Search This Blog

Loading...

Wednesday, July 1, 2009

A Difficult Choice?

(Indonesian Version is brought to you by Hadi Kristadi, attached below. Versi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Hadi Kristadi dan diletakkan di bawah naskah aslinya)

A Difficult Choice?
Many years ago in a small Indian village, a farmer had the misfortune of owing a large sum of money to a village moneylender. The Money lender, who was old and ugly, fancied the farmer's beautiful daughter. So he proposed a bargain. He said he would forgo the farmer's debt if he could marry his daughter. Both the farmer and his daughter were horrified by the proposal. So the cunning money-lender suggested that they let Providence decide the matter.

He told them that he would put a black pebble and a white pebble into an empty money bag. Then the girl would Have to pick one pebble from the bag.

1) If she picked the black pebble, she would become his wife and her father's debt would be forgiven.

2) If she picked the white pebble she need not marry him and her father's debt would still be forgiven.

3) But if she refused to pick a pebble, her father would be thrown into Jail.

They were standing on a pebble strewn path in the farmer's field. As they talked, the moneylender bent over to pick up two pebbles. As he picked them up, the sharp-eyed girl noticed that he had picked up two black pebbles and put them into the bag.

He then asked the girl to pick a pebble from the bag.

Now, imagine that you were standing in the field. What would you have Done if you were the girl? If you had to advise her, what would you Have told her?

Careful analysis would produce three possibilities:

1. The girl should refuse to take a pebble.

2. The girl should show that there were two black pebbles in the bag and expose the money-lender as a cheat.

3. The girl should pick a black pebble and sacrifice herself in order to save her father from his debt and imprisonment.

Take a moment to ponder over the story. The above story is used with the hope that it will make us appreciate the difference between lateral And logical thinking. The girl's dilemma cannot be solved with traditional logical thinking. Think of the consequences if she chooses.

The above logical answers.

What would you recommend to the girl to do?

Well, here is what she did ....

The girl put her hand into the moneybag and drew out a pebble. Without Looking at it, she fumbled and let it fall onto the pebble-strewn path where it immediately became lost among all the other pebbles.

"Oh, how clumsy of me," she said. "But never mind, if you look into the bag for the one that is left, you will be able to tell which pebble I picked."

Since the remaining pebble is black, it must be assumed that she had picked the white one. And since the money-lender dared not admit his dishonesty, the girl changed what seemed an impossible situation into an extremely advantageous one.

MORAL OF THE STORY:
Most complex problems do have a solution. It is only that we don't attempt to think.

*****

Pilihan yang Sulit?

Beberapa ratus tahun yang lalu di sebuah desa di India, ada seorang petani yang memiliki kemalangan karena meminjam uang yang banyak dari seorang peminjam uang. Sang peminjam uang itu adalah pria tua yang buruk rupa, menaksir anak gadis sang petani. Maka pria tua itu mengajukan usulan untuk kompromi. Dia berkata bahwa dia akan menghapuskan utang sang petani jika dia dapat menikahi gadis anak sang petani. Baik sang petani maupun anak gadisnya sangat ketakutan dengan usulan itu. Maka si peminjam uang yang licik itu mengusulkan agar Lurah di desa itu memutuskan perkara itu.

Dia berkata kepada mereka bahwa dia akan menaruh sebuah batu hitam dan sebuah batu putih ke dalam kantong uang uang kosong. Kemudian gadis itu harus mengambil satu batu dari kantong itu.

1) Jika gadis itu mengambil batu hitam, dia harus menjadi istrinya dan utang sang petani akan dihapuskan.

2) Jika dia mengambil batu putih dia tidak perlu menikahi peminjam uang dan utang ayahnya tetap dihapuskan.

3) Tetapi jika dia menolak mengambil sebuah batu, ayahnya harus dilemparkan ke penjara.

Mereka berdiri di jalan yang dipenuhi batu-batu di ladang sang petani. Ketika mereka berbicara, peminjam uang itu membungkuk untuk mengambil dua buah batu. Ketika dia mengambil batu itu, mata gadis yang tajam itu melihat bahwa pria licik itu mengambil dua batu hitam dan memasukkannya ke dalam kantong.

Kemudian pria tua itu menyuruh sang gadis mengambil sebuah batu dari dalam kantung.

Nah, bayangkan Anda sedang berdiri di ladang itu. Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda adalah gadis itu? Jika Anda harus memberi nasihat kepada gadis itu, apa yang akan Anda katakan kepadanya?

Analisis yang cermat akan memberikan tiga kemungkinan:

1.Gadis itu harus menolak mengambil batu, karena kedua batu itu berwarna hitam.

2.Gadis itu harus mengungkapkan bahwa ada dua batu hitam di dalam kantong itu dan buktikan bahwa si peminjam adalah tukang tipu.

3.Gadis itu harus mengambil sebuah batu hitam dan mengorbankan dirinya agar menyelamatkan ayahnya dari utang dan penjara.

Ambil waktu sejenak untuk merenungkan kisah itu. Cerita di atas dipakai dengan harapan bahwa kisah itu akan membuat kita menghargai perbedaan antara cara berpikir melompat dan cara berpikir logis. Dilema yang dihadapi gadis itu tak dapat diselesaikan dengan cara berpikir logis yang tradisional. Pikirkanlah konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapi gadis itu.

Itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang logis. Apa yang akan Anda sarankan kepada gadis itu?

Nah, inilah yang ternyata dilakukan gadis yang cerdik itu.

Gadis itu memasukkan tangannya ke dalam kantong uang dan mengambil sebuah batu di dalam kepalan tangannya. Tanpa melihat apa warnanya, gadis itu menggumam dan membuang batu itu jauh-jauh dan batu itu hilang diantara batu-batu di jalan itu.

“Oh, betapa bodohnya aku,” kata gadis itu. “Tetapi tak apa, jika Anda melihat ke dalam kantong itu dan menemukan batu yang tertinggal, Anda akan sanggup memberitahu saya apa warna batu yang saya telah ambil.”

Karena batu yang tertinggal berwarna hitam, maka harus dianggap bahwa gadis itu telah mengambil batu putih. Dan karena peminjam uang itu tak akan mungkin mengakui kelicikannya, maka gadis itu telah membalikkan keadaan yang semula merupakan situasi yang tak mungkin menjadi situasi yang menyelamatkan dirinya dan ayahnya.

Moral Cerita: Meskipun ada masalah-masalah yang rumit, tetapi selalu ada jawabannya. Masalahnya, seringkali kita belum mencoba berpikir dengan keras. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI