Search This Blog

Loading...

Friday, October 31, 2008

A Blessed Youth Pastor To Bless Young Generation

Kemarin siang isteri saya mengikuti Persekutuan Doa di sebuah rumah sangat mewah di bilangan Pondok Indah. Pemiliknya adalah seorang usahawan di bidang entertainment yang mendatangkan artis, group band dari mancanegara. Pembicara di PD itu adalah Pdt. Nala Widya. Menurut isteri saya khotbah pendeta muda itu cukup hidup.

Dalam PD itu Pdt. Nala Widya menceritakan betapa kasih karunia Tuhan melimpah ketika mereka membeli dan membangun gedung gereja di Bandung. Ia digerakkan Tuhan untuk membeli 4 unit ruko, sementara kebanyakan jemaatnya adalah anak-anak muda, anak-anak sekolah, anak-anak kampus. Tentu dana besar untuk pembelian dan pembangunan gereja tidak dapat terlalu diharapkan dari mereka. Namun Pdt. Nala Widya tetap percaya bahwa pertolongan Tuhan akan datang tepat pada waktunya.

Akhirnya waktu untuk melunasi pembayaran keempat unit ruko itu sudah hampir jatuh tempo, namun uang kas gereja sama sekali tidak memadai. Yang luar biasa, akhirnya Tuhan menggerakkan Angelique Wijaya, petenis wanita, yang memenangkan suatu pertandingan tenis untuk menyumbangkan sebagian (50%) hadiah yang didapatnya bagi pelunasan ruko itu. Pas pada hari H untuk pembayaran ruko itu, Pdt. Nala Widya mendatangi pemilik ruko dengan uang cash dari Angelique. Sang pemilik bertanya-tanya dari mana uang itu. "Dari Tuhan!" jawab Pdt. Nala dengan mantap.

Berikut ini saya turunkan kisah lebih lengkap tentang pendeta muda itu yang saya peroleh dari GPdI Beth Eden:

KISAH TENTANG NALA WIDYA
Masih muda, bahkan di usia yang baru 25 tahun Nala Widya sudah dipilih untuk menggembalakan GBI El Shaddai di Bandung. Hamba Tuhan muda ini dekat dengan anak-anak muda. Gaya khotbahnya boleh santai, tapi melalui hidupnya Tuhan memakai Nala Widya untuk memenangkan generasi muda yang bobrok. Remaja berlatar belakang apapun dengan segala tingkah laku dan penampilan yang luar biasa, dibawanya mengenal Kristus. Mantan atlet balap sepeda ini kini hidup dengan istrinya, Lydia, di Bandung.

Masa kanak-kanak Anda bagaimana?
Papa saya adalah seorang tentara di rumah maupun di kantor. Papa saya dinas di Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara, Bandung. Orang tua saya menikah tanpa persetujuan Opa karena papa seorang tentara. Latar belakang mama saya adalah anak orang kaya yang dibuang karena kawin dengan papa saya. Sejak kecil saya tinggal bersama Opa di Jakarta karena mama masih kuliah di ITB, Bandung. Hal ini membuat saya merasa seperti dibuang.

Pada tahun 1972 saya pindah ke Bandung dan menemukan adik yang lahir tahun 1971. Ada perasaan dibuang dan disingkirkan. Buat anak kecil itu sangat sensitif sekali. Makanya saya sangat keras mengajar keluarga muda, jangan sampai waktu masih bayi, tidak ada mother touch terhadap anak-anak mereka. Soalnya saya sudah mengalaminya. Kalau dulunya di Jakarta saya hidup kayak anak raja, alias semua yang saya mau itu ada, setelah pindah ke Bandung hidup kami susah. Mama saya bekerja sebagai tukang keriting rambut keliling. Kami kenyang dengan yang namanya penolakan demi penolakan. Itu menimbulkan kepahitan yang mendalam.

Dulu papa saya adalah tipe bapak yang pembapaannya berat sebelah, sangat otoriter, tidak ada penghargaan. Anak dinilai berdasarkan prestasi. Itu yang membentuk karakter saya. Dia cuma bisa memukul dan marah. Tidak bisa memberi pengarahan.

Seperti apa dulunya?
Saya jadi tertutup, senang menyendiri, eksplosif dan ekstrovert. Kalau sedang marah saya bisa membanting barang-barang dan itu membentuk karakter kolerik kuat bagi saya, makanya karakter saya kolerik berat plus ada melankolisnya. Sifat seperti itu membuat saya sulit bisa bergaul dengan orang-orang lain, dan parahnya, sampai SMP kelas 2 pun saya masih ngompol. Sebetulnya tanpa sadar ini adalah bentuk pemberontakan.

Saat itu orang tua saya hanya berusaha bagaimana mencari uang lebih banyak agar hidup bisa lebih layak.

Rapor sekolah saya suka jelek. Saya harus les terus supaya naik kelas dan memang saya pernah tidak naik kelas. Sampai waktu tes IQ, dikira orang saya ini bodoh, padahal itu adalah bagian dari sikap pemberontakan saya, dan karena rasa ditolak, dan gambar diri saya yang rusak.

Untuk menutupi semuanya itu saya menjadi atlet balap sepeda. Saya berusaha keras supaya berhasil di bidang olahraga karena sekolah saya gagal. Istilahnya, mati-hidup saya ada di dunia balap sepeda. Terakhir saya ikut kejuaraan ASEAN di Malaysia, dan menjelang Pelatda untuk PON saya jatuh dan pipi saya robek, dijahit 11 jahitan.

Bagaimana kisah pertobatan Anda?
Saya bertobat di KKR atlet karena kesaksian Rudi Hartono. Terus sempat ada panggilan untuk melayani atlet, makanya saya mulai menginjili teman-teman di balap sepeda. Tahun 1988 saya ikut Olimpiade di Seoul. Jadi saya sempat pelayanan untuk atlet, juga ada konferensi pelayanan atlet sedunia di sana. Saya melihat bahwa pelayanan bukan hanya sekedar gereja, mimbar, khotbah, tapi di manapun Injil bisa diberitakan dan masing-masing orang bisa dipakai menurut track-nya.

Kenangan paling berkesan dengan papa?
Saya cuma bisa ingat waktu umur tujuh tahun, ulangan berhitung saya dapat 8, lalu oleh papa saya dibelikan jus alpukat. Saya tidak pernah bisa melupakan waktu dia menaruh tangannya di bahu saya. Tapi itu cuma terjadi sekali saja sampai saya berumur 33 tahun. Jadi kenangan itu benar benar dalam, impresif, dan seumur hidup membayang. Saya merasa saat itu papa bangga punya anak laki yang ulangannya dapat 8. Saya merasa sebagai anak saya berdaya guna. Dan itu sangat berharga. Kapan sih orang bikin salah lalu dirangkul? Tidak ada selain dalam Lukas 15, ketika anak hilang datang mengaku dosa, papanya merangkul dia.

Pemulihan dengan papa Anda bagaimana ceritanya?
Setelah bertobat terima Yesus tahun 1984, pada Natal 1985, Tuhan mau saya meminta maaf kepada orang tua saya karena saya sangat membenci mereka. Tapi saya lakukan walaupun sebetulnya luka hati terhadap papa tidak berhenti. Karena memang harus dua arah, dimana hati bapa berbalik kepada anak dan anak kepada bapa sesuai dengan nubuatan akhir jaman di Maleakhi 4.

Tapi dalam Lukas 1:17 hanya ditulis tentang hati bapa yang berbalik kepada anaknya. Makanya orang tua juga perlu datang kepada anaknya. Pada tahun 1989 hubungan saya pulih total dengan mama. Tahun 1992 saya tinggalkan kuliah di ITB padahal saat itu saya mendapat 2 kali beasiswa, yaitu ke Jepang dan Stuttgard. Saya tahu papa berharap banget saya ambil beasiswa itu, tetapi saya sengaja tidak mau memenuhi harapannya karena tanpa sadar penyebabnya luka batin saya terhadap papa. Saya lari ke pelayanan yang saya akui itu salah! Jangan dicontoh dan tidak boleh terulang lagi di generasi sekarang. Ketika menikah tahun 1995, papa memutuskan hubungan dengan saya, bahkan dengan mama pun saya tidak boleh ketemu. Puji Tuhan 1997 hubungan saya dengan papa dipulihkan Tuhan secara total. Jadi saya baru punya seorang 'ayah baru' tiga tahun lalu.

Karena itu pelayanan Anda fokusnya ke hati Bapa?
Ya, karena saya tahu apa arti Bapa. Pelayanan saya banyak kali gagal karena saya tidak punya hati Bapa. Dalam awal pelayanan, saya masih punya banyak sekali barisan sakit hati dan orang-orang terluka hati karena tindakan dan kata-kata saya sangat tidak membapaki. Itu melukai orang dan saya sadar saya jadi begitu karena saya sendiri tidak pernah dibapaki. Sampai Tuhan menolong saya lewat hamba-hamba Tuhan yang kira-kira tiga tahun lalu mulai mengalirkan kasih. Kalau saya bikin kesalahan, mereka tetap meng-cover dan memeluk saya. Itu yang menyembuhkan. Cara pandang saya berubah apabila melihat orang bikin salah. Tidak lagi dihakimi tapi ditemani dan dirangkul.

Apa yang Anda ingin lakukan setiap bangun tidur?
Jangan sampai sedetikpun terlewat tanpa kamu lakukan hal yang berdampak, prinsip saya maksimalkan waktu dan gunakan sebaik-baiknya. Saya memaksimalkan hidup agar jangan banyak waktu terbuang percuma.

Kapan Anda merasa sangat dekat dengan Tuhan?
Saat saya bikin salah dan saat merasa dihakimi, ditinggalkan orang habis-habisan. Tuhan tidak pernah membuang saya. Dan itu waktu yang sangat berharga buat saya. Kondisi dimana saya tidak menjadi kecewa dan saya tidak boleh kecewa. Saya memang punya kelemahan dan kalau kelemahan itu disorot dan dibantai orang, maka saya harus melihat ada satu figure yang tidak pernah membantai saya tapi justru memeluk saya. Dan kalau memang saya salah, Ia selalu men-support saya untuk bangkit lagi, yaitu Bapa di Sorga. Pernah saya mengalami satu keterpurukan yang parah akibat dihakimi terlalu dalam, sehingga gambar diri saya hampir berantakan lagi. Tapi detik-detik itu Tuhan banyak berbicara. Pemulihan bukan dari manusia, tapi Tuhan sendiri yang memulihkan saya.

Apa yang Anda lakukan saat dalam pergumulan berat?
Beberapa waktu lalu saya mengalaminya dan rekan-rekan suruh saya ambil off dulu untuk membiarkan Tuhan bicara sesuatu mengenai sisi-sisi yang saya tidak ketahui. Saya pergi ke Salatiga selama 1 bulan. Ini baru saya lakukan sekali dalam hidup. Dalam masa berdiam diri, saya baru tahu bahwa saya masih seorang pemberontak. Tuhan membukakan tentang kepemimpinan saya yang salah, keputusan-keputusan yang salah, dll.

Dari sini juga Tuhan berbicara bahwa ada masa dimana kita perlu retret. Tapi retret yang bukan diprogram, tapi benar-benar hanya waktu kita dengan Tuhan. Saya enjoy sekali punya waktu sendirian. Pagi-pagi saya bangun untuk lari pagi, merenung sendiri dan mendengar Tuhan bicara banyak hal tentang hidup saya. Saya mengerti kalau saya ditekan banyak hal, saya justru punya banyak waktu dengan Tuhan. Jadi setiap tekanan yang diijinkan itu ada maksud Tuhan, bukan karena Tuhan jahat.

Siapa bapak rohani yang berpengaruh dalam kehidupan rohani Anda?
Dulu saya suka khotbah memakai jeans dan semua orang mengkritik dan menolak saya. Tapi ada seseorang yang perhatian dan mau membimbing saya, namanya Daniel Alexander. Dia tidak pernah menolak saya kalau saya pakai jeans. Dia menerima saya apa adanya. Tapi tidak jarang saya juga dimarahinya dari mimbar, tapi saya tahu motivasinya tulus dan mengasihi, tidak ada yang lain. Dia banyak sekali memberi arahan, termasuk ketika saya mulai melangkah hidup berjemaat, apa yang harus dibuat.

Yang kedua, saya belajar apa arti memberi diri bagi Tuhan itu dari Samiton Pangelah.

Ketiga, saya belajar mengerti prinsip-prinsip dasar dalam karakter, kehidupan, dan kekudusan dari Pdt. Simamora. Saya harus mengakui bahwa ketiga orang ini berdampak besar bagi hidup saya, meletakkan dasar-dasarnya. Ya, tidak lupa, yang membentuk saya juga dengan nilai-nilai yang seperti sekarang dan menjadi pribadi seperti dia, yaitu papa saya sendiri.

Apa kerinduan Anda saat ini?
Saya ingin bisa menjadi rasul bagi generasi ini dimana hidup saya benar-benar memberi dampak. Saya rindu untuk bisa menjadi satu pribadi yang boleh memulai sesuatu bagi generasi ini. Kalaupun saya dikenal, biarlah mereka kenal saya sebagai orang yang memulai satu pelayanan bagi generasi. Karena saya rindu melihat youth church (gereja anak muda, red) di Indonesia mulai berdampak dalam youth church di Asia. Saya melihat gereja-gereja baru yang bangkit dengan warna dan model yang berbeda. Saya ingin mempunyai Youth Training Center yang betul-betul bisa melatih, berfungsi secara profetik dan apostolik untuk youth church tadi.

Pesan untuk anak muda?
Jangan memandang kekurangan atau kelemahan orang tua kalian, tapi mulai sadar bahwa kita punya Bapa di Sorga yang melebihi apa yang bisa kita harapkan dari orang tua kita. Ketika saya belajar menerima orang tua apa adanya, maka mata saya mulai terbuka bahwa betapa banyak nilai yang sebenarnya papa berikan kepada saya. Saya melihat dia dengan seragamnya dan betapa saya bangga terhadap dia. Saya baru sadar bahwa cara saya mengambil keputusan, cara saya berpikir dan bagaimana saya terbentuk jadi pria yang tangguh, itu semua saya dapatkan dari papa. Papa saya adalah orang yang tidak menyerah terhadap kesulitan yang dia hadapi. (Sumber: GPdI Beth Eden dan telah diedit seperlunya supaya enak dibaca)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI