Search This Blog

Loading...

Monday, September 3, 2007

Escape from Dark Spritism: Eddy Tatimu Story

Silat! Ya, sifat dan karakter hidup saya begitu banyak dibentuk oleh buku-buku silat Cina yang saya baca. Buku-buku silat Tiongkok seperti Chi Yung atau Kho Ping Ho itu mengandung ilmu yang sangat tinggi. Begitu asyiknya saya membaca, sehingga menjiwai saya bahkan menguasai roh saya. Pendeknya buku silat itu seperti belahan jiwa saya. Kalau dapat saya katakan, buku-buku yang saya baca seperti memiliki roh. Betapa tidak, tiap kali membaca, roh saya seperti tenggelam dalam cerita buku silat itu.

Sejak Usia 16 Tahun
Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan buku-buku silat Cina. Sebenarnya kalau hanya sekedar baca tidak menjadi soal, sekedar untuk mengetahui. Tapi buku-buku itu mengajarkan sebuah ilmu atau beberapa ilmu, yaitu ilmu untuk menghilang, berjalan di atas bara api, disiram minyak mendidih dan anehnya saya ingin sekali mempelajari, menguasai dan mem-praktekkan ilmu itu.

Untuk dapat menguasai ilmu-ilmu itu, ada beberapa syarat yang perlu dilakukan, seperti: melakukan yoga, meditasi, membaca mantra-mantra dan permohonan doa kepada dewa-dewa. Karena ingin menguasai ilmu-ilmu tersebut, saya mulai belajar yoga dalam usia 16 tahun ketika saya masih remaja. Ini dimulai tahun 1964, yakni ketika saya masih duduk di kelas II SMA di Manado, Sulawesi Utara, tepatnya di sebuah Klenteng besar di kota Manado.

Dari Keluarga Budha
Saya terlahir dari keluarga Budha. Saya lahir di kota Siau, Sangir Talaud, Sulawesi Utara, tanggal 06 Agustus 1948. Ayah saya bernama Ngo Gian Tiet, Ibu bernama Suantje Tatimu. Saya sendiri adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Kami semua dilahirkan dari keluarga Budha. Tetapi lama-lama kakak-kakak dan adik saya masuk Kristen, yaitu Kristen Pantekosta, kecuali saya, tetap Budha, tentu saja bersama ke dua orang tua saya. Meskipun saya bukan Kristen, mungkin saya lebih dahulu tahu, bahwa dewanya orang Kristen itu bernama Yesus. Soalnya saya juga mempunyai Alkitab, sebuah buku yang menulis lengkap tentang Yesus.

Dewi Kwan Im
Dewi Kwan Im-lah tuhan saya. Dalam buku-buku silat yang saya baca, Dewi Kwan Im sangat dijunjung tinggi. Saya menyembah Dewi Kwan Im sejak mulai belajar Yoga, yaitu usia 16 tahun. Dalam melakukan Yoga, ada satu hal yang sedikit menyiksa saya, yaitu selalu mengasingkan diri dari kesenangan para remaja seusia saya. Saya belajar Yoga pada guru terkenal. Yoga itu mengandung magic. Jadi dengan beryoga, artinya saya sudah berada di arena magic. Saya tidak pernah menyadari itu sebelumnya. Setelah ilmu yoga telah saya kuasai, akhirnya saya sendiri mempunyai murid 40 – 50 orang.

Mendalami Ilmu
Setelah menguasai yoga, dan kemudian menjadi guru yoga, tahun 1973, dari Budha saya pindah agama To (Tao). To itu adalah satu dari Sam Kau atau Tri Dharma.
Yang dimaksud dengan Sam Kau atau Tri Dharma, yaitu tiga agama yang masih dalam satu aliran, masing-masing adalah : Agama Budha, Kong Hu Cu dan To.

Untuk lebih jelas, Sam Kau ini dapat dirinci sebagai berikut:
Budha, agama yang mengajarkan tentang cinta kasih, seperti mengasihi sesama, musuh, binatang termasuk semut.
Kong Hu Cu, merupakan agama yang mengajarkan tentang moral, etika, tata krama dan kedisiplinan.
To, adalah agama yang mengajarkan tentang power, kehebatan atau mukjizat, ilmu-ilmu sakti, termasuk magic, gaib dll.

Kalau seseorang beragama Kong Hu Cu, pasti dia tahu tentang Budha dan sebaliknya. Penganut agama To, juga tahu tentang Budha dan Kong Hu Cu. Tapi Budha dan Kong Hu Cu tidak akan pernah tahu tentang To, kalau mereka tidak mengkhususkan diri untuk mempelajarinya.

Dalam usia 16 saya sudah masuk agama To, dengan tujuan untuk menguasai ilmu-ilmu di atas. Dalam agama To ini, mau tidak mau kita harus melibatkan diri dalam dunia roh, dan itu sudah saya lakukan sejak tahun 1973.

Tidak mudah mengikuti agama ini. Sejak 1973, setiap malam saya harus meditasi selama 2 jam. Itu saya lakukan selama 20 tahun dan tiada malam tanpa semedi. Tiap jam 00.00 saya mulai semedi sampai jam 02.00 dini hari. Pada saat-saat tertentu saya juga bermeditasi di siang hari. Ada bermacam-macam cara untuk bermeditasi. Sering di tempat sepi, seperti tengah malam. Tapi sering juga di tempat ramai, misalnya semedi sambil menyetel televisi keras-keras. Ini maksudnya untuk melatih konsentrasi.

Mengosongkan Diri
Dalam kitab Tao Te King, tujuan orang bermeditasi adalah mengosongkan diri. Maksudnya, tidak ada beban yang memberatkan hati dan pikiran. Bila pengosongan diri telah terjadi, kekuatan itu akan datang. Dalam kekosongan itu kita kuat. Kekosongan itu sebenarnya inti dari meditasi. Dalam kitab Tao Te King, kita juga dilarang untuk makan daging, berhubungan seks atau hura-hura. Kita hanya boleh makan nasi, sayur atau buah. Bahkan saat-saat tertentu harus bertapa/puasa.

Di usia remaja, saya menjadi manusia alim. Waktu saya hanya habis di Klenteng, meditasi, bertapa dan belajar hal-hal yang bersifat religius. Di samping itu saya juga tetap aktif bersekolah sampai kuliah.

Berhubungan dengan Roh
Pada tingkat ilmu tertentu, saya sudah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. Tidak hanya sekedar komunikasi, bahkan roh-roh itu ada dalam kuasa saya. Saya dapat mengendalikan mereka. Saya suruh satu-dua roh untuk pergi bergelantungan di tubuh seseorang, sampai orang itu merasakan kesakitan. Kalau saya mau, saya bisa membuat orang itu sampai ia jatuh sakit, bahkan mati. Tapi sampai tingkat jatuh sakit tidak pernah saya lakukan. Melihat roh-roh itu bisa tunduk sudah merupakan suatu kebanggaan. Jadi berhubungan dengan dunia roh itu adalah hal biasa. Dan saya kira setiap taipak atau paranormal, berhubungan dengan dunia roh/gaib adalah kegiatan sehari-hari.

Berjalan Di atas Bara Api
Untuk masa kini, melihat orang berjalan di atas bara api, bukan lagi tontonan baru. Tapi pada tahun-tahun 70-an sampai 80-an, melihat orang berjalan di atas bara api masih merupakan tontonan yang mendebarkan. Itulah yang saya lakukan. Apa yang saya baca di buku-buku silat Cina dulu, kini saya dapat mempraktekkan sendiri. Saya berjalan-jalan dengan bebas di atas bara api. Bara itu ditaruh di wadah sepanjang 5 meter dengan ketebalan bara kira-kira 20 cm. Kalau diinjak, pergelangan kaki akan masuk seluruhnya.

Bagaimana saya bisa melakukannya tanpa merasa kepanasan? Itulah kesaktiannya. Roh-roh itu sangat berperan di sini. Sebelum bara diinjak, saya cabut dulu kekuatan api atau panasnya api. Ini berkat bantuan roh-roh tadi. Di hari-hari raya Cina, biasanya pertunjukan seperti ini diadakan 25 tahun sekali. Tapi saya dan teman-teman dapat melakukannya tiap hari. Kami anggap itu adalah main-main saja, seperti anak-anak bermain petak umpet.

Disiram Minyak Mendidih
Atraksi ini hampir sama seperti berjalan di atas api. Disiram minyak mendidih, badan saya tidak melepuh. Di hadapan orang, memang nampak minyak itu panas. Tapi mereka tidak tahu, sebelum minyak panas disiramkan, panasnya minyak sudah saya cabut. Memang ngeri bagi orang lain. Tapi ini merupakan permainan yang menyenangkan.

Apalagi pengalaman saya dalam 20 tahun menjadi pengikut Dewi Kwan Im? Masih ada. Saya bisa raib. Orang tidak dapat melihat saya, meskipun saya ada di antara mereka. Selain itu, saya juga bisa memanggil seseorang secara diam-diam dan orang itu akan datang pada saya secara diam-diam pula. Kalau saya berdiri 50 meter di belakang Anda dan Anda tiba-tiba menoleh pada saya, ketahuilah, saya telah menyuruh satu roh untuk "menarik" kuping Anda ke samping, agar bisa melihat saya.

Im Yang
Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan saya "ciptakan" sendiri, yaitu Im Yang. Ilmu ini dapat dikatakan sangat berbahaya, kalau kita sengaja memanfaatkannya secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga membunuh orang. Untuk menguasai Im Yang, saya harus mengumpulkan 12 tengkorak kepala anak kecil, 6 laki-laki dan 6 perempuan. Dan itu artinya saya harus menyantet 12 anak-anak, untuk memperoleh tengkorak mereka. Tetapi belum lagi ilmu itu terwujud, saya mengalami sesuatu yang mengubah seluruh sisa hidup saya.

Dewa Orang Kristen
Dalam sebuah buku Meditasi, disebutkan bahwa agama To, yaitu agama saya, memiliki banyak dewa. Selain Dewi Kwan Im, ada dewa yang bernama Goan Shie Thian Chun, Thai Sang Lo Khun dan Yo Ong Po Sat. Dewa-dewa ini adalah raja di bidangnya masing-masing. Dalam buku Meditasi itu ternyata ada nama Yesus. Yesus di sana ditulis sebagai dewanya agama Kristen. Tidak banyak yang ditulis tentang Yesus, itu sebabnya saya menganggap Yesus itu tidak lebih hebat dari Dewi Kwan Im atau dewa-dewa lain tersebut diatas. Bahkan ketika saya membaca Alkitab, saya menjadi sangat benci dengan nama Yesus itu.

Dikatakan dalam buku Meditasi itu, kalau orang beragama Budha, Khong Hu Cu atau To, mereka boleh memanggil dewa-dewa tersebut diatas untuk meminta pertolongan. Tapi bagi yang beragama Kristen, dapat memanggil nama Yesus.

Papa Sakit Jantung
Tanggal 30 Nopember 1987, Papa saya mendadak sakit jantung dan segera dibawa ke Rumah Sakit Gunung Wenang, Manado, langsung dimasukkan ke Ruang Gawat Darurat (ICU) karena kondisinya sudah koma. Kalau orang normal, detak jantungnya 70, tapi Papa 140.

Ada dua dokter yang menangani penyakit Papa. Begitu melihat angka 140 di layar monitor, dokter yang satu berkata, "Orang ini tidak punya lagi harapan." Saya mulai takut, tapi saya tidak putus asa karena saya belum memanggil dewa-dewa saya. Dari 140, tiba-tiba detak jantung Papa naik secara mendadak menjadi 172. Dokter yang lain datang dan berkata, "Papa kalian dibawa pulang saja, apa saja yang Papa kalian minta dituruti saja."

Tidak! Masih ada waktu bagi saya untuk memanggil dewa-dewa saya. Saya mundur beberapa langkah ke belakang dan bersemedi. Saya mengucapkan mantra-mantra, memanggil dewa Goan Shie Thian Chun. Dalam ilmu Cina yang saya pelajari, Goan Shie Thian Chun adalah raja ilmu. Saya minta dia, dengan segala ilmu yang saya miliki, agar dapat menolong saya untuk menyembuhkan Papa. Tapi tiada jawaban. Saya panggil dewa yang lain, yaitu Thai Sang Lo Kun. Dia adalah raja doa. Saya minta supaya dia menjawab doa saya, yaitu menyembuhkan Papa. Tapi tidak ada tanggapan. Papa terkapar tak berdaya. Dewa Yo Ong Po Sat adalah raja obat. Saya panggil nama Yo Ong Po Sat agar bertindak segera. Papa sedang gawat. Saya meditasi dengan berkeringat. Saya ucapkan mantra-mantra, tapi dewa yang saya sanjung hanya membisu.

Terakhir saya panggil Dewi Kwan Im. Ini dewa terakhir yang menjadi tumpuan harapan. Setelah ini tidak ada lagi dewa yang saya miliki. Tapi sama saja dengan yang lain. Tidak ada reaksi. Detak jantung Papa di layar monitor masih tetap 172. Saya heran. Ke mana perginya segala ilmu yang saya pelajari selama 20 tahun menjadi pengikut Dewi Kwan Im? Mengapa dulu saya begitu sakti, namun kini kesaktian itu hilang?

Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun saya menghabiskan banyak waktu di Klenteng untuk bersemedi, bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? Bukankah dalam buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang sesuai dengan agama kita bila membutuhkan pertolongan?

Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi Dia bukan dewa saya. Dia dewanya orang Kristen, lagi pula Yesus adalah dewa yang paling saya benci. Tidak mungkin saya memanggil-Nya, selain itu Yesus belum tentu lebih hebat dari Dewi Kwan Im.

Papa tergeletak bagaikan mayat. Apalagi yang harus saya lakukan? Segala upaya telah dilakukan! Tapi angka 172 tak juga mau beranjak turun.
"Yesus", kata saya tiba-tiba, "kalau Engkau mau menyembuhkan Papa saya, saya mau menjadi pengikut-Mu" lanjut saya. Saya kembali mendekati tempat tidur, dimana Papa tergeletak. Tak sengaja mata saya terbelalak melihat ke layar monitor. Dari angka 172 mulai bergerak turun, 171, 170, 169, 168….terus turun sampai 160. Turun lagi 150. Persis di angka 148, teriakan Papa mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.

"Aku hidup lagi”, teriak Papa, sambil menggerakkan tubuhnya, seolah ada sesuatu yang baru saja masuk ke dalam tubuh itu. Mengapa Papa berkata "Aku hidup lagi?” Apakah tadinya dia sudah mati? Saya tidak terlalu mempedulikan itu, sebab saya sendiri belum hilang dari rasa terkejut. Beberapa menit yang lalu saya masih memohon-mohon kepada dewa Goan, dewa Thai, Yo dan Dewi Kwan Im. Saya tidak menyangka secepat ini saya menjadi pengikut Yesus, sesuatu yang tak pernah terpikirkan kemarin, tadi pagi sampai sejam yang lalu. Secepat inikah saya beralih keyakinan? Apakah dewa-dewa itu tidak akan murka kalau saya membelot?

Dibaptis
Melihat Papa sudah sembuh, malamnya saya tidak bisa tidur. Bukan karena stres, tapi saya sangat bahagia, terkejut dan kagum sudah bercampur baur. Bagaimana mungkin saya menjadi orang Kristen hanya dalam sekejap?

Tiga minggu setelah mukjizat di RS Gunung Wenang, Manado itu, saya memberi diri dibaptis (selam) di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Manado. Pengalaman yang menakjubkan ini setiap kali saya saksikan di gereja-gereja atau persekutuan doa, kapanpun saya sempat menyaksikannya.

Meskipun saya sibuk di kantor (Eddy Tatimu adalah Direktur PT. Innimexintra Jakarta- Red) tapi tiap kali ada undangan kebaktian, saya selalu sempatkan diri untuk menyaksikan kemurahan Tuhan pada saya ini. Tentu saja saya harus pandai–pandai mengatur waktu antara kerja dan pelayanan, supaya tidak ada pihak yang dirugikan.

Waktu saya terima Yesus, istri saya, Thio Mei Lin, juga ikut terima Yesus, bersama dua anak kami, Stanley Tatimu dan Cicilia Tatimu, yang kini sudah beranjak remaja. Saya berbahagia karena anak dan istri saya sangat mendukung saya, tidak hanya dalam pekerjaan, tapi juga dalam pelayanan.
(Seperti dikisahkan Eddy Tatimu kepada Kabar Baik)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI