Search This Blog

Loading...

Friday, March 30, 2012

Arti Penghargaan - Story of Appreciation


Arti Penghargaan

Seorang anak muda yang hebat sekali secara akademis datang ke sebuah perusahaan besar untuk melamar jabatan manajer. Ia lulus dalam wawancara pertama, dan Direktur perusahaan itu yang melakukan wawancara terakhir, membuat keputusan terakhir.

Direktur itu menemuka bahwa dari Riwayat Hidup anak muda ini, bahwa prestasi akademisnya sangat baik, dari sejak SMA hingga riset pasca sarjana selalu mencetak skor terbaik.

Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu mendapatkan beasiswa di sekolah?”
”Tidak,” jawab anak muda.

Direktur bertanya lagi, ”Apakah ayahmu yang membiayai sekolahmu?”

Anak muda itu menjawab, “Ayah saya meninggal ketika saya berumur satu tahun, ibu sayalah yang membiayai sekolah saya.”

Direktur bertanya,”Ibumu kerja dimana?”

Anak muda itu menjawab, ”Ibu saya bekerja sebagai tukang cuci pakaian.”

Direktur itu minta sang anak muda untuk memperlihatkan kedua tangannya. Anak muda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.

Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci pakaian sebelumnya?”

”Tidak pernah, ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca lebih banyak buku. Lagipula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dibandingkan saya.”

Direktur itu berkata, ”Saya punya satu permintaan. Kalau kamu pulang, temuilah ibumu dan cucilah kedua tangannya, dan kemudian temui saya esok hari.”

Anak muda itu merasa bahwa ada kemungkinan besar mendapatkan jabatan manajer di perusahaan itu. Ketika ia tiba di rumah, dengan senang hati anak muda itu meminta ibunya mengizinkan dia mencuci kedua tangannya. Ibunya merasa aneh, dengan senang dan  perasaan campur aduk, ia memperlihatkan kedua tangannya.

Anak muda itu mencuci kedua tangan ibunya dengan perlahan-lahan. Airmatanya mengalir ketika ia melakukannya. Itulah pertama kali ia memperhatikan bahwa kedua tangan ibunya sudah berkeriput, dan ada banyak luka di tangannya. Luka-luka itu begitu menyakitkan sehingga ibunya bergetar ketika kedua tangannya dicuci dengan air.

Inilah pertama kalinya anak muda itu menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang telah mencuci pakaian setiap hari demi membayar uang sekolahnya. Luka-luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya demi kelulusan anaknya, demi prestasi akademis yang terbaik dan demi masa depannya.

Setelah selesai mencuci kedua tangan ibunya, anak muda itu dengan diam-diam mencuci seluruh sisa pakaian bagi ibunya.

Malam itu, ibu dan anaknya mengobrol sangat lama.

Pagi berikutnya, anak muda itu datang lagi ke kantor Direktur itu.

Sang direktur melihat airmata berlinang di pelupuk mata anak muda itu, dan bertanya, ”Coba ceritakan apa yang kamu sudah lakukan dan pelajari kemarin di rumahmu.”

Anak muda itu menjawab, ”Saya mencuci tangan ibu saya, dan juga mencuci sisa pakaian baginya.”

Direktur bertanya, ”Tolong ceritakan bagaimana perasaanmu?”

Anak muda itu menjawab, ”Nomor 1, sekarang saya tahu apa artinya penghargaan. Tanpa bantuan ibu, saya tidak akan berhasil hari ini. Nomor 2, dengan bekerja sama dan menolong ibu saya, saya sekarang menyadari betapa sulitnya dan betapa sukarnya menyelesaikan sesuatu. Nomor 3, saya dapat menghargai pentingnya dan bernilainya hubungan keluarga.”

Direktur itu berkata, ”Inilah yang saya sedang cari untuk menjadi manajer di sini. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat menghargai pertolongan orang lain, seseorang yang tahu pergumulan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menaruh uang sebagai satu-satunya tujuan hidup. Kamu diterima bekerja di sini.

Beberapa waktu kemudian anak muda ini bekerja dengan sangat keras, dan dihargai anak buahnya. Setiap karyawan bekerja dengan rajin sebagai satu team. Kinerja perusahaan meningkat secara tajam.

Seorang anak yang terlalu dilindungi dan terbiasa diberikan apa saja yang ia mau, akan mengembangkan mental yang suka menuntut haknya dan selalu akan mendahulukan dirinya alias egoistis. Ia akan tidak peduli akan segala jerih payah orangtuanya.

Ketika anak itu besar dan mulai bekerja, ia akan menganggap bahwa setiap orang harus mendengarkannya, dan ketika ia menjadi seorang manajer, ia tidak akan pernah tahu akan pergumulan anak buahnya dan selalu akan menyalahkan orang lain.

Untuk orang-orang seperti ini, yang mungkin baik secara akademis, mungkin mereka akan berhasil untuk sementara waktu, tetapi lambat laun tidak akan merasakan keberhasilan.

Dia akan bersungut-sungut dan penuh kebencian dan berkelahi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jika kita bertindak sebagai orang tua yang protektif, apakah kita sesungguhnya menunjukkan kasih atau malahan kita sedang menghancurkan anak?

Anda dapat membesarkan anak dalam sebuah rumah besar, memberinya seorang sopir dan mobil untuk pergi kemana-mana, makan makanan enak, belajar main piano, menonton TV dengan layar lebar. Tetapi jika anda sedang memotong rumput, biarkan dia mengalaminya. Sehabis makan, biarlah mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama dengan kakak dan adiknya. Ajarkan mereka untuk pergi dengan bis umum.  Itu bukan karena anda tidak punya uang untuk membeli mobil atau menggaji pembantu, tetapi karena anda ingin mengasihi mereka dengan cara yang benar. Anda ingin agar mereka mengerti, walaupun orangtua mereka kaya, suatu hari nanti rambut mereka akan memutih, sama seperti ibu dari anak muda dalam kisah di atas. Hal yang paling penting adalah anak anda belajar menghargai jerih payah dan mengalami pergumulan dan kesulitan hidup dan melatih kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Marilah kita bagikan kisah ini kepada banyak orang, mungkin nasib seseorang akan berubah.....
Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com

__._,_.___

Story of Appreciation

One young academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.

He passed the first interview, the director did the last interview, made the last decision.

The director discovered from the CV that the youth's academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research, never had a year when he did not score.

The director asked,"Did you obtain any scholarships in school?"
The youth answered "none".

The director asked, "Was it your father who paid for your school fees?"

The youth answered, "My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.

The director asked, "Where did your mother work?"
The youth answered, "My mother worked as clothes cleaner.

The director requested the youth to show his hands.
The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

The director asked, "Have you ever helped your mother wash the clothes before?"

The youth answered, "Never, my mother always wanted me to study and read more books.
Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.

The director said, "I have a request. When you go back today, go and clean your mother's hands, and then see me tomorrow morning.

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid.

The youth cleaned his mother's hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother's hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.

This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother's hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.

After finishing the cleaning of his mother's hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.

That night, mother and son talked for a very long time.

Next morning, the youth went to the director's office.

The Director noticed the tears in the youth's eyes, asked, "Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?"

The youth answered, "I cleaned my mother's hand, and also finished cleaning all the remaining clothes'

The Director asked, "Please tell me your feelings."

The youth said, “Number 1, I know now what is appreciation. Without my mother, there would not the successful me today.

Number 2,
by working together and helping my mother, only I now realize how difficult and tough it is to get something done.
                         
Number 3,
I have come to appreciate the importance and value of family relationship.”

The director said,
“This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. You are hired.
                
Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company's performance improved tremendously.

A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop "entitlement mentality" and would always put himself first. He would be ignorant of his parent's efforts.

When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others.

For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a while, but eventually would not feel sense of achievement.

He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?

You can let your kid live in a big house, give him a driver & car for going around, eat a good meal, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. Tell them to travel in public bus. It is not because you do not have money for car or to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow grey, same as the mother of that young person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.

You would have forwarded many mails to many and many of them would have back mailed you too...but try and forward this story to as many as possible...this may change somebody's fate...

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI