Search This Blog

Loading...

Monday, July 23, 2007

God is Knitting our Lives

Ketika saya membolak-balik file kesaksian yang lama, saya menemukan kesaksian yang pernah ditulis oleh Sdr. Taufik Wibowo, dan saya rasa kesaksian ini masih akan memberkati kita yang ada dalam pergumulan. Silakan baca kisah yang telah saya edit agar lebih enak dibaca ini:

"Apa yang kau alami kini,
Mungkin tak dapat engkau mengerti.
Satu hal, tanamkan di hati,
Indah semua yang Tuhan b'ri

Tuhanmu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti.
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu...

Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia.
Saatnya 'kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya"

Syair lagu rohani diatas yang sempat dipopulerkan oleh kelompok vocal Yerikho telah membawa berkat bagi banyak anak-anak Tuhan yang sedang mengalami pergumulan; dan setiap kali saya menyanyikannya saya merasakan sentuhan kasih Tuhan yang begitu besar yang pernah saya alami setelah melewati masa kesesakan. Kesaksian ini untuk mengenang kepergian kedua orangtuaku beberapa puluh tahun lalu.

Mulanya saya berasal dari keluarga yang baik-baik sebagai anak kelima dari enam bersaudara, namun adik saya diadopsi oleh Om dan Tante saya sebagai anak, karena mereka tidak punya keturunan, sehingga di rumah saya adalah anak bungsu. Pada saat kelahiran saya, Papi saya belum hidup dalam Tuhan, beliau masih menganut kepercayaan orang tuanya (Konghuchu). Mami saya setiap kali pulang dari gereja sering mendapat omelan dari Papi saya, diantaranya yang saya ingat: "Gereja lagi, gereja lagi.... anak enggak diurusin, rumah enggak diurusin, gereja terus diurusin!" Tapi Mami saya tetap taat dan tunduk pada Papi saya dan terus mendoakannya agar beliau lekas bertobat.

Sejak kecil hingga berumur sekitar 4 - 5 tahun saya gampang sakit. Bila terkena demam tinggi, saya sering kejang-kejang. Sehari saya bisa kejang sampai 3 atau 4 kali. Keadaan itu membuat Mami saya takut dan hanya bisa berdoa saja kepada Tuhan.

Suatu saat Mami saya mengajak Papi saya untuk membawa saya ke gereja dalam acara "Penyerahan Anak". Gereja kami tidak menganut Baptisan Anak, hanya pemberkatan kedua orangtua dan anaknya. Setelah beberapa kali menolak, tiba-tiba Papi saya setuju membawa saya dalam acara "Penyerahan Anak" di gereja. Maka sejak saat itu, saya menjadi anak yang bertumbuh sehat, meskipun kurus, tapi jarang sakit-sakitan sampai parah kecuali batuk-pilek biasa. Dan Puji Tuhan, otak saya tetap terpelihara, meskipun kata orang demam dengan suhu tinggi yang saya alami sejak kecil sampai beberapa kali bisa membuat saya idiot atau paling tidak menjadi bodoh. Tuhan itu baik buat saya, walaupun prestasi saya pas-pasan, akhirnya saya bisa menyelesaikan studi saya di Sekolah Tinggi Informatika & Komputer pada tahun 1992.

Sejak saya jarang sakit, maka Papi saya pun mulai terbuka "mata rohani"-nya. Sedikit demi sedikit dia mau ke gereja. Mulanya hanya mengantar Mami saya sampai di depan gereja, lama kelamaan diajak masuk, lalu mau ikut kebaktian, dan terlibat dalam pelayanan sampai pernah diangkat menjadi Ketua Majelis. Secara daging tidak ada alasan sedikitpun bagi saya untuk bermegah bahwa saya telah menjadi pahlawan penyelamat di dalam keluarga saya. Waktu itu saya masih balita, saya belum mengerti apa-apa, tapi Tuhan bisa pakai saya untuk membawa Papi saya dan seluruh keluarga saya hidup dalam keluarga Tuhan yang berbahagia.

Dari situ saya bisa mengambil pelajaran, bahwa asalkan kita mau menjadi seperti anak kecil, Tuhan bisa pakai kita sebagai saksi-Nya dan sebagai alat-Nya untuk membawa orang lain mengenal Dia yang sesungguhnya, meskipun kita harus bayar harga bila untuk itu kita harus melampaui kesesakan dan kesakitan.

Ada kebiasaan buruk yang belum bisa Papi saya lepaskan, yaitu merokok! Papi saya termasuk perokok berat. Suatu kali Papi saya jatuh sakit demam dan Mami saya menyarankan agar Papi saya berhenti merokok. Ajaib sekali, setelah sembuh dari sakit, Papi saya langsung putus hubungan dengan yang namanya rokok. Tanpa sedikit dikurangi, tapi langsung stop. Meskipun ada rasa berat bila berdekatan dengan orang lain/tamu yang menawarkan rokok, tapi Papi saya sanggup menolaknya. Padahal sebelumnya minimal 3 bungkus rokok kretek habis dalam sehari. Jika meninggalkan rumah dia lebih tenang jika ketinggalan kacamata atau KTP-nya daripada ketinggalan rokok !

Saya pun ikut ambil bagian dan aktif dalam kegiatan pelayanan Sekolah Minggu, Remaja dan Kepemudaan. Semuanya berjalan dengan baik, hidup keluarga kami damai dalam Tuhan, tidak pernah berkekurangan ataupun berkelimpahan, Kehidupan kami selalu berkecukupan di dalam Tuhan, sampai suatu saat Papi dan Mami saya pergi menengok famili di Jawa Tengah. Ketika pulang kembali ke Jakarta, besok siangnya kami mendengar kabar buruk. Benar-benar seperti "petir di siang hari bolong" kami mendapat kabar bahwa tanggal 23 September 1985 mereka mengalami kecelakaan di Brebes. Mobil travel yang mereka tumpangi masuk ke perkampungan untuk menghindari Operasi Zebra waktu itu. Dan saat melintasi rel kereta api yang tidak berpintu, sebuah KA Gaya Baru jurusan Jakarta-Surabaya menabrak mobil travel tersebut. Mobil itu terpental, kemudian terseret 60 meter. Enam orang dari sebelas penumpang tewas seketika, termasuk kedua orangtua saya.

Kami menjerit kepada Tuhan. Ini sungguh sangat tidak adil! Bagaimana mungkin Tuhan membuat kedua orangtua saya mati sekaligus secara mengenaskan? Mana perlindungan Tuhan? Mana janji-Nya yang menyatakan bahwa Ia tidak membuat rancangan kecelakaan? Bagaimana kami menunjukkan kepada saudara-saudara kami yang lain yang belum di dalam Tuhan bahwa Tuhan itu Penolong, Tuhan itu Pelindung dan Tuhan itu Penyelamat? Apa sebenarnya kesalahan dan dosa mereka? Padahal Mami saya pendoa yang kuat, sampai Tuhan pakai saya agar Papi saya bertobat 100%. Jangankan pergi ke luar kota, sebelum pergi ke pasar yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah kami, Mami saya masuk kamar -berlutut dan berdoa minta pimpinan Tuhan! Saat itu kami berlima belum ada satu pun yang menikah, saya masih kuliah di Semester 3.

Kami semua berangkat ke Tegal untuk bertemu kedua orangtua kami di dalam peti mati! Gila ... gila ... ini benar-benar gila! Kami sulit sekali menerima kenyataan ini. Pelayanan perkabungan dilakukan oleh gereja setempat, meskipun rombongan gereja kami dari Jakarta ikut datang dalam malam kebaktian penghiburan. Semua nasihat-nasihat dan semua kata-kata penghiburan dari rekan, kerabat, saudara-saudara, sampai Pendeta, tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan: "Kenapa semua ini terjadi?"

Mereka berkhotbah tentang penderitaan, mereka berkhotbah tentang Ayub, mereka memakai Mazmur untuk menghibur. Semuanya kami anggap sebagai "lips service". Mereka tidak mengerti kami dan kami malah kecewa dengan pernyataan Pendeta kami bahwa sebenarnya hari Minggu kemarin adalah tugas Papi saya sebagai pelayan Perjamuan Kudus, namun tidak ada yang bisa menggantikannya sehingga pelayanan yang biasanya dijalani oleh 4 orang Pelayan, saat itu hanya 3 orang saja. Pendeta itu menghimbau kepada jemaat agar bila diberi tugas pelayanan jangan sampai ditolak. Seolah-olah itulah jawabannya: karena Papi saya tidak melayani Perjamuan Kudus maka semuanya ini terjadi! Apakah Tuhanku sekejam itu? Rasanya tidak mungkin. Kalaupun toh begitu, apakah adil hukuman seberat itu hingga nyawa Papi dan Mami melayang? Tuhan memang membuat Yunus menderita karena menolak kehendak-Nya. Tapi apakah Yunus mati terkoyak-koyak dimakan ikan hiu? Tidak 'kan? Yunus memang dimakan ikan dan selama tiga hari di perut ikan, tetapi ia tetap selamat dan utuh! Memang Ayub menderita harta dan keluarganya habis, tetapi Tuhan menyayangkan nyawanya. Apalagi sebenarnya Papi saya sudah meminta ijin dan tidak meninggalkan pelayanan begitu saja tanpa pamit. Kenapa Tuhan biarkan Papi dan Mami saya celaka? Kenapa, Tuhan? Kenapa?

Setelah kepergian Papi dan Mami kami tetap menjalankan ibadah dan pelayanan kami secara rutin, meskipun hati ini kosong. Kami berdoa, tapi tidak beriman. Saat itu bagi kami, ke Gereja atau tidak, melayani atau tidak, berdoa atau tidak, kalau memang lagi sial sama saja. Kalau Tuhan sudah punya mau, siapa yang bisa menolak? Makanya bagi saya, buat apa sungguh-sungguh? Jadi Kristen yang biasa-biasa sajalah, pokoknya yah asal sudah ke Gereja dan berdoa, cukuplah!

Hal ini berlangsung cukup lama, saya sakit hati kepada Tuhan, tapi tidak berani meninggalkan-Nya, persis seperti anak yang lagi ngambek. Secara lahiriah kami melakukan ibadah, tetapi secara batiniah sebenarnya munafik! Semenjak peristiwa 23 September 1985, bagi saya Tuhan terasa jauh bahkan nyaris tidak ada !

Semua terus berjalan seperti biasa, sampai perlahan-lahan Roh Tuhan mulai mengambil inisiatif untuk mengajarkan kepada saya makna semua ini. Benar, bagaimana pun juga penderitaan akan melahirkan sesuatu yang baik dan berguna. Dulu waktu saya kecil saya sakit-sakitan, itulah penderitaan, tetapi setelah itu Papi saya bisa dimenangkan. Sekarang Papi dan Mami saya mati seketika dalam kecelakaan. Memang mereka menderita saat itu. Tapi setelah itu apakah saya ikut mati? Setelah mereka pergi, memang kami seperti anak ayam kehilangan induk, tetapi apakah kami menjadi kekurangan? Apakah kami mengemis dan meminta seperti gelandangan?

Ternyata Janji Tuhan bagi umat-Nya yang percaya tetap YA dan AMIN ! Sampai hari ini, saya masih bisa hidup mandiri tanpa kedua orangtua saya. Bahkan kini saya telah memperoleh seorang istri yang cantik dan seorang anak lelaki yang cakap dan sehat. Sungguh semuanya itu bukan karena kuat gagah saya, tapi darimana lagi semuanya itu datang, selain dari Dia yang telah memelihara saya meskipun sekian lama saya sakit hati pada-Nya? Seandainya saat ini orangtua saya masih hidup, mungkin saya masih tinggal "di bawah ketiak mereka", saya tidak pernah akan bisa merasakan kekuasaan-Nya yang besar itu yang telah mengangkat saya dan menggendong saya dengan Kasih-Nya!

Dulu saya anak Papi dan Mami, sekarang saya anak Raja diatas segala raja! Terima kasih, Tuhan! Dulu saya menganggap Engkau kejam, tapi Engkau tetap mengasihi saya bahkan semua yang baik telah saya terima dari-Mu.

Saudara-saudaraku, jika saat ini anda mengalami kesesakan, penderitaan dan pergumulan yang berat, bersabarlah! Nantikanlah sesuatu yang indah yang akan diberikan Tuhanmu. Saat ini Tangan-Nya sedang merenda suatu karya yang Maha Indah yang akan engkau nikmati dalam hidupmu. Yakin dan percayalah Tuhanmu tak akan memberi ular beracun kepada anak-Nya yang meminta roti, karena pencobaan yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu. Dan dibalik awan gelap yang menaungi kita saat ini, kita akan menikmati curahan hujan berkatNya! Kiranya gada dan tongkat-Nya akan menghibur engkau, menguatkan engkau dan memberkati engkau. Amin! Tuhan memberkati!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI