Search This Blog

Loading...

Thursday, July 10, 2008

A Stillborn Baby Raised

Bayi Mati Keguguran Dibangkitkan
Namaku Abby. Aku berumur 14. Aku tinggal di bagian barat North Carolina. Selama musim panas 2008, aku pergi pelayanan bersama-sama rekan lain ke Guatemala. Selama pelayanan itu, kami dibagi menjadi dua kelompok pelayanan yang terdiri dari 5 – 7 orang dan melayani desa-desa yang berbeda di San Pedro di daerah La Laguna. Kami bepergian dari desa ke desa untuk menceritakan kepada orang-orang Indian tentang Tuhan Yesus.

Pada suatu hari kami sedang mengunjungi rumah seorang wanita muda. Ia tinggal di desa kecil yang terdiri dari sekitar 14 atau 15 rumah. Kami mencoba membimbing wanita muda itu untuk menerima Kristus, namun nampaknya hal itu tidak berhasil. Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk meneruskan ke rumah yang lain. Sebelum meninggalkannya, kami menanyakan apakah wanita ini ingin didoakan sesuatu dalam kehidupannya. Ia memberitahu kami bahwa tepat sehari sebelumnya, ia telah melahirkan bayi yang mati di dalam kandungan dan ia mempersilakan kami untuk mendoakan hal itu.

Di dalam budaya Guatemala adalah suatu hal yang sangat memalukan dan terkutuk bagi ibu-ibu yang melahirkan anak cacat atau anak keguguran. Kami berdoa dengan sederhana agar segalanya akan berjalan baik dalam pemakaman bayi itu dan agar ibunya dilepaskan dari rasa malu dan terkutuk karena melahirkan bayi yang mati keguguran.

Ketika kami berdoa seperti itu, teman pelayananku, Julia (17 tahun), memberitahuku bahwa kami perlu berdoa di depan jenazah bayi itu. Aku pikir ia aneh sekali menganjurkan hal ini dan menurutku itu bukanlah gagasan yang bagus. Namun Julia berkeras akan usulnya. Ia mengatakan sekali lagi agar kami sungguh-sungguh perlu berdoa di depan jenazah bayi itu.

Julia memberitahuku agar menanyakan kepada ibu muda itu apakah ia masih menyimpan jenazah bayi itu. Setelah ditanyakan, ibu muda itu menjelaskan bahwa jenazah bayi itu masih dibungkus dengan kain di ruang belakang. Aku tanyakan kepadanya apakah kami boleh berdoa di depan jenazah bayi itu. Dengan enggan ibu itu mengatakan “ya”. Kami pergi ke ruang belakang dan melihat jenazah bayi itu terbungkus kain di atas tempat tidur. Julia melongokkan kepalanya dari ruang belakang dan bertanya kepada ibu muda itu apakah Julia dapat membuka bungkusan agar kepala bayinya terlihat. Ibunya kembali berkata “ya” asalkan kami membungkus jenasah bayi itu kembali.

Kepala bayi itu kecil dan pucat. Bayi itu mati keguguran dan telah mati di luar kandungan selama 27 jam. Kulit bayi itu pucat dan kebiruan. Seluruh anggota tim pelayanan kami, berlima, mulai menangis dan berdoa atas bayi itu. Kami berdoa selama 30 sampai 40 menit. Pada akhirnya Julia berteriak kepada Tuhan, mengingatkan Dia bahwa ia percaya dengan segenap hatinya bahwa bayi ini akan dibangkitkan dari kematiannya. Setelah Julia berteriak, kami semua terdiam. Kami dengan pelan berdoa dan bersyafaat. Dalam beberapa menit bayi itu mulai bergerak. Kemudian bayi itu batuk dan mulai menangis. Ibu muda itu datang bergegas masuk ke ruangan itu. Ia berteriak, “Apa yang terjadi?” Tak seorangpun dari kami yang mampu menjawabnya. Kami hanya memandangi bayi itu, yang bangkit ke dalam kehidupan.

Ibu muda itu kembali bertanya, “Apa yang terjadi?” Ia mulai menangis ketika ia melihat bayinya hidup. Ia keluar dari rumah itu dan mengetuk setiap pintu di desa itu, sambil menceritakan bahwa Tuhan itu nyata karena bayinya hidup. Dalam waktu sekitar 30 menit, warna kulit bayi itu dan gerakan-gerakannya menjadi normal sama sekali. Para penduduk desa itu berdatangan ke rumah itu untuk melihat mukjizat yang mengagumkan itu. Mereka bertanya kepada kami dewa Indian mana yang kami sembah agar mukjizat semacam itu terjadi. Kami menceritakan kepada mereka bahwa kami berdoa kepada Allah yang terbesar dan kami mulai menjelaskan tentang Tuhan Yesus. Segera kami menyadari bahwa kami tidak mungkin melayani keselamatan ini kepada setiap orang satu per satu. Maka kami mengumpulkan semua penduduk bersama-sama, menyalakan sound system yang kami bawa dan menjelaskan jalan keselamatan di dalam Kristus.

Setiap orang di desa itu, sekitar 80 – 90 orang, berdoa menerima Tuhan Yesus. Setiap orang dibaptis Roh Kudus dan mulai berbahasa lidah. Banyak orang rebah ke tanah ketika jamahan Roh Kudus melawat mereka.

Lima hari kemudian kami kembali ke desa itu untuk mengunjungi ibu muda dan bayinya. Desa itu ternyata menyiapkan makan malam yang meriah menyambut team pelayanan kami. Kami menikmati persekutuan yang indah bersama. Bahkan setelah lima hari itu, ibu itu masih saja tergetar oleh dampak yang dari Tuhan atas kehidupannya melalui kebangkitan bayinya. Dua hari setelah kunjungan tindak lanjut kami sebelumnya, ibu muda itu membawa bayinya yang diberi nama Julia ke gereja. Sampai saat ini sang ibu muda masih tergetar oleh kuasa Allah atas hidupnya setelah mukjizat Tuhan yang mengagumkan ini. (Abby – kiriman ibu Suharti Ali - diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

*****

My name is Abby. I am 14 years old. I live in western North Carolina. During the summer of 2008, I went on a ministry trip to Guatemala. During part of the trip, we divided up into small ministry teams (5 to 7 people) and visited different villages in the San Pedro La Laguna area. We traveled from village to village telling the Indian people about Jesus.

On one particular day, we were visiting in the home of young woman. She lived in a small village of about 14 or 15 houses. We were trying to lead the young lady to Christ, but it was not going very well. After awhile, we decided to move on. Before leaving, we asked the woman if we could pray with her about anything in her life. She told us that just the day before, she had given birth to a stillborn baby and that we could pray with her about that.

In Guatemalan culture there is great shame and condemnation on mothers who give birth to deformed or stillborn children. We prayed a simple prayer that everything would go well with the funeral and burial of the baby and that the mother would be spared the shame and condemnation associated with having given birth to a stillborn child. As we were praying this simple prayer, my friend and fellow ministry team member, Julia (age 17), told me that we needed to pray over the baby's body. I thought she was crazy to suggest this and that it was not a good idea. Julia was persistent. She said again that we really needed to pray over the baby's body.

She told me to ask the mother if she still had the baby's body. When I asked, the mother told us the baby's body was wrapped up in a burial cloth in the backroom. I asked her if we could pray over the body. The mother hesitantly said, yes. We went into the backroom and saw the baby's body wrapped up in a bundle on the bed. Julia poked her head out of the back room and asked if she could unwrap the baby's head. The mother said, yes, if we wrapped it back correctly when we were done. Julia picked up the body and unwrapped the head. The baby's head was tiny and pale. The baby was stillborn and had been dead outside the womb for 27 hours. Her skin had turned shades of purple. Our entire ministry team, five of us, began crying and praying over this baby. We prayed for thirty to forty minutes. At the end of that time, Julia screamed out to God, telling Him that she believed with all of her heart that this baby could be raised from the dead. After Julia screamed out, everyone was silent. We were quietly interceding and praying. Within a few minutes, the baby started moving. Then the baby coughed and began crying. The mother came rushing into the room. She was screaming, “What is going?” No one could answer her. We were just staring at the baby, who had come back to life.

The mother asked us again, “What is going on?” She began crying as she saw that her baby was alive. She ran out of the house and banged on every door in the village, telling all of the people that God is real because her baby was alive. Within about thirty minutes, the baby's skin tone and movements had become completely normal. The other villagers came to the house to see this amazing miracle. They asked us which of the Indian gods we had prayed to for such a miracle to happen. We told them we had prayed to the biggest God ever and we began to explain to them about Jesus. Soon, we realized we would not have time to minister salvation to each person individually. So, we gathered all the villagers together, turned on our little sound system and explained the way of salvation.

Everyone in the village, 80 to 90 people, prayed to receive Jesus. Each of them was baptized in the Holy Spirit and began speaking in tongues. Many would fall to the ground as the power of the Holy Spirit came on them. Five days later, we returned to the village to check in on the mother and the baby. The village had prepared a big dinner in honor of our team. We enjoyed a wonderful time of fellowship together. The baby, whom they named Julia, was perfectly healthy and had gained weight. Even after five days, the mother was still shaking from the impact of God on her life through the resurrection of her child. Two days after our follow-up visit, the mother brought baby Julia to church. The mother was still shaking from the power of God on her life following this astounding miracle. (Abby)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI