Search This Blog

Loading...

Tuesday, July 24, 2007

Bangkit dari Reruntuhan

Kisah berikut ini saya ambil dari kisah-kisah luar biasa yang sering memberi inspirasi yang kuat di kala saya tanpa pengharapan. Cynthia Kersey menulis 45 kisah nyata dalam buku "Unstoppable" atau "Tak Terhentikan" yang menunjukkan perjuangan orang-orang yang pernah mengalami keadaan yang sangat buruk. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Interaksara.

Di dunia ini hampir tidak ada yang lebih diinginkan oleh Francisco Bucio daripada untuk memenuhi keinginannya - menjadi seorang ahli bedah. Pada usia dua puluh tujuh tahun, Francisco tampak berada di jalan untuk menggapai impian itu. Keahliannya telah memberinya sebuah posisi di bidang pembedahan plastik di Rumah Sakit Umum Mexico City, dan hanya dalam beberapa tahun lagi ia bisa melakukan praktik pribadi. Lalu, pada tanggal 19 September 1985, dunia seakan-akan runtuh bagi Francisco. Sebuah gempa bumi, salah satu gempa bumi terbesar dalam sejarah, berkekuatan 8,1 Skala Richter, menewaskan lebih dari 4.200 jiwa. Biaya yang diakibatkan oleh gempa bumi tersebut atas impian manusia tidaklah terukur.

Ketika gempa bumi tersebut mulai terasa, Francisco berada di kamar lantai lima rumah sakit tersebut. Ketika gempa tersebut berakhir, ia berada di lantai dasar, terkubur di bawah berton-ton reruntuhan. Dalam kegelapan total, ketika ia mendengarkan rintihan sekarat teman sekamarnya, Francisco menyadari bahwa tangan kanannya - yang ia gunakan untuk melakukan operasi - hancur tertindih tiang logam yang berat. Ketika Francisco berjuang dengan penuh kesakitan dan dalam keadaan kalut, tidak bisa menarik tangannya, ia mulai panik. Sebagai seorang dokter, ia tahu bahwa tanpa sirkulasi, tangannya akan mengalami kematian jaringan, dan jika itu terjadi, tangannya harus diamputasi.

Ketika beberapa jam berlalu, Francisco yang berada di ambang kesadaran dan ketidaksadaran, menjadi semakin lemah. Namun di luar gedung, tekad yang mengalir dalam keluarga Bucio tampak begitu kuat. Ayahnya dan keenam saudaranya bergabung dengan tak terhitung banyaknya sukarelawan, menggali reruntuhan menggunakan sekop dan linggis dengan penuh kekalutan. Keluarganya tidak pernah kehilangan harapan. Empat hari kemudian, akhirnya mereka menemukan Francisco.

Penyelamat profesional di tempat kejadian berkata bahwa mereka harus memotong tangan Francisco untuk melepaskannya. Keluarganya, sadar tentang impian Francisco untuk menjadi seorang ahli bedah, menolak. Sebaliknya, tim penyelamat bekerja tiga jam lebih lama menggunakan derek untuk mengangkat tiang yang menindih tangan Francisco. Begitu Francisco bebas, mereka segera melarikannya ke rumah sakit yang lain. Dalam beberapa bulan berikutnya, sementara Meksiko berjuang untuk membangun kembali rumah sakitnya, Francisco Bucio berjuang untuk membangun kembali impiannya.

Langkah pertamanya adalah sebuah operasi delapan belas jam yang diharapkan oleh ahli bedah bisa menyelamatkan tangan Francisco yang hancur. Namun ketika beberapa hari berlalu, harapan Francisco menjadi semakin kabur. Syaraf-syaraf di jari-jarinya gagal melakukan regenerasi, dan setelah tiga minggu, para dokter terpaksa mengamputasi empat jari, sehingga Francisco hanya mempunyai ibu jari. Setelah itu Francisco mempersiapkan dirinya untuk menghadapi apa yang ada di depannya; sasarannya sekarang adalah untuk menyelamatkan apa yang tersisa di tangan kanannya. Selama beberapa bulan kemudian, ia menjalani lima operasi lagi. Namun tangannya tetap tidak berfungsi. Tanpa tangan kanannya, bagaimana ia bisa mengoperasi pasien? Francisco mulai mencari mukjizat.

Pencariannya membawa dia ke San Francisco dan Dr. Harry Buncke, Kepala Operasi Mikro di Davies Medical Center. Dr. Buncke telah mempelopori transplantasi jari kaki untuk menggantikan jari-jari yang hilang. Francisco menyadari bahwa Dr. Buncke mungkin merupakan harapannya yang terakhir dan ia berjanji kepada dirinya sendiri, “Jika Dr. Buncke bisa menyelesaikan operasi tersebut dengan berhasil, maka ia akan menangani sisanya.”

Dalam operasi tersebut, Dr. Buncke mengganti jari manis dan jari kelingking Francisco dengan dua jari kakinya. Setelah usaha yang keras, Francisco bisa menggenggam benda-benda di antara ibu jari dan kedua “jari”nya. Ini memungkinkannya untuk melakukan tugas-tugas sederhana seperti mengancingkan bajunya. Setelah memulihkan diri dari operasi yang kompleks, Francisco menjalani suatu program terapi dan olah raga intensif. Ia melewati masa-masa yang menyakitkan untuk menancapkan peg pada pegboard, lalu berlatih dengan sebuah pensil dan sampai ia bisa menuliskan namanya dengan sempurna. Dr. Buncke meyakinkan dia, "Sebuah tangan merehabilitasi dirinya sendiri sesuai kebutuhannya. Jika kebutuhannya besar, maka keahliannya juga hebat.”

Setelah beberapa bulan menjalani rehabilitasi intensif, Francisco kembali ke Mexico City di mana ia melakukan tugas-tugas terbatas di rumah sakit dan terus berlatih seperti seorang atlet Olimpiade. Ia berenang untuk melakukan pengkondisian dan, untuk memperkuat tangannya, berlatih mengikat dan membuka ikatan ribuan simpul, menjahit kain, memotong makanan menjadi potongan-potongan kecil, dan menggulirkan karet di antara jari-jarinya yang baru. Pada mulanya, menyelesaikan gerakan yang paling sederhana pun terasa kaku dan membuat frustrasi. Namun Francisco terus bertekun sampai ia bisa melakukan setiap tugas dengan ketepatan. Ia menggunakan tangan kirinya juga, melatih dirinya agar kedua tangannya mempunyai kemampuan yang sama. Lalu tibalah hari ketika Francisco menghadapi ujian yang paling kritis.

Seorang dokter senior telah mengamati kemajuan Francisco dari membersihkan dan menjahit luka sampai melakukan prosedur-prosedur operasi sederhana seperti menghilangkan noda kulit. Ia meminta Francisco untuk membantu dalam suatu operasi terhadap seorang pria dengan hidung yang patah. Prosedur tersebut sangat rumit, dan Francisco berpikir bahwa ia hanya akan menyiapkan peralatannya. namun ketika dokter tersebut bersiap untuk mengangkat tulang rawan dari tulang rusuk pria tersebut untuk digunakan membangun kembali hidungnya, ia berpaling kepada Francisco dan berkata, "Anda ambil tulang rawannya.”

Itu merupakan saat-saat yang menentukan bagi Francisco dan ia mengetahuinya. Keberhasilan prosedur ini akan berarti bahwa ia kembali ke bagian pembedahan - atau suatu kemunduran yang menghancurkan. Dengan memberanikan diri menggunakan tangannya- kedua tangannya - ia bersusah payah mengangkat tulang rawan tersebut. Apa yang akan dilakukan oleh ahli bedah lainnya dalam sepuluh menit dikerjakan oleh Francisco dalam waktu satu jam, namun itu merupakan satu jam yang penuh kemenangan. Di kemudian hari ketika menggambarkan peristiwa ini, ia berkata, "Prosedur ini memerlukan banyak keahlian dan ketika saya berhasil melakukannya, saya menyadari bahwa saya bisa melakukan apa saja!"

Hari ini, Francisco Bucio adalah seorang ahli bedah plastik yang sangat disegani yang berpraktik di dua lokasi di Tijuana dan menawarkan layanan lengkap. Ia juga menyediakan waktu untuk bekerja sebagai sukarelawan untuk orang-orang miskin, membedah langit-langit mulut anak-anak dan melakukan operasi rekonstruktif untuk anak-anak muda yang menjadi korban kebakaran. "Setelah mengalami sendiri enam operasi,” katanya, "saya bisa berempati untuk para pasien saya - saya tahu bagaimana rasanya takut itu.” Beberapa orang dengan penuh kasih sayang menyebutnya "ahli bedah yang mengoperasi dengan kakinya." Francisco tidak peduli. Dengan senyuman, ia menjawab, "Tangan saya mungkin tidak bagus, namun bekerja dengan baik. Itu merupakan mukjizat yang memungkinkan saya untuk melakukan pekerjaan yang paling saya sukai dan memberikan sesuatu kembali kepada mereka yang sekarang memerlukan mukjizat mereka sendiri."

"Kita semua menghadapi rintangan yang berbeda-beda dalam hidup ini. Namun jika Anda membiarkan kegairahan terdalam Anda berfungsi sebagai pendorong Anda, Anda akan bisa menjalani kembali jalan Anda dan maju untuk membuat impian-impian Anda menjadi kenyataan." - Dr. Francisco Bucio
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI