Search This Blog

Loading...

Tuesday, January 15, 2008

The Last Leaf

DAUN TERAKHIR

Di tahun 1967 New York adalah kota kumuh yang sangat memprihatinkan. Gedung-gedung tua berjejer. Apartemen yang sempit, tembok yang berjamur, dan orang-orang aneh menjadi ciri khas kota itu. Orang-orang aneh itu sebagian besar adalah para pelukis jalanan. Mereka mencari nafkah dengan melukis, baik itu melukis di kanvas maupun melukis di trotoar. Sebagai pelukis jalanan, mereka hanya mampu mencukupi makan tiap hari dan sewa apartemen yang murah.

Salah satu dari mereka adalah Marie. Dengan adiknya mereka berdua menyewa kamar yang sempit, yang sangat tidak layak untuk ditempati. Tempat tidur yang sudah busuk, dinding yang berjamur dan menyebarkan bau yang tidak enak, tapi apa boleh buat, uang yang mereka dapat tiap hari kadang untuk makan saja tidak cukup. Biarpun demikian, mereka pantang untuk melakukan sesuatu yang jelek atau melanggar hukum. Pernah ada yang menawari Marie dan adiknya, Joan, untuk memanfaatkan tubuh mereka demi uang, tapi mereka menolaknya mentah-mentah. Para pelukis di daerah itu memang memegang prinsip yang patut dibanggakan, mereka lebih memilih hidup miskin dan berkekurangan daripada berbuat sesuatu yang salah.

Para pelukis itu adalah orang Kristen. Setiap Minggu mereka selalu berkumpul untuk beribadah, meskipun tanpa Pendeta yang melayani, mereka memakai saat itu untuk saling bertukar cerita dan saling menguatkan. Jika ada yang kurang beruntung, mereka akan saling menopang dan saling berbagi.

Suatu saat, saat musim dingin menusuk kota New York, Joan jatuh sakit. Tubuhnya menjadi sangat lemah dan semakin parah. Untuk bangun dari tempat tidur saja dia tidak kuat. Dengan uang yang terkumpul dari para pelukis jalanan itu, Marie memanggil dokter, dan hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan. Joan menderita radang paru-paru, akibat dia selalu bekerja di luar menjual lukisan di trotoar, di tengah musim dingin, tanpa baju hangat yang layak. Untuk sembuh, Joan harus beristirahat total, makan yang cukup bergizi, dan yang terpenting adalah semangat hidup yang tinggi untuk melewati masa-masa kritis di tengah musim dingin. Ini menjadi masalah terbesar. Joan putus asa dan tidak mempunyai semangat hidup. Banyak teman datang untuk menguatkan dia, tapi percuma saja. Joan berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Dia tahu benar keadaannya. Dia tidak akan mendapatkan makanan yang bergizi, dia tidak akan mendapatkan kehangatan yang cukup untuk melewati musim dingin, dan tidak ada obat untuk membantu dia bertahan. Semakin hari dia semakin putus asa dan semakin lemah.

Marie sangat sedih akan hal ini.. Semua upaya sudah dilakukan untuk membesarkan hati Joan, tapi sia-sia. Joan tidak bergairah untuk makan, bahkan untuk berbicara dengan siapa pun. Dia hanya mengucapkan beberapa kata di pagi hari, yaitu ketika matahari terbit. Dia akan meminta Marie untuk membuka jendela kamar agar dapat melihat tanaman yang merambat di dinding tembok yang berhadapan dengan kamar mereka. Tanaman itu merupakan tanaman menjalar yang berdaun lebar, dan tanaman itu merupakan semangat hidup Joan satu-satunya. Setiap kali Marie membukajendela, Joan akan melihat tanaman itu dan sambil tersenyum lemah dia akan berkata, "Tanaman itu lucu sekali, dia tahu bahwa dia hanya tanaman kecil yang lemah, hanya dapat bergantung pada tembok yang kokoh itu. Tapi dia sombong sekali, mengira bahwa dengan bersandar pada tembok itu dia dapat melewati musim dingin yang ganas ini." Joan kemudian melanjutkan, "Suatu saat semua daunnya akan gugur dihantam angin musim dingin, saat itu, aku juga akan pergi bersama dia." Marie amat sedih jika mendengar Joan mengatakan ini.

Setiap pagi Joan selalu menghitung daun-daun itu. "Tujuh daun lagi," dan keesokan harinya, "Enam daun lagi", "Lima daun lagi", dan Joan semakin lemah dan lemah. Marie pun putus asa, tidak ada harapan sama sekali. Dia hanya dapat berdoa agar Joan tetap bertahan, dan setiap pagi dia akan membuka jendela dengan hati yang berdebar-debar, berharap masih ada daun di situ.

Suatu pagi, Marie tergoncang sekali ketika melihat hanya ada satu daun yang tersisa melekat di tembok itu. Joan tersenyum lemah, "Waktunya sudah dekat, malam ini angin dingin akan mengantar kami." Marie semakin pasrah, malam itu dia tidak tidur, seiring dengan terjadinya badai dia berdoa dan menangis. Angin mengguncang jendela-jendela dengan dahsyat. Marie tetap berlutut sambil berdoa dan menangis. Ia meminta suatu keajaiban, sesuatu yang dapat menahan kepergian Joan, karena dia amat mencintai adik satu-satunya ini. Akankah Joan pergi dan bergabung dengan segenap keluarga yang telah mendahului mereka? Ayah, Ibu dan adik-adiknya meninggal ketika terjadi kebakaran. Api menelan semua harta mereka. Setelah mereka bertahan hidup sekian tahun, akankah Joan meninggalkan dia juga?

Keesokan pagi adalah pagi yang menentukan. Dengan lemah Joan membuka mata dan meminta Marie membuka jendela agar dia dapat melihat tanaman itu. Dengan gemetar Marie membuka jendela, dan... ajaib! Daun itu masih melekat pada tembok. Mustahil! Padahal, semalam terjadi badai yang dahsyat, tetapi di pagi hari ini daun itu masih melekat pada tembok seakan-akan tidak terjadi apa-apa semalam. Joan tersenyum lagi dan berkata, "Aku masih mempunyai satu hari lagi!" Marie sangat senang, tapi dia tetap khawatir. Kemarin daun itu dapat bertahan, tapi hari.ini atau besok pasti diaakan gugur juga. Marie benar-benar sudah pasrah, dia cuma bersyukur bahwa dia masih boleh bersama Joan pada hari ini.

Besoknya, kembali dengan tangan gemetar Marie membuka jendela, dan... daun itu masih tetap di sana! Marie tidak dapat memercayai hal ini, tapi dia amat senang. Dia mengucap syukur dengan tidak henti-hentinya. Beberapa hari setelah itu, daun itu masih tetap bertahan. Pada hari berikutnya, Joan tersenyum dan berkata kepada Marie, "Daun itu menyadarkan aku. Kalau dia bisa sekuat itu, aku juga bisa. Tolong buatkan bubur, aku amat lapar."

Marie sangat gembira. Joan sudah mau makan dan semangat hidupnya tumbuh kembali. Hari demi hari Marie merawat Joan dan tiga minggu kemudian, Joan sudah berangsur-angsur pulih. Pada hari Minggu berikutnya, para pelukis berkumpul untuk kebaktian. Joan amat senang dapat berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang tidak hadir. "Adakah yang dapat mengatakan padaku di mana si tua Paul? Sewaktu aku terbaring sakit, dia sering datang membawakan kue kismis dan menghiburku. Waktu itu aku terlalu sakit untuk mempedulikannya, apakah ia kecewa dan oleh karena itu tidak pemah mengunjungiku lagi? Aku ingin minta maaf dan mengucapkan terima kasih padanya." Mendadak semuanya terdiam, dengan suara perlahan Marie menjawab, "Joan, bulan lalu pada pagi hari sesudah badai itu si tua Paul ditemukan meninggal di kamarnya. Ia meninggal kedinginan, di tangannya ia menggenggam sebuah kuas dan kaleng cat. Daun yang terakhir itu, merupakan karya terakhirnya. . . " (Dikutip dari "KORAN LANSIA" yang diterbitkan GKI Muara Karang, No. 47/Desember 2007)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI