Monday, August 20, 2007

God's Favor Upon A Businessman

Ini kisah seorang pengusaha yang masa lalunya sangat menderita ketika pada umur enam tahun ditinggal pergi oleh papanya yang seorang guru karena papanya menikah lagi dengan muridnya sendiri, yang usianya lebih muda dari adik perempuannya. Dengan susah payah mamanya membesarkan dirinya dan adik-adiknya dengan menjahit pakaian. Pekerjaan ini sangat berat bagi ibunya sehingga pada usia 12 tahun ia dan adik-adiknya ditinggal mati ibu mereka yang menderita sakit asma.

Mulailah kehidupan yang lebih menderita lagi bagi kakak beradik itu. Mereka tinggal di rumah paman, adik ibu mereka. Untuk mencari uang ia mengantri di tempat praktek dokter yang laris dan "menjual" nomor antrian itu kepada pasien yang membutuhkan. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk menyambung hidup dan bersekolah.

Pada suatu hari kakak beradik ini berselisih dengan anak sang paman. Memang selama ini saudara sepupu ini sudah iri dan dengki kepada mereka. Seringkali mereka harus menahan kepedihan hati karena sering diejek dan dihina saudara sepupu. Semuanya ini mereka tahan dan bersabar saja karena mereka tahu diri menumpang pada sang paman. Kali ini saudara sepupu mereka mengadu kepada sang paman dan meminta papanya untuk mengusir kakak beradik ini. Mereka akhirnya harus meninggalkan rumah itu dan mencari tempat kontrakan yang sangat sederhana. Pergumulan mencari penghidupan bagi kakak beradik ini. Dalam kesulitan seperti ini mereka tidak pernah sampai kelaparan. Kakak mereka bekerja sambil sekolah untuk menghidupi ketiga adik-adiknya. Keuletan dalam berbisnis sudah diasah sejak kecil dan makin lama ia makin berhasil dalam usahanya.

Kini ia telah sukses sebagai pengusaha, importir lampu dan perlengkapan elektronik lainnya. Suatu saat ia berkesempatan datang ke Taiwan, tempat ayahnya sekarang tinggal. Ketika berjumpa dengan ayahnya, ia sudah dapat mengampuni ayah yang tak bertanggung jawab itu. Padahal ibunya melarang dia bertemu dengan ayah yang tak setia dan tak punya hati terhadap keluarganya. Ayahnya ternyata hidup susah di Taiwan. Ia meminta banyak uang dari dirinya, bahkan minta diizinkan tinggal di rumah anaknya ini di Jakarta. Karena desakan adik-adiknya, ia menolak keinginan ayahnya dan tetap mengirimkan uang seperlunya kepada ayahnya. Ia sudah mengampuni dosa-dosa ayahnya karena ia sudah lahir baru. Melihat ke belakang, ia bisa melihat bahwa dalam segala perkara Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com