Pendeta Refina tidak menyangka kalau hari itu, 2 Juni 2007, merupakan hari yang naas baginya. Padahal sejak pagi hingga sore segalanya berjalan dengan baik-baik saja. Saat itu hari sudah menjelang malam. Sebagaimana biasa ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk beristirahat setelah lelah beraktivitas seharian.
Tiba-tiba saja datang seorang pria yang sepertinya ia kenal. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, ia segera membuka pintu. Naas baginya, karena tanpa bicara apa-apa orang itu langsung menyiramkan getah karet ke tubuhnya dan memukuli kepalanya dengan kunci Inggris. Ia berusaha mati-matian untuk menghindari serangan-serangan itu dan melindungi kepala dengan kedua tangannya. Serangan itu tidak berlangsung begitu lama karena pelaku khawatir warga akan berdatangan dan menangkapnya. Ia langsung kabur dan meninggalkan Pdt. Refina yang sudah bersimbah darah.
Beruntung warga langsung datang ke lokasi kejadian. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama dan membawanya ke Rumah Sakit. "Puji Tuhan, saya lolos dari maut. Saya kira riwayat saya sudah berakhir di sini. Tapi nyatanya tidak!" ujar wanita yang sudah tujuh tahun melayani ini.
Pdt. Refina akhirnya harus menerima kenyataan kalau kepalanya mengalami keretakan dan patah pada jari-jari tangannya. Bukan itu saja. Kulitnyapun terlihat seperti habis terbakar akibat siraman getah karet. Sebenarnya melalui hasil pemeriksaan ia seharusnya dirawat intensif di Rumah Sakit. Lantaran ketiadaan dana, Pdt. Refina akhirnya mengambil keputusan untuk tidak dirawat. "Kalau Tuhan ijinkan saya hidup, ya biarlah hidup. Tetapi kalau tidak, sayapun sudah siap." katanya lirih.
Waktu terus berjalan. Sambil setiap hari menahan sakit di kepala, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Di tengah-tengah kesendiriannya ia tiba-tiba saja teringat akan MissionCARE yang pernah membantu memberikan subsidi baginya. Saat itu juga ia mengambil secarik kertas dan menuliskan isi hatinya di dalam surat itu. "Saya pikir, saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali MissionCARE yang telah menjadi keluarga bagi saya." kata wanita berdarah Batak ini.
Selang beberapa hari kemudian surat itu tiba di kantor MissionCARE. Hisar, seorang staff, adalah orang pertama yang membaca surat itu dan tidak habis pikir dengan kejadian yang dialami Pdt. Refina. "Berulang kali saya membaca surat itu dan terus berpikir kenapa hal ini bisa terjadi?" katanya mengenang. Tanpa berpikir panjang ia mencoba agar pergumulan Pdt. Refina bisa disampaikan kepada banyak pihak melalui program siaran radio Voice of Mission (VOM). Melalui hasil diskusi dan penelusuran yang panjang, tim MissionCARE akhirnya berhasil mendapatkan nomor telpon Pdt. Refina dan berdialog cukup panjang dengannya. Hasil percakapan yang direkam itu kemudian dikemas menjadi satu bagian program acara VOM. "Saya ingin membuka mata para pendengar bahwa realita kehidupan pelayanan di pedalaman adalah seperti ini." kata Hisar. Selama program acara berlangsung, respon dari para pendengar ternyata di luar dugaan. Sejumlah dana berhasil dikumpulkan untuk bisa membantu Pdt. Refina melunasi utangnya di RS. Palembang, tempatnya dirawat. Bukan itu saja. Dari dana yang terkumpul akhirnya bisa memungkinkan Pdt. Refina berangkat ke Jakarta untuk diobati dengan lebih baik. Ada juga pendengar radio yang membantu memberi informasi mengenai dokter terbaik bagi pengobatannya. "Saya tidak menyangka kalau responnya sangat baik sekali, bahkan ada pendengar radio yang datang ke studio tempat kami siaran untuk memberi bantuan keuangan bagi Pdt. Refina," kata Hisar lagi. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas setiap bantuan yang sudah diberikan bagi pengobatan Pdt. Refina." ujar Hisar.
Kini Pdt. Refina sudah kembali ke tempat pelayanannya di desa Margo Mulyo, yang berjarak lima kilometer dari Palembang. Kepalanya berangsung-angsur membaik. Walau masih menyisakan trauma, ia tetap memiliki semangat untuk melayani jiwa-jiwa di pedesaan. Itulan potret salah satu kehidupan pelayanan di pedesaan. Pdt. Refina adalah satu dari sekian banyak hamba Tuhan yang pernah mengalami pergumulan di dalam pelayanannya. Semoga kisah Pdt. Refina ini membuka mata kita dan membuat dunia kita tidak hanya terbatas pada kenyamanan dan kenikmatan hidup di kota-kota besar. (Sumber: Majalah Mission, edisi Desember 2007, terbitan Yayasan Mitra Misi Indonesia/MissionCARE)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com