Wednesday, November 4, 2009

To Bless Others in Blindness

Alkisah ada seorang pria tua yang usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Ia hidup di pinggir desa. Walaupun ia hidup sebatang kara, tetapi ia selalu mensyukuri dengan apa yang ia terima. Hal inilah yang membuat dia bisa hidup dengan penuh ceria. Namum tiba-tiba ia menjadi buta. Ia harus hidup dalam kegelapan, sehingga tidak ada harapan lagi untuk bisa melihat sinar matahari maupun keindahan alam disekitarnya. Hal inilah yang membuat dia jadi sangat bersedih hati.

Sampai pada suatu hari ketika dia berjalan melewati pagar rumahnya dan mencium sekuntum bunga mawar, ia berkata, "Aku bisa memiliki sebuah taman. Meskipun aku tidak bisa melihat bunga-bunga ini, aku dapat merawatnya dengan baik dan merasakan serta mencium dan mengasihi mereka."

Kemudian dia mulai membuat sebuah taman, merawatnya dengan penuh kasih. Tangannya yang peka mulai tahu setiap tanaman yang baru tumbuh. Bunga-bunga tampaknya dapat merasakan perawatan yang baik yang diberikan oleh pria itu. Bunga-bunga itu bermekaran seperti bunga-bunga yang ada di desa itu. Setiap hari pria itu menyuruh seorang anak laki-laki tetangganya untuk mengantarkan seikat bunga ke rumah sakit terdekat. Bunga-bunga itu mengantarkan kasih yang diberikan pria tua itu kepada orang-orang yang sedang sakit.

Meskipun ia harus hidup dalam kegelapan, orang tua yang buta itu telah mengukir kedamaian dan kegembiraan melalui kasihnya kepada bunga-bunga yang ditanamnya dan melalui kasihnya kepada orang lain. Ia merasa hidupnya bisa bermanfaat lagi bagi sesama manusia. Hal ini telah dapat memulihkan kembali rasa ceria di dalam kehidupan laki-laki tua itu. Dari tulisan Mang Ucup di Milis Sahabat Kristen.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com