Search This Blog

Loading...

Friday, March 13, 2009

Brother Elia

Cerita tentang Bruder Elia, seorang berusia 43 tahun yang tinggal di sebuah rumah pelayanan kecil di Italia, menjadi sebuah sensasi di Italia. Banyak karakteristik darinya yang menyerupai Padre Pio dari Pietrelcina. Sama seperti Padre Pio, Elia mengalami stigmata Kristus dan juga dapat melakukan berbagai mukjizat yang luar biasa. Ia memiliki karunia penglihatan akan para malaikat dan orang-orang kudus. Pada tiga hari menjelang Paskah, ia mengalami sengsara Kristus, kematian dan juga kebangkitan-Nya. Belakangan ia mendirikan sebuah komunitas keagamaan kecil yang bernama “Rasul-Rasul Tuhan”.

Siapakah Bruder Elia ini? Tidak banyak orang yang mengenal dia. Ia bukanlah orang yang sering muncul di publik atau di media. Sebelum aku pergi ke Italia untuk mengunjunginya, aku mencoba mencari cerita-cerita mengenai dia. Menurut beberapa sumber yang aku temukan, Bruder Elia hidup di dalam misteri iman. Ia hidup di dalamnya dengan seluruh jiwa dan raganya, termasuk tubuhnya sendiri. Tanda-tanda dari cinta Tuhan di dalam hidupnya mengingatkan kita kepada “keajaiban-keajaiban” yang terjadi dalam kehidupan para orang kudus yang telah kita kenal.

Inilah yang telah aku temukan: Bruder Elia adalah seorang yang beriman, penuh pengampunan dan pengharapan, seseorang yang telah membuka hati dan hidupnya kepada Dia yang telah datang dan mengetuk pintu hati kita.

Kami memulai perjalanan kami keluar dari Roma untuk beberapa waktu dan sampai di daerah pinggiran Umbria yang sangat tenang dan penuh dengan perbukitan. Fiorella Turolli, seorang yang sangat menyenangkan dan juga penulis biografi Bruder Elia dan yang merupakan anggota dari Komunitas “Rasul-Rasul Tuhan”, menemani perjalananku. “Sebuah perjalanan menuju luar angkasa,” pikirku, tapi juga “sebuah perjalanan menembus ruang waktu”. Aku mengalami kesan yang sangat jelas seakan-akan aku sedang kembali ke abad ke-13, pada masa-masa Fransiskus dari Assisi dan “adik-adiknya”, ke masa yang memperlihatkan permulaan dari masa-masa kekudusan yang modern.

Kami berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang tenggelam di dalam pemandangan yang luar biasa dan bersandar pada bukit-bukit yang terletak di ujung desa. Bangunan itu merupakan sebuah rumah doa tua. Beberapa bagiannya terlihat sudah hancur. Bangunan ini tentunya telah menyaksikan masa-masa yang lebih baik daripada masa sekarang.

Fiorella menyadari rasa penasaranku. Ia menjelaskan bahwa para bruder yang tinggal di situ sedang merenovasi bangunan tersebut—tanpa bantuan keuangan, tanpa “sponsor”, hanya dengan cara percaya kepada Tuhan.

“Ada berapa orang bruder yang merupakan anggota dari komunitas ini?” tanyaku. “Tiga orang, beserta tujuh pengikut!” jawabnya. “Tapi setidaknya sepuluh orang akan pindah ke sini setelah renovasinya selesai.”

Kami memasuki koridor bangunan tersebut. Kesunyian di sini memiliki sebuah makna di dalamnya. Itu adalah kedamaian Tuhan, yang dapat diraih oleh tangan seorang manusia. Kami menaiki tangga yang menjulang lurus ke atas, menuju ke lantai dimana kamar-kamar para biarawan akan dibangun. Tembok-tembok, lampu-lampu, listrik dan segala sesuatu yang lainnya perlu dipasang. Hanya terdapat ruang yang sempit bagi para biarawan yang tinggal di sana: satu dapur dan tiga kamar. Sebuah pintu tiba-tiba terbuka: salah satu dari bruder di sana menyapa kami. Seorang lelaki yang masih muda, pendek, dan berambut coklat muncul di belakangnya. Pada pandangan pertama, tidak ada yang membedakan dia dari temannya.

Ia datang menghampiri kami. Aku masih mengingat matanya yang tenang dan bersinar serta berwarna coklat seperti madu. Ia adalah Bruder Elia.

Fantasiku telah menenggelamkanku. Sebelumnya aku telah membayangkan akan bertemu seseorang yang berbeda — seseorang yang tidak berbeda dengan arti dari kata-kata “di rumah di dalam awan-awan”. Tetapi Bruder Elia sangatlah berlawanan.

Bruder Elia, seperti kebanyakan orang lainnya, telah mengalami perjalanan batin yang panjang, ditemani oleh keragu-keraguan dan pertanyaan-pertanyaan tentang panggilan khusus bagi dirinya. Ia ingin menjadi seorang frater yang berdedikasi penuh, tetapi mengambil beberapa pekerjaan sekuler: sebagai tukang pos, supir kendaraan pengangkut buah-buahan dan sayur-sayuran, penata bunga di tempat tinggalnya, seorang paramedis, dan sebagai juru masak di sebuah penjara di Roma. Ia menghabiskan delapan bulan di dalam komunitas bagi anak-anak yatim piatu di India. Ia adalah seorang pemuda dan seperti orang-orang muda pada umumnya, senang bermain gitar dan menyanyi serta menari bersama teman-temannya. Oleh karena itu ia mengenal dunia profesional dan dunia sosial. Hatinya mengarah ke surga, tetapi kakinya berpijak di atas bumi.
Ia tumbuh di dalam keluarganya sebagai anak bungsu dari delapan ber-saudara. Orangtuanya adalah petani, yang membawa anak-anak mereka pada Misa di setiap hari Minggu dan memberikan anak-anaknya pendidikan iman yang kuat. “Dan,” ujar Bruder Elia, “Kami selalu berdoa rosario di keluarga kami.”

Aku bertanya kepadanya mengenai kehidupan spiritualnya. “Setiap hari aku bangun pukul dua di pagi hari dan berdoa hingga matahari terbit,” jawabnya. “Dan aku berdoa rosario setiap hari.”

Karisma dari rasul-rasul Tuhan adalah untuk berdoa dan membantu keluarga-keluarga yang mengalami perpecahan, yang terpisah, dan yang kesepian. Khususnya untuk membantu keluarga-keluarga yang menderita, misalnya seperti pasangan muda yang ingin berpisah tidak lama setelah mereka menikah.

Banyak saksi yang mengatakan bahwa patung-patung Madonna dan gambar-gambar Hati Kudus Yesus terkadang tiba-tiba meneteskan air mata atau mengeluarkan darah pada saat kehadiran Bruder Elia. Orang-orang lainnya mengalami penyembuhan melalui doa-doanya. Yesus, Maria, dan Padre Pio muncul di hadapannya secara rutin. Ia sering mengalami sukacita yang luar biasa.

Dan ia juga mengalami tanda-tanda dari luka-luka Kristus, yaitu stigmata. “Aku dapat memastikan kepadamu bahwa aku merasakan sakit yang luar biasa, hampir setiap hari. Pada Minggu Suci, aku harus tinggal di tempat tidurku, setengah sadar dan tidak mampu bekerja. Lebih dari itu, aku harus berpuasa dan hanya minum air saja. Doa memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menerima sukacita dan kedamaian dari apa yang telah diberikan Tuhan kepadamu.”

Sumber: Majalah AVE MARIA, Mar - Apr 2008 - Email dari Milis Rohani.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI