Search This Blog

Loading...

Friday, January 4, 2008

Needing Jesus More Than Anybody Else

Kembali Karena Memerlukan Tuhan

Karena pernikahan, ia pindah keyakinan. Tapi kerinduannya akan Tuhan, dan mukjizat yang terjadi dalam hidup keluarganya, membuatnya ia kembali bersujud di depan kaki Yesus.

Usia kandungan Suzanna Panjaitan baru lima bulan. Dokter memvonis bahwa ia terkena thoksoplasma. Di janinnya ada virus, jadi ia harus bed rest. Ia merasa sangat menderita. Kalau bergerak sedikit, air ketuban bocor dan dia harus minum 5 hingga 7 liter air untuk menggantikannya. Atau ia harus disuntik dengan obat yang harganya saat itu mencapai 2 hingga 3 juta rupiah.

Saat itu ia merasa sendiri. Dia membutuhkan perhatian dari ayah dan ibu yang melahirkannya, tapi itu tidak didapatkannya, karena saat itu statusnya masih "terbuang" setelah ia berpindah agama. Dalam kesendirian itu ia berkata kepada suaminya, "Pak, dalam situasi sulit seperti ini, saya sungguh perlu Tuhan." Suaminya tidak menanggapi dengan sungguh.

Karena dibesarkan dalam lingkungan Kristen yang sangat baik, juga aktif di Sekolah Minggu, ia akhirnya berdoa, "Tuhan, kalau memang ini kehendak-Mu, berikan saya kekuatan yang lebih sehingga saya mampu menanggung ini semua." Usai berdoa, tiba- tiba ia mendengarkan sebuah suara yang begitu jelas di kupingnya.
"Panggil nama-Ku," kata suara itu.
Suzanna bertanya, "Engkau siapa?"
Suara itu menjawab, "Aku Yesus Kristus, Tuhanmu."

Anak ketujuh dari delapan bersaudara inipun tersungkur dan menangis. Lalu ia berdoa meminta kekuatan dari Tuhan Yesus. Sejak saat itu, ia berhenti menunaikan ritus doa agama suaminya. Tapi kalau berdoa secara kristiani, ia masih melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. "Kalau berdoa, saya selalu ngumpet," katanya.

Saat usia kehamilannya 7 bulan, sakitnya semakin tak tertahankan. Ia bed rest terus. Suaminya meminta Suzanna untuk dirawat kembali di rumah sakit. Tapi ia bersikukuh. Ia memilih berdoa. "Kehendak-Mulah yang jadi," begitu doanya selalu. Anaknya pun lahir dengan selamat. Tapi, anak pertamanya itu hanya sempat menghirup nafas selama satu jam. Ia kembali ke pangkuan Bapa di sorga.

Kematian anaknya itu membuat Suzanna sangat down. Tahun 1995, ia meminta cerai. "Saya sepertinya tidak bisa lagi menjadi muslim. Saya sudah tidak bisa lagi sembahyang. Kalau kamu tidak suka dengan pernyataan saya ini, kalau kamu merasa dikhianati, ya saya pasrah, kita cerai saja," katanya kepada suaminya. Suaminya tidak menggubris perkataannya. Dia mengira, Suzanna berkata demikian karena masih dalam kondisi trauma akibat meninggalnya anak pertama mereka.

Suzanna terus berdoa dalam nama Yesus. Dan mukjizat pun terjadi dalam kehidupan keluarga mereka. Biasanya akibat thokso itu harus menunggu selama 9 bulan, baru sang ibu bisa hamil lagi. Tapi baru pada bulan ke 5, dokter menyatakan bahwa dia positif hamil. Kenyataan ini mengagetkan dokter, juga suaminya. "Dok, istriku kan belum bersih." Tapi dokter mengatakan bahwa kandungannya normal. Malah, hamil kedua ini boleh dikatakan sebagai hamil badak. Anaknya lahir normal, bebas dari thokso.

Menyadari mukjizat telah terjadi dalam keluarganya, Suzanna semakin tekun dalam Kristus. Pengalaman itu dibagikannya juga kepada suaminya, tapi suaminya tidak bereaksi. "Dia sepertinya merasa gengsi. Dia meminta saya untuk tetap di agamanya, tapi saya katakan, saya perlu Tuhan," kata Suzanna. Ia pun mulai ke gereja di Cipanas, karena mereka tinggal di sana. Agar tidak timbul konflik dengan suaminya, setiap Minggu pagi, ia selalu memberikan alasan lain kepada suaminya.

Untuk mengisi hatinya, ia sering mendengarkan kaset-kaset khotbah. Suaminya pernah memergokinya, tapi ia beralasan kalau itu lagu baru. "Diam-diam dia mendengarkan kaset saya dan ia pun semakin yakin kalau saya sudah kembali ke agama saya yang dulu," cerita Suzanna.

Tahun 2004, suami Suzanna meninggal. Mengetahui bila Suzanna telah kembali ke agamanya, keluarga besar suaminya menolaknya. "Mereka merasa tercoreng. Semuanya diambil. Mereka katakan, ”Kamu bukan siapa-siapa lagi. Kamu itu eks mantu.” Tapi saya selalu katakan, ”Saya hanya perlu Tuhan. Hanya dalam Tuhan saya mendapatkan damai sejahtera," cerita Suzanna.

Suzanna lahir dalam keluarga Batak yang taat beragama. Sang ayah berprofesi sebagai seorang guru. Sedari kecil, di rumahnya selalu ada kebaktian keluarga. "Jadi pertumbuhan iman kami ikut kuat," jelas Suzanna. Orang tuanya mendidik anak-anaknya secara sangat keras.

Suzanna sempat lama menjadi anak terakhir, sebelum adik laki lakinya lahir. Jadi dia merasa sungguh dimanja. Tapi ketika adiknya lahir, dia merasa tidak diperhatikan. Dalam keadaan begitu, ia bertemu dengan suaminya yang kebetulan aktif di sebuah organisasi kepemudaan yang terkenal pada saat itu. Meski usia mereka terpaut 14 tahun, Suzanna merasa enjoy saja karena merasa mendapatkan perlindungan dan bisa memanjakan dia.

Orang tua Suzanna berusaha memutuskan hubungan mereka karena perbedaan keyakinan itu dengan cara mengekang kebebasan Suzanna. "Bapak sangat keras. Setiap rutinitas saya dicurigai. Setiap saya keluar dengan teman, selalu dicurigai bila saya pergi dengan pacar itu. Orang tua sempat memutuskan untuk mengirim saya kuliah di tempat yang jauh agar bisa berpisah dengan pacar saya itu," cerita Suzanna.

Keluarga pihak suami memberanikan diri melamar, tapi ditolak mentah-mentah karena perbedaan agama itu. "Saya berharap bahwa saya akan disayangi, bukannya dibentak. Saya berontak dan akhirya mendapatkan kasih sayang dari keluarga suami. Akhirnya saya kawin secara muslim." Ia mengaku sempat ingin mendalami agama barunya dengan sungguh-sungguh. Ia pun diajarkan ritual-ritual agama barunya. Tapi dia merasa tidak mengerti benar apa yang dilakukannya itu.

Pengalaman kembalinya kepada Tuhan Yesus menyadarkan Suzanna bahwa tidak ada sejengkal pun dari kehidupannya yang luput dari kasih Tuhan. Lantaran itu, ketika baru baru ini dia mengalami penganiayaan dari sahabatnya karena masalah arisan, ia tetap tegar dan melihat itu sebagai bagian dari rencana Tuhan. "Ketika suami saya meninggal, saya merasa sudah di-warning sama Tuhan untuk tetap setia kepada-Nya. Dengan datangnya masalah ini, saya merasa harus lebih setia lagi pada Tuhan dan tidak memberikan kesempatan bagi kekuatan iblis," kata ibu dua anak yang sekarang aktif dalam pelayanan ini yang ingin lebih sungguh-sungguh terjun dalam pelayanan ini. (Kisah ini diambil dari Tabloid Reformata Edisi 73/Desember 2007)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI