Tuesday, February 5, 2008

A Flower Bouquet

Sudah bertahun-tahun ini ada seorang Ibu yang menyumbang karangan bunga indah untuk diletakkan di altar gereja kami. Setiap minggu Ibu ini mengirim bunga itu. Ketika teman saya menghubungi toko bunga untuk mengetahui siapa ibu tersebut, toko bunga itu bercerita bahwa ibu tersebut tidak ingin diketahui namanya dan setiap minggu ibu yang baik hati itu mengirimkan total 8 karangan bunga untuk delapan gereja. Harga satu karangan bunga itu Rp. 200.000,- Itu berarti setiap minggu ia mengeluarkan dana sebesar Rp. 1.600.000,- atau per bulan Rp. 6,4 juta dan per tahun Rp. 76,8 juta. Perbuatan kasih si ibu ini pasti diperhitungkan Tuhan.

Bicara soal karangan bunga, ada kisah lama yang sangat menyentuh hati:
Ada orang yang setiap hari Minggu menyumbang sekuntum kuncup mawar untuk dipasangkan di kerah jasku. Aku amat menghargai kiriman ini, namun karena dilakukan pada setiap hari Minggu, maka aku tidak begitu memikirkannya lagi, karena terkesan sudah amat rutin. Namun pada suatu hari Minggu sesuatu yang sudah aku anggap biasa itu menjadi sesuatu yang amat luar biasa.

Ketika hendak meninggalkan kebaktian Minggu, seorang anak lelaki menghampiriku. Ia menengadah sambil bertanya, "Pak Pendeta, apa yang akan Anda lakukan dengan bunga itu?" Mula-mula aku tak sadar akan apa yang ia maksudkan, tepi segera saja aku tahu. Aku berkata, "Apakah ini yang kau maksudkan?" sambil menunjuk pada kuntum mawar di kerah jasku. Anak lelaki itu berkata, "Ya, Pak. Aku menginginkannya, jika anda akan membuangnya." Aku segera tersenyum dan dengan senang hati mengatakan kepadanya bahwa ia boleh mengambilnya, serta sambil lalu menanyakan apa yang akan ia lakukan dengan bunga itu. Anak lelaki yang usianya kira-kira sepuluh tahun itu menjawab, "Pak, aku akan memberikannya kepada nenekku. Orang tuaku bercerai tahun lalu. Aku tinggal dengan ibuku, tetapi ketika ia menikah lagi, ia menyuruh aku tinggal dengan ayahku. Aku tinggal dengan ayah untuk beberapa waktu, tetapi ia katakan aku tidak dapat terlalu lama tinggal dengannya, jadi aku diminta tinggal dengan nenekku. Nenek begitu baik kepadaku. Ia masak dan merawatku. Ia begitu baik kepadaku sehingga aku ingin memberikan bunga indah itu kepadanya karena ia telah menyayangi aku."

Ketika anak kecil itu selesai berbicara aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Air mata menggenang di pelupuk mataku dan aku tersentuh sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Aku membuka jepit kuntum bunga itu. Dengan bunga di tangan, aku memandang anak itu sambil berkata, "Nak, itu hal yang paling indah yang pernah aku dengar, tapi bunga ini saja tidak cukup. Jika kau melihat meja di depan mimbar, maka kau akan melihat sebuah karangan bunga yang besar. Ambillah karangan bunga itu untuk nenekmu karena ia patut menerima yang terbaik."

Aku sudah begitu tersentuh dengan kejadian ini, namun anak lelaki itu masih menambahkan sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan. Ia berkata, "Oh, hari ini sungguh istimewa! Aku minta sekuntum bunga namun menerima sebuah karangan bunga yang indah." (John. R. Ramsey)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com