Search This Blog

Loading...

Thursday, April 17, 2008

Life Squad

Selasa petang yang lalu saya menyaksikan tayangan Life Squad di Family Channel yang menarik, sebagai bagian dari acara Solusi Life dari CBN Indonesia. Acara reality show yang baru pertama kali ditayangkan itu dipandu oleh Jesse Lantang, mantan pemain sinetron dan seorang hamba Tuhan. Jesse sebagai komandan Life Squad menantang tiga kelompok anak-anak muda dari berbagai kampus dan profesi untuk menolong mengubah kehidupan sang Target. Saksikan dalam tayangan Solusi Life jam 19.30 Senin-Jumat, apa yang akan dilakukan Life Squad terhadap Target masing-masing!

Target yang akan ditolong itu ada tiga keluarga:

Target Pertama:
Pak Mangandar dan Ibu Marida Simanjuntak merintis usaha tambal ban sejak tahun 90-an awal. Awalnya Pak Mangandar bekerja sebagai karyawan di sebuah bengkel kecil milik temannya. Selama beberapa tahun bekerja di bengkel, Pak Mangandar mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan juga meminta pinjaman dari pemilik bengkel untuk memulai usaha tambal ban sendiri.

Pak Mangandar akhirnya membuka usaha tersebut di pinggir jalan Cacing (cakung-cilincing). Usaha ini awalnya berawal baik karena posisi (letak) bengkelnya di sisi jalan yang tepat. Namun karena penggusuran, Pak Mangandar harus memindahkan bengkel (gubuk) tambal bannya itu ke seberang jalan yang kurang strategis. Namun di sisi jalan yang sekarang pun, Pak Simanjuntak tetap tidak luput dari rasa khawatir dari penggusuran. Suatu saat penggusuran dapat terjadi lagi. Bahkan dalam waktu dekat, sangat besar kemungkinan gubuknya beserta ratusan gubuk tambal ban lainnya di sepanjang jalur Cacing akan kena penggusuran karena akan dibuatnya jalur Busway.

Selain ketakutan akan penggusuran, Pak Mangandar juga ada ketakutan akan rampok (maling) gubuk. Dia harus menjaga gubuknya selama 24 jam 7 hari seminggu. Tanpa pengawasan, gubuknya bisa saja dimalingin orang, seperti yang pernah terjadi padanya pada tahun 1997, di mana ketika dia pergi sebentar untuk mengurus isterinya yang baru melahirkan anak kedua mereka, seluruh gubuknya telah lenyap diambil orang. Peristiwa ini merupakan kejadian yang sangat menyedihkan dan cukup berbekas di hati mereka. Jika mengingat kejadian tersebut, masih terkenang kemarahan di wajahnya.

Kondisi Sekarang Ini:
Pak Mangandar dan isteri memiliki 3 orang anak : Ayu (Kelas VI), Betty (Kelas V) dan Joy (3,5 tahun). Ayu dan Betty adalah murid SD Tugu (Yayasan GPIB) dan mereka adalah anak asuh Obor Berkat Indonesia. Biaya sekolah, seragam dan alat tulis mereka ditanggung oleh OBI.

Gubuk tambal ban adalah tempat tinggal mereka semua (bapak-ibu-3 anak). Gubuk itu tidak memiliki listrik dan sumber air untuk mandi, cuci dan kakus. Sebelumnya mereka menggunakan sumber air dari tanah kosong milik sebuah perusahaan yang terletak di samping gubuk mereka, namun per hari Kamis (20/09/07), tanah tersebut ditutup sehingga mereka tidak dapat lagi menggunakan air keran di tanah tersebut.

Karena tidak ada sumber listrik, anak-anaknya harus belajar dan mengerjakan PR sebelum hari gelap. Namun mereka adalah anak-anak yang rajin belajar di tengah-tengah segala keterbatasan fasilitas. Dalam kondisi tidak mandi dan tidak sikat gigi, mereka tetap ceria berangkat ke sekolah.

***

Target Kedua:
Oma Emy lahir di kota Makasar pada tahun 1941. Papanya adalah seorang tentara Belanda (KNIL), sehingga mereka sering berpindah-pindah kota. Dia memiliki 9 saudara perempuan dan 3 saudara lelaki. Tahun 1951 mereka sekeluarga pindah ke Jawa tepatnya di kota Sukabumi. Namun tidak tinggal begitu lama di kota tersebut. Karena Papanya pensiun, mereka pindah ke Cimahi.

Menikah, Namun Ditinggalkan Suami:
Di kota inilah Oma Emy bertemu dengan seorang pria Sangir yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka menikah di Jakarta sebab pria tersebut tinggal di Jakarta. Suaminya merupakan seorang tentara, sama seperti Papanya. Saat itu, bisa dikatakan bahwa hidup Oma Emy serba berkecukupan dan bahagia. Sebagai seorang tentara angkatan laut, suami Oma Emy sering berlayar. Ternyata Oma Emy harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya bertemu dengan wanita lain saat sedang berlayar dan pergi meninggalkan dia bersama ketujuh anaknya yang masih kecil-kecil pada tahun 1972.

Perjuangan Sebagai Single Parent:
Pada tahun 1987, salah seorang anaknya meninggal karena sakit. Kehidupan Jakarta yang begitu keras dengan 6 orang anak yang harus dirawat bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani seorang Oma Emy. Dia hanya bisa berserah pada Tuhan. Apa saja dilakukan olehnya, dari berjualan ke pasar, membuat dan menjual kue dilakukan oleh Oma Emy demi menghidupi anak-anaknya. Puji Tuhan, meskipun mereka hidup miskin, namun semua anak-anaknya mengecap jenjang pendidikan sampai SMEA. Mereka mendapat sponsor dari Texas, America untuk biaya pendidikan.

Diusir Dari Rumah Peninggalan Papanya:
Dulunya mereka tinggal di sebuah rumah yang masih layak, merupakan peninggalan dari Papa Oma Emy. Namun sewaktu Papanya meninggal, saudara-saudara lelakinya menuntut agar rumah tersebut dijual. Sebenarnya mereka sempat bertahan, namun akhirnya menyerah sebab adik-adik lelakinya melempari rumah bahkan memukuli saudara-saudara perempuan dalam keluarga tersebut ketika rumah tersebut belum dijual. Pada tahun 1992 rumah tersebut terjual dan Oma Emy hanya diberi uang sebesar 1 juta rupiah. Dia membawa anak-anaknya pindah ke daerah Kalibaru. Mereka mengontrak sebuah rumah di sana dan dibiayai oleh salah seorang anaknya yang menjadi tulang punggung keluarga mereka saat itu, bernama Aris.

Aris, Tulang Punggung Keluarga Mengalami Kecelakaan:
Aris bekerja sebagai kuli angkat di Pelabuhan. Meskipun hanya sebagai kuli, dia mampu menghidupi keluarga. Namun, pada tahun 2000 Aris menikah sehingga Oma Emy tidak bisa tinggal lagi bersama mereka. Sejak saat itulah Oma Emy tinggal di pemukiman kumuh bersama seorang anak lelakinya yang menderita penyakit polio. Pada 13Februari 2002, musibah terjadi. Aris mengalami kecelakaan saat bekerja. Aris jatuh dari kapal dengan ketinggian 20 meter saat sedang mengangkat barang. Akibat kejadian tersebut, ada saraf pada pinggulnya yang mati dan mengakibatkan tubuh bagian pinggang ke bawah menjadi mati rasa. Penderitaan Aris ditambah lagi dengan kepergian istrinya meninggalkan seorang anaknya yang masih sangat kecil. Sejak kejadian tersebut, otomatis Aris tidak bisa lagi bekerja sehingga Oma Emy membawa mereka tinggal di rumahnya dan mengurus Aris dan anaknya yang masih bayi. Selama seminggu Aris berteriak-teriak kesakitan di rumah. Oma Emy tidak membawanya ke RS karena dia tidak mempunyai uang sama sekali. Hanya Tuhanlah tempatnya mengadu.

Dibebaskan Dari Semua Biaya RS:
Ternyata Tuhan menjawab doanya. Ada seseorang yang dengan baik hati memberikan uang 50 ribu dan langsung digunakan oleh Oma Emy sebagai ongkos Taksi untuk membawa Aris ke RS Cipto. Saat itu dia tidak memikirkan biaya pengobatan di RS. Dia percaya bahwa Tuhan pasti bukakan jalan. Selama 3 bulan Aris dirawat di RS Cipto. RS Cipto berdekatan dengan Gereja Tiberias Menteng Prada, sehingga setiap minggu Oma Emy mengikuti Ibadah dan mengambil anggur perjamuan dan minyak urapan untuk Aris. Oma Emy senantiasa berdoa pada Tuhan agar Aris diberi kesembuhan, umur yang panjang serta pertolongan bagi mereka dalam pembayaran biaya RS. Aris menjalani operasi pada kakinya yang meghabiskan biaya sekitar 15 juta. Kalau dipikir dengan akal sehat, Oma Emy tidak akan sanggup membayar biaya tersebut, namun Tuhan sangat baik sehingga RS membebaskan Oma Emy dari semua biaya. Aris diperbolehkan pulang ke rumah tanpa membayar biaya sepeserpun. Mereka tidak mengerti apakah ada orang yang berbaik hati untuk membayar, namun mereka percaya bahwa itu semua adalah campur tangan Tuhan. Bahkan mereka pulang ke rumah diantarkan Ambulance tanpa harus membayar (saat itu biaya ambulance adalah sekitar 25 ribu rupiah). Sekarang, Aris hanya bisa duduk dan tidur seharian di tempat tidurnya selama 6 tahun. Karena bagian tubuh pinggang ke bawah sudah mati rasa, Aris harus senantiasa memakai kateter sebab Aris tidak dapat merasakan apabila dia mau buang air kecil ataupun buang air besar. Aris tidak marah pada Tuhan dengan segala kondisi hidupnya. Baginya ini adalah cara Tuhan untuk membawanya kembali pada Tuhan setelah sekian lama dia meninggalkan Tuhan dan hidup dalam keduniawian.

Hidup Di Rumah Kumuh Yang Sangat Tidak Layak:
Saat ini Oma Emy menumpang di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah yang berada di rawa-rawa tersebut hanya terdiri dari satu ruangan saja. Di rumah yang kecil dan tidak layak tersebut, Oma bersama 2 anak dan 3 cucunya menjalani aktifitas mereka sehari-hari, bekerja, memasak, makan, tidur, dll. Setiap hari sepanjang tahun, rumah tersebut digenangi oleh air sekitar sejengkal tangan. Jika sedang tidak hujan, air di rumah Oma akan mencapai sejengkal. Namun jika hujan, akan mencapai lutut. Bahkan saat banjir 5 tahunan, mencapai leher orang dewasa. Banyak sekali nyamuk beterbangan baik siang maupun malam. Puji Tuhan mereka masih baik-baik saja sampai saat ini karena sebenarnya lingkungan tersebut sangat rawan akan penyakit. Ada tiga buah tempat tidur kayu di setiap pojok ruangan. Oma tidur bersama cucunya yang bernama Fernando (Cucu dari anak pertama, kelas 5 SD). Aris tidur bersama anak perempuannya yang sekarang sudah kelas 5 SD juga. Demikian juga dengan Nelson, tidur bersama anak laki-lakinya yang bernama Nike.

Oma Bekerja Sebagai Pemulung:
Untuk kehidupan sehari-hari, Oma bekerja sebagai pemulung. Setiap hari Oma berangkat pukul 6 pagi dan selesai memulung kira-kira pukul 12 siang. Hasil pulungan itu dijual, lalu uangnya dipakai membeli beras untuk makanan mereka hari itu. Uang yang dikumpulkan oleh Oma dan Nelson sehari-hari adalah sekitar 15-20 ribu. Oma juga memulung sayuran, cabai dan bawang dari sampah Carefour untuk dimasak di rumah. Untungnya meski makan dari sampah, mereka sehat-sehat saja sampai sekarang.

Air Bersih dan Listrik:
Air bersih yang mereka gunakan sehari-hari berasal dari tetangga, yang mereka beli seharga 7 ribu per drum. Mereka mengirit penggunaannya hanya untuk memasak dan diminum. Untuk mandi, mereka menggunakan air sumur yang disaring. Listrik yang mereka gunakan juga dipinjam dari tetangga dan mereka harus membayar 40 ribu setiap bulannya.

Nelson, Meski Cacat Tetap Optimis:
Untungnya, Nelson dengan keterbatasan kakinya yang cacat, tidak menyerah pada kenyataan. Ketrampilan menjahit yang pernah diperolehnya di lembaga pelatihan Depnaker digunakannya untuk membuat celana, baju dan keterampilan lainnya seperti tas, dll. Oma memiliki sebuah mesin jahit tua dan sebuah gereja pernah memberikan sebuah mesin obras ketika mereka meminta Nelson untuk membuat beberapa seragam anak-anak TK. Dengan modal mesin jahit tua dan mesin obras inilah Nelson berkreasi dan menghasilkan sedikit uang untuk biaya kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya dijual pada masyarakat sekitar dan dijual door to door. Sebuah celana anak-anak dijual seharga 15 ribu rupiah. Namun ada juga hari-hari dimana mereka tidak mendapat uang samasekali. Nelson cacat karena mengalami polio saat duduk di bangku kelas 3 SD, yang menyebabkan salah satu kakinya tidak bertumbuh.

Bagi Nelson, tentu saja dia pernah kecewa dengan Tuhan. Kehidupan mewah di rumah gedung di daerah Matraman masih senantiasa terbayang di benaknya. Baru 2 tahun belakangan ini dia kembali pada Tuhan dan kembali rajin beribadah. Dulunya Nelson tidak percaya pada Tuhan sebab menurutnya Tuhan tidak peduli pada kehidupan keluarganya yang sangat memprihatinkan. Untungnya Nelson sempat mengecap bangku SMEA dan mengikuti pelatihan di BLK (Balai Latihan Kerja) dari Depnaker. Keterampilan menjahit dan memasak itulah yang menjadi modalnya untuk bertahan hidup. Saat ini, ketrampilan menjahit itulah yang digunakannya untuk membuat celana, baju dan tas dari bahan bekas yang dipulung dari pembuangan sampah sebuah pabrik kain di daerah Tanjung Priuk. Masa paling sakit dalam kehidupannya adalah saat dia menjadi pemulung di KBN. Nelson kerap mendapat cemooha dan hinaan dari orang-orang. Setiap hari mengorek-ngorek sampah agar mendapatkan sesuatu yang bisa dijual. Istrinya meninggalkannya segera setelah dia melahirkan anaknya yang saat itu berbobot hanya 1 kg saja. Sampai saat ini, dia tidak tahu istrinya ada di mana.

Nelson juga pintar memasak, bertukang kayu dan batu. Terkadang, ada juga tetangga yang memanggilnya untuk membuat WC atau membangun rumah. Sebelumnya Nelson sempat bekerja di katering cukup lama. Namun karena pemiliknya suka bermain togel, dia bangkrut sehingga Nelson pun kehilangan pekerjaan.

Oma Emy Tetap Mengucap Syukur Kepada Tuhan:
Terkadang Oma Emy kecewa pada Tuhan dan bertanya pada Tuhan mengapa hidupnya selalu penuh dengan penyakit dan kemiskinan. Namun, Oma senantiasa sadar bahwa ada maksud Tuhan untuk setiap kejadian di dalam hidupnya, sehingga dia pun kembali mampu untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya dan keluarganya. Semakin Oma mempelajari Firman Tuhan, semakin dia tahu bahwa Tuhan penuh kasih dan setia. Oma rajin doa puasa dan juga beribadah. Dalam keadaan serba kekurangan dan menyedihkan, mereka selalu memberi waktu untuk beribadah kepada Tuhan. Bahkan Aris yang lumpuh senantiasa dijemput dan digendong oleh pengerja gereja agar dapat beribadah setiap minggunya. Bahkan mereka ikut KKR setiap Kamis di gereja.

Oma Pernah Bercita-cita Menjadi Pilot:
Dulu sewaktu masih kecil, Mama dari Oma Emy selalu berkata, "You have to be a Pilot." Itu sebabnya jika ditanyakan soal cita-cita, Oma selalu berkata, "I want to be a Pilot." Tapi nasib berkata lain sebab setelah Papanya pensiun, Oma tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Dulunya Oma sekolah di Regina Pacis, Bogor. Itu sebabnya Oma cukup fasih berbahasa Inggris, sebab bahasa Inggris adalah bahasa pengantar di sekolah.

Saat Paling Sedih Dalam Hidup Oma:
Saat paling sedih dalam kehidupan Oma adalah pada saat salah seorang anaknya meninggal karena TBC. Yang paling membuat Oma sedih adalah karena dia tidak mampu berbuat apa-apa sebab tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan sampai anaknya harus meninggal. Demikian juga saat salah satu cucunya dari anak pertama yang tinggal bersamanya menderita kanker kulit, dia tidak dapat berbuat apa-apa sehingga cucunya tersebut juga meninggal. Jangankan untuk ke RS, makan saja mereka kesusahan.

Saat Terindah Dalam Hidup Oma:
Saat terindah dalam kehidupan Oma adalah saat dia masih hidup bersama suaminya. Suaminya yang bekerja sebagai seorang tentara dan sering berlayar bahkan sampai ke luar negeri memiliki penghasilan yang cukup sehingga mereka bisa hidup mewah. Mereka bahkan sempat merasakan naik mobil mewah jika bepergian. Meskipun anak-anaknya masih kecil-kecil pada saat itu, namun mereka masih ingat kenangan hidup serba berkecukupan itu. Suami Oma baru meninggal pada tahun 2007. Suami Oma masih beberapa kali berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Oma Hanya Pernah Liburan Sekali Seumur Hidup:
Semenjak ditinggal oleh suaminya, baru sekali Oma memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan. Oma mendapat kesempatan jalan-jalan gratis ke Ciater dari gereja.

Tetap Optimis Menjalani Hidup:
Oma, Nelson dan Aris tetap optimis dalam menjalani hidup. Harapan mereka adalah agar cucu-cucu Oma menjadi orang yang sukses nantinya. Seperti Fernando yang suka pelajaran matematika. Mereka sungguh yakin akan pemeliharaan Tuhan, terbukti dengan uluran tangan dari orang-orang yang senantiasa ada seperti sumbangan rice cooker dan kompor gas yang sangat bermanfaat bagi mereka. Ibu Amir adalah seorang yang cukup berjasa dalam kehidupan Oma. Tahun 2007, Fernando harus dirawat di RS karena sakit hepatitis B. Ibu Amirlah yang dengan baik hati membayar semua biaya RS. Anak-anak Oma yang lain datang beberapa kali untuk memberi beras atau uang. Namun tidak seberapa sebab mereka juga hidup pas-pasan meski tidak seprihatin Oma.

Oma rajin merawat tanaman di depan rumah dan nantinya dijual seharga 5-15 ribu. Lumayan untuk menambah pemasukan sehari-hari. Ada kabar santer bahwa pertengahan tahun ini, lingkungan rumah Oma akan digusur untuk pembangunan jalan tol. Harapan Oma adalah agar mereka bisa hidup layak dan tidak harus menumpang di rumah orang lain serta tidak perlu mengorek-ngorek sampah untuk makan.

***

Target Ketiga:
Ibu Laura dan Keluarga. Tinggal di atas rawa serta menjadi seorang ibu dari tiga orang anak sekaligus ditambah lagi dirinya yang menjadi tulang punggung keluarga, bukanlah sebuah pilihan dari hidup yang ingin dijalaninya. Namun apa daya, semenjak suaminya yang sudah tua tidak diterima lagi bekerja sebagai supir taksi, Ibu Laura harus mengambil alih tanggung jawab sebagai pencari nafkah keluarga.

Ibu Laura yang saat ini berusia 39 tahun bekerja sebagai pedagang pakaian kredit keliling. Sehari-hari dia berkeliling dengan sepeda tuanya untuk menawarkan pakaian dan menagih kredit dari pintu ke pintu. Dengan tidak mengenal lelah Ibu Laura mengutip kredit pakaian yang hanya bernilai seribu rupiah per harinya. Bagi kita mungkin tampak tidak berarti, namun baginya jika pelanggan dengan setia membayarkan kredit, itu adalah kehidupan bagi keluarganya. Maksimal pedapatannya perhari adalah 30 ribu rupiah, namun tidak jarang dia tidak membawa pulang uang sama sekali akibat kredit macet dari para pelanggannya.

Masa-masa terberat adalah saat awal ketika suaminya sudah tidak bekerja lagi.Terkadang mereka harus makan tanpa lauk. Sangat lekat di pikirannya pada saat dia hanya memiliki uang 500 rupiah. Suaminya tidak ada di rumah, sedangkan dia dan anak-anaknya sudah kelaparan. Dia membeli sebutir telur, mendadarnya, lalu dibagikan kepada ketiga orang anaknya. Hanya nasi, sebutir telur dan garam untuk mereka berempat.

Kondisi perekonomian keluarga yang serba kekurangan tidak menyurutkan usahanya untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi ketiga buah hatinya.

Si sulung Laura, saat ini sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Tampak ketegaran di wajahnya. Dalam senyumannya, terlihat suatu rasa pahit yang tidak mampu ia sembunyikan. Namun dari cara ia bertutur, jelas sekali bahwa ia menjadi dewasa sebelum waktunya akibat tuntutan hidup. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter kelak. Walau tahu benar kondisi keluarganya seakan mustahil mencapai mimpi itu, namun ia tetap percaya bahwa Tuhan akan membukakan jalan bagi cita-citanya, asalkan ia tetap rajin belajar. Dia tidak minder atas kondisi keluarganya.

Sedangkan Elisabet yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD, tampak lebih rapuh. Meski raut wajahnya lebih ceria, ternyata dia sangat sensitif. Dia mengerti benar kondisi keluarganya. Elisabet tidak banyak menuntut dan patuh pada kedua orang tuanya.

Si bungsu Valentino saat ini masih berusia tiga tahun. Kekhawatiran muncul di wajah Ibu Laura setiap kali mengingat bahwa Valentino juga harus segera mengecap bangku pendidikan. Dia bersyukur atas pertumbuhan anaknya, namun dia bingung jika harus memikirkan pengeluaran yang semakin hari semakin bertambah.

Kerap kali Ibu Laura harus bolak-balik menghadap kepala sekolah untuk memberi penjelasan akan keterlambatan pembayaran uang sekolah, uang buku atau uang ujian anak-anaknya. Dia malu, namun dengan percaya diri Ibu Laura memaparkan kondisi keluarga mereka kepada pihak sekolah dan berjanji akan mengupayakan sebisanya untuk melunasi semua tunggakannya, secepatnya.

Laura menuturkan bahwa dia pernah marah kepada ibunya karena tidak mendapat uang jajan. Dia kecewa, mengapa kehidupan yang dia jalani tidak sama dengan kehidupan yang dijalani oleh teman-temannya.

Hanya dengan modal 500 rupiah, Laura dan Elisabet berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sangat kontras dengan teman-teman di sekolahnya yang berasal dari keluarga berkecukupan. Pernah Laura marah dan menuntut pada Ibunya, namun ia sadar bahwa tidak sepantasnya dia melakukan hal tersebut. Semua yang dia alami tidak sebanding dengan jerih payah Ibunya dalam menafkahi mereka sekeluarga.

Suami dari Ibu Laura yang sudah berusia 50-an tahun sudah tidak produktif lagi. Kegiatan sehari-hari adalah menggantikan Ibu Laura untuk menjaga Valentino. Awalnya Ibu Laura tidak bisa menerima kenyataan ini. Mereka sering bertengkar. Namun, Ibu Laura pun sadar bahwa kondisi ini tidak baik bagi anak-anaknya. Akhirnya dia memilih untuk berdamai dengan keadaan. Dia mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, memperjuangkan kehidupan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Sungguh mulia hatinya, ibu yang sangat dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya. Kita pun layak menghormatinya.

****

Inilah Informasi Tentang Life Squad dari Jawaban.Com:
Kehidupan kota besar seperti Jakarta yang kompleks dengan segala macam pernak pernik kehidupan mulai mengarah kepada kehidupan individualis. Dibalik rimbunnya gedung pencakar langit dan kemewahan hidup di kota metropolitan, terselip sisi-sisi kehidupan yang sangat memprihatinkan. Namun ada sekelompok anak muda yang peduli akan penderitaan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saat ini mereka bergabung di Life Squad dan berkomitmen untuk membawa mereka keluar dari garis kesengsaraan.

Kita tahu bahwa keberadaan kita di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Kita mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa bergabung dan menolong orang lain. Dalam hal ini, membuat perubahan yang positif dalam hidup orang lain membutuhkan komitmen, kerja keras, dan strategi yang matang.

Life Squad, sesuai dengan namanya yang berbau ‘misi' adalah program reality show Solusi Life yang mengajak anda melalui kaum muda yang tergabung dalam 3 tim yang berkompetisi untuk menolong 3 target. Tiga target adalah orang-orang (keluarga) yang ‘membutuhkan' dalam arti berada dalam tingkat sosial ekonomi rendah. Mereka bukan orang-orang malas yang tidak berbuat apa-apa, mereka bekerja keras, hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan.

Disinilah 3 tim Life Squad berkenalan dengan masing-masing 3 target (1 tim Life Squad = 1 target), mengenal dan memperhitungkan apa yang menjadi kebutuhan bagi mereka (researching) dan melakukan fund raising (dengan kompetisi yang seru!) bagi target mereka. Dan bukan uang semata yang didapatkan oleh 3 target, tetapi bantuan real yang dapat menjadi batu lompatan bagi target yaitu modal usaha dan tempat tinggal yang lebih layak.

Segmen reality LIFE SQUAD ini juga ingin menunjukkan adanya pengorbanan yang tulus dan keinginan baik yang kuat dari para peserta yang terlibat dalam kompetisi LIFE SQUAD ini, karena target bukanlah menjadi sasaran kompetisi semata, tetapi menjadi teman bagi 3 tim anak muda untuk dibantu kehidupannya. Life Squad dirancang tidak hanya untuk sebuah permainan, tetapi untuk sebuah kegerakan (movement). Sumber: Jawaban.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI