Search This Blog

Loading...

Monday, August 11, 2008

The Storm

Badai
Setelah beberapa nyanyian pujian sebagaimana biasanya di Ibadah Minggu, gembala gereja itu pelan-pelan bangkit berdiri, berjalan ke arah mimbar, dan sebelum ia menyampaikan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang pendeta tamu yang datang pada ibadah sore itu. Dalam kata-kata perkenalannya, gembala itu menceritakan kepada jemaat bahwa pendeta tamu itu adalah teman masa kanak-kanaknya, dan ia ingin agar pendeta tamu itu dapat membagikan apa yang ia rasakan perlu untuk disampaikan pada kebaktian itu. Dengan perkataan itu, seorang pria berumur melangkah ke arah mimbar dan mulai berbicara.

“Seorang ayah, dan puteranya, dan seorang teman puteranya berlayar di pantai Pasifik,” ia memulai, “ketika badai yang sangat cepat menghalangi setiap upaya mereka untuk mendekati pantai. Ombaknya begitu tinggi, sehingga meskipun ayahnya seorang nelayan yang sudah berpengalaman, ia tidak dapat mempertahankan perahu itu dan mereka bertiga dihempaskan ke dalam samudera ketika perahu itu terbalik.”

Pengkhotbah tua itu ragu-ragu sejenak, mulai bertatapan dengan dua remaja yang, untuk pertama kalinya sejak ibadah itu dimulai, nampak agak tertarik dengan kisahnya. Pendeta tua itu melanjutkan kisahnya…

“Dengan menggenggam tali penolong, sang ayah harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam kehidupannya: ke arah anak laki-laki yang mana ia harus melontarkan ujung tali itu? Ia hanya memiliki beberapa detik untuk mengambil keputusan itu. Sang ayah mengetahui bahwa puteranya adalah seorang Kristen dan ia juga mengetahua bahwa teman puteranya bukanlah orang percaya. Kegalauannya dalam mengambil keputusan tak dapat diimbangi dengan arus gelombang itu. Ketika sang ayah berteriak, “Ayah sayang kepadamu, Nak!”, ia melemparkan tali kehidupan itu ke arah teman puteranya. Sementara ayahnya menarik teman puteranya ke arah perahu yang telah terbalik, puteranya telah lenyap ditelan gelombang yang dahsyat dalam gelap gulitanya malam. Jenazah puteranya tak pernah dapat ditemukan lagi,” kata pengkhotbah tua itu dengan sedih.

Pada saat itu juga, kedua remaja yang sedang duduk di bangku gereja, dengan gelisah menunggu kata-kata berikut yang keluar dari mulut pendeta tua itu.

“Sang ayah,” ia melanjutkan, “mengetahui bahwa puteranya akan melangkah ke dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus dan ia tak dapat membayangkan teman puteranya memasuki kekekalan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu, ia mengorbankan puteranya untuk menyelamatkan teman puteranya. Betapa besar kasih Allah sehingga Ia harus melakukan hal yang sama bagi kita! Papa Sorgawi kita mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Saya mendesak kalian untuk menerima tawaran-Nya untuk menyelamatkan kalian dan menerima tali penyelamat yang Ia lemparkan kepada kalian di dalam kebaktian ini.”

Dengan perkataan terakhir itu sang Pendeta tua berbalik dan duduk kembali di kursinya sementara keheningan memenuhi ruangan ibadah itu. Gembala gereja itu kembali berjalan pelan-pelan ke arah mimbar dan menyampaikan khotbah yang sangat singkat dengan undangan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi pada akhir khotbahnya. Meskipun demikian, tak ada tanggapan atas tawarannya. Tetapi, dalam beberapa saat setelah kebaktian usai, kedua anak remaja itu sudah ada di sebelah Pendeta tua itu.

“Kisah yang Bapak sampaikan tadi benar-benar menarik,” kata salah seorang anak laki-laki itu dengan sopan, “tetapi bagi saya tak masuk akal seorang ayah harus menyerahkan puteranya yang tunggal dengan harapan bahwa orang lain akan menjadi orang Kristen.”

“Nah, kamu mengerti suatu hal,” jawab orang tua itu, melirik Alkitabnya yang usang. Pada saat senyum lebar menghiasi wajahnya yang kecil, ia memandang kembali ke arah dua anak remaja itu dan berkata, “Memang hal itu tidak masuk akal, bukan? Tetapi, saya di sini hari ini menceritakan kisah ini kepada kalian mengibaratkan bagaimana rasanya Bapa menyerahkan Putera-Nya yang tunggal bagi saya. Ketahuilah, … akulah sang ayah dalam kisah itu, dan gembalamu itu adalah teman puteraku.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - Mohon agar bagian ini tidak dihapus/di-delete ketika anda memforwardnya.)

****

THE STORM
After a few of the usual Sunday evening hymns, the church's Pastor slowly stood up, walked over to the pulpit and, before he gave his sermon for the evening, briefly introduced a guest Minister who was in the service that evening. In the introduction, the Pastor told the congregation that the guest Minister was one of his dearest childhood friends and that he wanted him to have a few moments to greet the church and share whatever he felt would be appropriate for the service. With that, the elderly gentleman stepped up to the pulpit and began to speak.

"A father, and his son, and a friend of his son were sailing off the Pacific coast," he began... "when a fast storm blocked any attempt to get back to the shore. The waves were so high, even though the father was an experienced sailor, he could not keep the boat upright and the three were swept into the ocean as the boat capsized."

The old man hesitated for a moment, making eye contact with two teenagers who were, for the first time since the service began, looking somewhat interested in his story. The aged minister continued with his story...

"Grabbing a rescue line, the father had to make the most excruciating decision of his life: to which boy would he throw the end of the life line? He had only seconds to make the decision. The father knew that his son was a Christian and he also knew that his son's friend was not. The agony of his decision could not be matched by the torrent of waves.

As the father yelled out 'I Love You, Son!' he threw out the life line to his son's friend. By the time the father had pulled the friend back to the capsized boat his son had disappeared beneath the raging swells into the black night. His body was never recovered," the old man said sadly.

By this time, the two teenagers were sitting up straight in the pew, anxiously waiting for the next words to come out of the old Minister's mouth.

"The father," he continued, "knew his son would step into eternity with Jesus and he could not bear the thought of his son's friend stepping into an eternity without Jesus. Therefore, he sacrificed is son to save the son's friend. How great is the love of God that he should do the same for us? Our Heavenly Father sacrificed His only begotten Son so that we could be saved. I urge you to accept His offer to rescue you and take hold of the life line He is throwing out to you in this service."

With that, the old man turned and sat back down in his chair as silence filled the room. The Pastor again walked slowly to the pulpit and delivered a brief sermon with an invitation at the end. However, no one responded to the appeal. But, within moments after the service ended, the two boys were at the old man's side.

"That was a nice story," politely stated one of the boys, "but, I don't think it was very realistic for a father to give up his only son's life in hopes that the other would become a Christian."

"Well, you've got a point there," the old man replied, glancing down at his worn Bible. As a big smile broadened his narrow face, he looked up again at the boys and said, "It sure isn't very realistic, is it? But, I'm here today to tell you this story gives me a glimpse of what it must have been like for God to give up His only Son for me. You see... I was that father, and your Pastor is my son's friend."

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI