Search This Blog

Loading...

Friday, January 25, 2008

The Wounded Heart

Penganiayaan itu kuterima dari papaku sendiri. Orang tua yang seharusnya memberikan aku kasih sayang yang aku rindukan. Sakit hati, dendam yang mendalam, semua itu tertanam dan membekas di dalam hidupku sampai akhirnya . . .

Namaku Batsemira Lorita. Teman-teman memanggilku Rita. Aku lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang sederhana. Dari sejak kecil orang-tuaku sudah memperkenalkan kami kepada Kristus. Hingga aku beranjak dewasa aku selalu ingat apa yang orang-tuaku ajarkan mengenai Kristus serta kehidupan yang seharusnya dijalankan oleh setiap orang percaya. Pengajaran itu ternyata hanya sebatas di bibir saja. Sikap dan perlakuan yang diperlihatkan orang-tuaku, terutama papaku, tidaklah sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.

Papa memiliki harapan yang cukup besar terhadap anak-anaknya. Kami enam bersaudara dan aku adalah anak bungsu. Untuk mencapai apa yang ia cita-citakan, ia mendidik kami dengan sangat keras. Semasa kami sekolah, belajar adalah nomor satu, tidak ada waktu untuk main-main. Tak jarang ketika kami melakukan kesalahan, papa memarahi disertai kekerasan fisik. Makian, pukulan dengan rotan biasa ia lakukan. Bahkan kakakku yang ketiga pernah digantung ketika dia tidak mau belajar. Semua perlakukan kasar ini begitu membekas dalam hidupku. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kebencian itu berubah menjadi dendam yang mendalam di hati.

Peristiwa kelam itu terjadi ketika aku duduk di bangku SMP kelas tiga. Suatu hari karena sudah lama belajar, aku memutuskan untuk pergi bermain-main dengan teman-teman di sekitar kompleks rumah. Rupanya hal itu membuat papa marah karena yang ia inginkan adalah agar aku belajar terus. Ia lalu datang menghampiriku. Di depan umum ia langsung menghantam dan menendang tulang ekorku. Tidak hanya sampai di situ. Sambil terus memukul, ia menyeretku pulang. Tiba di rumah penganiayaan itu tidak berhenti. Terus dan terus ia memukul, seolah-olah tidak ada habis-habis tenaganya untuk melakukannya, sampai rotan yang digunakan untuk memukuliku patah. Biar bagaimanapun aku hanyalah seorang wanita, tidak sepantasnya menerima perlakuan yang demikian kejamnya.

Aku menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh pada waktu itu. Akan tetapi rasa sakit yang jauh lebih perih dan tidak tertahankan adalah sakit di hatiku. Akibat kejadian itu aku merasa, untuk apa aku hidup kalau hanya untuk dianiaya? Untuk apa aku hidup kalau hanya menjadi batu sandungan bagi papa? Aku ingin bunuh diri, itulah yang ingin aku lakukan saat itu. Kejadian itu menimbulkan dendam di hatiku dan ketika itu aku sudah menganggap papa sebagai musuh dalam hidupku.

Setelah peristiwa itu aku tetap menjalani kehidupan sebagaimana biasanya. Sebagai seorang anak aku tetap menunjukkan sikap yang baik, penurut di depan orang tua. Namun di belakang mereka aku benar-benar membenci dan menaruh dendam terhadap mereka, terutama kepada papa.

Dalam kegiatan kerohanian aku tetap melayani sebagai seorang Worship Leader pada saat itu dan juga mengajar di Sekolah Minggu. Aku tetap beribadah, bertemu dengan teman-teman seiman, dan sharing tentang berbagai hal. Hal itu merupakan hal rutin yang aku lakukan. Tetapi aku tidak pernah mau menceritakan hal buruk yang telah aku terima, karena bagiku itu tidak penting. Aku menyimpan hal itu sendiri. Menurutku masalah tidak akan pernah selesai dan aku tidak mau menyelesaikannya sebelum aku memberikan pelajaran kepada papaku.

Tuhan mengetahui semua niat buruk dan dendam yang tersimpan. Dia sungguh menginginkan aku berubah dan dilepaskan dari semua perasaan ini. Apa yang sudah aku rencanakan tidak pernah terwujud karena Tuhan tidak mau menunda waktu pemulihan itu terjadi dalam hidupku.

Suatu ketika aku menghadiri ibadah perayaan natal. Ibadah berlangsung seperti biasanya hingga tiba pada penyampaian firman Tuhan yang ketika itu berbicara mengenai "Hati Bapa". Aku terkejut dan takjub akan firman tersebut. Pesan yang disampaikan adalah: "Bapa di dunia bisa mengecewakan, tetapi Bapa di sorga tidak pernah mengecewakan".

Saat itu Roh Kudus berbicara kepadaku bahwa Dia ingin membalut luka-luka batin yang selama ini aku alami. Aku merenungkan kembali dan ternyata aku mendapati di sana memang ada luka yang begitu mendalam dan telah berakar. Tuhan ingin aku memaafkan dan melupakan apa yang telah dilakukan oleh papa agar luka itu dapat diobati dan aku dapat menjadi sembuh. Aku menangis dan menyesali niat buruk yang selama ini telah disiapkan untuk membalas perbuatan papa. Aku menyembah Tuhan, meminta ampun, dan tenggelam dalam kasih dan pengampunan-Nya.

Aku telah mengambil komitmen untuk meminta maaf. Setiba di rumah aku langsung menghampiri papa dan berkata, "Papa, maafkan saya, karena selama ini saya telah membenci dan menaruh dentam atas semua perlakuan kasar yang telah perbuat terhadap saya." Saat itu Tuhan bekerja secara luar biasa. Dia menjamah hati papa dan memulihkan hubungan antara seorang ayah dengan anaknya. Sejak saat itu beliau berubah total. Dia mendukung setiap keputusan yang aku ambil, termasuk keputusan untuk menikah.

Kini di hatiku sudah tidak ada dendam lagi. Justru yang ingin aku lakukan adalah membahagiakan kedua orang-tuaku di usia mereka yang telah lanjut dengan apa yang terbaik. Kebahagiaanku telah Tuhan lengkapi dengan memberikan pendamping yang begitu mengasihi, baik kepadaku maupun kepada keluargaku. Pada diri suamiku aku menemukan pribadi yang takut akan Tuhan. Kebahagiaanku ditambah lagi dengan keberadaan seorang putera. Lengkaplah sudah kebahagiaanku.

Luka-luka batin bukannya tidak dapat disembuhkan. Itu hanya bisa disembuhkan di dalam Yesus Kristus. Jangan membiarkan diri kita untuk cepat terluka dan menyimpan setiap kejadian yang tidak menyenangkan di dalam hati. Anggaplah setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita sebagai ujian dari Tuhan agar karakter kita semakin serupa dengan karakter Kristus yang lemah lembut dan suka mengampuni. (Sumber: Majalah New Life, edisi 01/2006, terbitan CWS Jakarta)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI