Search This Blog

Loading...

Thursday, January 24, 2008

Saving Each Other's Life

Aku mencoba menjadi seorang ayah yang baik. Mengajak anak-anakku bermain-main. Bekerja lembur agar bisa membayari pulsa untuk sms mereka. Membawa mereka ke tempat foto dengan baju renang. Tetapi dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Dick Hoyt, aku kalah.

Delapan puluh lima kali ia telah mendorong anaknya yang lumpuh, Rick, di atas kursi roda masing-masing sejauh 26,2 mil dalam perlombaan marathon. Delapan kali ia tidak saja mendorong anaknya 26,2 mil di atas kursi rodanya tetapi juga menyeretnya sepanjang 2,4 mil dalam sebuah perahu karet sambil berenang dan memboncengkan anaknya di atas kursi yang diletakkan di atas stang sepeda sejauh 112 mil – semuanya dilakukan pada hari yang sama.

Dick juga telah menarik anaknya yang lumpuh itu dalam perlombaan ski cross country, kemudian menggendongnya mendaki gunung dan sekali melintasi Amerika Serikat dari Timur ke Barat naik sepeda. Hal-hal itu membuat kita yang mengajak anak kita main bowling menjadi tampak payah, ya?

Dan apakah yang telah Rick lakukan bagi ayahnya? Tidak banyak – hanya menyelamatkan jiwanya. Kisah kasih ini mulai di Winchester, Massachussets, 43 tahun lalu, ketika Rick terlilit tali ari selama persalinan, sehingga membuat otaknya rusak dan tidak dapat menggerak-gerakkan anggota badannya.

”Ia akan menjadi seperti sayuran sepanjang hidupnya,” kata Dick menirukan perkataan para dokter kepadanya dan isterinya, Judy, ketika Rick berumur sembilan bulan. ”Taruh saja dia di Lembaga Rehabilitasi Cacat.”

Namun keluarga Hoyt tidak menerima usul itu. Mereka perhatikan bahwa mata Rick selalu mengikuti mereka berkeliling ruangan. Ketika Rick berusia 11 tahun mereka membawanya ke Departemen Teknik di Universitas Tufts dan menanyakan kepada mereka apakah ada alat yang dapat dibuat agar anak itu dapat berkomunikasi. ”Tidak bisa,” kata mereka. ”Tidak ada apa-apa di otaknya.” ”Coba katakan lelucon,” kata Dick menantang. Mereka melawak. Rick tertawa. Itu membuktikan bahwa otak anak itu hidup.

Dilengkapi dengan sebuah komputer yang memungkinkan ia bisa mengendalikan kursor dengan menyentuh tombol di samping kepalanya, Rick akhirnya dapat berkomunikasi dengan orang-orang. Perkataan apa yang pertama kali ditulis oleh Rick? “Ayo, Bruins!” Orang-orang pada ketawa menanggapi selera humor Rick. Dan setelah seorang teman SMA lumpuh akibat suatu kecelakaan dan sekolah mengadakan perlombaan lari untuk mengumpulkan sumbangan baginya, Rick merengek, “Ayah, aku mau ikut lomba lari itu!”

Yah, betul juga. Bagaimana Dick, yang menyebut dirinya ”si lamban” yang tidak pernah lari lebih dari satu mil mau mendorong kursi roda anaknya sambil berlari lima mil? Meskipun demikian, ia mencoba. ”Akibatnya aku yang lumpuh,” kata Dick, ”aku kesakitan dan pegal-pegal selama dua minggu berikutnya.”

Hari itu mengubah hidup Rick. ”Ayah,” kata Rick dengan mengetik,”ketika kita berlari, rasanya aku bukan orang cacat lagi!” Dan perkataan itu mengubah hidup Dick. Ia menjadi terobsesi untuk selalu memberi Rick perasaan seperti itu sesering yang ia dapat lakukan. Ia melatih tubuh dan otot-ototnya sehingga ia dan Rick akan dapat siap menghadapi perlombaan marathon Boston pada tahun 1979.

“Tidak bisa,” kata para ofisial perlombaan itu. Pasangan Hoyt itu bukan pelari tunggal dan tidak ada pesaing yang juga menggunakan kursi roda. Selama beberapa tahun Dick dan Rick hanya ikut-ikutan lari saja, sampai mereka diterima secara resmi sebagai peserta marathon. Pada tahun 1983 mereka mengikuti perlombaan marathon lainnya begitu cepat sehingga mereka mendapatkan waktu yang memenuhi syarat untuk ikut marathon Boston pada tahun berikutnya.

Kemudian seseorang berkata, “Hei, Dick, kenapa tidak coba triatlon saja?” Bagaimana seseorang yang tidak pernah bisa berenang dan tidak pernah naik sepeda sejak usia 6 tahun akan menarik anaknya dengan berat 55 kg dalam sebuah perlombaan triatlon? Namun demikian, Dick mencoba juga.

Hingga kini mereka telah mengikuti 212 kali triatlon, termasuk empat kali mengikuti triatlon Ironmans yang berlangsung 15 jam di Hawaii. Pasti sangat berat sekali bagi seorang pemuda 25 tahun ditarik oleh orang tua yang berenang sambil menarik perahu karet yang dimuati anaknya, ya tidak?

Hei, Dick, kenapa tidak kamu berlomba sendirian saja? “Tak mau,” katanya. Dick melakukan itu semata-mata untuk ”perasaan luar biasa” yang ia peroleh ketika melihat Rick tersenyum selama mereka berlari, berenang dan naik sepeda bersama.

Tahun ini, pada usia 65 tahun dan 43 tahun, Dick dan Rick telah menyelesaikan perlombaan marathon Boston sebanyak 24 kali, menempatkan mereka di nomor urut 5083 dari 20.000 peserta. Waktu terbaik mereka? Dua jam empat puluh menit pada tahun 1992, hanya 35 menit di bawah rekor dunia marathon oleh seorang pemuda yang tidak perlu mendorong kursi roda orang lain. “Tidak salah lagi,” kata Rick dengan mengetik, ”Ayahku adalah Ayah Terhebat Di Abad ini.”

Dan Dick menemukan sesuatu yan lain dari semuanya ini. Dua tahun yang lalu ia terkena serangan jantung ringan selama ia mengikuti perlombaan. Para dokter menemukan bahwa salah satu pembuluh darahnya tersumbat 95%. ”Kalau anda tidak dalam kondisi prima,” salah satu dokter itu berkata, ”pastilah anda sudah meninggal 15 tahun lalu.” Jadi, dengan cara tertentu, Dick dan Rick saling menyelamatkan jiwa masing-masing.

Rick, yang sekarang memiliki apartemen sendiri (ia tinggal di sebuah rumah perawatan) bekerja di Boston. Dick, pensiunan militer tinggal di Holland, Massachusetts, selalu berusaha untuk selalu bersama. Mereka memberi ceramah di seluruh Amerika dan ikut perlombaan berat setiap akhir pekan, termasuk pada Hari Ayah tahun ini.

Pada malam itu Rick akan mentraktir makan malam, tetapi sesungguhnya yang dia inginkan adalah memberi kado yang tak dapat dibeli ayahnya. ”Suatu hal yang paling aku inginkan,” kata Rick dengan mengetik, ”adalah membiarkan ayah duduk di kursi roda dan saya mendorongnya sekali saja.” Saksikan saja aksi mereka dalam video berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE
Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian (http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

*****

I try to be a good father. Give my kids mulligans. Work nights to pay for their text messaging. Take them to swimsuit shoots. But compared with Dick Hoyt, I suck.

Eighty-five times he's pushed his disabled son, Rick, 26.2 miles in Marathons. Eight times he's not only pushed him 26.2 miles in a wheelchair but also towed him 2.4 miles in a dinghy while swimming and pedaled him 112 miles in a seat on the handlebars--all in the same day. Dick's also pulled him cross-country skiing, taken him on his back mountain climbing and once hauled him across the U.S. on a bike. Makes taking your son bowling look a little lame, right?

And what has Rick done for his father? Not much--except save his life. This love story began in Winchester, Mass., 43 years ago, when Rick was strangled by the umbilical cord during birth, leaving him brain-damaged and unable to control his limbs.

"He'll be a vegetable the rest of his life," Dick says doctors told him and his wife, Judy, when Rick was nine months old. "Put him in an institution." But the Hoyts weren't buying it. They noticed the way Rick's eyes followed them around the room.

When Rick was 11 they took him to the Engineering Department at Tufts University and asked if there was anything to help the boy communicate. "No way," Dick says he was told. "There's nothing going on in his brain." "Tell him a joke," Dick countered. They did. Rick laughed. Turns out a lot was going on in his brain. Rigged up with a computer that allowed him to control the cursor by touching a switch with the side of his head, Rick was finally able to communicate. First words? "Go Bruins!"

And after a high school classmate was paralyzed in an accident and the school organized a charity run for him, Rick pecked out, "Dad, I want to do that." Yeah, right. How was Dick, a self-described "porker" who never ran more than a mile at a time, going to push his son five miles? Still, he tried. "Then it was me who was handicapped," Dick says. "I was sore for two weeks."

That day changed Rick's life. "Dad," he typed, "when we were running, It felt like I wasn't disabled anymore!" And that sentence changed Dick's life. He became obsessed with giving Rick that feeling as often as he could.

He got into such hard-belly shape that he and Rick were ready to try the 1979 Boston Marathon. "No way," Dick was told by a race official. The Hoyts weren't quite a single runner, and they weren't quite a wheelchair competitor. For a few years Dick and Rick just joined the massive field and ran anyway, then they found a way to get into the race officially: In 1983 they ran another marathon so fast they made the qualifying time for Boston the following year.

Then somebody said, "Hey, Dick, why not a triathlon?" How's a guy who never learned to swim and hadn't ridden a bike since he was six going to haul his 110-pound kid through a triathlon? Still, Dick tried.

Now they've done 212 triathlons, including four grueling 15-hour Ironmans in Hawaii. It must be a buzzkill to be a 25-year-old stud getting passed by an old guy towing a grown man in a dinghy, don't you think?

Hey, Dick, why not see how you'd do on your own? "No way," he says. Dick does it purely for "the awesome feeling" he gets seeing Rick with A cantaloupe smile as they run, swim and ride together.

This year, at ages 65 and 43, Dick and Rick finished their 24th Boston Marathon, in 5,083rd place out of more than 20,000 starters. Their best time? Two hours, 40 minutes in 1992--only 35 minutes off the World Record, which, in case you don't keep track of these things, happens to be held by a guy who was not pushing another man in a wheelchair at the time.

"No question about it," Rick types. "My dad is the Father of the Century."
And Dick got something else out of all this too. Two years ago he had a mild heart attack during a race. Doctors found that one of his arteries was 95% clogged. "If you hadn't been in such great shape," one doctor told him, "you probably would've died 15 years ago." So, in a way, Dick and Rick saved each other's life.

Rick, who has his own apartment (he gets home care) and works in Boston, and Dick, retired from the military and living in Holland, Mass., always find ways to be together. They give speeches around the country and compete in some backbreaking race every weekend, including this Father's Day.

That night, Rick will buy his dad dinner, but the thing he really wants to give him is a gift he can never buy. "The thing I'd most like," Rick types, "is that my dad sit in the chair and I push him once."

And let's watch the video below....
http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI