Search This Blog

Loading...

Thursday, May 31, 2007

Lolos dari Kerusuhan Sampit (2)

Kerusuhan Sampit dan di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 merupakan kerusuhan yang paling sadis di dunia. Mayat-mayat tanpa kepala berserakan di jalan-jalan. Kepala-kepala manusia diperlakukan tidak manusiawi, ditancapkan di pagar, dijadikan tontonan. Banyak tengkorak kepala sudah tidak ada otaknya lagi karena bagian itu dimakan orang-orang yang sudah kerasukan iblis. Kengerian menyebar kemana-mana, khususnya bagi saudara-saudara suku pendatang tertentu.

Nur yang menikahi gadis Dayak tetap terancam jiwanya, karena keluarga Dayak inipun tidak dapat melindungi Nur dari ancaman suku Dayak yang baru turun dari gunung dan hutan belantara. Rupanya suku Dayak itu beraneka ragam, ada clan atau keluarga-keluarga yang berbeda-beda. Orang-orang sesama suku Nur dari pulau di Jawa Timur itu sudah pada mati dibantai. Yang dibantai bukan hanya pria dewasa, tetapi kakek-kakek, perempuan, anak-anak, bayi-bayi. Bau kematian ada dimana-mana.

Nur minta tolong kepada isterinya, sebagai sesama orang Dayak, apakah dapat menolong Nur? Eva katakan, "Kami tidak dapat menolong mas, yang dapat menolong hanya Tuhan Yesus!" Kalau dalam keadaan normal, perkataan isterinya itu pasti mengundang amuk dan amarah Nur. Tapi pada saat itu Nur sudah ketakutan sekali. Kematian nampaknya sudah di depan mata. Tinggal menunggu giliran saja. Bahkan orang-orang Dayak keluarga Eva menganjurkan Nur untuk memakai mandau (pedang) mereka. Artinya, kalau Nur diserang, daripada tidak membela diri sama sekali, lebih baik bertahan atau menyerang dengan mandau itu. Tapi Nur tidak tertarik dengan ide ini.

Orang Dayak dari pedalaman mempunyai keistimewaan tertentu. Kalau hidung mereka sudah diolesi minyak tertentu yang sudah diberi mantera, maka mereka dapat mengendus dan melacak orang-orang dari suku seberang yang diburu mereka dari jarak 500 meter. Nur sebagai orang seberang yang sedang diburu tidak dapat bersembunyi. Pasti keberadaan Nur mudah dilacak mereka.

Pada suatu pagi ada pengumuman dari aparat negara (TNI) yang mengumumkan bahwa pagi itu akan ada pengungsian terakhir dari desa itu ke Sampit. Empat anggota TNI akan mengawal mereka menempuh jarak 17 km ke Sampit. Mereka semua harus tiarap di bak truk untuk menghindari serangan dalam bentuk tembakan sumpit. Di Kalimantan, kalau ada orang disumpit, tergores sedikit saja, tidak usah tembus ke jantung, maka racun dari sumpit itu akan cepat bekerja dan membunuhnya.

Dalam keadaan tergesa-gesa Nur mengajak anak dan isterinya untuk pergi mengungsi. Isterinya menolak. Nur tidak berdaya. Ia merasa dibiarkan sendirian. Dengan segera Nur hendak pergi, tapi ia ingat bahwa ia belum membawa bekal pakaian atau makanan. Ia meminta Eva, isterinya, menyiapkan segala keperluannya. "Ini, mas! Semua kebutuhan mas ada di dalam tas ini!" kata Eva sembari menyodorkan sebuah tas tenteng kecil. Dalam keadaan darurat dan sangat menegangkan, tanpa berpikir panjang Nur segera meraih tas kecil itu lalu meninggalkan anak dan isteri yang dicintainya di desa itu.

Di dalam truk itu ada sekitar 20 orang pengungsi yang berasal dari suku yang sama dengan Nur, yang menjadi korban dan incaran suku setempat. Ada diantara mereka sepasang suami isteri yang membawa seorang bayi. Aparat TNI mengingatkan mereka semua agar tidak memunculkan kepala atau anggota badan, semua harus tiarap selama perjalanan karena bisa-bisa tembakan sumpit mengenai mereka dan fatal akibatnya.

Di tengah jalan truk itu dicegat ratusan orang Dayak yang baru keluar dari hutan. Anggota TNI mengatakan, "Jangan ganggu, pengungsi ini sudah menyerah, mau diungsikan!"
"Tidak bisa, kami belum dapat jatah makan orang!"
"Jangan ganggu, nanti kami tembak!"

Orang-orang Dayak itu kebal dari tembakan senjata api. Mereka tidak takut, mereka maju merangsek mengepung truk itu.
"Berhenti!" kata anggota TNI yang gagah berani itu yang siap menembakkan senapannya.

Gedebuk! Itu bunyi sesosok tubuh yang jatuh. Bukan orang Dayak yang jatuh, tapi anggota TNI itu jatuh, mati disumpit. Tiga anggota TNI yang lain segera lari tunggang langgang meninggalkan truk itu, lari ke hutan. Para pengungsi ditinggalkan. Para pengungsi yang berjumlah 20 orang, termasuk Nur, menunggu apa yang akan terjadi. Kematian sudah di depan mata. Orang-orang itu mengepung truk, mereka mengitari truk itu sambil meneriakkan pekik peperangan. Mereka mengelilingi truk itu dengan kepastian bahwa mereka pasti akan membantai habis semua orang yang ada di bak truk itu. Mereka menikmati ketegangan yang dialami korban mereka.

Sepasang suami isteri itu mulai gelisah sekali. Isterinya berkata, "Mas, ayo kita lari ke luar! Kalau kita lari, masih ada kesempatan. Kalaupun mati, kita sudah berusaha, tidak pasrah dipenggal di sini. Ayo!" Isterinya secepat kilat bangkit, hendak turun dari bak truk itu. Secepat itu pula berkelebat mandau menebas leher perempuan itu. Kepala perempuan ini jatuh menggelinding di bak truk, lehernya memancarkan darah kemana-mana. Suaminya juga bangkit hendak melarikan diri. Kali ini sebatang tombak menembus dadanya, mati seketika. Lalu bayi yang digendongnya diambil. Para pengungsi ini mengira orang-orang ini akan berbelas kasihan kepada bayi yang tak berdaya. Namun apa yang terjadi? Bayi itu dilempar keatas setingggi-tingginya dan dibiarkan jatuh membentur tanah atau bebatuan. Kepala bayi yang masih lembut itu pecah berantakan.

Semua pengungsi berdoa menurut keyakinan agama mereka. Semua tegang. Semua ketakutan. Semua menunggu nasib. Nur tiarap di pojokkan bak truk, tak berdaya. Ia juga tak dapat berdoa. Mulutnya terkunci melihat pemandangan mengerikan di depan mereka. Kematian tinggal selangkah di depan hidungnya. Satu persatu pengungsi dipenggal. Satu per satu otak mereka dimakan. Banjir darah ada di truk itu. Nur tinggal menunggu giliran.(Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI