Search This Blog

Loading...

Wednesday, July 9, 2008

Shoes That Change Life

Sepatu yang Mengubah Kehidupan
Aku baru saja bercerai, sendirian membesarkan anak-anakku: Morgan, Hannah, dan Christopher, semuanya balita. Aku memiliki penghasilan yang lumayan sebagai seorang penata rambut dan memiliki rumah yang bagus. Tetapi aku merasa bersalah akan perceraianku, sehingga aku memanjakan anak-anakku secara berlebihan. Aku membawa mereka berlibur ke tempat-tempat eksotis dan membelikan mereka sepatu-sepatu bermerek yang mahal, apapun yang mereka inginkan. Aku memberi mereka banyak kompensasi. Itu adalah caraku untuk menunjukkan kepada mereka hal yang kupikir adalah kasih sayang.

Pada musim semi tahun 1999 aku pergi ke Peten, Guatemala, untuk mengikuti lomba semi-maraton. Sewaktu berlari aku melihat sekelompok anak-anak sedang merendam kaki mereka ke dalam cairan hitam yang lengket.

“Apa itu?” tanyaku kepada pelari lain. “Mereka sedang melumuri telapak kaki mereka dengan tar (aspal) karena mereka tidak memiliki sepatu atau sandal,” jelasnya. “Apabila mereka bertelanjang kaki, kaki mereka akan rentan terhadap goresan dan bakteri. Mereka pikir tar akan melindungi kami mereka.”

Aku memandang ke bawah dan melihat sepatu lariku yang berharga US$ 100. Aku merasa tak nyaman. Anak-anak itu berjalan bermil-mil dengan kaki telanjang di sepanjang jalan yang berkerikil dan panas.

Selama penerbangan pulang aku tak dapat mengenyahkan pemandangan anak-anak berlumur tar di kakinya dari pikiranku. Bagaimana anak-anak itu dapat bermain seperti anak-anak lainnya? Aku memikirkan anak-anakku sendiri dan mensyukuri betapa banyak hal yang mereka miliki. Semua itu karena aku merasa bersalah sehingga anak-anakku mendapat kelimpahan harta benda, termasuk sepatu-sepatu mahal. Sekarang perasaan bersalah yang lain menusuk hatiku. Tuhan, prioritasku selama ini tidaklah benar. Berilah aku petunjuk bagaimana aku dapat membantu anak-anak itu.

Jawabannya datang secara mendadak, ternyata. Apa yang dilakukan teman-teman dan kerabatku dengan sepatu lama mereka? Membuangnya! Biasanya sepatu-sepatu yang dibuang itu masih dalam kondisi bagus. Dan anak-anakku? Mereka berganti sepatu dan pakaian hampir secepat aku dapat membelikan mereka barang-barang yang baru.

Aku tahu apa yang harus dilakukan: mengumpulkan sejumlah sepatu dan membawanya ke Guatemala. Aku menyampaikan gagasanku kepada teman-teman, tetangga, anak-anakku, dan semua orang yang bersedia mendengarnya. Ada yang memandangku dengan aneh dan ada juga yang memberikanku sepatu bekas mereka.

“Ini, Mom, sepatu ini sudah hampir tidak muat untukku,” ujar Hannah, anakku yang berumur 7 tahun, sembari menyerahkan sepatu Mary Jane berwarna hitam kesukaannya. Aku sangat bangga terhadapnya.

Tidak memakan waktu lama garasiku penuh dengan berbagai macam sepatu, hingga akhirnya tumpah ruah sampai ke halaman. Menjelang Natal aku mendatangi sebuah Panti Asuhan di pinggiran kota Guatemala City. Aku berjalan dengan susah payah menuju ke pintu masuknya dimana seorang biarawati berdiri di depan pintu gerbangnya.

“Aku membawa tiga boks penuh berisi sepatu-sepatu untuk disumbangkan,” kataku. “Silakan masuk!” jawabnya. Aku hampir tercekat melihat suasana di situ, karena begitu miskinnya. Dapatkah aku benar-benar membuat suatu perbedaan di sini? Dengan segera anak-anak mengerumuniku. Kebanyakan bertelanjang kaki. Ketika mereka melihat tumpukan sepatu kets dan sandal, mereka langsung bersemangat. Mereka tertawa senang sambil membuka-buka kotak sepatu satu persatu.

“Sepatu-sepatu ini adalah hadiah Natal satu-satunya bagi anak-anak ini,” ujar sang biarawati itu dengan suara menahan tangis. Kami memastikan setiap anak mendapat sepasang sepatu dan membiarkan sisanya untuk dibagikan lebih lanjut. Setelah semuanya beres, aku mengucapkan selamat tinggal dan beranjak keluar.

Kemudian aku mendengar suara biarawati lagi, “Tunggu!” teriaknya. Aku memutar kepalaku. “Kapan anda akan datang kembali lagi?”

Itu dia, pertanyaan yang mengguncang hingga dasar hati nuraniku. “Nona, ini adalah hal yang dilakukan satu kali saja,” batinku. “Kami memerlukan bantuan,” ujarnya. “Kami selalu memerlukan lebih banyak lagi…”

Lagi-lagi dalam penerbangan pulang aku tak dapat menghalau bayangan anak-anak tersebut dari pikiranku. Sepertinya Tuhan menaruh hal itu di mataku. Sewaktu kembali lagi ke rumah aku memberitahukan teman-temanku, “Kita harus tetap melakukan hal seperti ini lagi.”

Aku memprakarsai berdirinya organisasi “Share Your Soles” (Bagikan Sol Anda). Apapun boleh, mulai dari sepatu boot hingga sandal dan selop, bahkan roller blades dan sepatu bola, disumbangkan kepada kami. Proyek ini telah berkembang melebihi garasi rumahku. Perusahaan real estate setempat, yang mendengar tentang upaya kami, menyumbangkan sebuah gudang. Kami juga mendapatkan sukarelawan-sukarelawan lebih banyak dan menjadi terorganisir. Sepatu-sepatu kets itu dicuci, sepatu-sepatu pesta disemir. Sepatu-sepatu kasual diperbaiki.

Proyek “Share Your Soles” berkembang begitu pesat sehingga American Airlines menawarkan untuk menerbangkan kami ke tempat-tempat pendistribusian di seluruh dunia secara cuma-cuma. Kami dapat mengirim 13 ribu pasang sepatu kepada korban badai Katrina di New Orleans dan 15 ribu pasang sepatu kepada korban bencana Tsunami di Thailand dan Srilangka.

Aku sangat menyukai tugas mengantar sepatu-sepatu itu. Kadangkala aku membawa serta anak-anakku. Itu adalah cara baruku dalam memanjakan mereka – dengan menunjukkan betapa mereka diberkati dengan membantu orang lain. Entah dengan membawa sepatu-sepatu boot musim dingin kepada orang-orang Indian Amerika, sandal-sandal kepada orang-orang Afrika ataupun sepatu-sepatu kets ke Amerika Tengah, anak-anakku suka melihat ekspresi kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anak yang mendapatkan sepasang sepatu. Hal itu melebihi segala hal yang mampu kubeli untuk mereka.

Sepatu bekas dapat memiliki dampak besar terhadap kehidupan seorang anak: sepatu itu dapat menjadi sebuah sarana transportasi, menjadi sarana pendidikan karena ada anak-anak yang tidak diterima masuk sekolah apabila tidak bersepatu, dan juga memberikan kepercayaan diri. Sepasang sepatu dapat memberi makna yang besar. Sepatu dapat mengubah kehidupan seseorang!

Sampai saat ini “Share Your Soles” telah mendistribusikan lebih dari 350 ribu pasang sepatu. Semua orang, mulai dari anggota pramuka hingga anak-anak cacat dan semua orang dari latar belakang agama telah turut menjadi sukarelawan. Aku bertanya kepada mereka pertanyaan yang pernah ditanyakan kepadaku: “Kapan anda akan kembali lagi?” Aku sadar sekarang bahwa apabila kita memperhatikan sekitar kita, maka kita dapat mengubah hidup seseorang, bahkan hidup anda sendiri. (Ditulis oleh Mona Purdy - diambil dari Majalah Kawasan Edisi Juli 2008)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI