Search This Blog

Friday, September 11, 2009

The Inspiring Story of CNN Heroes: An Indonesian SQ Pilot

Di Panti Asuhan Roslin, anak-anak tertawa geli setelah lama berkonsentrasi latihan membawakan Tari Ayam. Itu adalah suara gembira dari sebuah Panti Asuhan di Indonesia setelah bertahun-tahun lamanya. “Mereka sekarang ceria dan fotogenik, namun di dalam diri mereka ada kisah-kisah yang menyedihkan,” kata Budi Soehardi, pendiri panti asuhan di Timor Barat.

“Beberapa bayi itu datang ke sini karena ibunya meninggal segera setelah melahirkan karena kekurangan gizi. Anak-anak yang lain datang karena kemiskinan yang parah. Sebagian lagi datang karena keluarga mereka tidak menginginkan mereka dan meninggalkan mereka di sini,” kata Soehardi, usia 53 tahun, pilot asal Indonesia yang tinggal di Singapura bersama istrinya, Peggy, yang merawat 47 anak-anak di panti asuhan itu. Soehardi dan Peggy mempunyai hubungan pribadi dengan masing-masing anak, dan menganggap mereka semua sebagai bagian keluarganya. Pasangan ini memberi nama pada anak-anak itu karena anak-anak itu kebanyakan datang sejak bayi, beberapa merupakan korban konflik dan pengungsi dari Timor Timur.

Soehardi sendiri memiliki tiga orang anak, namun dia mengaku bahwa tak ada perbedaan perlakuan terhadap anak-anak kandungnya sendiri dan terhadap anak-anak di panti. Mereka semua yang ada dip anti mendapatkan tempat tinggal yang bersih, vaksinasi, makanan, pakaian dan vitamin dari Amerika Serikat.

“Pak Budi sudah menjadi ayah kami sendiri,” kata Gerson Mangi, usia 20 tahun, penghuni di Panti Asuhan Roslin. Mangi yang datang ke panti asuhan ini pada usia 12 tahun, dahulu tidak mempunyai dana untuk bersekolah setelah kedua orangtuanya meninggal. Sekarang, berkat pendidikan di Roslin dan beasiswa dari Soehardi dia sedang kuliah di sekolah kedokteran.

Soehardi yang ayahnya meninggal ketika dia berusia Sembilan tahun, dapat menyelami penderitaan anak-anak yatim piatu tersebut. “Waktu itu saya sulit mendapatkan makanan dan saya sukar mendapat uang untuk sekolah,” kata Soehardi mengenang. “Para pengungsi itu sungguh-sungguh menyentuh hati saya sehingga saya ingin mereka hidup lebih baik,”

Budi Soehardi, salah seorang yang diangkat sebagai Pahlawan CNN, seorang pilot SQ asal Indonesia, sedang makan malam dan menonton tayangan CNN bersama istri dan keluarganya di rumahnya di Singapura ketika dia melihat rombongan para pengungsi yang lari dari Timor Timur ke Timor Barat, Indonesia. Banyak keluarga tinggal di bawah atap kardus, anak-anak memakai kain rombengan sebagai pakaian, dan sanitasi tak ada.

“Mereka sangat menderita,” kata Soehardi. Keadaan yang sangat buruk tersebut merupakan akibat konflik di Timor Timur yang muncul ke permukaan setelah rakyat memilih untuk merdeka dari Indonesia. Soehardi yang pekerjaannya adalah sebagai seorang pilot di Singapore Airlines yang sering harus terbang jarak jauh dari New Jersey ke Singapura, telah merencanakan untuk berlibur segera. Namun melihat tayangan berita di Timor Timur itu membuat Soehardi memikirkan ulang rencananya.

“Saya dan istri saya saling melihat satu sama lain dan kami mempunyai pikiran masing-masing. ‘Hey, mari kita melakukan sesuatu yang lain. Mengapa kita tidak mengunjungi Timor Timur … untuk mendapatkan pengalaman liburan yang berbeda?’”kata Soehardi.

Dia mulai mengkoordinir sumbangan keuangan, makanan, pakaian, obat-obatan, perlengkapan medis dan perlengkapan toiletries (sabun, tissue, popok, pampers, pembalut wanita dll) . Dengan bantuan dari teman-teman dan para sukarelawan, keluarga Soehardi berkeliling di daerah-daerah yang dilanda konflik dan mengirim lebih dari 40 ton barang sumbangan ke camp pengungsian di Timor Timur.

Segera keluarga Soehardi menentukan bahwa di Timor Barat harus ada panti asuhan. “Istri saya mula-mula meminta saya untuk membangun panti dengan tiga kamar saja. Dua jam kemudian istri saya meminta lima kamar, dan kemudian akhirnya sembilan kamar.” Mereka selesai membangun gedung panti asuhan dalam waktu 11 bulan dan menamai panti tersebut “Panti Asuhan Roslin”, menurut nama sepasang gadis Timor yang diangkat anak oleh Peggy, istri Soehardi.

Pada bulan April 2002, panti asuhan itu dibuka dan menyediakan tempat tinggal bagi empat orang anak-anak. Sejak saat itu panti asuhan itu berkembang dan menyediakan pendidikan gratis, menyediakan pakaian, perumahan, dan makan bagi 47 orang anak dari segala umur, dari bayi-bayi yang baru lahir sampai usia universitas. Sekitar setengah dari penghuni panti itu adalah anak-anak di bawah usia delapan tahun.

Panti Asuhan tersebut dibangun di atas tanah sumbangan yang semula tanah gersang. Namun kini, nasi yang disediakan bagi anak-anak itu dituai dari tanah mereka sendirri. “Kami berani menghadapi tantangan,” kata Soehardi tentang upayanya menyediakan irigasi bagi sawahnya. Peggy dan dirinya, yang tidak terlatih di bidang pertanian, menggunakan dua pompa dan sebuah genset untuk mengairi persawahan. Kemudian mereka mulai menanam padi. “Seratus hari kemudian, kami mendapatkan panen padi yang pertama dan menyatakan bahwa kami dapat hidup mandiri dengan beras dari sawah kami bagi anak-anak panti asuhan,” katanya.

Itulah taktik menghemat biaya yang berhasil, khususnya penting setelah Soehardi kehilangan pekerjaannya sebagai pilot di Singapore Airlines pada bulan November 2008 karena krisis ekonomi global. Soehardi, yang gaji pilotnya disumbangkan untuk membiayai Panti Asuhan dan memberi bea siswa bagi Mangi, mahasiswa sekolah kedokteran, berharap bahwa pemberhentian kontraknya sebagai pilot tidak akan mempengaruhi kesejahteraan anak-anak panti. “Saya sangat berterima kasih kepada Singapore Airlines yang telah memberi saya pekerjaan yang sangat baik selama 11 tahun sehingga saya dapat membagi gaji saya dengan banyak orang. Menolong anak-anak itu merupakan hak istimewa bagi saya dan keluarga saya karena dengan cara itu saya mengembalikan berkat yang saya terima kepada masyarakat.” Sumber: CNN, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 September 2009.

*****

KUPANG, Indonesia (CNN) -- At Roslin Orphanage, children giggle through deep concentration as they try to master the "Chicken Dance." It's a far cry from the Indonesian orphans' earlier months and years.

"They are cheerful-looking and photogenic, but close to all have a very sad story," said Budi Soehardi, founder of the West Timor orphanage.

"Some of the babies come because a mother passes away right after delivery because of lack of nutrition. Others come from extreme poverty. Some come from families [that] just do not want the children and abandon them," he said.

Soehardi, a 53-year-old Indonesian pilot living in Singapore, and his wife, Peggy, look after 47 children at the orphanage. They have a personal relationship with each one, and consider them part of their family. The couple named many of the children since they entered the orphanage as babies -- some of them tiny victims and refugees from the conflict in East Timor.

Soehardi has three children of his own but says there is no difference between what he supplies for his biological children and those living at the orphanage. They all get clean living spaces, vaccinations, food, clothing and vitamins from the United States.

"Mr. Budi is like my own father," said Gerson Mangi, 20, a resident at Roslin Orphanage. Mangi, who came to the orphanage when he was 12 years old, had no means to attend school after his parents died. Now, thanks to the educational training at Roslin and a private sponsor, he is in medical school.

Soehardi, whose father died when he was 9 years old, can relate to these young people's hardships.

"Food was hard to come by and my school fee was very difficult," Soehardi said. "The refugees just really strike me so badly and [I want] them to be better off."

Soehardi was eating dinner and watching CNN with his wife and family at home in Singapore when he saw the plight of the refugees fleeing East Timor for West Timor, Indonesia. Families were living in cardboard boxes, children were wearing rags for clothes, and sanitation was nonexistent.

"It was devastating," Soehardi said.

The poor conditions were a result of conflicts in East Timor that surfaced after the residents voted for independence from Indonesia. Soehardi -- whose job as a pilot with Singapore Airlines often had him flying one of the world's longest routes, from Newark, New Jersey, to Singapore -- had been planning on taking a vacation soon. But watching the news made the Soehardis rethink their plans.

"[My wife and I] look at each other and we have a thought of our own. ... 'Hey, let's do something else. Why don't we visit the place ... to make a different kind of holiday,' " Soehardi said.

He began coordinating financial donations, food, clothing and supplies. With help from friends and ground volunteers, the Soehardis navigated the conflict-ridden areas and delivered more than 40 tons of food, medical supplies and toiletries to East Timor refugee camps.

Soon the Soehardis determined West Timor could use a space for orphans.

"My wife was initially asking me to build three rooms. Then two hours later she [asked for] five rooms, and then later nine rooms and finally, the orphanage building."

They completed their orphanage building in 11 months and named it Roslin Orphanage, after a pair of Timorese women whom Peggy looked up to as a girl.

In April 2002, the orphanage opened and provided a home for four children. Since then the residence has expanded to provide free education, clothing, housing and food for 47 children of all ages, newborns to university-age. About half of its residents are younger than 8 years old. Watch Soehardi teach the children the alphabet »

The orphanage was built on donated land that the Soehardis initially thought bore barren soil. But today, the rice they feed the children comes solely from their own land.

"We dared to take the challenge," said Soehardi of his foray into irrigation. He and Peggy, who are not trained in agriculture, used two pumps and a generator to get water for irrigation.

Then they began planting rice. "One hundred days later, we were having our first harvest and declared ourselves to be self-sufficient on rice for the orphanage children," he said. Watch Soehardi explain how he made the land more fertile »

It's a fortunate cost-cutting tactic, especially with Soehardi losing his piloting job with Singapore Airlines in November because of the struggling economy.

Soehardi, whose pilot salary goes toward maintaining the orphanage and funding medical student Mangi's education, is hopeful that the end of his contract will not affect the children's well-being.

"I'm very grateful for Singapore Airlines who has given me a very good job for the last 11 years so that I can share my salary with so many people. To help these children is a privilege for me and my wife because it's giving back to society ... giving back what has been blessed to us."

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI