Friday, July 6, 2007

Lost in the Jungle of Kalimantan

Kesaksian yang saya sampaikan ini benar-benar telah melatih roh saya untuk berperang. Pada suatu hari saya diminta oleh seorang pengusaha di Kalimantan Timur untuk menyelesaikan masalah perusahaannya dengan masyarakat suku Punan yang tinggal di tengah hutan rimba Kalimantan. Saya diminta bantuan untuk mendatangi suku itu agar alat-alat berat yang dijarah dapat dikembalikan dan agar orang-orang yang berusaha menghalangi kegiatan operasional perusahaan dapat didamaikan dengan pihak perusahaan, sehingga kegiatan perusahaan dapat berjalan kembali.

Setelah saya berdoa, saya berangkat dengan pesawat dari Samarinda dan tiba di daerah perbatasan Kalimantan Timur. Saya langsung menuju ke lokasi dengan mencarter mobil milik warga setempat. Sesampai di pertengahan jalan mendadak anak sungai di depan kami diterpa banjir besar, sehingga kendaraan yang saya tumpangi tidak dapat menyeberanginya. Sang sopir tidak berani jalan terus melewati anak sungai itu dan malah memaksa pulang kembali ke tempat kami berangkat. Saya ditinggalkan sendiri di pinggir sungai yang kebanjiran tadi, dikelilingi hutan rimba, jauh dari perkampungan.

Kemudian saya berjalan menyeberangi sungai tadi dan berhasil sampai ke seberang. Saya baru sadar bahwa hari mulai sore, di sekeliling saya hutan belantara dipenuhi bunyi-bunyian bermacam-macam serangga dan binatang hutan. Saya berdoa, "Tuhan Yesus, tolong saya yang berada di hutan sendirian dan hari akan menjadi malam! Dalam nama Tuhan Yesus saya berdoa. Amin!"

Kira-kira lima menit setelah saya berdoa, saya mendengar ada suara perahu mesin ketinting yang mengarungi anak sungai itu. Saya berbalik ke arah sungai lagi dan mengejar perahu yang dikendarai oleh dua orang anak kecil dari suku Punan. Mereka datang ke situ tanpa tujuan apa-apa dan saya membayar mereka untuk mengantar saya ke desa suku Punan yang akan saya datangi.

Ternyata desa yang akan saya datangi masih jauh sekali dan saya tiba di desa itu jam 9 malam. Saya bisa membayangkan, kalau saya berjalan kaki pasti memakan waktu lama dan sangat berbahaya berjalan kaki seorang diri di tengah kegelapan hutan rimba Kalimantan. Tetapi karena pertolongan Tuhan, Ia mengirimkan dua orang anak kecil untuk mengantar saya selamat sampai tujuan.

Keesokan harinya saya mengumpulkan orang-orang suku Punan dan mengajak mereka mengadakan kebaktian hari Minggu. Seusai kebaktian kami mengadakan acara Perjamuan Kasih atau makan bersama yang dibiayai oleh perusahaan. Selesai perjamuan kasih saya mulai berdiskusi mengenai masalah-masalah yang ada kepada Kepala Adat suku Punan. Dari pembicaraan kami akhirnya masalah antara perusahaan dan suku Punan dapat diselesaikan dengan memberi bantuan untuk kegiatan Natal, pembangunan gereja, pemasangan alat komunikasi, pembangunan balai adat dan Alkitab.

Pihak perusahaan juga tidak keberatan untuk membantu masyarakat suku Punan. Sampai kini kegiatan operasional perusahaan di wilayah suku Punan berjalan lancar. Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena campur tangan-Nya yang ajaib, sehingga permasalahan antara suku Punan dengan perusahaan dapat diselesaikan.

Demikianlah kesaksian Drs. Octavianus Daud, Wakil Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur yang ditulis dalam buletin VOICE dari Full Gospel Businessmen's Fellowship.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com