Search This Blog

Loading...

Wednesday, February 29, 2012

Joshua Bell and Washington Post: A Great Missing (2)

A Great Missing
Di Washington DC., tepatnya di Metro Station, pada pagi bulan Januari 2007 yang dingin, seorang pria dengan sebuah biola memainkan enam simfoni Bach selama sekitar 45 menit. Selama waktu tersebut, hampir 2.000 orang melewati stasiun itu, kebanyakan dari antara mereka sedang dalam perjalanan ke pekerjaan mereka.

Setelah kira-kira empat menit, seorang pria paruh baya memperhatikan bahwa ada seorang musisi sedang bermain musik. Pria ini memperlambat langkahnya dan berhenti beberapa detik, kemudian ia bergegas pergi mengikuti jadwalnya.

Sekitar empat menit kemudian, pemain biola ini menerima pemberian satu dollar pertamanya. Seorang wanita melemparkan uang itu ke dalam topinya, tanpa berhenti, lalu jalan terus.

Pada hitungan enam menit, seorang anak muda bersandar di dinding terdekat untuk mendengarkan pemain biola itu, kemudian melihat ke arah jam tangannya dan berlalu.

Pada menit kesepuluh, seorang anak laki-laki berumur sekitar tiga tahun berhenti, namun ibunya menggandengnya pergi dengan bergegas. Anak kecil itu berhenti dan menengok ke belakang ke arah pemain biola itu lagi, tetapi ibunya lebih keras menyeretnya dan anak itu meneruskan langkahnya, sambil sekali-kali membalikkan kepalanya ke belakang. Kejadian ini berulang lagi pada beberapa anak-anak yang lain, tetapi semua orang tua, tanpa kecuali, memaksa anaknya untuk melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Pada menit ke-45: Musisi ini meneruskan permainannya. Hanya enam orang berhenti dan mendengarkan sebentar. Sekitar dua puluh orang memberi uang tetapi mereka meneruskan perjalanan. Pemusik ini akhirnya menerima USD 32.

Setelah satu jam, ia selesai bermain dan keheningan menerpa tempat itu. Tak ada seorangpun yang memperhatikan dan tak ada seorangpun yang memberikan aplaus. Tak ada penghargaan sama sekali.

Tak ada seorangpun yang mengetahui hal ini, tetapi pemain biola itu adalah Joshua Bell, salah seorang pemain musik terbesar di muka bumi ini. Dia memainkan simfoni yang paling sulit yang pernah digubah, dengan memainkan biola seharga USD 3,5 juta. Dua hari sebelumnya, Joshua Bell berhasil menjual tiket pertunjukan di sebuah teater di Boston dengan harga tiket masuk rata-rata per orang USD 100, untuk duduk dan mendengarkan dia memainkan musik yang sama.

Ini adalah kisah nyata. Joshua Bell, yang bermain biola secara menyamar bermain di Stasiun Kereta Api Metro DC., yang diorganisir oleh Harian Washington Post sebagai bagian dari eksperimen sosial tentang persepsi, selera dan prioritas masyarakat.

Eksperimen ini menimbulkan beberapa pertanyaan:

Di lingkungan biasa, di jam yang tidak cocok, apakah kita masih dapat melihat keindahan?

Jika ya, apakah kita berhenti untuk menikmati dan menghargainya?

Salah satu kesimpulan yang mungkin diperoleh dari eksperimen ini mungkin adalah:
Jika kita tidak punya waktu untuk berhenti dan mendengarkan salah satu pemain musik terhebat di jagat ini, yang sedang memainkan karya musik paling hebat yang pernah ditulis, yang dimainkan dengan memakai alat musik paling indah dan mahal yang pernah dibuat... berapa banyak hal lain lagi yang kita lewatkan selama kita terburu-buru melewati kehidupan ini?

Lihat Videonya di : http://www.youtube.com/watch?v=myq8upzJDJc

Pujian dari pejalan yang lewat:
A: "Saya lihat anda dulu di Library of Congress…"
A: "Permainan anda sangat luar biasa."
A: "Pertunjukan ini semacam ini hanya bisa terjadi di DC."
Joshua: "Terima kasih."

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Posting yang mirip pernah disampaikan di blog ini pada 19 November 2008 lalu.

*****

Joshua Bell and Washington Post
"In Washington DC, at a Metro Station, on a cold January morning in 2007, a man with a violin played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time, approximately 2000 people went through the station, most of them on their way to work.

After about four minutes, a middle-aged man noticed that there was a musician playing. He slowed his pace and stopped for a few seconds, and then he hurried on to meet his schedule.

About four minutes later, the violinist received his first dollar. A woman threw money in the hat and, without stopping, continued to walk.

At six minutes, a young man leaned against the wall to listen to him, then looked at his watch and started to walk again.

At ten minutes, a three-year old boy stopped, but his mother tugged him along hurriedly. The kid stopped to look at the violinist again, but the mother pushed hard and the child continued to walk, turning his head the whole time. This action was repeated by several other children, but every parent - without exception - forced their children to move on quickly.

At forty-five minutes: The musician played continuously. Only six people stopped and listened for a short while. About twenty gave money but continued to walk at their normal pace. The man collected a total of $32.

After one hour:
He finished playing and silence took over. No one noticed and no one applauded. There was no recognition at all.

No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the greatest musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever written, with a violin worth $3.5 million dollars. Two days before, Joshua Bell sold-out a theater in Boston where the seats averaged $100 each to sit and listen to him play the same music.

This is a true story. Joshua Bell, playing incognito in the D.C. Metro Station, was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste and people’s priorities.

This experiment raised several questions:

In a common-place environment, at an inappropriate hour, do we perceive beauty?

If so, do we stop to appreciate it?

Do we recognize talent in an unexpected context?

One possible conclusion reached from this experiment could be this:
If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world, playing some of the finest music ever written, with one of the most beautiful instruments ever made…
How many other things are we missing as we rush through life?"

Video : http://www.youtube.com/watch?v=myq8upzJDJc

Click "like" at : http://www.facebook.com/WeddingLiveBandTheRawNote

Compliments from a passer-by:
A : I saw you at the Library of Congress...
A : It was fantastic
A : This is one of those things that could only happen in D.C.
J : Thanks
====================================


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI