Search This Blog

Loading...

Wednesday, January 7, 2009

Attitude is Everything

Sikap itu Segalanya
Jerry adalah jenis pria yang anda senang menertawakannya. Ia selalu ada dalam suasana hati yang baik dan selalu mempunyai sesuatu hal positif untuk dikatakan. Ketika seseorang bertanya bagaimana keadaannya, ia akan menjawab, “Kalau saya lebih baik dari sekarang, pastilah saya punya kembaran!”

Ia adalah seorang manajer yang unik karena ia memiliki beberapa waiter yang mengikutinya dari satu restoran ke restoran lainnya. Alasan mengapa para waiter itu mengikuti Jerry kemana dia bekerja karena sikap Jerry yang luar biasa. Ia adalah seorang motivator alami. Jika seorang pegawai mengalami hari yang buruk, Jerry ada di sana untuk memberi tahu pegawai itu bagaimana melihat sisi positif dari situasi tak menyenangkan itu.

Karena melihat gayanya yang luar biasa itu, saya jadi penasaran, sehingga pada suatu hari saya bertemu Jerry dan bertanya, “Aku tak mengerti! Engkau pasti tidak bisa menjadi orang positif sepanjang hari. Bagaimana engkau melakukannya?”

Jerry menjawab, “Setiap pagi saya bangun dan berkata kepada diri saya sendiri, ‘Jerry, kamu punya dua pilihan hari ini. Kamu bisa memilih berada dalam suasana hati yang baik atau kamu boleh memilih berada dalam mood yang jelek.’ Saya memilih berada dalam mood yang baik. Setiap kali ada perkara buruk terjadi, saya dapat memilih menjadi korbannya atau saya dapat memilih untuk belajar sesuatu dari hal itu. Setiap kali seseorang datang kepada saya dengan keluhan, saya dapat memilih untuk menerima komplain mereka atau saya dapat menunjukkan sisi positif dalam kehidupan ini. Saya selalu memilih segi positif dalam kehidupan.”

“Yah, benar juga, tetapi itu tidaklah mudah,” kata saya membantah.

“Memang tidak mudah,” kata Jerry. “Hidup ini mengenai pilihan. Pada intinya, setiap situasi merupakan suatu pilihan. Engkau memilih bagaimana menanggapi suatu situasi. Engkau memilih bagaimana orang-orang lain akan memengaruhi perasaanmu. Engkau memilih berada dalam suasana hati yang baik atau buruk. Singkatnya: itulah pilihanmu bagaimana menjalani kehidupan ini.”

Aku merenungkan apa yang dikatakan Jerry. Segera setelah itu, aku meninggalkan industri restoran untuk memulai usahaku sendiri. Kami kehilangan kontak satu sama lain dengan Jerry, namun aku seringkali memikirkan dia ketika aku membuat suatu pilihan dalam kehidupan ini, bukannya bereaksi terhadapnya.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa Jerry melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan akan dilakukan orang di bidang usaha restoran: Jerry membiarkan pintu belakang restoran terbuka pada suatu pagi dan dimasuki oleh tiga perampok bersenjata. Ketika mencoba membuka brandkas di bawah todongan pistol, tangan Jerry gemetar ketakutan, sehingga meleset dari kunci kombinasi brandkas itu. Karena para perampok itu panik, maka salah seorang menembak Jerry. Dan mereka segera kabur dari tempat itu. Untunglah Jerry ditemukan cukup cepat dan dilarikan ke ruang UGD di sebuah rumah sakit.

Setelah dioperasi selama 18 jam dan dirawat di ruang perawatan intensif, Jerry akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit itu dengan beberapa pecahan peluru masih ada di dalam tubuhnya.

Aku bertemu sekitar enam bulan setelah peristiwa itu. Ketika aku bertanya bagaimana keadaannya, Jerry menjawab, “Seandainya saya lebih baik dari sekarang, saya pasti punya kembaran. Mau melihat bekas luka saya?”

Aku menolak untuk melihat bekas luka-lukanya, namun aku menanyakan apa yang terlintas di pikirannya ketika perampokan itu terjadi. “Hal pertama yang melintas di pikiran saya adalah seharusnya saya telah mengunci pintu belakang itu,” jawab Jerry. “Kemudian ketika saya terbaring di lantai, saya ingat bahwa saya mempunyai dua pilihan: saya dapat memilih untuk hidup, atau saya dapat memilih untuk mati. Saya telah memilih untuk hidup terus.”

“Apakah engkau tidak takut? Apakah engkau kehilangan kesadaranmu?” aku bertanya.

Jerry melanjutkan, “Petugas paramedisnya hebat. Mereka terus menerus memberitahu saya bahwa saya akan sembuh. Tetapi ketika mereka membawa saya ke ruang UGD dan saya melihat ekspresi wajah-wajah para dokter dan perawat, saya menjadi sangat takut. Di mata mereka, saya membaca, ‘Orang ini sudah mati.’ Saya tahu saya perlu melakukan suatu tindakan.”

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Well, di sana ada seorang perawat gemuk dan kekar yang bertanya dengan suara keras kepada saya,” kata Jerry. “Perawat itu bertanya apakah saya ada alergi terhadap sesuatu. ‘Ya,’ jawab saya. Para dokter dan perawat berhenti melakukan sesuatu sementara mereka menunggu jawaban saya. Saya mengambil nafas panjang dan berseru, ‘Peluru. Saya alergi terhadap peluru,’ kata saya membuat mereka tertawa. Saya kemudian mengatakan kepada mereka, ‘Saya memilih untuk terus hidup. Bedahlah saya seolah-olah saya akan terus hidup, bukan sebagai orang mati.”

Jerry akhirnya dapat diselamatkan berkat keahlian para dokter itu, namun hal itu juga berkat sikapnya yang luar biasa. Saya belajar daripadanya bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk hidup sepenuhnya. Sikap, bagaimanapun juga, adalah segalanya.

(Ditulis oleh Francie Baltazar-Schwartz – diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini tidak dihapus apabila anda memforward naskah ini atau mempostingnya di website/blog anda – terima kasih banyak)


*****

Jerry was the kind of guy you love to laugh at. He was always in a good mood and always had something positive to say. When someone would ask him how he was doing, he would reply, "If I were any better, I would be twins!"

He was a unique manager because he had several waiters who had followed him around from restaurant to restaurant. The reason the waiters followed Jerry was because of his attitude. He was a natural motivator. If an employee was having a bad day, Jerry was there telling the employee how to look on the positive side of the situation.

Seeing this style really made me curious, so one day I went up to Jerry and asked him, "I don't get it! You can't be a positive person all of the time. How do you do it?"

Jerry replied, "Each morning I wake up and say to myself, 'Jerry, you have two choices today. You can choose to be in a good mood or you can choose to be in a bad mood.' I choose to be in a good mood. Each time something bad happens, I can choose to be a victim or I can choose to learn from it. I choose to learn from it. Every time someone comes to me complaining, I can choose to accept their complaining or I can point out the positive side of life. I choose the positive side of life."

"Yeah, right, it's not that easy," I protested.

"Yes, it is," Jerry said. "Life is all about choices. When you cut way all the junk, every situation is a choice. You choose how you react to situations. You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood or bad mood. The bottom line: It's your choice how you live life."

I reflected on what Jerry said. Soon thereafter, I left the restaurant industry to start my own business. We lost touch, but I often thought about him when I made a choice about life instead of reacting to it.

Several years later, I heard that Jerry did something you are never supposed to do in a restaurant business: he left the back door open one morning and was held up at gunpoint by three armed robbers. While trying to open the safe, his hand, shaking from nervousness, slipped off the combination. The robbers panicked and shot him. Luckily, Jerry was found relatively quickly and rushed to the local trauma center.

After 18 hours of surgery and weeks of intensive care, Jerry was released from the hospital with fragments of the bullets still in his body.

I saw Jerry about six months after the accident. When I asked him how he was, he replied, "If I were any better, I'd be twins. Wanna see my scars?"

I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind as the robbery took place. "The first thing that went through my mind was that I should have locked the back door," Jerry replied. "Then, as I lay on the floor, I remembered that I had two choices: I could choose to live, or I could choose to die. I chose to live."

"Weren't you scared? Did you lose consciousness?" I asked.

Jerry continued, "The paramedics were great. They kept telling me I was going to be fine. But when they wheeled me into the emergency room and I saw the expressions on the faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I read, 'He's a dead man.'

"I knew I needed to take action."

"What did you do?" I asked.

"Well, there was a big, burly nurse shouting questions at me," said Jerry. "She asked if I was allergic to anything. 'Yes,' I replied. The doctors and nurses stopped working as they waited for my reply. I took a deep breathe and yelled, 'Bullets!' Over their laughter, I told them. 'I am choosing to live. Operate on me as if I am alive, not dead."

Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his amazing attitude. I learned from him that every day we have the choice to live fully. Attitude, after all, is everything. By Francie Baltazar-Schwartz

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI