Search This Blog

Loading...

Wednesday, February 27, 2008

The Window

Jendela
Dua orang pria, keduanya sakit parah, menempati kamar perawatan yang sama di sebuah Rumah Sakit. Pria yang satu diijinkan duduk di tempat tidurnya selama satu jam sehari untuk menurunkan cairan di paru-parunya. Tempat tidur pria ini bersebelahan dengan jendela satu-satunya di kamar itu. Pria yang lainnya harus tidur berbaring sepanjang hari.

Kedua pria itu sering ngobrol berjam-jam. Mereka berbicara tentang isteri mereka, keluarga mereka, rumah mereka, pekerjaan mereka, dinas mereka di ketentaraan, dimana mereka sedang cuti. Dan setiap sore hari ketika pria yang tempat tidurnya bersebelahan dengan jendela itu bangkit duduk, ia tidak melewatkan untuk menceritakan teman sekamarnya di Rumah Sakit itu segala hal yang ia dapat lihat di luar jendela sana.

Pria di tempat tidur seberang sana akan bersemangat sekali selama satu jam ketika dunianya diperluas dan dihidupkan oleh segala aktivitas dan warna warni di dunia luar sana. Jendela itu menghadap sebuah taman dekat sebuah danau yang sangat indah, kata pria di dekat jendela itu. Ada bebek dan angsa bermain di air, sementara anak-anak berlayar dengan perahu. Banyak pasangan kekasih berjalan bergandengan tangan diantara bunga-bunga dengan warna-warni seindah pelangi. Pepohonan yang tinggi dan tua menambah keanggunan taman itu, dan pemandangan yang indah dan jelas ke arah kota dengan gedung-gedung pencakar langit terlihat dari jendela itu di kejauhan. Sementara pria di sebelah jendela itu menerangkan semua hal itu dengan terinci dan sangat hidup, pria di seberang sana akan menutup matanya dan membayangkan pemandangan yang digambarkan itu.

Pada suatu sore yang hangat pria di sebelah jendela itu menjelaskan sebuah parade yang sedang melintas di kejauhan sana. Meskipun pria di seberang tempat tidurnya tidak dapat mendengarkan bunyi-bunyian dari band yang sedang lewat, ia dapat membayangkan di pikirannya ketika pria di sebelah jendela itu menggambarkan dengan kata-kata yang panjang lebar. Tiba-tiba, pikiran yang aneh mendatangi otaknya: Mengapa teman yang satu ini boleh menikmati segala pemandangan aneh lewat jendela itu sementara aku tidak pernah dapat melihat apa-apa? Nampaknya itu tidak adil. Begitu pikiran itu mengendap di kepalanya, pria ini merasa malu pada mulanya. Namun begitu hari-hari berlalu dan ia kehilangan kesempatan untuk melihat banyak pemandangan, iri hatinya berubah menjadi kekecewaan dan akhirnya menjadi kepahitan. Ia mulai uring-uringan dan sulit tidur. Ia seharusnya berada dekat jendela itu – dan pikiran itu sekarang merasuki kehidupannya.

Pada suatu malam yang telah larut, ketika ia berbaring memandangi langit-langit di kamarnya, pria di sebelah jendela itu mulai batuk-batuk. Ia tersedak oleh cairan di paru-parunya. Pria di seberang jendela itu melihat dalam cahaya temaram ketika pria dekat jendela itu berjuang untuk memencet tombol pertolongan. Meskipun ia melihat semua itu, ia tidak bergerak, tidak memencet tombolnya yang seharusnya dapat memanggil perawat segera datang ke kamar mereka. Dalam waktu kurang dari lima menit, suara batuk dan tersedak itu berhenti, demikian juga suara tarikan napas dari pria di dekat jendela itu. Kini, semuanya sunyi – kesunyian yang mencekam dan menebarkan aroma kematian.

Pada pagi hari berikutnya, perawat datang membawa air untuk memandikan mereka. Ketika perawat menemukan jasad pria di dekat jendela itu, ia sangat sedih dan memanggil perawat lain untuk membawa keluar jenasah itu, tanpa kata dan tanpa keributan. Ketika waktunya dirasakan tepat, pria yang masih tinggal di kamar itu meminta agar ia dipindahkan ke dekat jendela itu. Perawat senang saja memenuhi permintaan itu dan setelah memastikan pria itu telah nyaman di tempat tidurnya yang baru, sang perawat meninggalkan pria itu sendirian.

Pelan-pelan, dengan kesakitan, ia memaksakan dirinya untuk bangkit dan melihat ke luar jendela. Akhirnya, ia akan melihat pemandangan yang indah itu langsung. Ia menegakkan kepalanya dan berusaha melihat ke seberang jendela di sebelah tempat tidurnya. Jendela itu ternyata menghadap ke dinding pagar yang putih polos.

Moral Cerita:
Mengejar kebahagiaan itu hanya soal pilihan. Kalau pilihan kita itu berupa sikap positif yang selalu kita pilih untuk dinyatakan, kita akan selalu mendapat kebahagiaan tak peduli kenyataan di depan kita. Kebahagiaan itu bukanlah kado yang selalu diantar setiap pagi di depan pintu rumah kita, bukan pula kado yang dikirim melewati jendela kita. Dan saya yakin bahwa keadaan sekitar kita hanyalah bagian kecil yang membuat kita bersuka cita. Seandainya kita terus menanti keadaan sekitar untuk menjadi baik, kita tidak akan pernah menemukan sukacita yang bertahan lama.

Mengejar kebahagiaan merupakan perjalanan di dalam batin. Pikiran kita ibarat program, yang menantikan kode yang akan menentukan perilaku kita, seperti ruang penyimpanan berpintu besi di bank yang menanti simpanan kita. Seandainya kita mendepositokan pikiran positif yang memberi semangat dan membangun, seandainya kita selalu menggigit bibir kita sebelum kita mengomel dan mengeluh, seandainya kita akan mengenyahkan pikiran negatif sebelum pikiran negatif itu beranak pinak, kita akan menemukan bahwa di sana banyak yang dapat kita syukuri dan kita rayakan dengan penuh sukacita. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

***

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour a day to drain the fluids from his lungs. His bed was next to the room's only window. The other man had to spend all his time flat on his back.

The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation. And every afternoon when the man in the bed next to the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window.

The man in the other bed would live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the outside world. The window overlooked a park with a lovely lake, the man had said. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Lovers walked arm in arm amid flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance. As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene.

One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man could not hear the band, he could see it in his mind's eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words. Unexpectedly, an alien thought entered his head: Why should he have all the pleasure of seeing everything while I never get to see anything? It didn't seem fair. As the thought fermented, the man felt ashamed at first. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He began to brood and found himself unable to sleep. He should be by that window - and that thought now controlled his life.

Late one night, as he lay staring at the ceiling, the man by the window began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room, he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running. In less than five minutes, the coughing and choking stopped, along with the sound of breathing. Now, there was only silence--deathly silence.

The following morning, the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendant to take it away--no words, no fuss. As soon as it seemed appropriate, the man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone.

Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall.

Moral of the story:
The pursuit of happiness is a matter of choice...it is a positive attitude we consciously choose to express. It is not a gift that gets delivered to our doorstep each morning, nor does it come through the window. And I am certain that our circumstances are just a small part of what makes us joyful. If we wait for them to get just right, we will never find lasting joy.

The pursuit of happiness is an inward journey. Our minds are like programs, awaiting the code that will determine behaviors; like bank vaults awaiting our deposits. If we regularly deposit positive, encouraging, and uplifting thoughts, if we continue to bite our lips just before we begin to grumble and complain, if we shoot down that seemingly harmless negative thought as it germinates, we will find that there is much to rejoice about.

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI