Search This Blog

Loading...

Friday, May 25, 2007

A Wedding Party in the Earthquake (1)

Jalan serta Tuhan tidaklah selalu melewati jalan mulus tanpa hambatan. Seringkali Tuhan membawa kita di jalan yang terjal, penuh bebatuan, berliku dan melewati tikungan yang tajam dan curam. Namun dalam semuanya itu, yang penting ada bersama Tuhan.

Kisah berikut ini diceritakan oleh Silvia dari Jogjakarta, seperti yang dikisahkan dalam buletin REFLECTA (Semarang) edisi Januari dan Februari 2007. Naskahnya telah saya edit agar lebih enak dibaca.

Namaku Silvia, dan nama suamiku Andri. Kisah ini menceritakan apa yang terjadi ketika kami mengadakan pesta pernikahan di Jogjakarta pada tahun 2006 yang lalu. Sebelum menikah kami harus melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini dapat menguatkan iman banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi kita semua.

Ujian pertama kali datang tepat dua minggu sebelum pernikahan dilangsungkan. Adik kandungku harus dirawat di Rumah Sakit. Ya, adikku menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Oh, Tuhan, betapa shock-nya aku saat itu! Karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orang tuaku tentunya. Menjelang pernikahan putrinya, tentu orang-tuaku sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku. Ternyata kesibukan orang-tuaku harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi papaku yang pernah mengalami operasi jantung koroner. Tentunya bagi seorang penderita sakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlampau berat, selain kondisi fisiknya harus terjaga.

Kondisi kesehatan adikku bertambah parah, trombositnya turun sampai tinggal 7.000, padahal normalnya 150 – 200.000. Meskipun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal, ternyata semua itu tidak dapat menahan turunnya trombosit sampai demikian rendah. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan. Dokter berkata, apabila trombosit drop terus, maka darah akan keluar dari hidung, telinga dan mulut karena semua pembuluh darah pecah. Kalau hal itu terjadi, maka dokter angkat tangan. Dalam keadaan seperti itu kami semua percaya kalau mukjizat Tuhan masih terus berlangsung sampai saat ini. Dan aku percaya, pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.

Benar saja. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Beberapa hari kemudian kondisi adikku semakin membaik. Adikku berangsung-angsur sembuh dan lima hari menjelang pesta pernikahanku, adikku sudah boleh pulang dari rumah sakit. Kami sangat bersyukur sekali kepada Tuhan. Dalam waktu yang sangat mepet, aku sekeluarga harus mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.

Pagi hari ketika adikku pulang dari rumah sakit, kami semua senang. Namun pada malam harinya gantian aku yang menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, demam berdarah. Oh, Tuhan begitu beratnya ujian yang harus aku lewati! Aku ingin menjerit. Aku sampai tidak berdaya untuk melakukan apapun.

Pada saat aku cek ke dokter, dia belum dapat memastikan penyebab demam yang mencapai 40 derajat Celcius. Dokter hanya menyarankan agar aku cek darah lagi 7 – 10 hari setelah sakit demamku. Oh, Tuhan! Padahal lima hari lagi, hari Minggu itu adalah peristiwa penting dalam hidupku, aku akan menikah!

Aku dan (calon) suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Kami yakin satu hal, bahwa mukjizat Tuhan pasti akan terjadi. Kami sangat yakin dan mengimani hal itu.

Ternyata demamku masih belum membaik, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter dan obat-obatan chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya! Aku mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti itu aku teringat perkataan Pak Jeffry S. Tjandra pada waktu aku dan (calon) suamiku menghadiri KKR-nya. Dia berkata, “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah pada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya. Sehelai rambutpun hanya jatuh jika seijin Tuhan.” Kami juga percaya bahwa ujian yang terjadi atas kehidupan kami tidak akan melebihi kekuatan kami.

Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh. Begitu juga dengan keesokkan harinya, Jumat. Sementara itu hari Minggu aku akan melangsungkan pernikahanku. Satu hal yang pasti, muncul keyakinan di hatiku bahwa apapun penyakitku, pasti Tuhan akan berikan mukjizat untukku. Aku dan (calon)suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku pasti sudah sembuh dan pada hari Minggunya pernikahan kami pasti akan berlangsung dan berjalan dengan lancar.

Benar, Tuhan menunjukkan mukjizat-Nya kembali. Pada hari Sabtu dini hari, 27 Mei 2007, aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku hilang. Oh, puji Tuhan! Berarti pernikahanku esok hari pasti berlangsung. Ternyata ujian yang harus aku lewati belum selesai.

Sabtu pagi hari itu, pada tanggal 27 Mei 2006 di Jogjakarta dan sekitarnya terjadi gempa bumi dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan sampai 6,2 skala Richter. Gempa ini menewaskan puluhan ribu jiwa, meluluh-lantakkan ribuan rumah dan bangunan. Hatiku benar-benar shock! Tuhan, apa salahku? Dari kecil aku dan (calon) suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami dari keluarga baik-baik. Kenapa kami harus mengalami semua ini menjelang detik-detik pesta pernikahanku? Oh, Tuhan! Hatiku berteriak, “Kenapa Tuhan?”

Akibat gempa, kamarku rusak cukup parah. Tapi aku masih bisa bersyukur karena aku dan (calon) suamiku dan keluarga kami tidak ada yang terluka sedikitpun. Pada saat gempa bumi berlangsung aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku. Aku sudah sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan, “Jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak pernah menyalahkan Tuhan.”

Pada saat gempa bumi di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah lagi dengan isu tentang tsunami yang bakal menyerang. Semua orang tumplek blek di jalan. Yang dari Utara mau ke Selatan, yang dari Selatan mau ke Utara. Jalan raya macet, dimana-mana banyak terjadi kecelakaan. Orang-orang berhamburan di jalan, tidak tahu harus ke mana. Semua rumah sakit penuh. Begitu penuhnya sehingga banyak pasien diletakkan begitu saja di jalan aspal karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan jumlah korban saat itu.

Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi satu hari menjelang pesta pernikahanku? Besok kami harus menikah, bayangkan! Apakah pesta pernikahanku harus diundur, ditunda, atau jalan terus? Apakah para undangan dapat menghadiri pernikahanku besok? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI