Search This Blog

Loading...

Monday, March 16, 2009

Kindness

Kebaikan
Pada suatu hari seorang wanita sedang berjalan di suatu jalan ketika ia menilik seorang pengemis yang sedang duduk di pojokan. Pengemis itu sudah agak lanjut, tak dicukur dan kumal. Ketika pengemis pria itu ada di sana para pejalan kaki melewatinya sambil memandang dengan jijik. Mereka jelas sekali tidak mau berurusan dengan pria pengemis karena pengemis itu kotor dan tuna wisma. Namun ketika wanita itu melihatnya, wanita itu tergerak oleh belas kasihan.

Hari itu sangat dingin dan pengemis pria itu memakai jaket rombeng, lebih menyerupai jas tua ketimbang mantel penghangat yang menyelimuti dirinya. Wanita itu berhenti dan menunduk. “Pak?” tanyanya. “Apakah anda baik-baik saja?” Pengemis pria itu perlahan-lahan memandang ke atas. Wanita ini dengan jelas terbiasa dengan kehidupan yang serba mewah. Mantelnya baru. Wanita itu nampaknya tak pernah kekurangan makan sepanjang hidupnya. Pikiran yang pertama melintas di benaknya adalah bahwa wanita itu mungkin akan mengolok-oloknya, seperti yang dilakukan banyak orang sebelumnya. “Tinggalkan aku sendirian,” katanya menggeram.

Yang mengherankan pengemis itu, wanita itu tetap berdiri. Wanita itu tersenyum – giginya yang putih dan rapi tampak sebagai deretan yang memikat. “Apakah engkau lapar, “ tanya wanita itu. “Tidak.” Jawabnya dengan ketus. “Aku baru saja pulang makan malam dengan Presiden. Pergilah sekarang.” Senyum wanita itu malahan tambah lebar. Tiba-tiba pengemis itu merasakan pegangan tangan yang lembut di lengannya. “Apa yang engkau sedang lakukan, nyonya?” pria itu bertanya dengan marah. “Aku sudah bilang agar engkau tinggalkan aku sendirian.”

Tepat pada saat itu seorang perwira polisi tiba di tempat itu. “Apakah ada masalah, Nyonya?” tanya perwira. “Tak ada apa-apa, perwira,” jawab wanita itu. “Saya hanya sedang berusaha membangunkan bapak ini. Apakah bapak dapat membantu saya?”

Perwira polisi itu menggaruk kepalanya. “Ini adalah si Jack Tua. Ia sudah ada di sini beberapa tahun. Apa yang akan engkau lakukan terhadapnya?”

“Apakah anda melihat kafetaria di sana?” tanya wanita itu. “Saya akan memberi makanan kepada Jack dan mengeluarkannya dari udara yang dingin beberapa saat.”

“Apakah engkau gila, nyonya?” kata pengemis itu menolak. “Aku tak mau masuk ke sana!” Kemudian pengemis itu merasa ada tangan-tangan yang kuat menarik lengannya yang lain dan memapahnya pergi. “Biarkan aku pergi, pak polisi. Aku tak berbuat jahat.”

“Ini adalah kesempatan baik bagimu, Jack,” jawab perwira polisi itu. “Jangan lewatkan.”

Akhirnya, dengan agak kesulitan, wanita dan polisi itu dapat membawa masuk Jack ke dalam kafetaria dan mendudukkannya di sebuah sudut yang agak jauh. Pada saat itu sudah lewat jam makan pagi dan belum juga ada rombongan yang datang untuk makan siang.

Manajer kafetaria itu terburu-buru datang dan mendekati meja mereka. “Apa yang sedang terjadi di sini, pak polisi?” tanya sang manajer. “Ada apa ini? Apakah pria ini membuat kekacauan?”

“Nyonya ini membawa pria ini masuk untuk diberi makan,” jawab perwira polisi.
“Jangan bawa masuk ke sini, dong!” jawab sang manajer dengan marah. “Kalau ada orang semacam ini di dalam kafetaria tidak bagus untuk bisnis kami.”

Jack Tua tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. “Nah, nyonya, apa kataku tadi. Sekarang biarkan aku pergi. Dari semula aku juga tidak mau masuk ke sini.”

Wanita itu berpaling ke arah manajer kafetaria dan tersenyum. “Pak, apakah anda kenal dengan kantor lembaga keuangan “Eddy and Associates” di ujung jalan sana?”
“Tentu saja, saya mengenal mereka,” sang manajer menjawab dengan tak sabar. “Mereka biasanya mengadakan rapat mingguan di salah satu ruangan di kafetaria ini.”
“Dan anda mendapatkan banyak keuntungan dari menyediakan makanan bagi rapat mingguan itu ya?”
“Apa urusan hal itu dengan anda?”
“Pak, saya adalah Penelope Eddy, presiden direktur dan CEO dari perusahaan itu.”
“Oh,”

Wanita itu tersenyum kembali. “Saya kira hal itu akan membuat anda berubah sikap.” Wanita itu memandang kepada pak polisi yang berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. “Maukah anda ikut dengan kami makan dan minum kopi, pak polisi?”
“Tidak, terima kasih, Nyonya,” perwira itu menjawab, “saya sedang bertugas.”
“Bagaimana kalau secangkir kopi untuk dibawa?”
“Ya, bolehlah, Nyonya. Terima kasih sekali.”
Manajer kafetaria itu berbalik. “Saya akan ambilkan kopi buat anda segera, pak polisi.”

Perwira itu memperhatikan sang manajer yang berlalu. “Anda telah membuat dia kena batunya,” kata pak polisi.
“Saya tak bermaksud begitu. Percaya atau tidak, saya punya semua alasan untuk hal ini.” Wanita itu duduk di kursi berseberangan dengan pengemis pria yang keheranan. Wanita itu memandangi sang pengemis dengan lekat. “Jack, apakah engkau masih ingat saya?”

Si Jack Tua menyelidiki wajah wanita itu dengan matanya yang tua dan kabur. “Kukira, ya! Maksudku, anda kelihatannya pernah kukenal.” “Saya memang sedikit lebih tua sekarang,” kata wanita itu. “Mungkin saya telah lebih banyak masuk ke sini dibandingkan ketika saya masih muda ketika anda masih bekerja di sini, dan saya pertama kali datang melalui pintu itu, kedinginan dan kelaparan.”

“Nyonya?” tanya sang perwira menyelidik. Perwira ini tak percaya bahwa wanita yang demikian anggun ini pernah kelaparan sebelumnya. “Saya baru saja lulus dari universitas,” kata wanita itu mulai menceritakan masa lalunya. “Saya telah datang ke kota ini mencari pekerjaan, tetapi saya tak dapat menemukan lowongan kerja di mana-mana. Akhirnya saya menghabiskan uang saya yang terakhir dan saya diusir dari apartemen saya. Saya menelusuri jalan-jalan setiap hari. Saat itu bulan Februari dan saya kedinginan serta hampir mati kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan memasukinya dengan harapan saya dapat memperoleh sesuatu untuk dimakan.”

Jack berwajah cerah dengan senyuman. “Sekarang aku ingat,” kata Jack. “Aku sedang di belakang konter makanan. Anda datang dan bertanya kepadaku apakah anda dapat bekerja untuk mendapatkan makanan. Aku bilang bahwa hal itu bertentangan dengan kebijakan perusahaan.”

“Saya tahu,” kata wanita itu melanjutkan. “Kemudian anda membuatkan saya sandwich sapi bakar yang besar sekali yang pernah saya lihat, memberi saya secangkir kopi, dan menyuruh saya pergi ke meja paling pojok serta menikmati makanan itu. Saya kuatir anda akan mendapatkan kesulitan karena makanan gratis yang anda berikan kepada saya. Kemudian, ketika saya menoleh, saya melihat anda memperhitungkan makanan saya ke dalam mesin kasir anda. Saya tahu bahwa segalanya akan beres.”

“Jadi, anda telah memulai usaha sendiri ya?” tanya Jack Tua.
“Saya mendapatkan pekerjaan pada siang hari itu juga. Saya mulai menapaki karier saya. Akhirnya saya memulai usaha sendiri, yang dengan pertolongan Tuhan, saya maju dan kaya.” Wanita itu membuka dompetnya dan menarik sebuah kartu nama. “Kalau anda sudah selesai makan, saya ingin agar anda bertemu dengan Pak Lyons. Ia adalah direktur personalia di perusahaan saya. Saya akan segera berbicara dengannya sekarang dan saya yakin dia akan menemukan pekerjaan yang cocok bagi anda di kantor saya.” Wanita itu tersenyum. “Saya kira dia akan menyediakan dana bagi anda agar anda dapat membeli pakaian dan menemukan tempat tinggal sampai anda dapat hidup mandiri. Dan jika anda masih memerlukan hal lain, pintu kantor saya selalu terbuka bagi anda.”

Ada tetesan airmata mengalir dari pengemis itu. “Bagaimana saya dapat membalas kebaikan anda!” katanya.

“Jangan berterima kasih kepada saya,” jawab wanita itu. “Bagi Tuhan segala kemuliaan. Berterima kasihlah kepada Tuhan Yesus. Ia yang menuntun saya untuk bertemu anda sekarang.”

Di luar kafetaria itu, sang perwira dan wanita itu berhenti sejenak di pintu gerbang sebelum mereka berpisah. “Terima kasih banyak atas bantuan anda, pak polisi,” kata wanita itu. “Sebaliknya, Nyonya Eddy,” kata perwira. “Terima kasih, Nyonya. Saya melihat mukjizat hari ini, sesuatu yang tak akan saya pernah dapat lupakan. Dan … dan terima kasih untuk kopi ini.”

Wanita itu merengut. “Wah, saya sampai kelupaan menanyakan apakah anda suka kopi dengan krim atau gula. “Itu adalah kopi pahit.”

Perwira itu memandangi cangkir kopi di tangannya. “Yah, saya suka krim dan gula. Mungkin saya kebanyakan gula.” Ia menepuk perutnya yang gendut.

“Maafkan saya,” kata wanita itu.

“Saya tidak perlu gula lagi,” jawab pak polisi sambil tersenyum. “Saya merasa bahwa kopi yang anda berikan kepada saya ini akan terasa manis seperti gula.”

Sumber: Email dari Ibu Suharti, asalnya dari “Inspired Buffalo”, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di blog atau website anda. Terima kasih.

*****

Kindness
One day a woman was walking down the street when she spied a beggar sitting on the corner. The man was elderly, unshaven, and ragged. As he sat there, pedestrians walked by him giving him dirty looks. They clearly wanted nothing to do with him because of who he was -- a dirty, homeless man. But when she saw him, the woman was moved to compassion. It was very cold that day and the man had his tattered coat -- more like an old suit coat rather than a warm coat -- wrapped around him. She stopped and looked down. "Sir?" she asked. "Are you all right?" The man slowly looked up. This was a woman clearly accustomed to the finer things of life. Her coat was new. She looked like that she had never missed a meal in her life. His first thought was that she wanted to make fun of him, like so many others had done before. "Leave me alone," he growled.

To his amazement, the woman continued standing. She was smiling -- her even white teeth displayed in dazzling rows. "Are you hungry?" she asked. "No," he answered sarcastically. "I've just come from dining with the president. Now go away."
The woman's smile became even broader. Suddenly the man felt a gentle hand under his arm. "What are you doing, lady?" the man asked angrily. "I said to leave me alone."

Just then a policeman came up. "Is there any problem, ma'am?" he asked.
"No problem here, officer," the woman answered. "I'm just trying to get this man to his feet. Will you help me?" The officer scratched his head. "That's old Jack. He's been a fixture around here for a couple of years. What do you want with him?"

"See that cafeteria over there?" she asked. "I'm going to get him something to eat and get him out of the cold for awhile."

"Are you crazy, lady?" the homeless man resisted. "I don't want to go in there!" Then he felt strong hands grab his other arm and lift him up. "Let me go, officer. I
didn't do anything."

"This is a good deal for you, Jack," the officer answered. "Don't blow it."
Finally, and with some difficulty, the woman and the police officer got Jack into the cafeteria and sat him at a table in a remote corner. It was the middle of the morning, so most of the breakfast crowd had already left and the lunch bunch had not yet arrived.

The manager strode across the cafeteria and stood by the table. "What's going on here, officer?" he asked. "What is all this. Is this man in trouble?"
"This lady brought this man in here to be fed," the policeman answered.
"Not in here!" the manager replied angrily. "Having a person like that here is bad for business."

Old Jack smiled a toothless grin. "See, lady. I told you so. Now if you'll let me go. I didn't want to come here in the first place."
The woman turned to the cafeteria manager and smiled. "Sir, are you familiar with Eddy and Associates, the banking firm down the street?"
"Of course I am," the manager answered impatiently. "They hold their weekly meetings in one of my banquet rooms."
"And do you make a good profit from providing food at the weekly meetings?"
"What business is that of yours?"

"I, sir, am Penelope Eddy, president and CEO of the company."
"Oh."

The woman smiled again. "I thought that might make a difference." She glanced at the cop who was busy stifling a giggle. "Would you like to join us in a cup of coffee and a meal, officer?"

"No thanks, ma'am," the officer replied. "I'm on duty."
"Then, perhaps, a cup of coffee to go?"
"Yes, ma'am. That would be very nice."
The cafeteria manager turned on his heel. "I'll get your coffee for you right away, officer."

The officer watched him walk away. "You certainly put him in his place," he said.
"That was not my intent. Believe it or not, I have a reason for all this." She sat down at the table across from her amazed dinner guest. She stared at him intently. "Jack, do you remember me?"

Old Jack searched her face with his old, rheumy eyes "I think so”. -- I mean you do look familiar." "I'm a little older perhaps," she said. "Maybe I've even filled out more than in my younger days when you worked here, and I came through that very door, cold and hungry."

"Ma'am?" the officer said questioningly. He couldn't believe that such a magnificently turned out woman could ever have been hungry. "I was just out of college," the woman began. "I had come to the city looking for a job, but I couldn't find anything. Finally I was down to my last few cents and had been kicked out of my apartment. I walked the streets for days. It was February and I was cold and nearly starving. I saw this place and walked in on the off chance that I could get something to eat."

Jack lit up with a smile. "Now I remember," he said. "I was behind the serving counter. You came up and asked me if you could work for something to eat. I said that it was against company policy."

"I know," the woman continued. "Then you made me the biggest roast beef sandwich that I had ever seen, gave me a cup of coffee, and told me to go over to a corner table and enjoy it. I was afraid that you would get into trouble. Then, when I looked over, I saw you put the price of my food in the cash register. I knew then that everything would be all right."

"So you started your own business?" Old Jack said.

"I got a job that very afternoon. I worked my way up. Eventually I started my own business that, with the help of God, prospered." She opened her purse and pulled out a business card. "When you are finished here, I want you to pay a visit to a Mr. Lyons. He's the personnel director of my company. I'll go talk to him now and I'm certain he'll find something for you to do around the office." She smiled. "I think he might even find the funds to give you a little advance so that you can buy some clothes and get a place to live until you get on your feet. And if you ever need anything, my door is always opened to you."

There were tears in the old man's eyes. "How can I ever thank you," he said.
"Don't thank me," the woman answered. "To God goes the glory. Thank Jesus. He led me to you."

Outside the cafeteria, the officer and the woman paused at the entrance before going their separate ways. "Thank you for all your help, officer," she said.
"On the contrary, Ms. Eddy," he answered.

"Thank you. I saw a miracle today, something that I will never forget. And... and thank you for the coffee."

She frowned. "I forgot to ask you whether you used cream or sugar. That's black."

The officer looked at the steaming cup of coffee in his hand. "Yes, I do take cream and sugar -- perhaps more sugar than is good for me." He patted his ample stomach.
"I'm sorry," she said.

"I don't need it now," he replied smiling. "I've got the feeling that this coffee you bought me is going to taste as sweet as sugar."

(Author Unknown -- from 'The Inspired Buffalo’)

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI