Seorang pria hendak mengunjungi pacarnya. Ketika akan memasuki rumah itu dia mendengar dengan jelas di hatinya suara yang berkata, "Aku ingin engkau menjadi seorang pendeta." Pria ini kaget sekali. Apa tidak salah? Tidak pernah di hatinya ada keinginan menjadi pendeta. Dia menjadi sedih. Koq, Tuhan mau dia menjadi pendeta? Apa kata orang nanti? Apa kata pacarnya nanti? Apa kata teman-temannya nanti? Dia bukanlah seseorang yang terlalu banyak memikirkan Tuhan dan memikirkan perkara-perkara rohani. Koq, tega-teganya Tuhan meminta dia jadi seorang pendeta, padahal itu bukan "profesi" yang dia kehendaki?
Banyak orang menganggap Tuhan sebagai seorang hakim, sewenanq-wenang, diktator, bikin takut. Apakah pujian dan penyembahan saya bagus? Dapat nilai berapa di hadapan Tuhan? Apakah perilaku saya hari ini baik, tidak bakal ditegur Tuhan? Apakah perkataan saya semuanya oke? Apakah tidak ada perkataan yang mendapatkan nilai minus? Apakah pembacaan Kitab Suci setiap hari saya mendapat pujian atau teguran karena sering bolong-bolong?
Semua pertanyaan dan pernyataan itu timbul karena kita menganggap Tuhan sebagai seorang Hakim, seorang Wasit, seorang Jaksa yang segera menindak, menghukum, menilai, menghakimi semua perbuatan kita. Padahal, lebih dari itu Tuhan adalah seorang Bapa. Ketika Adam dan Hawa masih ada di Taman Eden sebagai manusia baru, mereka mengenal Tuhan sebagai Bapa. Ketika manusia jatuh dalam dosa, dosa mereka memaksa Tuhan bertindak sebagai Hakim. Namun kemudian Tuhan menunjukkan bahwa belas kasihan akan menang atas penghakiman. Belas kasih Tuhan Yesus Kristus menunjukkan kemenangannya atas penghukuman.
Ketika di kayu Salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", itu berarti penghakiman Allah telah dikalahkan oleh belas kasihan dan pengampunan. Ketika di kayu salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", di sorgapun Bapa berkata yang sama: "Sudah selesai Aku bertindak sebagai Hakim. Sekarang Aku sepenuhnya menjadi Bapa atas semua anak-anak-Ku yang percaya dan mengandalkan sepenuhnya kepada Diri-Ku."
Jika Tuhan bertindak sebagai Bapa, itu tidak berarti kita boleh menyepelekan kasih karunia-Nya dengan bertindak dan berbuat dosa seenaknya, dengan pikiran: "Toh nanti juga diampuni Tuhan?" Tidak selalu kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk diampuni. Bagaimana kalau kita meninggal, sebelum sempat minta ampun atas dosa tertentu? Kita tidak bisa bermegah bahwa kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi kita semaunya. Ada hal-hal yang di luar kendali kita. Itulah kuasa Tuhan.
Sebagai penutup, kisah di bagian awal tulisan ini dikisahkan oleh seorang pendeta dari Melbourne, Ps. Allan Meyer, tentang bagaimana awalnya dia dipanggil ke dalam pelayanan. Sepanjang hidupnya ia melihat kebaikan dan kasih karunia Tuhan dalam peyananannya. Pilihan Tuhan atas dirinya sekarang tak pernah disesali. Tuhan itu tahu apa yang terbaik bagi setiap orang yang berserah kepada Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com