Search This Blog

Loading...

Tuesday, September 2, 2008

He Made Me Feel Worthy

Tuhan Yesus Menjadi Pengantara dan Pembela Valvita

Persiapan Berangkat Ke Sorga
Tiga bulan setelah operasi caesar, saya memasuki Kansas University Medical Center karena saya mendapatkan infeksi serius di kandungan saya. Tepat sebelum saya meninggalkan Rumah Sakit itu, saya mulai berpikir bahwa saya akan meninggal, meskipun tidak ada ketakutan karena hal itu.

Ketika saya memandangi saudara-saudara saya, suatu perasaan yang aneh melanda saya, sepertinya saya akan melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sementara di RS, para dokter mencoba antibiotik selama beberapa hari untuk melihat apakah mereka dapat menghindarkan pembedahan besar, namun ternyata mereka tidak berhasil. Peranakan saya akhirnya diangkat dan semuanya nampak beres.

Setelah saya menjalani masa pemulihan di RS selama tiga hari, saya mulai merasa sangat aneh. Sesuatu ada yang salah sekali, sehingga saya memanggil seorang perawat. Para dokter menemukan bahwa saya menderita radang paru-paru, penggumpalan darah, pendarahan dalam tubuh, dan gagal ginjal.


Berjuang untuk Hidup
Para dokter membawa saya ke ruang rontgent, dan selama saya diperiksa saya kadang-kadang kehilangan kesadaran. Pada suatu saat saya mendengar dokter itu memerintahkan perawat dengan suara keras untuk memeriksa tekanan darah saya. Saya mendengar jawaban perawat, “Nol. Nihil.” Saya menyadari bahwa mereka sedang berjuang mempertahankan nyawa saya. Melewati semua trauma fisik ini, saya berkata kepada Tuhan, “Mengapa saya? Mengapa sekarang?” Saya tidak ingin mati. Saya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa?” Saya tidak pernah berpikir untuk menanyakan hal seperti itu sebelumnya, namun saya menemukan diri saya mempertanyakan situasi saya, khususnya sejak sesuatu yang ajaib terjadi selama saya ada di RS. Anda tahu, kami hampir saja mengangkat seorang anak lelaki yang baru saja dilahirkan. Bayi itu dan saya ada di RS yang sama.

Perjuangan batin saya untuk hidup itu menguras seluruh tenaga saya. Saya mencoba untuk bertahan hidup bagi orang-orang yang saya kasihi : anak perempuan saya dan suami saya, Walter. Gambar-gambar melintas tentang suami saya yang akan datang ke RS dan menemukan saya telah meninggal. Saya berdoa banyak, memohon pertolongan Tuhan.

Akhirnya saya menyadari apa yang saya sedang lakukan – mencoba mempertahankan kendali atas hidup saya. Namun seandainya saya ini anak Tuhan dan seandainya sudah waktunya bagi saya untuk meninggalkan dunia ini, saya harus menyerahkan diri saya. Saya meminta kepada Tuhan untuk mengampuni saya karena saya suka mengeluh, dan saya mendapatkan damai sejahtera.

Kemudian saya merasa sangat sadar akan nafas saya. Nafas ini menjadi makin lambat dan semakin lambat – semakin panjang antara tarikan yang satu dengan yang berikutnya. Dan setiap tarikan nafas menjadi semakin dalam dan dalam. Saya tidak pernah bernafas sedemikian dalam selama hidup saya. Saya mulai menghitung “satu, dua” dan tarikan nafas ketiga merupakan tarikan yang paling dalam, seolah-olah tarikan nafas itu datang dari kaki ke atas. Kemudian seolah-olah saya bersatu dengan tarikan nafas ketiga itu. Meskipun itu adalah tarikan nafas, saya masih mengetahui bahwa saya adalah pribadi yang utuh.


Ditemui Tuhan Yesus
Saya merasa demikian damai dan bebas. Saya mulai bergerak ke atas. Saya menyadari tubuh saya ada di bawah saya, dan samar-samar saya mengingat segala upaya yang dilakukan oleh para tim medis untuk menghidupkan kembali tubuh saya. Perhatian utama saya adalah bahwa saya ada di atas ruangan itu. Saya tidak di dalam ruangan itu namun ada di langit pertama. Saya katakan langit pertama karena saya melihat ada tiga langit yang saya lewati.

Di langit pertama saya bertemu dengan Seseorang. Atau lebih tepatnya saya ditemui Dia. Saya mengenalnya sebagai Tuhan Yesus Kristus, dan Ia menuntun saya melewati tiga langit itu. Pada saat saya memikirkan tentang kehadiran fisik Tuhan Yesus, bentuk fisiknya hampir lenyap, karena sosok utama tentang diri-Nya adalah kasih sepenuh-penuhnya. Ketika saya mengingatnya lagi, Ia memiliki rambut coklat tua bergelombang dan kulit wajah berwarna zaitun. Saya memandang mata-Nya. Mata itu demikian tajam namun penuh belas kasih, sebening dan sebiru air jernih. Anda hampir bisa melihat bayangan diri anda di mata-Nya seperti cermin saja. Ketika Ia memandang anda, Ia memandang tajam terhadap anda dan ke dalam anda. Dengan segera anda akan menyadari bahwa Ia mengetahui segala hal yang perlu Ia ketahui tentang anda.

Nampaknya ada cahaya sorgawi yang menyebabkan rambut-Nya berwarna merah dan mata-Nya kebiru-biruan, hampir transparan, dan kulit-Nya berwarna keemasan yang terang. Tak ada cara yang tepat untuk menggambarkan warna-warni penampilan-Nya. Di sini warna-warnanya berasal dari dunia lain. Itulah kemuliaan Bapa, cahaya kemilau keemasan memancar melalui Dia. Dalam tubuh kebangkitan-Nya, warna penampilan-Nya berbeda sekali dengan yang ada di bumi ini.


Di Hadapan Yang Mahatinggi
Saya akan menceritakan kepada anda apa yang terjadi di langit ketiga. Langit pertama itu berwarna biru muda, namun terang, begitu berbeda dari segala sesuatu yang pernah saya lihat yang dapat saya terangkan dengan jelas. Langit itu terbuka, terbelah dua di tengahnya, seperti layar yang menggulung ke samping dari tengah. Hal ini terjadi sekejap seperti menjentikkan jari-jari saya saja. Kami pergi melewati dua langit lagi, yang juga membuka dari bagian tengahnya.

Dalam beberapa detik saya menemukan diri saya ada di hadapan Yang Mahatinggi. Yang Mahatinggi adalah istilah yang saya pakai karena saya mengenali kehadiran Allah Bapa. Pada saat saya memandang-Nya, saya tidak dapat sungguh-sungguh melihat-Nya, namun ada kemuliaan yang sangat luar biasa, suatu hadirat yang sangat luar biasa. Anda dapat merasakan hal itu dimana-mana di sorga ketiga ini, dan saya menyadari bahwa Ia ada di tahta. Ketika saya mencoba melihat seperti apa tahta itu, saya mendapati bahwa tahta itu tak terlihat. Saya tahu bahwa tahta itu ada di sana; saya tidak dapat melihatnya! Tahta itu demikian besar sehingga sampai ke bumi; bumi adalah bagian dari tahta itu.

Terpesona dengan semua itu, saya merasa sangat begitu kecil seperti seekor semut, begitu tak berarti. Dengan gemetar saya jatuh tersungkur. Sementara saya tergeletak di sana dengan muka ke lantai, Ia berbicara kepada saya. Pembicaraan ini bukan seperti pembicaraan mental antara Kristus dengan saya, karena suara Bapa itu seperti deru air bah yang besar. Saya tergeletak di sana dalam waktu yang lama, dengan Allah Bapa berbicara kepada roh saya. Perkataan-perkataan yang Ia katakan kepada saya tak dapat saya ingat, namun perkataan-perkataan itu tentang saya dan kehidupan saya.

Sementara saya tergeletak di sana saya menghidupi kembali setiap keberadaan saya, setiap perasaan dan pikiran saya. Saya melihat mengapa saya ada sebagaimana ada; saya mengalami kembali bagaimana caranya saya berhubungan dengan orang-orang dan mereka dengan saya. Saya melihat hal-hal yang seharusnya saya dapat berbuat lebih baik. Saya merasakan perasaan-perasaan malu akan sesuatu, namun saya juga menyadari ada hal-hal baik yang saya lakukan dan merasa nyaman atas hal itu. Selagi kita melihat pemandangan-pemandangan yang berbeda-beda, saya akan menjawab, “Ya, saya tahu bahwa saya seharusnya melakukan dengan lebih baik lagi atau dengan cara yang lebih baik.” Saya membayangkan apakah ada orang yang merasa layak berada di hadirat-Nya. Saya tidak merasa tertuduh, namun saya merasa tidak layak. Agak sukar untuk menjelaskannya. Semuanya terus berlangsung, untuk berapa lama saya tidak tahu, saya terus memuji Tuhan.

Setelah berakhir tinjauan atas kehidupan saya, saya merasa sungguh-sungguh tak layak berada di sana di hadapan Terang yang Luar Biasa; tak layak dibandingkan dengan semua keberadaan yang agung di tempat ini. Semuanya nampak demikian indah, dan siapakah saya? Saya mengatakan hal ini kepada Bapa. Kemudian tangan Tuhan Yesus menyentuh saya, dan saya dapat berdiri di atas kaki saya lagi karena saya sebelumnya tidak mempunyai tenaga. Dengan menggandeng tangan saya, Ia menuntun saya ke samping arena. Ia memandang mata saya, ke dalam jiwa saya, dan saya tahu Ia mengenal dan mengerti segala yang saya rasakan. Ketika Tuhan Yesus memandang saya, hal itu dilakukannya dengan kasih yang lebih besar dari pada yang dapat saya pikir orang akan mengetahuinya. Ia tersenyum, dengan pandangan yang membuat saya mengerti bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.


Jembatan
Dengan pandangan yang meyakinkan saya, Tuhan Yesus menuntun saya ke satu sisi. Ia melangkah pergi dari saya dan sendirian Ia menuju Terang. Kapan terang Kristus itu hilang dan terang Bapa itu mulai tampak, saya tidak tahu. Mereka berdua saling memberi terang dan terang mereka sama! Saya tidak akan pernah melupakan hal ini seumur hidup saya. Ketika Kristus melangkah pergi dari saya, Ia berbalik ke samping dan mengulurkan tangan-Nya seperti jembatan. Satu tangan terulur kepada saya dan satu kepada Bapa. Tangan-Nya terulur seolah-olah membentuk sebuah salib dan jembatan untuk menghubungkan saya dengan Bapa. Hal ini seperti menggambarkan apa yang tertulis di Alkitab: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1 Timotius 2:5-6) Allah di satu sisi, dan semua orang di sisi yang lain. Tuhan Yesus sendiri ada di antara manusia dan Bapa-Nya untuk membawa umat-Nya. Kristus membuat hal ini mungkin dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi semua orang. Segala hal yang saya tahu dari Alkitab melintas di pikiran saya.

Kemudian saya mendengar Bapa dan Anak berbicara tentang perkara saya. Tuhan Yesus berkata, “Darah-Ku itu cukup. Perempuan ini adalah milik-Ku!” Ketika Ia mengatakan hal ini, semua keraguan saya tentang ketidak-layakan saya lenyap. Saya melompat-lompat, bersorak sorak dan bersukacita. Saya tidak pernah merasa sedemikian berbahagia seumur hidup saya! Jenis kasih yang saya rasakan itu melampaui apa yang dapat saya ceritakan. Saya terus menerus berkata, “Oh, Allahku. Oh, Allahku. Dia adalah Pengantara saya. Dia adalah Pembela saya.” Tepat seperti apa yang saya baca di dalam Alkitab.

Tuhan Yesus datang kembali ke tempat dimana saya berada dan memandang saya dengan kasih yang memberi penghiburan. Kami bersukacita bersama. Ia melanjutkan dengan mengajar saya dan banyak berbicara kepada saya, tetapi saya tidak dapat mengingat perinciannya. Sekarang dengan begitu bebas dan begitu dicintai, saya tidak pernah ingin meninggalkan diri-Nya. Saya mengatakan demikian kepada-Nya, namun pandangan di mata-Nya menyuruh saya untuk kembali ke bumi. Saya bertanya, “Apakah saya sungguh-sungguh harus kembali ke bumi?” Ia memandang saya dengan kelembutan dan berkata, “Ya, karena banyak pekerjaan-Ku yang harus kau lakukan di sana.”

Ketika saya kembali ke tubuh saya di ICU, hal itu terjadi secepat saya pergi meninggalkan tubuh saya. Nampaknya saya pergi dan kembali dengan kecepatan cahaya. Kristus membawa saya kembali. Saya memandang wajah-Nya yang indah untuk terakhir kalinya, suatu wajah yang seharusnya saya dapat pandangi selama-lamanya. Hal berikutnya yang saya tahu, saya sedang memandangi wajah seorang wanita yang datang ke ICU dan mengaku sebagai adik perempuan saya. Saya tidak menyadari saya ada di mana. Ketika saya melihat wajah adik saya, saya terkejut karena Tuhan Yesus telah hilang dengan cepat. Mencari wajah Tuhan Yesus namun menemukan wajah adik perempuan saya, membuat saya kecewa. Adik perempuan saya memberi tahu saya di kemudian hari bahwa ada pandangan di wajah saya yang ia tidak pernah jumpai sebelumnya. Ia sangat bingung dan sedikit sakit hati oleh karena tanggapan saya terhadap kehadirannya. Setelah saya menjelaskan hal yang sebenarnya di kemudian hari, adik saya akhirnya mengerti bahwa saya sebenarnya senang bertemu dengannya.

Hidup yang Berubah
Setelah saya mengalami pemulihan, saya mengambil pelajaran seni tentang lukisan dengan minyak. Saya terus menerus berusaha menangkap warna-warni Tuhan Yesus di atas kain kanvas. Itulah semua yang dapat saya lukiskan. Saya melukis Diri-Nya dengan semua warna, semua gaya, namun tak mungkin menangkap warna-warni itu. Para murid lain menggoda saya dengan mengatakan bahwa saya adalah “gadis-Nya Tuhan Yesus”.

Namun obsesi saya untuk melukis Tuhan Yesus hanyalah perubahan kecil dibandingkan dengan bidang kehidupan saya yang lain. Mungkin perubahan yang paling besar adalah cara pandang saya. Sebelum pengalaman hampir mati saya, saya biasanya selalu ribut dan rewel terhadap Walter tentang ha-hal yang remeh. Saya dulunya menuntut banyak hal bagi kepentingan diri saya saja. Ketika saya kembali dari perjalanan ke sorga itu, saya memiliki penghargaan yang makin besar terhadap hubungan antar sesama. Orang-orang lain itu demikian penting. Kebanyakan apa yang kita anggap penting itu sebenarnya tidaklah penting.

Pada tahun 1986 saya merasa Tuhan berkata kepada saya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Hal ini terjadi pada saat Walter dan saya mulai menampung para tunawisma. Kami dipanggil untuk pekerjaan itu selama beberapa tahun. Saya kira ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Penggembalaan anak-anak adalah cara lainnya, dan sekarang ini saya adalah seorang orangtua asuh. Kami menampung lima anak-anak di rumah kami. Setelah mengalami pengalaman hampir mati yang fantastis, saya pikir saya harus melakukan sesuatu proyek yang besar dan luar biasa bagi Allah. Ia telah menunjukkan kepada saya bahwa kehidupan ini bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, namun melakukan apapun yang saya lakukan bagi-Nya. Selama saya di sorga, Allah tidak memberikan saya perintah khusus, namun yang paling saya rasakan dengan kuat adalah bahwa tujuan hidup saya adalah mengasihi. (Naskah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon agar keterangan ini jangan dihapus ketika anda membagikannya kepada orang-orang lain)

PS: Terima kasih, bu Suharti Ali, atas naskah asli dalam bahasa Inggeris yang dikirimkan kepada saya bersama naskah-naskah lain yang belum sempat saya terjemahkan. God bless you!

****

Jesus Mediates with God the Father for Valvita!
From Rita Bennett's Book--"To Heaven & Back".

Setting the Stage
Three months after a cesarean section, I entered Kansas University Medical Center because I had a serious infection in my reproductive organs. Just before leaving for the hospital, I began thinking I was going to die, though there wasn't any fear connected with it.

As I looked at my relatives, a strange feeling came over me, as though I were seeing them for the last time. While at the hospital, doctors tried antibiotics for several days to see if they could avoid major surgery, but they could not. I underwent a hysterectomy and all seemed well.

Recuperating in the hospital three days later, I began feeling strange. Something was very wrong, so I called a nurse. Doctors discovered that I had double pneumonia, a blood clot, internal bleeding, and kidney failure.

Fighting for Life
Doctors rushed me to X ray, and during the test I drifted in and out of consciousness. At one point I heard the doctor in a loud voice asking the nurse to check my blood pressure. I heard the nurse answer, "Zero. Zilch." I realized they were fighting for my life.

Through all this physical trauma, I was talking to God and saying, "Why me? Why now?" I didn't want to die. I was asking God, "Why?" I never thought I'd say that, but I found myself questioning my situation, especially since something wonderful had happened while I was in the hospital. You see, we were about to adopt a son who had just been born. He and I were lying in the very same hospital.

My inner fight to live was taking every ounce of energy. I was trying to hold on to life for the people I loved-my daughter, and my husband, Walter. Pictures reeled through my mind of him coming to the hospital and finding me gone. I was praying a lot, asking for God's help.

Finally I realized what I was doing-trying to maintain control of my life. But if I was God's child and if it was my time to go, I should surrender myself. I asked Him to forgive me for complaining, and I was at peace. I then became extremely conscious of my breathing. It became slower and slower-a longer time between each breath. And each breath became deeper and deeper. I had never breathed so deeply in all my life. I started counting "one, two," and the third breath was the deepest, as if it came from my feet up. Then it was as if I became that third breath. Though I was that breath, I still knew I was a whole person.

Met by Jesus
Feeling so peaceful and free, I started moving upward. I realized my body was below me, and I vaguely remember observing efforts by the medical team to revive it. My main interest was that I was above the room. I was not even in the room but in the first sky. I say first sky in the heavens, because it seemed as though there were three heavens that I passed through.

At the first heaven I met a Being. Or I should say He met me. I recognized Him as Jesus Christ, and he led me through the three heavens. When I think about Jesus' physical presence, it almost fades away, because the predominant feature is that He is love through and through. As I recall, He had dark brown wavy hair and an olive complexion. I looked into His eyes. They were piercing but loving, and as clear as blue water. You could almost see yourself mirrored in His eyes. When He looked at you, He looked straight through you and into you. You realized immediately that He knew all there was to know about you.

There now seemed to be a heavenly illumination that caused His hair to be light red and His eyes bluish, almost transparent, and His skin a light golden color. There is no way to fully describe His coloring. It is like another world's color. It's Shekinah glory, iridescent golden light glowing through Him. In His resurrection body, His coloring is uniquely different from anything on earth.

Before the Most High
I'll tell you what happened in the three heavens. The first heaven was light blue in color but brilliant, and so unlike anything I've seen that I can't fully describe it. It opened up, split down the middle as though along a seam, and both sides rolled back like paper scrolls. This happened as fast as a snap of my fingers. We went through two more skylike heavens, which also rolled back one after the other.

In a matter of seconds I found myself before the Most High. The Most High is the term I use because I recognized the presence of God the Father. In looking at Him, I couldn't really see Him, but there was an awesome glory, an awesome presence. You could feel it everywhere, and I realized that He was on the throne. When I tried to see what the throne was like, I discovered it was invisible. I knew it was there; I just could not see it! It was so big that it extended all the way to earth; earth is part of that throne. This was an incredible awareness. Stunned by it all, I felt as small as a little ant, so insignificant. Trembling, I found myself prostrate.

While I was lying there on my face, He spoke to me. It was unlike the mental speech between Christ and me, because the Father sounded like many waters rushing. I lay there a very long time, with God speaking to my soul. The words He spoke to me can't be recalled, but they were about me and my life.

As I lay there I relived every instance of my existence, every emotion and thought. I saw why I was the way I was; I reexperienced the way I had dealt with people and they with me. I saw where I could have done better. I felt emotions I was ashamed of, yet I realized there were things I had done well and felt good about. As we looked at different scenes, I would respond, "Yes, I see how I could have done it another way, a better way." I wondered how anyone could feel worthy in God's presence. I wasn't condemned, but I didn't feel worthy. It's hard to explain. The whole time that was going on, for how long I don't know, I kept praising God.

With the ending of my life review, I felt absolutely unworthy of being there in the presence of this magnificent Light; unworthy in comparison to the grand scheme of things. It is all so beautiful, and what am I? I said this to God. Then Jesus' hand touched me, and I was able to get back on my feet because I had previously had no strength. Taking me by the hand, He led me to the side of a main arena. He looked into my eyes, into my soul, and I knew He knew and understood everything I felt. When Jesus looked into me, it was with more love than I ever thought possible for anyone to know. He smiled, one look letting me know everything would be all right.


The Bridge
With this reassuring look He (Jesus) led me to one side. He stepped away from me and
went alone into the Light. Where Christ's light ended and God the Father's began, I cannot say. They both gave off light and their light was the same light! I will never forget this as long as I live. When Christ stepped away from me, He turned sideways and stretched out His arms as a bridge. One arm extended to me and one to the Father. His arms were extended as if they were making a cross and a bridge to cross over.

It was like a visual representation of the Scripture: "For there is one God and one mediator between God and men, the man Christ Jesus, who gave Himself as a ransom for all" (1 Tim 2:5-6). God is on one side, and all the people are on the other side. Jesus Himself is between human beings and His Father to bring them to Him. Christ made this possible by giving His life for all people. Everything I knew from Scripture was flashing into my mind.

Then I heard the Father and Son communing about my case. Jesus said, "My blood is sufficient. She's mine!" When He said that, all the doubts about my unworthiness
disappeared. I jumped up and down, shouting and rejoicing. I have never been so happy in all my life! The kind of love I felt is beyond explanation. I kept saying, "Oh my God. Oh, my God. This is my Mediator. This is my Advocate." Just as I read in the Bible.

Jesus came back to where I was and looked at me again with comforting love. We rejoiced together. He went on teaching me and talking to me a lot, but I don't recall the details. Now being so free and so loved, I never wanted to leave His side. I told Him so, but a look in His eyes said I had to return. I asked, "Must I really leave?" He looked at me with tenderness and said, "Yes, because there is work I have for you to do."

Coming back into my body in intensive care was as quick as my journey out had been. It seemed like the speed of light. Christ brought me back. I looked at His sweet face for the last time, a face I could have looked at forever. Next thing I knew, I was looking into the face of a friend who had gotten into intensive care by saying she was my sister. I didn't realize where I was. When I saw her face, I was shocked because Jesus was gone so fast. Looking for His face but seeing her face, I was disappointed. She told me later there was a look on my face that she had never seen before. She was confused-and a little hurt-by my response to her. After a full explanation later, she realized that I truly had been happy to see her.

Changed Life
Following my recovery, I took an art class in oil painting. I kept trying to capture the "colors of Jesus" on canvas. That's all I could paint. I painted Him in all colors, all styles, but it is impossible to capture that color. The students lovingly teased me, saying I was a "Jesus girl."

But my obsession with painting Jesus was a mild change compared to other areas of my life. Perhaps the biggest turnabout was my point of view. Before my NDE I used to fuss and bicker with Walter about petty concerns. I had wanted many things for myself. When I came back, I had a different appreciation for human relationships. They are so important. Much of what we think of as important isn't important at all.

In 1986 I felt the Lord telling me, "Feed my sheep." This was at a time when Walter and I began a shelter for the homeless. We were called to that work for several years. I guess there are different ways we can feed His sheep or His lambs. Care of children is another way, and currently I'm a foster parent. We care for five children in our home.

After having this fantastic near-death experience, I thought I should be doing big, wonderful projects for God. He has shown me that life is not about doing big things, but about doing whatever I do for Him. While I was in heaven, God did not give me a specific commission that I know of, but my strongest sense is that my purpose is to love.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI