Monday, November 2, 2009

The Bishop's Gift

Hadiah dari Penilik Jemaat
Pada suatu saat sebuah gereja mengalami masa-masa yang sulit. Hanya ada lima anggota gereja yang tersisa: seorang Pendeta dan empat anggota, semuanya di atas 60 tahun.

Di sebuah bukit dekat gereja itu tinggal seorang Penilik Jemaat yang sudah pensiun. Sang pendeta akhirnya meminta nasihat sang Penilik Jemaat untuk menyelamatkan gereja tersebut. Pendeta dan Penilik Jemaat itu berbicara panjang lebar, tetapi ketika diminta nasihatnya, Penilik Jemaat hanya menjawab, "Saya tidak mempunyai nasihat untuk diberikan. Satu hal yang saya dapat katakan ialah bahwa salah seorang di antara kalian adalah juruselamat."

Sekembalinya dari pertemuan dengan Penilik Jemaat, Pendeta itu menceritakan apa yang telah dikatakan Penilik Jemaat. Selama beberapa bulan berikutnya semua anggota jemaat mulai merenungkan perkataan Penilik Jemaat. "Salah seorang di antara kita adalah juruselamat?" Ketika mulai memikirkan kemungkinan itu, mereka mulai memperlakukan satu sama lain dengan penuh hormat, dengan harapan mereka melakukannya untuk sang juruselamat. Selain itu mereka juga saling memperlakukan satu sama lain dengan kepedulian yang luar biasa.

Dengan berlalunya waktu, orang-orang yang datang ke gereja itu melihat aura yang istimewa yang penuh hormat dan kepedulian yang sangat luar biasa diantara kelima anggota gereja. Tanpa disadari orang-orang mulai datang lagi ke gereja itu. Orang-orang mulai mengajak teman-temannya, dan teman-temannya mengajak teman-temannya yang lain. Dalam waktu beberapa tahun saja gereja itu kembali menjadi gereja yang hidup, yang penuh terobosan karena ada rasa saling hormat dan kepedulian satu sama lain yang luar biasa, berkat hadiah dari seorang pensiunan Penilik Jemaat. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, 1 Nopember 2009.

******


The Bishop's Gift

Once a church had fallen upon hard times. Only five members were left: the pastor and four others, all over 60 years old.

In the mountains near the church there lived a retired Bishop. It occurred to the pastor to ask the Bishop if he could offer any advice that might save the church. The pastor and the Bishop spoke at length, but when asked for advice, the Bishop simply responded by saying, "I have no advice to give. The only thing I can tell you is that the Messiah is one of you."

The pastor, returning to the church, told the church members what the Bishop had said. In the months that followed, the old church members pondered the words of the Bishop. "The Messiah is one of us?" they each asked themselves. As they thought about this possibility, they all began to treat each other with extraordinary respect on the off chance that that one among them might be the Messiah. And on the off, off chance that each member himself might be the Messiah, they also began to treat themselves with extraordinary care.

As time went by, people visiting the church noticed the aura of respect and gentle kindness that surrounded the five old members of the small church. Hardly knowing why, more people began to come back to the church. They began to bring their friends, and their friends brought more friends. Within a few years, the small church had once again become a thriving church, thanks to the Bishop's gift.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com


**************
Personal Note:

Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Yongky dari NYC, pesanan akan dikirim via Surabaya dan akan dibawa oleh Tim Pria Sejati yang akan berangkat ke New York City. God bless you.