Seorang hamba Tuhan yang terkenal pernah bercerita bahwa ia pernah mendapatkan hadiah sebuah mobil sedan setelah seorang pengusaha dilayani dan mendapat kesembuhan dari Tuhan. Pengusaha ini memberikan mobil itu sambil berkata, "Mobil ini boleh bapak pakai sampai bapak bosan, tapi surat BPKB-nya saya yang menyimpan." Karena itu tidak masalah, maka hamba Tuhan ini memakai mobil itu dengan penuh ucapan syukur. Keluarganya juga menikmati sedan pemberian itu.
Baru dua tahun kemudian ada telpon mengagetkan dari pegawai sang pengusaha, "Mobil yang bapak pakai mohon dikembalikan karena akan dipakai perusahaan!" Hamba Tuhan ini kaget sekali, tidak menduga mobil itu akan ditarik lagi oleh pemberinya. "Mam," ia menelpon isterinya yang sedang mengendarai mobil yang mau ditarik itu, "mobil itu diminta dikembalikan oleh pemberinya sekarang juga!" sang hamba Tuhan mengatakan hal itu dengan penuh kesedihan. Istrinya kaget dan sangat marah dengan perilaku tidak konsisten dari pengusaha itu. "Sabar aja, mam. Biarlah. Nanti Tuhan gantikan dengan yang lebih baik."
Itulah pemandangan yang sangat menyedihkan. Isteri hamba Tuhan ini mengembalikan segera mobil itu ke pemberinya, pulangnya naik bajaj. Sangat menyedihkan. Tapi Tuhan itu setia. Ia segera memberikan gantinya. Namun apa yang terjadi dengan pengusaha itu?
Beberapa waktu kemudian sang hamba Tuhan bertemu dengan seseorang laki-laki di kursi roda. Kakinya lumpuh terkena stroke. Orang itu mendekati sang hamba Tuhan, lalu berkata, "Pak, ampuni saya, ampuni saya karena mempermainkan bapak. Sayalah yang menarik kembali mobil sedan yang telah saya berikan kepada bapak. Ampuni saya, pak!"
Hamba Tuhan itu berkata, "Saya sudah mengampuni bapak dari dulu. Makanya saya tidak terhalang apapun untuk menerima dan menikmati berkat-berkat Tuhan."
"Pak, tolong doakan saya agar saya disembuhkan dari stroke ini..." Tanpa ragu, hamba Tuhan ini berjongkok di muka kursi roda dan mendoakan orang yang telah menyakiti keluarganya ini. "Tuhan yang penuh belas kasihan, saya telah mengampuni bapak ini, saya mohon demi kasih karunia-Mu, pulihkan tubuh bapak ini dalam nama Tuhan Penyembuh."
Beberapa lama kemudian, ketika hamba Tuhan ini bertemu kembali, sang pengusaha telah dipulihkan 100 % dari sakit stroke-nya.
Sumber : Hadi Kristadi, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Tuesday, January 16, 2007
Monday, January 15, 2007
Tragedi atau Berkat?
Bertahun-tahun yang lalu di Skotlandia, keluarga Clark memiliki sebuah impian. Clark dan isterinya bekerja dan menabung, membuat perencanaan bagi keluarga mereka, termasuk 9 orang anak, untuk bepergian ke Amerika Serikat. Hal ini memerlukan waktu bertahun-tahun, namun akhirnya mereka memiliki tabungan yang cukup dan mereka mengurus pasport dan mengatur reservasi pada sebuah kapal pesiar baru menuju Amerika Serikat.
Seluruh keluarga itu dipenuhi dengan pengharapan dan kegembiraan tentang perjalanan mereka. Namun, tujuh hari sebelum keberangkatan mereka, anak laki-laki termuda digigit anjing. Dokter menjahit luka anak itu dan menaruh pita kuning tanda karantina di muka rumah Clark. Dalam rangka mencegah wabah rabies, mereka dikarantina selama 14 hari.
Impian keluarga ini berantakan. Mereka tidak akan dapat melakukan perjalanan ke Amerika seperti yang mereka telah rencanakan. Sang ayah, yang dipenuhi dengan kekecewaan dan kemarahan, menuju dermaga untuk melihat kapal mewah itu berlayar – tanpa keluarga Clark. Sang ayah menumpahkan air mata kekecewaan dan menyesali anak laki-lakinya karena kesialan itu.
Lima hari kemudian, kabar tragis melanda seluruh Skotlandia. Kapal pesiar Titanic tenggelam di laut. Kapal yang semula diperkirakan tidak bakal tenggelam itu ternyata tenggelam, merenggut ratusan nyawa bersamanya. Keluarga Clark seharusnya ada di kapal itu, namun karena anak laki-lakinya digigit anjing, mereka tertinggal di Skotlandia.
Ketika Pak Clark mendengar berita itu, ia memeluk anak laki-laki termudanya dan berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan seluruh keluarga itu. Ia bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan jiwa mereka dan mengubah apa yang semula dianggap tragedi menjadi suatu berkat.
Tragedi diubah jadi berkat, itu juga yang dialami dua pengusaha yang menjadi tokoh dalam buku ”Mukjizat Kehidupan”. Tuhan menunjukkan bahwa tidak selalu hal-hal buruk adalah kata akhir bagi kehidupan yang penuh kemalangan. Tuhan mengubah air mata menjadi mata air kehidupan.
Meskipun kita tidak selalu mengerti, Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. Sebab Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya mengenai kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.
Posted by : Hadi Kristadi for : http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Seluruh keluarga itu dipenuhi dengan pengharapan dan kegembiraan tentang perjalanan mereka. Namun, tujuh hari sebelum keberangkatan mereka, anak laki-laki termuda digigit anjing. Dokter menjahit luka anak itu dan menaruh pita kuning tanda karantina di muka rumah Clark. Dalam rangka mencegah wabah rabies, mereka dikarantina selama 14 hari.
Impian keluarga ini berantakan. Mereka tidak akan dapat melakukan perjalanan ke Amerika seperti yang mereka telah rencanakan. Sang ayah, yang dipenuhi dengan kekecewaan dan kemarahan, menuju dermaga untuk melihat kapal mewah itu berlayar – tanpa keluarga Clark. Sang ayah menumpahkan air mata kekecewaan dan menyesali anak laki-lakinya karena kesialan itu.
Lima hari kemudian, kabar tragis melanda seluruh Skotlandia. Kapal pesiar Titanic tenggelam di laut. Kapal yang semula diperkirakan tidak bakal tenggelam itu ternyata tenggelam, merenggut ratusan nyawa bersamanya. Keluarga Clark seharusnya ada di kapal itu, namun karena anak laki-lakinya digigit anjing, mereka tertinggal di Skotlandia.
Ketika Pak Clark mendengar berita itu, ia memeluk anak laki-laki termudanya dan berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan seluruh keluarga itu. Ia bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan jiwa mereka dan mengubah apa yang semula dianggap tragedi menjadi suatu berkat.
Tragedi diubah jadi berkat, itu juga yang dialami dua pengusaha yang menjadi tokoh dalam buku ”Mukjizat Kehidupan”. Tuhan menunjukkan bahwa tidak selalu hal-hal buruk adalah kata akhir bagi kehidupan yang penuh kemalangan. Tuhan mengubah air mata menjadi mata air kehidupan.
Meskipun kita tidak selalu mengerti, Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. Sebab Tuhan mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Nya mengenai kita, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.
Posted by : Hadi Kristadi for : http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Sunday, January 14, 2007
Cerita Dari Seorang Sobat
Cerita Dari Seorang Sobat
Sobat saya ini seorang Doktor di bidang ekonomi. Kami dulu kuliah di UI. Dia pernah menjadi Deputy Menneg BUMN. Dia masih mengajar mahasiswa tingkat Magister dan Doktoral. Dia juga ahli ilmu Tauhid dan Fiqih. (Ngomong-ngomong saya sampai sekarang masih ingat surat Al Fatihah dan surat Qulhu - QS 112 Al Ikhlas 1-3 - lho). Namun dia sekarang berkiprah di dunia musik, Jazz khususnya, sebagai produser dan penggubah. Album pertamanya sudah dirilis tahun lalu, berjudul Sky Is Everywhere. Album ini diproduksi melalui program komputer yang canggih dan juga menampilkan Harry Idol. Banyak pejabat heran, koq seorang Doktor Ekonomi mampu mencipta album jazzy yang menarik ini? Bahkan Glenn Dauna And Friends, konon, akan membuat album khusus yang semua lagu-lagunya digubah sobat saya ini. Saya mendapat kehormatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang akan dirilis Glenn cs tersebut. Sungguh, lagu-lagu yang easy listening dan kalau boleh saya katakan, lagu-lagu jazz itu sudah tergolong kelas dunia.
Minggu pagi ini datang SMS dari sobat saya yang doktor itu, bunyinya :
"Saya sudah selesai baca buku "Mukjizat Kehidupan" yang anda tulis. Terlepas dari idiom-idiom kristiani yang ada di dalam buku itu, pesan moral dan kebajikannya universal dan 'very inspiring'. Bravo! We are proud of you :) Semoga bisa diikuti dengan karya-karya berikutnya."
SMS itu begitu tulus, bukan basa basi, karena teman saya juga adalah seorang penulis yang berkualitas.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sobat saya ini seorang Doktor di bidang ekonomi. Kami dulu kuliah di UI. Dia pernah menjadi Deputy Menneg BUMN. Dia masih mengajar mahasiswa tingkat Magister dan Doktoral. Dia juga ahli ilmu Tauhid dan Fiqih. (Ngomong-ngomong saya sampai sekarang masih ingat surat Al Fatihah dan surat Qulhu - QS 112 Al Ikhlas 1-3 - lho). Namun dia sekarang berkiprah di dunia musik, Jazz khususnya, sebagai produser dan penggubah. Album pertamanya sudah dirilis tahun lalu, berjudul Sky Is Everywhere. Album ini diproduksi melalui program komputer yang canggih dan juga menampilkan Harry Idol. Banyak pejabat heran, koq seorang Doktor Ekonomi mampu mencipta album jazzy yang menarik ini? Bahkan Glenn Dauna And Friends, konon, akan membuat album khusus yang semua lagu-lagunya digubah sobat saya ini. Saya mendapat kehormatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang akan dirilis Glenn cs tersebut. Sungguh, lagu-lagu yang easy listening dan kalau boleh saya katakan, lagu-lagu jazz itu sudah tergolong kelas dunia.
Minggu pagi ini datang SMS dari sobat saya yang doktor itu, bunyinya :
"Saya sudah selesai baca buku "Mukjizat Kehidupan" yang anda tulis. Terlepas dari idiom-idiom kristiani yang ada di dalam buku itu, pesan moral dan kebajikannya universal dan 'very inspiring'. Bravo! We are proud of you :) Semoga bisa diikuti dengan karya-karya berikutnya."
SMS itu begitu tulus, bukan basa basi, karena teman saya juga adalah seorang penulis yang berkualitas.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, January 13, 2007
A Valuable Treasure
Suatu ketika Dutch Sheets, seorang pendoa syafaat, melihat seorang wanita di San Pedro, Guatemala, sedang mencari sebuah jam tangan. Jam tangan itu adalah milik suaminya yang tewas karena gempa bumi tahun 1976. Ketiga anak wanita inipun turut mencari-cari jam tangan itu. Harta yang mereka miliki hanyalah pakaian yang melekat di tubuh mereka. Rumah mereka yang sempit telah tertimbun tumpukan tanah kotor.
Ketika penerjemah yang menyertai Dutch Sheets bertanya kepadanya apa yang ia cari dengan menggali-gali tanah, wanita itu menjawab, "Saya lagi mencari sekantung kacang buncis dan jam tangan suami saya. Ia terbaring di sini ketika ia meninggal." katanya sambil menunjuk sebidang tanah seluas tiga meter persegi. "Jam tangan itu sangat berarti bagi saya jika saya dapat menemukannya."
Maka kamipun mulai menggali tanah bersama-sama dengan dia. Meskipun pekerjaan ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, kami berdoa kepada Tuhan dan terus menggali sampai kedalaman sekitar satu meter. Akhirnya, kami menemukan jam tangan itu dua jam kemudian.
"Muchas gracias! (Terima kasih banyak!)" katanya berulang-ulang sambil menangis. Ia menggenggam jam tangan itu erat-erat di dadanya.
Alangkah indahnya jika dunia melihat kejadian ini, seseorang yang menemukan "harta karun". Dengan menyaksikan kejadian ini, mungkin orang akan dapat bersyukur atas keadaannya sekarang ini atau mungkin akan mengubah prioritas kehidupannya.
Lihatlah betapa anda jauh lebih beruntung daripada wanita ini. Kita dapat mengucap syukur senantiasa, dalam segala keadaan, karena Tuhan itu sangat baik. Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Ketika penerjemah yang menyertai Dutch Sheets bertanya kepadanya apa yang ia cari dengan menggali-gali tanah, wanita itu menjawab, "Saya lagi mencari sekantung kacang buncis dan jam tangan suami saya. Ia terbaring di sini ketika ia meninggal." katanya sambil menunjuk sebidang tanah seluas tiga meter persegi. "Jam tangan itu sangat berarti bagi saya jika saya dapat menemukannya."
Maka kamipun mulai menggali tanah bersama-sama dengan dia. Meskipun pekerjaan ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, kami berdoa kepada Tuhan dan terus menggali sampai kedalaman sekitar satu meter. Akhirnya, kami menemukan jam tangan itu dua jam kemudian.
"Muchas gracias! (Terima kasih banyak!)" katanya berulang-ulang sambil menangis. Ia menggenggam jam tangan itu erat-erat di dadanya.
Alangkah indahnya jika dunia melihat kejadian ini, seseorang yang menemukan "harta karun". Dengan menyaksikan kejadian ini, mungkin orang akan dapat bersyukur atas keadaannya sekarang ini atau mungkin akan mengubah prioritas kehidupannya.
Lihatlah betapa anda jauh lebih beruntung daripada wanita ini. Kita dapat mengucap syukur senantiasa, dalam segala keadaan, karena Tuhan itu sangat baik. Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Friday, January 12, 2007
A Smile from Heaven
Joni Eareckson Tada adalah seorang wanita yang mengalami kelumpuhan. Ia dulunya adalah atlit renang yang mengalami kecelakaan di kolam renang. Pada suatu hari di sela-sela sebuah konferensi wanita, di kamar toilet seorang wanita bertanya sambil mengoleskan lipstik di bibirnya, ”Oh, Joni, anda selalu kelihatan riang dan bahagia di kursi roda anda. Saya berharap dapat memiliki sukacita seperti itu!” Beberapa wanita yang ada di sekitar situ juga menganggukkan kepala mereka tanda setuju.
”Bagaimana anda dapat melakukan hal itu?” katanya sambil menutup wadah lipstik itu.
”Saya tidak melakukannya,” kata Joni, ”sesungguhnya bolehkah saya mengaku terus terang apa yang terjadi saat saya bangun pagi?”
”Beginilah kegiatan rutin harian saya,” kata Joni sambil menghela nafas panjang, ”Setelah Ken suami saya pergi ke kantor jam 6 pagi, saya sendirian sampai jam 7 pagi ketika ada bel di pintu menandai kedatangan teman saya untuk mengurus saya. Sementara saya mendengarkan dia membuat kopi, saya berdoa, ’Oh, Tuhan, sebentar lagi teman saya memandikan saya, memakaikan baju saya, mendudukkan saya di kursi roda, menyisir rambut saya, menggosok gigi saya, dan membawa saya ke luar rumah. Saya tidak mampu menghadapi kegiatan rutin seperti ini lagi. Saya tidak berdaya. Saya tidak mampu tersenyum hari ini. Namun Engkau memilikinya. Bolehkah saya memiliki senyum-Mu? Bapa, saya sangat memerlukan Engkau!’ ”
”Lalu apa yang terjadi pada teman anda ketika dia masuk ke kamar anda?”
”Saya memalingkan wajah saya kepadanya dan memberi senyuman yang datangnya langsung dari sorga! Itu bukan senyuman saya. Itu senyuman Allah. Begitulah ceritanya,” kata Joni sambil memalingkan wajahnya menunjuk ke arah kaki-kakinya yang umpuh, ”senyuman itu hanya karena kasih karunia Tuhan. Senyuman yang kalian lihat saat ini telah diperoleh dengan berat pada pagi hari tadi dan karena kasih karunia Tuhan. Saya telah belajar bahwa semakin lemah kita, semakin kuat kita harus bergantung pada kasih karunia Allah. Dan semakin kita bergantung pada kasih karunia Allah, kita akan menemukan betapa besar kuasa-Nya bagi kita.”
Mari nikmati kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah karena ini Tahun Rahmat Tuhan, Tahun Kasih Karunia Tuhan, tahun yang penuh dengan susu dan madu, bagi mereka yang taat, percaya, dan mengasihi-Nya dengan segenap hati.
Posted by : Hadi Kristadi for : http://pentas-kehidupan.blogspot.com
”Bagaimana anda dapat melakukan hal itu?” katanya sambil menutup wadah lipstik itu.
”Saya tidak melakukannya,” kata Joni, ”sesungguhnya bolehkah saya mengaku terus terang apa yang terjadi saat saya bangun pagi?”
”Beginilah kegiatan rutin harian saya,” kata Joni sambil menghela nafas panjang, ”Setelah Ken suami saya pergi ke kantor jam 6 pagi, saya sendirian sampai jam 7 pagi ketika ada bel di pintu menandai kedatangan teman saya untuk mengurus saya. Sementara saya mendengarkan dia membuat kopi, saya berdoa, ’Oh, Tuhan, sebentar lagi teman saya memandikan saya, memakaikan baju saya, mendudukkan saya di kursi roda, menyisir rambut saya, menggosok gigi saya, dan membawa saya ke luar rumah. Saya tidak mampu menghadapi kegiatan rutin seperti ini lagi. Saya tidak berdaya. Saya tidak mampu tersenyum hari ini. Namun Engkau memilikinya. Bolehkah saya memiliki senyum-Mu? Bapa, saya sangat memerlukan Engkau!’ ”
”Lalu apa yang terjadi pada teman anda ketika dia masuk ke kamar anda?”
”Saya memalingkan wajah saya kepadanya dan memberi senyuman yang datangnya langsung dari sorga! Itu bukan senyuman saya. Itu senyuman Allah. Begitulah ceritanya,” kata Joni sambil memalingkan wajahnya menunjuk ke arah kaki-kakinya yang umpuh, ”senyuman itu hanya karena kasih karunia Tuhan. Senyuman yang kalian lihat saat ini telah diperoleh dengan berat pada pagi hari tadi dan karena kasih karunia Tuhan. Saya telah belajar bahwa semakin lemah kita, semakin kuat kita harus bergantung pada kasih karunia Allah. Dan semakin kita bergantung pada kasih karunia Allah, kita akan menemukan betapa besar kuasa-Nya bagi kita.”
Mari nikmati kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah karena ini Tahun Rahmat Tuhan, Tahun Kasih Karunia Tuhan, tahun yang penuh dengan susu dan madu, bagi mereka yang taat, percaya, dan mengasihi-Nya dengan segenap hati.
Posted by : Hadi Kristadi for : http://pentas-kehidupan.blogspot.com
Kisah Kasih Superwoman terhadap Superman
Kisah Kasih Superwoman terhadap Superman
Dana Reeve terlahir sebagai Dana Charles Morosini di New Jersey pada 17 Maret 1961. Ia lulus dari dari Middlebury College di Vermont dengan predikat Cum Laude dalam bidang Sastra Inggris. Di bidang seni ia pernah belajar di Royal Academy of Dramatic Art di London dan kemudian ia meneruskan ke California Institute of the Arts. Ia adalah seorang aktris, penyanyi, penulis buku, dan aktivis bagi orang-orang cacat. Pada bulan April 1992 ia menikah dengan pemeran Superman, Christopher Reeve dan dikarunia seorang anak bernama William Elliot Reeve. Ia dan suaminya mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Middlebury College pada tahun 2004.
Sebagai seorang isteri Dana Reeve menikmati kebahagian pernikahan yang normal hanya sampai 27 Mei 1995, sekitar 3 tahun, yaitu sampai Christopher Reeve terjatuh dari kuda yang menyebabkan bagian tubuhnya lumpuh dari leher ke bawah. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya selalu ada di kursi roda. Banyak bantuan keuangan mengalir datang kepada Chris dan Dana. Mereka menyatakan bahwa biaya perawatan kesehatannya telah ditanggung pihak asuransi, sehingga uang yang diterima kemudian dimasukkan dalam dana yayasan yang ia dirikan, Christopher Reeve Foundation, yang menolong riset bagi kesembuhan sakit lumpuh dan upaya-upaya meningkatkan kualitas hidup orang-orang cacat. Uang yang terkumpul di yayasan itu sampai saat ini lebih dari US $ 63 juta.
Cinta kasih Dana terhadap suaminya, Chris, dibuktikan dengan kesetiaannya merawat suaminya tanpa bersungut-sungut. Saat itu usia Dana baru 34 tahun, usia yang masih membutuhkan romantisme pernikahan. Ia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan normal, meskipun ia sebenarnya membutuhkan kasih sayang yang utuh dari seorang suami: jasmani, jiwani dan rohani.
Cinta kasih Dana merupakan cinta kasih sorgawi. Cinta kasih Dana membuktikan bahwa kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih itu tidak sombong. Kasih Dana terhadap suaminya tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih Dana menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Mestinya seorang isteri yang kebutuhan rohani dan jasmaninya tidak terpenuhi akan sakit hati atau kecewa atau marah. Namun Dana sebaliknya, karena ia memiliki kasih yang tidak bersyarat, kasih yang berfokus menyenangkan suaminya, kasih yang tidak hitung-hitungan, kasih yang tidak egois.
Sebagai seorang ibu, Dana adalah ibu teladan. Ia tidak kecewa atau melampiaskan kekecewaan karena memiliki seorang suami yang cacat-lumpuh-tanpadaya, kepada anaknya. Ia membesarkan anaknya dengan baik, terbukti ketika pada tahun 2005 ia meraih gelar ”Mother of The Year Award” dari American Cancer Society karena dedikasinya dan ketabahannya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya.
Sejak suaminya lumpuh bahkan Dana Reeve menjadi seorang pembicara motivasi dan aktivis bagi kehidupan orang-orang lumpuh yang berkualitas.
Kehidupan Dana Reeve menjadi model seorang isteri yang tabah menghadapi suaminya yang cacat. Ketika suaminya meninggal pada 10 Oktober 2004, setelah dirawat selama kurang lebih 9 tahun. Pada penguburan suaminya, Dana berkata bahwa, ”Dahulu kita berikrar di muka altar ketika pernikahan kita bahwa kita berjanji selalu setia, pada waktu senang dan susah, pada waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita. Namun aku berkata di depan jenazahmu, bahwa meskipun maut telah memisahkan kita, aku tetap setia kepadamu. Engkaulah satu-satunya suami dalam hidupku.”
Janji setia Dana Reeve dibuktikan sampai akhir hayatnya. Ia tidak menikah lagi, meskipun pada waktu itu usianya baru 43 tahun. Dana meninggal pada 6 Maret 2006 karena sakit kanker paru-paru, sekitar 1,5 tahun setelah kematian suaminya.
Kesetiaan Dana Reeve terhadap suaminya membuktikan kisah kasih yang luar biasa dari seorang istri di kalangan dunia selebritis. Ia tetap setia kepada almarhum suaminya meskipun ia cantik, kaya, dan cerdas serta gampang menikah lagi kalau ia mau. Kesetiaan Dana menjadi inspirasi bagi banyak orang yang saat ini melihat perceraian dan perselingkuhan merajalela. Posted by Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dana Reeve terlahir sebagai Dana Charles Morosini di New Jersey pada 17 Maret 1961. Ia lulus dari dari Middlebury College di Vermont dengan predikat Cum Laude dalam bidang Sastra Inggris. Di bidang seni ia pernah belajar di Royal Academy of Dramatic Art di London dan kemudian ia meneruskan ke California Institute of the Arts. Ia adalah seorang aktris, penyanyi, penulis buku, dan aktivis bagi orang-orang cacat. Pada bulan April 1992 ia menikah dengan pemeran Superman, Christopher Reeve dan dikarunia seorang anak bernama William Elliot Reeve. Ia dan suaminya mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Middlebury College pada tahun 2004.
Sebagai seorang isteri Dana Reeve menikmati kebahagian pernikahan yang normal hanya sampai 27 Mei 1995, sekitar 3 tahun, yaitu sampai Christopher Reeve terjatuh dari kuda yang menyebabkan bagian tubuhnya lumpuh dari leher ke bawah. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya selalu ada di kursi roda. Banyak bantuan keuangan mengalir datang kepada Chris dan Dana. Mereka menyatakan bahwa biaya perawatan kesehatannya telah ditanggung pihak asuransi, sehingga uang yang diterima kemudian dimasukkan dalam dana yayasan yang ia dirikan, Christopher Reeve Foundation, yang menolong riset bagi kesembuhan sakit lumpuh dan upaya-upaya meningkatkan kualitas hidup orang-orang cacat. Uang yang terkumpul di yayasan itu sampai saat ini lebih dari US $ 63 juta.
Cinta kasih Dana terhadap suaminya, Chris, dibuktikan dengan kesetiaannya merawat suaminya tanpa bersungut-sungut. Saat itu usia Dana baru 34 tahun, usia yang masih membutuhkan romantisme pernikahan. Ia menjalani kehidupan rumah tangganya dengan normal, meskipun ia sebenarnya membutuhkan kasih sayang yang utuh dari seorang suami: jasmani, jiwani dan rohani.
Cinta kasih Dana merupakan cinta kasih sorgawi. Cinta kasih Dana membuktikan bahwa kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih itu tidak sombong. Kasih Dana terhadap suaminya tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih Dana menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Mestinya seorang isteri yang kebutuhan rohani dan jasmaninya tidak terpenuhi akan sakit hati atau kecewa atau marah. Namun Dana sebaliknya, karena ia memiliki kasih yang tidak bersyarat, kasih yang berfokus menyenangkan suaminya, kasih yang tidak hitung-hitungan, kasih yang tidak egois.
Sebagai seorang ibu, Dana adalah ibu teladan. Ia tidak kecewa atau melampiaskan kekecewaan karena memiliki seorang suami yang cacat-lumpuh-tanpadaya, kepada anaknya. Ia membesarkan anaknya dengan baik, terbukti ketika pada tahun 2005 ia meraih gelar ”Mother of The Year Award” dari American Cancer Society karena dedikasinya dan ketabahannya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya.
Sejak suaminya lumpuh bahkan Dana Reeve menjadi seorang pembicara motivasi dan aktivis bagi kehidupan orang-orang lumpuh yang berkualitas.
Kehidupan Dana Reeve menjadi model seorang isteri yang tabah menghadapi suaminya yang cacat. Ketika suaminya meninggal pada 10 Oktober 2004, setelah dirawat selama kurang lebih 9 tahun. Pada penguburan suaminya, Dana berkata bahwa, ”Dahulu kita berikrar di muka altar ketika pernikahan kita bahwa kita berjanji selalu setia, pada waktu senang dan susah, pada waktu sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kita. Namun aku berkata di depan jenazahmu, bahwa meskipun maut telah memisahkan kita, aku tetap setia kepadamu. Engkaulah satu-satunya suami dalam hidupku.”
Janji setia Dana Reeve dibuktikan sampai akhir hayatnya. Ia tidak menikah lagi, meskipun pada waktu itu usianya baru 43 tahun. Dana meninggal pada 6 Maret 2006 karena sakit kanker paru-paru, sekitar 1,5 tahun setelah kematian suaminya.
Kesetiaan Dana Reeve terhadap suaminya membuktikan kisah kasih yang luar biasa dari seorang istri di kalangan dunia selebritis. Ia tetap setia kepada almarhum suaminya meskipun ia cantik, kaya, dan cerdas serta gampang menikah lagi kalau ia mau. Kesetiaan Dana menjadi inspirasi bagi banyak orang yang saat ini melihat perceraian dan perselingkuhan merajalela. Posted by Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com
A Grandma Story
Cerita Seorang Oma
Oma ini sudah lanjut usianya, sudah punya cicit. Dulu dia suka sekali membaca buku, namun karena belakangan ini sering terasa pusing bila membaca, maka ia sangat selektif memilih buku yang dibacanya. Bahkan ketika buku "Surga Itu Nyata" ditawarkan kepadanya, karena terlihat tebal, maka dia tidak mau membaca buku ini. Ketika pada hari Ibu, 22 Desember 2006 yang lalu ia mendapat kado buku "Mukjizat Kehidupan", ia tergerak untuk membacanya sampai habis.
Setelah membaca buku ini dia sangat terharu oleh salah satu kisah yang ada di dalamnya. Ia agak menyesal karena selama kehidupan bersama suaminya yang telah almarhum, ia dulu suka ngotot di depan suaminya mempertahankan pendapatnya yang ia anggap benar. Padahal di dalam buku itu diceritakan betapa wanita pengusaha yang menjadi narasumber buku itu diajar tunduk kepada suaminya secara total. Apabila sang oma ini boleh mengulangi lagi kehidupan ini, ia akan menerapkan prinsip yang ada di dalam buku itu dalam kehidupan bersama suaminya. Oleh karena itu ia mendorong anak-anak perempuannya untuk membaca buku ”Mukjizat Kehidupan”, supaya jangan menyesal seperti dirinya.
Bukan itu saja pengalaman sang oma. Beberapa hari yang lalu ada seorang ibu yang ingin dikonseling si oma. Dari rumah sebenarnya Roh Kudus sudah mengingatkan oma ini agar membawa buku Mukjizat Kehidupan , namun karena sudah sepuh, ia lupa membawanya. Karena ia ingat prinsip-prinsip yang ada di dalam buku itu, ia menyampaikan nasihat-nasihatnya sesuai apa yang telah ia baca.
Ketika oma menananyakan kepada si ibu yang dikonselingnya, apakah ia sudah membaca buku "Mukjizat Kehidupan", si ibu mengaku sudah melihat buku itu di rumah temannya namun ia belum membacanya. Oleh karena itu sang oma berjanji akan meminjamkan buku itu minggu depan ini.
Buku ini telah memberi berkat bagi banyak orang, bacalah sampai habis, karena di bagian terakhir ada nubuatan yang segera akan digenapi di Indonesia. Soli Deo Gracia ! Selamat Membaca dan Menikmati Mukjizat Tuhan !(Hadi Kristadi)
Oma ini sudah lanjut usianya, sudah punya cicit. Dulu dia suka sekali membaca buku, namun karena belakangan ini sering terasa pusing bila membaca, maka ia sangat selektif memilih buku yang dibacanya. Bahkan ketika buku "Surga Itu Nyata" ditawarkan kepadanya, karena terlihat tebal, maka dia tidak mau membaca buku ini. Ketika pada hari Ibu, 22 Desember 2006 yang lalu ia mendapat kado buku "Mukjizat Kehidupan", ia tergerak untuk membacanya sampai habis.
Setelah membaca buku ini dia sangat terharu oleh salah satu kisah yang ada di dalamnya. Ia agak menyesal karena selama kehidupan bersama suaminya yang telah almarhum, ia dulu suka ngotot di depan suaminya mempertahankan pendapatnya yang ia anggap benar. Padahal di dalam buku itu diceritakan betapa wanita pengusaha yang menjadi narasumber buku itu diajar tunduk kepada suaminya secara total. Apabila sang oma ini boleh mengulangi lagi kehidupan ini, ia akan menerapkan prinsip yang ada di dalam buku itu dalam kehidupan bersama suaminya. Oleh karena itu ia mendorong anak-anak perempuannya untuk membaca buku ”Mukjizat Kehidupan”, supaya jangan menyesal seperti dirinya.
Bukan itu saja pengalaman sang oma. Beberapa hari yang lalu ada seorang ibu yang ingin dikonseling si oma. Dari rumah sebenarnya Roh Kudus sudah mengingatkan oma ini agar membawa buku Mukjizat Kehidupan , namun karena sudah sepuh, ia lupa membawanya. Karena ia ingat prinsip-prinsip yang ada di dalam buku itu, ia menyampaikan nasihat-nasihatnya sesuai apa yang telah ia baca.
Ketika oma menananyakan kepada si ibu yang dikonselingnya, apakah ia sudah membaca buku "Mukjizat Kehidupan", si ibu mengaku sudah melihat buku itu di rumah temannya namun ia belum membacanya. Oleh karena itu sang oma berjanji akan meminjamkan buku itu minggu depan ini.
Buku ini telah memberi berkat bagi banyak orang, bacalah sampai habis, karena di bagian terakhir ada nubuatan yang segera akan digenapi di Indonesia. Soli Deo Gracia ! Selamat Membaca dan Menikmati Mukjizat Tuhan !(Hadi Kristadi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI