Search This Blog

Loading...

Friday, June 12, 2009

The Last Posting of a Blogger

Blog Almarhum Penderita Kanker 'Guncang' Dunia Maya
Santi Dwi Jayanti - detikinet

Jakarta - Terry Harper (45), eksekutif direktur dari Society of Proffesional Journalist (SPJ) yang berdiam di Indianapolis divonis kena kanker otak pada tahun 2007. Sejak itulah Harper memutuskan untuk mulai menulis.

Blogpun menjadi media curahan hatinya akan apa yang ia rasakan selama menderita penyakit mematikan tersebut. Air mata, canda tawa semua ia tulis di blog yang ia beri nama "Thumbing My Melon". Lewat blog tersebutlah semua orang bisa mengetahui perjuangan bapak 2 anak tersebut melawan kanker.

Akhirnya setelah dua tahun berperang melawan kanker, 2 Juni lalu ia harus menghadapi ajalnya. Nah, yang istimewa di sini, ternyata almarhum Terry sebelumnya sudah menyiapkan peninggalan untuk para kerabatnya dan lebih luas lagi untuk para peselancar dunia maya lewat blog yang ia miliki, yaitu berupa tulisan terakhirnya.

Dikutip detikINET dari Geek, Jumat (12/6/2009), tulisan yang ia buat pada Oktober 2008 itu akhirnya diposting sang istri, Lee Ann tepat di hari kematiannya. Di sana Terry mengungkapkan isi hati yang dialaminya dengan tutur bahasa yang menyentuh.

"The Final Thump", judul tulisan terakhir Terry ternyata menyedot perhatian di dunia maya. Ratusan komentar bertaburan di blog Terry hingga beberapa surat kabar memuatnya. Salah satu situs berita juga turut menampilkannya di kanal feature.

Tulisan Terry tak disangka telah berhasil menjadi inspirasi bagi siapapun yang masih hidup, terutama bagi para penderita kanker, seperti Terry Harper. Sumber: detik.com

*****
TULISAN TERAKHIR SEORANG PENDERITA KANKER: TERRY HARPER

Catatan dari Lee Ann, istri Terry Harper:
Terry meninggal hari ini, 2 Juni 2009, pada pukul 1.21 siang. Tulisan terakhir yang ditulis untuk blog-nya adalah sebagai berikut:

Jadi, inilah akhirnya. Aku bergulir ke dunia kekal. Jiwaku telah didorong ke dalam kekosongan yang dahsyat. Aku beristirahat. Aku telah membeli ladang baru. Aku meninggalkan yang lama. Aku telah check out. Aku telah melintasi Sungai Styx. Aku telah memperoleh sebuah kondo pohon pinus. Aku berhenti ada di dunia ini. Aku berkelana di ladang Elysian. Terbanglah aku. Check out. Tidur bersama ikan. Menari tarian terakhir. Menurunkan layar pertunjukan. Aku bergabung dengan paduan suara tak nampak. Aku telah membayar tiket ke dalam keabadian. Aku tertelan kegelapan. Aku punya sayap untuk terbang. Aku menjadi bagian sejarah. Aku sudah mati.

Aku mulai menyusun tulisan terakhir ini pada awal Oktober 2008. Penyakit kanker gliomaku sudah berkembang dari Stadium Tiga menjadi Stadium Empat selama 13 bulan terakhir ini sejak pertama kali diagnosa kanker itu diketahui. Mengenai sakit kanker yang aku derita ini, perkembangan sel-sel kanker merupakan istilah yang menakutkan.

Ketika penyakit kanker itu ditemukan di tubuhku sekitar bulan Agustus atau September, masalahnya bukan apakah hal itu akan membawa kematian, tetapi kapan aku mati dan bagaimana memanfaatkan sisa hidupku dengan sebaik-baiknya, entah itu akan terjadi dalam dua bulan atau dua tahun.

Aku tak pernah menganggap penyakit ini sebagai "karunia" atau menganggap bahwa aku sedang ada dalam suatu perjalanan khusus. Penyakit itu ya penyakit. Aku tidak tahu bagaimana penyakit ini datang ke otakku, sehingga aku tak mau membuang-buang waktu atau tenagaku mencari tahu seharusnya apa yang harus aku lakukan untuk menghindarinya. Upaya seperti itu hanya membuang waktu. Aku ingat salah seorang dokterku berkata pada awal penyakit ini ditemukan bahwa tak dapat ditentukan penyebab sakit ini terhadap 98% penderita tumor otak. Mungkin aku termasuk kelompok 2% yang tidak meneruskan pesan email berantai kepada delapan orang teman terdekatku.

Aku tak menyangkal bahwa ada masanya ketika aku merasa sangat down terhadap seluruh keadaanku. Duh, siapa sih yang mau mati di umur pertengahan 40-an? Aku tidak berharap. Dengan mempertimbangkan segala hal, aku lebih suka hidup bersama Lee Ann di sampingku seterusnya, melihat anak-anakku, Dale dan Jace tumbuh menjadi besar dan menjalani kehidupan mereka masing-masing… dan mudah-mudahan mereka dapat mengganti genteng yang bocor di rumahku pada suatu hari.

Aku tak tahu apa yang ada di seberang sana.

Aku tahu bahwa jika kasih dapat melintasi batas kehidupan, ruang dan waktu, aku yakin hal itu dapat membawaku dengan aman ke tujuanku berikutnya. Dan aku berharap bahwa aku telah berbuat cukup banyak untuk menolongku melewati jalan kematian ini sehingga pada suatu saat kita akan bertemu lagi.

Dan teristimewa untuk Lee Ann, Dale, dan Jace… kemanapun kalian pergi dan apapun yang kalian lakukan, berbahagialah dan ketahuilah bahwa kasih sayangku kepada kalian selalu menyertai kalian. Selamanya. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku jadinya tanpa kalian bertiga. Hidupku benar-benar luar biasa bersama kalian.

Selamat jalan . . .
(Sumber: Blog Terry Harper, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 12 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya dalam website atau blog anda. Terima kasih.

******

Terry Harper's Thumping My Melon:

Note from Lee Ann Harper:
Terry died today, June 2, 2009, at 1:21 p.m. His final blog post follows…

So this is it. I have shuffled loose the mortal coil. My soul has been hurled into the great void. I am taking the proverbial dirt nap. I bought the farm. I kicked the bucket. I have checked out. Crossed the River Styx. Bought a pine condo. Ceased to be. I am wandering the Elysian Fields. Gone belly up. Checked out. Cashed in. Sleeping with the fishes. Danced the last dance. Run down the curtain. I am pushing daisies. I have joined the choir invisible. I have paid Charon’s fare. I have succumbed. I have sprouted wings. I am history. I am dead.

I started composing this final message in early October 2008. My once-Grade III Anaplastic Astrocytoma with features of a Grade IV Glioblastoma Multiforme had morphed into a recurrent malignant glioma within 13 months of my initial diagnosis. Where brain tumors are concerned, the word “progression” is the most unkind word of all.

When that became clear in late August and early September, I knew that it was not really a matter of if I was going to die, but when and how to make the absolute best use of the time remaining, whether that was two months or two years.

I never viewed this disease as a “gift” or that I was on some kind of “journey.” It just was. There was no way of knowing how this thing appeared in my brain so I tried not to waste any time or energy wondering what I should have or could have done differently. That would have been an exercise in futility. I think I recall one of my doctors telling me early on that there was no way to determine the cause of 98 percent of primary brain tumors. I was probably in the other two percent that didn’t forward one of those damn chain E-mails to my eight closest friends.

I can’t deny there were times when I felt down about the whole situation. Hell, who wants to die in their mid-40s? Not me. All things considered, I would rather just be going about my life with Lee Ann at my side, watching Dale and Jace grow up and live their lives…and hopefully getting our tile roof replaced one day.

I have no idea what lies beyond.

I do know that if love transcends the boundaries of life and space and time, I have amassed more than enough to carry me safely to my next destination. And I hope that I have left enough behind to help light a path so that we may one day meet again.

And especially to Lee Ann, Dale and Jace…wherever you go and whatever you do, be happy and know that my love will always be with you. Forever. I cannot imagine what my life would have been like without the three of you in it. It was a great ride.

So long for now…
Love,
Terry

Assistant Editor's Note:
Mrs. Melonthump would like you all to participate in events planned to remember and celebrate Terry. Thank you.

Terry's Remembrance:
Saturday, June 6, 8 pm
At the Country House of Sara and John Trittipo
Near Eminence, IN (45 minutes from Indpls)
Map to location (link here)
Please bring chairs for lakeside event and bonfire
Casual attire. Light refreshments.

Terry's Party:
Sunday, June 7, 7 pm
Woodruff Place Town Hall
East Drive, Woodruff Place
(between E. 10th and Michigan Streets)
Casual attire; black clothing discouraged.
Terry's favorite things: including munchies, karaoke and Maker's Mark.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI