Seorang gembala dari Bandung bersaksi bahwa pada suatu hari ia ketemu seorang penjual buah. Penjual itu menawarkan tiga macam buah: jeruk, mangga, dan jambu. Ia tidak lagi memerlukan buah-buah itu karena masih punya persediaan di rumah. Namun ketika melihat orang tua yang menjual buah itu, ia tergerak oleh belas kasihan. Ia datangi penjual buah itu, bertanya berapa harga sekilo. Harganya semua sama, Rp. 7 ribu per kg. Harga cocok, lalu ia membeli buah itu semua, masing-masing empat kg. Ia menyodorkan uang Rp. 100 ribu, namun penjual itu bilang, "Maaf, tidak ada uang kembalian." "Ya, gak apa-apa, pak." kata pendeta itu rela, walaupun seharusnya ia menerima uang kembalian. Rp. 16 ribu.
Ketika akan berlalu orang tua itu berkata, "Nak, saya tahu engkau tidak perlu buah-buah ini, dan sebenarnya engkau tidak tertarik membelinya. Tapi karena belas kasihanmu, engkau membelinya, ya 'kan? Mari, saya mau berdoa buat kamu."
Lho, dia seorang pendeta, mau didoakan seorang tua yang tak dikenal ini? Namun ada sesuatu di mata orang tua itu yang membuat hatinya tenteram.
"Tuhan akan mencurahkan berkat dari langit kepadamu," kata orang tua itu sambil memegangi tangan pendeta itu. Ketika kedua tangannya dipegang, ia merasa ada aliran yang kuat, seperti aliran listrik, mengalir ke dalam tubuhnya. Ia tidak pernah merasakan aliran seperti ini ketika ia ditumpangi tangan oleh hamba-hamba Tuhan yang besar. Urapan dari orang tua ini begitu kuat.
"Tuhan akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat yang melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepalamu. Karena engkau mempunyai hati yang penuh belas kasih, maka sejak saat ini engkau tidak akan pernah mengalami kekurangan, tidak ada jalan buntu. Selalu ada jalan keluar dan pertolongan dari tempat mahatinggi terhadap masalahmu!"
Sementara didoakan, aliran roh itu deras menerpanya sehingga ia rebah ke pohon di dekat penjual buah itu. Ketika ia berlalu dan menengok ke belakang, ia tidak melihat penjual buah itu lagi. Menghilang. Mungkinkah itu malaikat utusan dari Bapa?
Marilah kita berbuat baik dan berbelas kasih, siapa tahu orang yang kita tolong adalah malaikat dari sorga yang diutus menemui kita.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com