan di sana berlaku atas tubuh, perasaan dan pikiran manusia. Sekalipun semuanya terjadi di alam supranatural, tetapi jeritan, ekspresi ketakutan, bentuk penyiksaan, kertakan gigi, suara tawa iblis di neraka begitu nyata. Neraka itu lebih nyata dan lebih kekal daripada apa yang ada di bumi ini. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 26, 2007

Stop Smoking

Seorang teman yang baru saya kenal, sebut saja namanya Benny, bertanya kepada saya, “Memangnya sekarang ini kalau kita bersalah langsung ditegur?”
“Ada apa sih?”
“Begini yang saya alami, ketika saya merokok lagi, langsung anak saya sakit typhus, lalu saya kena sakit perut yang aneh. Sakit ini sudah berlangsung tiga bulan sampai saat ini. Gara-garanya saya membeli sebungkus rokok, isi 12, yang 11 saya buang, yang satu saya isap. Sejak itu saya kena sakit perut hebat, mual-mual, dan anak saya sakit. Padahal anak saya waktu itu harus segera ke New Zealand, kuliah Kedokteran di sana.”

“Wah, kalau Tuhan langsung tegor bapak,” saya bilang, “itu artinya bapak disayang Tuhan! Soalnya, ‘kan banyak anak Tuhan yang tetap merokok dan dibiarkan terus sampai mati kena sakit kanker paru-paru.”

“Ya, saya ‘kan cuma mengisap sebatang. Itupun paling sekali dalam tiga bulan.”

“Coba, pak Benny. Kalau bapak setia selama 360 hari kepada isteri, tapi 5 hari selingkuh, gimana? Selingkuh satu haripun akan jadi masalah kan? Lagian, kalau bapak tetap merokok, bapak tidak akan betah tinggal di sorga nantinya, karena di sorga tidak ada yang jual rokok.”

“Jadi, gimana, sudah tobat dengan rokok?”

“Ya, sudah. Tapi kalau sudah sembuh, saya bisa beli satu bungkus isi 12 dan yang sebelas saya buang, tapi yang satu diisap lagi. Padahal saya tahu, tubuh ini adalah bait Allah. Saya pernah beli rokok di Singapura, sudah mahal, kita disodori gambar atau foto orang yang kena sakit kanker paru-paru. Saya tahu semua itu, tapi saya susah berhenti merokok.”

“Ya, itu namanya tobat cabe, tobat waktu kepedasan, sesudah itu kumat lagi ya?”

“Nah, gimana caranya supaya tobat total?”

Seorang teman lain yang juga ikut dalam percakapan ini dan punya pengalaman yang sama, berkata, “Pak Benny, dulu saya juga perokok seperti bapak. Jatuh bangun untuk berhenti merokok itu. Saya pernah ditumpangi tangan oleh hamba-hamba Tuhan yang terkenal untuk berhenti merokok. Tapi tidak ada yang mempan. Sampai seseorang bilang kepada saya, ‘Lu kudu benci ama rokok!’ Sejak saat itu saya menetapkan hati untuk membenci rokok. Saya membenci bau asap rokok. Hati saya tidak suka bau rokok. Sejak itu, puji Tuhan, saya dapat berhenti merokok sampai saat ini. Sekarang ini kalau saya berdekatan dengan orang yang merokok, saya tidak tahan, saya pusing dan mual.”

Setelah itu kami mendoakan pak Benny agar ia terlepas dari keterikatan pada rokok dan kiranya Tuhan menyembuhkan sakit perut dan lambungnya.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 25, 2007

Pemulihan Hati Bapa

Saat ini gelombang pemulihan hati Bapa sedang melanda gereja-gereja di GBI. Dalam suatu Retreat Pemulihan, banyak kesaksian menunjukkan betapa banyak orang yang mengalami gambar dirinya rusak, tidak mengenal figur bapak yang benar, mengalami luka-luka batin yang akibatnya mendatangkan keterikatan akan kuasa kegelapan. Yang mengerikan, adalah masalah dalam gambar diri yang rusak, tidak mengenal hati Bapa, luka batin dan keterikatan pada kuasa kegelapan itu menghasilkan “trans-generational curses” (kutukan dari generasi ke generasi).

Seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang cerai-berai, artinya ayahnya kawin lagi, lalu bercerai, lalu kawin lagi dan ibunya juga kawin lagi, bercerai lagi, mengaku benci sekali dengan ayahnya. Ia bertekad akan menikah dengan pria yang tidak seperti ayahnya. Namun apa yang terjadi, suaminya ternyata selingkuh. Ada trans-generational curse, kutukan antar generasi. Apa yang ia khawatirkan, ternyata menjadi kenyataan. Untunglah wanita ini mengikuti Retreat Pemulihan. Ia tidak malu bersaksi, karena dengan bersaksi ia mempermalukan iblis dan menyatakan bahwa ia tidak lagi di bawah kuasa dan kutuk iblis. Wahyu 12 : 11-12 menyatakan : "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Kuasa iblis dikalahkan oleh darah Tuhan Yesus dan oleh perkataan kesaksian kita.

Pada sesi Luka-Luka Batin, seorang gembala dengan penuh kerendahan-hati mengakui bahwa dirinya adalah seorang anak yang tidak mengenal kasih Bapa, karena sejak kecil beliau ditinggalkan ayahnya. Beliau dulu sering mempertanyakan, mengapa ayahnya yang seorang pendeta dipanggil pulang Tuhan begitu cepat. Ada kepahitan dan luka-luka batin karena beliau tidak terima. Karena beliau kurang mendapatkan kasih Bapa, maka setelah menikah beliau sibuk dalam pekerjaan, mengejar karier. Dan memang dalam kariernya berhasil, namun keluarganya tidak mendapatkan kasih yang memadai. Sebagai orang yang kurang kasih Bapa, beliau tidak dapat mengekspresikan kasih kepada isteri dan anak-anaknya.

Isteri gembala ini juga dengan kerendahan hati bersaksi, betapa sejak kecil ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia dibesarkan dalam keluarga yang otoriter. Mereka berusaha di bidang katering. Diantara saudara-saudaranya, ia ditugaskan di bagian yang paling berat: mengumpulkan piring dan gelas yang baru dipakai dalam suatu resepsi pernikahan dan mencucinya dengan cepat karena akan dipakai dalam resepsi berikutnya. Ia ingat, pada waktu itu resepsi pernikahan di tahun 80-an, para undangan duduk di kursi, ia harus mengambil piring dan gelas dari kolong kursi. Kakak-kakak perempuannya bertugas di bagian yang lebih ringan: mengatur makanan atau mengisi kembali makanan yang kurang. Apalagi jika mengingat kakaknya yang kuliah di Bandung, ia merasa iri. Setiap ke Bandung menjenguk kakaknya, orang tuanya selalu membawa oleh-oleh kesukaan kakaknya (cokelat Silver Queen dan lain-lain), namun ia yang tinggal bersama orang tuanya tidak mendapatkan hal-hal itu.

Ketika ia dewasa, ia bertekad mendapatkan suami yang kebapakan. Namun ternyata suaminya, sang gembala, sangat sibuk di kantor. Apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul. Perlu diketahui, suaminya adalah seorang profesional yang bekerja di group perusahaan besar, namun merangkap menjadi gembala di suatu gereja.

Dalam membesarkan anak-anak, ia sangat keras mendidik mereka. Ia ingin berhasil sebagai ibu. Ia memaksa anak-anaknya belajar dengan keras. Ia sering mengata-ngatai anaknya: “Bodoh”, “Lamban” ketika anaknya cuma mendapat angka delapan. Padahal IQ anaknya 137, tergolong pandai. Hal ini membuat kepahitan pada anaknya.

Untunglah suami isteri ini, gembala dan isterinya tersebut di atas, sekarang telah mengalami kasih Bapa. Ia tidak malu menyaksikan kisah mereka, karena mereka bertekad mempermalukan iblis dengan kesaksian ini. Dan yang penting, trans-generational curse tidak akan melanda anak-cucunya. Mereka sudah dipulihkan gambar diri mereka, mereka menerima kasih Bapa, mereka sudah menerima kesembuhan luka batin.

Ada lagi peserta retreat yang bersaksi bahwa pada saat itu Tuhan tunjukkan hatinya. Luka batin yang tidak diselesaikan sesuai firman Tuhan akan membuat luka itu dipenuhi dengan “belatung”. Luka itu tambah lebar. Selama ini luka itu “ditambal” dengan upaya manusia, dengan kompensasi. Kompensasi atau tambalan itu bisa berupa : rendah diri, sombong (merasa hebat untuk menutupi luka hati), menarik diri, curiga kepada orang lain, takut disakiti orang lagi, benci kepada laki-laki (sehingga sampai saat ini kesulitan mendapatkan pasangan hidup). Luka yang dibiarkan menganga atau ditambal, akan mengundang kuasa kegelapan untuk masuk. Bentuk keterikatan itu tidak selalu berupa kerasukan. Ada orang-orang yang dikuasai amarah yang membabi buta, ada yang dikuasai perasaan iri hati yang ekstrim, ada yang dikuasai roh percabulan, ada yang dikuasai dengan roh cinta uang, dan lain-lain. Itu adalah bentuk keterikatan pada roh jahat, disamping bentuk kerasukan dan manifestasi lainnya.

Pada retreat itu juga banyak remaja yang dipulihkan. Mereka yang diperlakukan tidak adil oleh orang tua, dicuekkin, dikasari, menghadapi percekcokan antara papa dan mama, dipaksa berprestasi di sekolah. Akibatnya ada anak yang sampai mau bunuh diri. Namun mereka akhirnya dilawat kasih Bapa dan disembuhkan luka-luka hati mereka sehingga mereka mau mengampuni dan memohon ampun kepada ayah ibu mereka.

Dalam sesi Pemulihan Hati Bapa, Pdt. Rubin Ong menceritakan bahwa iblis merusak figur bapa-bapa di bumi ini, sehingga mereka otoriter dan sadis, sehingga mereka cuek dan tidak berkomunikasi dengan anak-isterinya, sehingga mereka membeda-bedakan di antara anak-anak. Seorang hamba Tuhan dari Papua, Nathanael, begitu menderita semasa kecilnya. Kalau ia salah, ayahnya yang bertubuh besar akan menendang, memukulinya dan mencambuk dengan kopel rim (ikat pinggang militer), sampai anak itu merangkak kesakitan. Kalau anak ini disiksa, ia akan menderita kesakitan selama tiga bulan. Ia begitu benci kepada ayahnya sehingga ia bertekad membunuh ayahnya. Namun ketika ia mendapatkan pemulihan hati Bapa, ia mengampuni ayahnya.

Suatu kali Bryan Duncan berlibur bersama-sama isteri dan anak-anaknya. Ketika ia menulis lagu-lagu kristiani ia tiba-tiba menangis. Isterinya yang melihat hal itu diam saja, namun setelah suaminya reda, isterinya bertanya : “Ada apa?” Bryan Duncan yang teman dekat Michael W. Smith, penyanyi lagu rohani, mendapatkan pesan Tuhan yang sangat menyentuh. Ia melihat anak-anak mereka berlari kian kemari, bermain-main dengan penuh keriangan, hidup mereka penuh keceriaan. Mengapa? “Karena anak-anak itu tahu bahwa mereka dilindungi, dipelihara, didukung oleh ayah mereka. Ketika mereka merasa aman, merasa di-support, didukung, hidup mereka indah dan penuh sukacita.” Begitulah kasih Bapa melingkupi, melindungi, mendukung, menjadi sumber kehidupan. Itulah yang membuat kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup dengan penuh sukacita. Ilham itu dituliskan Bryan Duncan dalam lagu yang berjudul “Child Love”. Kasih yang dialami oleh anak-anak karena mereka aman dalam pelukan Bapa.

Orang-orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang-orang yang terhubung dengan “Sumber” (sumber kehidupan, sumber sukacita, sumber damai sejahtera, sumber kasih, sumber berkat, sumber kesembuhan, sumber keselamatan dll). Oleh karena itu orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang yang merasa aman, secured, gambar dirinya tidak bergantung pada apa kata orang. Ia tidak takut gambar dirinya rusak karena dikritik orang lain atau difitnah orang. Ia merasa aman dan secured karena ia memiliki Bapa, ia hidup intim dengan Bapa, ia mengenal Bapa.

Filipus yang mewakili seluruh dunia ini pernah berseru kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Seluruh dunia membutuhkan Bapa. Seluruh dunia selalu merasa kurang, tidak cukup, ketika mereka belum mengenal Bapa. Seluruh dunia butuh di-bapa-i. Selama orang tidak mengenal Bapa, hidup mereka tidak akan cukup.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, June 22, 2007

Say No To Pornography

Saya tidak terlalu ingat kapan semuanya dimulai. Yang saya tahu, kelahiran saya tidak diinginkan oleh kedua orang tua saya. Saya sempat hendak digugurkan ketika saya masih bayi. Saya tidak tahu apakah itu penyebab semua kenakalan saya. Yang pasti, saya pernah terjerumus dalam pornografi cukup lama.

Berawal dari rasa ingin tahu, saya meminjam VCD porno dari seorang teman yang berasal dari luar sekolah. Saya menontonnya di kamar. Pertama kali menonton, saya sempat merasa diri kotor. Tetapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa sehingga terikat dan sulit keluar dari sana. Saya juga sering masturbasi setelah menontonnya. Tanpa saya sadari, saya semakin terikat dengan kebiasaan buruk itu.

Saya sering pergi mencari dan mengoleksi VCD-VCD tersebut. Beberapa koleksi saya adalah pemberian teman-teman yang juga menyukai pornografi, selebihnya sengaja saya beli. Pada akhirnya saya menjadikan koleksi saya itu sebagai tumpuan hidup saya. Saya berbisnis VCD porno itu. Bisnis jual beli ini terus berlangsung dari SMA kelas satu sampai kelas tiga. Biasanya saya menjualnya dengan harga enam kali lipat dari harga asalnya.

Jual beli bisnis VCD porno itu sebenarnya berawal dari judi permainan kartu. Awalnya saya main kartu hanya ingin tahu karena penasaran. Setelah beberapa kali main kartu dengan taruhan lumayan, ternyata saya menang. Sejak itu saya menjadi ketagihan. Saya tidak dapat berhenti. Lama kelamaan judi main kartu ini menjadi kebiasaan.

Tiap istirahat sekolah saya selalu main kartu. Pada akhirnya jam main kartu saya lebih banyak dari pada waktu belajar saya. Sebenarnya saya cuma menang beberapa kali, kemudian mengalami kekalahan beruntun sehingga utang saya menumpuk. Saya terpaksa menyisihkan uang jajan untuk melunasi utang judi tersebut. Karena seringkali uang jajan saya habis terpakai, maka saya mencari uang tambahan dari jual beli VCD porno tersebut.

Benar kata pepatah, “ulah bisa karena biasa”. Ketika duduk di bangku SMA kelas satu, saya dan teman-teman mengunjungi salah satu diskotik ternama di Surabaya. Saya belum pernah ke diskotik sebelumnya. Tetapi saya merasa mudah sekali beradaptasi dengan suasananya karena saya terbiasa mendengar lagu-lagu house music yang selalu saya setel di kamar. Biasanya sebelum melantai dan berdisko, kami duduk-duduk di sofa yang tersedia sambil minum bir. Karena semua hal di atas itulah, saya dikenal sebagai murid yang sulit diatur. Saya sempat tidak naik kelas karena berkelahi dengan guru yang merupakan Wakil Kepala Sekolah.

Jujur, di dalam hati saya yang terdalam sebenarnya tidak ada keinginan atau kesadaran untuk bertobat. Saya merasa hidup saya baik-baik saja sampai saya menerima traktat “A Trip To Hell” yang di dalamnya terselip undangan KKR pada tahun 2000, pada saat saya duduk di bangku SMA kelas satu.

Saya sempat membaca kisah tentang orang-orang berdosa yang dihukum di neraka di dalam traktat tersebut. Saya gemetar sewaktu membacanya. Saya merasa diri sayalah yang diceritakan dalam traktat tersebut.

Saya sempat ingin datang ke KKR itu, tetapi tidak bisa karena terbentur jam sekolah. Kebetulan waktu itu sekolah saya masuk siang dan pulangnya malam. Setelah itu saya beberapa kali menerima undangan yang serupa, tetapi saya abaikan saja.

Pada tanggal 18 Agustus 2002, saya kembali menerima undangan KKR itu. Dibagi oleh siapa, saya tidak tahu. Tiba-tiba saja undangan itu sudah ada di meja saya. Saya cuma meliriknya sekilas dan melupakannya. Saya tidak mau membacanya lagi. Saya juga tidak mau pergi ke KKR itu. Saya baru berubah pikiran setelah teman saya bercerita bahwa di KKR saya bisa “cuci mata”.

Malam itu Pdt. Philip Mantofa berkhotbah tentang “Jangan Mendukakan Roh Kudus”. Sejenak saya sempat diliputi perasaan malu karena dosa-dosa saya seolah-olah ditelanjangi di depan umum. Hanya saja saya masih tetap mengeraskan hati. Ketika undangan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi serta memperbaiki komitmen kepada Kristus ditawarkan oleh Pdt. Philip, saya tidak meresponinya.

Saya terpaksa keluar dari kursi karena saya melihat semua orang keluar menuju panggung. Saya tidak punya pilihan lain. Tetapi saya tidak mau bertindak bodoh. Saya memilih tempat di barisan paling belakang. Saya pikir itu tempat teraman untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Anehnya, hari itu saya ditunjuk untuk maju pertama kalinya oleh Pdt. Philip. Dalam perjalanan ke depan, belum sampai di depan altar, tiba-tiba saja saya jatuh rebah.

Baru kali itu saya merasakan rebah di dalam hadirat Tuhan. Waktu saya rebah, saya merasakan kasih Tuhan melingkupi saya. Ia menjamah saya sehingga saya menangis. Saya merasa Tuhan sayang sekali kepada saya. Selama ini saya enggan mendekat kepada-Nya karena saya kecewa dengan keadaan saya. Tetapi hari itu segalanya mendadak berubah.

Pada saat yang bersamaan saya memutuskan untuk berhenti berbuat dosa dan meminta ampun kepada Tuhan. Saat mengucapkan janji itu mulut saya bergetar hebat dan saya berbahasa roh. Saya tidak tahu saya berbicara apa pada saat itu. Saya hanya merasa lidah saya bergetar. Beberapa saat kemudian setelah semuanya usai, saya telah berdiri di antara kerumunan orang banyak, menunggu giliran dibaptis. Ketika diberi kesempatan untuk mendeklarasikan iman di kolam baptisan itulah saya mengucapkan kalimat ini, “Iblis, engkau sudah kalah! Hari ini saya menjadi milik Tuhan, bukan milikmu lagi! Saya sudah bertobat.”

Pulang dari KKR, saya mengalami kasih mula-mula dengan Tuhan. Saya menyembah Tuhan dan menyanyikan lagu “Allah Roh Kudus” di kamar saya. Kembali saya dijamah Tuhan sampai menangis. Saya berdoa dan minta ampun kepada-Nya. Di hati saya mulai ada kerinduan untuk berdoa. Hari itu juga saya mengambil semua koleksi VCD porno saya dan menghancurkannya dalam nama Yesus.

Pentungan berujung paku, yang biasanya saya pakai untuk berkelahi, saya hancurkan dan saya buang. Satu pak rokok yang selama ini saya simpan, tak luput dari pembersihan. Rokok itu saya buang. Dulu saya merasa sayang membuangnya, tetapi hari itu saya rela memusnahkannya.

Keesokan harinya teman-teman saya menawari “barang-barang” seperti biasanya. Saya menolaknya. Saya menjelaskan kepada mereka kalau saya sudah bertobat. Mereka heran sekali bagaimana saya yang sudah rusak begitu dapat berubah 180 derajat. Hari-hari itu saya belajar untuk hidup kudus. Hal itu dimulai dengan perkara-perkara kecil, seperti tidak menyontek di sekolah. Saya meminta maaf kepada semua teman, guru dan Wakil Kepala Sekolah yang pernah saya jahati. Perubahan hidup saya itu terlihat oleh sekeliling saya.

Hidup seperti itu tidaklah mudah seperti yang saya bayangkan semula. Beberapa kali saya jatuh bangun, tetapi saya tetap berusaha bangkit kembali. Kehidupan rohani saya setelah itu benar-benar jauh dari yang saya bayangkan. Bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya, kerohanian saya terus menanjak ke atas.

Bagi saya KKR “A Trip To Hell” lebih istimewa dari pada hari ulang tahun saya sendiri karena pada hari itu perubahan hidup saya dimulai. Saya telah berpindah dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Saya telah berpindah dari kebinasaan kepada kehidupan yang kekal. Saya telah berpindah dari hamba dosa kepada hamba Tuhan. Saya telah berpindah dari hidup yang sia-sia kepada hidup yang berkemenangan.

Kesaksian sdr. Tommy ini diambil dari Buku "Iblis! Dalam Nama Yesus! Lepaskan!" karya Pdt. Philip Mantofa bersama Sianne Ribkah M.H., halaman 30-35. Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 21, 2007

The Dream of Tina Andrean

Orang-orang sering bertanya kepada ibu Tina Andrean, “Kenapa ya Ibu sering mendapatkan mimpi-mimpi dari Tuhan?” Ibu Tina hanya menjawab, “Saya banyak memikirkan perkara-perkara yang di atas. Saya selalu memikirkan Tuhan dan kehendak-Nya.” Sejak umur enam tahun ibu Tina telah menjadi guru Sekolah Minggu. Dia sangat mengasihi Tuhan. Dan sejak umur dua puluh tahun, dia mulai menerima penglihatan-penglihatan dari Tuhan.

Di tengah kesibukan mengurus Bridal House-nya dan meskipun keluarga Johnny Andrean sangat diberkati dalam usaha bisnisnya, ibu Tina selalu mengingat kebaikan Tuhan. Berkat yang mereka terima merupakan kepercayaan dari Tuhan untuk mempermuliakan nama-Nya. Ibu Tina ingin selalu melakukan segala perkara yang menyenangkan hati Tuhan.

Inilah salah satu mimpi yang diterima Ibu Tina dari Tuhan pada 11 April 2006 lalu yang menggenapi janji Tuhan dalam Kitab Yoel 2:28, yang berbunyi: "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.”

Ibu Tina bertutur begini tentang mimpinya : Tuhan seringkali membawa saya pada pengalaman-pengalaman yang aneh-aneh, namun saya sangat bersyukur untuk itu. Pada waktu itu saya dibawa Tuhan terbang di atas suatu lembah. Di bawah nampak ada pemandangan dengan rumput hijau yang indah. Ia terbang menuju suatu bukit yang tinggi, dan tiba-tiba turun di suatu tempat di depan sebuah rumah. Di depan pintu rumah itu, di pelatarannya, ada dua buah nisan. Ada seseorang yang berdiri di sana. Ibu Tina berusaha melihat nama di atas nisan dari batu pualam itu. Akhirnya ia bisa melihat nama seseorang. Seseorang yang mendampingi ibu Tina menyatakan bahwa nisan di sebelahnya adalah adalah nisan seorang suami yang telah meninggal. Nama di atas nisan di sebelahnya tertulis "Debby ...", yang pada detik itu belum meninggal. Untuk meyakinkan ibu Tina, seseorang yang mendampinginya pada waktu itu memberikan foto ibu Debby dan bahwa ibu Debby akan segera datang ke sini.

Kemudian ibu Tina dibawa ke sebuah alun-alun. Terdengar teriakan, “Cepat kita harus bersiap-siap karena ibu Debby akan segera datang ke tempat ini. Ibu Debby sekarang sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir di bumi!” Di situ ada suatu balai tempat penjemputan. “Cepat, cepat!” Di tempat itu tampak kesibukan para malaikat yang hendak menyambut seorang anak Tuhan. Mazmur 116:15 mengatakan, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Firman itu digenapi. Ibu Tina melihat betapa sorga dibuat sibuk dengan kedatangan seorang anak yang dikasihi-Nya.

Ibu Tina dibawa lagi oleh malaikat itu menuju ke dalam sebuah ruangan. Di ruangan besar itu ada pesta dan makan-makan. Malaikat itu mengajak ibu Tina untuk masuk dan duduk di depan satu pasangan suami isteri. Ibu Tina terkejut ketika bertemu mereka. Siapa ya? Ternyata setelah ingat foto pemberian malaikat itu, ibu Tina baru sadar, itu adalah ibu Debby. Ia sudah duduk di depan dalam keadaan sehat bersama suaminya.

Ibu Tina kemudian pergi ke luar lagi. Di luar indah sekali. Dari bukit itu ia melihat sebuah danau yang berbentuk oval, ada air mancur, dikelilingi taman bunga yang sangat indah. Waktu ia melihat rumah yang dilihat pertama kali, batu nisan itu sudah tiada lagi. Ia dibawa ke ruangan lain di sebelahnya. Ada seseorang laki-laki, sedang berteriak-teriak dan marah-marah. Malaikat menunjukkan kenapa pria itu marah-marah. Malaikat itu mengajak ibu Tina melihat sebuah rumah. Rumah itu atapnya masih bolong, jendela bolong, pintu bolong. Rumah itu tidak siap ditinggali. Malaikat menjelaskan mengapa pria itu marah-marah karena rumah yang akan ditinggalinya belum siap dan pria itu tidak cukup mempersiapkan diri di bumi bagi rumah-Nya di sorga. Ia tidak menggenapkan semua tujuan hidup yang telah ditentukan oleh Tuhan baginya.

Keluar dari rumah itu, terlihat pemandangan yang sangat indah yang tidak pernah ibu Tina temui di muka bumi ini. Yohanes 14 : 1-3 mengatakan : "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Sekarang ibu Tina sangat yakin bahwa janji Tuhan Yesus itu sungguh-sungguh nyata. Ada banyak rumah di sorga bagi orang-orang yang setia, taat dan mengasihi Tuhan. Firman Tuhan itu betul-betul ya dan amin.

Dari mimpi itu ibu Tina merenungkan pesan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepadanya. Mengapa kedatangan ibu Debby disambut meriah? Pesan pertama yang ia peroleh : kedatangan anak Tuhan di sorga sesungguhnya disambut meriah. Sorga dibuat repot, para malaikat dibuat repot ketika seorang anak Tuhan meninggal dan diterima di sorga. Wow, kita sangat beruntung memiliki Tuhan yang menyambut kedatangan kita di sorga.

Kedua, ibu Tina mendapatkan kebenaran ini : Tubuh yang sakit di bumi akan diubah menjadi tubuh yang sehat di sorga. Orang-orang yang mati dalam Tuhan akan bertemu lagi dengan orang-orang yang dikasihinya dalam keadaan sehat sempurna.

Pesan ketiga: Rumah-rumah dengan pemandangan yang sangat indah merupakan hadiah bagi orang-orang yang setia dalam iman, yang taat melakukan firman dan kehendak-Nya. Di dalam Yesaya 65 : 17-22 dinyatakan, “Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang pun tidak. Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihan-Ku akan menikmati pekerjaan tangan mereka.”

Pesan keempat: Apabila seorang percaya belum menggenapkan seluruh kehendak Tuhan dalam hidupnya, rumahnya di sorga belum siap untuk ditempati : atapnya bolong-bolong, jendela dan pintunya belum ada. Apabila ada harga yang belum dibayar dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri, itu berarti ia belum mempersiapkan diri dengan baik bagi rumahnya di sorga. Apabila ia belum menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Tuhan Yesus dengan segenap hati, itu berarti ia belum mempersiapkan diri bagi kehidupan kekalnya. Apabila imannya tidak disertai dengan perbuatan baik, ia membiarkan rumah di sorganya bolong-bolong. Firman Tuhan dalam Efesus 5:15-17 katakan: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."

Ibu Tina Andrean mengajak kita semua untuk lebih dekat kepada Tuhan. Pada hari penghakiman Tuhan Yesus akan datang sebagai Raja dan memisahkan antara domba dan kambing. Jadilah domba-domba yang setia, yang berkomitmen, yang sungguh-sungguh dan yang berbuat sesuatu bagi Tuhan dengan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang paling hina. Matius 25:34-36 mengatakan: “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 20, 2007

Ragam Kesaksian

Belakangan ini saya disodori dengan berbagai kesaksian yang menarik. Seorang wanita karier yang berasal dari agama seberang menuturkan kesaksian lebih lanjut. Setelah kesaksian wanita cantik ini saya tulis dalam seri Kisah Ika, ia menceritakan lebih banyak lagi kisah-kesaksian yang penuh mukjizat tentang kebaikan Bapa Sorgawinya. Karena kesaksiannya panjang, maka saya memutuskan untuk menuliskan kesaksian itu dalam buku “Mukjizat Kehidupan” volume berikutnya.

Tanggal 7 Juni yang lalu seorang ibu membalas undangan diskusi “Orang Kristen Masuk Neraka?” melalui SMS : “Saya tidak bisa datang ke diskusi itu karena tidak ada kendaraan. Saya tinggal di daerah Selatan Jakarta, sakit lambung karena banyak masalah dalam keluarga. Mohon dukung dalam doa.” Saya kemudian menelpon ibu tersebut dan berdoa bersamanya melalui telpon. Hari Sabtu, 16 Juni yang lalu saya menerima SMS lagi dari ibu tersebut bahwa masalah-masalahnya sudah dibereskan Tuhan dan ia mendapat berkat yang luar biasa. Ibu tersebut biasa mengajar les anak-anak SD secara privat dari rumah ke rumah. Bulan ini adalah bulan liburan sekolah. Namun secara ajaib Tuhan kirimkan orang-orang tua yang meminta dia mengajar anak-anaknya selama liburan. “Impossible is nothing” kata slogan Nike. Tak ada yang mustahil bagi Allah.

Setelah saya sampaikan materi diskusi “Orang Kristen Masuk Neraka?” berupa kisah-kisah 7 remaja yang dibawa Tuhan Yesus ke Neraka, kisah dari Mary K. Baxter yang juga pernah diajak Tuhan ke Neraka berkali-kali dan kisah lain dari Sundar Singh tentang neraka, banyak orang minta copy kisah tersebut. Ketika orang-orang menyampaikan kisah-kisah itu di komsel atau di FA, banyak orang diberkati dan disadarkan betapa neraka itu nyata dan apa yang disampaikan Alkitab tentang neraka harus kita perhatikan sungguh-sungguh agar kita tidak menyesal dan disiksa di neraka. Di dalam materi itu disebutkan bahwa penderitaan seberat apapun di bumi ini dan apabila dikumpulkan jadi satu, tidak sebanding dengan penderitaan paling ringan di neraka. Banyak orang yang disiksa di neraka ingin kembali ke bumi satu menit saja, meskipun harus jadi orang paling malang, paling hina, paling menderita di bumi, asalkan ia dapat bertobat.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Ora Et Labora : A Success Story of "Dapur Solo Restaurant"

Tanpa rencana, pada tahun 1986 bersama suami dan anak, Swandani hijrah dari Bandung ke Jakarta. “Terus terang, ketika itu belum kebayang Jakarta itu kayak apa dan mau ngapain di Jakarta?” ujarnya mengenang. Belum setahun di Jakarta suaminya, Heru, sering sakit-sakitan akibat tekanan pekerjaan. Menghadapi kenyataan itu Swandanipun berpikir keras tentang usaha apa yang akan ia jalankan apabila nanti sang suami tidak mampu lagi mencari nafkah. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan rujak dan jus di garasi rumahnya. Alasan memilih rujak sebagai dagangan sungguh sederhana, “Aku sangat suka makan rujak!” cetusnya geli. Sebelum itu dia memang sudah sering mengulek rujak untuk dimakan sendiri ketika merasa harga rujak itu mahal.

Selama tiga bulan pertama, hasil penjualan rujaknya sangat minim karena pada waktu itu musim hujan. Namun Swandani pantang menyerah. Siang hari dia berjualan, sore hari dia menyebarkan brosur. Rasa capek seolah terbayar ketika menjelang memasuki bulan keempat omsetnya meningkat dari Rp. 3.000,- menjadi Rp. 10.000,- per hari, bahkan tidak jarang Rp. 25.000,- Di tahun 1980-an, uang sebesar itu nilainya sudah lumayan besar.

Setelah sukses berjualan rujak dan jus, Swandani mulai menambah menu lain, yaitu gado-gado. Pilihan ini dilatari oleh kegemaran orang Jakarta akan gado-gado. Berhubung dia belum pernah bikin gado-gado, tidak sedikit pembeli yang ngomel karena rasanya tidak karuan. Sang suami yang ternyata telah pulih kesehatannya dan kembali bekerja juga turut mengritik gado-gado buatan Swandani ini. Setelah tiga hari bereksperimen mencoba formula baru gado-gado, barulah para pelanggan merasa cocok. Dengan sendirinya omzetpun meningkat.

Usaha wanita berambut pendek itu kini menuai hasilnya. Ia telah merintis usaha rumah makan yang kondang dengan nama “Dapur Solo” di daerah Sunter, Jakarta Utara. Di tempat ini dia menyediakan makanan seperti nasi kuning, salad solo, gado-gado, rujak, jus buah, dan lain-lain.

Tiada kata cukup untuk bisnis. Wanita kelahiran 10 Desember 1961 yang suka jalan-jalan ini terus berpikir bagaimana mengembangkan usahanya. Ia mulai merencanakan untuk membeli sebuah ruko. Ternyata itu tidak mudah mengingat modalnya belum mencukupi. Suaminya dengan pesimistis bertanya, “Darimana kita mendapat uang untuk membeli ruko ini?” Namun Swandani terus meyakinkan suaminya bahwa setiap niat yang baik, jika dilakukan dengan usaha keras dan doa, pasti akan ada jalannya.

Swandani benar. Jalan itu mulai tampak ketika beberapa waktu kemudian perusahaan real estate tempat suaminya bekerja membangun kompleks ruko di kawasan Sunter Paradise, Jakarta Utara. Perusahan ini memberi keringanan bagi Swandani untuk membeli ruko itu dengan cara cicilan.

Setelah usahanya pindah ke ruko itu, rumah makan Swandani yang diberi nama “Dapur Solo” semakin berkembang. Menu makanannyapun makin disesuaikan dengan selera pelanggannya. Para karyawan yang bekerja di sekitar Sunter banyak yang menikmati makan siang di sini. Dengan makin berkembangnya “Dapur Solo”, maka Swandani perlu merekrut beberapa karyawan untuk memasak dan melayani pelanggan.

Usaha yang dirintis dengan coba-coba, dan “pasalnya aku bukan ahli masak” demikian pengakuan Swandani, kini telah berkembang pesat berkat kerja keras dan doa. Kisah ini diambil dari tabloid Reformata edisi 60/Juni 2007. Diedit seperlunya.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 19, 2007

Pengalaman Bersama Tuhan (2)

Sejak saya bertobat dan mengenal Tuhan Yesus lebih dalam lagi, saya meninggalkan profesi saya sebagai seorang preman. Kami mulai berjualan sembako di Surabaya. Usaha ini ternyata diberkati Tuhan. Namun masih ada satu hal yang mengganjal. Setelah enam tahun menikah kami belum dikaruniai seorang anak. Saya mengajak isteri saya untuk memeriksa kesehatan kami ke dokter. Bahkan saya sempat dioperasi kecil oleh dokter spesialis kandungan. Sudah banyak uang kami habiskan hanya untuk periksa, terapi dan berbagai macam test. Meskipun kami dinyatakan sehat, namun terapi itu tidak menghasilkan apa-apa.

Pada suatu ketika adik isteri saya melahirkan. Saya disuruh datang mengambil bayi mereka di Rumah Sakit dan meminta kami mengangkatnya menjadi anak kami karena mereka belum siap untuk mengurus bayi. Dalam keadaan masih merah, bayi itu langsung saya bawa pulang dan saya cuci sendiri ari-arinya. Oh, betapa senangnya kami pada waktu itu. Kami mempunyai momongan, meskipun kami tetap berharap bahwa kami akan memiliki anak kandung sendiri.

Keinginan kami untuk mempunyai anak sendiri telah terkubur lama. Kami mengisi hari-hari kami dengan ikut persekutuan dan aktif melayani di gereja. Seorang teman mengajak saya untuk hadir dalam suatu pertemuan bagi para pengusaha. “Tidak, ah! Saya tidak mau datang ke pertemuan seperti itu karena biasanya orang kaya itu sombong-sombong.” Saya menolak dengan tegas. Namun dengan gigihnya teman saya itu berusaha meyakinkan saya bahwa mereka adalah orang-orang percaya yang sudah lahir baru. Akhirnya saya menyetujui untuk datang ke pertemuan itu. Setiba di sana saya disambut dengan sangat ramah dan mereka kelihatan sangat bersukacita dengan kehadiran saya, suatu hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Mereka mau menerima saya apa adanya. Setelah saya semakin betah bergabung di pertemuan para pengusaha itu, saya kemudian mengajak isteri saya untuk juga bergabung dalam pertemuan Ladies of Fellowship.

Pada tahun 2004 kaki isteri saya bengkak-bengkak. Kalaupun ada bengkak-bengkak pada bagian tubuh lain, hal itu tidak akan terlalu kelihatan karena tubuh isteri saya gemuk. Saya menduga bahwa dia sakit ginjal, sehingga saya belikan obat-obatan untuk sakit ginjal karena isteri saya selalu menolak untuk dibawa ke dokter. Karena bengkaknya tidak ada perubahan, saya memanggil tukang pijat, siapa tahu dengan dipijat bengkaknya akan mengempes. Tapi tetap tidak ada hasil, bahkan perutnya tambah mules-mules. Beberapa hari kemudian keponakan kami yang badannya gemuk-gemuk datang dan ikut memijat isteri saya. Karena pijatannya tidak terasa, lalu mereka menaiki tubuh isteri saya dan menginjak-injaknya. Tapi tetap tidak ada hasil.

Setelah lama tidak ada perubahan dalam bengkaknya tubuh isteri saya dan kini ditambah dengan perut yang mules mules, saya mulai khawatir dia terkena lever. Dengan bantuan dari keluarga, kami memaksa isteri saya agar mau dibawa ke dokter, dan dia setuju. Kami membawa dia ke dokter internis. Menurut hasil pemeriksaan, di dalam perut isteri saya ada cairan sekitar enam liter dan jika tidak ditangani segera akan membahayakan dirinya.

Lalu kami diberi surat pengantar ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih detail, termasuk pemeriksaan dengan USG. Di laboratorium isteri saya menjalani seluruh test dan kami dikejutkan dengan pernyataan dokter. “Menurut pemeriksaan kami, isteri bapak sudah hamil delapan bulan!” Hamil? Delapan bulan? Saya tidak dapat berkata-kata apa-apa lagi. Kenapa selama ini kami tidak tahu? Apa karena postur isteri saya yang gemuk sehingga tidak terlihat hamil? Memang siklus haid siteri saya tidak seperti wanita pada umumnya. Dia bisa mendapat haid dalam enam bulan, bahkan setahun sekali. Lagipula siapa yang menyangka dalam usianya yang lebih dari 40 tahun dia akan dikaruniai seorang anak?

Kami jadi khawatir mengingat perut isteri saya pernah diinjak-injak oleh keponakan-keponakan kami.
“Dokter, apakah anak kami akan lahir cacat? Mengingat isteri saya pernah dipijat dengan cara diinjak-injak oleh keponakan kami?”
“Oh, tidak. Tidak ada masalah. Anak bapak sangat sehat. Bulan depan ibu sudah dapat melahirkan.” kata dokter dengan mantap.

Kemudian kami diberi surat pengantar ke rumah sakit bersalin. Keesokan paginya kami berangkat ke sana. Pihak rumah sakit menyarankan agar isteri saya segera dioperasi minggu depan. Timbul kecurigaan dalam hati saya, kenapa keputusan persalinan itu harus cepat dilaksanakan?

“Dok, apakah ada masalah dalam kandungan isteri saya sehingga harus dioperasi secepat itu?” Saya takut apabila bayi itu akan lahir cacat. Lagipula saya mempertimbangkan usia isteri saya yang berisiko untuk melahirkan.

“Tidak perlu menunggu terlalu lama, pak, untuk sesuatu yang dapat kita lakukan sekarang.” kata dokter.

Dokter itu meyakinkan saya bahwa semuanya akan berjalan baik. Tetapi saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kami. Seandainya Dia memberikan yang buruk, saya “mengancam” tidak akan bersaksi mengenai kebaikan Tuhan lagi.

Akhirnya anak kami lahir dengan normal. Tetapi saya masih merasakan kenganjilan karena sejak keluar dari rahim ibunya, kenapa bayi ini tidak menangis seperti bayi lainnya? Ketakutan kembali menyelimuti saya. Dalam kepanikan itu saya berseru dan berdoa kepada Tuhan, supaya anak saya jangan lahir cacat. Selesai berdoa, mukjizat segera terjadi. Anak kami akhirnya menangis sangat keras, bahkan paling keras diantara bayi-bayi yang lain.

Kami sangat gembira melihatnya dan bersyukur kepada Tuhan. Meskipun kami harus menanti dua puluh lima tahun, apa yang semula sempat kami abaikan dan tidak kami pikirkan, ternyata Tuhan masih mengingatnya dan menyediakannya. Dia setia pada janji-Nya di saat kita sungguh-sungguh melayani Dia. Itulah kesaksian bapak Iwan, seorang pengusaha sembako di Surabaya, member dari FGBMFI Karunia Chapter Surabaya yang menikah dengan Megawati dan dikaruniai anak bernama Sherlin. Kisah ini diambil dari buletin Voice yang diterbitkan Full Gospel Businessmen' Fellowship Indonesia vol. 86/2006.

Diedit oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 18, 2007

Pengalaman Bersama Tuhan (1)

Saya dibesarkan dalam keluarga yang berantakan karena sejak usia lima tahun, orang tua saya sudah bercerai. Sejak itu saya dimasukkan ibu ke Panti Asuhan Don Bosco di Surabaya. Dari asrama inilah kepremanan saya dimulai.

Di panti asuhan kami dididik secara Katholik. Meskipun ketatnya peraturan dan ajaran agama yang berlaku, namun hukum rimba tetap terjadi. Di panti, anak-anak orang kaya tidak setiap bulan mendapat jatah kiriman uang dan makanan dari orang tua mereka. Karena itu diantara anak-anak panti sering terjadi perebutan makanan dan perkelahian. Anak-anak orang kaya itu sering menggunakan jasa tukang pukul, yang tidak lain adalah teman-teman di panti yang punya otot dan kenekadan. Biasanya tenaga tukang pukul itu adalah anak-anak dari golongan keluarga yang yang mampu. Saya adalah salah satu tukang pukul yang “disewa” mereka.

Saya mengawali profesi tukang pukul sejak di bangku SD. Setiap hari saya berkelahi dengan teman-teman sendiri demi membela “tuan kecil” saya. Semakin lama saya menyukai profesi ini, sehingga meningkat menjadi preman hingga saya sekolah di SMU. Untuk menunjang profesi saya, saya mengikuti latihan beladiri hingga ke tingkat sabuk hitam. Pada waktu itu tindakan saya sudah sangat meresahkan teman-teman karena hampir tiap hari saya selalu mengompas dan memeras mereka.

Setelah menikah saya masih tetap menjalankan pekerjaan ini. Bahkan saya mulai mempelajari ilmu kebal, tahan pukul dan tahan bacokan. Tetapi ilmu yang saya pelajari itu tidak banyak menolong. Suatu ketika badan saya terasa sakit sehabis dipukul orang karena risiko pekerjaan. Tubuh saya terasa panas dan kepala sangat pusing. Saya merasa sedemikian sakitnya sehingga saya sampai membentur-benturkan kepala saya ke tembok. Obat sakit kepala segala merek telah saya minum, namun hasilnya tidak ada, tidak mengurangi rasa sakit hebat itu. Saya demam tinggi, tubuh saya menggigil kedinginan. Di sekujur tubuh saya terasa “senut senut” seperti digigit ribuan semut.

Seorang teman datang kepada saya dan berkata,
“Kamu mau sembuh?”
“Ya, jelas dong! Terserah pakai cara apa saja,aku mau sembuh!”
“Baiklah, kalau begitu. Saya akan ajak pendeta saya ke sini supaya kamu didoakan.” katanya dengan penuh keyakinan.

Malam harinya kira-kira pukul 10 seorang pendeta bersama isterinya datang ke rumah kami. Mereka mengajukan banyak pertanyaan. Diantaranya sang pendeta bertanya, “Apabila bapak disebuhkian Tuhan, apakah nanti bapak mau rajin beribadah di gereja?” Pertanyaan itu langsung saya jawab,”Sudahlah pak, percayalah, saya akan pergi ke gereja setelah saya sembuh. Jangan terlalu banyak omong, doakan saja!”

Setelah berdoa, pendeta beserta isterinya pamit pulang sambil berpesan, “Nanti kalau sudah sembuh, bapak harus rajin ikut persekutuan ya!” Kami mengiakan dan berjanji akan mencari tempat persekutuan yang terdekat. Tak lama setelah itu saya tertidur.

Keesokan paginya, ternyata benar, saya sudah sembuh! Tapi dasar manusia, setelah sembuh saya melupakan janji saya kepada Tuhan dan pendeta itu untuk beribadah dan ikut persekutuan. Akhirnya kejadian serupa terulang lagi. Saya dipukul orang lagi. Saya kembali ambruk, bahkan lebih menderita daripada yang terdahulu. Lalu pendeta itu datang lagi dan menegaskan bahwa saya harus berubah dan taat beribadah. Setelah didoakan, kondisi saya bahkan semakin parah. Sambil menahan sakit saya berkata kepada diri sendiri, “Wah, doa pendeta ini sudah tidak mempan lagi rupanya!”

Pada suatu hari ketika isteri saya dan pembantu pergi, rasa sakit saya berada pada puncaknya. Saya bergulingan di lantai dan berteriak kesakitan. Lalu saya melakukan tindakan paling memalukan seumur hidup, saya menangis sejadi-jadinya. Saya berlutut, minta ampun kepada Tuhan dan berjanji untuk bersungguh-sungguh melayani Dia dan rajin beribadah. Seketika itu juga, tubuh saya terasa hangat seperti ada sesuatu yang mengalir ke dalam tubuh saya. Mendadak rasa nyeri di tubuh saya hilang.

Sejak itu saya bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Saya menjadi ciptaan baru, kehidupan saya yang lama telah mati. Saya mulai rajin beribadah dan aktif di gereja. Pada waktu itu rambut saya masih gondrong dan tampang saya masih sangar. Saya sempat merasa risih berada di lingkungan gereja. Saya juga merasa risih dengan cara-cara ibadah dengan bertepuk tangan dan menari-nari. Namun lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan mulai menikmati suasana itu. Sejak itu kehidupan saya berubah. Namun ada satu hal keinginan kami yang belum tercapai, kami belum dikaruniai seorang anakpun. (Bersambung)
Diedit oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 14, 2007

Kanker Pita Suara Disembuhkan Tuhan

Saya mengalami gangguan pita suara kurang lebih tiga tahun lalu. Suatu kali selesai berkhotbah, suara saya serak dan parau. Sejak itu setiap kali berkhotbah suara saya parau dan sakit sekali. Ketika saya memeriksakan diri ke dokter THT berkata, "Ada tumor pada pita suara bapak dan harus dioperasi!" Ketika saya mendengar hal itu, saya hanya pasrah dan berserah kepada Tuhan. Hati kecil saya berkata, saya akan menunggu konfirmasi dari Tuhan apakah tumor itu harus dioperasi atau tidak.

Keadaan tersebut tidak membuat saya patah semangat. Sebagai hamba Allah, saya tetap berkhotbah kemana-mana. Tapi apa mau dikata, makin hari suara saya makin parau dan rasanya lebih parah. Akhirnya saya datangi dokter lagi dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa saya mengalami kanker pita suara. Sungguh sangat mengejutkan dan menakutkan. Lalu dokter tersebut menganjurkan saya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di RS Dharmais.

Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan dokter itu, karena saya percaya bahwa Allah mampu menyembuhkan. Dalam keadaan seperti itu Tuhan memberikan saya firman yang terambil dari Mazmur 91: 14 – 16, yang berbunyi: “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”

Waktu saya menerima ayat ini saya mendapatkan kekuatan dan percaya bahwa Tuhan akan menolong dan membela saya. Bersamaan dengan itu isteri saya bermimpi: Ada sebuah truk besar melaju dengan kencang dan menabrak televisi di rumah, namun TV tersebut tidak pecah dan tidak goyang. Dengan heran isteri saya memeriksa mengapa TV itu tidak rusak setelah ditabrak dan mendapati bahwa saya sedang berlutut dan berdoa di balik TV itu. Ini merupakan gambaran bahwa ada suatu kuasa yang mau menghancurkan saya, namun dengan kuasa doa, serangan itu dapat dipatahkan.

Bulan Juli 2004 saya menyerahkan tugas khotbah kepada isteri dan saya berserah kepada Tuhan agar Tuhan yang menolong saya. Lalu saya memeriksakan diri ke dokter THT lagi. Ia tidak menemukan sesuatu namun menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter lain. Lalu saya menemui dokter THT lain dan difoto. Lewat foto itu baru ketahuan ada daging tumbuh dan harus dioperasi, namun dokter THT tersebut tidak yakin akan dapat mengangkat seluruh daging tumbuh itu. Saya meminta foto itu untuk dibicarakan dengan keluarga, teman di gereja, dan untuk didoakan.

Beberapa hari kemudian beberapa teman datang ke rumah dan menganjurkan saya melakukan operasi di luar negeri. Saya mulai mempertimbangkan operasi di Cina, Singapura atau Malaysia. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk operasi kanker ini di Malaysia.

Saya melihat campur tangan Tuhan sangat ajaib. Walaupun biayanya sangat besar namun dalam waktu yang singkat dana telah terkumpul dan berlebih sehingga saya kaget sendiri. Dengan bergurau saya katakan kepada isteri bahwa dana ini bukan untuk operasi saya tapi untuk jalan-jalan.

Sesampai di Malaysia, setelah berjumpa dengan dokter dan setelah saya menunjukkan foto, ia menyatakan bahwa itu kanker pita suara. Saya cukup kaget, namun di dalam hati saya menolak apa yang ia katakan. Lalu saya dibiopsi. Sambil menunggu hasil biopsi, kami berjalan-jalan ke Singapura selama seminggu.

Sekembalinya dari Singapura saya segera mengambil hasil biopsi dan dokter menyatakan bahwa itu kanker pita suara. Karena dokter ini akan segera ke Cina, maka ia merekomendasikan saya untuk ditangani dokter lain. Ketika dokter berikutnya ini melihat hasil foto dan biopsi dan memeriksa tenggorokan saya, ia menyatakan saya untuk di-CT Scan. Hasil CT Scan menunjukkan bahwa kanker ini baru stadium satu dan tidak mempengaruhi jaringan lain. Dokter ini menyarankan agar saya diradiasi saja, tidak usah dioperasi.

Saya mengucap syukur karena Tuhan menolong saya sehingga penyakit ini tidak terlalu parah. Dokter itu mengatakan bahwa saya dapat diradiasi di Indonesia saja. Saya diradiasi selama 35 kali dalam waktu 3 bulan. Di sini Tuhan mengajar saya untuk bersabar dan rendah hati. Pada bulan Nopember 2004 selesai diradiasi, suara saya hilang sama sekali. Tetapi dokter menyatakan bahwa itu normal, karena radiasi, dan akan segera pulih kembali.

Puji Tuhan, sampai saat ini saya sungguh menikmati janji Tuhan yang berkuasa bahwa orang yang taat kepada-Nya akan dipelihara dan ditolong-Nya. Saya mengucap syukur karena pita suara saya masih dapat dipergunakan untuk saya berkhotbah sampai saat ini. Lewat peristiwa ini saya disadarkan bahwa hidup ini hanyalah untuk Dia. (Kesaksian Pdt. Linggo Christanto di Majalah Transformasi Edisi 02.)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 13, 2007

Young Men To Heaven

Kemudian kami sampai ke tempat dimana di sana ada jutaan dan jutaan anak-anak dari segala usia. Ketika mereka melihat Tuhan, semua anak-anak itu ingin memeluk-Nya, ingin merasakan kasih-Nya lebih banyak lagi, karena Tuhan Yesus adalah kerinduan mereka. Kami sangat terharu melihat betapa Tuhan memanjakan setiap anak-anak itu, bagaimana Ia menciumi mereka dan menggandeng tangan mereka.

Kami melihat bagaimana para malaikat mendekat kepada Tuhan, membawa kepada-Nya bayi-bayi yang dibungkus kain lenan. Tuhan membelai, menyentuh, dan mencium kening mereka dan kemudian para malaikat membawa kembali bayi-bayi itu. Kami bertanya kepada Tuhan mengapa di sorga ada banyak bayi, apakah mereka bayi-bayi yang akan dilahirkan di bumi? Tuhan nampak terharu sebentar, dan Ia berkata, “Tidak, anak-anak kecil itu bukan dilahirkan di bumi! Mereka adalah anak-anak yang digugurkan di bumi, yang tidak dikehendaki orang tua mereka. Mereka itu adalah anak-anak-Ku dan Aku mengasihi mereka.” Saya menganggukkan kepala, dan suara saya terdengar gemetar ketika berani bertanya demikian kepada Tuhan.

Ketika saya belum mengenal Tuhan, Kehidupan Sejati, saya telah berbuat kekeliruan dan dosa seperti orang-orang lainnya. Salah satu dosa saya adalah menggugurkan bayi saya. Saya telah bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan atas dosa saya tersebut. Beberapa saat kemudian saya memberanikan diri lagi bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah bayi yang saya aborsi dulu ada di sini?” Tuhan menjawab, “Ya.” Saya segera mencari-cari anak saya yang dulu digugurkan dan saya melihat seorang anak lelaki yang cakap. Di dekat kakinya berdiri seorang malaikat. Malaikat itu sedang melihat ke arah Tuhan Yesus dan anak itu membelakangi kami.

Tuhan berkata kepada saya, “Lihat, itulah anak lelakimu.” Saya ingin melihatnya sehingga saya berlari ke arahnya, namun malaikat itu menghentikan saya dengan tangannya. Ia memberi isyarat agar saya mendengarkan dulu anak lelaki itu. Saya segera mendengarkan apa yang dikatakan anak lelaki saya. Ia sedang berkata-kata sambil melihat ke arah anak-anak yang lain. Ia bertanya kepada malaikat itu, “Apakah papa dan mama saya akan segera datang ke sini segera?” Malaikat itu, sambil menoleh kepada saya, menjawab anak itu, “Ya, papa dan mamamu akan segera datang.”

Saya tidak tahu mengapa saya mendapat hak istimewa mendengarkan perkataan itu, tetapi di dalam hati saya tahu bahwa perkataan itu merupakan hadiah terbesar yang dapat diberikan Tuhan kepada saya. Anak kecil saya tidak berkata dengan kemarahan, atau penderitaan, meskipun mungkin dia tahu bahwa dulu kami tidak menghendakinya dilahirkan. Ia cuma menunggu dengan kasih yang telah ditaruh Tuhan di hatinya.

Kami terus berjalan, namun saya terus menyimpan gambaran anak itu di hati saya. Saya tahu bahwa setiap hari saya harus berusaha untuk bertemu dengan anak saya pada suatu hari. Saya memiliki satu alasan lagi untuk pergi ke sorga, karena seseorang sedang menunggu saya di sana. Firman Tuhan di dalam Yesaya 65:19 mengatakan, “Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang pun tidak.”
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 12, 2007

Memiliki Anak Setelah 9 Tahun

Seorang ibu datang menata rambutnya di suatu salon. Selama rambutnya ditata, ia membaca alkitab. Pemilik salon dan sekaligus stylist itu kagum atas ketekunan si ibu dan bertanya.
"Ibu, orang Kristen ya?"
"Ya,"
"Koq gak baca majalah aja, bu?"
"Kalau baca majalah, saya jadi pusing. Baca alkitab saya jadi tenang."
Sembari menata rambut, pemilik salon itu melanjutkan.
"Bu, saya ini sudah sembilan tahun menikah, tapi kami belum dikaruniai seorang anakpun. Kami sudah berobat kemana-mana tapi belum berhasil. Tolong doakan dong, bu..."
"Iya, deh, nanti saya doakan ya, semoga kalian cepat dapat momongan."

Enam bulan kemudian ketika si ibu datang lagi ke salon itu untuk menata rambut, ia disapa ramah pemilik salon.
"Eh, bu, sudah lama sekali gak datang ke sini ya? Bu, kami senang sekali karena doa ibu telah dijawab. Isteri saya sudah hamil lima bulan. Terima kasih banyak, ya!"
"Puji Tuhan!" hanya itu yang dapat diucapkan si ibu.

Ibu tersebut memang sudah mendoakan pasangan ini, enam bulan lalu. Doa orang benar bila dengan yakin didoakan besar kuasanya.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 6, 2007

Amazing Story of Samuel Doctorian (2)

Malaikat di depan saya tak berbicara sepatah katapun. Dia membawa sebuah gulungan kertas di tangannya. Dia membuka gulungan itu dan saya bisa membaca dengan jelas pesan Tuhan yang tertera di gulungan itu: "Ibu muda itu bukan pembunuhnya. Dia tidak membunuh anak perempuan itu. Suaminyalah yang membunuh anak itu. Tetapi dia mengancam isterinya dan memberi tahu supaya isterinya yang mengaku membunuh anak itu. Suaminya berkata bahwa pemerintah tidak akan menghukum wanita seberat menghukum laki-laki. Jadi, setelah dipenjara selama beberapa tahun dia akan dibebaskan dari penjara. Tetapi jika dia tidak mau mengaku, suaminya mengancam akan membunuh dia dan ketiga anaknya. Di dalam ketakutannya, itu muda itu terpaksa berbohong dan mengaku bahwa dialah pembunuhnya."

Ketika saya membaca pesan itu, saya merasa terguncang hingga ke jiwa saya yang paling dalam. Saya segera menuju ke telpon untuk menghubungi sang kolonel.
"Kolonel, cepat datang ke sini, saya harus berbicara dengan anda."
"Ada apa?"
"Saya tidak dapat membicarakannya lewat telpon karena hal ini adalah hal yang sangat penting sekali."

Walaupun dia adalah seorang komandan yang membawahi beberapa perwira dan mempunyai kuasa yang besar, tetapi kolonel yang terkasih ini adalah anak rohani saya. Dia sangat mengasihi dan menghormati saya. Dia berkata, "Saya akan segera datang."

Dia tiba bersama dengan para pengawal dan tentaranya dan langsung ke kamar saya.
"Kolonel, silakan duduk dulu. Biarkan saya memberi tahu anda apa yang telah terjadi." Saya memberitahukan kepadanya bagaimana malaikat Tuhan telah datang, dimana malaikat itu berdiri dan pesan apa yang telah disampaikannya kepada saya.

Kolonel itu merasa kaget, terguncang dan bingung.
"Maksud anda, benar-benar malaikat? Malaikat sorgawi telah datang ke tempat ini?"

"Ya, dia berdiri di situ, dan yang lebih penting lagi dari pada itu adalah pesan yang disampaikan malaikat itu kepada saya."

"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena hal itu berada di luar jangakauan saya. Kasus pengadilannya telah ditutup dan pengakuan telah didengar. Setiap saat bila ada perintah yang datang dari pengadilan di Kairo, saya harus menggantung wanita itu."

"Sebaiknya anda tidak melakukannya, kolonel! Bukan dia pembunuhnya! Suaminyalah yang membunuh. Malaikat yang memberitahukannya kepada saya."

"Apa yang anda ingin saya lakukan?"

"Kembalilah ke penjara sekarang. Wanita itu akan mengakui kejadian yang sebenarnya di hadapan anda, dan ketika wanita itu memberitahukannya kepada anda, kata demi kata seperti apa yang telah disampaikan oleh malaikat tadi, peneguhan seperti apa lagi yang anda inginkan?"

"Selama hidup saya, saya belum pernah mengalami hal seperti ini. Saya akan segera pergi!"

Saat kolonel itu sampai di penjara dan memasuki gerbangnya, sebelum dia memasuki kamar kerjanya, para perwiranya memberi tahu bahwa salah seorang tahanan wanita itu ingin berbicara dengan dia.

"Siapa?"
"Wanita yang lebih muda."
"Bawa dia kemari!"

Dengan diam-diam dia mempersiapkan sebuah alat rekaman di kamar kerjanya. Wanita itu dibawa menghadap kepadanya. Ibu muda yang berumur 23 tahun itu terlihat gemetar ketakutan dan sedikit malu-malu. Selagi dia berjalan masuk ke dalam, dia bertanya apakah dia diperbolehkan untuk berbicara berdua saja dengan kolonel. Kolonel itu menyetujuinya dan para penjaga meninggalkan mereka dengan alat rekaman yang dihidupkan.

Dengan diiringi air mata ibu muda itu mengakui semuanya, kata demi kata, tepat seperti apa yang telah disampaikan malaikat Tuhan kepada saya. Rekaman pembicaraan itu dikirim sampai ke Kairo dimana para hakim di sana mendengarkan seluruh isi ceritanya. Akhirnya pembunuh yang sesungguhnya ditangkap, diadili, dan dinyatakan bersalah, kemudian dia digantung. Ibu muda tadi bersama dengan ketiga anaknya dipindahkan ke tempat lain secara rahasia sehingga kerabat suaminya tidak tahu dimana mereka berada. Puji syukur kepada Tuhan, sampai dengan saat ini mereka semua masih hidup dan tidak kurang sesuatu apapun. Keseluruhan cerita ini diberitakan dalam semua surat kabar resmi di Mesir. Tuhan kita adalah Tuhan yang hebat! Terpujilah namanya. (Tamat)
Kesaksian ini diambil dari buku "...Dan Kemudian Aku Melihat-Nya" oleh Samuel Doctorian, terbitan Adonai, 2000.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Amazing Story of Samuel Doctorian (1)

Saya sedang melayani di sebuah kota besar yang bernama Assyut, yang terletak di Mesir Utara. Salah satu gerakan Roh Kudus yang paling dahsyat yang pernah saya lihat di sepanjang pelayanan saya terjadi di kota Assyut ini. Roh Tuhan menggoncangkan seluruh kota. Ribuan orang datang untuk mendengarkan Injil. Tentunya Setan merasa sangat marah. Kami memang mengalami beberapa kesulitan yang cukup berarti. Saya sendiri mendapat ancaman akan ditembak dan dibunuh. Saya diperintahkan oleh Gubernur Assyut, yang bukan orang percaya agar saya menghentikan kebaktian tersebut, namun saya tidak mau menuruti perintahnya. Saya lebih senang mendengarkan Gubernur Besar, Sang Penguasa Langit dan Bumi sendiri. Gubernur Assyut tadi benar-benar mengirimkan pengawalnya untuk menembak saya, tetapi Tuhan membebaskan saya dengan cara-Nya yang dahsyat. Ribuan orang menerima Tuhan dan akhirnya kami mampu membeli sebidang tanah dimana kami dapat mengadakan ibadah-ibadah yang besar tadi. Pada hari ini di kota Assyut telah berdiri sebuah gedung ibadah yang besar dan firman Tuhan diberitakan minggu demi minggu. Hanya kepada-Nyalah saya memberi kemuliaan!

Salah satu jiwa berharga yang diselamatkan dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) itu adalah seorang kolonel. Dia menduduki posisi tinggi di dalam pemerintahan Mesir. Dia menjadi kepala penjara di penjara Sohag. Baru-baru ini dia mendapat kenaikan pangkat sebagai kolonel kepala untuk penjara besar di Assyut, penjara terbesar kedua di Mesir. Penjara itu menampung seribu enam ratus tahanan. Kolonel itu datang setiap malam untuk menghadiri KKR . Dia adalah orang percaya yang baik. Pada malam-malam tertentu dia akan membawa para tahanan bersama dengan pengawal mereka ke kebaktian itu. Mereka mendengar Injil diberitakan dan setelah itu mereka akan kembali lagi ke penjara.

Pada suatu hari dia mengundang saya datang ke rumahnya untuk bersantai selama beberapa jam. Saya bermain tenis di lapangan tenis penjara dan kemudian makan malam serta bersekutu bersama-sama di rumahnya. Setelah bermain tenis, kami masuk ke kantornya untuk berbicara mengenai para tahanan.

Dia bertanya kepada saya apakah saya mau melihat tiang gantungan tempat mereka menggantung para penjahat dan pembunuh. Saya belum pernah melihat tiang gantungan sebelumnya, dan walaupun tiang itu tidak enak dilihat, saya merasa sangat tertarik untuk melihatnya. “Ya,” kata saya, “ijinkan saya melihatnya.”

Setelah kami minum kopi, kami pergi melihat tiang gantungan tersebut. Ruangan tempat hukuman gantung itu sangat mengerikan dan apa yang saya lihat di dalamnya sangat menakutkan. Saya melihat tali yang biasa dipakai untuk menggantung orang. Saya melihat tempat lantai gantungan dimana sepotong kayu penopang akan diangkat dan orang yang digantung itu akan tergantung di udara. Sungguh suatu pemandangan yang memilukan walau hanya dengan melihat peralatannya saja.

Saya mengajukan pertanyaan kepada sang kolonel, “Bagaimana anda menghukum mereka? Apa yang anda lakukan sebelum anda menggantung orang?” Lalu dia membawa saya keluar dari ruangan itu dan memperlihatkan kepada saya. Ada suatu sudut tempat dia sebagai kepala penjara akan berdiri. Di hadapannya akan dibawa penjahat yang dituduh. Dia akan menyatakan bahwa kasus pengadilan telah ditutup dan telah ada perintah yang mengatakan bahwa penjahat ini dinyatakan bersalah dan harus dihukum gantung. Kolonel itu berkata, “Saya yang mengumumkan hukumannya, kemudian kami akan membungkus kepalanya dengan kantong hitam agar matanya tertutup. Kami membawanya ke tiang gantungan, membelitkan tali ke lehernya dan kemudian menggantungnya.”

Saya berdiri di tempat penjahat itu biasa berdiri. Titik dimana si pembunuh, orang yang divonis hukuman gantung itu berdiri. Kemudian saya berkata kepada komandan yang hebat ini. “Oh, kolonel yang hebat, maukah anda mengumumkan penghukuman atas diri saya?” Dia menyahut, “Tidak, tidak. Anda pasti bergurau.” Saya berkata, “Saya hanya ingin mendengarkannya, tolong. Katakanlah. Ulangi kata-kata yang biasa anda ucapkan ketika seseorang mau digantung.” Sang kolonel terlihat agak kaget dan kemudian berkata, “Mengapa anda menginginkan hal itu?” Saya berkata, “Tolong lakukan saja!” Saat saya berdiri di tempat itu, sang komandan mulai menjatuhkan penghakiman atas diri saya. Ketika dia selesai berbicara, saya berkata, “Tidak ada penghukuman yang dijatuhkan kepada orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus! Haleluya!”

Kita semua seharusnya dihukum mati. Tetapi sang Pembebas yang perkasa, Juruselamat yang hebat, sang Penebus yang luar biasa telah tiba. Dia tergantung di kayu salib menggantikan tempat kita. Dia disalibkan bagi kita dan sekarang oleh karena kita adalah orang-orang percaya di dalam Kristus, kita telah dilepaskan dari hukuman. Kita tidak akan binasa, tetapi akan hidup selama-lamanya karena Tuhan Yesus telah mati satu kali dan untuk selama-lamanya. Haleluya!

Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan untuk kolonel itu adalah, “Apakah dalam waktu dekat ini ada orang yang akan dihukum gantung?” Dia menjawab, “Ya, ada tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Saya sedang menunggu perintah dari pengadilan di Kairo.” Saya berkata, “Apakah anda menggantung wanita juga?” Dia berkata, “Tentu saja, walaupun sudah lama kami tidak melakukannya.” Kemudian saya bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh penjahat-penjahat itu?” Saya mendengar berbagai cerita kejahatan yang mengerikan. “Bolehkah saya melihat wanita-wanita itu dalam sel mereka?” tanya saya. Kemudian dia membawa saya ke bagian penjara khusus untuk wanita.

Saya mendekati salah satu pintu kemudian mereka membuka jendela kecilnya. Saya memperhatikan ke dalam dan melihat wanita yang pertama. Para penjaga mengatakan bahwa wanita itu telah berumur 54 tahun. Dia kelihatan seperti seorang nenek sihir yang mengerikan. Dia telah membunuh suaminya dengan kapak saat suaminya sedang tidur di padang, hanya karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Wanita tua ini menjadi sangat marah sehingga dia membunuh suaminya. Setiap saat jika perintah datang, wanita itu akan dihukum gantung.”


Saya melihat ke kamar yang lain dan di dalam kamar itu ada seorang wanita yang berumur 23 tahun. Pada saat dia melihat saya melalui jendela kecil itu, dia mulai menangis dan berteriak, “Tolong saya, tolong saya!” Tiba-tiba saya tidak bisa melihatnya lagi. Rasanya saya ingin menangis.

“Apa yang telah dilakukannya?”
“Dia telah membunuh seorang anak perempuan kecil berusia 12 tahun, kemudian mencuri anting-anting anak perempuan itu untuk membeli opium (hashish) bagi suaminya.”
“Kalau begitu dia sudah menikah!”
“Oh, ya! Dan dia sudah mempunyai 3 orang anak.”

Kisah itu adalah kisah yang sangat menyedihkan. Saya tidak bisa mendengarkannya lebih lanjut lagi.

Ketika saya kembali ke rumah kolonel saya tidak dapat memikirkan hal lain. Semua yang saya lihat di hadapan saya adalah wajah ibu muda berusia 23 tahun yang sedang menangis, “Tolong saya, tolong saya!” Apa yang dapat saya lakukan?

Para penjaga penjara mengantar saya kembali ke rumah dimana saya tingal di kota Assyut. Saya sudah bersiap-siap untuk tidur sore agar saya siap mengadakan kebaktian nanti malam. Saya berlutut untuk berdoa, tetapi saya masih tetap melihat wajah wanita muda tadi dan saya mendengar teriakannya, “Tolong saya, tolong saya!” Kemudian saya mulai berdoa, “Tuhan, adakah yang dapat saya lakukan?” Hanya itu saja yang bisa saya katakan dan tiba-tiba kamar saya dipenuhi dengan hadirat Tuhan. Dengan mata saya sendiri, saya dapat melihat dengan jelas seorang malaikat Tuhan berdiri di hadapan saya. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 5, 2007

Kisah Todd Bentley (2)

Ini kisah tentang Todd Bentley yang bulan Mei lalu datang melayani di Indonesia. Lihat posting tanggal 2 Mei 2007 yang lalu. Kisah ini baru saya dengar belakangan. Todd yang suka mengendarai moge (motor gede), tidak menyia-nyiakan kesempatan berkeliling Jakarta dengan moge, disertai panitia yang suka naik motor gede juga, disela-sela pelayanannya yang padat di Jakarta bulan lalu.

Di suatu perempatan ketika lampu lalu lintas menyala merah, motor Todd berhenti. Di sampingnya datang seorang anak kecil yang mengamen. Anak itu mengharapkan uang. Todd mengulurkan tangan dan menumpangkan tangannya di atas kepala anak itu. Tak berapa lama anak itu mulai menangis sesenggukan. Rekan-rekan motorist lain yang melihat kejadian itu segera mengelilingi Todd dan anak kecil itu, khawatir orang pikir anak ini menangis gara-gara dikerjai Todd. Memang Todd ini penampilannya serem, tubuhnya penuh tatoo, maklum bekas preman. Anak kecil itu kemudian ditinggalkan mereka setelah diberi uang dan didoakan.

Kisah berikutnya terjadi di atas pesawat. Karena pelayanan Todd di Jakarta waktunya molor karena banyak pelayanan yang dilakukan, maka Todd dan rombongan ketinggalan pesawat ke Malaysia yang sudah dipesan dan dibayar. Seorang pengusaha Indonesia yang memiliki jet pribadi akhirnya menawarkan Todd dan rekan-rekan untuk menggunakan pesawat itu. Yang menarik, begitu Todd memasuki pesawat dan sepanjang jalan, empat pramugari yang melayani di atas pesawat pribadi itu menangis. Mereka ditempelak Tuhan, dan diingatkan akan dosa-dosa mereka. Mereka menangis penuh penyesalan. Padahal Todd tidak berkhotbah. Ia duduk tenang saja. Untunglah, pilot tidak terkena imbas kehadiran Allah melalui diri Todd. Kalau tidak, gimana pesawat itu akan stabil terbang sementara pilotnya menangis sesengggukan karena menyesali dosa-dosanya?

Todd Bentley membawa hadirat Allah yang kuat kemanapun dia pergi, karena dia biasa ada di hadirat-Nya setiap hari. Ia tenggelam di dalam roh (soaked in the Spirit) setiap hari selama 3 - 6 jam. Pada waktu tenggelam dalam roh itu, ia diam saja, menikmati hadirat Tuhan. Ia membaca Alkitab 3 - 6 jam setiap hari. Ada aliran-aliran kehidupan yang kuat memancar keluar dari hatinya. Ada kuasa Allah yang bagai dinamit dalam pelayanannya.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Lolos dari Kerusuhan Sampit (5)

Akhirnya Nur dan saudara-saudaranya selamat sampai di pelabuhan. Di dermaga tampak kapal Teluk Ende sedang menaikkan para penumpang yang berebutan. Begitu mereka tiba, pintu kapal ditutup karena jumlah 3000 orang sudah terpenuhi. Banyak orang-orang yang tidak dapat terangkut malam itu harus kembali lagi ke camp pengungsian.

Nur melihat pemandangan yang sangat memilukan. Seorang ibu meminta dengan sangat kepada penjaga yang akan menutup pintu kapal agar ia diizinkan naik. Ibu itu menangis meraung-raung karena suami dan anak-anaknya sudah naik, tapi dirinya sendiri ketinggalan. Petugas tetap berkeras melarang ibu ini naik. Meskipun ibu ini bersimpuh dan memohon-mohon, petugas kapal dengan tegas menolak permintaan ibu ini.

Saat itu juga Nur iba. Ia berdoa, “Tuhannya isteri saya, kalau Engkau memang benar-benar Tuhan, izinkan ibu ini naik, juga kami yang tertinggal boleh naik.” Sementara itu tambang kapal mulai dilepas dan pintu sudah ditutup.

Jika mereka pulang kembali ke camp pengungsian, jiwa mereka belum tentu selamat. Di perjalanan bahaya maut mengintai setiap saat. Kalau ada penghadangan, aparat militer sekalipun tidak dapat melindungi mereka. Andaikan mereka selamat sampai di camp lagi, mereka juga belum tentu selamat, karena di camp sering terjadi penculikan dan pembunuhan secara gerilya.

Tiba-tiba dari dalam kapal terdengar pengumuman, “Semua pengungsi yang ada di dermaga boleh naik kapal. Segera!” Pintu kapalpun dibuka kembali. Ibu yang tadi menangis meraung-raung segera melompat ke jembatan yang menghubungkan dermaga dengan kapal Teluk Ende. Nur dan kerabatnyapun masuk kapal dengan tenang. Doanya sekali lagi dijawab Tuhan secara ajaib.

Saat ini Nur berkeliling menyaksikan keajaiban yang dialaminya bersama Tuhan. Ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Ia belum menceritakan bagaimana pertobatannya dan bagaimana ia diadili di kampung halamannya karena iman kepada Tuhan Yesus. Saat ini ia telah berkumpul kembali dengan keluarganya di Sampit.

Setelah Nur menceritakan kesaksiannya, Eva – isterinya, menyanyikan lagu “Mukjizat Itu Nyata” dengan merdu dan penuh penghayatan karena mereka mengalami sendiri betapa tidak terbatas kuasa Tuhan, semua dapat Dia lakukan, apa yang kelihatan mustahil bagi kita, itu sangat mungkin bagi Tuhan. Di saat Nur dan Eva tidak berdaya, kuasa Tuhan yang sempurna menolong mereka. Ketika Nur berdoa, mukjizat itu nyata. Ketika Nur percaya, mukjizat itu nyata. (Sementara Selesai Dulu)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Survive from Car Crash

Mertua Albert adalah seorang pengemudi metromini. Pada Jumat malam itu mertuanya pulang dari pool metromini jam 11 malam, naik motor sendirian. Di jalan Perintis Kemerdekaan motornya dipepet sebuah taksi yang ugal-ugalan, sehingga mertuanya membuang stir ke kanan. Namun motor membentur separator busway sehingga mertuanya jatuh, kepala duluan membentur aspal, dan tertimpa motor pula.

Mertuanya segera dibawa ke sebuah Rumah Sakit Swasta di bilangan Cempaka Putih. Dalam keadaan tidak sadar mertuanya dibiarkan saja di ruang Unit Gawat Darurat. Jam 3.30 pagi mertuanya siuman dan ditanya perawat yang berdinas, "Berapa nomor telpon keluarga yang bisa dihubungi?" Setelah diberi tahu, pihak RS menelpon ke rumahnya. Seisi rumah kaget dan segera bergegas ke RS.

Di sana tergeletak ayah mertua Albert. Dalam keadaan kepala berdarah, sang korban tidak ditangani apapun karena pihak RS menunggu adanya pihak keluarga yang bertanggung jawab atas pembayaran biaya RS. Darah mengalir dari kepala, membasahi baju dan tempat tidur pasien. Lalu perawatnya tanya, "Apa lukanya mau dijahit?" Hah? Bukankah seharusnya pihak RS yang lebih tahu apa yang harus dilakukan terhadap pasien di ruang gawat darurat? Rupanya pihak RS bertanya begitu untuk memastikan apakah keluarga pasien punya dana untuk menjahit luka itu.

Setelah luka dijahit, maka dilakukan pemeriksaan kepala dan telinga. Dari telinga juga mengalir darah segar. Setelah kepala di-scanning, ternyata tidak ada bagian otak yang rusak atau gegar otak. Hanya darah kering memenuhi bagian dalam telinga mertuanya. Setelah dibersihkan dengan cairan khusus dan diperiksa di RS THT, ternyata telinga mertuanya juga baik. Selain itu tulang bahu ada yang patah atau retak, namun setelah dirawat di tukang pijat khusus, bagian inipun sembuh.

Dalam kejadian ini Albert tetap bersyukur kepada Tuhan. Dialah perlindungan kita. Ayah mertuanya sekarang telah dipulihkan sempurna.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 4, 2007

Lolos dari Kerusuhan Sampit (4)

Dalam keadaan lapar dan mendongkol di Pengungsian Sampit, Nur berdoa lagi. “Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan perkara-perkara mustahil! Saat ini saya kelaparan dan kehausan. Kalau Engkau benar-benar Tuhan, tolong saya!” Setelah berdoa, hatinya tenang lagi. Di hatinya penuh damai, walaupun perutnya lapar.

“Eh, Nur! Nur! Sampean kemana saja? Saya cari-cari kemana-mana, gak tahunya ada di sini!” demikian kata-kata dari seseorang. Ternyata orang itu adalah teman lamanya, teman satu daerah. Mereka ngobrol mengisahkan perjalanan masing-masing, betapa bersyukurnya mereka. Tapi Nur tidak cerita-cerita tentang mukjizat yang diterima dari Tuhannya Eva, Tuhan isterinya, kepada teman lama ini.

“Nur, ayo makan, ayo minum nih!” kata temannya sambil mengulurkan makanan kering dan botol air mineral. Nur, kaget sekali. Di tempat pengungsian yang langka bahan makanan dan minuman ini ia mendapatkan makanan dan minuman yang tak terduga. Ia makan dan minum sepuasnya. Padahal ia tidak mempunyai uang sepeserpun. Juga tidak ada bekal makanan dan minuman, namun ia dipelihara sempurna tangan kasih-Nya. Ia tidak kekurangan sesuatu apapun. Sejak ia berdoa kepada Tuhannya Eva, Tuhan isterinya, ia menerima mukjizat demi mukjizat.

Hari itu juga diumumkan bahwa nanti malamnya akan diberangkatkan para pengungsi ke pelabuhan untuk dipulangkan ke Jawa Timur dengan kapal TNI AL – Teluk Ende. Karena kapal itu hanya memuat 3000 orang penumpang, maka para pengungsi yang jumlahnya ribuan di tempat itu berebutan menaiki truk-truk yang akan membawa mereka keluar dari neraka kerusuhan ini. Yang ada di situ sekitar 7000 orang pengungsi, rombongan malam ini hanya berangkat 3000 orang. Semua orang ingin diberangkatkan malam ini. Semua orang mencari selamat sendiri-sendiri. Mereka berebutan menaiki truk. Namun Nur tenang saja. Di hatinya ada damai yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Ia tidak panik. Ia tidak khawatir. Orang-orang berebutan, ia tinggal tenang. Orang-orang memenuhi truk itu sehingga bak truk sepenuhnya tertutup tubuh orang-orang yang bergelayutan.

Nur berdiri melihat-lihat saja. Ia berdoa lagi di dalam hati. “Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan mukjizat, senang melakukan perkara-perkara mustahil. Bagi saya mustahil mendapatkan angkutan ke pelabuhan, tapi bagi Engkau tidak ada yang mustahil. Kalau Engkau benar-benar Tuhan, tolong saya!” Ketika ia masih di situ melintaslah sebuah truk yang kosong.
“Eh, Nur! Nur!” Terdengar teriakan dari dalam truk.
Nur mendekat ke arah truk itu. Dilihatnya penumpang dan sopir truk itu. Ternyata di dalamnya ada adik ayahnya dan saudara-saudara lain.
“Ayo, naik!”

Nur tidak perlu berdesak-desakkan naik truk menuju pelabuhan. Di sepanjang jalan yang dilalui, Nur melihat banyak teman-teman sedaerahnya yang menumpang truk di depannya berjatuhan, mati disumpit penembak gelap. Mereka yang berjejalan dan bergelayutan di bak truk itu menjadi sasaran empuk sumpit-sumpit beracun dan banyak jatuh korban di sepanjang jalan menuju ke pelabuhan. (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Healed from Tyroid Disorder

Seorang Worship Leader bersama isterinya datang konseling kepada ibu Kristina Farakhnimella. Isterinya ini divonis dokter mengidap kelainan kelenjar tyroid. Untuk mengatasi kelainan ini ia harus makan obat selamanya, kecuali ada mukjizat kesembuhan.

Dalam pertemuan itu ibu Kristin dan pak Peter Farakhnimella menasihatkan agar sang isteri banyak mengucap syukur dan mengampuni orang yang menyakiti hatinya. "Mengucap syukur?" pikir sang isteri yang lagi kesakitan. Lagi sakit begini, mengucap syukur? Orang yang menderita kelainan kelenjar ini sangat menderita, emosinya meledak-ledak, di lehernya muncul benjolan-benjolan. Sakit deh.

Namun isterinya taat. Daripada menderita terus, kenapa tidak dicoba? Beberapa waktu kemudian ibu Kristina bertemu lagi dengan mereka dan mereka bersaksi. "Tidak lama koq, kak Kristin! Sebulan lebih sedikit, kelainan kelenjar tyroid ini sembuh total! Puji Tuhan!"

Ada kuasa dalam pengucapan syukur. Ada kuasa dalam pengampunan. Kelainan kelenjar tyroid itu hilang lenyap setelah isterinya mau mengucap syukur di tengah-tengah penderitaan sakit-penyakit dan melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti hatinya. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Lolos dari Kerusuhan Sampit (3)

Nur sangat ketakutan sekali. Ia lihat teman-teman sedaerahnya satu per satu dibunuh. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh menurut keyakinan mereka. Apakah ia harus mengaku orang Kristen yang kawin dengan orang Dayak agar diselamatkan? Nur tidak mau murtad. Nur tidak mau mengingkari imannya. Lagi pula tak ada jaminan, kalau ia mengaku Kristen dan kawin dengan orang Dayak, tidak akan dipenggal lehernya. Orang-orang Dayak yang dihadapinya saat ini lain dengan orang Dayak yang sudah bersosialisasi dengan peradaban modern. Mereka yang ada di hadapannya adalah orang-orang yang baru keluar hutan, yang tidak peduli soal-soal agama.

Pada saat terpojok itu Nur sepertinya mendengar suatu suara di hatinya. "Tuhan Yesus itu hidup." Nur ingat apa yang dikatakan isterinya, "Mas, kalau mas kesulitan dan tidak berdaya, minta tolonglah kepada Tuhan Yesus. Ia adalah Pembuat Mukjizat. Ia memberi jalan keluar di saat tiada jalan. Ia senang melakukan perkara-perkara yang mustahil!" Nur melihat, meskipun teman-temannya sudah berdoa menurut keyakinan mereka, mereka tidak tertolong. Kalau Nur berdoa yang sama, pasti nasibnya akan sama seperti teman-temannya. Ia mulai berdoa sesuai dengan nasihat isterinya, namun ia tidak mau memanggil 'Tuhan Yesus!". Ia berdoa begini, "Tuhannya isteri saya! Engkau adalah Tuhan yang membuat mukjizat, Engkau senang melakukan perkara-perkara mustahil. Tolong saya! Kalau Engkau benar-benar Tuhan, selamatkan saya!"

Tiba-tiba, hati Nur diliputi dengan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Ia tenang sekali. Badannya terasa ringan. Badannya terasa ada yang menyelimuti. Ia bangkit. Tak ada tebasan mandau memotong lehernya, padahal orang-orang Dayak masih mengepung truk itu. Ia dengan tenang turun dari truk, berjalan ke arah hutan. Ia tergesa-gesa lari. Ajaib sekali, tak ada seorangpun dari mereka yang melihat kehadirannya. Ia seperti hilang dari pandangan mereka. Dari kejauhan tampak tiga orang Dayak berlari ke arahnya. Wah, gawat!

Di jalan setapak menuju hutan itu dikiri kanannya dilalui sungai kecil. Ia cepat-cepat menceburkan diri ke sungai yang di sebelah kiri. Ia menyelam untuk beberapa saat. Ketika ia tak tahan menahan nafas, ia menyembulkan kepalanya sedikit. Ia melihat dari jarak yang cukup jauh, ketiga orang Dayak itu rupanya menemukan teman sesukunya di sungai sebelahnya. Mereka memotong-motong orang itu di depan matanya. Tragis sekali. Mengerikan sekali. Lalu ketiga orang itu berlalu, menuju truk tadi. Nur menunggu sampai semua orang-orang Dayak itu pergi.

Nur berfikir, "Kalaupun aku lolos dari mereka sekarang, bagaimana caranya pergi dengan selamat ke Sampit?" Perjalanan masih sekitar delapan kilometer lagi. Kalau ia berjalan kaki, di sepanjang jalan itu bahaya mengancam dimana-mana. Kalau ia lewat hutan, sama saja, bahaya juga ada di sana. Akhirnya Nur memutuskan untuk berdoa lagi. "Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan perkara-perkara mustahil. Saat ini mustahil bagi saya untuk pergi dan sampai di Sampit dengan selamat. Bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Tolong saya!"

Nur keluar dari sungai itu setelah keadaan sepi. Ia menuju jalan raya. Bekas-bekas keganasan orang-orang Dayak itu masih ada di sana. Mayat-mayat tanpa kepala bergelimpangan. Darah berceceran di mana-mana. Bau amis dan bau anyir memenuhi udara di sana. Namun di hati Nur sekarang sudah ada damai. Hatinya dikuasai damai yang datang dari tempat mahatinggi. Begitu ia menjejakkan kaki di jalan raya, dari kejauhan tampak sebuah truk TNI melintas di tempat itu. Nur melambaikan tangan, minta tumpangan. Truk itu berhenti.

"Pengungsi?"
"Ya, pak!"
"Ayo, naik cepat!"
Nur sangat bersyukur kepada Tuhannya Eva. Untuk kedua kalinya ia ditolong dan diselamatkan Tuhannya Eva. Akhirnya Nur dan teman-teman di truk itu sampai dengan selamat di Sampit. Apakah perjalanan Nur sudah aman?

Ternyata kehidupan di tempat pengungsian Sampit tidaklah aman. Ada orang-orang sesukunya yang sudah tinggal di pengungsian ini diculik, diserang, dan menderita kelaparan. Pada saat kerusuhan semua toko, warung, restoran, warung nasi tutup. Bahan makanan menjadi sangat mahal. Satu dus mie instan dan satu dus air mineral harus ditukar dengan satu buah sepeda motor! Tiga dus mie instan dan tiga dus air mineral berani ditukar dengan satu mobil minibus! Mereka punya uang, tapi tidak ada barang. Semua orang berpikir bagaimana untuk bertahan hidup. Uang sepertinya tiada arti lagi kalau mereka mati kelaparan.

Nur ingat, sebelum berangkat isterinya membekali dirinya dengan satu tas kecil. Ia berharap isterinya ingat memasukkan makanan ke dalam tas itu. Dengan gemetar karena lapar ia membuka tas kecil itu. Astaga! Ia marah dan kecewa berat karena di dalam tas itu ia hanya mendapati satu buah Alkitab! Ia ingat Eva, isterinya, berkata, "Apa yang mas butuhkan ada di dalam tas ini!" Apaan? Tak ada makanan di tas ini. Tak ada pakaian di tas ini. Sekarang ia membutuhkan makanan, minuman, dan pakaian. Gimana sih? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI